Anda di halaman 1dari 16

OBAT TRADISIONAL KAPSUL URATAN

Tujuan :
Untuk mengetahui analisis fisik, kimia dan BKO dari obat tradisional bentuk
sediaan kapsul merk (Uratan).
Dasar Teori :
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan,
bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan bahan tersebut
yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
(Menurut Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.00.05.41.184 )
Persyaratan OT sesuai perundang-undang No.23 Tahun 1992 yang berlaku OT
dilarang menggunakan sebagai berikut.
1. Bahan kimia hasil isolasi/sintetik berkhasiat obat
2. Narkotikan atau psikotropika
3. Hewan atau tumbuhan yang dilindungi.

Salah satu sediaan obat tradisional adalah sediaan dalam bentuk kapsul. Menurut
Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 12
Tahun 2014 Tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional, kapsul adalah sediaan obat
tradisional yang terbungkus cangkang keras. Sedangkan kapsul lunak adalah sediaan obat
tradisional yang terbungkus cangkang lunak.Menurut Farmakope Indonesia III kapsul
adalah bentuk sediaan obat terbungkus cangkang kapsul, keras atau lunak. Cangkang
kapsul dibuat dari gelatin dengan atau tanpa zat tamahan lain. Menurut Farmakope
Indonesia IV, kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau
lunak yang dapat larut.
Karakteristik kapsul.
1. Homogen: setiap bagian campuran kapsul harus mengandung bahan yang sama
dalam perbandingan yang sama pula.
2. Kering: tidak boleh menggumpal atau mengandung air karena mengandung bahan
yang higrokopis, eflorsen, deliquensen atau pun campuran eutektik.
3. Punya derajat kehalusan tertentu
Sediaan kapsul dibagi menjadi 2 jenis yaitu.
1. Kapsul
2. Kapsul lunak
Kelebihan sediaan kapsul.
1. Cukup stabil dalam penyimpanan dan transportasi.
2. Dapat menutupi rasa dan bau yang tidak enak.
3. Tepat untuk obat yang teroksidasi dan mempunyai bau dan rasa yang tidak enak.
4. Bentuk kapsul mudah ditelan.
5. Bentuknya lebih praktis dan menarik.
6. Menghidari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari.
Kekurangan sediaan kapsul.
1. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang mudah menguap kerena pori-pori kapsul
tidak dapat menahan penguapan.
2. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang higroskopis.
3. Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang dapat bereaksi dengan cangkang kapsul
4. Tidak dapat dibagi-bagi.

Dalam Menkes RI (659/MENKES/SK/X/1991)disebutkan bahwa Pencemaran fisik,


kimiawi atau jasad renik terhadap obat tradisional yang dapat merugikan kesehatan atau
mempengaruhi mutu suatu produk dilarang serta Pencemaran oleh khamir, kapang dan atau
kaman nonpatogen terhadap obat tradisional meskipun sifat dan tingkatannya tidak
berpengaruh langsung pada kesehatan harus dicegah sekecil mungkin sampai dengan
persyaratan batas yang berlaku. Adapun parameter pengujian obat tradisional sediaan
kapsul, baik uji fisika, uji kimia maupun uji biologi.

Kapsul yang digunakan adalah kapsul jamu uratan yang memiliki Komposisi (dalam
bentuk ekstrak) :
Jintan Hitam (Nigellae Semen) 130 mg
Keningar (Burmani Cortex) 65 mg

Jahe (Zingiberis Rhizoma) 65 mg

Cengkeh (Caryophylli Flos) 65 mg

Temulawak (Curcumae Rhizoma) 65 mg


Kunyit (Curcumae domesticae Rhizoma) 65 mg

Sambiloto (Andrographidis Herba) 97,5 mg

Anyang-anyang (Elaeocarpi Fructus) 65 mg

Adas (Foeniculi Fructus) 32,5 mg

Khasiat dan Kegunaan :


Membantu mengurangi nyeri dan rasa pegal linu pada persendian yang disebabkan
kelebihan asam urat.
Menurut temuan Badan POM, obat tradisional ada yang dicemari BKO. Klaim
kegunaan obat tradisional BKO yang sering ditambahkan encok, rematik, pegal linu yaitu
1. diklofenak sodium,
2. piroksikam,
3. parasetamol,
4. deksametason
5. ibuprofen
6. antalgin
Mekanisme umum dari analgesik jenis nonopioid adalah mengeblok pembentukan
prostaglandin dengan jalan menginhibisi (menghambat) enzim COX pada daerah yang
terluka dengan mengurangi pembentukan mediator nyeri.
Mekanisme kerja utamanya dari analgesik jenis Opioid / narkotika adalah menghambat
enzim sikloogsigenase dalam pembentukan prostaglandin yang dikaitkan dengan kerja
analgesiknya dan efek sampingnya.
Analisis Fisika Kapsul
1. Uji Organoleptis
Uji organoleptis adalah uji indera atau uji sensori yang menggunakan indera manusia
untuk pengukurannya.Uji organoleptis meliputi pengujian terhadap bentuk, warna, rasa,
dan bau serta tanda-tanda lain yang dapat dilihat dengan mata biasa.

2. Uji kemasan
Uji kemasan adalah pengujian mengenai wadah atau tempat sediaan jamu untuk
penunjang sediaan.Tujuan uji kemasan untuk menilai mengenai kemasan, penandaan,
bobot, contoh yang diuji.Perbedaan yang ada dengan normal dapat menunjukkan
perbedaan mutu dari contoh yang diuji.

3. Keseragaman bobot
Cara untuk kapsul yang bersi obat kering. Timbang 20 kapsul.Timbang lagi kapsul
satu persatu.Keluarkan isi semua kapsul, timbang seluruh bagian cangkang kapsul, hitung
bobot isi kapsul dan bobot rata-rata tiap isi kapsul. Perbedaan dalam persen bobot isi tiap
kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan
kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak lebih dari yang ditetapkan kolom B.

Perbedaan bobot isi kapsul dalam %


Bobot rata-rata isi kapsul
A B
120 mg atau lebih ±10% ± 20%
Lebih dari 120 mg ± 7,5% ± 15%

Cara untuk kapsul yang berisi bahan obat cair atau pasta.Timbang 10
kapsul.Timbang lagi kapsul satu persatu.Keluarkan isi semua kapsul, cuci cangkang
kapsul dengan eter P. buang cairan cucian, biarkan hingga tidak berbau eter, timbang
seluruh bagia cangkang kapsul.Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata tiap isi
kapsul. Perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi
kapsul tidak lebih dari 7,5%.

4. Waktu hancur
Lakukan pengujian waktu hancur menggunakan alat dan seperti tertera pada
compressi. Kecuali dinyatakan lain, waktu yang diperlukan untuk menghancurkan
kelima kapsul tidak boleh lebih dari 15 menit. Sedangkan berdasarkan Peraturan
Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun
2014 Tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional kapsul ≤ 30 menit dan kapsul lunak
≤60 menit.

5. Uji waktu alir


Uji ini dilakukan dengan metode corong. Adapun caranya adalah sebagai berikut
yaitu ditimbang 100g granul yang sudah terbentuk kemudian dimasukkan ke dalam
corong dengan ukuran tertentu yang bagian bawahnya tertutup, kemudian buka
penutup corong bagian bawah bersamaan dengan dimulainya stopwatch, catat waktu
yang diperlukan seluruh granul untuk melalui corong tersebut dengan menggunakan
stopwatch. Waktu alir granul yang baik adalah jika waktu yang diperlukan kurang
lebih atau sama dengan 18 detik untuk 100gr granul. Dengan demikian kecepatan alir
yang baik adalah lebih besar dari 100 gram/detik, setelah granul berhenti mengalir
ukur ketinggian dan diameter dari aliran granul yang terben
tuk untuk mengukur sudut diam pada granul tersebut.

Analisis Kimia Kapsul


1. Uji kadar air
Kadar air berlebih mempercepat pertumbuhan mikroorganisme dan hidrolisis
senyawa kimia (syarat menurut farmakope kadar air 8-14%). Materia Medika Jilid VI
tahun 1995 yaitu tidak lebih dari 10%.Penetapan kadar air pada sediaan kapsul dapat
dilakukandengan metode gravimetric, metode destilasi toluene, metode titrimetric.

2. Uji Bahan Pengawet 1%


Bahan pengawet merukan bahan yang digunakan untuk mengawetkan jamu
atau bentuk sediaan yang ada. Dalam sediaan jamu harusnya bahan pengawet tidak
melebihi kadar 1%. Biasanya pengawet yang digunakan adalah senyawa nipagin,
nipasol dan lain lain. Jika keberadaan bahan pengawet lebih dari 1% dalam sediaan
jamu bisa dikatakan jamu tersebut tidak layak untuk dikonsumsi dan didak layak jual.

3. Bahan Kimia Obat


Bahan kimia obat merupakan bahan yang ditambahkan dalam jamu dimana
difungsikan sebagai peningkat kasiat.Padahal, sebenarnya dalam jamu tidak
diperbolehkan adanya bahan kimia obat. Hal ini di larang karena dimungkinkan bahan
kimia obat dapat beraksi dengan senyawa aktif pada jamu dan nantinya malah akan
menimbulkan efek negatif. Maka dari itu, bahan kimia obat dilarang keras dalam
bentuk sediaan jamu.

ALAT DAN BAHAN


1. ALAT c. Timbangan analitik
a. Cawan d. Disintegrator
b. Oven e. Beaker glass
2. BAHAN b. Aquades
a. Kapsul Uratan

PROSEDUR KERJA
1. Uji organoleptis
a. Disiapkan sampel kapsul Laxing
b. Uji organoleptis meliputi, warna, rasa, bau, dan bentuk.
c. Catat hasil pengamatan

2. Uji kemasan
a. Disiapkan produk sampel
b. Periksa Nama produk
c. Periksa Bentuk sediaan
d. Periksa Nomer bets
e. Periksa alamat industri pembuatan
f. Periksa Tanggal mulai dan selesai pengemasan
g. Periksa Bentuk, jenis dan ukuran kemasan
h. Data lain yang diperlukan.

3. Uji keseragaman bobot


a. Siapkan keseluruhan sediaan kapsul yang akan dilakukan pengujian.
b. Timbang 20 kapsul dalam neraca analitik
c. Timbang dengan teliti satu per satu kapsul pada timbangan analitik.
d. Keluarkan isi kapsul, kemudian timbang cangkang kapsul
e. Catat hasil yang diperoleh dari setiap sediaan kapsul.
f. Lakukan perhitungan untuk mengetahui bobot penyimpangan kapsul

4. Uji kadar air


a. Masukkan cawan kuisibel ke dalam oven dengan suhu 105oC selama 30-60 menit.
b. Dinginkan pada desikator.
c. Timbang cawan kuisibel kosong, dan catat hasilnya.
d. Timbang sampel kapsul jerawat yang akan diuji sebanyak 5 gram.
e. Masukkan cawan kuisibel+sampel ke dalam oven selam 2,5 jam.
f. Dinginkan pada desikator.
g. Timbang caran kuisibel+sampel pada timbangan analitik.
h. Catat hasilnya dan lakukan perhitungan.
i. Ulangi proses e sampai h dengan waktu pemanasan 30 menit.
j. Lakukan perhitungan sampai diperoleh kadar air ≤0,25%.
Rumus perhitungan kadar air :
Kadar Air (%b/v) = w1 – w x 100%

w1 = kehilangan bobot setelah dikeringkan (di oven)


w = bobot sampel sebelum dikeringkan (dioven)

5. Uji waktu hancur


a. Masukkan kapsul pada masing-masing tabung dari keranjang.
b. Masukkan cakram pada tiap tabung.
c. Jalankan alat disintegrator.
d. Gunakan air bersuhu 37oC sebagai media waktu hancur kecuali dinyatakan
menggunakan cairan lain dalam masing-masing monografi.
e. Pada akhir batas waktu yang ada dalam monografi, kapsul harus hancur sempurna.
Jika 1 atau 2 kapsul tidak hancur sempurna ulangi pengujian sebanyak 12 kapsul
lainnya, tidak kurang dari 16 sampai 18 harus hancur sempamurna.

6. Uji BKO
Uji antalgin
a. Dibuat larutan induk dengan mengambil sejumlah sampel kapsul, kemudian
ditambahkan aquadest sampai ¾ tabung reaksi. Lalu diaduk hingga menjadi larutan
homogen.
b. Diamati organoleptis sampel. Diambil serbuk seukupnya diletakkan pada plat tetes,
kemudian diamati bentuk, rasa, warna dan bau.
c. Kristal diremas dan dibau(jika diperlukan).
d. Dioleskan dipunggung telapak tangan (jika diperlukan), karena ada beberapa
senyawa yang halus dikulit.
e. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam tabung reaksi , tambahkan ±
2-3 tetes reagen HNO3 encer selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.
f. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam tabung reaksi , tambahkan ±
2-3 tetes reagen FeCl3 selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
g. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam tabung reaksi , tambahkan ±
2-3 tetes reagen HCl selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
h. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam tabung reaksi , tambahkan ±
2-3 tetes reagen KCrO4 selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
i. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam tabung reaksi , tambahkan ±
2-3 tetes reagen KmnO4 + H2SO4 selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.
j. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam tabung reaksi , tambahkan ±
2-3 tetes reagen AgNo3 selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
k. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam tabung reaksi , tambahkan ±
2-3 tetes reagen H2SO4 pekat selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.
l. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam tabung reaksi , tambahkan ±
2-3 tetes reagen ammonium molibdat selanjutnya diamati dan dicatat perubahan
yang terjadi.

Prosedur kerja uji warna BKO paracetamol :

a. Dibuat larutan induk dengan mengambil sejumlah sampel paracetamol, kemudian


ditambahkan aquades sampai ¾ tabung reaksi, lalu diaduk hingga menjadi larutan
homogen.
b. Diaamati organoleptis sampel. Diambil serbuk secukupnya diletakkan dalam plat
tetes. Kemudian diamati bentuk , rasa, warna. Bau.
c. Kristas diremas laludibau (jika diperlukan)
d. Dioleskan ke punggung telapak tangan (jika diperlukan, karena ada beberapa
senyawa yang halus dikulit).
e. Dilakukan pengamatan reaksi warna .diambil beberapa tetes sampel, ditambahkan
reagen kemudian diamati.
f. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi ditambah larutan
besi (III) klorida P, terjadi warna biru violet. Selanjutnya diamati dan dicatat
perubahan yang terjadi.
g. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan + 3 mL HCl encer. Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.
h. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan 2-3 tetes HNO3 encer.Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.
i. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan 2-3 tetes larutan Kalium dikromat ( K2Cr2O7 ).Selanjutnya diamati
dan dicatat perubahan yang terjadi.
j. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan 2-3 tetes larutan KMnO4 ditambah H2SO4. Selanjutnya diamati dan
dicatat perubahan yang terjadi.
k. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan 2-3 tetes larutan AgNO3. Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan
yang terjadi.
l. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan 2-3 tetes larutan H2SO4 encer. Selanjutnya diamati dan dicatat
perubahan yang terjadi.
m. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan 0,10 g Amonium Molihdat atau 10 mL H2SO4 pekat ( Pereaksi Frohde
). Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
n. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan 2-3 tetes larutan Millon. Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan
yang terjadi.
o. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
ditambahkan dengan aseton air ( Reaksi Kristalisasi ). Kemudian hasil campuran
diletakkan dalam objek glass dan ditutupi cover glass. Selanjutnya diamati
menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10 kali, diamati dan dicatat hasil
pengamatan.
p. Dipipet larutan induk 2-3 tetes lalu ditambahkan CuSO4 ditambah NaOH2 tetes (
Reaksi Cuprifil ).
q. Diambil larutan induk 2-3 tetes lalu ditambahkan HgCl2( Reaksi Mayer ).
r. Diambil larutan induk 2-3 tetes lalu ditambahkan I2( Reaksi Bouchardat ).
Hasil Pengamatan dan Pembahasan

1. Uji organoleptis

Warna serbuk : hijau kecoklatan


Warna cangkang : merah tua
Bau serbuk : bau khas jamu yang kuat
Rasa serbuk : rasa khas jamu dan sedikit pedas

2. Uji Kemasan :
a. Nama produk : Uratan
b. Bentuk sediaan : Kapsul
c. Tanggal expired : 7 Juli 2021 dan 9 September 2021
d. Alamat industri :Surabaya, Indonesia
e. Tanggal mulai dan selesai pengemasan :-
f. Bentuk, jenis dan ukuran kemasan : bentuk kardus balok, dengan kemasan per 4
kapsul berupa strip alumunium foil plastik yang kemudian dibungkus
dengan kertas nuansa hijau (hijau tua sampai hijau muda)

3. Uji keseragaman bobot

No. Bobot tiap kapsul Bobot cangkang Bobot isi % penyimpangan

1 0,8480 g 0,1114 g 0,7366 g 5,2%


2 0,8229 g 0,1115 g 0,7114 g 2,68%
3 0,8533 g 0,1145 g 0,7388 g 5,42%
4 0,8288 g 0,1129 g 0,7159 g 3,13%
5 0,7538 g 0,1115 g 0,6423 g 4,23%
6 0,7750 g 0,1152 g 0,6598 g 2,48%
7 0,7965 g 0,1121 g 0,6844 g 0,02%
8 0,6810 g 0,1135 g 0,5675 g 11,71%
9 0,8383 g 0,1140 g 0,7243 g 3,97%
10 0,7656 g 0,1131 g 0,6525 g 3,21%
11 0,7909 g 0,1122 g 0,6785 g 0,61%
12 0,7627 g 0,1130 g 0,6497 g 3,49%
13 0,7202 g 0,1131 g 0,6071 g 7,75%
14 0,8248 g 0,1100 g 0,7148 g 3,02%
15 0,8238 g 0,1133 g 0,7105 g 2,59%
16 0,8398 g 0,1125 g 0,7273 g 4,27%
17 0,8400 g 0,1104 g 0,7296 g 4,5%
18 0,7659 g 0,1108 g 0,6551 g 2,95%
19 0,7632 g 0,1125 g 0,6507 g 3,39%
20 0,8465 g 0,1122 g 0,7348 g 5,02%
Rata-rata 2,2497 g 0,6849 g 5,02%

Dengan berat kapsul yang lebih dari 120 mg, maka hasil pengujian menunjukkan
bahwa terdapat 2 kapsul yang menyimpang dari kolom A karena menyimpang sebesar
11,71% dan 7,75% sedangkan batas maksimal dari kolom A sebesar ±7,5% dan tidak ada
satupun kapsul yang menyimpang dari kolom B dengan batas maksimal ±15%. Jadi, kapsul
Uratan telah lulus uji berat rata-rata kapsul.

3. Uji waktu hancur


Pengujian dilakukan menggunakan air hangat dengan suhu 370 C. Dalam waktu 10
menit cangkang dan isi kapsul telah larut sempurna. Sehingga, dapat dikatakan bahwa
kapsul telah hancur sempurna. Batas maksimal dari uji waktu hancur dikatakan tidak boleh
lebih dari 15 menit sedangkan menurut Peraturan Kepala BPOM Republik Indonesia
nomor 12 tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional ditulis bahwa waktu
hancur yang ditetapkan untuk sediaan kapsul keras kurang dari samadengan 30 menit dan
untuk kapsul lunak sebesar kurang dari samadengan 60 menit. Jika kapsul tidak hancur
dalam waktu yang telah ditentukan dikhawatirkan apabila dikonsumsi akan terjadi suatu
masalah antara lain yaitu penyerapan bahan aktif dalam tubuh yang lama, sehingga dapat
mengurangi khasiat obat. Jadi, kapsul Uratan telah lulus uji waktu hancur.

4. Uji kadar air


A = Berat cawan kosong = 69,5946 g
B = Berat sampel = 5,0028 g
C = Berat cawan dan sampel = 74,5974 g
*berat cawan dan sampel sebelum di oven
No Hasil Oven Berat Awal Berat Akhir Presentase
Ke- penyusutan
1. I 74,5974 g 74,5774 g 0,02%
2. II 74,5774 g 74,4558 g 0,01%
3. III 74,4588 g 74,3451 g 0,001
4. IV 74,3451 g 74,3359 g 0,0001%
5 V 74,3359 g 74,3359 g 0%
*berat cawan dan sampel sesudah di oven

Setelah dilakukan penimbangan sebanyak 5 kali didapatkan bobot konstan dari


berat cawan dan sampel yaitu 74,3359 g. Dengan berat cawan kosong sebesar 69,5964 g,
berat sampel sebesar 4,7413 g. Jika dikurangi dengan bobot sampel awal sebelum di oven
terjadi pengurangan bobot sebesar 0,2615 g. Maka, didapat presentase kadar air dalam
serbuk kapsul sebesar 5,227%, batas maksimal menurut Farmakope Indonesia sebesar 8-
14% dan menurut Materia Medika Indonesia tidak lebih dari 10%. Jadi, kapsul Uratan
telan lolos dalam uji kadar air.

Perhitungan :
Kadar Air (%b/v) = w1 : w x 100%

w1 = kehilangan bobot setelah dikeringkan (di oven)


w = bobot sampel sebelum dikeringkan (di oven)
Diketahui = Ditanyakan ?
w1 = 0,2615 g presentase kadar air = ?
w = 5,0028 g
Jawab =
0,2615 𝑔
Kadar air (%b/v) = 5,0028 𝑔 x 100%

= 5,227%

5. Uji BKO Antalgin

No Pereaksi Hasil
1. Dibuat larutan induk dengan mengambil sejumlah Larutan induk berwarna kuning
sampel kapsul, kemudian ditambahkan aquadest kecoklatan dengan endapan
sampai ¾ tabung reaksi. Lalu diaduk hingga menjadi berwarna hijau kecoklatan.
larutan homogen.
2. Diamati organoleptis sampel. Diambil serbuk Serbuk halus dengan memiliki
seukupnya diletakkan pada plat tetes, kemudian bau khas jamu yang kuat
diamati bentuk, rasa, warna dan bau.
3. Dioleskan dipunggung telapak tangan (jika Saat diremas serbuk kapsul terasa
diperlukan), karena ada beberapa senyawa yang halus sangat halus ditangan.
dikulit.
4. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam
tabung reaksi , tambahkan ± 2-3 tetes reagen HNO3 Larutan tidak bereaksi
encer selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.
5. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam Larutan berubah menjadi hijau
tabung reaksi , tambahkan ± 2-3 tetes reagen FeCl3 tua dan terdapat endapan
selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
6. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam
tabung reaksi , tambahkan ± 2-3 tetes reagen HCl Larutan tidak bereaksi
selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
7. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam Larutan berubah menjadi coklat
tabung reaksi , tambahkan ± 2-3 tetes reagen KCrO4 kemerahan
selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
8. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam Warna ungu yang berasal dari
tabung reaksi , tambahkan ± 2-3 tetes reagen KmnO4 + reagen KmnO4 hilang setelah
H2SO4 selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang ditetesi dengan H2SO4
terjadi.
9. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam Larutan keruh karena endapan
tabung reaksi , tambahkan ± 2-3 tetes reagen AgNo3 menjadi jernih dan berwarna
selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi. kuning lebih muda
10. Diambil ± 3 mL larutan induk dimasukkan kedalam Larutan semula jernih berubah
tabung reaksi , tambahkan ± 2-3 tetes reagen H2SO4 menjadi kuning oranye muda
pekat selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.

7. Uji BKO Paracetamol


No Reagen Hasil
1. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam Larutan berubah menjadi biru tua
tabung reaksi ditambah larutan besi (III) klorida P. dan terdapat endapan
Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.

2. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam


tabung reaksi dan ditambahkan + 3 mL HCl encer. Larutan tidak bereaksi
Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.

3. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam


tabung reaksi dan ditambahkan 2-3 tetes HNO3 Larutan tidak bereaksi
encer.Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.

4. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam Larutan berubah menjadi


tabung reaksi dan ditambahkan 2-3 tetes larutan berwarna oranye muda
Kalium dikromat ( K2Cr2O7 ).Selanjutnya diamati dan
dicatat perubahan yang terjadi.

5. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam Warna ungu yang berasal dari
tabung reaksi dan ditambahkan 2-3 tetes larutan KMnO4 hilang setelah ditetesi
KMnO4 ditambah H2SO4. Selanjutnya diamati dan dengan H2SO4
dicatat perubahan yang terjadi.

6. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam Larutan yang semula keruh akibat
tabung reaksi dan ditambahkan 2-3 tetes larutan endapan menjadi jernih dan
AgNO3. Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan berwarna lebih muda
yang terjadi.

8. Diambil + 3 mL larutan induk, dimasukkan kedalam


tabung reaksi dan ditambahkan 2-3 tetes larutan H2SO4 Larutan tidak bereaksi
encer. Selanjutnya diamati dan dicatat perubahan yang
terjadi.

9. Dipipet larutan induk 2-3 tetes lalu ditambahkan Larutan beruabah menjadi hijau
CuSO4 ditambah NaOH2 tetes ( Reaksi Cuprifil ). muda

10. Diambil larutan induk 2-3 tetes lalu ditambahkan


HgCl2( Reaksi Mayer ). Larutan tidak bereaksi

11. Diambil larutan induk 2-3 tetes lalu ditambahkan I2( Larutan berubah menjadi
Reaksi Bouchardat) berwarna coklat tua dengan
banyak endapan

Dari pengujian Bahan Kimia Obat menggunakan reaksi warna didapatkan hasil
yang negative, yang positif hanya pada penambahan FeCl3 yang semula larutan berwarna
kuning muda berubah menjadi hijau tua dan muncul endapan. Dugaan sementara bahwa
kapsul Uratan positif mengandung Obat Paracetamol, tetapi hanya satu reagen saja yang
menunjukkan positif. Ternyata setelah dilihat dari komposisi kapsul Uratan yang berasal
dari berbagai jenis tanaman yang mengandung kadar tannin cukup tinggi, jika pada
pengujian fitokimia FeCl3 digunakan untuk mengidentifikasi senyawa tannin. Jadi warna
hijau yang timbul pada sampel adalah hasil pengaruh tannin. Diperlukan pengujian lebih
lanjut pada sampel untuk dapat mengetahui pasti apakan benar mengandung BKO atau
tidak.

Kesimpulan

Dari serangkaian pengujian yang telah dilakukan sampel berupa kapsul Uratan dikatakan
layak untuk dikonsumsi karena telah lulus pada parameter uji yang telah ditentukan, mulai
dari keseragaman bobot, waktu hancur, kadar air dan pengujian Bahan Kimia Obat