Anda di halaman 1dari 8

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu

Innal Hamdalillah, NaHmaduhu wanasta'inuhu wa nastaghfiruh || Wana'udzubillahi min syururi


angfusinaa || Wamin sayyi aati a'malinaa || Man yahdihillahu falaa mudhillalah || Waman yudhlil
falaa haadiyalah || Wa asyhadu allaa ilahaillallah || WaHdahu laa syariikalah || Wa asyhadu
anna muHammadan abduhu wa rasuluh.

Allahumma shali 'ala muHammad || wa 'ala alihi wa ash Haabihi wa man tabiahum bi ihsanin
ilaa yaumiddiin.

Amma ba’ad,
Wa asyiral muslimin || wa zumratal mu’mini rahimakumullah || Faya ‘ibadallah || usikum wanafsi
bitaqwallah || faqad fazal muttaquun.

Qala ta'ala fii kitaabihil kariim


Yaa ayyuhalladziina aamanuttaqullaha haqqa tuqaatih || wa laa tamuu tunna illa wa angtum
muslimuun.

Wa qala ta'ala,
Yaa ayyuhannaa suttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waaHidah || wa khalaqa
minhaa zaujahaa || wa batstsa min humaa rijaalan katsiraan wa nisaa-a || wattaqullahalladzii
tasaa-aluuna bihi wal-arHam || innallaha kaana ‘alaikum raqiiba.

Kemudian dibacakan ayat-ayat Al Qur'an:


Wa qalallahu ta'ala fii kitaabihil kariim

Yaa ayyuhalladziina aamanuuttaqullaha wa quuluu qaulan sadiidaa || yushlih lakum


a’maalakum || wa yaghfirlakum dzunuubakum || wa may yuthi ’illaha wa rasulahu || faqad faaza
fauzan adziima

Amma ba'du,

Qaala Rasulullah shallallahu alaihi wasallam


[Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam]
dari mukadimah buku Dzikir Pagi dan Petang oleh Ust Yazid Jawas

Fainna ashdaqal haditsi kitabullah || wa khairal hadyi hadyu muhammad shallallahu 'alayhi wa
sallam || wa syarral `umuri muhdasatuha || wa kulla muhdasatin bid'ah || wa kulla bid'atin
dhalalah || wa kulla dhalalatin fin-naar .

Lalu disampaikan lah isi ceramahnya begini dan begitu...

Contoh bacaan:
‫سائ ِِر‬ َ ‫ أَقُ ْو ُل قَ ْو ِل ْي َهذَا َوأ َ ْست َ ْغف ُِر‬.‫ت َوال ِ ِّذ ْك ِر ْال َح ِكي ِْم‬
َ ‫هللا ِل ْي َولَ ُك ْم َو ِل‬ ِ ‫آن ْالعَظِ ي ِْم َونَفَ َعنِ ْي َو ِإيَّا ُك ْم ِب َما فِ ْي ِه مِ نَ اْآليَا‬
ِ ‫ي َولَ ُك ْم فِي ْالقُ ْر‬
ْ ‫اركَ هللاُ ِل‬
َ َ‫ب‬
َّ ‫ب فَا ْست َ ْغف ُِر ْوهُ إِ َّنهُ ه َُو ْالغَفُ ْو ُر‬
‫الرحِ ْي ُم‬ ْ
ٍ ‫ال ُم ْسلِمِ يْنَ مِ ْن ُك ِِّل َذ ْن‬.
Barakallahu lii wa lakum fill qur’aanil azhiim || wa nafa’nii wa iyyaakum bima fiihi minal aayaati
wa dzikril hakiim. Aquulu qowlii hadzaa wa astaghfirullaaha lii wa lakum wa lisaa iril muslimiina
min kulli danbin fastaghfiruuhu innahu huwal ghafuurur rahiimu.

Innal hamdalillahi robbal’aalamiin || wa asyhadu an laa ilaaha illahllaah || wa liyyash shalihiina ||


wa asyhadu anna muhammadan khaa tamul anbiyaai wal mursaliin || allahumma shalli ‘alaa
muhammadan wa ‘alaa aali muhammadin kamaa shollayta ‘alaa ibroohiim || wa ‘alaa alii
ibroohiim, innaka hamiidum majiid || Wa barok ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin
kamaa baarokta ‘alaa ibroohiima wa ‘alaa alii ibroohiim, innaka hamiidum majiid.

Ammaa ba’ad..
Selanjutnya di isi dengan khutbah baik berupa ringkasan

Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya
Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif
seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi
pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah
dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini
diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang
dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.
Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada
tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah
berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun
dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya,
sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan.
Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia
daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya
berbuat hina dengan orang.
Dalam sejarah peradaban Indonesia, suku-suku lain pun memiliki semangat yang tidak
kalah tingginya dalam menebus kehormatan. Menurut Hamka, bangsa-bangsa Barat sudah
lama mengetahui sifat ini. Mereka telah berkali-kali dikejutkan dengan ringannya tangan
orang Bugis untuk membunuh orang kalau kehormatannya disinggung. Demikian pula orang
Madura, jika dipenjara karena membela kehormatan diri, setelah bebas dari penjara ia akan
disambut oleh keluarganya, dibelikan pakaian baru dan sebagainya. Orang Melayu pun
dikenal gagah perkasa kalau sampai harga dirinya disinggung. Bila malu telah ditebus,
biasanya mereka akan menyerahkan diri pada polisi dan menerima hukuman yang
dijatuhkan dengan baik.
Di masa lalu, anak-anak perempuan di ranah Minang betul-betul dijaga. Para pemuda biasa
tidur di surau untuk menjaga kampung, salah satunya untuk menjaga agar anak-anak gadis
tidak terjerumus dalam perbuatan atau pergaulan yang menodai kehormatan kampung.
Pergaulan antara lelaki dan perempuan dibolehkan, namun ada batas-batas tegas yang
jangan sampai dilanggar. Kalau ada minat, boleh disampaikan langsung kepada orang tua.
Di jaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang
berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap) kecil saja. Seorang perempuan
datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani
Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok
orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak.
Tanpa sepengetahuanny a, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya,
sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara
tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda
dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang
Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap
sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam.
pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka
menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.
Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”.
Penjajahan kolonial di Indonesia membawa masuk pengaruh Barat dalam pergaulan muda-
mudi bangsa Indonesia. Pergaulan lelaki dan perempuan menjadi semakin bebas, sejalan
dengan masifnya serbuan film-film Barat. Batas aurat semakin berkurang, sedangkan kaum
perempuan bebas bekerja di kantor-kantor. Demi karir, mereka rela diwajibkan berpakaian
minim, sedangkan keluarganya pun merasa terhormat jika mereka punya karir, tidak peduli
bagaimana caranya. Tidak ada lagi kecemburuan.
Tidak ada yang boleh marah melihat anak perempuannya digandeng pemuda yang entah
dari mana datangnya. Suami harus lapang dada kalau istrinya pergi bekerja dengan standar
berpakaian yang jauh dari syariat, karena itulah yang disebut “tuntutan pekerjaan”.
Sesungguhnya ghirah itu merupakan bagian dari ajaran agama. Pemuda Muslim yang
membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ menjawab jerit
tangisnya karena adanya ikatan aqidah yang begitu kuat. Menghina seorang Muslimah sama
dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan.
Ghirah adalah konsekuensi iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika
agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya
sendiri. Bangsa-bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini.
Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah
perlawanannya.
Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa
pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang
menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah
mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada
kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih
kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti
keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada
Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan
dengan berdirinya negara Pakistan.
Dua dasawarsa lebih berlalu dari wafatnya Hamka, nyatalah bahwa hilangnya ghirah adalah
salah satu masalah terbesar yang menggerogoti umat Islam di Indonesia. Sekarang, orang
tua pun rela menyokong habis-habisan anak perempuannya untuk menjadi mangsa dunia
hiburan. Para ibu mendampingi putri-putrinya mendaftarkan diri di kontes-kontes model
dan kecantikan, yang sebenarnya hanya nama samaran dari kontes mengobral aurat.
Kalau kepada putri sendiri sudah lenyap kepeduliannya, kepada agamanya pun begitu.
Makanan fast food dikejar karena prestise, tak peduli keuntungannya melayang ke Israel
untuk dibelikan sebutir peluru yang akhirnya bersarang di kepala seorang bayi di Palestina.
Kalau dulu seluruh kekuatan militer umat Islam dikerahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’
hanya karena satu Muslimah dihina oleh tukang sepuh, maka kini jutaan perempuan
Muslimah diperkosa, jutaan kepala bayi diremukkan dan jutaan pemuda dibunuh, namun
tak ada satu angkatan bersenjata pun yang datang menolong.
Luar biasa generasi anak-cucu Buya Hamka, karena mereka telah benar-benar mati rasa
dengan agamanya sendiri. Ketika anak-anak muda dibombardir dengan pornografi, maka
umatlah yang dipaksa diam dengan alasan kebebasan berekspresi. Tari-tarian erotis digelar
sampai ke kampung-kampung yang penduduknya tak punya cukup nasi di dapurnya, hingga
yang terpikir oleh mereka hanya jalan-jalan yang serba pintas. Ramai orang mengaku nabi,
sementara para pemuka masyarakat justru menyuruh umat Islam untuk berlapang dada
saja. Padahal yang mengaku-ngaku nabi ini ajarannya tidak jauh berbeda: syariat
direndahkan, kewajiban-kewaj iban dihapuskan, para pengikut disuruh mengumpulkan uang
tanpa peduli caranya, orang lain dikafirkan, bahkan para pengikutnya yang perempuan
disuruh memberikan kehormatannya pada sang nabi palsu. Atas nama Hak Asasi Manusia,
umat disuruh rela berbagi nama Islam dengan para pemuja syahwat.
Atas nama toleransi, dulu umat Islam digugat karena penjelasan untuk Surah Al-Ikhlash
dalam buku pelajaran agama Islam dianggap melecehkan doktrin trinitas. Kini, atas nama
pluralisme, umat Islam dipaksa untuk mengakui bahwa semua agama itu sama-sama baik,
sama-sama benar, dan semua bisa masuk surga melalui agamanya masing-masing. Maka
pantaslah bagi kita untuk merenungkan kembali pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar
ketika menjelaskan makna dari ayat ke-9 dalam Surah Al-Mumtahanah:
…orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama
itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini
nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam,
maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati,
agama yang sebenarnya itu hanya Islam.
“Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.”
Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat
Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke
kuburan. (Buya Hamka)
Wassalaamu’alai kum warohmatullohi wabarokaatuh
“Wahai yang bersemangat lemah, sesungguhnya jalan ini padanya Nuh menjadi tua, Yahya
dibunuh, Zakariya digergaji, Ibrahim dilemparkan ke api yang membara, dan Muhammad
disiksa, dan engkau menginginkan Islam yang mudah, yang mendatangi kedua kakimu?” ~
Ibnu Qayyim al-Jauziyah ~

Innal hamdalillah
[Sesungguhnya, segala puji bagi Allah]
Nahmaduhu wanasta'inuhu wa nastaghfiruhu
[kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan dan ampunan-Nya]
Wana'udzubillahi min syururi anfusinaa
[Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami]
Wamin sayyi-ati a'malinaa
[dan dari kejahatan amal perbuatan kami]

Man yahdihillahu falaa mudhillalah


[Barangsiapa yang Allah berikan petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya]
Waman yudhlil falaa haadiyalah
[dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya]
Wa asyhadu alla ilaha illallah
[Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah]
Wahdahulaa syariikalah
[Maha Esa Dia dan tidak ada sekutu bagi-Nya]
Wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh
[dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya]

Lalu dibacakan shalawat:


Allahumma shali 'ala muhammad
[Ya Allah, limpahkan rahmat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam]
wa 'ala alihi
[dan kepada keluarganya]
wa shahbihi
[dan para sahabatnya]
wa man tabiahum bi ihsanin ilaa yaumiddiin
[dan orang-orang yang istiqomah mengikutnya hingga hari akhir]
Kemudian dibacakan ayat-ayat Al Qur'an:
Wa qalallahu ta'ala fii kitaabihil kariim
[Dan Allah Yang Maha Tinggi berfirman dalam kitabNya yang mulia]

Yaa ayyuhalladziina aamanuuttaqullaha haqqa tuqaatih


[Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya]
wa laa tamuutunna illa wa antum muslimuun
[dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam]
~(QS Al-Imran [3] : 102).~

Aidhon [Juga]:

Yaa ayyuhannasuttaquu rabbakumulladzii khalaqakum min nafsin waahidah


[Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri]
wa khalaqa minhaa zaujahaa
[dan dari padanya Allah menciptakan isterinya / pasangannya]
wa batssaminhumaa rijaalan katsiraan wa nisaa-a
[dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak]
wattaqullahalladzii tasaa-aluuna bihi wal-arham
[Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mem-pergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu
sama lain,dan (peliharalah) hubungan silaturrahim]
innallaha kaana ‘alaikum raqiiba
[Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu]
~(QS An-Nisa [4] : 1)~

Aidhon [Juga]:

Yaa ayyuhalladziina aamanuuttaqullaha wa quuluu qaulan sadiidaa


[Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar]
yushlih lakum a’maalakum
[niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu]
wa yaghfirlakum dzunuubakum
[dan mengampuni bagimu dosa-dosamu]
wa man yuthi’illaha wa rasulahu
[Dan barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya]
faqad faaza fauzan adziima
[maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar]

~(QS Al-Ahzab [33] : 70-71)~

Amma ba'du [adapun selanjutnya]


Qaala Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
[Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam]
dari mukadimah buku Dzikir Pagi dan Petang oleh Ust Yazid Jawas

Fainna ashdaqal haditsi kitabullah


[Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah]
wa khairal hadyi hadyu muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam
[dan sebaik-baik petunjuk, adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam]

wa syarral `umuri muhdasatuha


[dan sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang baru yang diada-adakan]
wa kulla muhdasatin bid'ah
[dan semua perkara baru yang diada-adakan adalah bid'ah]
wa kulla bid'atin dhalalah
[dan semua yang bid'ah adalah sesat]
wa kulla dhalalatin fin-naar
[dan semua yang sesat tempatnya di neraka]

Lalu disampaikan lah isi ceramahnya begini dan begitu...