Anda di halaman 1dari 41

PROPOSAL SKRIPSI

PENGARUH RASIO KEUANGAN DAN CORPORATE


GOVERNANCE TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI PADA
PERUSAHAAN YANG BERGERAK DALAM SEKTOR
PERBANKAN

Oleh :

MERY PUJI ASTUTI

NIM : RRC1C014026

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JAMBI

2018
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah segala puji penulis panjatkan kepada Allah SWT

karena berkat rahmat dan ridho-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

penulisan proposal yang berjudul “Pengaruh Rasio Keuangan Dan Corporate

Governance Terhadap Peringkat Obligasi Pada Perusahaan Yang Bergerak Dalam

Sektor Perbankan”. Adapun dalam penyelesaian penyusunan proposal ini, penulis

menyadari adanya kekurangan-kekurangan. Hal ini disebabkan terbatasnya

kemampuan, pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki penulis. Berkat bantuan

yang penulis terima, baik berupa petunjuk, bimbingan serta saran-saran dari

berbagai pihak maka akhirnya proposal ini dapat diselesaikan. Semoga Allah

SWT membalas budi baik kalian. Akhir kata dengan segala kerendahan hati

penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu dalam

menyelesaikan proposal ini. Harapan penulis semoga proposal ini dapat

bermanfaat bagi kita yang membacanya.

Jambi, Mei 2017

Mery Puji Astuti


Kata Pengantar

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................ 1

B. Rumusan Masalah .................................................................. 6

C. Tujuan Penelitian .................................................................... 6

D. Manfaat Penelitian .................................................................. 7

E. Sistematika Penulisan ............................................................. 7

BAB II LANDASAN TEORI

A. Teori Keagenan....................................................................... 9

B. Teori Pensinyalan ................................................................... 10

C. Obligasi ................................................................................... 10

D. Analisis Rasio Bank ............................................................... 16

E. Corporate Governance ........................................................... 18

F. Pengembangan Hipotesis ........................................................ 21

G. Kerangka Pemikiran ............................................................... 26

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Peneltian ........................................................................ 28

B. Populasi dan Sampel............................................................... 28

C. Teknik Pengumpulan Data dan Jenis Data Penelitian ............ 29

D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ..................... 29

E. Teknik Analisis Data .............................................................. 33


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data dan Sampel Penelitian .................................................... 38

B. Analisis Data Penelitian ......................................................... 39

C. Pembahasan Hasil Analisis ..................................................... 47

BAB V PENUTUPAN

A. Simpulan ................................................................................. 55

B. Saran ....................................................................................... 56

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan dunia investasi yang pesat membuat investor mempunyai

banyak pilihan dalam berinvestasi, salah satunya pada obligasi. Obligasi adalah

utang jangka menengah-panjang yang akan dibayar kembali pada saat jatuh tempo

dengan bunga yang telah ditetapkan. Obligasi sering dipandang sebagai investasi

yang relatif aman dibandingkan dengan saham, karena volatilitas saham lebih

tinggi dibandingkan dengan obligasi sehingga daya tarik saham berkurang. Selain

itu, obligasi menawarkan tingkat return yang positif dan memberikan pendapatan

yang tetap (Purwaningsih, 2008). Return yang dapat diperoleh pemegang obligasi

adalah kupon (bunga) yang diterima secara regular selama masa investasi sampai

jatuh tempo, dan potensi keuntungan yang didapat dari penjualan obligasi pada

harga yang lebih tinggi dari harga belinya.

Pada umumnya harga obligasi akan meningkat jika suku bunga tabungan

menurun. Seorang investor yang akan membeli obligasi tentunya harus

memperhatikan peringkat obligasi (credit ratings). Peringkat obligasi merupakan

skala risiko dari semua obligasi yang diperdagangkan. Skala ini menunjukkan

seberapa aman suatu obligasi bagi investor. Keamanan dari obligasi ini bisa

dilihat dari kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dan pelunasan pokok

pinjaman.
Dua agen pemeringkat obligasi terkenal didunia adalah Standard and

Poor’s (S&P) Corporation dan Moody’s Investor Service Inc. Di Indonesia

obligasi diperingkat oleh PT. Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia) dan PT.

Kasnic Credit Rating Indonesia. Penelitian ini lebih mengacu pada Pefindo karena

mayoritas perusahaan yang listing di BEI menggunakan jasa pemeringkat

Pefindo.Peringkat obligasi yang diberikan oleh agen pemeringkat dapat

dikategorikan menjadi dua, yaitu investment grade (idAAA, idAA, idA, idBBB) dan

non-investment grade (idBB, idB, idCCC, idD).

Fungsi utama lembaga pemeringkat adalah memberikan rating yang

obyektif, independen dan kredibel terhadap risiko kredit dari sekuritas pinjaman

(debt) yang diterbitkan secara umum melalui kegiatan rating. Lembaga

pemeringkat juga menghasilkan dan mempublikasikan informasi kredit berkaitan

dengan pasar modal pinjaman. Publikasi ini meliputi opini kredit terhadap emiten

obligasi dan sektor-sektor yang berkaitan. Metodologi yang digunakan Pefindo

dalam proses pemeringkatan mencakup tiga risiko penilaian yaitu risiko industri,

risiko finansial, dan risiko bisnis. Dalam penilaian yang didasarkan pada ketiga

metodologi tersebut dibutuhkan informasi yang berhubungan dengan keuangan

dan non keuangan perusahaan.

Indonesia adalah pasar obligasi korporasi dengan pertumbuhan tertinggi

di kawasan Asia Timur yang mencapai 26,9% menjadi USD 20 miliar. Penerbitan

obligasi korporasi didominasi oleh sektor perbankan dan institusi finansial. Pasar

obligasi mata uang lokal Indonesia tumbuh sebesar 13,9% per tahun dan 5,9% per

kuartal menjadi USD 119 miliar pada akhir Maret 2013. Sedangkan pasar obligasi
pemerintah tumbuh sebesar 11,6% menjadi USD 98 miliar pada periode yang

sama. Pasar obligasi Indonesia mengawali tahun 2015 dengan pergerakan yang

positif dibandingkan tahun 2014. Sempat bergerak tertekan dipekan pertama yang

disebabkan oleh rilisnya data inflasi bulan Desember dan neraca perdagangan

bulan November yang jauh diatas proyeksi yakni 2,46% per bulan atau 8,36% per

tahun untuk inflasi Desember dan defisit USD 0,42 miliar untuk neraca

perdagangan November, pasar obligasi berhasil berbalik positif dari pertengahan

bulan hingga akhir bulan januari.

Investasi pada obligasi menjadi salah satu investasi yang diminati oleh

para investor karena memberikan pendapatan tetap.Selain itu, keuntungan dari

investasi obligasi adalah pemegang obligasi memiliki hak pertama atas aset

perusahaan jika perusahaan tersebut mengalami likuidasi. Meskipun investasi

obligasi relatif lebih aman, investor yang ingin berinvestasi dipasar obligasi harus

tetap mewaspadai adanya risiko gagal bayar atau default risk yaitu risiko dimana

perusahaan penerbit tidak mampu membayar bunga dan mengembalikan pokok

obligasi.

Fenomena mengenai peringkat obligasi di Indonesia terjadi pada Bank

Global Tbk yang mengalami default atau gagal bayar sehubung dibekukannya

usaha bank tersebut oleh Bank Indonesia. Bank Global gagal membayar pokok

pinjaman kepada pemegang obligasi yang terdiri dari 4 perusahaan senilai Rp 230

miliar. Obligasi yang diterbitkan pada tahun 2004 berjangka waktu 10 tahun dan

baru akan jatuh tempo pada 6 Juni 2013. Peringkat obligasi Bank global yang

semula adalah BBB- (investment grade) turun drastis menjadi D (default).


Berdasarkan fenomena yang terjadi di Indonesia, telah dilakukan

berbagai penelitian mengenai faktor-faktor baik itu keuangan dan non keuangan

perusahaan yang mempengaruhi peringkat obligasi.Magreta dan Nurmayanti

(2009) meneliti faktor yang mempengaruhi peringkat obligasi dengan variabel

ukuran perusahaan, likuiditas, profitabilitas, leverage, produktivitas, jaminan

obligasi, umur obligasi, dan reputasi auditor. Hasil yang diperoleh menyatakan

bahwa profitabilitas, produktivitas, dan jaminan obligasi adalah faktor yang dapat

digunakan untuk memprediksi peringkat obligasi. Selanjutnya menurut Maylia

(2007) meneliti tentang rasio keuangan yang mampu memprediksi peringkat

obligasi dengan variabel leverage, likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, dan

produktivitas. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa semua rasio keuangan

yang dijadikan sebagai variabelmampu untuk memprediksi peringkat obligasi.

Adrian (2011) meneliti tentang faktor yang mempengaruhi peringkat

obligasi dengan variabel leverage, profitabilitas, likuiditas, umur obligasi. Hasil

yang diperoleh menyatakan bahwa likuiditas dan umur obligasi berpengaruh

terhadap peringkat obligasi. Manurung (2008) meneliti tentang rasio keuangan

yang dapat mempengaruhi peringkat obligasi dengan variabel likuiditas,

profitabilitas, leverage, dan beta. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa

likuiditas berpengaruh pada peringkat obligasi. Dewi (2013) meneliti tentang

faktor yang dapat memprediksi peringkat obligasi dengan variabel profitabilitas,

leverage, likuiditas, solvabilitas, produktivitas, jaminan obligasi, umur obligasi,

dan reputasi auditor. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa profitabilitas dan

likuiditas berpengaruh terhadap peringkat obligasi.


Beberapa penelitian juga menemukan bahwa peringkat obligasi dapat

dipengaruhi oleh faktor non keuangan seperti mekanisme maupun penerapan dari

corporate governance. Prasetiyo (2010) menggunakan kepemilikan institusional,

kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, komite audit, kualitas audit dan

proporsi komisaris independen serta Return on Asset (ROA) sebagai variabel

dalam meneliti pengaruh mekanisme corporate governance terhadap peringkat

obligasi. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris,

komite audit, kualitas audit dan ROA berpengaruh terhadap peringkat obligasi

sedangkan kepemilikan institusional dan kepemilikan manajerial tidak

berpengaruh terhadap peringkat obligasi. Hasil penelitian ini tidak konsisten

dengan penelitian Bhojraj dan Sengupta (2003) yang meneliti pengaruh corporate

governance terhadap peringkat obligasi dan yield obligasi. Hasil yang diperoleh

oleh Bhojraj dan Sengupta menunjukkan bahwa persentase kepemilikan

institusional dan proporsi komisaris independen berpengaruh terhadap peringkat

obligasi dan yield obligasi.

Penelitian ini akan menguji kembali faktor-faktor yang mempengaruhi

peringkat obligasi dikarenakan masih adanya hasil yang tidak konsisten dari

penelitian sebelumnya. Penelitian ini difokuskan pada perusahaan perbankan yang

terdaftar di BEI dan Pefindo karena selain pasar obligasi didominasi oleh sektor

perbankan, fenomena yang diangkat juga terjadi pada perusahaan bank.Pada masa

ini bank merupakan salah satu pelaku terpenting dalam perekonomian suatu

negara. Masyarakat maupun kalangan industri sangat membutuhkan jasa bank

untuk memperlancar aktivitasnya.


Berdasarkan penjelasan diatas,maka penulis tertarik untuk membuat

penelitian dengan judul “PENGARUH RASIO KEUANGAN DAN

CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP PERINGKAT OBLIGASI

PADA PERUSAHAAN YANG BERGERAK DALAM SEKTOR

PERBANKAN“.

B. Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka

rumusan masalah dari penelitian ini adalah:

1. Apakah likuiditas berpengaruh terhadap peringkat obligasi?

2. Apakah solvabilitas berpengaruh terhadap peringkat obligasi?

3. Apakah profitabilitas berpengaruh terhadap peringkat obligasi?

4. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap peringkat obligasi?

5. Apakah kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap peringkat obligasi?

6. Apakah komisaris independen berpengaruh terhadap peringkat obligasi?

7. Apakah komite audit berpengaruh terhadap peringkat obligasi?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari suatu bukti empiris mengenai:

1. Pengaruh likuiditas terhadap peringkat obligasi.

2. Pengaruh solvabilitas terhadap peringkat obligasi.

3. Pengaruh profitabilitas terhadap peringkat obligasi.

4. Pengaruh kepemilikan institusional terhadap peringkat obligasi.


5. Pengaruh kepemilikan manajerial terhadap peringkat obligasi.

6. Pengaruh komisaris independen terhadap peringkat obligasi.

7. Pengaruh komite audit terhadap peringkat obligasi.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapakan dapat memberi manfaat penelitian, yaitu:

1. Bagi Investor

Dapat memberi masukan untuk menilai kualitas obligasi sebelum

berinvestasi pada suatu obligasi.

2. Bagi Perusahaan

Dapat membantu dalam mengetahui faktor-faktor apa saja yang

berpengaruh pada peringkat obligasi agar obligasi dapat bersaing dipasar

modal.

3. Bagi Akademis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian

selanjutnya.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika dalam penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini merupakan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang masalah

penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan

sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini menguraikan teori-teori dari berbagai literatur yang dibutuhkan

dalam penelitian. Teori-teori dalam penelitian ini merupakan teori yang

berkaitan dengan faktor keuangan dan non keuangan yang mempengaruhi

peringkat obligasi pada perusahaan.

BAB III METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang jenis penelitian, populasi, sampel dan teknik

penentuan sampel, jenis data, definisi operasional variabel dan pengukuran

variabel, serta teknik analisis data.


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Teori Keagenan (Agency Theory)

Definisi teori keagenan menurut Jensen dan Meckling (1976) yaitu

hubungan yang timbul dari adanya kontrak yang ditetapkan antara dua pihak,

yaitu pihak principal(investor) sebagai pihak yang mendelegasikan pekerjaan dan

agent(manajemen) sebagai pihak yang menerima pendelegasian pekerjaan, yang

berarti terjadi pemisahan antara kepemilikan dan kontrol perusahaan. Teori agensi

menyatakan bahwa apabila terdapat pemisahan antara principal dan agent yang

menjalankan perusahaan maka akan muncul permasalahan agensi karena masing-

masing pihak tersebut akan selalu berusaha untuk memaksimalkan fungsi

utilitasnya.

Konflik keagenan yang berhubungan dengan penerbitan obligasi dapat

terjadi antara manajemen dengan kreditor. Manajemen yang perusahaannya

menerbitkan obligasi berkepentingan agar obligasi yang diterbitkan dapat terjual

seluruhnya. Para kreditor berkepentingan terhadap penjaminan kondisi perusahaan

penerbit dalam keadaan baik sehingga dalam hal ini dapat mengurangi biaya

penjaminan (bonding cost). Peringkat obligasi yang merupakan hasil

pemeringkatan lembaga pemeringkat merupakan sinyal tentang probabilitas

kegagalan pembayaran utang sebuah perusahaan sehingga menyatakan skala

risiko tingkat keamanan suatu obligasi (Estiyanti dan Yasa, 2012).


13

B. Teori Pensinyalan (Signaling Theory)

Akerlof (1970) mengatakan bahwa teori pensinyalan menggambarkan

adanya kesenjangan antara pengirim dan penerima berita (informasi). Teori ini

menjelaskan mengapa perusahaan mempunyai inisiatif atau dorongan untuk

memberikan informasi kepada pihak eksternal. Teori pensinyalan menjelaskan

alasan perusahaan meyajikan informasi kepada publik (Wolk dkk, 2001 dalam

Estiyanti dan Yasa, 2012). Informasi tersebut bisa berupa laporan keuangan,

informasi kebijakan perusahaan maupun informasi lain yang dilakukan secara

sukarela oleh manajemen perusahaan.

Teori pensinyalan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa manajemen

perusahaan sebagai pihak yang memberikan sinyal berupa laporan keuangan

perusahaan dan informasi non keuangan kepada lembaga pemeringkat obligasi.

Lembaga pemeringkat obligasi ini melakukan proses pemeringkatan sehingga

dapat menerbitkan peringkat obligasi bagi perusahaan penerbit obligasi dan

memberikan sinyal tentang probabilitas kegagalan pembayaran utang sebuah

perusahaan.

C. Obligasi

1. Pengertian Obligasi

Menurut Bursa Efek Indonesia, obligasi adalah surat utang jangka

menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak

yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu

dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak
pembeli obligasi tersebut. Jangka waktu obligasi telah ditetapkan dan disertai

dengan pemberian imbalan bunga yang jumlah dan saat pembayarannya telah

ditetapkan dalam perjanjian. Obligasi menjadi salah satu sumber pendanaan

(financing) bagi pemerintah dan perusahaan, yang dapat diperoleh dari pasar

modal. Secara sederhana, obligasi merupakan suatu surat berharga yang

dikeluarkan oleh penerbit (issuer) kepada investor (bondholder), dimana penerbit

akan memberikan suatu imbal hasil (return) berupa kupon yang dibayarkan secara

berkala dan nilai pokok (principal) ketika obligasi tersebut mengalami jatuh

tempo. Obligasi dikenal sebagai alternatif untuk instrumen investasi yang

memberikan pendapatan tetap kepada investor dengan waktu yang telah

ditentukan sebeluumnya.

2. Jenis-Jenis Obligasi

a. Jenis-Jenis Obligasi Perusahaan

Ada beberapa jenis obligasi perusahaan dengan masing-masing

karakteristiknya yang berbeda (Tandelilin, 2010):

1) Obligasi Dengan Jaminan

Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan dengan menggunakan jaminan

suatu aset real, sehingga jika perusahaan gagal memenuhi kewajibannya

maka pemegang obligasi berhak untuk mengambil alih aset tersebut.

2) Obligasi Tanpa Jaminan

Obligasi yang diterbitkan tanpa menggunakan suatu jaminan aset tertentu.


3) Obligasi Konversi

Obligasi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk

mengkonversikan obligasi tersebut dengan sejumlah saham perusahaan pada

harga yang telah ditetapkan, sehingga pemegang obligasi mempunyai

kesempatan untuk memperoleh capital gain.

4) Obligasi Yang Disertai Warrant

Dengan adanya waran, maka pemegang obligasi mempunyai hak untuk

membeli saham perusahaan pada harga yang telah ditentukan.

5) Obligasi Tanpa Kupon

Obligasi yang tidak memberikan pembayaran bunga. Obligasi tanpa kupon

umumnya ditawarkan pada harga dibawah nilai par nya, sehingga investor

akan memperoleh keuntungan dari nilai par obligasi pada saat obligasi

tersebut dibeli.

6) Obligasi Dengan Tingkat Bunga Mengambang

Obligasi yang memberikan tingkat bunga yang besarnya disesuaikan dengan

fluktuasi tingkat bunga pasar yang berlaku.

7) Putable Bond

Obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi sesuai dengan

nilai par sebelum waktu jatuh tempo.

8) Junk Bond

Obligasi yang memberikan tingkat keuntungan (kupon) yang tinggi, tetapi

juga mengandung risiko yang sangat tinggi pula.


9) Sovereign Bond

Obligasi yang diterbitkan oleh suatu negara dalam mata uangnya sendiri,

tetapi dijual di negara lain dalam mata uang negara tersebut.

b. Obligasi Negara

Di indonesia, obligasi negara merupakan bagian dari surat utang negara

yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Surat Utang Negara (SUN)

adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah

maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara.

Secara umum SUN dapat dibedakan ke dalam dua jenis:

1) Surat Perbendaharaan Negara (SPN), yaitu SUN berjangka waktu sampai

dengan 12 bulan dengan pembayaran bunga secara diskonto.

2) Obligasi Negara (ON), yaitu SUN berjangka waktu lebih dari 12 bulan.

3. Peringkat Obligasi

Peringkat obligasi merupakan ukuran risiko dari semua obligasi yang

diperdagangkan. Peringkat obligasi menunjukkan ukuran keamanan obligasi

dalam membayar kewajiban pokok dan bunga secara tepat waktu. Semakin tinggi

peringkat, menunjukkan bahwa obligasi tersebut terhindar dari risiko default.

Peluang dimana emiten akan mengalami kondisi tidak mampu memenuhi

kewajiban keuangannya (Foster, 1986 dalam Raharja dan Sari, 2008). Peringkat

obligasi diharapakan dapat memberikan petunjuk bagi investor tentang kualitas

investasi obligasi yang mereka minati.


4. Perusahaan Pemeringkat Obligasi Indonesia

Pemeringkat obligasi di Indonesia dilakukan oleh dua lembaga, yaitu PT.

Pefindo dan PT. Kasnic. Pefindo mempublikasikan peringkat obligasi setiap

bulan. Kasnic telah berganti nama menjadi Moody’s Indonesia pada tahun 2007.

Dalam penelitian penulis menggunakan peringkat obligasi yang dikeluarkan oleh

Pefindo. Pefindo didirikan pada tanggal 21 Desember 1993 dan memperoleh izin

operasi dari BAPEPAM pada tanggal 13 Agustus 1994 dengan nomor 34/PM-

PI/1994. Fungsi utama Pefindo adalah menyediakan suatu peringkat atas risiko

kredit yang objektif, independen, serta dapat dipertanggungjawabkan atas

penerbitan surat utang yang diperdagangkan kepada masyarakat luas. Simbol

peringkat dan makna peringkat obligasi yang digunakan PT. Pefindo adalah:

a. idAAA, Efek utang yang peringkatnya paling tinggi dan berisiko paling

rendah yang didukung oleh kemampuan obligor yang superior relatif

dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi kewajiban jangka

panjangnya sesuai dengan perjanjian.

b. idAA, Efek utang yang memiliki kualitas kredit sedikit dibawah peringkat

tertinggi, didukung oleh kemampuan obligor yang sangat kuat untuk

memenuhi kewajiban finansial jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian,

relatif dibanding dengan entitas Indonesia lainnya, dan tidak mudah

dipengaruhi oleh perubahan keadaan.

c. idA, Efek utang yang berisiko investasi rendah dan memiliki kemampuan

dukungan obligor yang kuat dibanding entitas Indonesia lainnya untuk


memenuhi kewajiban finansialnya sesuai dengan perjanjian namun cukup

peka terhadap perubahan yang merugikan.

d. idBBB, Efek utang yang berisiko investasi cukup rendah didukung oleh

kemampuan obligor yang memadai, relatif dibanding entitas Indonesia

lainnya untuk memenuhi kewajiban finansialnya sesuai dengan perjanjian

namun kemampuan tersebut dapat diperlemah oleh perubahan keadaan

bisnis dan perekonomian yang merugikan.

e. idBB, Efek utang yang menunjukkan dukungan kemampuan obligor yang

agak lemah relatif dibanding entitas Indonesia lainnya untuk memenuhi

kewajiban jangka panjangnya sesuai dengan perjanjian serta peka terhadap

keadaan bisnis dan perekonomian yang tidak menentu dan merugikan.

f. idB, Efek utang yang menunjukkan parameter perlindungan yang sangat

lemah. Walaupun obligor masih memiliki kemampuan untuk memenuhi

kewajiban jangka panjangnya namun adanya perubahan keadaan bisnis dan

perekonomian yang merugikan akan memperburuk kemampuan tersebut

untuk memenuhi kewajiban finansialnya.

g. idCCC, Efek utang yang tidak mampu lagi memenuhi kewajiban

finansialnya serta hanya bergantung kepada perbaikan keadaan eksternal.

h. idD, Efek utang yang macet atau emitennya sudah berhenti berusaha.

Peringkat dari idAA hingga idB dapat dimodifikasi dengan penambahan

plus (+) atau minus (-). Tanda plus (+) ataupun minus (-) digunakan untuk

menunjukkan kekuatan relatif dari kategori peringkat.


D. Analisis Rasio Bank

Analisis rasio merupakan salah satu alat analisis keuangan yang paling

populer dan banyak digunakan. Berbagai rasio dapat dihitung dengan

menggunakan laporan keuangan. Adapun rasio tersebut sebagai berikut (Tita,

2014):

1. Likuiditas

Likuiditas merujuk pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi

kewajiban keuangan jangka pendeknya. Suatu bank dapat dikatakan likuid

apabila:

a. Bank tersebut memiliki cash asset sebesar kebutuhan yang digunakan untuk

memenuhi likuiditasnya.

b. Bank tersebut memiliki cash asset yang lebih kecil dari kebutuhan

likuiditasnya, tetapi mempunyai aset atau aktiva lainnya (misal surat

berharga) yang dapat dicairkan sewaktu-waktu tanpa mengalami penurunan

nilai pasarnya.

c. Bank tersebut mempunyai kemampuan untuk menciptakan cash asset baru

melalui berbagai bentuk utang.

2. Solvabilitas

Rasio solvabilitas atau sering disebut dengan rasio permodalan

merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam

memenuhi kewajiban keuangan jangka panjangnya. Selain itu rasio solvabilitas

digunakan untuk:
a. Ukuran kemampuan bank untuk menyerap kerugian-kerugian yang tidak

dapat dihindarkan.

b. Sumber dana yang diperlukan untuk membiayai kegiatan usahanya sampai

batas tertentu, karena sumber-sumber dana dapat juga berasal dari utang

penjualan aset yang tidak dipakai dan lain-lain.

c. Alat pengukur besar kecilnya kekayaan bank yang dimiliki oleh para

pemegang sahamnya.

d. Dengan modal yang mencukupi, memungkinkan manajemen bank untuk

bekerja dengan efisiensi yang tinggi, seperti yang dikehendaki oleh para

pemilik modal pada bank tersebut.

3. Profitabilitas

Profitabilitas adalah evaluasi rasio kinerja operasi yang umumnya

mengaitkan pos laporan laba rugi dengan penjualan. Setiap perusahaan selalu

berusaha untuk meningkatkan profitabilitasnya. Jika perusahaan mampu

meningkatkan profitabilitasnya, dapat dikatakan bahwa perusahaan tersebut

mampu mengelola sumber daya yang dimiliknya secara efektif dan efisien

sehingga mampu menghasilkan laba yang tinggi. Sebaliknya,sebuah perusahaan

mempunyai profitabilitas rendah menunjukkan bahwa perusahaan tidak mampu

mengelola sumber daya yang dimilikinya dengan baik,sehingga tidak mampu

menghasilkan laba tinggi.


E. Corporate Governance

1. Pengertian Corporate Governance

Corporate governance timbul karena kepentingan perusahaan untuk

memastikan kepada pihak penyandang dana (principal/investor) bahwa dana yang

ditanamkan digunakan secara tepat dan efisien. Selain itu dengan corporate

governance, perusahaan memberikan kepastian bahwa manajemen (agent)

bertindak yang terbaik demi kepentiangan perusahaan. Hendro Sigit (2012)

mendefinisikan corporate governance adalah upaya perbaikan terhadap sistem,

proses, dan seperangkat peraturan dalam pengelolaan suatu organisasi yang pada

esensinya mengatur dan memperjelas hubungan, wewenang, hak dan kewajiban

semua pemangku kepentingan dalam arti luas dan khususnya organ Rapat Umum

Pemegang Saham (RUPS), dewan komisaris, dan dewan direksi dalam arti sempit.

2. Manfaat Corporate Governance

Penerapan corporate governance memberikan 4 manfaat yaitu

(FCGI,2001 dalam Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006):

a. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan

keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi perusahaan, serta lebih

menigkatkan pelayanan kepada stakeholders.

b. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah dan tidak

rigit (karena faktor kepercayaan) yang pada akhirnya akan meningkatkan

corporate value.
c. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di

Indonesia.

d. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena

sekaligus akan meningkatkan shareholder’s values dan dividen.

3. Mekanisme Corporate Governance

Mekanisme corporate governance merupakan suatu aturan main,

prosedur, dan hubungan yang jelas antara pihak yang mengambil keputusan

dengan pihak yang melakukan kontrol/pengawasan terhadap keputusan tersebut.

Mekanisme corporate governance dalam penelitian ini meliputi kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial, komisaris independen dan komite audit.

Masing-masing mekanisme tersebut dijelaskan sebagai berikut (Setyapurnama

dan Norpratiwi, 2006):

a. Kepemilikan institusional

Kepemilikan institusional memiliki kemampuan untuk mengendalikan pihak

manajemen melalui proses monitoring secara efektif sehingga dapat

mengurangi manajemen laba.

b. Kepemilikan manajerial

Kepemilikan manajerial merupakan konsentrasi kepemilikan saham yang

dimiliki oleh pihak manajemen (agent) dalam suatu perusahaan.

c. Komisaris independen

Komisaris independen adalah sebuah badan dalam perusahaan yang

biasanya beranggotakan dewan komisaris yang independen yang berasal


dari luar perusahaan yang berfungsi untuk menilai kinerja perusahaan secara

luas dan keseluruhan.

d. Komite audit

Komite audit merupakan badan yang dibentuk oleh dewan direksi untuk

mangaudit operasi dan keadaan perusahaan.

e. Ukuran dewan komisaris

Ukuran dewan komisaris maksudnya adalah jumlah anggota dewan

komisaris didalam perusahaan.

f. Kualitas audit

Kualitas audit dibagi menjadi dua, yaitu yang dilakukan oleh auditor yang

termasuk dalam big 4 dan non big 4.

4. Prinsip-Prinsip Corporate Governance

Komite Nasional Kebijakan Good Corporate Governance (KNKGCG)

yang dibentuk tahun 1999 berdasarkan SK Menko Ekuin Nomor

KEP/31/M.EKUIN/08/1999 telah mengeluarkan pedoman GCG. Pedoman

tersebut disempurnakan pada tahun 2006 oleh Komite Nasional Kebijakan

Governance (KNKG) sebagai pengganti KNKGCG. KNKG mengeluarkan

Pedoman Umum GCG Indonesia yang berisi lima prinsip dasar sebagai berikut

(Arafat dan Waluyo, 2008 dalam Hendro Sigit, 2012):

a. Transparansi

Perusahaan harus menyediakan informasi yang material dan relevan dengan

cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan.


b. Akuntabilitas

Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara

transparan dan wajar.

c. Tanggung jawab

Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta

melaksanakan tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan

sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan

mendapatkan pengakuan sebagai good corporate citizen.

d. Independensi

Perushaan harus dikelola secara independen sehingga masing-nasing organ

perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh

pihak lain.

e. Kewajaran dan kesetaraan

Perusahaan harus senantiasa memperhatikan kepentingan pemegang saham

dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan

kesetaraan.

F. Pengembangan Hipotesis

1. Hubungan Likuiditas Terhadap Peringkat Obligasi

Likuiditas merujuk pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi

kewajiban keuangan jangka pendeknya. Tingkat rasio likuiditas yang tinggi

mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar

seluruh kewajibannya dan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan yang dimiliki


oleh perusahaan tersebut. Likuiditas bank ditunjukkan oleh besar kecilnya kredit

yang diberikan dan dana pihak ketiga berupa tabungan, giro dan deposito.

Semakin tinggi rasio likuiditas berarti semakin tinggi kemampuan perusahaan

untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang dapat mengakibatkan naiknya

peringkat obligasi perusahaan tersebut.

Burton dkk (2000) dalam Estiyanti dan Yasa (2012) menyatakan bahwa

tingkat likuiditas yang tinggi akan menunjukkan kuatnya kondisi keuangan

perusahaan sehingga secara finansial akan mempengaruhi prediksi peringkat

obligasi. Penelitian Adrian (2011) dan Manurung (2008) menyimpulkan bahwa

likuiditas berpengaruhpada peringkat obligasi. Berdasarkan uraian diatas, dapat

ditarik hipotesis sebagai berikut:

H1: Likuiditas berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

2. Hubungan Solvabilitas Terhadap Peringkat Obligasi

Rasio solvabilitas atau sering disebut dengan rasio permodalan

merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam

mencari sumber dana untuk membiayai kegiatannya. Horrigan (1996) dalam

Maylia (2007) menemukan bahwa rasio solvabilitas berpengaruh terhadap

peringkat obligasi. Semakin besar fleksibilitas keuangan perusahaan maka

semakin kecil kemungkinan perusahaan menghadapi masalah keuangan dimasa

yang akan datang. Semakin tinggi solvabilitas perusahaan maka semakin baik

peringkat obligasi perusahaan tersebut. Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik

hipotesis sebagai berikut:


H2: Solvabilitas berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

3. Hubungan Profitabilitas Terhadap Peringkat Obligasi

Investasi dalam bentuk obligasi secara langsung sebenarnya tidak

terpengaruh oleh profitabilitas perusahaan, karena berapapun besarnya profit yang

mampu dihasilkan oleh perusahaan, pemegang obligasi tetap menerima sebesar

tingkat bunga yang telah ditentukan. Akan tetapi para peneliti tetap tertarik

terhadap profitabilitas perusahaan karena profitabilitas mungkin merupakan satu-

satunya indikator yang paling baik mengenai kesehatan keuangan perusahaan

(Magreta dan Poppy, 2009). Apabila laba perusahaan tinggi, maka akan

memberikan peringkat yang baik pula sehingga variabel ini dikatakan dapat

mempengaruhi prediksi peringkat obligasi. Berdasarkan uraian diatas, dapat

ditarik hipotesis sebagai berikut:

H3: Profitabilitas berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

4. Hubungan Kepemilikan Institusional Terhadap Peringkat Obligasi

Tarjo (2002) menyatakan bahwa pemegang saham akan melakukan

pengawasan terhadap manajemen, namun bila biaya pengawasan tersebut tinggi

maka pemegang saham akan menggunakan pihak ketiga (debtholders atau

bondholders) untuk membantu melakukan pengawasan. Sesuai dengan pernyataan

tersebut, pemegang saham yang memiliki kemampuan untuk melakukan

pengawasan yang handal adalah pemegang saham mayoritas (terkonsentrasi),

institusional atau terkonsentrasi pada pemilik institusional.


Dengan adanya kepemilikan institusional maka tata kelola perusahaan

yang baik dapat dilaksankan, sehingga dapat mencegah hazard dari manajemen

atau segera melakukan tindakan perbaikan manajemen yang pada akhirnya dapat

meningkatkan kinerja perusahaan dan peringkat surat utangnya tinggi

(Rinaningsih, 2008). Bhojraj dan Sengupta (2003)meneliti pengaruh corporate

governance pada peringkat dan yield obligasi. Dalam penelitian ini proksi dari

corporate governance adalah kepemilikan institusional dan komisaris independen.

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa persentase kepemilikan institusional

berhubungandengan peringkat obligasi.Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik

hipotesis sebagai berikut:

H4: Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

5. Hubungan Kepemilikan Manajerial Terhadap Peringkat Obligasi

Jensen and Meckling (1976) menemukan bahwa kepemilikan manajerial

berhasil menjadi mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan dari pihak

manajemen dengan menyelaraskan kepentingan-kepentingan pihak manajemen

dengan pihak prinsipal. Kepemilikan manajerial akan mendorong manajemen

untuk meningkatkan kinerja perusahaan, karena mereka juga merasa memiliki

perusahaan tersebut. Akibat adanya kepemilikan manjerial dalam sebuah

peusahan, kinerja perusahaan menjadi lebih baik yang akibatnya dapat menaikkan

peringkat obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang bersangkutan.

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:

H5: kepemilikan manajerial berpengaruhpada peringkat obligasi.


6. Hubungan Komisaris Independen Terhadap Peringkat Obligasi

Herawaty (2008) menyatakan bahwa komisaris independen dapat

bertindak sebagai penengah dalam perselisihan yang terjadi antara para manajer

internal dan mengawasi kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada

manajemen. Komisaris independen merupakan posisi terbaik untuk melaksanakan

fungsi monitoring agar tercipta perusahaan yang good corporate governance.

Semakin banyak proporsi komisaris Independen dalam sebuah perusahaan maka

semakin baik kinerja perusahaan yang akibatnya akan menaikkan peringkat

obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan yang bersangkutan.

Bhojraj dan Sengupta (2003) meneliti pengaruh corporate governance

pada peringkat dan yield obligasi. Dalam penelitian ini proksi dari corporate

governance adalah kepemilikan institusional dan komisaris independen. Hasil

yang diperoleh menunjukkan bahwa proporsi komisaris independen

berhubungandengan peringkat obligasi. Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik

hipotesis sebagai berikut:

H6: Komisaris independen berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

7. Hubungan Komite Audit Terhadap Peringkat Obligasi

Komite audit bertugas membantu dewan komisaris untuk memonitor

proses pelaporan keuangan oleh manajemen untuk meningkatkan kredibilitas

laporan keuangan (Suaryana, 2005). Tugas komite audit meliputi menelaah

kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan, menilai pengendalian

internal, menelaah sistem pelaporan eksternal dan kepatuhan terhadap peraturan.


Di dalam pelaksanaan tugasnya komite menyediakan komunikasi formal antara

dewan, manajemen, auditor eksternal dan auditor internal. Semakin banyak

jumlah komite audit dalam melaksanakan tugasnya maka semakin baik kinerja

perusahaan yang akibatnya akan menaikkan peringkat obligasi yang diterbitkan

oleh perusahaan yang bersangkutan.

Setyapurnama dan Norpratiwi (2006) meneliti pengaruh corporate

governancemenggunakan proksi komite audit dengan mengevaluasi dan

melakukan sintesa beberapa penelitian terdahulu tentang corporate governance

yang berkaitan dengan komite audit. Penelitian ini menghasilkan adanya

hubungan antara komite audit dengan kualitas laporan keuangan dan kinerja

perusahaan sehingga dengan kinerja perusahaan yang baik maka peringkat

obligasi juga ikut baik.Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik hipotesis sebagai

berikut:

H7: Komite audit berpengaruh terhadap peringkat obligasi.

G. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan pada teori yang telah dijelaskan sebelumnya dan

berdasarkan pada uraian penelitian-penelitian terdahulu yang menguji pengaruh

rasio keuangan maupun coprorate governance, maka dibuat suatu kerangka

pemikiran. Terdapat tujuh variabel independen yang terdiri dari likuiditas,

solvabilitas, profitabilitas, kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial,

komisaris independen dan komite audit serta satu variabel dependen yaitu

peringkat obligasi. Kerangka pemikiran tersebut adalah sebagai berikut:


Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran

H1
Likuiditas (X1)
H2
Solvabilitas (X2)
H3
Profitabilitas(X3)

Kepemilikan H4 Peringkat
Institusional (X4) Obligasi (Y)
H5
Kepemilikan Manajerial
(X5) H6

Komisaris Independen
(X6) H7

Komite Audit (X7)

Sumber: Data Diolah, 2016


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah asosiatif kausal. Asosiatif kausal adalah jenis penelitian

untuk melihat pengaruh antara dua variabel atau lebih untuk melihat hubungan sebab-akibat

antara variabel independen terhadap variabel dependennya (Sugiyono, 2010). Pada penelitian

ini, peneliti menggunakan variabel likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, kepemilikan

institusional, kepemilikan manajerial, komisaris independen, dan komite audit sebagai

variabel independen dalam mempengaruhi peringkat obligasi sebagai variabel dependen.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa

Efek Indonesia periode 2010-2014. Penelitian ini difokuskan pada perusahaan perbankan

karena pasar obligasi didominasi oleh sektor perbankan dan pada masa ini bank merupakan

salah satu pelaku terpenting dalam perekonomian suatu negara. Masyarakat maupun kalangan

industri sangat membutuhkan jasa bank untuk memperlancar aktivitasnya.

Penentuan sampel dalam penelitian ini berdasarkan pada metode purposive

sampling, dimana sampel dipilih berdasarkan pada kriteria tertentu. Adapun kriteria yang

digunakan untuk memilih sampel adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan perbankan yang menerbitkan obligasi yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia Periode 2010-2014.


2. Perusahaan perbankan yang terdaftar di lembaga pemeringkat PT Pefindo periode

2011-2015. Penelitian ini menggunakan jasa pemeringkat obligasi Pefindo karena

mayoritas perusahaan yang listing di BEI diperingkat oleh Pefindo.

C. Teknik Pengumpulan Data dan Jenis Data Penelitian

Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi

diperoleh dari catatan peristiwa yang sudah berlalu (Sugiyono, 2010). Jenis data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data yang tidak diperoleh secara

langsung, misalnya peneliti mendapat informasi melalui orang lain atau mencari melalui

dokumen (Sugiyono, 2010). Data yang dikumpulkan peneliti berupa laporan keuangan

tahunan (annual report) dari perusahaan yang ditetapkan sebagai sampel periode 2010-2014

yang diperoleh dari www.idx.co.id dan data peringkat obligasi periode 2011-2015 yang

diperoleh dari www.pefindo.com.

D. Definisi Opersional dan Pengukuran Variabel

Agar konsep yang digunakan dapat diukur secara empiris serta untuk menghindari

dari penafsiran yang berbeda, maka konsep tersebut perlu didefinisikan terlebih dahulu.

Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel Terikat (Dependent Variable)

Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peringkat obligasi

yang dikeluarkan oleh PT Pefindo. Peringkat obligasi merupakan ukuran risiko dari semua

obligasi yang diperdagangkan.dalam penelitian ini, peringkat obligasi yang digunakan adalah

peringkat berkategori investment grade. Hal ini didasari oleh peraturan di Bursa Efek

Indonesia yang menetapkan peringkat obligasi terendah adalah idBBB- atau lebih tinggi.
Pengukuran variabel dilakukan dengan membagi peringkat berkategori investment grade ke

dalam 4 klasifikasi. Adapun klasifikasi peringkat obligasiyang digunakan sebagai berikut:

Tabel 3.1
Klasifikasi Peringkat Obligasi

Peringkat Obligasi Skor


idAAA 4
idAA+ 3
idAA 3
idAA- 3
idA+ 2
idA 2
idA- 2
idBBB+ 1
idBBB 1
idBBB- 1
Sumber: Pefindo

2. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas adalah variabel yang berfungsi menjelaskan atau mempengaruhi

variabel lainnya. Adapun variabel bebas dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Likuiditas

Likuiditas merujuk pada kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan

jangka pendeknya. Munir (2013) mengatakan rasio keuangan aspek likuiditas bank

diukur dengan menggunakan loan to deposit ratio (LDR), dengan rumus yang

digunakan sebagai berikut:

𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝑌𝑎𝑛𝑔 𝐷𝑖𝑏𝑒𝑟𝑖𝑘𝑎𝑛


LDR =
𝐷𝑎𝑛𝑎 𝑃𝑖ℎ𝑎𝑘 𝐾𝑒𝑡𝑖𝑔𝑎

b. Solvabilitas

Rasio solvabilitas atau sering disebut dengan rasio permodalan merupakan rasio yang

digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam mencari sumber dana untuk

membiayai kegiatannya. Sabir, dkk (2012) mengatakan rasio keuangan aspek


solvabilitas bank diukur dengan menggunakan Capital Adequacy Ratio (CAR), dengan

rumus yang digunakan sebagai berikut:

𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐸𝑘𝑢𝑖𝑡𝑎𝑠
CAR =
𝐴𝑇𝑀𝑅

c. Profitabilitas

Profitabilitas adalah evaluasi rasio kinerja operasi yang umumnya mengaitkan pos

laporan laba rugi dengan penjualan. Munir (2013) mengatakan rasio aspek keuangan

profitabilitas bank diukur dengan menggunakan Return on Asset (ROA), dengan rumus

yang digunakan sebagai berikut:

𝐸𝐵𝑇
ROA =
𝑅𝑎𝑡𝑎−𝑅𝑎𝑡𝑎 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑒𝑡

d. Kepemilikan Institusional

Kepemilikan institusional adalah jumlah persentase hak suara yang dimiliki institusi.

Institusi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua investor yang berbentuk

lembaga. Dalam penelitian ini kepemilikan institusional diukur dengan menggunakan

indikator persentase jumlah saham yang dimiliki oleh institusi dari seluruh jumlah

saham yang beredar (Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006).

e. Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial merupakan konsentrasi kepemilikan saham yang dimiliki oleh

pihak manajemen (agent) dalam suatu perusahaan. Kepemilikan manajerial

menunjukkan ada tidaknya komisaris dan direksi yang memiliki saham pada

perusahaan dimana mereka menjabat (Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006).Penilaian

variabel ini menggunakan dummy, yaitu 1 jika terdapat kepemilikan manajerial dan 0

jika tidak terdapat kepemilikan manajerial. Alasan menggunakan dummy adalah karena

jumlah kepemilikan manajerial sebagian besar kurang dari 1%, sehingga variabel

jumlah kepemilikan manajerial tidak banyak.


d. Komisaris Independen

Komisaris independen adalah sebuah badan dalam perusahaan yang biasanya

beranggotakan dewan komisaris yang independen yang berasal dari luar perusahaan

yang berfungsi untuk menilai kinerja perusahaan secara luas dan keseluruhan. Proporsi

dewan komisaris independen diukur dengan menggunakan indikator persentase anggota

dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan dari seluruh anggota dewan

komisaris perusahaan (Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006).

e. Komite Audit

Komite audit merupakan badan yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk mangaudit

operasi dan keadaan perusahaan. Biasanya pengukuran variabel komite audit

menggunakan variabel dummy berdasarkan ada tidaknya komite audit dalam

perusahaan (Setyapurnama dan Norpratiwi, 2006). Namun pengukuran berdasarkan

keberadaan komite audit tidak dapat digunakan lagi karena sudah ada peraturan yang

menyatakan bahwa suatu perusahaan yang telah go publicharus memiliki komite audit.

Berdasarkan alasan tersebut maka peneliti mengukur komite audit menggunakan

variabel dummy dengan mengkategorikan komite audit yang baik dengan memberikan

angka 0 pada perusahaan yang mempunyai komite audit antara satu sampai lima orang

dan komite audit yang sangat baik dengan memberikan angka 1 pada perusahaan yang

mempunyai komite audit antara enam sampai sepuluh orang.

E. Teknik analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan yaitu regresi ordinal (ordinal regression)

karena variabel dependen yang digunakan berskala ordinal atau kategorial. Teknik analisis ini

tidak menggunakan lagi uji normalitas dan uji asumsi klasik pada variabel bebasnya (Imam

Ghozali, 2013).Regresi ordinal digunakan untuk melihat pengaruh antara variabel independen
terhadap variabel dependen.Teknik analisis data ini digunakan dengan bantuan SPSS versi

17.

Persamaan regresi yang akan diuji dalam penelitian ini adalah:

Logit (p1 + p2 +…..pk) = aj + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 + β6X6 + β7X7

Keterangan:

p = Peringkat Obligasi

aj = Konstanta

X1 = Likuiditas

X2 = Solvabilitas

X3 = Profitabilitas

X4 = Kepemilikan Institusional

X5 = Kepemilikan Manajerial

X6 = Komisaris Independen

X7 = Komite Audit

B1 – B7 = Koefisien Regresi

1. Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan model regresi ordinal dengan

melihat tabel Parameter Estimates.Pengujian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh dari

masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.Tingkat signifikansi yang

digunakan adalah 5%. Kriterianya yaitu:


a. Jika nilai sig. < 0,05 maka hipotesis diterima

b. Jika nilai sig. > 0,05 maka hipotesis ditolak

Terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar hasil pengujian hipotesis

dapat diterima:

a. Menilai Model Fitting Information

Analisis pertama yang dilakukan adalah menilai overall fit model terhadap data.

Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan nilai antara -2 Log Likelihood awal

(intercept only) dengan -2 Log Likelihood pada model final. Model dikatakan fit dengan data

jika terjadi penurunan nilai antara -2Log Likelihood awal (intercept only) dengan -2 Log

Likelihood pada model final dan tingkat nilai signifikansi sebesar 5%. Hasil ini juga

menerangkan apakah dengan memasukkan variabel independen dalam model akan

memberikan kontribusi pada model. Cara menilai fit ini adalah sebagai berikut:

1) Jika nilai -2LogL < 0,05 berarti bahwa model fit dengan data atau variabel independen

memberikan kontribusi pada modal.

2) Jika nilai -2LogL > 0,05 berarti bahwa model tidak fit dengan data atau variabel

independen tidak memberikan kontribusi pada model.

b. Menilai Kelayakan Model Regresi (Goodness of Fit)

Goodness of Fit menguji kesesuaianmodel antara hipotesis nol sebagai data hasil

prediksi model dengan data empiris (tidak ada perbedaan antara model dengan data sehingga

model dikatakan fit). Cara menilai kelayakan model regresi adalah sebagai berikut:
1) Apabila nilai Goodness of Fit Test> 0,05 (nilai signifikansi Pearson dan Deviance >

0,05) maka model yang terbentuk adalah fit atau layak dipergunakan.

2) Apabila nilai Goodness of Fit Test< 0,05 (nilai signifikansi Pearson dan Deviance<

0,05) maka model yang terbentuk adalah tidak fit atau tidak layak dipergunakan.

c. Test of Parallel Lines

Test of parallel lines digunakan untuk menguji asumsi bahwa setiap kategori

memiliki parameter yang sama atau hubungan antara variabel independen dengan logit adalah

sama untuk semua persamaan logit. Keputusannya adalah sebagai berikut:

1) Jika nilai sig. > 0,05 maka model memiliki parameter yang sama sehingga pemilihan

model link function logit sesuai.

2) Jika nilai sig. < 0,05 maka model memiliki nilai yang tidak sama sehingga pemilihan

model link function logit tidak sesuai.

2. Pseudo R-Square

Pseudo R-Square digunakan untuk mengetahui besarnya variabilitas variabel

dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen.Nilai ini ditunjukkan oleh

persentase McFadden.
DAFTAR PUSTAKA

Adhi Prasetiyo. 2010. Pengaruh Mekanisme Corporate Governance Dan Profitabilitas


Perusahaan Terhadap Peringkat Obligasi. Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
Adrian. 2011. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Peringkat Obligasi Pada
Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia, Skripsi. Universitas
Diponegoro. Semarang.
Agung Suaryana. 2005. Pengaruh Komite Audit Terhadap Kualitas Laba. Simposium
Nasional Akuntansi VIII. Solo.
Agustinus Prasetyantoko. 2006. Krisis Reputasi. Kompas (online). Terbit 16 April 2006.
(http://aprasetyantoko.blogspot.co.id). Diakses tanggal 16 Maret 2016.
Ana Purwaningsih. 2008. Pemilihan Rasio Keuangan Terbaik Untuk Memprediksi Peringkat
Obligasi: Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di BEJ. Jurnal Kinerja,
Vol 12 No 1.
Dewi Widowati. 2013. Analisis Faktor Keuangan dan Non Keuangan Yang Berpengaruh
Pada Prediksi Peringkat Obligasi Di Indonesia. Jurnal Manajemen. Vol 13 No 1.
Eduardus Tandelilin. 2010. Portofolio dan Investasi: Teori dan Aplikasi. Edisi 1. Kanisius.
Yogyakarta
Imam Ghozali. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS 21. Edisi 7. BP
Undip. Semarang.
Jensen dan Meckling. 1976. Theory of The firm: Manajerial Behavior, Agency Cost and
Ownership Structure. Jurnal of Financial and Economics. Vol 3 No 4.
Jogiyanto Hartono. 2010. Metode Penelitian Bisnis:Salah Kaprah dan Pengalaman-
Pengalaman. Edisi 6. BPFE-Yogyakarta. Yogyakarta.
Magreta dan Poppy Nurmayanti. 2009. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prediksi
Peringkat Obligasi Ditinjau Dari Faktor Akuntansi dan Non Akuntansi. Jurnal Bisnis
dan Akuntansi, Vol 11 No3.
Manurung, dkk. 2008. Hubungan Rasio-Rasio Keuangan Dengan Rating Obligasi.
(www.finansialbisnis.com). Diakses tanggal 25 Februari 2016.
Maylia Pramono Sari. 2007. Kemampuan Rasio Keuangan Sebagai Alat Untuk Memprediksi
Peringkat Obligasi. Jurnal Bisnis dan Ekonomi, Vol 14 No 2.
Moch. Saiful Munir. 2013. Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Perbankan Syariah
Dengan Perbankan Konvensional. Jurnal Akuntansi Unesa, Vol 1 No 3.
Muh. Sabir, dkk. 2012. Pengaruh Rasio Kesehatan Bank Terhadap Kinerja Keuangan Bank
Umum Syariah dan Bank Konvensional Di Indonesia. Jurnal Analisis, Vol 1 No 1.
Ni Made Estiyanti dan Gerianta Wirawan Yasa. 2012. Pengaruh Faktor Keuangan dan Non
Keuangan Pada Peringkat Obligasi di Bursa Efek Indonesia. Simposium Nasional
Akuntansi. Banjarmasin.
Raharja dan Sari. 2008. Kemampuan Rasio Keuangan Dalam Memprediksi Peringkat
Obligasi. Jurnal Maksi. Vol 8 No 2.
Rinaningsih. 2008. Pengaruh Praktik Corporate Governance Terhadap Risiko Kredit, Yield
Surat Utang (Obligasi). SimposiumNasional Akuntansi XI. Pontianak.
Sanjeev Bhojraj dan Partha Sengupta. 2003. Effect of Corporate Governance on Bond
Ratings and Yields: The Role of Institutional Investors and Outside Directors. The
Journal of Business (www.ssrn.com). Diakses tanggal 25 Februari 2016.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & RND. Alfabeta. Bandung.
Tarjo. 2002. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan Institusional dan Leverage Terhadap
Manajemen Laba, Nilai Pemegang Saham, Serta Cost Of Equity Capital. Simposium
Nasional Akuntansi V. Denpasar.
Tita. 2014. Beda Antara Rasio Keuangan Perusahaan dan Rasio Keuangan Bank (online).
Terbit 21 Oktober 2014. (http://blog.stie-mce.ac.id). Diakses tanggal 16 Maret 2016.
Tri Hendro Sigit. 2012. Etika Bisnis Modern: Pendekatan Pemangku Kepentingan. Sekolah
Tinggi Ilmu Manajemen-YKPN. Yogyakarta.
Vinola Herawaty. 2008. Peran Praktik Corporate Governance Sebagai Moderating Variable
Dari Pengaruh Earnings Management Terhadap Nilai Perusahaan.
SimposiumNasional Akuntansi XI. Pontianak.
Yudi Santara Setyapurnama dan Vianey Norpratiwi. 2006. Pengaruh Corporate Governance
Terhadap Peringkat Obligasi dan Yield Obligasi. Jurnal Akuntansi dan Bisnis, Vol 7
No 2.