Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH TERMODINAMIKA

PEMICU III
SECOND LAW OF THERMODYNAMICS & CYCLIC PROCESSES

Disusun Oleh:
Kelompok 8
Elizabeth Verdiana Listiono (1506737022)
Gina Aswari (1606843142)
Meisy Radhista (1506673271)
Nabilla Larasati Karlinda (1506673425)
Sesia Fitri Anisa (1506729866)

Departemen Teknik Kimia


Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Depok - 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena akhirnya tim penulis dapat
menyelesaikan laporan ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Termodinamika Teknik Kimia.

Sebagai calon insinyur teknik kimia sudah semestinya untuk mempelajari berbagai hal
yang berhubungan dengan ilmu dasar termodinamika. Hal tersebut dipandang sangat penting,
untuk menjadi dasar mempelajari proses pada teknik kimia nantinya.

Walaupun banyak kendala yang dihadapi sepanjang pembuatan laporan ini, tim penulis
tetap bertekad untuk menyelesaikan laporan ini sebagai komitmen dan tanggungjawab demi
memenuhi tugas mata kuliah kimia analitik. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini.

Tim penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,
tim penulis mengharapkan adanya kritik serta saran supaya laporan ini lebih baik lagi untuk
kedepannya.

Tim penulis berharap agar laporan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan dapat
menambah wawasan kami khususnya mahasiswa teknik kimia.

Depok, Maret 2017

Tim penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ..............................................................................................................2

DAFTAR ISI.............................................................................................................................3

BAB I: PENDAHULUAN ......................................................................................................4

A. Latar Belakang ..............................................................................................................4

B. Definisi Masalah ...........................................................................................................4

C. Tujuan Pembelajaran .....................................................................................................4

BAB II: PEMBAHASAN ........................................................................................................5

Soal 1 ...................................................................................................................................5
Soal 2 ...................................................................................................................................7
Soal 3 .................................................................................................................................10
Soal 4 .................................................................................................................................14
Soal 5 .................................................................................................................................18
Soal 6 .................................................................................................................................20
Soal 7 .................................................................................................................................23

BAB III: PENUTUP .............................................................................................................25

A. Kesimpulan .................................................................................................................25
B. Saran ............................................................................................................................25

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................26

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Termodinamika adalah salah satu mata ajaran inti teknik kimia. Konsep-konsep dasar yang
dipelajari pada mata kuliah ini akan digunakan pada pembelajaran berikutnya seperti
perancangan pabrik, perancangan produk, skripsi, bahkan mungkin akan diterapkan dalam
kerja praktek.

Banyak masalah sehari-hari yang berhubungan erat dengan konsep termodinamika,


terutama dalam bidang industri. Sebagai calon insinyur teknik kimia, sudah selayaknya
mahasiswa Teknik Kimia UI untuk dapat memecahkan masalah yang ada kaitannya dengan
termodinamika. Oleh karena itu, diperlukan suatu dasar yang menjadi bahan pembelajaran
dalam hal termodinamika yang berkaitan dengan masalah yang timbul dalam kegiatan
keseharian yang terdapat pada pemicu ini. Pada pemicu ini, yang menjadi fokus pembelajaran
adalah tentang hukum termodinamika kedua dan proses siklus.

B. Definisi Masalah
Hukum II Termodinamika serta proses-proses siklus
C. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembuatan laporan ini adalah untuk mempelajari hukum kedua termodinamika dan
proses-proses siklus: tubin (ekspander), alat penukar kalor, pompa, siklus rankine, siklus
refrigerasi, siklus carnot, dan cryogenic rankine cycle dalam LNG Revaporation Unit.

4
BAB II
PEMBAHASAN

Assignment 1

Hilda received an assignment from her thermodynamics course instructor who asked students to
derive the equation to calculate the efficiency of a Carnot engine:

(a)Could you also do Hilda’s assignment? Hilda learned that the high temperature source could
be a combustion chamber where mixture of air and coal could react and reach temperature of
700 K. (b) What is the value of the Carnot engine efficiency calculated by Hilda? (c) Explain why
the efficiency of the Carnot heat engine is higher than the typical efficiency value of an actual
heat engine (<0.4) ?

Jawaban:

a) Mendapatkan persamaan efisiensi mesin Carnot

Gambar 1: PV diagram menunjukkan siklus Carnot untuk gas ideal


Sumber: J.M. Smith. Introduction To Chemical Engineering Thermodynamics 6th ed.

Siklus carnot memiliki empat proses reversible:


 a ke b : pemampatan adibatik dengan peningkatan suhu dari TC ke TH. Sistem menerima
kerja kompresi sehingga volume sistem berkurang
 b ke c: pemuaian isothermal dengan penambahan kalor |QH|. Volume sistem bertambah
dan sistem melakukan kerja ekspansi
 c ke d: pemuaian adiabatik dengan penurunan temperatutur sampai TC. Volume sistem
bertambah dan sistem melakukan kerja ekspansi
 d ke a: pemampatan isothermal dengan pelepasan kalor |QC|.
Untuk proses isothermal b ke c dan d ke a didapatkan persamaan

5
𝑉𝑐 𝑉𝑑
|QH| = RTH ln dan |QC| = RTH ln
𝑉𝑏 𝑉𝑎

Sehingga
𝑉𝑐
|𝑄𝐻 | 𝑇𝐻 ln( )
= 𝑉𝑏
|𝑄𝐶 | 𝑉𝑑
𝑇𝐶 ln (𝑉𝑎 )

Untuk proses adiabatic a ke b dan c ke d didapatkan persamaan


𝑇𝐻 𝐶𝑣 𝑑𝑇 𝑉𝑎 𝑇𝐻 𝐶𝑣 𝑑𝑇 𝑉𝑑
∫𝑇 = ln 𝑉𝑏 dan ∫𝑇 = ln 𝑉𝑐
𝐶 𝑅 𝑇 𝐶 𝑅 𝑇

Karena ruas kiri pada kedua persamaan sama, maka dapat ditulis
𝑉𝑎 𝑉𝑑 𝑉𝑐 𝑉𝑑
ln = ln 𝑎𝑡𝑎𝑢 ln = ln
𝑉𝑏 𝑉𝑐 𝑉𝑏 𝑉𝑎
𝑉𝑐
|𝑄𝐻 | 𝑇𝐻 ln( )
𝑉𝑏
Persamaan = 𝑉𝑑 dapat ditulis ulang dalam bentuk
|𝑄𝐶 | 𝑇𝐶 ln( )
𝑉𝑎

|𝑄𝐻 | 𝑇𝐻
=
|𝑄𝐶 | 𝑇𝐶

Untuk mengetahui total usaha yang dilakukan mesin dapat dilakukan dengan mencari selisih
antara kalor yang diberikan pada suhu TH dan kalor yang dikeluargkan saat suhu TC.
𝑊 = 𝑄𝐻 − 𝑄𝑐
𝑇𝑐
= (1 − )𝑄
𝑇𝐻 𝐻
Sehingga efisiensi mesin didefiniskan sebagai fraksi dari kalor yang masuk yang terkonversi
menjadi usaha
𝑊 𝑇𝑐
𝜂= =1−
𝑄𝐻 𝑇𝐻
b) Berapa nilai efisiensi saat TH= 700 K?

Pada soal ini kita ketahui suhu sumber combustion chamber pada 700 K. Nilai Tc didapatkan
dari kondisi ambien yang tergantung pada lokasi mesinnya, oleh karena itu diasumsukan Tc
adalah suhu ruangan 298 K. Dengan semua nilai yang sudah didapatkan, masukkan ke dalam
persamaan efisiensi mesin carnot
𝑇𝑐 298
𝜂 =1− = 1− = 0.58
𝑇𝐻 700
c) Mengapa nilai efisiensi Carnot lebih besar dibandingkan biasanya?

6
Mesin carnot dioperasikan secara empat proses reversible sehingga efisiensi yang dimiliki
oleh mesin Carnot adalah efisiensi maksimum yang secara teoritis dapat dicapai dan sesuai
untuk digunakan sebagai acuan. Sebagian kalor yang diterima akan lepas ke lingkungan yang
berfungsi sebagai reservoir dingin sehingga kerja akan memiliki kualitas yang lebih tinggi
dibandingkan pada kuantitas yang sama.

Assignment 2

The Ranque-Hilsch vortex tube is a device that receive a gas stream (say at 10 bar and 295 K) and
divides it into two stream with equal mass flow rates and equal pressure (say at 1 bar). There is
no mechanical work and heat transfer involve in the operation of this device. Show by using the
first and the second law of thermodynamics, that maximum temperature difference between the
two outlets is 501 K. Hint: largest temperature difference can be obtained only if gas expansion is
a reversible process. Use Cp gas of 30 kJ/(kmol.K).
Jawaban

Gambar 2: Ranque-Hilsch vortex tube


Diketahui :
𝑃𝑖𝑛𝑙𝑒𝑡 = 10 𝑏𝑎𝑟
𝑇𝑖𝑛𝑙𝑒𝑡 = 295 𝐾
𝑃𝑜𝑢𝑡𝑙𝑒𝑡,1 = 𝑃𝑜𝑢𝑡𝑙𝑒𝑡,2 = 1 𝑏𝑎𝑟

𝑄=0
𝑊=0
𝑘𝐽
𝐶𝑝 = 30
𝑘𝑚𝑜𝑙. 𝐾

7
Asumsi :
- Sistem berada dalam kondisi steady-state
- Gas berekspansi dalam proses reversibel

Dengan menerapkan Hukum Termodinamika I, maka diperoleh


𝑛 𝑛

∆𝑈 = 𝑄 − 𝑊 − ∑(𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 ) 𝑚𝑖,𝑜𝑢𝑡 + ∑(𝐻̇𝑖,𝑖𝑛 ) 𝑚𝑖,𝑖𝑛


𝑖 𝑖
𝑛 𝑛

0 = 0 + 0 − ∑(𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 ) 𝑚𝑖,𝑜𝑢𝑡 + ∑(𝐻̇𝑖,𝑖𝑛 ) 𝑚𝑖,𝑖𝑛


𝑖 𝑖
𝑛 𝑛

∑(𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 ) 𝑚𝑖,𝑜𝑢𝑡 = ∑(𝐻̇𝑖,𝑖𝑛 ) 𝑚𝑖,𝑖𝑛


𝑖 𝑖

2𝑚 𝐶𝑝 295 𝐾 = 𝑚 𝐶𝑝 𝑇ℎ + 𝑚 𝐶𝑝 𝑇𝑐

𝑇𝑐 + 𝑇ℎ = 590 𝐾 (1)

Gas ideal memiliki perubahan entropi yang didefinikan sebagai


𝑑𝑢 𝑝
𝑑𝑠 = + 𝑇 𝑑𝑣 ; 𝑑𝑢 = 𝑐𝑣 (𝑇)𝑑𝑇
𝑇

𝑑ℎ 𝑣
𝑑𝑠 = + 𝑇 𝑑𝑝 ; 𝑑ℎ = 𝑐𝑝 (𝑇)𝑑𝑇
𝑇

sehingga,

𝑑𝑇 𝑑𝑣
𝑑𝑠 = ∫ 𝑐𝑣 (𝑇) +𝑅
𝑇 𝑣

𝑑𝑇 𝑑𝑝
𝑑𝑠 = ∫ 𝑐𝑝 (𝑇) +𝑅
𝑇 𝑝

Maka diperoleh
1
∆𝑆̇ = ∫ 𝑑𝑞
𝑇

∆𝑆̇ = ∆𝑆̇ 𝑐 + ∆𝑆̇ ℎ

8
𝑚̇𝑐 𝑇𝑐 𝑝𝑖 𝑚̇ℎ 𝑇ℎ 𝑝𝑖
∆𝑆̇ = [𝑐𝑝 ln + 𝑅 ln ] + [𝑐𝑝 ln + 𝑅 ln ]
𝑚̇𝑖 𝑇𝑖 𝑝𝑐 𝑚̇𝑖 𝑇𝑖 𝑝ℎ
di mana sistem dianggap berjalan secara reversibel sehingga ∆𝑆̇ = 0, sehingga persamaan di atas
dapat dituliskan menjadi
𝑚̇𝑐 𝑇𝑐 𝑝𝑖 𝑚̇ℎ 𝑇ℎ 𝑝𝑖
[𝑐𝑝 ln + 𝑅 ln ] + [𝑐𝑝 ln + 𝑅 ln ] = 0
𝑚̇𝑖 𝑇𝑖 𝑝𝑐 𝑚̇𝑖 𝑇𝑖 𝑝ℎ

𝑇𝑐 𝑝𝑖 𝑇ℎ 𝑝𝑖
[𝑐𝑝 ln + 𝑅 ln ] + [𝑐𝑝 ln + 𝑅 ln ] = 0
𝑇𝑖 𝑝𝑐 𝑇𝑖 𝑝ℎ

30 𝑇𝑐 8,314 10 30 𝑇ℎ 8,314 10
[ ln + ln ] + [ ln + ln ] = 0
28,97 295 28,97 1 28,97 295 28,97 1

𝑇𝑐 𝑇ℎ = 24252 (2)

Persaman (2) kemudian disubtitusikan ke dalam persamaan (1) menjadi


𝑇𝑐 + 𝑇ℎ = 590 𝐾
24252
𝑇𝑐 + = 590
𝑇𝑐
𝑇𝑐2 − 590 𝑇𝑐 + 24252 = 0
𝑇𝑐1 = 545.55 𝐾 atau 𝑇𝑐2 = 44.45 𝐾
𝑇ℎ1 = 44.45 𝐾 atau 𝑇ℎ2 = 545.55 𝐾

Sehingga dapat dibuktikan bahwa


∴ ∆𝑇1 = ∆𝑇2 = 501.1 𝐾 ≈ 501 𝐾

9
Assignment 3
Superheated steam at 40 bar and 360oC with mass flow rate of 11 kg/s is divided into two
streams. The first stream enters a 90% efficient steam turbine which produces 2.24 MW. Of shaft
work and the second stream enters a throttling valve. The stream exiting the valve and the
turbine mix in a mixing chamber and flows into a condenser where steam becomes saturated
liquid at 198.3oC. Determine: (a) the temperature of the stream leaving the mixing chamber; (b)
the mass flow rate through the valve, in kg/s; (c) locate the four numbered states on an h-s
diagram. Neglect heat transfer with the surroundings, changes in kinetic and potential energy,
and pressure drop in mixing chamber and condenser.

Jawaban
Diketahui :

Asumsi :

- Sistem berada dalam kondisi steady-state


- Tidak terdapat perpindahan panas ke lingkungan
- Energi Kinetik dan Potensial diabaikan
- Tidak terdapat pressure drop pada mixing chamber dan condenser
Ditanya:

a. Menentukan Suhu Keluaran Mixing Chamber (T5)


Untuk menentukan suhu pada titik 5, batasan dari sistem yang ditinjau dapat dilihat pada
gambar berikut

10
Sehingga sistem di atas dapat disederhanakan menjadi

m5 = 11 kg/s

Neraca Energi dari sistem di atas dapat dituliskan mnejadi


𝑛 𝑛

∆𝑈 = 𝑄 − 𝑊 − ∑(𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 ) 𝑚𝑖,𝑜𝑢𝑡 + ∑(𝐻̇𝑖,𝑖𝑛 ) 𝑚𝑖,𝑖𝑛


𝑖 𝑖
𝑛 𝑛

0 = 0 − 𝑊 − ∑(𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 ) 𝑚𝑖,𝑜𝑢𝑡 + ∑(𝐻̇𝑖,𝑖𝑛 ) 𝑚𝑖,𝑖𝑛


𝑖 𝑖
𝑛 𝑛

𝑊 = ∑(𝐻̇𝑖,𝑖𝑛 ) 𝑚𝑖,𝑖𝑛 − ∑(𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 ) 𝑚𝑖,𝑜𝑢𝑡


𝑖 𝑖
𝑛 𝑛
106 𝐽/𝑠 𝑘𝑔
2.24 𝑀𝑊 × = 11 × (∑(𝐻̇𝑖,𝑖𝑛 ) − ∑(𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 ))
𝑀𝑊 𝑠
𝑖 𝑖

di mana aliran superheated steam pada suhu 360oC dan tekanan 40 bar memiliki nilai entalpi
sebesar 𝐻̇ = 3115872 𝐽/𝑘𝑔, sehingga
𝑛
106 𝐽/𝑠 𝑘𝑔 𝐽
2.24 𝑀𝑊 × = 11 × (3118098 − ∑(𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 ))
𝑀𝑊 𝑠 𝑘𝑔
𝑖

11
𝐽 𝑘𝐽
𝐻̇𝑖,𝑜𝑢𝑡 = 2914461.64 = 2914.46
𝑘𝑔 𝑘𝑔
Tekanan pada titik 5 juga dapat ditentukan dengan meninjau sistem condenser di mana
tekanan keluaran dan tekanan masuk bernilai sama karena tidak adanya pressure drop dalam
condenser. Tekanan pada keluaran condenser dapat dilihat dari pembacaan sifat fisik gas
keluaran berupa saturated liquid bersuhu 198.3oC menggunakan steam table sehingga
diperoleh tekanan sebesar 1.50 MPa. Melalui pembacaan steam table, diperoleh bahwa

Sehingga diketahui bahwa pada kondisi tersebut, fluida berwujud superheated steam dengan
suhu T5 = 246.01oC.

b. Menentukan Laju Alir Massa yang Masuk ke dalam Throttling Valve (m3)
Bila suatu sistem berjalan secara adiabatic dan reversibel, maka sistem tersebut juga berjalan
secara isentropic di mana entropi bernilai konstan pada seluruh keadaan. Sehingga nilai
𝑘𝐽
entropi di titik 1 akan sama dengan titik 0 yaitu sebesar 𝑆1̇ = 6.6237 . Selain itu, nilai
𝑘𝑔.𝐾
entalpi pada titik 1 juga bernilai sama dengan entalpi pada titik 0 karena berasal dari aliran
𝑘𝐽
yang sama, sehingga 𝐻̇1 = 3118.098 . 𝑘𝑔
Dengan meninjau sistem turbin, maka diperoleh informasi bahwa
𝑊 = 𝑚1 (𝐻̇1 − 𝐻̇2 )
𝑘𝐽 𝑘𝐽
2240 = 𝑚1 (3118.098 − 𝐻̇2 )
𝑠 𝑘𝑔
Karena turbin memiliki efisiensi sebesar 90%, maka
𝑊𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖ℎ𝑎𝑠𝑖𝑙𝑘𝑎𝑛 𝑚1 (𝐻̇1 − 𝐻̇2 ) (𝐻̇1 − 𝐻̇2 )
𝜂= = =
𝑊𝑏𝑖𝑙𝑎 𝑒𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 100% 𝑚1 (𝐻̇1 − 𝐻̇2𝑠 ) (𝐻̇1 − 𝐻̇2𝑠 )
di mana 𝐻̇2𝑆 merupakan nilai entalpi pada titik 2 bila sistem berjalan secara isentropic (𝑆1̇ =
𝑆2̇ ) di mana tidak ada usaha yang terbuang. Nilai 𝐻̇2𝑆 dapat diperoleh dengan melakukan
pembacaan steam table dengan acuan data 𝑆2̇ dan P2 di mana P2 memiliki nilai yang sama
dengan P5 yaitu sebesar 1.5 MPa karena tidak terdapat pressure drop pada mixing chamber,
sehingga diperoleh 𝐻̇2𝑆 = 2879.05 𝑘𝐽/𝑘𝑔.
Sehingga
(𝐻̇1 − 𝐻̇2 )
𝜂=
(𝐻̇1 − 𝐻̇2𝑠 )

12
𝑘𝐽
(3118.098 − 𝐻̇2 )
𝑘𝑔
0.90 =
𝑘𝐽 𝑘𝐽
(3118.098 − 2879.05 )
𝑘𝑔 𝑘𝑔
𝑘𝐽
𝐻̇2 = 2902.95
𝑘𝑔
Nilai 𝐻̇2 kemudian disubtitusikan ke dalam persamaan usaha turbin, sehingga
𝑘𝐽 𝑘𝐽
2240 = 𝑚1 (3118.098 − 𝐻̇2 )
𝑠 𝑘𝑔
𝑘𝐽 𝑘𝐽 𝑘𝐽
2240 = 𝑚1 (3118.098 − 2902.95 )
𝑠 𝑘𝑔 𝑘𝑔
𝑘𝑔
𝑚1 = 10.41
𝑠
Jumlah laju alir massa titik 1 dan 3 akan bernilai sama dengan titik 0 menurut hukum
konservasi massa sehingga,

𝑚0 = 𝑚1 + 𝑚3
𝑘𝑔 𝑘𝑔
11 = 10.41 + 𝑚3
𝑠 𝑠
𝑘𝑔
𝑚3 = 0.59
𝑠
c. Diagram h-S

Suhu Tekanan Entalpi Entropi


Kondisi Fasa
(oC) (bar) (kJ/kg) (kJ/kgK)
Superheated
0 360 40 3118.098 6.6237
steam
Superheated
1 360 40 3118.098 6.6237
steam
Superheated
2 241.22 15 2902.95 6.6706
steam
Superheated
3 360 40 3118.098 6.6237
steam
Superheated
4 336.26 15 3118.098 7.0550
steam
Superheated
5 246.02 15 2914.490 6.6929
steam
Saturated
6 198.3 15 844.74 2.3147
liquid

13
0,1,3 4
2 5

Gambar 3. Lokasi Setiap Keadaan pada Diagram h-S


(Sumber: Dokumen Penulis)

Assignment 4

Your new assignment is about Rankine cycle, an important cyclic process in the application of
electrical power generation. The following pictures are the only leads that you received from your
thermodynamics course instructor.

Gambar 4: Rankine cycle


14
Having a good textbook on chemical engineering thermodynamics you are confident that you will
learn the fundamentals of the Rankine cycle. What you need to do are as follows: (a) Explain what
happens to the working fluid as it moves along the cycle. Using steam as your working fluid and
the following data: saturated vapor enters the turbine at 8.0 MPa, saturated liquid exits the
condenser at 0.008 MPa, and, the net power generated by the cycle is 100 MW, and typical
efficiency values for turbines and pumps, determine the following quantitites: (b) the mass flow
rate of the steam, in kg/h; (c) the rate of heat transfer, qin, into the working fluid as it flows through
the boiler, in MW; (d) the rate of heat transfer, qout, from the condensed steam as it flows through
the condenser, in MW; (e) the mass flow rate of the condenser cooling water, in kg/h, if the cooling
water enters at 15°C and leaves the condenser at 35°C; (f) the thermal efficiency of the cycle.

Jawaban:

Asumsi:
1. Tiap komponen diasumsikan sebagai volume kontrol pada kondisi tunak.
2. Seluruh proses pada fluida kerja dianggap reversible
3. Turbin dan pompa bekerja secara adiabatik (s konstan)
4. Energi kinetik dan energi potensial diabaikan

Diketahui:
P3 = 8.0 Mpa (kondisi saturated vapor)
P1 = 0.008 Mpa (kondisi saturated liquid)
Qnet = 100 MW

Ditanya:
a. Apa yang terjadi pada fluida kerja selama dalam siklus Rankine?
b. Laju alir massa steam
c. Laju perpindahan kalor fluida kerja (qin) ketika melewati boiler
d. Laju perpindahan kalor condensing steam (qout) ketika melewati kondenser
e. Laju alir massa condenser cooling water
f. Efisiensi termal siklus

Jawaban:

a. Fluida kerja keluaran boiler yang dalam kondisi saturated vapor (3), masuk ke dalam turbin
dimana tersebut akan melakukan kerja. Setelah keluar dari turbin (4), fluida tersebut kemudian
masuk ke dalam kondenser untuk didinginkan dan diubah fasanya menjadi saturated liquid
(1). Fluida dalam fasa liquid kemudian masuk ke dalam pompa dan tekanannya menjadi lebih
tinggi (2) Setelah itu, fluida akan dipanaskan pada boiler dan kembali melakukan siklus yang
sama seperti sebelumnya.

15
Melalui steam table, dengan mengetahui P3 maka akan didapatkan data nilai h3 sebesar 2758.0
KJ/Kg dan s3 sebesar 5.7432 KJ/ Kg . K.

Pada aliran keluaran turbin yang diberi nomor (4) memiliki nilai P1 = 0.008 Mpa. Namun,
karena turbin dianggap bekerja secara adiabatik, maka nilai entropi pada aliran ketika masuk
turbin sama dengan nilai entropi aliran saat akan masuk ke kondenser. Sehingga dapat
diperoleh nilai kualitas sebagai berikut:
𝑠4 − 𝑠𝑓 5.7432 − 0.5926
𝑥4 = = = 0.6745
𝑠𝑔 − 𝑠𝑓 7.6361

Dan nilai entalpi sebagai berikut:


ℎ4 = ℎ𝑓 + 𝑥4 ℎ𝑓𝑔
= 173.88 + 0.6745)2403.1
= 1794.8 𝑘𝐽/𝑘𝑔

Pada aliran (1), fluida berada pada kondisi saturated liquid dengan tekanan sebesar 0.008 Mpa
dan dengan nilai entalpi (h1) sebesar 173.88 kJ/kg.
Pada aliran (2), memiliki tekanan boiler sebesar P2 dengan entropi s2 = s1. Sedangkan untuk
nilai entalpinya (h2) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan neraca massa dan energi
untuk volume kontrol di sekitar pompa yang telah disederhanakan menjadi:

Ẇ𝑃
ℎ2 = ℎ1 + = ℎ1 + 𝑣1 (𝑃1 − 𝑃2 )

10−3 𝑚3 106 𝑁/𝑚2 1 𝑘𝐽
ℎ2 = 173.88 𝑘𝐽/𝑘𝑔 + (1.0084 × (8
) − 0.08)𝑀𝑝𝑎 | || 3 |
𝑘𝑔 1 𝑀𝑝𝑎 10 𝑁 . 𝑚
= 173.88 + 8.06 = 181.94 𝑘𝐽/𝑘𝑔

b. Laju alir massa steam


Ẇ𝑠𝑖𝑘𝑙𝑢𝑠
ṁ=
(ℎ3 − ℎ4 ) − (ℎ2 − ℎ1 )
103 𝑘𝑊 3600𝑠
(100 𝑀𝑊) |
𝑀𝑊 | | ℎ |
=
(963.2 − 8.06)
= 3.77 × 105 𝑘𝑔/ℎ

c. Laju perpindahan kalor fluida kerja (Qin) ketika melewati boiler


𝑄𝑖𝑛 = ṁ(ℎ3 − ℎ2 )
5
10 𝑘𝑔
(3.77 × ) (2758.0 − 181.94)𝑘𝐽/𝑘𝑔

= = 269.77 𝑀𝑊
103 𝑘𝑊 3600𝑠
| 𝑀𝑊 | | |

d. Laju perpindahan kalor condensing steam (Qout) ketika melewati kondenser

16
𝑄𝑜𝑢𝑡 = ṁ(ℎ4 − ℎ1 )
5
10 𝑘𝑔
(3.77 × ) (1794.8 − 173.88)𝑘𝐽/𝑘𝑔

= = 169.75 𝑀𝑊
103 𝑘𝑊 3600𝑠
| 𝑀𝑊 | | |

e. Laju alir massa condenser cooling water (ṁcw)

0 = 𝑄𝑐𝑣 − Ẇ𝑐𝑣 + ṁ(ℎ𝑐𝑤,𝑖𝑛 − ℎ𝑐𝑤,𝑜𝑢𝑡 ) + ṁ(ℎ4 − ℎ1 )


ṁ(ℎ4 − ℎ1 )
ṁ𝑐𝑤 =
(ℎ𝑐𝑤,𝑜𝑢𝑡 − ℎ𝑐𝑤,𝑖𝑛 )
𝑄𝑜𝑢𝑡
ṁ𝑐𝑤 =
(ℎ𝑐𝑤,𝑜𝑢𝑡 − ℎ𝑐𝑤,𝑖𝑛 )
103 𝑘𝑊 3600𝑠
(169.75 𝑀𝑊) | 𝑀𝑊 | | |

=
(146.68 − 62.99)𝑘𝐽/𝑘𝑔
= 7.3 × 106 𝑘𝑔/ℎ

f. Efisiensi termal pada siklus

Ẇ𝑠𝑖𝑘𝑙𝑢𝑠 𝑛𝑒𝑡 = Ẇ𝑡 − Ẇ𝑝

Neraca massa dan energi turbin:


Ẇ𝑡
= ℎ3 − ℎ4

Neraca massa dan energi pompa:


Ẇ𝑝
= ℎ2 − ℎ1

Efisiensi termal pada siklus

Ẇ𝑡 − Ẇ𝑝
𝜂=
𝑄𝑖𝑛
(ℎ3 − ℎ4 ) − (ℎ2 − ℎ1 )
=
(ℎ1 − ℎ4 )
(2758.0 − 1794.8) − (181.94 − 173.88)𝑘𝐽/𝑘𝑔
=
(2758.0 − 181.94)𝑘𝐽/𝑘𝑔
= 0.371 = 37.1%

17
Assignment 5
Explain the differences between the simple Rankine cycle shown in assignment 4 and the modified
Rankine Cycle shown below.

Gambar 5. Regenerative vapor power cycle with one Closed Feedwater Heaters
Jawaban
Pada assignment 4, menunjukkan siklus rankine ideal yang ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

Gambar 6. Siklus rankine sederhana


Siklus rankine sederhana mengalami 4 proses diantaranya :
Proses 1-2 : terjadi ekspansi isentropik dalam pompa menuju tahap 2 pada daerah compressed
liquid.

18
Proses 2-3 : panas ditransfer ke fluida kerja yang mengalir pada tekanan konstan kedalam boiler.
Proses 3-4 : terjadi ekspansi isentropik pada fluida kerja melewati turbine dari tahap saturated
vapor pada tahap 3 menuju tekanan kondenser.
Proses 4-1 : panas ditransfer dari fluida kerja yang mengalir pada tekanan konstan melalui
kondenser dengan saturated liquid pada tahap 1.

Metode yang sering digunakan untuk meningkatkan efisiensi termal dari vapor power
plants adalah dengan regenerative feedwater heating atau regenerasi. Pada siklus rankine
sederhana yang ditunjukkan pada Gambar 2, fluida kerja dapat masuk kedalam boiler sebagai
compressed liquid pada tahap 2 dan dipanaskan hingga menjadi fasa liquid pada tahap a. Dengan
menggunakan regenerative feedwater heating, fluida kerja masuk kedalam boiler pada tahap
antara 2 dan a. Sehingga, temperatur rata-rata dari panas yang ditambahkan akan meningkat dan
dapat meningkatkan efesiensi termal.
Salah satu contoh dari metode regenerative feedwater heating ditunjukkan pada gambar 1
yang merupakan Closed feedwater heaters. Closed heaters merupakan tipe shell-and-tube
recuperators dimana temperatur feedwater meningkat karena adanya panas yang ditransfer dari
steam kondensat pada bagian luar tube yang membawa feedwater. Dalam sebuah regenerative
vapor power cycle memiliki satu closed feedwater heater dengan kondensate yang terperangkap
dalam kondenser yang ditunjukkan pada gambar 2. Pada siklus ini, fluida lewat secara isentropik
melalui turbin dan pompa, dan tidak terdapat pressure drop bersama aliran yang melewati
komponen lainnya. Pada diagram T-s menunjukkan tahap utama pada siklus ini. Pada Gambar 2,
ditunjukkan bahwa total steam yang masuk kedalam turbin adalah pada tahap 1 ke tahap 2. Pada
posisi ini, sebagian aliran masuk kedalam closed feedwater heater, dimana terjadi kondensasi.
Saturated liquid pada extraction pressure keluar dari feedwater heater pada tahap 7. Kondensat
dialirkan ke kondenser dan berkumpul dengan fraksi yang melewati tahap ke 2 pada turbin.
Ekspansi dari tahap 7 menuju tahap 8 merupakan proses irreversible, sehingga menyebabkan
adanya garis putus-putus pada diagram T-s. Total aliran yang keluar dari kondenser sebagai
saturated liquid pada tahap 4 dipompa menuju steam generator pressure dan masuk ke feedwater
heater pada tahap 5. Temperatur dari feedwater meningkat ketika melewati feedwater heater.
Feedwater kemudian keluar pada tahap 6. Siklus ini berakhir ketika fluida kerja dipanaskan dalam
steam generator pada tekanan konstan dari tahap 6 sampai tahap 1. Meskipun pada closed heater
menunjukkan tidak adanya pressure drop dalam aliran, namun ada sumber irreversibilitas pada
perbedaan temperatur stream-to-stream.
Untuk menganalisa siklus ini, fraksi dari total flow extracred, yang dilambangkan dengan
y, didapatkan dengan mengaplikasikan prinsip konservasi massa dan konservasi energi pada
kontrol volume disekeliling closed heater. Diasumsikan tidak ada panas yang ditransfer antara
feedwater heater dengan sekelilingnya, dan mengabaikan efek energi kinetik dan energi potensial,
maka neraca massa dan energi pada steady-state :
0 = 𝑦(ℎ2 − ℎ1 ) + (ℎ5 − ℎ6 )

19
Maka didapat y,
ℎ6 − ℎ5
𝑦=
ℎ2 − ℎ1

Assignment 6
After graduating with a degree in chemical engineering you are working for PT Putra Gasindo
Gemilang (GPG) as a process engineer. PT GPG received a contract from an LNG receiving
terminal authority to evaluate the possibility of utilizing LNG cold energy for the generation of
electrical energy using the Rankine cycle. A short description is given:
 LNG from LNG storage tank is pumped using LNG pump to pressure of 35‐45 kg f/cm 2
gauge
 LNG flows through the first heat exchanger (propane vapor condenser) so that its
temperature is increased from ‐160 to ‐500C. Subsequently, LNG is evaporated in the
natural gas trim heater using sea water as the heating fluid.
 Once liquefied, propane as a working fluid in the Rankine cycle is pressurized by the
propane circulation pump and vaporized in the propane vaporizer at a pressure
corresponding to the temperature of the sea water. Propane vapor is expanded in the
turbine to produce electricity.
 Propane leaving the turbine enters the LNG vaporizer to be liquefied again utilizing the
LNG cold temperature

The website of the Osaka Gas Company in Japan described their cold energy utilization with the
following process flow
diagram:
Assignments :
(a) Describe the Rankine cycle employed by Osaka Gas. Why is it called low‐temperature Rankine
cycle;
(b) Estimate the conditions (temperature, pressure, phase) of the two fluids (LNG/NG and
propane) used in the low temperature Rankine cycle.

20
Gambar 7. LNG Cryogenic Power Generation pada Osaka Gas
Sumber : Pemicu Termodinamika Nomor 6

Jawab :

a. Proses ini menggunakan LNG sebagai fluida utama dan propana yang berfungsi
untuk menggerakkan turbin (intermediate heating medium). Proses siklus ini dapat
dijelaskan sebagai berikut.
LNG dari tangki penyimpanan (LNG Storage Tank) dipompa dengan menggunakan
pipa LNG (LNG Pump) di mana tekanan LNG meningkat ke 35-45 atm gauge (3.5-4.5
MPaG) menuju ke LNG Vaporizer. LNG Vaporizer terhubung langsung dengan Propane
Condenser, di mana terjadi 2 proses. Proses pertama, LNG terevaporasi menjadi natural
gas (NG), di mana pada proses ini membutuhkan kalor untuk mengubah fasanya dari cair
(liquid) menjadi gas (vapor). Kalor penguapan tersebut diperoleh dari perubahan fasa
propana dari gas menjadi cairan jenuh (proses kedua). Natural Gas (NG) keluar dari LNG
Vaporizer dialirkan menuju ke NG Trim Heater, di NG dipanaskan sampai 00C atau lebih
oleh air laut.
Propana yang keluar dari Propane Condenser berfasa saturated liquid akan terbagi
menjadi 2 aliran. Aliran pertama, propana dialirkan menuju Propane Circulation Pump
yang berfungsi untuk menaikkan tekanannya. Aliran lainnya adalah menuju Pump Bypass
Valve, yang berfungsi untuk mengantisipasi kerusakan pada siklus Rankine sehingga jika
Propane Ccirculation Pump rusak (tidak dapat mengalirkan propana menuju Propane
Vaporizer), maka propana dapat dialirkan dengan menggunakan Pump Bypass Valve
sehingga siklus Rankine dapat berjalan sebagaimana mestinjya.

21
Aliran propana kembali bertemu dan mengalir menuju Propane Vaporizer. Propana
yang berfasa saturated liquid akan menyerap kalor yang dilepaskan oleh air laut sehingga
propana mengalami perubahan fasa dari liquid menjadi vapor. Air laut yang digunakan
pada Propane Vaporizer dibuang dan gas propana akan dialirkan menuju turbin. Pada
turbin, gas propane akan berekspansi dan menghasilkan kerja. Kerja yang dihasilkan akan
menggerakkan turbin. Di dalam generator, energi gerak akan terkonversi menjadi energi
listrik sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik. Setelah melewati
turbin, gas propane kembali dialirkan menuju Propane Condenser.

Cryogenic Rankine Cycle yang digunakan oleh Osaka Gas adalah siklus Rankine
bersuhu rendah yang beroperasi pada kondisi suhu air laut yang digunakan untuk masuk
ke NG Trim Heater, yaitu berkisar antara 200-250C. Hal tersebut juga dibuktikan dengan
memanfaatkan propana sebagai fluida kerja di mana titik didih propana sangat rendah (-
1880C).

Gambar 8. Sistem Cryogenic Power Generation


Sumber : https://www.osakagas.co.jp/en/rd/technical/1198907_6995.html#anchor6
(diakses pada 23 Maret 2017 pukul 02.15 WIB)

22
b. Estimasi suhu, tekanan dan fasa LNG serta propana pada tiap komponen di
siklus :

LNG di dalam tangki


0
T ( C) -162 0C
P (bar) 35 bar
Fasa liquid
LNG dari LNG Vaporizer
T (0C) -50 0C
P (bar) 35 bar
Fasa vapor
Propana dari Propane Vaporizer
0
T ( C) -42,05 0C (titik didih propane)
P (bar) -1,023 bar (Referensi Appendix Moran)
Fasa Liquid (sat. liquid)
Propana di dalam Turbin
T (0C) Sama dengan suhu air laut di Propane
Vaporisation (250C)
P (bar) 9,5 bar (Referensi Appendix Moran)
Fasa Liquid vapor

Assignment 7
Learn what organic Rankine cycle is by watching the video using the following link :
https://www.youtube.com/watch?v=Gkd2RKHydww
and reading the information using the following link :
http://site.ge-energy.com/businesses/ge_oilandgas/en/techinsights/oregen-waste-heat-recovery-
1.html
After you understand how an ORC works, write a short explanation on the similiarities and
differences between steam and organic Rankine cycle. Also, prepare a short oral presentation
using the video downloaded from youtube using your own voice.

23
Answer :
Organic Rankine Cycle (ORC) adalah modifikasi siklus rankine. Sistem ini
membangkitkan listrik dari sumber energi terbaharukan dengan memanfaatkan sumber panas
bertemperatur dan bertekanan rendah. Sistem pembangkit ORC memiliki 4 komponen utama yaitu
evaporator, turbin, kondenser dan pompa. Evaporator digunakan untuk menguapkan fluida kerja
organik dari fasa liquid menjadi fasa vapor sebelum masuk kedalam turbin. Turbin digunakan
untuk mengekspansi dan menurunkan tekanan fluida organik. Turbin disambungkan dengan
generator yang akan menghasilkan listrik. Setelah melewati turbin, fluida kerja organik akan
dicairkan dalam kondensor yang selanjutnya akan dipompa menuju evaporator. Proses ini tidak
jauh berbeda dengan siklus rankine sederhana. Namun terdapat beberapa perbedaan dan dari
siklus rankine sederhana dengan siklus rankine organik. Pada siklus rankine sederhana biasanya
menggunakan air bertekanan dan bertemperatur tinggi sebagai fluida kerja. Sedangkan pada sistem
ORC, titik didih dari siklus ini lebih rendah sehingga digunakan fluida organik sebagai fluida kerja.
Selain penggunaan fluida kerjanya, perbedaan siklus rankine sederhana dan ORC terletak pada
tempat pemanasan. Jika siklus rankine sederhana menggunakan boiler sebagai tempat penambahan
panas sedangkan pada ORC menggunakan evaporator sebagai tempat penyerapan panas.

Gambar 1. Skema kerja Organic Rankine Cycle (ORC)

24
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

 Hukum kedua termodinamika mengatakan bahwa aliran kalor memiliki arah, dengan kata lain
tidak semua proses di alam semesta adalah reversible (dapat dibalikkan arahnya)
 Hukum II Termodinamika memberikan batasan-batasan terhadap perubahan energi yang
mungkin terjadi dengan beberapa perumusan:
a) Tidak mungkin membuat mesin yang bekerja dalam satu siklus, menerima kalor dari
sebuah reservoir dan mengubah seluruhnya menjadi energi atau usaha luas (Kelvin
Planck).
b) Tidak mungkin membuat mesin yang bekerja dalam suatu siklus mengambil kalor dari
sebuah reservoir rendah dan memberikan pada reservoir bersuhu tinggi tanpa
memerlukan usaha dari luar (Clausius).
c) Pada proses reversibel, total entropi semesta tidak berubah dan akan bertambah ketika
terjadi proses irreversibel (Clausius)

 Saran

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh data kata sempurna oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun agar dalam
pembuatan laporan selanjutnya bias lebih baik lagi, atas perhatiannya penulis ucapkan
terimakasih.

25
DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. 2010. Physical Chemistry 9th Edition. USA: W.H. Freeman and Company

Cengel, Y.A. Thermodynamics: An Engineering Approach 2nd Edition, 2006

J.M. Smith, H.C. van Ness, and M.M. Abbott (SVA). 2001. Introduction to Chemical Engineering
Thermodynamics, 6th ed. New York: McGraw Hill

Moran, Michael J., Shapiro, Howard N. 2006. Fundamentals of Engineering Thermodynamics 5th
ed, England: John Wiley & Sons, Inc

26

Anda mungkin juga menyukai