Anda di halaman 1dari 14

PROPOSAL PENELITIAN

EKSPLORASI DAN KARAKTERISASI PLASMA NUTFAH


TANAMAN OBAT SEBAGAI SUMBER BIOFARMAKA
DI KALIMANTAN TENGAH

EKO WIJANARKO
CAA 112 004

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2015
EKSPLORASI DAN KARAKTERISASI PLASMA NUTFAH
TANAMAN OBAT SEBAGAI SUMBER BIOFARMAKA
DI KALIMANTAN TENGAH

Oleh
EKO WIJANARKO
CAA 112 004

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Kamillah, SP., MP
Tanggal : Tanggal :

Universitas Palangka Raya Fakultas Pertanian


Fakultas Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian
Dekan, Ketua,

Dr. Ir. Yusurum Jagau, MS Dr. Yanetri Asi, SP, M. Si


NIP. 19640716 198803 1 002 NIP.1974013 199903 2 003

i
DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................... ii
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...................................................................... 1
1.2. Perumusan Masalah ............................................................... 3
1.3. Tujuan .................................................................................... 4
1.4. Hipotesis ................................................................................ 4

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Kalimantan Tengah ............................................................... 5
2.2. Etnobotani ............................................................................. 6
2.2. Biofarmaka ............................................................................. 6
2.3. Eksplorasi .............................................................................. 6

III. BAHAN DAN METODE


3.1. Tempat dan Waktu ................................................................ 8
3.2. Bahan dan Alat ...................................................................... 8
3.3. Metode Penelitian .................................................................. 8
3.4. Pelaksanaan Penelitian .......................................................... 9
3.5. Pengamatan ........................................................................... 10
3.6. Analisis Data ......................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ii
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Keanekaragaman tumbuhan yang dimiliki Indonesia menduduki peringkat
lima besar dunia, yaitu memiliki lebih dari 38.000 jenis tumbuhan (55% endemik)
yang menjadikan Indonesia sebagai megadiversity country. Dari segi
keanekaragaman tumbuhan palem Indonesia menduduki peringkat kedua di
dunia, kurang lebih ada 477 jenis dan 225 jenis diantaranya endemik. Untuk
jenis pohon penghasil kayu (yang umumnya didominasi suku Dipterocarpaceae)
lebih dari setengah dari seluruh jenis (350 jenis) terdapat di negara ini dan 155
jenis diantaranya endemik di Kalimantan (Bappenas, 2003).
Dari luas daratan Indonesia yang hanya 1,32% tapi mempunyai
keragaman hayati (permata hijau) sangat besar. Diperkirakan 28.000 jenis
tumbuhan (10% jenis tumbuhan berbunga) endemik di Indonesia. Kekayaan ini
tentunya merupakan prospek yang dapat dikembangkan untuk kesejahteraan
masyarakat Indonesia jika dikelola dengan baik, teratur dan bertanggung jawab.
Tumbuhan obat di Indonesia merupakan salah satu kelompok komoditas
hutan dan kebun yang erosi genetiknya tergolong pesat. Hal ini disebabkan oleh
beberapa faktor, yaitu (1) kerusakan habitat yang disebabkan oleh desakan
kebutuhan lahan untuk produksi maupun tempat tinggal, pemanfaatan hasil hutan
untuk industri maupun tempat tinggal sehingga habitat tumbuhan obat terganggu,
(2) kurangnya perhatian terhadap budi daya tanaman obat terutama untuk jenis-
jenis yang digunakan dalam jumlah kecil, dan (3) kemampuan regenerasi
tumbuhan obat yang lambat, terutama jenis tumbuhan tahunan, terlebih lagi
yang diambil dari alam (Djauhariya dan Sukarman 2002). Rifai et all. (1992)
melaporkan bahwa 30 jenis tumbuhan obat di Indonesia sudah termasuk langka, di
antaranya Alstonia scholaris, Rouvolfia serpentina, Cinamomum sintoc, dan
Parkia roxburghi. Dan salah satu jenis tumbuhan Liana, yaitu Pulasari (Jafarsidik
1987; Rifai et all. 1992).

1
Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi terluas di Indonesia
yang diperkirakan menyimpan beribu-ribu jenis tanaman obat yang belum
ditemukan dan dibudidayakan di Indonesia khususnya di Kalimantan Tengah.
Provinsi ini merupakan asal berbagai tanaman obat seperti Tabat Barito, Akar
Kuning, Pasak Bumi, Bawang Hantu dan beberapa tanaman obat lainnya yang
berguna untuk kesehatan manusia. Menurut Hartini dan Puspitaningtyas (2005)
beberapa jenis tanaman obat yang belum ditemukan tersebut merupakan jenis baru
(spesies nova), catatan baru (new record) ataupun lokasi baru (new spot).
Tanaman obat di Kalimantan Tengah menyebar di daerah pedalaman dan
kawasan hutan yang merupakan habitat alami tanaman tersebut. Sebagian kecil
masyarakat Kalimantan Tengah sudah mengusahakan tanaman obat dari kawasan
tersebut sebagai obat tradisional yang diambil baik dari akar, daun maupun buah,
tetapi belum terinventarisasi dengan baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan
kegiatan untuk melindungi dan menginventarisasi tanaman obat sebagai
pengetahuan tradisional dan kekayaan intelektual dengan baik, sehingga pada saat
diperlukan dapat digunakan sebagai referensi.
Indonesia selain memiliki julukan megadiversity country, ternyata negara
ini juga memiliki julukan Hot Spot Country karena sering mengalami kebakaran
hutan. Bahkan keanekaragaman plasma nutfah di Propinsi Kalimantan Tengah
yang selama ini cukup diperhitungkan banyak yang rusak khususnya plasma
nutfah tanaman obat. Dewasa ini kehilangan sumber daya genetik plasma nutfah
diakibatkan oleh: 1) kebakaran hutan yang panjang, 2) erosi genetik, 3) eksploitasi
tanaman langka keluar habitat hidupnya dan 4) perambahan hutan untuk
kepentingan industri dan perkebunan maupun kegiatan lainnya. Menurut Wilson
(1988) faktor penyebab menurunya keanekaragaman hayati adalah akibat
peningkatan jumlah populasi manusia yang berdampak pada kerusakan
lingkungan terutama di daerah tropis.
Salah satu upaya penyelamatan plasma nutfah yang harus dilakukan
adalah konservasi plasma nutfah baik secara ex-situ maupun in-situ yang
diharapkan mampu melestarikan plasma nutfah tanaman obat. Kegiatan ini
dimulai dengan kegiatan eksplorasi ke daerah-daerah Kabupaten yang dianggap

2
merupakan sentra tanaman obat yang ada di Kalimantan Tengah. Kegiatan
eksplorasi merupakan tahapan kegiatan pengumpulan materi dan koleksi yang
dilakukan untuk mendapatkan materi plasma nutfah yang secara prinsipnya
hampir sama dengan pengumpulan informasi dasar namun berbeda pada target
akhir yang dicapainya (Rugayah,2006). Hasil eksplorasi tanaman obat
dikarakterisasi dan dianalisis kandungan fitokimia yang dapat digunakan sebagai
materi biofarmaka yang selama ini didatangkan dari Negara Cina.

1.2. Perumusan Masalah


Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi terluas di Indonesia
yang diperkirakan menyimpan beribu-ribu jenis tanaman obat yang belum
ditemukan dan dibudidayakan di Indonesia khususnya di Kalimantan Tengah.
Tanaman obat di Kalimantan Tengah menyebar di daerah pedalaman dan kawasan
hutan yang merupakan habitat alami tanaman tersebut. Sebagian kecil
masyarakat Kalimantan Tengah sudah mengusahakan tanaman obat dari kawasan
tersebut sebagai obat tradisional yang diambil baik dari akar, batang, daun
maupun buah, tetapi belum terinventarisasi dengan baik.
Tanaman obat tradisional memang memiliki manfaat yang sangat besar bagi
kesehatan manusia baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang,
namun bagaimana cara memperoleh tanaman obat ini jika jumlahnya semakin
lama semakin berkurang dan bisa dikatakan sudah langka untuk ditemukan? Yang
mana dari beberapa tanaman obat ini memiliki potensi sebagai sumber biofarmaka
di Kalimantan Tengah dan masih belum diketahui jenis, karakteristik, serta
kandungan bahan aktif dari tanaman itu sendiri. Mempertimbangkan
permasalahan tersebut maka, perlu dilakukan penelitian tentang eksplorasi dan
karakterisasi plasma nutfah tanaman obat yang berpotensi sebagai sumber
biofarmaka di Kalimantan Tengah serta pelestarianya secara ex-situ.

3
1.3. Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mendapatkan informasi tentang jenis, karakteristik kandungan fitokimia
yang prospektif pada tanaman obat.
2. Mengetahui wilayah penyebaran tanaman obat serta pemanfaatannya oleh
masyarakat lokal.
3. Mengoleksi tanaman obat secara ex-situ.

1.4. Hipotesis

1. Ditemukannya tanaman obat yang berpotensi sebagai sumber biofarmaka


di Kalimantan Tengah.

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kalimantan Tengah


Kalimantan Tengah merupakan provinsi terbesar di Pulau Kalimantan,
luasnya sekitar 253.800 km² dimana sebagian besar wilayahnya adalah hutan.
Bagian utara adalah pegunungan yang sulit dijangkau, bagian tengahnya
merupakan hutan tropis yang lebat sedangkan, wilayah selatan adalah rawa
dengan banyak sungai. Iklim di Kalimantan Tengah panas dan lembab.
Kalimantan Tengah memiliki posisi geografisnya yang cukup strategis,
berhadapan langsung dengan Laut Jawa dan berbatasan dengan provinsi
Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Kalimantan Tengah sangat kaya dengan
cagar alamnya, seperti di Bukit Raya dan kelompok Hutan Monumental
Kotawaringin Timur, Bukit Sapat Hawung di Barito Utara, dan Merang di Kota
Palangkaraya. Selain itu ada juga suaka alam darat dan laut di Kotawaringin
Barat. Air terjun Malau Besar dan Pauras di Barito Utara, Tangkiling di
Palangkaraya. Pantai yang indah dan alami di Kotawaringin Barat, serta Ujung
Pandaran di Kotawaringin Timur. Orangutan merupakan hewan endemik yang
masih banyak Anda dapat jumpai di Kalimantan Tengah khususnya Taman
Nasional Tanjung Puting dengan luas mencapai 300.000 Ha tepatnya di
Kabupaten Kotawaringin Barat dan Seruyan. Di sini juga terdapat hewan lain
seperti beruang, landak, owa-owa, beruk, kera, bekantan, trenggiling, buaya,
kukang, paus air tawar (tampahas), arwana, manjuhan, biota laut, penyu, bulus,
burung rangkong, betet, dan lain-lain.
Orang Melayu, Dayak, dan Bugis mendominasi daerah ini. Beberapa
keturunan orang Dayak masih tinggal dan terisolasi di belantara hutan. Suku
Dayak yang ada di Kalimantan Tengah adalah suku Dayak Ngaju karena yang
paling dominan. Suku lainnya yang tinggal di pesisir adalah Banjar Melayu Pantai
merupakan 24,20 % populasi. Di samping itu ada pula suku Jawa, Madura, Bugis
dan lain-lain. Gabungan suku Dayak (Ngaju, Sampit, Maanyan, Bakumpai)
mencapai 37,90%. Keturunan suku Dayak yang mendiami provinsi ini adalah
orang Ngaju, Ot Danum dan Ma. Bahasa daerah di Kalimantan Tengah terdiri dari

5
puluhan, bahkan ratusan bahasa Dayak. Namun, dalam pergaulan sehari-hari,
bahasa yang kerap digunakan adalah bahasa Dayak Ngaju, Dayak Maayan, Dayak
Kapuas, bahasa Jawa, dan bahasa Banjar. Suku Dayak dikenal dengan “Rumah
Betang” sebuah rumah besar yang dihuni beberapa keluarga sekaligus secara
turun-temurun. Karena itulah kekerabatan mereka sangat erat dan menjadi unsur
dominan keberlangsungan kebudayaan unik ini (Kementrian Pariwisata Republik
Indonesia, 2013).

2.2. Etnobotani
Etnobotani adalah salah satu cabang etnosains yang khusus mengkaji
persepsi dan pengetahuan penduduk tentang jenis-jenis tumbuhan, penanaman,
pengklasifikasian, pemanfaatan dan pengelolaan jenis-jenis tumbuhan, (Martin,
1995). Penelitian etnobotani mampu mengungkapkan pemanfaatan berbagai jenis
sumber daya alam khususnya tumbuhan secara tradisional oleh masyarakat
setempat yang merupakan titik awal pengembangannya menjadi jenis unggulan
yang bermanfaat banyak bagi kepentingan masyarakat.

2.3. Biofarmaka
Tanaman Biofarmaka adalah tanaman yang bermanfaat untuk obat-obatan,
kosmetik dan kesehatan yang dikonsumsi atau digunakan dari bagian-bagian
tanaman seperti daun, batang, bunga, buah, umbi (rimpang) ataupun akar.
Tanaman biofarmaka dibedakan menjadi dua kelompok:
1. Tanaman biofarmaka rimpang yang terdiri dari; jahe, laos/lengkuas,
kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, temuireng, temukunci dan
dlingo/dringo.
2. Tanaman biofarmaka non rimpang yang terdiri dari kapulaga,
mengkudu/pace, mahkota dewa, kejibeling, sambiloto dan lidah buaya
(Anonim, 2012).

6
2.4. Eksplorasi
Eksplorasi adalah pelacakan atau penjelajahan atau dalam plasma nutfah
tanaman dimaksudkan sebagai kegiatan mencari, mengumpulkan, dan meneliti
jenis spesies tertentu untuk mengamankan dari kepunahan. Spesies yang
ditemukan perlu diamati sifat dan asalnya. Eksplorasi dilengkapi dengan denah
penjelajahan yang menggambarkan tempat tujuan eksplorasi dan data paspor
(memuat nama daerah plasma nutfah, kondisi biogeografi, dan ekologi).
Eksplorasi dilakukan dengan metode jelajah secara acak terwakili
dimaksudkan untuk mengumpulkan data dari tiap-tiap kawasan jelajah, sehingga
tiap kawasan memiliki contoh yang bisa dijadikan sebagai pembanding dengan
daerah lainnya. Kawasan sampel ini bisa dibagi berdasarkan kebutuhan dan tujuan
dari penelitian itu sendiri, misal pengumpulan data berdasarkan ketinggian lokasi,
berdasarkan tingkat kelembaban, berdasarkan tipe habitat dan lain-lain.
Metode eksplorasi ini juga bisa digunakan untuk melakukan inventarisasi
(baik inventarisasi tumbuhan maupun hewan). untuk inventarisasi, Pengamatan
dilakukan pada setiap kali penjumpaan. Jadi setiap kali berjalan dijumpai sebuah
individu, maka pada saat itu pula dilakukan pengamatan populasi dan
pengulangan penjumpaan dihitung sebagai frekuensinya. Persentase
kemelimpahan dihitung dari penjumlahan persentase jumlah individu dan
persentase frekuensi keterdapatannya (Abang, 2010).

7
III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat


Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan
Desember 2015, di 3 (tiga) Kabupaten di Kalimantan Tengah meliputi Kabupaten
Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, dan Seruyan, Laboratorium Balittro
Bogor, Laboratorium Analitik UNPAR, Kebun percobaan Jurusan Budidaya
Pertanian UNPAR, dan Pusat Konservasi Tumbuhan LIPI Kebun Raya Bogor.

3.2. Bahan dan Alat


Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain buku panduan,
sampel tanaman obat, sampel tanah, organ atau bagian tanaman obat, dan bahan
yang menunjang penilitian. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain
meteran, pH meter, kantong plastik, toples, amplop, kamera, alat tulis, dan alat
bantu lainnya yang menunjang penelitian.

3.3. Metode Penelitian


Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksplorasi. Lokasi
eksplorasi dilakukan di 3 (tiga) Kabupaten yang termasuk ke dalam wilayah
Kalimantan Tengah yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kotawingin
Barat, dan Kabupaten Seruyan. Dari masing-masing kabupaten diambil 2 (dua)
kecamatan. Strategi eksplorasi ditentukan berdasarkan keberadaan tanaman
indigenous di daerah sasaran berdasarkan informasi dari informan kunci dari
masing-masing kabupaten tempat eksplorasi. Metode pengambilan contoh
tanaman obat dilakukan secara acak dan selektif (Putrasamedja, 2005).
Pengambilan contoh meliputi bagian vegetatif tanaman (tunas, batang, dan daun)
dan bagian generatif (bunga, buah dan biji) serta bagian-bagian lainnya seperti
umbi dan laian-lain. Eksplorasi juga dilakukan dengan metode wawancara.
Wawancara dilakukan tersetruktur dengan menggunakan quistioner. Sasaran
informan untuk wawancara adalah informan kunci. Informan kunci yaitu tokoh
masyarakat dan masyarakat lokal yang memanfaatkan tumbuhan di sekitarnya

8
untuk mengobati penyakit. Data yang dikumpulkan meliputi: nama jenis
tumbuhan (nama lokal dan nama ilmiah), bagian organ tumbuhan yang
dimanfaatkan, cara menggunakannya, tempat atau habitat alami tanaman obat
tersebut, kelimpahan dikarenakan pengaruh musim, nilai ekonomi dan
pascapanen. Tanaman obat yang diinventarisir selanjutnya diidentifikasi
mengetahui nama ilmiah (sceintific name). Identifikasi dilakukan dengan
menggunakan kunci determinasi dari buku Flora of Java volume I (1963), volume
II (1965), dan volume III (1968) karangan Backer dan Backuizen van den Brink
Jr. Analisis dilakukan secara deskriptif.

3.4. Pelaksanaan Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan dalam beberapa tahap diantaranya:
a. Informasi Dasar
Kegiatan dilaksanakan untuk mengetahui dan mengumpulkan data
tanaman obat yang telah dilakukan oleh berbagai Instansi seperti Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM), Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas
Pertanian, BPP, BKSDA dan Lembaga Perguruan Tinggi.
b. Eksplorasi
Eksplorasi dilaksanakan pada berbagai lokasi yang dari informasi terdapat
tanaman obat dari narasumber setempat di berbagai kabupaten yang dipilih.
Eksplorasi dan koleksi disertai dengan pengumpulan keterangan dari key informan
yang berkaitan dengan preferensi terhadap budidaya, kegunaan dan pemanfaatan
tanaman obat. Materi koleksi dilengkapi dengan data paspor. Pada tempat koleksi
dilakukan pengambilan data daerah habitatnya berupa tanaman dominan, jenis
tanah, pH tanah dan air, titik lokasi dengan menggunakan GPS, atau aplikasi
Google Maps.
c. Konservasi
Usaha pelestarian dilakukan dengan konservasi secara ex-situ yaitu
penanaman di tempat koleksi baru/di luar habitat alaminya. Contoh tanaman yang
dikumpulkan dari eksplorasi berupa biji, umbi, setek dan organ tanaman lainnya.
Materi berupa organ tanaman disterilisasi menggunakan Rootone-F, selanjutnya

9
ditanam di pot-pot pemeliharaan di rumah kaca dan kebun pemeliharaan (visitor
plot). Pemeliharaan tanaman dilaksanakan dengan penyiraman, pemupukan,
pengendalian hama dan penyakit, dan pemangkasan.

d. Karakterisasi.
Karakterisasi dilakukan meliputi: Karakter kualitatif yang mengamati
bentuk dan warna bunga, biji/buah, daun, batang, hilum dan bulu. Sifat-sifat
kuantitatif yang diamati antara lain tinggi tanaman, hasil dan komponen hasil.
Kegiatan karakterisasi dilakukan dengan mengidentifikasi sifat fisik dan sifat
fisiologi spesifik dari tanaman obat yang ditemukan termasuk produksi
potensialnya. Standardisasi karakter-karakter tanaman obat mengacu pada
descriptor list atau pada pedoman yang berasal dari Balai Penelitian Tanaman
Rempah dan Obat (Bogor).

3.5. Pengamatan
1. Anatomi
2. Morfologi
3. Ekologi
4. Tempat penyebaran tanaman
5. Bagian yang dimanfaatkan dan manfaatnya
6. Kandungan bahan aktif
7. Perbanyakan

3.6. Analisis Data

Untuk mengetahui hasil pengamatan maka dilakukan analisis dengan


analisis deskriptif yang dibuat dalam bentuk tabulasi atau tabel.

10
DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. 2003. Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan: Dokumen


Regional. Bappenas. Jakarta.

Djauhariya, E. dan Sukarman. 2002. Pemanfaatan plasma nutfah dalam industri


jamu dan komestika alami. Buletin Plasma Nutfah 8(2):12-13. EISAI.
1995. Medical Herbs Index in Indonesia. Jakarta. 453 hlm.

Hartini.,S., Dwi Murti Puspitaningtyas. 2005. Flora Sumatera Utara Eksotik dan
Berpotensi. Pusat Konservasi Tumbuhan kebun Raya Bogor, LIPI 219 hal.

Martin, G.J. 1995. Ethnobotany : A Method Manual. Chapman dan Hall.


London.

Putrasamedja, S. 2005. Eksplorasi dan Koleksi Sayuran Indigenous di Kabupaten


Karawang, Purwakarta, dan Subang. Buletin Plasma Nutfah Vol. 11:1.

Rifai, M.A. 1983. Plasma Nutfah, Erosi Genetik, dan Usaha Pelestarian
Tanaman Obat Indonesia.

Rifai, M.A., Rugayah, dan E.A. Widjaya. 1992. Tiga puluh tumbuhan obat langka
Indonesia. Floribundo 2:28.

Wilson., E.O. 1988. Biodiversity. National Academy Press. Washington D.C.

Abang, 2010. Pengertian Metode Eksplorasi. http//:Metode Penelitian _


Abang.htm. Diakses pada tanggal 27 April 2015.

Anonim, 2012. Pengertian Biofarmaka. http//: PENGERTIAN TUMBUHAN


BIOFARMAKA_ Serba Serbi Geografi.htm. Diakses pada tanggal 27 April
2015.

Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, 2013. Kalimantan Tengah.


http//:Wonderful Indonesia - Kalimantan Tengah.htm. Diakses pada
tanggal 27 April 2015.

11