Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

BIOKIMIA

PENCERNAAN 2

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOKIMIA “ PENCERNAAN 2 ” Disusun Oleh: Agung Nur Nugroho NIM. 1631224466007 Lia

Disusun Oleh:

Agung Nur Nugroho

NIM. 1631224466007

Lia Triana

NIM. 16312244660

Fitriana Nita I.

NIM. 16312244660

Intan Nur Aisyah

NIM. 16312244660

Marvina Anan Dita

NIM. 16312244660

Claudia Octavia

NIM. 16312244660

JURUSAN PENDIDIKAN IPA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Setiap manusia memerlukan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Makanan tersebut akan diolah dan diubah menjadi energi melalui proses pencernaan. Proses pencernaan pada manusia dibedakan menjadi dua, yaitu pencernaan mekanik dan pencernaan kimiawi. Pencernaan mekanik terjadi di rongga mulut. Pada proses ini memerlukan bantuan lidah dan gigi. Sedangkan pada pencernaan kimiawi terjadi di rongga mulut, lambung, dan usu. Proses ini memerlukan bantuan zat kimiawi yang disebut enzim. Semua makhluk hidup memerlukan makanan untuk mempertahankan hidupnya. Fungsi utama makanan bagi tubuh adalah untuk pertumbuhan dan menjaga tubuh agar tetap sehat. Makanan yang masuk ke dalam tubuh kita akan diolah melalui proses pencernaan. Proses pencernaan adalah proses penghancuran makanan menjadi zat-zat makanan yang dapat diserap tubuh. Alat yang berfungsi untuk menghancurkan makanan ini disebut alat pencernaan. Agar makanan yang dicerna dapat diserap oleh tubuh dengan baik, maka alat pencernaan haruslah dalam keadaan sehat. Melalui alat pencernaan itulah zat-zat makanan diolah terlebih dahulu, baru kemudian diserap oleh tubuh. Dengan mempelajari sistem pencernaan dapat mengetahui dan memahami keterkaitan yang terjadi pada sistem pencernaan makanan manusia. Selain itu, diharapkan dengan mempelajari sistem pencernaan makanan manusia dapat mencegah gangguan atau penyakit yang timbul pada organ pencernaan.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana pencernaan pankreas terhadap protein?

2. Bagaimana pencernaan amilum oleh getah pankreas?

3. Bagaimana reaksi benedict pada amilum?

4. Bagaimana pengaruh getah pankreas terhadap pencernaan lemak?

C. Tujuan

1. Mengetahui pencernaan pankreas terhadap protein.

2. Mengetahui pencernaan amilum oleh getah pankreas

3. Menguji dan mengamati reaksi benedict pada amilum

4. Mengetahui pencernaan lemak oleh getah pankreas.

BAB II

DASAR TEORI

Pankreas merupakan kelenjar yang berperan dalam sistesis hormon dan enzim system pencernaan manusia . pankreas terletak dibelakang usus dua belas jari, bahian posterior perut (di bawah lambung) dengan panjang 14-18 cm dan berat 65-67 gram. Pankreas mengandung sekumpulan sel yang disebut kepulauan Langerhans yang menhasilkan hormon insulin dan glukagon yang digunakan untuk mengatur jumlah giula dalam darah. Insukin akan nmengubah kelebihan glukosa darah menjadi glikogen dan di simpan dalam hati dan otot. Glikogen yang etrsimpan di dalam hati akan di ubah oleh glucagon menjadi molekul glukosa yang dapat di gunakan sebagai energy tambahan ketika tubuh memerlukan rambahan energy (Ismail, 2013).

Pankreas juga mengandung sel yang dapat menghasilkan getaj pankreas. Setah pankreas adalah getah pencernaan yang mempunyai peran penting dalam mengolah 3 kelompok bahan makanan organik utama, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak. Getah pancreas tersussun oleh air, bikarbonat, dan ensim yang dapat dibedakan ata enzim tripsin, amylase, serta lipase. Enzim tripsin berfungsi untuk mencerna protein, yaitu mengubah protein menjadi bentuk yang lebih sederhana., seperti pepton dan asam amino. Enzim amylase berrfungsi mengubah karohidrat (zat tepung) menjadi gula-gula yang lebih sederhana seperti maltose dan glukosa. Enzim lipase berperan dalam menghidrolisis lemak menjadi gliserol dan asam karboksilat. Asam karboksilat yang dihasilkan dari proses hidrolisis dapat emnurunkan pH l,ingkungan sekitarnya. Natrium bikarbonat pada cairan pankreas akan menciptakan suasana basa yang akan mengaktifkan enzim-enzim tersebut (Hidayat. 2015).

Amilase pada pankreas berbeda dengan amilase pada saliva. Amilase pankreas dapat bekerja dalam suasana alkali, sedangkan amilase saliva berkerja dalam suasana yang relatif netral (Widiyarti, 2012).

A. Karbohidrat Karbohidrat adalah kelompok senyawa yang mengandung unsur C, H, dan O yang merupakan suatu polihidroksi aldehid atau polihidroksi keton, atau turunan senyawa- senyawa tersebut). Karbohidrat dari tubuh manusia dan hewan dibentuk dari asam amino, gliserol lemak, dan sebagian besar diperoleh dari makan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Karbohidrat dalam sel tubuh disimpan didalam hati dan jaringan otot dalam bentuk glikogen (Yazid dan Lizda, 2006).

Enzim sangat erat hubungannya dengan pencernaan karbohidrat. Enzim mulai berperan dalam pencernaan karbohidrat ketika makanan beraeda di mulut. Di mulut enzim α-amilase mengubah kanji menjadi glukosa. Di usus, pencernaan karbohidrat dibantu oleh enzim-enzim disakaridase yang dikeluarkan oleh sel-sel mukosa usus halus berupa maltase, sukrose, dan laktase. Enzim maltase mengubah maltosa menjadi

2 mol glukosa, enzim sukrase mengubah sukrosa menjadi 1 mol glukosa dan 1 mol fruktosa, sedangkan enzim laktase mengubah laktosa menjadi 1 mol galaktosa dan 1 mol glukosa (Hawab, 2003).

Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut. Perubahan kanji (amliopektin dan amilosa) menjadi glukosa dengan bantuan enzim α-amilase. α-amilase secara acak menghidrolisis ikatan α-1,4 internal anatara residu glukosil dalam amilopektin, amilosa dan glikogen, mengubah polisakarida yang berukuran besar menjadi kecil yang disebut ekstrin (Hawab, 2003). Sebagian besar pencernaan karbohidrat terjadi di usus halus. Pencernaan karbohidrat dilakukan oleh enzim-enzim disakaridase yang dikeluarkan oleh sel-sel mukosa usus halus berupa maltase, sukrase, dan laktase. Pati non karbohidrat atau serat makanan dan sebagian kecil pati yang tidak dicerna akan masuk kedalam usus besar. Sisa-sisa pencernaan ini merupakan substrat potensial untuk difermentasi oleh mikroorganisme didalam usus besar. Karbohidrat yaitu suatu polihidroksi aldehida, polihidroksi keton atau zat yang memberikan senyawa seperti itu jika dihidrolisis. Kimiawi karbohidrat pada dasarnya merupakan kimia gabungan dari dua gugus fungsi, yaitu gugus hidoksi dan gugus karboksil (Hart, 2003).

Menurut Almatsier (2003), enzim amilase pankreas (amilopepsin) mengubah amilum menjadi amilodekstrin, eritodekstrin, akrodekstrin, dan mengubahnya menjadi maltose.

B. Protein Protein adalah mikromolekul dengan susunan kompleks yang merupakan polimer alam dari asam-asam alfa amino, berat molekul berkisar antara limaribu sampai beberapa juta (Sumardjo, 2006). Protein yang terdapat pada makanan berfungsi sebagai zat utama dalam pembentuk dan pertumbuhan tubuh (Poedjiadi, 2006). Pencernaan protein secara enzimatik didalam saluran cerna dimulai dari lambung. Protein dalam lambung akan mengalami denaturasi oleh asam klorida sehingga dipengaruhi oleh pepsin. Enzim proteolitik dalam lambung bekerjadengan baik pada pH 2-3 (asam), tetapi tidak aktif pada pH diatas 5 atau basa (Sumardjo, 2006). Pepsin memecah protein dalam gugusan yang lebih sedehana, yaitu proteosa dan pepton. Enzim pepsin akan rusak pada suhu tinggi. (Kimball, 1993) Menurut Kuchel dan Ralston (2002) Enzim-enzim proteolitik pankreas akan bekerja dengan baik pada suasana basa dan akan rusak bila dipanaskan serta berada dalam suasana asam. Trisinogen yang diekskresi ke dalam usus dua belas jari dan disini diubah menjadi tripsin, enzim hidrolitik lainnya yang bekerja pada protein adalah kimotripsin, elastase, dan karboksipeptidase. Jika protein dalam keadaan netral, di larutkan dengan ekstrak pankreas, protein tidak dapat larut. Sama halnya jika terlebih dahulu ekstrak pankreas dipanaskan, sehingga ekstrak pankreas yang direaksikan atau dicampurkan dengan basa juga tidak tidak bereaksi sehingga tidak dapat menghirolisis protein. Hal positif terjadi pada

ekstrak pankreas yang tidak rusak bereaksi dengan larutan basa sehingga protein dapat larut(terhidrolisis) (Iswari, 2006). Pankreas mengeluarkan cairan yang sedikit basa dan mengandung berbagai protease dalam bentum proenzim yang tidak aktif (zimogen) seperti tripsinogen, kimotripsinogen, prokarboksipeptiase dan proelastase, (Iswari, 2006). C. Lemak Lipid adalah unsur makanan penting tidak hanya karena nilai energinya yang tinggi tetapi juga karena vitamin yang larut dalam lemak dan asam lemak essensial yang dikandung dlam lemak mmakanan alam (Almatsier, 2003). Penggolongan lemak adalah berdasarlkan pada kelarutannya pada pelarut lemak. Pelarut lemak adalah pelarut non polar. Lemak juga dapat di klasifikasikan menurut senyawa penyusun esternya (Hawab, 2003) lemak dan minyak adalah zat yang sama walaupun berbeda wujud. Pada suhu tinggi, lipid menjadi cair sehingga disebut minyak, sedangkan pada suhu rendah, lipid menjadi padat yang disebut lemak (Sastrohamidjojo, 2005). Pada proses pencernaan lemak, rute utama pencernaan triasilgliserol adalah hidrolisis menjadi asam lemak dan 2-monoasilgliserol di dalam rumen usus. Namun rute pencernaannya sedikit banyak bergantung pada panjang rantai asam lemak tersebut. Lipase dari lidah dan lambung masing-masing dihasilkan oleh sel-sel yang terletak di bagian belakang lidah dan di lambung. Lipase-lipase ini terutama mnenghidrolisis asam lemak rantaipendek dan sedang (mengandung atom karbon 12 atau kurang) dari triasilgliserol makanan. Dengan demikian, enzim-enzim tersebut paling aktif pada bayi dan anak kecil yang banyak meminum susu sapi, yang mengandung triasilgliserol dengan kandungan asam lemak rantai pendek (Almatsier,

2003).

Lemak makanan meninggalkan lambung dan masuk ke dalam usus halus., untuk menjalani emulsifikasi oleh garam-garam empedu. Garam garam empedu adalah senyawa amfifatik (mengandung komponen hidrofobik dan hidrofilik) yang di sinsesis di hati dan disekresikan melalui kandung empedu ke dalam lumen usus (Almatsier,

2003).

Enzim utama yang mencerna triasilgliserol makanan adalah lipase yang di hasilkan oleh pankreas. Lipase pankreas disekresikan bersama dengan protein lain, kolipase. Pankreas juga mengsekresikan bikarbonat yang menetralkan asam yang masuk ke dalam usus bersama dengan makanan setengah tercerna dari lambung. Ekstrak pankreas (sebagai pengganti getah empedu) hanya dapat mencerna protein dalam kondisi basa yaitu dilarutkan dengan NaOH (Iswari, 2006). Kolipase mengikat lemak makanan dan lipase tersebut, sehingga enzim ini menjasi lebih aktif. Lipase pankreas menghidrolisis asam lemak dari semua panjang rantai dari posisi 1 dan 3 gugus gliserol pada triasil gliserol dan menghasilkan asam lemak bebas dan 2-monoasilgliserol, yaitu gliserol dengan sebuah asam lemak yang teresterifikasi di posisi 2. Pankreas juga menghasilkan esterase yang memutus asam lemak dari berbagai

senyawa dan fosfolipase yang mencerna fosfolipid menjadi komponen-komponen nya. Hridolisis lipase terjadi sangat cepat jika dalam keadaan emulsi. (Hart, 2003)

BAB III

ALAT BAHAN DAN CARA KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Gelatin

2. Benedic

3. Larutan Pankreas

4. Na2CO3 2%

5. Empedu

6. Aquades

7. Tabung reaksi

8. Termometer

9. Penangas

10. Susu

11. Amilum

12. Fenol merah

B. Cara Kerja

1. Pencernaan Protein Oleh Getah Pankreas

Menyiapkan 3 tabung reaksi. Menambahkan gelatin kurang lebih satu sendok kecil, 1 cc ekstrak pankreas
Menyiapkan 3 tabung reaksi.
Menambahkan gelatin kurang lebih satu sendok kecil, 1 cc ekstrak pankreas
netral dan 2 tetes laruatn Na 2 CO 3 2% ke dalam tabung reaksi 1
Menambahkan gelatin dan 4 tetes larutan empedu ke dalam tabung reaksi 2.
Menambahkan gelatin, 1 cc air dan 2 tetes larutan Na 2 CO 3 2 %, ke dalam
tabung reaksi 2
Memanaskan dalam penangas air dengan suhu 37 o C.
Mendiamkan kurang lebih selama 5 menit
Mengangkat ketiga tabung lalu diamkan beberapa saat.

Mengamati perubahan yang terjadi.

2.

Pencernaan Amilum Oleh Getah Pankreas

Memasukan larutan amilum dan ekstrak pankreas ke dalam tabung reaksi
Memasukan larutan amilum dan ekstrak pankreas ke dalam tabung reaksi
Memanaskan dalam penangas dengan suhu 37 ͦC
Memanaskan dalam penangas dengan suhu 37 ͦC

Menghidrolisis dengan iodine hingga negatif

3. Uji Benedic

Memasukkan 5 cc larutan amilum 1% ke dalam tabung reaksi Menambahkan 1 cc ekstrak pankreas
Memasukkan 5 cc larutan amilum 1% ke dalam tabung reaksi
Menambahkan 1 cc ekstrak pankreas netral dan di campur baik-baik
Memasukkan ke dalam penangas air 37 o C
Menguji dengan tes iod hingga hasilnya negatif
Menguji dengan tes iod hingga hasilnya negatif

Melakukan reaksi benedict

4. Pencernaan Lemak Oleh Getah Pankreas

Mengambil 3 tabung, masing-masing diisi 2 cc air susu Tabung 1 tambahkan : 1 ccc
Mengambil 3 tabung, masing-masing diisi 2 cc air susu
Tabung 1 tambahkan : 1 ccc ekstrak pankreas netral
Tabung 2 tambahkan : 2c tetes larutan empedu
Tabung 3 tambahkan : 1 cc air
Masing-masing tabung diisi 4 tetes fenol merah dan larutan Na2CO3 % sampai terjadi warna merah
Masing-masing tabung diisi 4 tetes fenol merah dan larutan Na2CO3 %
sampai terjadi warna merah muda

Masukkan tabung ke dalam penangas air 37˚ C

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

1. Pencernaan Protein Oleh Getah Pankreas

No

Reaksi

Hasil

1

Gelatin + Pankreas +

Larutan menjadi dua lapisan, lapisan bawah

2 3

berwarna merah, lapisan berwarna oranye keruh

2

Gelatin + Empedu

Lapisan menjadi dua lapisan, lapisan bawah

berwarna merah, lapisan atas sedikit oranye, lapisan

atas lebih banyak dibandingkan lapisan bawah

3

Gelatin + Air +

Lapisan, bawah berwarna merah, atas bening

2 3

2. Pencernaan Amilum Oleh Getah Pankreas

No.

Dipanaskan pada menit ke-

Hasil

1

5

Ketika larutan amilum dan pankreas bercampur dengan larutan iod, larutan menjadi ungu.

2

10

Tetap ungu.

3

15

Tetap ungu.

4

20

Tetap ungu.

5

25

Tetap ungu.

6

30

Tetap ungu.

3. Uji Benedic Larutan amilum 1 % + ekstrak pankreas + tes iod + pereaksi benedict (+) hijau

4. Pencernaan Lemak Oleh Getah Pankreas

No.

Reaksi

Hasil

1.

Air susu + pankreas

Orange (+)

2.

Air susu + empedu

Orange (-)

3.

Air susu + air

Orange (-)

B. Pembahasan Percobaan yang berjudul “Pencernaan 2” dilaksanakan pada 23 Oktober 2017 di Laboratorium Biokimia FMIPA UNY bertujuan untuk mengetahui pencernaan pankreas terhadap protein, ,menguji dan mengamati reaksi benedict pada amilum, dan . Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:

1. Pencernaan Protein Oleh Getah Pankreas Pada percobaan protein oleh getah pankreas ini bertujuan untuk mengetahui pencernaan protein oleh getah pankreas. Pada percobaan ini dilakukan 3 perlakuan atau 3 kegiatan. Pertama, menambahkan gelatin kurang lebih satu sendok kecil, 1 cc ekstrak pankreas netral dan 2 tetes laruatn Na 2 CO 3 2% ke dalam tabung reaksi yang selanjutnya di panaskan dalam penangas air dengan suhu 37 o C. Dari perlakuan tersebut terlihat bahwa larutan menadi dua lapisan, lapisan bawah berwarna merah dan lapisan atas berwarna oranye keruh. Hasil yang terlihat yaitu positif dengan adanya endapan merah setelah didinginkan. Hal ini menunjukkan gelatin (sebagai substrat) terhidrolisis oleh adanya sumber enzim protoase dari ekstrak pankreas. Menurut Poedjiadi A.(2009), pankreas mengandung protein dan beberapa enzim yaitu, tripsin, khimotripsin dan peptidase yang berfungsi untuk menghidrolisis protein, pepton, dan proteosa menjadi polipeptida dan mempunyai pH optimum 8,0 9,0. Kedua yaitu menambahkan gelatin dan 4 tetes larutan empedu ke dalam tabung reaksi yang selanjutnya dimasukkan ke dalam penangas air dengan suhu 37 o C, setelah didinginkan larutan menjadi dua lapisan, lapisan bawah berwarna merah dan lapisan atas berwarna oranye. Hal ini menujukkan bahwa gelatin (sebagai substrat) mengalami hidrolisis sempurna karena adanya penambahan larutan empedu yang menyebabkan hidrolisis semakin kuat dan cepat. Empedu mengandung garan Na dan K dari asam glikholat dan tavrokholat, pigmen biliverdin dan bilirubin. Garam empedu tersebut digunakan untuk mengaktifkan lipase pankreas dalam mengemulsikan lemak (Ganong,

2003).

Ketiga adalah penambahan gelatin, 1 cc air dan 2 tetes larutan Na 2 CO 3 2 %, selanjutnya di masukkan penangas air dengan suhu 37 o C. Hasil yang terlihat yaitu positifdengan adanya endapan merah pada larutan yang terdiri atas dua lapisan yang sama pada perlakuan sebelumnya. Namun, hal ini tidak sesuai dengan teori yang seharusnya protein ini negatif dengan pelarut air karena didalam air tidak ada enzim yang dapat menghidrolisis protein. Menurut Reed (1975) hidrolisis protein terdapat 3 cara yaitu hidrolisis asam, dengan menggunakan asam kuat anorganik ; hidrolisiss basa dengan pemecahan polipeptida menggunakan basa/alkali kuat seperti NaOH dan KOH ; dan hidrolisis enzimatik dengan menggunakan enzim, dapat menggunakan enzim proteolitik atau enzi m protease adalah enzim yang dapat memecah molekul molekul protein dengan cara menghidrolisis ikatan peptida menjadi senyawa senyawa yang lebih sederhana seperti proeosa, pepton, polipeptida dan sejumlah asam asam amino. Pemanasan pada suhu 37 o C yang dilakukan pada ketiga kegitan ini dimaksudkan untuk mengondisikan reaksi pada suhu tubuh. Menurut Lehninger (1997) salah satu

faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas enzim adalah suhu. Semakin meningkatnya suhu, makin meningkat pula aktivitas enzim. Pada suhu maksimum enzim akan terdenaturasi karena struktur protein terbuka dan gugus non polar yang berada didalam molekul menjadi terbuka keluar, kelarutan protein didalam air yang polar menjadi turun, sehingga aktivitas enzim juga akan turun. Jadi, enzim dapat bekerja pada suhu yang optimum suhu yang tidak terlalu tinggi dan suhu yang tidak terlalu rendah. Penambahan Na 2 CO 3 2 % berfungsi untuk menyesuaikan basa larutan karena cairan pankreas dapat bekerja optimal pada suasana basa yaitu pada pH antara 7,5 sampai 8,2 (Poedjiadi A, 2009). Penggunakan gelatin yaitu sebagai substrat protein yang diberi perlakuan.

2. Pencernaan Amilum Oleh Getah Pankreas Pada praktikum ini menunjukkan adanya amilum pada getah pankreas, yaitu dengan mereaksikan amilum dengan ekstrak pankreas, kemudian digunakan pereaksi iodine. Uji ini ditunjukkan untuk mengetahui adanya kandungan amilum. (Poedjiadi, 1994) Amilum dapat terhidrolisis oleh enzim amilase. Jika amilum ditambahkan ekstrak ankreas dan dipanaskan dan diuji dengan iodine akan menunjukkan amilum yang belum terhidrolisis. (Martoharsono,2006) Setelah di uji menggunakan iodine menghasilkan warna ungu gelap, hal tersebut

indikasi reaksi positif. Berdasarkan teori amilum dapat terhidrolisis oleh enzim amilase

di dalam mulut, namun pada pankreas terdapat enzim ptialin yang mengubah amilum

menjadi maltase.

Amilum (Biru) Larutan amilum (Biru) Amilodektrin (Ungu) Erytodekstrin

(Merah/coklat) Akrodektrin (Tidak berwarna) Maltosa (Tidak berwarna)

(Maria, 2010)

Warna biru gelap yang terbantuk saat penambahan iodine menunjukkan bahwa

amilum belum terhidrolisis oleh enzim ptialin. Percobaan ini dilakukan hingga bereaksi

negatif terhadap amilum. Namun hingga akhir percobaan amilum tidak terhidrolisis

sehingga hingga akhir percobaan masih menunjukkan warna ungu gelap. Hal tersebut

terjadi karena kurangnya waktu percobaan untuk pemanasan amilum.

3. Uji Benedic

Pada percobaan ini memiliki tujuan untuk menguji dan mengamati reaksi

benedict. Uji benedict merupakan uji untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat)

pereduksi seperti maltosa (Winarno, 1996). Pereaksi benedict berupa larutan yang

mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Glukosa dapat

mereduksi ion Cu ++ dari kuprisulfat menjadi ion Cu + yang kemudian mengendap

sebagai Cu 2 O. Adanya natrium karbonat dan natrium sitrat membuat pereaksi benedict

bersifat basa lemah . endapan yang terbentuk dapat berwarna hijau, kuning, atau merah

bata , tergantung pada konsentrasi karbohidrat yang diperiksa. (Poedjiadi, 1994 : 40)

Menurut Primiadi (2017 : 11) semua monosakarida dan disakarida kecual

sukrosa dan trehalosa akan bereaksi positif dengan uji benedict ini. Reaksi positif

ditunjukkan dengan terbentuknya warna hijau, merah, orange , atau merah bata dan

adanya endapan merah bata Cu 2 O pada dasar tabung reaksi.

Dari percobaan yang elah dilakukan hasil yang diperoleh yaitu pada larutan

amilum yang di tambahkan ekstrak pankreas, tes iod, dan pereaksi benedict

menghasilkan warna hijau. Hal ini menunjukan hasil positf. Larutan amilum dapat

mereduksi pereaksi benedict sehingga menghasilkan perubahan warna menjadi hijau.

Percobaan ini sesuai dengan teori menurut Tilman (1991) bahwa dekstrin merupakan

hasil intermediate dari hidrolisis pati dan gliogen menjadi maltosa dekstrin adalah

produk/hasil transisi yang beberapa diantaranya berwarna merah dengan titrasi iodium,

berbeda dengan pati yang memberi warna biru. Sedangkan pada tahap pemberian

reaksi biuret, prubahan warna yang terjadi yaitu menjadi warna hijau.

4. Pencernaan Lemak Oleh Getah Pankreas Pankreas merupakan kelenjar yang berperan dalam sintesis hormon dan enzim dalam pencrnaan manusia. Pankreas mengandung sel yang menghasilkan getah pankreas. Getah pankreas merupakan getah pencernaan yang mempunyai peran penting dalam mengolah karbohidrat, protein, dan Lemak (Ismail, 2015) Getah pankreas tersusun oleh air, bikarbonat dan enzim yang dapat dibedakan atas enzim amilase, lipase, dan tripsin. Enzim amilase adalah enzim yang berfungsi sebagai mengubah karbohidrat menjadi gula sederhana. Enzim lipase berperan dalam mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol, dan enzim tripsin berfungsi mencerna protein menjadi bentuk sederhana pepton atau aasam amino (Hidayat, 2015). Menurut Campbell (2004), hati melakukan berbagai fungsi penting dalam tubuh, termasuk produksi empedu (bile),suatu campuran zat-zat yang disimpan dalam kantung empedu sampai diperlukan.Empedu tidak mengandung enzimpencernaan, tetapi mengandung garamempedu, yang bertindak sebagai deterjendan membantu dalam pencernaan danpenyerapan lemak. Fujaya (1999) menjelaskan bahwa garam empedu berperan melarutkan lemak dalam air, yakni dengan cara membuat stabil emulsi lemak yang berasal dari makanan dan bila garam empedu bergabung dengan kolestero, gliserid, dan asam lemak, maka akan terbentuk micel yang dapat diserap oleh dinding usus.Karena itu kekurangan

cairan empedu dapat menurunkan pencernaan lemak dankekurangan vitamin-vitamin yang hanyalarut dalam lemak, seperti vitamin A, D, E, dan K. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diketahui hasilnya sebagai berikut pada tabung 1 warna berubah menjadi orange, pada tabung ke 2 warna berubah menjadi oranye, dan pada tabung ketiga warna berubah menjadi orange. Pada percobaan ini digunakan susu sebanyak 2 cc, susu digunakan sebagai contoh lemak yang digunakan dalam percobaan ini. Penambahan Na 2 CO 3 bertujuan untuk membuat reaksi menjadi dalam suasana basa, sebab enzim pada pankreas akan aktif dalam keadaan basa. Kemudian penambahan fenol di awal praktikum bertujuan sebagai pewarna agar terlihat perubahan yang teramati. Selanjutnya dipanaskan dalam suhu 37˚ hal ini bertujuan agar menyamakan suhu diluar tubuh dan suhu di dalam tubuh, suhu tubuh optimum dalam 37˚, sehingga enzim akan lebih bekerja ketika sesuai dengan suhu 37˚. Sebab suhu tersebut merupakan suhu optimum pada enzim. Dari hasil percobaan diketahui bahwa kecepatan reaksi pada enzim yang bekerja pada percobaan ini adalah paling cepat pada getah pankreas, kedua susu dengan empedu, dan terakhir pada air. Pada getah pankreas mengalami paling cepat reaksinya karena didalam pankereas mengandung enzim lipase, dimana berfungsi sebagai pemecah lemak menjadi asam lemak. Pada empedu hanya melarutkan lemak. Pada percobaan ini mengalami kegagalan pada perubahan warna yang terjadi. Warna berubah menjadi orange dimana hal ini hanya dapat membuktikan bahwa enzim yang terdapat dalam larutan sudah bekerja. Namun, tidak dapat membedakan antara larutan empedu dan getah pankreas.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Protein dapat terhidrolisis oleh getah pankreas karena mengandung protein dan enzim

yang dapat menghidrolisis protein.

2. Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa amilum tidak dapat dicerna oleh

getah pankreas karena tidak terjadi hidrolisis dan perubahan warna. Namun pada teori

getah pankreas menghasilkan amilase untuk mencerna amilum.

3. Larutan amilum dapat bersifat sebagai gula pereduksi. Amilum dalam pankreas dapat mereduksi sehingga terbentuk warna hijau.

4. Getah pankreas berpengaruh terhadap pencernaan lemak dengan cara mempercepat

reaksi dengan bantuan enzim.

B. Saran

1.

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi, cetakan ketiga. Jakarta: Gramedia.

Bintang, Maria. 2012. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga.

Campbell, N. A dkk. 2004.Biologi Edisi Kelima-Jilid 3. Jakarta: Erlangga.

Fujaya, Y. 1999.Fisiologi Ikan. Dasar Pengembangan Teknik Perikanan. Jakarta:Rineka Cipta.

Hart, Harold.2003. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.

Hawab, H.M. 2003. Pengantar Biokimia. Malang: Bayumedia Publishing.

Hidayat, M. dkk. 2015. Ekstrak Kedelai Detam 1, daun jati belanda serta kombinasinya terhadap berat badan dan hispatologis hepar tikus wistar. JKKI. 6(4): 167-178.

Ismail. E, Suhermiyati S, Roesdijanto. 2013. Penambahan tepung kunyit (Curcuma domestica Val) dan sambiloto (Andrographics panicula Ness) dalam pakan terhadap bobot hati pankeas, dan empedu broiler. Jurnal Ilmiah Peternakan. 1(3):750-758

Iswari, R. 2006. Biokimia. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Kimball, J.W. 1993. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Kuchel, Philip dan Gregori B. Ralston. 2006. Biokimia. Jakarta: Erlangga.

Lehninger. 1997. Dasar-dasar Biokimia Jilid 1. Jakarta : Erlangga.

Martoharsono, Soeharsono. 2015 .Biokimia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Poedjiadi, Anna.2006. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI Press

Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.

Primiadi, Drajat. 2017. Petunjuk Praktikum Kimia. Yogyakarta : FMIPA UNY.

Reed, G. 1975. Enzymes in Food Processing. New York : Academic Press.

Tilman, A.D. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar.Yogyakarta: UGM Press.

Sastrohamidjojo, H. 2005. Kimia Organik: Stereokimia, Karbohidrat, Lemak, dan Protein. Yogyakarta: UGM Press.

Sumardjo, Damin. 2009. Pengantar Kimia. Jakarta: EGC.

Widiyarti, G. 2012. Aktivitas Inhibisi α-glukosidase granular the hijau (Camelia sinensis) grade Arrca Yabukita hasil diafiltrasi menggunakan membrane nanofiltrasi. Teknologi Indonesia. 35(1): 33-39

Winarno, F.G. 1986. Enzim Pangan dan Gizi. Jakarta : Gramedia.

Yazid, E dan

Lizda N. 2006.

Penuntun Praktikum Biokimia Untuk Mahasiswa Analisis.

Yogyakarta: Penerbit Andy