Anda di halaman 1dari 8

Revitalisasi Program Transmigrasi

Revitalization of Transmigration Program


Rohani Budi Prihatin
Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI)
Sekretariat Jenderal DPR RI

Naskah diterima: 5 September 2012

Abstract: The dynamics of transmigration since the colonial era until well into the era of decentralization (regional
autonomy) provides many outputs, outcomes, and benefits, including its impact. At the level of implementation
of the transmigration program still encountered obstacles and problems in the field. It is necessary to reassess
the comprehensive strategy and implementation across sectors so that the transmigration program is not having
problems. This paper seeks to review the changes and the strategic role of transmigration with a new paradigm.
Keywords: Transmigration, development in border country area, welfare.

Abstrak: Dinamika program transmigrasi sejak zaman kolonial hingga memasuki era desentralisasi (otonomi
daerah) banyak memberikan output dan outcome baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Pada
level implementasi program transmigrasi masih ditemui kendala dan persoalan di lapangan. Diperlukan upaya
untuk mengkaji kembali mengenai strategi yang komprehensif dan lintas sektor agar implementasi program
transmigrasi tidak mengalami kendala. Sebagai upaya pertahanan negara maka ke depan lokasi transmigrasi
dapat ditempatkan pada wilayah-wilayah perbatasan negara. Tulisan ini berupaya mengulas perubahan dan
peran strategis ketransmigrasian dengan berdasarkan pada paradigma baru.
Kata Kunci: Transmigrasi, pembangunan di wilayah perbatasan negara, kesejahteraan.

Pendahuluan persen penduduk, dan Pulau Papua yang luasnya


Indonesia dengan jumlah penduduk sebesar 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk.2
237.641.326 pada tahun 2010 (menurut BPS),1 Pertambahan penduduk yang selalu meningkat
merupakan salah satu negara yang berpenduduk setiap tahun akan menimbulkan permasalahan
terbanyak di dunia. Sebagian besar (hampir 60 terkait dengan keterbatasan atau berkurangnya
persen) penduduknya tinggal di Pulau Jawa dan lahan serta meningkatnya kemiskinan. Pemerintah
Madura, yang luasnya hanya 7 persen dari luas telah berupaya untuk mengurangi tekanan jumlah
wilayah Indonesia. penduduk di wilayah padat penduduk melalui program
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk transmigrasi. Selain itu, Pemerintah melakukan
setiap tahunnya, kepadatan penduduk juga ikut Program Keluarga Berencana (KB), untuk mengatasi
meningkat. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk, jumlah penduduk yang terus bertambah.
pada tahun 1971 kepadatan penduduk di Indonesia Perpindahkan penduduk, terutama dari
adalah 62 jiwa/km2, kemudian meningkat menjadi Pulau Jawa, Bali, dan Madura yang paling padat
95 jiwa/km2 pada tahun 1990 dan 108 jiwa/km2 penduduknya ke wilayah pulau-pulau besar di luar
pada tahun 2000. Selain kepadatan, penyebaran Jawa yang masih jarang penduduknya, sudah dimulai
penduduk antarpulau juga tidak merata. Penyebaran sejak jaman penjajahan Belanda yang dikenal dengan
penduduk menurut pulau-pulau besar adalah sebagai istilah kolonisasi. Setelah Indonesia merdeka, istilah
berikut: Pulau Sumatera yang luasnya 25,2 persen kolonisasi kemudian berubah menjadi transmigrasi.
dari luas seluruh wilayah Indonesia dihuni oleh Penyelenggaraan transmigrasi pada awal abad ke 19
21,3 persen penduduk, Pulau Jawa yang luasnya merupakan upaya kolonisasi pertanian pada jaman
6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Pulau penjajahan Belanda. Kebijakan Pemerintah Belanda
Kalimantan yang luasnya 28,5 persen dihuni oleh saat itu adalah untuk memecahkan masalah tekanan
5,8 persen penduduk, Pulau Sulawesi yang luasnya penduduk serta meningkatkan kesejahteraan
9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Pulau penduduk, walaupun pada kenyataannya penduduk
Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 yang dipindahkan hanya dijadikan buruh di
perkebunan.
1
Lihat di http://www.bps.go.id/tab_sub/view.
2
php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=12, data diakses Lihat di http://sp2010.bps.go.id/, data diakses tanggal 7 Juli
tanggal 6 Juli 2012. 2012.

57 |
Rohani Budi Prihatin, Revitalisasi Program Transmigrasi Aspirasi Vol. 4No. 1, Juni |2013
57
Program kolonisasi tersebut sampai saat ini terus Sejarah Transmigrasi
dikembangkan dan disempurnakan dengan tujuan Sejarah transmigrasi dapat dilacak dari
yang hampir sama, meskipun terdapat perubahan program kolonisasi yang diterapkan pada jaman
dalam beberapa programnya karena menyesuaikan penjajahan Belanda. Ide dasar program kolonisasi
dengan perkembangan pembangunan. Menurut adalah mengurangi tekanan penduduk dan juga
Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 1997 tentang mengurangi kemiskinan, khususnya di Pulau Jawa,
Ketransmigrasian, program transmigrasi mempunyai dengan cara memindahkan penduduk dari Pulau
tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran Jawa ke luar Pulau Jawa (Hardjono, 1977:16).
dan masyarakat sekitarnya, meningkatkan dan Program kolonisasi dianggap penting setelah
melakukan pemerataan pembangunan, serta pemerintahan Belanda memperkenalkan politik
memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa. etik pada tahun 1900-an (Oey, 1982; Tirtosudarmo,
Mengingat program ini sangat penting 1999:212-213).Tujuannya adalah agar wilayah
untuk mengatasi permasalahan kependudukan yang selama ini jauh dari pengawasan kekuasaan
dan meningkatkan kesejahteraan, maka sudah pusat menjadi mudah diawasi (Hoey, 2003:109).
selayaknya program ini dipertahankan dan Lokasi pertama yang dijadikan permukiman
dikembangkan. Keberhasilan program transmigrasi untuk para keluarga migran adalah wilayah bagian
pada masa lalu dapat dijadikan contoh untuk selatan Sumatera. Pada tahun 1905 maka dibukalah
pengembangan program ini di masa yang akan permukiman baru sebagai daerah koloni di Gedung
datang. Pada sisi lain, kegagalan program ini juga Tataan, Provinsi Lampung. Selanjutnya pada tahun
banyak menimbulkan kritik bahwa transmigrasi 1912, dibuka lagi permukinan di dekat Kota Agung.
tidak lebih sekedar memindahkan kemiskinan dan Sampai dengan 1930-an, upaya untuk melakukan
bukan untuk menyejahterakan penduduk. perpindahan yang disponsori Pemerintah Belanda
Harus diakui, permasalahan seputar transmigrasi terus berlangsung. Sebagian besar keluarga transmigran
sangat kompleks mulai dari tahap perencanaan, bekerja di sektor perkebunan. Sampai dengan 1940-
penyiapan lahan, sampai dengan penempatan an telah dipindahkan kira-kira 200.000 penduduk
dan pascapenempatan. Penyiapan dan penyedian dengan bantuan Pemerintah Belanda sebagai salah
lahan yang terkait dengan pembukaan lahan perlu satu kebijakan kolonisasi. Tetapi ketika Jepang
memperhatikan dampaknya terhadap kerusakan menguasai Indonesia pada tahun 1942, program
dan kelestarian lingkungan, serta kecocokan lahan kolonisasi ini praktis dihentikan (Arndt, 1988,
untuk usaha pertanian yang akan dikembangkan. Kebschull, 1986).
Kecenderungan munculnya konflik dengan penduduk Setelah kemerdekaaan Indonesia, program
lokal juga menjadi masalah yang perlu diatasi. Lokasi kolonisasi ini diadopsi menjadi program transmigrasi
transmigrasi yang eksklusif dapat menyebabkan untuk penyebaran penduduk secara nasional. Pada
hubungan yang kurang harmonis antara transmigran tahun 1947, Presiden Soekarno berambisi untuk
dengan masyarakat setempat. Selain itu, perbedaan memindahkan 31 juta orang dalam jangka waktu 35
latar belakang budaya juga menjadi tantangan, tahun pada tahun 1951 target itu ditambah menjadi
sehingga isu-su seperti Jawanisasi dan Islamisasi 49 juta orang, namun situasi politik dan ekonomi
mengemuka dalam wacana program transmigrasi saat itu tidak memungkinkan. Sebagai pemerintahan
ini. Selanjutnya, desentralisasi atau otonomi daerah yang baru dengan sejumlah keterbatasan aparatur dan
juga menyebabkan program trasnmigrasi kurang pendanaan, program transmigrasi yang direncanakan
populer karena beberapa daerah penerima masih tersebut sulit dilaksanakan.
kurang mendukung, terutama untuk menyediakan Kegagalan program transmigrasi pada tahun
lahan lokasi transmigrasi. 1950-an ini akhirnya menyadarkan pemerintah untuk
Tulisan ini membahas mengenai sejarah dan membuat target yang lebih realistis. Pada tahun
perkembangan program transmigrasi mulai dari 1961-1969, Pemerintah hanya menetapkan target
zaman Belanda sampai dengan saat ini. Perubahan- 1,56 juta orang. Pada kenyataannya, target itupun
perubahan apa saja yang terjadi selama kurun tidak terpenuhi karena total jumlah transmigran
waktu tersebut? Apakah keberadaan program pada kurun waktu tersebut hanya 174.000 orang
transmigrasi masih dianggap relevan untuk (Fasbender dan Erbe, 1990). Jika diukur dengan
memecahkan permasalahan kependudukan dan parameter kuantitatif, maka program transmigrasi
sekaligus meningkatkan kesejahteraan penduduk? antara tahun 1950-1960-an dapat dikategorikan
Dapatkah program transmigrasi disinergikan dan gagal.
diintegrasikan dengan program pemerintah lainnya Walaupun program transmigrasi mengalami
sehingga saling memperkuat satu sama lain? kegagalan pada pemerintahan Soekarno, pemerintahan
berikutnya Soeharto tetap melanjutkan dalam

58 |
Rohani Budi Prihatin, Revitalisasi Program Transmigrasi Aspirasi Vol. 4No. 1, Juni |2013
58
Rencana Pembangunan Lima Tahun yang Pertama pendapatan para transmigran tetap rendah, desa
(Repelita I). Pada saat ini, program transmigrasi transmigrasi tidak memiliki daya tarik bagi para
tampaknya lebih menitikberatkan pada pembangunan pemilik modal untuk mengembangkan usahanya,
wilayah di luar Jawa daripada mengurangi kepadatan dan kebutuhan masyarakat masih tergantung dari
penduduk di Pulau Jawa. luar permukiman.
Berbagai tantangan dalam pelaksanaan program Permasalahan lainnya yaitu penduduk lokal yang
transmigrasi juga terus dihadapi. Selain terkait berada di sekitar unit-unit permukiman transmigran
dengan perkembangan politik seperti otonomi daerah, masih belum mendapat sentuhan pemberdayaan
tantangan juga muncul seiring dengan perkembangan yang setara dengan transmigran, sehingga tingkat
negara kita yang dilanda krisis ekonomi. Ketika produktivitas dan pendapatannya masih relatif
krisis melanda Indonesia, program transmigrasi juga rendah, serta timbulnya kecemburuan sosial karena
ikut tersendat. Berbagai gejolak ekonomi, sosial adanya perbedaan perlakuan antara transmigran dan
dan politik, menyebabkan program transmigrasi masyarakat lokal. Keseluruhan masalah tersebut
seperti dikesampingkan, walaupun masih tetap berdampak pada tingkat kesejahteraan masyarakat
dipertahankan dan tetap berlangsung hingga saat ini. transmigran yang sampai saat ini masih belum
Akhir-akhir ini berkembang paradigma baru program meningkat.
transmigrasi yang coba mengangkat kembali Selain permasalahan di atas, studi Dewi (2011)
peranan transmigrasi dalam upaya pembangunan tentang karakteristik calon transmigran menyimpulkan
untuk menyejahterakan masyarakat, yaitu untuk bahwa kualitas sumberdaya transmigran yang
meningkatkan kesejaheteraan dan untuk menaikkan seringkali tidak sesuai dengan tipologi lokasi dan
taraf hidup penduduk yang selama ini terbelenggu kesempatan kerja di kawasan transmigrasi. Kondisi
dalam kemiskinan. ini menyebabkan ketidakberhasilan transmigran
Tidak dapat dipungkiri bahwa melalui program dalam mengembangkan diri dan berkerja di lokasi
transmigrasi, telah tumbuh pusat-pusat pertumbuhan baru nanti.
baru yang selanjutnya berkembang menjadi pusat Terkait dengan kemandirian para transmigran
perekonomian dan bahkan beberapa diantaranya di lokasi yang baru, studi Widarjanto dan Nurmawati
menjadi ibukota kabupaten. Menurut Pusat Data (2011) menjelaskan bahwa terdapat beberapa
dan Informasi Ketransmigrasian (2011), program masalah pokok yang menyebabkan kemandirian
transmigrasi telah menciptakan 3.317 desa baru untuk transmigran di beberapa pemukiman transmigrasi
dikembangkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan lambat terwujud. Kendala tersebut secara garis
ekonomi perdesaan. Hingga Februari 2011, permukiman besar dapat dikelompokkan dalam kendala fisik
transmigrasi tersebut telah mendorong terbentuknya dan prasarana, kendala manajemen, rendahnya
360 kecamatan baru dan 101 kabupaten baru. Bahkan modal sosial, dan aplikasi teknologi yang kurang
beberapa di antaranya seperti Kurotidur (di Provinsi tepat. Permasalahan utama yang sering dijumpai
Bengkulu), Metro (di Provinsi Lampung) dan Sangata antara lain keterbatasan sarana dan prasarana
(di Provinsi Kalimantan Timur) dinyatakan sebagai penghidupan dan kehidupan, produktivitas lahan
Kota Agropolitan. Berkembangnya desa transmigrasi rendah, keterlambatan penerapan teknologi dan
menjadi pusat pertumbuhan merupakan indikasi budidaya pertanian, sulitnya memperoleh modal
terjadinya peningkatan perekonomian permukiman usaha tani sampai tidak adanya pendamping/
transmigrasi. Selanjutnya, tumbuhnya perekonomian pembina di permukiman transmigrasi.
perdesaan merupakan indikasi bagi peningkatan Menurut data BPS, sampai dengan tahun 2008
kesejahteraan penduduk dan penurunan kemiskinan. jumlah transmigran yang ditempatkan di daerah
permukiman yang baru mencapai 2.264.753 KK.
Kendala Penempatan transmigran tertinggi antara tahun 1984-
Walau sudah menunjukkan adanya keberhasilan 1999 sebanyak 1,36 juta KK atau sekitar 5,5 juta
program, namun berbagai permasalahan yang jiwa. Ini tentunya suatu jumlah yang cukup besar
dihadapi dalam pengembangan UPT masih saja dibandingkan ketika awal diperkenalkan program
terjadi, diantaranya tingkat aksesibilitas ke lokasi ini yaitu pada masa penjajahan Belanda (1905-1942)
transmigrasi yang rendah, produksi para transmigran yang tercatat sebanyak 231.802 KK yang dipindahkan
yang tidak dapat dipasarkan, lahan transmigrasi ke tempat yang baru (Setiawan, 2011).
yang marginal (tidak subur), sarana dan prasarana Jika ukuran keberhasilan transmigrasi hanya
sosial-ekonomi kurang mendukung pengembangan dari sisi kuantitas, maka program transmigrasi bisa
usaha transmigran, serta adanya masalah sengketa diklaim sebagai program yang berhasil. Namun pada
kepemilikan lahan. Hal ini menyebabkan kegiatan prakteknya, ada ukuran keberhasilan lainnya yaitu
ekonomi di lokasi transmigrasi tidak berkembang, kesejahteraan keluarga transmigran. Kementerian

59 |
Rohani Budi Prihatin, Revitalisasi Program Transmigrasi Aspirasi Vol. 4No. 1, Juni |2013
59
Nakertrans memiliki indikator untuk melihat hasil pertanian terkadang menjadi salah satu penyebab
keberhasilan transmigran di tempat yang baru. terpuruknya ekonomi transmigran.Untuk mendukung
Salah satu indikatornya adalah pencapaian tingkat program transmigrasi mendatang, keterbatasan lahan
pendapatan tertentu yang ditargetkan untuk dapat pertanian harus segera diatasi.
dicapai pada tahun-tahun pembinaan tertentu. Persoalan lain yang tak kalah peliknya adalah
Hasil kajian di sembilan provinsi yang dilakukan persoalan lahan. Penyiapan dan penyediaan
oleh Kementerian Nakertrans pada tahun 2005 lahan merupakan salah satu tahapan paling
menunjukkan pendapatan rumah tangga transmigran penting dalam program transmigrasi, terutama
yang diukur dari pendekatan pengeluaran rumah untuk menempatkan para transmigran di lokasi
tangga selama sebulan. Rata-rata pengeluaran rumah transmigrasi. Pesatnya perkembangan pembangunan
tangga transmigran untuk kebutuhan dasar (pangan di segala bidang, menyebabkan pemerintah saat ini
dan nonpangan) sebesar Rp.3.243.000,00 per tahun. menghadapi kesulitan untuk mendapatkan lahan. Di
Transmigran di Provinsi Lampung mempunyai tengah ketersediaan lahan yang semakin terbatas,
pengeluaran rata-rata sebesar Rp.4.011.000,00 sedangkan persyaratan status tanah lokasi harus clear and
yang terendah transmigran di Provinsi Sumatera clean (jelas status hukumnya dan bebas dari konflik
Selatan, sebesar Rp.2.181.000,00. Pengeluran rumah pertanahan) juga persyaratan 4L (layak huni, layak
tangga ini merupakan total dari pendapatan rumah usaha, layak berkembang, dan layak lingkungan)
tangga transmigran selama satu tahun. Rata-rata merupakan persyaratan mutlak yang harus dipenuhi
pendapatan rumah tangga transmigran berdasarkan dalam program transmigrasi (Delam, 2011).
perhitungan tersebut sebesar Rp.6.502.000,00. Data terbaru dari Direktorat Fasilitasi
Keadaan ini jauh berbeda (terjadi penurunan) bila Penempatan Transmigrasi tentang animo masyarakat
dibandingkan dengan pendapatan rata-rata pada pada Maret 2011 menyebut angka sebanyak 49.008
tahun 2004 yang sebesar Rp.9.070.000,00. Penurunan KK. Tingginya minat masyarakat bertransmigrasi
pendapatan ini kemungkinan sangat terkait dengan tidak seimbang dengan kemampuan pemerintah untuk
kenaikan BBM yang sampai dua kali seiring dengan menempatkannya. Sejak pascareformasi, Pemerintah
kenaikan harga-harga barang kebutuhan. tidak mampu lagi menempatkan transmigran dalam
Hasil studi menunjukkan bahwa pada tahun jumlah besar. Realisasi jumlah penempatan tahun
kedua, rata-rata pendapatan keluarga transmigran 2008 adalah 9.584 KK dan tahun 2009 sebanyak 7.346
masih tinggi karena karena transmigran masih KK (Direktorat Jenderal Pembinaan Pembangunan
mendapatkan bantuan berupa jaminan hidup dari Kawasan Transmigrasi, 2010). Studi yang dilakukan
pemerintah. Pada tahun ketiga terjadi penurunan Chotib (2011) di Jakarta misalnya, menemukan adanya
pendapatan dan pada tahun keempat terjadi fakta tingginya minat mereka terhadap program
kenaikan. Ini terkait dengan kondisi transmigran transmigrasi pada kelompok masyarakat penghuni
yang pada tahun keempat sudah dapat beradaptasi bantaran sungai dan Banjir Kanal Timur (BKT).
dengan lingkungan serta mampu mengembangkan Kesimpulan yang hampir sama juga didapat dalam
kegiatan ekonominya, baik di bidang pertanian penelitian Dewi (2011) di Boyolali Jawa Tengah.
maupun nonpertanian. Ketidakmampuan Pemerintah (Kementerian
Dari hasil studi yang dilakukan tersebut dapat Nakertrans) dalam menampung animo yang tinggi
dijelaskan bahwa pada tahap penyesuaian sekitar tersebut antara lain disebabkan karena permasalahan
57 persen UPT dapat mencapai tingkat pendapatan yang dihadapi dalam penyediaan tanah. Secara
yang telah ditetapkan. Pada tahap pemantapan umum, masalah tanah merupakan masalah yang
hanya 9 persen UPT yang dapat mencapai tingkat paling sering menjadi hambatan dalam pelaksanaan
pendapatan yang ditetapkan. Adapun pada tahap fisik dari permukiman transmigrasi. Masalah
pengembangan hanya 9 persen UPT yang dapat tanah biasanya timbul akibat tidak terpenuhinya
mencapai tingkat pendapatan yang ditetapkan. persyaratan legalitas tanah serta dokumen pengadaan
Penyerapan tenaga kerja di bidang pertanian, rata- tanah yang tidak lengkap, dan terkadang ditemukan
rata sekitar 21,64 persen dengan serapan tenaga regulasi yang saling bertentangan atau berbenturan.
kerja yang tinggi di Provinsi Lampung sebesar Studi yang dilakukan oleh Delam (2011),
31,28 persen dan terendah di Provinsi Jambi, yaitu memperlihatkan bahwa kebijakan penyediaan tanah
sebesar 10,43 persen. untuk permukiman transmigrasi sangat terbatas,
Tampaknya transmigran belum mampu mengolah karena belum didukung oleh peraturan dan kebijakan
sumber daya alam yang tersedia secara optimal. Hal tentang tata cara pelaksanaannya. UU Nomor 15
lain yang terkait dengan keterbatasan lahan serta Tahun 1997 tentang Ketransmigrasian sebagaimana
kesesuaian lahan pertanian juga sangat memengaruhi diubah dengan UU No. 29 Tahun 2009, mencantumkan
keberhasilan para transmigran. Selain itu, pemasaran penyediaan tanah sangat singkat yaitu pada Pasal

60 |
Rohani Budi Prihatin, Revitalisasi Program Transmigrasi Aspirasi Vol. 4No. 1, Juni |2013
60
23 dan Pasal 24. Hal ini menimbulkan kesulitan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam wahana
buat aparat di daerah dalam mengimplementasikan- operasional dalam bentuk program KTM.
nya. Hal lain yang tidak diatur mengenai masalah Saat ini, sebanyak 66 kota/kabupaten tumbuh
kompensasi, tata caranya dan kewenangan membayar dari Unit Permukiman Transmigrasi (UPT), serta
ganti rugi. Padahal dengan merujuk kepada ratusan lainnya menjadi ibu kota kecamatan. Namun
Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 36 Tahun rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk berkembang
2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan dari kondisi awal suatu UPT menjadi ibu kota
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, program kabupaten adalah mencapai 50 tahun-an. Konsep
transmigrasi berpeluang memperoleh tanah dengan KTM diharapkan mempercepat perkembangan
mengategorikan pembangunan transmigrasi sebagai suatu UPT sampai menjadi ibu kota kabupaten atau
pembangunan untuk kepentingan umum. secara umum menjadi pusat pertumbuhan ekonomi
Untuk mengatasi kendala ini, maka Pemerintah dalam waktu 10–15 tahun.
harus melakukan pendekatan yang lebih proaktif dan Jika dibagi secara bertahap, KTM dapat dibagi
musyawarah dengan masyarakat dalam memenuhi menjadi empat generasi seperti pada Tabel 1.
kebutuhan tanah untuk kebutuhan transmigrasi. Dengan membangun kawasan transmigrasi
Sejalan dengan kebijakan otonomi, Pemerintah yang bernuansa perkotaan, diharapkan terjadi
c/q Kementerian Nakertrans harus memberikan akselerasi perekonomian pedesaan dan terwujudnya
dukungan penuh kepada daerah dalam pembangunan kawasan transmigrasi yang mandiri yang memberi
transmigrasi dengan menerbitkan kebijakan dan peluang investasi dan membuka kesempatan
peraturan yang lebih rinci dan operasional berkaitan kerja baru, yang pada akhirnya akan mengurangi
dengan penyediaan tanah serta petunjuk teknis pengangguran dan kemiskinan (Najiyati dkk.,
tentang persyaratan, mekanisme dan organisasi 2011; Siswoyo, 2011; Saksono, 2011; Damanik,
pelaksanaan rekognisi atau kompensasi atas tanah 2011; Sutomo, 2008).
hak maupun tanah ulayat untuk permukiman Undang-undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang
transmigrasi. Ketransmigrasian dan Peraturan Pemerintah Nomor
2 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Transmigrasi
Upaya Revitalisasi mengatur bahwa transmigrasi dilaksanakan dengan
Beberapa kendala yang dihadapi selama membangun WPT (Wilayah Pengembangan
pelaksanaan program transmigrasi selama ini Transmigrasi) dan LPT (Lokasi Permukiman
sebenarnya telah dicarikan pemecahannya, antara Transmigrasi). WPT adalah untuk menciptakan pusat
lain melalui Program Kota Terpadu Mandiri dan pertumbuhan yang baru sedangkan LPT adalah untuk
mendorong terwujudnya permukiman transmigrasi menunjang pusat pertumbuhan yang sudah ada.
di wilayah perbatasan. Dua program ideal ini Walau baru berjalan sekitar 4 tahun yang
disinergikan dan diintegrasikan dengan program lalu, program KTM sudah menuai berbagai kritik.
transmigrasi yang sudah ada sebelumnya. Umumnya kritik tersebut terpusat pada implementasi
Program Kota Terpadu Mandiri (KTM) KTM yang belum terlihat terpadu. Di samping
Sasaran penyelenggaraan transmigrasi itu, terkesan tanpa perencanaan yang terkoordinasi
adalah untuk meningkatkan kemampuan dan dengan kementerian lain sehingga efek dari program
produktivitas masyarakat transmigrasi, membangun itu belum terasakan secara signifikan oleh para
kemandirian dan mewujudkan integritas di transmigran. Program Kota Terpadu Mandiri (KTM)
pemukiman transmigrasi sehingga aspek ekonomi ternyata belum optimal dilaksanakan. Di sejumlah
dan sosial budaya mampu tumbuh dan berkembang daerah, konsep pembangunan kawasan transmigrasi
secara berkelanjutan.Untuk mewujudkan tujuan itu terkendala minimnya pembangunan infrastruktur
tersebut, Departemen Nakertrans pada tahun 2006 atau fasilitas pendukung.
mengembangkan Kota Terpadu Mandiri (KTM) di Seharusnya KTM itu terintegrasi dengan
kawasan-kawasan transmigrasi. program lainnya dari kementerian terkait, sehingga
Menurut UU Ketransmigrasian, visi transmigrasi keberadaannya akan membantu pengembangan
dengan paradigma baru yaitu untuk (a) mendukung potensi ekonomi daerah transmigrasi. Jangan
ketahanan pangan dan penyediaan papan; (b) sampai KTM itu hanya bagus pada tataran konsep
mendukung ketahanan nasional; (c)mendorong dan desain, tapi pada ranah implementasinya justru
strategi pemerataan investasi serta pertumbuhan terkesan mubazir.
ekonomi nasional dan daerah; (d) penanggulangan Oleh karena sifat dari program KTM itu terpadu,
pengangguran secara berkesinambungan dalam jangka mestinya pada Kemenakertrans segera membangun
panjang. Berdasarkan paradigma baru transmigrasi sinergi dengan kementerian terkait, seperti
Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian

61 |
Rohani Budi Prihatin, Revitalisasi Program Transmigrasi Aspirasi Vol. 4No. 1, Juni |2013
61
Tabel 1. Pembagian Generasi KTM
Generasi I 1. KTM Mesuji Kab. Tulang Bawang Prov. Lampung
2. KTM Telang Kab. Banyuasin Prov. Sumatera Selatan
3. KTM Rambutan Parir Kab. Ogan Ilir Prov. Sumatera Selatan
4. KTM Belitang Kab. OKU Timur Prov. Sumatera Selatan
Generasi II 1. KTM Geregai Kab. Tanjung Jabung Prov. Jambi
2. KTM Lunan Silaut Kab. Pesisir Selatan Prov. Sumatera Barat
3. KTM Tobadak Kab. Mamuju Prov. Sulawesi Barat
4. KTM Rasau Jaya Kab. Kubu Raya Prov. Kalimantan Barat
Generasi III 1. KTM Labangka Kab. Sumbawa Prov. Nusa Tenggara Barat
2. KTM Hialu Kab. Konawe Utara Prov. Sulawesi Tenggara
Generasi IV 1. KTM Mahalona, Kab. Luwu Timur Prov. Sulawesi Selatan
2. KTM Air Terang Kab. Buol Prov. Sulawesi Tengah
3. KTM Maloy-Kaliorang Kab. Kutai Timur Prov. Kaltim
4. KTM Lagita Kab. Bengkulu Utara Prov. Bengkulu
5. KTM Pau Mandiangin Kab. Sarolangun Prov. Jambi
6. KTM Subah Kab. Sambas Prov. Kalimantan Barat
7. KTM Cahaya Baru Kab. Batola Prov. Kalimantan Selatan
8. KTM Sarudu Baras Kab. Mamuju Utara Prov. Sulawesi Barat
9. KTM Pawonsari Kab. Boalemo Prov. Gorontalo
10. KTM Dataran Bulan Kab. Tojo Una-Una Prov. Sulteng
11. KTM Bungku Kab. Morowali Prov. Sulawesi Tengah
12. KTM Salor Kab. Merauke Prov. Papua
Sumber: http://www.depnakertrans.go.id/microsite/KTM/?show=dktm, diakses 7 Juni 2013.
Pertanian, dan Kementerian Kesehatan. Ketiga berbatasan dengan 10 negara, baik berbatasan
kementerian ini adalah stakeholder utama untuk darat maupun laut. Banyak kawasan-kawasan di
membangun KTM. Apalagi masalah utama dari perbatasan tersebut yang kurang tersentuh oleh
kawasan transmigrasi selama ini selalu terkait dengan dinamika pembangunan.Sebagian besar kawasan
irigasi, infrastruktur jalan, dan minimnya pelayanan perbatasan merupakan wilayah tertinggal akibat
kesehatan yang memadai. terbatasnya sarana dan prasarana sosial dan
Soal masih kurangnya koordinasi dalam ekonomi masyarakat.
mengimplementasikan program sebenarnya terjadi Untuk menjaga wilayah perbatasan dan pulau-
pada setiap program, seperti program pembangunan pulau terluar Indonesia, Kementerian Tenaga
di wilayah perbatasan atau diwilayah NKRI Kerja dan Transmigrasi perlu mengembangkan
yang langsung berhadapan dengan batas negara program transmigrasi di lokasi-lokasi strategis
lain. Pada Kementerian PU jalan sendiri untuk itu. Pembangunan kawasan transmigrasi ini
membangun infrastruktur, begitu pun dengan sebagai sabuk pengaman (security belt) nusantara
Kementerian Pendidikan Nasional dengan program untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan negara,
pendidikannya. Akibat tidak adanya koordinasi, sehingga tidak diincar dan diklaim oleh negara lain.
maka pembangunan di dearah perbatasan itu Kawasan perbatasan termasuk pulau kecil
sifatnya menjadi tambal sulam. terdepan perlu mendapat perhatian bersama
Solusi agar pembangunan di wilayah mempertimbangkan nilai strategis dalam menjaga
perbatasan itu terintegrasi, maka perlu dibentuk integritas wilayah dan kedaulatan negara serta
badan khusus wilayah perbatasan. Badan itulah mewujudkan pembangunan yang lebih merata dan
yang akan mengkoordinasi setiap rancang rencana berkeadilan. Pelaksanaan program transmigrasi
pembangunan di wilayah perbatasan dari setiap di wilayah perbatasan ini dimaksudkan untuk
kementerian, sehingga tak seperti sekarang berjalan memberdayakan potensi sumber daya alam
sendiri-sendiri. bagi kesejahteraan masyarakat, meningkatkan
Transmigrasi di Daerah Perbatasan Negara pendapatan asli daerah, penyerapan tenaga kerja,
Indonesia memiliki garis pantai sepanjang sekaligus memperkuat ketahanan dan pertahanan
81.900 km, dimana sebagian besar kawasannya negara. Pemerintah sudah seharusnya berkomitmen

62 |
Rohani Budi Prihatin, Revitalisasi Program Transmigrasi Aspirasi Vol. 4No. 1, Juni |2013
62
meningkatkan kontribusi pembangunan transmigrasi Dalam pengembangan kawasan transmigrasi yang
dalam pengembangan wilayah perbatasan dengan berstandar pada kemandirian, prosesnya tidak
pendekatan peningkatan kesejahteraan transmigran hanya didasarkan pada regulasi dan pendekatan
dan masyarakat sekitar. Pendekatan kesejahteraan administrasi birokrasi dalam satuan kerja satu atau
masyarakat di perbatasan ini akan efektif membantu lebih departemen terpusat, tetapi perlu dilakukan
pendekataan keamanan teritorial yang selama ini melalui pembaharuan tata kelola pengembangan
dilaksanakan. transmigrasi melalui kemitraan (partnerships)
Namun, pengembangan program transmigrasi di dengan pemangku-pemangku kepentingan yang
wilayah perbatasan masih memiliki kendalanya yang berkaitan dengan pembangunan daerah yang
yang harus dihadapi yaitu terbatasnya ketersediaan berbasis komunitas.
tenaga kerja dan modal untuk mendukung pengelolan
potensi sumberdaya alam tersebut. Tingkat kepadatan
Saran
penduduk di kawasan perbatasan pun pada umumnya Agar program transmigrasi dapat mencapai
sangat rendah dengan persebaran yang tidak merata.
tujuannya, diperlukan campur tangan para pemangku
Adanya dukungan semua pihak untuk pembangunan kepentingan secara totalitas. Sudah saatnya,
infrastruktur dasar disertai pemberdayaan masyarakat
Pemerintah memikirkan pengembangan kawasan
di kawasan perbatasan diharapkan mampu mengusungpermukiman transmigrasi yang menginterasikan
potensi daerah sehingga kemudian berkembang berbagai program pemerintah dan dapat menjadi
menjadi pusat perekonomian baru, pusat administrasi
lokasi yang patut ditiru karena keberhasilan program
pemerintahan dan memacu percepatan pembangunan transmigrasinya. Pelaksanaan program KTM,
daerah secara keseluruhan. merupakan upaya awal dari Pemerintah dalam
Sudah sejak lama Kementerian Nakertrans mewujudkan sinergitas antara program pengentasan
melakukan pembangunan dan pengembangan kemiskinan dan program peningkatan kesejahteraan
kabupaten perbatasan darat dan perbatasan laut rakyat.
yang ada di seluruh Indonesia. Bahkan beberapa Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah
kawasan transmigrasi di perbatasan pun telah mewujudkan sinergitas antara program transmigrasi
berkembang menjadi Kota Terpadu Mandiri (KTM). dengan program pembangunan di daerah perbatasan.
Sampai saat ini sudah puluhan ribu transmigran Integrasi dan sinkronisasi program antar instansi
dan penduduk sekitar yang mendiami kawasan perlu ditingkatkan untuk menjaga kedaulatan
transmigrasi di kabupaten-kabupaten di 4 provinsi
Indonesia dan mencapai kesejahteraan masyarakat
perbatasan darat. Keberadaannya telah mampu di wilayah perbatasan.Oleh karena itu, kita terus
mengakselerasi pertumbuhan ekonomi setempat, mendorong peran dunia usaha dalam pengembangan
dan mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan investasi di kawasan transmigrasi khususnya di
baru di wilayah perbatasan darat, serta mendorong
kawasan perbatasan, melalui dukungan kepastian
pemekaran kabupaten/kota. hukum pertanahan, kemudahan untuk memperoleh
Kabupaten perbatasan sebagai hasil pemekaran
fasilitas perbankan, dukungan infrastruktur jalan
kabupaten/kota kawasan perbatasan, yang didorongdistribusi dan produksi, serta kebijakan pemerintah
oleh pembangunan kawasan trasmigrasi, antara lain:
dan pemerintah daerah yang menciptakan suasana
Provinsi Papua meliputi Kabupaten Keerom hasil kondusif dalam pengembangan usaha. Dengan
pemekaran dari Kabupaten Jayapura, dan Kabupatendemikian, pembangunan dan pengembangan
Boven Digul hasil pemekaran Kabupaten Merauke. kawasan transmigrasi harus dilakukan secara
Selain itu, Provinsi Kalimantan Barat meliputi terkoordinasi dengan kementerian/lembaga terkait,
Kabupaten Bengkayang hasil pemekaran Kabupaten pemerintah daerah dan melibatkan partisipasi
Sambas; Provinsi Kalimantan Timur meliputi masyarakat serta dunia usaha dalam mempercepat
Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan
sebagai hasil pemekaran Kabupaten Bulungan, serta
perbatasan sebagai beranda terdepan NKRI.
Kabupaten Kutai Barat sebagai hasil pemekaran Untuk mengatasi persoalan teknis di lapangan,
Kabupaten Kutai. Pemerintah perlu segera menyusun petunjuk teknis
yang lebih rinci dan spesifik tentang mekanisme
Simpulan dan organisasi penyediaan tanah, ganti rugi kepada
Pengembangan transmigrasi pada masa masyarakat, serta menyusun peraturan penyediaan
mendatang perlu memperhatikan dua hal, yaitu tanah pemukiman transmigrasi berperspektif
persoalan proses mencapai kemandirian ekonomi pembangunan untuk kepentingan umum.
bagi transmigran dan proses pemberdayaan
masyarakat yang bermula dalam satuan komunitas.

63 |
Rohani Budi Prihatin, Revitalisasi Program Transmigrasi Aspirasi Vol. 4No. 1, Juni |2013
63
DAFTAR PUSTAKA Najiyati, Sri dan Susilo, Slamet Rahmat Topo.
2011, “Sinergitas Instansi Pemerintah dalam
Pembangunan Kota Terpadu Mandiri” dalam
Jurnal Ketrasmigrasian Vol. 28 No. 2 Desember
Buku 2011, 113-124.
Arndt, H.W. 1988. Transmigration in Indonesia, Saksono, Herie. 2011. “Kajian Peran Strategis
dalam Oberai (ed.) Land Settlement Policies and Transmigrasi dalam Implementasi MP3EI”, dalam
Population Redistribution in Developing Countries. Jurnal Ketrasmigrasian Vol. 28 No. 2 Desember
New York: Praeger. Hlm. 48-88. 2011, 67-77.
Fasbender, Karl dan Sussane Erbe. 1990. Toward a Siswoyo, Suhandy. 2009. “Model Pengembangan Kota
New Home Indonesia’s Managed Mass Migration: Terpadu Mandiri di Kawasan Transmigrasi Lore-
Transmigration between Poverty, Economic and Poso”, dalam Jurnal Teras/IX/1/Desember 2009
Ecology. Hamburg: Verlag Weltarchiv GmbH. hlm 16-25.
Hardjono, J.M. 1977. Transmigration in Indonesia. Tirtosudarmo, Riwanto. 1999. “The Indonesia State’s
Kuala Lumpur: Oxford University Press. Response to Migration”. Sojourn 14:1, Hlm. 212-
Kebschull, Dietrich. 1986. Transmigration in Indonesia: 218.
An Empirical Analysis of Motivation, Expectations Widarjanto dan Nurmawati, Ismi. 2011. “Tingkat
and Experiences. Hamburg: Verlag Weltarchiv. Kemandirian Transmigran Peserta Prima-Trans”,
Setiawan, Bayu. 2011. “Program Transmigrasi: Upaya dalam Jurnal Ketrasmigrasian Vol. 28 No. 1 Juli
Mengatasi Permasalahan Kependudukan dan 2011, 45-55.
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat” dalam
Mita Moveria (Ed.), Pertumbuhan Penduduk dan Tesis
Kesejahteraan, Jakarta: LIPI Press. Sutomo, Budi. 2008.“Studi Pengembangan Kota
Whitten, Anthony J., Herman Haeruman, Hadi S. Terpadu Mandiri (KTM) Berbasis Agribisnis
Alikodra dan Machmud Thohari. Transmigration Masyarakat dan Kawasan di Kawasan Transmigrasi
and the Environment in Indonesia: The Past, Present Mesuji Kabupaten Tulang Bawang”, Tesis pada
and Future.IUCN Tropical Forest Programme. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Pusat Data dan Informasi Ketransmigrasian. 2011. Data
Ketransmigrasian. Jakarta: Pusdatintrans. Internet
“Sosial dan Kependudukan” http://www.bps.go.id/tab_
sub/view.php?tabel=1& daftar=1&id_subyek=12
Jurnal diakses tanggal 6 Juni 2012
Chotib. 2011. “Minat Bertransmigrasi Penghuni Bantaran
Sungai dan Banjir Kanal Timur DKI Jakarta”, dalam http://sp2010.bps.go.id/, diakses tanggal 7 Juni 2012
Jurnal Ketrasmigrasian Vol. 28 No. 1 Juli 2011, 25-33.
Damanik, Linthon dan Danarti. 2011. “Partisipasi Badan Aturan Perundang-undangan
Usaha dalam Pembangunan Kota Terpadu Mandiri Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1997 tentang
(KTM)”, dalam Jurnal Ketrasmigrasian Vol. 28 No. Ketransmigrasian
2 Desember 2011, 78-88.
Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2009 tentang
Danarti. 2011. “Akselerasi Perekonomian Masyarakat Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun
Transmigrasi di Hinterland Kota Terpadu Mandiri 1997.
Telang”, dalam Jurnal Ketrasmigrasian Vol. 28 No.
2 Desember 2011, 13-24. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang
Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan
Delam, Jenny. 2011. “Kajian Regulasi Penyediaan Tanah Untuk Kepentingan Umum.
untuk Pemukiman Transmigrasi” dalam Jurnal
Ketrasmigrasian Vol. 28 No. 2 Desember 2011, 55-
65.
Dewi, Rukmini N.. 2011. “Kajian Karakteristik Calon
Transmigrasi di Kabupaten Boyolali Untuk Penempatan
Transmigrasi”, dalam Jurnal Ketrasmigrasian Vol. 28
No. 2 Desember 2011, 103-112.
Hoey, Brian A. 2003. “Natinalism in Indonesia: Building
Imagined and Intentional Communities Through
Transmigration”. Ethnology Vol. 42 No. 2: 109-126.

64 |
Rohani Budi Prihatin, Revitalisasi Program Transmigrasi Aspirasi Vol. 4No. 1, Juni |2013
64