Anda di halaman 1dari 37

MAKALAH

EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

PENYAKIT AKIBAT PENYALAHGUNAAN PSIKOTROPIKA

Kelompok 2 :
Fika Ardiana (101511535009)

Khofifatul Islamiyah (101511535012)

Ary Kusmita (101511535026)

Iswana Zahraa Hidayati (101511535030)

Saiful Azis Setyawan (101511535040)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS AIRLANGGA

BANYUWANGI

2017

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan
hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan judul
“Penyakit Akibat Penyalahgunaan Psikotropika” ini dibuat dengan tujuan memberikan
pemahaman mengenai epidemiologi penyakit tidak menular dan sebagai salah satu tugas mata
kuliah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Proses pembuatan makalah ini tidak akan mampu
terselesaikan dengan baik tanpa bantuan beberapa orang yang turut berperan.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini belum sempurna, oleh karena itu
penulis mengharapkan adanya masukan berupa kritik dan saran yang membangun. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.

Banyuwangi, Mei 2017

Penulis

2
DAFTAR ISI
MAKALAH .................................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR .................................................................................................................... 2
DAFTAR ISI................................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ...................................................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 4
1.3 Tujuan............................................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................................ 6
2.1 Pengertian NAPZA dan Psikotropika ................................................................................... 6
2.2 Besaran masalah Psikotropika di Dunia dan di Indonesia .................................................... 8
2.3 Pola masalah penyalahgunaan Psikotropika di Indonesia dengan konsep Epidemiologi ... 13
2.3.1 Menurut Tempat ........................................................................................................... 13
2.3.2 Menurut Orang ( kelompok umur, Jenis Kelamin, Jenis Pekerjaan) ............................ 16
2.3.3 Menurut Waktu ............................................................................................................. 18
2.4 Penyakit akibat penyalahgunaan Psikotropika .................................................................... 19
2.4.1 Efek Pemakaian Narkoba Dan Psikotropika ................................................................ 20
2.4.2 Gangguan Kesehatan yang diakibatkan Psikotropika .................................................. 21
2.5 Faktor risiko penyalahgunaan Psikotropika ........................................................................ 24
2.6 Kelompok risiko tinggi ....................................................................................................... 29
2.7 Pencegahan dari penyalahgunaan Psikotropika .................................................................. 29
2.8 Penanggulangan Penyalahgunaan Napza ............................................................................ 34
BAB III PENUTUP ...................................................................................................................... 36
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................................... 36
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 37

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau
istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat
berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya
penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner,
multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.
Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau
digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai
peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat
luas khususnya generasi muda.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana Pengertian NAPZA dan Psikotropika?
1.2.2 Bagaimana besaran masalah penyalahgunaan Psikotropika di Dunia dan di
Indonesia?
1.2.3 Bagaimana pola masalah penyalahgunaan Psikotropika di Indonesia berdasarkan
konsep Epidemiologi?
1.2.4 Bagaimana penyakit akibat penyalahgunaan Psikotropika?
1.2.5 Bagaimana faktor risiko dan kelompok risiko tinggi penyalahgunaan
Psikotropika?
1.2.6 Bagaimana pencegahan dari penyalahgunaan Psikotropika ?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahuai Pengertian NAPZA dan Psikotropika?
1.3.2 Mengetahui besaran masalah penyalahgunaan Psikotropika di Dunia dan di
Indonesia?
1.3.3 Mengetahui pola masalah penyalahgunaan Psikotropika di Indonesia berdasarkan
konsep Epidemiologi?
1.3.4 Mengetahui penyakit akibat penyalahgunaan Psikotropika?

4
1.3.5 Mengetahui faktor risiko dan kelompok risiko tinggi penyalahgunaan
Psikotropika?
1.3.6 Mengetahui pencegahan dari penyalahgunaan Psikotropika ?

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian NAPZA dan Psikotropika
2.1.1 Pengertian NAPZA

NAPZA adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya,
meliputi zat alami atau sintetis yang bila dikonsumsi menimbulkan perubahan fungsi fisik
dan psikis, serta menimbulkan ketergantungan (BNN, 2004). NAPZA adalah zat yang
memengaruhi struktur atau fungsi beberapa bagian tubuh orang yang mengonsumsinya.
Manfaat maupun risiko penggunaan NAPZA bergantung pada seberapa banyak, seberapa
sering, cara menggunakannya, dan bersamaan dengan obat atau NAPZA lain yang
dikonsumsi (Kemenkes RI, 2010).

NAPZA adalah kepanjangan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif


lainnya yang merupakan sekelompok obat, yang berpengaruh pada kerja tubuh, terutama
otak. Satu sisi narkoba merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang
pengobatan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, di sisi
lain dapat menimbulkan ketergantungan apabila dipergunakan tanpa adanya
pengendalian.

NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/ zat/ obat
yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/
susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi
sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi)
terhadap NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA adalah penggunaan salah satu atau beberapa
jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi medis, sehingga menimbulkan
gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial (Azmiyati, 2014).

2.1.2 Pengertian Psikotropika


Menurut Undang-undang Republik Indonesia No.5 tahun 1997 tentang
Psikotropika adalah obat baik alamiah maupun buatan, bukan narkotika yangbersifat atau
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf yang menyebabkan
perubahan pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika merupakan bahan alami atau

6
buatan yang digunakan untuk pengobatan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Efek
yang dapat ditimbulkan oleh psikotropika adalah depresan (menenangkan), stimulant
(memberi penguatan), dan halusinogen (menimbulkan dunia hayalan). Zat adiktif adalah
zat yang apabila dikonsumsi secara teratur, sering dan dalam jumlah yang banyak dapat
menimbulkan ketergantungan (adiksi). Zat adiktif yang dimaksud disini adalah zat yang
berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut narkotika dan psikotropika.

Psikotropika Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 dibedakan


dalam golongan-golongan sebagai berikut.
a. Psikotropika Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi
amat kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
i. MDMA (Ecstacy)
ii. Psilobisin dan Psilosin, zat yang didapat dari sejenis jamur
yang tumbuh di Mexico.
iii. LSD (Lysergic Diethylamide).
iv. Mescaline, dilmu pengetahuaneroleh dari sejenis kaktus
yang tumbuh di daerah Amerika Barat.
b. Psikotropika Golongan II
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan
dalam terapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi
kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan.
i. Amphetamine (Shabu - shabu)
ii. Metaqualon
iii. metilfenidat
iv. Ritalin

c. Psikotropika Golongan III


Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan
dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.

7
Contoh psikotropika golongan III adalah :
i. Amobarbital
ii. Flunitrazepam
iii. Pentobarbital
d. Psikotropika Golongan Iv
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan
dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam,
bromazepam, Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam,
seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG).

Sedangkan golongan psikotropika yang sering disalahgunakan antara lain :


i. Psikostimulansia : amfetamin, ekstasi, shabu
ii. Sedatif & Hipnotika (obat penenang, obat tidur): MG, BK, DUM, Pil
koplo dan lain-lain
iii. Halusinogenika : Iysergic acid dyethylamide (LSD), mushroom.

Napza Berdasarkan Cara Pakai, Bentuk, Bahan


a. Cara pakai : dihisap/hirup, dikunyah, ditelan, disuntikkan
b. Bentuk : cair, padat, kristal, lem, kertas, bentuk-bentuk natural (daun, biji, bunga,
getah)
c. Bahan : natural dan sintetik

2.2 Besaran masalah Psikotropika di Dunia dan di Indonesia


2.1.3 Besaran masalah Psikotropika di Dunia

Penyalahgunaan NAPZA di dunia terus mengalami kenaikan dimana hampir


12% (15,5 juta jiwa sampai dengan 36,6 juta jiwa) dari pengguna adalah pecandu
berat. Menurut World Drug Report tahun 2012, produksi NAPZA meningkat salah
satunya diperkiraan produksi opium meningkat dari 4.700 ton di tahun 2010
menjadi 7.000 ton di tahun 2011 dan menurut penelitian yang sama dari sisi jenis

8
narkotika, ganja menduduki peringkat pertama yang disalahgunakan di tingkat
global dengan angka pravalensi 2,3% dan 2,9% per tahun (Andriyani, 2011).

Gambar 1 :Synthetic Drugs amphetamine-type stimulants and new psychoactive


substances
Sumber : UNODC Research 2015
Dari laporan ini termasuk jenis amfetaminStimulan (ATS) dan zat psikoaktif baru
(NPS),Terus didominasi oleh methamphetamine, denganAsia Timur dan Asia Tenggara
menghitung kejang terbesarDilaporkan di seluruh dunia Pasar untuk
methamphetamineMenjadi semakin beragam. Selain didirikan dan berkembang untuk
methamphetamine di IndonesiaAsia Timur dan Asia Tenggara, ada juga
indikasiMeningkatkan penggunaan di beberapa bagian Amerika Utara dan Eropa.
Penyitaan data untuk "ekstasi" dan bahan kimia prekursornya dengan meningkatnya
ketersediaan "ekstasi" di Timur dan Selatan-Asia Timur.

9
Gambar 2 : Global estimates of the use of various drugs, 2013
Sumber : UNODC, responses to annual report questionnaire
2.1.4 Besaran masalah Psikotropika di Indonesia

Kasus penyalahgunaan NAPZA di Indonesia dari tahun ke tahun juga terus


mengalami kenaikan dimana pada tahun 2008 ada sebanyak 3.3 juta (3.362.527)
dengan pravalensi 1,99% menjadi pada tahun 2011 menjadi 4 juta (4.071.016)
dengan pravalensi 2,32% dan diprediksikan angka tersebut akan terus mengalami
kenaikan pada tahun 2015 menjadi 5,1 juta jiwa (5.126.913 jiwa) dengan pravalensi
2,8%. Diketahui 5,3% di antaranya adalah kalangan pelajar dan mahasiswa.

Gambar 3 : Jumlah Kasus Narkoba Menurut Penggolongan Tahun 2008-2012


Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013
Jumlah kasus narkoba berdasarkan penggolongannya yang masuk dalam
kategori narkotika terus mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir sedangkan
yang masuk dalam kategori psikotropika jumlah kasusnya kian menurun, hal ini

10
terlihat jelas pada tahun 2009 jumlah kasus psikotropika 8.779 kasus dan tahun
2010 jumlah kasus psikotropika menurun secara signifikan menjadi 1.181 kasus.
Menurut Direktorat Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan pada tahun
2010 tercatat sebanyak 6.854 pasien kunjungan rawat jalan di rumah sakit
karena gangguan mental dan perilaku yang disebabkan penggunaan opioida. Dari
jumlah tersebut, 4,89% pasien di antaranya merupakan kasus baru. Data jumlah
pasien rawat jalan di rumah sakit karena gangguan mental dan perilaku yang
disebabkan penggunaan yang berhubungan dengan narkoba disajikan pada Tabel
berikut.

Gambar 4 : Rekapitulasi Data Morbiditas Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit


Indonesia Tahun 2010

Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013


Sementara itu, dari sumber yang sama, pada tahun 2010 tercatat pula sebanyak 434
pasien rawat inap di rumah sakit karena gangguan mental dan perilaku yang disebabkan
penggunaan alkohol. Dari jumlah tersebut, 32 pasien di antaranya meninggal dunia. Data

11
jumlah pasien rawat inap di rumah sakit karena gangguan mental dan perilaku yang
disebabkan penggunaan narkoba disajikan pada Tabel 5 berikut.

Gambar 5 : Rekapitulasi Data Morbiditas dan Mortalitas Pasien Rawat Inap di


Rumah Sakit Indonesia Tahun 2010

Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013


Pada umumnya, jenis zat yang digunakan oleh para penyalah guna narkoba adalah
(1) jenis yang tidak digunakan dalam dunia medis yaitu kannabis, kokain, heroin, dan
designer drug lainnya, (2) jenis yang digunakan dalam dunia medis berupa golongan
sedatif hipnotik dengan masa kerja pendek, dan (3) jenis yang relatif “bebas”
diperjualbelikan yaitu alkohol. Zat yang tidak digunakan dalam pengobatan/medis,
biasanya lebih banyak masuk melalui jalur tidak resmi (illicit).

12
Gambar 6 : Jumlah Kasus Narkoba Menurut Jenis Tahun 2008 – 2012
Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013

2.3 Pola masalah penyalahgunaan Psikotropika di Indonesia dengan konsep Epidemiologi


2.3.1 Menurut Tempat
Pada Tabel berikut ini bahwa hampir seluruh provinsi di Indonesia dalam tiga tahun
terakhir jumlah kasus narkoba cenderung meningkat, seperti di Provinsi Jawa Timur,
Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara. Namun pada beberapa provinsi kasusnya juga
menurun, hal ini terlihat pada Provinsi Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera
Utara. Bila dibandingkan lima provinsi terbesar (Provinsi DKI Jakarta, Sumatera Utara,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Selatan) menurut jumlah kasus narkoba akan
terlihat dalam gambar sebagai berikut :

13
Gambar 7 : Jumlah Kasus Narkoba Menurut Provinsi Tahun 2010 – 2012
Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013

Gambar 8 : Lima Provinsi Terbesar Jumlah Kasus Narkoba Tahun 2010 – 2012
Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013
14
Provinsi Jawa Timur dalam tiga tahun terakhir masih menempati urutan pertama
jumlah kasus narkoba berdasarkan provinsi. Begitu pula menurut jumlah tersangka
narkoba, Provinsi Jawa Timur menempati urutan pertama dan mengalami peningkatan dari
tahun 2010 – 2012 (6.395 tersangka di tahun 2010 meningkat menjadi 8.142 tersangka di
tahun 2012). Beberapa provinsi mengalami peningkatan jumlah tersangka dari tahun 2010
- 2012 antara lain Aceh (peningkatan 392 tersangka), Sulawesi Utara (peningkatan 789
tersangka), dan Kalimantan Selatan (peningkatan 802 tersangka). Data tersebut disajikan
dalam Tabel 2 berikut.

Gambar 9 : Jumlah Tersangka Narkoba Menurut Provinsi Tahun 2010 –


2012

Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013

15
2.3.2 Menurut Orang ( kelompok umur, Jenis Kelamin, Jenis Pekerjaan)
1. Menurut Kelompok umur
Pada bagian ini disajikan gambaran penyalah guna narkoba menurut
kelompok umur dan jenis kelamin berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan
dari Badan Narkotika Nasional (BNN) – POLRI, Rumah Sakit Ketergantungan
Obat (RSKO) dan Direktorat Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan. Namun,
data penyalah guna narkoba yang diperoleh dari sumber yang berbeda tersebut
belum dikelompokkan dengan pengelompokan umur yang sama, sehingga
dalam interpretasi data tidak dapat dibandingkan secara langsung
Menurut Badan Narkotika Nasional, antara tahun 2008 - 2012 jumlah
tersangka narkoba berdasarkan kelompok umur tercatat jumlah terbesar pada
kelompok >29 tahun. Data tersebut disajikan dalam Tabel 9 berikut.

Gambar 10 : Jumlah Tersangka Menurut Kelompok Umur Tahun 2008 –


2012

Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013


Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir secara berturut-turut jumlah terbesar
pasien narkoba ada pada kelompok 30 - 34 tahun yakni tahun 2009 sebanyak 128
pasien (34,04%), tahun 2010 sebanyak 93 pasien (33,7%), tahun 2011 sebanyak
169 pasien (68,98%), tahun 2012 sebanyak 195 pasien (33,56%). Namun pada
tahun 2013 dari 328 pasien rawat inap RSKO karena gangguan mental dan perilaku
yang disebabkan penyalahgunaan narkoba, lebih dari sepertiganya (36,6%) adalah
pasien kelompok umur >34 tahun. Ini menunjukkan antara tahun 2012 dan 2013
terjadi pergeseran proporsi terbesar penyalah guna narkoba dari kelompok umur 30

16
– 34 tahun menjadi kelompok umur >34 tahun. Pergeseran ini tentunya masih perlu
diamati lagi perkembangannya pada tahun-tahun berikutnya.
Besarnya proporsi penyalah guna narkoba pada kelompok umur dewasa
perlu mendapat perhatian lebih, khususnya dalam hal pencegahan penyalahgunaan
narkoba, yang harus dilakukan tidak saja oleh pemerintah melainkan juga oleh
masyarakat khususnya keluarga. Orang dewasa bisa dengan mudahnya
memperoleh obat baik di tempat umum seperti warung maupun di tempat–tempat
tertentu seperti diskotik.
2. Menurut Jenis Kelamin

Menurut data dari Badan Narkotika Nasional, tercatat sebagian besar


penyalah guna narkoba adalah laki-laki. Data tersebut disajikan dalam Tabel
berikut.

Gambar 11: Jumlah Tersangka Narkoba Menurut Jenis Kelamin Tahun


2008 – 2012

Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013


Dari data tersebut terlihat bahwa baik WNI maupun WNA jumlah dan
proporsi tersangka narkoba didominasi laki-laki yaitu selalu di atas 80%. Dalam
kurun waktu 2008 - 2012 jumlah tersangka narkoba WNI proporsi terendah laki-
laki yaitu pada tahun 2011 (89,94%) dan tertinggi pada tahun 2008 (92,48%). Bila
dilihat proporsinya pada tahun 2011 terjadi penurunan namun pada tahun 2012
proporsinya naik menjadi 90,80%. Sedangkan pada jumlah tersangka WNA
proporsi terendah laki-laki yaitu pada tahun 2010 (83,02%) dan tertinggi pada tahun
2008 (89,80%). Bila dilihat proporsinya memang pada tahun 2010 terjadi

17
penurunan dari 84,55% pada tahun 2009 menjadi 83,02% pada tahun 2010,
kemudian naik lagi 85,71% pada tahun 2011, terus naik lagi menjadi 88,79% pada
tahun 2012. Sama halnya dengan jumlah tersangka WNI perempuan, pada WNA
perempuan cenderung terjadi kenaikan dalam kurun waktu 2008 – 2012
3. Jenis Pekerjaan
Berdasarkan data BNN sebagian besar jumlah tersangka narkoba menurut
jenis pekerjaan dalam kurun waktu 2008 - 2012 adalah pekerja swasta diikuti
wiraswasta, pengangguran, dan buruh. Data tersebut disajikan dalam Tabel berikut

Gambar 12: Jumlah Tersangka Narkoba Menurut Jenis Pekerjaan Tahun


2008– 2012

Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013


2.3.3 Menurut Waktu

Gambar 13 : Jumlah Kasus Narkoba Menurut Penggolongan Tahun 2008-2012


Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013

18
2.4 Penyakit akibat penyalahgunaan Psikotropika
Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan narkoba merupakan penyakit mental dan
perilaku yang dapat berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan masalah
lingkungan sosial. Ditinjau dari sejumlah kasus, walaupun tidak ada data yang pasti
mengenai jumlah kasus penyalah guna narkoba, namun diperkirakan beberapa tahun
terakhir jumlah kasus penyalah guna narkoba cenderung semakin meningkat, bahkan
jumlah yang sebenarnya diperkirakan sesuai dengan fenomena “gunung es” (iceberg
phenomena), dimana jumlah kasus yang ada jauh lebih besar daripada kasus yang
dilaporkan atau dikumpulkan. Masyarakat secara umum memandang masalah gangguan
penggunaan narkoba lebih sebagai masalah moral daripada masalah kesehatan.
Ketergantungan zat merupakan dampak dari penyalahgunaan NAPZA yang parah,
hal ini sering dianggap sebagai penyakit. Ketergantungan seperti ketidakmampuan untuk
mengendalikan atau menghentikan pemakaian zat menimbulkan gangguan fisik yang hebat
jika dihentikan akan berbahaya dan merugikan keluarga serta menimbulkan dampak sosial
yang luas. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penyalahgunaan NAPZA adalah
pengetahuan, dimana dalam suatu kondisi jika seseorang itu tahu bahwa hal yang akan
dilakukannya akan berakibat buruk terhadap dirinya maka orang tersebut kemungkinan
tidak akan melakukan hal tersebut (Menthan, 2013). Peningkatan pengetahuan dapat
dilakukan dengan cara penyuluhan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan
bahwa ada peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah pemberian penyuluhan (Badri
M, 2013).

19
Arti Asal Akibat Pemakaian

Psikotropika adalah - Ghuang Zhou - Menimbulkan - Pil XTC, koplo,


zat atau obat, baik (China) : Sabu rangsangan inex : bentuk padat
alamiah maupun - Belanda, (stimulant) : XTC, seperti pil/tablet
sintetis bukan Cekoslovakia, Shabu dengan ditelan
narkotika yang Australia : - Menimbulkan - Bubuk XTC :
berkhasiat psikoaktif Methamphet ketenangan : bentuk bubuk dihisap
melalui pengaruh - Tangerang Benzodiapezin, pil dengan hidung
selektif pada susunan (Indonesia) : Ekstasi BK, Pil koplo, - Shabu : bentuk
saraf pusat yang (MDMA) sedatin, dll kristal diuapkan
menyebabkan - Menimbulkan daya dengan bong dan
perubahan khas pada khayal (halusinasi) : dihirup
aktivitas mental dan LSD, PCP,
perilaku (pasal 1 UU Mescaline, dll
no.5/1997)

Gambar : Akibat penggunaan Psikotropika

2.4.1 Efek Pemakaian Narkoba Dan Psikotropika


Pemakaian narkoba secara umum dan juga psikotropika yang tidak sesuai
dengan aturan dapat menimbulkan efek yang membahayakan tubuh. Berdasarkan
efek yang ditimbulkan, narkoba dibedakan menjadi 3, yaitu:

a. Depresan yaitu menekan sistem sistem syaraf pusat dan mengurangi aktifitas
fungsional tubuh sehingga pemakai merasa tenang, bahkan bisa membuat pemakai
tidur dan tak sadarkan diri. Bila kelebihan dosis bisa mengakibatkan kematian. Jenis
narkoba depresan antara lain opioda, dan berbagai turunannya seperti morphin dan
heroin. Efeknya mengakibatkan mengantuk sampai tidur, menimbulkan perasaan
nyaman dan tenang, mempengaruhi koordinasi gerakan, konsentrasi. Contoh pada
golongan Opiat seperti heroin (PT), Barbiturat : hipnotik, sedative, Marijuana –
Ganja, Oxycodon (oxyContin), Benzodiazepin, alkohol

20
b. Stimulan : merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan serta kesadaran.
Menimbulkan perasaan segar, bersemangat, tidak lelah, tidak lapar, rasa nikmat,
bahagia, disorientasi mental, rasa cemas tinggi, mudah tersinggung, gugup, sulit
tidur, mual-mual, merasa haus terus menerus, keringat dingin, hipertensi,
Memberikan rasa nikmat, bahagia. Contoh Amphetamine, Metamphetamine
(Shabu), XTC–Ecstasy (3,4 methylenedioxy-N-Methylamphetamine),
Kokain/Crack, Kafein, Alkohol, marijuana
c. Halusinogen : efek utamanya adalah mengubah daya persepsi atau mengakibatkan
halusinasi. Halusinogen kebanyakan berasal dari tanaman seperti mescaline dari
kaktus dan psilocybin dari jamur-jamuran. Selain itu ada jugayang diramu di
laboratorium seperti LSD. Menyebabkan halusinasi, sangat dipengaruhi oleh
perasaan saat itu, dapat menyebabkan perilaku yang memalukan atau
membahayakan. Contohnya Jamur kotoran sapi, Bunga kaktus, Lem (Aica, Aibon)
Yang paling banyak dipakai adalah marijuana atau ganja.

2.4.2 Gangguan Kesehatan yang diakibatkan Psikotropika


(menurut British heart foundation) adalah :
1. Meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, Obat yang dapat membuat
ketegangan pada jantung Anda menyebabkan detak jantung tidak teratur,
serangan jantung dan stroke. Kelompok/golongan psikotropika yang
menyebabkan gangguan kesehatan ini adalah
- LSD (acid, blotter, asam cair, micro dot, smilies, tabs, trips)
- Amfetamin (kecepatan, fet, base, billy, jagoan)
2. Mengurangi denyut jantung dan tekanan darah
Obat ini memperlambat pernapasan dan bisa menghentikan kerja jantung.
psikotropika yang menyebabkan gangguan kesehatan ini adalah
- GHB (GBH, ekstasi cair)
3. Resiko kematian akibat edema paru
Obat yang dapat menyebabkan edema paru. Hal ini terjadi bila cairan
mengalir kembali ke paru-paru yang menyebabkan sesak napas ekstrim.
psikotropika yang menyebabkan gangguan kesehatan ini adalah Amfetamin

21
4. Resiko endokarditis
Endokarditis adalah kondisi jantung yang mengancam jiwa yang
disebabkan oleh suntikan. Psikotropika yang menyebabkan gangguan
kesehatan ini adalah obat-obatan seperti Amfetamin
5. Detak jantung tidak teratur dan hitam
Hal ini bisa menyebabkan kematian mendadak.
6. Penyakit jantung dan pembuluh darah
7. Mengganggu kemampuan jasmaniah
a. Gangguan pada sistem syaraf, kejang-kejang,halusinasi,gangguan
kesadaran,kerusakan syaraf
b. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah, imfeksi akut jantung
gangguan peredaran darah
c. Gangguan pada kulit, alergi abses pernanahan
d. Gangguan pada paru-paru, penekanan fungsi pernafasan dan pengerasan
jaringan paru2
e. Gangguan pada hemopeotik gastrointestinal, penurunan fungsi sistem
reproduksi, gagal ginjal, gangguan pada otot dan tulang serta berpotensi
tertular HIV-AIDS
8. Mengganggu Kejiwaan
a. Toleransi istilah yang digunakan untuk menunjukkan kebutuhan zat
seseorang yang lebih banyak untuk memperoleh efek yang sama setelah
pemakaian berulang
b. Withdrawal Syndrome (gejala Putus Zat) biasa dikenal oleh pecandu
dengan sebutan sakau gejala ini akan hilang jika menggunakan
9. depedensi (ketergantungan)
keadaan dimana seseorang selalu membutuhkan zat tertentu (Kecanduan )
10. Dampak sosial
Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa prosentase kriminalitas yang
terjadi lebih besar di timbulkan oleh penyalahgunaan zat psikoaktif yang dapat
meningkatkan perilaku agresif seseorang baik fisik maupun psikis.

22
Selain itu, Problem yang sangat mengancam saat ini adalah efek
penggunaan narkoba melalui jarum suntik terhadap timbulnya HIV/AIDS. Di
Thailand, pola HIV/AIDS dimulai dari penggunaan jarum suntik oleh penyalah
guna narkoba atau disebut juga dengan IDU (Injecting Drug User), tapi di
Indonesia pola HIV/AIDS dimulai dari seks, kemudian berkembang dalam 10
tahun terakhir pemakaian narkoba melalui jarum suntik menjadi salah satu pola
penyebab timbulnya HIV/AIDS. Hal ini merupakan sebuah fenomena second
explossion of HIV/AIDS epidemic.

Di kalangan pengguna narkoba suntik, infeksi HIV berkisar antara 50%


sampai 90%. Dengan demikian dewasa ini masalah infeksi HIV tidak hanya
berkaitan erat dengan hubungan seks yang tidak aman tapi amat erat hubungannya
dengan penggunaan narkoba suntik. Penggunaan narkoba suntik biasanya
dilakukan dengan cara tidak terbuka sehingga tidak mudah memperkirakan
penggunaan narkoba suntik di Indonesia. Jumlah dan persentase kasus AIDS pada
pengguna narkoba suntik (IDU) menurut provinsi sampai dengan Desember 2012
dapat dilihat pada Tabel berikut :

Gambar 14 : Sepuluh (10) Besar Persentase Kasus Baru AIDS pada Pengguna IDU
di Indonesia sampai dengan Desember 2013
Sumber : Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2012

23
2.5 Faktor risiko penyalahgunaan Psikotropika
Faktor Risiko Penyalahgunaan NAPZA Menurut Soetjiningsih (2004), faktor risiko
yang menyebabkan penyalahgunaan NAPZA antara lain faktor genetik, lingkungan
keluarga, pergaulan (teman sebaya), dan karakteristik individu.

1. Faktor Genetik
Risiko faktor genetik didukung oleh hasil penelitian bahwa remaja dari
orang tua kandung alkoholik mempunyai risiko 3-4 kali sebagai peminum
alkohol dibandingkan remaja dari orang tua angkat alkoholik. Penelitian lain
membuktikan remaja kembar monozigot mempunyai risiko alkoholik lebih besar
dibandingkan remaja kembar dizigot.
Faktor genetik Banyak penelitian telah membahas kemungkinan bahwa
ada kecenderungan genetik untuk penyalahgunaan narkoba dan alkohol dan
ketergantungan. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa kerabat dan anak-
anak dari peminum masalah memiliki tingkat lebih tinggi dari perkiraan dari
penyalahgunaan alkohol atau ketergantungan (misalnya, Chassin dkk., 1999).
Selanjutnya, studi keluarga menunjukkan bahwa kerabat mereka yang zat
penyalahgunaan berada pada peningkatan risiko untuk menyalahgunakan
banyak zat, bukan hanya satu yang merupakan dasar untuk memilih proband
(Bierut et al, 1998;.. Merilkangas et al, 1998). Bukti kuat untuk diatesis
genetik berasal dari studi kembar, yang telah mengungkapkan konkordansi
lebih besar pada kembar identik daripada kembar fraternal untuk
penyalahgunaan alkohol oleh laki-laki (McGue, Pickens, & Svikis, 1992),
merokok (Benar et al., 1999), berat menggunakan atau penyalahgunaan ganja
(Kendler & Prescott, 1998), dan penyalahgunaan narkoba pada umumnya
(Tsuang dkk., 1998). Perilaku studi genetika menunjukkan bahwa faktor risiko
lingkungan genetik dan bersama (lihat Bab 2) untuk penyalahgunaan narkoba
terlarang dan ketergantungan mungkin agak spesifik (Karkowski, et al, 2000;..
Kendler, Jacobsen, et al, 2003). Artinya, faktor risiko lingkungan genetik dan
berbagi tampaknya sama tidak peduli apa obat (ganja, kokain, opiat,
halusinogen, obat penenang, stimulan). Hal ini tampaknya benar bagi pria dan
wanita (Kendler, Prescott, et al., 2003).

24
2. Lingkungan Keluarga
Pola asuh dalam keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap
penyalahgunaan NAPZA. Pola asuh orang tua yang demokratis dan terbuka
mempunyai risiko penyalahgunaan NAPZA lebih rendah dibandingkan dengan
pola asuh orang tua dengan disiplin yang ketat. Fakta berbicara bahwa tidak
semua keluarga mampu menciptakan kebahagiaan bagi semua anggotanya.
Banyak keluarga mengalami problem-problem tertentu. Salah satunya
ketidakharmonisan hubungan keluarga. Banyak keluarga berantakan yang
ditandai oleh relasi orangtua yang tidak harmonis dan matinya komunikasi
antara mereka. Ketidakharmonisan yang terus berlanjut sering berakibat
perceraian. Kalau pun keluarga ini tetap dipertahankan, maka yang ada
sebetulnya adalah sebuah rumah tangga yang tidak akrab dimana anggota
keluarga tidak merasa betah. Orangtua sering minggat dari rumah atau pergi pagi
dan pulang hingga larut malam. Ke mana anak harus berpaling? Kebanyakan
diantara penyalahguna NAPZA mempunyai hubungan yang biasa-biasa saja
dengan orang tuanya. Mereka jarang menghabiskan waktu luang dan bercanda
dengan orang tuanya (Jehani, dkk, 2006).
3. Pergaulan (Teman Sebaya)
Di dalam mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA, teman kelompok
sebaya (peer group) mempunyai pengaruh yang dapat mendorong atau
mencetuskan penyalahgunaan NAPZA pada diri seseorang. Menurut Hawari
(2006) perkenalan pertama dengan NAPZA justru datangnya dari teman
kelompok. Pengaruh teman kelompok ini dapat menciptakan keterikatan dan
kebersamaan, sehingga yang bersangkutan sukar melepaskan diri. Pengaruh
teman kelompok ini tidak hanya pada saat perkenalan pertama dengan NAPZA,
melainkan juga menyebabkan seseorang tetap menyalahgunakan NAPZA, dan
yang menyebabkan kekambuhan (relapse). Bila hubungan orangtua dan anak
tidak baik, maka anak akan terlepas ikatan psikologisnya dengan orangtua dan
anak akan mudah jatuh dalam pengaruh teman kelompok. Berbagai cara teman
kelompok ini memengaruhi si anak, misalnya dengan cara membujuk, ditawari
bahkan sampai dijebak dan seterusnya sehingga anak turut menyalahgunakan

25
NAPZA dan sukar melepaskan diri dari teman kelompoknya. Marlatt dan
Gordon (1980) dalam penelitiannya terhadap para penyalahguna NAPZA yang
kambuh, menyatakan bahwa mereka kembali kambuh karena ditawari oleh
teman-temannya yang masih menggunakan NAPZA (mereka kembali bertemu
dan bergaul). Kondisi pergaulan sosial dalam lingkungan yang seperti ini
merupakan kondisi yang dapat menimbulkan kekambuhan. Proporsi pengaruh
teman kelompok sebagai penyebab kekambuhan dalam penelitian tersebut
mencapai 34%.
4. Karakteristik Individu
a. Umur
Berdasarkan penelitian, kebanyakan penyalahguna NAPZA adalah
mereka yang termasuk kelompok remaja. Pada umur ini secara kejiwaan
masih sangat labil, mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan sedang
mencari identitas diri serta senangmemasuki kehidupan kelompok. Hasil
temuan Tim Kelompok Kerja Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba
Departemen Pendidikan Nasional menyatakan sebanyak 70%
penyalahguna NAPZA di Indonesia adalah anak usia sekolah (Jehani, dkk,
2006). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Siregar (2004) proporsi
penyalahguna NAPZA tertinggi pada kelompok umur 17-19 tahun (54%).

b. Pendidikan
Menurut Friedman (2005) belum ada hasil penelitian yang
menyatakan apakah pendidikan mempunyai risiko penyalahgunaan
NAPZA. Akan tetapi, pendidikan ada kaitannya dengan cara berfikir,
kepemimpinan, pola asuh, komunikasi, serta pengambilan keputusan
dalam keluarga. Hasil penelitian Prasetyaningsih (2003) menunjukkan
bahwa pendidikan penyalahguna NAPZA sebagian besar termasuk
kategori tingkat pendidikan dasar (50,7%). Asumsi umum bahwa semakin
tinggi pendidikan, semakin mempunyai wawasan/pengalaman yang luas
dan cara berpikir serta bertindak yang lebih baik. Pendidikan yang rendah

26
memengaruhi tingkat pemahaman terhadap informasi yang sangat penting
tentang NAPZA dan segala dampak negatif yang dapat ditimbulkannya,
karena pendidikan rendah berakibat sulit untuk berkembang menerima
informasi baru serta mempunyai pola pikir yang sempit.
c. Pekerjaan
Hasil studi BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas
Indonesia tahun 2009 di kalangan pekerja di Indonesia diperoleh data
bahwa penyalahguna NAPZA tertinggi pada karyawan swasta dengan
prevalensi 68%, PNS/TNI/POLRI dengan prevalensi 13%, dan karyawan
BUMN dengan prevalensi 11% (BNN, 2010).

27
Gambar 15: Factors increasing vulnerability to drug use
Sumber : UNODC Research

28
2.6 Kelompok risiko tinggi

Gambar 16 : Jumlah Tersangka Menurut Kelompok Umur Tahun 2008 – 2012

Sumber : Badan Narkotika Nasional dan POLRI, 2013


Kelompok risiko tinggi mengenai berbagai penyakit yang diakibatkan oleh
psikotropika yaitu dapat diketahui dari gambar tabel diatas. Tabel diatas
mengindikasikan bahwa kelompok yang berisiko tinggi adalah kelompok umur
yang berusia >29 tahun. Pada kategori umur tersebut juga memperbesar risiko
terjadinya penyakit jantung karena juga rentan dengan dipengaruhi oleh gaya hidup
yang tidak sehat (pola makan, pola konsumsi dan sebagainya).

2.7 Pencegahan dari penyalahgunaan Psikotropika


Pencegahan penyalahgunaan NAPZA, meliputi (BNN, 2004) :
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer dilakukan dengan pemberian program pencegahan pemakaian
zat. Pencegahan primer atau pencegahan dini diberlakukan/ditujukan kepada mereka,
individu, keluarga, kelompok atau komunitas yang memiliki risiko tinggi terhadap
penyalahgunaan NAPZA. Selain itu untuk melakukan intervensi agar individu,
kelompok, dan masyarakat waspada serta memiliki ketahanan agar tidak menggunakan
NAPZA. Upaya pencegahan ini dilakukan sejak anak berusia dini, agar faktor yang
dapat menghabat proses tumbuh kembang anak dapat diatasi dengan baik.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan pada kelompok atau komunitas yang sudah
menyalahgunakan NAPZA. Dilakukan pengobatan agar mereka tidak menggunakan
NAPZA lagi. Pencegahan sekunder adalah untuk menginisiasi penyalahgunaan
NAPZA yang barau saja menggunakan atau mencoba-coba. Mereka perlu disadarkan

29
supaya nantinya tidak berkembang menjadi pencandu karena adanya efek adiktif dari
NAPZ yang dikonsumsi. Pencegahan ini menitikberatkan pada mengarahkan si
penyalahguna NAPZA untuk melakukan pola hidup sehat dalam keseharian mereka
(Healthy Life Style). Selain itu juga dibantu agar mereka menjalani terapi maupun
rehabilitasi.
Beberapa pencegahan sekunder yang dapat dilakukan adalah :
i. diberlakukannya Program pemulihan dan penyembuhan
ii. Program pasca rawat, menjaga kemantapan hidup bersih dari narkoba dll.
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier ditujukan kepada mereka yang sudah pernah menjadi
penyalahguna NAPZA dan telah mengikuti program terapi dan rehabilitasi untuk
menjaga agar tidak kambuh lagi. Sedangkan pencegahan terhadap penyalahguna
NAPZA yang kambuh kembali adalah dengan melakukan pendampingan yang dapat
membantunya untuk mengatasi masalah perilaku adiksinya, detoksifikasi, maupun
dengan melakukan rehabilitasi kembali.
Berikut beberapa terapi dan rehabilitasi yang dapat dilakukan, yaitu :
a. Terapi
Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan detoksifikasi. Detoksifikasi
adalah upaya untuk mengurangi atau menghentikan gejala putus zat, dengan dua
cara yaitu:
i. Detoksifikasi Tanpa Subsitusi Klien ketergantungan putau (heroin) yang
berhenti menggunakan zat yang mengalami gajala putus zat tidak diberi obat
untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya dibiarkan saja
sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri.
ii. Detoksifikasi dengan Substitusi Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan
memberikan jenis opiat misalnya kodein, bufremorfin, dan metadon.
Substitusi bagi pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti
ansietas, misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara
penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali. Selama
pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang menghilangkan gejala
simptomatik, misalnya obat penghilang rasa nyeri, rasa mual, dan obat tidur

30
atau sesuai dengan gejala yang ditimbulkan akibat putus zat tersebut (Purba,
2008).
b. Rehabilitasi

Yang dimaksud dengan rehabilitasi adalah upaya memulihkan dan


mengembalikan kondisi para mantan penyalahguna NAPZA kembali sehat dalam arti
sehat fisik, psikologik, sosial, dan spiritual. Dengan kondisi sehat tersebut diharapkan
mereka akan mampu kembali berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-
hari.

Menurut Hawari (2006) jenis-jenis rehabilitasi antara lain :


i. Rehabilitasi Medik Dengan rehabilitasi medik ini dimaksudkan agar mantan
penyalahguna NAPZA benar-benar sehat secara fisik. Termasuk dalam
program rehabilitasi medik ini ialah memulihkan kondisi fisik yang lemah,
tidak cukup diberikan gizi makanan yang bernilai tinggi, tetapi juga
kegiatan olahraga yang teratur disesuaikan dengan kemampuan masing-
masing yang bersangkutan.
ii. Rehabilitasi Psikiatrik Rehabilitasi psikiatrik ini dimaksudkan agar peserta
rehabilitasi yang semula bersikap dan bertindak antisosial dapat
dihilangkan, sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan baik dengan
sesama rekannya maupun personil yang membimbing atau mengasuhnya.
Termasuk rehabilitasi psikiatrik ini adalah psikoterapi/konsultasi keluarga
yang dapat dianggap sebagai “rehabilitasi” keluarga terutama bagi
keluarga-keluarga broken home. Konsultasi keluarga ini penting dilakukan
agar keluarga dapat memahami aspek-aspek kepribadian anaknya yang
terlibat penyalahgunaan NAPZA, bagaimana cara menyikapinya bila kelak
ia telah kembali ke rumah dan upaya pencegahan agar tidak kambuh.
iii. Rehabilitasi Psikososial Dengan rehabilitasi psikososial ini dimaksudkan
agar peserta rehabilitasi dapat kembali adaptif bersosialisasi dalam
lingkungan sosialnya, yaitu di rumah, di sekolah/kampus dan di tempat
kerja. Program ini merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat. Oleh
karena itu, mereka perlu dibekali dengan pendidikan dan keterampilan

31
misalnya berbagai kursus ataupun balai latihan kerja yang dapat diadakan
di pusat rehabilitasi. Dengan demikian diharapkan bila mereka telah selesai
menjalani program rehabilitasi dapat melanjutkan kembali ke
sekolah/kuliah atau bekerja.
iv. Rehabilitasi Psikoreligius Rehabilitasi psikoreligius memegang peranan
penting. Unsur agama dalam rehabilitasi bagi para pasien penyalahguna
NAPZA mempunyai arti penting dalam mencapai penyembuhan. Unsur
agama yang mereka terima akan memulihkan dam memperkuat rasa
percaya diri, harapan dan keimanan. Pendalaman, penghayatan dan
pengamalan keagamaan atau keimanan ini akan menumbuhkan kekuatan
kerohanian pada diri seseorang sehingga mampu menekan risiko seminimal
mungkin terlibat kembali dalam penyalahgunaan NAPZA.
v. Forum Silaturahmi Forum silaturahmi merupakan program lanjutan (pasca
rehabilitasi) yaitu program atau kegiatan yang dapat diikuti oleh mantan
penyalahguna NAPZA (yang telah selesai menjalani tahapan rehabilitasi)
dan keluarganya. Tujuan yang hendak dicapai dalam forum silaturahmi ini
adalah untuk memantapkan terwujudnya rumah tangga/keluarga sakinah
yaitu keluarga yang harmonis dan religius, sehingga dapat memperkecil
kekambuhan penyalahgunaan NAPZA.
vi. Program Terminal Pengalaman menunjukkan bahwa banyak dari mereka
sesudah menjalani program rehabilitasi dan kemudian mengikuti forum
silaturahmi, mengalami kebingungan untuk program selanjutnya.
Khususnya bagi pelajar dan mahasiswa yang karena keterlibatannya pada
penyalahgunaan NAPZA di masa lalu terpaksa putus sekolah menjadi
pengangguran; perlu menjalani program khusus yang dinamakan program
terminal (re-entry program), yaitu program persiapan untuk kembali
melanjutkan sekolah/kuliah atau bekerja.

32
Selain itu, terdapat peran dari berbagai aspek yang mendukung dalam pencegahan
terjadinya penggunaan psikotropika, yaitu :
a. Peran Anggota Keluarga
Setiap anggota keluarga harus saling menjaga agar jangan sampai ada anggota
keluarga yang terlibat dalam penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika. Kalangan
remaja ternyata merupakan kelompok terbesar yang menyalahgunakan zat-zat tersebut.
Oleh karena itu, setiap orang tua memiliki tanggung jawab membimbing anakanaknya
agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Tuhan. Karena ketaqwaan inilah yang
akan menjadi perisai ampuh untuk membentengi anak dari menyalahgunakan obat-obat
terlarang dan pengaruh buruk yang mungkin datang dari lingkungan di luar rumah.
b. Peran Anggota Masyarakat
Kita sebagai anggota masyarakat perlu mendorong peningkatan pengetahuan setiap
anggota masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan obat-obat terlarang. Selain itu,
kita sebagai anggota masyarakat perlu memberi informasi kepada pihak yang berwajib
jika ada pemakai dan pengedar narkoba di lingkungan tempat tinggal.
d. Peran Sekolah
Sekolah perlu memberikan wawasan yang cukup kepada para siswa tentang bahaya
penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika bagi diri pribadi, keluarga, dan orang lain.
Selain itu, sekolah perlu mendorong setiap siswa untuk melaporkan pada pihak sekolah
jika ada pemakai atau pengedar zat adiktif dan psikotropika di lingkungan sekolah.
Sekolah perlu memberikan sanksi yang mendidik untuk setiap siswa yang terbukti
menjadi pemakai atau pengedar narkoba.
e. Peran Pemerintah
Pemerintah berperan mencegah terjadinya penyalahgunaan narkotika dan
psikotropika dengan cara mengeluarkan aturan hukum yang jelas dan tegas. Di samping
itu, setiap penyalahguna, pengedar, pemasok, pengimpor, pembuat, dan penyimpan
narkoba perlu diberikan sanksi atau hukuman yang membuat efek jera bagi si pelaku
dan mencegah yang lain dari kesalahan yang sama.

33
2.8 Penanggulangan Penyalahgunaan Napza

Penanggulangan Penyalahgunaan
Napza

SUPPLY DEMAND HARM


REDUCTION REDUCTION REDUCTION

PENCEGAHAN & PROMOSI HIDUP


REPRESI SEHAT
PENCEGAHAN MENCEGAH
PRODUKSI,
PENGOBATAN DAMPAK BURUK
DISTRIBUSI, DAN
PEREDARAN REHABILITASI

Penanggulangan Penyalahgunaan Napza


1. Supply Reduction
Tujuannya adalah untuk mengurangi pemasokan atau suplai ZAT

Hal ini mencakup di antaranya :

i. Menghambat penanaman
ii. Menghambat produksi
iii. Menghambat transportasi
iv. Menghambat lalu lintas barang
2. Demand Reduction
Tujuannya adalah ntuk mengurangi permintaan atau kebutuhan atas zat
Hal ini mencakup di antaranya:
a. Pencegahan Primer : program pencegahan pemakaian zat
b. Pencegahn Sekunder : Intervensi pemakaian atau permintaan zat
i. Detoksifikasi
ii. Program pemulihan dan penyembuhan,
iii. Program pasca rawat, menjaga kemantapan hidup bersih dari narkoba dll.

34
3. Harm Reduction
Tujuannya adalah untuk mengurangi bahaya atau dampak buruk yang ditimbulkan
penggunaan zat
Hal ini mencakup di antaranya:
a. program pendidikan mengenai bahaya dan dampak buruk pemakaian zat,
b. Pencegahan overdosis, infeksi, dll.
c. Pengadaan peralatan yang dibutuhkan untuk mengurangi dampak buruk, termasuk
terapi substitusi seperti methadone, jarum suntik bersih, pemutih, dll.
d. Program konseling, penjangkauan masyarakat, dll.

35
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
NAPZA adalah zat yang memengaruhi struktur atau fungsi beberapa bagian tubuh
orang yang mengonsumsinya. Manfaat maupun risiko penggunaan NAPZA bergantung pada
seberapa banyak, seberapa sering, cara menggunakannya, dan bersamaan dengan obat atau
NAPZA lain yang dikonsumsi (Kemenkes RI, 2010). Sedangkan Psikotropika menurut
Undang-undang Republik Indonesia No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika adalah obat baik
alamiah maupun buatan, bukan narkotika yang bersifat atau berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf yang menyebabkan perubahan pada aktivitas mental dan
perilaku.
Penyalahgunaan NAPZA di dunia terus mengalami kenaikan dimana hampir 12%
(15,5 juta jiwa sampai dengan 36,6 juta jiwa) dari pengguna adalah pecandu berat. Sedangkan
kasus penyalahgunaan NAPZA di Indonesia dari tahun ke tahun juga terus mengalami
kenaikan dimana pada tahun 2008 ada sebanyak 3.3 juta (3.362.527) dengan pravalensi 1,99%
menjadi pada tahun 2011 menjadi 4 juta (4.071.016) dengan pravalensi 2,32%. Pola masalah
penyalahgunaan Psikotropika di Indonesia berdasarkan konsep epidemiologi yaitu Tempat,
Waktu dan Orang. Berdasarkan efek yang ditimbulkan dari penyalahgunaan Psikotropika
dibedakan menjadi 3, yaitu : Depresan, Stimulan dan Halusinogen. Faktor Risiko
Penyalahgunaan NAPZA Menurut Soetjiningsih (2004), faktor risiko yang menyebabkan
penyalahgunaan NAPZA antara lain faktor genetik, lingkungan keluarga, pergaulan (teman
sebaya), dan karakteristik individu. Menurut BNN dan POLRI 2013 kelompok yang berisiko
tinggi adalah kelompok umur yang berusia >29 tahun. Pada kategori umur tersebut juga
memperbesar risiko terjadinya penyakit jantung karena juga rentan dengan dipengaruhi oleh
gaya hidup yang tidak sehat (pola makan, pola konsumsi dan sebagainya). Pencegahan
penyalahgunaan NAPZA, meliputi : Pencegahan primer, pencegahan sekunder, pencegahan
tersier dan terapi atau rehabilitasi

36
DAFTAR PUSTAKA
Academic rigour, journalistic flair.2010. Indonesia uses faulty stats on ‘drug crisis’ to
justify death penalty (Online) tersedia di
http://theconversation.com/indonesia-uses-faulty-stats-on-drug-crisis-to justify
death-penalty-36512 diakses pada 3 Mei 2017 pukul 20.34
British heart foundation. 2012. The effects of drugs on your heart (online) Tersedia di
https://www.bhf.org.uk/heart-health/children-and-young-people/heart conditions
in-young-people/the-effects-of-drugs-on-your-heart diakses pada 3 Mei 2017
pukul 20.38
Encyclopedia of mental disorders.2013. Amphetamines and related disorders (online)
tersedia di http://www.minddisorders.com/A-Br/Amphetamines-and-related
disorders.html diakses pada 3 Mei 2017 pukul 20.38
Kemenkes Republik Indonesia. 2014. Gambaran umum Penyalahgunaan Narkoba di
Indonesia. Pusat Data dan Informasi. Jakarta
Nasution, Habibah Hanum et. Al. 2000. Penyalahgunaan Napza. FK-USU/ RSUP H.
Adam Malik Medan : Universitas Sumatera Utara
Sholihah, Qomariyatus. 2013. Efektivitas Program P4gn Terhadap Pencegahan
Penyalahgunaan Napza. Jurnal Kesehatan Masyarakat : Universitas Lambung
Mangkurat

UNODC Research. 2015. World drug report. United Nations Office On Drugs And
Crime Vienna : New York

Utomo, Pranjoto. 2007. Penyuluhan Bahaya Narkoba bagi Siswa SMP dan SMA. SMP
Budi Mulia Sendangrejo : Sleman

WHO. (2011).Global status report non-communicable diseases 2010 Geneva World


Health Organization (online) Tersedia di
file:///C:/Users/ACER/Downloads/buletin-ptm.pdf Buletin Jendela Data Dan
Informasi Kementerian Kesehatan RI tentang Kesehatan PTM diakses pada
Rabu 03 Mei 2017.

37