Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

PELESTARIAN PLASMA NUTFAH

OLEH

NESA NOVITA SARI


1410211059

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati
yang tinggi. Menyadari potensi keanekaragaman hayati yang sangat strategis tersebut,
pemerintah Indonesia berupaya mengembangkan berbagai kebijakan dan peraturan
menyangkut pemanfaatan, perlindungan dan pelestariannya. Pemanfaatan
keanekaragaman hayati telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan,
sandang, dan obat-obatan. Kita sepakat bahwa kecukupan pangan misalnya, akan
tergantung pada tersedianya varietas unggul yang berproduksi tinggi dan tahan
cekaman biotik dan abiotik. Pada dasarnya varietas unggul itu adalah kumpulan dari
keanekaragaman genetik spesifik yang diinginkan dan dapat diekspresikan.
Keanekaragaman genetik spesifik tersebut ada pada plasma nutfah komoditi yang
bersangkutan. Jadi plasma nutfah adalah keanekaragaman genetik di dalam jenis
(Sartono, B. et al. 2003)
Plasma nutfah dapat diartikan sebagai sumber genetik dalam satu spesies
tanaman yang memiliki keragaman genetis yang luas. Koleksi plasma nutfah adalah
kumpuIan varietas, populasi strain, galur, klon, dan mutan dari spesies yang sama,
yang berasal dari lokasi agroklimat atau asal-usul yang berlainan. Masing-masing
anggota koleksi plasma nutfah harus memiliki perbedaan susunan genetik, baik yang
terlihat secara fenotipik maupun yang tidak terlihat. Koleksi plasma nutfah sebagai
kompulan genotipe atau popuIasi yang mewakili kultivar, genetic stocks, spesies liar,
dan lain-lain yang dapat disimpan dalam bentuk tanaman, benih, dan kultur jaringan
(Sartono, B. et al. 2003).
Sebagai sumber genetik, plasma nutfah merupakan sumber sifat yang dapat
dimanfaatkan dan dikembangkan untuk perbaikan genetik tanaman dalam rangka
menciptakan jenis unggul atau kultivar baru untuk memenuhi kebutuhan umat
manusia. Tanpa adanya sumber-sumber gen, maka upaya memperoleh kultivar-
kultivar yang lebih sesuai untuk kebutuhan manusia tidak akan berhasil. Semakin
beragam sumber genetik, semakin besar peluang untuk merakit varietas unggul baru
yang diinginkan. Hal ini berarti keragaman genetik diharapkan tidak terbatas, tetapi
kenyataannya banyak sumber genetik yang punah karena tidak dipelihara (Suhartini,
Tintin, 2010)
Plasma nutfah harus dikonservasi karena plasma nutfah sering mengalami
erosi genetik yang mengakibatkan jumlah plasma nutfah semakin menurun. Salah
satu yang perlu yang perlu diper hatikan dalam pelestarian plasma nutfah adalah
penyimpanan. Metode konservasi sumber daya genetik secara luas terbagi menjadi
dua yaitu secar in situ dan ex situ. Konservasi in situ yaitu konservasi didalam
kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Khususnya untuk tumbuhan
meskipun berlaku untuk populasi yang diabiakkan secara alami, konservasi in situ
mungkin termasuk regenerasi buatan apabila penanaman dilakukan tanpa seleksi yang
disengaja dan pada area yang sama bila benih atau materi reproduksi lainnya
dikumpulkan secara acak (Hanarida, I.S,2005)

B. Tujuan
Untuk mengetahui keanekaragaman dari plasma nutfah, macam-macam
plasma nutfah, dan usaha pelestariannya
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Eksplorasi dan Karakterisasi Plasma Nutfah


Masa organisme (flora dan fauna) yang masih membawa sifat sifat genetik
asli. Plasma Nutfah merupakan substansi yang mengatur perilaku kehidupan secara
turun termurun, sehingga populasinya mempunyai sifat yang membedakan dari
populasi yang lainnya. Perbedaan yang terjadi itu dapat dinyatakan, misalnya dalam
ketahanan terhadap penyakit, bentuk fisik, daya adaptasi terhadap lingkungannya dan
sebagainya. Sedangkan menurut Pengertian atau Definsi yang terdapat pada Kamus
Pertanian adalah substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam
setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit
agar tercipta suatu jenis unggul atau kultivar baru (Fajardo, D., F,1998).
Dari Pengertian dan Definisi tersebut dapat dilihat bahwa negara Indonesia
memiliki plasma nutfah yang sangat besar, keanekaragaman jenis yang besar.
Luasnya daerah wilayah penyebaran spesies, menyebabkan spesies-spesies tersebut
menjadikan keanekaragaman plasma nutfah cukup tinggi. Masing-masing lokasi
dengan spesies-spesies yang khas karena terbentuk dari lingkungan yang spesifik.
Eksistensi beberapa plasma nutfah menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah
punah akibat pemanfaatan sumber daya hayati dan penggunaan lahan sebagai
habitatnya. Semua ini disebabkan oleh perbuatan manusia. Kebijakan pembangunan
yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan pun turut berperan dalam proses
kepunahan plasma nutfah tersebut. Dengan semakin banyaknya permasalahan
konservasi plasma nutfah terutama di daerah-daerah rawan erosi plasma nutfah perlu
penanganan permasalahan tersebut tidak mungkin hanya ditangani Komisi Nasional
Plasma Nutfah. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah perangkat hukum
tentang pengamanan hayati. Para pakar sangat mendukung upaya penyusunan
peraturan hukum tentang pengamanan hayati, sesuai komitmen Protokol Cartagena
2000. Namun rancangan undang-undang (RUU) tersebut hendaknya diintegrasikan
dan selaras dengan UU tentang pelestarian plasma nutfah (Fauza, H., Sutoyo, dan N.
E. Putri. 2014).
Plasma nutfah adalah sumber daya alam keempat di samping sumber daya air,
tanah, dan udara yang sangat penting untuk dilestarikan. Pelestarian plasma nutfah
sebagai sumber genetik akan menentukan keberhasilan program pembangunan
pangan. Kecukupan pangan yang diidamkan akan tergantung kepada keragaman
plasma nutfah yang dimiliki karena pada kenyataannya varietas unggul, yang sudah,
sedang, dan akan dirakit merupakan kumpulan dari keragaman genetik spesifik yang
terekspresikan pada sifat-sifat unggul yang diinginkan (Bhuyan N, N. Sarma. 2007).
Tanaman sijontiak
Tumbuhan sijontiak (Baccaurea polyneura) adalah pohon penghasil buah
yang dapat dimakan. Sekilas buah sijontiak mirip dengan buah duku namun tajuk
pohonnya berbeda. Rasa buahnya biasanya masam (kecut) meskipun ada pula yang
manis.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Malpighiales
Famili : Phyllanthaceae
Bangsa : Antidesmeae
Upabangsa : Scepinae
Genus : Baccaurea Lour.
Spesies : Baccaurea polyneura
Cahyarini RD, Yunus A, Purwanto E. ( 2004)
Buah sijontiak berdiameter 1,5-2,4 cm, berwarna hijau kekuningan atau
kemerahan. Kulit buah berwana hijau dan kekuningan saat masak. Tanaman ini
memiliki satu forma buah yakni, berdaging buah warna merah. Sijontiak ini memiliki
buah yang berasa asam dan manis.

SYARAT TUMBUH
Habitat yang disukai adalah tanah aluvial dan kering hingga pada tanah berpasir dan
tanah liat. Pohon Baccaurea polyneura merupakan tanaman buah musiman. Musim
bunganya berlangsung pada bulan Oktober hingga Desember, sedangkan musim
buahnya terjadi antara bulan Januari hingga Maret. Pohon ini tumbuh di daerah
dataran rendah hingga ketinggian 1000 meter dpl (Sisillia, L., 2009 )

MANFAAT TANAMAN
Pohon Sijontiak dimanfaatkan buahnya untuk dimakan langsung sebagai buah
segar. Buahnya mempunyai rasa asam-asam manis. Selain dimakan langsung buah
Kepundung juga dapat diolah menjadi sirup, asinan, atau difermentasi menjadi
minuman.
Kayu pohon Sijontiak memiliki kualitas yang baik dan dapat digunakan untuk
bangunan rumah, perahu, dan mebel. Selain itu, tanaman sijontiak satu spesies
dengan tanaman kepundung ini mempunyai khasiat sebagai tanaman obat. Salah
satunya adalah sebagai obat mencret dan untuk pelancar haid.

B. Koleksi Secara In Vivo


Invivo dan invitro adalah kata-kata Latin. Perbedaan utama antara invivo dan
invitro adalah, invivo berarti 'dalam sel'. Di invitro sisi lain berarti 'dalam kaca'.
Invivo adalah eksperimen atau pengamatan yang tersirat pada jaringan seluruh
organisme hidup dalam lingkungan yang terkendali.
Invitro adalah eksperimen yang tersirat pada jaringan luar organisme hidup,
menggunakan piring petri dan tabung reaksi.
Invivo: Invivo percobaan dilakukan pada organisme itu sendiri atau di lingkungan
suatu organisme. Pengamatan invivo dilakukan pada organisme hidup semata-mata
dan bukan pada organisme mati atau bahkan sebagian mati.
Misalnya, untuk invivo eksperimen, kita dapat menggunakan model
organisme seperti kelinci, kera dan kita dapat langsung menyuntikkan obat ke
organisme ini. Invivo eksperimen menjadi sangat terkenal dengan penggunaan
organisme mikro sebagai model.
Herbarium mempunyai dua pengertian, pertama diartikan sebagai tempat
penyimpanan spesimen tumbuhan, baik yang kering maupun basah. Selain tempat
penyimpanan juga digunakan untuk studi mengenai tumbuhan terutama untuk
tatanama dan klasifikasi. Herbarium sangat erat kaitannya dengan kebun botani,
institusi riset, ataupun pendidikan.
Pembuatan herbarium merupakan suatu aktifitas pengawetan tanaman untuk
keperluan penelitian lebih lanjut. Fungsi dari herbarium adalah membantu
identifikasii tumbuhan lainnya yang sekiranya memiliki persamaan ciri-ciri
morfologinya. Dengan kata lain, herbarium merupakan tumbuhan yang diawetkan
yang nantinya dapat dijadikan perbandingan dengan tumbuhan yang akan
diidentifikasi.
Herbarium merupakan tempat penyimpanan contoh tumbuhan yang telah
diawetkan, baik kering maupun basah, dan disebut material herbarium. Material
herbarium yang baik selalu disertai identitas pengumpul (nama pengumpul atau
kolektor dan nomor koleksi) serta dilengkapi keterangan lokasi asal material dan
keterangan tumbuhan tersebut dilapangan. Para pakar botani, kehutanan dan pertanian
yang hampir setiap waktu berurusan dengan tumbuhan biasanya mengumpulkan
tumbuhan yang suatu saat dianggap akan bermanfaat bagi ilmu pengetahuan.
Tumbuhan yang dikumpulkan berbeda menurut tujuan pengumpulnya. Pakar botani
yang menekuni bidang taksonomi, misalnya, megumpulkan tumbuhan secara lengkap
(daun, bunga dan buah), sedangkan yang menekuni bidang ekologi hanya
mengumpulkan contoh tumbuhan sebagai spesimen bukti (voucher specimen)
(Djarwaingsih dkk, 2002).
Herbarium memiliki dua jenis yang cukup dikenal yaitu herbarium basah dan
herbarium kering. Herbarium basah merupakan awetan dari suatu hasil eksplorasi
yang sudah diidentifikasi dan ditanam bukan lagi di habitat aslinya. Sedangkan
herbarium kering adalah awetan yang dibuat dengan cara pengeeringan, namun tetap
terlihat ciri-ciri morfologinya sehingga masih bisa diamati dan dijadikan
perbandingan pada saat determinasi selanjutnya.
Cara mengeringkan
 Tumbuhan di atur diatas kertas kasar dan kering,yang tidak mengkilat ,misalkan
kerta koran
 Letakkan di antara beberapa halamtanaman an yang dobel dan disertakan dalam
setiap jenis catatan yang dibuat untuk tanaman tersebut.
 Juga biasanya digunakan etiket gantung yang diikatkan pada bahan tumbuh-
tumbuhan ,yang berhubungan dengan buku catatan lapangan.
 Tumbuh-tumbuhan yang berdaging tebal ,dirndam bebrapa detik dalam air yang
mendidih .lalau ditekan secar perlahan-lahan.
 Gantilah untuk beberapa hari kertas penggering tersebut.
 Ditempat yang kelembabannya sanagt tinggi,dapat dijemur di bawah sinar
maathari atau di dekatkan di dkat api(diutamakan arang)
 Tanaman dikatakan kering kalau dirasakan tidak dingin lagi dan juga terasa
kaku .Diusahakan bahwa seluruh sample terus-menerus dalam keadaan kering.
 Makin cepat tanaman mengering,maka makin baik wrna itu didapat.

Pembuatan herbarium /penyelesain


 Tempel herbarium pada kertas
 Tempelkan nama pada kertas
 Tuliskan diatas kertas herbarium data mengenai tanggal,tempat ditemukan
,temoat mereka tumbuh,nama penemu,catatan khusus,nama familia dan nama
spesies.
 Untuk memotong helain daun (biasanya tumbuhannnya berdaun pita yang
panjang seperti ilalang mulailah sekitar 10 cm dari pangkal helaian dan smabung
dengan pemotongan 10 cm dari ujung helai
 Untuk tangkai bunga yang panjang misalnya ilalang cukup potong pada
pangkal tangkai bunag dan pada pangkal bulir potong pada 7 cm ke bawah lalu
tempelkan.

C. Analisis Gerombol (Cluster analisis) Spesies


Clustering analysis merupakan metode pengelompokkan setiap objek kedalam
satu atau lebih dari satu kelompok,sehingga tiap objek yang berada dalam satu
kelompok akan memiliki nilai interaksi yang sama. Clustering analysis bertujuan
untuk membentuk kelompok dengan karakteristik yang sama. Pada algoritma
clustering, data akan dikelompokkan menjadi cluster-cluster berdasarkan kemiripan
satu data dengan data yang lain. Data yang dikelompokkan dalam satu cluster
memiliki kemiripan yang tinggi, sedangkan antara data pada satu cluster dengan data
pada cluster lainnya memiliki kemiripan yang rendah. Prinsip dari clustering adalah
memaksimalkan kesamaan antar anggota satu kelas dan meminimumkan kesamaan
antar kelas/ cluster. Banyak algoritma clustering memerlukan fungsi jarak untuk
mengukur kemiripan antar data. Diperlukan juga metode untuk normalisasi
bermacam-macam atribut yang dimiliki data. Fungsi jarak tersebut akan digunakan
dalam proses pengerjaan program tugas akhir kali ini. Kategori algoritma clustering
yang banyak dikenal salah satunya adalah hierarchical clustering.
.
D. Koleksi Secara In Vitro
Teknik konservasi in vitro merupakan salah satu aplikasi teknik kultur
jaringan atau in vitro untuk menyimpan bahan tumbuhan dari spesies yang telah
langka atau dikhawatirkan dapat punah. Teknik ini relevan diterapkan untuk
tumbuhan yang membentuk benih rekalsitran (benih yang kadar airnya tinggi
sehingga tidak dapat disimpan pada temperatur dan kelembaban rendah); semi-
rekalsitran (benih dengan kadar air sedang sehingga tahan kelembaban rendah tetapi
tidak mampu disimpan pada temperatur rendah), dan tumbuhan yang diperbanyak
secara vegetatif ( Ashmore, 1997; Rajashekaran, 2008)
Tahap-tahap pelaksanaan konservasi in vitro meliputi 1) pemilihan eksplan atau
bahan tanaman yang akan disimpan, 2) penyimpanan eksplan dalam medium
konservasi dalam jangka waktu yang diinginkan: jangka pendek (kurang dari 1
tahun), menengah (1–4 tahun) atau jangka panjang (lebih dari 4 tahun), serta 3)
recovery dalam rangka pengujian stabilitas genetik dan viabilitas eksplan setelah
disimpan dalam medium konservasi selama periode waktu tertentu (Fay,
1992;Engelmann, 2011).
Teknik konservasi untuk penyimpanan jangka pendek disebut pula teknik
pertumbuhan optimal. Dalam teknik ini bahan tanaman disimpan dalam medium dan
kondisi fisik optimal sehingga eksplan tumbuh dengan kecepatan optimal pula.
Teknik konservasi jangka menengah disebut teknik pertumbuhan minimal, bahan
tanaman disimpan dalam medium dan kondisi fisik di luar rentang optimal,
sedangkan konservasi jangka panjang menggunakan teknik pembekuan atau tanpa
pertumbuhan, bahan tanaman disimpan pada kondisi beku dalam nitrogen cair dengan
temperatur dibawah titik beku (Engelmann & Engels, 2002; Dubeet al., 2011,
Engelmann, 2011). Di antara ketiga macam teknik tersebut yang paling banyak
dilakukan di Indonesia adalah teknik pertumbuhan minimal karena efisien, resiko
kontaminasi dan mutasi lebih rendah, dan sumber daya yang tersedia di Indonesia
memadai. Teknik pertumbuhan optimal jarang dilakukan karena tidak efisien dari
segi biaya, waktu, dan tenaga serta mempunyai resiko besar terjadi kontaminasi dan
mutasi eksplan. Sebaliknya teknik pembekuan atau di sebut kriopreservasi
memerlukan teknologi dan ketrampilan tinggi yang di Indonesia belum banyak
lembaga yang mempunyai alat dan keahlian yang memadai untuk melakukan teknik
tersebut.
Prinsip teknik pertumbuhan minimal adalah memberi kondisi agar eksplan
(bahan tumbuhan yang disimpan) melakukan metabolism dan pertumbuhan dalam
kecepatan rendah dengan mengatur komposisi medium dan lingkungan fisik kultur,
yaitu menurunkan kadar nutrisi, menambahkan zat osmoregulator, menambahkan zat
penghambat, dan menyimpan kultur dalam temperatur, intensitas cahaya, serta lama
penyinaran di bawah titik optimal. Karena metabolisme eksplan lambat maka tidak
perlu terlalu sering dilakukan sub-kultur yang bermuara pada pemborosan bahan,
waktu, dan tenaga (Engelmann, 2011).
Untuk melakukan konservasi tumbuhan secara in vitro diperlukan suatu
protokol atau prosedur yang bersifat spesifik untuk setiap spesies, sebuah
laboratorium kultur jaringan tumbuhan dengan seperangkat alat dan bahan yang
memadai, serta tenaga yang mempunyai keahlian dalam teknik kultur jaringan
tumbuhan. Protokol konservasi in vitro meliputi teknik pemilihan eksplan yang
kompeten, penentuan komposisi medium, dan pengaturan kondisi fisik yang dapat
mendukung teknik konservasi yang dipilih, serta teknik recovery eksplan setelah
disimpan dalam medium konservasi selama periode waktu tertentu (Paunesca, 2009).
Penentuan lokasi laboratorium kultur jaringan harus memperhatikan beberapa
hal karena teknik kultur jaringan harus dilakukan secara aseptik dengan faktor-faktor
lingkungan yang terkendali. Laboratorium hendaknya tidak terletak di tempat
berdebu, berangin kencang, atau dekat tempat pembuangan sampah. Lokasi yang
ideal adalah area yang lingkungannya bersih, bebas polusi, ketersediaan air bersih
memadai dan ketersediaan arus listrik yang terus menerus.
Tanaman Mentimun

Klasifikasi tanaman mentimun (Cucumis sativus L.) (Cahyono, 2003)


dalam tata nama tumbuhan, diklasifikasikan kedalam :
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Cucurbitales
Famili : Cucurbitaceae
Genus : Cucumis
Spesies : Cucumis sativus L.
Tanaman mentimun berakar tunggang, akar tunggangnya akan tumbbuh lurus
kedalam tanah sampai kedalaman 20 cm. Perakaran tanaman mentimun dapat tumbuh
dan berkembang pada tanah yang berstruktur remah (Cahyono, 2003).
Mentimun merupakan tanaman semusim (annual) yang bersifat menjalar atau
memanjat dengan perantaraan pemegang yang berbentuk pilin spiral. Batangnya
basah serta berbuku-buku. Panjang atau tinggi tanaman dapat mencapai 50-250 cm,
bercabang dan bersulur yang tumbuh pada sisi tangkai daun.
Daun tanaman mentimun berbentuk bulat dengan ujung daun runcing
berganda dan bergerigi, berbulu sangat halus, memiliki tulang daun menyirip dan
bercabnng-cabang, kedudukan daun tegap. Mentimun berdaun tunggal, bentuk,
ukuran dan kedalaman lekuk daun mentimun sangat bervariasi (Cahyono, 2003).
Bunga mentimun merupakan bunga sempurna, berbentuk terompet dan
berukuran 2-3 cm, terdiri dari tangkai bunga dan benangsari. Kelopak bunga
berjumlah 5 buah, berwarna hijau dan berbentuk ramping terletak dibagian bawah
tangkai bunga. Mahkota bunga terdiri dari 5-6 buah, berwarna kuning terang dan
berbentuk bulat (Cahyono, 2003).
Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, dan
hijau keputihan sampai putih tergantung kultivar, sementara buah mentimun tua
berwarna coklat, coklat tua bersisik, kuning tua. Diameter buah mentimun antara 12-
25 cm (Sumpena 2001).
Biji timun berwarna putih, berbentuk bulat lonjong (oval) dan pipih. Biji
mentimun diselaputi oleh lendir dan saling melekat pada ruang-ruang tempat biji
tersusun dan jumlahnya sangat banyak. Biji-biji ini dapat digunakan untuk
perbanyakan dan pembiakan (Cahyono, 2003).
Syarat Tumbuh Tanaman Menimun yaitu :
1. Iklim

Di Indonesia mentimun dapat di tanam di dataran rendah dan dataran tinggi


yaitu sampai ketinggian ± 100 m di atas permukaan laut (Sumpena 2001). Tanaman
mentimun tumbuh dan berproduksi tinggi pada suhu udara berkisar antara 20-320 C,
dengan suhu optimal 270 C. Di daerah tropik seperti di Indinesia keadaan suhu udara
ditentukan oleh ketinggian suatu tempat dari permukaan laut. Cahaya juga merupakan
faktor penting dalam pertumbuhan tanaman mentimun, karena penyerapan uunsur
hara akan berlangsung optimal jika pencahayaan berlangsung antara 8-12 jam/hari
(Cahyono, 2003).
Kelembaban relatif udara (rh) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun
untuk pertumbuhannya antara 50-85%, sedangkan curah hujan optimal yang
diinginkan 200-400 mm/bulan (Sumpena 2001).
2. Tanah

Pada umumnya hampir semua jenis tanah yang digunakan untuk lahan
pertanian cocok untuk ditanami mentimun. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi
dan kualitas yang baik, tanaman mentimun membutuhkan tanah yang subur dan
gembur, kaya akan bahan organik, tidak tegenang, pH-nya 5-6. Namun masih toleran
terhadap pH 5,5 batasan minimal dan pH 7,5 batasan maksimal. Pada pH tanah
kurang dari 5,5 akan terjadi gangguan penyerapan hara oleh akar tanaman sehingga
pertumbuhan tanaman terganggu, sedangkan pada tanah yang terlalu basa tanaman
akan terserang penyakit klorosis (Rukmana, 1994).
3. Mulsa

Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk


menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga
membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik (Anonium, 2014). Jenis mulsa yang
sering digunakan oleh petani, yaitu jerami, serasah tumbuhan, dan mulsa plastik
perak hitam (MPPH). Penggunaan mulsa bertujuan untuk menekan pertumbuhan
gulma, mengurangi penguapan, mencegah erosi tanah; mempertahankan struktur,
suhu, dan kelembapan tanah; menghemat tenaga kerja penyiangan; merangsang
pertumbuhan akar; dan mengurangi kerusakan akar akibat penyiangan dengan alat
kored. Selain itu, penggunaan mulsa, terutama mulsa perak hitam, dapat menekan
insiden virus trip maupun hama lainnya karena plastik perak dapat memantulkan
cahaya.
4. Pupuk Organik

Pupuk organik (pupuk kandang) merupakan pembenah tanah yang paling baik
dibandingkan pembenah tanah yang lainnya. Kandungan unsur hara yang dikandung
pupuk kandang umumya rendah dan sangat bervariasi, misalnya unsure N, P dan K
tetapi juga mengandung unsure esensial lainnya (Sutanto, 2002).
Pupuk organik merupakan hasil penguraian bahan organik oleh jasad renik
atau mikroorganisme yang berupa zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman.
Pupuk organik seperti namanya pupuk yang dibuat dari bahan-bahan organik atau
alami. Bahan-bahan yang termasuk pupuk organik antara lain adalah pupuk kandang,
kompos, kascing, gambut, rumput laut dan guano. Berdasarkan bentuknya pupuk
organik dapat dikelompokkan menjadi pupuk organik padat dan pupuk organik cair.
Pemberian pupuk kandang sapi memberikan rata-rata kadar C-organik tanah
yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan jenis pupuk organik yang lainnya. Hal ini
disebabkan karena pupuk kandang sapi merupakan pupuk dingin yang artinya
perombakan oleh mikroorganisme tanah terjadi secara perlahan-lahan, kurang
terbentuk panas sehingga hara yang terlepaskan secara berangsur-angsur.
5. Pupuk Anorganik

Pupuk anorganik adalah pupuk yang terbuat dengan proses fisika, kimia, atau
biologis. pada umumnya pupuk anorganik dibuat oleh pabrik. Bahan bahan dalam
pembuatan pupuk anorgank berbeda beda, tergantung kandungan yang diinginkan.
Misalnya unsur hara fosfor terbuat dari batu fosfor, unsure hara nitrogen terbuat dari
urea. Pupuk anorganik sebagian besar bersifat hidroskopis. Hidroskopis adalah
kemampuan menyerap air diudara, sehingga semakin tinggi higroskopis semakin
cepat pupuk mencair.
Ada beberapa keuntungan dari pupuk anorganik, yaitu (1) Pemberiannya
dapat terukur dengan tepat, (2) Kebutuhan tanaman akan hara dpat dipenuhi dengan
perbandingan yang tepat, (3) Pupuk anorganik tersedia dalam jumlah cukup, dan (4)
Pupuk anorganik mudah diangkut karena jumlahnya relatif sedikit dibandingkan
dengan pupuk organik. Pupuk anorganik mempunyai kelemahan, yaitu selain hanya
mempunyai unsur makro, pupuk anorganik ini sangat sedikit ataupun hampir tidak
mengandung unsur hara mikro (Hanarida, I.S.2005).
Tanaman mentimun (Cucumis sativa L) termasuk dalam tanaman merambat
yang merupakan salah satu jenis tanaman sayuran dari keluarga Cucurbitaceae.
Pembudidayaan mentimun meluas ke seluruh dunia, baik di daerah beriklim panas
(tropis) maupun sedang (sub-tropis). Di Indonesia tanaman mentimun banyak
ditanam di dataran rendah (Suketi, K.,2000).
Budidaya mentimun, khususnya mentimun Jepang umumnya dilakukan
dengan sistem hidroponik media padat. Budidaya mentimun ini baru berkembang di
wilayah Jawa Barat pada daerah ketinggian di atas 800 mdpl. Konsentrasi hara pada
larutan hara untuk sistem hidroponik sangat kritis, terutama untuk unsur hara mikro.
Salah satu unsur hara mikro yang banyak mendapat perhatian dalam budidaya
mentimun sistem hidroponik adalah unsur boron (Suketi, K.,2000).
BAB III BAHAN DAN METODA

A. Waktu dan tempat


Praktikum pelestarian plasma nutfah dilaksanakan pada bulan September sampai
Agustus 2017 yang bertempat di Laboratorium Kultur Jaringan Budidaya
Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang.
B. Alat dan bahan
1. Eksplorasi dan karakterisasi plasma nutfah
Bahan yang digunakan sebagai sumber plasma nutfah sedangkan alat yang
dipakai yaitu jangka sorong,color chart,kuisioner,meteran,kantong
plastik,kamera digital,kertas label,pisau,gunting,sabit,GPS (global Positioning
System ),mister,tisu,dan alat tulis.
2. Koleksi secara in vivo
Benih atau klon tanaman ,media tanam dan label
3. Analisis gerombol (cluter analisis)spesies
Alat dan bahan yang di gunakan yaitu laptop atau komputer serta data exel yang
akan dipakai.
4. Koleksi secara in vitro
Bahan yang digunakan yaitu tanaman jengkol
C. Cara kerja
1. Eksplorasi dan karakterisasi plasma nutfah
 Ditentukan satu komoditas tanaman yang akan dilakukan rangkaian tahapaan
pelestarian plasma nutfah(dari daerah asal)
 Melakukan survey pendahuluan dengan mengumpulkan data yang memuat
tentang keberadaan populasi tanaman yang berada di daerah tersebut .Data
diperoleh dari pemilik tanaman ,penduduk dan tokoh masyarakat setempat serta
pencarian langsung dilapangan.
 Dilakukan eksplorasi untuk mengetahui keberadaan tanaman ,diperoleh dari
data hasil survei pendahuluan yang telah dilakukan .Data yang diperoleh
berguna untuk dilakukan karakterisasi dan penetapan sampel.Selanjutnya
pemberian kode sample atau kode nomor berdasarkan daerah penelitian
.Pelablean pada tiang tanaman dipasang setelah ditetapkan tanaman mana yang
akan dijadikan sampel.Masing-masing dicamtumkan nomor sampel,kode
sampel pada setiap kecamatan pada setiap tanaman sampel dan posisi
berdasarkan letak koordinatnya.
 Selnjutnya dilakukukan karakterisasi tanaman berdasarkan morfologi dengan
mengamati ,mengukur dan mendokumentasikan secara langsung yang
berhubungan dengan variabel pengamatan.Sampel diambil secara
acak,banyaknya sampel yang diambil tergantung keberadaan tanaman dilokasi
pengamatan.
2. Koleksi secara in vivo

Benih atau klon tanaman yang akan dikoleksi dipilih yang memiliki kondisi
optimum.Benih atau klon tanaman di tanam pada media tanam yang telah disediakan
dan dilakukan perawatan. Sterilisasi alat dilakukan dengan cara di autoklaf dengan
suhu 121oC, tekanan 15 psi selama 15 menit kemudian dikeringkan pada suhu 75oC
sebelum digunakan.
Media MS + 2 μM 2,4-D sebanyak 600 ml dibuat untuk setiap pembuatan
media, kemudian dibagi menjadi 100 ml untuk setiap perlakuan, caranya 350 ml
akuades steril dimasukkan kedalam erlenmeyer ukuran satu liter diikuti oleh satu per
stok larutan hara, 2,4-D, dan vitamin untuk perhitungan media MS 600 ml sambil
diaduk menggunakan magnetic stirrer. Masing – masing +- 50 ml media dibagi
kedalam 6 erlenmeyer ukuran 100 ml untuk setiap perlakuan. Kemudian ditambahkan
perlakuan zpt lalu dicukupkan volumenya menjadi +- 100 ml. pH media diatur
mencapai 5,8 lalu ditambahkan agar 0,4 gr/100 ml lalu dipanaskan sampai mendidih
kemudian dibagi kedalam botol kultur +- 10 ml, lalu ditutup menggunakan
aluminium foil selanjutnya disterilisasi. Kemudian tutup media dilapisi dengan plastic
kaca dan diikat menggunakan karet. Lalu diinkubasi di ruang kultur selama 1 minggu.
Anther mentimun diambil dari bunga yang masih kuncup. Kuncup bunga
diambil sekitar jam 9.00 – 10.00 pagi hari. Kuncup bunga disterilisasi di LAFC
dengan direndam alkohol 70% selama 2 menit dan 1,5 Natrium Hipoklorit selama
15 menit. Kemudian Kuncup bunga dibilas dengan akuades steril sebanyak tiga kali.
Penanaman eksplan dilakukan didalam LAFC dengan kondisi aseptik.
Anther diambil menggunakan pinset dari kuncup bunga mentimun yang telah
disterilisasi dan ditanam ke dalam botol. Lapisan atas aluminium foil dibalut dengan
lakban dan dibalut dengan plastic wrap kemudian kultur anther disimpan dalam
ruang inkubasi selama 4 minggu. Kemudian dilakukan pengamatan dan analisis
data.

3. Analisis gerombol (Cluster analisis)spesies


Analisis ini menggunakan program
4. Koleksi secara in vitro
o Tempel herbarium atau tanaman jengkol pada kertas
o Tempelkan nama,t serta klasifikasi tanaman jengkol pada kertas
o Tuliskan diatas kertas herbarium data mengenai tanggal,tempat
ditemukan ,tempat mereka tumbuh,nama penemu,catatan khusus,nama
familia dan nama spesies.
o Kemudian di press
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Eksplorasi dan karakterisasi


Aksesi
Parameter pengamatan 1 2 Keterangan
Tinggi tanaman 7m 5m Tinggi tanaman
aksesi 1 lebih
tinggi dibanding
akesi 2
Lebar daun Lebar Lebar Lebar daun pda
kkedua aksesi
sama
Jumlah cabang Lebih banyak Lebih sedikit Jumlah cabang
cabang aksesi 1 lebih
tinggi dibanding
akesi 2
Warna daun Hijau Hijau tua Dipengaruhi
oleh lingkungan
Jumlah ranting Lebih banyak Lebih sedikit Jumlah ranting
ranting aksesi 1 lebih
tinggi dibanding
akesi 2
Warna batang Coklat putih dan Coklat tua dan Warna batang
ada hitam2 nya agak kehijauan dipengaruhi oleh
kondisi
ligkungan

Berdasarkan hasil eksplorasi pada dua tempat ditemukan dua aksesi, pada
aksesi satu memiliki pohon yang lebih tinggi dari pada aksesi ke dua. Perbedaan
antara aksesi satu dan aksesi dua dapat dilihat pada tabel perbedaan, berbedaan pada
aksesi satu dan aksesi dua dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar dan faktor
usia paa kedua aksesi. Ketinggian tempat pada kedua aksesi juga mempengaruhi
perbedaan pada kedua aksesi.
Tanaman sijontiak sudah jarang ditemukan atau sudah dikategorikan sebagai
tanaman yang langka sebab dikatakan langka tanaman siontiak jarang dijadikan
sebagai tanaman budidaya karena pertumbuhan dari tanaman tanaman sijontiak yang
lama da tanaman sijotiak juga disebut dengan tanaman semusim.
Manfaat dari tanaman sijontiak ini bayak sekali mulai dari akar hingga ke
daun nya, apabila masyarakat setempat dapat membudidayakan tanaman sijontiak
maka tanaman sijontiak tidak dikategorikan sebagai tanaman yang langka.

B. Koleksi in vivo
Untuk koleksi in vivo dari tanaman sijontiak diambil daunnya untuk dijadikan
herbarium,
Gambar Keterangan

Tanaman sijontiak dijadikan herbarium

Herbarium adalah kumpulan


tumbuhan kering yang dipres dan
ditempelkan pada lembaran kertas,
biasanya kertas manila yang
menghasilkan suatu label dan data yang
rinci serta disimpan dalam rak-rak atau
lemari besi dalam urutan menurut
aturan dimana herbarium itu disimpan.
Herbarium sangat penting untuk
digunakan dalam pekerjaan taksonomi.
C. Analisis gerombol (cluster analisis)spesies
Clustering analysis merupakan metode pengelompokkan setiap objek kedalam
satu atau lebih dari satu kelompok,sehingga tiap objek yang berada dalam satu
kelompok akan memiliki nilai interaksi yang sama.
Dendogram mengambarkan hubungan kekerabatan dari tanaman yang
dieksplorasi. Karena data yang diperoleh hanya satu aksesi jadi dendogramnya tidak
bisa dianalisis. Karena dari survey yang ada dilokasi tersebut hanya ada satu pohon
induk dan yang lain dengan tinggi satu meter hanya anakan saja.

D. Koleksi invitro

Tanggal Dokumentasi Keterangan

11 November 2017 Pemindahan bahan


tanam yang telah
direndam dengan larutan
ke petri.

11 November 2017 Pengambilan anther dan


ditanam ke botol yang
telah berisi media
11 November 2017 Penanaman anther timun
ke Dalam botol yang
telah berisi media

11 November 2017 Bahan tanam yang sudah


siap diletakkan di ruang
inkubasi

18 November 2017 Pengamatan pertama 1


minggu setelah tanam,
belum terlihat perubahan,
masih sama seperti saat
penanaman.

18 November 2017 Pengamatan 2 minggu


setelah tanam, sudah
terlihat perubahan,jamur
tumbuh di sekitar objek
tanam
25 November 2017 Pengamatan minggu ke-3
botol sudah bnyak
ditumbuhi jamur, terdapat
jamur didalam media
tumbuh.
BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa pentingnya melakukan
eksplorasi plasma nutfah baik secara in situ dengan cagar alam maupun ex situ seperti
koleksi In Vitro dilaboratorium seperti Kultur Anther mentimun, secara in vivo
menggunakan herbarium kering maupun basah. Dari data yang kita peroleh dapat kita
lakukan analisis kekerabatannya sehingga mempermudah dalam aktivitas pemuliaan
untuk merakit varietas-varietas baru untuk meningkatkan kesejahteraan petani dalam
memenuhi kebutuhan masyarakat.

B. Saran
Diharapkan dari pratikum kali ini mahasiswa dapat memahami dan
mempraktekan kedepannya dan juga sebagai sumber informasi serta ilmu
pengetahuan bagi praktikan dan pembaca. Bagi praktikan selanjutnya diharapkan
lebih serius dan teliti lagi dalam melaksanakan praktikumnya sehingga hasil yang
diperoleh lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA

Bhuyan N, N. Basanta, K. Borah and R.N. Sarma. (2007). Genetic diversity analysis
in traditional lowland nice (oryza sativa L.) of Assam using RAPD and ISSR
markers Current Science. 93 (7):697-972.
Cahyarini RD, Yunus A, Purwanto E. ( 2004). Identifikasi Keragaman Genetik
Beberapa Varietas Lokal Kedelai di Jawa Berdasarkan Analisis Isozim.
Agrosains 6 (2):79-83.
Cahyono, 2003. Eksplorasi Plasma Nutfah Tanaman Pangan Bogor : Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik
Pertanian Bogor.
Diamanti, J., F. Capocasa et al. 2012. Standardized method For Evaluation of
Strawberi (Fragaria x ananassa duch). Germplams collections as a genetic
resource for fruit nutrisionalcompounds. Jurnal of food compositions and
analisis 28:170-178

Fauza, H., Sutoyo, dan N. E. Putri. 2014. Eksplorasi tanaman markisa di Alahan
Panjang. Laporan Penelitian dan Pembibitan Tanaman Hortikultura.LPPM
Unand. Padang.

Guriano, L, Rao, R.,Reid R. 1995. Collecting Plant genetic diversity, technical


guidelines. Wallingford: CAB International.

Hanarida, I.S., M. Hasanah, S. Adisoemarto, M. Thohari, A. Nurhadi & I.N. Orbani.


(2005). Seri Mengenal Plasma Nutfah Tanaman Pangan. Bogor: Komisi
Nasional Plasma Nutfah.
Rabbani MA, Pervaiz ZH and Masood MS. (2008). Genetic diversity analysis of
traditional and improved cultivars of Pakistan rice (Oryza sativa L.) using
RAPD markrs. Electronic Journal of Biotechnology. 11(3):1-8.
Rais, S.A. (2004). Eksplorasi Plasma Nutfah Tanaman Pangan Di Provinsi
Kalimantan Barat. Bogor : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian Bogor.
Sartono, B. et al. 2003. Modul Teori Analisis Peubah Ganda. Bogor: Departemen
Statistika FMIPA IPB.
Silitonga TS. (2008). Konservasi Dan Pengembangan Sumberdaya Genetik Padi
Untuk Kesejahteraan Petani. Makalah disampaikan pada Pekan Budaya Padi
di Subang Jawa Barat.
Sisillia, L., 2009. Genetic variation analysis of the genus Passiflora L. using RAPD
markers. Euphytica 101:341–347.

Suhartini, Tintin. ( 2010). Keragaman Karakter Morfologi Plasma Nutfah Spesies


padi Liar (Oryza Spp). Buletin Plasma Nutfah 1:17-28.
Suketi, K., B.P. Purwoko, D. Sopandi, I.H. Somantri, I.S. Dewi, dan Minantyorini.
2000. Karakterisasi dan konservasi in vitro plasma nutfah talas (Colocasia
esculenta (L.) Schott) serta seleksi adaptasi untuk mendukung pola
tumpangsari. Laporan Hasil Penelitian. Institut Pertanian Bogor dan Badan
Litbang Pertanian. Proyek PAATP/ARMP II. 61 hlm.