Anda di halaman 1dari 75

PRAKTIKUM KERJA MANDIRI (PKM)

PENETAPAN KADAR IODIUM DAN PROSES PEMANASAN


DALAM GARAM

DENGAN METODE IODOMETRI

OLEH:

DEWI ULFA LUTFIANA

NIM 15231025

PROGRAM STUDIDIPLOMA III


ANALIS KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

2017

PRAKTIKUM KERJA MANDIRI (PKM)

PENETAPAN KADAR IODIUM PADA GARAM

DENGAN METODE IODOMETRI

OLEH:

DEWI ULFA LUTFIANA

NIM 15231025
PROGRAM STUDIDIPLOMA III

ANALIS KIMIA

FAKULTAS MIPA

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah


melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
proposal praktik kerja mandiri yang berjudul “Pengaruh Waktu Penyimpanan dan
Pemanasan Terhadap Kadar Iodium dalam Garam Beriodium”. Proposal
praktikum kerja mandiri (PKM) merupakan salah satu syarat agar dapat
mengajukan praktikum keja mandiri (PKM) DIII Analis Kimia Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Ucapan terima kasih dan rasa hormat yang tiada terhingga penulis
persembahkan kepada Ibu tercinta Hj.Parwati dan Ayah tersayang H.M Ghozali.
Atas kasih sayang, do’a, moril maupun materil yang selalu tercurah untuk
penulis. Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Wahyu Adi Kurniawan
dan Paulus Ardianto Wahyu selaku kakak dan segenap keluarga yang senantiasa
telah banyak memberikan motivasi, dukungan dan inspirasi yang begitu luar
biasa sehingga praktik kerja mandiri ini dapat diselesaikan dengan baik.

Selanjutnya penulis menyadari sepenuhnya tanpa bantuan dari berbagai


pihak,praktikum kerja mandiri ini tidak akan terwujud. Oleh karena itu, pada
kesepatan ini penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang setulus-
tulusnya kepada:
1. Bapak Thorikul Huda, S.Si., M.Sc Selaku Ketua Prodi DII Analis
Kimia.
2. Ibu Reni Banowati M.Sc Selaku Dosen Pembimbing Praktikum
Kerja Mandiri.
3. Untuk teman-teman yang telah membantu selama proses
pembuatan proposal
Yogyakarta, 27 Maret
2017

Penyusun,

Dewi Ulfa Lutfiana


PENETAPAN KADAR IODIUM PADA GARAM

DENGAN METODE IODOMETRI

Abstrak

Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium(GAKI) merupakan masalahyang serius


mengingat dampaknya mempengaruhi kelangsungan hidup dan kualitassumberdaya
manusia. GAKI menghambat proses tumbuh kembang anak sehinggaakan membentuk
SDM yang tidak berkualitas, baik dari segi fisik, kecerdasan, sosial maupun ekonomi.
Untuk mengatasi masalah GAKI tersebut maka garam dapur dapat digunakan sebagai
sarana fortifikasi zat iodium menjadi garam konsumsi. Sehingga harus memenuhi
persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan kadar kalium iodat (KIO 3) 30-80
ppm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar air dan kadar iodium sebagai
kalium iodat (KIO3) dalam beberapa garam konsumsi beriodium bermerk.

Pengambilan sampel garam konsumsi beriodium bermerk dilakukan di pusat perbelanjaan


Berastagi Supermarket kota Medan. Sampel yang digunakan tersebut adalah garam merk
Aji, garam merk Dolphin, garam merk Ikan Paus. Uji yang dilakukan adalah uji
kuantitatif yaitu dengan penambahan pereaksi natrium tiosulfat, asam fosfat, dan
indikator amilum. Uji kuantitatif ini dilakukan dengan metode titrasi iodometri.
Percobaan dilakukan duplo.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar air dari garam Aji percobaan pertama
dan garam aji percobaan kedua sebesar 0,075%. Pada garam Dolphin percobaan pertama
dan garam Dolphin percobaan kedua dengan rata-rata sebesar 1,6068%. Pada garam Ikan
Paus percobaan pertama dan kedua diketahui kadar air rata-rata sebesar 8,25%. Hasil ini
menunjukkan bahwa garam Aji dan garam Dolphin memenuhi persyaratan sesuai Standar
Nasional Indonesia (SNI)01-3556-2010. Sedangkan garam Ikan Paus tidak memenuhi
persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI)01-3556-2010.Untuk hasil kadar iodium
sebagai KIO3pada garam Aji dengan hasil 35,6 mg/kg, pada garam Dolphin sebesar 35,6
mg/kg, dan garam Ikan Paussebesar 35,6 mg/kg. Parameter uji yang dilakukan memenuhi
persyaratan sesuai SNI 01-3556-2010 yang menunjukkan bahwa kadar iodium sebesar
>30-80 ppm.
Kata kunci: garam konsumsi beriodium, kalium iodat, penetapan kadar air, penetapan
kadar iodium sebagai kalium iodat ( KIO3), iodometri, SNI 01-03556-2010.DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL i

LEMBAR PENGESAHAN iii

KATA PENGANTAR iv

ABSTRAK vi

DAFTAR ISI vii

DAFTAR LAMPIRAN ix

DAFTAR TABEL x

DAFTAR GAMBAR xi

BAB I PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Tujuan 3

1.3 Manfaat 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4

2.1 Garam 4

2.1.1 Pengertian Garam 4

2.1.2 Sumber Garam 4

2.2 Garam Beriodium 5

2.2.1 Fortifikasi Iodium pada Garam 6

2.3 Kalium Iodat 7

2.4 Iodium 8

2.4.1 Sumber Iodium 12

2.4.2 Manfaat Iodium 13

2.5 Akibat Kekurangan dan Kelebihan Iodium 13

2.5.1 Akibat Kekurangan Iodium 13

2.5.2 Akibat Kelebihan Iodium 14

2.6 Titrasi yang Melibatkan Iodium 14

2.6.1 Perbedaan Iodimetri dan Iodometri 16


2.7 Iodometri 16

2.7.1 Larutan Standar Na2S2O3 16

2.7.2 Indikator Amilum (Kanji) 17

2.8 Penetapan Kadar KIO3 dalam Garam Konsumsi Beriodium 18

BAB III METODE PENGUJIAN 21

3.1 Tempat dan Waktu Pengujian 21

3.2 Alat 21

3.3 Bahan 21

3.4 Pembuatan Pereaksi 21

3.5 Prosedur Pengujian 22

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 24

4.1 Hasil 24

4.2 Pembahasan25

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 26


5.1 Kesimpulan 26

5.2 Saran 26

DAFTAR PUSTAKA 27

LAMPIRAN 29

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Penetapan Kadar Iodium sebagai KIO3 pada Garam 29

2. Pengujian Garam 32
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

2.1 Syarat Mutu Garam Konsumsi Beriodium 5

2.2 Daftar Baku Primer 19

4.1 Hasil Penetapan Kadar Iodium sebagai KIO3 pada Garam 24

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Garam Aji 32

2. Garam Dolpin 32

3. Garam Ikan Paus 33

4. Indikator Amilum 33

5. Erlenmeyer berisi hasil standarisasi Na2S2O3 0,005 N 34

6. Labu ukur berisi larutan baku KIO3 0,005 N 34

7. Erlenmeyer berisi Garam Aji hasil titrasi 35

8. Erlenmeyer berisi Garam Dolpin hasil titrasi 35


9. Erlenmeyer berisi Garam Ikan Paus 36
PENETAPAN KADAR IODIUM PADA GARAM

DENGAN METODE IODOMETRI

Abstrak

Masalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium(GAKI) merupakan masalahyang serius


mengingat dampaknya mempengaruhi kelangsungan hidup dan kualitassumberdaya
manusia. GAKI menghambat proses tumbuh kembang anak sehinggaakan membentuk
SDM yang tidak berkualitas, baik dari segi fisik, kecerdasan, sosial maupun ekonomi.
Untuk mengatasi masalah GAKI tersebut maka garam dapur dapat digunakan sebagai
sarana fortifikasi zat iodium menjadi garam konsumsi. Sehingga harus memenuhi
persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan kadar kalium iodat (KIO 3) 30-80
ppm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar air dan kadar iodium sebagai
kalium iodat (KIO3) dalam beberapa garam konsumsi beriodium bermerk.

Pengambilan sampel garam konsumsi beriodium bermerk dilakukan di pusat perbelanjaan


Berastagi Supermarket kota Medan. Sampel yang digunakan tersebut adalah garam merk
Aji, garam merk Dolphin, garam merk Ikan Paus. Uji yang dilakukan adalah uji
kuantitatif yaitu dengan penambahan pereaksi natrium tiosulfat, asam fosfat, dan
indikator amilum. Uji kuantitatif ini dilakukan dengan metode titrasi iodometri.
Percobaan dilakukan duplo.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar air dari garam Aji percobaan pertama
dan garam aji percobaan kedua sebesar 0,075%. Pada garam Dolphin percobaan pertama
dan garam Dolphin percobaan kedua dengan rata-rata sebesar 1,6068%. Pada garam Ikan
Paus percobaan pertama dan kedua diketahui kadar air rata-rata sebesar 8,25%. Hasil ini
menunjukkan bahwa garam Aji dan garam Dolphin memenuhi persyaratan sesuai Standar
Nasional Indonesia (SNI)01-3556-2010. Sedangkan garam Ikan Paus tidak memenuhi
persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI)01-3556-2010.Untuk hasil kadar iodium
sebagai KIO3pada garam Aji dengan hasil 35,6 mg/kg, pada garam Dolphin sebesar 35,6
mg/kg, dan garam Ikan Paussebesar 35,6 mg/kg. Parameter uji yang dilakukan memenuhi
persyaratan sesuai SNI 01-3556-2010 yang menunjukkan bahwa kadar iodium sebesar
>30-80 ppm.

Kata kunci: garam konsumsi beriodium, kalium iodat, penetapan kadar air, penetapan
kadar iodium sebagai kalium iodat ( KIO3), iodometri, SNI 01-03556-2010.
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) merupakan sekumpulangejala yang timbul


karena tubuh seseorang kekurangan unsur iodium secara terus menerus dalam jangka
waktu yang cukup lama. Masalah GAKI merupakan masalahyang serius mengingat
dampaknya mempengaruhi kelangsungan hidup dan kualitassumberdaya manusia. GAKI
menghambat proses tumbuh kembang anak sehinggaakan membentuk SDM yang tidak
berkualitas, baik dari segi fisik, kecerdasan, sosial maupun ekonomi (Mirandati, 2007).

Garam dipergunakan manusia sebagai salah satu metode pengawetan pangan yang
pertama dan masih dipergunakan secara luas untuk mengawetkan berbagai macam
makanan. Demikian pula, pengasaman pangan telah digunakan secara luas, sebelum
peranannya sebagai penghambat kerusakan dipahami. Pengasapan dan pengeringan telah
juga digunakan secara luas dalam kombinasinya dengan garam, terutama untuk produk-
produk daging dan ikan (Buckle, 1985).

Iodium merupakan mineral yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah relatif kecil, tetapi
mempunyai peranan yang sangat penting untuk pembentukan hormon tiroksin. Hormon
tiroksin ini sangat berperan dalam metabolisme di dalam tubuh. Kekurangan iodium dapat
berakibat buruk bagi manusia, akibat yang dapat ditimbulkan antara lain berkurangnya
tingkat kecerdasan, pertumbuhan terhambat, penyakit gondok, kretin endemik (cebol),
berkurangnya kemampuan mental dan psikologi, meningkatnya angka kematian prenatal,
serta keterlambatan perkembangan fisik anak (lambat dalam mengangkat kepala,
tengkurap dan berjalan) (Nadesul, 2000). Iodium yang berlebihan dapat menimbulkan
kejadian kelainan autoimun. Kelebihan iodium juga dapat meningkatkan kejadian iodine-
inducedhyperthyroidism (IIH), penyakit autoimun tiroid dan kanker tiroid (Gunung,
2004).

Menurut keputusan Presiden No. 69 tahun 1994, semua garam yang beredar di Indonesia
harus mengandung iodium yaitu garam yang telah diperkaya dengan kalium iodat (KIO 3).
Hampir seluruh makanan menggunakan garam sebagai penyedap rasa, serta banyak
digunakan untuk bahan tambahan dalam industri pangan, selain itu, karena harga garam
dapur relatif murah dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat maka pemerintah
memilih garam dapur menjadi garam konsumsi sebagai media penyampaian iodium ke
dalam tubuh (Purnawati, 2006).

Garam beriodium mempunyai bentuk, rasa dan bau sama seperti garam yang tidak
ditambahkan kalium iodat, sehingga sulit untuk memastikan kecukupan kalium iodat
dalam garam (Almatsier, 2003). Penambahan suatu senyawa iodium berupa kalium iodat
dalam garam dimaksudkan untuk mencukupi kebutuhan tubuh manusia, karena tubuh
tidak dapat memproduksi sendiri, sehingga harus diperoleh dari luar (Gunung, 2004).
Tujuan

Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk mengetahui kadar iodium sebagai
kalium iodat (KIO3) yang terdapat dalam beberapa garam konsumsi beriodium yang
bermerk dan kesesuaiannya terhadap persyaratan kadar air berdasarkan SNI 01-3556-
2010.

Manfaat

Manfaat dari penelitian ini antara lain:

Dapat mengetahui kadar iodium sebagai kalium iodat (KIO3) yang terdapat dalam
beberapa garam konsumsi beriodium yang bermerk dan kesesuaiannya terhadap
persyaratan kadar air berdasarkan SNI 01-3556-2010.

Dapat dijadikan sebagai pedoman dan informasi serta menambah ilmu pengetahuan
mengenai garam konsumsi beriodium terhadapa lingkungan sekitar, baik itu masyarakat
maupun pribadi sendiri.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Garam

Pengertian Garam

Secara fisik, garam adalah benda padatan berwarna putih berbentuk kristal yang
merupakan kumpulan senyawa dengan bagian terbesar Natrium Klorida (>80%) serta
senyawa lainnya seperti Magnesium Klorida, Magnesium Sulfat, Kalsium Klorida, dan
lain-lain. Garam mempunyai sifat atau karakteristik higroskopik yang berarti mudah
menyerap air, bulk density (tingkat kepadatan) sebesar 0,8 - 0,9 dan titik lebur pada
o
tingkat suhu 801 C (Burhanuddin, 2001).

Garam Natrium Klorida untuk keperluan masak dan biasanya diperkaya dengan unsur
iodin (dengan menambah 5 g NaI per kg NaCl) padatan kristal berwarna putih, berasa
asin, tidak higroskopis, bila mengandung MgCl2 menjadi berasa agak pahit dan
higroskopis. Digunakan terutama sebagai bumbu penting untuk makanan, bahan baku
pembuatan logam Na dan NaOH (bahan untuk pembuatan keramik, kaca, dan pupuk),
sebagai zat pengawet (Mulyono, 2009).

Sumber Garam

Sumber garam yang didapat di alam berasal dari:

Air laut, air danau asin

Yang bersumber air laut terdapat di Mexico, Brazilia, RRC, Australia, dan Indonesia yang
mencapai ± 40% . Adapun yang bersumber dari danau asin terdapat di Yordania (Laut
Mati), Amerika Serikat (Great Salt Lake), dan Australia yang mencapai produksi ± 20%
dari total produk dunia.

Deposit dalam tanah, tambang garam

Terdapat di Amerika Serikat, Belanda, RRC, Thailand, yang mencapai produksi ± 40%
total produk dunia.
Sumber air dalam tanah

Sangat kecil, karena sampai saat ini dinilai kurang ekonimis maka jarang (sama sekali
tidak) dijadikan pilihan usaha. Di Indonesia terdapat sumber air garam di wilayah
Purwodadi, Jawa Tengah (Burhanuddin, 2001).

Garam Beriodium

Garam beriodium adalah suatu produk yang ditawarkan kepada konsumen atau setiap
keluarga untuk mencegah kekurangan iodium sebagai upaya jangka panjang. Kualitas
garam beriodium mengacu kepada Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-3556-2010
seperti tertera pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1. Syarat Mutu Garam Konsumsi Beriodium

No.
Parameter
Satuan
Persyaratan Kualitas

1.
Kadar Air (H2O)
% b/b
Maks. 7

2.
Kadar NaCl (Natrium Klorida)
% adbk
Min. 94,7

dihitung dari jumlah klorida


3.
Iodium dihitung sebagai
mg/kg
Min. 30

Kalium Iodat (KIO3)

Cemaran logam

4.
Timbal (Pb)

mg/kg
Maks. 10

Tembaga (Cu)
mg/kg
Maks. 10

Raksa (Hg)

mg/kg
Maks. 0,1

5.
Arsen (As)

mg/kg
Maks. 0,1

Keterangan : b/b
= bobot/bobot

adbk
= atas dasar bahan kering
Garam beriodium pertama kali digunakan di Switzerland tahun 1920. Penggunaan garam
beriodium di Indonesia dilakukan tahun 1927 di daerah Tengger dan Dieng. Wilayah
Tengger dan Dieng merupakan daerah pegunungan yang endemis GAKI (Gangguan
Akibat Kekurangan Iodium), dibandingkan model penanggulangan GAKI yang lain,
penggunaan garam beriodium yang paling murah biayanya. Hal ini disebabkan garam
merupakan kebutuhan sehari-hari, tidak ada pengolahan makanan yang tidak
menggunakan garam (DGKM, 2007).

Hasil pemantauan Biro Pusat Statistik (BPS) terhadap garam konsumsi beriodium
ditingkat rumah tangga sejak tahun 1997 sampai dengan 1999 dibagi dalam 3 kelompok
yaitu (1) garam yang memenuhi syarat (kadar KIO 3> 30-80ppm), (2) garam yang tidak
memenuhi syarat (kadar KIO3< 30 ppm), (3) garamyang tidak mengandung iodium (KIO 3
0 ppm) (Burhanuddin, 2001).

Garam beriodium mengandung 0,0025% berat KIO (artinya dalam 100 gram total berat
garam terkandung 2,5 mg KIO). Berikut ini dipaparkan cara sederhana untuk menghitung
berapa banyak KIO yang dikonsumsi seseorang. Andaikan seorang ibu rumah tangga
dalam sehari memasak satu panci sup (kapasitas dua liter) dengan menggunakan dua
sendok garam beriodium (misalnya dengan berat 20 gram), dan tiap-tiap anggota keluarga
pada hari tersebut melalap dua mangkok (anggap volume total kuah 100 ml). Maka, berat
total garam KIO yang dikonsumsi tiap-tiap anggota keluarga itu dalam sehari (dengan
asumsi tidak makan garam melalui makanan lainnya) adalah 0,0000025 gram atau 2,5
mikrogram (dari 0,0025% x 20 gram x 100 ml/200 ml). Jumlah garam yang sangat kecil,
namun sangat diperlukan (Hasibuan, 2009).

Fortifikasi Iodium Pada Garam

Fortifikasi pangan adalah penambahan satan atau lebih zat gizi (nutrient) kepangan.
Tujuan utama adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat gizi yang
ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi dan pencegahan defisiensi zat gizi
dan gangguan yang diakibatkannya. Iodisasi garam menjadi metode yang paling umum
yang diterima oleh berbagai Negara di dunia sebab garam digunakan secara luas dan oleh
seluruh lapisan masyarakat. Prosesnya adalah sederhana dan tidak mahal (Albiner, 2003).

Fortifikasi yang biasa digunakan adalah Kalium Iodida (KI) dan Kalium Iodat (KIO 3).
Iodat lebih stabil dalam impure salt pada penyerapan dan kondisi lingkungan
(kelembaban) yang buruk. Penambahan tidak mengakibatkan perubahan warna dan rasa.
Negara-negara yang dengan program iodisasi garam yang efektif memperlihatkan
pengurangan yang berkesinambungan akan prevalensi GAKI (Albiner, 2003).
Kalium Iodat

Kalium Iodat memiliki rumus molekul KIO3 dan bobot molekul 214,02 g mol-1 serta
mempunyai komposisi I= 59,3%, K= 18,27%, O= 22,43%, berupa serbuk hablur putih atau
o
kristal yang tidak berbau, tidak leleh 560 C dan bobot jenis 3,89 g/ml (Cahyadi, 2004).
Iodium dalam garam dihitung dengan kadar Kalium Iodat (KIO 3), dimana iodium
merupakan kandungan terpenting dalam kelenjar tiroid. Kandungan iodium yang
dikonsumsi tidak seluruhnya diserap atau disintesa oleh hormon tiroid melainkan hanya
sekitar 33%, sedangkan 67% dikeluarkan melalui urine dan feses (Manalu, 2007).

Berdasarkan kestabilannya kandungan Kalium Iodat (KIO3) pada saat ini merupakan
senyawa iodium yang banyak digunakan dalam proses iodisasi garam. Kalium Iodat
(KIO3) merupakan garam yang sukar larut dalam air, sehingga dalam membuat larutannya
diperlukan larutan yang baik. Untuk iodisasi diperlukan larutan Kalium Iodat (KIO 3) 4%
yang dibuat dengan jalan melarutkan 40 gram Kalium Iodat dalam tiap 1 liter air (1 Kg
KIO3/25 liter air)

(Manalu,2007).

Persyaratan umum Kalium Iodat yang digunakan yakni:

1.
Kadar (KIO3)
: Min 99%
2.
Kehalusan
: 100 Mesh
3.
Logam berbahaya (Pb, Hg, Zn, Cu, As)
: Nihil
4.
Grade
: Food Grade
Iodium

Iodium merupakan senyawa yang diketahui pertama kali oleh Bernard Curtois pada
tahun 1810. Namun iodium berasal dari bahasa Yunani Iode yang berarti warna violet.
Kimiawi iodium dalam tubuh baru diketahui pada tahun 13-15, setelah Kendal berhasil
mengisolasi senyawa yang mengandung iodium dalam kelenjar timid. Senyawa-senyawa
tersebut adalah monoiodotirosin, diiodotirosin, triidotironin, dan tiroksin (Budiyanto,
2009).

Tiroksin merupakan hormon yang merupakan hormon yang mempunyai peranan penting
pada proses metabolisme yang terjadi di dalam tubuh. Hormon tiroksin mengatur
perubahan provitamin A menjadi vitamin A di dalam hati, merangsang mobilisasi lemak,
memacu metabolisme kalsium dan pada metabolisme protein. Secara alami, di dalam
bahan makanan Iodium hanya terdapat dalam jumlah sedikit yaitu hanya beberapa
mikrogram setiap kilogram bahan makanan, kandungan Iodium pada bahan pangan nabati
sangat sangat bervariasi tergantung pada tanah tempat tumbuhnya, air dan pupuk yang
digunakan (Budiyanto, 2009).

Iodium dikonsentrasikan di dalam kelenjar gondok (glandula thyroide) untuk


dipergunakan dalam sintesis hormon tiroksin. Hormon ini ditimbun dalam folikel kelenjar
gondok, terkonjugasi dengan protein (globulin), dan disebut tiroglobulin, bila diperlukan
tiroglobulin dipecah dan terlepas, hormon tiroksin yang dikeluarkan dari folikel kelenjar
masuk ke dalam aliran darah (Sediaoetama, 2006).

Menurut Budiyanto (2001) pemenuhan gizi mikro Iodium bertumpu kepada pemanfaatan
garam dapur yang telah mengalami fortifikasi iodium. Garam-garam beriodium relatif
mudah didapat di toko-toko kecil. Beberapa produk yang terdapat di Malang, misalnya
garam merk Bintang mengandung 30-80 ppm KIO3, sedangkan garam merk Kelir Mas
mengandung minimal 30 ppm KIO3. Garam-garam tersebut telah sesuai dengan Standar
Industri Indonesia. Jika penggunaan garam beriodium tersebut sesuai dengan sifat fisik
dan kimia Iodium, maka upaya pemenuhan tersebut akan tercapai dengan baik sehingga
dapat menurunkan GAKI. Ada 6 model yang mungkin dikembangkan masyarakat dalam
rangka pemenuhan gizi mikro iodium, yaitu:

Menggunakan garam tidak beriodium (uyah grasak, bahasa Jawa)

Menggunakan garam beriodium (yang disimpan) dengan cara menggunakan dicampur


dengan bumbu (saat mengerus), kemudian dimasukkan pada saat memasak makanan

Menggunakan garam beriodium (yang disimpan) dengan cara menggunakan sebagian


sebagian dicampur dengan bumbu (saat mengerus) dan sebagian dimasukkan pada saat
memasak makanan

Menggunakan garam beriodium (yang disimpan) dengan cara menggunakan semua garam
yang dibutuhkan dimasukkan pada saat memasak makanan
Menggunakan garam beriodium (yang disimpan) dengan cara menggunakan
semua garam yang dibutuhkan dimasukkan pada makanan yang selesai dimasak dan
masih panas.

Iodium merupakan mineral yang diperlukan untuk tubuh dalam jumlah yang relatif sangat
kecil, tetapi mempunyai peran yang sangat penting untuk pembentukan hormon tiroksin.
Hormon tiroksin ini sangat berperan dalam metabolisme di dalam tubuh. Kekurangan
iodium dapat berakibat buruk bagi manusia. Akibat yang dapat ditimbulkannya antara lain
berkurangnya tingkat kecerdasan, pertumbuhan terhambat, penyakit gondok, kretin
endemik (cebol), berkurangnya kemampuan mental dan psikologi, meningkatnya angka
kematian prenatal, serta keterlambatan perkembangan fisik anak (Nadesul, 2000).

Iodium digunakan dalam bentuk tingtur dan larutan iodium. Iodium mempengaruhi
langsung sel dengan cara mengendapkan protein sehingga sel akan mati. Akibat
keracunan iodium, terutama menyebabkan muntah dan pingsan. Dosis fatal iodium dan
senyawa iodida 2 g (Sartono, 2001).Menurut Farmakope Indonesia Edisi III (1979),
Iodium mengandung tidak kurang dari 99,8% dan tidak lebih dari 100,5%.

1.
Pemerian
: keping atau granul, berat, hitam keabu-abuan, bau khas,

berkilau seperti metal.


2.
Kelarutan
: sangat sukar larut dalam air, mudah larut dalam karbon

disulfida, kloroform, eter, etanol, dan larutan iodida, agak

sukar larut dalam gliserin.


3.
Penetapan Kadar : serbukkan dan timbang seksama lebih kurang 500 mg

dalam labu bersumbat kaca yang telah ditara, tambahkan 1 gram kalium iodida P yang
dilarutkan dalam 5 mL air. Encerkan dengan air hingga lebih kurang 50 mL, tambahkan 1
mL asam klorida 3 N. Titrasi dengan natrium tiosulfat 0,1 N, menggunakan 3 mL
indikator kanji.
WHO, Unicef, dan ICCIDD menganjurkan kebutuhan iodium sehari-hari

sebagai berikut:

90 mg untuk anak prasekolah (0 - 59 bulan)

120 mg untuk anak sekolah dasar (6 - 12 tahun)

150 mg untuk dewasa (di atas 12 tahun)

200 mg untuk wanita hamil dan wanita menyusui

Menurut SNI (01-3556-2010), kadar iodium pada garam konsumsi yang memenuhi
persyaratan adalah berkisar antara 30-80 ppm.

2.4.1 Sumber Iodium

Sumber iodium dalam makanan, antara lain: sayur-sayuran, ikan laut dan rumput laut, air
mata air, dan garam beriodium (Budiyanto, 2009).

Sedangkan sumber iodium di alam, antara lain:

Air tanah, tergantung sumber air berasal dari batuan tertentu

Air laut, mengandung sedikit iodium, sehingga kandungan iodium garam rendah

Plankton, ganggang laut dan organisme laut lain berkadar iodium tinggi sebab organisme
ini mengkonsentrasikan iodium dari lingkungan sekitarnya

Sumber bahan organik yang dalam oksidan, desinfektan, iodophor, zat warna makanan
dan kosmetik, dan vitamin yang beredar di pasaran juga menambah iodium

Ikan laut, cumi-cumi yang dikeringkan banyak mengandung iodium(Djokomoeljanto,


2006).

Sumber iodium yang paling utama yaitu laut. Jadi makanan yang berasal dari laut seperti
ikan, udang, kerang, serta ganggang laut merupakan sumberiodium. Dan tanaman
yang tumbuh didaerah pantai dan sekitar pantai banyak mengandung iodium, oleh karena
tanah dan air tersebut banyak, mengandung iodium, maka semakin jauh tanah tersebut
dari laut, semakin sedikit sekali kandungan iodium bahkan tidak ada sama sekali
(Almatsier, 2003).

2.4.2 Manfaat Iodium

Iodium sebagai unsur penting dalam sintesa hormon tiroksin, yaitu suatu hormon yang
dihasilkan oleh kelenjar tiroid yang sangat dibutuhkan untuk proses pertumbuhan,
perkembangan, dan kecerdasan. Iodium juga sebagai pembentukan hormon kalsitonin,
yang juga dihasilkan oleh kelenjar tiroid, berasal dari sel parafoli-kular (sel CO). Hormon
ini berperan aktif dalam metabolisme kalsium, maka harus selalu tersedia iodium yang
cukup dan berkesinambungan (Djokomoeljanto, 2006).

Akibat Kekurangan dan Kelebihan Iodium

Akibat Kekurangan Iodium

Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) adalah gangguan yang diakibatkan


oleh kurangnya zat iodium dalam tubuh, yaitu dapat mengakibatkan pembengkakan
kelenjar tiroid (gondok) pada usia dewasa, dan pada bayi atau anak-anak dapat
memperhambat pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun intelektualnya (Almatsier,
2003).

Pada kekurangan iodium, konsentrasi hormone tiroid menurun dan hormone perangsang-
tiroid/TSH meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak iodium.
Apabila kekurangan iodium terus menerus maka akan terjadi pembesaran kelenjar tiroid
yang diakibatkan usaha pengambilan iodium yang semakin meningkat. Gondok dapat
menampakkan diri dalam bentuk gejala yang sangat luas, yaitu dalam bentuk kretinisme
(cebol) di satu sisi dan pembesaran kelenjar tiroid pada sisi lain. Gejala kekurangan
iodium adalah malas dan lamban, kelenjar tiroid membesar, pada ibu hamil dapat
mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin, dan dalam keadaan berat bayi lahir
dalam keadaan cacat mental yang permanen serta hambatan pertumbuhan yang dikenal
sebagai kretinisme yaitu bentuk tubuh yang abnormal dan IQ dibawah 20. Hal ini dapat
mengganggu proses belajar dari anak-anak (Almatsier, 2003).

Akibat Kelebihan Iodium


Asupan iodium dalam jumlah yang banyak, akibatnya sama seperti dalam hal kekurangan
iodium, yaitu terjadi pembesaran kelenjar tiroid, sehingga dapat menimbulkan sesak
napas yang diakibatkan oleh pembesaran tersebut menutupi jalan pernapasan (Almatsier,
2003).

Titrasi yang Melibatkan Iodium

Titrasi yang melibatkan iodium dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu titrasi langsung
(iodimetri) dan titrasi tidak langsung (iodometri).

Titrasi Langsung (Iodimetri)

Iodium merupakan oksidator yang relatif kuat. Pada saat reaksi oksidasi, iodium akan
direduksi menjadi iodida sesuai reaksi:

-
I2 + 2e ↔ 2I

Iodium akan mengoksidasi senyawa yang mempunyai potensial reduksi lebih kecil
dibanding iodium. Vitamin C mempunyai potensial reduksi yang lebih kecil daripada
iodium sehingga dapat dilakukan titrasi langsung dengan iodium.

Titrasi Tidak Langsung (Iodometri)

Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk menetapkan


senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi yang lebih besar daripada sistem
iodida-iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator seperti CuSO 4.5H2O. Pada
iodometri, sampel yang bersifat oksidator direduksi dengan kalium iodida berlebihan dan
akan menghasilkan iodium yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium
tiosulfat (Rohman, 2007). Titrasi redoks dapat dibedakan menjadi beberapa cara
berdasarkan pemakaiannya:

Na2S2O3 sebagai titran dikenal sebagai iodometri tak langsung

I2 sebagai titran dikenal sebagai titrasi iodometri langsung dan kadang-kadang dinamakan
iodimetri

Suatu oksidator kuat sebagai titran. Diantaranya yang sering dipakai ialah:
KMnO4

K2Cr2O7

Ce (IV)
Suatu reduktor kuat sebagai titran (Harjadi, 1986)Perbedaan Iodimetri dan Iodometri

Menurut Basset (1994), metode cara langsung (iodimetri) jarang dilakukan mengingat
iodium merupakan oksidator yang lemah. Cara langsung disebut iodimetri yang
menggunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat
dioksidasi secara kuantitatif pada titik ekivalennya. Sedangkan cara tidak langsung
disebut iodometri yaitu oksidator yang dianalisis cukup kuat untuk direaksikan sempurna
dengan ion iodida berlebih dalam keadaan sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan
secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat atau asam arsenit.

Iodometri (Metode Titrasi Tidak Langsung)

Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk menetapkan


senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi yang lebih besar daripada sistem
iodida-iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator seperti CuSO 4.5H2O. Pada
iodometri, sampel yang bersifat oksidator direduksi dengan kalium iodida berlebihan dan
akan menghasilkan iodium yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium
tiosulfat (Rohman, 2007).

Larutan Standar Na2S2O3

Larutan standar yang digunakan dalam proses iodometri adalah natrium tiosulfat.
Larutan tidak boleh distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium tiosulfat
tidak stabil untuk waktu yang lama (Day dan Underwood, 1998).

Indikator Amilum (Kanji)

Titrasi dapat dilakukan tanpa indikator dari luar karena warna I 2 yang dititrasi itu
akan lenyap bila titik akhir tercapai, warna itu mula-mula cokelat agak tua, menjadi lebih
muda, lalu kuning, kuning muda dan seterusnya, sampai akhirnya lenyap. Bila diamati
lebih cermat perubahan warna tersebut, maka titik akhir akan dapat ditentukan dengan
cukup jelas. Konsentrasi iod masih tepat dapat dilihat dengan mata dan memungkinkan
penghentian titrasi dengan kelebihan hanya senilai 1 tetes iod. Namun, lebih mudah dan
lebih tegas bila ditambah amilum kedalam larutan sebagai indikator (Harjadi, 1986).

Amilum dengan I2 membentuk suatu kompleks berwarna biru tua yang sangat jelas.
Sekalipun I2 pada titik akhir iod yang terikat itupun hilang bereaksi dengan titran
sehingga warna biru lenyap mendadak dan perubahan warnanya tampak sangat jelas.
Penambahan amilum ini harus menunggu sampai mendekati titik akhir titrasi (bila iod
sudah tinggal sedikit yang tampak dari warnanya kuning muda). Maksudnya adalah agar
amilum tidak membungkus iod dan menyebabkan sukar lepas kembali. Hal ini akan
berakibat warna biru akan sulit lenyap sehingga titik akhir tidak kelihatan tajam lagi. Bila
iod masih banyak sekali dapat menguraikan amilum dan hasil penguraian ini mengganggu
perubahan warna pada titik akhir (Harjadi, 1986).

Penetapan Kadar KIO3 dalam Garam Konsumsi Beriodium

Penetapan kadar kalium iodat dalam hal ini menggunakan Analisis

Kuantitatif dengan metode Volumetri. Metode Volumetri menggunakan titrasi iodometri.


Metode ini masih digunakan secara luas karena merupakan metode yang tahan, murah
dan mampu memberikan ketetapan yang tinggi. Dalam analisis volumetri atau analisis
kuantitatif dengan mengukur volume, sejumlah zat yang diselidiki direaksikan dengan
larutan baku (standar) yang kadar (konsentrasi) nya telah diketahui secara teliti dan
reaksinya berlangsung secara kuantitatif (Rohman, 2007).

Larutan baku yang diteteskan disebut sebagai titran. Semua perhitungan dalam volumetri
didasarkan pada konsentrasi titran yang harus dibuat secara teliti, titran semacam ini
disebut larutan baku (standar). Suatu larutan standar dapat dibuat dengan cara melarutkan
sejumlah senyawa baku tertentu yang sebelumnya senyawa tersebut ditimbang secara
tepat dalam volume larutan yang diukur dengan tepat. Larutan standar ada dua macam
yaitu, larutan baku primer, mempunyai kemurnian yang tinggi, dan larutan baku sekunder
yang harus dibakukan dengan larutan baku primer. Suatu proses dimana larutan baku
sekunder dibakukan dengan larutan baku primer disebut dengan standarisasi (Basset,
1994).

Daftar baku primer yang umum digunakan untuk membakukan larutan

baku dapat dilihat pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2
: Daftar Baku Primer

No.
Baku Primer
Kegunaan

1.

Kalium Biftalat
Pembakuan Natrium Hidroksida

Pembakuan larutan Asam perklorat

2.

Kalium Iodat
Pembakuan larutan Natrium Tiosulfat

melalui pembentukan Iodium


3.
Natrium Karbonat Anhidrat
Pembakuan Asam Klorida

4.

Logam Zn
Pembakuan larutan EDTA

(Rohman, 2007).

Larutan standar biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret. Proses penambahan
larutan standar sampai reaksi tepat lengkap, disebut titrasi, dan zat yang akan ditetapkan,
dititrasi. Titik (saat) pada mana reaksi itu lengkap disebut titik ekivalen (setara) atau titik
akhir teoritis. Lengkapnya titrasi, harus terdeteksi oleh suatu perubahan, yang tidak dapat
disalah lihat oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan standar itu sendiri, atau lebih
lazim lagi oleh penambahan suatu reagensia pembantu yang dikenal sebagai indikator.
Setelah reaksi antara visual yang jelas dengan cairan yang sedang dititrasi, titik pada saat
ini terjadi disebut titik akhir titrasi (Basset, 1994).

Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk menetapkan senyawa-
senyawa yang mempunyai potensial oksidasi yang lebih besar dari pada sistem iodium
iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator. Pada iodometri sampel yang
bersifat oksidator direduksi dengan kalium iodida berlebihan dan akan menghasilkan
iodium yang selanjutnya dititrasi dengan larutan baku natrium tiosulfat yang dilakukan
dalam suasana asam.

Banyaknya volum natrium tiosulfat yang digunakan sebagai titran setara dengan iodium
yang dihasilkan dan setara dengan banyaknya sampel (Rohman, 2007).

Suatu larutan dari iodium dalam larutan air iodida, memberikan warna kuning sampai
coklat tua atau satu tetes larutan iod 0,1 N menimbulkan warna kuning pucat yang terlihat
pada 100 ml air, sehingga dalam larutan-larutan yang tanpa iodium akan tak berwarna,
iodium dapat berfungsi sebagai indikatornya sendiri. Uji ini dibuat jauh lebih peka
dengan menggunakan larutan kanji (larutan dari pati) sebagai indikator. Kanji bereaksi
dengan iodium, dengan adanya iodida, membentuk suatu kompleks yang berwarna biru
kuat, yang akan terlihat pada konsentrasi - konsentrasi iodium yang sangat rendah. Pati
dapat dipisah menjadi dua komponen utama, amilosa dan amilopektin yang terdapat
dalam proporsi berbeda - beda dalam berbagai tumbuh-tumbuhan. Amilosa, suatu
senyawa berantai lurus dan terdapat berlimpah dalam pati kentang, memberi warna biru
dengan iod dan rantainya mengambil bentuk spiral. Amilopektin, yang mempunyai
struktur rantai bercabang membentuk suatu produk berwarna ungu merah mungkin
dengan adsorbsi (Basset, 1994).
BAB III

METODE PENGUJIAN

Tempat dan Waktu Pengujian

Pengujian ini dilakukan di Laboratorium Terpadu Universitas Islam Indonesia yang


akan di laksanakan pada kloter ke IV.

Alat

Alat yang digunakan adalah :

botol timbang

buret 10 ml dan 50 ml (pyrex)

desikator

erlenmeyer 250 ml (pyrex)

gelas ukur 10 ml (pyrex)

labu ukur 100 ml dan 250 ml (pyrex)

mikroburet 5 ml (pyrex)

neraca analitik (mettle toledo)

oven (memmert)

pipet volume 0,5 ml, 50 ml dan 20 ml (pyrex)

pipet tetes.

Bahan

Bahan yang digunakan adalah :

Air suling

Asam phospat(H3PO4) 85%

Garam konsumsi beriodium (garam aji, garam dolphin, dan garam ikan paus)

indikator amilum 1%
Kristal KIlarutan baku Kalium Iodat (KIO3) 0,005 N

Larutan baku Natrium tiosulfat (Na2S2O3) 0,005 N.

Pembuatan Pereaksi

Pembuatan pereaksi yang digunakan pada pengujian garam adalah

Larutan baku Kalium Iodat, KIO3 0,005 N

Pembuatan larutan baku Kalium Iodat, KIO3 0,005 N

Timbang 3,567 g KIO3 (pa)

Larutkan dengan air suling dalam labu ukur 100 mL

Impitkan dengan air suling hingga tanda garis

Pipet 0,5 ml ke dalam labu ukur 100 ml yang lain encerkan dengan air suling impitkan
hingga tanda garis.

Larutan baku Natrium tiosulfat, Na2S2O3 0,005 N

Pembuatan Larutan baku Natirum tiosulfat 0,005 N

Timbang 6,25 g Na2S2O3.5H2O

Larutkan dengan air suling dalam labu ukur 250 ml

Pipet 50 ml ke dalam labu ukur 250 ml yang lain

Encerkan dengan air suling impitkan hingga tanda garis.

Standarisasi larutan Natrium tiosulfat, Na2S2O3

Pembuatan larutan standarisasi Natrium tiosulfat

Timbang 10 g NaCl (pa)


Masukkan ke dalam erlenmeyer 300 ml

Tambahkan 120 ml air suling

Aduk sampai larut

Tambah 5 ml larutan baku KIO3 0,005 N dan kocok sampai homogen.

Tambah 2 ml H3PO4 85%, 2 ml indicator amilum 1% dan 0,1 g kristal KI

Titer dengan larutan baku Na2S2O3 menggunakan mikroburet sampai warna biru hilang
(V1).

Prosedur Pengujian

Prinsip : Penentuan kadar iodium berdasarkan jumlah natrium tiosulfat yang


digunakan sebagai titrasi.

Prosedur pengujian penetapan kadar iodium sebagai kalium iodat (KIO 3) pada garam
adalah sebagai berikut:

Timbang 10 g contoh ke dalam Erlenmeyer 250 ml

Larutkan dengan 125 ml air suling

Tambah 2 ml H3PO4 85% 2 ml indikator amilum dan 0,1 g kristal KI

Titrasi dengan larutan baku Na2S2O3 menggunakan mikroburet (V2), koreksidilakukan


terhadap 10 g NaCl p.a

Contoh perhitungan :

=
890 ×

×
2
Keterangan:

V1= volume Na2S2O3 pada penitaran larutan baku, dinyatakan dalam mililiter (ml)

V2= volume Na2S2O3 pada penitaran larutan contoh, dinyatakan dalam milliliter (ml)

W = bobot contoh, dinyatakan dalam miligram (mg)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil

Penetapan Kadar Iodium sebagai KIO3 Pada Garam

Hasil penetapan kadar iodium sebagai KIO3 pada garam dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Perhitungan penetapan kadar iodium dapat dilihat pada lampiran.

Tabel 4.1. HasilPenetapan Kadar Iodium sebagaiKIO3 pada Garam

Merek Garam
Berat
Volume
Kadar Iodium sebagai KIO3

sampel
Titrasi

Garam Aji I
25 g
7,5 ml
35,6 mg/kg

Garam Aji II
25 g
7,3 ml
35,6 mg/kg

Garam Dolphin I
25 g
3,9 ml
35,6 mg/kg

Garam Dolphin II
25 g
3,8 ml
35,6 mg/kg
Garam Ikan Paus I
25 g
1,1 ml
35,6 mg/kg

Garam Ikan Paus II


25 g
1,0 ml
35,6 mg/kg
Pembahsan

Iodium dalam garam dihitung dengan kadar Kalium Iodat (KIO 3), dimana iodium
merupakan kandungan terpenting dalam kelenjar tiroid. Kandungan iodium yang
dikonsumsi tidak seluruhnya diserap atau disintesa oleh hormon tiroid melainkan hanya
sekitar 33%, sedangkan 67% dikeluarkan melalui urine dan feses (Manalu, 2007).
Berdasarkan kestabilannya kandungan Kalium Iodat (KIO3) pada saat ini merupakan
senyawa iodium yang banyak digunakan dalam proses iodisasi garam. Kalium Iodat
(KIO3) merupakan garam yang sukar larut dalam air, sehingga dalam membuat larutannya
diperlukan larutan yang baik (Manalu, 2007).

Suhu yang tinggi akan memecah senyawa Kalium Iodat sehingga iodium akan terlepas
dan menguap. Selain itu juga karena kelembaban udara yang tinggi serta waktu
penyimpanan yang terlalu lama (> 6 bulan) dengan angka pengurangan 30 – 80
%.Penambahan jumlah KIO3 yang lebih tinggi mungkin sudah dilakukan untuk mencegah
pengurangan tersebut. Dianjurkan pada kondisi demikian menggunakan garam beriodium
dengan kadar> 50 ppm (Soetrisnanto, 2006).

Kualitas garam beriodium mengacu kepada Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-
3556-2010. Dapat dilihat pada tabel 2.1. Berdasarkan hasil yang didapat bahwa parameter
yang dilakukan pada garam seperti kadar iodium sebagai KIO 3 dengan hasil 35,6 mg/kg
untuk garam Aji, 35,6 mg/kg untuk garam Dolphin, dan 35,6 mg/kg untuk garam ikan
paus. Parameter uji yang dilakukan memenuhi persyaratan sesuai SNI 01-3556-2010.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan Berdasarkan hasil yang didapat bahwa parameter yang dilakukan pada
garam seperti kadar iodium sebagai KIO3 dengan hasil 35,6 mg/kg untuk garam Aji, 35,6
mg/kg untuk garam Dolphin, dan 35,6 mg/kg untuk garam ikan paus. Parameter uji yang
dilakukan memenuhi persyaratan sesuai SNI 01-3556-2010 yang menunjukkan bahwa
kadar iodium sebesar >30-80 ppm.

Saran

Sebaiknya dalam melakukan titrasi harus dilakukan dengan teliti agar volume titrasi yang
didapat tepat

Sebaiknya pemerintah melakukan pemeriksaan lebih ketat lagi terhadap beberapa merek
dagang dari Garam Konsumsi yang telah beredar di pasaran demi menjamin kesehatan
para konsumen
Sebaiknya pemantauan garam beriodium pada masyarakat agar terus
dilaksanakansehingga terus terpantau keadaan konsumsi garam di tingkat masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Albiner. (2003). Pendekatan Fortifikasi Pangan untuk Mengatasi Masalah Kekurangan


Gizi Mikro. http://repository.usu.ac.id. Tanggal 11 Maret 2015.

Almatsier, S. (2003). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Hal: 251.

Badan Standardisasi Nasional. (2010). SNI 01-3556-2010, Garam Konsumsi Beriodium.


Jakarta: Badan Standardisasi Nasional. Hal: 1, 7, 9-10.

Basset, J. et. all. (1994). Vogel Kimia Analitik Kuantitatif Anorganik. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Hal: 308-364.

Buckle, K.A., et.al. (1985). Food Science. Alih bahasa oleh: Hari Purnomo dan Adiono.
Jakarta: UI-Press. Hal: 166.

udiyanto. (2009). Dasar-dasar Ilmu Gizi. Malang: UMM Press. Hal: 86-87.

Burhanuddin. (2001). Proceeding Forum Pasar Garam Indonesia. Jakarta: Badan Riset
Kelautan dan Perikanan. Hal: 1-18.

Cahyadi, W. (2004). Peranan Iodium dalam Tubuh. Diambil dari:


www.pikiranrakyat.com.

Day, R.A., dan Underwood, A.I. (1981). Quantitative Analysis. Alih bahasa oleh: Sopyan,
Lis. (2001). Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi 6. Jakarta: Erlangga. Hal: 99.
DGKM. (2007). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: FKM Universitas Indonesia.
Hal: 212-226.

Dirjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Hal: 694.

Djokomoeljanto. (2006). Kelenjar Tiroid, Hipotiroidisme, dan Hipertiroidisme, dalam:


Aru WS., editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi IV, Jilid III. Jakarta: FKUI. Hal:
1802.

Gunung, I., K. (2004). Perhitungan Kadar Iodium dalam Iodisasi Garam untuk
Penanggulan

Hasibuan, Dedi Julhadi. (2009). Gambaran Perilaku Ibu Rumah Tangga dalam
Penggunaan Garam Beriodium di Desa Juma Teguh Kecamatan Siempat Nempu
Kabupaten Dairi Tahun 2008. [Skripsi]. FKM USU. Hal: 29.

Harjadi, W. (1986). Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Penerbit PT. Gramedia.

Keputusan Presiden RI. (1994). Nomor : 69 Tahun 1994. Tentang Pengadaan GaramBeriodium.

Manalu, L. (2007). Pemeriksaan Kalium Iodat (KIO3) dalam Garam dan Air yang
Dikonsumsi Masyarakat Garoga Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2000.

[Skripsi]. FKM USU. Hal: 41.

Marihati. (2006). Pemantauan Mutu Garam Beriodium. Semarang: Jurnal GAKI


Indonesia (Indonesia Journal of IDD). Vol. 5. No. 1-2.

Mirandati, D.A. (2007). Studi Implementasi Kebijakan Pengadaan Garam Beriodium di


Kecamatan Batangan Kabupaten Pati. [Tesis]. Pascasarjana Universitas Diponegoro
Semarang. Hal: 2.
Mulyono, Ham. (2009). Kamus Kimia. Jakarta: Bumi Aksara.

Nadesul, Handrawan. (2000). Makanan Sehat untuk Bayi. Jakarta: Puspa Swara. Hal: 14.

Purnawati, W. (2006). Pengaruh Teknik Iodisasi dan Lama Penyimpanan Terhadap


Kadar Kalium Iodat. [Skripsi]. Fakultas MIPA UNS. Hal: 3.

Rohman, Abdul. (2007). Kimia Farmasi Analisis.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Universitas


Islam Indonesia. Hal: 129-154.

Sartono. (2001). Racun dan Keracunan. Jakarta: Widya Medika. Hal: 179-180.

Sediaoetama, Achmad Djaeni. (2008). Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi di
Indonesia. Jilid I. Jakarta: Dian Rakyat. Hal: 177-178.

Soetrisnanto, D. (2006). Garam Beriodium dan Minyak Iodium. Semarang: Jurnal GAKI
Indonesia (Indonesian Journal of IDD). Vol. 5. No. 1-2.
Lampiran 1PenetapanKadar Iodium sebagai KIO3 pada Garam

1. Sampel Garam Aji (I)

3=
890 ×

2
×
2

890 × 7,5


25 × 7,5

=
6.675

187,5

=
35,6 ⁄

2. Sampel Garam Aji (II)


=
890 ×

×
2

890 × 7,3

25 × 7,3

=
6.497

182,5

=
35,6 ⁄
3. Sampel Garam Dolphin (I)

3=
890 ×

2
×
2

890 × 3,9


25 × 3,9

=
3.471

97,5

= 35,6 ⁄

4. Sampel Garam Dolphin (II)

3=
890 ×
2

2

890 × 3,8

25 × 3,8

=
3.382

95

= 35,6

5. Sampel Garam Ikan Paus (I)

=
890 ×

3
×
2

890 × 1,1

=

25 × 1,1

979

27,5

= 35,6

6. Sampel Garam Ikan Paus (II)


3=
890 ×

×
2

890 × 1,0

25 × 1,0
=
890

25

= 35,6 ⁄
Lampiran 2 Pengujian Garam

Gambar 1.Garam Aji


Gambar 2.Garam Dolpin

Gambar 3.Garam Ikan Paus


Gambar 4.Indikator Amilum
Gambar 5.Erlenmeyer berisi hasil standarisasi Na2S2O3 0,005 N
Gambar 6.Labu ukur berisi larutan baku KIO3 0,005 N
Gambar 7. Erlenmeyer berisi Garam Aji hasil titrasi
Gambar 8.Erlenmeyer berisi Garam Dolpin hasil titrasi
Gambar 9.Erlenmeyer berisi Garam Ikan Paus hasil titrasi