Anda di halaman 1dari 4

Nama:Rajib Java Garbesi

Kelas: X MIA 5

Judul Buku :Laskar pelangi

Pengarang :Andrea Hirata

Penerbit,Tahun terbit :Bentang,Juli 2007


Jenis Buku :Non Fiksi (Novel)

Tebal Buku : 533 halaman


NO BAB INFORMASI PENTING

A Pagi itu hari pertama masuk SD. Aku duduk di depan sebuah kelas. Ayahku
duduk di sampingku. Dibangku panjang itu ada anak dan orang tua yang
mendaftar ke sekolah SD Muhammadiyah.Diujung kursi ada pintu yang
1 I terbuka. Mereka adalah K.A.Harfan Efendy Noer, kepala sekolah. Dan ibu
N.A.Muslimah Hafsari atau Bu Mus seorang guru muda berjilbab.
Namun, Bu Mus terlihat gelisah dan cemas. Ia menghitung banyak siswa berulang-
ulang, tetapi masih sembilan anak. Pada saat itu aku cemas dan semangatku
untuk sekolah menurun. Ayahku pun begitu cemas.
Setelah menunggu sampai pukul sebelas lewat lima menit. Namun, ketika Pak
Harfan mengucapkan Assalamu’alaikum, Trapani berteriak memanggil nama
Harun. Harun pria jenaka yang sudah berusia lima belas tahun dan terbelakang
mentalnya. Harun telah menyelamatkan kami dan kami bersorak gembira,
karena SD Muhammadiyah tidak jadi di tutup.
Bu Mus mendekati setiap orang tua murid di bangku panjang, berdialog ramah, dan
mengabsen murid. Semua telah mendapatkan teman sebangku masing-masing. Aku
duduk bersama Lintang, yang sekolah disini dan pulang pulang pergi setiap hari naik
sepeda empat puluh kilo meter dari rumahnya.
Trapani bersama Mahar karena mereka paling tanpan. Trapani memandangi
2 II jendela,melirik kepada ibunya yang sekali-kali muncul di antara kepala orang tua
lainnya. Borek dan Kucai di dudukkan bersama karena mereka sama-sama sudah
diatur. Baru beberapa saat di kelas Borek sudah mencoreng muka Kucai dengan
penghapus papan tulis.
Tingkah Borek diikuti oleh Sahara yang sengaja menumpahkan air minum A Kiong
sehingga ia menangis sejadi-jadinya seperti orang ketakutan dengan setan. Sahara
gadis kecil yang berkerudung memang keras kepala sekali. Tangisan A Kiong merusak
acara perkenalan yang menyenangkan pagi itu.
Bagiku pagi itu adalah pagi yang tak terlupakan sampai puluhan tahun mendatang
karena aku melihat Lintang dengan canggung menggenggam sebuah pensil yang
besar belum disurut. Salah satunya ujungnya berwarna merah dan ujung lainnya biru.
Sepertinya ayahnya keliru membelikan pensil itu.
Begitu juga dengan bukunya, juga keliru. Buku bersampul biru tua bergaris tiga. Hal
yang tak akan pernah ku lupakan, bahwa pagi itu aku menyaksikan anak pesisir
melarat teman sebangku memegang pensil dan buku.

Sekolah kami memiliki enam kelas yang kecil. Pagi untuk SD Muhammadiyah dan sore
untuk SMP Muhammadiyah. Sekolah kami kekurangan guru, bahkan siswa yang
3 III datang ke SD Muhammadiyah menggunakan sandal dan juga tidak punya seragam,
serta kotak P3K pun tidak punya. Ketika salah satu dari kami sakit, guru kami akan
memberikan obat yang bertuliskan APC.
Sekolah kami tidak ada yang menjaga karena tidak ada benda berharga yang layak
untuk dicuri. Ketika malam tiba sekolah kami dipakai untuk menyimpan hewan
ternak, atapnya bocor, berdinding papan dan juga berlantai tanah. Jika dilihat dari
kejauhan sekolah kami akan roboh karena tiang-tiang kayu yang sudah tua.
Pak Harfan bercerita tentang Nabi Nuh serta pasangan-pasangan binatang yang
selamat dari banjir, Perang Badar dan juga Zubair bin Awam. Tetapi Pak Harfan harus
mohon diri, satu jam dengannya terasa satu menit. Kami mengikuti setiap inci
langkahnya ketika meninggalkan kelas.
Kelas diambil alih oleh Bu Mus. Acaranya yaitu perkenalan dan pada akhirnya tiba
pada giliran A Kiong. Tangisannya telah reda tapi masih terisak. Ketika diminta
kedepan ia senangnya bukan main.Ketika Bu Mus mempersilakan perkenalan nama
dan alamat rumahnya, A Kiong menatap Bu Mus dengan ragu dan kemudian
tersenyum.
Bapaknya menyeruak diantara kerumunan orang tua lainnya. Namun, meskipun
berulang kali A Kiong ditanya tidak menjawab sepatah kata pun. Ia terus tersenyum
dan hanya tersenyum. Ketika Bu Mus mempersilakan sekali lagi. Namun, A Kiong
hanya menjawabnya dengan kembali tersenyum.ia berkali-kali melirik pada bapaknya.
Namun sampai waktu akan berakhir pun A Kiong masih saja tersenyum. Sampai-
sampai Bu Mus membujuknya lagi.
A Kiong malah semakin senang. Ia masih sama sekali tidak menjawab. Ia tersenyum
lebar, matanya yang sipit menghilang. Maka berakhirlah perkenalan di bulan Februari
yang mengesankan itu.
N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid, atau biasa di panggil
Bu Mus, hanya memiliki selembar ijazah SKP (Sekolah Kepandaian Putri),
namun beliau bertekad melanjutkan cita-cita ayahnya K.A. Abdul
4 IV Hamid,pelopor sekolah Muhammadiyah di Belitong untuk mengobarkan
pendidikan Islam. Setelah seharian mengajar, beliau melanjutkan bekerja
menerima jahitan sampai jauh malam untuk mencari nafkah, menopang hidup
dirinya dan adik-adiknya.
Bu Mus adalah seorang guru yang pandai, karismatik, dan memiliki pandangan
jauh ke depan. Beliau menyusun sendiri pelajaran Budi Pekerti dan pandangan
dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi.
Karena masih kecil, kami sering mengeluh mengapa sekolah kami tak seperti
sekolah-sekolah lain. Terutama atap sekolah bocor saat musim hujan. Beliau
tak menanggapi keluhan itu. Bagi kami Pak Harfan dan Bu Mus adalah
pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.
Komentar Ceritanya membuat kita mengerti apa itu persahabatan
terhadap isi
bukua
Tangerang, 2 February 2017
Mengetahui

Orang Tua/Wali

…………………………….