Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

BAB 3 TATA CARA PERENCANAAN IPLT

3.1. UMUM
Pengolahan air limbah dengan menggunakan sistem setempat diantaranya tangki septik,
biofilter, dll, memerlukan pengurasan yang dilakukan secara berkala untuk menghindari
kejenuhan atau penuhnya sistem. Pengurasan lumpur di dalam sistem setempat dilakukan
dengan menggunakan sarana penyedotan lumpur tinja dan selanjutnya dibawa ke instalasi
pengolahan lumpur tinja (IPLT).

IPLT adalah instalasi pengolahan air limbah yang dirancang hanya menerima dan
mengolah lumpur tinja yang berasal dari sistem setempat yang diangkut melalui sarana
pengangkut lumpur tinja. Lumpur akan diolah menjadi lumpur kering yang disebut dengan
cake dan air olahan/efluen yang sudah aman dibuang ataupun dimanfaatkan kembali.
Lumpur kering dapat dimanfaatkan menjadi pupuk dan air efluen dapat digunakan untuk
keperluan irigasi.

3.2. TAHAPAN PERENCANAAN


3.2.1. Persiapan Perencanaan dan Survey
Data yang dikumpulkan meliputi:
1. Data Primer, meliputi:
a. Jumlah rumah dan klasifikasinya
b. Jumlah dan kondisi sarana sanitasi setempat yang ada
c. Lokasi (lahan) yang dapat digunakan untuk pembangunan IPLT
d. Kondisi lingkungan di sekitar lokasi (lahan) pembangunan IPLT
e. Sarana jalan lingkungan dan jalan menuju calon lokasi IPLT
2. Data Sekunder, meliputi:
a. Kondisi iklim,
b. Kondisi fisik wilayah,
c. Data kependudukan,
d. Kondisi sanitasi lingkungan,
e. Rencana induk sistem pembuangan air limbah,
f. Kondisi sosial-ekonomi dan budaya,
g. Kelembagaan dan peraturan.
3. Data Pendukung lainnya, meliputi:
Metode dan teknologi pengolahan air limbah lumpur tinja yang terbaru, tepat
guna, efektif, dan efisien sehingga mampu mengolah limbahlumpur tinja dengan
sebaik mungkin namun dengan biaya investasi, operasi dan perawatan yang
minimal.

3.2.2. Penentuan Daerah Pelayanan IPLT


Dalam menentukan wilayah/daerah layanan, perencana perlu menetapkan target
pelayanan IPLT berupa persentase dari jumlah penduduk kota yang akan dilayani
oleh sarana IPLT yakni minimal 60% dari total penduduk yang menggunakan tangki
septik sistem setempat
3.2.3. Penentuan Lokasi IPLT
Penentuan lokasi IPLT ditentukan berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-1


LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

a. Ketersediaan lahan dan aspek teknis yang meliputi beberapa persyaratan


seperti:
 Daerah bebas banjir
 Daerah bebas longsor
 Rencana lokasi harus terletak minimal pada radius 2 km dari kawasan
pemukiman
 Rencana lokasi memiliki akses jalan (penghubung)dari wilayah pelayanan ke
IPLT dan sebaliknya
 Rencana lokasi harus berada dekat dengan badan air penerima
 Rencana lokasi harus merupakan daerah yang terletak pada lahan terbuka
dengan intensitas penyinaran matahari yang baik agar dapat membantu
mempercepat proses pengeringan endapan lumpur
 Lahan memiliki karakteristik relatif kedap air (permeabilitas rendah)

b. Biaya investasi, operasi & pemeliharaan


Rencana lokasi IPLT harus dekat dengan daerah pelayanan IPLT sehingga
dapat meminimalkan biaya operasi. Tarif retribusi ditentukan berdasarkan biaya
transportasi, operasi, dan pemeliharaan.

c. Lingkungan
Kualitas efluen IPLT harus memenuhi baku mutu air limbah yang berlaku.Untuk
mengurangi bau dari IPLT, dapat dilakukan penanaman pohon (contohnya :
pohon kemenyan, mimba, dll) di sekelilin(zona penyangga) untuk mengurangi
bau IPLT sebagai zona penyangga.

3.2.4. Penentuan Kapasitas IPLT


Kapasitas IPLT ditentukan dengan menghitung jumlah sarana sanitasi setempat
yang berada di daerah pelayanan. Bila data jumlah sanitasi setempat sulit didapat
atau diinventarisasi, maka dapat digunakan pendekatan (50-60)% dari jumlah
penduduk yang ada di dalam daerah layanan yang memiliki sanitasi setempat.
Perhitungan kapasitas IPLT memerlukan informasi perkiraan jumlah penghuni atau
pengguna sistem setempat dan periode pengurasan lumpur dari sistem setempat
tersebut. Kapasitas (debit) IPLT dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
V = (%pelayanan x P x Q )/1000
Keterangan:
 V = Debit total (kapasitas) yang akan masuk ke IPLT (m3)
 P = Jumlah penduduk yang dilayani pada akhir periode desain (orang)
 Q = Debit lumpur tinja dalam L/hari atau dibagi dengan 1.000 untuk
konversi menjadi m3/hari adalah jumlah lumpur yang akan masuk dan
diolah di IPLT setiap harinya
 % = Persentasi pelayanan dapat menggunakan pendekatan (50-60)%
Laju timbulan lumpur tinja dapat menggunakan pendekatan 0,5L/orang/hari.
Laju timbulan ini merupakan laju timbulan lumbur basah (lumpur dan air dari
tangki septik)

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-2


LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

3.3. KOMPONEN IPLT


3.3.1. Komponen Utama
Sistem IPLT dibuat untuk dapat menstabilkan senyawa organik dan meningkatkan
padatan yang terkandung dalam lumpur tinja sampai memenuhi persyaratan untuk
dibuang ke lingkungan atau dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. Untuk
mencapai tujuan tersebut, IPLT harus memenuhi seluruh komponen utama sebagai
berikut:

a. Unit Pengumpul: Untuk mengumpulkan lumpur tinja dari truk tangki penyedot
lumpur tinja sebelum masuk ke sistem pengolahan.
b. Unit penyaringan: Untuk memisahkan atau menyaring benda-benda kasar
didalam lumpur tinja. Pemisahan atau penyaringan dapat dilakukan dengan
menggunakan bar screen manual atau mekanik.
c. Unit pemisahan partikel diskrit: Untuk memisahkan partikel diskrit agar tidak
mengganggu proses selanjutnya.
d. Unit stabilisasi: Untuk menurunkan kandungan organik dari lumpur tinja, baik
secara anaerobik maupun aerobik. Alternatif teknologi pada unit stabilisasi yakni:
 Sistem kolam
 Kolam Aerasi
 Anaerobik Sludge Digester
 Aerobik Sludge Digester: Sequence Batch Reactor (SBR)
 Oxidation Ditch
e. Unit Pemekatan: Untuk memisahkan padatan dengan cairan yang dikandung
lumpur tinja, sehingga konsentrasi padatannya akan meningkat atau menjadi
lebih kental. Alternatif teknologinya yakni tangki imhoff dan clarifier
f. Unit pengolahan cairan: Untuk menurunkan kandungan organik dalam cairan
lumpur tinja.
Unit pengeringan lumpur: Untuk menurunkan kandungan air dari lumpur hasil
olahan, baik dengan mengandalkan proses penguapan atau proses mekanis.
Alternatif teknologinya: sludge drying bed, filter press, dan belt filter press.

3.3.2. Komponen Pendukung


Komponen pendukung merupakan komponen yang dibangun untuk menunjang
operasi, pemeliharaan, dan evaluasi IPLT yang berada di satu area dengan IPLT.
Komponen pendukung terdiri dari:
Platform (dumping station) yang merupakan tempat truk penyedot tinja untuk
mencurahkan (unloading) lumpur tinja ke dalam tangki imhoff ataupun bak ekualisasi
(pengumpul)
a. Kantor yang diperuntukkan bagi tenaga kerja.
b. Gudang untuk tempat penyimpanan peralatan, suku cadang unit-unit di IPLT,
dan perlengkapan lainnya.
c. Laboratorium untuk pemantauan kinerja IPLT.
d. Infrastruktur jalan berupa jalan masuk, jalan operasional, jalan inspeksi, dll.
e. Sumur pantau untuk memantau kualitas air tanah disekitar IPLT yang
dimanfaatkan sebagai sumber air bersih masyarakat sekitar IPLT.
f. Fasilitas air bersih untuk mendukung kegiatan pengoperasian IPLT.
g. Alat pemeliharaan dan keamanan.
h. Pagar pembatas untuk mencegah gangguan serta mengamankan aset yang ada
di dalam lingkungan IPLT.

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-3


LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

i. Generator yang digunakan sebagai sumber listrik cadangan

3.4. PEMILIHAN ALTERNATIF UNIT PENGOLAHAN


3.4.1. Alternatif Sistem pengolahan Lumpur Tinja
Terdapat dua sistem yang dapat digunakan dalam pengelolaan dan pengolahan
lumpur tinja (Gambar 3-1). Sistem tersebut ditentukan berdasarkan dari karakteristik
lumpur tinja yang akan diolah, terdiri dari:

1. Sistem IPLT dengan pemisahan padatan dan cairan


Penerapan sistem ini dilakukan jika karakteristik lumpur tinja yang masuk ke
IPLT tidak hanya berasal dari lumpur tinja yang telah matang dari sistem
setempat namun juga tinja segar. Hal ini dilakukan untuk mengurangi beban
pengolahan biologi selanjutnya.Lumpur hasil pemisahan/pemekatan selanjutnya
akan diolah dengan beberapa alternatif yakni langsung dikeringkan, distablikan
kembali jika kandungan BOD masih tinggi, atau dilakukan pengomposan
langsung. Sedangkan untuk cairan dapat masuk ke dalam pengolahan berupa
kolam stabilisasi untuk mengurangi konsentrasi pencemar sebelum masuk ke
badan air penerima. Cairan hasil pemisahan/pemekatan juga jika
memungkinkan dapat digabungkan dalam IPAL yang telah ada. Perhatikan
Gambar 3-1

Gambar 3-1. Skema Pemilihan Sistem IPLT

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-4


LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

2. Sistem IPLT tanpa pemisahan padatan dan cairan terlebih dahulu. Sistem ini
dapat digunakan jika inlet tinja yang masuk ke sistem IPLT merupakan lumpur
tinja yang telah mengalami pengolahan di unit sistem tangki sehingga memiliki
karakteristik yang lebih rendah. Alternatif-alternatif sistem pengolahan yang
dapat digunakan untuk megolah lumpur tinja yang tidak dilakukan pemisahan
padatan dan cairan terlebih dahulu. Alternatif-alternatif tersebut diantaranya
yakni lumpur tinja masuk ke sistem stabilisasi lumpur, langsung masuk ke IPAL
yang telah ada, direct land application, atau dapat digunakan sebagai material
tambahan dalam proses pengomposan. Masing-masing aternatif memiliki
kelebihan dan kekurangan yang dapat dilihat pada Tabel 3.1

Tabel 3.1. Pertimbangan alternatif sistem pengolahan lumpur tinja dengan dan
tanpa pemisahan padatan-cairan
Sistem IPLT Kelebihan Kekurangan
Stablisasi Lumpur  Memberikan solusi regional  Membutuhkan biaya investasi,
untuk pengelolaan lumpur tinja operasi, dan perawatan yang besar.
terutama untuk daerah yang  Membutuhkan sumber daya
tidak/belum memiliki IPAL manusia dengan kemampuan yang
tinggi untuk menjalankan instalasi
Pengolahan bersama dengan  Lebih ekonomis karena hanya  Meningkatkan kebutuhan
air limbah di IPAL yang telah membutuhkan instalasi penanganan residu lumpur dan
ada. pengolahan terpusat, tidak pembuangan
dipisahkanBanyak IPAL yang  Berpotensi mengganggu kinerja
berpotensi dapat mengolah IPAL jika lumpur tinja yang masuk
lumpur tinja memiliki fluktuasi karakteristik yang
tinggi.
Direct Land Application  Sederhana dan ekonomis  Membutuhkan lahan yang luas dan
 Daur ulang material organik jauh dari pemukiman atau memiliki
dan berpotensi memberikan kepadatan penduduk yang rendah.
nutrien kepada lahan  Area harus memiliki muka air tanah
yang tinggi agar mengurangi
potensi pencemaran air tanah
 Dapat menimbulkan bau
Co-composting with refuse  Sederhana dan ekonomis  Berpotensi tidak berhasil jika lumpur
 Produk dapat dimanfaatkan tinja memiliki fluktuasi karakteristik
kembali yang tinggi
 Dapat menimbulkan bau
Sumber : Rapermen Air Limbah , Kementrian PU

3.4.2. Alternatif Unit Pengolahan


Pada bagian ini akan diuraikan alternatif unit pengolahan lumpur tinja baik yang
diawali dengan pemisahan lumpur dan cairan maupun yang tanpa pemisahan
lumpur dan cairan. Secara umum (diluar dari alternatif sistem Pengolahan IPAL
Bersama, Direct Land Application, dan Co-composting with refuse) kedua sistem ini
terdiri dari beberapa tahapan pengolahan diantaranya kolam stabilisasi untuk
mengolah cairan dan/atau padatan, pemekatan lumpur, pengeringan lumpur, dan
tahapan lainnya sebagai pelengkap untuk mendukung kinerja proses pengolahan
tersebut. Alternatif-alternatif unit tiap tahapan pengolahan pada masing-masing
tahapan dapat dilihat pada Tabel 3-2

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-5


LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

Gambar 3-2. Tahapan pengolahan setiap sistem IPLT

Alternatif teknologi setiap tahapan pengolahan dapat dipilih sesuai dengan beberapa
faktor pertimbangan. Adapun faktor pertimbangan tersebut yakni:
1. Efektif, murah dan sederhana dalam hal konstruksi maupun operasi dan
pemeliharaannya.
2. Kapasitas dan efesiensi pengolahan yang sebaik mungkin.
3. Ketersediaan lahan yang tersedia untuk lokasi IPLT
Secara umum, kelebihan dan kekurangan tiap pilihan teknologi dapat dilihat pada Tabel
3.2.

Tabel 3-2. Kelebihan dan Pengurangan Sistem IPLT

Sistem
Kelebihan Kekurangan
Pengolahan
A. Pengolahan Penyaringan
Bar screen
Manual
 Biaya investasi dan operasional kecil  Membutuhkan tenaga kerja tambahan untuk
 Tidak membutuhkan pasokan listrik membersihkan dan mengangkut sampah

 Biaya perawatan murah


 Membutuhkan waktu untuk pembersihan

Bar screen
Mekanik
 Lebih praktis dalam membersihkan sampah di screen  Biaya investasi dan operasional besar
 Membutuhkan pasokan listrik saat membersihkan
sampah
 Biaya perawatan besar
B. Pengolahan Stablisasi
Kolam Anaerobik
 Dapat membantu memperkecil dimensi/ukuran kolam  Menimbulkan bau yang dapat mengganggu
fakultatif dan maturasi
 Proses degradasi berjalan lambat
 Dapat mengurangi penumpukan lumpur pada unit
 Memerlukan lahan yang luas
pengolahan berikutnya
 Biaya operasional murah
 Mampu menerima limbah dengan konsentrasi yang
tinggi
Kolam Fakultatif
 Sangat efektif menurunkan jumlah atau konsentrasi  Kolam fakultatif ini memerlukan luas lahan yang besar
bakteri patogen hingga (60-99)%
 Waktu tinggal yang lama, bahkan beberapa Literatur
 Mampu menghadapi beban yang berfluktuasi menyarankan waktu tinggal antara (20-150) hari
 Operasi dan perawatan mudah sehingga tidak  Jika tidak dirawat dengan baik, maka kolam dapat
memerlukan keahlian tinggi menjadi sarang bagi serangga seperti nyamuk
 Biaya operasi dan perawatan murah  Berpotensi mengeluarkan bau
 Memerlukan pengolahan lanjutan terutama akibat
pertumbuhan algae pada kolam

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-6


LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

Sistem
Kelebihan Kekurangan
Pengolahan
Kolam Maturasi
 Biaya operasi rendah karena tidak menggunakan aerator  Hanya mampu menyisihkan BOD dalam konsentrasi
 Mampu menyisihkan nitrogen hingga 80% dan amonia
yang rendah
hingga 95%
 Mampu menyisihkan mikroba patogen
Kolam Aerasi
 Teknologi yang dipakai lebih sederhana dibanding  Scum yang timbul pada proses operasi harus
teknologi inovatif lainnya dibersihkan secara manual.
 Kemudahan sistem operasi  Penggunaanmekanis listrik dapat lebih tinggi akibat
adanya alat mekanis seperti aerator
Anaerobik
Sludge Digester
 Scum akan diurai oleh mikroba anaerobik  Penggunaan listrik dapat lebih tinggi karena
 Lumbpur yang terbentuk lebih sedikit dibanding
penggunaan alat mekanis
aerobik  Dapat menimbulkan bau akibat proses anaerobik
 Efluen yang keluar dapat lebih baik
Aerobik Sludge
Digester:
 Luas lahan lebih kecil  Scum yang dihasilkan dari proses harus dibersihkan
Sequence Batch  Operasi dapat dilakukans ecara semi manual dengan
secara manual
Reactor (SBR) bantuan kontrol time  Biaya listrik lebih tinggi karena penggunaan alat
mekanis
 Dibutuhkan level operator sedikit lebih tinggi dan
pengalamanm terlebih karena ada pemakaian bahan
kimia
Oxidation Ditch
 Dapat digunakan untuk mengolah beban BOD yang  Lahan yang dibutuhkan lebih luas
tinggi
 Penggunaan listrik lebih tinggi karena penggunaan
 Waktu detensi yang diperlukan cukup lama yaitu sekitar aerator yang cukup besar
(12 – 36) jam sehingga memungkinkan terjadinya
ekualisasi aliran dan tidak diperlukan bak pengendap
terlebih dahulu sebelum memasuki pengolahan ini.
C. Unit Pemekatan
Tangki Imhof
 Menyisihkan padatan dari lumpur tinja sebelum  Pemeliharaan merupakan suatu keharusan
melewati jaringan perpipaan selanjutnya sehingga tidak
hanya mengurangi potensi penyumbatan juga dapat
 Jika tidak dioperasikan dan dirawat dengan baik, maka
membantu mengurangi dimensi pipa resiko penyumbatan pada pipa pengaliran

 Operasi dan pemeliharaan mudah sehingga dapat  Membutuhkan pengolahan lebih lanjut untuk efluen
menggunakan sumber daya manusia dengan baik pada frasa cair maupun padatan yang telah
pengetahuan minimal dipisahkan

 Tidak memerlukan pengolahan primer (primary  Efisiensi penyisihan rendah


treatment) pada pengolahan selanjunya (secondary
treatment)
 Mampu bertahan terhadap aliran debit masuk yang
sangat berfluktuasi (resistant against shock loads.
D. Unit Pengering Lumpur
Sludge drying
bed
 Tidak membutuhkan energi listrik sehingga mengurangi  Membutuhkan lahan yang luas
beban biaya operasi
 Proses pengeringan sangat bergantung pada kondisi
cuaca
Belt filter press
 aspek konstruksi dan operasinya yang sederhana, harga  kapasitas operasinya yang kecil dan operasinya yang
alat yang lebih murah, dan biaya operasinya yang intermittent (tidak kontinyu).
rendah.
Filter press
 aspek konstruksi dan operasinya yang sederhana, harga  kapasitas operasinya yang kecil dan operasinya yang
alat yang lebih murah, dan biaya operasinya yang intermittent (tidak kontinyu).
rendah.

Sumber : Rapermen Air Limbah 2014

3.5. PERENCANAAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN


3.5.1 Unit Pengumpul
Unit pengumpul yang selanjutnya disebut tangki ekualisasi berfungsi untuk:
Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-7
LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

a. mengatur agar debit aliran lumpur yang masuk ke unit berikutnya menjadi
konstan dan tidak berfluktuasi
b. menghomogenkan karakteristik lumpur tinja yang masuk ke IPLT

Adapun kriteria desain tangki ekualisasi yakni:

Tabel 3.3. Kriteria Desain Tangki Ekualisasi


Parameter Simbol Besaran Satuan Sumber
Waktu detensi td <2 Jam Metcalf & Eddy, 1991
Kecepatan Aliran V 0,3-3 m/det Qasim, 1985
Slope bak S 1:1 - Qasim, 1985
Kedalaman H 1-3* meter -
Keterangan : *bila lebih dari 3 meter maka tangki ekualisasi membutuhkan pengaduk seperti aerator atau
pengaduk hidrolis..
3.5.2 Unit Pemisahan Partikel Diskrit

Unit ini memiliki tujuan untuk menyisihkan butiran-butiran pasir yang ada di dalam air
limbah lumpur tinja sehingga dapat melindungi pompa dari kerusakan, mencegah
terjadinya efek clogging di dalam pipa, mencegah efek cementing pada dasar unit
digester dan bak pengendapan, serta mengurangi akumulasi materi inert di bak
aerasi dan digester yang dapat mengurangi volume tangki. Adapun kriteria desain
dari unit ini dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4. Kriteria Desain Tanki Pemisahan Partikel Diskrit


Parameter Simbol Besaran Satuan Sumber
Waktu detensi td 45-90 detik Metcalf & Eddy, 1991
Kecepatan Horizontal vh 0,24-0,4 m/detik Edward JM
Kecepatan
pengendapan :
vs
Diameter 0,2 mm 3,2-4,2 ft/menit Metcalf & Eddy, 1991
Diameter 0,15 2-3 ft/menit
Specific gravity gs 1,5-2,7 Qasim
Specific gravity material
1,02 Qasim
organik
Overflow rate debit 3 2
OR 0,021-0,023 m /m /detik Qasim
maksimum
Jumlah grit yang
5-200 m3/106/m6 Qasim
disisihkan
Headloss melalui grit hL 30-40 % Qasim
Jumlah bak minimal - 2 Unit -
Sumber : Rapermen Air Limbah kementrian PU

3.5.3 Unit Penyaringan

Unit Saringan berfungsi untuk menghilangkan padatan/benda-benda kasar atau


kotoran yang terbawa dalam lumpur tinja yang berasal dari mobil truk tinja.
Prinsipnya kotoran seperti pecahan batuan plastik dan sebagainya, yang berukuran
lebih besar dari jarak bukaan (openings) alat saringan akan tertahan di
mediasaringan. Padatan atau kotoran tersebut dapat mengganggu proses kinerja
dari alat yang sedang beroperasi di bak selanjutnya.

Kriteria saringan sampah desain unit penyaringan dapat dilihat padaTabel 3.5 dan
Tabel 1.6,
Tabel 3.5. Persyaratan Teknis Saringan Air Limbah

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-8


LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

Besaran
Parameter Simbol Pembersihan Cara Pembersihan dengan Alat Satuan
Manual Mekanik
Kecepatan aliran lewat
v 0,3 – 0,6 0,6 – 1 m/detik
bukaan
Ukuran penampang batang
Lebar w 4–8 8 – 10 mm
Tebal l 25 – 50 50 - 75 mm
Jarak bukaan b 25 – 75 10 – 50 mm
Kemiringan thd. Horizontal α 45 – 60 75 – 85 derajat
Kehilangan tekanan lewat
HLbukaan 150 150 mm
bukaan
Kehilangan tekanan Max.
HLmax 800 800 mm
(cloging)

Tabel 3.6. Faktor Batang Unit Bar Screen


Sumber

Tipe Batang Β

Persegi panjang 2,42


Rectangular dengan semi rectangular pada
1,83
sisi muka
Circular 1,79 Syed R. Qasim, hal 161
Rectangular dengan semi rectangular pada
1,67
sisi muka dan belakang
Tear shape 0,67

3.5.4 Unit Pengolahan Stabilisasi


Sistem pengolahan tersedia 5 alternatif , yaitu :
1. Sistem Kolam ( tanpa listrik)
2. Kolam Aerasi ( menggunakan Listrik)
3. Anaerobik Sludge Digester ( menggunakan Listrik)
4. Aerobik Sludge Digester : Sequence bath reaktor) ( SBR) ( menggunakan
listrik)
5. Oxidation Dittc ( mengggunakan Listrik)
Sesuai dengan rekomendasi dari Rapermen air limbah kementerian PU bahwa jika
Kapasitas IPLT < 50,000 jiwa atau setara dengan 25 m3/hari lumpur tinja .
Disarankan menggunakan Siistem Kolam saja tidak memerlukan kajian 3 alternatif .

3.5.5 Unit Pengolahan Pemekatan


Unit pengolahan pemekatan tersedai 3 alternatif yaitu :
1. Tangki Imhoff
2. Clarifier
3. Kolam pemisah Lumpur ( Sludge Separation Chamber) ( SSC)
ketiga alternatif tersebut semua baik jika dibangun sesuai dengan spesifikasi nya,
namun untuk alternatif 2 Clarifier menggunakan listrik dan O& P cukup tinggi,
sedangkan tangki Imhoft jika tidak dioperasikan dengan baik akan terjadi
penyumbatan, apalagi jika lumpur tinja sedikit dan tekanan kurang akhirnya
tersumbat. jadi direkomendasikan menggunakan SSC namun memerlukan
pengangkatan lumpur yang sudah setengah kering, dipindah manual ke Draying
Bed .

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-9


LAPORAN DED IPLT KABUPATEN INDRAGIRI HULU

3.5.6 Unit Pengolahan Pengeringan Lumpur


Unit pengolahan pengering lumpur tersedia 3 alternatif yaitu :
1. Unit pengering lumpur ( Sludge Drying Bed)
2. Filter pres
3. Belt Filter Pres
Alternatif 2 dan 3 memerlukan pemeliharaan yang tingi dan menggunakan listrik dan
peralatan mekanik dan elektrik.
jadi direkomendasikan memeilih alternatif 1 Yaitu Unit pengering lumpur .

Bab 3 Tata Cara Perencanaan IPLT 3-


10