Anda di halaman 1dari 19
MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI REPUPLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI NOMOR : 02.P/20/M.PE/1990 TENTANG KESELAMATAN KERJA PADA EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI SUMBER DAYA PANASBUMI MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI, Menimbang : a. bahwa dalam pelaksanaan pengusahaan sumber daya panasbumi faktor keselamatan kerja ‘urut menentukan kelancaran operasi pengusahaan sumber daya panas bumi; b. bahwa dalam rangka menjamin kelancaran operasi dan untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja pada eksplorasi dan eksploitasi sumber daya panas bumi, dipandang perl mengadakan pengaturan keselamatan kerja pada eksplorasi dan eksploitasi sumber daya panasbumi; ©. bahwa schubungan dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, dipandang perlu menetapkan peraturan kesclamatan kerja pada eksplorasi dan eksploitasi sumber daya Panasbumi dalam suatu Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi; ‘Mengingat Undang-undang Nomor 44 Prp tahun 1960 (LN tahun 1960 Nomor 133 TLN Nomor 2070); + Undang-undang Nomor 8 Tahun 1971 (LN Tahun 1971 Nomor 76, TLN Nomor 2971); } Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1973 (LN Tahun 1973 Nomor 25'TLN Nomor 3003); |. Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 1981 tanggal 1 Juni 1981; - Keputusan Presiden Nomor 15 Tahun 1984 tanggal 6 Maret 1984; .Keputusan Presiden Nomor 64/M Tahun 1988 tanggal 21 Maret 1988; Spawn MEMUTUSKAN : Menet és : PERATURAN MENTERI PERTAMBANGAN DAN ENERGI TENTANG es » KESELAMATAN KERJA PADA EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI SUMBER DAYA PANASBUMI. wt% BAB I weap 2 KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : a. Eksplorasi, adalah ke, geoki in yang mencakup survai rekonaisan, survai topografi, survai geologi, survai 'survai geofisika, survai landaian subu pada pemboran dangkal dan pemboran eksplorasi; b. Eksploiusi, adalah kegiatan yang mencakup pemboransumur pengembangan, sumur reinjeksi penyelesaian sumur dan kerja ulang; ¢, Produksi, adalah kegiatan pengambilan uap panasbumi yang mencakup ablas dan uji produksi sumur untuk ‘mengetahui potensi sumur panasbumi, pengontrolan, pengangkutan uap panasbumi dilapangan dan ceinjeksi air imbah sumur; d. Instansi, adalah instansi pada kegiatan eksplorasi, eksploit i dan produksi sumber daya panasbumi; ¢. Peralatan, adalah pesawat, pesawat pengangkat, mesin perkakas, perkakas, pompa, Kompressor, bejana tekan, alat penukar panas pipa penyalur dan alat pengaman; f. Sumur, adalah sumur panasbumi; & Perusahaan, adalah PERTAMINA dan perusahaan yang mempunyai hubungan kerja dengan PERTAMINA. berdasarkan suatu perjanjian mengenai pengusahaan eksplorasi dan eksploitasi sumber daya panasbumi; ‘h, Buku Penyelidik, adalah buku yang memuat instruksi dan atau catatan lain dari Pelaksana Inspeksi Tambang atau Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang yang ditujukan kepada Penyelidik serta memiuatcatatan lain yang dibuat Penyelidik mengenai pelaksanaan ketentuan Menteri ini; i, Buku Tambang,adalah buku catatan berupa instruksi dan catatan lain dari Pelaksana Inspeksi Tambang atau Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang kepada Kepala Teknik Tambang serta catatan dari Kepala ‘Teknik Tambang sesuai dengan Peraturan Menteri ini di daerah pertambangan. 4. Pengusaha, adalah memimpin perusahaan; k. DirekturJenderal, adalah Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bum; 1. Direktur, adalah Direktur Direktorat yang diserahi tugas mengurus keselamatan kerja pertambangan minyak dan gas bumi serta sumber daya panasbumi; m. Direktorat Jenderal, adalah Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Buri; 1. Penyelidik, adalah penanggung jawab suatu kegiatan eksplorasi sumber daya panasbumi; ©. Kepala Teknik Tambang, adalah penanggung jawab suatu kegiatan eksploitasi dan produksi sumber daya panasbumi; P. Pelaksana InspeksiTambang, adalah Pelaksana Inspeksi Tambang minyak dan gas bumi serta panas bumi; 4. Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang, adalah Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang minyak dan gas bumi serta anasbumi. Pasal 2 (Tata usaha dan pengawasan keselamatan kerja atas pekerjaan serta pelaksanaan pengusahaan sumber daya Panasbumi berada dalam wewenang dan tanggungjawab Menteri. (2) Menteri melimpahkan wewenang dan tanggungjawabnya untuk mengawasi pelaksanaan ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Menteri ini kepada Direktur Jenderal. (G)_Peiaksanaan tugas dan pekerjan sebagaimana termaksud pada ayat (2) Pasal ini dilakukari oleh Kepala Pelakcsana Inspeksi Tambang dengan dibantu oleh Pelaksana Inspeksi Tambang, (2) @ Kepala Petaksana inspeksi Tambang memimpin dan bertanggungjawab mengenai pengawasan ditaatinya \ ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Menteri ini dan mempunyai wewenang sebagai Pelaksana Inspeksi Tambang. (5) Pelaksana Inspeksi Tambang melaksanakan pengawasan atas ditaatinya ketentuan-ketentuan Peraturan Menteri ini, BABIT PEMETAAN DAN PENGUKURAN 4 Pasal 3 PPengusaha melakukan pengukuran lokaslokas eksplorasi eksploitasi dan produksisumber daya panasbumi, yang ‘meliputi pengukuran ketinggian, jarak datar dan pengukuran koordinat. Pasal 4 (1) Untuk dasar pengukuran atau ttk pengikatdipergunakan suatattiktetap yang telah diketahuiketinggian dan koordinatnya. 2) Pengukuran dapat melipati pengukuran secara langsung di lokasi dan atau analisis hasil foto udara (3) Satuan pengukuran untuk ketinggian dan jarak adalah meter, satuan pengukuran untuk koordinat adalah meter dan atau derajat, menit dan detik. SJ 4) Hasil ketinggian pengukuran termaksud dalam. Pasal ini agar digambarkan dalam suatu bentuk: 2. Pota topografi menggunakan sistem koordinat Geografis dan Universal Transverse Mercator (UTM) skala 1’: 50.000 dengan interval Koordinat 1.000 (seribu) meter dan interval ketinggian 25 (dua puluh lirna) meter; b. Peta situasi menggunakan sistem UTM skala |: 10,000 dengan interval koordinat 100 (seratus) meter dan interval ketinggian 5 (lima) meter, ©. Peta lapangan menggunakan sistem Polyeder kala I : 1.000 dengan interval koordinat 100 (seratus) meter dan interval ketinggian 2 (seperdua) meter; (©) Peta situasi dan peta lapangan memuatlokasi-lokasikeiatan eksporasi eksplotai dan produksi,pipa penyalur, instalasi pembangkitenaga listik, bangunan, jalan, dacrahterlarang, danau, sungai, gunung dan Kenampakan ‘Panasbumi yang ditemukan di Japangan, termasuk keterangan yang diperlukan. BAB III JALAN DAN TEMPAT KERJA Pasal (D)_Talan dalam lokasi kegiatan eksplorasi dan eksploitasisumber daya panasbumi harus baik dan cukup lear, schingga setiap tempat dapat dicapai dengan mudah dan cepat oleh pekerja maupun kendaraan serta harus Alpelihara dengan baik, dimana pertu diberikan penerangan yang cukup dan dilengkapi dengan rambu-rambu "alu lintas. (2) Sepanjang jematan, sekeliling celler sumut yang selesaidibor, sekeliling lubang yang membahayskan dan pada tepi jurang yang terbuka harus dibuat pengaman, (3)__Setiapinstalasi sumber daya panasbumi harus mempunyai tempat lalu lintas yang baik, aman dan selatu dalam Keadaan bersih, (4) Sclokan dan penggalian pada tempat kerja harusdilengkapi dengan tanda yang jelas dan dapat dilihat dengan ‘mudah, baik pada siang hari maupun pada malam hari. 45) Geladak kerja, lanai; termasuk titan untuk berjalan, jembatan dan tangga harus memenuhii persyaratan keselamatan kerja dan dipelihara dengan baik. (©) Bejana, pipa dan bok terbuka yang berisi bahan car, termasuk yang mendidih panas atau yang dapat dilukai, apabila dapat mengakibatkan bahaya harus dilengkapi dengan pengaman, Pasal 6 (1) “Tempat kerja harus bersih dan dipelihara dengan baik, mempunyai penerangan lampu yang baik dan memenuhi ersyaratan keselamatan kerja. (2) Ruangan kerja harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : ‘- mempunyai ventilasi yang baik, disesuaikan dengan jumlah orang dan keadaan udara yang terdapat dalam ruangan tersebut; . diatur sedemikian rupa, schingga kebisingan berada di bawah nilai ambang batas yang diizinkan. Apabila hal ini tidak dapat dicapai, para pekerja harus dilengkapi dengan alat pelindung telinga. - © dapat dicapai dan ditinggatkan dengan mudah dan aman melalui pintu-pint tertentuserta harus dipelihara dengan baik. ©) _ Di tempat-tempat tertentu untuk keadaan darurat harus tersedia peralatan penyelamatan sesuai kebutuhan, (4) Pada tempat kerja harus dilakukan pemeriksaan secara berkalaterhadap kemungkinan adanya gas berbahaya dan beracun. BABIV PENYELIDIKAN GEOLOGI, GEOKIMIA DAN GEOFISIKA Pasal 7 Para pekerja yang melakukan penyeliikan geologi, eokimia dan geofisika wajib menggunakan peralatan dan Perlengkapan keselamatan kerja sesuai kebutuhan antara Iain: tli, sabuk pengaman, sarung tangan engaman, Pakaian tahan ding, mantel, sepatu boot than panas, tpi pengaman, perlengkapan dan obat PPPK, alat komunikas, Komas,lentera,alat pendeteks ga (gas detector), gas masker dan peta topografi yang semuanya harus berfungsi Pasal 8 Para pekerja yang melakukan penyeiditan geologi isamping harus dilengkap peralatn dan perlengkapan keselamatan Oo kerja termaksud dalam Pasal 7, juga harus dilengkapi dengan obat anti cairan beracun. Pasal 9 (1) Para pekerja yang melakukan penyelidikan geokimia disamping harus dilengkapi peralatan dan perlengkapan keselamatan kerja termaksud dalam Pasal 7, juga harus dilengkapi dengan pakaian tahan zat ki ia reaktif, ‘sarung tangan karet, kacamata pengaman dan gas masker. (2) Bahan kimia yang diperoleh dan atau yang dipergunakan dalam penyelidikan geokimia harus ditempatkan dalam botol plastik atau gelas yang dilindungi dalam kotak yang cukup kuat atau dalam saringan kawat. (3) Pada penyelidikan geokimia para pekerja dilarang melakukan pengambilan contoh gas pada : a. posisi dibawah arah angin, b. cuaca buruk dan atau tidak ada sinar matahari, Pasal 10 (1) Para pekerja yang melakukan penyelidikan geofisika disamping harus dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan keselamatan kerja termaksud dalam Pasal 7, juga harus dilengkapi dengan sarung tangan karet. (2) Pada penyelidikan geolistrik-geofisika harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : Pengawas bertanggungjawab atas keselamatan kerja para pekerja pada lokasi kegiatan eksplorasi dan ceksploitasi sumber daya panasbumi serta menjamin hanya petugas yang berada didekat pekerjaan tersebut pada saat berlangsungnya pelaksanaan pengukuran geolistrik; Hanya bahan kimia non-polarisasi seperti CuSod yang diperkenankan untuk dimuat dalam tabung berpori- ori. Tabung berpori-pori yang memuat cairan jenuh CuSO4 sekurang-kurangnya harus ditanam 20 (dua puluh) Cm dibawah permukaan tanah dan agar lubang bekas penanamannya ditimbun kembali dengan baik: Bentangan kabel listrik agar diusahakan sedemikian rupa sehingga mudah diawasi dan apabila melewati emukiman dan atau lalu lintas umum agar dilengkapi dengan tanda yang jelas dan terhindar dari sentuhan ‘manusia, hewan atau kendaraan. Sambungan kabel harus diisolasi dengan baik; Pengawas pengukuran, operator peralatan dan petugas elektroda serta para petugas perentang kabel harus dilengkapi dengan sarana komunikasi,antara lain handi talk; ‘Sumber arus naik baterai (DC) maupun generator (AC) harus aman terhadap hubungan pendek; Pada saat pengiriman arus listrik haus dijamin bahwa tidak ada pekerja atau hewan berada di dekat fintasan kabel, kecuali petugas serta tidak ada pekerjaan penyambungan kabel. (3) Dilarang melakukan pengukuran geolistrik pada saat hujan dan atau banyak kilat. BAB V PEMBORAN Pasal 11 (iy Dalam jangka waktw selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari Pengusaha diwajibkan memberitahukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal hal-hal sebagai berikut : 4 Sebelum dilakukan pemboran sumur eksplorasi; penilaian, pengembangan, reinjeksi dan kerja lang; b. Setelah pelaksanaan pemindahan instalasi pemboran atau perubahan lokasi sumur; © Sebelum pelaksansan penambahan kedalaman sumur, penyimpangan aah pemboran dan atau penangguhan pekerjaan pemboran. (2) Pemberitititas instalsi pemboran, perubahan lokasi sumur perubahan kedalaman sumur dan penyi Pemboran dan atau penangguhan pekerjaan pemboran termaksud pada ayat (1) huruf. hhuruf b dan e-Pasgtini harus disertaialasan-alasan dan data yang tepat. )Beenuk dan jens aporan pemberitahuan termaksud pada aya (1) Pasa ini ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal. Pasal 12 (1). Dalam mendiikainstalasi pembora, Pengusaha wajib memperhatikan jarak aman untuk menjamin keselamatan Kerja poker, kelancaran ll lntas dan tidak mengganggu sarana dan prasarana umum lainnya, (@) Instalasi pémboran dan semua material yang digunakan dalam operasi pemboran_wajib memenubistandar yang diakui_ Menteri dan diperiksa secara berkala. (3) Penempatari helipad pada lokasi atau instalasi Pemboran disesuaikan dengan kebutuhan operasi dan wajib ‘memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal dan instansi Pemerintah lain yang berwenang. @ Geladak kerja ata (monkey board) pada instansipemboran dibuat sedemikianrupa, sehingga, pekerja terlindung dari angin kencang. Pasal 13, a Fengusaha ivajibkan membua dan menyusuncaatan-catatnharan dengan baik dalam buku mengensikegiatan emboran yang sedang berlangsung serta menyimpan buku tersebut dengan baik. (2) Buku harian termaksud pada ayat 1) Pasal ini, dapat diperlihatkan setiap waktu untuk diperiksa oleh Pelaksana Inspeksi Tambang. Pasal 14 (1) Pengusaha dilarang meninggatkan sumur tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Direktur Jenderal (2) Pedoman dan tatacara menunggalkan sumur ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal. 0 ©} ao @ wo ed) i) 2) a) (@) GB) 4) (5) 6) ay Pasal 15, Pada saat akan dimulainya pekerjan penajakan, Pengusaha waj memeriksa instalasi dan pealatan pemboran ‘gar dapat dijamin bahwa instalasi dan peralatan tersebut berada dalam kondisi baik dengan mempergunakan Rig Safety Check List yang diakui oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. {Lumpur bor dan ar atau fluida lainnya harus cukup tersedia untuk keperluan operasi dan untuk menghindari semburan wap panasbumi. Pasal 16 | Peralatan Pencegah Semburan Liar (PSL) dan Pengaman Aliran Balik (PAB) wajb dipasang pada setiap pemboran dan kerja ulang. Accumulator Unit untuk mengoperasikan peralatan Pencegah Semburan Liat (PSL) harus ditempatkan pada Jarak yang aman, dan mudah dicapai oleh pekerja Pasal 17 Pekerja pemboran divajibkan menggunakan peralatan dan perlengkapan keselamatan kerja, anara lain: tpi Pengaman, sepatu pengaman, sarung tangan pengaman, mantel, sabuk pengaman dan baju tahan dingin. Pada lokasi pemboran dimana terdapat kemungkinan adanya gas beracun harus tersedia wind sock, blower, alat bantu pernafasan, gas masker, gas detector yang dipasang pada tempat-tempat tertentu dan dlengkapi ‘dengan tanda pada tempat-tempat yang mudah dilihat atau didengar sertaalat bantu pernafasan atau masker ‘yang dapat dihubungkan dengan botol-botol udara oxigen. BAB VI PRODUKSI Pasal 18 Pada lokasi sumur yang sedang diuji wajibdipasang alat untuk mengetahui arah angin (wind sock) SSebelum diadakan uji produksi sumur, pada kepalasumur dilakukanablas dan pemeriksaan keamanan kerangan serta peralatan lain Ablas sumur dinyatakan aman apabila konsentrasi gas yang keluar bersama ap ke udara bebas berada di bawah nilai ambang batas. Dilarang melakukan ablas sumur pada saat cuaca tidak cerah dan sinar matahari tidak cukup terang. Pada suat sumur tidak diproduksikan, maka sumur harus dtutup dan diablas secara berkala dengan cara yang aman, Pedoman dan tatacara pelaksanaan ablas dan uj produksi sumur dtetapkan lebih lanjut oleh DirekturJenderal ‘ Pasal 19 Ujbgtéduksi sumur pada dasarnya dilaksanakan dengan cara ‘uji datar, : 7 (2) Uji tegak hanya dilakukan pada sumur-sumor yang mempunyai jarak yang cukup aman dari lokasi pemukiman ddan tidak mengakibatkan gangguan terhadap lingkungan hidup. (3) Usp panasbumi harus harus dikeluarkan keudara bebas sekurang-kurangnya I (satu) jam sebelum dialitkan ke penyalur. Pasal 20 Pekerjaan-pekerjaun perangsangan sumur dengan cara pengasaman (acidizing), pemecahan formasi dengan menggunakan cairan bertekanan (hydraulic fracturing) serta pengukuran suhu dan tekanan bawah tanah harus dilaksanakan sesuai dengan syarat-syarat keselamatan kerja yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal. Pasal 21 (1) _Setiap kerangan pada kepala sumar harus dilengkapi dengan katup pengaman dan atau pengaman lain sesuai standar yang diakui Menteri (2) Penggantian kerangan pada kepala sumur harus imenggunakan alat khusus atau dengan cara mematikan sumur dengan pemompaan air secara bertahap. BAB VII INSTALASI DAN PERALATAN Pasal 22 {nstalasi dan peralatan harus dibuat sedemikian rupa, dipelihara dengan baik dan harus diperiksa secara berkala ‘menurut latucara yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal agar dapat memenuhi syarat-syarat teknis yang baik dan aman. Pasal 23 (1) Mesin perkakas yang dalam penggunaannya dapat mengakibatkan bahaya terhadap pekerja yang melayaninya hharus dilengkapi dengan pelindung dan dipasang sedemikian rupa agar tidak membahayakan (2) Ruangan diantara mesin-mesin perkakas harus cukup lebar dan bebas dari benda-benda yang dapat merintangi dan mengukibatkan bahaya terhadap pekerja yang melayaninya dan lalulintas. i mungkin dapat pecah beterbangan harus iibatas kecepatan aman yang telah ditetapkan (3) Mesin perkakas yang karena akibat perputaran yang sangat tin (4 Apabilasuatu mesin perkaks perlu dijalankan untuk percobaan atau hal-hal Iain yang bersifatsementaratanpa menggunakan alat pelindung, maka harus dipasang tanda-tanda bahaya yang jelas pada tempat yang mudah terlihat Pasal 24 (1) Pada pesawat pengangkat harus dinyatakan dengan elas batas daya angkat yang telah ditetapkan berdasarkan hasil pengujian Direktorat Jenderal (2) 0 3) @ a) eo) @) 4) ol): @ 8) (4) a @ Bagian-bagian yang bergerak seperti rantai roda gigi, rem serta alat pengaman pesawat pengangkat harus selalu berada dalam keadaan baik. Pesawat pengangkat harus dilayani pleh operator yang disetujui oleh Kepala Teknik Tambang. Dilarang membebani pesawat pengangkat melebihi bats daya angkat aman yang telah ditetapkan untuk pesawat tersebut. Pasal 25 ‘Tekanan kerja pompa seria perlengkapannya tidak dapat melebii batas tekanan kerja aman yang telah ditetapkan ‘untuk pompa tersebut dan harus dipasang alat-alat pengaman yang selalu dapat bekerja dengan baik. Apabila terjadi Kebocoran aliran wap panasbumi pada pompa, maka aliran uap dan cairan didalamnya harus segera dihentikan, schingga perbaikan dapat dilakukan dengan aman, Apabila teradi perubahan, penambahan atau pemindahan terhadap suatu pompa dan perlengkapannya, maka ‘kemampuan pompa tersebut harus diuji kembali. Apabila pada suatu bateei pompa, sebuah pompa atau lebih dibersihkan atas diperbaiki, sedangkan yang 4ainnya masih digunakan, maka semua pipa penyalur dari dan ke pompa tersebut haus dilepaskan dan ditutup dengan flens mati. Pasal 26 Bejana tekan adalah peralatan yang bekerja dengan tekanan kerja di dalam peralatan melebihi Vs (seperdua) atmosfir tekanan lebih Femasangan dan penggunaan bejana tekan dan peralatannya harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana tercantum dalam standar yang diikuti oleh Menteri Pada bejana tekan harus dipasang alat-alat pengaman yang selalu dapat bekerja dengan baik secara otomatis. Apabila terjadi perubahan, penambahan atau pemindahan terhadap suatu bejanatekan, maka kemampuan alat tersebut harus diuji kembali. Syarat-syarat penggunaan yang diperbolehkan dan jangka waktu penggunaan sebelum inspeksi berikutnya akan ditetapkan kembal Pasal 27 Pada alat penukar panas (heat exchanger) harus dipasang alat-lat pengaman yang selalu dapat bekerja dengan baik Pasal 28 Katup pengaman harus dinyatakan dengan jela tekanan setel (setting pressure) yang telah ditetapkan untuk alattersebut dan besurnya tekanan tidak melebihi bats tekanan kerja aman dari peralatan yang dilindungi. Alat pengaman atau katup pengaman harus diperiksa secara berkala dan dit kemampuannya menuruttatacara Yang ditetapkan oleh Direktur Jendetal::: ' " BAB VIII PIPA PENYALUR Pasal 29 (1) Pemasangan dan penggunaan pipa penyalur serta perlengkapannya, harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana {ercantum dalam standar yang diakui oleh Meteri.. (2) Tekanan ketja dalam pipa penyalur serta perlengkapannya tidak dapat melebihi batas tekanan kerja aman dan hharus dipasang katup pengaman. (3). Pipa penyalur serta perlengkapannya harus diatur sedemikian rupa agar menjamin keselamatan kerja dan tidak ‘mengganggu kepentingan umum serta pada tempat-tempat ertentu dlengkapi dengan pelindung untuk mencegah terjadinya kecelakaan dan harus selalu berada dalam keadaan dipelihara dengan baik. (4) Semua pipa penyalur yang bersubu tinggi harus disalut dengan baik pada tempat-tempat yang mungkin dapat mengakibatkan bahaya terhadap pekerja dan peralatan disekitarnya, (5) Semua pipa penyalur vap panasbumi harus dilengkapi dengan peralatan untuk pembuangan air kondensat. (6) Setiap dimul pipa penyalur. nya penyaluran uap panasbumi harus dilakukan secara bertahap untuk mencegah kerusakan (7) Pedoman dan tatacara perbaikan dan jenis-jenis perlengkapan pipa penyalur yang aman ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal. BAB IX PENGELASAN Pasal 30 (1) Pekerjaan pengelasan hanya dapat dilakukan oleh juru las atau operator las yang telah dikwalifikasikan oleh Direktur Jenderal Juru las atau operator las perusahaan harus dicatat oleh Penyelidik dalam Buku Penyelidikan dan oleh Kepala Teknik Tambang dalam Buku Tambang. (2) Pekerjaan pengelasan yang dianggap berbahaya harus mendapatizin tertulis Penyelidik dan atau Kepala Teknik ‘Tambang dan harus mendapat pengawasan tenaga ahli dalam bidang bersangkutan. (3) Pedoman dan tatacara pengelasan ditetapkan lebih lanjut oleh Direktur Jenderal. BAB X BAHAN PELEDAK DAN RADIO AKTIF Pasal 31 (1) Pengadaan bahan peledak pada eksplorasi dan eksploitasi pengusaha sumber daya panasburi harus mendapat rekomendasi Direktur Jenderal dan memenuhi peraturan perundafg-undangan yang berlaku. (2) Penyimpanan bahan peledak dan rekomendasi penggunaan gudang bahan peledak untuk keperluan eksplorasi 10 tf. ‘dan eksploitasi pengusahaan sumber daya panasbumi harus terlebih dahulu mendapat izin Kepala Pelaksana Inspeksi Pasal 32 (@) Perusahaan wajib meayampaitan laporan bulanan kepada Pelaksana Inspeksi Tambang mengenai jumlah,jenis dan ‘keadaan bahan peledak yang disimpan dalam gudang bahan peledak atau tempat penyimpanan tertentu. @) Perusahaan wajib menunjuk seorang atau lebih petugas yang bertanggungjawab dalam penyimpanan, pengeluaran ‘dan penggunaan bahan peledak pada gudang bahan peledak atau tempat penyimpanan tertentu. 3) Nama petugas termaksud pada ayat 2) Pasal ini harus dicatat dalam Buku Penyelidik dan atau Buku Tambang. Pasal 33 (1) Penyimpanan, penganglutan, penggunaan dan penanganan zat radioaktif serta peralatan yang menggunakan zat ‘adioaktiftersebut harus memenuhi persyaratan keselamatan kerja yang ditetapkan oleh instansi Pemerintah yang berwenang. (2) Penyimpanan, pengangkutan, penggunaan dan penanganan zat radioaktf termaksud pada ayat (1) Pasal ini harus dilakukan olch abli yang ditunjuk olch Penyelidik atau Kepala Teknik Tambang dan abli tersebut harus dicatat oleh, Penyelidik atau Kepala Teknik Tambang dalam Buku Penyelidik dan atau Buku Tambang. () Penyelidik atau Kepala Teknik Tambang wajib mencegah timbulnya bahaya atau kecelakaan yang diakibatkan olch ‘zat radioaktif dengan cara melakukan tindakan pengamanan yang diperlukan. @ Dalam hal zat radioaktf tidak dapat dikeluarkan dari dalam sumur, maka hal terscbut harus segera dilaporkan kepada kepala Pelaksana Inspeksi Tamang untuk ditetapkan tindakan-tindakan yang diperlukan sesuai peraturan ‘keselamatan kerja radioaktif. (8) Apabila terjadi kontaminasi radioaktif terhadap pekerja dan atau peralatan dan atau lingkungan harus dilakukan BAB XI LISTRIK DAN PENERANGAN LAMPU_ Pasal 34 (1) Pembangkit dan instalai listrik harus memenuhi syarat-syarat sebagaimana tercantum dalam standar yang diakui oleh Menteri. (2) Pembangkit dan instalasilistrik harus dipasang, disusun, diatur dengan baik dan dilindungi sedimikian rupa agar ‘tidak mengakibatkan bahaya dalam penggunannya. (G) Penyelidike atau Kepala Teknik Tambang wajib menjamin kelangsungan aliran listrik pada lokasi tertentu atau instansi tertentu dalam lokasi kegiatan pengusahaan sumber daya panasbumi. (@) Dilarang menggunakan kawat atau kabel listrik yang tidak disalut pada tempat yang dapat mengakibatkan bahaya, ll (5) Kawat atau kabel listrk diatas permukzan tanah dan diluar bangunan harus dilengkapi dengan penangkall per yang baik dan cukup memadsi Pasal 35, (1) Penerangan lampu dalam lokasi kegiatan pengusahaan sumber daya panasbumi harus selalu dalam keadaan baik dan ‘memenuhi persyaratan keselamatan kerja. (@) Pada tempat dan instalasi tertentu harus disediakan alat penerangan lampu darurat yang setiap saat berada dalam kkeadsan siap untuk digunakan, BABXIL LARANGAN DAN PENCEGAHAN UMUM PADA LOKASI KEGIATAN ‘EKSPLORASI, EKSPLOITASI DAN PRODUKSI SUMBERDAYA PANASBUMI Pasal 36 (GQ) Setiap orang dilarang memasuki suatu lokasi kegiatan eksplorasi, eksploitai dan produksi sumber daya panasbumi, Kecuali para pekerja yang berdasarkan pekerjaannya atau yang mendapat izin tetulis dari Penyelidke atau Kepala ‘Teknik Tambang setempat. (2) Orang-orang yang mendapat izin untuk memasuki suatu lokasi kegiatan eksplorasi, eksplotasi dan produksi sumber aya panasbumi harus didampingi ofch wakil perusthaan yang ditunjuk untuk keperivan tersebut dan wajib rmenggunakan peralatan keselamatan kerja. Pasal 37 (Q) Semua pekerja pada lokasi kegiatan sumber daya panasbumi dilarang bekerja tanpa mengunakan peralatan kkeselamatan kerja perorangan yang sesuai dengan jenis pekerjaannya. @) Pengusaha dilarang menggunakan tenaga kerja yang tidak terampil dalam pekerjaannya dan tidak memenuhi persyaratan tenaga teknik khusus sumber daya panasbumi yang diterapkan Menteri. Pasal 38 (1) Pada tempat kerja, jalan dan gedung harus dilengkapi dengan tanda-tanda larangan, peringatan dan anjuran yang ‘elas dan mudah dimengert, yang ditempatkan pada lokasi yang strategis. (2) ‘Semua peralatan yang digunakan untuk bekerja dan sarana kerja lain, seperti: jalan, alat anglcut, alat angkat dan alat ‘komunikasi harus selalu dalam keadaan baik dan memenuhi persyaratan keselamatan kerja. G) Dalam pelaksanaan pekerjaan yang rawan bahaya harus terdapat tatacara yang wajib diikuti oleh para pekerja dengan memperhatikan segi keselamatan kerja. Pasal 39 ‘Pengusaha secara berkala wajib melakukan hal-hal sebagai berikut : @ Penyuluhan keselamatan kerja untuk semua tingkat pekerja yang mencakup segi peraturan kesclamatan kerja dan elaksanaan pekerjaan di lapangan; b Pana feadean drut berdaarkan sistem pengaturan yang telah dietapkan dan melaporkannya kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. BAB XIII LINGKUNGAN HIDUP Pasal 40 (1) Pengusaha wajb menyediakan peralatan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan, antara lain a toon Penampangan lumpur bekas pemboran (mupit) yang kedap air dengan daya tampung yang. culup reheat dan daa serap trhadsp tahan pencemaran yang tinggi, schingga kualtas ar imbah yang mengali ‘keluar dapat memenuhi peraturan yang berlaky; ‘>. Peredam suara,scingga tingkatkebisingan vag tradi pada loka tertentuberada dibawah nlai ambang batas yang ditetapkan, (2) Pengusaha wajib melakukan hal-hal sebagai berikut ‘ peneegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh eksplorasi dan eksploitai engusahaan sumber daya panasbumi; & menogtaltejadinya erosi tanah yang diakibadkan olch eksplorasi dan ekspoitasi pengusahaan sumer daya panasbumi. Pasal 41 Teaglisaa dilarang menbuat limbah padat, limbeh cair dan emisi gas yang dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan. Pasal 42 (2) Dalam mempersiapkan lokasi pemboran, Pengusaha harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut 4% membuat saluran air (drainage) sepanjang jalan baru dan di sekitarlokasi pemboran; >. pembukaan Iahan untuk jalan dan lokasi pemboran harusdilakukan seminimal mugkin; © Pengambilan air untuk pemboran harus memperhatikan kepentingan pihak Iain, @) Alat pengolah gas buangan harus memenuhi persyaratan tekns sebagai berikut: ‘& ‘mempunyai kapasitas yang mampu mengolah jumlah gas buangan yang bersanghatan; 'b, -mampu menurunkan kadar gas yang membahayakan; © _memungkinkan pengambilan contoh gas buangan, eto 5 Seer D/0/ SUGAKY/ 13 BABXIV PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN Pasal 43 Pengusaha wajib melakukan hal-hal sebagai berikut : &.menyediakan tenaga medis dan atau paramedis, obatobatan dan peralatan keschatan sebagai usaha untuk ‘memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan dan pengobatam;, 'b. menyediakan pos Kesehatan yang baik, sarana transportasi yang selalu dalam keadaan siap pakai dan dilengkapi Peralatan komunikasi yang baik, ‘¢. memberikan tanda pos keschatan yang jelas dan terlihat dari jarak jauh; 4. melatih cara bantuan hidup (Resussitasi) dan pertolongan pertama pada kecelakaan kepada pekerja pada lokasi ceksplorasi dan eksploitasi pengusahaan sumber daya panasbumi. Pasal 44 (1) Tenaga medis dan atau paramedis wajib menolong, mengobati dan merawat korban sampai dapat dipindahkan atau . menjamin bahwa alat-alat termaksud pada huruf a tersebut diatas selalu dalam keadaan baik; 14 ©) © Memperhatikan keschatan kerja pada tempat kerja, antara lain : ymenyediakan air minum dan makanan yang sesuai dengan persyaratan gizi pekerja; ~~ memperhatikan kebersihan semua tempat kerja; ~ menyediakan tempat mandi yang culup memadai, bersih dan memenuhi persyaratan kesopanan dan sistem sanitasi lingkungan a nelakukan tindakan terentu untuk menciptakan Kelestarian lingkungan dan menjamin terdapatnya tempat kerja ‘yang aman dan sehat. €. melengkapi pekerja Pekerja dengan palaian era yang dapat menahan udara dingin pada tempat kerja yang temperaturnya Jeurang dari 20°C. Pasal 47 Dilarang membuang gas/mengablas gas berbahaya yang mempunyai konsentrasi tinggi, kecuali setelah melalui suatu behan pengitat racun (absorber) untuk mengurangi emisi gas sehingga berada diavah nai ambang balas yang ditetapkan, Pasal 48 a tpt porta onion ran ahs hans pet menu cara engin dengan bar ‘kerja perorangan dan peralatan penyelamatan yang. (©) Pekera harus dapat menjamin tahwa Keselamstan kerja yang akan digmakan dalam keadaan baik dan wajib meni pt sees Papas ways pba ps Koon pt loot eo © @) Tempat tinggai pekerja harus berada di luar daerah lingkungan insalasi, dalam jarak yang aman, selalu ‘memperhatikan sanitasi dan menjamin kelestarian lingkungan. BAB XVI KEWAJIBAN UMUM PENGUSAHA, PENYELIDIK, KEPALA TEKNIK TAMBANG DAN BAWAHANNYA Pasal 49 © Gemetian dan Kepula Teli Tamang wajb menaga dtaanya Ktentuan-etentuan Peratran Mente ii cara _meinbina, memberikan instruksi, menyediakan peralatan dan perlengkapan serta melakukan Pramas ng nepal a nneingar S‘el @ Paget atau Kepala Tei Tamang wajb menbuat daitar hadi dan daar pembogin kerja untuk para Pekcerja, sehingga setiap saat dapat iketahui dengan jelas pekerjaan dan tempat kerja pekerja yang bersanglautan. @ Pingu sadhana lero emia aw Kala Teak Tang yang dunk mej ae atau ditunjuk ‘untuk melakukan pengawasan pada suatu bagian lokasi ‘kegiatan dalam batas-batas lingkungan pekerjaan yang menjadi wewenangnya, wajib menjaga ditatinya ketentuan-ketentuan peraturan Menteri mea i halnya seorang Penyelidik atau Kepala Teknik Tambang. Pasal 50 (Rows wa Kes Teak Tents as re an dunk nik mening web ment eh nspksi Tambang dalam melaksnakan pemeriksanlolasikegitaneksploasi, cksploitasi dan produksi anasbumi, 2) Fengusaha, Penyeidik, Kepala Tenik Tambang dan stip pekerja yang berada pada loka keiatan eksplorai eksploitasi dan produksi sumber daya panasbumi wajib memberikan keferangan yang benar yang diminta Pelaksanaan Inspeksi Tambang. G) Pengusaha diwajibkan menyediakan fasilitas pengangkutan, komunikasi akomodasi dan fasilitas lainnya yang layak ‘yang diperlukan Pelaksana Inspeksi Tambang dalam melaksanakan pemeriksaan, penclitian dan penyelidikan. Pasal $1 @ cet att kcala Tenik Tantang wai) mens dan menyinpan diempat pera daftar keeakaan ceksplorasi dan Cksploitas pengusha sumber daya panatumi yang dsusun sesuai bent yang dietapkan oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. Pemenk tna Kepala Teinik Tatung wad membestahukan scars teri kepada Kepla Peaksan Ispekst dan Pemerintah Daerah setempat tiap keoelakaan yang menimpa sescorang di tempat pekerjaan yang Pe ap pe a ey eye bpny ape nected Setclah diketahui akibat kecelakaan tersebut, Pemiberitahuan terscbut haras dibuat sesuai bentuk yang ditetapkan oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. reapeneean eet ee aae/aiis weoeeee Me bak Apostles ee ‘Wajib segera diberitahukan secara tertulis kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. (4) Penyelidik atau Kepala Teknik Tambang wajib segera memberitahukan kecelakaan yang mengakibatkan kerugia ‘mats besar kepada Kepala Pelaksonalnspeksi Tambang, dengan menyebut sft sera besareyajonlah Keren tersebut, (7) Penyclidik atau Kepala Teknik Tambang wajib menyampaikan kepada Pelaksana Inspeksi Tambang daftarjumlah ‘tenaga kerja rata-rata dalam setahun pada setiap akhir tahun takwim sesuai bentuk yang ditetapian oleh Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang. 16, a) @) a @Q) ay Q) a Pasal 52 ‘Untuk keperluan pemberitahuan termaksud dalam Pasal 51 ayat (2) dan ayat (3), kecelakaan eksplorasi dan * ceksploitasi pengusahaan sumber daya panasbumi dibagi dalam 4 (empat) golongan yaitu : a. ringan, kecelakaan yang baik mengakibatkan kehilangan hari kerja; oe b. sedang, kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan hari kerja dan diduga tidak akan mengakibatkan cacat Jasmani dan atau rohani yang akan mengganggu tugas pekerjaannya; ¢. berat, kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan hari kerja dan diduga akan mengakibatkan cacatjasmani ddan atau rohani yang akan mengganggu tugas pekerjaannya; 4. mati, kecelakaan yang mengakibatkan kematian sdegera atau dalam jangka waktu 24 (dua puluh empat) jam setelah terjadinya kecelakaan, ‘Untuk keperluan laporan kecelakaan eksplorasi dan eksploitasi pengusahaan sumber daya panasbumi termaksud dalam Pasal 51 digunakan penggolongan kecelakaan termaksud pada ayat (1) Pasal ini yang didasarkan pada keadaan nyata akibat kecelakaan terhadap pekerja yang mendapat kecelakaan. BAB XVI TUGAS DAN WEWENANG PELAKSANA INSPEKSI TAMBANG Pasal 53 Pelaksana Inspeksi Tambang wajib membuat berita acara berdasarkan sumpah jabatannya mengenai hasil penyelidikan dan menyampaikannya kepada Direktur cq Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang, Pelaksana Inspeksi Tambang dalam melakukan tugasnya setiap saat berwenang memasuki bagian-bagian lokasi eksplorasi dan eksploitasi pengusahaan sumber daya panasbumi. BAB XVIII KEBERATAN DAN PERTIMBANGAN Pasal 54 Apabila Pengusaha, Penyelidk atau Kepala Teknik Tambang tidak dapat menerima keputusan Pelaksana Inspeksi ‘Tambang dalam hal-hal yang bersiftteknis, maka mereka dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang untuk mendapat pertimbangan. Keputusan Kepala Pelaksana Inspeksi Tambang dalam hal termaksud pada ayat (1) pasal ini adalah mengikat. BAB XIX PENGAWASAN Pasal 55 Pelaksana Inspeksi Tumbang berwenang menetapkan petunjuk-petunjuk tertulissetempat yang berkaitan dengan tindakan yang harus dilakukan untuk melaksanakan persyaratan yang ditetapkan berdasarkan : 7 @ e @ w @) eB) @ (5) © ay ‘a. ketentuan-ketentuan Peraturan Menteri ini; b. ketentuan-ketentuan khusus termaksud pada ayat (2) Pasal ini. Direktur Jenderal berwenang menetapkan ketentuan khusus sebagai pelengkap ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri ini Pengertian istilah-istilah : “cukup", "baik", "sesuai", “amam”, “tertentu”, “diakui", “ditentukan” yang terdapat