Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISA MAKANAN DAN MINUMAN

“PENENTUAN LAKTOSA DALAM SUSU CAIR”

Oleh

Kelompok VII

1. Ni Made Rusmaladewi (P07134015010)


2. Ni Kadek Ayu Kusumayanti (P07134016009)
3. Ni Putu Mita Somantya Cahyani (P07134016018)
4. Ni Putu Ayu Indah Paramita (P07134016029)
5. Ni Nyoman Dheka Purwita Sari (P07134016036)
6. I Nyoman Ocef Prambada (P07134016045)
7. Nesia Ayu Sri Astiti (P07134016049)

JURUSAN ANALIS KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
2018

PENENTUAN LAKTOSA DALAM SUSU CAIR

I. Tujuan
A. Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa mampu memahami teknik/cara penentuan laktosa dalam
susu cair.
B. Tujuan Instruksional Khusus
1. Mahasiswa dapat menentukan kadar laktosa dalam susu cair.
2. Mahasiswa dapat membandingkan kadar laktosa pada berbagai
produk susu cair.

II. Metode
Metode dalam penentuan kadar laktosa dalam susu menggunakan
metode Luff Schoorl.

III. Prinsip
Laktosa bersifat reduktor akan mereduksi Cu2+ menjadi Cu+,
kelebihan Cu2+ ditetapkan dengan titrasi iodometri. Dengan menetapkan
larutan blanko, maka volume natrium tiosulfat yang dibutuhkan untuk
menitrasi kelebihan Cu2+ dapat diketahui, dan setara dengan jumlah laktosa
yang terdapat dalam sampel.

IV. Dasar Teori

Susu merupakan sumber nutrisi yang penting untuk pertumbuhan


bayi mammalia, termasuk manusia, yang mengandung karbohidrat
(laktosa), protein, lemak, mineral dan vitamin. Laktosa merupakan satu-
satunya karbohidrat yang terdapat dalam susu yang dihasilkan oleh
mammalia. Laktosa hanya dibuat di sel-sel kelenjar mammae pada masa
menyusui melalui reaksi antara glukosa dan galaktosa uridin difosfat
dengan bantuan lactose synthetase. Kadar laktosa dalam susu sangat
bervariasi antara satu mammalia dengan yang lain. ASI mengandung 7%
laktosa, sedangkan susu sapi hanya mengandung 4%. Laktosa merupakan
sumber energi yang memasok hampir setengah keseluruhan kalori susu (35
– 45%). Di samping itu laktosa juga penting untuk absorpsi kalsium
(Ekologi & Salns, 2012).

Tingginya kandungan gizi pada susu justru merupakan media yang


baik bagi pertumbuhan mikroba, sehingga susu merupakan salah satu
bahan pangan yang mudah rusak atau perishable. Kelemahan susu dalam
hal masa simpan yang relative singkat membutuhkan sentuhan teknologi
modern berupa pasteurisasi. Pasteurisasi efektif membunuh mikroba yang
berpotensi patogenik di dalam susu, namun proses ini ternyata tidak dapat
mematikan sporanya, terutama spora mikroba yang bersifat termoresisten
atau tahan terhadap suhu tinggi, sehingga diperlukan aplikasi proses
penanganan lainnya berupa pengawetan yang bertujuan untuk
memperpanjang masa simpan susu pasteurisasi (Hariyadi, 2000).

Laktosa merupakan disakarida yang dihasilkan oleh manusia, sapi,


dan hampir seluruh mamalia lainnya. Laktosa merupakan gula pereduksi
yang menghidrolisis untuk menghasilkan D-glukosa dan D-galaktosa;
ikatan yang menyambungkan keduanya adalah β (Ekologi & Salns, 2012)

Beberapa sifat laktosa:

1. Hidrolisis laktosa menghasilkan molekul glukosa dan galaktosa.

2. Hanya terdapat pada hewan mamalia dan manusia.

3 Bereaksi positif terhadap pereaksi fehling, benedict, dan tollens

Laktosa disusun oleh satu molekul glukosa dan satu molekul


galaktosa. Laktosa bertanggung jawab langsung terhadap rasa manis susu.
Laktosa juga merangsang pertumbuhan bakteri tertentu yang membentuk
asam laktat di dalam usus halus. Dan, asam laktat dipercaya membantu
penyerapan Ca dan P untuk pembentukan tulang. Glukosa merupakan
prekursor laktosa. Dua molekul glukosa memasuki sel ambing untuk tiap
molekul laktosa yang dibentuk. Kondensasi molekul glukosa kedua terjadi
di dalam aparatus Golgi dan dikatalis oleh enzim yang disebut laktosa
sintetase (Ekologi & Salns, 2012) .

Intoleransi laktosa merupakan suatu kondisi yang sering terjadi di


seluruh dunia dimana laktosa tidak bisa tercerna dengan baik karena
adanya defisiensi ensim laktase. Laktosa yang tidak bisa terpecah menjadi
glukosa dan galaktosa inilah yang akan menimbulkan beberapa
manifestasi klinis yang beragam, mulai dari sakit perut, mual, muntah,
kembung, hingga diare (Heyman, 2006). Dalam kondisi tertentu, laktosa
yang terkandung dalam susu, baik ASI maupun susu formula tidak bisa
dipecah menjadi bagian-bagian penyusunnya di dalam usus halus yang
mengonsumsinya, sebagai akibat tiadanya asupan getah pencernaan
laktase. Kejadian semacam ini sering dikenal se-bagai infeksi laktosa.
Infeksi laktosa dapat terjadi bila bayi tidak mendapatkan asupan getah
pencernaan laktase yang memadai. Getah pencernaan laktase adalah enzim
yang dibutuhkan bayi untuk mencerna laktosa, salah satu jenis karbohidrat
atau gula yang terdapat dalam susu sapi atau susu formula yang berbahan
dasar susu sapi (Wyeth Nutrition, 2011).

Metode Luff Schoorl berdasarkan proses reduksi dari larutan Luff


Schoorl oleh gula-gula pereduksi (semua monosakarida, laktosa dan
maltosa). Hidrolisis karbohidrat menjadi monosakarida yang dapat
mereduksikan Cu2+ menjadi Cu1+. Penentuan karbohidrat yang termasuk
polisakarida maupun oligosakarida memerlukan pendahuluan yaitu
hidrolisis lebih dahulu sehingga diperoleh monosakarida. Untuk keperluan
ini, maka bahan dihidrolisa dengan asam atau enzim pada suatu keadaan
tertentu. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Luff Schoorl.
(Wyeth Nutrition, 2011).

V. Waktu dan Tempat Praktikum


A. Waktu : Senin, 12.30-14.20
B. Tempat : Laboratorium Kimia Terapan

VI. Alat dan Bahan


Alat
Erlenmeyer

Pipet Volume

Buret dan Statif

Ball Pipet
Kompor Listrik

Labu Takar

Bahan

NaOH
KI 20%

H2SO4

Amilum
ZnSO4

Luff Schoorl

Na2SO3

Sampel susu kemasan


VII. Cara Kerja
A. Pembuatan Larutan ZnSO4
1. Dilarutkan 17,65 gram seng (II) sulfat dalam 100 mL akuades
2. Disimpan dalam wadah larutan dan diberikan label
B. Pembuatan LarutanNaOH 0,75 N
1. Ditimbang sebanyak 7,5 gram NaOH dan dilarutkan dalam 250 mL
akuades
2. Pembuatan Disimpan dalam wadah larutan dan diberikan label

C. Pembuatan Larutan Luff Schoorl


1. Sebanyak 6,25 gram CuSO4 5H2O (bebas dari besi) dilarutkan dalam
25 mL akuades
2. Sebanyak 12,5 gram asam sulfat dilarutkan dalam 12,5 mL akuades
3. Sebanyak 35,95 gram Na2CO3 anhidrat dilarutkan dalam 75 sampai
100 mL akuades mendidih
4. Larutan asam asam dituangkan kedalam larutan soda sambil
dihomogenkan dengan hati-hati. Selanjutnya ditambahkan dengan
larutan CuSO4, sesudah dingin ditambahkan akuades sampai 250 mL.
Bila terjadi kekeruhan, didiamkan dan disaring

D. Pembuatan Larutan H2SO4 26,5%


1. Dilarutkan sebanyak 4 ml H2SO4 pekat kedalam gelas beker yang telah
berisi akuades sebanyak 11 m. (Banyaknya larutan disesuaikan dengan
kebutuhan)
2. Disimpan dalam wadah larutan dan diberikan label

E. Pembuatan Larutan KI 20%


1. Dilarutkan sebanyak 2 gram KI dalam akuades sampai volume 10
mL. . (Banyaknya larutan disesuaikan dengan kebutuhan).
2. Disimpan dalam wadah larutan dan diberikan label
F. PembuatanLarutanIndikatorAmilum
1. Disuspensi 1 gram amilum soluble dengan akuades, dimasukkan
akuades mendidih sebanyak 100 mL
2. Disimpan dalam wadah larutan dan diberikan label

G. Pembuatan Larutan Na2S2O3 5H2O 1 N


1. Sebanyak 25 gram Na2S2O3 5H2O ditambah dengan 0,3 gram natrium
karbonat dimasukkan kedalam labu ukuran 1 liter kemudian
diencerkan dengan akuades sampai tanda batas.
2. Disimpan dalam wadah larutan dan diberikan label

H. Penentuan Kadar LaktosapadaMinumanSusu


1. Dipipet sampel susu sebanyak 10 mL, ditambahkan 5 mL pereaksi
ZnSO4 kemudian dihomogenkan
2. Ditambahkan 5 ml larutan NaOH 0,75 N, dihomogenkan, kemudian
diencerkan dengan akuades sampai volume 50 mL
3. Didiamkan suspense selama kurang lebih 10 menit untuk mendapatkan
senua protein, kemudian disaring dengan kertas saring, filtrate
dikumpulkan
4. Dipipet 1 mL filtrate yang jernih \, dimasukkan kedalam Erlenmeyer
250 mL dan ditambahkan dengan 10 mL larutan Luff Schoorl
5. Kemudian Erlenmeyer dipanaskan (maksimal 2 menit sudah
mendidih). Pendidihan dipertahankan selama 10 menit
6. Didinginkan, kemudian ditambahkan 15 mL larutan H2SO4 26,5% dan
ditambahkan KI 20%
7. Iodium yang dibebaskan dititrasi dengan Na2SO3 0,1 N sampai
berwarna kuning pucat. Ditambahkan 1 mL indicator amilum lalu
dilanjutkan titrasi sampai berwarna abu-abu (putih susu). Dilakukan
pengulangan secara triplo.
8. Dibuat larutan blanko dengan mengganti 10 mL sampel susu dengan
10 mL akuades, perlakuan blanko sama seperti pada larutan sampel
9. Dihitung kadar laktosa.
VIII. Hasil Pengamatan

Sampel Volume Volume Kadar Perubahan Warna


Titrasi Blanko Titrasi Sampel Laktosa Dalam Titrasi dan
Nilai Rerata
Titrasi 1 = 11,5 Titrasi 1 = 11,1 2,88 mg Perubahan warna:
mL mL
Sampel susu Titrasi 2 = 11,1 Titrasi 2 = 9,9 - Sebelum titrasi
ultramilk rasa mL mL berwarna kuning
Titrasi 3 = 11,6 Titrasi 3 = 10,8 - Setelah titrasi
stawbery
mL (tanpa penambahan
amilum)
Kuning pucat
- Titrasi setelah
penambahan
amilum
Putih susu

 Nilai rerata
blanko : 11,4 mL
 Nilai rerata
sampel :
10,6 mL

Titrasi 1 Titrasi 2 Titrasi 3 Keterangan

Hasil setelah dipanaskan


selama 10 menit terjadi
perubahan warna
menjadi hijau tua
Setelah dipanaskan
kemudian ditambahkan
larutan H2SO3 0,1 N
terjadi perubahan warna
menjadi ungu muda

Setelah ditambahkan
larutan H2SO3 0,1 N
kemudian ditambahkan
larutan KI 20% terjadi
perubahan warna
menjadi kuning pekat

Setelah ditambahkan
larutan KI 20%
kemudian dilakukan
titrasi dengan larutan
Na2SO3 0,1 N terjadi
perubahan warna
menjadi kuning pu

Setelah titrasi dengan


larutan Na2SO3 0,1 N
ditambahkan indikator
amilum terjadi
perubahan warna
menjadi abu-abu (putih
susu)
Tabel hasil kadar laktosa semua kelompok

Nama sampel Kadar laktosa

Sampel susu ultramik rasa stawberry 2,88 mg

Susu frisian flag rasa cokelat 11,37 mg

Susu kedelai 3,6 mg

Sampel yakult 3,6 mg

Susu indomilk 3,24 mg

Susu milo 5,292 mg

Chimori 15,8 mg

Yoghurt bulgarian 5,04 mg

Perhitungan :
A. Titrasi Blangko
1. Titrasi blanko I
Diketahui : Vol. titran sebelum ditambahkan amilum = 7,2 ml
Vol. titran setelah ditambahkan amilum = 4,3 ml
Ditanya : Volume total titran =…...?
Jawab :
Vtotal titran = Vtitran sebelum ditambah amilum + V titran setelah ditambah amilum
= 7,2 ml + 4,3 ml
= 11,5 ml
Jadi volume total titran yang diperlukan pada titrasi blanko I yaitu sebanyak
11,5 ml.
2. Titrasi blanko II
Diketahui : Vol. titran sebelum ditambahkan amilum = 8,4 ml
Vol. titran setelah ditambahkan amilum = 2,7 ml
Ditanya : Volume total titran =…...?
Jawab :
Vtotal titran = Vtitran sebelum ditambah amilum + V titran setelah ditambah amilum
= 8,4 ml + 2,7 ml
= 11,1 ml
Jadi volume total titran yang diperlukan pada titrasi blanko II yaitu sebanyak
11,1 ml.
3. Titrasi blanko III
Diketahui : Vol. titran sebelum ditambahkan amilum = 5,6 ml
Vol. titran setelah ditambahkan amilum = 6,0 ml
Ditanya : Volume total titran =…...?
Jawab :
Vtotal titran = Vtitran sebelum ditambah amilum + V titran setelah ditambah amilum
= 5,6 ml + 6,0 ml
= 11,6 ml
Jadi volume total titran yang diperlukan pada titrasi blanko III yaitu sebanyak
11,6 ml.
4. Volume rata-rata total titran pada titrasi blanko
Diketahui : Vol. total titran blanko I = 11,5 ml
Vol. total titran blanko II = 11,1 ml
Vol. total titran blanko III = 11,6 ml
Ditanya : Vol. rata-rata total titran blanko=……?
Jawab :

Jadi volume rata-rata total titran blanko yaitu sebanyak 11,4 ml.

B. Titrasi sampel
1. Titrasi I
Diketahui : Vol. titran sebelum ditambahkan amilum = 5,9 ml
Vol. titran setelah ditambahkan amilum = 5,2 ml
Ditanya : Volume total titran =…...?
Jawab :
Vtotal titran = Vtitran sebelum ditambah amilum + V titran setelah ditambah amilum
= 5,9 ml + 5,2 ml
= 11,1 ml
Jadi volume total titran yang diperlukan pada titrasi I yaitu sebanyak 11,1 ml.
2. Titrasi II
Diketahui : Vol. titran sebelum ditambahkan amilum = 6,6 ml
Vol. titran setelah ditambahkan amilum = 3,3 ml
Ditanya : Volume total titran =…...?
Jawab :
Vtotal titran = Vtitran sebelum ditambah amilum + V titran setelah ditambah amilum
= 6,6 ml + 3,3 ml
= 9,9 ml
Jadi volume total titran yang diperlukan pada titrasi II yaitu sebanyak 9,9 ml.
3. Titrasi III
Diketahui : Vol. titran sebelum ditambahkan amilum = 6,7 ml
Vol. titran setelah ditambahkan amilum = 4,1 ml
Ditanya : Volume total titran =…...?
Jawab :
Vtotal titran = Vtitran sebelum ditambah amilum + V titran setelah ditambah amilum
= 6,7 ml + 4,1 ml
= 10,8 ml
Jadi volume total titran yang diperlukan pada titrasi III yaitu sebanyak 10,8
ml.
4. Volume rata-rata total titran pada titrasi blanko
Diketahui : Vol. total titran I = 11,1 ml
Vol. total titran blanko II = 9,9 ml
Vol. total titran blanko III = 10,8 ml
Ditanya : Vol. rata-rata total titran sampel=……?
Jawab :

Jadi volume rata-rata total titran sampel yaitu sebanyak 10,6 ml.

C. Perhitungan kadar laktosa dalam sampel susu


Diketahui : V rata-rata total titran blanko = 11,4 ml
V rata-rata total titran sampel = 10,6 ml
Ditanya : Kadar laktosa pda sampel =……….?
Jawab :
ml Na2S2O3 0,1 N = V rata-rata titran blanko + V rata-rata titran sampel
= 11,4 ml – 10,6 ml = 0,8 ml
Kadar laktosa dihitung dengan membandingkan nilai pada tabel
perhitungan kadar laktosa

Jadi kadar laktosa dalam sampel susu ultramilk yaitu sebesar 2,88 mg.

IX. Pembahasan

Laktosa dalam bentuk bebas dan tidak terikat dengan molekul


lainnya hanya dapat ditemukan pada susu. Laktosa disintetase dengan
menggunakan UDP-galaktose dan glukosa sebagai substrat. Sintetase
laktose terdiri dari 2 subunit: galactosyltransferase dan α-lactalbumin. α-
lactalbumin merupakan subunit yang meyebabkan galactosyltransferase
mengubah galaktosa menjadi glukosa. Subunit katalitik meningkat selama
kehamilan, dimana kadar α- lactalbumin dipengaruhi oleh hormon dan
meningkat hanya pada akhir kehamilan ketika kadar prolaktin meningkat
(Wicaksono, 2014).

Laktosa adalah disakarida yang terdiri dari komponen glukosa dan


galaktosa. Manusia normal tidak dapat menyerap laktosa, oleh karena itu
harus dipecah menjadi komponen-komponennya. Intoleransi laktosa
adalah keadaan kekurangan atau tidak adanya enzim laktase sehingga
laktosa tidak dapat dihidrolisis dan diserap di usus halus. Intoleransi
laktosa dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu, intoleransi laktosa primer dan
intoleransi laktosa sekunder. Intoleransi laktosa primer merupakan
intoleransi laktosa yang umumnya bersifat permanen (bawaan, genetik),
paling banyak terjadi di Asia, Australia dan Afrika. Intoleransi sekunder
disebabkan gastroenteritis, pada anak diperkirakan 30-50% disebabkan
infeksi Rotavirus yang dapat pulih kembali 2-3 minggu setelah terinfeksi
(Febyan et al., 2017).

Metabolisme Laktosa yaitu karbohidarat yang dimakan diserap


dalam bentuk monosakarida (glukosa, galaktosa, dan fruktosa). Karena itu
laktosa harus dihidrolisa menjadi glukosa dan galaktosa terlebih dahulu
agar proses absorbsi dapat berlangsung. Hidrolisa ini dilakukan oleh
laktase (β-galactosidase), suatu enzim yang terdapat pada brush border
mukosa usus halus. Semakin rendah kadar laktosa yang dihasilkan maka
semakin tinggi pula aktivitas bakteri dalam memecah laktosademikian
pula sebaliknya. Laktosa merupakan gula pereduksi. Pada fermentasi,
laktosa berfungsi sebagai subtrat, substrat ini akan dipecah menjadi asam
laktat. Selain laktosa, substrat yang digunakan bakteri asam laktat berasal
pula dari kacang hijau. HalIni ditunjukkan dengan Penurunan kadar
laktosa whey fermentasi seiring dengan peningkatan penambahan jus
kacang hijau yang berarti terjadi peningkatan aktivitas bakteri
(Nawangsari, Legowo, & Mulyani, 2012).
Laktosa merupakan salah satu komponen terbesar susu dan
prekusor utamanya adalah glukosa darah. Pada kelenjar susu, molekul
glukosa mengalami posporilasi dari bentuk glukosa 6-phosphat menjadi
glukosa 1-phosphat. Glukosa 1-phosphat bersama uridin tripohosphat
(UTP) membentuk glukosa diphosphat (UDP). UDP glukosa kemudian
dikonversi menjadi UDP galaktosa. UDP glukosa bersama glukosa bebas
membentuk laktosa dengan pembebasan UDP, selanjutnya sintesis laktosa
dikatalisasi oleh enzim laktosa sintetase. Laktosa dibentuk dari satu
molekul glukosa dan satu molekul galaktosa. produksi laktosa
berpengaruh pada tekanan osmosis antara darah dan lumen susu.
Tingginya tekanan osmotik pada lumen susu akibat produksi laktosa yang
tinggi menyebabkan aliran air dari darah ke lumen susu sehingga produksi
susu meningkat (F.D. Utari, 2012).

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada hari senin, 26


februari 2018 didalam penentuan laktosa dalam susu cair dimana metode
yang digunakan adalah metode Luff Schoorl, digunakan beberapa sampel
susu dari jenis dan merk yang berbeda. Beberapa sampel susu yang
digunakan yakni susu ultramilk rasa strawberry, susu milo, susu kedelai,
susu indomilk, susu frisianflag, dan yakult. Dimana pengujian ini
dilakukan dengan tujuan untuk mengamati kadar laktosa didalam masing-
masing susu tersebut. Dari hasil pengujian, didapatkan kadar laktosa dari
susu ultramilk rasa strawberry yakni sebesar 2,88 mg laktosa, susu milo
5,29 mg, susu susu kedelai 3,6 mg, susu indomilk 3,24 mg, susu Frisian
flag 11,37 mg, chimory 15,8 mg, yogurt Bulgarian 5,04 mg, dan yakult
sebesar 3,6 mg.

Komponen utama susu terdiri dari air, protein, lemak, karbohidrat,


vitamin dan mineral. Susu mengandung protein bermutu tinggi dengan
kadar lemak 3,0 hingga 3,8%. Kandungan gulanya (glukosa) yang
diperoleh dari karbohidrat pun cukup tinggi, 5% tapi rasanya tidak manis
karena gula susu yaitu laktosa yang daya kemanisannya lebih rendah dari
gula pasir atau sukrosa. Laktosa merupakan bentuk karbohidrat yang
terdapat di dalam susu. Bentuk ini tidak terdapat pada bahan-bahan
makanan yang lain. Kadar laktosa dalam susu adalah 4,6% dan ditemukan
dalam keadaan larut. Laktosa terbentuk dari dua komponen gula yakni
glukosa dan galaktosa. Sifat air susu yang sedikit manis ditentukan oleh
laktosa. Kadar laktosa dalam air susu dapat dirusak oleh beberapa jenis
kuman perusak asam susu. (Hidayat, Kusrahayu, & Mulyani, 2013)

Dari hasil diatas, dapat dikatakan bahwa nilai kadar laktosa pada
setiap produk susu maupun bentuk olahan susu berbeda-beda. Kadar
laktosa kadang-kadang memiliki ketidaksamaan disetiap jenis makanan,
hal ini karena pengaruh suplementasi protein terproteksi dalam makanan
satu dengan makanan lainnya berbeda. Asam amino yang terserap didalam
usus diubah menjadi glukosa didalam hati melalui proses glukoneogenesis,
sehingga meningkatkan kadar glukosa dalam darah dan kemudian
meningkatkan kadar laktosa susu. Hal ini menunjukan bahwa glukosa
merupakan precursor utama untuk pembentukan laktosa susu (F.D. Utari,
2012). Kadar laktosa tertinggi didapatkan dari sampel Chimory dimana
produk ini merupakan produk hasil olahan susu yang difermentasi.
Sedangkan kadar laktosa terendah didapatkan pada sampel susu ultramilk
yang merupakan salah satu produk susu UHT. Hal ini menunjukkan bahwa
susu yang diolah atau difermentasikan memiliki kandungan laktosa yang
lebih besar dibandingkan dengan susu jenis lainnya. Perbedaan ini
disebabkan karena masing-masing jenis susu memiliki kandungan glukosa
atau karbohidrat yang beragam, dimana telah dikatakan sebelumnya bahwa
glukosa berperan penting dalam sintesis laktosa. Semakin banyak
karbohidrat (glukosa) yang diserap dan dihidrolisis, semakin tinggi kadar
laktosa yang diperoleh. (Hidayat, Kusrahayu, & Mulyani, 2013)

Laktosa adalah salah satu komponen di dalam susu yang banyak


dimanfaatkan oleh mikroorganise khususnya bakteri asam laktat untuk
proses fermentasi. Laktosa yang terdapat dalam susu akan digunakan oleh
bakteri sebagai sumber energi dan sumber karbon selama pertumbuhan
pada saat fermentasi. Selama proses fermentasi, bakteri asam laktat akan
memfermentasi karbohidrat yang ada hingga terbentuk asam laktat. Proses
tersebut mula-mula laktosa dihidrolisis oleh biakan glukosa dan galaktose
atau galaktose-6-fosfat. Selanjutnya melalui rantai glikolisis dan piruvat
glukosa dirubah menjadi asam laktat. Pembentukan asam laktat ini
menyebabkan peningkatan keasaman dan penurunan nilai pH. Asam laktat
yang dihasilkan akan mempengaruhi terhadap karakteristik yoghurt yang
dihasilkan. Semakin tinggi laktosa maka jumlah asam laktat yang
dihasilkan akan semakin tinggi juga. Penguraian laktosa menjadi asam
laktat dipengaruhi oleh banyaknya laktosa dan jumlah bakteri asam laktat
yang ditambahkan. Peningkatan atau penurunan kadar laktosa dalam susu
atau produk fermentasi dipengaruhi oleh tingkat kemampuan bakteri asam
laktat dalam menguraikan laktosa. Karena itu kadar laktosa diketahui
sangat berperan dalam menilai kualitas susu dan dalam pembuatan
yoghurt. (Hidayat, Kusrahayu, & Mulyani, 2013)

Untuk mendapatkan hasil tersebut dapat dilakukan dengan


beberapa tahapan yaitu dengan metode luff schoorl dengan iodometri.
Metode Luff Schoorl merupakan salah satu metode yang dapat digunakan
untuk menentukan kadar karbohidrat secara kimiawi. Prinsip dari metode
ini adalah laktosa bersifat sebagai gula pereduksi maka akan mereduksi
Cu2+ menjadi Cu+, kelebihan Cu2+ ditetapkan dengan titrasi iodometri.
Dengan menetapkan larutan blanko, maka volume natrium tiosulfat yang
dibutuhkan untuk menitrasi kelebihan Cu2+ dapat diketahui, dan setara
dengan jumlah laktosa yang terdapat dalam sampel.(Ratnasari, 2014).

Titrasi dihentikan bila telah terjadi perubahan warna dari biru tua
menjadi bening Reaksi yang terjadi dalam penentuan gula cara Luff
Schoorl dapat dituliskan sebagai berikut:
R – COH + 2CuO Cu2O + R-COOH
H2SO4 + CuO CuSO4 + H2O CuSO4 + 2 KI Cu2I2
I2 + Na2S2O3 Na2S4O6 + NaI
Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar
karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart
dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode terbaik untuk
mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%
(Pradnyana, Parwata, & Sudarma, 2014).
Iodometri adalah titrasi tidak langsung yang digunakan untuk
menetapkan senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi lebih
besar dari sistem iodium-iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat
oksidator seperti CuSO4.5H2O. Melalui titrasi tak langsung ini maka
semua oksidator yang akan ditetapkan kadarnya direaksikan terlebih
dahulu dengan ion iodida berlebih sehingga I2 dapat dibebaskan.
Selanjutnya I2 yang dibebaskan ini dititrasi dengan larutan baku sekunder
Na2S2O3 dengan indikator amilum. Selain itu, titrasi iodometri ini
digunakan untuk pembakuan larutan Na2S2O3 yang akan digunakan
sebagai pentitran (Pradnyana et al., 2014).

Selain melakukan suatu uji pada sampel kita harus membuat


larutan blanko juga sebagai control. Untuk membuat larutan blanko dapat
dilakukan dengan cara yang sama dengan pengujian sampel tetapi sampel
diganti dengan menggunakan akuadest. Cara pengujian untuk sampel
adalah dengan cara dipipet terlebih dahulu sampel susu cair sebanyak 10,0
mL dan ditambahkan 5 mL pereaksi ZnSO4 kemudian ditambhakan dengan
NaOH 0,75 N sebanyak 5 mL kemudian ditambahakna akuadest sampai
volumenya 50 mL dengan menggunakan labu ukur. Penambahan ZnSO4
dan NaOH dilakukan untuk mengendapkan protein sehingga komponen-
komponen lain yang terdapat pada susu dapat terpisah. Fungsi dari
pemisahan tersebut adalah untuk mencegah terjadinya pengendapan
protein akibat penambahan reagen Luff Schoorl yang sebagian besar
mengandung Cu(logam berat). Jika protein tidak diendapkan, maka akan
berpengaruh pada hasil analisis. Selanjutnya suspensi didiamkan hingga
10 menit lalu disaring dengan kertas saring. Sebanyak 1 mL saringan
pertama dibuang untuk menghilangkan sisa komponen lain yang
mengganggu analisis (Arifin, 2014).
Filtrat hasil dari penyaringan lalu dipipet sebanyak 1 mL secara
kuantitatif. Larutan sampel dibuat triplo untuk mengantisipasi terjadinya
kesalahan saat titrasi. Filtrat tersebut lalu dimasukkan ke dalam
erlenmeyer dan ditambahkan larutan Luff Schoorl sebanyak 10 mL.
Sebelum di refluks, seharusnya dimasukkan beberapa buah batu didih ke
dalam masing-masing erlenmeyer. Batu didih ditambahkan untuk
mencegah terjadinya bumping serta pemanasan dapat merata. Setelah itu
larutan dipanaskan dengan menggunakan refluks. Tetapi dalam
pengamatan ini tidak ditambahkan batu didih karena keterbatasan dalam
alat. Tujuan dari perefluksan adalah untuk menghidrolisis sampel agar
larutan menjadi bentuk monosakaridanya. Selain itu, untuk menghindari
keluarnya zat-zat volatile ke lingkungan. Setelah mendidih, proses
pendidihan dipertahankan hingga 10 menit agar proses reduksi berjalan
dengan sempurna. Saat proses tersebut, larutan Luff Schoorl akan bereaksi
dengan sampel yang mengandung gula pereduksi, dalam hal ini laktosa.
Laktosa akan mereduksi CuO menjadi Cu2O yang ditandai dengan
terbentuknya endapan merah bata (Arifin, 2014).

Setelah direfluks, campuran lalu didinginkan. Selanjutnya


dilakukan penambahan larutan H2SO4 dan larutan KI ke dalam masing-
masing erlenmeyer. Pada penentuan metode ini, yang ditentukan
bukannya Cu2O yang mengendap tapi dengan menentukan CuO
direaksikan dengan sampel gula reduksi (titrasi sampel). Penentuan titrasi
dengan menggunakan larutan Na2S2O3. Selisih titrasi blanko dengan titrasi
sampel ekuivalen dengan CuO yang terbentuk dan juga ekuivalen dengan
jumlah gula reduksi yang ada dalam bahan / larutan. Reaksi yang terjadi
selama penentuan laktosa cara dengan ini mula- mula CuO yang ada dalam
reagen akan membebaskan iod dari garam KI. Banyaknya iod yang
dibebaskan ekuivalen dengan banyaknya CuO. Banyaknya iod dapat
diketahui dengan titrasi dengan menggunakan larutan Na2S2O3. Fungsi
penambahan H2SO4 untuk mengoksidasi CuO menjadi CuSO4. Selanjutnya
CuSO4 akan bereaksi dengan KI. Fungsi penambahan KI adalah untuk
membuat zat oksidator tersebut menjadi terduksi sehingga mampu
membebaskan (Ekawati, 2014).

Selanjutnya larutan ditirasi dengan menggunakan larutan Na2S2O3


hingga berubah warna menjadi berwarna kuning muda. Pada titrasi I pada
Erlenmeyer 1 didapatkan volume titran sebesar 5,9 mL , pada titrasi II
pada Erlenmeyer 2 didapatkan volume titran sebesar 6,6 mL dan pada
titrasi III pada Erlenmeyer 3 didapatkan volume titran sebesar 6,7 mL.
sedangkan pada blanko didapatkan titrasi I pada Erlenmeyer 1 didapatkan
volume titran sebesar 7,2 mL , pada titrasi II pada Erlenmeyer 2
didapatkan volume titran sebesar 8,4 mL dan pada titrasi III pada
Erlenmeyer 3 didapatkan volume titran sebesar 5,6 mL. Selanjutnya baru
ditambahkan indikator amilum. Indikator amilum ditambahkan saat
campuran mendekati TAT (titik akhir titrasi) karena amilum dapat
mengikat iod dengan kuat, Jika ditmbahkan pada awal titrasi maka dapat
menyebabkan warna pada saat TAT menjadi kurang jelas. Selanjutnya
dititrasi dengan larutan Na2S2O3 sampai didapatkan warna abu-abu yang
cenderung putih susu. Pada pengamatan ini setelah ditambahkan amilum
dan dititrasi kembali dengan Na2S2O3 di dapatkan warna putih susu. Pada
titrasi tahap 2 ini didapatkan pada titrasi I pada Erlenmeyer 1 didapatkan
volume titran sebesar 5,2 mL , pada titrasi II pada Erlenmeyer 2
didapatkan volume titran sebesar 3,3 mL dan pada titrasi III pada
Erlenmeyer 3 didapatkan volume titran sebesar 10,8 mL. sedangkan pada
blanko didapatkan titrasi I pada Erlenmeyer 1 didapatkan volume titran
sebesar 4,3 mL , pada titrasi II pada Erlenmeyer 2 didapatkan volume
titran sebesar 2,7 mL dan pada titrasi III pada Erlenmeyer 3 didapatkan
volume titran sebesar 6,0 mL.

Dari hasil triplo yang didapatkan kemudian dijumlahkan sehingga


diperoleh hasil pada sampel tritrasi I pada Erlenmeyer 1 didapatkan
voleume total titran sebesar 11,1 mL , tritrasi II pada Erlenmeyer 2
didapatkan volume total titran sebesar 9,9 mL , tritrasi III pada Erlenmeyer
3 didapatkan voleume total titran sebesar 10,8 mL sedangkan pada blanko
didapatkan tritrasi I pada Erlenmeyer 1 didapatkan volume total titran
sebesar 11,5 mL , tritrasi II pada Erlenmeyer 2 didapatkan voleume total
titran sebesar 11,1 mL , tritrasi III pada Erlenmeyer 3 didapatkan voleume
total titran sebesar 11,6 mL. kemudian volume titran hasil triplo dirata-
ratakan sehingga diperoleh volume titran sebesar 10,6 mL dan volume
rata-rata blanko sebesar 11,4 mL.kemudian dihitung volume rata-rata
blanko dikurangi volume rata-rata uji sampel didapatkan hasil 0,8 mL,
karena untuk 1 mL Na2S2O3 memiliki kadar laktosa sebanyak 3,6 mg maka
untuk 0,8 laktosa memiliki 2,88 mg laktosa. Sehingga dapat dikatakan
bahwa kadar laktosa didalam susu ultramilk rasa stwaberry adalah sebesar
2,88 mg laktosa.

X. Kesimpulan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada hari senin, 26


februari 2018 didalam penentuan laktosa dalam susu cair dimana metode
yang digunakan adalah metode Luff Schoorl, digunakan beberapa sampel
susu dari jenis dan merk yang berbeda. Beberapa sampel susu yang
digunakan yakni susu ultramilk rasa strawberry, susu milo, susu kedelai,
susu indomilk, susu frisianflag, dan yakult. Dimana pengujian ini
dilakukan dengan tujuan untuk mengamati kadar laktosa didalam masing-
masing susu tersebut. Dari hasil pengujian, didapatkan kadar laktosa dari
susu ultramilk rasa strawberry yakni sebesar 2,88 mg laktosa, susu milo
5,29 mg, susu susu kedelai 3,6 mg, susu indomilk 3,24 mg, susu Frisian
flag 11,37 mg, chimory 15,8 mg, yogurt Bulgarian 5,04 mg, dan yakult
sebesar 3,6 mg.

1. Jelaskan apakah diperlukan standarisasi natrium thiosulfat dalam proses


titrasi?
Jawab : Larutan natrium thiosulfat merupakan suatu larutan standar yang
paling sering digunakan pada proses titrasi iodometri, dikarenakan larutan
ini memiliki tingkat kemurnian yang tinggi. Akan tetapi banyak hal yang
dapat menyebabkan terjadinya ketidakpastian dari konsentrasi larutan
natrium thiosulfat yang dibuat, sehingga dalam hal ini diperlukan juga
proses standarisasi larutan. Dimana proses standarisasi larutan ini dapat
dilakukan dengan menggunakan kalium iodat, kalium dikromat, dan
iodium sebagai standar primer, satau dengan kalium permanganat sebagai
larutan standar sekundernya.
2. Jelaskan muncul adanya perubahan warna pada setiap titrasi!
Jawab : Pada setiap titrasi bahwa ada suatu senyawa yang berfungsi
sebagai suatu indicator yang menunjukkan zat bersifat asam dan zat
bersifat basa. Salah satu contoh indicator asam-basa yang terkenal adalah
indicator phenolphthalein (PP) yang biasanya digunakan dalam praktikum
titrasi. Indicator PP ini mempunyai rentang ph 8,0 – 9,6 dengan perubahan
warna dari tak berwarna (colorless – merah keunguan. Indicator ini bisa
berubah warna karena indicator asam-basa akan cenderung untuk bereaksi
dengan kelebihan asam/basa pada saat titrasi untuk menghasilkan warna.
Perubahan warna ini disebabkan oleh resonansi isomer electron. Setiap
indicator asam-basa merupakan ion yang memiliki tetapan ionisasi yang
berbeda-beda. Ion ini memiliki system yang terkonjugasi yang dapat
menyerap gelombang warna tertentu dan meneruskan gelombang warna
lainnya. Gelombang warna yang diserap adalah bagian dari spectrum
warna, sehingga ion tersebut akan terlihat berwarna. Indicator merupakan
senyawa ion yang biasanya adalah asam lemah dan dapat terionisasi dan
membentuk kesetimbangan menjadi bentuk anionnya. Biasanya warna
indicator saat belum terionisasi akan berbeda. Perubahan warna indicator
ini juga bergantung pada pKa/pKb suatu indicator. Indicator PP yang
berwarna merah keunguan berarti ionnya menyerap warna selain merah
keunguan dan meneruskan warna merah keunguan.
3. Jelaskan penentuan kadar laktosa pada susu menggunakan metode lain
selain Luft Schrool!

Jawab:

a. Metode Follin Wu Metode ini digunakan dalam analisis kuantitatif gula


dalam susu. Prinsip pengukuran kadar glukosa darah dengan metode Folin
Wu adalah ion kupri akan direduksi oleh gula dalam susu menjadi kupro
dan mengendap menjadi Cu2O. Penambahan pereaksi fosfomolibdat akan
melarutkan Cu2O dan warna larutan menjadi biru tua, karena ada oksida
Mo. Dengan demikian, banyaknya Cu2O yang terbentuk berhubungan
linier dengan banyaknya glukosa di dalam susu. Filtrat yang berwarna biru
tua yang terbentuk akibat melarutnya Cu2O karena oksida Mo dapat
diukur kadar glukosanya dengan menggunakan spektrofotometer pada
panjang gelombang 630 nm.

b. Metode Nelson-Somogyi didasarkan pada reaksi reduksi pereaksi tembaga


sulfat oleh gula-gula pereduksi. Gula pereduksi mereduksi pereaksi
tembaga (II) basa menjadi tembaga (I) oksida (Cu 2O). Cu2O ini bersama
dengan arsenomolibdat membentuk senyawa komplek berwarna. Intensitas
warna menunjukkan banyaknya gula pereduksi dengan pengujian
menggunakan λ=520 nm.

c. Metode Lane-Eynon didasarkan pada reaksi reduksi pereaksi Fehling oleh


gula-gula pereduksi. Penetapan gula pereduksi dengan melakukan
pengukuran volume larutan gula pereduksi standar yang dibuthkan untuk
mereduksi pereaksi tembaga (II) basa menjadi tembaga (II) oksida (Cu 2O).
Udara yang mempengaruhi reaksi dikeluarkan dari campuran reaktan
dengan cara mendidihkan laruta selama titrasi. Titik akhir titrasi
ditunjukkan dengan metilen blue yang warnanya akan hilang karena
kelebihan gula pereduksi di atas jumlah yang dibutuhkan untuk mereduksi
semua tembaga.

4. Laktosa merupakan disakarida yang terdiri dari glukosa dan galaktosa.


Laktosa merupakan sumber energi yang memasok hampir setengah dari
keseluruhan kalori yang terdapat pada susu (35-45%). Laktosa hanya
dibuat di sel-sel kelenjar mammae pada masa menyusui melalui reaksi
antara glukosa dan galaktosa uridin difosfat dengan bantuan laktosa
synthetase. Kadar laktosa dalam susu sangat bervariasi antara satu
mamalia dengan yang lain. ASI mengandung 7% laktosa, sedangkan susu
sapi hanya mengandung 4% laktosa atau gula susu terlarut dalam susu
sebanyak 4,8% dan memberikan rasa manis pada susu. Laktosa normal
hanya terdapat didalam susu, yaitu semacam disakarida yang terbuat dari
glukosa dan galaktosa yang kemudian diuraikan oleh enzim laktase dari
alat pencernaan. Laktosa merupakan sumber energy yang memasok
hampir setengah keseluruhan kalori susu (35-45%). Disamping itu laktosa
juga penting untuk absorpsi kalsium. Galaktosa yang merupakan hasil
hidrolisa laktosa, merupakan senyawa yang paling penting untuk
perkembangan fungsi otak. Galaktosa ini juga dapat dibentuk oleh tubuh
(dihati) dari bahan lain yaitu glukosa. Laktosa sebagai karbohidrat utama
yang terdapat didalam susu.

5. Secara teoritis, kadar laktosa dalam yogurt akan lebih rendah daripada
susu (tanpa fermentasi). Hal tersebut diakibatkan oleh aktivitas bakteri
asam laktat dalam pembuatan yogurt yang memecah laktosa menjadi asam
laktat. Tingginya aktivitas bakteri asam laktat ini dapat dilihat dari
semakin menurunnya kadar laktosa. Laktosa merupakan sumber energi
bagi bakteri asam laktat dalam proses fermentasi. Laktosa merupakan
karbohidrat yang digunakan untuk aktivitas pertumbuhan dan
pembentukan zat metabolit bakteri asam laktat. Dalam proses fermentasi,
laktosa akan dipecah menjadi glukosa dan galaktosa yang dalam proses
selanjutnya akan diubah menjadi asam laktat. Semakin banyak laktosa
yang dipecah oleh bakteri asam laktat maka semakin menurun pula kadar
laktosa dalam yogurt (Kumalasari, Legowo, & Al-Baarri, 2013). Penelitian
menujukkan semakin rendah kadar laktosa yang dihasilkan maka semakin
tinggi pula aktivitas bakteri dalam memecah laktosa pada yogurt demikian
pula sebaliknya. Laktosa merupakan gula pereduksi. Pada fermentasi,
laktosa berfungsi sebagai subtrat, substrat ini akan dipecah menjadi asam
laktat (Nawangsari, Legowo, & Mulyani, 2012). Kadar laktosa yang
rendah disebabkan karena terjadinya transpor molekul laktosa melalui
dinding sel mikroba, dimana laktosa fosfat dihidrolisis menjadi D-glukosa
dan dan galaktosa-6-fosfat oleh enzim β-D-fosfogalaktosidase (Maitimu,
Legowo, & Al-Baarri, 2012). Berdasarkan praktikum penentuan kadar
laktosa pada berbagai merek produk susu dan olahannya yaitu yogurt,
diperoleh kadar laktosa sebagai berikut:

No Produk mg Laktosa

1 Bulgarian yogurt 5,04

2 Yakult 3,6

3 Milo 5,292

4 Indomilk 3,24

5 Yogurt chimori 15,8

6 Susu Kedelai 3,6

7 Susu Ultramilk (Strawberry) 2,88

8 Susu Frisian Flag 11,37

Berdasarkan tabel diatas, produk susu yang memiliki kadar laktosa


tertinggi yaitu susu Frisian Flag dengan kadar laktosa 11,37mg. sedangkan
susu Ultramilk (rasa strawberry) memiliki kadar laktosa rendah dari semua
produk susu dan olahan susu (yogurt) yaitu 2,88mg. Produk yogurt dengan
kadar laktosa tertinggi yaitu yogurt Chimori dengan kadar laktosa 15,8 mg
dan merupakan kadar laktosa tertinggi dari semua produk susu dan olahan
susu (yogurt). Kadar laktosa terendah pada produk yogurt yaitu Yakult
dengan kadar laktosa 3,6mg. Rerata kadar laktosa dalam susu cair yaitu
5,28 dan rerata kadar laktosa pada produk yogurt yaitu 8,15. Hal ini berarti
kadar laktosa dalam yogurt lebih tinggi daripada susu cair. Secara teoritis,
kadar laktosa dalam yogurt akan lebih rendah daripada susu (tanpa
fermentasi). Hal tersebut diakibatkan oleh aktivitas bakteri asam laktat
dalam pembuatan yogurt yang memecah laktosa menjadi asam laktat.
Dalam proses fermentasi, laktosa akan dipecah menjadi glukosa dan
galaktosa yang dalam proses selanjutnya akan diubah menjadi asam laktat.
Semakin banyak laktosa yang dipecah oleh bakteri asam laktat maka
semakin menurun pula kadar laktosa dalam yogurt (Kumalasari et al.,
2013). Tinggi kadar laktosa dalam yogurt mungkin disebabkan adanya
penambahan gula sewaktu proses pembuatan yogurt. Kemampuan
mencerna gula dari bakteri asam laktat akan menyebabkan turunnya kadar
laktosa, turunnya pH, Meningkatnya keasaman sebagai akibat
diproduksinya asam laktat. Penurunan nilai pH diduga Dapat
menyebabkan timbulnya rasa asam yang dapat mempengaruhi penerimaan
konsumen terhadap drink yogurt. Diperlukan diversifikasi dalam
pembuatan yogurt untuk meningkatkan kualitas dan citarasa yogurt, yaitu
dengan membuat produk yogurt yang tidak terlalu asam (Kumalasari et al.,
2013). Selain itu, metode yang digunakan dalam analisa kadar laktosa
dapat mendeteksi gula pereduksi selain laktosa yang mungkin terdapat
dalam produk yogurt, yang memerlukan analisa lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M. N. (2014). Studi Perbandingan Kinetika Reaksi Hidrolisis Tepung
Tapioka Dan Tepung Maizena Dengan Katalis Asam Sulfat, 4–26.
F.D. Utari, B. W. H. E. P. dan A. M. (2012). 0 ), 1 ), 3 )., 1(1), 427–441.
Febyan, F., Kristen, U., Wacana, K., Assisted, V., Surgery, T., Endoscopic, P., …
Febyan, F. (2017). Recent Diagnostic Procedures for Lactose Intolerance,
(October).
Hariyadi, P., 2000, Dasar-dasar Teori dan Praktek Proses Termal, Pusat Studi
Pangan dan Gizi IPB, Bogor
Hidayat, I. R., Kusrahayu, & Mulyani, S. (2013). TOTAL BAKTERI ASAM
LAKTAT, NILAI pH DAN SIFAT ORGANOLEPTIK DRINK
YOGHURT DARI SUSU SAPI YANG DIPERKAYA DENGAN
EKSTRAK BUAH MANGGA. Animal Agriculture Journal, 2(1), 160–
167.
Nawangsari, D. N., Legowo, A. M., & Mulyani, S. (2012). Kadar Laktosa ,
Keasaman Dan Total Bahan Padat Whey Fermentasi Dengan Penambahan
Jus Kacang Hijau. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan, 1(1), 12–14.
Pradnyana, I. K. D. A., Parwata, I. M. O. A., & Sudarma, N. (2014).
PENENTUAN KADAR SUKROSA PADA NIRA KELAPA DAN NIRA
AREN DENGAN MENGGUNAKAN METODE LUFF SCHOORL.
Chemistry Laboratory, 1(1), 37–41.
Ratnasari, E. E. (2014). Uji Perbedaan Kadar Laktosa Pada Susu Sapi Fries
Holland Dan Susu Kambing Etawa. Journal of Healthy Science, 12, 17–
26.
Wicaksono, M. A. (2014). Intoleransi Laktosa. Mandala of Health, 7(1), 506–614.
Wyeth,N., 2011,InfeksiLaktosa,http://www.wyethindonesia.com/$$Infeksi
%20Laktosa.html?menu_id=130&menu_item_id=5

LAMPIRAN GAMBAR
Memipet sampel susu Memipet larutan ZnSO4 Dicampurkan larutan ZnSO4
sebanyak 5 ml ke dalam susu

Memipet larutan NaOH Dicampurkan larutan NaOH Disaring campuran susu


sebanyak 5 mL kedalam campuran susu yang sudah diencerkan
yang sebelumnya dengan akuades
Memipet 1 mL filtrat yang Memipet larutan luf Dicampurkan pada
telah disaring schoorl elemeyer yang sudah berisi
fitrat

Dipanaskan sampel dengan Memipet larutan H2SO4 Memipet larutan KI


menggunakan kompor sebanyak 15 mL sebanyak 10 mL
listrik selama 10 menit

Dilakukan titrasi dengan Memipet indikator amilum


larutan Na2SO3 sampai sebanyak 1 mL
berwarna kuning pucat
Lembar Pengesahan

Denpasar, 26 Februari 2018

Mengetahui mahasiswa

(Kelompok VII)

Dosen Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

(IGA Sri Dhyanaputri, SKM, MPH) (Jannah Sofi Yanty, S.Si.)


Pembimbing III Pembimbing IV

(I Wayan Karta, M.Si) (Nur Habbibah, S.Si., M.Sc.)