Anda di halaman 1dari 8

3/5/2018

Etika Profesi
Bab 3
Pembinaan Etika

Dr. Ir. Haryadi, MT

• Baik-buruk, punya makna kalau disertai dengan


kehendak bebas.
• Banyak kendala praktis dan teoritis yang ditemui
dalam pembinaan etika.
• Oleh karena itu pembinaan etika pada individu
maupun masyarakat bukanlah hal yang mudah.
• Berbagai teori telah dikemukakan, meskipun
begitu, memperhatikan kegagalan-kegagalan yang
ada, barangkali belum ada teori pembinaan yang
bisa mengatasi semua masalah pembinaan etika.

1
3/5/2018

• Pada umunya, pandangan etika seseorang


berubah seiring dengan tingkat perkembangan
personalnya.

• Makin bertambah usia sesorang, pada umumnya,


makin baik etikanya, meskipun tentu saja ada
kekecualian.

• Akan tetapi, kita juga bisa melakukan rekayasa


untuk mempercepat kedewasaan etis seseorang
atau masyarakat.

Hubungan Etika Personal dan


Masyarakat
• Pembinaan etika bisa dilakukan pada pribadi
atau masyarakat.
• Hubungan antara pengemban etika pribadi
dan masyarakat, terdapat 4 teori:
– Tidak saling mempengaruhi
– Etika personal mempengaruhi etika masyarakat
– Etika masyarakat mempengaruhi etika personal
– Etika masyarakat dan etika personal saling
mempengaruhi

2
3/5/2018

Teori Perkembangan Moral Kohlberg


• 3.1 Salah satu Teori tentang perkembangan moral yang lain
dikemukakan oleh Kohlberg (1971); di dalam Martin
&Schinz inger, 1994: 19) yang menyatakan bahwa tingkat
perkembangan moral terdiri dari tiga tahap, yaitu:
– Tahap Prakonvensional yang egois dan dimotivasi oleh
kenyamanan diri sendiri,
– Tahap Konvensional yang hormat/tunduk kepada kaidah dan
otoritas konvensional, seperti: peraturan-peraturan yang
mengikat sesorang, agama, dsb.
– Tahap Pascakonvensional yang bersifat otonom: dimana
manusia secara pribadi, bisa menentukan baik-buruk suatu
perbuatan secara personal.
• (Subagyo Pramumijoyo, Wayan Warmada, 2004)

• 1. Tingkat 1: moralitas heteronomus. Dalam tingkat perkembangan ini moralitas


dari sesuatu perbuatan ditentukan oleh ciri-ciri dan akibat yang bersifat fisik.
• 2. Tingkat 2: moralitas individu dan timbal balik. seseorang mulai sadar dengan
tujuan dan keperluan orang lain. Seseorang berusaha untuk memenuhi
kepentingan sendiri denganmemperhatikan juga kepentingan orang lain.
• b. Tahapan "Conventional"
• 1. Tingkat 3: moralitas harapan saling antara individu. Kriteria baik atau buruknya
suatu perbuatan dalam tingkat ini ditentukan oleh norma bersama dan hubungan
saling mempercayai.
• 2. Tingkat 4: moralitas sistem sosial dan kata hati. Sesuatu perbuatan dinilai baik
jika disetujui oleh yang berkuasa dan sesuai dengan peraturan yang menjamin
ketertiban dalam masyarakat.
• c. Tahapan "Posconventional":
• 1. Tingkat 4,5: tingkat transisi. Seseorang belum sampai pada tingkat
"posconventional" yang sebenarnya. Pada tingkat ini kriteria benar atau salah
bersifat personal dan subjektif, dan tidak memiliki prinsip yang jelas dalam
mengambil suatu keputusan moral.
• 2. Tingkat 5: moralitas kesejahteraan sosial dan hak-hak manusia. Kriteria moralitas
dari sesuatu perbuatan adalah yang dapat menjamin hak-hak individu serta sesuai
dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat.
• 3. Tingkat 6: moralitas yang didasarkan pada prinsip-prinsip moral yang umum.
Ukuran benar atau salah ditentukan oleh pilihan sendiri berdasarkan prinsip-
prinsip moral yang logis, konsisten, dan bersifat universal.

3
3/5/2018

• Anomi:
– terjadi pada masa anak-anak yang belum mengenal moral dan tidak peduli
pada yang lain. Periakunya belum divaluasi secara etis.
• Heteronomi:
– Nilai baik-buruk Individu yang terkandung pada guru, orang tua, dll.
– pada masa-masa ini sikap moral tergantung pada figure

• Sesionomi:
– merupakan sikap individu yang bergantung pada refrensinya pada level ini
seseorang masih belum bisa dinilai baik atau buruk kalau dia bersikap
merupakan refleksi dari sikap kelompoknya
• Otnomi :
– Nilai etik baru bisa dinilai pada level otonomi merupakan sikap moral tertinggi
dimana individu mengambil keputusan sendiri dan tidak tergantung pada
orang lain meskipun dia bisa mengambil pendapat orang lain di sini baru kita
bisa memberikan analisis baik buruk

3.2 Teori Perkembangan Moral


Maslow
• Banyak pemikir etika yang berasumsi
bahwa tindakan sesorang ditentukan
oleh kebutuhan (need) nya. Maslow
(1954; di dalam Papalia & Olds ,
1985: 309) mengorganisasikan
kebutuhan manusia dalam bentuk
piramida yang dikenal sebagai
Hirarki Kebutuhan Maslow
• Di dalam piramida Maslow, lapis
bawah menggambarkan kebutuhan
paling mendasar manusia, yaitu
kebutuhan fisik yang meliputi makan
minum, sandang dan papan. Setelah
hal tersebut dipenuhi maka
kebutuhannya akan meningkat ke
lapis di atasnya, demikian
seterusnya.
• Dari pandangan Maslow di atas bisa
disimpulkan bahwa pandangan etika
seseorang akan berubah seiring
dengan pemenuhan kebutuhannya.

4
3/5/2018

3.3 Teori Pengembangan Etika


berdasarkan Malakah
• Malakah timbul dalam diri sesorang melalui praktek
berulang-ulang dan tidak mudah hancur.
• Sebuah malakah tertentu mungkin muncul karena
salah satu alasan berikut:
– Alami (keadaan alami): kondisi (genetik, keluarga, tempat,
waktu, dsb.) dimana manusia dilahirkan menentukan
aspek-aspek tertentu dari kehidupannya.
– Ada (Kebiasaan): Dibentuk oleh pengulangan terus-
menerus tindakan tertentu dan menciptakan watak
tertentu.
– Praktek dan upaya sadar yang dilakukan: yang jika terus-
menerus pada akhirnya akan menghasilkan suatu watak
(deposisi)

• Untuk mengubah akhlak/watak disposisi sesorang, kita


tidak bisa dengan menghancurkan naluri reproduksi
atau mempertahankan diri (melemahkan potensi
amarah dan hewaniyah).

• Usaha-usaha ini harus menghindari:


– metode-metode ekstrem,
– bahkan juga harus menghidari perubahan-perubahan
ekstrim

• Dilakukan dengan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit


sehingga terdeposisi dalam jiwa dan menjadi malakah.

5
3/5/2018

• Meskipun faktor alami menghasilkan akhlak atau


watak (disposisi) tertentu, manusia dapat
mengbahnya alam melalui kehendak bebas dan
usaha.

• Sementara karakter yang disebabkan oleh


kemampuan mental tertentu (yaitu, kecerdasan,
daya ingat, ketangkasan mental dll) tidak dapat
berubah, tetapi bebrapa malakah lain bisa
berubah.

• Mula-mula jiwa diciptakan tanpa sifat.


• Dengan keberlangsungan melalui kehidupan, ia sadar atau tidak
mengembangkan malakah terkait dengan gaya hidupnya.
• Jiwa menjadi terbiasa dengan perilaku berulang, yang kemudian
menentukan tindakan.
• Malakah mulia akan menghasilkan perilaku moral dan bijaksana,
sedangkan malakah jahat menyebabkan immoralitas yang nyata.
Malakah ini menentukan nasib di akhirat.
• Penting dilakukan oleh setiap orang untuk mengakumulasikan pada
dirinya malakah-malakah yang baik sehingga pribadinya menjadi
lebih sempurna dari hari ke hari.
• Dalam konteks etika profesi, malakah produktif dan disiplin, bisa
ditingkatkan dengan upaya sadar dan terus-menerus sehingga
menjadi watak.

6
3/5/2018

Pendidikan Menut Ahli Agama


• Pembesihan Akal:
– Menanamkan nilai
– Beberapa pemahaman rasional bisa memperbaiki
perilaku
• Pembersihan Jiwa
– Dari Kotoran Lahir
– Dari Kotoran Batin/Hadas
– Dari Barang-barag Kotor/haram
– Dari sifat-sifat buruk
• Pembersihan Perilaku

Pendidikan Menut Ahli Agama


• Pembesihan jiwa dari egoisme merupakan
prasarat untuk memperbaiki
akhalaq/pengembangan etika
• Setelah itu baru dimungkinkan pengembangan
selanjutnya

7
3/5/2018

Sifat-sifat Dasar Pembentuk Etika


(Yang Baik)
• Tata nilai yang benar
• Jujur
• Respek,
• Taat
• Tidak egois

• Dr. Ir. Subagyo Pramumijoyo, DEA, Dr. Ir. I Wayan Warmada,


Etika Rekayasa Untuk Rekayasawan
• Dr. Fachrudid Faiz, Aksiologi Etika
• Naagarazan, R.S., 2006, A Textbook on Professional Ethics
and Human Values, New Age International (P) Limited,
Publishers, New Delhi, India
• An-Naraqi, Muhammad Mahdi ibn abi Dharr, , Jami' al-
Sa'adat (The Collector of Felicities terjemahan ke dalam
Bahasa Inggris oleh Muhammad Baqir Ansari), Islamic
Propagation Organization.
• Yazdi, Misbah M. T., Falsafeh ye Akhlaq (Meniru Tuhan,
terjemahan bahasa Indonesia oleh Ammar Fauzi Heriyadi),
Jakarta: Al-Huda, 2006