Anda di halaman 1dari 22

IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI AVERTEBRATA

Oleh :
Nama : Muflih Fuadi
NIM : B1J013006
Rombongan : VII
Kelompok :6
Asisten : Ichsan Dwiputra S

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN I

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomik


individu yang beraneka ragam dan memasukkannya ke dalam suatu takson. Prosedur
identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif. Identifikasi berhubungan
dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah sedikit akan membawa spesimen ke dalam
satu urutan kunci identifikasi, sedangkan klasifikasi berhubungan dengan upaya
mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri. Klasifikasi adalah penataan hewan-hewan ke
dalam kelompok yang didasarkan atas kesamaan dan hubungan antar hewan (Mayr,
1969).
Identifikasi makhluk hidup berarti suatu usaha menemukan identitas suatu
makhluk hidup. Identifikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara yang paling
populer yakni dengan membandingkan tumbuhan atau hewan yang ingin diketahui
dengan gambar didalam buku atau dengan awetan hewn sudah diketahui identitasnya
(Tyo, 2008). Cara yang paling cepat adalah dengan mengamati langsung di lapangan
bersama seorang ahli yang benar-benar mengetahui tentang berbagai hewan.
Perlengkapan yang sering digunakan dalam melakukan identifikasi adalah buku
kunci (kunci dikotomis atau kunci determinasi). Memahami buku kunci seseorang
harus memahami sifat dan keragaman bentuk serta ukuran hewan yang diidentifikasi
(Tyo, 2008).
Determinasi yaitu membandingkan suatu hewan dengan satu hewan lain yang
sudah dikenal sebelumnya (dicocokkan atau dipersamakan). Karena di dunia ini tidak
ada dua benda yang identik atau persis sama, maka istilah determinasi dianggap lebih
tepat daripada istilah identifikasi. Kunci determinasi adalah kunci yang dipergunakan
untuk menentukan filum, kelas, ordo, famili, genus, atau spesies. Dasar yang
digunakan dalam kunci determinasi adalah identifikasi dari makhluk hidup dengan
menggunakan kunci dikotomi (Tyo, 2008).
B. Tujuan

Tujuan praktikum acara Identifikasi dan Klasifikasi Hewan avetebrata adalah


mempelajari konsep dan melakukan identifikasi serta determinasi hewan avertebrata
lalu membuat serta menggunakan kunci determinasi hewan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi merupakan proses untuk mengenali dan mengelompokkan


organisme hidup. Klasifikasi merupakan bagian dari bidang ilmu sistematik. Tujuan
klasifikasi ialah mengatur kedudukan dari berbagai organisme di alam. Jika diketahui
ciri-ciri suatu mikroorganisme, maka dapat dilakukan perbandingan sehingga terlihat
persamaan dan juga perbedaan dengan organisme lainnya. Hal ini dapat disamakan
dengan membuat tabel periodik bagi unsur kimia sehingga terlihat keterkaitan antara
unsur kimia tersebut (Widiyadi, 2009).
Proses identifikasi hewan dapat dilakukan dengan berbagai variasi cara,
namun inti dari berbagai macam ara tersebut dapat di runut menjadi 4 langkah dasar
dalam melakukan identifikasi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah
identifikasi. Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri
taksonomik individu yang beraneka ragam dan memasukkannya ke dalam suatu
takson. Prosedur identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif.
Identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri taksonomi dalam jumlah sedikit akan
membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi. Identifikasidilakukan
dengan pencandraan dan pengenalan ciri ciri hewan tersebut..Langkah kedua adalah
determinasi. Determinasi yaitu membandingkan suatu hewan dengan satu hewan lain
yang sudah dikenal sebelumnya (dicocokkan atau dipersamakan). Karena di dunia ini
tidak ada dua benda yang identik atau persis sama, maka determinasi dianggap
langkah tepat setelah langkah identifikasi. Langkah selanjutnya adalah klasifikasi,
klasifikasi dilakukan dengan cara mengevaluasi,ciri ciri hewan yang ada dan menata
hewan kedalam kelompok yang sama berdasarkan kesamaan. Langkah terakhir
adalah verifikasi, secar global verifikasi diartikn dengan melakukan evaluasi
bertahap dan menyelutuh asal hasil capaian dari tiga langkah sebelumnya untuk
mengetahui kebenaran dan ketepatan. Kunci determinasi atau kunci dikotom adalah
cara atau langkah untuk mengenali organisme dan mengelompokkannya pada takson
makhluk hidup. Kunci dikotomis berisi deskripsi ciri-ciri organisme yang disajikan
dengan karakter berlawanan. Kunci dikotomis terdiri dari sederetan pernyataan yang
terdiri dari dua baris dengan ciri yang berlawanan (Widiyadi, 2009).
Beberapa syarat kunci determinasi yang baik antara lain menurut Widiyadi (2009):
1. Ciri yang dimasukkan mudah diobservasi, karakter internal dimasukkan bila
sangat penting,
2. Menggunakan karakter positif dan mencakup seluruh variasi dalam grupnya,
3. Deskripsi karakter dengan istilah umum yang dimengerti orang,
4. Menggunakan kalimat sesingkat mungkin, hindari deskripsi dalam kunci,
5. Mencantumkan nomor couplet,
6. Mulai dari ciri umum ke khusus, bawah ke atas.
Penggunaan kunci identifikasi dalam identifikasi telah lama digunakan.
Kunci identifikasi pertama kali diperkenalkan oleh Carolus Linnaeus. Kelemahan
sistem klasifikasi yang digunakan oleh Linnaeus adalah pembentukan kelas baru
yang berasal dari stem group (kelompok yang mengalami divergensi tiba tiba dalam
perjalan sejarah filogenetiknya) kebanyakan kurang menganalisis karakter yang
diturunkan bersama dari spesies ancestral sehingga tidak dapat dihindarkanya
angapan kelas baru ini sebagai taxa yang lebih tinggi ( Skelton,2013). Namun
sebenarnya Lammarck (1778) yang menggunakan kunci modern untuk tujuan
identifikasi. Salah satu kunci identifikasi yaitu kunci analisis menggunakan ciri-ciri
taksonomi yang saling berlawanan. Tiap langkah dalam kunci tersebut dinamakan
kuplet, terdiri dari dua bait atau lebih. Kedua bait tersebut berisi dua ciri saling
berlawanan, sehingga disebut kunci dikotomis. Jika salah ssatu ada yang
sesuai/cocok, maka alternatif lainnya akan gugur. Verifikasi adalah proses
pengecekan data, apakah sudah sesuai dengan aturan atau tidak (Widiyadi, 2009).
Klasifikasi Fenetik adalah suatu studi yang mengklasifikasikan berbagai
macam organisme berdasarkan kesamaan atau kemiripan morfologi dan sifat lainnya
yang bisa diobservasi tidak tergantung pada asal evolusi organisme bersangkutan.
Antara anggota kelompok terdapat suatu persaman ikatan yang satu dengan yang
lainnya , yang disebut dengan persmaan dalam kelompok atau “In group”, sebaliknya
terhadap orang dari luar terdapat perbedaan yang disebut dari luar kelompok atau
“out group” (Radiopoetro, 1988). Hasil dari klasifikasi fenetik biasanya di
terjemahkan dalam suatu bentuk diagram pohon bercabang yang di sebit fenogram.
Secara umum fenogram hampir mirip dengan filogram yang menggambarkan
kekerabatan secara genetik evolusioner, sedangkan fenogram adalah diagram yang
menggambarkan kekerabatan morfologi( Ishtiaq,2010).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara dua adalah bak preparat,
pinset, kamera, alat tulis dan laporan sementara.
Bahan-bahan yang digunakan adalah beberapa spesimen hewan avertebrata
yaitu Anadota sp., Anadora sp. Pomacea sp. , Turbo sp. Achatina fulica, Loligo sp.
Sephia sp. Octopus sp. Sclyla sp.
B. Metode

Cara kerja praktikum identifikasi dan klasifikasi hewan avertebrata adalah


sebagai berikut :
1. Praktikan melakukan proses identifikasi beberapa hewan avertebrata yang telah
disiapkan. Masing masing praktikan membuat deskripsi hasil identifikasi hewan
tersebut, .
2. Praktikan melakukan proses identifikasi dan determinasi beberapa hewan
avertebrat menggunakan kunci identifikasi yang telah disiapkan..
3. Praktikan mengklasifikasikan hewan avertebrata kemudian membuat fenogram
hasil klasifikasi. .
4. Praktikan membuat laporan sementara dari hasil praktikum.

.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Pohon filogenetik paku, baut dan mur

Cangkang
Beralur Anadara sp.
Kepala dara sp.
Tereduksi

Cangkang Anadonta sp.


Tak Beralur dara sp.
Cangkang
Memiliki Beralur Kasar
Bertubuh operculum
Lunak Turbo sp,
Cangkang
Beralur Tak
Bercangkang Kasar

Pomaceae sp,
Tak memiliki
operculum

Kepala
Tak Tereduksi Cangkang da- Achatina fulica
lam lunak
Memiliki
Tak Ber- tentakel
cangkang Loligo sp.
Cangkang da-
lam keras

Sephia sp.

Octopus sp.
Bertubuh
Keras

Schylla sp.
Kunci Identifikasi Hewan Averebrata
1) a. Bertubuh keras……... ................................................(Scylla sp.)
b. Bertubuh lunak…….. ................................................(2)
2) a. Kepala tereduksi ........................................................(3)
b. Kepala tidak tereduksi .............................................. (4)
3) a. Cangkang beralur .......................................................(Anadora sp.)
b. Cangkang tidak beralur ..............................................(Anadonta sp.)
4) a. Bercangkang ...............................................................(5)
b. Tidak bercangkang……...............................................(7)
5) a. Memiliki operculum ...................................................(6)
b. Tidak memiliki operculum .........................................(Achatina fulica)
6) a. Cangkang alur kasar ....................................................(Turbo sp.)
b. Cangkang alur halus......................................................(Pomacea sp.)
7) a. Memiliki tentakel ........................................................ (8)
b. Tidak memiliki tentakel - ............................................(Octopus sp.)
8) a. Endoskeleton dari zat kapur ....................................... (Sephia sp.)
b. Endoskeleton dari zat kitin ......................................... (Loligo sp.)
B. Pembahasan

Berdasarkan praktikum identifikasi dan klasifikasi avertebratai, dilakukan


proses identifikasi dan determinasi menggunakan sediaan preparat basah yang terdiri
dari sembilan spesies avertebrata yaitu , spesies tersebut dibedakan menjadi in group
dan out group berdasarkan karakter yang ada. Out group merupakan kelompok
dengan jumlah karakter yang mirip/sama dengan kebanyakan mayoritas sedikit dan
biasanya tidak dikaji terlalu dalam dan morfologinya terlihat jelas berbeda,
sedangkan in group adalah kelompok yang di dalamnya terdapat banyak kesamaan
karakter sehingga memiliki karakter bertingkat dan biasanya dikaji secara dalam.
Prosedur identifikasi dimulai dengan memisahkan ingroup dan outgroup berdasarkan
sifat-sifat atau karakter morfologi yang dimiliki oleh sembilan preparat avertebrata
tersebut. Setelah dipisahkan Scylla sp masuk dalam outgroup karena spesies ini
meiliki perbedaan pada kekerasan tubuhnya, dan delapan spesies sisanya masuk
kedalam satu buah klad ingroup yang besar. Langkah idetifikasi yang pertama
dilakukan dalam identifikasi ingroup selanjutnya daalah karakter kepala, dibedakan
berdasarkan bentuk kepala yang tereduksi dan yang tidak tereduksi. Untuk spesies
dengan karakter kepala tereduksi akan di identifikasi lanjut dengan menggunakan
karakter ada tidaknya alur pada cangkang, dari sini praktikan akan memperoleh dua
spesies yang sudah teridentifikasi yaitu Anadora sp. dengan karakter tubuh lunak dan
cangkang beralur serta Anodonta sp. dengan karakter tubuh lunak dan cangkang
beralur. Spesies dengan kepala tidak tereduksi yang belum teridentifikasi selanjutnya
dibedakan menjadi speses yang memiliki cangkang dan spesies yang tidak memiliki
cangkang. Spesies yang meiliki cangkang kemudian di identifikasi dengan ada
tidaknya opercullum. Spesies yang memiliki opercullum teridentifikasi sebagai
Achatina fulica. Spesies yang memiliki opercullum selanjutnya di identifikasi dengan
tekstur dari alur cangkangnya sehinga teridentifikasi menjadi dua spesies yaitu Turbo
sp. dengan cangkang beralur kasar dan Pomacea sp. yang berlur cangkang halus.
Spesies sisa yang belum teridentifikasi yaitu spesies yang memiliki kepala tidak
tereduksi, dan tidak bercangkang di bedakan dengan karakter ada tidaknya tentakel
dapat teridentifikasi satu spesies yang tidak meiliki tentakel yaitu Octopus sp.
sedangkan spesies yang memiliki tentakel seanjutnya akan di identifikasi lanjut
menggunakan karaker endoskeleton, spesies yang meiliki endoskelton dari kitin
teridentifikasi sebagai Loligo sp. dan yag memiliki endoskeleton dari zat kapur
adalah Sephia sp. Scylla sp dapat di deskripsikan sebagai hewan yang termasuk
dalam outgroup dari proses identifikasi ini karena memiliki eksoskeleton yang sangat
keras dan tubuhnya yang berbuku buku. Anadora sp. merupakan anggota ingroup
dengan karakter tubuh lunak dengan kepala tereduksi dan cangkang yang beralur.
Anodonta sp. teridentifikasi sebagai spesies yang meimliki tubuh lunak dengan
kepala tereduksi dan cangkang tidak beralur. Achatina fullica adalah spesies yang
memiliki karakter tubuh lunak dengan kepala tidak tereduksi, bercangkang , tidak
memiliki opercullum. Spesies ini termask dalam gastropoda. Gastropoda merupakan
salah satu hewan makrobenthos dari Filum Molluska yang memiliki kebiasaan hidup
di dasar perairan dan tergolong kedalam jenis hewan bentik yang mampu
memanfaatkan bahan-bahan organik ( Nugroho,2012). Turbo sp. adalah spesies yang
memiliki karakter tubuh lunak, kepala tidak tereduksi, bercangkang dan memiliki
opercullum serta cangkang beralur kasar. Pomacea sp merupakan spesies berkarakter
tubuh lunak, kepala tidak tereduksi memiliki opercullum, bercangkang dan beralur
halus pada cangkangnya. Octopus sp. merupakan spesies dengan karakter bertubuh
lunak, kepala tidak tereduksi, tidak bercangkang, tidak memiliki opercullum, tidak
memiliki tentakel. Sephia sp. memiliki tubuh lunak dengan kepala tidak tereduksi,
tidak bercangkang, tidak memiliki opercullum dan memiliki tentakel serta
endoskeleton dari zat kapur. Loligo sp. memiliki tubuh lunak, kepala tidak tereduksi,
tidak meiliki cangkang, tidak memiliki opercullum, memiliki terntakel dengan
endoskeleton dari zat kitin. Secara sekilas , antara Loligo sp. Sephia sp. dan Octopus
sp. memiliki anatomi dan morfologi yang nyaris serupa. Ketiga spesies ini sama
sama avertebrat akuatik yang termasuk kelas cephalopoda. Memiliki karakter kepala
dan ektremitas yang nyaris serupa namun hanya berbeda secara ukuran jika dilihat
secara sekilas. Cumi cumi memiliki bentuk tubuh relatif silindris dengan delapan
ekstremitas mobilitasnya di bagi menjadi dua yaitu berjalan di dasara perairan dan
berenang delapan ekstermitas tersebut di tambah dengan dua tentakel yang lebih
panjang dibanding ekstermitas berguna dalam mencari mangsa dan pertahanan diri
aktif, memiliki endoskeleton dari zat kitin yang berbentuk silidris, memiliki sifon
yang berguna dalam menyemprotkan cairan tinta berpigmen melatonin dan
terhubung langsung dengan kantung tinta, serta integumenya mengandung sel sel
kromatofora yang menyebakan cumi dapat melakukan mimikri. Sotong memiliki
tubuh relatif pipih bila di banding dengan cumi, memiliki delapan ekstremitas yang
dominan berguna dalam berjalan di tambah dengan dua tentakel yang berfungsi
sebagai alat pencari mangsa dan pertahan tubuh aktif. Memilki endoskeleton dari zat
kapur yang berbentuk pipih melebar, memiliki sifon yang digunakan sebagai alat
bantu renang serta menyemprotkan cairan mirip tinta pada cumi namun dengan
komposisi pigmen yang lebuih beragam. Sifon pada sotong berbentuk lebih pendek
dan lebih tebal karena juga ikut berperan aktif dalam berenang. Gurita merupakan
Cephalopoda yang memiliki delapan ekstrimitas tanpa adanya tentakel. Di bawah
ekstrimitas ini terdapat sebuah bangun bulat yang merupakan derivat integumen yang
berguna dalam berjalan di dasar perairan , menjaga peekatan ke substrat dan berburu
mangsa. Gurita tidak memiliki endoskeleton sehingga memiliki tubuh yang paling
fleksibel jika di bandingkan dengan sotong dan cumi. Gurita mampu menembus
melewati celah celah karang yang sempit karena ketiadaan endoskelton ini.
Integumen gurita juga memiliki sel sel dan pigmen kromatofor layaknya pada cumi
namun dengan konsentrasi yang jauh lenih tinggi (Ishtiaq,2010). Kebanyakan gurita
memiliki tekanan voltase listrik yang relatif tinggi, digunakan dalam aktivitas
berburu. Gurita juga memiliki sel sel meganeuron yang memiliki panjang hingga
1,25-1,5 meter terlihat seperti urat atau pembuluh darah dari sisimulut pada sub
spesies tertentu. Gurita tidak memiliki gigi secara definitif.
Kepiting (Scylla sp) merupakan avertebrata akuatik, kebanyakan hidup di
estuaria dan air laut. Taksonomi dari kepiting yaitu
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Malacostraca
Order : Decapoda
Family : Portunidae
Genus : Scylla
Spesies : Scylla sp.
Deskripsi kepiting bakau adalah Famili Portunidae merupakan famili kepiting bakau
yang mempunyai lima pasang kaki. Pasangan kaki kelima berbentuk pipi dan
melebar pada ruas terakhir. Karapaks pipi atau cagak cembung berbentuk heksagonal
atau agak persegi. Bentuk ukuran bulat telur memanjang atau berbentuk kebulatan,
tapi anterolateral bergigi lima sampai sembilan buah. Dahi lebar terpisah dengan
jelas dari sudut intra orbital, bergigi dua sampai enam buah, bersungut kecil terletak
melintang atau menyerong. Pasangan kaki terakhir berbentuk pipih menyerupai
dayung. Terutama ruas terakhir, dan mempunyai tiga pasang kaki jalan.
Kepiting Scylla serrta memiliki bentuk morfologi yang bergerigi, serta memiliki
karapas dengan empat gigi depan tumpul dan setiap margin anterolateral memiliki
sembilan gigi yang berukuran sama. Kepiting bakau memiliki capid yang kuat dan
terdapat beberapa duri. Berdasarkan anatomi tubuh bagian dalam, mulut kepiting
terbuka dan terletak pada bagian bawah tubuh. Beberapa bagian yang terdapat di
sekitar mulut berfungsi dalam memegang makanan dan juga memompakan air dari
mulut ke insang. Kepiting memiliki rangka luar yang keras sehingga mulutnya tidak
dapat dibuka lebar. Hal ini menyebabkan kepiting lebih banyak menggunakan sapit
dalam memperoleh makanan. Makanan yang diperoleh dihancurkan dengan
menggunakan sapit, kemudian baru dimakan.
Cumi cumi meupakan avertebrata akuatik yang hampir seluruh spesiesnya
hidup di laut dan hanya beberapa yang hidup di kawasan estuaria. Klasifikasi cumi
cumi adalha sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Cephalopoda
Order : Teuthoidea
Family : Loliginidae
Genus : Loligo
Spesies : Loligo sp.
Tubuh lunak cumi-cumi, memiliki cangkang dalam, simetris bilateral, sebuah
kaki yang terbagi menjadi lengan-lengan yang dilengkapi mangkuk penghisap dan
sistem syaraf cumi-cumi yang berkembang baik terpust di kepala. Pandangan mata
cumi-cumi sangat bagus, dapat berenang dengan cepat, menunjukkan emosi,
memiliki kromatofora sehingga mampu merubah warna dengan cepat untuk
berkamuflase. Mantel cumi-cumi yang menyelimuti sekeliling tubuh, membentuk
kerah yang agak longgar pada bagian leher. Sebuah sifon yang menyedot air lewat
insang terletak di bawah mantel dan digunakan unutk menyemprotkan air saat
bergerak cepat. cumi-cumi memiliki paruh yang tajam seperti burung kakak tua.
Mangsa cumi-cumi ditangkap dengan lengan yang memiliki alat penghisap. Aktif di
dasar perairan di malam hari. Makanan berupa ikan kecil, kepiting kecil, udang dan
Mollusca lainnya. Cumi-cumi dan sotong mampu mengeluarkan cairan tinta hitam
untuk untuk mengelabui pemangsa. Jenis cumi-cumi raksasa hidup di laut dalam dn
dapat mencapai ukuran 18 meter.
Sotong merupakan avertebrata akuatik yang satu kelompok dengan gurita dan cumi
cumi. Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Cephalopoda
Order : Sepiida
Family : Sepiidae
Genus : Sepia
Spesies : Sepia sp.
Pada tentakel ataupun lengan-lengannya terdapat lubang-lubang yang disebut
dengan sucker sama halnya dengan cumi-cumi yang berfungsi untuk menarik
mangsanya atau makanannya. Matanya memiliki selaput impermeable untuk
melindungi dari benda-benda asing yang terdapat di dalam air. Ia juga memiliki
radula atau gigi parut dan jumlahnya 2. Di dekat mulutnya terdapat lubang yang
disebut siphon yang berfungsi untuk mengeluarkan atau menyemburkan tintanya.
sotong juga memiliki cangkang, hanya saja cangkangnya tereduksi ke dalam.
Cangkangnya keras dan agak tebal tidak seperti cumi-cumi yang bening dan tipis.
Didalam tubuhnya juga terdapat tempat untuk pembuatan tinta, ia juga memiliki sirip
atau fin tapi tereduksi juga ke bagian luar tubuhnya, jadi dalam kecepatan berenang
cumi-cumi lebih cepat daripada sotong.
Gurita merupakan cephalopoda yang memiliki perkembangan syaraf paling baik
dalam kelompok cephalopoda, memiliki beberapa meganeuron. Kalsifikasinya
adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Cephalopoda
Order : Octopoda
Family : Octopodidae
Genus : Octopus
Spesies : Octopus sp.
Gurita memiliki delapan ektrimitas dan lubang-lubang yang disebut dengan
sucker sama halnya dengan cumi-cumi ataupun sotong yang berfungsi untuk menarik
mangsanya atau makanannya. Matanya terlindungi oleh selaput impermeable. Di
dekat matanya terdapat alat sensor yang disebut sonor. Alat itu berfungsi untuk
mendeteksi keberadaan musuhnya. Gurita tidak mempunyai cangkang. Sirip pada
gurita juga tereduksi ke bagian tubuhnya sama halnya dengan sotong.
Kerang darah adalah anggota kelompok bivalvia dengan klasifikasi sebagai
berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Order : Arcoida
Family : Arcidae
Genus : Anadara
Spesies : Anadara sp.
Seperti kerang pada umumnya, kerang darah merupakan jenis bivalvia yang
hidup pada dasar perairan dan mempunyai ciri khas yaitu ditutupi oleh dua keping
cangkang (valve) yang dapat dibuka dan ditutup karena terdapat sebuah persendian
berupa engsel elastis yang merupakan penghubung kedua valve tersebut.
Kerang darah mempunyai dua buah cangkang yang dapat membuka dan menutup
dengan menggunakan otot aduktor dalam tubuhnya. Cangkang pada bagian dorsal
tebal dan bagian ventral tipis. Cangkang ini terdiri atas 3 lapisan, yaitu
1. periostrakum adalah lapisan terluar dari kitin yang berfungsi sebagai pelindung.
2. lapisan prismatic tersusun dari kristal-kristal kapur yang berbentuk prisma,
3. lapisan nakreas atau sering disebut lapisan induk mutiara, tersusun dari lapisan
kalsit (karbonat) yang tipis dan paralel.
Puncak cangkang disebut umbo dan merupakan bagian cangkang yang paling tua.
Garis-garis melingkar sekitar umbo menunjukan pertumbuhan cangkang. Mantel
pada pelecypoda berbentuk jaringan yang tipis dan lebar, menutup seluruh tubuh dan
terletak di bawah cangkang. Beberapa kerang ada yang memiliki banyak mata pada
tepi mantelnya. Banyak diantaranya mempunyai banyak insang. Umumnya memiliki
kelamin yang terpisah, tetapi diantaranya ada yang hermaprodit dan dapat berubah
kelamin.
Kakinya berbentuk seperti kapak pipih yang dapat dijulurkan keluar. Kaki kerang
berfungsi untuk merayap dan menggali lumpur atau pasir. Kerang bernafas dengan
dua buah insang dan bagian mantel. Insang ini berbentuk lembaran-lembaran
(lamela) yang banyak mengandung batang insang. Antara tubuh dan mantel terdapat
rongga mantel yang merupakan jalan keluar masuknya air.
Anadonta sp merupakan bivalvia sesil yang banyak hidup diberbagai kedalaman
periaran smapai kedalaman 10m. Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Bivalvia
Order : Unionoida
Family : Unionidae
Genus : Anodonta
Spesies : Anodonta sp.
Adapun morfologi dari Anadonta sp adalah memiliki bentuk tubuh oval pada
bagian anterior dan menyempit pada bagian posterior. Panjang tubuh berkisar antara
5-10 cm. Hewan ini memiliki dua buah cangkang yang bersatu pada bagian dorsal
oleh suatu ligament sendi. Struktur cangkang Anadonta sp terdiri atas tiga lapisan,
yakni periostrakum yang berupa lapisan tanduk, prismatic berupa lapisan Kristal
kalsium karboat dan nakreas yang tipis mengkilat. Tubuh yang dilindungi cangkang
terdiri atas massa visceral, kaki otot, insang ganda dan mantel. Pada bagian posterior
terdapat sifon ekskuren pada sisi dorsal dan sifon inkuren pada sisi ventral. Pada
bagian dorsal terdapat dua buah otot untuk menutup cangkang, yakni otot aduktor
anterior dan otot aduktor posterior. Selain itu terdapat otot rectator untuk menarik
kaki kea rah dalam.
Alat pencernaan makanan terdiri atas mulut di belakang otot aduktor anterior
diantara dua palpus palpus labial. Esophagus, lambung, usus, rectum, dan dubur.
Sistem sirkulasi terdiri atas jantung, aorta anterior dan aorta dorsal. Jantung terletak
di bagian dorsal di dalam perikard dan terdiri atas dua aurikel dan ventrikel. Dari
ventrikel muncul dua aorta, yakni aorta anterior yang memasok darah ke kaki,
lambung dan mantel; serta aorta posterior yang memasok darah ke rectum dan
mantel.
Anadonta sp bernapas dengan insang yang berbentuk huruf W yang terdapat pada
bagian kanan dan kiri kaki. Setiap belahan insang erdiri atas dua lamella yang
menyatu di bagian ventral. Sistem ekskresi berua ginjal yang terletak di bawah
perikard. Ginjal berfungsi membuang limbah dari darah dan dari cairan
perikard.Sistem saraf terdiri atas tiga ppasang ganglion, yakni ganglion cerebral di
sisi esophagus, ganglion pedal pada kaki dan ganglion visceral di bawah otot
adductor posterior. Masing-masing pasangan ganglion dihubungkan oleh saraf
penghubung. Pada setiap ganglion dilepaskan saraf ke organ dan juga terdapat
kommisur serebropedal dan serebroviceral.
Bekicot merupakan salah satu avertebrata terestrial yang memili satu cangkang.
Bekicot merupakan gastropoda yang hermafodit, Klasifikasinya adalah sebagai
berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Pulmonata
Family : Achatinidae
Genus : Achatina
Spesies : Achatina fulica
Bekicot tercakup di dalam ordo pulmonata dari clasiss gastropoda yang
merupakan kelompok mollusca yang sangat besar. Siput darat berbeda dengan
gastropoda lainnya, pertama, dalam hal pernapasan, ia sudah tidak memiliki ctenidia,
yaitu semacam insang dan fungsinya telah diganti oleh bagian pillium yang tipis dan
kaya dengan pembuluh pembuluh kapiler-kapiler darah, kedua mengenai system
nervosium, ganglia yang utama terkumpul membentuk bangunan serupa cincin
mengelilingi esgophagus, tanpa jaringan pengikat di dalamnya. Bentuk cangkang
siput pada umumnya seperti kerucut dari tabung yang melingkar seperti konde.
Puncak kerucut merupakan bagian yang tertua, disebut apex. Sumbu kerucut disebut
columella. Gelung terbesar disebut body whorl dan gelung kecil-kecil di atasnya
disebut spire. Di antara bibir dalam dan gelung terbesar terdapat umbilicus, yaitu
ujung culumella yang berupa celah sempit sampai lebar dan dalam. Apabila
umbilicus tertutup, maka cangkang disebut imperforate.
Bekicot termasuk keong darat yang pada umumnya mempunyai kebiasaan hidup di
tempat lembab dan aktif di malam hari (nocturnal). Sifat nocturnal bekicot bukan
semata-mata ditentukan oleh factor gelap di waktu malam tetapi ditentukan oleh
factor suhu dan kelembaban lingkungannya. Di waktu siang setelah hujan, banyak
ditemukan bekicot berkeliaran dimana-mana.
Bekicot termasuk golongan mollusca karena memiliki badan lunak dan
coelom tanpa segmen. Badan ditutup oleh cangkang, panjang sekitar 90 mm. ciri-ciri
umumnya yakni memiliki sel-sel kemoreseptor yang terletak pada ujung tentakel
okuler dan juga memiliki reseptor cahaya berupa ocelli. Menurut hasil penelitian
Issogianti dengan menggunakan SEM, tentakel okuler bekicot mempunyai susunan
serupa dengan tentakel Helix pomatia maupun Helix aspersa.
Bekicot dapat hidup normal sampai umur 3 tahun. Bekicot senang berada di tempat
yang lembab dan banyak terdapat sampah. Hewan ini memakan berbagai tanaman
budidaya, oleh karena itu bekicot termasuk salah satu hama tanaman. Lebih lanjut
dijelaskan bahwa bekicot sebagai hewan yang rakus, cepat berkembang biak, dan
mampu menyesuaikan diri dalam berbagai keadaan. Bekicot memiliki toleransi yang
luas terhadap berbagai macam makanan. Bahkan dikatakan bahwa bekicot tahan
terhadap persediaan makanan yang terbatas. Bekicot tidak tahan terhadap sinar
matahari langsung. Kondisi lingkungan optimal untuk hidupnya adalah di daerah
tropis basah. Suhu minimal letal adalah 45 ˚F atau 7,22 ˚C dan bekicot senang di
daerah yang mempunyai pH antara 7-8. Selain itu, di lingkungan yang berkapur
mempunyai korelasi yang positif dengan banyaknya populasi bekicot. Hewan
Hermaphrodite tidak dapat dibedakan antara jantan dan betina nya ,karena tiap
Individu memproduksi Ova dan Sperma sekaligus. Sperma dari Tubuh bekicot tidak
dapat dibuahi sel telur yang diproduksinya sendiri .Untuk pembuahan telur
diperlukan adanya pertukaran sperma dengan bekicot lain melalui kegiatan Kopulasi.
Berdasarakan peta pergerakan diatas, maka ketika suhu lingkungan rendah dan
kelebaban tinggi maka pergerakan Achatina fulica bergerak lebih jauh dibandingkan
saat suhunya tingi. Tercatat prilakunya ada yang diam, mau dan bereproduksi, pada
saat diam kebanyakan bila di lihat pada kondisi lingkungan ketika itu besuhu tingi,
maka hewan tersebut diam. Tapi pada saat pergerakan maju kebanykan pada saat
suhu rendah kelembaban tnggi. Hal ini menunjukan suatu prilaku dasar naluriah yang
dimiliki oleh hewan tersebut.
Turbo sp merupakan salah satu jenis siput yang lazim ditemukan di perairan
Indonesia. Cangkang Turbo memiliki ukuan panjang antero-posterior (tinggi) yang
lebih besar dari pada lebar, berwarna coklat muda diselingi jalur berwarna coklat dan
hijau dengan spiral yang berduri. Ukuran cangkang dapat mencapai 6 cm, operculum
berwarna coklat-orange atau hijau tua, sedangkan bibir luar berwarna kuning
keemasan. Organisme ini dapat ditemukan diseluruh pantai yang memili habitat
rataan terumbu karang. Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Archaeogastropoda
Family : Turbinidae
Genus : Turbo
Spesies : Turbo sp.
Spesies selanjutnya adalah Pomacea sp. Keong mas atau siput murbai
merupakan hewan lunak (Mollusca) dari kelas Gastropoda yang berarti berjalan
dengan perut. Keong emas biasa hidup di rawa, sawah irigasi, saluran air, dan areal
yang selalu tergenang. Meski demikian, bukan berarti keong emas tak bisa hidup di
areal tanpa air. Saat musim kemarau, mereka mengubur diri di dalam tanah yang
lembab. Mereka mampu berdiapause (fase dimana organisme berhenti berkembang
dan terjadi pada siklus tahunan) selama 6 bulan, kemudian aktif kembali saat tanah
mulai dialiri air. Mereka bahkan bisa hidup di lingkungan ganas, seperti air yang
terkena polusi dan kurang kadar oksigen. Siklus hidup keong emas terbilang cukup
pendek. Telur-telur keong emas dapat menetas hanya dalam waktu 7-14 hari. Keong
emas juga mampu bereproduksi dengan sangat gesit. Seekor keong dapat
menghasilkan 1000-1200 telur dalam satu bulan. Klasifikasi dari spesies ini adalah :
Kingdom : Animalia
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Order : Mesogastropoda
Family : Ampullariidae
Genus : Pomacea
Spesies : Pomacea sp.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa :


1. Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomik
individu yang beraneka ragam dan memasukkanya ke dalam suatu takson.
2. Determinasi yaitu membandingkan suatu hewan dengan satu hewan lain yang
sudah dikenal sebelumnya (dicocokkan atau dipersamakan).
3. Berdasarkan hasil identifikasi dan determinasi yang dilakukan dengan
menggunakan berbagai preparat avertebrata dapat di kelompokan hubungan
fenetik dan di gambarkan dalam fenogram.

B. Saran

Praktikum identifikasi dan determinasi hewan seharusnya praktikan lebih


memperhatikan asisten karena dalam praktikum ini dibutuhkan ketelitian.
DAFTAR REFERENSI

Ishtiaq, M, Ch., He, Q., Feng, S., Wang, Yi., Xiao, P.G., Cheng, Yiyu And Ahmed,
Habib. 2010. Determination Of Taxonomic Status Of Chinese Species Of
The Genus Clematis By Using High Performance Liquid
Chromatography–Mass Spectrometry (Hplc-Ms) Technique. Pak. J. Bot.,2(2):
691-702, 2010.

Mayr, Ernest. 1969. Principles Of Systematic Zoologi. Tata McGraw-Hill Publishing


Company, New Delhi.

Nugroho, Krisna Dwi. 2012. STRUKTUR KOMUNITAS GASTROPODA DI


PERAIRAN PESISIR KECAMATAN GENUK KOTA SEMARANG.
Journal of Marine Research. Universitas Diponegoro.

Radiopoetro, 1988. Zoology. Erlangga, Jakarta.

Skelton, Peter W. 2013. Rudist classification for the revised Bivalvia volumes of the
Treatise on Invertebrate Paleontology’. Geological Society of Jamaica. The
Open University.

Tyo R Karmana. 2008. Determinasi dan Kunci Determinasi. Erlangga. Jakarta

Widiyadi, E. 2009. Penerapan Tree dalam Klasifikasi dan Determinasi Makhluk


Hidup. Makalah IF201, Bandung.
.