Anda di halaman 1dari 6

1

LAPORAN PENDAHULUAN
INPARTU KALA I RUANGAN BERSALIN
I. KONSEP DASAR MEDIS
A. PENGERTIAN
Persalinan normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala yang dapat
hidup dengan tenaga ibu sendiri dan uri,tanpa alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya
berlangsung kurang dari 24 jam melalui jalan lahir. (Persis Mary Hamilton, 2014).

B. SEBAB-SEBAB TERJADINYA PERSALINAN


Penyebab peningkatan aktivitas uterus yang sebenarnya tidak diketahui, tetapi sedikitnya ada 2 kategori
yaitu:
1. Faktor hormonal yang menyebabkan peningkatan kopntraksi uterus
a. Rasio estrogen terhadap progesterone
Progesteron menghambat kontraksi uterus selama kehamilan, sedangkan estrogen cenderung
meningkatkan derajat kontraktilitas uterus, sedikitnya terjadi karena estrogen meningkatkan jumlah
gap jungtion antara sel-sel otot polos uterus yang berdekatan. Baik estrogen maupun progesteron
disekresikan dalam jumlah yang secara progresif makin bertambah selama kehamilan. Oleh karena itu
diduga bahwa rasio estrogen terhadap progesteron cukup meningkat menjelang akhir kehamilan,
sehingga paling tidak berperan sebagian dalam peningkatan kontraksi uterus.
b. Pengaruh oksitosin pada uterus
Oksitosin merupakan suatu hormon yang disekresikan oleh neurohipofise yang secara khusus
menyebabkan kontraksi uterus. 3 alasan peranan oksitosin :
1) Otot uterus meningkatkan jumlah reseptor-reseptor oksitoksin, oleh karena itu meningkatkan
responnya terhadap dosis oksitosin yang diberikan selama beberapa bulan terakhir kehamilan.
2) Kecepatan sekresi oksitosin oleh neurohipofise sangat meningkat pada saat persalinan.
3) Iritasi oleh regangan pada serviks uteri, dapat menyebabkan kelenjar hipofise posterior
meningkatkan sekresi oksitosinnya.
c. Pengaruh hormon fetus pada uterus
Kelenjar hipopisis fetus juga mensekresikan oksitoksin yang jumlahnya semakin meningkat, dan
kelenjar adrenalnya mensekresikan sejumlah besar kortisol yang merupakan suatu stimulan uterus.
Selain itu, membran fetus melepaskan prostagladin dalam kosentrasi tinggi pada saat persalinan.
Prostagladin meningkatkan intensitas kontraksi uterus.
2. Faktor mekanis yang meningkatkan kontraktilitas uterus
a. Regangan otot-otot uterus
Regangan sederhana otot-otot polos meningkatkan kontraktilitas otot-otot tersebut.
Selanjutnya regangan intermitten seperti yang terjadi berulang-ulang pada uterus karena pergerakan
fetus juga meningkatkan kontraksi otot polos.
b. Regangan atau iritasi serviks
Regangan atau iritasi saraf pada serviks mengawali timbulnya refleks pada korpus uteri,
tetapi efek ini juga secara sederhana dapat terjadi akibat transmisi iogenik sinyal-sinyal dari serviks ke
korpus uterus.

C. TANDA-TANDA PERSALINAN
Kala I
1. Tanda dan gejala :
a. His sudah Adekuat
b. Penipisan dan pembukaan serviks sekurang – kurangnya 3 cm
c. Keluar cairan dari vagina dalam bentuk lendir bercampur darah
d. His dianggap Adekuat bila :
1) His bersifat teratur, minimal 2x tiap 10 menit dan berlangsung sedikitnya 40 detik
2) Uterus mengeras pada waktu kontraksi, sehingga tidak didapatkan cekungan lagi bila dilakukan
penekanan diujung jari.
3) Serviks membuka.
2. Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase :
a. Fase laten : berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lembut sampai mencapai ukuran
diameter 3 cm.
b. Fase aktif : dibagi dalam 3 fase lagi, yakni :
1) Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm
2) Fase dilaktasi maksimal : dalam waktu 2 jam pembukaan brlangsung sangat cepat, dari 4 cm
menjadi 9 cm.
3) Fase diselarasi : pembukaan menjadi lambat kembali. Dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm
menjadi lengkap ( 10 cm )
Fase – fase tersebut dijumpai pada primigavida. Pada multigrafida pun terjadi demikian, akan tetapi
fase laten, aktif, dan diselerasi terjadi lebih pendek.
2
D. PATOFISIOLOGI
Kala I
Tanda mulainya persalinan yaitu bila timbul his dan terjadi pelepasan lendir yang bercampur darah.
Lendir berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai mendatar, sedangkan darah berasal dari
pembuluh-pembuluh kapiler yang berada di sekitar kanalis servikalis yang pecah karena pergesera-pergeseran
ketika serviks membuka.
Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase :
1. Fase laten : berlangsung selama 8 jam, pembukaan terjadi sangat lambat sampai mencapai ukuran
diameter 3 cm.
2. Fase aktif : dibagi dalam 3 fase lagi yakni :
 Fase akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm
 Fase dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam dari 4 cm menjadi 9 cm
 Fase deselerasi : pembukaan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm
menjadi lengkap.
Mekanisme membukanya serviks berbeda antara pada primigravida dan multigravida. Pada primigravida
ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu, sehingga serviks akan mendatar dan menipis, baru
kemudian ostium uteri eksternum membuka. Pada multigravida ostium uteri internum sudah sedikit terbuka.
Ostium uteri internum dan eksternum menipis dan mendatar terjadi dalam saat yang sama.
Ketuban akan pecah dengan sendiri ketika pembukaan hampir atau telah lengkap.
Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hampir lengkap atau telah lengkap. Bila ketuban
telah pecah sebelum mencapai pembukaan 5 cm, disebut ketuban pecah dini.
Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I berlangsung kira-
kira 13 – 14 jam,sedangkan pada multi para berlangsung 6 – 7 jam.

E. KOMPLIKASI
1. Komplikasi sebagai akibat langsung kehamilan:
a. Hiperemesis gravidarum
b. Hipertensi dalam kehamilan
c. Perdarahan trimester I (abortus)
d. Perdarahan antepartum
e. Kehamilan ektopik
f. Kehamilan kembar
g. Molahydatidosa
h. Incompatibilitas darah
i. Kelainan dalam lamanya kehamilan
j. Penyakit serta kelainan plasenta dan selaput janin
2. Penyakit yang tidak langsung berhubungan dengan kehamilan
a. Penyakit dan kelainan alat kandungan
b. Penyakit Kardiovaskuler
c. Penyakit endokrin (DM)
d. Infeksi
e. Penyakit pernafasan (Asthma)
f. Penyakit ginjal
g. Penyalahgunaan obat/psikosis
h. Penyakit darah
i. Penyakit G.I.T

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Golongan darah
ABO dan RH untuk mengidentifikasi resiko terhadap inkompatibilitas
2. Laboratorium rutin termasuk pemeriksaan Gula Darah
3. Usap vagina/rectal
Tes untuk neisseria gonorrhoea, chlamydia
4. Pelvimetri radiologik (akhir trimester 3) dan Ultrasonografi (USG)
5. Tes serologi
Menentukan adanya sifilis, penyakit hubungan kelamin.
6. Skrining
Terhadap Tuberculosis dan TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Hepatitis / HIV).
7. Titer rubella
> a : ad menunjukkan imunitas
8. Papanicoloan Smear
Mengidentifikasi neoplasia, herpeks simplex tipe II
9. Urinalisis
Skrin untuk kondisi medis (mis : pemastian kehamilan, infeksi, diabetes, penyakit ginjal).
3
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Anamnesis
Identitas Pasien
Identitas umum, perhatian pada usia ibu, status perkawinan dan tingkat pendidikan. Range usia
reproduksi sehat dan aman antara 20-30 tahun. Pada kehamilan usia remaja, apalagi kehamilan di luar
nikah, kemungkinan ada unsur penolakan psikologis yang tinggi. Tidak jarang pasien meminta aborsi.
Usia muda juga faktor kehamilan risiko tinggi untuk kemungkinan adanya komplikasi obstetri seperti
preeklampsia, ketuban pecah dini, persalinan preterm, abortus.
2. Keluhan utama
Sadar/tidak akan kemungkinan hamil, apakah semata-mata ingin periksa hamil, atau ada keluhan /
masalah lain yang dirasakan.
3. Riwayat kehamilan sekarang / riwayat penyakit sekarang
Ada/tidaknya gejala dan tanda kehamilan. Jika ada amenorea, kapan hari pertama haid terakhir,
siklus haid. Hal ini penting untuk memperkirakan usia kehamilan menstrual dan memperkirakan saat
persalinan menggunakan Rumus Naegele (h+7 b-3 + x + 1mg) untuk siklus 28 + x hari.
Ditanyakan apakah sudah pernah periksa kehamilan ini sebelumnya atau belum. Apakah ada keluhan /
masalah dari sistem organ lain, baik yang berhubungan dengan perubahan fisiologis kehamilan maupun
tidak.
4. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit sistemik lain yang mungkin mempengaruhi atau diperberat oleh kehamilan
(penyakit jantung, paru, ginjal, hati, diabetes mellitus), riwayat alergi makanan / obat tertentu dan
sebagainya. Ada/tidaknya riwayat operasi umum / lainnya maupun operasi kandungan (miomektomi,
sectio cesarea dan sebagainya).
5. Riwayat penyakit keluarga
Riwayat penyakit sistemik, metabolik, cacat bawaan, dan sebagainya.
6. Riwayat khusus obstetri ginekologi
Adakah riwayat kehamilan / persalinan / abortus sebelumnya (dinyatakan dengan kode GxPxAx,
gravida / para / abortus), berapa jumlah anak hidup. Ada/tidaknya masalah2 pada kehamilan / persalinan
sebelumnya seperti prematuritas, cacat bawaan, kematian janin, perdarahan dan sebagainya. Penolong
persalinan terdahulu, cara persalinan, penyembuhan luka persalinan, keadaan bayi saat baru lahir, berat
badan lahir jika masih ingat.
7. Riwayat menarche, siklus haid, ada/tidak nyeri haid atau gangguan haid lainnya, riwayat penyakit
kandungan lainnya.
8. Riwayat kontrasepsi, lama pemakaian, ada masalah/tidak.
9. Riwayat sosial / ekonomi
Pekerjaan, kebiasaan, kehidupan sehari-hari.
10. Pemeriksaan Fisis
a. Penilaian keadaan umum, kesadaran, komunikasi/kooperasi.
b. Tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan), tinggi/berat badan.
c. Kemungkinan risiko tinggi pada ibu dengan tinggi < 145 cm, berat badan 75 kg. Batas hipertensi pada
kehamilan yaitu 140/90 mmHg (nilai diastolik lebih bermakna untuk prediksi sirkulasi plasenta).
d. Kepala ada/tidaknya nyeri kepala (anaemic headache nyeri frontal, hypertensive / tension headache
nyeri suboksipital berdenyut).
e. Mata konjungtiva pucat / tidak, sklera ikterik / tidak.
f. Mulut / THT ada tanda radang / tidak, lendir, perdarahan gusi, gigi-geligi.
g. Paru / jantung / abdomen inspeksi palpasi perkusi auskultasi umum.
h. Ekstremitas diperiksa terhadap edema, pucat, sianosis, varises, simetri (kecurigaan polio, mungkin
terdapat kelainan bentuk panggul).
i. Jika ada luka terbuka atau fokus infeksi lain harus dimasukkan menjadi masalah dan direncanakan
penatalaksanaannya.
j. Status obstetricus / pemeriksaan khusus obstetrik
k. Abdomen
Inspeksi : membesar/tidak (pada kehamilan muda pembesaran abdomen mungkin belum nyata).
Palpasi : tentukan tinggi fundus uteri (pada kehamilan muda dilakukan dengan palpasi bimanual
dalam, dapat diperkirakan ukuran uterus - pada kehamilan lebih besar, tinggi fundus dapat diukur
dengan pita ukuran sentimeter, jarak antara fundus uteri dengan tepi atas simfisis os pubis).
11. Pemeriksaan palpasi Leopold dilakukan dengan sistematika :
a. Leopold I
Menentukan tinggi fundus dan meraba bagian janin yang di fundus dengan kedua telapak tangan.
b. Leopold II
Kedua telapak tangan menekan uterus dari kiri-kanan, jari ke arah kepala pasien, mencari sisi
bagian besar (biasanya punggung) janin, atau mungkin bagian keras bulat (kepala) janin.
4
c. Leopold III
Satu tangan meraba bagian janin apa yang terletak di bawah (di atas simfisis) sementara tangan
lainnya menahan fundus untuk fiksasi.
d. Leopold IV
Kedua tangan menekan bagian bawah uterus dari kiri-kanan, jari ke arah kaki pasien, untuk
konfirmasi bagian terbawah janin dan menentukan apakah bagian tersebut sudah masuk / melewati
pintu atas panggul (biasanya dinyatakan dengan satuan x/5). Jika memungkinkan dalam palpasi
diperkirakan juga taksiran berat janin (meskipun kemungkinan kesalahan juga masih cukup besar).
Pada kehamilan aterm, perkiraan berat janin dapat menggunakan rumus cara Johnson-Tossec yaitu
1) Tinggi fundus (cm) - (12/13/14)) x 155 gram.
2) Auskultasi : dengan stetoskop kayu Laennec atau alat Doppler yang ditempelkan di daerah
punggung janin, dihitung frekuensi pada 5 detik pertama, ketiga dan kelima, kemudian dijumlah
dan dikalikan 4 untuk memperoleh frekuensi satu menit. Sebenarnya pemeriksaan auskultasi yang
ideal adalah denyut jantung janin dihitung seluruhnya selama satu menit.
3) Batas frekuensi denyut jantung janin normal adalah 120-160 denyut per menit. Takikardi
menunjukkan adanya reaksi kompensasi terhadap beban / stress pada janin (fetal stress),
sementara bradikardi menunjukkan kegagalan kompensasi beban / stress pada janin (fetal
distress/gawat janin).
12. Genitalia eksterna
Inspeksi luar : keadaan vulva / uretra, ada tidaknya tanda radang, luka / perdarahan, discharge,
kelainan lainnya. Labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa untuk inspeksi lebih jelas. Inspeksi dalam
menggunakan spekulum (in speculo) : Labia dipisahkan dengan dua jari pemeriksa, alat spekulum Cusco
(cocorbebek) dimasukkan ke vagina dengan bilah vertikal kemudian di dalam liang vagina diputar 90o
sehingga horisontal, lalu dibuka. Deskripsi keadaan porsio serviks (permukaan, warna), keadaan ostium,
ada/tidaknya darah/cairan/ discharge di forniks, dilihat keadaan dinding dalam vagina, ada/tidak tumor,
tanda radang atau kelainan lainnya. Spekulum ditutup horisontal, diputar vertikal dan dikeluarkan dari
vagina.
13. Genitalia interna
Palpasi : colok vaginal (vaginal touché) dengan dua jari sebelah tangan dan BIMANUAL dengan
tangan lain menekan fundus dari luar abdomen. Ditentukan konsistensi, tebal, arah dan ada/tidaknya
pembukaan serviks. Diperiksa ada/tidak kelainan uterus dan adneksa yang dapat ditemukan. Ditentukan
bagian terbawah
14. Pada pemeriksaan di atas 34-36 minggu dilakukan perhitungan pelvimetri klinik untuk memperkirakan
ada/tidaknya disproporsi fetopelvik/sefalopelvik.
15. Kontraindikasi relatif colok vaginal adalah :
a. Perdarahan per vaginam pada kehamilan trimester ketiga, karena kemungkinan adanya plasenta
previa, dapat menjadi pencetus perdarahan yang lebih berat (hanya boleh dilakukan di meja operasi,
dilakukan dengan cara perabaan fornices dengan sangat hati-hati)
b. Ketuban pecah dini - dapat menjadi predisposisi penjalaran infeksi (korioamnionitis). Pemeriksaan
dalam (vaginal touché) seringkali tidak dilakukan pada kunjungan antenatal pertama, kecuali ada
indikasi.
16. Pemeriksaan rektal (rektal touché) : dilakukan atas indikasi.
B. PATWAY KALA I

Kontraksi uterus

Pe↓ bag. Bawah Janin

Peregangan otot jalan lahir

Dilatasi servik

Perangsangan syaraf sensorik

PERSALINAN

Proses - Transmisi – Transduksi – Modulasi - Persepsi

NYERI

Proses kala I lama

Kekhawatiran pada bayi

KECEMASAN
5
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri b/d intensitas kontraksi.
2. Takut b/d persalinan dan menjelang kelahiran
3. Defisit volume cairan b/d intake cairan yang tidak adekuat
4. Gangguan eliminasi BAK b/d penekanan uterus pada kandung kemih
5. Cemas b/d ketidaktahuan tentang situasi persalinan, nyeri pada persalinan
6. Koping tidak efektif b/d kelemahan dan ketidaknyamanan dari persalinan
7. Gangguan persepsi sensori b/d proses persalinan
8. Defisit perawatan diri b/d gangguan energi dan nyeri dalam perslainan

D. INTERVENSI DAN RASIONALISASI

FASE LATEN
1. Nyeri b/d intensitas kontraksi.
Tujuan : Klien mampu beradaptasi dengan nyeri.
Intervensi :
a. Menggunakan tehnik pernapasan
R / Tehnik pernapasan dapat meningkatkan relaksasi otot – otot abdomen dengan demikian
menambah ukuran kapasitas abdomen sehingga mengurangi gesekan (priksi) antara uterus dan
dinding abdomen.
b. Melakukan masage atau gosokan pada pinggang (teori gatekontrol terhadap nyeri)
R/ Merupakan suatu tehnik untuk mengkanter dan digunakan untuk mengalihkan perhatian ibu dari
nyeri
c. Menganjurkan untuk memberikan air hangat untuk mengomprtes pinggang bawah.
R/ Membantu relaksasi, meningkatkan kenyamanan
d. Memberikan HE pada klien bahwa respon nyeri ini sudah indikasi positif dan memmang harus ada un
tuk mengakhiri kala I dan mendekati kala transisi
R/ Informasi yang cukup dapat mengurangi kecemasan dan merupakan salah satu aspek sayang ibu
2. Takut b/d persalinan dan menjelang kelahiran
Tujuan : Klien akan menunjukan rasa takut teratasi.
Intervensi :
a. Perkenalkan diri pada klien dan berikan suport
R/ Memperkenalkan diri merupakan salah satu pendekatan kepada klien dan suport yang diberikan
dapat menambah semangat hidup klien dalam menanti kelahiran .
b. Komunikasikan peran seperti support perawatan dan pengetahuan perawat secara verbal dan non
verbal
R/ Ibu akan lebih mengerti dan memahami tentang persalinan, peran perawat sehingga akan
mengurangi rasa takut dan klien akan tenang
c. Orientasikan klien ke lingkungan (tempat persalinan)
R/ Orientasi terhadap lingkungan membuat klien lebih mengetahui dan dapat beradaptasi dengan
lingkungan tempat persalinan sehiungga akan mengurangi rasa takut

FASE AKTIF
1. Defisit volume cairan b/d intake cairan yang tidak adekuat
Tujuan : Klien akan menunjukkan defisit voleme cairan adekuat
Intervensi :
a. Pertahankan kalori dan elekrolit
R/ Kalori dibutuhkan sebagai sumber energi selama proses persalinanuntuk mencegah dehidrasi
b. Anjurkan minum air putih selama proses persalinan jika tidak ada mual dan muntah
R/ Cairan lebih cepat diabsorbsi melalui lambung dibandingkan dengan makanan padat dan untuk
mencegah dehidrasi
c. Berikan cairan IV secara rutin (dextrosa 5 dan RL)
R/ Memenuhi kebutuhan tubuh akan cairan dan elekrolit

2. Gangguan eliminasi BAK b/d penekanan uterus pada kandung kemih


Tujuan : Klien menunjukkan pola eliminasi BAK kembali normal
Intervensi :
a. Catat tentang jumlah dan waktu berkemih
R/ Frekuensi lebih sering selama proses persalinan
6
b. Kosongkan kandung kemih setiap 2 jam
R/ Kandung klemih yang penuh menimbulkan ketidaknyamanan dan turunnya bayi ke pelvis
c. Kolaborasi pemasangfan kateter
R/ Membentu dalam mengosongkan kandung kemih sehingga penurunan kepala bayi ke pelvis tidak
terhambat
3. Cemas b/d ketidaktahuan tentang situasi persalinan, nyeri pada persalinan
Tujuan : Klien akan mengungkapkan cemas teratasi
Intervensi :
a. Jelaskan prosedur sebelum memulai melakukan tindakan
R/ Mengingatkan pasien untuk mengendalikan dan mempersiapkan mentalnya, hal ini akan
mengurangi kecemasan yang dialami
b. Beri gambaran yang jelas tentang proses persalinan
R/ Dengan gambaran yang jelas tentang persalinan, ibu akan lebih memahami dan mengerti tentang
proses persalinan sehingga akan mengurangi perasaan takut dan pasien akan tenang
4. Koping tidak efektif b/d kelemahan dan ketidaknyamanan dari persalinan
Tujuan : Klien menunjukkan koping efektif
Intervensi :
a. Catat secara berkala tentang perubahan tingkah laku ibu sehingga memudahkan dalam pemberian
tindakan
R/ Catat secara berkala dapat mengetahui perubahan tingkah laku ibu sehingga memudahkan dalam
pemberian intervensi
b. Anjurkan kepada ibu untuk konsentrasi dalam mengontrol dengan berkomunikasi
R/ Konsentrasi dan komunikasi yang baik akan membantu dalam intervensi yang akan dilakukan
c. Menyarankan pada suami untuk meberi semangat atau dukungan moril
R/ Ibu membutuhkan seseorang untuk memunta bantuan dan dorongan. Suami adalah salah seorang
yang sangat penting
5. Gangguan persepsi sensori b/d proses persalinan
Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan lingkungannya
Intervensi :
a. Lakukan pendekatan pada klien
R/ Pendekatan dilakukan agar klien dapat berkomunikasi dan merupakan langkah awal untuk
mengenal dan membimbing klien
b. Bantu klien dakam pengenalan lingkungan
R/ Klien dapat beradaptasi terhadap lingkungan dan nmengetahui seluk beluk ruangan tempat
persalinan
c. Jelaskan semua prosedur proses persalinan
R/ Klien dapat vmengerti dan memahami tentang proses persalinan
6. Defisit perawatan diri b/d gangguan energi dan nyeri dalam perslainan
Tujuan : Klien mampu merawat diri setelah proses persalinan
Iintervensi :
a. Lakukan teknik effluerage
R/ Meningkatkan relaksasi dan kenyamanan
b. Anjurkan ambulasi dan posisi yang nyaman
R/ Ambulasi dan posisi yang nyaman merupakan salah satu cara dalam melakukan rawat diri pada ibu
untuk mencegah kekakuan
c. Anjurkan klien untuk beristirahat
R/ Istirahat merupakan hal yang penting bagi ibu hamil dalam mengatasi kelelahan sehingga ibu tetap
segar dan kuat
d. Anjurkan suami untuk memberikan bantuan dalam hal perawatan diri
R/ Suami adalah orang yang terdekat, diharapkakan mampudalam membantu merawat istrinya
e. Berikan support dalam melakukan perawatan diri
R/ Support yang dibverikan akan menambah semangat ibu dalam melakukan dan meningkatkan
perawatan terhadap dirinya

DAFTAR PUSTAKA
1. Doengoes, E. Marilyn, Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Edisi 2, 2012, EGC, Jakarta.
2. FKUI, Buku Pedoman Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Cetakan 1, 2012, Yayasan Bina Pustaka:
Jakarta.
3. FKUI, Ilmu Kebidanan, Edisi 3, 2013, Yayasan Bina Pustaka: Jakarta.
4. FKUI, Obstetri Fisiologi, 2013, E. Leman: Bandung.
5. Persis Mary Hamilton, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, 2013, EGC, Jakarta.
6. Carpenito,Lynda Juall. 2013 Buku Saku Diagnosa Keperawatan. ed.8.EGC. Jakarta
7. Prawiro Harjo. 2014. Bedah Kebidanan. Bina Pustaka. Jakarta