Anda di halaman 1dari 36

DASAR DASAR HUKUM TATA NEGARA INDONESIA

BAB I
Pendahuluan
Hukum tatanegara adalah suatu hukum yang mengenai suatu negara. Untuk lebih jelasnya kita
menguraikan apakah arti dari negara itu sendiri.
1.Logemanbuah merumuskan negara itu sebagai organisasi kemasyarakatan, yaitu suatu
pertmbahan kerja(werkverband) yang bertujuan dengan kekuasaanya mengatur serta
menyelenggarakan masyarakat. Atau sering di sebut dengan pertambahan-pertambahan sebuah
jabatan atau lapangan pekerjaan yang teetap.
2.Van A pel doorn mengemukakan bahwa sebagai “ tanda” menunjukkan “negara”, pengertian
“kedaulatan” sebetulnya tidk dapat di pakai karena pengertian tersebut tidak tentu, tidak pasti, dan
sifatnya “kedaulatan” itu senantiasa berubah.
Dapat kita lingkup kajian hukum tata negara mempunya dua arti, pertama sebagai
staatsrechtswetenschap(ilmu hukum tata negara) dan kedua, sebagai positief staatsrecht (hukum
tata negara positif).
Istilah “hukum tata negara” dapat dianggap identik dengan pengertian “Hukum Konstitusi”
yang merupakan terjemahan langsung dari perkataan Constitutional Law (Inggris), Droit
Constitutionnel (Perancis), Diritto Constitutionale (Italia), atau Verfassungsrecht (Jerman). Dari
segi bahasa, istilah Constitutional Law dalam bahasa Inggris memang biasa diterjemahkan sebagai
“Hukum Konstitusi”. Namun, istilah “Hukum Tata Negara” itu sendiri jika diterjemahkan ke
dalam bahasa Inggris, niscaya perkataan yang dipakai adalah Constitutional Law. Oleh karena itu,
Hukum Tata Negara dapat dikatakan identik atau disebut sebagai istilah lain belaka dari “Hukum
Konstitusi”. Kemudian hasil terjemahan dari perkataan bahasa Belanda saatsrecht. Sudah menjadi
kesatuan pendapat diantara para sarjana hukum Belanda untuk membedakan antara “hukum tata
negara arti luas dan hukum tata negara dalam arti sempit”. Dan untuk membagi hukum tata negara
dalam arti luas itu atas dua golongan hukum yaitu:
1. Hukum tata negara dalam arti sempit (staatsrecht in enge zin) Atau untuk singkatnya dinamakan
hukum tata negara(staatscrecht).
2. Hukum tata usaha negara(atministratief recht).
Contohnya Seperti yang terjadi di hindia Belanda, di hindia Belanda mengatakan bahwa hukum
tata negara hindia Belanda terdiri dari kaidah-kaidah hukum mengenai tata( inrichting)Hindia
Belanda alat-alat perlengkapan kekuasaan negara yang harus menjalankan tugas Hindia Belanda,
Susunan, tata, wewenang, dan perhubungan kekuasaan dan diantara alat-alat perlengkapan itu.
Sementara itu untuk hukum tata usaha negara Hindia Belanda di rumuskan oleh Kleintjes sebagai
kaidah hukum mengenai penyelenggaraan tugas masing-masing alat perlengkapanya.
Van Vollenhoven menerangkan bahwa hukum tata usaha negara itu adalah semua kaidah
hukum yang bukan hukum tata negara material bukan hukum perdata material, dan bukan hukum
pidana material. Kemudian ia membuat skema pembagian untuk hukum usaha tata negara atas
golonganya:
1. Hukum pemerintahan
2. Hukum peradilan
a. Peradilan ketatanegaraan
b. Peradilan perdata
c. Peradilan tata usaha
d. Peradilan pidana
3. Hukum kepolisian
4. Hukum perundang-undangan
Menurut J.H.A. Logemann hukum tata negara adalah serangkaian kaidah hukum mengenai
pribadi hukum dari jabatan atau kumpulan jabatan mengenai berlakunya hukum tersebut di suatu
negara. Pribadi hukum jabatan adalah pengertian yang meliputi serangkaian persoalan mengenai
subjek ewajiban kita dalam mendapatkan batasan wewenang.
Dan didalam bukunya college-aantekeningen over het staatsrecht van nederlands indie juga
mengatakan bahwa ilmu hukum tata negara mempelajari sekumpulan kaidah hukum yang di
dalamnya tersimpul kewajiban dan wewenang kemasyarakatan dari organisasi negara, dari
pejabat-pejabatnya ke luar yang berhubungan satu sama lain dengan pihak lain atau dengan kata
lain satu kesatuan dari sebuah organisasi.
Menurut Van praag, hukum tata negara atau hukum usaha negara adalah suatu sistim
delegasi dari peraturan peraturan tentang keuasaan yang bertingkat-tingkat. Dan di dalam tata
negara terdapat kaidah kaidah yang mendelegasikan kekuasaan dari pembuat UUD pada pembuat
UU, dari organ tertinggi ke organ yang terendah untuk membuat peraturan yg berlaku. Seperti
KUH Perdata, KUH Pidana, dan lain lain. Dan pendelegasian yang tertera itu tadi adalah tingkat
tertinggi. Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat yang d kemukakan oleh para ilmuan lain.
Kemudian dari beberapa pendapat-pendapat diatas dapat kita simpulkan Hukum Tata Negara
adalah sekumpulan peraturan yang mengatur organisasi dari pada negara, hubungan antara alat
perlengkapan negara dalam garis vertikal dan horizontal serta kedudukan warga negara dan hak-
hak azasinya.
BAB II
Sejarah Ketatanegaraan Indonesia

Penyusunan Undang-Undang Dasar 1945


Anggota Badan Penyelidikan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dilantik pada
tanggal 28 mei 1945 oleh pemerintah bala tentara Jepang. BPUPKI beranggotakan 62 orang terdiri
atas satu ketua dan satu wakil ketua, serta 60 orang anggota, yang mejabat sebagai ketua (katyo)
adalah Dr.KRT.
Radjiman Wiryoiningrat dan wakil ketua (fuku katyo) atu ketua muda II (fuku katyo II) yaitu
Raden Pandji Soeroso. Dalam pelaaksanan sidaang BPUPKI dapat dibagi dua masa sidang, sidang
yang pertama dari tanggal 29 mei 1945 sampai dengan tanggal 1 juni 1945. Sedangkan masa sidang
kedua dari tanggal 10 sampai dengan 17 Juli 1945. Badan ini didirikan oleh pemerintah bala tentara
Jepang dengan maksud hanya untuk mengadakan penyelidikan , akan tetapi lebih dari itu bahkan
sampai kepada penyusunan rancangan Undang –Undang Dasar. Oleh karena itu , sejak masa
sidang pertaama sudah mulai membicarakan tentang persoalan yang sangat mendesak seperti
Philosopiche Grondslag, dasar falsafah bagi Indonesia merdeka. Berikut pada masa sidang kedua
ini ide penyusunan naskah UUD benar-benar dilaksanakan dengan membentuk panitia yang diberi
nama Panitia Hukum Dasar yang beranggotakan 19 orang. Diketuai oleh Ir.Soekarno. kemudian
Panitia Hukum Dasar ini membentuk tim kerja yang disebut Panitia Kecil yang terdiri dari: Prof.
Dr. Mr.soepomo, Mr. Wongsonegoro R. Soekarjo, Mr. A. Maramis, Mr. R. Panji singgih, H.A
Salim, dan Dr. Sukiman. Sedangkan Ketua Panitia Kecil adalah Prof. Dr. Mr. Soepomo. Pada
tanggal 13 juli 1945 Paitia Kecil berhasil menyelesaikaan tugasnya dan memberikan laporan
kedapa Panitia Hukum Dasar. Kemudian setelah beberapa kali BPUPKI bersidang menyutujui
hasil kerja panitia kecil tersebut sebagai rancangan UUD pada tanggal 19 juli 1945.
Lahirnya UUD 1945 oleh Pemerintah
Dengan berakhirnya tugas BPUPKI berhasil menyususun naskah rancangan undang undang dasar
dalam rangka persiapan kemerdekaan indonesia maka pemerintah bala tentara jepang membentuk
PPKI bertugas menyiapkan segala sesuatunya berkaitan dengan kemerdekaan indonesia .panitia
ini terdiri dari 21 orang anggotanya termasuk Ir. soekarno dan mohammad hatta. Panitia ini mulai
bekerja pada tanggal 9 agustus 1945 dimana pada tanggal 24 agustus 1945 hasil kerja panitia sudah
dapat disahkan oleh pemerintah jepang tapi tidak berjalan sebagaimana yang diharapakan setelah
panitia menjalankan tugasnya pada tanggal 16 agustus 1945 tentara sekutu menjatuhkan bom atom
dihirosima dan pada tanggal 9 agustus 1945 di nagasaki. Pada akhirnya jepang mneyerah kepada
tentara sekutu. Sebagai akaibat dari pengeboman dua kota penting dijepang itu terjadi perubahan
jumlah anggota panitia persiapan kemerdekaan indonesia PPKI.dari jumlah semula 21 orang
menjadi 26 orang sudah tidak mempunyai kaitan lagi dengan pemerintah bala tentara jepang.
Karena sebelumnya PPKI mulai bekerja ,jepang sudah menyerah pada tentara sekutu kemudian
PPKI sekutu. Mengambil Langkah-langkah sendiri diluar pengetahuan dan pengaruh pemerintah
jepang. Kemudian setelah sehari proklamasi kemerdekaan yaitu pada tanggal 18 agustus 1945,
PPKI mengesahkan naskah undang undang 1945 yang merupakan hasil kerja panitia hukum dasar
yang telah diterima oleh badan penyidik usaha usaha kemerdekaan indonesia termasuk teks
pembukaan UUD 1945 untuk diketahui teks pembukaan UUD tersebut dicetuskan oleh 9 orang
oleh tokoh bangsa indonesia pada tanggal 22 juni dijakarta yang dikenal dengan nama piagam
jakarta naskah tersebut membuat pokok-pokok pikiran tentang negara indonesia merdeka setelah
tujuh kata yang berkenaan dengan syariat islam di hilangkan maka seluruh isinya dijadikan UUD
1945
Periode Tahun 1950 s.d 1966
Pada tanggal 17 Agustus 1950 indonesia resmi kembali menjadi Negara kesatuan RI, yang
mengenai bentuk Negara diatur dalam Alinea 4 UUDS 1950 yang menentukan : “ maka ini kami
menyusun kemerdekaan kami itu, dalam suatu piagam Negara yang berbentuk Republik Kesatuan.
Demikian pula yang ditegaskan dalam pasal 1 ayat (1) UUDS 1950 yang menetukan RI yang
merdeka dan berdaulat ialah Negara hukum yang demokratis yang berbentuk kesatuan.
Perwujudan bentuk Negara kesatuan itu diatur dalam pasal 13 ayat (1) UUDS 1950, pasal 45 ayat
(1) dan ayat (2) UUD 1950 PASAL 83 UUD 1950 dan pasal 83 ayat (1) UUDS 1950.
Atas dasar ketentuan-ketentuan konstitusi tersebut dapat disimpulkan bahwa system pemerintahan
Negara menurut UUDS 1950 adalah system parlementer (kepala Negara tidak dapat di ganggu
gugat, karena kepala Negara tidak pernah di anggap salah). Seperti hal nya dengan UUD
sebelumnya, maka UUDS adalah dimaksutkan untuk sementara. Sifat kesementaraanya dari UUD
ini ditujunkan pula dari nama resminya dimana dipergunakan istilah “sementara”. Keberadaan
lembaga Negara (konstituante) sebagai lembaga yang representative perlu diselengarakan pemilu,
agar segera dapat menjalankan tugas nya yaitu membuat UUD yang dapat diperkiran dapat
sempurna. UUD no 7 th 1953 tentang pemilu anggota konstituante dan anggota DPR.
Konstituante yang dibentuk dari hasil pemilu yang dipilih oleh rakyat, setelah bekerja kurang lebih
2,5 th tidak pernah berhasil dalam menyelesaikan tugas nya membuat UUD yang menggantikan
UUDS. Kegagalan konstituante membuat UUD jauh sebelumnya sudah diperkirakan oleh
Soekarno. Oleh karena itu, ia meminta agar partai politik dibubarkan. Kemudian memperkenalkan
sebuah konsep baru pemerintahan yaitu “demokrasi terpimpin”. Menurut Soekarno, susunan
ketatanegaraan yang berdasarkan “multipartisme/ multipartai, seperti dianjurkan dalam maklumat
pemerintah 14 november 1945 itu, ternyata tidak cocok dengan cita-cita umum measyarakat karena
hanya menimbulkan politik free fight liberalism dan politik tersebut penghambat pembangunan
disegala aspek.
Demokrasi terpimpin adalah demokrasi yang harus mempunyai disiplin dan harus mempunyai
pemimpin. Masyarakat adil dan makmur tidak lain daripada masyarakat teratur dan terpimpin.
Menurut Moh. Yamin mengartikan demokrasi terpimpin sebagai guided democracy, yang berarti
pulaorganized democracy, dipimpin tidak oleh perseorangan; juga tidak berbentuk
gecentraliseerde materialism, melainkan oleh organisasi nasional sendiri.
Kesulitan yang mendasar dalam konstituante antar lain ketentuan sidang selalu tidak memenuhi
quorum minimal 2/3 dari anggota yang hadir dalam rapat. Untuk mngatasi hal tersebut, tanggal 22
april 1959 atas nama pemerintah, presiden memberikan amanat di depan sidang pleno konstituante,
yang berisi anjuran agar konstituante menetapkan saja UUD 1945 sebagai UUD yang tetap bagi
NKRI. Setelah diberikan tenggang waktu, konstituante belum juga mampu menyusun UUD. Hal
ini jelas akan menimbulkan keadaan ketatanegaraan yang membahayakan persatuan dan
keselamatan Negara, nusa dan bangsa. Untuk mengatasi hal tersebut presiden/ panglima tertinggi
angkatan perang pada hari minggu, 5 juli 1959, di istana Negara presiden mengeluarkan dekrit
yang bersejarah dalam ketatanegaraan RI yang berisi :
1. Pembubaran konstituante
2. Menetapkan UUD 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan dekrit ini dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950,
dan
3. Pembentukan MPRS yang terdiri atas anggota DPRS ditambah dengan utusan-utusan daerah
dan golongan-golongan serta pembentukan DPA sementara.
Dekrit tersebut dikeluarkan dengan alasan :
1.Bahwa anjuran presiden dan pemeritah untuk kembali kepada UUD 1945 yang disampaikan
kepada segenap rakyat Indonesia dengan amanat Presiden tanggal 22 april 1959 tidak memperoleh
keputusan dari konstituante sebagaimana ditentukan dalam UUDS
2.Bahwa berhubung dengan pernyataan sebagian besar anggota sidang pembuat UUD untuk tidak
menghadiri sidang lagi, konstitunte tidak lagi menyelesaikan tugas nya yang dipercayakan rakyat
Indonesia
3.Bahwa hal yang demikian itu menimbulkan keadaan ketatanegaraan yang membahayakan
persatuan dan keselamatan Negara, nusa dan bangsa, serta memerintahi pembangunan semesta
untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur
4.Bahwa dengan dukungan bagian terbesar rakyat Indonesia dan didorong oleh keyakinan kami
sendiri, kami terpaksa menempuh satu- satunya jalan untuk menyelamatkan Negara proklamasi
5.Bahwa kami berkeyakinan kalau piagam Jakarta tertanggal 22 juni 1945 menjiwai UUD 1945
dan adalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut
Dan Sebagian besar anggota konstituante khawatir bila kembali ke UUD 1945, dengan alasan :
1.Adanya kelemahan dan kekurangan dalam batang tubuh UUD 1945
2.Memberi potensi kekusaan terlampau besar kepada Eksekutif yang memungkinkan terwujudnya
pemerintah diktaktor
3.Kurang memberikan perlindungan terhadap HAM dan Hak-hak warga Negara.
4.Begitu banyak “Loop Holes” yang terdapat dalam rumusan pasal-pasal UUD 1945.
Ketua MA pada waktu itu “DR.Wirjono Prodjodikoro,S.H” dalam suatu wawancara khusus
dengan ketua dewan redaksi seluruh Indonesia pada 11 Juli 1959 memberikan pendapatnya
mengenai dekrit presiden, sebagai beriut : “tindakan mendekritkan kembali ke UUD 1945 yang
dalam bahasa Belanda dinamakan NOODRECHT. Hal ini berarti bahwa dalam keadaan
ketatanegaraan tertentu kita dapat terpaksa mengadakan tindakan yang menyimpang dari
peraturan-peraturan yang memaksa ini dianggap oleh presiden atau penglima tertinggi angkatan
perang ada dalam Negara kita.
Dan berdasarkan atas inilah dekrit presiden atau panglima tinggi angkatan perang tentang kembali
ke UUD 1945 dikeluarkan“. Senada pula dengan pendapat Moh. Tolchah Mansoer, bahwa dasar
dekrit bukanlah UUDS RI, letak kekhususanya pada hukum darurat untuk menyelamatkan bangsa
dan Negara. Menurut Jimlly Asshiddiqie, dasar hukum darurat Negara subyektif “Subjektif
Staatsnoodrecht”, yaitu suatu keadaan dimana fungsi-fungsi kekuasaan konstitusional yang sah
tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya, kecuali dengan cara melanggar undang-undang tertentu
sementara keharusan untuk mengubah UUD dimaksud belum dapat dipenuhi dalam waktu
tersedia. Dalam hukum tata Negara subjektif Staatnoodrech adalah hak, yaitu Negara untuk
bertindak dalam keadaan bahaya atau darurat dengan cara penyimpang dari ketentuan-ketentuan
undang-undang, dan bahkan apabila memang diperlukan, menyimpang dari UUD 1945.
Rezim Demokrasi Terpimpin
Dekrit 5 juli 1959 membawa pengaruh dalam system ketatanegaraan dan system pemerintahan
Negara tingkat pusat dari system cabinet parlementer menjadi system cabinet residensial, serta
terjadi pula perubahan system demokrasi yang dianutnya yaitu demokrasi liberal menjadi
demokrasi terpimpin. Menurut Moh.Mahfud.MD, pengertian agak rinci tentang demokrasi
terpimpin dapat ditemukan dalam pidato kenegaraan Soekarno dalam rangka HUT Kemerdekaan
RI Tahun 1957 dan 1958, yang pokok – pokoknya adalah sebagai berikut :
· Ada rasa tidak puas terhadap hasil – hasil yang dicapai sejak 1945, karena belum
mendekati cita – cita dan tujuan proklamasi , seperti masalah kemakmuran dan pemerataan yang
tidak terbina. Belum utuhnya wilayah RI karena masih ada wilayah yang dijajah Belanda,
instabilitas nasional yang ditandai oleh jatuh bangunnya Kabinet samapai 17 kali, serta
pemberontakan daerah – daerah.
· Kegagalan tersebut karena menipisnya rasa nasionalisme , pemilihan demokrasi liberal
yang tanpa pemimpin dan tanpa disiplin.Tidak lebih dari lima hari setelah dekrit , tepatnya tanggal
10 Juli 1959 Soekarno disumpah lagi sebagai Presiden berdasarkan UUD 1945. Bersamaan waktu
itu pula Presiden Soekarno mengumumkan susunan dan nama – nama Menteri dari Kabinet baru.
Dalam Pasal 1 penetapan Presiden no 2 Tahun 1959 menentukan :
a.Sebelum tersusun MPR menurut UU sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat 1 UUD 1945,
maka di bentuk MPRS yang terdiri dari anggota – anggota DPR yang dimaksud dalam penetapan
Presiden No. 1 tahun 1959 ditambah dengan utusan – utusan daerah dan utusan golongan menurut
aturan – aturan.
b.Jumlah anggota MPRS ditetapkan oleh Presiden.
Selanjutnya untuk melengkapi alat perlegkapan Negara bagaimana yang dimaksud Dekrit 5 Juli
1959 bahwa harus terbentuk pula DPAS “ Dewan Pertimbangan Agung Sementara”, di keluarkan
penetapan Presiden No. 3 tahun 1959 tentang DPAS. Menurut Pasal 2 penetapan Presiden No. 3
Tahun 1959, anggota DPAS terdiri dari:
a. Anggota DPAS diangkat dan diberhentikan oleh Presiden
b. Jumlah anggota DPAS ditetapkan oleh Presiden
c. Anggota DPAS diangkat dari :
 Golongan – golongan politik
 Golongan – golongan karya
 Orang – orang yang dapat mengemukakan persolan daerah
 Tokoh – tokoh nasional
Dalam praktik ketatanegaraan pancasila dan UUD 1945 sebagai Dasar Negara RI oleh rezim
Demokrasi Terpimpin cenderung dikesampingkan, hal itu ditandai antara lain :
 Pertama, konsentrasi kekuasaan ditangan Presiden diwujudkan dengan pembentukan
lembaga– lembaga Negara dan pengisian pejabat – pejabatnya yang semuanya dilakukan
oleh Presiden.
 Kedua, dikukuhkan melalui sidang umum MPRS Tahun 1963.
TAP.MPRS.III/MPRS/1963 menetapkan bahwa mengangkat Presiden RI Soekarno untuk
masa jabatan seumur hidup.
 Ketiga , dengan Demokrasi Terpimpin berupaya menyatukan semua isme yang berbeda –
beda itu menjadi sebuah NASAKOM, Nasional Agama dan Komunis.
 Keempat, di bidang politik PKI dapat menjalankan perannya sedemikian sehingga dapat
mendominasi jalannya pemerintahan dan politik saat itu.
 Kelima , tidak ada prinsip check and balances selama masa demokrasi terpimpin.
Contoh kasus politik yang terjadi adalah pada saat PDRI ( Pemerintah Darurat Republik Indonesia)
di bawah kepemimpinan Syarifuddin Prawiranegara menggambarkan terjadinya krisis politik yang
sangat serius. Hal yang sama juga tercermin dalam krisis politik di sekitar peristiwa G30S/PKI,
Puncak dari penyimpangan – penyimpangan itu meletusnya penghianatan total yang dilakukan
oleh PKI dengan G.30 S-PKI yang anti Pancasila. Akibat penginkaran terhadap dasar dan falsafah
hidup bangsa Indonesia Pancasila dan UUD 1945, dengan lahirnya Tritura yakni :
 Pelaksanaan kembali secara murni dan konsekuen Pancasila dan UUD 1945
 Pembubaran PKI
 Penurunan harga barang – barang
Peristiwa G.30 S-PKI dan lahirnya Tritura menjadi pertanda akhir kekuasaan rezim demokrasi
terpimpin. Peralihan kekuasaan dari Presiden Soekarno ke Presiden Soeharto.
Dalam sidang MPRS bulan Juni 1966, dikukuhkan isi supersemar dan diatur dalam TAP.MPRS
No. IX/MPRS/1966, dalam pasal 4 berbunyi : “ Menetapkan berlakunya TAP.MPRS No.
XV/MPRS/1966 dan mengangkat Jenderal Soeharto, pengemban TAP.MPRS No.
IX/MPRS/1966, sebagai pejabat Presiden berdasarkan Pasal 6 UUD 1945 hingga terpilihnya
Presiden oleh MPR hasil pemilu”. Melalui TAP MPRS tersebut, kekuasaan Soekarno sebagai
Presiden dinyatakan dicabut secara resmi dan berlaku sejak 22 Februari 1967, berdasarkan
TAP.MPRS.No.XXXIII/MPRS/1967.
Dengan dikeluarkannya TAP tersebut serta awal lahirnya rezim orde baru yang didasarkan pada
suatu tindakan yang penting dalam sejarah ketatanegaraan, yaitu dengan dikeluarkannya oleh
Presiden Soekarno suatu “ Surat Perintah” kepada Letnan Jenderal Soeharto, pada 11 Maret 1966.
Surat perintah ini kemudian dikenal dengan nama “ Surat Perintah 11 Maret “.
BAB III
SISTEM PEMERINTAHAN
Sistem Pemerintahan Negara
 Indonesia ialah negara yang berdasarkan Hukum, bukan yang berdasarkan dengan
kekuasaan belaka.
 Sistim konstitusional(hukum dasar) tidak bersifat absilutisme( kekuasaan tidak terbatas).
 Kekuasaan negara tertinggi di tangan MPR.
 Presiden ialah penyelenggara pemerintah negara tertinggi di bawah majlis.
 Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR.
 Mentri Negara ialah pembentu Presiden; mentri negara tidak bertanggung jawab atas
presiden.
 Kekuasaan Kepala Negara tidak terbatas
GOOD GOVERNANCE
Good governance diartikans sebagai tindakan atau tingkah laku yang didasarkan pada nilai-
nilai yangbersifat mengarahkan, mengendalikan dan memperngaruhi masalah public untuk
mewujudkan nilai-nilai dalam tindakan dan kehidupan sehari-hari .
Good govermant adalah suatu kesepakatan menyangkut pengaturan negara yang diciptakan
bersama pemerintah, swasta, dan masyarakat.Indicator pemerintah yang baik adalah jika
produktif dan memperlihatkan hasil dengan indicator kemampuan ekonomi rakyat meningkat
baik dalam aspek produktifitas maupun dalam daya belinya, kesejahteraan spiritualnya terus
meningkat, dengan indicator rasa aman, tenang dab bahagia serta sense of nationality yang
baik.
Prinsip-prinsip good governance, yaitu
1. Partisipasi (participation) bahwa msyarakat berhak dalam pengambilan keputusan baik
langsung maupun melalui lembaga perwakilan yang sah untuk mewakili kepentingan mereka.
2. penegakan hukum sebagaimana karakter penagakan hukum yaitu,
a) supremasi hukum the supremacy of law,
b) keputusan hakim legal certaintly.
c) hukum yang responsive.
d) penegakan hukum yang konsisten dan non diskriminatif.
e) independensi peradilan.
3. Transparansi (transparency) menurut Gaffar bahwa delapan aspek penyelenggaraan negara
yang harus ditransparansikan, yaitu ;
a) penetapan posisi, jabatan atau kedudukan.
b) kekayaan pejabat public.
c) pemberian pengharhgaan.
d) penetapan kebijakan yang terkait dengan pencerahan kehidupan.
e) kesehatan.
f) moralitas para pejabat dan aparatur pelayanan public.
g) keamanan dan ketertiban.
h) kebijakan strategis untuk pencerahan kehidupan masyarakat.
4. responsive (responsiveness) yakni pemerintah harus pekah dan cepat tanggap terhadap
persoalan-persoalan masyarakat.
5. Konsensus (consensus orientation) yakni pengambilan keputusan secara musyawarah dans
emaksimal mungkin berdasarkan kesepakatan bersama.
6. kesetaraan dan keadilan (equity) yaitu kesetaraan dan keadilan baik suku, agama, ras, etnik,
budaya, geopolitik, dan lain sebagainya.
7.efektifitas (effectiveness) dan efesiensi (efficiency) atau tepat guna dan tepat waktu
8.akuntabilitas (accountability) artinya pertanggung jawaban pejabat public terhadap
masyarakat yang memberikan delegasi atau kewenangan dalam berbagai urusan untuk
kepentingan mereka.
9.visi strategis (strategic vision) adalah pandangan-pandangan strategis untuk menghadapi
masa akan dating langkah-langkah perwujudan Good Governance
a. penguatan fungsi dan peran lembaga perwakilan
b. kemandirian lembaga peradilan
c. aparat pemerintah yang professional dan penuh integritas
d. masyarakat madani yang kuat dan partisipatif
e. penguatan upaya otonomi daerah.
good governance merupakan factor kunci dalam otonomi daerah karena penyelenggaraan
otonomi daerah pada dasarnya betul-betul akan terealisasi dengan baik apabila dilaksanakan
dengan menggunakan prinsip-prinsip good governance.
BAB IV
LEMBAGA PERWAKILAN RAKYAT INDONESIA

struktur lembaga negara sebagaimana gambar berikut, dibawah ini :

• Lembaga independent

dalam menjamin kepentingan kekuasaan dan demokratisasi yang lebih efektif maka dibentuk
beberapa lembaga-lembaga independent, seperti

1. Tentara Nasional Indonesia (TNI)

2. Kepolisian Negara (polri)

3. Bank Indonesia

4. kejaksaan agung

5. KOMNAS HAM

6. KPU

7. Komisi Ombusdman

8. Komisi Pengawasan dan persaingan Usaha (KPPU)

9. Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggaraan Negara (KPKPN)

10.Komisi Pemberantasan Korupsi (KPU)

11.Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) dan lain sebagainya


BAB V
PEMERINTAHAN LOKAL
A. UU No. 5 Tahun 1974
Dalam kerangka struktur sentralisasi kekuasaan politik dan otoritas administrasi, UU No.5 tahun
1974 yang mengatur tentang pokok-pokok Pemerintahan Daerah dibentuk. UU ini telah
meletakkan dasar-dasar sistem hubungan pusat-daerah yang dirangkum dalam tiga prinsip, yaitu:
a.Desentralisasi, yaitu penyerahan urusan pemerintahan dari pemerintah atau daerah tingkat
atasnya kepada daerah
b.Dekonsentrasi, yaitu, pelimpahan wewenang dari pemerintah atau kepala wilayah atau kepala
instansi vertikal tingkat atasnya kepada pejabat-pejabat di daerah
c.Tugas perbantuan (medebewind), yaitu pengkoordinasian prinsip desentralisasi dan
dekonsentrasi oleh kepala daerah, yang memiliki fungsi ganda sebagai penguasa tunggal di daerah
dan wakil pemerintah pusat di daerah.
Akibat dari prinsip-prinsip tersebut, maka dikenal dengan adanya daerah otonom dan
wilayah administratif.Meskipun harus diakui bahwa UU No.5/1974 adalah suatu komitmen
politik, namun dalam praktek yang terjadi adalah sentralisasi yang dominan dalam perencanaan
maupun implementasi pembangunan Indonesia. Salah satu fenomena yang paling menonjol dari
hubungan antara sistem Pemda dengan pembangunan adalah ketergantungan Pemda yang tinggi
terhadap pemerintah pusat.
Ada beberapa karakteristik yang sangat menonjol dari prinsip penyelenggaraan Pemda menurut
UU ini:
Wilayah negara dibagi ke dalam Daerah besar dan kecil yang bersifat otonom atau administratif
saja. Sekalipun tidak ada perbedaan yang tegas di antara keduanya, tetapi kenyataannya sebuah
wilayah pemerintahan mempunyai dua kedudukan sekaligus, yaitu sebagai Daerah Otonom yang
berpemerintahan sendiri dan sebagai Wilayah Administratif yang merupakan representasi dari
kepentingan Pemerintah Pusat yang ada di Daerah.Pemda diselenggarakan secara bertingkat, yaitu
Dati I, Dati II sebagai Daerah Otonom, dan kenudian Wilayah Administatif berupa Propinsi,
Kabupaten/Kotamadya, dan Kecamatan.DPRD baik Tingkat I maupun II dan Kotamadya
merupakan bagian dari Pemda. Prisip ini baru pertama kali dalam sejarah perjalanan Pemda di
Indonesia karena pada umumnya DPRD terpisah dari Pemda.Peranan Mendagri dalam
penyelenggaraan Pemda dapat dikatakan bersifat sangat eksesif atau berlebihan yang diwujudkan
dengan melakukan pembinaan langsung terhadap Daerah.UU ini memberikan tempat yang sangat
terhormat dan sangat kuat kepada Kepala Wilayah ketimbang kepada Kepala Daerah. Keuangan
Daerah, sebagaimana umumnya dengan UU terdahulu, diatur secara umum saja. UU No.5/1974
meninggalkan prinsip “otonomi yang riil dan seluas-luasnya” dan diganti dengan prinsip ”otonomi
yang nyata dan bertanggung jawab”
B. UU No. 22 Tahun 1999
UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah ditetapkan pada 7 Mei 1999 dan
berlaku efektif sejak tahun 2000. Undang-undang ini dibuat untuk memenuhi tuntutan reformasi,
yaitu mewujudkan suatu Indonesia baru, Indonesia yang lebih demokratis, lebih adil, dan lebih
sejahtera.UU No.22 tahun 1999 membawa perubahan yang sangat fundamental mengenai
mekanisme hubungan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Pusat. Perubahan yang jelas
adalah mengenai pengawasan terhadap Daerah. Pada masa lampau , semua Perda dan keputusan
kepala daerah harus disahkan oleh pemerintah yang lebih tingkatannya, seperti Mendagri untuk
pembuatan Perda Provinsi/ Daerah Tingkat I, Gubernur Kepala Daerah mengesahkan Perda
Kabupaten/ Daerah Tingkat II.Dengan berlakunya UU No.22 tahun 1999, Daerah hanya
diwajibkan melaporkan saja kepada pemerintah di Jakarta. Namun, pemerintah dapat
membatalkan semua Perda yang bertentangan dengan kepentingan umum atau dengna peraturan
puerundangan yang lebih tinggi tingkatannya atau peraturan perundangan yang lain. (Pasal 114
ayat 1).
Ada beberapa ciri khas yang menonjol dari UU ini:
1.Demokrasi dan Demikratisasi, diperlihatkan dalam dua hal, yaitu mengenai rekrutmen pejabat
Pemda dan yang menyangkut proses legislasi di daerah.
2.Mendekatkan pemerintah dengan rakyat, titik berat otonomi daerah diletakkan kepada Daerah
Kabupaten dan Kota, bukan kepada Daerah Propinsi.
3.Sistem otonomi luas dan nyata, Pemda berwenang melakukan apa saja yang menyangkut
penyelenggaraan pemerintah, kecuali 5 hal yaitu yang berhubungan dengan kebijaksanaan-
kebijaksanaan politik luar negeri, pertahanan dan keamanan negara, moneter, sistem peradilan,
dan agama.
4.Tidak menggunakan sistem otonomi bertingkat, Daerah-daerah pada tingkat yang lebih rendah
menyelenggarakan urusan yang bersifat residual, yaitu yang tidak diselenggarakan oleh Pemda
yang lebih tinggi tingkatannya.
5. No mandate without founding, penyelenggaraan tugas pemerintah di Daerh harus dibiayai dari
dana Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara.
6.Penguatan rakyat melalui DPRD, penguatan tersebut baik dalam proses rekrutmen politik lokal,
ataupun dalam pembuatan kebijakan publik di Daerah.
C.UU No. 32 Tahun 2004
Dengan diundangkannya UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, pada tanggal 15
Oktober 2004, UU No.22 tahun 1999 dinyatakan tidak berlaku lagi. Sebenarnya antara kedua
undang-undang tersebut tidak ada perbedaan prinsip karena keduanya sama-sama menganut asas
desentralisasi. Pemerintah Daerah berhak mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan
menurut asas otonnomi dan tugas pembantuan. Otonomi yang luas, nyata, dan bertanggung jawab.
UU No.32 tahun 2004 mengatur hal-hal tentang; pembentukan daerah dan kawasan khusus,
pembagian urusan pemerintahan, penyelenggaraan pemerintahan, kepegawaian daerah, perda dan
peraturan kepala daerah, perencanaan pembangunan daerah, keuangan daerah, kerja sama dan
penyelesaian perselisihan, kawasan perkotaan, desa, pembinaan dan pengawasan, pertimbangan
dalamkebijakan otonomi daerah.Menurut UU No.32 tahun 2004 ini, negara mengakui dan
menghormati satuan-satuan pemerintah daerah yang bersifat khusus dan istimewa. Sehubungan
dengan daerah yang bersifat khusus dan istimewa ini, kita mengenal adanya beberapa bentuk
pemerintahan yang lain, seperti DKI Jakarta, DI Aceh, DI Yogyakarta, dan provinsi-provinsi di
Papua.Bagi daerah-daerah ini secara prinsip tetap diberlakukan sama dengan daerah-daerah lain.
Hanya saja dengan pertimbangan tertentu, kepada daerah-daerah tersebut, dapat diberikan
wewenang khusus yang diatur dengan undang-undang. Jadi, bagi daerah yang bersifat khusus dan
istimewa, secara umum berlaku UU No.32 tahun 2004 dan dapat juga diatur dengan UU tersendiri.
Ada perubahan yang cukup signifikan untuk mewujudkan kedudukan sebagai mitra sejajar antara
kepala derah dan DPRD yaitu kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat
dan DPRD hanya berwenang meminta laporan keterangan pertanggung jawaban dari kepala
daerah.Di daerah perkotaan, bentuk pemerintahan terendah disebut “kelurahan”. Desa yang ada di
Kabupaten/Kota secara bertahap dapat diubah atau disesuaikan statusnya menjadi kelurahan sesuai
usul dan prakarsa pemerintah desa, bersama Badan Permusyawaratan Desa yang ditetapkan
dengan perda. Desa menjadi kelurahan tidak seketika berubah dengan adanya pembentukan kota,
begitu pula desa yang berada di perkotaan dalam pemerintahan kabupaten.
UU No.32/2004 mengakui otonomi yang dimiliki desa ataupun dengan sebutan lain. Otonomi desa
dijalankan bersama-sama oleh pemerintah desa dan badan pernusyawaratan desa sebagai
perwujudan demokrasi.
Sejarah Pemerintahan Desa dan Uraian Perubahan UU mengenai Pemerintahan Desa
OTONOMI DAERAH
UU 22 tahun 1999 dan UU 32 tahun 2004 meletakkan substansi otonomi daerah dalam hubungan
pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertujuan demokratisasi sistem pemerintahan,
meningkatkan pelayanan publik dan meningkatkan kepercayaan masyarakat melalui tata
kepemerintahan yang lebih cepat tanggap, akuntabel dan transparan melalui penyerahan bagian
tugas pemerintah pusat yang sebaiknya menjadi tugas pemerintah daerah dan menahan selebihnya.
PP 38/2007 membagi wewenang pemerintah pusat dan pemda berdasar kriteria eksternalitas,
akuntabilitas dan efisiensi.Dalam upaya meningkatkan derajat UU otonomi daerah – yang dalam
kenyataan- masih bersifat nominal (diterapkan secara tebang pilih, yang diterapkan sebagian
dan/atau yang bertentangan dengan UU) dan yang masih bersifat semantik (sekadar jargon, yang
masih digunakan sebagai sekadar sarana pidato politik) menjadi sebuah konstitusi bersifat normatif
yang diterapkan dan dipatuhi secara paripurna, KSAP membangun pertanggungjawaban berbasis
akuntansi & laporan keuangan.
Sebagai sebuah produk per-undang-undangan, PP 71/2010 tentang standar akuntansi pemerintahan
dibentuk untuk mencipta keadilan akuntansi, mencipta ketertiban dan akuntabilitas keuangan
berbentuk LK, memberi manfaat transparansi keuangan bagi publik. Keadilan akuntansi adalah
upaya mitigasi risiko sistem politik berbentuk kekuasaan eksekutif terlampau besar, membangun
keseimbangan kekuasaan dengan pertanggungjawaban keuangan negara antara pemerintah pusat
dan pemerintah daerah, menghapus disharmoni APBN dan APBD, kepatutan keadilan alokasi dana
APBN dan APBD berbasis aspirasi rakyat, sementara audit LK akan menguji kewajaran
pertanggungjawaban akuntansi dan pelaporan LK pemerintahan.Karena itu PP 71/2010 bertujuan
membangun nilai luhur ketertiban kuasa anggaran dan perbendaharaan bersifat akuntabel,
transparan dan demokratis, mencipta iklim keuangan negara nan aman, damai, adil bagi
kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat banyak.UUD menentukan bahwa entitas NKRI terbagi
menjadi entitas daerah provinsi, entitas provinsi terbagi menjadi beberapa entitas kabupaten dan
kota. Entitas daerah provinsi, kabupaten dan kota mengatur dan mengurus sendiri sesuai UU
otonomi daerah dan tugas perbantuan melalui pembentukan peraturan daerah, masing-masing
membentuk DPRD mandiri dengan anggota DPRD dan kepala pemerintahan daerah yang terpilih
secara demokratis melalui pemilihan umum daerah, sehingga layak disebut entitas pelaporan LK.
UU 6 tahun 2014 tentang Desa menggambarkan itikad negara untuk mengotomikan desa, dengan
berbagai kemandirian pemerintahan desa seperti pemilihan umum calon pemimpin desa, anggaran
desa, semacam DPRD desa, dan kemandirian pembuatan peraturan desa semacam perda,
menyebabkan daerah otonomi NKRI menjadi provinsi, kabupaten atau kota, dan desa. Reformasi
telah mencapai akarnya, kesadaran konstitusi desa dan dusun diramalkan akan mendorong proses
reformasi berbasis otonomi daerah bersifat hakiki.Dalam buku berjudul Hukum Konstitusi dan
Konsep Otonomi, Kajian Politik Hukum tentang Konstitusi, otonomi Daerah dan Desa Pasca
Perubahan Konstitusi karangan Dr. Didik Sukriono, S.H,M.H., Beliau menguraikan bahwa UU
13/2003, UU 1/2004, UU 15/2004, UU 32/2004 dan UU 33/2004 menimbulkan berbagai wacana
keterbatasan kemampuan DPRD membentuk RPJMD, ketidak konsistenan RPJMD dan APBD,
wacana mis-alokasi anggaran, eforia perda tentang pajak dan pungutan daerah dan pembatalannya
oleh Mendagri, wacana disekitar dana dekonsentrasi dan dan tugas pembantuan, lalu PP 7/2008
diterbitkan untuk mengatasi dua isu terakhir tersebut. Permendagri 24 tahun 2006 mendorong
pelayanan terpadu bertujuan agar layanan pemda makin baik, murah, cepat dan sederhana, namun
dihambat keterbatasan anggaran pemda, standar pelayanan minimum belum tersusun, keterbatasan
kesadaran dan kemampuan berakuntabilitas, prosedur layanan berbelit-belit, kekurangan SDM dan
koordinasi pemda dengan pemangku kepentingan.UU 32/2004 menampilkan Peraturan Daerah,
Peraturan Kepala Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Peraturan Daerah mencakupi beban
penduduk (pajak, retribusi dll), pembatasan kekebasan penduduk dan hak penduduk, serta
pengaturan lain sesuai perundang-undangan NKRIReformasi membawa perubahan, pemekaran
berkelanjutan daerah otonom telah menunjukkan gejala berlebihan dalam bentuk keinginan
berpisah dan separatisme kedaerahan berciri eforia pemekaran lanjutan berbagai pemerintah
daerah sedemikian rupa kecilnya sehingga mengurangi daya ekonomi setiap pemerintahan daerah,
meningkatnya biaya birokrasi dan rentang alokasi APBN, penurunan skala ekonomi (economies
of scale) yang menyebabkan Indonesia memasuki era ekonomi mahal (diseconomies), penurunan
pelayanan publik, penurunan daya saing negara, berpotensi separatisme ekstrim berupa penolakan
menjadi bagian NKRI, berkonsekuensi bahwa PP 71/2010 harus diterapkan oleh setiap daerah
otonom yang baru.
SEJARAH PEMERINTAHAN DESA
Sejak ribuan tahun lalu, sebuah masyarakat beradat-istiadat khusus membentuk sebuah masyarakat
berkepemerintahan otonom, siap berperang dengan masyakarat ekslusif lain, sering disebut oleh
para antropolog sebagai suku-asli, tribe dan otonomi asli. UU 6/2014 tentang Desa mengangkat
kembali otonomi desa berbasis jati diri desa, mengakomodasi keanekaragaman & keunikan budaya
tiap desa, didalam sebuah negara kesatuan Republik Indonesia.
Secara struktural, organisasi negara mengatur kepemerintahan hanya sampai tingkat
kecamatan, sehingga organ di bawah kecamatan diklasifikasi sebagai organ masyarakat, sehingga
masyarakat desa disebut sebagai masyarakat yang mengatur dirinya sendiri dan mendirikan
pemerintahan desa yang mengatur dirinya sendiri sebagai sebuah otoritas lokal bertaraf desa, pada
Perubahan UUD 1945 Pasal 18 B disebut sebagai otonomi khusus yang mendapat pengakuan dan
penghormatan sebagai masyarakat hukum adat yang sesuai prinsip NKRI.Dr. Didik Sukriono,
S.H,M.H. selanjutnya menjelaskan bahwa pada pemerintahan penjajahan Belanda,
Regenringsreglement (RR) Pasal 71 tahun 1854 mengatur pengesahan/pemilihan kepala desa dan
pemerintah desa, memberi hak desa mengatur/mengurus rumah tangga desa sendiri.Pada
pemerintahan penjajahan Jepang, Osamu Seirei No 7/2604 (tahun 1944) mengatur
pemilihan/pemberhentian kepala desa bersebutan Kuco. UU 1/ 1945 menempatkan desa sebagai
otonomi terbawah, berhak mengatur kepemerintahan desa sendiri.
UU 22/1948 memberi perlindungan eksistensi desa sebagai sebuah masyarakat memiliki asal-usul
khas dan berhak mengaturdan mengurus pemerintahan desa sendiri, dan dengan sebutan desa (di
pulau Jawa dan Bali), desa negeri, nagari (di Minangkabau), negeri, kota kecil negeri, mukim,
huta, sosor, kampung, dusun atau marga (di Palembang), mukim, desa, gampong (pada
pemerintahan Aceh) dan sebutan lain sebagai Daerah otonom Tingkat III.UU 1/1957 membadi
daerah otonom menjadi daerah otonom biasa dan daerah swapraja. UU 19/1965 melakukan
penyeragaman desapraja dan pembentukan daerah tingkat III.TAP MPR IV/MPR/1978 tentang
GBHN berisi rencana memperkuat pemerintahan desa agar semakin mampu menggerakkan
masyarakat desa berpartisipasi dalam pembangunan NKRI dan mampu menyelenggarakan
administrasi kepemerintahan desa yang efektif, melalui sebuah UU tentang Peemerintahan
Desa.UU 5/1979 adalah sebuah upaya menghapus otonomi desa, menyeragamkan nama, bentuk,
susunan dan kedudukan pemerintahan desa sebagai sebuah kepemerintahan adminsitratif. Desa
berada dibawah kecamatan, kepala desa dibawah camat yang melakukan kepemerintahan
vertikal.Iklim reformasi melahirkan UU 22 /1999 yang berupaya mengutamakan pengalihan
pengaturan desa dari tingkat nasional menuju tingkat daerah, dari birokrasi ke institusi masyarakat
lokal, memberi pengakuan keunikan dan keanekaragaman desa atau dengan nama lain sebagai
masyarakat berkepemerintahan sendiri & mandiri sebagai pengejawantahan istilah “ istimewa”
pada Pasal 18 UUD 1945. Desa adalah subsistem dan sebuah kepemerintahan yang diatur oleh
kabupaten melalui perda. Sebagai subsistem kabupaten, tak seberapa jelas apakah desa berada di
dalam rumah tangga kabupaten atau di luar rumah tangga kabupaten. Untuk membangun
kepemerintahan mandiri berbasis demokrasi, UU menampilkan Badan Perwakilan Desa (BPD)
UU 32/2004 menyatakan bahwa desa adalah subyek hukum, negara mengakui desa sebagai
kesatuan masyarakat hukum berdasar sejarah asal-usul dan adat istiadat. Desa adalah self
governing community berdaulat dan berbasis musyawarah, bukan entitas otonom yang disebut
local self government seperti halnya kabupaten. Pada sisi lain, desa ditempatkan di dalam
pemerintahan kabupaten/kota. UU sekali lagi berupaya mempertegas otonomi desa, mengubah
istilah BPD menjadi Badan Permusyawaratan Desa, setara MPR NKRI.Sejak beberapa tahun
terakhir sebelum awal tahun 2014, tertengarai upaya pemerintah meningkatkan Peraturan
Pemerintah RI Nomor 72 tahun 2005 tentang desa, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 28
tahun 2006 tentang Pembentukan, Penghapusan, Penggabungan Desa dan Perubahan Status Desa
menjadi Kelurahan, serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 tahun 2006 tentang Pedoman
Pembentukan dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa, menjadi sebuah UU 6 tahun 2014
tentang Desa dengan berbagai perubahan mendasar, disahkan DPR pada hari Rabu tanggal 18
Desember 2013 dan diundangkan pada 15 Januari 2014.
BAB VI
SUPRASTURKTUR POLITIK DAN INFRASTRUKTUR POLITIK
Suprastruktur politik adalah struktur politik pemerintahan yang berkaitan dengan lembaga
lembaga negara yang ada, serta hubungan kekuasaan antara lembaga satu dengan yang
lain.Begitulah sekilas gambaran dari suprastruktur politik terutama yang berlaku di Indonesia.
Contoh Supratruktur Politik:
adanya aturan yang menagtur hubungan antara lembaga negara.adanya struktur yang jelas dalam
sistem politik Suprastruktur Politik Indonesia
1.Eksekutif
Kekuasaan Suprastruktur Politik eksekutif berada di tangan presiden, kalau di Indonesia adalah
kepala Negara dan sekaligus sebagai kepala pemerintahan.Sebagai kepala negara, Presiden adalah
simbol resmi negara Indonesia di dunia. Sebagai kepala pemerintahan, Presiden dibantu oleh wakil
presiden dan menteri–menteri dalam kabinet, memegang kekuasaan eksekutif untuk melaksanakan
tugas–tugas pemerintahan sehari-hari. Presiden (dan Wakil Presiden) menjabat selama 5 tahun,
dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama untuk satu kali masa jabatan.
2.Legislatif
Suprastruktur Politik yang selanjutnya ialah Legislatif. Sistem perwakilan di Indonesia saat ini
menganut sistem bicameral. Itu di tandai dengan adanya dua lembaga perwakilan, yaitu Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dengan merujuk asas trias
politika, di Indonesia kekuasaan terbagi menjadi eksekutif, legeslatif, dan yudikatif. Dalam hal ini,
DPR dan DPD merepresentasikan kekuasaan legeslatif.
Kekuasaan legeslatif terletak pada, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Yang anggota-
anggotanya terdiri dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).
3.Yudikatif

Yang terakhir Suprastruktur Politik ialah Yudikatif. Suprastruktur Politik u ini yang satsangatlah
vital perannya dalam penegakkan hukum di Indonesia. Kekuasaan Kehakiman Pasal 24 UUD 1945
menyebutkan bahwa kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggrakan peradilan guna menegakkan hokum dan keadilan.
Infrastruktur Politik Indonesia
1.Partai Politik
Bagian Infrastruktur politik yang pertama ialah Partai politik. Partai politik Adalah organisasi yang
mempunyai fungsi setidaknya terdapat 5 (lima) fungsi dasar sebagai partai politik yang berbadan
hukum dan keberadaannya diakui oleh undang-undang
2.Interest Group
Bagian Infrastruktur politik selanjutnya ialah Interest Group . Interest Group Adalah kelompok
masyarakat yang bergabung untuk kepentingan dan keuntungan warganya, kelompok ini tepatnya
menampung saran, kritik dan tuntutan kepentingan bagi anggota masyarakat, serta menyampaikan
kepada sistem politik yang ada. Kelompok ini sangat penting untuk menjadi penyalur aspirasi
masyarakat agar pemerintah mengerti apa yang diingankan oleh masyarakatnya.
3.Pressure Group
Bagian Infrastruktur politik yang ketiga ialah Pressure Group. Kelompok ini yang melontarkan
kritikan-kritikan untuk para pelaku politik lain. Dengan tujuan membuat dunia perpolitikan
menjadi maju. Karena perbaikan dari kekurangan-kekurangan yang disampaikan oleh para
kritikus. Peran kelompok ini cukup vital dalam menanggapi kebijakan pemerintah. Peran
kelompok ini pada dasarnya ialah demi kebaikan bangsa Indonesia . Namun terkadang
disalahgunakan untuk kepentingan politik.
4.Media Of Political Communication
Bagian Infrastruktur politik yang satu ini sangat dekat dengan masyarakat. Benda mati yang
sebagai perantara penyebar dan pemberitaan (singkat kata alat komunikasi politik). Contoh : tv,
radio, internet, surat kabar, demo, dll. Peran Media politik sangat berpengaruh terhadap
perpolitikan di Indonesia banyak sekali orang yang terpengaruh oleh kegiatan promosi oleh media
politik. Biasanya Media Politik dijadikan sarana untuk pemebentukan asumsi masyarakat.
5.Journalism Group
Bagian Infrastruktur politik selanjutnya ialah Jurnalis. Kelompok yang membuat berita dan
memberitakan hal-hal baru tentang politik. Mereka harus mengumpulkan informasi yang sebenar-
benarnya dari sumber-sumber yang tajam dan terpercaya. Karena informasi ini lalu akan
disebarluaskan kepada masyarakat agar masyarakat tau tentang perkembangan yang terjadi di
dunia politik saat ini. Peran dari jurnalis juga sangatlah penting untuk membuat masyarakat
mengerti apa yang dilakukan oleh pemerintah.
6.Student Group
Bagian Infrastruktur politik ialah Pelajar. Tapi tidak semua kelompok dalam bagian ini aktif dalam
kegiatan politik . Kelompok ini biasanya Mahasiswa yang sedang belajar tentang politik di
universitasnya, masing-masing kelompok ini biasanya sering mengkritik tentang keadaan politik
Negara dengan berbagai cara. Ini mewakili peran anak muda dalam membangun bangsa. Oleh
karena itu sering dihimbau agar mahasiswa menyampaikan aspirasi dengan "santun".
7.Political Figure
Bagian Infrastruktur politik ini sangat berpengaruh dalam sistem politik.Figur Politik ialah Orang-
orang yang lalu-lalang atau yang bekerja didunia politik, dan exist di kalangan masyarakat,
berperan penting dalam mengambil keputusan-keputusan yangb berpengaruh dalam suatu wilayah.
BAB VII
PEMILIHAN UMUM DAN PARTAI POLITIK
PARTAI POLITIK
Politik merupakan suatu system kekuasaan. Pengertian kekuasaan adalah suatu kemampuan
seeorang atau kelompok manusia untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang atau kelompok
orang lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku seseorang / kelompok orang tersebut menjadi
sesuai dengan keinginan dan tujuan dari orang yang memiliki kemampuan itu. Menurut R.M. Mac
Iver, kekuasaan social adalah kemampuan untuk mengendalikan tingkah laku orang lain baik
secara langsung dengan cara memberi perintah maupun tidak langsung dengan mempergunakan
alat dan cara yang tersedia. Kekuasaan politik adalah kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan
umum baik dalam proses terbentuknya maupun akibat – akibatnya sesuai dengan tujuan – tujuan
pemegang kekuasaan itu sendiri. Kekuasaan dalam Negara selalu berbentuk piramida, ini terjadi
karena kekuasaan yang unggul selalu mengsubordinasi kekuasaan – kekuasaan lain. ciri – ciri
kekuasaan Negara :
 Adanya unsur kekuatan memaksa
 Negara memiliki monopoli kekuasaan dalam menentukan tujuan bersama
 Sifat kekuasaan Negara mencakup semua orang tanpa kecuali
Selain itu, struktur kekuasaan Negara dibagi atas dua bagian besar :
 Suprastruktur
Struktur di atas permukaan yang keberadaannya ditentukan dalam Konstitusi Negara seperti, MPR,
DPR, Presiden, MA, Lembaga – lembaga Negara dan pemerintahan. ( Struktur formal dan struktur
pemerintahan )
 Infrastruktur
Struktur di bawah permukaan yang keberadaannya ada dalam masyarakat. Komponennya : partai
– partai politik, alat komunikasi politik, kelompok penekan, kelompok kepentingan, tokoh – tokoh
politik
Hubungan antara suprastruktur dan infrastruktur saling mempengaruhi. Dimana suprastruktur
mengatur infrastruktur melalui perantara peraturan perundang – undangan / kebijakan lain
sementara infrastruktur sangat mempengaruhi berjalannya suprastruktur politik. Hubungan yang
paling nyata adalah adanya lembaga pemilihan umum yang diselenggarakan secara priodik.
Definisi Partai Politik
Partai politik pada dasarnya merupakan suatu kelompok yang terorganisir, dimana
anggotanya memiliki orientasi, nilai – nilai dan cita – cita yang sama dengan tujuan untuk
memperoleh kekuasaan politik dengan merebut jabatan – jabatan politik secara konstitusional
lewat pemilihan umum. Perbedaan Parpol dengan Gerakan dan Kelompok Kepentingan /
Kelompok Penekan adalah Parpol dengan Gerakan bahwa suatu gerakan merupakan kelompok /
golongan yang ingin mengadakan perubahan – perubahan pada lembaga – lembaga politik.
Dibandingakan dengan Parpol, gerakan memilik tujuan yang lebih terbatas dan bersifat
fundamental dan juga gerakan dalam memperjuangkan tujuannya tidak melalui pemilu.

Fungsi Partai Politik


Ada 4 fungsi utama partai politik :
 Partai sebagai sarana komunikasi politik : parpol bertugas sebagai alat komunikasi dua arah
yakni menyalurkan aspirasi anggotanya kepada pemerintah dan sebaliknya
menginformasikan segala kebijaksanaan yang telah diambil pemerintah kepada para
anggotanya.
 Partai politik berfungsi sebagai sarana sosialisasi politik. Sosialisasi politik merupakan
suatu proses melalui mana seseorang memperoleh sikap dan orientasi mengenai suatu
fenomena politik.
 Partai politik sebagai sarana recruitment politik : parpol berfungsi mencari dan mengajak
orang yang berbakat untuk aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai.
 Partai politik sebagai sarana managemen konflik : parpol berkewajiban menengahi /
menyelesaikan konflik jika terjadi konflik dalam masyarakat.
Klasifikasi Sistem Kepartaian
Terdapat 3 macam criteria untuk mengadakan klasifikasi, yaitu
 Klasifikasi menurut Jumlah dan fungsi anggotanya,
Partai Massa yaitu partai yang selalu mendasarkan kekuatannya pada jumlah anggotanya
Partai Kader yaitu partai yang mementingkan kualitas loyalitas dan disiplin anggotanya.
 Klasifikasi berdasarkan Sifat dan orientasi partai
Partai Lindungan ( Patronage Party )Umumnya memiliki organisasi nasional yang kendor.
Maksudnya untuk memenangkan pemilu dengan mencari dukungan dan kesetiaan anggotanya
Partai Asas / IdiologyBiasanya mempunyai pandangan hidup yang digariskan dalam kebijakan
pimpinan dan berpedoman pada doktrin dan disiplin partai yang kuat dan mengikat. Sehingga
hubungan antar anggota sangat kuat dan erat
Partai ProgramPartai yang berorientasi pada program – program yang kongkrit untuk
diperjuangkan menjadi program nasional
 Klasifikasi atas dasar Jumlah partai yang berpengaruh dalam Badan Perwakilan
Menurut Maurice Duverger, terdiri atas 3 sistem :
 System Satu Partai / Partai Tunggal / Mono PartaiKonsentrasi kekuasaan berorientasi pada
satu partai dan berkuasa secara dominan. System ini biasanya dianut oleh Negara – negara
Komunis
 System Dua Partai / Dwi Partai Dwi partai diartikan sebagai adanya dua partai / lebih,
tetapi dengan peranan dominan dari dua partai. Contohnya AS. Sistem ini akan lebih
menjamin stabilitas pemerintahan, karena fungsi partai dalam Badan Perwakilan adalah
sangat jelas. Partai yang menang dalam pemilu akan menduduki pemerintahan sedangkan
partai yang kalah akan menjadi oposisi yang loyal.
 System Multi Partai Dalam system ini terdapat dua / lebih parpol yang berpengaruh di
badan perwakilan rakyat. Sisitem ini akan tumbuh dalam masyarakat yang komposisinya
heterogen dimana perbedaan ras, suku, agama sangat kuat, contohnya Indonesia. System
ini bila digandengkan dengan system pemerintahan parlementer akan cenderung
menyebabkan ketidakstabilan pemerintah karena eksekutif merupakan pemerintah koalisi.
Di samping itu tugas partai dalam parlemen menjadi tidak jelas karena suatu saat ia menjadi
partai pemerintah dan saat koalisi pecah ia berubah menjadi partai oposisi. System multi
partai akan terus berkembang bila didukung oleh system pemilihan proporsional, karena
memberi kemungkinan kepada partai kecil terus hidup walaupun ia memperoleh sedikit
sekali kursi di dalam parlemen.

Sejarah Pengaturan Kepartaian di Indonesia


Masa Penjajahan Parpol dibentuk berdasarkan adanya gerakan ethische politiek dengan
memberikan kesempatan di wilayah jajahan membentuk DPR (Volksraad). Tahun 1939 parpol
dibentuk dan perjuangan lewat Volksraad adalah :
 Indonesische Nationale Groep dipimpin oleh Moh. Yamin
 Fraksi Nasional dibawah Husni Thamrin
 Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumi Putera di bawah pimpinan Parwoto
Sedangkan diluar Volskraad, terdapat usaha – usaha untuk menggabungkan parpol dengan
membentuk :
 GAPI, gabungan partai – partai politik yang beraliran nasional
 MIAI, gabungan partai – partai yang beraliran Islam
 MRI, gabungan partai dari organisasi buruh
Pada masa penjajahan system kepartaian menganut pola system multi partai.
Masa Kemerdekaan
Masa Maklumat Pemerintah 3 Nopember 1945
Maklumat ini merupakan pengumuman dari pemerintah yang berisi usulan dari Badan Pekerja
Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNI). Isi maklumat ini adalah :
Pemerintah menyukai pembentukan partai – partai politik
Pemerintah berharap partai – partai itu terbentuk sebelum pemilihan Badan Perwakilan Rakyat
Dari himbauan ini munculah 10 partai : Masyumi, Partai Buruh Indonesia, Partai Rakyat Jelata,
Partai Kristen Indonesia, PKI, dll, sehingga lahirlah pola multi partai. Berdasarkan UU No. 7
Tahun 1953, diadakan pemilu untuk memilih anggota DPR dan anggota Konstituante. Jumlah
parpol yang mengikuti pemilu adalah 24 parpol.
Masa Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Terjadi perubahan ketatanegaraan dari UUDS 1950 dengan
memberlakukan UUD 1945 yang dikenal dengan system Demokrasi Terpimpin. Presiden
Soekarno mengeluarkan Penpres No. 7 Tahun 1959 Tentang Syarat – Syarat Penyederhanaan
Kepartaian, yang isinya :
Parpol harus menerima asas NKRI menurut UUD 1945 Dalam Anggaran Dasar Partai harus
dicantumkan dengan tegas parpol menerima dan mempertahankan Pancasila Parpol harus
menegaskan bahwa program kerjanya adalah Mani festo Politik Pidato Presiden 17 Agustus
1959Dengan Keppres No. 440 Tahun 1961, Tentang Pengakuan Partai – partai politik yang diakui
10 partai dan mewakili wakil di DPR – Gotong Royong (GR), serta terdapat partai – partai yang
dibubarkan dan partai yang ditolak.
Masa Orde Baru
Dengan Supersemar 1966 Soeharto sebagai Letjen TNI mengeluarkan keputusan tanggal
12 Maret 1966 untuk membubarkan PKI bersama dengan ormas – ormasnya serta larangan
penyebarluasan ajaran Marxisme. Semboyan orde baru adalah ‘Melaksanakan UUD 1945 Secara
Murni dan Konsekwen”. Pemilu diadakan tanggal 3 Juli 1971 yng diikuti oleh 10 parpol. MPR
hasil pemilu kemudian mengadakan fusi dalam fraksi – fraksi Persatuan Pembangunan, Demokrasi
Indonesia, Karya Pembangunan. Fusi ini kemudian diikuti dengan dikeluarkannya UU No. 3
Tahun 1975 Tentang Parpol dan Golongan Karya yang menyederhanakan jumlah partai menjadi
3 yaitu Partai Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan dan Golkar dengan asas
Pancasila sebagai satu – satunya asas parpol dan ormas (UU No. 3 Tahun 1985). Sejak tahun 1971
telah berhasil diadakan pemilu legislative setiap lima tahun sekali secara priodik dimana hasil
pemilu selalu didominasi oleh Golkar.
Masa Reformasi
Diawali oleh krisis moneter, Indonesia dilanda krisi kepercayaan terhadap pemerintahan
dalam arti luas bersamaan dengan isu penegakan HAM dan penegakan hukum. UU No. 3 Tahun
1999 membuka kembali kebebasan membentuk parpol dan boleh mencantumkan asas ciri masing
– amsing partai. Sehinnga muncul 48 partai peserta pemilu, demikian juga berdasarkan UU No.
31 Tahun 2004 berkurang menjadi 24 partai. Kondisi system multi partai muncul karena
masyarakat Indonesia sangat heterogen, mereka cenderung melakukan ikatan – ikatan terbatas
primordial, baik berdasarkan kelompok / golongan, agama, ras, maupun kedaerahan.
PARTAI POLITIK DAN PEMILIHAN UMUM
Masalah Perwakilan
Demokrasi menurut JJ Rousseau dalam bukunya “Du Contract Social” adalah suatu demokrasi
langsung dimana pemerintahan diselenggarakan berdasarkan kehendak umum atau sebagian besar
dari warga Negara. Ajaran ini sulit diterapkan karena luasnya wilayah, banyaknya penduduk, dan
kepentingan yang beragam sehingga jalan keluarnya adalah melalui system perwakilan.Pengertian
pemerintahan dengan system perwakilan menurut Konfrensi International Comision of Jurist di
Bangkok 1965, pemerintahan perwakilan adalah pemerintahan yang memperoleh kekuasaan dan
kewenangan dari rakyat, dimana kewenangan dan kekuasaan itu diperoleh melalui perwakilan
yang dipilih secara bebas dan bertanggung jawab kepada pemilihnya. Syarat – syaratnya :
 Proteksi Konstitusional
Pengadilan – pengadilan yang bebas dan tidak memihak
Pemilihan – pemilihan yang bebas
Kebebasan menyatakan pendapat
Kebebasan berserikat dan tugas oposisi
Harus ada pendidikan civics
Konsekwensi dari Representative Government adalah :

Keharusan adanya lembaga perwakilan rakyat


Keharusan adanya seleksi, baik pemilu yang bebas dan rahasia, maupun dengan cara lain
Keharusan adanya partai politik
Keharusan adanya lembaga yang mempunyai tugas pelaksanaan dan bertanggungjawab kepada
rakyat melalui badan perwakilan rakyat.
Mengenai hubungan wakil dengan yang diwakili ada beberapa teori yaitu :

Teori Mandat
Menurut teori mandat si wakil dianggap duduk di lembaga perwakilan karena mendapat mandat
dari rakyat, sehingga disebut mandataris. Teori ini berkembang menjadi 3 yaitu :
 Mandat Imperatif
Si wakil bertugas dan bertindak di lembaga perwakilan sesuai dengan instuksi yang diberikan oleh
yang diwakili, si wakil tidak boleh bertindak diluar instuksi tersebut. Kelemahannya adalah dapat
menghambat tugas lembaga perwakilan.
 Mandat Bebas
Ajaran ini dianut oleh Abbe Sieyes (Perancis) dan Black Stone (Inggris). Ajaran ini berpendapat
bahwa si wakil dapat bertindak secara bebas dimana si wakil ini adalah orang – orang terpercaya
dan terpilih serta memiliki kesadaran hukum.
 Mandat Representatif
Disini si wakil dianggap bergabung dengan badan perwakilan (parlemen). Rakyat memilih dan
memberikan mandat pada lembaga perwakilan. Lembaga perwakilan inilah yang
bertanggungjawab kepada rakyat.
Teori Organ
Ini dianut oleh Von Gierke dan juga Jellinek dan Paul Laband. Menurut teori ini Negara merupakan
organism yang mempunyai alat – alat perlengkapan dengan fungsinya masing – masing dan saking
ketergantungan. Setelah rakyat memilih lembaga perwakilan rakyat, mak rakyat tidak ikut campur
lagi karena lembaga itu akan berfungsi sesuai dengan wewenang yang diberkan dalam UUD.
Teori Sosiologis dari Reiker
Reiker menganggap bahwa lembaga perwakilan bukan merupakan bangunan politis melainkan
bangunan social. Lembaga perwakilan akan mencerminkan lapisan – lapisan kepentingan dalam
masyarakat.
Teori Hukum Objektive dari Leon Duguit
Menurut teori ini dasar daripada hubungan antar rakyat dengan parlemen adalah solidaritas. Wakil
rakyat dapat melaksanakan tugas kenegaraannya atas nama rakyat, sedangkan rakyat tidak akan
dapat melaksanakan tugas – tugas kenegaraannya tanpa mendukung wakilnya. Jadi adanya suatu
pembagian kerja. Keinginan untuk berkelompok yang disebut solidaritas merupakan dasar hukum
objektif yang timbul, akibatnya :
 Rakyat / kelompok yang diwakili harus ikut serta dalam pembentukan badan perwakilan
denga melalui pemilu
 Kedudukan hukum antara pemilih dan yang dipilih adalah semata – mata berdasarkan
hukum objektif.
 Si wakil dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus menyesuaikan tindakannya
dengan kehendak pemilihnya bukan karena adanya hukum objektif yang didasarkan pada
solidaritas social yang mengikat melainkan karena rasa solidaritasnya
Teori Gilbert Abcarian
Menurut Gilbert Abcarian ada 4 tipe hubungan antara wakil dengan yang diwakili:
 Si wakil sebagai “wali” (trustee). Di sini wakil bebas berrtindak atau mengambil ke[utusan
menurut pertimbangannya sendiri tanpa perlu berkonsultasi dengan yang diwakilinya
 Si wakil bertindak sebagai utusan / delegasi. Di sini wakil bertindak sebagai urusan atau
duta dari yang diwakili
 Si wakil bertindak sebagai politico. Di sini wakil selaku wakil dan terkadang sebagai
utusan tergantung pada materi yang dibahas
 Wakil bertindak sebagai partisan. Di sini wakil bertindak sesuai dengan program partainya
atau keinginan partai yang diwakilinya.
Teori Prof.Dr.A Hoogerwerf
Mengemukakan adanya lima model hubungan antara si wakil dengan yang mewakilinya, yakni
model delegate, model trustee, model politicos, model kesatuan, model diversifikasi.
 Model delegate, si wakil bertindak sebagai yang diperintah seorang kuasa yang harus
menjalankan perintah dari yang diwakilinya.
 Model trustee, si wakil bertindak sebagai orang yang diberi kuasa, yang memperoleh kuasa
penuh dari yang diwakilinya, sehingga dapat bertindak berdasarkan pendirian sendiri.
 Model politicos, si wakil kadang-kadang bertindak sebagai delegasi dan kadang-kadang
bertindak sebagai kuasa penuh.
 Model kesatuan, anggota parlemen dilihat sebagai wakil seluruh rakyat.
 Model diversifikasi (penggolongan), anggota parlemen dilihat sebagai wakil dari
kelompok teritorial, sosial atau politik tertentu.
Pada umumnya ada dua macam – macam perwakilan yaitu system mono-cameral dan system bi-
cameral. Umumnya Negara monarchi dan Negara serikat menganut system bi-cameral sedangkan
Negara kesatuan menganut system mono – cameral. Fungsi lembaga perwakilan menurut Miriam
Budiardjo ada dua yaitu :
 Menentukan policy / kebijaksanaaan : membuat UU, hak amandemen, hak inisiatif, hak
bidget dan meratifikasi traktat
 Mengontrol / mengawasi badan eksekutif : dengan hak interpelasi, hal bertanya, hak
angket, hak amandemen
Sedangkan menurut Abu Daud Busroh, fungsi lembaga perwakilan ada 3 yaitu :
 Fungsi legislasi
 Fungsi pengawasan
 Fungsi sebagai sarana pendidikan politik
Sistem Pemilihan Umum
Pemilihan umum merupakan suatu cara untuk menentukan wakil – wakil rakyat yang duduk di
lembaga perwakilan rakyat. System pemilihan umum sangan dipengaruhi oleh cara pandang
terhadap individu / masyarakat dalam Negara. Atas criteria ini, maka dikenal dua system pemilihan
yakni :
System pemilihan mekanis
Memandang rakyat sebagai massa individu – individu yang sama sebagai suatu kesatuan otonum
dan Negara / masyarakat dipandang sebagai komplek hubungan – hubungan antar individu.
System pemilihan mekanis, mengenal dua macam cara yaitu :
 wilayah Negara dibagi bagi di dalam daerah pemilihan yang disebut distrik – distrik
pemilihan yang jumlahnya sama dengan jumlah anggota badan perwakilan rakyat– setiap
distrik diwakili oleh satu orang yang memperoleh suara mayoritas.Beberapa dampak dalam
system perwakilan distrik adalah :Orang yang dipilih belum tentu mewakili suara
mayoritas dari wilayah distrik itu. Oleh karena itu bila dianut system pemilihan distrik,
maka lambat laun akan mendorong lahirnya system dwi partai dalam Negara.Biasanya
orang yang terpilih itu pasti sangat dikenal dan memiliki hubungan yang sangat dekat
dengan pemilihnya, sehingga ia akan dituntut memperjuangkan aspirasi pemilihnya.
 Sistem perwakilan proporsionalSystem perwakilan dimana prosentase kursi di badan
perwakilan rakyat yang dibagikan kepada partai politik berdasarkan prosentase jumlah
suara yang diperoleh oleh tiap – tiap parpol.Dampak secara umum dari system pemilihan
proporsional :
Setiap suara di wilayah pemilihan tetap dihitung secara nasional
 System ini disukai oleh partai – partai kecil, karena masih ada harapan kemungkinan dapat
merebut kursi lembaga perwakilan rakyat walaupun hanya satu kursi
 Perhitungan suaranya berbelit – belit
 Rakyat bukan memilih orang, melainkan parpol.
 System pemilihan organis
Menempatkan masyarakat sebagai satu kesatuan individu – individu yang hidup bersama dalam
berbagai macam kesatuan hidup berdasarkan hubungan genealogis, fungsi ekonomi, industry,
lapisan – lapisan social.
Sistem Pemilu di Indonesia
Masa Orde Lama
Pemilu pertama tahun 1955 berdasarkan UU No. 7 Tahun 1953 yang sumber konstitusinya adalah
Pasal 1 ayat (2) dan Pasal 35 UUDS 1950. Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPR
dan Badan Konstituante sesuai dengan ketentuan Pasal 134. System pemikihannya adalah system
proporsional, dengan asas pemilu adalah umum dan berkesamaan, langsung, bebas, dan rahasia.
Masa Orde Baru
Pemilu kedua tahun 1971. UUD yang berlaku adalah UUD 1945, yang bersifat singkat, sehingga
soal pemilu tidak diatur. Berdasarkan TAP MPRS No. XLII/MPRS/1968, maka pemilu
dilaksanakan selambat – lambatnya tanggal 5 Juli 1971. Presiden dan DPR – Gotong Royong pada
saat itu menetapkan UU No. 5 Tahun 1969 Tentang Pemilu dan UU No. 16 Tahun 1969 Tentang
Susunan DPR, DPRD, dan MPR. Asas pemilu adalah langsung, umum, bebas dan rahasia. Pemilu
tahun ke – III Tahun 1977, dalam infrastruktur politik terjadi penggabungan, fraksi MPR dan juga
fusi parpol. Sehingga peserta pemilu hanya 3 organisasi social politik. Pemilu diselenggarakan
berdasarkan UU No. 4 tahun 1975. Demikian berlangsung sampai pemilu ke –IV tahun 1982,
setelah diadakan perubahan terhadap UU Parpol dan Golkar 1975 dan UU No. 4 Tahun 1975
dengan mengeluarkan lima paket UU di bidang Politik Tahun 1985 terutama asas partai politik
hanyalah Pancasila. Hal ini berlaku untuk pemilu ke – V tahun 1987, ke – VI tahun 1992, pemilu
ke – VII tahun 1997 adalah akhir masa orde baru. Asas pemilu adalah langsung, umum, bebas, dan
rahasia dengan system perwakilan proporsional dan pengangkatan.
Masa Reformasi
Pemilu ke – VIII tahun 1999. Dalam rangka tuntutan reformasi kemudian disusun 3 paket UU di
bidang politik yaitu UU No. 2 Tahun 1999 Tentang Parpol, UU No. 3 Tahun 1999 Tentang Pemiku
dan UU No. 4 Tahun 1999 Tentang Susduk MPR, DPR, dan DPRD. Peserta pemilu adalah 28
parpol. Pemili ke IX Tahun 2004, terdapat keistimewaan tersendiri dalam pemilu tersebut yaitu :
 Pemilu dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil selama 5 tahun
sekali
 Pemilu diselenggarakan untuk memilih anggota DPR, DPRD, Presiden dan Wakil Presiden
dan DPD
 Peserta pemilu untuk memilih anggota DPR dan DPRD adalah parpol
 Peserta pemilu untuk memilih anggota DPD adalah perseorangan
 Pemilu diselenggarakan oleh suatu komisi pemilu yang bersifat nasional, tetap dan mandiri
 Ketentuan lebih lanjut tentang pemilu diatur dalam UU
Dalam rangka pelaksanaannya. Maka dibentuk 4 UU di bidang politik, yaitu UU No. 31 Tahun
2002 Tentang Partai Politik, UU No. 12 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum, UU No. 22 Tahun
2003 Tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD, dan UU No. 23 Tahun 2003
Tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. System pemilihan anggota DPR dan
DPRD menganut system pemilihan Proporsional dengan daftar terbuka, sementara untuk DPD
menganut system Distrik berwakil banyak. Sedangkan untuk memilih presiden dan wakil presiden
menganut system pemilihan perorangan.
BAB VIII
KEWARGANEGARAAN
Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara khusus
negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang
dengan keanggotaan yng demikian disebut warga negara.seorang warga negara berhak memiliki
paspor dari negara yang dianggotainya.
Kewarganegaraan merupakan bagian dari onsep kewargaan. Di dalam pengertian ini
warga suatu kota atau kabupaten disebut sebagai warga kota atau kabupaten, karena keduanya
merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah, kewarganegaraan ini menjadi penting, karena
masing-masing satuan politik akan memberikan hak ( biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi
warganya.
Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangssaan ( nationality). Yang
membedakan adalah hak-hak untukaktif dalam perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki
kebangsaan tanpa menjadi warga negara( contoh secara hukum merupakan subyek suatu negara
dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik). Juga dimungkinkan
untuk memiliki hak politik tanpa menjadi anggota dari suatu bangsa.
Di bawah ini teori kontrak sosial status kewarganegaraan memiliki implikasi hak dan
kewajiban. Dalam filosofi “kewarganegaraan aktif” seorang waga negara diisyaratkan untuk
menyumbangkan kemampuanya bagi perbaikan komunitas melalui partisipasi ekonomi, layanan
publik, kerja sukarela,dan berbagai kegiatan lainya.
Warga negara diartikan sebagai orang-orang yang menjadi bagian dari suatu penduduk yang
menjadi unsur negara. Istilah warga negara lebih sesuai dengan kedudukannya sebagaiorang
merdeka dibandingkan dengan istilah hamba atau kawula negara karena warga negara
mengandung arti peserta, anggota, atau warga dari suatu negara, yakni peserta darisuatu
persekutuan yang didirikan dengan kekuatan bersama. Untuk itu, setiap warga negara mempunyai
persamaan hak di hadapan hukum. Semua warga negara memiliki kepastian hak, privasi, dan
tanggung jawab.
Beberapa pengertian warga negara :
 Warga Negara adalah orang yang terkait dengan sistem hukum Negara dan mendapat
perlindungan Negara.
 Warga Negara secara umum ada Anggota suatu negara yang mempunyai keterikatan timbal
balik dengan negaranya.
 Warga negara adalah orang yg tinggal di dalam sebuah negara dan mengakui semua
peraturan yg terkandung di dalam negara tersebut.
 Warga Negara Indonesia menurut Pasal 26 UUD 1945 adalah : Orang-orang bangsa
Indonesia asli dan bangsa lain yang disahkan Undang-undang sebagai warga Negara.
Asas asas Kewarganegaraan
1.Asas Kewarganegaraan Berdasarkan Keturunan dan Kelahiran
 Asas keturunan asas keturunan ( lus sanguinnis ) adalah penentuan status kewarganegaraan
berdasarkan daerah atau keturunan. Asas ini menetapkan seseorang memperoleh
kewarganegaraan suatu negara apabila orang tuanya berstatus warga negara dari negara
tersebut; apabila seseorang lahir di Indonesia tetapi orang tuanya berkewarganegaraan
asing, ia memperoleh status kewarganegaraan berdasarkan dari orang tuanya.
 Asas kelahiran ( lus soli ) adalah penentuan status kewarganegaraan berdasarkan tempat
atau daerah kelahiran seseorang; artinya, apabila seseorang lahir disuatu wilayah negara,
maka ia berhak mendapatkan status waraga negara tersebut.
2.Asas Kewarganegaraan Berdasarkan Perkawinan
 Asas kesatuan hukum
Asas kewarganegaraan yang diperoleh atas adanya pemahaman dan komitmen yang sama dari
suami dan istri untuk menjalankan hukum yang sama.
 Asas persamaan derajat
Asas yang menentukan bahwa suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan status
kewarganegaraan pihak masing – masing. Oleh karena itu, suami ataupun istri dapat memiliki
kewarganegaraan asal.
3.Unsur Dan Persoalan Kewarganegaraan
Merujuk kepada asas – asas kewarganegaraan di atas, dapatlah dikemukakan unsur – unsur yang
menentukan status kewarganegaraan seseorang, meliputi :
 Unsur darah atau keturunan ( ius sanguinis )
Kewarganegaraan yang diperoleh atas kewarganegaraan dari orang tua yang melahirkan. Bila
orang tua berkewarganegaraan Indonesia maka anaknya adalah warga negara Indonesia. Unsur ini
telah berlaku dalam system kesukuan sejak dahulu, dan sekarang berlaku diantaranya di Inggris,
Amerika Serikat, Perancis, Jepang, dan Indonesia.
 Unsur daerah tempat lahir ( ius soli )
Kewarganegaraan yang diperoleh atas dasar daerah kelahiran dari orang tua yang
melahirkan. Bila orang dilahirkan di wilayah hukum Indonesia, maka ia berhak menjadi warga
negara Indonesia, kecuali korps diplomatik, dan tentara asing yang sedang menjalani ikatan dinas.
Unsur ini berlaku di antaranya di Inggris, Amerika Serikat, Perancis dan Indonesia. Unsur ini tidak
berlaku di Jepang karena harus membuktikan bahwa orang tuanya berkebangsaan Jepang.
C.Ketentuan Menjadi WNI sesuai UU NO 12 Tahun 2006
Kewarganegaraan Republik Indonesia diatur dalam UU no. 12 tahun 2006 tentang
Kewarganegaraan Republik Indonesia. Menurut UU ini, orang yang menjadi Warga Negara
Indonesia (WNI) adalah
1.setiap orang yang sebelum berlakunya UU tersebut telah menjadi WNI.
2.anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ayah dan ibu WNI.
3.anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu warga negara asing
(WNA), atau sebaliknya.
4.anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI dan ayah yang tidak memiliki
kewarganegaraan atau hukum negara asal sang ayah tidak memberikan kewarganegaraan kepada
anak tersebut.
5.anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia dari
perkawinan yang sah, dan ayahnya itu seorang WNI.
6.anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu WNI.
D.Hak Kewajiban serta Tanggung Jawab Warga Negara dan perananya :
Hak warga negara indonesia meliputi :
1. Setiap warga negara berhak mendapatkan perlindungan hukum
2.Setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak
3.Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum dan di dalam pemerintahan
4.Setiap warga negara bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama dan kepercayaan
masing-masing yang dipercayai
5.Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran
6.Setiap warga negara berhak mempertahankan wilayah negara kesatuan Indonesia atau nkri dari
serangan musuh
7.Setiap warga negara memiliki hak sama dalam kemerdekaan berserikat, berkumpul
mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan sesuai undang-undang yang berlaku
Kewajiban Warga Negara Indonesia meliputi :
1.Setiap warga negara memiliki kewajiban untuk berperan serta dalam membela, mempertahankan
kedaulatan negara indonesia dari serangan musuh
2.Setiap warga negara wajib membayar pajak dan retribusi yang telah ditetapkan oleh pemerintah
pusat dan pemerintah daerah (pemda)
3.Setiap warga negara wajib mentaati serta menjunjung tinggi dasar negara, hukum dan
pemerintahan tanpa terkecuali, serta dijalankan dengan sebaik-baiknya
4.Setiap warga negara berkewajiban taat, tunduk dan patuh terhadap segala hukum yang berlaku
di wilayah negara indonesia
5. Setiap warga negara wajib turut serta dalam pembangunan untuk membangun bangsa agar
bangsa kita bisa berkembang dan maju ke arah yang lebih baik
Tanggung jawab sebagai warga negara indonesia meliputi :
Keberadaan negara, seperti organisasi secara umum, adalah untuk memudahkan
anggotanya (rakyat) mencapai tujuan bersama atau cita-citanya. Keinginan bersama ini
dirumuskan dalam suatu dokumen yang disebut sebagai Konstitusi, termasuk didalamnya nilai-
nilai yang dijunjung tinggi oleh rakyat sebagai anggota negara. Sebagai dokumen yang
mencantumkan cita-cita bersama, maksud didirikannya negara Konstitusi merupakan dokumen
hukum tertinggi pada suatu negara. Karenanya dia juga mengatur bagaimana negara dikelola.
Konstitusi di Indonesia disebut sebagai Undang-Undang Dasar.Dalam bentuk modern negara
terkait erat dengan keinginan rakyat untuk mencapai kesejahteraan bersama dengan cara-cara yang
demokratis. Bentuk paling kongkrit pertemuan negara dengan rakyat adalah pelayanan publik,
yakni pelayanan yang diberikan negara pada rakyat. Terutama sesungguhnya adalah bagaimana
negara memberi pelayanan kepada rakyat secara keseluruhan, fungsi pelayanan paling dasar
adalah pemberian rasa aman. Negara menjalankan fungsi pelayanan keamanan bagi seluruh rakyat
bila semua rakyat merasa bahwa tidak ada ancaman dalam kehidupannya. Dalam
perkembangannya banyak negara memiliki kerajang layanan yang berbeda bagi
warganya.Berbagai keputusan harus dilakukan untuk mengikat seluruh warga negara, atau hukum,
baik yang merupakan penjabaran atas hal-hal yang tidak jelas dalam Konstitusi maupun untuk
menyesuaikan terhadap perkembangan zaman atau keinginan masyarakat, semua kebijakan ini
tercantum dalam suatu Undang-Undang. Pengambilan keputusan dalam proses pembentukan
Undang-Undang haruslah dilakukan secara demokratis, yakni menghormati hak tiap orang untuk
terlibat dalam pembuatan keputusan yang akan mengikat mereka itu. Seperti juga dalam organisasi
biasa, akan ada orang yang mengurusi kepentingan rakyat banyak. Dalam suatu negara modern,
orang-orang yang mengurusi kehidupan rakyat banyak ini dipilih secara demokratis pula.
BAB IX
HAK ASASI MANUSIA
Sejak lahir setiap manusia sudah mempunyai hak asasi yang dijunjung tinggi serta diakui
semua orang. Hak tersebut lebih penting dibandingkan hak seorang penguasa ataupun raja. Hak
asasi itu sendiri berasal dari Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada seluruh manusia. Akan
tetapi, pada saat ini sudah banyak hak asasi yang dilanggar oleh manusia guna mempertahankan
hak pribadinya.Hak dapat diartikan sebagai kekuasaan dalam melakukan sesuatu atau kepunyaan,
sedangkan asasi adalah hal yang utama, dasar. Sehingga hak asasi manusia atau sering disebut
sebagai HAM dapat diartikan sebagai kepunyaan atau milik yang bersifat pokok dan melekat pada
setiap insan sebagai anugerah yang telah diberikan oleh Allah SWT. Untuk lebih jelasnya, berikut
pengertian HAM.
Pengertian HAM Pengertian HAM
Hak Asasi Manusia atau HAM adalah hak-hak yang sudah dipunyai oleh seseorang sejak ia masih
dalam kandungan. Hak asasi manusia dapat berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM yang
tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat atau Declaration of Independence of USA
serta yang tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti yang terdapat pada pasal 27
ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 31 ayat 1, serta pasal 30 ayat 1.
Dalam teori perjanjian bernegara, terdapat Pactum Unionis serta Pactum Subjectionis. Pactum
unionis merupakan suatu perjanjian antarindividu guna membentuk negara, sedangkan pactum
subjectionis merupakan suatu perjanjian antara individu serta negara yang dibentuk. Thomas
Hobbes mengakui Pactum Subjectionis dan tidak mengakui Pactum Unionis. John Lock mengakui
keduanya yaitu Pactum Unionis dan Pactum Subjectionis, sedangkan JJ Roessaeu hanya mengakui
Pactum Unionis.Ketiga paham ini berpendapat demikian. Namun pada dasarnya teori perjanjian
tersebut mengamanahkan adanya suatu perlindungan Hak Asasi Warga Negara yang wajib dijamin
oleh penguasa dan bentuk jaminan tersebut haruslah tertuang dalam konstitusi.Dalam kaitannya
dengan hal tersebut, HAM merupakan hak fundamental yang tidak dapat dicabut karena ia adalah
seorang manusia. HAM yang dirujuk sekarang merupakan seperangkat hak yang dikembangkan
PBB sejak awal berakhirnya perang dunia II. Sebagai konsekuensinya, negara-negara tidak dapat
berkelit untuk tidak melindungi hak asasi manusia yang bukan warga negaranya.
Selama masih menyangkut persoalan HAM pada masing-masing negara, tanpa kecuali,
pada tataran tertentu mempunyai tanggung jawab, khususnya terkait pemenuhan hak asasi manusia
pribadi-pribadi yang terdapat pada jurisdiksinya, termasuk orang asing. Oleh karena itu, pada
tataran tertentu, akan menjadi sangat salah untuk menyamakan antara hak asasi manusia dengan
hak-hak lainnya yang dimiliki oleh warga negara. Hak asasi manusia sudah dimiliki oleh siapa
saja.Alasan di atas pula yang dapat menyebabkan hak asasi manusia merupakan bagian integral
dari tiap kajian dalam disiplin ilmu hukum internasional. Oleh karena itu bukan sesuatu yang
kontroversial lagi apabila suatu komunitas internasional mempunyai kepedulian yang serius dan
bersifat nyata terhadap berbagai isu tentang hak asasi manusida tingkat domestik.Peran komunitas
internasional sangat pokok sebagai perlindungan HAM karena sifat serta watak HAM itu sendiri
merupakan suatu mekanisme pertahanan dan perlindungan setiap individu terhadap kekuasaan
negara yang rentan untuk disalahgunakan, sebagaimana yang sering dibuktikan sejarah umat
manusia sendiri. Berikut contoh pelanggaran HAM :
Contoh Pelanggaran HAM
 Penindasan serta merampas hak rakyat dan oposisi dengan cara yang sewenang-wenang.
 Menghambat dan membatasi dalam kebebasan pers, pendapat, serta berkumpul bagi hak
rakyat dan oposisi.
 Hukum diperlakukan secara tidak adil dan juga tidak manusiawi.
 Manipulatif dan membuat aturan-aturan pemilihan umum sesuai dengan keinginan dari
penguasa dan partai otoriter tanpa diikuti oleh rakyat dan oposisi.
 Penegak hukum atau petugas keamanan melakukan kekerasan terhadap rakyat dan oposisi.
 Deskriminasi adalah pembatasan, pengucilan, serta pelecehan yang dilakukan baik itu
secara langsung atau tidak langsung yang didasarkan atas perbedaan manusia suku, ras,
etnis, serta agama.
 Penyiksaan merupakan suatu perbuatan yang menimbulkan rasa sakit baik itu jasmani
maupun rohani.
Sejak lahir setiap manusia sudah mempunyai hak asasi yang dijunjung tinggi serta diakui semua
orang. Hak tersebut lebih penting dibandingkan hak seorang penguasa ataupun raja. Hak asasi itu
sendiri berasal dari Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada seluruh manusia. Akan tetapi,
pada saat ini sudah banyak hak asasi yang dilanggar oleh manusia guna mempertahankan hak
pribadinya.Hak dapat diartikan sebagai kekuasaan dalam melakukan sesuatu atau kepunyaan,
sedangkan asasi adalah hal yang utama, dasar. Sehingga hak asasi manusia atau sering disebut
sebagai HAM dapat diartikan sebagai kepunyaan atau milik yang bersifat pokok dan melekat pada
setiap insan sebagai anugerah yang telah diberikan oleh Allah SWT. Untuk lebih jelasnya, berikut
pengertian HAM.
Pengertian HAM
Hak Asasi Manusia atau HAM adalah hak-hak yang sudah dipunyai oleh seseorang sejak ia masih
dalam kandungan. Hak asasi manusia dapat berlaku secara universal. Dasar-dasar HAM yang
tertuang dalam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat atau Declaration of Independence of USA
serta yang tercantum dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti yang terdapat pada pasal 27
ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 31 ayat 1, serta pasal 30 ayat 1.Dalam teori perjanjian
bernegara, terdapat Pactum Unionis serta Pactum Subjectionis. Pactum unionis merupakan suatu
perjanjian antarindividu guna membentuk negara, sedangkan pactum subjectionis merupakan
suatu perjanjian antara individu serta negara yang dibentuk. Thomas Hobbes mengakui Pactum
Subjectionis dan tidak mengakui Pactum Unionis. John Lock mengakui keduanya yaitu Pactum
Unionis dan Pactum Subjectionis, sedangkan JJ Roessaeu hanya mengakui Pactum Unionis.
Ketiga paham ini berpendapat demikian. Namun pada dasarnya teori perjanjian tersebut
mengamanahkan adanya suatu perlindungan Hak Asasi Warga Negara yang wajib dijamin oleh
penguasa dan bentuk jaminan tersebut haruslah tertuang dalam konstitusi.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut, HAM merupakan hak fundamental yang tidak dapat dicabut
karena ia adalah seorang manusia. HAM yang dirujuk sekarang merupakan seperangkat hak yang
dikembangkan PBB sejak awal berakhirnya perang dunia II. Sebagai konsekuensinya, negara-
negara tidak dapat berkelit untuk tidak melindungi hak asasi manusia yang bukan warga
negaranya.Selama masih menyangkut persoalan HAM pada masing-masing negara, tanpa kecuali,
pada tataran tertentu mempunyai tanggung jawab, khususnya terkait pemenuhan hak asasi manusia
pribadi-pribadi yang terdapat pada jurisdiksinya, termasuk orang asing. Oleh karena itu, pada
tataran tertentu, akan menjadi sangat salah untuk menyamakan antara hak asasi manusia dengan
hak-hak lainnya yang dimiliki oleh warga negara. Hak asasi manusia sudah dimiliki oleh siapa
saja.Alasan di atas pula yang dapat menyebabkan hak asasi manusia merupakan bagian integral
dari tiap kajian dalam disiplin ilmu hukum internasional. Oleh karena itu bukan sesuatu yang
kontroversial lagi apabila suatu komunitas internasional mempunyai kepedulian yang serius dan
bersifat nyata terhadap berbagai isu tentang hak asasi manusida tingkat domestik.Peran komunitas
internasional sangat pokok sebagai perlindungan HAM karena sifat serta watak HAM itu sendiri
merupakan suatu mekanisme pertahanan dan perlindungan setiap individu terhadap kekuasaan
negara yang rentan untuk disalahgunakan, sebagaimana yang sering dibuktikan sejarah umat
manusia sendiri. Berikut contoh pelanggaran HAM :
Contoh Pelanggaran HAM
 Penindasan serta merampas hak rakyat dan oposisi dengan cara yang sewenang-wenang.
 Menghambat dan membatasi dalam kebebasan pers, pendapat, serta berkumpul bagi hak
rakyat dan oposisi.
 Hukum diperlakukan secara tidak adil dan juga tidak manusiawi.
 Manipulatif dan membuat aturan-aturan pemilihan umum sesuai dengan keinginan dari
penguasa dan partai otoriter tanpa diikuti oleh rakyat dan oposisi.
 Penegak hukum atau petugas keamanan melakukan kekerasan terhadap rakyat dan oposisi.
 Deskriminasi adalah pembatasan, pengucilan, serta pelecehan yang dilakukan baik itu
secara langsung atau tidak langsung yang didasarkan atas perbedaan manusia suku, ras,
etnis, serta agama.
 Penyiksaan merupakan suatu perbuatan yang menimbulkan rasa sakit baik itu jasmani
maupun rohani.
Pengertian Hak Asasi Manusia Menurut Para Ahli
UU No. 39 Tahun 1999
Menurut UU No. 39 tahun 1999 HAM ialah seperangkat hak yang melekat pada hakikat
setiap keberadaan manusia yang merupakan makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Hak merupakan
anugerah-Nya yang haruslah untuk dihormati, dijunjung tinggi, serta dilindungi oleh Negara,
hukum, pemerintah, dan setiap orang untuk kehormatan serta perlindungan harkat martabat
manusia.
John Locke
HAM merupakan suatu hak yang diberikan langsung oleh Tuhan yang bersifat kodrati.
Artinya adalah hak yang dimiliki oleh setiap manusia menurut kodratnya dan tidak dapat
dipisahkan hakikatnya, sehingga sifatnya adalah suci.
David Beetham dan Kevin Boyle
Hak asasi manusia dan kebebasan fundamental adalah hak-hak individual dan berasal dari
berbagai kebutuhan serta kapasitas-kapasitas manusia.
Haar Tilar
HAM adalah hak yang melekat pada diri tiap insan, apabila tiap insan tidak memiliki hak-
hak itu maka setiap insan tersebut tidak bisa hidup seperti manusia. Hak tersebut didapatkan pada
saat sejak lahir ke dunia.

Prof. Koentjoro Poerbopranoto


Menurut Prof. Koentjoro Poerbopranoto, hak asasi manusia adalah suatu hak yang bersifat
mendasar. Hak yang telah dimiliki setiap manusia dengan berdasarkan kodratnya yang tidak dapat
bisa dipisahkan sehingga HAM bersifat suci.
Mahfudz M.D.
HAM merupakan hak yang sudah melekat pada martabat setiap manusia dan hak tersebut
sudah dibawa pada saat sejak lahir ke dunia dan pada hakikatnya hak tersebut memiliki sifat
kodrati.
Muladi
Hak asasi manusia adalah segala hak pokok atau mendasar yang melekat pada diri setiap
manusia dalam kehidupannya.
Peter R. Baehr
Hak asasi manusia adalah hak dasar yang bersifat mutlak dan harus dimiliki oleh setiap
insan di dunia guna perkembangan dirinya