Anda di halaman 1dari 24

CORPORATE GOVERNANCE

SAP 5

STRUKTUR KEPEMILIKAN
Dosen Pengampu: Dr. I Gusti Ayu Made Asri Dwija Putri, S.E., M.Si.

KELOMPOK 5

Anggota kelompok:

Gede Teguh Prasetya Muttiwijaya NIM. 1506305058

P. Sigit Wahyudhi NIM. 1506305151

Chrismendo H.C. Paath NIM. 1506305163

PROGRAM REGULER

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rakhmat beliau paper Corporate Governance ini dapat terselesaikan.
Terimakasih juga kami sampaikan kepada rekan-rekan kelompok 5 yang
telah bekerja sama untuk menyelesaikan paper ini. Adapun dalam paper ini
membahas mengenai “Struktur Kepemilikan”. Kami juga berharap agar paper
ini dapat bermanfaat selain bagi kami sebagai penulis, juga bagi para
pembaca paper ini.

Tidak lupa kami juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam


paper ini masih banyak terdapat kekurangan baik dalam hal materi maupun
penulisan serta penyajiannya. Akhir kata kami ucapkan terimakasih.

Denpasar, 2 Maret 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang ................................................................................... 1


1.2. Rumusan Masalah .............................................................................. 1
1.3 Tujuan ................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3

2.1. Struktur Kepemilikan Dalam Corporate Governance ....................... 3


2.2. Jenis-Jenis Struktur Kepemilikan ...................................................... 4

2.2.1 Kepemilikan Tersebar ............................................................... 4


2.2.2 Kepemilikan yang Terkonsentrasi (Concentrated Ownership) 5

2.3. Komposisi Dalam Struktur Kepemilikan ........................................... 7

2.3.1 Kepemilikan Keluarga .............................................................. 7


2.3.2 Kepemilikan Manajerial ........................................................... 8
2.3.3 Kepemilikan Institusi ................................................................ 9
2.3.4 Kepemilikan Asing ................................................................. 10
2.3.5 Kepemilikan Pemerintah......................................................... 11

2.4. Pemisahan Kepemilikan dan Kepengurusan .................................... 12

2.4.2. Masalah Dalam Model Manajerial ....................................... 12

2.5. Review Jurnal .................................................................................. 13

2.5.1 Latar Belakang dan Tujuan Penelitian ................................. 13


2.5.2. Sampel .................................................................................. 15
2.5.3. Rumusan Masalah dan Hipotesis ......................................... 15
2.5.4 Hasil ..................................................................................... 16
2.5.5. Simpulan .............................................................................. 17
2.5.6. Saran..................................................................................... 18

BAB III PENUTUP .............................................................................................. 19

iii
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 20

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Struktur kepemilikan oleh beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi
jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja perusahaan
dalam mencapai tujuan. Hal ini dikarenakan adanya kontrol yang mereka miliki.
Pada perusahaan yang terdaftar di bursa saham maka konflik keagenan dapat
muncul sebagai akibat dari adanya beberapa kelompok pemegang saham yang
memiliki proporsi kepemilikan yang berbeda-beda. Proporsi kepemilikan saham
merupakan faktor yang dapat menimbulkan konflik antara pemilik dengan
manajemen. Konflik yang biasa terjadi antara manajer dengan pemilik dan asing
serta pubik, tentu akan sangat menghambat kemajuan-kemajuan perusahaan
mencapai tujuan utama. Dengan adanya permasalahan tersebutlah, maka
dimunculkan struktur kepemilikan guna mengubah pandangan antara pengelola
perusahaan dan pemilik menuju satu tujuan yang sama. Sehingga diharapkan akan
terjadinya tata kelola perusahaan yang baik yang memungkinkan kinerja
perusahaan sesuai dengan apa yang diharapkan.

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Apa yang dimaksud dengan struktur kepemilikan?
1.2.2. Apa tujuan dari dibentuknya struktur kepemilikan?
1.2.3. Apa saja jenis-jenis struktur kepemilikan?
1.2.4. Apa saja komposisi dalam struktur kepemilikan?
1.2.5. Apa saja masalah-masalah yang timbul dari kedua model kepemilikan
tersebut?

1
1.3 Tujuan
1.3.1. Mengatahui pengertian struktur kepemilikan.
1.3.2. Mengetahui tujuan dibentuknya struktur kepemilikan.
1.3.3. Mengetahui dan memahami jenis-jenis struktur kepemilikan.
1.3.4. Mengetahui dan memahami komposisi dalam struktur kepemilikan.
1.3.5. Mengetahui dan dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul
dari kedua model kepemilikan tersebut.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Struktur Kepemilikan Dalam Corporate Governance


Konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham dapat
diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan yang dapat mensejajarkan
kepentingan-kepentingan yang terkait tersebut. Namun dengan munculnya
mekanisme pengawasan tersebut akan menimbulkan biaya yang disebut sebagai
agency cost. Perusahaan yang memisahkan fungsi pengelolaan dengan fungsi
kepemilikan akan rentan terhadap konflik keagenan. Penyebab konflik antara
manajer dengan pemegang saham diantaranya adalah pembuatan keputusan yang
berkaitan dengan 1) Aktivitas pencarian dana (financing decision) dan 2)
Pembuatan keputusan yang berkaitan dengan bagaimana dana yang diperoleh
tersebut diinvestasikan.
Ada beberapa alternatif untuk mengurangi agency cost diantaranya adalah,
pertama dengan meningkatkan kepemilikan saham perusahaan (insider
ownership) atau kepemilikan manajerial oleh manajemen dan selain itu manajer
merasakan langsung manfaat dari keputusan yang diambil dan juga apabila ada
kerugian yang timbul sebagai konsekuensi dari pengambilan keputusan yang
salah.
Struktur kepemilikan merupakan jenis institusi atau perusahaan yang
memegang saham terbesar dalam suatu perusahaan (Wahyudi dan Pawestri,
2006). Struktur kepemilikan dapat dijelaskan dari dua sudut pandang, yaitu
pendekatan keagenan dan pendekatan informasi asimetri. Menurut pendekatan
keagenan, struktur kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi
konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Pendekatan
ketidakseimbangan informasi memandang mekanisme struktur kepemilikan
sebagai suatu cara untuk mengurangi ketidakseimbangan informasi antara insiders
dan outsiders melalui pengungkapan informasi di dalam pasar modal. Melakukan
pengungkapan struktur kepemilikan perusahaan dapat membantu investor
mengidentifikasi potensi konflik kepentingan antar pemegang saham, transaksi

3
kurang wajar antar perusahaan dengan pemegang saham mayoritas maupun
identifikasi terjadinya insider trading (Sutojo dan Alrdrigde, 2008).
Struktur kepemilikan adalah elemen dasar dalam corporate governance
suatu perusahaan. Keberhasilan penerapan corporate governance tidak lepas dari
struktur kepemilikan perusahaan. Struktur kepemilikan tercermin baik dalam
instrumen saham maupun instrumen hutang, sehingga melalui struktur tersebut
dapat ditelaah kemungkinan bentuk masalah keagenan yang terjadi. Secara umum
struktur kepemilikan suatu perusahaan menunjuk kepada konfigurasi saham yang
dimiliki oleh investor, baik individual di luar perusahaan. Struktur kepemilikan
sangat tergantung bagaimana perusahaan memenuhi kebutuhan pendanaannya.
Struktur kepemilikan dipercaya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi
jalannya perusahaan yang nantinya dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.
Agency problem dapat dikurangi dengan adanya struktur kepemilikan. Struktur
kepemilikan merupakan suatu mekanisme untuk mengurangi konflik antara
manajemen dan pemegang saham.

2.2. Jenis-Jenis Struktur Kepemilikan


Struktur kepemilikan ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kepemilikan
yang tersebar (dispersed ownership) dan kepemilikan yang terkonsentrasi
(concentrated ownership).

2.2.1 Kepemilikan Tersebar


Pada model ini perusahaan memiliki pemegang saham yang banyak
dengan jumlah saham yang sedikit. Pemegang saham minoritas ini kurang
mengawasi aktivitas perusahaan dan cenderung tidak terlibat dalam pengambilan
keputusan atau kebijakan perusahaan. Oleh karena itu, pemegang saham tersebut
disebut outsider, dan kepemilikan yang tersebar tersebut disebut sebagai outsider
system dan menurut Roche (2005), kepemilikan yang tersebar ini merupakan
model dari negara-negara common law seperti Amerika Serikat dan Inggris.
Outsider system atau Anglo-American ini merupakan market-based model
yang dikarakteristikkan oleh perusahaan yang individualis dan kepemilikan privat,

4
pasar modal yang mapan dan likuid, dengan jumlah pemegang saham yang
banyak dan konsentrasi investor yang kecil. Pengendalian perusahaan diwujudkan
melalui pasar dan investor luar. Dalam outsider system ini terdapat anggota dewan
yang independen untuk mengawasi perilaku manajerial agar tetap terkontrol,
sehingga menurut Roche (2005), sistem ini lebih dapat dipertanggungjawabkan,
tidak korupsi serta membantu perkembangan pasar modal yang likuid.
Meskipun demikian, sistem ini memiliki kelemahan, yaitu kepemilikan
yang terkonsentrasi ini hanya tertarik pada maksimalisasi profit jangka pendek,
dan mereka cenderung untuk menyetujui kebijakan dan strategi yang
menguntungkan keuntungan jangka pendek, tetapi tidak mempertimbangkan
kinerja perusahaan jangka panjang. Kadang-kadang, hal ini dapat membuat
konflik antara manajer dan pemilik, dan seringnya pergantian kepemilikan karena
pemegang saham melepaskan sahamnya untuk mendapatkan profit pada saham
lain yang lebih menguntungkan, sehingga hal tersebut dapat melemahkan
stabilitas perusahaan. Investor minoritas ini kurang mengawasi keputusan dewan
dan tidak dapat mempertahankan direktur yang dapat dipercaya, sehingga apabila
terdapat direktur yang mendukung keputusan yang tidak sejalan dengan
perusahaan mungkin masih tetap di dewan.

2.2.2 Kepemilikan yang Terkonsentrasi (Concentrated Ownership)


Pada tipe perusahaan yang seperti ini, terdapat dua kelompok pemegang
saham, yaitu pemegang saham mayoritas yang bertindak sebagai pengendali dan
pemegang saham minoritas. Menurut Bae et al. (2003) kepemilikan yang
terkonsentrasi ini merupakan salah satu ciri dari control based model, selain
menekankan pada insider board, pengungkapan yang terbatas, dan
ketergantungan pada keuangan atau sistem perbankan keluarga. Karakteristik
perusahaan ini banyak dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang
(seperti Indonesia, Korea) dan Continental European. Masalah keagenan yang
timbul terutama adalah antara pengendali dan pemegang saham minoritas.
Masalah keagenan menjadi semakin makin serius karena seringkali
perusahaan yang terdaftar di bursa merupakan salah satu unit usaha dari grup
sehingga masalah self-dealing yang dapat merugikan pemegang saham minoritas

5
sering terjadi. Karena itu bukan hanya diperlukan adanya peraturan yang
mencegah hal ini tetapi juga harus ada mekanisme untuk menegakkan peraturan
tersebut.
Roche (2005) berpendapat bahwa perusahaan yang kepemilikannya
terkonsentrasi, mempunyai beberapa keuntungan seperti pemegang saham
mayoritas (insider) memiliki kekuatan dan insentif untuk mengawasi manajemen
dengan lebih dekat, sehingga dapat meminimalkan timbulnya mismanajemen dan
kecurangan. Selain itu, karena kepemilikan mereka yang signifikan dan adanya
hak pengendalian, insider cenderung untuk menjaga investasinya dalam
perusahaan untuk jangka waktu yang lama. Kelemahan dari sistem ini antara lain,
pemegang saham mayoritas dapat berkolusi dengan manajemen untuk mengambil
alih asset perusahaan dengan biaya dari pemegang saham minoritas. Ini
merupakan risiko yang signifikan bagi pemegang saham minoritas yang tidak
dilindungi dengan hukum. Hal yang sama, ketika manajer mengendalikan
sejumlah besar saham atau hak suara yang digunakan untuk mempengaruhi
keputusan dewan yang menguntungkan mereka dengan biaya perusahaan. Jadi
terdapat masalah keagenan antara pemegang saham minoritas dengan pengendali
(pemegang saham mayoritas). Selain itu kemungkinan terjadi masalah keagenan
antara pemilik dan kreditur lebih besar daripada tipe perusahaan yang
kepemilikannya menyebar. Samad (2004) dalam penelitiannya pada perusahaan-
perusahaan di Malaysia menemukan bahwa kepemilikan yang terkonsentrasi
dapat membuat kinerja perusahaan menjadi lebih baik, dan komposisi
kepemilikan tersebut merupakan elemen penting untuk memacu kinerja
perusahaan yang lebih baik.

6
2.3. Komposisi Dalam Struktur Kepemilikan
Aspek dari struktur kepemilikan perusahaan adalah komposisinya, siapa
pemegang sahamnya, dan lebih penting siapa yang mengendalikan atau pemegang
saham signifikannya. Pemegang saham bisa kepemilikan keluarga atau grup
keluarga, kepemilikan Manajerial, kepemilikan institusi, kepemilikan asing dan
kepemilikan pemerintah.

2.3.1 Kepemilikan Keluarga


Kepemilikan saham di negara berkembang sebagian besar dikontrol oleh
kepemilikan keluarga, termasuk perusahaan di Indonesia (Arifin, 2003).
Perusahaan seperti ini lebih efisien daripada perusahaan yang dimiliki publik
karena biaya pengawasannya (monitoring cost) lebih kecil. Perusahaan publik di
Indonesia, perusahaan yang dikendalikan keluarga, perusahaan negara, atau
perusahaan yang dikendalikan institusional, memiliki masalah agensi yang lebih
kecil daripada perusahaan yang dikendalikan public atau perusahaan tanpa
pemegang saham pengendali. Perusahaan yang dikendalikan keluarga memiliki
masalah agensi yang lebih sedikit karena terdapat konflik yang lebih sedikit antara
prinsipal dan agen, tetapi terdapat masalah agensi lain yaitu antara pemegang
saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas.
Perusahaan dikatakan dimiliki oleh keluarga apabila pimpinan atau
keluarga memiliki lebih dari 20% hak suara. Menurut Harijono (2013),
penelusuran kepemilikan keluarga dilakukan dengan melihat nama dewan
direksi dan dewan komi saris Jika nama dewan direksi dan dewan komisaris
cenderung sama dalam beberapa tahun dan mempunyai saham dalam
kepemilikan perusahaan maka bisa saja perusahaan tersebut termasuk dalam
kepemilikan oleh keluarga. Jika perusahaan dimiliki institusi lain, maka
penelusuran kepemilikan dilakukan dengan analisis kepemilikan piramida dan
struktur lintas kepemilikan. Setelah ditelusuri maka dapat diketahui jika saham
pengendali perusahaan tersebut adalah individu, maka bisa dikategorikan sebagai
kepemilikan keluarga.
Kepemilikan saham keluarga yang besar mempunyai pengaruh negatif bagi
kinerja perusahaan. Hal ini terjadi karena keluarga cenderung mengambil

7
manfaat pribadi dari perusahaan dengan semakin banyak nilai saham yang di
investasikan maka semakin mudah untuk mengendalikan perusahaan. Ketika
timbul suatu resiko yang sangat tinggi yang dialami oleh perusahaan, maka
pemilik akan cenderung lebih menyelamatkan uang yang mereka investasikan
daripada memperbaiki kinerja perusahaan.
Anderson dan Reeb (2004) yang melakukan penelitian di Indonesia
menemukan bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh negatif terhadap kinerja
keuangan perusahaan hal ini disebabkan karena perlindungan hukum terhadap
investor dalam struktur kepemilikan sangatlah lemah sehingga timbul masalah
agensi yang dapat mengganggu kinerja perusahaan.

2.3.2 Kepemilikan Manajerial


Kepemilikan manajerial adalah pemegang saham dari pihak manajemen
(dewan direksi dan dewan komisaris) yang secara aktif ikut dalam pengambilan
keputusan. Kepemilikan manajerial diukur dengan menggunakan rasio antara
jumlah saham yang dimiliki manajer atau direksi dan dewan komisaris
terhadap total saham yang beredar.
Kepemilikan manajerial dapat mengurangi masalah agensi karena kinerja
manajer akan lebih baik seiring dengan peningkatan kepemilikan saham dalam
perusahaan tersebut. Manajer akan berusaha lebih giat untuk memperbaiki kinerja
perusahaan, yang akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan dan
meningkatkan kekayaannya sendiri.
Seiring meningkatnya kepemilikan manajerial akan menyelaraskan
kepentingan manajer dengan kepentingan pemegang saham. Sehingga terdapat
insentif bagi manajer untuk memaksimalkan nilai perusahaan ketika kepemilikan
manajerialnya meningkat. Hal ini akan efektif untuk mengontrol insentif manajer
yang meningkat. Kepemilikan saham oleh manajer akan mendorong penyatuan
kepentingan antara prinsipal dan agen sehingga manajer bertindak sesuai
dengan keinginan pemegang saham dan dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Kepemilikan saham manajerial akan mendorong manajer untuk berhati-hati
dalam mengambil keputusan karena mereka ikut merasakan secara langsung

8
manfaat dari keputusan yang diambil dan ikut menanggung kerugian sebagai
konsekuensi dari pengambilan keputusan yang salah.

2.3.3 Kepemilikan Institusi


Kepemilikan saham institusional adalah saham perusahaan yang dipegang
oleh institusi lain. Institusi merupakan sebuah lembaga yang memiliki
kepentingan besar terhadap investasi yang dilakukan termasuk investasi saham.
Perusahaan dengan kepemilikan institusional yang besar (lebih dari 5%)
mengindikasikan kemampuannya untuk memonitor manajemen.
Kepemilikan institusional merupakan proporsi kepemilikan saham oleh
institusi seperti LSM, Perusahaan swasta, perusahaan efek, dana pensiun,
perusahaan asuransi, bank dan perusahaan-perusahaan investasi. Kepemilikan
institusional diukur dengan menggunakan rasio antara jumlah lembar saham
yang dimiliki oleh institusi terhadap jumlah lembar saham perusahaan yang
beredar secara keseluruhan (Ujiyantho dan Pramuka, 2007).
Kepemilikan institusional pada umumnya memiliki proporsi kepemilikan
dalam jumlah yang besar sehingga proses monitoring terhadap manajer menjadi
lebih baik. Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan
usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional sehingga
dapat menghalangi perilaku opportunistic manajer.
Institutional shareholders memiliki insentif untuk memantau pengambilan
keputusan perusahaan. Hal ini akan berpengaruh positif bagi perusahaan tersebut,
baik dari segi peningkatan nilai perusahaan maupun peningkatan kinerja
usaha. Kepemilikan institusional memiliki peranan yang penting dalam
meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi diantara pemegang saham dengan
manajer. Keberadaaan investor institusional dianggap mampu mengoptimalkan
pengawasan kinerja manajemen dengan memonitoring setiap keputusan yang
diambil oleh pihak mana jemen selaku pengelola perusahaan. Kepemilikan
institusional ditunjukkan dengan tingginya persentase saham perusahaan yang
dimiliki oleh pihak institusi.

9
Kepemilikan institusional memiliki kelebihan antara lain: 1) Memiliki
profesionalisme dalam menganalisis informasi sehingga dapat menguji keandalan
informasi. 2) Memiliki motivasi yang kuat untuk melaksanakan pengawasan lebih
ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan

2.3.4 Kepemilikan Asing


Berdasarkan teori keagenan, perbedaan kepentingan antara manajer dan
pemegang saham mengakibatkan timbulnya konfik yang biasa disebut agency
conflict. Konflik kepentingan yang sangat potensial ini menyebabkan
pentingnya suatu mekanisme yang diterapkan yang berguna untuk melindungi
kepentingan pemegang saham. Kepemilikan asing merupakan porsi outstanding
share yang dimiliki oleh investor atau pemodal asing (foreign investors) yakni
perusahaan yang dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta
bagian-bagiannya yang berstatus luar negeri terhadap jumlah seluruh modal
saham yang beredar (Farooque et al., 2007).
Kepemilikan asing merupakan proporsi saham biasa perusahaan yang
dimiliki oleh perorangan, badan hukum, pemerintah serta bagian- bagiannya
yang berstatus luar negeri. Atau perorangan, badan hukum, pemerintah yang
bukan berasal dari Indonesia. Kepemilikan asing dalam perusahaan
merupakan pihak yang dianggap concern terhadap peningkatan good
corporate governance.
kepemilikan asing dalam perusahaan merupakan pihak yang concern
terhadap peningkatan corporate governance seperti dengan memiliki
ukuran dewan direksi yang lebih kecil dan proporsi komisaris independen
yang lebih tinggi dan cenderung menerapkan praktik good corporate
governance yang diterapkan di Negara asalnya dan dipromosikan ke Negara
lain seperti kebutuhan untuk memiliki board size yang kecil dan dengan
proporsi komisaris independen yang lebih tinggi. Di sisi lain jarak geografis
mereka dengan perusahaan dan operasi perusahaan mungkin menjadi
hambatan untuk terus melakukan proses monitoring yang efisien sehingga
perulunya monitoring oleh komisaris independen

10
2.3.5 Kepemilikan Pemerintah
Kepemilikan pemerintah adalah jumlah kepemilikan saham oleh pihak
pemerintah (government) dari seluruh modal saham yang dikelola . Berdasarkan
teori keagenan, perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham
mengakibatkan timbulnya konfik yang biasa disebut agency conflict. Konflik
kepentingan yang sangat potensial ini menyebabkan pentingnya suatu
mekanisme yang diterapkan yang berguna untuk melindungi kepentingan
pemegang saham.
Perusahaan pemerintah yang dikendalikan oleh para birokrat memiliki
tujuan yang didasarkan pada kepentingan politis dan bukan untuk
menyejahterakan masyarakat dan perusahaan itu sendiri. Dalam teori keagenan
dijelaskan hubungan antara pemegang saham dengan pihak manajer, pemerintah
sebagai pemegang saham pengendali seharusnya bisa mengawasi atau
mengkontrol kinerja dari manajer, tetapi seringkali pemerintah justru mempunyai
tujuan lain selain meningkatkan kinerja.
Perusahaan dengan pemegang saham terbesarnya adalah pemerintah
memiliki tata kelola perusahaan yang lemah karena lebih melayani kepentingan
publik di banding kepentingan para pemegang saham”. Perusahaan BUMN di
Indonesia rata-rata memiliki tingkat leverage yang tinggi hal ini akan berpengaruh
pada penurunan kinerja keuangan perusahaan (Triwacaningrum dan Hidayat,
2014). Keinginan publik terkadang tidak sejalan degan kepentingan pemegang
saham. Hal ini akan berdampak pada berkurangnya control dari pihak pemerintah
terhadap pihak manajer sebagai pengelolah perusahaan. Sehingga berpengaruh
negatif dengan ukuran dewan direksi perusahaan dan perlunya pemantauan yang
lebih dari komisaris independen.

11
2.4. Pemisahan Kepemilikan dan Kepengurusan

2.4.1. Keterbatasan Model Perusahaan Kewirausahaan


Para wirausahawan, secara umum memiliki tiga kepemilikan sekaligus yang
meliputi : (1).Kepemilikan perusahaan itu sendiri yang menyangkut asset-aset
yang digunakan dalam proses produksi, (2).Kepemilikan kompetensi yang
meliputi kualitas SDM, model pengelolaan, dan struktur organisasi yang akan
menentukan kualitas serta kuantitas proses produksi, (3).Kepemilikan atas hak
remunerasi atas pengelolaan perusahaan yang umumnya secara sederhana dapat
dipahami sebagai fungsi dan keutungan perusahaan. Model kewirausahaan baik
untuk perusahaan dalam kategori kecil dan menengah. Namun, tidak cocok
digunakan dalam perusahaan berskala besar. Karena, perusahaan jenis ini
membutuhkan dana operasional yang besar yang sulit dipenuhi dengan modal
sendiri, dan perusahaan dengan skala besar, tidak mungkin lagi dikelola secara
pribadi. Dalam kondisi tertentu dibutuhkan tenaga-tenaga professional yang
memiliki tingkat kompetensi memadai untuk mengelola perusahaan. Sehingga
perusahaan berskala besar harus beralih ke perusahaan model manajerial.

2.4.2. Masalah Dalam Model Manajerial


Masalah dalam model manajerial timbul karena terpisahnya pengelolaan
perusahaan dan kepemilikan dan menyebabkan tidak sinkronnya kepentingan
pemilik dan pengelola perusahaan. Dalam kasus perusahaan memiliki pemegang
saham yang majemuk masalah keagenan (agency problem) akan muncul bukan
saja antara pemilik modal dan pengelola (keagenan I), melainkan juga antara
pemegang saham minoritas dengan pemegang saham mayoritas (keagenan II)
Ada beberapa mekanisme untuk menekan masalah keagenan tipe I, seperti:
1. Sistem penggajian (remuneration system): diyakini, sistem penggajian
yang baik akan menekan sifat oportunis para pengelola perusahaan,
sebagaimana dijelaskan dalam teori biaya transaksi (transaction cost
theory).
2. Sistem pengawasan internal: untuk mengawasi jalannya perusahaan yang
dilakukan oleh pihak lain, para pemilik modal menugaskan dewan

12
pengawas yang membawahi para pengelola perusahaan di bawah CEO
(chief executive officers).
3. Sistem pengawasan eksternal (pasar): pengawasan melalui sistem pasar
bisa terjadi karena control yang dilakukan oleh para investor itu sendiri
dengan cara jual beli kepemilikan (saham), dan control bisa terjadi lewat
mekanisme akuisisi yang dilakukan atas alasan keterpaksaan karena
kinerja perusahaan cenderung buruk dan sulit diselamatkan sehingga
mengundang perusahaan lain untuk mengakuisisi.
4. Pasar eksekutif: mekanisme pengawasan dan control terhadap kinerja para
eksekutif dalam menjalankan perusahaan terjadi akibat ketatnya
persaingan pasar para eksekutif.
5. Konsentrasi kepemilikan: dalam berbagai studi ditunjukan bahwa
konsentrasi kepemilikan diyakini akan meningkatkan control terhadap
manajer.

2.5. Review Jurnal


Judul : Pengaruh Struktur Kepemilikan Manajerial, Struktur Kepemilikan
Institusional, Set Kesempatan Investasi, Ukuran Perusahaan Terhadap
Nilai Perusahaan.

Peneliti : Purwo Adi Nugroho (Program Studi Magister Akuntansi Pascasarjana


Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga 2014)

2.5.1 Latar Belakang dan Tujuan Penelitian


Tujuan utama perusahaan, terutama perusahaan yang berorientasi bisnis,
adalah mengoptimalkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang meningkat
merupakan harapan bagi para pemegang saham karena peningkatan nilai
perusahaan menunjukkan peningkatan kemakmuran pemegang saham.
Meningkatnya nilai perusahaan juga akan meningkatkan minat investor untuk
menanamkan modalnya pada suatu perusahaan karena diindikasikan perusahaan
tersebut akan mempunyai prospek bagus di kemudian hari dan mendatangkan
return saham yang tinggi. Nilai perusahaan tercermin pada harga saham
perusahaan yang meningkat. Kinerja manajer perusahaan juga diukur dari ada

13
tidaknya peningkatan nilai perusahaan yang mereka kelola. Bagi perusahaan yang
sudah go public, maka nilai pasar wajar perusahaan ditentukan mekanisme
permintaan dan penawaran di bursa, yang tercermin dalam listing price.
Pihak manajemen perusahaan seringkali mempunyai tujuan dan kepentingan
lain yang bertentangan dengan tujuan utama perusahaan dan sering mengabaikan
kepentingan pemegang saham. Konflik tersebut terjadi karena manajer
mengutamakan kepentingan pribadi, sebaliknya pemegang saham tidak menyukai
kepentingan pribadi dari manajer karena akan menyebabkan penurunan
keuntungan perusahaan dan berpengaruh terhadap harga saham sehingga
menurunkan nilai perusahaan.
Salah satu cara untuk meredam konflik kepentingan antara manajer dan
pemegang saham dan juga dapat meningkatkan nilai perusahaan adalah adanya
struktur kepemilikan saham oleh pihak institusional serta struktur kepemilikan
saham oleh pihak manajerial perusahaan. Pihak institusional yang dimaksud
adalah perusahaan asuransi, perusahaan perbankan, dan lain-lain. Semakin tinggi
kepemilikan institusional maka akan mengurangi perilaku opportunistic manajer
yang dapat mengurangi agency cost yang diharapkan akan meningkatkan nilai
perusahaan. Struktur kepemilikan lain yaitu stuktur kepemilikan saham
manajerial. Kepemilikan saham manajerial adalah proporsi saham biasa yang
dimiliki oleh para manajemen. Dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh
manajemen akan mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham
sehingga manajemen akan termotivasi untuk berkinerja dengan baik hingga pada
akhirnya dapat meningkatkan nilai perusahaan. Dalam kepemilikan saham
manajerial yang rendah, maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya perilaku
oportunistik manajer akan meningkat.

14
2.5.2. Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah perusahaan properti yang terdapat di


Bursa Efek Indonesia yang masuk kedalam LQ45. Pemilihan sampel properti
tersebut didasari karena peneliti mengindikasikan perusahan properti mempunyai
nilai perusahaan yang tinggi, hal ini dikarenakan saham perusahaan properti
termasuk jajaran saham pilihan karena 12 dari 52 perusahaan properti atau sekitar
23,08%, masuk ke dalam daftar saham perusahaan paling aktif dan diburu oleh
investor (LQ45).

2.5.3. Rumusan Masalah dan Hipotesis


Rumusan Masalah
(1) Apakah struktur kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap nilai
perusahaan?
(2) Apakah struktur kepemilikan institusional berpengaruh terhadap nilai
perusahaan?
(3) Apakah set kesempatan investasi berpengaruh terhadap nilai perusahaan?
(4) Apakah ukuran perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan?

Hipotesis
H1 : struktur kepemilikan manajerial, struktur kepemilikan institutional, set
kesempatan investasi, ukuran perusahaan berpengaruh terhadap nilai
perusahaan

15
2.5.4 Hasil
Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Nilai Perusahaan

Kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai


perusahaan disebabkan karena rendahnya saham yang dimiliki oleh manajemen
yaitu sebesar 1,79 %, hal ini mengakibatkan pihak manajemen belum merasa ikut
memiliki perusahaan, karena tidak semua keuntungan yang didapat perusahaan
dapat dinikmati oleh manajemen. Hal ini menyebabkan pihak manajemen kurang
termotivasi untuk memaksimalkan utilitasnya sehingga merugikan pemegang
saham. Selain itu dengan rendahnya kepemilikan saham oleh manajemen
membuat kinerja manajemen juga cenderung rendah sehingga tidak
mempengaruhi nilai perusahaan. Dengan demikian, kepemilikan manajemen
belum mampu menjadi mekanisme untuk meningkatkan nilai perusahaan.

Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Nilai Perusahaan

Semakin besar presentase saham yang dimiliki oleh investor institusional


akan menyebabkan usaha monitoring menjadi semakin efektif, dan selanjutnya
akan meningkatkan nilai atau kinerja perusahaan karena dapat mengendalikan
perilaku oportunistik manajer dan memaksa manajer untuk mengurangi tingkat
hutang secara optimal, sehingga akan mengurangi agency cost. Semakin besar
kepemilikan institusional maka semakin efisien juga pemanfaatan aktiva
perusahaan dan diharapkan juga dapat bertindak sebagai pencegahan terhadap
pemborosan dan manipulasi laba yang dilakukan oleh manajemen sehingga akan
meningkatkan nilai perusahaan.

Pengaruh Set Kesempatan Investasi terhadap Nilai Perusahaan

Investor percaya bahwa perusahaan yang meningkatkan set kesempatan investasi


nya, akan memiliki prospek yang bagus di kemudian hari, sehingga berinvestasi
pada saham perusahaan tersebut akan menghasilkan return yang lebih tinggi.
Penelitian ini mendukung signaling theory, yang menyatakan bahwa pengeluaran
investasi memberikan sinyal positif mengenai pertumbuhan perusahaan di masa
yang akan datang, sehingga dapat meningkatkan harga saham yang digunakan
sebagai indikator nilai perusahaan (Wahyudi dan Pawestri, 2006). Keputusan

16
investasi yang dilakukan suatu perusahaan mengandung informasi yang berisi
sinyal-sinyal akan prospek perusahaan. Kepercayaan investor terhadap perusahaan
properti yang memiliki keputusan investasi tinggi pada saat ini, menyebabkan
naiknya permintaan terhadap saham perusahaan properti di Indonesia. Hasil
penelitian ini mendukung Chen et.al. (2000), Hasnawati (2005), Rachmawati dan
Triatmoko (2007), yang memperoleh hasil penelitian bahwa set kesempatan
investasi memiliki pengaruh positif secra signifikan terhadap nilai perusahaan.

Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Nilai Perusahaan

Perusahaan dengan ukuran yang lebih besar memiliki akses yang lebih
mudah untuk mendapat sumber pendanaan dari pihak ketiga, karena perusahaan
dengan ukuran besar memiliki total aset lebih besar yang dapat dijaminkan
daripada perusahaan dengan ukuran lebih kecil. Ukuran perusahaan dapat
menyebabkan suatu perusahaan mempunyai nilai lebih (Animah dan Ramadhani,
2009).

2.5.5. Simpulan
Penelitian ini menguji pengaruh dari kepemilikan manajerial, kepemilikan
institusional, set kesempatan investasi dan ukuran perusahaan terhadap nilai
perusahaan. Dari empat hipotesis yang dibangun, tiga hipotesis diterima, dan satu
hipotesis ditolak. Disimpulkan bahwa :

1. Kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

2. Kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

3. Set kesempatan investasi berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

4. Ukuran perusahaan berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

17
2.5.6. Saran
Penelitian selanjutnya dapat memperluas sampel ke sektor industri lain, dan
mempergunakan rentang waktu pengambilan sampel yang lebih panjang dan
penelitian selanjutnya juga menggunakan informasi internal lainnya seperti rasio
keuangan lain (return on equity, dividend per share) dan informasi eksternal
perusahaan yang menyangkut kondisi makro ekonomi misalnya seperti keadaan
pasar modal, suku bunga dan lain-lain. Selain itu untuk penelitian selanjutnya
dapat pula menggunakan model lain dalam menghitung nilai perusahaan.

18
BAB III
PENUTUP

Konflik kepentingan antara manajer dan pemegang saham dapat


diminimumkan dengan suatu mekanisme pengawasan yang dapat mensejajarkan
kepentingan-kepentingan yang terkait yaitu dengan dibentuknya struktur
kepemilikan. Struktur kepemilikan ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
kepemilikan yang tersebar (dispersed ownership) dan kepemilikan yang
terkonsentrasi (concentrated ownership).
Aspek dari struktur kepemilikan perusahaan adalah komposisinya, siapa
pemegang sahamnya, dan lebih penting siapa yang mengendalikan atau pemegang
saham signifikannya. Pemegang saham bisa kepemilikan keluarga atau grup
keluarga, kepemilikan Manajerial, kepemilikan institusi, kepemilikan asing dan
kepemilikan pemerintah.
Penerapan struktur kepemilikan model kewirausahaan lebih cocok
digunakan kepada perusahaan berskala kecil karena pengelolaannya masih
sederhana. Sementara itu untuk perusahaan berskala besar membutuhkan dana
yang lebih besar, pengelolaannya lebih kompleks sehingga lebih membutuhkan
tenaga-tenaga profesional untuk mengelolanya. Karena itulah perusahaan-
perusahaan besar lebih cocok menggunakan struktur kepemilikan manajerial.

19
DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, Purwo Adi. 2017. PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN


MANAJERIAL, STRUKTUR KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, SET
KESEMPATAN INVESTASI, UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP
NILAI PERUSAHAAN. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Airlangga.

Prasetyantoko, Dr. A. 2008. CORPORATE GOVERNANCE (Pendekatan


Institusional). PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Putri, I.G.A.M. Asri Dwija dan I.G.K.A. Ulupui. 2017. Pengantar Corporate
Governance. CV. Sastra Utama: Denpasar.

Sutojo, Siswanto. Aldridge, E John. Good Corporate Governance-Tata Kelola


Perusahaan Yang Sehat. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka.

Unja, Mia. 2012. Struktur Kepemilikan Perusahaan. Artikel Online.


https://www.academia.edu/7563033/Kepemilikan_Imediat?auto=download.
(Diakses pada 2 Februari 2018).

20