Anda di halaman 1dari 5

Secar etimologi, takwil ditrujuk dari kata

BAB II : ‫ أَ ًَّ َل – ُّ َؤ ًِّ ُل‬yang berarti At-Tafsir, Al-Maarja‟,


ZHAHIR DAN MUAWWAL (TAKWIL) Al-Mashir. Demukian pendapat Abu Ubaidah
Ma’mar bin Al-Matsani dan keterangan yang
dikemukakan oleh Abu Ja’far Al-Thabary (Adib
Shalih, 1984 : 356).
A. Pengertian Zhahir Disamping itu, takwil juga bermakna Al-
Al-Bazdawi memberikan defenisi zhahir Jaza‟, seperti firman Allah SWT :
sebagai berikut : )95 : ‫ك َخ ْْ ٌش ًَأَحْ َسٍُ حَأْ ًِّ ًْهال (اننساء‬
َ ِ‫َرن‬
. ‫إسى نكم كالو ظيش انًشاد بو نهسايع بصْغخو‬ Artinya : “..... yang demikian itu lebih utama
Artinya : “Suatu nama bagi seluruh perkataan yang jelas dan lebih baik akubatnya.”
maksudnya bagi pendengar, melalui bentuk Dengan demikian, takwil mempunyai
lafazh itu sendiri.”[1] makna At-Tafir (penjelas, uraian) atau Al-
Definisi yang lebih jelas dikemukakan Marja‟, Al-Mashir (kembali, tempat kembali)
oleh Al-Sarakhsi : atau Al-Jaza‟ (balasan yang kembali
.‫يا ّعشف انًشاد ينو بنفس انسايع يٍ غْش حأ ّيم‬ padanya)[3].
Artinya : “Sesuatu yang dapat diketahui maksudnya dari Sedangkan menurut terminologi, para
pendengaran itu sendiri tanpa harus dipikirkan ulama berbeda pendapat dalam
lebih dahulu.” mendefenisikan takwil.Para ulama salaf
Dari defenisi diatas, dapat kita ketahui mendefenisikan takwil antara lain sebagai
bahwa yang dimaksud dengan zhahir itu adalah berikut[4] :
suatu lafazh yang dengan mendengarkan lafazh 1. Imam Ghazali dalam kitab Al-Musthashfa(Al-
itu pendengar bisa langsung mengerti apa Ghazali, 1973: 128)
maksud nya tanpa perlu berpikir dan tidak ‫إٌ انخأًّم عباسة عٍ احخًال ّغضّذه دنْم ّصْش بو‬ ّ
bergantung kepada petunjuk lain. ّ ّ
.‫أغهب عهَ انظٍ يٍ انًعنَ انزُ ّذل عهْو انظاىش‬ّ
Atas dasar defenisi-defenisi tersebut, Artinya : “Sesungguhnya takwil itu merupakan ungkapan
Muhammad Adib Shaleh menyimpulkan bahwa tentang pengambilan makna dari lafazh yang
zhahir iru adalah : bersifat probabilitas yang didukung oleh dalil
‫انهفظ انزُ ّذ ّل عهْيا يعناه يٍ غْش حٌقف عهَ قشّنت‬ dan menjadikan arti yang lebih kuat dari makna
.‫خاسجت يع احخًال انخخصْص ًانخأًّم ً قبٌل اننسخ‬ yang ditunjukkan oleh lafazh zhahir.”
Artinya : “Suatu lafazh yang menunjukkan suatu makna 2. Imam Al-Mudi dalam kitab Al-Mushtashfa :
dengan rumusan lafazh itu sendiri tanpa ‫حًم انهفظ عهَ غْش يذنٌنو انظاىش ينو يع احخًانو‬
menunggu adanya qorinah yang ada diluar .‫بذنْم ّغضّذه‬
lafazh itu sendiri, namun mempunyai Artinya : “Membawa makna lafazh zhahir yang mempunyai
kemungkinan ditakhsish, di ta‟wil dan di ihtimal (probabilitas) kepada makna lain yang
nasakh.” didukung dalil.”
Adapun contoh yang dapat dikemukakan Kaum muhaditsin
disini adalah firman Allah SWT yang berbunyi : mendefinisikan takwilyaitu sejalan dengan
.‫ًَ أَ َح َّم هللاُ ْانبَ ْْ َع ًَ َح َّش َو ان ِّشبَا‬ defenisi yang dikemukakan oleh ulama Ushul
Artinya : “Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan Fiqh, yaitu :
mengharamkan riba.”
Ayat tersebut petunjuknya sudah jelas
bahwa mengenai halalnya jual beli dan 1. Menurut Wahab Khalaf :
haramnya riba. Petunjuk itu diambil dari lafazh .‫صشف انهفظ عٍ ظاىش بذنْم‬
itu sendiri tanpa memerlukan qarinah lain. Artinya : “Memalingkan lafazh dari zhahirnya,
Kedudukan lafazh zhahir wajib diamalkannya karena ada dalil.”
sesuai petunjuk lafazh itu sendir, sepanjang tidak 2. Menurut Abu Zarhah :
ada dalil yang men-takhsish-nya, men-takwil- ً ‫إخشاج انهفظ عٍ ظاىش يعناه إنَ يعنَ آخش ّحخًهو‬
nya atau me-nasakh-nya. .‫نْس ىٌ انظاىش فْو‬
B. Hukum Zhahir Artinya : “Takwil adalah mengeluarkan lafazh
Yang dimaksud dengan hukum zhahir dari artinya yang zhahir kepada makna lain ,
adalah, dalam hal bagaimana kita boleh atau tetapi bukan zhahirnya.”
harus berpegang pada makna yang zhahir, dan Dengan demikian
dalam keadaan bagaimana pula kita boleh pengertian takwilmenurut bahasa lebih umum
meninggalkan arti zhahir. daripada pengertiankhas,
Para ulama ushul fiqih memberi hukum amm, atau muthlak, karena lafazh-lafazhtersebut
tentang pemakain lafaz zhahir sebagai berikut : menunjukkan arti yang dimaksud dan dianggap
ِ‫انظاىش دنْم ششعِ ّجب احباعو إال أٌ ّذل انذنْم عه‬ dalil qoth‟i.
‫خالفو‬ Penyebab adanya penakwilan
Artinya : “Zhahir itu adalah dalil syar‟I (yang) wajib terhadaplafazh-lafazh yang artinya dianggap
diikuti, kecuali terdapat dalil yang menunjukkan kuat diantaranya karena arti zhahir-nya tidak
lain daripadanya.” sesuai dengan arti yang hakiki, sehingga dalil
Maksudnya adalah, apabila tidak terdapat hasiltakwil yang tidak kuat menjadi kuat.
alasan yang kuat untuk mendorong pentakwilan Dengan kata lain, mengutamakan makna dari
sesuatu lafaz, maka lafaz zhahirnyalah yang hasil prasangka yang sesuai dengan
dipakai sebagai dalil yang wajib kita ikuti.[2] maksud syara‟.
D. Objek Takwil
Kajian takwil sebagaimana ijtihad dengan
ra‟yu, tidak menyangkut nash-
C. Pengertian Takwil (Muawwal) nash yang qath‟i,baik secara khusus maupun
umum, yang merupakan landasan kaidah-kaidah 1. Dalil Penunjang Takwil Tidak disyaratkan
fiqih yang berguna untuk menentukan ketetapan Qath’i
hukum permasalahan furu‟, sehingga para imam Sudah jelas bahwa takwil itu perubahan arti
dapat menerima dan mengamalkannya. Selain untuk membatasi maksud syara‟ dengan dalil
itu, takwiljuga tidak menyangkut hukum-hukum shahih, baik yang qath‟i, maupun
agama penting lainnya yang mudah ataupun sulit yang zhanni. Maka hikmah syari’at yang
untuk dipahami yang merupakan dasar-dasar bersifat zhanni bisa dipakai dalil
syari’at. Juga tidak mencakup peraturan- dalamta‟wil, diantaranya juga khabar Ahad dan
peraturan syari’at yang bersifat umum, Qiyas.
diantaranya bahan-bahan yang memerlukan 2. Takwil Itu Dihasilkan Dari Perubahan Makna
penafsiran dan pematokan hukum, karena Bukan Perubahan Lafazh
maksud syara‟ harus diterangkan secara jelas Jika suatu syari’at memakai bahasa untuk
dan digambarkan secara qath‟i agar terhindar mengungkapkan maksudnya, dasar umum yang
dari munculnya arti spekulatif. dipakai adalah yang sesuai dengan bunyi bahasa
Adapun kajian takwil kebanyakan yang mempunyai kajian khusus. Setiap mujtahid
adalahfiru‟ sebagaimana pendapat Imam Asy- diharuskan untuk berpegang teguh kepada
Syaukani. Selain itu hal-hal yang jelas arti zhahir yang kuat dan tidak boleh
dan nash yang merupakan kajian takwil juga. Itu mengamalkan berdasarkan arti lainnya yang
semua kajiantakwil secara global dan terbatas dipandang lemah, meskipun sama-sama benar
bila belum ada panafsiran dari syari’at secara selama tidak ada dalil yang kuat dan sahih.
menyeluruh.
Takwil semakin berkembang F. Landasan Takwil
pembahasannya, sehingga menurut Hanafi Pada mulanya takwil itu tidak ada dan
mencakup nash dan zhahir. tidak terbentuk, kecuali dengan dalil. Kemudian
E. Dalail-dalil Penunjang Takwil dari ide dasar tersebut, muncul bebrapa
Takwil pad adasarnya mencakup arti yang masalahjuz‟i, antara lain kewajiban untuk
lemah yang memerlukan dalil untuk mengamalkan setiap petunjuk yang berasal dari
memperkuat praduga hasil takwil tersebut, arti nash secarazhahir dan semua dalil
sehingga arti yang tadinya lemah akan menjadi dianggap hujjah karena kejelasan dan
lebih kuat karena sesuai dengan kemashlahatan keberadaannya, sehingga lafazhmutlaq berlaku
umum dan dugaan para mujtahid.[5] sesuai kemutlakannya dan tidak diikat, kecuali
Dengan demikian, dalil dengan dalil. Begitu juga dengan lafazh
penunjang takwilharis lebih kkuat daripada dalil yang amm dan yang khash.[6]
penunjang arti secara bahasa. Atau dalilnya Landasan umum takwil adalah
harus lebih kuat daripada dalil-dalil yang mengamalkan dalil sesuai dengan konteks
menunjukkan bahwa dilaksanakan ataupun bahasanya dan mengambil ketetapan hukumnya.
tidak nash tersebut sama saja. Dengan cara Sesungguhnya takwil itu mencakup berbagai
seperti itu, hasil penakwilan akan lebih kuat dan kemungkinan yang berasal dari akal, bukan
menjadi takwil yang shahih. bersumber dari bahasa. Karena takwil itu
Dalil yang dipakai untuk merubah arti sesuai dengan kebutuhan
menguatkantakwil juga disyaratkan harus sesuai bahasa,takwil itu tidak ada kecuali dengan dalil.
dengan ketentuan syara‟, diantaranya dalil yang Imam Syafi’i R.A berpendapat bahwa
memberikan batasan yang terlalu luas terhadap diantara penyebab timbulnya perbedaanpendapat
maksud syara‟, atau yang memperluas dikalangan umat Islam adalah kecerobohan
artihaqiqiyang dikandung dalam maksud syara‟. dalam memahami teks dari berbagai nash.
Secara ringkas, dalil-dalil yang dipakai Kemudian mereka membuat penakwilan tanpa
dalam takwil adalah sebagai berikut : menggunakan dalil-dalil yang shahih, bahkan
a. Nash yang diambil dari Al-Qur’an dan As- mereka mencoba mengadopsi hukum-hukum
Sunnah. yang berasal dari filsafat Yunani, seperti
b. Ijma’. Aristoteles, dan sebagainya. Mereka berkata,
c. Kaidah-kaidah umum syari’at yang diambil dari “Manusia itu tidak akan bodoh dan saling
Al-Qur’an dan Sunnah. berbeda pendapat kalau tidak meninggalkan
d. Kaidah-kaidah fiqih yang menetapkan bahwa ucapan-ucapan orang Arab yang mengikuti
pembentukan syari’at memperhatikan hal-hal Aristoteles.”[7]
yang bersifatjuz‟i tanpa batas. Ada tiga ketentuan umum yang dapat
e. Hakikat kemaslahatan umum. dijadikan pegangan agar terhindar dari kesalahan
f. Adat yang diucapkan dan diamalkan. dalam berijtihad, juga berbagai cara meng-
g. Hikmah syari’at atau tujuan syari’at itu sendiri. instinbat-kan hukum dari nash dengan
h. Qiyas. mengginakan takwil, yaitu :
i. Akal yang merupakan sumber perbincangan 1. Jika arti nash itu sudah mengandung hukum,
segala sesuatu. jelas dan dalalahnya qath‟i, maka tidak boleh di-
Rusalnya penakwilan biasanya berawal takwil-kan dengan akal.
dari mendatangkan sesuatu yang tidak perlu atau 2. Jika arti nash yang zhahir itu berarti umum,
menyalahi salah satu pembentuk syari’at kaidah- atau berarti zhanni yang tidak pasti, wajib
kaidah umum hukum. Hukum-hukum yang mengamalkan sesuai maknanya, karena
bersumber dari dalil yang qath‟i, dan kejelasan arti dan keberadaannya. Jangan sampai
melakukantakwil ba‟id yang dilarang. Dengan diterangkan dengan berbagai kemungkinan yang
kata lein, jangan sampai tidak berdasarkan pada dalil.
melakukan ijtihad dengan takwilyang 3. Dibolehkan mengubah arti dari
menyimpang dari kaidah-kaidah dasar diatas. yang zhahirkepada arti lain sepanjang
berdasarkan pada dalil, bahkan diwajibkan untuk a. Takwil berdasarkan dalil adalah Maslahat
mengompromikan berbagai nash yang saling yang dimaksud maslahat disini bukan berarti
bertentangan. bahwa hikmah syari‟at itu adalahnash tertentu,
G. Syarat-syarat Takwil dan Beberapa tetapi dalil yang menakhsish dalil umum, atau
Contohnya mengistitsnakan dari landasan umum, baik
Dasar umum yang ditetapkan ulama untuk secara khas ataupunamm.
menetapkan adanya takwil berasal dari teks Takhsish merupakan salah satu bagian
bahasa dan uslub-uslubnya, yang menjaga dari takwil, bahkan yang paling banyak dipakai.
agarijtihad dan ra‟yu tidak menjadi sesat. Para Contohnya firman Allah SWT yang berbunyi :
ulama juga mewajibkan agar mengamalkan ....ٍِ ْْ َ‫ض ْعٍَ أًَْ الَ َدى ٍَُّ حٌَْ نَ ْْ ٍِ َكا ِيه‬ ُ ‫ًَ ْان ٌَانِذ‬
ِ ْ‫َاث ُّش‬
syari’at sesuai dengan zhahir ayat sehingga Artinya : “Para ibu hendaklah menyuusui anak-anaknya
terdapat isyarat untuk menggunakan takwil. selama dua tahun penuh.”
Persyaratan takwil bergantung pada Dari zhahir ayat tersebut dapat dipahami bahwa
makna teks agar ketetapan nash dan menyusui adalah kewajiban seorang ibu. Dan
makna zhahir-nya tidak bertentangan dengan kata al-waalidatu itu lafazhnya umum mencakup
syari’at. Dengan demikian dapat dikatakan semua ibu.
bahwa makna syari’at yang berhubungan Imam Maliki menaksish keumumannya dengan
dengan takwil berkaitan erat dengan takhsish, perbuatan adat (urf amaly). Dia berpendapat
taqyid, perubahan ke artimajaziy dan bahwa seorang ibu diharuskan menyusui
pengompromian antara nash-nashyang zhahir- anaknya karena kesempurnaan derajatnya. Maka
nya saling bertentangan. Semuanya sesuai apabila seorang ibu sakit sehingga tidak bisa
dengan dalil shahih yang kuat, dan tidak hanya menyusui anaknya, ia tidak diwajibkan
berdasarkan kepada pemahaman arti saja, tetapi menyusui anaknya karena menjaga dari
juga makna hakikatnya. kemudharatan dan menjaga kemashlahatan
Takwil itu erat kaitannya dengan maksud adalah maslahat. Hal itu juga bisa disebut
syari’at yang berasal dari nash, bukan hanya kemaslahatan individu.
dengan dalilnya itu sendiri. Hal itu juga Golongan Hambali memperluas pelaksanaan
termasuk salah satu takhsish umum,diantaranya dalam masalah
metode ijtihad dengan ra‟yu, yaitu membatasi penetapan harga ketika negara sedang dalam
arti yang dimaksud dengan dalil. Agar lebih krisis karena takwilseperti itu berlandaskan pada
jelas, dibawah ini akan diterangkan kemashlahatan umum.
persyaratan takwil tersebut, yaitu : b. Mentakhsish keadaan umum dengan
1. Lafazh yang ditakwil, harus betul-betul kemashlahatan
memenuhi kriteria dan masuk dalam yang dimaksud kemashlahatan umum adalah
kajiannya kemerdekaan umum, atau dasar kebolehan yang
Telah diterangkan bahwa dalil-dalil yang berdasar firman Allah SWT dalam Al-Qur’an :
telah ditafsirkan dan ditetapkan ketentuan ....‫ض َج ًِ ْْعًا‬ ِ ْ‫ق نَ ُك ْى َيا فِِ األَس‬ َ َ‫ىُ ٌَ انَّ ِزُْ َخه‬
hukumnya tidak bisa ditakwilkan. Namun Artinya : “Dia-lah yang menjadikan untuk kamu
menurut Hanafiyah, takwlil itu boleh sekalipun semua yang ada di Bumi...”
pada nash yang zhahir dan semua dalil yang Di antara kemerdekaan umum adalah
berhubungan dengan syari’at Islam. kemerdekaan berjual-beli dan hak memiliki
Adapun dasar-dasar umum syari’at adalah barang. Dengan mengutamakan persamaan, itu
sumber takwil karena banyak nashyang merupakan perbuatan yang diperbolehkan.
arti zhahir-nya mengandung maknajuz‟i. Rasulullah SAW melarang perdagangan yang
2. Takwil itu harus berdasarkan dalil shahih diadakan untuk kaum badui, karena jual-beli
yang bisa menguatkan takwil semacam itu dikategorikan jual-beli yang
Contoh takwil dan nash yang didalamnya menggambarkan adanya penghinaan terhadap
terdapat pertentangan antarazhahir nash yang makanan yang sangat penting bagi manusia.
mengandung arti juz‟idengan dasar umum Yang perlu diingat, sebuah larangan harus
syari’at, adalah hadits Rasulullah SAW yang berdasarkan dalil, ,eskipun terkadang larangan
berbunyi : tersebut berupa keadaan umum sebagaimana
.‫إٌ انًّْج ّعقّب ببكاء أىهو‬
ّ yang telah disebutkan.
Artinya : “Sesungguhnya jenazah itu disiksa 3. Lafazh mencakup arti yang dihasilkan
oleh tangisan keluarganya.” melalui takwil menurut bahasa
Siti Aisyah menolak hadits tersebut Penakwilan menurut bahasa dilakukan
karena menurutnya hal itu bertentangan dengan dengan cara tekstual, kontekstual
dasar umum syari’at yang ada dalam Al-Qur’an ataumajaz. Bisa juga mencakup asas yang
yang berbunyi : berasal dari pemakaian yang sudah dikenal atau
.ٍ‫ً ال حضس ًاصسة ًصس أخش‬ adat syara’.
Sebagian mujtahid menakwilkan Adat syara’ telah banyak menakhsish
kemutlakan hadits tersebut, kemudian mereka dalil-dalil umum pada sebagian
menaqyid jenazah ketika masih hidupnya. Maka besar nashsehingga para ulama Ushuliyyin
maksud ayat tersebut menjadi tidak bertentangan berkata,“Tidak ada sesuatu yang umum, kecuali
setelah ditaqyid. Pengompromian ini dilakukan telah ditakhsish.” Hal itu menunjukkan bahwa
dengan mengamalkan dua nash secara adat syara’ telah banyak menakhsish sebagian
bersamaan. Metode seperti inilah yang lebih besar dalil yang umum,
baik daripada mencela salah satunya. sehinggatakhsish tersebut menjadi sunnah dalam
Dari contoh diatas, dapat diketahui syari’at. Hal itu cukup menunjukkan bahwa
bahwa takwil itu ada karena pertentangan bagian ini sah menjadi bagian takwil.
dalam nash yang artinya zhahir.
Semuanya tetap berlangsung sesuai Itulah beberapa persyaratan takwil, jika
dengan penempatan syara’ itu sendiri, yang persyaratan tersebut tidak terpenuhi
manunjukkan bahwa takwil shahih dinamakantakwil ba‟id.
membutuhkan keadilan dengan sendirinya. H. Takwil Ba’id
Apalagi kalau yang mewajibkan Yang dimaksudkan
adanyatakwil itu adalah adanya pertentangan dengan takwil ba‟idadalah suatu takwil yang
antara yang juz‟iy dengan yang kulliy. mana makna takwil-nya terlalu jauh
Jika pembuat syari’at menetapkan istilah hubungannya dengan makna dzahir-nya. Jika
khusus dalam istilah syari’at, istilah khusus ada penyimpangan dari persyaratan tadi,
haruslah didahului dari arti bahasa kalau maka takwil seperti itu ditolak.[8]
keduanya bertentangan, sebagai realisasi
terhadap maksud pembuat syari’at dari segi Sebagai contoh misalnya: kifarat orang
artinya. Dengan demikian lafazh pembuat yang bersetubuh dengan istrinya dalam bulan
syari’at itu berdasarkan pemahaman maksudnya puasa wajib memberi makan 60 (enam puluh)
sesuai dengan kabiasaan dalam penggunaannya. orang miskin, sebagaimana firman Allah SWT
4. Takwil tidak boleh bertentangan yang berbunyi:
dengannash yang qath’i, karena nash tersebut
bagian dari aturan syara’ yang umum
Takwil adalah ْ ِ ‫فَئ‬
.....‫ط َعا ُو ِسخِّ ٍَْْ ِي ْس ِك ْْنًا‬
metode ijtihad yangzhanni, sedangkan zhanni tid
ak akan kuat melawan yang qath‟i. Contohnya Artinya : “maka siapa yang tidak kuasa (wajib atasnya)
menakwilkan kisah-kisah yang ada dalam Al- memberi makan 60 (enam puluh) orang
Qur’an dengan mengubah arti miskin…..”
yang Zhahirmenjadi fiksi (yang tidak terjadi).
Penakwilan seperti itu bertentangan dengan Golongan Hanafiyah mentakwilkan lafaz
kejelasan ayat yang qath‟i yang menjadikan 60 (enam puluh) orang miskin dalam ayat
kisah tersebut sebagai kejadian sejarah yang tersebut dengan 60 mud. Dengan demikian,
nyata. maka berarti boleh memberikannya kepada
5. Arti dari penakwilan nash harus lebih kuat seorang miskin sejumlah 60 mud.
dari arti zhahir, yakni dikuatkan dengan dalil
Nash yang berarti juz‟idikompromikan Namun, penakwilan diatas dianggap
artinya dengan dasar umum, yaitu dengan cara sebagai takwil ba‟id dan dinyatakan batil
men-taqyid-nya dan dasar umum itu merupakan menurut Imam Syafi’i. Karena
dalil yang lebih kuat. Sedangkan pertentangan lafazh „asyarahadalah lafazh khusus yang
antara zhahur dannash, tidak diragukan lagi menunjukkan artiqath‟i, sehingga tidak
bahwa nashmenakhsish membutuhkan penakwilan.
yang zhahir karena nash lebih kuat dan lebih
Kecacatan Itakwil diatas disebabkan oleh
jelas. Selain itu, ucapan juga membutuhkan arti
beberapa perkara, yaitu :
asli, maka nash harus diutamakan.
Penakwilan yang berdasarkan hikmah 1) Meremehkan „adad, lafazh khushus yang jelas
pembinaan syari’at. Hal itu merupakan menunjukkan arti yang qath‟i, maka haruslah
rohnash yang menguatkan dan merupakan menjaga arti yang qath‟i tersebut dan tidak
tujuan pokoknya. Tidak dirgukan lagi bahwa meremehkannya.
maksud disyari’atkannya sesuatu itu lebih kuat 2) Penambahan kalimat terhadap nash adalah
daripada zhahir lafazh-nya. menyalahi ashal.
Takwil itu terkadang tidak membutuhkan Kesimpulannya,
dalil sebagaimana telah dijelaskan, tetapi kajian ijtihad denganra‟yu dalam takwil, harus
dimungkinkan berdasarkan pada pemahaman sesuai dengan persyaratannya, tidak hanya
yang dangkal, akal dan teks sebatas pengambilanistibath berdasarkan akal
sesuatu. Takwil seperti itu dinamakan oleh semat-mata, melainkan yang berlandaskan pada
ulama Ushul dengan istilah takwil qoribyang bahasa yang mampu menghasilkan arti yang
cukup memakai dalil yang terendah. Seperti tercakup dalam arti lafazh tersebut.
firman Allah SWT :
ََ‫إِ َرا قًُخُ ْى إِنََ انص ََّال ِة فَا ْغ ِسهٌُْ ا ًُ ُجيَ ُك ْى ًَأَ ّْ ِذَّ ُك ْى إِن‬
.....‫ق‬ ِ ِ‫ْان ًَ َشاف‬ BAB III
Artinya : “Apabila kamu hendak mengerjakan Penutup
shalat,basuhlah mukamu dan tanganmu sampai Kesimpulan
siku,”
Arti zhahir ayat tersebut adalah Zhahir adalah suatu lafazh yang dengan
mengharuskan berwudhu’ seteleh melaksanakan mendengarkan lafazh itu pendengar bisa
shalat. Pemahaman seperti itu tentu saja langsung mengerti apa maksud nya tanpa perlu
bertentangan dengan syarat sahnya shalat yang berpikir dan tidak bergantung kepada petunjuk
mengharuskan berwudhu’ terlebih dahulu. Dan lain. Apabila tidak terdapat alasan yang kuat
syarat itu harus didahulukan, baik menurut akal untuk mendorong pentakwilan sesuatu lafaz,
ataupun syara’ agar shalatnya sah. Untuk maka lafaz zhahirnyalah yang dipakai sebagai
itu, lafazh al-qiyamudalam firman Allah ta’ala dalil yang wajib kita ikuti.
diatas harus ditakwilkan. Kemudian diubah dari Sedangkan Takwil adalah mengeluarkan
artinya yang hakiki kepada artinya yang majazi lafazh dari artinya yang zhahir kepada makna
yaitual-„ajmu (bermaksud) mendirikan, bukan lain , tetapi bukan zhahirnya. Adapun
mendirikan dengan sendirinya. kajian takwilkebanyakan
adalah firu‟ sebagaimana pendapat Imam Asy-
Syaukani. Selain itu hal-hal yang jelas
dan nash yang merupakan kajian takwil juga. Itu
semua kajian takwil secara global dan terbatas
bila belum ada panafsiran dari syari’at secara
menyeluruh.
Landasan umum takwil adalah
mengamalkan dalil sesuai dengan konteks
bahasanya dan mengambil ketetapan hukumnya.
Sesungguhnya takwil itu mencakup berbagai
kemungkinan yang berasal dari akal, bukan
bersumber dari bahasa. Karena takwil itu
merubah arti sesuai dengan kebutuhan
bahasa,takwil itu tidak ada kecuali dengan dalil.
Adapun syarat-syarat takwil itu adalah
sebagai berikut :
1. Lafazh yang ditakwil, harus betul-betul
memenuhi kriteria dan masuk dalam kajiannya.
2. Takwil itu harus berdasarkan dalil shahih yang
bisa menguatkan takwil.
3. Lafazh mencakup arti yang dihasilkan melalui
takwil menurut bahasa.
4. Takwil tidak boleh bertentangan
dengannash yang qath‟i, karena nash tersebut
bagian dari aturan syara‟ yang umum.
5. Arti dari penakwilan nash harus lebih kuat dari
arti zhahir, yakni dikuatkan dengan dalil.