Anda di halaman 1dari 2

Judul Opini : Mengikis Oligarki Ekonomi

Identitas Koran : Kompas


Tanggal : 1 Maret 2018
Penulis : Arif Budimanta

Masalah yang dibahas:

Salah satu fokus kerja Pemerintah Indonesia saat ini adalah mewujudkan keadilan ekonomi.
Dalam upaya mencapainya, terdapat salah satu masalah yaitu kuatnya oligarki ekonomi.
Yang dimaksud dengan oligarki ekonomi adalah suatu sistem penguasaan aset dan akses
terhadap sumber daya ekonomi yang dikendalikan oleh sekelompok pelaku ekonomi.
Ukuran oligarki ekonomi menurut Winters yang dikutip penulis adalah rata-rata aset 40 orang
terkaya dibandingkan dengan rata-rata pendapatan per kapita penduduk. Ukuran ini dinamai
MPI (Material Power Index).
Dengan menggunakan MPI tersebut, ternyata oligarki ekonomi Indonesia sudah terbilang
parah. MPI tahun 2017 adalah 584.478 dibandingkan Amerika Serikat 521.411.
Untungnya kalangan terkaya Indoneia tidak terjun langsung ke bidang politik tetapi hanya di
bidang ekonomi.
Apabila oligarki ekonomi atau ketimpangan ini tidak diatasi dengan baik, potensi kecemburuan
sosial membayangi dan bias menyebabkan konflik dan kekerasan.

Pemecahan Masalah

Menurut penulis terdapat beberapa jalan keluar untuk memcahkan masalah tersebut:
1. Menerapkan tariff pajak progresif untuk kelompok orang kaya dan transfer fiscal bagi
orang miskin, sesuai dengan saran Thomas Piketty (ahli ekonomi Perancis). Upaya ini
perlu dibarengi dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan kerja. Upah
minimum harus memenuhi kebutuhan hidup.

2. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan Pemerintah Jokowi saat ini dinilai penulis
bisa mendorong pengurangan ketimpangan. Juga dengan adanya reforma agrarian,
mengoptimalkan dana desa, memperkuat UKM (Usaha Kecil dan Menengah),
menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomian nasional.

3. Meningkatkan kemudahan berusaha agar ekonomi bisa mencakup semua pihak


termasuk UKM, memperbanyak wirausaha yang diharapkan banyak menyerap tenaga
kerja. Melakukan desentralisasi fiskal, yang tidak hanya dari aspek belanja daerah
tetapi juga aspek penerimaan daerah.