Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Laboratorium kesehatan merupakan salah satu sarana kesehatan yang
diharapkan mampu memberikan pelayanan terbaik terhadap kebutuhan
individu dan masyarakat dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010
yang berperan sebagai pendukung maupun penegak dari sebuah diagnosis
penyakit dalam upaya peningkatan kesehatan yang optimal.
Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No.943/Menkes/SK/VIII/2002
yang dimaksud dengan Laboratorium Kesehatan adalah sarana kesehatan
yang melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian terhadap bahan
yang berasal dari manusia atau bahan bukan berasal manusia untuk penentuan
jenis penyakit, kondisi kesehatan atau faktor yang dapat berpengaruh pada
kesehatan perorangan dan masyarakat. Sebagai bagian yang integral dari
pelayanan kesehatan, pelayanan laboratorium sangat dibutuhkan dalam
pelaksanaan berbagai program dan upaya kesehatan, dan dimanfaatkan untuk
keperluan penegakan diagnosis, pemberian dan evaluasi hasil pengobatan
serta pengambilan keputusan lainnya.
Oleh karena itu mutu pelayanan laboratorium kesehatan haruslah baik
dan bermutu agar dapat memberikan hasil pemeriksaan laboratorium yang
tepat, teliti, benar, dapat dipercaya dan memuaskan pengguna jasa. Dalam
penatalaksanaan penyakit secara umum kita mengenal proses penanganan
pasien yang diawali dengan: anamnesa pasien dan pemeriksaan fisik. Dalam
kasus ringan mungkin dokter atau pengguna jasa lain dapat segera
menentukan diagnosa sehingga langsung dapat memberikan terapi. Namun
pada kasus-kasus yang lebih serius, pemeriksaan laboratorium menjadi
sangat dibutuhkan dalam penentuan diagnosa, prediksi, terapi dan
pemantauan suatu penyakit. Maka sebagai konsekuensi, hasil pemeriksaan
laboratorium yang berkualitas/bermutu sangat diperlukan oleh dokter atau
pengguna jasa lainnya agar diagnosa dapat ditegakkan dan terapi yang
diberikan menjadi lebih tepat dan efisien. Pemberian pelayanan Laboratorium
Kesehatan di masyarakat dapat kita jumpai dalam bentuk pelayanan
terintegrasi dengan pelayananan kesehatan lainnya (misalnya; laboratorium di

1
rumah sakit dan puskesmas), dan dalam bentuk pelayanan tersendiri atau
mandiri (Balai Laboratorium Kesehatan, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan
& Laboratorium Kesehatan Swasta/ LKS).
Pengelolaan Laboratorium (Laboratory Management) adalah usaha
untuk mengelola Laboratorium. Bagaimana suatu Laboratorium dapat
dikelola dengan baik sangat ditentukan oleh faktor – faktor yang saling
berkaitan satu dengan yang lainnya. Beberapa alat-alat lab yang canggih,
dengan staf propesional yang terampil belum tentu dapat beroperasi dengan
baik, jika tidak didukung oleh adanya mana jemen laboratorium yang
baik.
Oleh karena itu manajemen lab adalah suatu bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan Laboratorium. Suatu manajemen laboratorium yang
baik memiliki sistem organisasi yang baik, uraian kerja (job description) yang
jelas, pemanfaatan fasilitas yang efektif, efisien, disiplin, dan administrasi
laboratorium yang baik pula.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah itu management laboratatorium kesehatan ?
2. Bagaimana peran sumber daya manusia terhadap perencaan
laboratorium ?
3. Bagaimanakah cara memanajemen laboratorium kesehatan ?

C. Tujuan
Untuk memenuhi tugas mata kuliah manajemen labotarorium.

D. Manfaat
Sebagai panduan dalam perencanaan laboratorium kesehatan yang baik dan
benar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2
A. PENGERTIAN MANAJEMEN LABORATORIUM

Manajemen laboratorium adalah kemampuan dan keterampilan


khusus untuk melakukan suatu kegiatan di laboratorium, baik bersama
orang lain maupun melalui orang lain dalam mencapai tujuan tertentu.
Dalam manajemen laboratorium terkandung pengelolaan terhadap
laboratorium sebagai tempat praktikum yang secara rinci terdiri dari alat
dan bahan kimia, sarana prasarana laboratorium, dan proses pelaksanaan
praktikum. Fungsi manajemen adalah sebagai rangkaian kegiatan wajar
yang telah ditetapkan dan memiliki hubungan saling ketergantungan
antara satu dengan yang lain (Sudjana, 2000: 17).

Sejalan dengan perkembangan jaman, maka para pakar


mengemukakan berbagai fungsi manajemen. Menurut Terry (dalam
Salirawati, 2012: 6), fungsi manajemen yaitu Planning, Organizing,
Actuating, dan Controlling yang disingkat POAC. Perencanaan
(Planning) merupakan salah satu bagian yang sangat penting, karena
perencanaan yang matang akan lebih memungkinkan tercapainya tujuan
yang diharapkan.

Perencanaan adalah proses penentuan tujuan atau sasaran yang


hendak dicapai dan menetapkan cara dan sumber yang diperlukan untuk
mencapai tujuan tersebut seefisien dan seefektif mungkin. Perencanaan
sebagai proses menganalisis situasi, menetapkan tujuan yang akan dicapai
di masa yang akan datang dan menentukan langkah-langkah yang akan
diambil untuk mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan tersebut. Bateman
dan Zeithami (dalam Salirawati, 2012: 7) mengungkapkan bahwa dalam
setiap perencanaan selalu terdapat tiga kegiatan yang satu sama lain saling
berhubungan. Ketiga kegiatan tersebut yaitu perumusan tujuan yang ingin
dicapai, pemilihan program untuk mencapai tujuan dan identifikasi
pengerahan sumber daya yang tersedia. Perencanaan dapat pula dianggap
suatu seri dari langkah-langkah atau tahapan yang dapat diikuti secara
sistematis.

B. LABORATORIUM KESEHATAN

3
Laboratorium kesehatan adalah sarana kesehatan yang
melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian terhadap bahan yang
berasal dari manusia maupun bahan bukan berasal dari manusia untuk
penentuan jenis penyakit, penyebab penyakit dan kondisi kesehatan atau
faktor yang dapat berpengaruh pada kesehatan perorangan dan kesehatan
masyarakat.

Desain minimal suatu laboratorium memiliki fasilitas sebagai


berikut :

1. Mempunyai sistem ventilasi yang memadai dengan sirkulasi udara


yang adekuat.

2. Mempunyai pemadam api yang tepat terhadap bahan kimia yang


berbahaya yang digunakan di laboratorium.

3. Kesiapan menghindari panas sejauh mungkin dengan memakai alat


pembakar gas yang terbuka untuk menghindari bahaya kebakaran.

4. Untuk menahan tumpahan larutan yang mudah terbakar dan


melindungi tempat yang aman dari dari bahaya kebakaran, dapat
disediakan bendung-bendung talam.

5. Dua buah jalan keluar harus disediakan untuk keluar dari kebakaran
dan terpisah sejauh mungkin.

6. Tempat penyimpanan di desain untuk mengurangi sekecil mungkin


resiko oleh bahan-bahan berbahaya dalam jumlah besar.

7. Harus tersedia alat pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

C. PERENCANAAN PEMBUATAN SUATU LABORATORIUM

1. LETAK LABORATORIUM

4
Menurut KMK Mentri Kesehatan No
605/MENKES/SK/VII/2008 ditinjau dari geografi Balai LabKes/ Balai
Besar LabKes harus mempunyai lokasi yang dapat ditinjau masyarakat
dengan mudah. Pendekatan yang dipakai dalam menyusun standar
lahan dan bangunan adalah :

a. Klarifikasi Balai LabKes/ Balai besar LabKes.


b. Kebutuhan luas dan bangunan termaksud parkir Kesehatan dan
keselamatan kerja laboratorium kesehatan.
c. Kenyamanan linkungan
Menurut KMK mentri kesehatan no 411/MENKES/PER/III/2010
Laboratorium Klinik harus memenuhi persyaratan lokasi yang memenuhi
kesehatan lingkungan dan tata ruang. Kesehatan lingkungan mencakup
upaya pemantauan lingkungan sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan. Ketentuan mengenai tata ruang sesuai dengan peruntukan lokasi
diatur dalam rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota, rencana tata
ruang kawasan perkotaan, dan/atau rencana tata bangunan dan lingkungan.
Menurut KMK mentri kesehatan Nomor 04/MENKES/SK/I/2002 Lokasi
laboratorium kesehatan swasta harus sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku
2. Tata Ruang Laboratorium
Menurut KMK Mentri Kesehatan No 605/MENKES/SK/VII/2008
ditinjau dari geografi Balai LabKes/ Balai Besar LabKes penataan ruang
bangunan dan penggunaanya harus sesuai dengan fungsi serta memenuhi
persyaratan dan mengelompokan ruangan berdasarkan tingkat resiko
terjadinya penularan penyakit.

Menurut KMK Mentri Kesehatan No 04/MENKES/SK/I/2002


persyaratan minimal bangunan :

5
Menurut ISO 15189 Desain ruangan yang memenuhi syarat:
 Sirkulasi udara
 Pencahayaan
 Ventilasi
 Telekomunikasi
 Suhu & kelembaban
 Air
 Penanganan limbah
 Keamanan Laboratirum
 APAR
 Pest Control

Sedangkan menurut permenkes nomor 24 tahun 2016 tentang


persyaratan teknis bagunan dan prasarana rumah sakit. Suatu laboratorium
sumah sakit harus mempunyai :
1. Letak ruang laboratorium harus memiliki akses yang mudah ke ruang
gawat darurat dan ruang rawat jalan
2. Desain tata ruang dan alur petugas dan pasien pada ruang laboratorium
harus terpisah dan dapat meminimalkan resiko penyebaran infeksi.
3. Harus memiliki :

a) Saluran pembuangan limbah cair yang dilengkapi dengan pengolahan


awal (pre-treatment) khusus debelum dialirkan ke instalasi
pengolahan air limbah rumah sakit; dan

b) Fasilitas penampungan sementara limbah bahan berbahaya dan beracun.

No. Nama ruangan Persyaratan ruangan keterangan

A. Laboratorium terpadu

6
1. Ruangan Administrasi  Luas ruangan
disesuaikan dengan
jumlah petugas
dengan perhitungan
3-5 m2/petugas

 Total pertukaran
udara minimal 6 kali
per jam

 Intensitas cahaya
minimal 100 lux

2. Ruang Tunggu  Luas ruang tunggu Untuk RS


menyesuaikan kelas D dapat
kebutuhan kapasitas bergabung
pelayanan dengan dengan ruang
perhitungan 1-1,5 tunggu RS
m2/orang

 Ruangan harus
dijamin terjadinya
pertukaran udara
minimal 6 kali per
jam

 Ruangan harus
mengoptimalkan
pencahayaan alami

 Ruang tunggu
dilengkapi dengan
fasilitas desinfeksi
tangan

7
3. Ruangan  Tata letak ruang
Pengambilan/Penerimaan harus dapat
Spesimen meminimalkan
terjadinya infeksi
 Plebotomi
silang.

 Urin atau tinja


 Setiap jenis ruang

 Spesimen Genital pengambilan


spesimen harus
 Spesimen lain (pus, disediakan seusai
kerokan kulit, dan spesifikasi dan
lain-lain) kebutuhan
ruangannya.

 Persyaratan ruangan
sputum :

-
Luas miniman 2
m2

-
Ruangan harus
menggunakan
pencahayaan
alami.

-
Mempunyai
pertukaran udara
minimal 12 kali
per jam.

-
Tersedia
wastafel dengan
air mengalir,
dilengkapi

8
handsrub dan
tissue.

4. Ruangan konsultasi umum RS kelas D,


ruangan ini
tidak harus
ada.

5. Ruangan pemeriksaan :  Luas ruang minimal


16m2 dengan
a. Laboratorium
memperhatikan
hematologi
ruang gerak petugas,
pasien dan
peralatan.

 Lantai tidak boleh


licin, non prosif
tahan terhadap
bahan kimia dan
mudah dibersihkan.

 Dinding non porosif,


tahan terhadap
bahan kimia dan
mudah dibersihkan.

 Disediakan meja
dengan persyaratan
dapat meredam
getaran untuk
meletakan peralatan
pemeriksaan.

 Tersedia wastafel
dan fasilitas

9
desinfeksi tangan.

 Tersedia satu
grounding khusus
(0,02 ohm) untuk
peralatan
laboratorium yang
dapat dipasang
secara paralel.

 Setiap ruangan
tersedia kotak
kontak dengan
jumlah sesuai
kebutuhan dan tidak
boleh menggunakan
percabangan.

 Ruang harus dijamin


terjadi pertukaran
udara baik alami
maupun mekanik
dengan total
pertukaran minimal
6 kali per jam

 Ruangan harus
mengoptimalkan
pencahayaan alami,
untuk pencahayaan
buatan dengan
intensitas cahaya
100 lux.

10
b. Laboratorium  Luas ruang miniman Laboratorium
urin/feses 9m2 dengan ini dapat
memperhatikan digabungkan
ruang gerak petugas, dengan
pasien dan laboratorium
peralatan. yang lain.

 Persayaratan
ruangan dan
prasarana lainnya
mengikuti
persyaratan
laboratorium diatas.

c. Laboratorium kimia  Luas ruang miniman


klinik 9m2 dengan
memperhatikan
ruang gerak petugas,
pasien dan
peralatan.

 Persayaratan
ruangan dan
prasarana lainnya
mengikuti
persyaratan
laboratorium diatas.

d. Laboratorium  Luas ruang miniman


imunologi 9m2 dengan
memperhatikan
ruang gerak petugas,
pasien dan
peralatan.

11
 Persayaratan
ruangan dan
prasarana lainnya
mengikuti
persyaratan
laboratorium diatas.

e. Laboratorium  Luas ruang miniman RS kelas C dan


mikrobiologi 16m2 dengan D laboratorium
memperhatikan ini tidak
ruang gerak petugas, dipersyaratkan
pasien dan ada.
peralatan.

 Persyaratan ruangan
dan prasarana
lainnya mengikuti
persyaratan
laboratorium diatas.

f. Laboratorium  Luas ruang Untuk RS


anatomik disesuaikan dengan kelas D
kebutuhan peralatan laboratorium
yang digunakan. ini tidak
dipersyaratkan
 Persayaratan
ada.
ruangan dan
prasarana lainnya
mengikuti
persyaratan
laboratorium diatas.

g. Laboratorium  Luas ruang


biologi molekuler disesuaikan dengan

12
kebutuhan peralatan
yang digunakan.

 Persayaratan
ruangan dan
prasarana lainnya
mengikuti
persyaratan
laboratorium diatas.

6. Ruangan penyimpanan  Luas ruangan


barang habis pakai menyesuaikan
kebutuhan kapasitas
pelayanan.

 Setiap ruangan
disediakan minimal
2 kotak kontak atau
tidak boleh
menggunakan
percabangan. Untuk
stop kontan khusus
alat simpan
biomaterial khusus
disediakan tersendiri
dan harus
kompatibel dengan
rencana alat yang
akan dipakai.

 Total pertukaran
udara minimal 4 kali
per jam dengan
tekanan udara

13
positif.

7. Ruangan IT  Luas ruang RS kelas C dan


menyesuaikan D ruang ini
dengan kapasitas tidak
pelayanan. dipersyaratkan
ada.

8. Ruangan arsip umum Ruangan ini


dapat digabung
dengan ruang
administrasi

9. Ruang pengambilan hasil  Luas ruang Ruangan ini


disesuaikan dengan dapat
jumlah petugas, tergabung
dengan perhitungan dengan ruang
3-5 m2/petugas administrasi,
disediakan
 Total pertukaran
loket.
udara minimal 6
kali/jam

 Intensitas cahaya
minimal 100 lux

10. Ruang kerja dokter  Untuk kelas A dan B RS kelas D


perlu ada ruangan ruangan ini
khusus tidak
mikroskopik/diagno dipersyaratkan
stik non infeksisus ada.

B. Ruangan Khusus

1. Ruangan produksi

14
2. Ruangan penanaman  Ruangan ini RS kelas C dan
kuman TB disediakan sebagai D ruang ini
pendukung tidak
pelayanan dipersyaratkan
mikrobiologi ada.

 Persyaratan ruang
dan prasarana
lainnya mengikuti
persyaratan
laboratorium diatas.

3. Ruangan potong jaringan  Disediakan sebagai RS kelas D


patologi dan anatomik pendukung tidak

4. Ruang penyimpanan pelayanan patologi dipersyaratkan

jaringan patologik ada


 Persyaratan ruang
dan prasarana
lainnya mengikuti
persyaratan
laboratorium diatas.

5. Ruang mikrotom

6 Ruangan histologi

7. Ruangan  Disediakan sebagai RS kelas C dan


imunohistokimia pendukung D tidak
pelayanan patologi dipersyaratkan
anatomik ada

 Persyaratan ruang
dan prasarana
lainnya mengikuti
persyaratan

15
laboratorium diatas.

C. Ruangan Lain-lain

1. Ruang ganti/ loker umum Fungsi ini


dapat tersentral
2. pantri umum
di RS

3. Ruang cuci peralatan Mengikuti persyaratan


umum dan dilengkapi
sink

4. Ruang kepala umum RS kelas C dan


laboratorium D, fungsi

5. Ruang diskusi dan umum ruangan ini

istirahat personil dapat tersentral


di RS
6. Ruang petugas umum
laboratorium

7. KM/WC (toilet) pasien Persyaratannya bisa


mengikuti syarat toilet
aksesibel melihat poin
diatas.

8. KM/WC (toilet) petugas Persyaratan toilet secraa


umum.

3. SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) LABORATORIUM


Menurut KMK Mentri Kesehatan No 04/MENKES/SK/I/2002
Laboratorium kesehatan swasta harus mempunyai penanggung jawab
teknis yang memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk laboratorium klinik umum pratama, minimal seorang dokter
umum dan mempunyai pengalaman kerja teknis laboratorium minimal
3 (tiga) tahun berturut-turut dalam 5 tahun terakhir.
b. Untuk laboratorium klinik umum utama, minimal seorang dokter
spesialis patologi klinik.

16
c. Untuk laboratorium klinik khusus mikrobiologi, minimal seorang
dokter spesialis mikrobiologi klinik.
d. Untuk laboratorium klinik khusus parasitologi, minimal seorang dokter
spesialis parasitologi klinik.
e. Untuk laboratorium klinik khusus patologi anatomi pratama, minimal
seorang dokter spesialis patologi anatomi.
f. Untuk laboratorium klinik khusus patologi anatomi madya, minimal
seorang dokter spesialis patologi anatomi dengan pengalaman 3 tahun
g. Untuk laboratorium klinik khusus patologi anatomi utama, minimal
seorang dokter spesialis patologi anatomi dengan pengalaman 5 tahun.
h. Untuk laboratorium kesehatan masyarakat pratama, minimal seorang
sarjana kedokteran, sarjana farmasi,, sarjana biologi, sarjana biokimia
atau sarjana kimia, dan mempunyai pengalaman kerja teknis
laboratorium minimal 3 (tiga) tahun di laboratorium kesehatan.
i. Untuk laboratorium kesehatan masyarakat utama, minimal seorang
sarjana kedokteran, sarjana farmasi, sarjana biologi, sarjana biokimia
atau sarjana kimia, dan mempunyai pengalaman kerja teknis
laboratorium minimal 3 (tiga) tahun di laboratorium kesehatan
masyarakat.
Laboratorium kesehatan swasta harus mempunyai tenaga teknis
yang memenuhi ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk laboratorium klinik umum pratama minimal 2 (dua) orang
analis kesehatan dan 1 (satu) orang perawat serta 1 (satu) orang tenaga
administrasi.
b. Untuk laboratorium klinik umum utama minimal 1 (satu) orang dokter
atau sarjana farmasi, 3 (tiga) orang tenaga analis kesehatan dan 1 (satu)
orang perawat serta 2 (dua ) orang tenaga adminstrasi
c. Untuk laboratorium klinik khusus mikrobiologi minimal 1 (satu) orang
sarjana kedokteran atau sarjana biologi atau sarjana lainnya yang
sesuai dengan bidang pelayanannya, dan 1 (satu) orang analis
kesehatan atau 1 (satu) orang tenaga teknis, dan telah mendapat
pelatihan di bidang pemeriksaan yang bersangkutan dan 1 (satu) orang
perawat.
d. Untuk laboratorium klinik khusus parasitologi minimal 1(satu) orang
sarjana kedokteran/sarjana biologi/sarjana lain, 1 (satu) orang tenaga
teknis yang ahli dalam bidang parasitologi, 1 (satu) orang tenaga teknis

17
yang ahli dalam bidang parasitologi klinik, 1 (satu) orang analis
kesehatan, 1 (satu) orang perawat.
e. Untuk laboratorium klinik khusus patologi anatomi pratama, minimal
1 (satu) orang teknisi patologi anatomi/analis/sarjana biologi dan 1
(satu) orang tenaga administrasi.
f. Untuk laboratorium klinik khusus patologi anatomi madya, minimal 2
(dua) orang dokter spesialis patologi anatomi, 3 (tiga) orang teknisi
patologi anatomi/analis/sarjana biologi, 1 (satu) orang screener, 2 (dua)
orang tenaga administrasi serta 1 (satu) orang tenaga lainnya.
g. Untuk laboratorium klinik khusus patologi anatomi utama, minimal 4
(empat) orang dokter spesialis patologi anatomi, 5 (lima) orang teknisi
patologi anatomi/analis/sarjana biologi, 2 (dua) orang screener, 3 (tiga)
orang tenaga administrasi serta 2 (dua) orang tenaga lainnya.
h. Untuk laboratorium kesehatan masyarakat pratama, minimal 2 (dua)
orang analis kesehatan, dengan ketentuan 1 (satu) orang diantaranya
dapat diganti dengan asisten apoteker atau analis kimia.
Menurut KMK Mentri Kesehatan No 04/MENKES/SK/I/2002
persyaratan minimal ketenagaan :

4. JENIS PARAMETER LABORATORIUM


Laboratorium kesehatan masyarakat Pratama melaksanakan
pelayanan laboratorium kesehatan masyarakat dengan kemampuan
pemeriksaan dasar. Laboratorium kesehatan masyarakat Utama
melaksanakan pelayanan laboratorium kesehatan masyarakat dengan
kemampuan pemeriksaan lebih luas.
Laboratorium klinik hanya dapat melakukan pemeriksaan
laboratorium atas permintaan tertulis dari :
a) sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta,
b) dokter,
c) dokter gigi untuk pemeriksaan keperluan kesehatan gigi dan mulut,

18
d) bidan untuk pemeriksaan kehamilan dan kesehatan ibu,
e) instansi pemerintah untuk kepentingan penegakan hokum
Menurut KMK Mentri Kesehatan No 04/MENKES/SK/I/2002 persyaratan
minimal kemampuan pemeriksaan

19
20
D. RINCIAN KEGIATAN MASING-MASING PERANGKAT
1. Tata Ruang
Laboratorium harus ditata sedemikian rupa hingga dapat berfungsi
dengan baik. Tata ruang yang sempurna, harus dimulai sejak perencanaan
gedung sampai pada pelaksanaan pembangunan. Tata ruang yang baik
mempunyai:
a. pintu masuk (in)
b. pintu keluar (out)
c. pintu darurat (emergency-exit)
d. ruang persiapan (preparation-room)
e. ruang peralatan (equipment-room)
f. ruang penangas (fume-hood)
g. ruang penyimpanan (storage - room)
h. ruang staf (staff-room)
i. ruang teknisi (technician-room)
j. ruang bekerja (activity-room)
k. ruang istirahat/ibadah
l. ruang prasarana kebersihan
m. ruang toilet
n. lemari praktikan (locker)
o. lemari gelas (glass-rack)
p. lemari alat-alat optik (opticals-rack)
q. pintu jendela diberi kawat kasa, agar serangga dan burung tidak dapat
masuk
r. fan (untuk dehumidifier)
s. ruang ber-AC untuk alat-alat yang memerlukan persyaratan tertentu.

2. Alat yang Berfungsi dan Terkalibrasi


Pengenalan terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban
bagi setiap petugas laboratorium, terutama mereka yang akan
mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap alat yang akan dioperasikan itu
harus benar-benar dalam kondisi:

21
a. siap untuk dipakai (ready for use)
b. bersih
c. berfungsi dengan baik
d. terkalibrasi
Peralatan yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk
pengoperasian (manual-operation). Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya
kerusakan, dimana buku manual merupakan acuan untuk perbaikan
seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus senantiasa berada di
tempat, karena setiap kali peralatan dioperasikan ada kemungkinan alat
tidak berfungsi dengan baik. Beberapa peralatan yang dimiliki harus
disusun secara teratur pada tempat tertentu, berupa rak atau meja yang
disediakan. Peralatan digunakan untuk melakukan suatu kegiatan
pendidikan, penelitian, pelayanan masyarakat atau studi tertentu.
Karenanya alat-alat ini harus selalu siap pakai, agar sewaktu-waktu dapat
digunakan.
Peralatan laboratorium sebaiknya dikelompokkan berdasarkan
penggunaannya. Setelah selesai digunakan, harus segera dibersihkan
kembali dan disusun seperti semula. Semua alat-alat ini sebaiknya diberi
penutup (cover) misalnya plastik transparan, terutama bagi alat-alat yang
memang memerlukannya. Alat-alat yang tidak ada penutupnya akan cepat
berdebu, kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang bersangkutan.
a. Alat-alat gelas (Glassware)
Alat-alat gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan gelas
yang sering dipakai. Untuk alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi,
sebaiknya disterilisasi sebelum dipakai. Semua alat-alat gelas ini
seharusnya disimpan pada lemari khusus.
b. Bahan-bahan kimia
Untuk bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya
ditempatkan pada ruang/kamar fume (untuk mengeluarkan gas-gas
yang mungkin timbul). Demikian juga untuk bahan-bahan yang
mudah menguap. Ruangan fume perlu dilengkapi fan, agar udara/uap
yang ada dapat terhembus keluar. Bahan-bahan kimia yang
ditempatkan dalam botol berwarna coklat/gelap, tidak boleh langsung
terkena sinar matahari dan sebaiknya ditempatkan pada lemari khusus.
c. Alat-alat optic

22
Alat-alat optik seperti mikroskop harus disimpan pada tempat yang
kering dan tidak lembab. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan
lensa berjamur. Jamur ini yang menyebabkan kerusakan mikroskop.
Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop harus ditempatkan dalam
kotak yang dilengkapi dengan silica-gel, dan dalam kondisi yang
bersih. Mikroskop harus disimpan di dalam lemari khusus yang
kelembabannya terkendali. Lemari tersebut biasanya diberi lampu
pijar 15-20 watt, agar ruang selalu panas sehingga dapat mengurangi
kelembaban udara (dehumidifier-air). Alat-alat optik lainnya seperti
lensa pembesar (loupe), alat kamera, microphoto-camera, digital
camera, juga dapat ditempatkan pada lemari khusus yang tidak lembab
atau dalam alat desiccator.

3. Infrastruktur Laboratorium
Infrastruktur laboratorium ini meliputi:
a. Sarana Utama
Mencakup bahasan tentang lokasi laboratorium, konstruksi
laboratorium dan sarana lain, termasuk pintu utama, pintu darurat, jenis
meja kerja/pelataran, jenis atap, jenis dinding, jenis lantai, jenis pintu,
jenis lampu yang dipakai, kamar penangas, jenis pembuangan limbah,
jenis ventilasi, jenis AC, jenis tempat penyimpanan, jenis lemari bahan
kimia, jenis alat optik, jenis timbangan dan instrumen yang lain, kondisi
laboratorium, dan sebagainya.
b. Sarana Pendukung
Mencakup bahasan tentang ketersediaan enerji listrik, gas, air, alat
komunikasi, dan pendukung keselamatan kerja seperti pemadam
kebakaran, hidran dsb.

4. Administrasi Laboratorium
Administrasi laboratorium meliputi segala kegiatan administrasi yang ada
di laboratorium, yang antara lain terdiri atas:
a. Inventarisasi peralatan laboratorium
b. Daftar kebutuhan alat baru, alat tambahan, alat yang rusak, alat yang
dipinjam/dikembalikan (lihat daftar form 1,2,3,4 dst, pada makalah
Administrasi Laboratorium)
c. Surat masuk dan surat keluar

23
d. Daftar pemakai laboratorium, sesuai dengan jadwal kegiatan
praktikum/ penelitian
e. Daftar inventarisasi bahan kimia dan non-kimia, bahan gelas dan
sebagainya
f. Daftar inventarisasi alat-alat meubelair (kursi, meja, bangku, lemari
dsb.)
g. Sistem evaluasi dan pelaporan

Untuk kelancaran administrasi yang baik, seyogyanya tiap


laboratorium memberikan pelaporan kepada atasannya (misalnya kepada
PDII, Ketua Program Studi maupun Dekan). Evaluasi dan Pelaporan
kegiatan masing-masing laboratorium dapat dilakukan bersama dengan
pimpinan Fakultas, setiap semester atau sekali dalam setahun, tergantung
pada kesiapan yang ada agar semua kegiatan laboratorium dapat dipantau
dan sekaligus dapat digunakan untuk perencanaan laboratorium (misalnya
penambahan alat-alat baru, rencana pembiayaan/dana laboratorium yang
diperlukan, perbaikan sarana & prasarana yang ada, dsb).

Kegiatan administrasi ini adalah merupakan kegiatan rutin yang


berkesinambungan, karenanya perlu dipersiapkan dan dilaksanakan secara
berkala dengan baik dan teratur. Setiap akhir bulan, pihak laboratorium
“harus menyerahkan laporan kepada direktur pelayanan laboratorium
tingkat pusat,bila tidak ada,kepada departemen kesehatan tingkat provinsi
dan pusat. Laporan ini bermanfaat karena dua alas an utama.

Pertama, hal ini membantu pemeriksaan kegiatan laboratorium dan


bermanfaat untuk memastikan ketersediaan jumlah staf yang adekuat,
pemesanan perlengkapan kepusat persediaan barang, dan pembuatan
anggaran nasional pelayanan laboratorium. Laporan paling sesuai dibuat
berdasarkan jumlah pemeriksaan yang telah dilakukan.

Kedua, laporan bulanan merupakan alat bantu dalam surveilans


kesehatan masyarakat di area yang tercakup dalamp pelayanan
laboratorium tersebut karena melaporkan sejumlah hasil positif untuk
berbagai kasus penyakit menular.

24
5. Inventarisasi dan Keamanan Laboratorium Kegiatan inventarisasi
dan keamanan laboratorium meliputi:
a. Semua kegiatan inventarisasi harus memuat sumber dana darimana
alat-alat ini diperoleh/dibeli. Misalnya: dari DIP tahun 2004, ADB
Project, Pemerintah Jepang (JICA), Proyek Hibah Kompetisi SP4; A1:
A2; A3: dan B.
b. Keamanan/security peralatan laboratorium ditujukan agar peralatan
laboratorium tersebut harus tetap berada di laboratorium. Jika
peralatan dipinjam harus ada jaminan dari si peminjam. Jika hilang
atau dicuri, harus dilaporkan kepada kepala laboratorium.
c. Perlu diingat bahwa semua barang dan peralatan laboratorium yang
ada adalah milik negara, jadi tidak boleh ada yang hilang.

Tujuan yang ingin dicapai dari inventarisasi dan keamanan adalah:

1) mencegah kehilangan dan penyalahgunaan


2) mengurangi biaya-biaya operasional
3) meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya
4) meningkatkan kualitas kerja
5) mengurangi resiko kehilangan
6) mencegah pemakaian yang berlebihan
7) meningkatkan kerjasama.

Berikut ini diberikan beberapa petunjuk umum pengamanan


laboratorium, agar setiap laboran/pekerja/asisten dapat bekerja dengan
aman.

6. Prinsip Umum Pengamanan Laboratorium

a. Tanggung jawab

Kepala Laboratorium, anggota laboratorium termasuk asisten


bertanggung jawab penuh terhadap segala kecelakaan yang mungkin
timbul. Karenanya Kepala Laboratorium seharusnya dijabat oleh
orang yang kompeten dibidangnya, termasuk juga teknisi dan
laborannya.

b. Kerapian

25
Semua koridor, jalan keluar dan alat pemadam api harus bebas dari
hambatan seperti botol-botol, dan kotak-kotak. Lantai harus bersih dan
bebas minyak, air dan material lain yang mungkin menyebabkan lantai
licin. Semua alat-alat dan reagensia bahan kimia yang telah digunakan
harus dikembalikan ketempat semula seperti sebelum digunakan.

c. Kebersihan

Kebersihan dalam laboratorium menjadi tanggung jawab bersama


pengguna laboratorium.

d. Konsentrasi terhadap pekerjaan

Setiap pengguna laboratorium harus memiliki konsentrasi penuh


terhadap pekerjaannya masing-masing, tidak boleh mengganggu
pekerjaan orang lain, dan tidak boleh meninggalkan percobaan yang
memerlukan perhatian penuh.

e. Pertolongan pertama (First - Aid)

Semua kecelakaan bagaimanapun ringannya, harus ditangani di


tempat dengan memberikan pertolongan pertama. Misalnya, bila mata
terpercik harus segera dialiri air dalam jumlah yang banyak. Jika tidak
bisa, segera panggil dokter. Jadi setiap laboratorium harus memiliki
kotak P3K, dan harus selalu dikontrol isinya.

f. Pakaian

Saat bekerja di laboratorium dilarang memakai baju longgar, kancing


terbuka, berlengan panjang, kalung teruntai, anting besar dan lain-lain
yang mungkin dapat tersangkut oleh mesin, ketika bekerja dengan
mesin-mesin yang bergerak. Selain pakaian, rambut harus diikat rapi
agar terhindar dari mesin-mesin yang bergerak.

g. Berlari di Laboratorium

26
Tidak dibenarkan berlari di laboratorium atau di koridor, berjalanlah
di tengah koridor untuk menghindari tabrakan dengan orang lain dari
pintu yang hendak masuk/keluar.

h. Pintu-pintu

Pintu-pintu harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk


mencegah terjadinya kecelakaan (misalnya: kebakaran).

i. Alat-alat

Alat-alat seharusnya ditempatkan di tengah meja, agar alat-alat


tersebut tidak jatuh kelantai. Selain itu, peralatan sebaiknya juga
ditempatkan dekat dengan sumber listrik, jika memang peralatan
tersebut memerlukan listrik. Demikian juga untuk alat-alat yang
menggunakan air ataupun gas sebagai sarana pendukung.

Penanganan alat-alat

a. Alat-alat kaca/gelas

Bekerja dengan alat-alat kaca perlu berhati-hati sekali. Gelas


beaker, flask, test tube, erlenmeyer, dan sebagainya; sebelum
dipanaskan harus benar-benar diteliti, misalnya apakah gelas
tersebut retak/tidak retak, rusak/sumbing. Bila terdapat gejala
seperti ini, barang-barang tersebut sebaiknya tidak dipakai.

b. Mematahkan pipa kaca/batangan kaca

Jika hendak memetong pipa kaca harus menggunakan sarung


tangan. Pada bekas pecahan pipa kaca, permukaannya dilicinkan
dengan api lalu diberi pelumas/gemuk silikon, kemudian masukkan
ke sumbat gabus/karet.

c. Mencabut pipa kaca

Mencabut pipa kaca dari gabus dan sumbat harus dilakukan dengan
hati-hati. Bila sukar mencabutnya, potong dan belah gabus itu.
Untuk memperlonggar, lebih baik digunakan pelubang gabus yang

27
ukurannya telah cocok, kemudian licinkan dengan meminyakinya
dan kemudian putar perlahan-lahan melalui sumbat. Cara ini juga
digunakan untuk memasukkan pipa kaca kedalam sumbat.

Jangan gunakan alat-alat kaca yang sumbing atau retak. Sebelum


dibuang sebaiknya dicuci lebih dahulu untuk memastikan
kerusakan.

d. Label

Semua bejana seperti botol, flask, test tube dan lain-lain seharusnya
diberi label yang jelas. Jika tidak jelas, lakukan pengetesan isi
bejana yang belum diketahui secara pasti dengan hati-hati secara
terpisah, kemudian dibuang melalui cara yang sesuai dengan jenis
zat kimia tersebut. Biasakanlah menulis tanggal, nama orang yang
membuat, konsentrasi, nama dan bahayanya dari zat-zat kimia yang
ada dalam bejana.

e. Suplai gas

Tabung-tabung gas harus ditangani dengan hati-hati walaupun


berisi atau kosong. Penyimpanan sebaiknya di tempat yang sejuk
dan terhindar dari tempat yang panas. Kran gas harus selalu
tertutup jika tidak dipakai, demikian juga dengan kran pengatur
(regulator). Alat-alat yang berhubungan dengan tabung gas harus
memakai "Safety Use" (alat pengaman jika terjadi tekanan yang
kuat). Saat ini sudah beredar banyak jenis pengaman seperti selang
anti bocor dan lain-lain.

Sediaan gas untuk alat-alat pembakar harus dimatikan pada kran


utama yang ada di meja kerja, tidak hanya pada kran, tapi juga pada
alat yang dipakai. Kran untuk masing-masing laboratorium harus
dipasang di luar laboratorium, pada tempat yang mudah dicapai dan
diberi label yang jelas serta diwarnai dengan wama yang spesifik.

f. Penggunaan pipet

28
Gunakan pipet yang dilengkapi pompa pengisap (pipet pump),
jangan menggunakan mulut!. Ketika memasukkan pipet kedalam
pompa pengisap harus dilakukan dengan hati-hati supaya pipet
tidak pecah dan pompa pengisap tidak rusak. Jangan sampai ada
cairan yang masuk ke pompa pengisap, karena akan merusak
pompa tersebut.

g. Melepaskan tutup kaca yang kencang (seret),

Melepaskan tutup kaca yang kencang (seret) dengan cara mengetok


berganti-ganti sisi tutup botol yang ketat tersebut, dengan sepotong
kayu, sambil menekannya dengan ibu jari pada sisi yang
berlainan/berlawanan dengan ketokan. Jangan mencoba untuk
membuka tutup botol secara paksa, lebih-lebih jika isinya
berbahaya atau mudah meledak. Di bawah pengawasan Kepala
Laboratorium, panaskanlah leher botol dengan air panas secara
perlahan-lahan, lalu coba membukanya. Jika gagal juga goreslah
sekeliling leher botol dengan alat pemotong kaca untuk dipatahkan.
Lalu pindahkan isi botol ke dalam botol yang baru.

h. Kebakaran

Untuk menanggulangi bahaya kebakaran, perlu diketahui


klasifikasi bahan dan alat pemadam kebakaran yang sesuai. Secara
umum bahan yang mudah terbakar dapat diklasifikasikan sebagai
berikut:

Kelas Kebakaran Bahan mudah terbakar (fire-class)


(Buming materials)

Kelas "A" : Kertas, kayu, tekstil, plastik, bahan-bahan

pabrik, atau campuran lainnya.

Kelas "B" : Larutan yang mudah terbakar

Kelas "C": Gas yang mudah terbakar

29
Kelas "E": Alat-alat listrik

Bahan-bahan yang lain, jika terbakar sulit untuk diklasifikasikan,


karena berubah dari padat menjadi cair atau dari cair menjadi gas,
pada temperatur yang tinggi. Perlu diingat bahwa “jiwa Anda lebih
berharga dari pada peralatan/bangunan yang ada”, sebab itu
peralatan pemadam kebakaran yang sesuai dengan tipe atau kelas
kebakaran haruslah tersedia di laboratorium.

Jenis Alat Pemadam Kebakaran:

Tipe Kelas Kebakaran Warna Tabung

Air A, B, C Merah

Busa (foam) : A, B Crème

Tepung (powder ) : A, B, C, E Biru

Halon (Halogen) : A, B, C, E Hijau

Carbondioxida (CO2) : A, B, C, E Hitam

Pasir dalam ember : A, B -

7. Organisasi Laboratorium

Organisasi laboratorium meliputi struktur organisasi, deskripsi


pekerjaan, serta susunan personalia yang mengelola laboratorium tersebut.
Penanggung jawab tertinggi organisasi di dalam laboratorium adalah
Kepala Laboratorium. Kepala Laboratorium bertanggung jawab terhadap
semua kegiatan yang dilakukan dan juga bertanggung jawab terhadap
seluruh peralatan yang ada. Para anggota laboratorium yang berada di
bawah Kepala Laboratorium juga harus sepenuhnya bertanggung jawab
terhadap semua pekerjaan yang dibebankan padanya. Untuk

30
mengantisipasi dan menangani kerusakan peralatan diperlukan teknisi
yang memadai.

8. Fasilitas Pendanaan

Ketersediaan dana sangat diperlukan dalam operasional


laboratorium. Tanpa adanya dana yang cukup, kegiatan laboratorium akan
berjalan tersendat-sendat, bahkan mungkin tidak dapat beroperasi dengan
baik. Dana dapat diperoleh dari, antara lain:

a. SPP
b. Anggaran rutin/DIP
c. Institusi lain, misalnya kerjasama dalam bidang penelitian atau
pengembangan bidang lainnya
d. Dana dari badan-badan Internasional, misalnya JICA, ADB loan
projects, dsb
e. Dana Operasional melalui Hibah kompetisi A1; A2; A3 atau B
f. Dana-dana lainnya, yang bersumber dari luar Universitas/Institut

Kegigihan pimpinan institusi memperjuangkan ketersediaan


dana sangatlah penting, namun yang tidak kalah pentingnya ialah
kemampuan untuk mengusahakan dana sendiri, misalnya: melalui
kegiatan penelitian, kegiatan tugas akhir/thesis mahasiswa, kegiatan
layanan masyarakat, dan sebagainya. Jika anggaran rutin tidak ada,
maka kegiatan operasional laboratorium tidak akan tercapai dengan
baik.

9. Disiplin Yang Tinggi

Pengelola laboratorium harus menerapkan disiplin yang tinggi pada


seluruh pengguna laboratorium (mahasiswa, asisten, laboran/teknisi) agar
terwujud efisiensi kerja yang tinggi. Kedisiplinan sangat dipengaruhi oleh
pola kebiasaan dan perilaku dari manusia itu sendiri. Oleh sebab itu setiap
pengguna laboratorium harus menyadari tugas, wewenang dan fungsinya.
Sesama pengguna laboratorium harus ada kerjasama yang baik, sehingga
setiap kesulitan dapat dipecahkan/diselesaikan bersama.

31
10. Keterampilan SDM
Pengelola laboratorium harus meningkatkan keterampilan semua
tenaga laboran/teknisi. Peningkatan keterampilan dapat diperoleh melalui
pendidikan tambahan seperti pendidikan keterampilan khusus, pelatihan
(workshop) maupun magang di tempat lain. Peningkatan keterampilan
juga dapat dilakukan melalui bimbingan dari staf dosen, baik di dalam
laboratorium maupun antar laboratorium.
Pekerja laboratorium melakukan pemeriksaan untuk menyediakan
informasi bagi dokter sehingga dapat digunakan dalam penanganan
pasien. Karena itu, pekerja laboratorium berperan penting dalam proses
penyembuhan penyakit pasien. Pada saat bersamaan, sejalan dengan
pekerjaannya, mereka memperoleh cukup banyak informasi mengenai
pasien dan penyakitnya. Pekerja laboratorium, seperti halnya dokter,
wajib merahasiakan informasi mengenai hasil pemeriksaanya: hanya
dokter yang meminta pemeriksaan tersebut yang berhak menerima
laporannya. Ketika pasien meminta keterangan mengenai hasil
pemeriksaan tersebut,pasien diberi tahu agar menanyakan kepada dokter.
Dikebanyakan negara, terdapat standar prilaku moral dan
profesional yang tinggi bagi para dokter serta personal laboratorium yang
kompeten. Setiap pekerja laboratorium yang bekerja dengan bahan-bahan
klinis harus menjaga standar.
11.Peraturan Umum
Beberapa peraturan umum untuk menjamin kelancaran jalannya
pekerjaan di laboratorium, dirangkum sebagai berikut:
 Dilarang makan/minum di dalam laboratorium
 Dilarang merokok, karena mengandung potensi bahaya seperti:
1) Kontaminasi melalui tangan
2) Ada api/uap/gas yang bocor/mudah terbakar
3) Uap/gas beracun, akan terhisap melalui pernafasan
 Dilarang meludah, akan menyebabkan terjadinya kontaminasi
 Jangan panik menghadapi bahaya kebakaran, gempa, dan
sebagainya.
 Dilarang mencoba peralatan laboratorium tanpa diketahui cara
penggunaannya. Sebaiknya tanyakan pada orang yang kompeten.
 Diharuskan menulis label yang lengkap, terutama pada bahan-
bahan kimia.

32
 Dilarang mengisap/menyedot dengan mulut segala bentuk pipet.
Semua alat pipet harus menggunakan bola karet pengisap (pipet -
pump).
 Diharuskan memakai baju laboratorium, dan juga sarung tangan
dan gogles, terutama sewaktu menuang bahan-bahan kimia yang
berbahaya.
 Beberapa peraturan lainnya yang spesifik, terutama dalam
pemakaian sinar X, sinar Laser, alat-alat sinar UV, Atomic
Absorption, Flamephoto-meter, Bacteriological Glove Box with
UV light, dan sebagainya, harus benar-benar dipatuhi. Semua
peraturan tersebut di atas ditujukan untuk keselamatan kerja di
laboratorium.
12. Penanganan Masalah Umum
a. Mencampur zat-zat kimia
Jangan campur zat kimia tanpa mengetahui sifat reaksinya. Jika
belum tahu segera tanyakan pada orang yang kompeten.

b. Zat-zat baru atau kurang diketahui

Demi keamanan laboratorium, berkonsultasilah sebelum


menggunakan zat-zat kimia baru atau yang kurang diketahui.
Semua zat-zat kimia dapat menimbulkan resiko yang tidak
dikehendaki.

c. Membuang material-material yang berbahaya

Sebelum membuang material-material yang berbahaya harus


diketahui resiko yang mungkin terjadi. Karena itu pastikan bahwa
cara membuangnya tidak menimbulkan bahaya. Jika tidak tahu
tanyakan pada orang yang kompeten. Demikian juga terhadap air
buangan dari laboratorium. Sebaiknya harus ada bak penampung
khusus, jangan dibuang begitu saja karena air buangan
mengandung bahan berbahaya yang menimbulkan pencemaran. Air
buangan harus di”treatment”, antara lain dengan cara netralisasi
sebelum dibuang ke lingkungan.

d. Tumpahan

33
Tumpahan asam diencerkan dahulu dengan air dan dinetralkan
dengan CaC03 atau soda abu, dan untuk basa dengan air dan
dinetralisir dengan asam encer. Setelah itu dipel dan pastikan kain
pel bebas dari asam atau alkali. Tumpahan minyak, harus ditaburi
dengan pasir, kemudian disapu dan dimasukkan dalam tong yang
terbuat dari logam dan ditutup rapat.

Catatan: Penanganan terhadap lain-lain masalah yang belum


diketahui, sebaiknya berkonsultasi kepada ahlinya, sebelum
mengambil tindakan. lngat keselamatan lebih diutamakan dari yang
lainnya.

13. Jenis Pekerjaan

Berbagai pekerjaan laboratorium seperti praktek, penelitian, dan


layanan umum, harus didiskusikan sebelumnya dengan Kepala
Laboratorium. Setelah itu dilanjutkan dengan cara pelaksanaannya.
Pemahaman jenis pekerjaan di laboratorium diperlukan untuk:

a. Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan-bahan kimia, air, listrik,


gas dan alat-alat laboratorium.

b. Meningkatkan efisiensi biaya (operasional cost).

c. Meningkatkan efisiensi tenaga dan waktu, baik dari pengguna


maupun pengelola laboratorium

d. Meningkatkan kualitas dan ketrampilan pengelola laboratorium dan


laboran.

e. Baik pengelola laboratorium dan laboran/teknisi harus dapat


bekerja sama dengan baik sebagai satu Team-Work. ”Bekerja
dengan satu team, jauh lebih baik dari pada bekerja secara
sendiri/mandiri”

f. Meningkatkan pendapatan (income) dari laboratorium yang


bersangkutan.

34
35
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Agar semua kegiatan yang dilakukan di dalam laboratorium dapat


berjalan dengan lancar, dibutuhkan sistem pengelolaan operasional
laboratorium yang baik dan sesuai dengan situasi kondisi setempat. Untuk
mencapai hal tersebut, beberapa hal yang telah dijelaskan di atas, perlu
diperhatikan. Peran Kepala Laboratorium sangat penting dalam menerapkan
proses manajemen pengelolaan laboratorium, termasuk dukungan
keterampilan dari segala elemen yang ada di dalamnya.

B. SARAN

Pengelolaan laboratorium akan berjalan dengan lebih efektif bilamana


dalam struktur organisasi laboratorium didukung oleh Board of Management
yang berfungsi sebagai pengarah dan penasehat.

36
BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Djas, Fachri, 1998. Manajemen Laboratorium (Laboratory Management).


Penataran Pengelolaan Laboratorium (Laboratory Management). Fakultas
Kedokteran USU, Medan

Djas, Fachri, Syaiful Bahri Daulay, 1997, Manajemen Laboratorium (Laboratory


Management). Penataran Tenaga Laboran dalam Lingkungan Fakultas Pertanian
USU, Medan

Djas, Fachri, 1998. Manajemen Peralatan Laboratorium Terpusat di USU.


Lokakarya Pendayaan Peralatan Laboratorium Pendidikan Tinggi. Kerjasama
Institut Teknologi Bandung dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Bandung

Djas, Fachri, dan Jamaelly Gani, 1995, Term of Reference Staff Training Subject
at West Indonesia University. WUTC University Andalas, Padang

Gultom, Jamahir, Panel Sitorus dan Kurnia Brahmana, 1995, Manajemen


Laboratorium (Laboratory Management). Lokakarya Pelatihan Pemakaian Alat-
Alat Laboratorium, Kerjasama USU dengan WUTC Universitas Andalas, Padang

Griffin, Paul, 1993, Laboratory Safety Manual. WUTC University Andalas,


Padang Western Universities Training Centre, 1993, Lecture Notes, Universitas
Andalas, Padang.

KMK No. 605 Tahun 2008 tentang Standar Balai Laboratorium Kesehatan Dan
Balai Besar Laboratorium Kesehatan.

KMK Mentri Kesehatan No 04/MENKES/SK/I/2002 tentang Laboratorium


Kesehatan Swasta.

37
Parkin, James. T., 1995, Western Universities Training Centre. Lokakarya
Training Programme. June 1995-March 1996. General Information.

Permenkes nomor 24 tahun 2016 tentang persyaratan teknis bagunan dan


prasarana rumah sakit.

38