Anda di halaman 1dari 8

SISTEM TATA AIR LAHAN RAWA

Dwi Nurdiansyah
S1 Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Lambung Mangkurat

ABSTRAK
Pemerintah Indonesia pada tahun 1969 (Pelita I) mememulai
pengembangan lahan rawa dengan skala besar pada lahan rawa pasang surut
untuk menunjang program transmigrasi dan untuk mencapai swasembada
pangan khususnya beras. Pada tahun 1969 – 1994 telah dikembangkan lahan
rawa pasang surut seluas 1.238.000 ha yang lokasinya terkonsentrasi di Sumatera
Selatan, Jambi, Riau, Lampung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan
Kalimantan Barat. Setelah tahun 1994, pengembangan daerah rawa
dititikberatkan pada peningkatan daerah-daerah yang telah dibuka dengan
kegiatan yang bersifat terpadu dan lintas sektoral dengan menerapkan zona-zona
pengelolaan air (water management zone). Pada tahun 1996 dibangun Proyek
Pengembangan Lahan Gambut (PPLG) seluas 1(satu) juta Ha di Provinsi
Kalimantan Tengah. Proyek ini sejak awalnya merupakan proyek kontroversial
dan banyak dipertanyakan keberhasilannya. Proyek ini dapat dikategorikan proyek
gagal karena tidak mengindahkan kaidah-kaidah pengembangan rawa.

PENDAHULUAN
Lahan rawa sebenarnya merupakan lahan yang menempati posisi peralihan
di antara sistem daratan dan sistem perairan (sungai, danau, atau laut), yaitu antara
daratan dan laut, atau di daratan sendiri, antara wilayah lahan kering (uplands) dan
sungai/danau. Karena menempati posisi peralihan antara system perairan dan
daratan, maka lahan ini sepanjang tahun, atau dalam waktu yang panjang dalam
setahun (beberapa bulan) tergenang dangkal, selalu jenuh air, atau mempunyai air
tanah dangkal. Dalam kondisi alami, sebelum dibuka untuk lahan pertanian, lahan
rawa ditumbuhi berbagai tumbuhan air, baik sejenis rumputan (reeds, sedges, dan
rushes), vegetasi semak maupun kayu-kayuan/hutan, tanahnya jenuh air atau
mempunyai permukaan air tanah dangkal, atau bahkan tergenang dangkal. Lahan
rawa yang berada di daratan dan menempati posisi peralihan antara sungai atau
danau dan tanah darat (uplands), ditemukan di depresi, dan cekungan-cekungan di
bagian terendah pelembahan sungai, di dataran banjir sungai-sungai besar, dan di
wilayah pinggiran danau. Mereka tersebar di dataran rendah, dataran berketinggian
sedang, dan dataran tinggi. Lahan rawa yang tersebar di dataran berketinggian
sedang dan dataran tinggi, umumnya sempit atau tidak luas, dan terdapat setempat-
setempat. Lahan rawa yang terdapat di dataran rendah, baik yang menempati
dataran banjir sungai maupun yang menempati wilayah dataran pantai, khususnya
di sekitar muara sungai-sungai besar dan pulau-pulau deltanya adalah yang
dominan.
Secara tradisionil para petani Bugis dari Sulawesi Selatan dan Banjar dari
Kalimantan Selatan merupakan petani perintis yang telah memanfaatkan sumber
daya lahan rawa dekat pantai di sepanjang tepian sungai-sungai yang dipengaruhi
pasang surut di Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat,Kalimantan
Selatan dan Papua. Konstruksinya berupa parit-parit atau handil-handil dengan
panjang 1 sampai dengan 2 km yang berhubungan langsung dengan sungai-sungai
yang dipengaruhi pasang surut. Dari tahun 1924 sampai tahun 1934 dibangun
proyek rawa pasang surut di Sisir Gunting di Sumatera Utara dan di Purwasari
Kalimantan Selatan dengan sistem polder. Pada era 1950-an - 1960-an reklamasi
rawa non pasang surut untuk lahan pertanian Pemerintah membangun 2 buah
polder yaitu Alabio (6.000 ha) di Kalimantan Selatan dan Mentaren (2.300 ha) di
Kalimantan Tengah. Kanalisasi Anjir Tamban, Serapat, Besarang, Kelampan, dan
Marabahan, di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah untuk sarana
transportasi air dan membuka keterpencilan suatu daerah di Kalimantan Tengah.

PEMBAHASAN
Sistem tata air lahan rawa
A. Sistem Handil
Sistem handil merupakan sistem tata air tradisional yang rancangannya
sangat sederhana berupa saluran yang menjorok masuk dari muara sungai. (Noor,
2001:100). Umumnya handil memiliki lebar 2-3 m, dalam 0,5-1 m dan panjang
masuk dari muarasungai 2-3 km. Jarak antar handil satu dengan yang lainnya
berkisar 200-300 m. Adakalanya panjang handil ditambah atau diperluas sehingga
luas yang dikembangkan dapat mencapai 20-60 Hektar (Noor, 2001:100). Bentuk
dari sistem ini biasanya di pinggir handil dibuat saluran-saluran yang tegak lurus
sehingga suatu handil dengan jaringan saluran-salurannya menyerupai bangunan
sirip ikan atau tulang daun nangka.untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar
2.1. Sebuah handil umumnya digali dan dimanfaatkan secara gotong royong oleh
7-10 orang. (Noor, 2001:100). Sistem handil ini mengandalkan apa yang telah
diberikan alam berupa tenaga pasang surut untuk mengalirkan air sungai ke
saluran-saluran handil dan parit kongsi, kemudian mengeluarkannya ke arah
sungai jika surut.
Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan sistem handil :
1. Sistem ini dapat digunakan sebagai jaringan pengairan atau drainasi.
2. Dapat dimanfaatkan sebagai alur transportasi untuk dilewati sejenis
sampan atau perahu kecil
Kelemahan sistem handil :
1. Hanya cocok dikembangkan untuk skala pengembangan yang relatif kecil
dan hanya dapat menjangkau luas areal yang terbatas.
2. Seringkali timbul masalah titik aliran mati (air diam, tidak bergerak) pada
ujung saluran.

B. Sistem Anjir
Sistem anjir disebut juga dengan sistem kanal yaitu sistem air makro
dengan pembuatan saluran besar yang dibuat untuk menghubungkan antara dua
sungai besar. Saluran yang dibuat dimaksudkan untuk dapat mengalirkan dan
membagikan air yang masuk dari sungai untuk pengairan jika terjadi pasang dan
sekaligus menampung air limpahan (pengatusan) jika surut melalui handil-handil
yang dibuat sepanjang anjir. Dengan demikian, air sungai dapat dimanfaatkan
untuk pertanaman secara lebih luasdan leluasa. Dengan dibuatnya anjir, maka
daerah yang berada di kiri dan kanan saluran dapat diairi dengan membangun
handil-handil (saluran tersier) tegak lurus kanal. Perbedaan waktu pasang dari dua
sungai yang dihubungkan oleh sistem anjir ini diharapkan akan diikuti oleh
perbedaan muka air sehingga dapat tercipta suatu aliran dari sungai yang muka
airnya lebih tinggi ke sungai yang rendah.
Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan sistem anjir :
1. Dengan dibuatnya anjir, maka daerah yang berada di kiri dan kanan saluran
dapat diairi dengan membangun handil-handil (sebagai saluran tersier)
tegak lurus
2. Adanya anjir ini menimbulkan lalu lintas transportasi air antara dua kota
menjadilebih ramai sehingga mendorong pembangunan daerah karena
terjadinyapeningkatan arus pertukaran barang dan jasa.
Kelemahan sistem anjir :
1. Terjadi aliran balik pada bagian tengah saluran (kanal) penghubung dari air
yang semestinya dibuang mengalir masuk kembali akibat didorong oleh
gerakan
2. Di wilayah yang berpotensi sulfat asam terjadi kontak antara sedimen air
sungai dengan sedimen asam yang mengandung kadar Al tinggi sehingga
menimbulkan keracunan pada tanaman dan biota air lainnya.

Penerapan Bangunan Kanal Blocking


Kemungkinan terjadinya ‘over drained’ dalam program reklamasi lahan
rawa menjadi lahan pertanian bisa saja terjadi terutama kalau tidak tersedianya
suplai air dari bagian hulu (sumber lain) . Hal ini dapat berakibat buruk kepada
lingkungan karena terjadinya oksidasi kandungan pirit di dalam tanah gambut
dengan meningkatnya emisi carbon di udara. Untuk itu muka air tanah di lahan
reklamasi perlu dipertahankan pada level tertentu atau dengan kata lain kejadian
over drained perlu dihindari. Usaha ini dapat dilakukan dengan membuat
bangunan kontrol kedalaman air pada beberapa titik di saluran/ anak sungai dan
yang terutama adalah pada bagian pelepasan (outfall) saluran tersier ke saluran
sekunder.
Kanal blocking adalah bagian dari sistem tata air pengembangan lahan
rawa pada tahap kedua dari tiga tahapan pengembangan lahan rawa. Tahap
pertama adalah sistem pengeringan lahan dengan membangun saluran pembuang
yang diperkirakan mamakan waktu hingga 10 tahun. Penerapan kanal blocking
ini disarankan pada lahan bambut
Dalam pemanfaatan lahan rawa khususnya untuk gambut tebal di sekitar
kubah gambut dengan pemanfaatan terbatas, perlu diterapkan kanal blocking
dengan maksud untuk mempertahankan drainabilitas rencana sehingga efek
negatif pengembangan terhadap kondisi lingkungan dapat diperkecil. Jadi
fungsi hidrolis kanal blocking adalah untuk menjaga terjadinya over drained
dengan mempertahankan ketinggian elevasi muka air tanah rencana. Bangunan
yang umum digunakan untuk kanal blocking disesuaikan dengan klasifikasi
rawa, apakah merupakan rawa pasang surut ataupun rawa lebak. Untuk rawa
pasang surut, jenis bangunan yang layak dipasang adalah pintu otomatis,
sedangkan untuk rawa lebak dapat dipasang bangunan pelimpah. Bangunan
pelimpah dapat berbentuk ambang tipis ataupun ambang lebar dan material yang
digunakan sebaiknya material yang ringan dan tahan korosi akibat air payau.
Penempatan bangunan kanal blocking sebaiknya di bagian hilir saluran kolektor
dengan jarak sekitar 10,0 m dari saluran transport. Adanya bagian lahan dari
blok lahan seluas 2,25 Ha yang airnya terbuang ke saluran transport, maka lahan
ini perlu di suplai air dari saluran kolektor dengan membuat saluran suplesi
(recharge channel) dengan intake di depan bangunan kanal blocking. Saluran
suplesi ini dapat dibuat dengan ukuran lebar 1,50 m dan dalam cukup 0,50 m

dari muka tanah lahan perkebunan dibuat menyerong dengan sudut 45o mulai
dari intake hingga pertengahan lahan. Cara bekerjanya saluran ini adalah
sewaktu muka air di saluran kolektor tinggi maka air akan masuk ke saluran
suplesi memberi water recharge pada lahan yang mengalami pengeringan
karena adanya saluran transport. Untuk menambah informasi tentang
penempatan bangunan kanal blocking dapat dilihat Gambar 1. Gambar 1
ini memperlihatkan skema penempatan kanal blocking yang dilengkapi
dengan saluran suplesi untuk water recharge.
Gambar 1. Penempatan Bangunan Kanal Blocking

Contoh Sistem Kanal Blocking pada Reklamasi Rawa Tripa


Pada waktu tinjauan lapangan telah dijumpai dalam jumlah terbatas
khususnya pada lahan yang dikelola oleh PT. SPS sudah dibangun bangunan
pelimpah pada hilir saluran kolektor yang berfungsi sebagai bangunan kanal
blocking. Kemungkinan dengan mengedepankan fungsinya, konstruksi
bangunannya dibuat secara sederhana dan sifatnya darurat dengan material
seadanya, yaitu dari tumpukan kayu sisa-sisa penebangan dan kantong plastik
yang diisi tanah. Dengan demikian bangunannya tidak stabil, sering mengalami
kerusakan dan terjadi kebocoran aliran. Sistem kanal blocking yang dibuat juga
dilengkapi dengan peilschaal atau papan duga air yang dipasang di hulu saluran
kolektor dan bangunan piezometer yang dipasang di tengah blok lahan. Dari hasil
pengamatan terlihat bahwa perusahaan perkebunan tersebut sudah mengetahui
dan memulai program Tahap Menengah yaitu mengatur sistem tata air dengan
membangun sistem kanal blocking. Terbatasnya jumlah kanal blocking yang
sudah dibangun kemungkinan dengan faktor prioritas ketersediaan dana
perusahaan akan tetapi kiat menuju pengelolaan air (water management) sudah
dimulai dan diharapkan dapat diikuti oleh perusahaan perkebunan lainnya. Rawa
Tripa merupakan rawa lebak yaitu rawa yang tidak dipengaruhi oleh aliran akibat
pasang surut air laut yang berarti aliran air hanya bergerak kesatu arah dari hulu
ke hilir. Untuk kondisi yang demikian maka konstruksi bangunan air yang cocok
dan layak untuk dibangun adalah bangunan pelimpah baik pelimpah ambang tipis
maupun pelimpah ambang lebar. Pintu apung otomatis dapat juga dibangun pada
kondisi ini apabila memang layak ditinjau dari ketersediaan dana
pembangunannya. Material yang baik digunakan untuk konstruksi adalah yang
terbuat dari fiber resin dimana materialnya ringan dan tahan korosi. Sebagai
gambaran konstruksi pelimpah ambang tipis.

KESIMPULAN
Pada Tahap Awal program reklamasi lahan rawa seperti sekarang ini dan
mau melangkah ke Tahap Menengah masih sangat terbatas jumlah bangunan
kanal blocking yang sudah dibangun dan konstruksinya masih sangat sederhana
dan darurat sifatnya yang hanya mengandalkan fungsionalnya saja. Bangunan
kanal blocking perlu dibangun pada saluran kolektor (tersier) khususnya pada
lahan gambut di sekitar kubah gambut yang merupakan gambut tebal dengan
pemanfaatan terbatas.

DAFTAR PUSTAKA

Mc Comas S., (2003). Lake and Pond Management Guidebook, Lewis


Publishers, New York.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.27 Tahun 1991 Tentang Rawa

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.42 Tahun 2008 Tentang


Pengelolaan Sumber Daya Air

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.38 Tahun 2011 Tentang Sungai

Schilfgaarde, J.V, (1974). Drainage for Agriculture, American Society of


Agronomy Inc., Madison, Wisconsin USA.

Simandjuntak, T.R.P (2009). Reklamasi Rawa, PUSDIKLAT – PU, Jakarta