Anda di halaman 1dari 13

STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN

OLAHRAGA

ARTIKEL
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
PROBLEMATIKA PENDIDIKAN OLAHRAGA
Dosen Pembina
Dr. Eko Hariyanto, M. Pd

Oleh
Hendy Pratama
150614805895

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA PENDIDIKAN OLAHRAGA
APRIL 2016
STANDARISASI SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN
OLAHRAGA

Hendy Pratama

Jurusan Pendidikan Olahraga, Pascasarjana


Universitas Negeri Malang (UM) Jl. Semarang No. 5 malang
E-mail: hendyoktaviapratama@gmail.com

ABSTRAK: Tujuan artikel ini dengan singkat akan mencoba untuk


mengupas tentang problematika olahraga dalam olahraga mengenai
standarisasi sarana dan prasarana yang ada dalam pendidikan
olahraga. Kegiatan olahraga memerlukan ruang untuk bergerak.
Kebutuhan ruang untuk bergerak itu ditentukan dengan standar alat
serta ruang perorangan. Sarana prasarana olahraga minimal
disesuaikan dengan kondisi yang berolah raga itu sendiri. Sarana
prasarana merupakan sumber daya pendukung yang terdiri dari
segala bentuk dan jenis peralatan serta perlengkapan yang
digunakan dalam kegiatan olahraga. Dengan tercapainya
standarisasi sarana diharapkan meningkatkan kualitas pendidikan
olahraga dalam kegiatan aktifitas fisik serta daya saing dalam
mengembangkan bakat siswa dalam bidang olahraga. Sehingga
siswa dapat menikmati olahraga dengan baik dan optimal.

Kata Kunci: Problematika, Sarana dan Prasarana, Pendidikan,


Olahraga
.
PENDAHULUAN

Pendidikan jasmani adalah pendidikan yang menggunakan aktivitas fisik

sebagai media utama untuk mencapai tujuan kesahatan tubuh. Bentuk aktifitas

fisik yang digunakan oleh anak sekolah adalah bentuk gerak olahraga yang

termuat dalam cabang-cabang olahraga. Berdasarkan hal di atas, sekolah

hendaknya menyediakan sarana dan prasarana olahraga yang cukup memadai.

Latar Belakang
Problematika Pendidikan Olahraga
Sungguh ideal apabila setiap sekolah memiliki minimal satu lapangan

besar yang dapat digunakan sebagai tempat aktivitas gerak siswa dalam

mengembangkan bakat serta menjadikan mereka lebih leluasa bergerak tanpa ada

batasan. Realita yang ada, banyak lapangan olahraga utamanya di kota-kota besar

yang beralih fungsi. Seperti bangunan, gedung-gedung, dan lain-lain. Tuntutan

kurangnya strandarisasi sarana prasarana membuat guru Penjas harus dapat

mengajar dengan baik di lapangan luas atau hanya sekedar di halaman sekolah

yang sempit. Menghadapai hal tersebut guru Penjas harus dapat mengembangakan

pembelajaran Penjas dengan memodifikasi ukuran lapangan, peralatan dengan

peraturan yang menyesuaikan dengan kondisi sekolah. Bagaimana mengatasi

problematika yang sering terjadi didunia pendidikan khususnya dalam bidang

pendidikan olahraga.

Rumusan Masalah

Melihat dari latar belakang yang telah diuraikan di atas maka rumusan

masalah yang di dapat dalam artikel ini adalah: (1) Apakah fungsi dari sarana dan

prasarana dalam bindang pendidikan olahraga? (2) Bagaimanakah dampak yang

terjadi dari pencapaian standarisasi sarana prasarana dalam pendidikan olahraga?

(3) Bagaimana perkembangan sarana dan prasarana dalam pendidikan olahraga?

Tujuan

Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan

tiga tujuan utama dari karya tulis ini, yaitu: (1) Dapat dan menjelaskan fungsi dari

sarana dan prasarana dalam bindang pendidikan olahraga (2) Dapat menganalisis

dan mengerti tentang dampak yang terjadi dari pencapaian standarisasi sarana
Problematika Pendidikan Olahraga
prasarana dalam pendidikan olahraga (3) Dapat memahami dan melakukan

diskusi untuk menganalisis sejauh mana perkembangan sarana dan prasarana

dalam pendidikan olahraga.

PEMBAHASAN

Pengertian Sarana dan Prasarana Dalam Pendidikan Olahraga

Pendidikan jasmani merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di


tiap-tiap sekolah. Dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani ini,
sarana dan prasarana merupakan sesuatu yang penting untuk membantu dan
menunjang proses belajar mengajar.
Sarana adalah segala sesuatu yang dipakai sebagai alat dalam mencapai
maksud dan tujuan sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan
penunjang terselenggaranya suatu proses (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008).
Sarana prasarana olah raga adalah suatu bentuk permanen, baik itu
ruangan di luar maupun di dalam. Contoh: cymnasium, lapangan permainan,
kolam renang, dan sebagaimnya. (Wirjasanto 1984:154). Sarana prasarana
olahraga adalah semua sarana prasarana olahraga yang meliputi semua lapangan
dan bangunan olah raga beserta perkengkapannya untuk melaksanakan program
kegiatan olah raga (Seminar Prasarana Olahraga Untuk Sekolah dan
Hubungannya dengan Lingkungan, 1978). Sarana olah raga adalah sumber daya
pendukung yang terdiri dari segala bentuk dan jenis peralatan serta perlengkapan
yang digunakan dalam kegiatan olah raga. Prasarana olah raga adalah sumber
daya pendukung yang terdiri dari tempat olah raga dalam bentuk bangunan di
atasnya dan batas fisik yang statusnya jelas dan memenuhi persyaratanyang
ditetapkan untuk pelaksanaan program kegiatan olah raga (Kumpulan Makalah
Manajemen Olahraga halaman 38).
Dari beberapa pengertian di atas dapat diartikan bahwa sarana prasarana
oloahraga adalah sumber daya pendukung yang terdiri dari segala bentuk jenis
bangunan/tanpa bangunan yang digunakan untuk perlengkapan olahraga. Sarana
prasarana olahraga yang baik dapat menunjang pertumbuhan masyarakat yang
baik.
Problematika Pendidikan Olahraga
Tujuan dan Manfaat Dari Sarana dan Prasarana dalam Pendidikan Olah

Raga

Tujuan Sarana dan Prasarana Pendidikan Olahraga

Sarana dan prasarana merupakan bagian penting yang dibutuhkan dalam

suatu pembelajaran. Tanpa adanya Sarana dan prasarana yang baik, pembelajaran

tidak dapat berjalan dengan lancar. Berikut ini tujuan sarana dan prasarana

olahraga adalah untuk:

a. Memperlancar jalannya pembelajaran.

b. Memudahkan gerakan.

c. Memacu siswa dalam bergerak.

d. Kelangsungan aktivitas.

Manfaat Sarana dan Prasarana Pendidikan Olahraga

Dengan adanya Sarana dan prasarana yang baik akan diperroleh manfaat

yang begitu besar demi keberlangsungan proses pembelajaran. Manfaat Sarana

dan prasarana dalam pembelajaran adalah untuk:

a. Dapat memacu pertumbuhan dan perkembangan siswa.

b. Gerakan dapat lebih mudah atau lebih sulit.

c. Dapat dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan.

d. Menarik perhatian siswa.

Sarana prasarana merupakan salah satu unsur pokok dalam proses

pembelajaran pendidikan jasmani terutama cabang akuatik. Apabila sekolah

mempunyai sarana prasarana yang lengkap dan berkualitas baik, tentunya akan

sangat memperlancar dalam proses pembelajran. Begitupun sebaliknya jika

Problematika Pendidikan Olahraga


sekolah tidak mempunyai sarana dan prasaran yang baik justru akan menghambat

dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung. Hal yang seperti ini

yang memaksa seorang guru harus lebih kreatif dengan keterbatasan sarana demi

tercapainya pembelajaran yang efektif.

Fasilitas olahraga di sekolah merupakan masalah di negara Indonesia.

Ditinjau dari kuantitasnya masih sangat terbatas dan tidak merata dan masih

terlalu jauh dari batas ideal minimal atau standart minimal. Ketersediaan fasilitas

olahraga yang ideal sesuai dengan standart, maka pembelajaran pendidikan

jasmani akan berjalan lancar sesuai dengan kurikulum.

Peraturan yang mengatur tentang sarana dan prasarana olahraga diatur

dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 3 Tahun 2005 tentang Sistem

Keolahragaan Nasional BAB XI pasal 67 dan pasal 68. Adapun peraturan yang

yang mengatur tentang sarana prasarana pendidikan olah raga yaitu Peraturan

Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2007 tentang

Standarisasi Sarana dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah

(SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), dan

Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA). Standar tempat bermain/

berolahraga yang harus dimiliki oleh sekolah yaitu: (1). Tempat

bermain/berolahraga berfungsi sebagai area bermain, berolahraga, pendidikan

jasmani, upacara, dan kegiatan ekstrakurikuler. (2). Rasio minimum luas tempat

bermain/berolahraga adalah 3 m2 /peserta didik. Jika banyak peserta didik kurang

dari 334 orang, maka luas minimum tempat bermain/berolahraga adalah 1000 m2.

(3). Di dalam luasan tersebut terdapat tempat berolahraga berukuran minimum 30

m x 20 m yang memiliki permukaan datar, drainase baik, dan tidak terdapat


Problematika Pendidikan Olahraga
pohon, saluran air, serta benda-benda lain yang mengganggu kegiatan

berolahraga. (4). Sebagian tempat bermain ditanami pohon penghijauan. (5).

Tempat bermain/berolahraga diletakkan di tempat yang paling sedikit

mengganggu proses pembelajaran di kelas. (6). Tempat bermain/berolahraga tidak

digunakan untuk tempat parkir. (7). Tempat bermain/berolahraga dilengkapi

sarana sebagaimana tercantum pada Tabel.

No Jenis Rasio Deskripsi


1 Peralatan Pendidikan
1.1 Tiang bendera 1 buah/sekolah Tinggi sesuai ketentuan yang
berlaku.
1.2 Bendera 1 buah/sekolah Tinggi sesuai ketentuan yang
berlaku.
1.3 Peralatan bola voli 2 buah/sekolah Minimum 6 bola.
1.4 Peralatan sepak bola 1 set/sekolah Minimum 6 bola.
1.5 Peralatan bola basket 1 set/sekolah Minimum 6 bola.
1.6 Peralatan senam 1 set/sekolah Minimum matras, peti loncat,
tali loncat, simpai, bola plastik,
tongkat, palang tunggal, gelang.
1.7 Peralatan atletik 1 set/sekolah Minimum lembing, cakram,
peluru, tongkat estafet, bak
loncat.
1.8 Peralatan seni budaya 1 set/sekolah Disesuaikan dengan potensi
masing-masing
1.9 Peralatan 1 set/sekolah Disesuaikan dengan potensi
keterampilan masing-masing
2 Perlengkapan lain
2.1 Pengeras suara 1 set/sekolah
2.2 Tape recorder 1 buah/sekolah

Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi sarana dan prasarana

yang ada di sekolah : (1). Keadaan Ekonomi Sekolah. Keadaan ekonomi yang

lemah mengakibatkan sulit untuk membeli sarana dan prasarana yang sangat

dibutuhkan sekolah. Sementara bidang pendidikan yang lain juga membutuhkan


Problematika Pendidikan Olahraga
dana dalam pelaksanaan belajar mengajar. (2). Kurangnya Sarana dan Prasarana

yang ada. Pembelian sarana dan prasarana yang kurang mendapatkan perhatian

dari pihak sekolah sehingga mengakibatkan proses belajar mengajar menjadi

terhambat. (3) Jumlah Siswa. Jumlah siswa yang terlalu banyak yang tidak

seimbang dengan jumlah sarana dan prasarana yang ada sehingga mengakibatkan

terhambatnya pelaksanaan pendidikan jasmani. (Wirawan, 2010)

Pengembangan Sarana dan Prasarana dalam Pendidikan Olahraga

Berbagai fasilitas olahraga yang ada di Indonesia masih tertinggal

dibanding dengan sejumlah Negara di luar negeri. Kondisi ini membuat

perkembangan dan kemajuan olahraga di Indonesia masih kalah dalam bersaing

ditingkat internasional. Kondisi ini membutuhkan perhatian khusus dari

pemerintah termasuk mendukung perembangan kegiatan olahraga dan pendidikan

jasmani di perguruan tinggi.

Problematika dalam olahraga banyak sekali mengarahkan sudut pandang

kepada keterbatasan alat dan ruang gerak saja. Banyak sisi lain yang menjadi

persoalan yakni tidak tepatnya pemakaian sarana dan prasarana olahraga,

rusaknya fasilitas olahraga oleh kaum yang tidak bertanggung jawab bahkan

penyalahgunaan tempat-tempat yang seharusnya dijadikan tempat untuk bergerak

dan berolahraga dijadikan tempat hiburan. Seharusnya sarana dan prasarana yang

ada dan diberikan hendaknya dijaga, dirawat dan dipelihara paling tidak dapat

dipakai dalam tempo waktu yang lama. Perlu adanya pembinaan tentang cara

pemeliharaan sarana dan prasarana olahraga.

Problematika Pendidikan Olahraga


Kuantitas sarana prasarana olahraga harus diperbanyak. Kualitas harus

ditingkatkan agar tidak hanya kuantitas yang banyak, namun kualitasnya juga

baik. Yang terpenting adalah dana, dana harus dirancang sedemikian rupa agar

rencana pembangunan sarana dan prasarana olahraga dapat terlaksana dengan

optimal. Untuk itu perlu dikembangkangkan faktor mengembangkan sarana dan

prasarana secara serius agar sarana dan prasarana olahraga di Indonesia sesuai

dengan perkembangan jaman.

Perlu adanya koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah

agar dapat saling memberi masukan baik yang bersifat teknis maupun non teknis

dan bekerjasama sehingga dapat membangun dan menyempurnakan sarana dan

prasarana olahraga yang sesuai dengan perkembangan jaman.

Dengan demikian dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani apabila

didukung dengan sarana yang baik dan mencukupi, maka anak didik atau siswa

bahkan guru akan dapat menggunakan sarana tersebut dengan baik dan maksimal.

Tentunya anak didik atau siswa tersebut akan merasa senang bahkan puas dalam

memakai sarana yang terdapat di sekolahnya. Dengan memiliki sarana yang

memenuhi standar maka anak atau siswa dapat mengembangkan keinginannya

untuk terus mencoba olahraga yang disenanginya.

Perbandingan Standarisasi Sarana dan Prasarana Pendidikan Olahraga

Indonesia Dengan Negara-Negara Lain

Bila kita coba melirik ke negeri seberang, SD, SMP, dan SMA di Jepang

dapat dipastikan telah mempunyai sarana dan prasarana olahraga dasar sejak lama

(terutama pasca perang dunia ke-2). Lapangan yang luas di depan gedung sekolah
Problematika Pendidikan Olahraga
adalah ciri khas dari bangunan sekolah di Jepang. Kolam renang hampir pasti ada

di setiap sekolah, bahkan di tingkat SD sekali pun. Belum lagi aula yang juga

berfungsi sebagai gedung olah raga maupun pementasan seni, pasti ada di tiap SD.

Lapangan luas di tiap sekolah, selain berfungsi sebagai lapangan olahraga, juga

berfungsi sebagai tempat evakuasi siswa atau penduduk di sekitarnya bila

sewaktu-waktu terjadi bencana. Demikian pula dengan aula atau gedung olahraga,

juga berfungsi sebagai tempat evakuasi siswa dan masyarakat sekitarnya bila

terjadi bencana. Kolam renang juga berfungsi sebagai tempat penampungan air

sementara/ darurat bila sewaktu-waktu saluran air mati. Pendek kata, semuanya

mempunyai banyak fungsi.

Penyediaan sarana olahraga juga dilakukan oleh pemerintah daerah

setempat. Di setiap kecamatan hampir pasti tersedia GOR /gedung multi fungsi

sebagai sarana menjaga kebugaran dan komunikasi antar warga. Hal ini bukan

hanya terjadi di Jepang, Korea Selatan dan China pun menerapkan hal yang sama.

Tak heran bila kontingen negara-negara tersebut kerap kali menjuarai kejuaraan

olahraga internasional. (China, Jepang, Korea selalu menempati urutan teratas

dalam Asian Games).

Di negara Australia sebagian besar proyek-proyek infrastruktur umum

olahraga seperti taman, ruang rekreasi, dan fasilitas olahraga, yang direncanakan

dan/atau dikendalikan oleh pemerintah daerah. Fasilitas yang besar memiliki

dampak ekonomi yang besar (seperti stadion digunakan oleh tim olahraga

profesional) mungkin direncanakan dan dibiayai oleh pemerintah negara

bagian/wilayah dan kemudian dikelola oleh perkumpulan, wali, atau sebuah

organisasi olahraga. Ada sejumlah fasilitas olahraga yang dimiliki dan dikelola
Problematika Pendidikan Olahraga
oleh perusahaan swasta (ini mungkin termasuk organisasi olahraga sendiri). Ada

juga sebagian besar sekolah (umum dan non-publik) mempertahankan beberapa

jenis fasilitas olahraga, yang mungkin atau mungkin tidak akan dibagi dengan

masyarakat atau kelompok pengguna pribadi. Mereka memiliki data yang

komprehensif tentang kapasitas, lokasi, umur, serta perbaikan dan fungsi fasilitas

olahraga di negara Australia. Hail ini menjadi keuntungan dalam perencanaan

untuk permintaan saat ini dan kebutuhan masa depan. Data tersebut dapat

digunakan di semua tingkat pemerintah, oleh organisasi olahraga dan komunitas,

sekolah dan perusahaan swasta (Richards R, 2016).

KESIMPULAN

Standarisasi sarana dan prasarana adalah suatu usaha yang di arahkan

untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan

serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik dan optimal sesuai

dengan kemampuan dan kelengkapan sarana yang ada.

Persoalan yang sering terjadi dalam sarana prasarana olahraga yakni

kurangnya keteersediaan alat dan keterbatasan tempat, tidak tepatnya pemakaian

sarana dan prasarana olahraga, rusaknya fasilitas olahraga oleh kaum yang tidak

bertanggung jawab bahkan penyalahgunaan tempat-tempat yang seharusnya

dijadikan tempat untuk bergerak dan berolahraga dijadikan tempat hiburan.

Tujuan dari standarisasi sarana dan prasarana itu bersumber dari tujuan

pendidikan nasional. Hasil perbandingan dengan negara lain menunjukkan

Indonesia masih tertinggal dalam pemenuhan dan standarisasi sarana dan

prasarana pendidikan olahraga.


Problematika Pendidikan Olahraga
SARAN

Sarana dan prasarana olahraga merupakan modal utama dalam

penyelenggaraan kegiatan olahraga, harus ada peningkatan ketersediaan fasilitas

olahraga yang berkualitas baik dan memadai dalam artian harus disesuaikan

dengan standar keutuhan ruang perorangan. Pemenuhan Standarisasi olahraga

akan menjadi pendukung pelaksanan suatu kegiatan terutama dalam pengajaran

olahraga.

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Pusat Bahasa, 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat
Bahasa

Drs Nuzuli MS dalam seminar olahraga internasional yang digelar Jurusan


Penjaskesrek FKIPUnsyiah di Auditorium Gedung Baru FKIP Unsyiah,
Selasa (19/10). Aceh

http://antoniuspujo-fib.web.unair.ac.id/ (online) diakses pada tanggal 01 April


2016

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 24 Tahun 2007


tentang Standarisasi Sarana dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah
Ibtidaiyah (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
(SMP/MTs), dan Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA)

Problematika Pendidikan Olahraga


Richards R, 2016. Sports Facility Planning and Use, Australasian Sport
Information Network (AUSPIN). Australia

Undang-Undang Republik Indonesia No 3 Tahun 2005 tentang Sistem


Keolahragaan Nasional

Wirawan T, 2010. Ketersediaan Sarana dan Prasarana Olahraga dalam


Pelaksanaan Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
di Sekolah Dasar Negeri. Semarang

Problematika Pendidikan Olahraga