Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH PERKEBUNAN

“TOPIK GAMBIR”

OLEH:

KELOMPOK IV

ANGGOTA :

1. CELSY LOVENA (1511111001)


2. KONNY TIFANI (1511111005)
3. WENNY WAHYUNI LUBIS (1511111031)
4. ADE IRAWAN (1511112002)
5. NINDY OKTAVIANA (1511112022)
6. IGEF RASINTA (1511112033)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gambir adalah sejenis getah yang telah kering atau di keringkan yang berasal
dari Ekstrak remasan daun dan ranting tumbuhan yang bernama Uncaria Gambir
roxb. Gambir merupakan salah satu komoditas perkebunan rakyat yang bernilai
ekonomi tinggi dan prospektif untuk dikembangkan secara komersial pada masa
yang akan datang.
Dalam perdagangan international tercatat 2 (dua) klasifikasi gambir yang
diperdagangkan, yaitu gambir mentah dan gambir olahan. Berdasarkan data
Geneva tahun 1991-1995 Indonesia menduduki urutan ke tiga dari 60 negara
pengekspor gambir mentah, sedangkan untuk gambir olahan menempati urutan ke
tujuh dari 50 negara pengekspor gambir olahan. Gambir dihasilkan dari proses
ekstraksi yaitu proses pengeluaran getah yang terdapat di dalam daun dan ranting
tanaman gambir.
Indonesia sebagai pemasok utama 80% gambir dunia, sebagian besar berasal
dari daerah Provinsi Sumatera Barat (Djanun, 1998) dengan negara tujuan
ekspornya Bangladesh, India, Pakistan, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Perancis
dan Swiss.yang permintaan ekspornya terus meningkat sepanjang tahun. Hal ini
ditunjukkan oleh volume ekspor tahun 2000 sebanyak 6.633 ton meningkat pada
tahun 2004 menjadi 12.438 ton. Berarti terjadi peningkatan volume ekspor sebesar
87,49% selama kurun waktu 5 tahun. Karena itu tulisan ini bertujuan untuk
menginformasikan teknik pengolahan gambir yang dihasilkan oleh petani gambir
di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Diharapkan hasil penelitian ini
dapat bermanfaat bagi pengembangan usaha gambir dan upaya peningkatan
rendemen gambir yang dihasilkan.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui tahapan yang diperlukan dalam pengolahan gambir.


2. Mengetahui hasil produksi yang didapatkan petani gambir dalam jangka waktu
tertentu
3. Memahami berbagai manfaat dari gambir dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN

1.3 Pembudidayaan Tanaman Gambir

Pembudidayaan merupakan kegiatan terencana pemeliharaan sumber daya


gambir yang dilakukan pada suatu areal lahan untuk diambil manfaat/hasil
panennya. Kegiatan budi daya dapat dianggap sebagai inti dari usaha tani.
Adapun tahap-taha pembudidayaan hingga pada panen ialah :

A. Penyemaian
Benih tanaman yang digunakan untuk pengembangan gambir yang paling
baik adalah biji. Biji diperoleh dari buah yang telah matang petik, ditandai
dengan buah yang sudah berwarna kecoklatan. Buah dijemur dipanas matahari
hingga kering. Lalu buah yang sudah mengering diremas remas menggunakan
telapak tangan, setelah itu diayak untuk mendapatkan serbuk yang akan
disemai.

B. Bibit
Adapun bibit yang akan dipakai adalah serbuk hasil ayakan tadi, cara
pembibitan dilakukan dengan menghembuskan serbuk ke lahan miring yang
sudah disediakan dengan penambahan tanah liat agar serbuk bisa menempel
lebih kuat pada tekstur tanah liat yang lengket. Tujuan diletakan pada tanah
yang miring adalah untuk mengurangi resiko erosi tanah saat terjadi hujan
serta untuk mempermudah peletakkam naungan. Kemudian diletakkan
naungan di puncak tanah yaitu berupa daun rumbia untuk mencegah
masuknya sinar matahari langsung, sehingga kelembapan tanah tetap stabil
dan menghindari tebongkarnya tanah dari hujan .

C. Lapangan
Selanjutnya, 6 bulan setelah penyemaian, bibit dipindahkan ke ladang.
Adapun persiapan lahan yang dilakukan yaitu dengan cara melubangi tanah
mengggunakan alat berupa bambu dengan jarak tanam 1 hingga 1,5 meter.
Lubang yang dibentuk berdiameter 10 cm dengan kedalaman 5 cm. Setelah
sesuai dengan ukuran tersebut, bibit belum siap diletakkan. Langkah
selanjutnya adalah menekan sisi samping (dinding) lubang dengan jari tangan,
hingga terbentuk lubang kecil, lalu meletakkan bibit pada sisi tersebut. Hal ini
dapat dilakukan pada sisi sebelahnya juga, sehingga dalam satu lubang
terdapat 2 hingga 3 bibit yang bisa diletakkan. Pada pengamatan yang kami
lakukan di salah satu perkebunan gambir di desa Lubuk Alai ini, tanaman
yang sudah dipindahkan ke lahan, tidak diberikan tanaaman ataupun kayu
pelindung apapun disekitarnya, hal ini sesungguhnya kurang tepat dikarenakan
akan memperbesar resiko kerusakan tanaman. Seperti yang kita ketahui, perlu
dibuat tanaman pelindung ataupun kayu tegak disekitar teneman gambir yang
berada dalam proses pertumbuhan, tujuannya yaitu agar tanaman dapat
tercegah dari resiko kerusakan seperti saat datang angin kencang ataupun
hujan deras, tanaman tidak patah ataupun hancur.

D. Panen
Tanaman gambir yang siap dipanen berusia sekitaran 16-17 bulan untuk
masa panen pertama, Ciri tanaman gambir yang sudah dapat dipanenialah :
- Setiap ranting sudah tidak bertunas lagi, berwarna hijau kecoklatan, kaku dan
keras.
- Daun sudah mencapai kondisi matang, berwarna hijau tua, kuning kecoklatan
- Lembaran daun tebal, mengeras dan kaku, kalau diremas sudah mengeluarkan
getah.
- Disisakan 2-3 bagian dari pucuk untuk pertumbuhan selanjutnya.
Setelah masa panen pertama, panen selanjutnya dilakukan setelah 5 atau 6
bulan tergantung pada kondisi tanaman. Umumnya petani melakukan panen 2
kali setahun tergantung keadaan pertumbuhan tanaman dan ketuaan daun, bila
pertumbuhan baik dan ketuaan daun memenuhi syarat, maka dapat dilakukan 3
kali setahun.. Hal yang harus dilakukan setelah panen adalah penyiangan, serta
pemberian pupuk. Tanaman gambir tidak memerlukan pemupukan yang
intensif, cukup dilakukan setiap enam bulan. Jenis pupuk yang digunakan pada
perkebunan ini adalah pupuk kandang dan pupuk NPK.
1.4 Pengolahan Pasca Panen

Bagian tanaman gambir yang diolah adalah daun dan rantingnya.


Umumnya petani melakukan panen 2 kali setahun tergantung keadaan
pertumbuhan tanaman dan ketuaan daun, bila pertumbuhan baik dan ketuaan daun
memenuhi syarat, maka dapat dilakukan 3 kali setahun. Tingkat ketuaan daun
gambir saat dipanen berpengaruh pada rendemen dan dan kadarkatechin.

Pengolahan adalah sebuah proses mengusahakan tanaman gambir menjadi


bahan setengah jadi untuk dipasarkan dengan tahapan :

A. Perebusan
Daun dan ranting yang sudah dipanen ditumpuk dalam keranjang bambu.
Dalam satu keranjang dapat memuat 5 kilo daun dan ranting yang selanjutnya
dibawa ke dalam rumah pengolahan yang disebut Kampan kemudian direbus
di atas tungku. Adapun susunan peletakkannya yaitu kuali besar diletakkan di
atas api besar, lalu di atas kuali diletakkan tong, setiap 30 menit dibalik supaya
daun dan ranting terebus sempurna dan daun daun yang bertumpahan dengan
cepat dimasukkan ke dalam tong.

Tujuan peletakkan daun terpisah (di dalam tong ) dengan kuali yaitu
untuk mempermudah pada saat pengangkatan daun yang sudah siap direbus
dan pengepakkannya, agar daun hasil rebusan tidak berserakan dan
bertjatuhan kemana-mana.

Metode penggunaan air rebusan yaitu pada tahap awal, 2 jeregen air
mentah dimasukkan dalam perebusan lalu direbus selama 1-1,5 jam. Setelah
proses perebusan tersebut, air yang didapatkan tidak dibuang, melainkan
disimpan dalam jiregen, sehingga untuk perebusan selanjutnya menggunakan
air mentah 1 jiregen ditambah 1 jiregen air sisa perebusan tanaman gambir
sebelumnya. Adapun tujuan pemakaian air sisa rebusan tersebut adalah untuk
memancing lebih banyak getah yang keluar pada saat perebusan selanjutnya,
karena air sisa tersebut masih memiliki kandungan getah gambir. Dalam 1 hari
kerja, bias menghasilkan 5 kali rebusan tanaman gambir.
Setelah perebusan selesai, tinggalah daun dan ranting gambir yang sudah
layu yang disebut dengan ampas. Ampas ini bermanfaat sebagai pupuk untuk
tanaman gambir yang berada di dalam lahan.Ampas, tidak langsung
digunakan, melainkan melalui proses penjemuran dulu dibawah sinar matahari
dengan cara diserakkan, hingga ampas mengering lalu siap dipupukkan.

B. Pengempaan Bahan
Setelah selesai direbus, tanaman gambir diangkat kemudian daun dililit
dengan rajut agar tidak berantakan, diselingi dengan pemukulan mnggunakan
kayu panjang yang disebut Bailotow, tujuannya yaitu agar daun hasil rebusan
memdadat, waktu yang diperlukan adalah sekitar 10-15 menit kemudian
dimasukkan dalam alat kempa untuk dilakukan proses pengempaan.

C. Pengepresan Bahan
Daun gambir yang telah dikempa kemudian diletakkandi antara dua buah
kayu. Kedua kayu tersebut disatukan dengan menggunakan besi yang salah
satu ujungnya berupa kait. Bagian ujung yang lain berupa ulir yang berfungi
sebagai pengunci. Cara kerjanya yaitu dengan cara memutar skrup yang
terletak pada kayu bagian bawah. Dengan demikian kayu pada bagian atas
akan menekan daun sejalan dengan putaran skruppengunci,alat inilah yang
berfungsi untuk pengepresan. Adapun beban yang diletakkan pada bagian atas
alat pengeperss sekitar 30 ton. Dengan pengepres itulah daun gambir
menghasilkan getah yang menetes ke dalam ember di bawah lantai.

D. Pengendapan Bahan
Hasil getah yang telah dipress kemudian disaring dan dimasukkan dalam
wadah kayu (peraku/paraku) lalu diendapkan selama 8 -12 jam atau selama
satu malam hingga mengental.

E. Penyaringan Kedua
Getah hasil pengendapan dimasukkan ke alat penirisan yang terbuat dari
kain yang disebut dengan kain blincung kemudian diikat dan dipres lagi
dengan alat pemberat batu agar getah lebih lebih pekat dan menghilangkan
kandungan atau sisa sisa air dari perebusan di awal sehingga hasil getah
menjadi lebih padat. Air sisa pengolahan ini disebut klincung.. Penirisan
berlangsung hingga 20 jam dan berakhir bila getah gambir tidak mudah pecah
saat dicetak.

F. Pencetakan
Getah gambir yang sudah memadat selanjutnya akan dicetak. Pada
pengamatan kali ini, adapun cetakan yang digunakan adalah bambu
berdiameter 2-3 cm; dan diletakkan diatas nampan berbentuk anyaman yang
disebut selayan. Satu selayan dapat memuat 150 hasil cetakan gambir.

G. Pengeringan
Hasil cetakan berbentuk silinder mirip kue putu, kemudian ditata di atas
rak bambu dan dilakukan pengeringan melalui dua tahap
Pada tahap pertama melalui metode pengasapan, dimana getah padat yang
sudah dicetak diletakkan diatas rumah kampan yang berada tepat di atas area
perebusan daun dan ranting gambir. Tujuannya yaitu, suhu panas dan asap
yang keluar dari tungku pembakaran dapat langsung diterima oleh getah padan
gambir yang berfungsi mempermudah pengeringan gambir.
Pada tahap kedua yaitu, gambir yang sudah melewati tahap pengasapan
dijjemur di bawah terik matahari langsung. Durasi penjemuran selama 2-3 hari
hingga gambir berwarna cokelat kehitaman jika cuaca setiap harinya
mendukung dengan adanya panas matahari yang cukp, namun iika mendung
atau hujan, gambir dapt kering lebih lama , bahkan lebih dari seminggu.. Dari
pengolahan 50 kg daun dan ranting gambir, akan diperoleh 5 kg gambir
kering. Awalnya gambir yang mulai dijemur berwarna kuning, lalu setelah
satu hari penjemuran berubah warna menjadi merah pekat, setelah benar benar
kering, gambir akan berubah warna menjadi coklat pekat. Gambir yang sudah
kering siap untuk di pasarkan.

2.3 Zat kimia yang terdapat pada gambir


Gambir menjadi bahan obat-obatan dan kosmetika karena memiliki
komponen kimia sebagai berikut :
1) Catechin biasanya disebut juga dengan asam catechoat dengan rumus kimia
C15H14O6, tidak berwarna, dan dalam keadaan murni sedikit tidak larut dalam
air dingin tetapi sangat larut dalam air panas, larut dalam alkohol dan etil
asetat, hampir tidak larut dalam koloroform, benzen dan eter;
2) Asam Catechu Tannat merupakan anhidrat dari catechin, dengan rumus kimia
C15H12O5. Apabila catechin dipanaskan pada temperatur 110oC atau dengan
cara memanaskan pada larutan alkali karbonat, ia akan kehilangan satu
molekul air dan berubah menjadi Asam Catechu Tannat yang berupa serbuk
berwarna coklat kemerah-merahan, cepat larut dalam air dingin, alkohol, tidak
berwarna dalam larutan timah hitam asetat;
3) Pyrocatechol merupakan hasil penguraian dari zat lain seperti catechin dengan
rumus molekul C6H6O2, bisa larut dalam air, alkohol, eter, benzen, dan
kloroform. Jika dipanaskan akan membentuk catechol; membentuk warna hijau
dengan FeCl3; membentuk endapan dengan Brom; larutannya dalam air cepat
berwarna coklat; dapat mereduksi perak amoniakal dan Fehling;
4) Gambir Flouresensi merupakan bagian kecil dari gambir dan memberikan
flouresensi yang berwarna hijau, dapat dilihat apabila larutan gambir dalam
alkohol dikocok dengan petrolium eter dalam suasana sedikit basa;
5) Catechu Merah yaitu gambir yang memberikan warna merah;
6) Quersetin adalah suatu zat yang berwarna kuning yang terdapat dalam tumbuh-
tumbuhan dan berupa turunan flavonol dengan rumus molekul C15H10O7,
disebut huga dengan melatin atau supheretin dan larut dalam asam asetat
glasial yang memberikan warna kuning, serta larut dalam air dan alkohol,
memberikan warna hijau dengan Fe3+ dan akan berubah menjadi warna gelap
dengan pemanasan;
7) Fixed Oil merupakan minyak yang sukar menguap;
8) Lilin (malam) terletak pada lapisan permukaan daun gambir. Merupakan
monoester dari suatu asam lemak dan alkohol; dan
9) Alkaloid pada gambir terdapat 7 macam, yaitu dihidro gambir-taninna,
gambirdina, gambirtanina, gambirina, isogambirina, auroparina,
oksogambirtanin.

2.4 Hasil Olahan Gambir


Gambir akan menghasilkan produk yang terdiri atas 2 jenis, yaitu gambir
untuk makan sirih dan bahan baku untuk industri. Perbedaan pengolahan ke dua
jenis adalah pada cara perebusan. Produk untuk makan sirih perebusannya hanya
menggunakan air biasa, sedangkan untuk bahan baku industri menggunakan air
yang dicampur dengan air limbah dari penirisan getah gambir selama proses
penirisan getah berlangsung serta ditambah zat kimia tertentu sebagai suplement.
Oleh karena itu, produk gambir untuk makan sirih kadar katechinnya lebih tinggi
(71%), lebih rapuh, bewarna lebih cerah, dan rasanya lebih enak dibanding gambir
untuk industri. Air limbah penirisan, banyak mengandung asam lemak yang dapat
digunakan sebagai bahan pencelupan tekstil dan penyamakan kulit.

2.5 Manfaat Gambir

Gambir pada umunya yaitu dimanfaatkan untuk:

1) Obat-obatan seperti obat mencret (daunnya), perut mulas, eksema, disentri,


radang gusi (getahnya), radang tenggorokan, demam dan batuk;
2) Antioksidan, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
gambir mempunyai efek sebagai antioksida. Efek antioksidan tersebut
dihubungkan dengan manfaat bagi kesehatan manusia dalam mencegah resiko
penyakit degeneratif seperti kanker, jantung, diabetes, dan menghambat efek
penuaan dini. Antioksidan juga diaplikasikan untuk memperpanjang masa
simpan bahan pangan yang secara alami atau sengaja ditambahkan dalam
produk pangan yang rentan terhadap oksidasi; dan
3) Bahan industri, gambir dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri tekstil,
kosmetik, farmasi dan makanan sebagai bahan antioksidan dan antibakteri pada
gambir yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam memperpanjang
masa simpan produk pangan.
DAFTAR PUSTAKA

Amos, dkk, Teknologi Paska Panen Gambir (BPPT Press: Jakarta,2004) 27-30.

Heyne H. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia III. Badan Penelitian dan


Pengembangan kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta.

Nazir, N. 2000. Gambir : Budidaya, Pengolahan Dan Prospek Diversifikasinya.


Yayasan Hutanku. Padang. 138.

Zulnely dan A.H. Lukman. 1994. Pengaruh Pengukusan dan Perajangan Daun
Gambir (Uncaria gambir ROXB.) terhadap Mutu Ekstrak Gambir. Jurnal
Penelitian HasilHutan. 12 (6): 217-221. Pusat Litbang Teknologi Hasil
Hutan. Bogor