Anda di halaman 1dari 8

ANALISIS VEGETASI DAN ARTHROPODA TANAH

KAWASAN HUTAN ARBORETUM UNIVERSITAS RIAU


Dina aprilla zefira
1505116495
Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA
FKIP Universitas Riau Pekanbaru 28293
E-mail : dina.aprillazefira@student.unri.ac.id

ABSTRAK

Percobaan ini dilaksanakan untuk mengetahui athtropoda tanah dan


vegetasi apa saja yang terdapat di lingkungan Arboretum Universitas Riau.
Percobaan ini dilaksanakan pada tanggal 5-19 Oktober 2017 . Pencuplikan hewan
dilakukan di 16 plot berbeda yang berada di antara transect sepanjang 80 meter
dengan metode pit-fall-trap. Sedangkan untuk vegetasi menggunakan metode
survei yaitu pengumpulan data secara langsung dengan menghitung jumlah tree,
sapling, seedking dan vegetasi dasaryang terdapat di arboretum tersebut.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut diketahui bahwa arthropoda dan vegetasi di
arboretum sangat beragam karena dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan
tersebut.

PENDAHULUAN

Negara Indonesia merupakan negara yang sebagian wilayahnya berupa


hutan. Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang berisi
sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
lingkungannya, yang satu dan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No.41
tahun 1999). Hutan merupakan suatu ekosistem yang di dalamnya terdapat
berbagai komponen dan memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Hal
ini merupakan suatu kekayaan yang tidak ternilai dan mempunyai potensi genetik
yang besar pula. Hutan merupakan gudang plasma nutfah dari berbagai jenis
tumbuhan (flora) dan hewan (fauna) (Tri Retnowati 2011).

Keanekaragaman spesies merupakan karakter komunitas yang penting dan


banyak dibicarakan secara mendalam dari segi konsep maupun teknik aplikasinya
di lapangan. Di dalam habitat alam hidup berbagai jenis hewan yang masing-
masing jenis terdiri atas cacah individu yang antara satu kelompok spesies dengan
spesies lainnya berbeda. Jumlah jenis hewan ini tidak dapat sebagai
keanekaragaman, karena keanekaragaman tidak hanya mempertimbangkan
beberapa jumlah spesies penyusun komunitas, namun juga cacah individu masing-
masing spesies dalam unit komunitas. Dengan demikian keanekaragaman
merupakan kombinasi dari kekayaan spesies dan kemerataan spesies (Anang
2013).

Komunitas tumbuhan atau vegetasi mempunyai peranan penting dalam


ekosistem hutan. Kehadiran vegetasi pada suatu kawasan akan memberikan
dampak positif bagi keseimbangan ekosistem dalam skala lebih luas. Vegetasi
berperan penting dalam ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan
karbodioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia, biologis
tanah dan pengaturan tata air dalam tanah. Secara umum vegetasi memberikan
dampak positif terhadap ekosistem, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung pada
struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada setiap kawasan .

Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan


atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi. Dalam ekologi hutan,
satuan vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang
merupakan asosiasi konkret dari semua spesies tumbuhan yang menempati suatu
habitat. Oleh karena itu, tujuan yang ingin dicapai dalam analisis komunitas
adalah untuk mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu
wilayah yang dipelajari. Untuk suatu kondisi hutan yang luas, maka kegiatan
analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling, artinya kita cukup menempatkan
beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut.

Salah satu cara pencuplikan hewan tanah dapat dikumpulkan dengan


memasang perangkap jebak (pit fall-trap). Pengumpulan hewan permukaan tanah
dengan memasang perangkap jebak juga tergolong pada pengumpulan hewan
tanah secara dinamik.

Perangkap jebak sangat sederhana, yang mana hanya berupa bejana yang
ditanam di tanah. Agar air hujan tidak masuk ke dalam perangkap maka
perangkap diberi atap dan agar air yang mengalir di permukaan tanah tidak masuk
ke dalam perangkap maka perangkap dipasang pada tanah yang datar dan agak
sedikit tinggi. Jarak antar perangkap sebaliknya minimal 5 m (Vivi, 2012).

BAHAN DAN METODE

Praktikum ini dilaksanakan di Arboretum yang berada di samping


Laboratorium PMIPA FKIP Universitas Riau Arboretum Universitas Riau pada
tanggal 5-19 Oktober 2017 Penelitian ini adalah penelitian deskriptif
menggunakan riset survei lapangan untuk vegetasi dan menggunakan metode
dinamis menggunakan pitfall-trap untuk arthropoda tanah.

Untuk mengambil data vegetasi, alat dan bahan yang dibutuhkan adalah
tali pengukur, tali pembatas, dan pancang point sampling. Survey dilakukan di
sepanjang jalur transek dengan ukuran 80 meter, plot dilokasikan di sebelah kiri
dan kanan transek. Data yang harus didapatkan adalah jumlah tumbuhan dengan
tipe pohon, pancang, semai dan vegetasi dasar. Tipe pohon dihitung dalam plot
dengan panjang 10m x 10m, pancang dengan ukuran 5m x 5m dan semai serta
vegetasi dasar dengan ukuran 1m x 1m. Data yang telah didapatkan disertai
dengan nama spesies dari masing-masing tumbuhan.

Gambar 1. Denah penempatan transek dan plot untuk vegetasi

Untuk mengambil data arthropoda tanah alat dan bahan yang dibutuhkan
yaitu pitfall-trap, formalin dan tali untuk mengukur luas plot. Pitfall-trap
digunakan sebagai jebakan untuk menangkap hewan dengan cara ditanamkan ke
dalam tanah dan sama datarnya dengan permukaan tanah. Agar pitfall-trap tidak
rusak maka dapat ditutupi dengan triplek atau daun lebar agar air hujan tidak
masuk ke dalamnya. Sebelum ditanam pitfall-trap berupa gelas plastik diisi dulu
dengan formalin dengan konsentrasi 4% untuk mencegah hewan yang telah
terjebak tidak dapat keluar lagi dari gelas tersebut. Setiap plot ditanamkan 5
jebakan yang disusun silang (seperti X) dengan jarak yang disesuaikan dengan
lokasi. Pitfall-trap didiamkan selama 3 hari kemudian dihitung dan diidentifikasi
hewan yang termasuk arthropoda tanah. Berikut denah plot untuk arthropoda:

Gambar 2. Denah penempatan transek dan plot untuk arthropoda tanah


HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 1. Spesies, tipe dan jumlah vegetasi

N Nama Ilmiah Juml Nama Ilmiah Jum Nama ilmiah Jum


o Pohon ah Sapling lah Seedling lah
Acacia 5 Acacia 39 Aleurites 9
1
denticulosa denticulosa moluccana
Actinodaphne 1 Aleurites 9 Daniella 20
2
cuneata moluccana ensifolia
Alstonia 6 Alstonia 26 Dicranopteris 25
3
scholaris scholaris linearis
Archidendron 3 Artocarpus 5 Dioon 3
4
pauciflorum communis argenthum
Archidendron 2 5 Driopteris filix 5
5 Calamus sp
pauciflorum mas
Artocarpus 1 Eusideroxylon 87 Equisetum 20
6
alitis zwageri palustie
Artocarpus 3 Fagraea 11 Garcinia 1
7
heterophyllus auriculata artroviridis
Artocarpus 3 Garcinia 15 1
8 Licuala grandis
integer artroviridis
Cananga 2 Litsea 2 Litsea 1
9
adorata accedentoides accedentoides
2 Melastoma 28 6
Dioscorea
10 septernemvium Litsea glutinosa
pentaphylla
lor
Dipterocarpus 10 Morinda 24 Lycopodium 27
11
caudiferus citrifolia cernuum
Eusideroxylon 13 Scorodocarpus 1 Matteucia 3
12
zwageri borneensis struthiopteris
Garcinia 1 9 Nepenthes 11
13 Spesies B
artroviridis ampularia
9 Symplocos 8 Persea 1
14 Haririera elata
racemosa americana
Litsea 6 Syzygium 8 Polypodium 24
15
accedentoides oleana vulgarea
3 Syzygium 13 3
16 Spesies X Pteris pitata
polyanthum
1 Syzygium 19 Stenochlaena 12
17 Spesies Y
elliptilimbum palustris
Swietenia 3 9
18 Synox sp
mahagoni
Syzygium 2 Syzygium 4
29
gratum elliptilimbum
Scorodocarpus 2
20 Thelypteris
bornensis
4 Trema 2
21 Shorea resinosa
orientalis
Aquilaria 1
22
malaccensis
23 Pometia pinnata 1

Dari tabel diatas dapat kita simpulkan bahwa banyak sekali jenis-jenis
tumbuhan yang ada di arboretum R. Jadi, vegetasi yang terdapat pada lokasi
pengamatan memiliki tingkat keanekaragaman yang tergolong sedang, dan
terdapat dominansi suatu spesies tertentu dalam vegetasi tersebut. Indeks sedang
pada komunitas Hutan Arboretum Universitas Riau ini menandakan bahwa
vegetasi pada lokasi ini stabil. Hal ini juga menandakan spesies tumbuhan
penyusun vegetasi tersebut memiliki kemampuan adaptasi dan bertahan hidup
yang berbeda-beda. Sehingga terdapat dominansi dari spesies tertentu saja yang
dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang ada pada lokasi pengamatan
tersebut.

Tabel 2. Spesies dan jumlah arthropoda tanah

No Nama Spesies Plot 1 Plot 2 Jumlah


1 Lepisma saccharina 3 6 9
2 Oechophylla smaragdina 7 10 17
3 Selenopsis Westwood. 9 5 14
4 Dolichoderus Thoracicus Smith 1 2 3
5 Araneus diadematus 1 1 2
6 Julus sp 3 1 4
7 Hyposidra talaca 1 1 2
8 Iridomyrmex sp 26 25 51
9 Steatoda grossa 2 3 5
10 Trigoniulus corallinus 1 4 5
11 Scolopendra morsitans 1 3 4
12 Pachydiplosis oryzae - 1 1
13 Gryllus bimaculatus - 1 1
14 Brachinus sp 2 1 3
15 Araneus diadematus - 1 1
16 Isoptera sp 3 5 8
17 Dolichiderus thoracicus 11 13 24
18 Strsctomorpha crenulata 2 - 2

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa di arboretum UR terdapat banyak
sekali jenis arthropoda tanah yang didapatkan di berbagai titik sampel. Hewan
yang paling banyak ditemukan yaitu dari famili semut-semutan seperti :
Oechophylla smaragdina, Iridomyrmex sp dan Selenopsis Westwood. Hal tersebut
terjadi karena semut dapat bersarang di semua tempat seperti di dalam pohon,
serasah maupun di dalam tanag serta cara hidup semut yang selalu berkoloni
sehingga semut banyak terjebak di dalam pitfall-trap.

Secara umum ada beberapa faktor yang menyebabkan kehadiran


organisme dalam suatu mikrohabitat. Faktor pertama adalah adanya predator dan
parasitoidisme. Dalam percobaan ini diketahi hewan-hewan predator serangga
kecil diantaranya adalah Scloropendra sp. Faktor kedua yakni Bahan organik atau
nutrisi. Bahan organik dalam tanah terdiri dari bahan organik kasar dan bahan
organik halus (humus). Humus terdiri dari bahan organik halus berasal dari
hancuran bahan organik kasar serta senyawa-senyawa baru yang dibentuk dari
hancuran bahan organik tersebut melalui kegiatan mikroorganisme di dalam
tanah.

Humus merupakan senyawa yang resisten (tidak mudah hancur) berwarna


hitam atau coklat dan mempunyai daya menahan air dan unsur hara yang tinggi.
Tingginya daya menahan (menyimpan) unsur hara adalah akibat tingginya
kapasitas tukar kation dari humus, karena humus mempunyai beberapa gugus
aktif terutama gugus karboksil. Faktor selanjutnya adalah mikrohabitat yang
mendukung.

Dari kedua tabel tersebut dapat kita simpulkan bahwa kedua subjek
memiliki keterkaitan. Semakin banyak variasi vegetasi yang ada dalam suatu
tempat maka semakin bervariasi pula jenis arthropoda yang ada didalamnya. Hal
ini disebabkan karena vegetasi merupakan sumber makanan untuk hewan.
Semakin banyak jenis makanan/produsen maka semakin banyak pula hewan yang
dapat beradaptasi dengan makanan maupun tempat tersebut.

KESIMPULAN

Semakin banyak variasi vegetasi yang ada dalam suatu tempat maka
semakin bervariasi pula jenis arthropoda yang ada didalamnya. Hal ini disebabkan
karena vegetasi merupakan sumber makanan untuk hewan. Semakin banyak jenis
makanan/produsen maka semakin banyak pula hewan yang dapat beradaptasi
dengan makanan maupun tempat tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anang Aria. 2013. Laporan Praktikum Ekologi Hewan Keanekaragaman Fauna


Tanah Dengan Metode Light Trap di Area Wisata Taman Alam Bukit
Tangkiling. Online :

Campbell, dkk. 2008. Biologi Jilid III. Erlangga : Jakarta


Vivi Devi. 2012. Pengukuran Faktor Fisika Kimia Tanah dan Pencuplikan Hewan
Tanah. Online : http://dhevhy4ever.blogspot.co.id/2012/04/pengukuran-
faktor-fisika-kimia-tanah.html. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2017
Suwondo et al. Praktikum Praktikum Ekologi 2017. Pekanbaru: FKIP Biologi
Tri Retnowati. 2011. Studi Di Hutan Rakyat sebagai Alternatif Sumber Belajar
Biologi pada Pokok Bahasan Keanekaragaman Hayati. Skripsi UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta. Skripsi Dipublikasikan.
Odum, E.P. 1993. Dasar-dasar Ekologi. Edisi ke 3. Gadjah Mda University Press.
Yogyakarta
LAMPIRAN

Tabel Spesies dan Jumlah Arthropoda Tanah

No Nama Spesies plot 1 plot 2 jumlah

1 Lepisma saccharina 3 6 9

2 Oechophylla smaragdina 7 10 17

3 Selenopsis Westwood 9 5 14

4 Dolichoderus Thoracicus Smith 1 2 3

5 Araneus diadematus 1 1 2

6 Julus sp 3 1 4

7 Hyposidra talaca 1 1 2

8 Iridomyrmex sp 26 25 51

9 Steatoda grossa 2 3 5

10 Trigoniulus corallinus 1 4 5

11 Scolopendra morsitans 1 3 4

12 Pachydiplosis oryzae - 1 1

13 Gryllus bimaculatus - 1 1

14 Brachinus sp 2 1 3

15 Araneus diadematus - 1 1

16 Isoptera sp 3 5 8

17 Dolichiderus thoracicus 11 13 24

18 Strsctomorpha crenulata 2 - 2