Anda di halaman 1dari 6

PORTOFOLIO KEP

1. Subyektif :

Pasien anak dengan keluhan (aloanamnesa dengan ibu pasien):

- Anak terlihat kurus


- Anak sebelumnya hanya baru sekali dibawa ke posyandu 1 bulan yang lalu dengan
hasil penimbangan berat badan 4,2 kg dan pengukuran tinggi badan 63 cm.
- Anak agak malas makan, riwayat makanan : pemberian ASI saja sampai 4 bulan.
Sejak usia 4 bulan pasien mulai diberi sari buah, seperti sari jeruk atau pisang.
Kemudian anak mulai diberikan bubur sejak usia 6 bulan dan nasi tim sejak 8 bulan.
- Anak mudah sakit, rewel, batuk pilek dan sering demam
- Riwayat keluar cacing dari anus tidak ada
- Riwayat kehamilan : selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat, tidak
merokok, tidak ada mengkonsumsi obat-obatan, kontrol tidak teratur ke bidan
- Riwayat kelahiran : lahir normal ditolong bidan, lewat bulan, berat badan lahir 2900
gram, ketuban hijau, tidak langsung menangis, anak terlihat membiru
- Riwayat penyakit dahulu :
o Anak mengalami asfiksia pada saat lahir, dan dirawat di rumah sakit.
o Anak didiagnosa mengalami kelainan jantung sejak kecil
o Anak sering mengalami demam dan batuk sejak kecil

2. Objektif :
Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan :
 Gejala klinis (anak terlihat kurus)
 Pemeriksaan fisik :

o BB : 4,7 kg
o PB : 63 cm
o LILA : 9 cm
o Lingkar kepala : 39 cm
Pertumbuhan menurut CDC :
o BB/U = 47%
o TB/U = 85,13%
o BB/TB = 62,68 %
3. Assesment (Penalaran Klinis) :
Kurang Energi Protein (KEP) adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan
energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG),
dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut
malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi, yang pada
umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan serta rendahnya pengetahuan
dibidang gizi. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan
karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan
pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan
nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan nutrisi.
Faktor penyebab terjadinya KEP pada anak bersifat multifaktorial. Persatuan Ahli
Gizi Indonesia (Persagi) pada tahun 1999, telah merumuskan faktor-faktor yang
menyebabkan gizi kurang.

GIZI KURANG

Asupan Makanan Penyakit Infeksi Penyebab


langsung

Faktor Penyebab Gizi Kurang Berdasarkan Persagi


Persediaan Perawatan Pelayanan Penyebab
makanan di anak dan ibu kesehatan tidak langsung
rumah hamil

Kemiskinan, Pokok Masalah


Kurang Pendidikan ,
Kurang Keterampilan

Krisis Ekonomi Akar Masalah


Langsung
Klasifikasi KEP :
1. Derajat ringan (gizi kurang)
2. Derajat berat (gizi buruk), dengan 3 bentuk klinis :
a. Kwashiorkor
Ditandai dengan : edema yang dapat terjadi di seluruh tubuh, wajah sembab dan
membulat, mata sayu, rambut tipis, kemerahan seperti rambut jagung, mudah
dicabut dan rontok, cengeng, rewel dan apatis, pembesaran hati, otot mengecil
(hipotrofi), bercak merah kecoklatan di kulit dan mudah terkelupas (crazy pavement
dermatosis), sering disertai penyakit infeksi terutama diare dan anemia.
b. Marasmus
Ditandai dengan : sangat kurus, tampak tulang terbungkus kulit, wajah seperti orang
tua, cengeng dan rewel, kulit keriput, jaringan lemak subkutan minimal/tidak ada,
perut dapat kembung atau datar, gambaran usus dapat dengan mudah dilihat, sering
disertai penyakit infeksi dan diare.
c. Marasmik kwarshiorkor
Campuran gejala klinis kwashiorkor dan marasmus.
TIMBANG ANAK
Mekanisme Monitoring Pertumbuhan Anak.

ISI KMS

Bila BB/U >60% Bila BB/U <60%


atau >-3 SD <-2 SD Atau < -3 SD

ANAK : BB KURANG TENTUKAN STATUS GIZI DENGAN BB/TB-PB


(kecuali ada edemagizi buruk

BILA BB/TB-PB ≥70% BILA BB/TB-PB ≤70%


median NCHS median NCHS
atau ≥ -3 SD Z score atau ≤ -3 SD Z score

ANAK : KURUS ANAK : GIZI BURUK


Atau (sangat kurus)
GIZI KURANG
Alur Pelayanan Anak Gizi Buruk di Rumah Sakit/Puskesmas Perawatan

RAWAT INAP
ANAK Penerapan 10
Datang Sendiri Gizi Buruk langkah dan 5
Dirujuk Penyakit kondisi P
MTBS Berat/Ringan Tatalaksanan P U
NON MTBS Anak U S
POSYANDU/
L K
Pos Pemulihan
A E
Gizi (PPG)
N S
RAWAT INAP G M
Obati Penyakit A
YANKES RUJUKAN
Penambahan S
Periksa klinis dan Penyakit
antropometri Berat Energi dan
Berat Badan dan Gizi Kurang Protein 20-25% di RUMAH
Tinggi Badan atas AKG (Angka TANGGA
Kecukupan Gizi)
4. Plan :
Diagnosis : Kurang Energi Protein Sedang + susp. Ventrikel Septal Defect
Rekomendasi solusi sesuai dengan masalah kesehatan keluarga melalui pendekatan
RAWAT JALAN
komprehensif dan holistik Obati Penyakit
Penyakit Penambahan
 Preventif Ringan Energi dan
 Makan makanan Gizi dengan
Kurang gizi seimbang dan di bervariasai sesuai kemampuan
Protein 20-25%
atas AKG (Angka
keluarga, termasuk pemberian sayur-sayuran dan buah-buahan.
Kecukupan Gizi)
 Memberikan makanan anak dalam porsi kecil tetapi sering, dan bervariasi agar
menarik minat anak untuk makan.
 Mengkonsumsi makanan tambahan yang bisa didapatkan dari puskesmas.
 Memantau tumbuh kembang anak secara rutin di posyandu
 Memberikan perhatian dan kasih sayang lebih kepada anak
 Promotif
 Menjelaskan kepada orang tua pasien bahwa anak pasien mengalami gizi kurang
karena dilihat dari berat badan anak yang tidak sesuai dengan umurnya. Hal ini
bisa disebabkan oleh asupan makanan bergizi seimbang yang kurang.
 Menjelaskan bahwa gizi seimbang diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan anak. Jika anak mengalami gizi yang kurang dapat menyebabkan
anak mengalami keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, dan anak pun
akan rentan mendapatkan penyakit terutama penyakit infeksi. Untuk itu, anak perlu
mendapatkan makanan sesuai dengan anjuran makan untuk anak sehat maupun
sakit sesuai umur
Bahan makanan yang dianjurkan :
 Semua sumber karbohidrat seperti nasi, nasi tim, bubur, roti, jagung, kentang,
sereal, dan singkong.
 Sumber protein hewani seperti daging, ayam, telur, ikan, kerang, udang.
 Sumber protein nabati seperti tempe, tahu, oncom, kacang-kacangan (hijau,
merah, kedelai) dan jamur
 Sayur-sayuran yang berwarna hijau dan merah seperti kangkung, bayam, wortel,
kembang kol, sawi, selada.
 Buah-buahan sebagai sumber vitamin A dan C seperti jeruk, apel, pepaya,
melon, semangka, belimbing.
 Susu, yogurt, susu kacang, keju, mayonnaise.
Bahan makanan yang dihindari :
 Makanan yang tidak bersih karena dapat menyebabkan diare.
Bahan makanan yang dibatasi :
 Makanan yang digoreng seperti kerupuk, kacang, kripik, karena menyebabkan
anak cepat kenyang sehingga susah untuk makan makanan utama.
 Menjelaskan peran makanan tambahan yang diberikan oleh posyandu bagi anak,
dan bahwa makanan tersebut dapat diperoleh di posyandu atau puskesmas secara
gratis.
 Memberikan edukasi kepada orang tua bahwa diperlukan kesabaran dalam
membujuk anak agar mau makan. Anak tidak boleh dipaksa, tapi dapat disiasati
cara pemberian makan anak, misalnya memberikan makan anak sambil mengajak
anak bermain.
 Untuk anak dibawah 1 tahun, konsistensi makanan diberikan secara bertahap,
dimulai dari anak 6 bulan.
 Menjelaskan bahwa pemberian imunisasi lengkap sangat penting bagi anak, karena
imunisasi berperan membentuk kekebalan tubuh anak dari beberapa penyakit
tertentu.
 Menjelaskan pentingnya pemantauan berat badan dan tinggi badan untuk
mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga perlu datang ke
posyandu secara teratur.
 Kuratif
 Penanggulangan balita gizi kurang dilakukan dengan pemberian makanan
tambahan (PMT), sedangkan balita gizi buruk harus mendapatkan perawatan sesuai
Tatalaksana Gizi Buruk yang ada.
 Mengobati penyakit infeksi yang diderita anak
 Rujukan ke dokter spesialis anak
 Rehabilitatif
 Memberikan gizi seimbang pada anak
 Kontrol berat badan teratur