Anda di halaman 1dari 3

WOMEN MARCH DAN INGATAN – INGATAN PADA IBU SAYA

Pesan itu masih hangat, sekira dua pekan lalu. Melalui jejaring WA, pesannya singkat, padat, dan jelas. “
Mam, sibuk? Ikut Women March di Serang yuk, nanti 4 Maret.”

Untuk pertama kalinya, Women March memang akan dihelat di Kota Santri (julukan Kota Serang) itu.
Saya memang bukan penduduk asli Serang, tapi julukan Kota Santri itu mengingatkan saya pada julukan
lama tempat kelahiran saya, Pekalongan. Dan Women March, mau tidak mau mengingatkan pada sosok
perempuan satu – satunya di keluarga saya, yaitu Ibu.

Dengan komposisi 5 bersaudara yang semuanya laki - laki, ditambah ayah, yang juga laki - laki, maka Ibu
adalah pendidikan pertama Saya pada sosok “Liyan”. Dalam gagasan Lacan, mungkin tahapan ini yang
disebut dengan le stade du miroir.

Ibu saya orang yang sederhana dalam arti yang sebenar – benarnya. Menurut cerita Bapak, dulu mereka
ketemu saat Ibu sedang manggung di sekolah Bapak. Maklum Ibu saya konon katanya biduan Qosidah
yang cukup popular di masanya.

Kita tentu masih ingat, di penghujung tahun 2017 lalu, jagat maya sempat digemparkan oleh tagar
#kampretyangdurhaka. Frasa itu sebenarnya dari lagu yang berjudul “Wajah Ayu Untuk Siapa”. Liriknya
kira – kira begini.

Tiap hari Kurawat wajah nan ayu


Untuk suami yang beriman bertaqwa
Tidak akan kuserahkan
Pada kampret yang durhaka

Anak – anak Zaman Now tentu akan sangat asing dengan lagu ini. Di masanya, lagu – lagu semacam
inilah yang dilantunkan Ibu, dari panggung ke panggung.

Ibu saya tentu tidak secerdas wanita – wanita masa kini. Seandainya ada salah satu anaknya yang
perempuan, mungkin Ibu akan pula menerapkan aturan – aturan bagi anak perempuannya, terutama
dalam berpakaian, dan pergaulan.

Seperti pada suatu kali, ada seorang kawan wanita adik saya yang sering main ke rumah dan sudah
lewat tengah malam, ibu lalu menegur dan menyuruhnya pulang. Kata ibu waktu itu, “Wanita kok
begitu, kan nggak macem.”

Ingin sekali saya bilang ke ibu, bahwa hal seperti itu tidak perlu dilarang. Wanita kan sama saja seperti
laki - laki, harus punya kebebasan untuk main, dengan siapapun, sampai jam berapapun.

Ingin sekali rasanya saya bilang ke Ibu, bahwa di dunia ini wanita sungguh perlu pembelaan. Bahwa
perempuan, selama ini sering dijadikan objek pemuasan pandangan laki - laki semata. Korban Objek
Male Gazing, kalau kata mba Rika Nova.
Kebetulan sekali, akhir – akhir ini cukup sering juga bahasan tentang seks dan feminisme muncul di
voxpop.id. Dan alangkah inginnya saya tunjukkan ke Ibu saya bahwa bacaan – bacaan ini sungguh
mencerahkan. Bahwa bahasan ini sungguh mencerahkan untuk Ibu yang sudah seperti kaum SJW, kalau
kata mas Aggi Dilimanto.

Tapi, Ibu saya Cuma wanita biasa saja. Pemahamannya tentang pakaian perempuan adalah doktrin dari
lirik – lirik Qosidah dalam lagu Wanita dan Kecantikan.

Asalkan tiada merangsang


Juga tiada berlebihan
Karena itu dilarang
Itu yang diharamkan

Kalau sudah ketemu teman – teman Feminis, Ibu pasti akan diprotes habis – habisan. “Memangnya apa
definisi merangsang dan berlebihan itu coba?” begitu mungkin mereka akan bertanya.

Saya kok haqul yaqin, bahwa Ibu tidak akan menjawab dengan jawaban teoritis ndakik ala akademisi
atau bahasa heroik ala aktivis. Apalagi harus menanggapi gagasan Male Gaze yang canggih itu.

Ketika gagasan itu diperkenalkan pertama kali oleh Laura Mulvey tahun 1973, Ibu masih seorang gadis
muda bak buah mangga ranum. Seandainya Ibu tau tentang “Visual Pleasure and Narrative Cinema”
milik Mulvey ini, mungkin malah akan dijadikan dalil kewajiban berpakaian tertutup.

Ibu sepertinya sadar secara penuh bahwa di dunia yang Patriarkal ini para lelaki hampir selalu
menyimpan hasrat untuk melihat kepada perempuan (Scopophilia). Itulah mengapa pembuat film
dengan cerdik dan licik mengekploitasi kesadaran ini untuk keuntungan maksimal.

Jadi, alih – alih menantang dunia dengan menerapkan pola pikir kebebasan berpakaian bagi dirinya, ibu
lebih emilih kesimpulan lain. Yakni, bahwa bagian – bagian tubuh perempuan itu cenderung menjadi
objek Male Gaze, maka itu harus disembunyikan.

Ibu sepertinya faham betul analogi Ayu Utami bahwa laki – laki cenderung dukuasai oleh Moluska Anjing
Gila. Dan ibu mungkin berpikir, bahwa memamerkan tulang didepan Anjing sambil berkata,“Jangan
makan tulang ini”, adalah hal yang kurang bijak untuk dilakukan.

Kita tentu saja akrab dengan kalimat,”Kadang Iman sih kuat melihat yang begituan, tapi masalahnya
Imronnya nggak suka nggak kuat.” Imron inilah yang kemudian dikenal dengan nama lain yaitu Kampret
Yang durhaka.

Dan memamerkan mangga Ranum pada seekor Kampret Yang Durhaka, sambil berkata,”Jangan makan
mangga itu!,” pada si Kampret adalah tindakan yang sia – sia.

Maka Ibu memilih menyembunyikannya. Menutup tulang berharganya rapat - rapat. Menyimpan
Mangga ranumnya dengan baik. Untuk diberikan pada Anjing dan Kampret yang tepat tentu saja.

Ketika kawan saya memberi tahukan tentang Women March ini, saya jadi ragu untuk menceritakannya
pada Ibu. Tapi mungkin akan lain ceritanya jika yang mendengar kabar adalah Aktivis Feminis Aktif
macam mba Rika Nova, mba Dea Safira Basori, dan mba Dewi Setyaningsih. Atau para Feminist Ally
macam mas Aggi Dilimanto dan mas Ruby Astari sang Penjawab Pertanyaan Keperawanan.

Minimal akan muncul hasrat buat ngepoin acaranya kan, atau bahkan langsung akan hadir. Ini tentu
akan sangat baik untuk kesejatian jiwa feminism teman – teman semua.

Imam B. Carito
Freelance Volunteer di beberapa Komunitas Buku Cilegon. Suka menulis, membaca dan mendaki (dulu).
Dapat disapa di @imam_chart.