Anda di halaman 1dari 3

Selamat Tinggal Sahabat

Tema: Persahabatan

Judul:Selamat Tinggal Sahabat

Pemeran:

1. Kumala
2. Yusril
3. Odi
4. Bu Yulianti

SINOPSIS DRAMA PENDEK


Kumala, seorang gadis yang tinggal bersama ibunya, Bu Yulianti di sebuah rumah di tengah
kota. Kumala menjalin persahabatan dengan Yusrildan Odi. Yusril, Kumala, dan Odi saling
bersahabat. Meskipun begitu, Yusril dan Kumala lebih dekat karena mereka sudah bersahabat
sejak kecil. Sedangkan Odi bersahabat dengan Yusril dan Kumala baru dua tahun yang lalu atau
tepatnya saat kelas satu SMA.Namun, suatu hari terjadi sesuatu yang membuat persahabatan
mereka berjauhan bahkan terpisah karena kematian Kumala yang tiba-tiba.

Baca Juga: Contoh Teks drama singkat tentang persahabatan dan pendidikan

CONTOH DIALOG DRAMA PENDEK


Pada hari itu Kumala tidak masuk sekolah. Di kelas, sudah ada Yusril dan Odi.
Yusril : “Eh, Kumala kemana ya? Kok dia nggak masuk sekolah?”
Odi : “Aku nggak tau. Tapi kan nggak biasanya Kumala nggak masuk. Jangan-jangan Kumala
kenapa-napa lagi? “
Yusril : “Pulang sekolah ntar kita jenguk Kumala di rumahnya.”
Odi : “Tunggu dulu. Hari ini ada ekskul Karate. Jadi kita pulangnya jam setengah
empat.”
Yusril : ‘Oh iya, kalau begitu nanti saja setelah ekskul Karate selesai, kita baru ke
rumah Kumala.”
Odi : OK! Siap.

Sepulang sekolah, Yusril dan Odi pun mengikuti ekskul Karate. Jam setengah empat ekskul
selesai dan mereka segera ke tempat parkir kenderaan untuk pulang. Namun di tengah perjalanan
ke tempat parkir, mereka melihat sesosok gadis yang membelakangi mereka sedang berdiri di
pinggir lapangan sekolah.

Odi : “Dia siapa ya?”


Yusril : “Murid pindahan mungkin.”
Odi : “Kalau dia murid pindahan, kenapa dia ada di sekolah saat jam ekskul basket?
Yusril : “Tau. Kita samperin yuk!”
Odi : “Bentar-bentar...”

Tiba-tiba handphone Odi berdering.

Odi : “Duh, Yusril. sepertinya aku nggak bisa ikut jenguk Kumala. Soalnya kakakku
SMS, katanya dia mau ke bandara jemput temannya yang datang dari luar kota. Aku disuruh
menemani adikku dirumah. Maaf ya. Sampaikan salamku untuk Kumala ya.”
Yusril : “Ya sudah deh. Nggak apa-apa kok.”
Odi : “Kalau gitu, aku pergi dulu ya...”
Yusril : “Ya. Hati-hati di jalan.”

Yusrillalu menghampiri gadis yang ada di pinggir lapangan tersebut untuk menjawab rasa
penasarannya. Ia merasa gadis itu mirip dengan perawakan yang dimiliki Kumala.

Yusril : “Kumala!”

Gadis itu berbalik dan ternyata benar memang Kumala.


Kumala:“Yusril?”
Yusril : “Kamu kok nggak masuk sekolah? Terus kenapa kamu jam segini di sekolah?’
Kumala : (Menggenggam secarik kertas) “Aku datang kesini karena aku mau kasih tahu sesuatu
ke kamu.”
Yusril : “Kasih tahu apa?”
Kumala : “Aku mau ngucapin terima kasih karena selama ini kamu sudah baik banget sama aku.
Kamu sudah mau jadi sahabat aku, pengertian sama aku, dan aku juga minta maaf kalau aku
punya salah sama kamu.”
Yusril : ‘Kamu kenapa La? Kenapa kamu ngomong begitu? Apa yang kamu sembunyiin dari
aku?”
Kumala: “Aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan untuk ngebalas kebaikanmu di sisa-sisa
waktuku ini.”
Yusril : “Sisa-sisa waktu? Maksudnya? Memangnya kamu mau kemana La?”
Kumala : “Kamu tahu kan kalau kepala aku itu sering sakit?”
Yusril : “Iya. Terus kenapa memangnya?”
Kumala : “Karena aku sudah nggak tahan sakitnya, kemarin aku periksa ke dokter, terus saat itu
juga dokter menyuruhku untuk dironsen, dan tadi pagi aku ambil hasil ronsennya.”
Yusril : “Terus, bagaimana hasil ronsennya?”

Kumala tak menjawab pertanyaan Yusril. Langsung saja Yusril merebut secarik kertas yang
sedari tadi digenggam oleh Kumala.

Yusril : “Apa? Ini nggak mungkin. Saudari Kumala Salsabila Putri positif mengidap kanker
otak? Kamu bohong kan La?”
Kumala : “Kamu bisa lihat sendiri kan Yusril. Itu semua bukan rekayasa. Hidup aku sebentar
lagi berakhir. Sebentar lagi aku akan ninggalin kamu untuk selama lamanya. Harapan hidup aku
sudah kecil banget.”
Yusril : “Nggak, kamu nggak boleh bilang begitu, kita nggak boleh pisah, nggak boleh.”
Kumala : “Tapi Yusril, setiap ada pertemuan, di situ juga pasti ada perpisahan.”
Yusril : “Nggak, aku nggak mau La. Aku nggak mau pisah sama kamu.”

Tiba tiba Kumala merintih kesakitan sambil memegangi kepalanya. Lalu kemudian pingsan.

Kumala : “Kepalaku sakit Yusril.”


Yusril : “Kumala, kamu kenapa?”

Kumala tiba-tiba pingsan.


Yusril : “La bangun La! Bangun! Ya Tuhan, Kumala kenapa? Tolong… tolong…”

Kumala pun segera dibawa ke rumah sakit. Kemudian, Kumala segera ditangani oleh Dokter.
Yusril pun menelfon ibu Kumala, Bu Yulianti agar segera datang melihat keadaan Kumala.

Yusril : “Hallo Bu Yulianti...”


Bu Yulianti : “Hallo. Ada apa Yusril?”
Yusril : Ibu bisa datang ke rumah sakit Sehat Sejahtera, tidak bu?”
Bu Yulianti: Memangnya ada apa nak?”
Yusril : “Kumala pingsan bu. Dan saat ini ada di rumah sakit.”
Bu Yulianti: “Iya. Ibu secepatnya kesana. Terima kasih ya sudah memberi tahu.”
Yusril : “Iya bu. Sama-sama.”

Tak berapa lama kemudian, Bu Yulianti pun datang. Setelah satu jam menunggu, akhirnya
Dokter pun telah selesai memeriksa keadaan Kumala. Namun, Dokter terlihat tidak bahagia.
Bu Yulianti : “Dokter, bagaimana keadaan Kumala?”
Dokter : “Sebelumnya saya minta maaf yang sebesar besarnya, saya sudah bekerja dengan
semaksimal mungkin, tapi saya bukanlah Tuhan yang bisa mengubah jalan hidup seseorang.
Maaf, anak ibu tidak bisa di selamatkan. Kondisinya sudah sangat kritis, dan sel kanker tersebut
telah menyebar keseluruh tubuhnya.”
Bu Yulianti : “Maksud Dokter, Kumala sudah meninggal?”
Dokter : “Saya sudah berusaha bu. Ini sudah takdir.”
Bu Yulianti : “Kumala, ini tidak mungkin. tidak mungkin.”

Dokter pun pergi meninggalkan Yusril dan Bu Yulianti. Yusril pun menghampiri Bu Yulianti
yang sedang meratapi kepergian Kumala.

Yusril : “Ibu yang sabar ya bu. Saya yakin di balik semua ini pasti ada hikmah yang bisa
dipetik.”
Bu Yulianti : “Terima kasih selama ini kamu sudah menjadi sahabat terbaik Kumala.”
Yusril : “Sudah bu, saya juga sedih karena kepergian Kumala. Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Dan semua itu sudah tisak bisa kembali.”
Bu Yulianti : “Ya, kamu benar. Semoga saja Kumala tenang disisi-Nya.”
Yusril : “Amin…”

Keesokan harinya, jenazah Kumala sudah sampai di pemakaman.

Odi : “Yusril! (berlari dengan terengah-engah) Aku sudah dengar dari teman-teman kalau
Kumala meninggal karena kanker otak.”
Yusril : “Iya. Hari ini dia akan dimakamkan.”
Odi : “Kalau begitu, ayo kita ke pemakaman Kumala. Aku ingin melihat Kumala meski untuk
yang terakhir kalinya.”
Yusril : “Ya.” (bergegas menuju pemakaman)

Sesampai di pemakaman, Yusril dan Odi melihat Bu Yulianti yang berlinang air mata.

Yusril : “Kumala, kenapa kamu cepet banget tinggalin aku? Aku nggak mau pisah sama kamu.
Odi : “Sudahlah Yusril, kita harus relakan kepergian Kumala. Ini semua sudah takdir Tuhan.”
Yusril menangis sambil memandangi batu nisan Kumala.
Yusril : “Kumala, kenapa kamu pergi sebelum aku bisa bikin kamu bahagia. Asal kamu tahu La,
di hatiku nggak ada sahabat sebaik kamu. Kamu itu sahabat sejatiku yang selalu bisa
menemaniku dalam suka ataupun duka. La, semoga kamu tenang di alam sana. Aku harap, kamu
nggak akan lupakan aku dan Odi, karena kami juga nggak akan pernah lupakan kamu. Selamat
jalan ya sobat!”

Keduanya beranjak pergi meninggalkan rumah abadi milik sahabatnya dengan hati yang amat
sedih.