Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Balita (bawah lima tahun) merupakan masa yang sangat penting dalam pertumbuhan
dan perkembangan anak. Masa balita disebut juga dengan golden period (masa keemasan).
Perawatan dan pengasuhan balita masih menjadi masalah yang serius, karena pada usia itulah
perkembangan anak selanjutnya, baik fisik maupun mental, ditentukan. Anak balita
merupakan salah satu populasi paling beresiko untuk terkena berbagai macam gangguan
kesehatan. Jika perawatan dan pengasuhan anak tidak baik, maka anak rentan sakit dan dapat
meningkatkan kematian. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2007, Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 44/10.000 kelahiran hidup.
Cara-cara merawat dan mengasuh anak yang benar memerlukan pengetahuan dan
keterampilan yang tidak hadir secara alamiah berdasarkan intuisi saja. Sementara realitas di
lapangan menunjukkan bahwa masih banyak ibu-ibu balita yang belum menyadari dan
memahami benar pentingnya perawatan dan pengasuhan anak yang benar.
Perawatan dan pengasuhan tidak benar pada anak juga akan menyebabkan
penyimpangan tumbuh kembang pada anak. Jika penyimpangan ini dapat terdeteksi dini,
dilakukan intervensi dini untuk mengatasinya sehingga tumbuh kembang anak selanjut dapat
berjalan senormal mungkin. Jika penyimpangan ini tidak terdeteksi dini, maka penyimpangan
tersebut akan berlanjut dan akan semakin parah.
Dalam upaya meningkatkan kualitas perawatan dan pengasuhan bayi serta
menghindari penyimpangan tumbuh kemang pada balita itulah program kelas ibu-balita
dilaksanakan. Kelas Ibu Balita merupakan suatu aktifitas belajar kelompok dalam kelas
dengan anggota beberapa ibu yang mempunyai anak balita (usia 0-5 tahun) dibawah
bimbingan satu atau beberapa fasilitator (pengajar). Setelah mengikuti program kelas ibu-
balita, para ibu diharapkan mengalami perubahan perilaku yang signifikan dan selanjutnya
terjadi penurunan angka kematian bayi akibat kesalahan dalam perawatan dan pengasuhan
serta peningkatan kualitas tumbuh kembang anak.

1.2.Tujuan Kelas Ibu-Balita

1
1. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, merubah sikap dan perilaku ibu tentang
kesehatan balita, gizi dan stimulasi pertumbuhan & perkembangan anak.
2. Menilai pertumbuhan dan perkembangan balita dan melakukan intervensi dini jika
ada penyimpangan tumbuh kembang pada balita

1.3.Manfaat Kelas Ibu-Balita


1. Bagi ibu, kelas ibu balita merupakan sarana untuk mendapatkan teman,bertanya, dan
memperoleh informasi penting yang harus dipraktekkan.
2. Bagi balita, kelas ibu balita akan dapat meningkatkan kesehatan dan akan
mengoptimalkan tumbuh kembang balita.
3. Bagi petugas kesehatan, penyelenggaraan kelas ibu balita merupakan media untuk
lebih mengetahui tentang kesehatan ibu balita, anak dan keluarganya serta dapat
menjalin hubungan yang lebih erat dengan ibu balita serta keluarganya dan
masyarakat.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Pengertian Tumbuh Kembang

Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda,


tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Sedangkan pengertian mengenai apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan perkembangan
per definisi adalah sebagai berikut :

1. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah,


ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan
ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan
keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
2. Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur
dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan,
sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi
dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan system organ yang berkembang
sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga
perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksinya dengan
lingkungan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek


fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ/individu.
Walaupun demikian, kedua peristiwa itu terjadi secara sinkron pada setiap individu.
Untuk tercapainya tumbuh kembang yang optimal tergantung pada potensi
biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik seseorang, merupakan hasil interaksi
berbagai faktor yang saling berkaitan, yaitu faktor genetic, lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial
dan perilaku. Proses yang unik dan hasil akhir yang berbeda-beda yang memberikan ciri
tersendiri pada setiap anak.

Kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum digolongkan menjadi 3
kebutuhan dasar, yaitu :

1. Kebutuhan fisik-biomedis (“ASUH)


Meliputi :
3
 Pangan/gizi merupakan kebutuhan terpenting
 Perawatan kesehatan dasar, antara lain imunisasi, pemberian ASI,
penimbangan bayi/anak yang teratur, pengobatan kalau sakit, dll
 Papan/pemukiman yang layak
 Higiene perorangan, sanitasi lingkungan
 Sandang
 Kesegaran jasmani, rekreasi, dll
2. Kebutuhan emosi/kasih sayang (“ASIH)
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara
ibu dengan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang
selaras baik fisik, mental maupun psikososial. Berperannya dan kehadiran ibu akan
menjalin rasa aman bagi bayinya. Ini diwujudkan dengan kontak fisik dan psikis
sedini mungkin, misalnya dengan menyusui bayi segera setelah lahir. Kekurangan
kasih sayang ibu pada tahun-tahun pertama kehidupan mempunyai dampak negatif
pada tumbuh kembang anak baik fisik, mental maupun social emosi, yang disebut
“Sindrom Deprivasi Maternal”.
Kasih sayang dari orang tuanya akan menciptakan ikatan yang erat (bonding) dan
kepercayaan dasar (basic trust).
3. Kebutuhan akan stimulasi mental (“ASAH)
Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan
pelatihan) pada anak. Stimulasi mental (ASAH) ini mengembangkan perkembangan
mental psikososial: kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, agama,
kepribadian, moral-etika, produktivitas dan sebagainya.

2.2.Tahap-tahap Tumbuh Kembang Anak

Walaupun terdapat variasi yang besar, akan tetapi setiap anak akan melalui suatu
“milestone” yang merupakan tahapan dari tumbuh kembangnya dan tiap-tiap tahap
mempunyai ciri tersendiri. Dari kepustakaan terdapat berbagai pendapat mengenai pembagian
tahap-tahap tumbuh kembang ini, salah satunya berdasarkan Hasil Rapat Kerja UKK Pediatri
Sosial di Jakarta, Oktober 1986, yaitu :

1. Masa pranatal
a. Masa mudigah/embrio : konsepsi - 8 minggu
b. Masa janin/fetus : 9 minggu - lahir
2. Masa bayi : usia 0-1 tahun
a. Masa neonatal : usia 0-28 hari
 Masa neonatal dini : 0-7 hari

4
 Masa neonatal lanjut : 8-28 hari
b. Masa pasca neonatal : 29 hari – 1 tahun
3. Masa pra-sekolah : 1-6 tahun
4. Masa sekolah : usia 6-18/20 tahun
a. Masa pra-remaja : usia 6-10 tahun
b. Masa remaja :
 Masa remaja dini
o Wanita, usia 8-13 tahun
o Pria, usia 10-15 tahun
 Masa remaja lanjut
o Wanita, usia 13-18 tahun
o Pria, usia 15-20 tahun

2.3.Perkembangan Anak Balita

Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita karena masa ini
merupakan pertumbuhan dasar yang akan mempengaruhi dan menentukan perkembangan
anak selanjutnya. Pada masa balita ini perkembangan kemampuan berbahasa, kreativitas,
kesadaran social, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat dan merupakan landasan
perkembangan selanjutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian juga dibentuk
pada masa ini. Bahkan ada sarjana yang mengatakan bahwa “the child is the father of the
man”. Sehingga setiap kelainan/penyimpangan sekecil apapun apabila tidak terdeteksi apalagi
tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas sumber daya manusia kelak kemudian
hari.

Dalam perkembangan anak terdapat masa kitis, dimana diperlukan


rangsangan/stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat
perhatian. Perkembangan psiko-sosial sangat dipengaruhi lingkungan dan interaksi antara
anak dengan orangtuanya/orang dewasa lainnya. Perkembangan anak akan optimal bila
interaksi sosial diusahakan sesuai dengan kebutuhan anak pada berbagai tahap
perkembangan, bahkan sejak bayi masih di dalam kandungan. Sedangkan lingkungan yang
tidak mendukung akan menghambat perkembangan anak.

Frankenburg dkk. (1981) melalui DDST (Denver Development Screening Test),


mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak
balita yaitu :

1. Personal social (kepribadian/tingkah laku sosial)

5
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi
dengan lingkungannya.
2. Fine motor adaptive (gerakan motorik halus)
Aspek yang berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu,
melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan
otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi yang cermat. Misalnya kemampuan
untuk mengambar, memegang sesuatu benda, dll.
3. Language (bahasa)
Kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan
berbicara spontan.
4. Gross motor (perkembangan motorik kasar)
Aspek yang berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.

Ada juga yang membagi perkembangan balita ini menjadi 7 aspek perkembangan, seperti
pada buku petunjuk program BKB (Bina Keluarga dan Balita) yaitu perkembangan:

1. Tingkah laku sosial


2. Menolong diri sendiri
3. Intelektual
4. Gerakan motorik halus
5. Komunikasi pasif
6. Komunikasi aktif
7. Gerakan motorik kasar

Pada prinsipnya cara membagi aspek perkembangan anak tersebut diatas sama saja, hanya
penjabarannya yang berbeda. Frankenburg membagi lebih sederhana, sedangkan yang pada
program BKB tersebut lebih dijabarkan lagi.

Banyak “milestone” perkembangan anak yang penting, tetapi dibawah ini akan
disajikan beberapa “milestone” pokok yang harus kita ketahui dalam mengetahui taraf
perkembangan seorang anak (yang dimasksud dengan “milestone” perkembangan adalah
tingkat perkembangan anak yang harus dicapai anak pada umur tertentu), misalnya :

a. 4-6 minggu
Tersenyum spontan, dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian
b. 12-16 minggu
 Menegakkan kepala, tengkurap sendiri
 Menoleh ke arah suara
 Memegang benda yang ditaruhnya ditangan
c. 20 minggu
Meraih benda yang didekatkan padanya
d. 26 minggu
 Dapat memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya
6
 Duduk, dengan bantuan kedua tangannya ke depan
 Makan biskuit sendiri
e. 9-10 bulan
 Menunjuk dengan jari telunjuk
 Memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk
 Merangkak
 Bersuara da...da...
f. 13 bulan
 Berjalan tanpa bantuan
 Mengucapkan kata-kata tunggal

Dengan kita mengetahui berbagai “milestone” pokok ini, maka kita dapat mengetahui
apakah seorang anak perkembangannya terlambat ataukah masih dalam batas-batas normal.
Kalau ada kecurigaan, kita dapat melakukan tes skrining, antara lain dengan DDST. Sehingga
deteksi dini dan intervensi dini dapat dilakukan, agar tumbuh kembang anak dapat lebih
optimal.

2.4.Beberapa Gangguan Tumbuh Kembang

Beberapa gangguan tumbuh kembang yang sering ditemukan :


1. Gangguan Bicara dan Bahasa gpada Anak
Gangguan berbahasa merupakan indicator seluruh perkembangan anak. Karena
kemampuan berbahasa sensitive terhadap keterlambatan atau kerusakan pada system
lainnya, sebab melibatkan kemampuan kognitif, motor, psikologis, emosi dan
lingkungan sekitar anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan
bicara dan berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap. Deteksi dan penanganan
dini pada problem bicara dan bahasa pada anak, akan membantu anak-anak dan
orangtua untuk menghindari atau memperkecil kelainan pada masa sekolah.
2. Sindrom Down
3. Kretin
4. Cerebral Palsy
Cerebral palsy adalah suatu kelainan gerakan dan postur yang tidak progresif, oleh
karena suatu kerusakan/gangguan pada sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang
sedang tumbuh/belum selesai pertumbuhannya. Dalam menangani anak dengan
cerebral palsy, harus memperhatikan berbagai aspek dan diperlukan kerjasama
multidisiplin seperti disiplin anak, saraf, mata, THT, bedah ortopedi, bedah saraf,

7
psikologi, rehabilitasi medis, ahli wicara, pekerja social, guru sekolah luar biasa serta
peranan orang tua dan masyarakat.
5. Kretin
Sindrom kretin adalah suatu sindrom yang disebabkan kekurangan iodium dan
hormon tiroid yang terjadi pada permulaan kehamilan atau pada umur yang sangat
muda.
6. Obesitas pada Anak
Obesitas merupakan keadaan patologis, yaitu dengan terdapatnya penimbunan lemak
yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh yang normal. Tetapi masih
banyak pendapat di masyarakat yang mengira bahwa anak yang gemuk adalah sehat.
7. Retardasi Mental
Terdapat berbagai macam definisi mengenai retardasi mental. Menurut WHO,
retardasi mental adalah kemampuan mental yang tidak mencukupi. Sedangkan
menurut Melly Budhiman, seseorang dikatakan retardasi mental bila memenuhi
criteria sebagai berikut :
a. Fungsi intelektual umum dibawah normal
b. Terdapat kendala dalam perilaku adaptif social
c. Gejalanya timbul dalam masa perkembangan, yaitu dibawah usia 18 tahun
8. Gangguan Autisme
Merupakan gangguan perkembangan pervasive pada anak yang gejalanya muncul
sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasive meliputi seluruh aspek perkembangan
sehingga gangguan tersebut sangat luas dan berat, yang mempengaruhi anak secara
mendalam. Gangguan perkembangan yang ditemukan pada autism mencakup bidang
interaksi sosial, komunikasi dan perilaku.
9. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas
Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk memusatkan perhatian
yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas.

2.5.Deteksi Dini Tumbuh Kembang pada Anak


Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak merupakan kegiatan/pemeriksaan untuk
menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang balita. Dengan ditemukan
secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah
dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai waktu dalam membuat rencana

8
tindakan/intervensi yang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu/keluarga. Bila
penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan
berpengaruh pada tumbuhn kembang anak.
Ada 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga
kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa :
1. Deteksi didni penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/menemukan
status gizi kurang/buruk dan mikro/makrosefali
2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan
perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar.
3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya
masalah mental emosional, autism, dan gangguan pemusatan perhatian dan
hiperaktivitas.
Adapun jadwal kegiatan dan jenis skrining/deteksi dini adanya penyimpangan tumbuh
kembang pada balita oleh tenaga kesehatan adalah sebagai berikut :

Umur Jenis Deteksi Dini Tumbuh Kembang Yang Harus Dilakukan


Deteksi Dini Deteksi Dini Penyimpangan Deteksi Dini Penyimpangan
Anak
Penyimpangan Perkembangan Mental Emosional
Pertumbuhan
BB/TB LK KPSP TDD TDL KMME CHAT* GPPH*
0 bulan √ √
3 bulan √ √ √ √
6 bulan √ √ √ √
9 bulan √ √ √ √
12 bulan √ √ √ √
15 bulan √ √
18 bulan √ √ √ √ √
21 bulan √ √ √
24 bulan √ √ √ √ √
30 bulan √ √ √ √
36 bulan √ √ √ √ √ √ √
42 bulan √ √ √ √ √
48 bulan √ √ √ √ √ √
54 bulan √ √ √ √ √
60 bulan √ √ √ √ √ √
Keterangan :
BB/TB : Berat Badan terhadap Tinggi Badan
LK : Lingkaran Kepala
9
KPSP : Kuesioner Pra Skrining Perkembangan
TDD : Tes Daya Dengar
TDL : Tes Daya Lihat
KMME : Kuesioner Masalah Mental Emosi
CHAT : Checklist for Autism in Toddlers
GPPH : Gangguan Pemusatan Perhatian dan HIperaktivitas
Tanda * : Deteksi dilakukan atas indikasi

10
BAB III
METODE

Program kelas ibuh hamil di wilayah kerja Puskesmas Sungai Dareh diharapkan dapat
dihadari oleh seluruh ibu-ibu dalam cakupan wilayah kerja Puskesmas Sungai Dareh yang
mempunyai anak berusia 0-5 tahun. Dalam upaya mencapai sasaran, akan dilakukan
sosialisasi melaui kader-kader yang ada di tiap jorong kepada seluruh warga.
Dalam pelaksanaan program ini nantinya, ibu dan balita akan dibagi menjadi 3
kelompok, yaitu kelompok anak umur 0-1 tahun, kelompok anak umur 1-2 tahun dan
kelompok anak umur 2-5 tahun. Pertemuan akan dilakukan 3 kali pertemuan per kelompok
atau sesuai hasil kesepakatan antara fasilitator dengan peserta. Kegiatan ini direncanakan
akan dimulai pada bulan Mei 2013. Waktu pertemuan dapat disesuaikan dengan jadwal
kesibukan ibu, bisa pagi atau sore hari. Lama kegiatan 30-60 menit per kali pertemuan atau
disesuaikan dengan kondisi setempat. Tempat untuk melaksanakan pertemuan ini fleksibel,
tergantung tempat yang memungkinkan di tiap jorong. Pertemuan bisa dilakukan di PAUD
ataupun di salah satu rumah warga yang memungkinkan.
Fasilitator/pengajar pada program kelas ibu balita adalah dokter, bidan atau petugas
kesehatan yang telah dilatih menjadi fasilitator kelas ibu balita atau yang telah menjalani
pelatihan Kelas Ibu Balita. Untuk materi-materi tertentu, dapat dihadirkan narasumber untuk
mengisi program kelas ibu balita ini. Narasumber merupakan tenaga kesehatan dalam bidang
spesifik tertentu seperti: ahli gizi, dokter, dokter gigi, dll.
Pada program kelas ibu hamil ini digunakan metode belajar memakai pendekatan cara
belajar orang dewasa, yaitu partisipatif interaktif, ceramah, tanya jawab, peragaan/praktek,
curah pendapat, penugasan dan simulasi. Diharapkan para ibu aktif bertanya dan berdiskusi
dalam kelas ibu balita ini, sehingga materi yang diberikan benar-benar dipahami para ibu dan
dapat aplikasikan
Materi yang akan dibahas :
1. Modul anak umur 0-1 tahun :
a. Pemberian ASI
b. Pemberian imunisasi
c. Pemberian MP-ASI usia 6-12 bulan
d. Tumbuh kembang bayi

11
e. Penyakit terbanyak pada bayi
2. Modul anak umur 1-2 tahun :
a. Perawatan gigi anak
b. Pemberian MP-ASI
c. Tumbuh kembang anak
d. Penyakit pada anak
e. Permainan anak
3. Modul anak umur 2-5 tahun :
a. Tumbuh kembang anak
b. Pencegahan kecelakaan
c. Gizi seimbang
d. Penyakit pada anak
e. Obat pertolongan pertama
f. Perilaku hidup bersih dan sehat
Untuk pelaksanaan deteksi dini tumbuh kembang anak, akan dilakukan dalam salah
satu pertemuan pada kelas ibu hamil. Semua anak akan dilakukan pemeriksaan pemeriksaan
untuk mengetahui apakah ada anak yang mengalami penyimpangan pertumbuhan dan
perkembangan. Bila ada anak yang mengalami penyimpangan pertumbuhan dan
perkembangan, akan dilakukan inetervensi dini.

12