Anda di halaman 1dari 3

REPUBLIKA.CO.

ID, JAKARTA -- Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat


masih terjadinya asimetris informasi atau konsumen yang tidak mengetahui informasi produk
yang mereka konsumsi atau gunakan. Ketidaktahuan konsumen ini menguntungkan produsen.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Sudaryatmo mengatakan, konsumen memiliki beberapa hak. Salah
satunya mendapatkan informasi tentang suatu produk. Informasi itu terdiri dari beberapa aspek,
seperti asal-usul produk, kandungannya apa, termasuk resiko ketika konsumen memproduksi
produk itu.

“Problemnya adalah di lapangan adalah apa yang disebut situasi asimetris informasi. Banyak
sekali produk dimana konsumen tidak tahu informasi produk yang dia konsumsi, termasuk jasa,”
katanya, di Jakarta, Selasa (28/4).

Ketidaktahuan informasi ini diakuinya membuat pelaku usaha diuntungkan. Ia menyebutkan,


pengaduan tertinggi yang diterima YLKI sebagian dari pengguna kartu kredit.

“Banyak konsumen kartu kredit tidak tahu tentang cara menghitung bunga dan perbankan senang
dengan perilaku itu. Jadi, asimetris informasi itu dalam beberapa hal menguntungkan industri,
pelaku usaha,” ujarnya. Padahal, kata dia, YLKI sangat yakin konsumen bisa menjadi pelaku pasar
yang bertanggung jawab kalau konsumen mendapat informasi produk yang dia konsumsi.

Adapun tantangan dalam perlindungan konsumen ini, kata dia, adalah bagaimana
menyeimbangkan informasi produk pelaku usaha memasarkan produk yang dia jual atau pasarkan.
Sehingga, pada saat yang sama konsumen bisa menuntut produsen untuk menginformasikan
produk-produknya.

“Tanggung jawab paling besar adalah pemerintah untuk membuat regulasi supaya tidak terjadi
asimetris informasi produk. Ini untuk menyeimbangkan informasi,” ujarnya.

Dengan upaya demikian, pemerintah memastikan produsen mematuhi dan secara terbuka
menginformasikan produk yang dia jual “Kami mendorong transparansi produk dan peran
regulator penting,” katanya.

Untuk mengatasi kasus pelanggaran UU Perlindungan Konsumen dalam bidang pangan tersebut
sebaiknya pemerintah sebagai badan yang melakukan pengawasan terhadap penyebaran dan
pemasaran barang – barang yang telah beredar di masyarakat luas, selalu melakukan pengawasan
– pengawasan terhadap para pelaku usaha maupun para distributor yang menyediakan barang.
Selain itu, diperlukan juga sosialisasi kepada masyarakat secara terus-menerus. Salah satu media
yang diperlukan adalah iklan layanan masyarakat yang mengajak atau mendorong konsumen
untuk lebih bijak dalam menentukan pilihan, artinya konsumen harus memiliki kesadaran dan
pengetahuan tentang barang dan ketentuannya.
ØAnalisis Hukum
Berdasarkan kasus dan teori diatas masih banyak pelaku usaha yang tidak menjalankan
kewajibannya dan masih banyak konsumen yang merasa dirugikan akibat oknum-oknum pelaku
usaha yang tidak bertanggung jawab.
Jika dilihat menurut Undang-Undang No.8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, kasus
pelaku usaha dibidang pangan tersebut menyalahi ketentuan. Berikut adalah beberapa pasal dalam
Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang dilangar oleh pelaku usaha dalam bidang pangan:
1.Pasal 4, hak konsumen adalah :
oAyat 1 : “hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi
barang dan/atau jasa”
oDisini pelaku usaha bidang pangan melanggar hak konsumen tersebut. Ini terbukti Berdasarkan
penyebab terjadi KLB (per-23 Agustus 2006) 37 kasus tidak jelas asalnya, 11 kasus disebabkan
mikroba dan 8 kasus tidak ada sample. Pada tahun 2005 KLB yang tidak jelas asalnya (berasal
dari umum) sebanyak 95 kasus, tidak ada sample 45 kasus dan akibat mikroba 30 kasus. Hasil
kajian dan analisa BPKN juga masih menemukan adanya penggunaan bahan terlarang dalam
produk makanan Ditemukan penggunaan bahan-bahan terlarang seperti bahan pengawet, pewarna,
pemanis dan lainnya yang bukan untuk pangan (seperti rhodamin B dan methanil yellow).
oAyat 3 : “Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa.”
oPara pelaku usaha bidang pangan terutama pada makanan cepat saji seperti bakso, mie ayam dan
lainnya para pelaku usaha tidak jarang mencantumkan komposisi makanannya bahkan mencampur
adukan boraks pada sajiannya, hal ini mempersulit konsumen dalam mengetahui informasi
komposisi bahan makanannya.
2.Pasal 7, kewajiban pelaku usaha adalah :
oAyat 2 : “Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan
barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan.”
oPelaku usaha bidang pangan tidak pernah memberitahu kondisi serta penjelasan komposisi
makanan apa yang terkandung didalamnya. Terkadang juga pelaku usaha tidak mencantumkan
tanggal kadaluarsa pada makanan kemasan dan kaleng.
3.Pasal 19
oAyat 1 : “Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran,
dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau
diperdagangkan.”
oAyat 2 : “Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa pengembalian uang atau
penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan
dan/atau pemberian santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.”
oAyat 3 : “Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari setelah tanggal
transaksi.”
Hukuman Bagi Para Oknum Penyalahgunaan Zat Berbahaya dalam Produk Pangan di Indonesia
Hukuman bagi pelaku usahapun masih terlalu ringan, misalnya yang terbukti bersalah hanya
divonis penjara 3-6 bulan sedangkan dendanya hanya Rp. 200.000, Dasar hukum yang dipakai
oleh hakim dan jaksa hanya KUHP atau peraturan daerah. Sedangkan dalam UU Perlindungan
Konsumen No. 8 tahun 1999 pelanggaran terhadap kesehatan konsumen dapat dikenakan
hukuman maksimal 5 tahun berikut denda hingga Rp 2 milyar.

Penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang
Perlindungan Konsumen ini tidak menutup kemungkinan penyelesaian damai oleh para pihak
yang bersengketa. Pada setiap tahap diusahakan untuk menggunakan penyelesaian damai oleh
kedua belah pihak yang bersengketa.

Yang dimaksud dengan penyelesaian secara damai adalah penyelesaian yang dilakukan oleh kedua
belah pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan konsumen) tanpa melalui pengadilan atau Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang Perlindungan
Konsumen.
Ini berarti Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengakui adanya tiga jalur penyelesaian,
yang dapat dilakukan melalui :
1. Peradilan
2. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen
3. Pranata Alternatif Penyelesaian Sengekta Konsumen dan/atau Arbitrase sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999.