Anda di halaman 1dari 34

IDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA SERAT POLIESTER DAN

POLIAMIDA

disusun oleh :

Nama : Gheasani Sophia Adriatie

NPM : 16020121

Grup : 2K-4

Dosen: Maya K., S.SiT. M.T

Kurniawan, S.T., M.T


Witri A.S., S.ST.

Materi Praktikum :

1. Identifikasi Zat Warna pada Poliester : Senin, 16 Oktober 2017


2. Identifikasi Zat Warna pada Poliamida I : Senin, 30 Oktober 2017
3. Identifikasi Zat Warna pada Poliamida II : Senin, 06 November 2017

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL

BANDUNG

2017
IDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA SERAT POLIESTER

I. MAKSUD DAN TUJUAN


1.1 Maksud
Mengidentifikasi jenis zat warna yang digunakan pada kain poliester dengan cara
melunturkan zat warna dan mengamati sifat-sifat atau karakteristik zat warna
yang diuji.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui kandungan zat warna yang digunakan pada kain poliester
dengan cara melunturkan zat nya.

II. DASAR TEORI

 SERAT
Serat merupakan suatu material yang berbentuk halus (sangat kecil) serta memiliki
perbandingan panjang dan diameter yang sangat besar. Kedua syarat ini perlu dimiliki oleh
serat karena untuk mendapatkan sifat fleksibel serta bisa memeluntir sehingga
mempermudah proses pemintalan.

Serat juga sering dikatakan sebagai :

a. Bahan dasar tekstil


b. Bahan pembuat benang
c. Bagian terkecil dari kain.

Secara umum, serat dibagi menjadi dua jenis, yakni :

A. Serat Alam

Dikatakan serat alam karena berasal dari alam atau sudah tersedia di alam dalam
bentuk serat. Serat alam dibagi menjadi tiga, yakni serat protein, serat selulosa, dan serat
mineral.

 Serat Protein, umumnya berasal dari hewan. Contohnya rambut bulu (dapat
diperoleh dari biri-biri) dan kelenjar ludah (dapat diperoleh dari ulat sutera).
 Serat Selulosa, umumnya berasal dari tanaman yakni batang, daun dan biji.
Contohnya serat kapas, rami, jute, flex, abaca, dan lain sebagainya.
 Serat mineral, umumnya dibuat dari asbestos. Saat ini asbestos adalah satu-
satunya mineral yang secara alami terdapat dalam bentuk serat panjang.

B. Serat Buatan

Serat buatan merupakan serat yang dibuat melalui proses pengolahan terlebih
dahulu karena belum tersedia di alam dalam bentuk serat. Contohnya adalah
poliester, poliakrilat, poliamida, dan lain sebagainya,

SERAT POLIESTER

Serat polyester adalah serat sintetik yang dibuat dari etilena glikol dan asam tereftalat
melalui proses polimerisasi kondensasi. Kekuatan polyester pada keadaan basah sama
besar dengan kekuatan pada keadaan kering. Polyester mempunyai gugus amorf kecil
dan gugus kristalin yang tinggi sehingga sifat kristalinitasnya tinggi (bersifat hidrofob)
dan tidak mengandung gugusan-gugusan yang aktif, sehingga sukar sekali ditembus
oleh molekul-molekul yang berukuran besar ataupun tidak bereaksi dengan zat warna
anion atau kation. Untuk memperoleh hasil celup yang baik maka proses pendahuluan
(pretreatment) untuk polyester sangat perlu. Penggunaan alkali panas waktu proses
pencucian polyester sebaiknya dihindari, karena akan menyebabkan terkelupasnya
permukaan serat tersebut. Polyester juga memiliki titik leleh yang tinggi yaitu 280oC,
juga daya tahan terhadap sobekan maupun gosokan dan elastisitas yang tinggi.
Polyester kebanyakan hanya dapat dicelup oleh zat warna dispersi.

Poliester dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol. Dacron dibuat dari asamnya
dan reaksinya sebagai berikut :

nHOOC COOH + nHO(CH 2)2 OH

A sam tereftalat Etilena glikol

HO OC COO(CH 2) 2O H + (2n-1)H 2O
n

Dacron A ir
Sedangkan Terylene dibuat dari dimetil ester asam tereftalat dengan etilen glikol, dan
reaksinya sebagai berikut :

nCH OOC COOCH3 + nHO(CH 2) 2 OH

Etilena glikol

CH3 O OC COO(CH ) O H + (2n-1)CH 3 O


2 2 n
Terylene

Karakter serat poliester adalah sebagai berikut :

1. Morfologi
Penampang membujur serat poliester berbentuk seperti silinder dengan
penampang melintang berbentuk bundar.

2. Sifat fisika
a. Kekuatan dan mulur
Terylene memilki kekuatan 4,5-7,5 g/denier dan mulur 25-7,5%. Dacron
mempunyai kekuatan 4-6,9 g/denier dan mulur 40-11%.

b. Elastisitas
Pemulihan selama 1 menit setelah penarikan :

- Penarikan 2% ...... pulih 97%

- Penarikan 4% . ...... pulih 90%

- Penarikan 8% ...... pulih 80%

c. Moisture Regain
Kondisi standar = 0,45%. Pada RH 100% = 0,6-0,8%.

d. Titik leleh
Meleleh pada udara panas bersuhu 250oC.

e. Berat jenis
Berat jenis poliester adalah 1,38.

3. Sifat kimia
a. Tahan asam lemah walaupun pada suhu mendidih, dan tahan asam kuat
dingin.
b. Tahan oksidator, alkohol, keton sabun, dan zat-zat untuk pencucian kering.
c. Larut dalam meta-kresol panas, asam trifloroasetat-orto-klorofenol.
d. Tahan serangga, jamur, dan bakteri.

Identifikasi zat warna pada serat poliester digolongkan menjadi dua golongan
yaitu zat warna yang luntur dalam asam asetat glasial dingin dan zat warna yang tidak
luntur dalam asam asetat glasial dingin.
Serat poliester umumnya dapat diwarnai oleh zat warna dispersi, kation,
bejana, pigmen (pencelupan larutan polimer atau dengan pengikat resin) dan zat warna
yang dibangitkan.
Cara uji untuk zat warna pada poliester dapat dilakukan dengan melunturkan
dalam asam asetat glasial atau mengerjakannya dalam kaprolaktan.
Zat warna yang umumnya luntur banyak dalam asam asetat asam glasial dingin, zat
warna yang masuk pada golongan ini adalah :

1. Zat Warna dispersi carrier biasa


2. Zat Warna dispersi diazotasi

Zat warna yang umumnya tidak luntur dalam asam asetat asam glasial dingin atau
luntur sedikit dan luntur banyak dalam asam asetat glasial panas, zat warna yang
masuk pada golongan ini adalah :
1. Zat Warna bejana
2. Zat warna dispersi thermosol
3. Zat warna naftol

 ZAT WARNA
ZAR WARNA DISPERSI
Jenis zat warna yang digunakan kali ini adalah zat warna disperse yang
tidak memiliki kelarutan dalam air dan tidak dapat dilarutkan. Zat warna ini
merupakan zat warna organik yang dibuat secara sintetik. Karena tidak larut dan
tidak dapat dilarutkan, yang bisa dilakukan hanyalah mendispersikannya menjadi
partikel-partikel zat warna yang hanya melayang dalam air, dimana zat warna ini
umumnya dapat terdispersi secara sempurna. Pada pemakaiannya, perlu untuk
mendispersikannya terlebih dahulu, disini digunakan suatu zat pendispersi yang
mampu mendispersikan molekul-molekul zat warna sehingga lebih kecil dan
mampu masuk kedalam serat. Sementara proses pencelupannya sendiri
memerlukan bantuan zat pengemban (carrier) atau suhu tinggi.

Zat warna ini selain memiliki berat molekul yang relatif kecil, juga
bersifat non-ionik meskipun terdapat gugus-gugus fungsional (seperti gugus
hidroksil –OH atau amina –NH2) yang membuat zat warna ini (sangat) sedikit larut
dalam air, dimana gugus fungsi tersebut berfungsi sebagai donor atom hidrogen
untuk mengadakan ikatan dengan gugus karbonil pada serat polyester. Selama
proses pencelupan berlangsung, yaitu dengan suhu tinggi, zat warna ini tidak akan
mengalami perubahan kimia. Penyerapannya pada keadaan setimbang sangat baik,
akan tetapi difusi kedalam serat sangat lama. Saat ini zat warna disperse, beberapa
diantaranya memiliki kecepatan difusi yang cukup besar sehingga memungkinkan
untuk mencelup warna muda maupun sedang dengan waktu proses yang tidak
terlalu lama. Zat warna seperti ini umumnya memiliki struktur yang sederhana
seperti Duranol Blue G yang skemanya ada dibawah.

Zat warna ini dapat digolongkan kedalam beberapa golongan


berdasarkan ketahanan sublimasi dan tingkat kerataan yang dihasilkan. Golongan
pertama memiliki berat molekul yang sangat kecil, sehingga mudah terdispersi dan
masuk kedalam pori-pori serat. Meskipun ketahanan sublimasinya rendah, yaitu
tersublimasi pada suhu 1000C.

Golongan kedua memiliki sifat pendispersian dan ketahanan sublimasi


yang cukup, dimana tersublim sempurna pada suhu 1900C. Zat warna golongan ini
umum digunakan untuk mencelup serat polyester baik dengan cara carrier maupun
suhu tinggi.

Golongan ketiga memiliki daya pendispersian yang cukup dengan


ketahanan sublimasi yang tinggi, yaitu tersublim secara sempurna pada suhu
2000C. Hasil yang didapat cukup baik mengingat prosesnya dapat dilakukan
dengan cara carrier, termosol, maupun suhu tinggi. Sedangkan golongan terakhir
memiliki berat molekul yang paling besar diantara semuanya, hal ini membuat
golongan ini sukar terdispersi dalam larutan dan masuk kedalam serat. Akan tetapi,
golongan ini memiliki ketahanan sublimasi yang sangat tinggi, yaitu tersublim
penuh pada 2200C, sehingga dengan sifat yang seperti ini, zat warna golongan ini
sangat cocok untuk proses pencelupan cara suhu tinggi maupun termosol.
Berdasarkan struktur kimianya, zat warna ini dapat digolongkan menjadi 3
golongan :

1. Golongan Azo (-N=N-)

2. Golongan Antrakwinon (terlihat dari gugus karboksilnya)

3. Golongan Difenil Amin


ZAT WARNA BEJANA

Jenis zat warna yang pertama digunakan kali ini adalah zat warna dispersi yang
tidak memiliki kelarutan dalam air dan tidak dapat dilarutkan. Zat warna ini
merupakan zat warna organik yang dibuat secara sintetik. Karena tidak larut dan
tidak dapat dilarutkan, yang bisa dilakukan hanyalah mendispersikannya menjadi
partikel-partikel zat warna yang hanya melayang dalam air, dimana zat warna ini
umumnya dapat terdispersi secara sempurna. Pada pemakaiannya, perlu untuk
mendispersikannya terlebih dahulu, dimana digunakan suatu zat pendispersi yang
mampu mendispersikan molekul-molekul zat warna sehingga ukurannya lebih kecil
dan mampu masuk kedalam serat. Sementara proses pencelupannya sendiri
memerlukan bantuan zat pengemban (carrier) atau suhu tinggi.

Zat warna ini selain memiliki berat molekul yang relatif kecil, juga bersifat
non-ionik meskipun terdapat gugus-gugus fungsional (seperti gugus hidroksil –OH
atau amina –NH2) yang membuat zat warna ini (sangat) sedikit larut dalam air,
dimana gugus fungsi tersebut berfungsi sebagai donor atom hidrogen untuk
mengadakan ikatan dengan gugus karbonil pada serat poliester. Selama proses
pencelupan berlangsung, yaitu dengan suhu tinggi, zat warna ini tidak akan
mengalami perubahan kimia. Penyerapannya pada keadaan setimbang sangat baik,
akan tetapi difusi kedalam serat sangat lama.

ZAT WARNA NAFTOL

Zat warna Naftol merupakan zat warna yang terbentuk didalam serat, ketika
proses pencapan/ pencelupan berlangsung. Zat warna ini terbentuk dari hasil reaksi
komponen senyawa naftol dengan senyawa garam diazonium.

Pencapan dengan zat warna naftol dapat dipakai untuk serat kapas, namun
jarang digunakan karena prosesnya panjang. Daya serap zat warna naftol baik
terhadap rayon viskosa dibandingkan dengan serat kapas, sehingga menyebabkan
penghilangan naftol yang tidak dibangkitkan dengan garam diazonium dari dalam
bahan akan lebih sulit. Oleh karena itu untuk rayon viskosa biasanya hanya dipakai
warna-warna yang muda atau zat warna naftol yang memiliki daya serap rendah.
Naftol tidak larut dalam air, namun larut dalam soda kostik, tahan gosok dari
hasil pencelupan tergantung dari kelarutan naftolnya. Untuk melarutkan naftol yang
stabil, biasanya ditambahkan formaldehida, penambahan formaldehida tersebut
harus dalam keadaan dingin, bila tidak akan terjadi pengendapan. Larutan naftolat
tidak stabil terhadap karbondioksida dari udara, ini berarti larutan tersebut dapat
mengurai kembali menjadi naftol yang tidak larut, sehingga apabila digunakan untuk
mencelup maka akan menghasilkan celupan yang belang, suram dan tidak tahan
terhadap gosokan.

III. ALAT DAN BAHAN


Alat :
 Tabung reaksi
 Piala gelas
 Pembakar bunsen
 Pipet tetes
 Kasa dan kaki 3
 Pipet volume 10 mL
 Batang pengaduk
 Penjepit tabung

Bahan :

1. Bahan yang digunakan adalah kain contoh uji kain yang terbuat dari serat
poliester yang telah diberi nomor.
2. Asam Asetat Glasial
3. Eter
4. Aquadest
IV. CARA KERJA

B. Pengujian Pendahuluan Identifikasi Zat Warna Pada Poliester


1. Masukan 3-5 ml asam asetat glasial dingin kedalam tabung reaksi.
2. Masukan CU dan amati warnanya.
3. Apabila warna luntur banyak maka kemungkinan zat warna Dispersi
diazotasi.
4. Apabila CU luntur sedikit kemungkinan zat warna dispersi thermosol
atau naftol.

C. Zat Warna Dispersi Carier biasa dan Dispersi Diazotasi


1. Lunturan zat warna pada hasil uji didihkan kemudian didinginkan
2. Masukan 3-5 ml eter ke dalam lunturan emudian kocok dan biarkan
terpisah.
3. Pindahkan eter, cuci berulang-ulang dan uapkan
4. Tambahkan 2 tetes pendispersi dan air.
5. Masukan serat asetat dan didihkan kembali.
6. Keluarkan serat asetat lalu cuci bersih.
7. Serat terwarnai menunjukkan zat warna dispersi carier biasa. Jika serat
tidak terwarnai menunjukan zat warna dispersi diazotasi.

D. Zat Warna Thermosol, Bejana dan Naftol


1. Lunturan zat warna pada hasil uji didihkan.
2. Amati apakah ada lunturan atau tidak.
3. Apabila dengan pemanasan lunturan bertambah banyak maka
kemungkinan zat warna dispersi thermosol atau naftol, bila tidak berarti
zat warna bejana
4. Lunturan kemudian dikerjakan dengan uji zat warna dispersi
5. Apabila serat terwarnai menunjukkan zat warna dispersi thermosol, bila
tidak berarti zat warna naftol.
V. DATA PENGAMATAN
IDENTIFIKASI ZAT WARNA PADA SERAT POLIAMIDA

I. MAKSUD DAN TUJUAN


1.1 Maksud
Mengidentifikasi jenis zat warna yang digunakan pada kain poliamida dengan
cara melunturkan zat warna dan mengamati sifat-sifat atau karakteristik zat
warna yang diuji.

1.2 Tujuan
Untuk mengetahui kandungan zat warna yang digunakan pada kain poliamida
dengan cara melunturkan zat nya.

II. DASAR TEORI


POLIAMIDA/NYLON

PolImer polIamida (nylon) adalah polimer yang dibentuk dari asam karboksilat
dan amino. Jenis asam karboksilat dan amino sangat bervariasi sehingga terbentuk
poliamida yang sangat bervariasi, misalnya nylon 6, nylon 66, nylon 11 dll. Yang
paling banyak diproduksi adalah 6 dan 66. Gugus penghubung (-OH-CO-), nylon 6
dibuat dari senyawa kaprolaktom dan nylon 66 dibuat dari senyawa asam adipat
dengan heksa metilen diamina.

H2N – CONH – CONH – CONH – COOH

Ujung ujung polimer terdapat gugus fungsi NH2 (amino) dan COOH (karboksilat)
dan sebagai penghubungnya adalah gugus amida (-CONH-). Jumlah NH2 dan COOH
tergantung pada banyaknya polimer yang menyusun sebuah serat RH standar 4,0 – 4,5
% karena serat poliamida ini mempunyai gugus fungsional maka serat ini masih
mungkin bereaksi dengan zat-zat lain sedangkan poliester tidak mempunyai gugus
fungsional sehingga daya serapnya lebih besar dari poliester (sekitar 4,5). Gugus NH2
bersifat basa lemah yang dapat menarik air dan gugus karboksilat . Yang
membedakan antara nylon 6 dan nylon 66 adalah sifat fisikanya sedangkan sifat
kimianya relatif kimia , misal : titik leleh nylon 6 = 2150C <nylon 66 = 2500C ,
penyerapan nylon 6 > nylon 66 ini disebabkan oleh perbedaan struktur fisik yaitu
perbedaan DO dan DK. Poliamida ini dapat dicelup dengan zat warna dispersi asam
(kompleks logam, mordan ) dispersi – reaktif.

2.1.1 Pembuatan Poliamida/Nylon

Nilon atau poliamida yang dibuat dari heksa metilen diamina dan asam adipat

NH2(CH2)6NH2 + COOH(CH2)4COOH

heksa metilena diamina asam adipat

NH2(CH2)6NHCO(CH2)4COOH + H2O

Kemudian molekul-molekul tersebut bereaksi lagi membentuk molekul yang


panjang. Pembuatan nilon diawali dengan pembuatan bahan baku yaitu asam adipat
dan heksa metilena diamina. Asam adipat dibuat dari fenol melalui pembentukan
sikloheksanol dan sikloheksanon. Sedangkan heksa metilena diamina dibuat dari asam
adipat dengan melalui pembentukan amida dan nitril. Setelah bahan baku diperoleh
maka dilakukan pembuatan polimer yang didahului dengan pembuatan daram nilon,
polimerisasi dan penyetopan panjang rantai. Pada pembuatan garam nilon asam adipat
dan heksa metilena diamina dilarutkan dalam metanol secara terpisahdan setelah
dicampurkan akan terbentuk endapan heksametilena diamonium adipat (garam nilon).
Pada pemintalan nilon kehalusan filamen tidak bergantung pada diameter
lubang spineret, tetapi bergantung pada :

− Sifat polimer.
− Kecepatan penyemprotan polimer melalui spineret
− Kecepatan penggulungan filamen
Untuk mendapatkan derajat orientasi tinggi, filamen yang terbentuk ditarik
dalam keadaan dingin. Panjangnya kira-kira menjadi empat atau lima kali panjang
semula.

2.1.2 Sifat Poliamida/Nylon


1. Kekuatan mulurnya
Nilon mempunyai kekuatan dan mulur berkisar dari 8,8 gram per denier dan 18 %,
sampai 4,3 gram per denier dan 45 %. Kekuatan basahnya 80-90 % dari kekuatan
kering.

2. Tahan gosokan dan tekukan


Tahan gosok dan tekukan nilon tinggi sekitar 4-5 kali dari tahan gosok wol.

3. Elastisitas
Selain mulurnya tinggi (22 %), nilon juga mempunyai elastisitas tinggi. Pada
penarikan 8 % nilon elastis 100 % dan pada penarikan 16 %, nilon masih
mempunyai elastisitas 91 %.

4. Berat jenis
Berat jenis nilon 1,14

5. Titik leleh
Nilon meleleh pada suhu 263oC dalam atmosfer mitrogen dan diudara pada suhu
250oC

6. Sifat kimia
Nilon tahan terhadap pelarut dalam pencucian kering.

Nilon tahan terhadap asam encer.

Dalam HCl pekat mendidih dalam beberapa jam akan terurai menjadi asam
adaipat dan heksa metilena diamonium hidroklorida.

Nilon sangat tahan terhadap basa.

Pelarut yang bisa melarutkan nilon diantaranya asam formiat, kresol dan fenol.

7. Sifat biologi
Nilon tahan terhadap serangan jamur, bakteri, dan serangga.
8. Moisture Regain
Pada kondisi standar (RH 65 % dan suhu 21oC) moisture regain nilon 4,2 %.

ZAT WARNA GOLONGAN I

2.3.1 Zat Warna Bejana

Zat warna bejana tidak larut dalam air, oleh karena itu dalam pencelupannya harus
diubah menjadi bentuk leuko yang larut. Senyawa leuko tersebut memiliki subtantivitas
terhadap selulosa hingga dapat tercelup. Adanya oksidator atau oksigen dari udara,
bentuk leuko yang tercelup dalam serat tersebut akan teroksiadasi kembali kebentuk
semula yaitu pigmen zat warna bejana.

Senyawa leuko zat warna bejana golongan indigoida larut dalam alkali lemah
sedangkan golongan antarkuinon hanya larut dalam alkali kuat dan hanya sedikit berubah
warna dalam larutan hipoklorit. Umumnya zat warna turunan tioindigo dan karbasol
warna hampir hilang dalam uji hipoklorit dan didalam larutan pereduksi warnanya
menjadi kuning.

Ikatan zat warna bejana dengan serat antara lain ikatan hydrogen dan ikatan sekunder
seperti gaya-gaya Van Der Waals.

Berdasarkan cara dan sifat pemakaiannya, zat warna bejana dapat digolongkan
menjadi 4 jenis yaitu jenis IK, IW, IN dan INsp. Perbedaan keempat jenis zat warna
belerang tersebut adalah sebagai berikut:

Jenis Ukuran Substantifitas Kerataan Ketahanan Kebutuhan Kebutuhan


relatif garam hasil celup luntur penambahan penambahan
struktur leuconya warna hasil Na2S2O4 dan NaCl pada
molekul celup NaOH pada larutan celup
zat warna larutan celup

IK Kecil Kecil Lebih Sedang Sedikit Banyak


mudah
rata

IW Sedang Sedang Mudah Cukup Sedang Sedang


rata

IN Agak Agak besar Agak Baik Banyak Sedikit


besar sukar rata

INsp Lebih Lebih besar Sukar rata Sangat Lebih Nol


besar baik banyak

Sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman, pada saat ini zat warna yang banyak
dipakai adalah zat warna jenis IN dan INsp yang tahan lunturnya sangat baik. Namun
kelemahan kedua zat warna tersebut adalah dalam proses pencelupannya sukar rata,
sehingga perlu ada usaha sedemikian rupa agar hasil celupnya rata. Kiat-kiat yang biasa
dilakukan untuk mencegah terjadinya hasil celup yang kurang rata adalah:

1. Mencegah terjadinya premature oksidasi selama proses pencelupan berlangsung.


a. Dengan menambahkan Na2S2O4 dan NaOH pada larutan celup.
b. Menambahkan zat anti oksidasi seperti glukosa dan CMC pada larutan celup.
2. Mengurangi pemakaian elektrolit (NaCl).
3. Memperlambat laju kenaikan suhu pencelupan.
4. Menambahkan perata (berupa retarder atau pendispersi nonionik) pada larutan celup.
5. Menggunakan skema pencelupan cara semi pigmentasi atau full pigmentasi.

2.3.2 Zat Warna Dispersi

Jenis zat warna yang digunakan kali ini adalah zat warna disperse yang tidak memiliki
kelarutan dalam air dan tidak dapat dilarutkan. Zat warna ini merupakan zat warna
organik yang dibuat secara sintetik. Karena tidak larut dan tidak dapat dilarutkan,
yang bisa dilakukan hanyalah mendispersikannya menjadi partikel-partikel zat warna
yang hanya melayang dalam air, dimana zat warna ini umumnya dapat terdispersi
secara sempurna. Pada pemakaiannya, perlu untuk mendispersikannya terlebih
dahulu, disini digunakan suatu zat pendispersi yang mampu mendispersikan
molekul-molekul zat warna sehingga lebih kecil dan mampu masuk kedalam serat.
Sementara proses pencelupannya sendiri memerlukan bantuan zat pengemban
(carrier) atau suhu tinggi.
Zat warna ini selain memiliki berat molekul yang relatif kecil, juga bersifat
non-ionik meskipun terdapat gugus-gugus fungsional (seperti gugus hidroksil –OH
atau amina –NH2) yang membuat zat warna ini (sangat) sedikit larut dalam air,
dimana gugus fungsi tersebut berfungsi sebagai donor atom hidrogen untuk
mengadakan ikatan dengan gugus karbonil pada serat polyester. Selama proses
pencelupan berlangsung, yaitu dengan suhu tinggi, zat warna ini tidak akan
mengalami perubahan kimia. Penyerapannya pada keadaan setimbang sangat baik,
akan tetapi difusi kedalam serat sangat lama. Saat ini zat warna disperse, beberapa
diantaranya memiliki kecepatan difusi yang cukup besar sehingga memungkinkan
untuk mencelup warna muda maupun sedang dengan waktu proses yang tidak terlalu
lama. Zat warna seperti ini umumnya memiliki struktur yang sederhana seperti
Duranol Blue G yang skemanya ada dibawah.

Zat warna ini dapat digolongkan kedalam beberapa golongan berdasarkan


ketahanan sublimasi dan tingkat kerataan yang dihasilkan. Golongan pertama
memiliki berat molekul yang sangat kecil, sehingga mudah terdispersi dan masuk
kedalam pori-pori serat. Meskipun ketahanan sublimasinya rendah, yaitu
tersublimasi pada suhu 1000C.

Golongan kedua memiliki sifat pendispersian dan ketahanan sublimasi


yang cukup, dimana tersublim sempurna pada suhu 1900C. Zat warna golongan ini
umum digunakan untuk mencelup serat polyester baik dengan cara carrier maupun
suhu tinggi.

Golongan ketiga memiliki daya pendispersian yang cukup dengan


ketahanan sublimasi yang tinggi, yaitu tersublim secara sempurna pada suhu 2000C.
Hasil yang didapat cukup baik mengingat prosesnya dapat dilakukan dengan cara
carrier, termosol, maupun suhu tinggi. Sedangkan golongan terakhir memiliki berat
molekul yang paling besar diantara semuanya, hal ini membuat golongan ini sukar
terdispersi dalam larutan dan masuk kedalam serat. Akan tetapi, golongan ini
memiliki ketahanan sublimasi yang sangat tinggi, yaitu tersublim penuh pada 2200C,
sehingga dengan sifat yang seperti ini, zat warna golongan ini sangat cocok untuk
proses pencelupan cara suhu tinggi maupun termosol.
Berdasarkan struktur kimianya, zat warna ini dapat digolongkan menjadi 3 golongan
:

1. Golongan Azo (-N=N-)

2. Golongan Antrakwinon (terlihat dari gugus karboksilnya)

3. Golongan Difenil Amin


2.3.3 Zat Warna Naftol

Zat warna yang terbentuk dalam serat pada waktu pencelupan yang merupakan
hasil reaksi antara senyawa naftol dengan garam diazoniumnya. Zw ini tidak larut
dalam air, bersifat poli-genetik dan mono-genetik dan tidak tahan terhadap reduktor
dikarenakan mengandung gugus azo.
Zat warna naftol adalah zat warna azo yang pembuatannya simultan dengan
proses pencelupan, zat warna naftol terdiri dari 2 (dua) komponen yaitu naftol dan
garam diazonium. Naftol tidak bisa larut diair sehingga untuk penaftolan bahan naftol
harus dirubah menjadi naftolat dengan menambahkan NaOH. Setelah penaftolan
bahan barulah warnanya dibangkitkan dengan garam diazonium sehingga terjadi
proses kopling antara naftol dan garam diazonium didalam serat. Berdasarkan warna
hasil koplingnya, ada 2 jenis naftol yaitu naftol monokromatik yang warnanya
mengarah kesatu arah warna dan naftol polikromatik yang warnanya bervariasi
tergantung pada garam diazonium yang dipakai. Garam diazonium untuk kopling
dengan naftol mempunyai sifat kurang stabil, mudah rusak terhidrolisis, tidak tahan
panas dan cahaya, namun pada saat ini banyak yang sudah distabilkan sehingga
pemakaiannya lebih mudah. Kelemahan zat warna naftol adalah tandingan warnanya
sukar dikontrol, ketahanan luntur warna hasil celup terhadap gosokannya kurang baik
dan tidak tahan terhadap reduktor.

Zat warna naftol atau azoic adalah zat warna yang terbentuk didalam serat
waktu pencelupan dan merupakan hasil reaksi komponen senyawa naftol dengan
garam diazonium. Zat warna naftol juga sering disebut ingrain colours karena
terbentuk didalam serat dan tidak larut dalam air, atau azoic colours karena senyawa
yang terjadi mempunyai gugusan azo.

Struktur Zat warna naftol AS-ITR


NH2

HO
3-Kloro-4,6-dimetoksi anilina

Cl

OH
Dalam reaksi diazotasi dan kompling kerap kali memerlukan es untuk
memperoleh temperatur yang rendah; maka zat warna golongan ini sering disebut zat
warna es atau icecolours.

Proses pencelupan atau pembentukan zat warna tersebut dapat dilakukan sebagai
berikut :

1. Pelarutan senyawa naftol dengan kostik soda untuk memperoleh larutan yang
jernih dari senyawa natrium naftolat yang terionisasi dalam pelarutan ini sering
dilakukan pemanasan.
NH2 NH2

HO HO

Cl Cl

OH ONa

NaOH H2O

Tidak larut dan Larut dan


tidak Substantif Substantif

2. Pencelupan bahan tekstil dengan naftolat yang dapat dikerjakan dengan tekanan
rol atau dengan sistem penyerapan biasa dalam bejana celup, karena daya serap
naftol kecil maka perlu penambahan garam dapur untuk mendorong penyerapan.
Setelah bahan tercelup perlu direaksikan dengan senyawa diazonium oleh karena
 - naftol mempunyai daya serap atau subtantivitas yang kecil
3. Pemerasan menghilangkan naftolat yang hanya berada dipermukaan serat
sehingga pembangkitan warna terjadi didalam serat, mengurangi alkalinitas dan
menghemat pemakaian naftol.
4. Pembangkitan
Penggabungan naftolat dengan garam diazonium atau base yang harus didiazotasi
dengan menggunakan NaNO2 dan HCl.
NH2

HO

Cl

ONa
O2N N+ NCl-

Kekurangan beta naftol sebagai komponen zat warna naftol adalah kurangnya
daya serap terhadap serat selulosa sehingga perlu pengerjaan pengeringan.
Senyawa-senyawa naftol AS mempunyai daya serap terhadap serat selulosa
sehingga proses pengeringan setelah pencelupan dengan senyawa tersebut tidak
perlu dikerjakan lagi.

Deretan naftol AS dari derivat asam beta-oksi naftolat mempunyai sifat


poligenetik yaitu akan memberikan beraneka warna menurut senyawa diazonium
yang dipergunakan.

Naftol AS-G merupakan jenis naftol yang bersifat monogenetik artinya bahwa
naftol tersebut akan mengarah kesatu warna tertentu misalnya kuning dengan
berbagai jenis senyawa diazonium sebagai pembangkit. Jenis naftol ini merupakan
derivat amida dari asam asetil-asetat, dimana kopling terjadi pada gugusan
metilennya.

Zat warna naftol merupakan zat warna yang terbentuk dalam serat pada waktu
pencelupan dan merupakan hasil reaksi antara senyawa naftol dengan garam
diazonium (kopling).

Sifat umum dari zat warna naftol adalah :

 Tidak larut dalam air tetapi luntur dalam piridin pekat mendidih
 Bersifat poligenetik dan monogenetik
 Karena mengandung gugus azo, maka tidak tahan terhadap reduktor.
 Tahan cuci dan sinar sangat baik
 Tahan gosok jelek
 Warna terbentuk dalam serat
2.4 ZAT WARNA GOLONGAN II (DIREK, ASAM, BASA)

Zat warna yang luntur dalam larutan ammonia atau asam asetat encer dalam
keadaan mendidih. Yang termasuk zat warna golongan ini adalah zat warna direk,
asam, dan basa..
2.4.1 Zat Warna Direk

Zat warna direk umumnya adalah senyawa azo yang disulfonasi, zat warna ini
disebut juga zat warna substantive karena mempunyai afinitas yang besar terhadap
selulosa. Beberapa zat warna direk dapat mencelup serat binatang berdasarkan ikatan
hydrogen. Zat warna direk umumnya mempunyai ketahanan yang kurang baik
terhadap pencucian sedangkan ketahanan terhadap sinar cukup, tidak tahan terhadap
oksidasi dan rusak oleh zat pereduksi. Kelarutan zat warna direk merupakan factor
penting yang perlu dipertimbangkan karena zat warna direk yang kelarutannya tinggi
akan memudahkan dalam pemakaiannya dan hasil pencelupannya relatif mudah rata,
tetapi dilain pihak kelarutan yang tinggi akan mengurangi substantifitas zat warna dan
tahan luntur hasil celupannya lebih rendah. Faktor yang menentukan kelarutan zat
warna direk adalah ukuran partikel zat warna direk dan jumlah gugus pelarut dalam
struktur zat warnanya. Makin kecil ukuran partikel zat warna makin tinggi
kelarutannya, demikian pula jika jumlah gugus pelarutnya makin banyak. Dalam
proses pencelupan, kelarutan zat warna direk dapat diperbesar dengan cara
memperbesar volt, menurunkan kesadahan air, menaikkan pH larutan celup,
memperbesar pengadukan atau sirkulasi larutan celup dan memperbesar suhu
pencelupan. Dengan cara memperbesar volt hasil pencelupan akan lebih rata dan lebih
cerah namun penyerapan zat warna akan berkurang. Substantifitas zat warna direk
bervariasi tergantung tipe zat warnanya. Untuk memperbesar penyerapan zat warna
direk selama pencelupan dapat dilakukan beberapa usaha antara lain dengan
menurunkan volt, menambahkan garam (NaCl atau Na2SO4) serta menurunkan suhu
dan pH larutan penelupan.

Zat warna direk dapat digolongkan menurut struktur molekulnya, namun


penggolongan yang lebih umum adalah berdasarkan cara pemakaiannya, sebagai
berikut:
1. Zat warna direk tipe A
Ukuran molekulnya kecil, substantifitas kecil, mudah rata, biasa dipakai pada suhu
pencelupan 70oC, perlu penambahan garam yang banyak dalam pencelupannya, tahan
lunturnya rendah.
2. Zat warna direk tipe B
Ukuran molekul agak besar, substantifitas sedang, kerataan sedang, suhu pencelupan
80oC, perlu penambahan garam (tidak terlalu banyak) dalam pencelupannya, tahan luntur
lebih baik dari tipe A.
3. Zat warna direk tipe C
Ukuran molekul zat warna lebih besar dari tipe B, substantifitas zat warna besar, Sukar
rata, suhu pencelupan diatas 90oC (umumnya pada suhu mendidih) dan tidak memerlukan
penambahan garam, tahan lunturnya lebih baik dari tipe B.
4. Zat warna direk tipe D
Golongan D adalah zat warna direk yang mengandung logam yang strukturnya lebih
besar dan tahan lunturnya paling baik. Untuk golongan D ini dalam larutan celupnya tidak
boleh ditambahkan zat pelunak air.
Mekanisme pencelupan terjadi dari tahap difusi zat warna dari fasa ruah larutan zat
warna ke dekat permukaan serat, kemudian tahap adsorpsi zat warna ke permukaan serat
lalu tahap difusi zat warna ke dalam serat dan fiksasi zat warna. Tahap yang paling
lambat dan menentukan laju pencelupan adalah tahap difusi zat warna kedalam serat yang
sangat tergantung pada kerapatan struktur serat dan ukuran partikel zat warna. Oleh
karena itu, maka suhu proses pencelupan zat warna direk golongan C lebih tinggi dari
golongan B dan seterusnya. Semakin tinggi suhu pencelupan semakin cepat laju
pencelupan, tetapi afinitas zat warna akan turun karena reaksi fiksasi zat warna dengan
serat bersifat eksoterm. Oleh karena itu pada akhir proses pencelupan zat warna direk,
penurunan suhu pencelupan sebaiknya diturunkan agak perlahan guna menambah
penyerapan zat warna direk.
2.4.2 Zat Warna Asam

Zat warna yang mengandung asam-asam mineral / asam-asam organic dan dibuat
dalam bentuk garam-garam natrium dari asam organic dengan gugus anion yang
merupakan gugus pembawa warna (kromofor yang aktif). Zat warna asam akan
membentuk ikatan elektrovalen/ikatan ion dengan serat. Sebagai tolak ukur dalam
identifikasi zat warna asam digunakan sampel uji pencelupan kembalinya adalah kain
wool.
Zat warna asam merupakan zat warna yang larut dalam air karena memilki gugus
pelarut sulfonat atau karboksilat dalam struktur molekulnya. Gugus–gugus tersebut juga
berfungsi sebagai gugus fungsi untuk mengadakan ikatan ionik dengan tempat positif
dengan serat protein.

Zat warna asam yang memiliki 1 (satu) gugus sulfonat dalam struktur molekulnya
disebut zat warna asam monobasik, yang memilki 2 (dua) gugus sulfonat disebut zat
warna asam dibasik dan seterusnya.

Karena gugus pelarut zat warna asam dibasik lebih banyak gugus pelarutnya, maka
kelarutannya makin tinggi, akibatnya pencelupannya menjadi lebih mudah rata, tetapi
tahan lunturnya terhadap pencuciannya berkurang. Selain itu dibandingkan zat warna
asam monobasik jumlah maksimum zat warna asam dibasik yang dapat terserap oleh
serat wool dan sutera menjadi lebih kecil, terutama bila suasana larutan celup kurang
begitu asam, karena dalam kondisi seperti itu tempat–tempat positif pada bahan terbatas.
Jadi untuk pencelupan warna tua dalam kondisi tersebut sebaiknya digunakan zat warna
asam monobasik. Keunggulan lain dari zat warna asam adalah warnanya yang cerah, hal
tersebut karena ukuran partikelnya relatif kecil (lebih kecil dari ukuran partikel zat warna
direk).

Struktur kimia zat warna asam bervariasi, antara lain jenis trienil metan, xanten, nitro
aromatik, azo dan pirazolon. Kebanyakan zat warna asam termasuk jenis azo sehingga
hasil celupnya dapat dilunturkan oleh reduktor.

Penggolongan zat warna asam yang lebih umum adalah berdasarkan cara
pemakaiannya, yaitu :
1. Zat Warna Asam Celupan Rata (Levelling Acid Dyes)
Disebut zat warna asam celupan rata karena pencelupannya mudah rata akibat dari
ukuran molekul zat warnanya yang relatif sangat kecil sehingga substantifitasnya
terhadap serat relatif kecil, sangat mudah larut dan warnanya sangat cerah, tetapi tahan
luntur warnanya rendah.
Ikatan antara serat dan zat warna yang utama adalah ikatan ionik disamping sedikit
ikatan Van der Waals. Untuk pencelupan warna tua biasanya diperlukan kondisi larutan
celup yang sangat asam pada pH 3 – 4, tapi untuk warna sedang dan muda dapat
dilakukan pada pH 4 – 5. Pemakaian NaCl pada larutan celup yang pHnya rendah akan
berfungsi sebagai perata, tetapi pada pH > 4 akan berfungsi sebagai pendorong
penyerapan zat warna.

2. Zat Warna Asam Milling


Ukuran molekul zat warna asam milling agak lebih besar dibanding zat warna
asam celupan rata, sehingga afinitas zat warna asam milling lebih besar dan agak
sukar bermigrasi dalam serat, akibatnya agak sukar mendapatkan kerataan hasil celup.
Tahan luntur warna hasil celupannya lebih baik dari zat warna asam celupan rata
karena walaupun ikatan antara serat dan zat warna dengan serat masih didominasi
ikatan ionik tetapi sumbangan ikatan sekunder berupa gaya Van Der Waals nya juga
relatif mulai cukup besar (sesuai dengan makin besarnya ukuran partikel zat warna.)
Untuk mencelup warna tua umumnya diperlukan kondisi larutan celup pH 4-5,
tetapi untuk warna sedang dan muda sebaiknya dilakukan pada pH 5-6 agar hasil
celupannya rata. Penambahan NaCl dalam larutan celup akan berfungsi sebagai
pendorong penyerapan.

3. Zat Warna Asam Super Milling


Diantara seluruh jenis zat warna asam, ukuran molekul zat warna asam
supermilling paling besar (tapi masih kecil dari ukuran molekul zat warna direk)
sehingga afinitas terhadap serat relatif besar dan sukar bermigrasi, akibatnya sukar
mendapatkan kerataan hasil celupannya, tetapi tahan luntur warnanya tinggi.
Tahan luntur yang tinggi diperoleh dari adanya ikatan antara serat dan zat warna
yang berupa ikatan ionik yang didukung oleh ikatan dari gaya Van Der Waals serta
kemungkinan terjadinya ikatan Hidrogen. Untuk pencelupan warna tua dapat dilakukan
pada kondisi larutan celup pH 5-6, tetapi untuk warna sedang dan muda dapat dilakukan
pada pH 6-7. Agar resiko belang menjadi lebih kecil biasanya tidak diperlukan
penambahan NaCl (atau jumlahnya dikurangi), karena NaCl dalam suasana larutan
celup yang kurang asam akan berfungsi sebagai pendorong penyerapan zat warna.
Dalam pencelupan dengan zat warna asam supermilling seringkali sukar untuk
menghindarkan terjadinya ketidakrataan. Untuk itu pada proses pencelupan dapat
ditambahkan perata anionik.
Catatan: Untuk ukuran partikel zat warna asam mulai dari yang paling kecil adalah zat
warna asam levelling, milling, supermilling, sehingga kecerahan zat warna asam
levelling paling tinggi dibanding zat warna tipe zat warna asam lainnya.
Ukuran partikel zat warna juga menentukan besarnya ikatan sekunder antara zat
warna dengan serat yang berupa ikatan dari gaya Van Der Waals, dimana makin banyak
elektron dalam molekul (makin besar ukuran molekul) zat warna makin besar ikatan
fisika (Van Der Waals) nya. Oleh karena itu dapat dipahami bila tahan luntur hasil
pencelupan dengan zat warna levelling lebih rendah bila dibanding dengan tahan luntur
hasil celup dengan zat warna asam milling atau supermilling.

2.4.3 Zat Warna Basa

Zat warna basa merupakan zat warna yang mempunyai muatan positif/kation. Zw
basa merupakan suatu garam basa yang dapat membentuk garam dengan asam. Asam
dapat berasal dari hidro klorida atau asam oksalat. Zat warna basa mampu mencelup
serat alam protein dan serat buatan akrilat. Sehingga pada pengujian pencelupan
kembali menggunakan serat akrilat sebagai tolak ukurnya. Zat warna basa secara alami
bersifat kationik, sehingga dapat digunakan untuk mencelup serat akrilat, wool, sutra
dan nylon, dimana zat warna basa akan berikatan secara ionic dengan gugus-gugus
sulfonat atau karboksilat yang ada dalam serat sehingga tahan lunturnya cukup baik.
Struktur molekul zat warna basa dapat berupa trifenil metan, antrakuinon, oksazin,
tiazin, azin dan azo. Zat warna basa terdapat dalam bentuk basa dan bentuk garam.
Dalam bentuk basa sukar larut, tetapi dalam suasana asam zat warna basa sangat
tergantung pada pH larutan celup )pH makin rendah kelarutan makin tinggi). Dibanding
struktur molekul zat warna organik lainnya, ukuran molekul zat warna basa relative
paling kecil, sehingga bila disbanding zat warna organik lainnya zat warna basa
merupakan zat warna yang paling cerah (nomor 2 setelah zat warna pigmen jenis
metalik).
Daya celup zat warna basa sangat tergantung pada banyaknya gugus amin yang
bermuatan positif yang terkandung dalam tiap molekul zat warna. Mengingat
terbatasnya tempat-tempat yang bermuatan negative (gugus karboksil atau sulfonat)
dalam serat sutra maka untuk zat warna basa yang tiap molekulnya mengandung gugus
amin (muatan positif) lebih banyak akan lebih sedikit jumlah maksimum zat warna basa
yang dapat diikat serat sutra, dan sebaliknya. Guna memudahkan pemakai, maka tiap
zat warna basa diberi nilai f yang berkisar antara 0,6 hingga 1,5. Makin kecil nilai f
makin sedikit muatan positif pada zat warna sehingga lebih dapat digunakan untu
mencelup warna tua (dengan persentase pemakaian yang lebih besar), karena persentase
maksimum zat warna basa yang dapat terserap serat adalah:

% maks ZW = A/f

A = nilai kejenuhan serat

Pemakaian zat warna basa diatas persentase maksimum tidak akan menambah
ketuaan hasil celup lebih lanjut, sebab semua tempat negatif (gugus sulfonat atau
karboksilat) pada serat sudah terisi/berikatan dengan kation zat warna basa. Harga
faktor f zat warna, juga tergantung pada kemurnian zat warna

Secara umum ukuran molekul zat warna basa relatif kecil, namun ukuran molekul
zat warna basa yang satu dengan yang lainnya juga bervariasi. Zat warna yang
mempunyai ukuran molekul lebih besar akan mmpunyai substantifitas yang lebih besar,
sehingga cenderung sukar rata. Sedang untuk zat warna yang relative kecil ukuran
molekulnya, substantifitasnya lebih kecil sehingga relatif lebih mudah rata. Untuk
memudahkan pemakain, zat warna basa diberi nilai CV (Compability Value) yang
berkisar antara 1 hingga 5. Harga CV yang besar menunjukkan laju penyerapan zat
warna tersebut pada serat relative rendah, artinya zat warna tersebut lebih mudah rata,
sedang zat warna basa yang harga CV-nya kecil bersifat sebaliknya (laju penyerapan
cepat dan sukar rata).

Zat warna basa mampu mencelup serat-serat protein sedangkan pada serat yang
mempunyai gugus-gugus asam dalam molekulnya akan berlaku / bersifat seperti serat-
serat protein terhadap zat warna basa.
III. ALAT DAN BAHAN
Alat :
 Tabung reaksi
 Piala gelas
 Pembakar bunsen
 Pipet tetes
 Kasa dan kaki 3
 Pipet volume 10 mL
 Batang pengaduk
 Penjepit tabung

Bahan :
 Kain contoh uji
 Lar. Sabun
 As. Asetat glasial
 Multi fiber
 Aquadest
 Larutan piridin air
 HCl pekat
 Toluene
 Rongalit C
 As. Asetat 10%
 Natrium bikromat
 Alcohol
 NaOH 10%
 Natrium Hidrosulfit
 Kapas Putih
 Akrilat
 Wol
 NaCl
IV. CARA KERJA
Pengujian

1. Uji Pencucian
a. Masukan CU kedalam tbung reaksi yang berisi dengan 10 ml larutan
sabun
b. Panaskan selama 15 menit, kemudian keluarkan CU lalu amati
c. Semua golongan zw luntur kecuali zw bejana dan naftol tidak luntur
atau luntur sedikit.
d. Bagi larutan sabun menjadi dua bagian :
− Bagian 1 : tambahkan 1 ml asam asetat glasial
− Bagian 2 : larutan sabun
e. Masukan kedalam tabung reaksi tersebut kain multi fibres, didihkan.
f. Keluarkan kain multi fibres, cuci
g. Amati jenis bahan yang tercelup

2. Uji Piridin
a. Masukan CU kedalam tabung reaksi 15 ml larutan piridin air (57 : 43)
b. Panaskan selama 15 menit.
c. Dinginkan dengan aliran air kemudian keluarkan CU lalau amati.
d. Semua zw luntur banyak dalam larutan piridin kecuali zw bejana, zw
krom atau zw dispersi reaktif

3. Uji Toluena
a. Ekstrak piridin dipisahkan.
b. Tambahkan 1-2 ml HCl pekat kemudian tambahkan 15 ml toluena
kemudian dikocok.
c. Biarkan larutan menjadi dua lapisan ( air dan toluen)
d. Zw pada lapisan toluen adalah zw golongan I dan zw pada lapisan air
adalah zw golongan II
B. Identifikasi Zat Warna Golongan I

I. Zat Warna Bejana

1. Amati uju pencucian


Tidak luntur atau luntur sedikit baik dalam suasana asam ataupun alkali dan
tidak mencelup kembali

2. Amati uji piridin


Tidak luntur atau luntur sedikit

3. Amati uji toluena


Terdapat pada lapisan toluena

4. Pengujian
a. Pisahkan larutan toluena dari air
b. Ambil ekstrak toluena sedikit, tambah sengsulfoksilat formaldehid dan
asam asetat 10 %, didihkan lalu dinginkan.
c. Oksidasikan dengan larutan natrium bikarbonat dan asam asetat
d. Warna akan kembali.

II. Zat Warna Dispersi


1. Amati uji pencucian
luntur sedikit baik dalam suasana asam ataupun alkali dan akan mencelup
kembali serat poliamida, asetat, poliester dan poliakrilat.

2. Amati uji piridin


Luntur banyak

3. Amati uji toluena


Terdapat pada lapisan toluena

4. Pengujian
a. Pisahkan larutan toluena dari air
b. Uapkan toluena yang sudah bersih sampai hampir kering.
c. Tambahkan air dan masukan serat asetat kedalam tabung lalu didihkan.
d. Serat asetat tercelup menunjukan zw dispersi
III. Zat Warna Naftol
1. Amati uju pencucian
Luntur sedikit baik dalam suasana asam ataupun alkali dan tidak mencelup
kembali semua jenis serat dalam suasana alkali maupun asam

2. Amati uji piridin


Luntur sedikit

3. Amati uji toluena


Terdapat pada lapisan toluena

4. Pengujian
a. Kedalam ekstrak toluen ditambahkan 5 ml air, pisahkan airnya dan cuci
larutan dengan air sebanyak dua kali
b. Pindahkan toluena, uapkan sampai kering.
c. Tambahkan 3 ml alkohol dan 0,5 NaOH 10 % panaskan
d. Tambahkan 3 ml air didihkan sampai alkohol menguap
e. Tambahkan natrium hidrosulfit didihkan sampai warna tereduksi, masukan
kapau putih dan NaCl didihkan.
f. Keluarkan kapas, bila kapas tercelup berwarna kuning menunjukkan zw
naftol
C. Identifikasi Zat Warna Golongan II

I. Zat Warna Direk


1. Amati Uji Pencucian. Zat Warna direk luntur banyak dalam uji pencucian.
Dalam suasana asam mencelup serat poliamida, sutera, wol dan poliakrilat
dengan warna tua sedang rayon dan kapas tercelup dengan warna muda.
2. Amati Uji Piridin. Zat Warna direk luntur cepat dalam larutn campuran
pirindin air.
3. Amati Uji Toluena. Zat Warna direk berada pada lapisan air.
4. Pengujian :
a. Pisahkan lapisan air dari lapisan toluena kedalam tabung reaksi lain.
b. Masukan kapas putih, NaCl dan satu tetes ammonia pekat.
c. Didihkan selama 1-2 menit, dinginkan. Apabila kapas tercelup seperti
contoh uji, menunjukan Zat Warna direk.

II. Zat Warna Asam


1. Amati uji pencucian. Zat Warna asam luntur banyak dalam uji pencucian.
Dalam suasana asam mencelup kembali serat poliamida, wol dan sutera
dengan warna tua. Dalam suasana alkali mencelup serat wol, sutera, kapas dan
rayon dengan warna muda.
2. Amati uji piridin. Zat Warna asam luntur dengan cepat dalam larutan piridin
air.
3. Amati uji toluena. Zat Warna asam terdapat dalam lapisan air.
4. Pengujian.
a. Pisahkan lapisan air dari lapisan kedalam tabung reaksi lain.
b. Tambahkan 3-4 tetes asam asetat 10% dan serat wol kemudian
didihkan selama 2 menit. Apabila wol tercelup menunjukan Zat Warna
asam.

III. Zat Warna Basa


1. Amati Uji Pencucian. Zat Warna basa luntur cepat dalam uji pencucian.
Dalam suasana asam mencelup kembali serat wol, sutera, akrilat dengan warna
tua dan menodai serat-serat lain. Dalam suasana alkali mencelup serat wol dan
sutera dengan warna tua dan menodai serat lain.
2. Amati Uji piridin. Zat Warna basa luntur banyak dalam larutan piridin air.
3. Amati Uji Toluena.
a. Tuangkan ekstrak piridin kedlam tabung reaksi yang berisi ekstrak
larutan toluena air.
b. Masukan 2 ml lrutan NaOH 10% hingga lapisan air bersifat alkali.
Kocok.
c. Amati, waran basa yang bersifat alkali menjadi tidak berwarna atau
berubah warnanya danakan berpindah dari lapisan air kedlam toluena.
d. Tuangkan ekstrak toluena kedalam tabung rekasi lain, tambahkan asam
aseatat 10%, kocok. Apabila warna contoh timbul kembali, menunjkan
Zat Warna basa
V. DATA PENGAMATAN