Anda di halaman 1dari 11

Uji patogenisitas dan virulensi .....

(Wibowo Mangunwardoyo)

UJI PATOGENISITAS DAN VIRULENSI Aeromonas hydrophila Stanier


PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus Lin.)
MELALUI POSTULAT KOCH

Wibowo Mangunwardoyo *) , Ratih Ismayasari **) , dan Etty Riani ***)


*)
Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Alam
Universitas Indonesia, Depok 16424
E-mail: w_mangunwardoyo@hotmail.com
**)
Stasiun Karantina Ikan Klas I Tanjung Priok
Jl. Enggano Raya 16, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara
***)
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
Jl. Rasamala, Kampus IPB, Darmaga, Bogor, 16680

(Naskah diterima: 14 Agustus 2009; Disetujui publikasi: 26 April 2010)

ABSTRAK

Bakteri Aeromonas hydrophila bersifat patogen mengakibatkan kematian sebanyak


50% pada ikan nila di keramba jaring apung. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti
patogenisitas dan virulensi dari dua enzim dan satu toksin haemolisin yang dihasilkan
oleh A. hydrophila pada ikan nila yang sehat. Analisis LC-50 menggunakan metode
Dragsted Bahrens menghasilkan nilai 4,9 x 106 cfu/mL. Virulensi A. hydrophila diuji
menggunakan metode Postulat Koch pada ikan nila sehat menyebabkan tubuh menjadi
kemerah-merahan, perdarahan pada permukaan tubuh dan luka borok yang akhirnya
menyebabkan kematian.

KATA KUNCI: Aeromonas hydrophila, LC-50, Postulat Koch, tubuh kemerah-


merahan, perdarahan dan luka borok

ABSTRACT: Pathogenicity and virulency of Aeromonas hydrophila stainer


on nila fish (Oreochromis niloticus Lin.) using koch postulate.
By: Wibowo Mangunwardoyo, Ratih Ismayasari, and Etty Riani

Aeromonas hydrophila is a highly pathogenic bacterium which caused more than


50% nila’s mortality at the pond culture. The purpose of the research was study on
the virulence and pathological effect of two A. hydrophila’s enzymes and one toxin
haemolycin on a healthy’s nila fish. Lethal Concentration 50 with injection of A.
hydrophila on nila was used as preliminary test to determine bacterial density that
caused 50% nila’s mortality. The LC50 was 4,9 X 106 cfu/mL determined by Dragsted
Bahrens methods. The A. hydrophila virulence test with The Postulat Koch had been
effects on healthy’s nila, with clinical sign were reddening, haemorrhagic all over the
body surface, and ulcer which caused mortality.

KEYWORDS: Aeromonas hydrophila, LC-50, Koch Postulate, reddening,


haemorrhagic, ulcer

245
J. Ris. Akuakultur Vol.5 No.2 Tahun 2010: 245-255

PENDAHULUAN virulensi bakteri, menurut Lallier et al. (1981);


Komisi Pestisida (1983), dapat diketahui
Keberhasilan budidaya ikan nila terkait dengan mencari Lethal Concentration (LC50),
dengan pemeliharaan kesehatan lingkungan sebagai uji pendahuluan untuk mengetahui
dan penyakit ikan yang disebabkan oleh kepadatan bakteri tertinggi yang dapat
bakteri. Salah satu bakteri yang umum dijumpai mematikan 50% ikan uji dalam waktu 96 jam.
di dalam ekosistem perairan dan berperan Hasil uji LC50 , selanjutnya digunakan dalam
sebagai microbial flora bagi hewan-hewan pengujian utama yaitu uji virulensi A.
air pada kondisi lingkungan stabil, adalah hydrophila pada ikan nila menggunakan tiga
Aeromonas hydrophila. Bakteri tersebut dapat tingkat kepadatan bakteri yang berbeda.
menjadi patogen pada ikan nila pada kualitas
air yang buruk. Selain itu, A. hydrophila juga Patogensitas dan tingginya virulensi A.
memiliki kemampuan osmoregulasi cukup hydrophila pada ikan nila ditentukan oleh
tinggi, karena dapat hidup di lingkungan faktor-faktor virulensi yang dihasilkan oleh
perairan tawar, perairan payau, dan laut bakteri. Penelitian yang dilakukan bertujuan
yang memiliki kadar garam tinggi dengan untuk mengetahui patogenisitas dan virulensi
penyebaran melalui air, kotoran burung, bakteri tersebut pada ikan nila dan penentuan
saluran pencernaan hewan darat, amfibi, dan Lethal Concentration (LC50).
reptilia (Swann & White, 1991; Cipriano, 2001).
BAHAN DAN METODE
Menurut Noga (2000), bakteri A. hydrophila
dapat menginfeksi banyak jenis ikan air Ikan Sampel
tawar seperti Catfish, Cyprinidae, Cichlidae,
Rainbow trout, Salmonidae, katak, siput, dan Ikan sampel adalah ikan nila (Oreochromis
udang air. Kemampuan A. hydrophila dalam niloticus Lin) berasal dari kolam pembesaran
melakukan infeksi pada ikan terkait dengan ikan Sekolah Tinggi Penyuluh Perikanan
kemampuan bakteri dalam menghasilkan Cikaret, Bogor sebanyak 250 ekor dengan
toksin. Menurut Chopra et al. (2000), A. panjang 7–10 cm dan bobot badan 20–30 g.
hydrophila termasuk ke dalam kelompok
bakteri patogen dengan virulensi yang tinggi. Persiapan peralatan uji
Tingkat virulensi bakteri tersebut ditentukan
Peralatan instalasi yang akan digunakan
oleh kemampuan bakteri menghasilkan enzim
pada pengujian virulensi: A. hydrophila pada
dan toksin tertentu yang berperan dalam
ikan nila adalah akuarium 30 cm x 20 cm x 20
proses invasi dan infeksi. Sebagai faktor-faktor
cm dan aerator. Akuarium dan selang aerasi
vilrulensi, kitinase, lesitinase, dan hemolisin
sebelum digunakan terlebih dahulu di-
yang dihasilkan oleh A. hydrophila, bekerja
desinfeksi di dalam larutan Kalium permanganat
dengan mendegradasi jaringan dan
(KMnO4) 2,5 mg/L selama 24 jam (Yuasa et al.,
menimbulkan luka serta pendarahan pada ikan
2003). Ikan sampel diaklimatisasi dalam
inang (Del Coral et al., 1990).
akuarium beraerasi selama 7 hari.
Ikan-ikan yang terinfeksi oleh bakteri
Peningkatan virulensi A. hydrophila
A. hydrophila pada umumnya mengalami
dengan tujuan meningkatkan kembali
pendarahan yang meluas pada permukaan kulit
patogenisitas dan virulensi bakteri dilakukan
(Haemorrhagic septicemia), yang diikuti
dengan menginfeksikan A. hydrophila pada
dengan timbulnya luka terbuka (ulcer) pada
ikan uji dengan teknik penyuntikan. Perlakuan
permukaan tubuh atau hingga ke dalam
tersebut dilakukan berdasarkan asumsi bahwa
jaringan. Selain itu, pada beberapa jenis
bakteri akan mengalami penurunan
ikan lain sering ditemukan tanda klinis seperti
kemampuan dan aktivitas metabolisme setelah
sirip punggung dan sirip ekor rontok, serta
melewati waktu 24 jam pada fase stasioner,
pembengkakan pada perut dan berisi cairan
sesuai dengan perkembangan kurva
(dropsy), yang diikuti dengan kematian (Popma
pertumbuhan bakteri (Moat et al., 2002).
& Masser, 1999; Yuasa et al., 2003).
Suspensi bakteri disiapkan dengan
Jawetz et al. (1996) menyatakan bahwa memindahkan koloni A. hydrophila ke dalam
untuk mengetahui penyebab utama suatu Tripton Soya Broth (TSB) 10 mL, kemudian
penyakit perlu dilakukan pengujian Postulat diaduk dengan menggunakan minimikser
Koch. Ikan uji harus menunjukkan gejala klinis sampai homogen. Suspensi sebanyak 0,1 mL
yang sama, dengan ikan yang sakit. Tingkat disuntikkan secara intraperitoneal dengan

246
Uji patogenisitas dan virulensi ..... (Wibowo Mangunwardoyo)

jarum suntik (1 mL) pada lima ekor ikan nila Uji virulensi A. hydrophila pada ikan
yang sebelumnya diinaktifkan dengan cara nila secara in vivo dengan Postulat
dicelupkan di dalam air suhu 25oC selama 30 Koch
detik. Ikan nila yang telah disuntik selanjutnya
dimasukkan ke dalam 10 L air di dalam akuarium Hasil perhitungan LC50 digunakan untuk uji
30 cm x 20 cm x 20 cm, dan dibiarkan selama utama yaitu uji virulensi A. hydrophila pada
48 jam atau sampai tampak gejala klinis ikan nila. Pada uji virulensi setiap ekor ikan
pada ikan. Isolasi bakteri kembali dilakukan nila uji disuntikkan A. hydrophila sebanyak 0,1
dari organ ginjal dan daerah luka pada ikan mL melalui intraperitoneal menggunakan tiga
yang mengalami hemoragik menggunakan kepadatan bakteri bertingkat yaitu 106, 107,
BHIA. Setelah 24 jam masa inkubasi di dalam dan 10 8 cfu/mL. Metode pengujian dan
suhu 30o C, satu koloni bakteri dominan pengukuran kualitas air dilakukan sama seperti
diinokulasikan kembali ke dalam media BHIA pada uji LC50. Perubahan tingkah laku, kelainan
dan diinkubasi kembali pada suhu yang sama. patologi, gejala klinis yang timbul dan tingkat
Re-identifikasi bakteri dilakukan setelah kematian diamati setiap 12 jam selama 4 hari.
bakteri dimurnikan dan mencapai fase
eksponensial (24 jam), dengan pewarnaan HASIL DAN BAHASAN
Gram dan pengujian karakter biokimia. Untuk
mengetahui kemampuan hemolisis, bakteri Hasil
tersebut diinokulasikan ke permukaan media
agar darah, dan diamati zona lisis yang terjadi. Peningkatan virulensi, isolasi dan
identifikasi Aeromonas hydrophila
Lethal Consentration (LC)50.
Peningkatan virulensi A. hydrophila
Uji LC 50 dilakukan untuk mengetahui dilakukan dengan tujuan mengembalikan
kepadatan konsentrasi bakteri yang dapat patogenitas bakteri tersebut, sehingga
mematikan 50% ikan uji. Lima kepadatan memiliki tingkat virulensi yang tinggi.
bakteri A. hydrophila digunakan untuk Sebelum penyuntikan dilakukan ikan nila tidak
mencari LC50 yaitu : 11,5 x 103, 104, 105, 106, menunjukkan gejala hiperaemia, tetapi setelah
dan 107 cfu/mL. Perhitungan koloni bakteri Infeksi bakteri 48 jam, timbul gejala klinis
dilakukan menggunakan Plate Count Agar pada permukaan tubuh seperti warna bagian
(PCA), dengan teknik perhitungan Total Plate perut menjadi putih, hemoragik meluas pada
Count (TPC) (Maturin & Peeler, 1998). Akuarium permukaan tubuh, pangkal sirip ekor dan
yang digunakan sebanyak 18 buah, dibagi 6 operkulum (Gambar 1), serta perubahan
kelompok. Setiap kelompok terdiri atas tiga patologi internal seperti pembengkakkan
akuarium yang masing-masing berisi 8 ekor organ hati, limpa, dan pendarahan pada
ikan nila. Kelompok I diberikan perlakuan lambung (Gambar 2). Identifikasi bakteri
penyuntikan A. hydrophila melalui intraperi- yang diisolasi dari organ ginjal dan luka
toneal dengan kepadatan bakteri 11,5 x 103 menunjukkan bakteri tersebut adalah A.
cfu/mL, kelompok II : 11,5 x 104 cfu/mL, hydrophila.
kelompok III : 11,5 x 105 cfu/mL, kelompok IV :
11,5 x 106 cfu/mL, dan kelompok V : 11,5 x Pengujian Lethal Concentration (LC)50
107 cfu/mL. Kelompok VI adalah ikan kontrol,
juga diberikan perlakuan dengan penyuntikan Perhitungan hasil LC50 menunjukkan bahwa
larutan Phosphate Buffer Saline (PBS). Volume persentase kematian ikan nila setelah
suspensi bakteri yang disuntikan pada setiap penyuntikan dengan kepadatan bakteri yang
ikan adalah 0,1 mL. Rancangan percobaan berbeda mengalami peningkatan kematian
yang digunakan adalah rancangan acak sejalan dengan meningkatnya kepadatan
lengkap dengan tiga kali pengulangan bakteri (Tabel 1). Hasil analisis data dengan
perlakuan (Sudjana, 1988). Perubahan tingkah metode Dragsted Behrens menghasilkan
laku, gejala klinis dan kematian ikan diamati 4,9 x 106 cfu/mL sebagai kepadatan bakteri
setiap 12 jam selama empat hari. Pengukuran A. hydrophila yang dapat mematikan 50% ikan
kualitas air dilakukan dua kali sehari, yaitu uji.
pukul 07.00 dan 18.00 WIB. Nilai LC 50 Tabel 1 memperlihatkan persentase
ditentukan dengan metode Dragsted Behrens kematian ikan nila meningkat dengan
(Hubbert, 1980). bertambahnya kepadatan bakteri. Makin tinggi

247
J. Ris. Akuakultur Vol.5 No.2 Tahun 2010: 245-255

a
c

b
d

Keterangan: a. haemorrhagic septicamia, b. luka, c. hemoragik lokal pada pangkal sirip dada,
d. ikan sehat
Legends: a. haemorrhagic septicaemia, b. ulcer, c. haemorrhagic on the base pectoralis fin, d. healty
fish

Gambar 1. Gejala klinis yang timbul pada perlakuan peningkatkan virulensi A. hydrophila
Figure 1. Clinical sign appeared on the treatment increasing virulency of A. hydrophila

a
c

Keterangan: a. pembengkakan hati, b. pembengkakan limpa, c.


pendarahan pada lambung
Legends: a & b heart and lymph sweeling, c. bleeding on the gastric

Gambar 2. Kelainan patologi organ hati, limpa, dan lambung


pada perlakuan peningkatkan virulensi A.
hydrophila
Figure 2. Pathological changes on heart, lymph, and gastric
on the treatment of increasing virulence of A.
hydrophila

248
Uji patogenisitas dan virulensi ..... (Wibowo Mangunwardoyo)

Tabel 1. Persentase tingkat kematian ikan nila setelah infeksi A. hydrophila (96 jam) pada uji
LC50
Table 1. Presentage of mortality nile tilapia after infected by A. hydrophila (96 hours) on of
LC50 test

Kepadat an bakt eri Ulangan ( Repeat ed ) Rerat a persent ase kemat ian
Bact eria densit y Average of m ort alit y
( cfu/mL) I II III present age ( %)

103 1 1 2 16.67
104 0 3 2 20.83
105 4 4 2 41.67
10 6
4 4 3 45.83
107 5 5 6 66.67

kepadatan bakteri yang diinfeksikan pada ikan, Data pada Tabel 2, menunjukkan terdapat
makin tinggi pula tingkat kematian ikan. perbedaan persentase kematian yang cukup
Perhitungan dengan metode Dragsted tinggi antar setiap perlakuan. Persentase
Behrens menetapkan kepadatan A. hydrophila kematian tertinggi 91,66% terjadi pada
4,9 x106 cfu/mL sebagai LC50. perlakuan infeksi dengan kepadatan bakteri
108 cfu/mL. Persentase kematian terendah
Uji virulensi Aeromonas hydrophila sebesar 54,16% terjadi pada perlakuan infeksi
pada ikan nila secara in vivo melalui dengan kepadatan 106 cfu/mL, yaitu kematian
Postulat Koch yang terjadi lebih dari 50% populasi ikan. Hasil
pengukuran parameter kualitas air meliputi
Hasil uji virulensi (Tabel 2), memperlihatkan suhu, pH, DO, dan CO2 serta NH3 selama
terjadinya peningkatan terhadap persentase perlakuan memperlihatkan lima parameter
kematian ikan, seperti pada uji LC50. Ikan uji tersebut masíh dalam kisaran batas normal
mengalami perubahan patologi eksternal dan (Tabel 3).
internal selama perlakuan. Ikan nila dengan Pengamatan terhadap perubahan patologi
perlakuan infeksi bakteri 106 cfu/mL sebagian eksternal dan internal dilakukan terhadap
besar memperlihatkan perubahan patologi setiap ekor ikan yang mengalami kematian.
seperti tubuh menjadi gelap, lemah, tidak Gambar 3. memperlihatkan terjadinya pem-
responsif, dan terdapat pendarahan lokal. bengkakkan pada organ hati dan limpa serta
Organ internal ikan nila memperlihatkan terjadi pendarahan pada usus ikan nila yang telah
pembengkakkan pada organ hati dan limpa, diberi perlakuan infeksi dengan kepadatan
serta pendarahan pada lambung (Gambar 3). bakteri 10 6 cfu/mL pada uji virulensi.
Tanda klinis makin jelas pada infeksi bakteri Perubahan patologi pada organ hati dan limpa
10 8 cfu/mL, seperti adanya ulcer yang telah terjadi pada hari pertama setelah
merupakan luka borok terbuka disertai penyuntikan dan semakin nyata setelah hari
pendarahan di sekeliling luka (Gambar 4). keempat.

Tabel 2. Persentase tingkat kematian ikan nila setelah uji virulensi (96 jam)
Table 2. Presentage level of mortality nile tilapia after virulence test (96 hours)

Kepadat an bakt eri Ulangan ( Repeat ed ) Persent ase kemat ian


Bact eria densit y Mort alit y present age
( cfu/mL) I II III (%)

106 4 4 5 54.16
107
6 5 5 66.67
108 7 7 8 91.66

249
J. Ris. Akuakultur Vol.5 No.2 Tahun 2010: 245-255

a
b c

Keterangan: a & b hati dan limpa membengkak, c. pendarahan


pada lambung
Legends: a & b heart and lymph sweeling, c. bleeding on the gastric

Gambar 3. Perubahan patologi organ internal ikan nila hari


ke 4 pada uji virulensi A. hydrophila 106 cfu/mL
Figure 3. Pathological changes of internal organ of nile
tilapia at the 4 days after treated with A.
hydrophila 106 cfu/mL

Keterangan: a. ulcer disertai pendarahan di sekitar luka


Legends: a. ulcer and bleeding around the scar

Gambar 4. Ulcer pada tubuh ikan nila pada uji virulensi A. hydrophila
108 cfu/mL
Figure 4. Ulcer on the body surface of nile tilapia on virulency test
of A. hydrophila 108 cfu/mL

Gambar 4 memperlihatkan ikan nila yang BAHASAN


telah diinfeksi dengan kepadatan bakteri 108
cfu/mL, mengalami luka terbuka atau ulcer di Peningkatan Virulensi, Isolasi, dan
daerah lokasi penyuntikan yang disertai Identifikasi Aeromonas hydrophila
pendarahan. Tubuh ikan semakin pucat, dan
ikan menunjukkan tanda moribund pada hari Peningkatan virulensi A. hydrophila di-
keempat sebelum ikan mati. Hasil nekropsi lakukan dengan dua kali ulangan bertujuan
memperlihatkan terjadinya infeksi pada hati meningkatkan kembali patogenisitas dan
dan limpa. virulensi bakteri, sehingga infeksi A.

250
Uji patogenisitas dan virulensi ..... (Wibowo Mangunwardoyo)

Tabel 3. Rerata hasil pengukuran kualitas air pemeliharaan pada uji virulensi
A. hydrophila (96 jam)
Table 3. The average of measurement water quality on virulence test A.
hydrophila (96 hours)

Kont rol ( Cont rol )

Hari Suhu C02 DO NH 3


Days pH
Tem perat ure ( o C) (mg/L) (mg/L) (mg/L)

1 27 7.0-7.1 4.0-5.0 5.0-6.0 0.5


2 27 7.0-7.2 5.0-5.5 5.0-6.0 1.0
3 27 7.1-7.2 5.5-6.0 6.0-7.0 1.0
4 27 7.1-7.2 5.5-7.0 6.0-7.0 1.0

Perlakuan ( Treat m ent )

1 26-27 7.0-7.2 4.0-5.0 5.0-6.0 0.5


2 27 7.1-7.2 5.0-5.5 5.0-6.0 1.0
3 27 7.1-7.3 5.5-6.0 5.5-7.0 1.0
4 27 7.1-7.3 5.0-6.0 6.0-7.0 1.0

hydrophila pada ikan uji nila menjadi optimal. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kembali
Isolasi dan identifikasi bakteri yang diambil dari patogenisitas A. hydrophila yang telah 30 hari
ginjal dan luka menghasilkan bakteri dengan berada dalam kondisi inaktif, bakteri kembali
warna dan bentuk koloni, serta morfologi disuntikkan ke dalam tubuh ikan nila, agar
bakteri yang sama dengan karakter A. bakteri dapat kembali memproduksi senyawa
hydrophila. Identifikasi biokimia menunjukkan yang bersifat toksin pada lingkungan yang
bakteri tersebut A. hydrophila. tepat.
Patogenisitas bakteri perlu ditingkatkan Isolat A. hydrophila yang digunakan dalam
karena metabolisme bakteri dalam kultur in uji LC50 dan uji virulensi adalah bakteri yang
vitro dapat menurun setelah periode waktu telah berada di dalam media Brain Heart
tertentu. Menurut Moat et al. (2002), rerata Infusion Agar (BHIA) dan sebelumnya telah
bakteri mencapai pertumbuhan optimal pada digunakan dalam pengujian in vitro (enzim dan
fase eksponensial, yaitu pada jam ke-4–ke-12. toksin ekstraselular). Isolat bakteri tersebut
Bakteri selanjutnya akan mengalami fase telah disimpan di dalam lemari pendingin dalam
stasioner pada masa inkubasi sampai dengan kondisi inaktif pada suhu 4oC selama 30 hari.
48 jam. Pada fase tersebut persentase antara A. hydrophila termasuk ke dalam bakteri
bakteri yang hidup dan yang mati adalah sama. mesofilik, yaitu hidup pada suhu optimum
Bakteri akan mengalami fase kematian setelah 20oC–40oC. Menurut Moat et al. (2002), suhu
melewati fase 24 jam. Kondisi tersebut terkait rendah di dalam lemari pendingin dapat
dengan ketersediaan nutrisi dan lingkungan menyebabkan aktivitas enzim pada bakteri
yang tepat untuk kehidupan bakteri tersebut. menurun bahkan hilang, sehingga mem-
pengaruhi metabolisme dan patogenisitas
Selama masa pertumbuhan A. hydrophila bakteri tersebut. Kondisi suhu di luar batas
yang dikultur di dalam media akan optimum menyebabkan terjadinya lubang
mengeluarkan metabolit primer maupun pada membran sel, diikuti dengan dikeluarkan-
sekunder yang dapat menurunkan kualitas nya senyawa yang bersifat toksin, seperti
nutrisi di dalam media. Nutrisi yang tersedia di superoxida yang toksik bagi bakteri itu sendiri.
dalam media kultur sangat terbatas dan akan Ikan digunakan sebagai media uji virulensi,
habis pada periode waktu tertentu. Kondisi sebab ikan nila merupakan salah satu inang A.
tersebut dapat memengaruhi aktivitas dan hydrophila dan di dalam tubuh ikan tersebut
patogenisitas bakteri (Maturin & Peller, 1998). bakteri mendapatkan lingkungan dengan suhu,

251
J. Ris. Akuakultur Vol.5 No.2 Tahun 2010: 245-255

pH, dan nutrisi yang cukup untuk hidup dan dan perbedaan waktu penelitian yang cukup
memperbanyak diri (Robert, 1993; Eissa et al., lama. Menurut Swann & White (1991), ikan nila
1994). secara morfologi memiliki perbedaan dengan
Kembalinya patogenisitas dan virulensi ikan lele. Ikan nila memiliki sisik tubuh rapat
bakteri dibuktikan dengan terjadi hiperaemia dan memiliki kemampuan adaptasi lingkungan
pada permukaan tubuh, hemoragik lokal pada yang cukup tinggi, sedangkan ikan lele tidak
pangkal sirip dan operkulum sesuai dengan memiliki sisik sehingga lebih rentan terhadap
gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi A. infeksi bakteri.
hydrophila dan reaksi hemolisis pada agar Keberadaan A. hydrophila di alam yang
darah (Santos, 1999; Filler et al., 2000). Luka dengan mudah dapat ditemukan pada per-
dan hemoragik yang terjadi pada tubuh ikan mukaan tubuh maupun organ dalam ikan nila
diduga disebabkan oleh toksin ekstraselular sehat, sebab sifat bakteri yang oportunistik
yang bekerja bersinergi merusak jaringan pada (Buckley & Howard, 1999). Keadaan tersebut
tubuh ikan. Hemolisin yang dihasilkan oleh dan memberikan respons imun yang cukup
bakteri tersebut bekerja memecah dan besar bagi ikan nila, sehingga pada kepadatan
melisiskan sel-sel darah merah. Hal tersebut bakteri di bawah 106 cfu/mL, belum dapat
terlihat dengan adanya luka dan pendarahan mematikan 50% populasi ikan nila.
pada tubuh ikan nila. Pengujian pada media
agar darah memperlihatkan terjadinya zona A. hydrophila mampu mematikan 50%
bening yang merupakan aktivitas β-hemolisis populasi ikan lele pada 105 cfu/mL. Kepadatan
di sekeliling koloni, yang menunjukkan bakteri tersebut lebih rendah dibandingkan
terjadinya proses lisis secara sempurna oleh dengan hasil uji pada ikan nila yaitu 106 cfu/
A. hydrophila (Chopra et al., 2000). mL. Hal tersebut memperlihatkan adanya
perbedaan tingkat virulensi bakteri pada
Uji Lethal Concentration (LC50) ikan lele dan ikan nila. Ada 2 faktor yang
berpengaruh yaitu: 1) ketahanan ikan yang
Pengujian LC50, dilakukan untuk men- berbeda dan 2) virulensi bakteri berbeda.
dapatkan kepadatan bakteri (cfu/mL) yang
Terjadinya hal tersebut tersebut diduga
mampu mematikan 50% populasi ikan nila.
Perhitungan dengan metode Dragsted akibat pertahanan tubuh ikan lele yang lemah.
Behreins menghasilkan 4,9 x 10 6 cfu/mL Untuk melindungi tubuh dari infeksi bakteri,
sebagai LC50. Terjadinya kematian pada ikan lele akan mengeluarkan lendir terus-menerus
nila yang terinfeksi A. hydrophila membuktikan sehingga mengakibatkan metabolisme tubuh
bahwa bakteri tersebut bersifat patogen dan meningkat, dan pemakaian energi lebih banyak.
sangat virulen pada ikan. Menurut Jawetz et Akibatnya ikan menjadi cepat lemah dan
al. (1996), bakteri termasuk mikroorganisme mudah stres. Keadaan tersebut mempermudah
patogen apabila memiliki kemampuan untuk bakteri untuk masuk dan menginfeksi dengan
melakukan transmisi, perlekatan dengan mengeluarkan toksin melalui tempat terbuka
sel inang, invasi sel dan jaringan inang, seperti insang, ekor atau sirip (Mims, 1987;
menyebabkan infeksi pada sel inang yang Supriyadi, 1990).
diikuti dengan kematian.
Uji Virulensi Aeromonas hydrophila
Hasil pengujian tersebut berbeda dengan pada Ikan Nila Secara in vivo melalui
pengujian yang dilakukan oleh Lallier et al. Postulat Koch
(1981) yaitu nilai LC50 untuk A. hydrophila yang
bersifat virulen pada ikan Rainbow trout adalah Uji virulensi A. hydrophila melalui
104 cfu/mL. Menurut Lallier et al. (1981), A. penyuntikan intraperitoneal menunjukkan
hydrophila sangat virulensi apabila mampu bakteri tersebut sangat virulen pada ikan nila,
mematikan 50% ikan uji pada kepadatan bakteri sebab infeksi dengan kepadatan bakteri 106
104 cfu/mL, virulen sedang pada 105 cfu/mL cfu/mL, ikan uji telah mengalami kematian
dan tidak virulen sama sekali pada 106 cfu/ sebesar 50% dalam waktu 96 jam Adapun gejala
mL. Pengujian yang telah dilakukan oleh klinis berupa perubahan tingkah laku ikan
Supriyadi (1990), menghasilkan 105 cfu/mL menjadi lemah, tidak aktif dan tidak responsif,
sebagai LC50 pada ikan lele (Clarias batrachus). hemoragik lokal di pangkal sirip punggung,
Perbedaan hasil pengujian dan perhitungan pangkal sirip ekor dan operkulum yang diikuti
LC50 tersebut diduga akibat sumber asal bakteri oleh kematian ikan. Kematian mulai terjadi pada
dan ikan host yang digunakan sangat berbeda hari kedua hingga hari keempat. Virulensi

252
Uji patogenisitas dan virulensi ..... (Wibowo Mangunwardoyo)

bakteri bertambah pada perlakuan dengan mendegradasi lapisan kitin sehingga mudah
kepadatan bakteri lebih tinggi, dengan tanda- ditembus oleh bakteri. Selain memanfaatkan
tanda perlukaan yang lebih meluas hingga kitinase A. hydrophila juga mengeluarkan
terjadinya ulcer pada bagian perut dekat sirip enzim lainnya seperti lesitinase dalam upaya
ekor. Bagian tersebut merupakan lokasi tempat masuk ke dalam aliran darah (Wijaya, 2002;
infeksi buatan (penyuntikan). Nasran et al., 2003).
Hemoragik yang terjadi pada pangkal sirip Enzim kitinase dan lesitinase memiliki
punggung, pangkal sirip ekor, dan operkulum, peran penting dalam proses infeksi, seperti
disebabkan oleh toksin hemolisin dengan disampaikan oleh Harini & Septaningrum
target memecah sel-sel darah merah, sehingga (2006), bahwa proses degradasi lapisan kitin
sel keluar dari pembuluh darah, menimbulkan adalah reaksi hidrolisis oleh katalisator kitinase
warna kemerahan pada permukaan kulit (Huys dalam memecah dan pemutusan ikatan β-1-4-
et al., 2002). Terjadinya ulcer disebabkan oleh glikosidik pada kitin yang melapisi bagian epi-
tingginya kepadatan bakteri pada lokasi dermis tubuh ikan. Hasil hidrolisis enzim
tersebut, sehingga volume dan intensitas berupa N-asetil-D-glukosamin yang merupakan
toksin yang dikeluarkan pada proses infeksi oligomer pendek, dapat dimanfaatkan oleh
juga lebih tinggi pada bagian tersebut, bakteri sebagai sumber karbon, sehingga
sementara sebagian lainnya masuk ke dalam bakteri dengan mudah dapat menembus
tubuh mengikuti aliran darah (Mims, 1987; lapisan kitin.
Robert, 1993).
Lesitinase menurut Raven & Johnson
Daya kerja toksin pada bakteri berkaitan (1986); Del Bene & Schmidt (1997) merupakan
dengan sel reseptor spesifik. Adanya interaksi enzim ekstraselular yang terdapat pada bakteri
antara sel reseptor dalam tubuh dengan patogen dan bekerja menghidrolisis fosfolipid
hemolisin, menimbulkan efek perlukaan pada sebagai penyusun membran plasma sel,
tubuh. Hal tersebut didukung oleh Virella menjadi fosfokolin dan digliserida, sehingga
(1997), bahwa toksin ekstraselular memiliki dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi oleh
dua wilayah penentu virulensi yaitu daerah bakteri.
perlekatan yang merupakan daerah tempat
Bakteri bergerak dengan sangat cepat di
toksin melekat pada sel reseptor spesifik dan
dalam pembuluh darah, dan dengan mudah
daerah aktif sebagai penyebab utama infeksi
mencapai organ-organ penting dari ikan
pada sel.
seperti pada sinusoid hati dan ginjal. Lokasi
Menurut Chopra et al. (2000); Figueras et tersebut akan dimanfaatkan oleh bakteri
al. (2007), A. hydrophila merupakan bakteri sebagai media tempat hidup dan mem-
akuatik bersifat patogen pada ikan-ikan perbanyak diri, serta menggunakan nutrisi
khususnya ikan air tawar. Selain menginfeksi yang ada di sekitarnya untuk proses meta-
ikan, bakteri tersebut dapat menyebabkan bolisme (Bevelender & Ramaley, 1979).
penyakit pada pencernaan manusia yang Masuknya bakteri dalam tubuh meng-
bersifat akut terutama pada anak-anak. Setiap aktifkan respons imun dengan memproduksi
strain bakteri Aeromonas yang berbeda polimorfonuklear leukosit, seperti melano-
memproduksi sejumlah enzim yang berbeda makrofag, monosit, dan neutrofil yang
pula. Selain enzim, A. hydrophila juga meng- berperan sebagai phagocytic sel. Kehadiran
hasilkan toksin seperti hemolisin, sitotoksin, leukosit tersebut menyebabkan bakteri
dan enterotoksin. Virulensi A. hydrophila mengeluarkan toksin hemolisin yang
melibatkan banyak faktor virulensi dan sangat mengakibatkan terjadinya ulcer dan hemoragik
kompleks. Hemolisin dan enzim bekerja sama pada permukaan tubuh ikan nila. Hemoragik
dalam membuka jaringan permukaan kulit dan dan nekrosis juga terjadi pada hati, limpa, dan
sisik ikan. ginjal yang terinfeksi bakteri 107 cfu/mL diikuti
Proses invasi bakteri patogen ke dalam oleh kematian seluruh sel atau jaringan (Robert,
tubuh diawali dengan melekatnya bakteri pada 1993; Post, 1987). Pada saat bersamaan
permukaan kulit, dengan memanfaatkan pili, lisosom merupakan organel penghasil enzim
flagela dan kait untuk bergerak, dan melekat hidrolitik di dalam sel hati limpa dan ginjal,
kuat pada lapisan terluar tubuh ikan yaitu sisik melakukan tugasnya dalam melisiskan dinding
yang dilindungi oleh zat kitin. Selama proses sel bakteri. Sel-sel bakteri maupun neutrofil
invasi tersebut A. hydrophila memproduksi yang mati difagositosis oleh makrofag untuk
enzim kitinase yang juga berfungsi dihidrolisis (Geneser, 1994).

253
J. Ris. Akuakultur Vol.5 No.2 Tahun 2010: 245-255

KESIMPULAN ciated with cytotoxic Aeromonas sobria


isolated from patient’s stool and from
Lethal Concentration (LC) 50 bakteri aquarium water as suspected source of
Aeromonas hydrophila adalah 4,9 x 10 6 Infectio. J. of Clinical Microbiology, 38(1):
cfu/mL. A. hydrophila bersifat patogen, 469–470.
virulen dan menyebabkan kematian 50% Figureas, M.J., Horneman, A.J., Murcia, A.M., &
populasi ikan nila pada kepadatan bakteri Guarro, J. 2007. Controversial data on the
minimum 106 cfu/mL. Infeksi yang ditimbulkan association of Aeromonas with diarrhoea
bersifat akut dengan tanda klinis warna kulit in a recent Hongkong study. J. of Medical
menjadi lebih gelap, hemoragik pada kulit, Microbiology, 56: 996–998.
hemoragik lokal pada pangkal sirip ekor, sirip
Genneser, F. 1994. Buku teks histologi. Terj.
punggung, dan operkulum, pembengkakan
dari Textbook of histology, oleh Arifin, G.,
organ hati dan limpa serta pendarahan pada
Kartawiguna, E., & Arkeman, H. 1994.
organ pencernaan.
Binarupa Aksara, Jakarta, xiii + 354 hlm.
DAFTAR ACUAN Harini, N. & Septariningrum, D. 2006.
Karakterisasi enzim chitinase hasil isolasi
Buckley, J.T. & Howard, S.P. 1999. The cyto- dari kultur murni bakteri Vibrio alginolyticus.
toxin entherotoxin Aeromonas hydrophila Prosiding Seminar Nasional Tahunan III
is aerolysin. Infection and Imunnunity, Hasil Penelitian Perikanan Dan Kelautan.
67(1): 466–467. Murwantoko, I., Yusuf, Djumanto,
Bevelander, G. & Ramaley, J.A. 1979. Dasar- Inansetyo, A., & Priyono, S.B. (Eds.). Univer-
dasar histologi, Terj. dari Essential of sitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm. 557–
histology oleh Gunarso, W. 8th ed. Tobing, 565.
M.H. & Sitohang, M.J. (Eds.).1979. Gelora Huys, G., Kampfer, P., Albert, M.J., Kuhn, I.,
Aksara Pratama, Jakarta, iii + 460 hlm. Denys, R., & Swings, J. 2002. Aeromonas
Cipriano, R.C. 2001. Aeromonas hydrophila hydrophila subsp, dhakensis subps. nov.,
and motil Aeromonad septicemia of fish. isolated from children with diarrhoea in
Fish diseases leaflet 68. United States Bangladesh, and extended description of
Department of the Interior fish and wild life Aeromonas hyrdophila subsp. hydrophila
service division of fisheries research (Chester 1901) Stanier 1943 (Approved list
Washington DC, 25 pp. 1980). International J. of Systematic and
Chopra, A.K., Xu, X.I., Ribardo, D., Gonzales, M., Evolutionary Microbiology, 52: 705–712.
Kuhl, K., Peterson, J.W., & Huston, C.W. 2000. Hubbert, J. J. 1980. Bioassay. Departement of
The cytotoxic enterotoxin of Aeromonas Mathematics and Statistic University of
hydrophila induces proinflamantory Guelph, Kendal/Hunt Publishing company,
cytokine production and activates arachi- USA, iii + 180 pp.
donic acid metabolisme in machrophages. Jawetz, E., Melnick, J.L., Adelberg, E.A., Brooks,
Infection and Immunity, 68(5): 2,808– G.F., Butel, J.S., & Ornston, L.N. 1996.
2,818. Mikrobiologi Kedokteran. Terj. dari Medical
Del Bene,V. & Schmidt, M.G. 1997. Bacterial Microbiology. 20th Eds. Setiawan, I (Ed.).
virulence factors. Dalam: Virella, G. (Ed.). 1996. EGC, Jakarta, xiii + 753 hlm.
1997. Microbiology and infectious disease. Komisi Pestisida Departemen Pertanian. 1983.
3rd Ed. William & Wilkins, Baltimore, p. 65– Pedoman umum pengujian laboratoris
70. toksisitas lethal pestisida pada ikan
Del Coral, F., Shotts, E.B., & Brown, J. 1990. Ad- untuk keperluan pendaftaran, Jakarta,
herence haemagglutination and cell sur- 19 pp.
face characteristics of motil aeromonads Lallier, R., Mittal, K.R., Leblance, D., Lalonde, G.,
virulent for fish. J. of Fish Diseases. 13: 255– & Olivier, G. 1981. Rapid methods for dif-
268. ferentiation of virulent and non virulent
Eissa, I.M., Badran, A.F., Moustafa, M., & Fetaih, Aeromonas hydrophila strains. Dalam:
H. 1994. Contribution to Motile Aeromonas Karger, S. (Ed.).1981. Serodiagnostics and
in some cultured and wild fresh fish. Vet- vaccines. International Symposium on Fish
erinary Medical J. Giza, 42(1): 62–69. Biologics. National Fish Health Research
Filler, G., Ehrich, J.H.H., Strauch, E., & Beutin, L. Laboratory, Leetown USA, April 26–30,
2000. Acute renal failure in an infant asso- 1981. USA, p. 119–123.

254
Uji patogenisitas dan virulensi ..... (Wibowo Mangunwardoyo)

Maturin, L.J. & Peeler, J.T. 1998. Aerobic plate Santos, J.A., Gonzalez, C.J., Otero, A., & Lopez,
count Dalam: 8th Ed. FDA Bacteriological M.L.G. 1999. Hemolytic activity and
analytical manual. AOAC International, sidephore production in different
USA, p. 1–10. Aeromonas species isolated fro fish. Ameri-
Mims, C.A. 1987. The pathogenesis of infectious can society for microbiology-Applied
disease. 3rd Ed. Department of Microbiology and environmental microbiology, 65(12):
Guys Hospital Medical School. Academic 5,612–5,614.
Press, London, xi+ 342 pp. Sudjana, 1988. Diasin dan analisis eksperimen.
Moat, A.G., Foster, J.W., & Spector, M.P. 2002. Transito, Bandung, 283 hlm.
Microbial physiology. 4th Ed. Willey & Liss, Supriyadi, H. 1990. Characterization and viru-
Inc, USA, xiv+15 pp. lence studies of Motile Aeromonads iso-
Nasran, S., Ariyani, F., & Indriyati, N. 2003. lated from Clarias batrachus and C.
Produksi kitinase dan kitin deasetilase dari gariepinus and their immunization potential.
Vibrio harveyi. J. Pen. Perik. Indonesia, 9(5): Thesis The Degree of Master of Science.
33–38. Universiti Pertanian Malaysia, xvii +112 pp.
Noga, J.E. 2000. Fish disease diagnosis and Swann, L.D. & White, M.R. 1991. Diagnosis and
treatment. Iowa State Press. USA. 366 p. treatment of Aeromonas hydrophila infec-
Popma, T. & Masser, M. 1999. Tilapia live history tion of fish. Aquaculture extentions, Sea
and biology. Southern Regional aqua- Grant, 2 pp.
culture. United States Department of Virella, G. 1997. Microbiology and infectious
agriculture. 283: 4 hlm. disease. 3rd Ed. William & Wilkins, Baltimore,
Post, G. 1987. Textbook of fish health. T.F.H p. 65–70.
Publication, Inc. USA, iv+287 pp. Wijaya, S. 2002. Isolasi kitinase dari Scleroderma
Raven, P.H. & Johnson, G.B. 1986. The chemi- columnare dan Trichoderma harzianum. J.
cal building blocks of life. Dalam: Biologi. Ilmu Dasar Biologi, 3(1): 30–35.
Times mirror, St.Louis, p. 55–79. Yuasa, K.N., Panigoro, M.B., & Kholidin. 2003.
Roberts, R.J. 1993. Motil Aeromonad Septice- Panduan diagnosa penyakit ikan: Teknik
mia. Dalam: Inglish,V., R.J. Roberts & N.R. diagnosa penyakit ikan budidaya air tawar
Bromage (Eds.).1993. Bacterial diseases of di Indonesia. Balai budidaya air tawar Jambi
fish. Institut of Aquaculture. Blackwell & Jakarta. International Cooperation
Science Ltd, USA, p. 143–156. agency: iv+75 hlm.

255