Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN PROSES PIKIR: WAHAM

I. Kasus ( Masalah Utama)


Gangguan proses pikir: Waham

II. Proses Terjadinya Masalah (dalam bentuk narasi)


Pengertian
- Menurut Maramis (2005) waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang
tidak sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar
belakang kebudayaannya.
- Menurut David A. Tomb (2004) Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah
yang tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan tersebut, mungkin “aneh” dan
tetap dipertahankan meskipun telah dipertahankan bukti-bukti yang jelas untuk
mengoreksinya.
- Townsend (1998) mengatakan bahwa waham adalah istilah yang digunakan
untuk menunjukkan ide-ide yang salah. Menurut Kaplan and Sadock (1998)
waham adalah keyakinan yang palsu, didasarkan pada kesimpulan yang salah
tentang kenyataan eksternal, tidak sejalan dengan intelegensia pasien dan latar
belakang kultural.
- Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang
salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar
belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh faktor pertumbuhan dan
perkembangan seperti adanya penolakan, kekerasan, tidak ada kasih sayang,
pertengkaran orang tua dan aniaya. (Budi Anna Keliat,1999).
Dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa waham sebagai salah
satu perubahan proses khususnya isi pikir yang ditandai dengan keyakinan terhadap
ide-ide, pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan dan sulit diubah dengan logika
atau bukti bukti yang ada.

Jenis–Jenis Defisit Perawatan Diri


Adapun jenis-jenis waham menurut Stuart and Sundeen (1998, hal. 302) dan Keliat
(1998) waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu:
a. Waham agama
Keyakinan klien terhadap suatu agama secara berlebihan diucapkan berulang
kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
b. Waham kebesaran
Klien yakin secara berlebihan bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuatan
khusus, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
c. Waham somatik
Klien meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu dan terserang
penyakit, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
d. Waham curiga
Kecurigaan yang berlebihan dan tidak rasional dimana klien yakin bahwa ada
seseorang atau kelompok orang yang berusaha merugikan atau mencederai
dirinya, diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
e. Waham nihilistik
Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia atau meninggal, diucapkan
berulang kali tapi tidak sesuai kenyataan.
f. Waham bizar
 Sisip pikir: klien yakin ada ide pikiran orang lain yang disisipkan didalam
pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan
kenyataan.
 Siar pikir: klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan
walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut yang dinyatakan
secara berulang-ulang dan tidak sesuai dengan kenyataan.
 Kontrol pikir: klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari luar.

Faktor – faktor penyebab waham


Menurut Maramis (2005), hal-hal yang menyebabkan gangguan proses pikir: waham
adalah ketidakmampuan untuk memercayai orang lain, panik, menekan rasa takut,
stress yang berat yang mengancam ego yang lemah, dan kemungkinan faktor
herediter.
Secara khusus faktor penyebab timbulnya waham diuraikan dalam beberapa teori
yaitu:
a. Faktor Predisposisi
Menurut Townsend (1998) faktor predisposisi dari perubahan isi pikir: waham
dapat dibagi menjadi 2 teori yang diuraikan sebagai berikut:
(1) Teori Biologis
 Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan
suatu kelainan ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan
kelainan yang sama (orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).
 Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan
skizofrenia mungkin pada kenyataannya merupakan suatu kecacatan
sejak lahir terjadi pada bagian hipokampus otak. Pengamatan
memperlihatkan suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di dalam otak dari
orang-orang yang menderita skizofrenia.
 Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamin
neurotransmiter yang dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala
peningkatan aktivitas yang berlebihan dari pemecahan asosiasi-asosiasi
yang umumnya diobservasi pada psikosis.
(2) Teori Psikososial
Teori sistem keluarga Bawen dalam Lowsend (1998) menggambarkan
perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga.
Konflik diantara suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam
anak akan menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansietas dan
suatu kondsi yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu hubungan
yang saling mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan anak-
anak. Anak harus meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan
anak dan masuk ke dalam masa dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak
akan mamapu memenuhi tugas perkembangan dewasanya.
(3) Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan
menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak
menerima pesan-pesan yang membingungkan dan penuh konflik serta orang
tua tidak mampu membentuk rasa percaya terhadap orang lain.
(4) Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego
yang lemah. Perkembangan yang dihambat dalam suatu hubungan saling
mempengaruhi antara orang tua dan anak. Karena ego menjadi lebih lemah
penggunaan mekanisme pertahanan ego pada waktu kecemasan yang
ekstrim menjadi suatu yang maladaptif dan perilakunya sering kali
merupakan penampilan dan segmen diri dalam kepribadian.
b. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart (2008) faktor presipitasi dari perubahan isi pikir: waham, yaitu:
(1) Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang maladaptif
termasuk gangguan dalam putaran umpan balik otak yang mengatur
perubahan isi informasi dan abnormalitas pada mekanisme pintu masuk
dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi rangsangan.
(2) Stress lingkungan
Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang
berinterasksi dengan sterssor lingkungan untuk menentukan terjadinya
gangguan prilaku.
(3) Pemicu gejala
Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang maladaptif
berhubungan dengan kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu,
seperti: gizi buruk, kurang tidur, infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau
lingkungan yang penuh kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap
penampilan, stres gangguan dalam berhubungan interpersonal, kesepain,
tekanan, pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan sebagainya.

Tanda dan Gejala Defisit Perawatan Diri


 Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama, kebesaran,
kecurigaan, keadaan dirinya berulang kali secara berlebihan tetapi tidak
sesuai kenyataan
 Klien tampak tidak mempunyai orang lain

 Curiga

 Bermusuhan

 Merusak (diri, orang lain, lingkungan)

 Takut, sangat waspada

 Tidak tepat menilai lingkungan/ realitas

 Ekspresi wajah tegang

 Mudah tersinggung
(Azis R dkk, 2003)

Akibat deficit perawatan diri


Klien dengan waham dapat berakibat terjadinya resiko mencederai diri, orang
lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang
kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
Tanda dan Gejala :
 Memperlihatkan permusuhan
 Mendekati orang lain dengan ancaman

 Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai

 Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan

 Mempunyai rencana untuk melukai


III. Rentang Respon (Sesuai masalah utama)

Respon Adaptif Respon Maladaptif


Pikiran logis Distorsi pikiran Gangguan proses
pikir/delusi/waham

Persepsi akurat Ilusi Halusinasi


Emosi konsisten Reaksi emosi Sulit
beresponemosi
dengan pengalaman berlebihan atau
kurang

Perilaku sesuai Perilaku aneh atau Perilaku


disorganisasi
tidak biasa
Perilaku
disorganisasi
Berhubungan sosial Menarik diri Isolasi sosial

IV. A. Masalah Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji


1. Resiko menciderai diri, orang lain, dan lingkungan
2. Perubahan isi pikir : waham

3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.


4. Koping individu tidak efektif
5. Isolasi sosial: menarik diri
Data yang perlu dikaji
Masalah Data yang perludikaji
keperawatan
Risiko Subjektif :
Klien mengatakan marah dan jengkel kepada orang lain, ingin
mencederai
membunuh, dan ingin membakar atau mengacak-acak
diri, orang
lingkungannya.
lain dan
Objektif
lingkungan Klien mengamuk, merusak dan melempar barang-barang,
melakukan tindakan kekerasan pada orang-orang
disekitarnya.
Gangguan isi Subyektif :
piker: waham Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang
agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali
secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
Objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga,
bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut,
kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai
lingkungan/ realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah
tersinggung.
Gangguan Subjektif:
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu
Konsep Diri:
apa- apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan
Harga Diri
perasaan malu terhadap diri sendiri.
Rendah
Objektif:
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternative tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri
hidup

B. Pohon Masalah

AKIBAT

Risiko mencederai diri, oranglain dan lingkkungan

CORE PROBLEM

Gangguan isi piker: Waham

ETIOLOGI

Isolasi Sosial: Menarik diri

Gangguan Konsep diri: Harga diri rendah

Koping individu tidak efektif

V. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan proses pikir : waham
VI. Rencana Tindakan Keperawatan (terlampir)
DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino
Gonohutomo, 2003

Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC,
1999
Keliat Budi Ana, Gangguan Konsep Diri, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
Maramis, W.F (2005). Catatan ilmu kedokteran jiwa, Surabaya ; Airlangga University
Press
Stuart GW, Sundeen, Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.).
St.Louis Mosby Year Book, 1995
Santoso, Budi. 2005 – 2006. Panduan Diagnosa Nanda. Jakarta : Prima Medika.
Stuart, G.W. dan Sundden, S.J. ( 2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta :
EGC
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP
Bandung, 2000
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN
DENGAN GANGGUAN PROSES PIKIR: WAHAM

OLEH:
I PUTU RAMA CANDRA
1102105001

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2013