Anda di halaman 1dari 6

WARTA RIMBA ISSN: 2406-8373

Volume 2, Nomor 1 Hal: 171-176


Juni 2014

ANALISIS KEBIJAKAN DAERAH DALAM RANGKA PENGELOLAAN


HUTAN LINDUNG WEHEA DI KABUPATEN KUTAI TIMUR

Aliri
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman
Korespondensi: aryanfaizya12@gmail.com

Abstract
This research was conducted in Wehea Protected forest in the district of East Kutai Regency
Kongbeng . The purpose of this study is to identify and assess the policies ( rules and activity
programs ) East Kutai regional government in managing Wehea forest .The research was using
GAP Method to analyze the policies implementation that applicable in central government and
East Kutai in relationship with the fact of Wehea Protected Forest management from some
aspects such as human resources, forest resources, institutional and social. Analysis revealed
that the policy of district government that published the decree No. 44/02.188.45/HK/II/2005)
which is supported by society and recommendation from few instances are effort to support
Wehea Forest Protected management. The substances of the policies that published by district
government and other instances more leads to manage this area in conservation function that
protected function. That policy did not reach the result as expected yet because the decree about
the determination of this area to be a protected forest from Department of Forestry was not
published yet.
Keyword : Wehea Forest Protections, Regional Policy, GAP Anilysis.

secara ekonomi tidak layak lagi untuk


PENDAHULUAN diusahakan. Dengan alasan tersebut
pemerintah daerah mengusulkan kepada
Latar Belakang pemerintah pusat untuk merubah fungsi
Menurut data Statistik hutan di Indonesia kawasan tersebut menjadi hutan lindung.
meliputi kawasan seluas sekitar 120 juta
hektar atau hampir 70% dari luas wilayah METODOLOGI PENELITIAN
daratannya, sehingga menempatkan negara ini
sebagai pemilik sumberdaya hutan terbesar di Lokasi Penelitian
Asia Tenggara, atau nomor kedua terbesar di Penelitian dilakukan di kawasan hutan
dunia setelah Brasil (Sardjono, 2004). Lindung Wehea yang terletak di Kecamatan
Terkait dengan kerusakan Kawasan Kongbeng Kabupaten Kutai Timur.
Hutan, degradasi hutan dan deforestasi hutan Teknik Pengambilan Data
tropis Indonesia diakui sebagai permasalahan Penelitian ini mengkombinasikan
yang serius bagi dunia internasional (Gillis metode telaah dokumentasi (documentation
dan Repetto, 1998). study) dari berbagai sumber data sekunder dan
Sejak diberlakukannya Undang-undang Metode langsung (direct method) yaitu
No. 32 Tahun 2014 tentang Pemerintahan pengumpulan data primer di lapangan dengan
Daerah, banyak aspek positif yang teknik wawancara, wawancara berstuktur
diharapkan dalam pemberlakuan Undang- (melalui quisioner) dan observasi lapangan.
undang tersebut. Otonomi daerah memang Analisis Data
dapat membawa perubahan positif di daerah Untuk memahami substansi kebijakan
dalam hal kewenangan daerah untuk mengatur yang diterbitkan oleh pemerintah Kabupaten
diri sendiri. Kutai Timur digunakan Metode Counten
Kawasan hutan Wehea merupakan eks Analisis. Untuk menganalisis implementasi
areal IUPHHK Gruti III meliputi luasan kebijakan Pemerintah (Pusat) dan Pemerintah
38.000 hektar terletak di Kecamatan Kabupaten Kutai Timur dengan realita
Kongbeng. Kegiatan perusahaan dihentikan pengelolaan hutan Wehea di lapangan dari
pada tahun 1993 dengan alasan utama aspek SDM, SDH, kelembagaan, Sosial
manajemen pengelolaan yang tidak baik, dan ekonomi digunakan Metode Analisis GAP.

171
WARTA RIMBA ISSN: 2406-8373
Volume 2, Nomor 1 Hal: 171-176
Juni 2014

HASIL DAN PEMBAHASAN jenis jamur, jenis liana maupun jenis rotan.
Disisi lain terdapat pula beberapa jenis pohon
Deskripsi Umum Hutan Lindung Wehea yang merupakan sumber pendapatan bagi
1. Lokasi dan Topografi masyarakat lokal dan potensi pakan bagi
Letak kawasan hutan Wehea yang orangutan maupun beberapa primata lainnya.
diusulkan sebagai Hutan Lindung memiliki b. Potensi Fauna
luas 38.000 hektar dan secara administratif Kawasan hutan Wehea juga memiliki
terletak di wilayah Kecamatan Kongbeng, kekayaan potensi fauna yang cukup tinggi,
Kabupaten Kutai Timur. Dari aspek terutama adalah untuk golongan primata, dan
hidrologi, kawasan yang diusulkan berada mamalia. Beberapa potensi fauna pada
pada wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) kawasan lindung tersebut sebagian besar
Wahau, sub-DAS Melenyiu, sub-Das Sekong berada pada status dilindungi. Status
dan sub DAS-Seleq. perlindungan tersebut ditetapkan berdasarkan
Berdasarkan peta topografi diperoleh peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah
informasi kelerengan kawasan hutan Wehea Indonesia maupun oleh dunia international
cukup bervariasi mulai dari kelas kelerengan (IUCN).
landai (<8%) hingga sangat curam (>40%), 4. Desa-desa Sekitar kawasan Wehea
sebagian besar di wilayah bagian Barat yang Kawasan Hutan Wehea meliputi Desa
diusulkan sebagai Hutan Lindung Wehea Nehas Liah Bing, Miau baru dan SP-3
tersebut mempunyai kelerengan di atas 25%. (Makmur Jaya). Berdasarkan data BPS Kutim
2. Kondisi Penutupan Lahan 2010 menunjukkan bahwa jumlah
Umumya kondisi penutupan lahan masih penduduknya 9.714 jiwa dengan jumlah
sangat baik dan banyak didominasi oleh jenis kepala keluarga 3.811, yang terdiri atas 5.086
komersil dari Famili Dipterocarpaceae laki-laki dan 4.622 perempuan.
diantaranya terdapat jenis Meranti Merah Kebijakan Daerah dalam Pengelolaan
(Shorea leprosula), Meranti Kuning (S. Hutan Lindung Wehea.
potoiensis), Bangkirai (S. leavis), 1. Dukungan Kebijakan Pengelolaan
Tengkawang (S. gybertisiana) dan lainnya. Hutan Lindung Wehea.
3. Keanekaragaman Flora dan Fauna Sebagai tindak lanjutnya proses
a. Potensi Flora pengusulan penetapan Hutan Lindung Wehea
Kondisi biogeofisik dalam kawasan telah dilakukan dalam beberapa tahapan
sebagai kawasan yang diusulkan ternyata kegiatan mulai dari sosialisasi sampai dengan
memiliki potensi keanekaragaman jenis flora adanya dukungan dari beberapa stakeholders
yang tinggi baik jenis pohon, jenis anggrek, (tabel 1).

Tabel 1. Dukungan Pengelolaan Hutan Lindung Wehea


Proses Pengukuhan Perihal
Surat No
Surat Bupati Kutim Pembentukan Badan Pengelola Hutan Lindung Wehea (BP-
No. 44/02.188.45/HK/II/2005 HULIWA)
Surat Bupati Kutim No. Usulan pemanfaatan areal Eks. IUPHHK PT. Gruti III untuk
069/6660.1/522.51/BPUP- habitat Orangutan
KUTIM/I/2004
Surat DPRD-Kutin No. Rekomendasi DPRD-Kutim yang mendukung surat Bupati
14/UM/DPRD-KUTIM/1/2004 Kutim Surat 069/6660.1/522.51/BPUP-KUTIM/I/2004
kepada Menteri Kehutanan
Surat Fakultas Kehutanan UNMUL Rekomendasi perlindungan kawasan habitat Orangutan di
No. 404/j17.1.24/PG/2004 areal Eks. IUPHHK PT. Gruti III Kaltim
Surat BPK No. Kawasan habitat Orangutan
130/VIII/BP2KK/2004 kepada Badan
Litbang Kehutanan
Surat Dinas Kehutanan Propinsi Advis teknis penunjukan Eks. IUPHHK PT. Gruti III sebagai
Kalimantan Timur No. kawasan pengelolaan untuk tujuan khusus
522.21/927/DK-/IX/2004

172
WARTA RIMBA ISSN: 2406-8373
Volume 2, Nomor 1 Hal: 171-176
Juni 2014

Surat Gubernur Kaltim No. No. Usulan kawasan konservasi Orangutan


521/2315/Proda.2.1/EK
Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Pertimbangan teknis penetapan sebagai kawasan Hutan
Alam Kaltim No. S.859/IV- dengan tujuan khusus
Kws/2004
SK Bupati Kutim No. Pembentukan Badan Pengelola hutan Lindung Wehea
44/02.188.45/HK/II/2005
Surat Bupati Kutim No. permohonan persetujuan perubahan fungsi kawasan eks PT.
214/522.5/BUP-KUTIM/II/ Gruti III menjadi Hutan Lindung Wehea.
Surat BPPLAN No. S./BPKHA/IV- Usulan pemanfaatan eks. IUPHHK PT. Gruti III menjadi
2/2005 Hutan Konservasi.
Surat Menteri Kehutanan RI No. S. Isi surat, (1) Kawasan Eks HPH PT. Gruti III sudah disetujui
305/Menhut-IV/2005, menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus; (2) Jika
Pemerintah Kutim mengusulkan kembali menjadi Hutan
Lindung maka harus merujuk pada Kepmenhut No. 70/Kpts-
II/2001 jo SK 48/Menhut-II/2004
Sumber. data primer
Analisis Kebijakan Pengelolaan Hutan Dari penjabaran di atas dapat
Lindung Wehea. disimpulkan bahwa sebagian besar surat
Dari Tabel 1 dapat dijelaskan, bahwa dukungan/rekomendasi mengarah pada
surat yang diterbitkan oleh Bupati Kutim, pengelolaan kawasan dengan fungsi
DPRD-Kutim, Fakultas Kehutanan UNMUL, konservasi, dua diantaranya pengelolaan
dan surat BPPLAN mengarah pada mengarah pada pengelolaan kawasan dengan
pengelolaan kawasan dengan fungsi tujuan khusus, dan hanya satu yang mengarah
konservasi. Adapun surat yang diterbitkan pada pengelolaan kawasan dengan fungsi
oleh Dinas Kehutanan Propinsi Kalimantan lindung.
Timur dan Kepala Balai Konservasi Untuk mendukung dan menguatkan
Sumberdaya Alam lebih mengarah pada usulan proposal pengelolaan Hutan Lindung
pengelolaan kawasan dengan tujuan khusus. Wehea kepada Menteri Kehutanan, maka
Sedang surat yang diterbitkan oleh Surat beberapa langkah telah dilakukan oleh
Bupati Kutim kepada Menteri Kehutanan Pemerintah Daerah dan Pemerintah Propinsi
mengarah pada status kawasan dengan fungsi seperti yang terlihat pada Tabel 2.
lindung.
Tabel 2. Respon lembaga kehutanan
Usulan Respon Lembaga Kehutanan
Surat No. Surat No. Tentang
Surat Isi surat, (1) Kawasan Eks HPH PT.
1. Surat Bupati Kutim No. Menteri Gruti III sudah disetujui menjadi
069/6660.1/522.51/BPUP- Kehutanan Kawasan Hutan Dengan Tujuan
KUTIM/I/2004 RI No. S. Khusus;
2. Surat DPRD-Kutim No. 14/UM/DPRD- 305/Menhut-
KUTIM/1/2004 IV/2005,
3. Surat Gubernur Kaltim No. No.
521/2315/Proda.2.1/EK

4. Surat Fakultas Kehutanan UNMUL No. (2) Jika Pemerintah Kutim


404/j17.1.24/PG/2004 mengusulkan kembali menjadi Hutan
5. Surat BPK No. 130/VIII/BP2KK/2004 Lindung maka harus merujuk pada
6. Surat Dinas Kehutanan Kalimantan Kepmenhut No. 70/Kpts-II/2001 jo
Timur No. 522.21/927/DK-/IX/2004 SK 48/Menhut-II/2004 Tentang
7. Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Penetapan Kawasan Hutan,
Alam Kaltim No. S.859/IV-Kws/2004 Perubahan Status dan Fungsi
8. SK Bupati Kutim No. Kawasan Hutan
44/02.188.45/HK/II/2005
9. Surat Bupati Kutim No. 214/522.5/BUP-
KUTIM/II/2005
10. Surat BPPLAN No. S./BPKHA/IV-
2/2005
173
WARTA RIMBA ISSN: 2406-8373
Volume 2, Nomor 1 Hal: 171-176
Juni 2014

Dari penjelasan tersebut dapat Satwa. Bila rujukan yang digunakan adalah
disimpulkan bahwa upaya Pemerintah Daerah, kedua peraturan perundangan tersebut
Pemerintah Propinsi, Perguruan Tinggi dan tentunya hal ini akan bertolak belakang
Lembaga Adat dalam merekomendasikan dengan tujuan pengelolaan untuk menetapkan
kawasan Wehea menjadi Hutan Lindung kawasan Eks. IUPHHK PT Gruti III sebagai
Wehea sudah cukup maksimal. kawasan dengan fungsi lindung.
Dalam setiap isi surat rekomendasi yang Disharmonisasi Kebijakan Pengelolaan
diterbitkan baik dari Pemerintah Daerah, Hutan Lindung Wehea
DPRD Kutim, Pemerintah Propinsi dan Pada Tabel 3 penulis mencoba untuk
Perguruan Tinggi, sebagian besar isi surat menyajikan disharmonisasi kebijakan yang
lebih menitik beratkan pada pengelolaan dijadikan rujukan penegelolaan oleh
kawasan sebagai kawasan perlindungan dan Pemerintah Daerah Kutai Timur. Penjelasan
pelestarian habitat Orangutan. Bila mengacu Tabel 3, dapat disimpulkan bahwa terdapat
pada isi surat ini maka penetapan status perbedaan tujuan rujukan pengelolaan antar
kawasan lebih mengarah pada pengelolaan kebijakan. Menelaah permasalahan tersebut
kawasan dengan fungsi konservasi. Dalam seharusnya dalam menentukan rujukan
hal ini rujukan peraturan perundangan yang kebijakan dalam pengelolaan kawasan hutan
digunakan adalah UU. 5 Tahun 1990 Tentang Wehea Pemerintah Kutai Timur dapat
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan menyesuaikan antara tujuan pengelolaan
Ekositemnya dan PP No. 7 Tahun 1999 dengan rujukan kebijakan yang digunakan.
Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan

Tabel 3. Disharmonisasi Rujukan Kebijakan Daerah Kutai Timur Secara Horizontal


Kebijakan Pemerintah Kebijakan Daerah GAP
1. UU No. 5 Tahun 1990 1. Surat Bupati Kutim No. 1. Rujukan UU. No. 5 tahun 1990
Tentang Konservasi 069/6660.1/522.51/BPUP- tentanta KSDHE pasal 4 dan 5
Sumberdaya Alam Hayati KUTIM/I/ mengarah pada status kawasan
dan Ekosistemnya, pasal 4 2. Surat DPRD-Kutim No. dengan fungsi konservasi.
dan 5 14/UM/DPDRD- 2. Rujukan UU No. 41 Tahun
2. UU. No. 41 Tahun 1999 Kutim/1/2004 1999 tentang Kehutanan pasal 8
Tentang Kehutanan, pasal 3. Surat Fakultas Kehutanan mengarah pada status kawasan
8 UNMUL No. dengan tujuan khusus.
3. PP No. 7 Tahun 1999 404/j17.1.24/PG/2004 3. Rujukan PP No. 34 tahun 2002
Tentang Pengawetan 4. Surat BPK No. pasal 2 ayat 1 dan pasal 3 ayat
Tumbuhan dan Satwa, 130/VII/BP2KK/2004 1,tentang tata hutan di jelaskan
pasal 1, 8 dan 13 5. SK. Dinas Kehutanan Prop bahwa tata hutan dan
4. PP No. 34 Tahun 2002 Kaltim. No. pengelolaan hutan dilaksanakan
Tentang Tata Hutan, pasal 522.21/927/DK-/IX/2004 dalam bentuk unit, KPHK,
2 dan pasal 3 KPHP, dan KPHL.
6. Surat Gubernur Kaltim No.
521/2315/Proda.2.1/EK
7. Surat BKSDA Kaltim No.
S.859/IV-Kws/2004
8. Surat Bupati Kutim No.
214/522.5/BUP-
Kutim/II/2005
9. Surat BPPLAN No.
S./BPKHA/IV-2/2005
Sumber : Data Primer
1. Peran Serta Masyarakat Terhadap kesempatan yang sama kepada semua
Pengelolaan Hutan Lindung Wehea. masyarakat terkhusus masyarakat yag berada
Dengan diterbitkan SK Pembentukan disekitar kawasan Hutan Lindung Wehea
Badan Pengelolaan Hutan Lindung Wehea sesuai dengan kemampuannya untuk turut
berikut rencana kerja BP-HULIWA, berperan serta dalam pengelolaan Hutan
diharapkan memberikan peluang dan Lindung Wehea sehingga diperoleh manfaat

174
WARTA RIMBA ISSN: 2406-8373
Volume 2, Nomor 1 Hal: 171-176
Juni 2014

dari pengelolaan itu bagi peningkatan dalam pengelolaan hutan. Berdasarkan hasil
kemakmuran masyarakat sekitar hutan. Bila wawancara dengan masyarakat disekitar
pengelolaan mengacu pada UU. No. 41 Tahun kawasan yang memiliki keinginan untuk dapat
1999 Pasal 70 poin a serta PP No. 6 Tahun berperan serta dalam pengelolaan diperoleh
2007 pasal 13 ayat 1 yang menjelaskan data seperti diperlihatkan pada Tabel 4.
tentang pelibatan peran serta masyarakat
Tabel 4. Keterlibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Wehea
Sosialisasi Kegiatan Keterlibatan

No Desa Ada Tidak Ada Terlibat Tidak Terlibat

f % f % f % f %
1. NL. Bing 22 73,3 8 26,6 22 73,3 8 26,6

2. M. Baru - - 30 100 - - 30 100


3. S-P 3 - - 30 100 - - 30 100
Sumber : Data Primer
Keterangan : f (frekuensi); NL.Bing 30; Miau Baru 30; SP-3 30
Dari Tabel 4 di atas diperoleh data bahwa kegiatan pengelolaan memiliki nilai yang
keterlibatan masyarakat desa Nehas Liah Bing sama yaitu nol.
dari 30 informan sebanyak 73,3 persen 2. Analisis GAP Pengelolaan Hutan
diantaranya menyatakan terlibat dan 26,6 Lindung Wehea.
persen menyatakan tidak terlibat. Data ini Pada Tabel 5 berikut akan dibahas GAP
menunjukkan bahwa tingkat partisipasi antara kondisi ideal yang diinginkan dalam
masyarkat Desa Nehas Liah Bing sangat rencana pengelolaan oleh Pemerintah
tinggi, sementara Desa Miau Baru dan Desa Kabupaten dengan pelaksanakan di lapangan.
SP-Trans dalam hal keterlibatan dalam

Tabel 5. Analisis Implementasi GAP Rencana Pengelolaan Hutan Lindung Wehea


Kondisi Ideal yang Realisasi (Performance) Analisis GAP
Diinginkan
Aspek Yuridis
Hutan Lindung Wehea Terbit SK Bupati No. Belum adanya izin pengelolaan dari
yang legal secara 44/02.188.45/HK/II/2005. dengan kementerian kehutanan menyebabkan
hukum (letak dan luas) luas lokasi 38.000 ha kejelasan status kawasan masih
mengambang. Hal ini berdampak pada
terbenturnya pemerintah daerah dalam
menerbitkan Perda.
Masyarakat dapat Pemancangan plang Hutan Penempelan plang batas yang tidak
mengetahui lokasi Lindung Wehea dan pal batas permanen mengakibatkan mudahnya
Hutan Lindung Wehea pada kawasan dengan bagi oknum tertentu mencabutnya dan
serta Batas-batasnya menempelkan Plang tersebut di memindahkan plang batas tersebut.
batang pohon
Adanya Lembaga Penunjukan instansi teknis dalam Pengelolaan BP-HULIWA dibawah
Pemerintah yang upaya pengelolaan (BP-HULIWA Badan Lingkungan Hidup bukanlah
bertanggung Jawab merupakan kebijakan yang tepat.
terhadap Pengelolaan Seharusnya BP-HULIWA berada
Hutan Lindung Wehea dibawah koordinasi Dinas Kehutanan
Kabupaten Kutai Timur.
Menyusun rencana pengelolaan Dalam menyusun rencana pengelolaan
jangka pendek, menengah, dan BP-HULIWA hanya menyusun
jangka panjang. rencana kelola jangka pendek.

175
WARTA RIMBA ISSN: 2406-8373
Volume 2, Nomor 1 Hal: 171-176
Juni 2014

Aspek Filosofis
Masyarakat yang Hanya sebagian dari masyarakat Program pengelolaan Hutan Lindung
terkait dengan yang terkait dengan keberadaan Wehea yang bertujuan meningkatkan
keberadaan hutan hutan Wehea peran masyarakat hanya terbatas pada
Wehea memilki akses masyarakat adat Wehea.
dan memanfaatkan
fungsi hutan wehea
Aspek Sosiologis
Masyarakat memilki Pengamanan kawasan hutan Penumbuh kembangkan tanggung
tanggung jawab pada hanya dilakukan oleh masyarakat jawab masyarakat terhadap Hutan
kelestarian fungsi adat Wehea secara bergantian dan Lindung Wehea baru sebatas
Hutan Lindung Wehea teroganisir pengamanan kawasan.
Sumber: Data Primer

Berdasarkan Tabel 5 tersebut di atas Anonim. 2005. Usulan Perubahan Fungsi


terlihat bahwa berbagai kondisi ideal yang Kawasan Hutan Eks HPH Gruti III
diharapkan dapat terwujud/tercapai dengan sebagai Kawasan Hutan Lindung
diterbitkannya SK-Bupati Kutai Timur No. Wehea “Long Skung Metguen” di
44/02.188.45/HK/II/2005, tetapi dalam Kabupaten Kutai Timur. Pemerintah
implementasinya masih belum tercapai secara Kabupaten Kutai Timur, Desember
maksimal yang disebabkan adanya berbagai 2005.
GAP atau kesenjangan yang terjadi. Proses Darusman, D.R. Nurrochmad, 2005. Analisis
perumusan dan penetapan pengelolaan yang Aspek Kebijakan dan Hukum.
tidak melibatkan semua masyarakat setempat Tropenbos Indonesia. Balikpapan
menjadi masalah penting dalam pengelolaan. Gillis, Malcolm, Robert Repetto. 1998. Public
Policies and The Misuse of Forest
KESIMPULAN Resources, A World Resources Institute
Book, Cambridge.
Kebijakan Pemerintah daerah menerbitkan Sardjono, M.A. 2004. Mosaik Sosiologis
SK. Bupati No. 44/02.188.45/HK/II/2005 Kehutanan: Masyarakat Lokal, Politik
yang didukung oleh rekomendasi dari dan Kelestarian Sumberdaya, Debus
berbagai instansi adalah merupakan bentuk Press, Yogyakarta.
upaya dalam mendukung pengelolaan Hutan Peraturan Perundang-undangan
Lindung Wehea. Terdapat disharmonisasi Undang-undang Republik Indonesia No. 41
substansi kebijakan bila ditinjau dari aspek Tahun 1999 Tentang Kehutanan.
yuridis, baik kebijakan yang diterbitkan oleh Undang-undang Republik Indonesia No. 5
Pemerintah Daerah ataupun rekomendasi dari Tahun 1990 Tentang Konservasi
berbagai instansi lebih mengarah pada Sumberdaya Alam Hayati dan
pengelolaan kawasan dengan fungsi Ekosistem.
konservasi dari pada fungsi lindung. Undang-undang Republik Indonesia No. 26
Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.
DAFTAR PUSTAKA Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.
60 Tahun 2009 Tentang Perlindungan
Affandi, O. 2005. Analisis Kebijakan Hutan.
Desentralisasi Pengelolaan Hutan dan Peraturan Republik Indonesia No. 44 Tahun
Pengaruhnya terhadap Perekonomian 2004 Tentang Perencanaan Hutan.
Masyarakat Sekitar Hutan (Studi Kasus Peraturan Republik Indonesia No. 32 Tahun
Kabupaten Malinau Kalimantan 2014 Tentang Pembagian Urusan
Timur). Tesis Program Pascasarjana Pemerintahan Antara Pemerintah,
Program Studi Magister Ilmu Pemerintah Daerah Provinsi dan
Kehutanan Universitas Mulawarman. Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
Samarinda.

176