Anda di halaman 1dari 7

Pembahasan Kemampuan dan Kesesuaian Lahan

A. Konsep dasar Kemampuan dan Kesesuaian Lahan


Klasifikasi Kemampuan lahan yang (Land Capability Classification) adalah penilaian
lahan (komponen – komponen lahan) secara sistematik dan pengelompokkanya ke dalam
beberapa kategori berdasarkan atas sifat – sifatnya baik potensi dan penghambat dalam
penggunaanya secara lestari. Kemampuan disini dipandang sebagi kapasitas lahan itu sendiri
untuk suatu macam atau tingkat penggunaan secara umum.
Pembuatan Klasifikasi Kemampuan Lahan ini menggunakan beberapa asumsi yang
ada di dalamnya, yang terdiri dari :
1. Evaluasi Kemampuan Lahan ini merupakan klasifikasi yang memiliki sifat yang
interpretative atas sifat-sifat atau karakteristik lahan yang permanen.
2. Lahan dalam suatu kelas kemampuan dicerminkan oleh tingkat kekritisan suatu
faktor penghambat tetapi masih memiliki potensi dalam perbaikan lahan
3. Produktivitas komoditi yang ada di dalam lahan tersebut tidak langsung dapat
digambarkan dari kemampuan lahannya, meskipun ada variabel yang dimasukkan
untuk meningkatkan klas kemampuan lahannya.
4. Kemampuan lahan ini sifatnya dinamis, tergantung pada kondisi actual, sehingga
kejadian ekstrem seperti bencana dan reklamasi dapat mengubah klas kemampuan
lahan tersebut
5. Sifat dinamis kemampuan lahan ini juga dapat dilihat dari cara pengelompokkan
klas yang dapat berubah apabila di dalamnya terdapat informasi baru
Klasifikasi kemampuan lahan yang berada di DAS Oyo ini dapat diketahui dengan
menggunakan dua macam metode utama, yaitu metode pengharkatan (bobot) dan metode
skoring. Dengan kedua metode tersebut menampilkan klas kemampuan I hingga kelas VIII.
Perbedaan pada penggunaan metode penentuan klas kemampuan lahan ini adalah pada saat
penentuan klas kemampuan lahan dengan metode pengharkatan (bobot), digunakan apabila
setiap karakter lahan memiliki peranan berbeda dalam menentukan kemampuan lahan atau
kesesuaian lahan, sedangkan pada penggunaan metode skoring digunakan apabila karakter
lahan yang ada di suatu daerah tidak terlalu diperhatikan, sehingga dapat langsung
menggunakan hasil perhitungan dari jumlah skoring yang dihitung.
Klasifikasi Kemapuan Lahan yang ada tersebut sangat berkaitan dalam penentuan
kesesuaian lahan yang ditentukan di suatu daerah. Pemilihan lahan yang sesuai untuk
tanaman tertentu, dapat dilakukan dalam dua tahapan, yaitu : (1) menilai persyaratan tumbuh
tanaman yang akan diusahakan untuk mengetahui sifat-sifat tanah dan lahan yang
berpengaruh negatif terhadap tanaman, dan (2) mengidentifikasi dan membatasi lahan yang
mempunyai sifat-sifat yang diinginkan, tanpa sifat lain yang tidak diinginkan. Setelah kedua
tahapan tersebut dilaksanakan kita dapat memetakan lahan tersebut ke dalam suatu peta
satuan lahan yang memuat segala informasi yang mencirikan kelas kesesuaian lahan suatu
wilayah beserta segala tindakan yang diperlukan untuk pengelolaan tanaman yang akan
ditanam, sehingga dapat berproduksi secara terus-menerus (Tjokrokusumo, 2002).
Kelas kesesuaian lahan terdiri dari lima kategori kelas yang terdiri dari 3 kategori
sesuai (suitable) dan 2 kategori kelas tidak sesuai (non-suitable) sebagai berikut :
1. S1 : Sangat Sesuai (Highly Suitable), kategori kelas lahan ini hampir tidak
memiliki faktor pembatas atau pemberat, dengan kata lain lahan ini memang
sangat cocok atau sesuai digunakan untuk penggunaan lahan tertentu, biasanya
dapat dilihat dari karakteristik lahannya sendiri.
2. S2 : Cukup Sesuai (Moderately Suitable), kategori kelas lahan ini memiliki
beberapa pembatas-pambatas yang agak berat, sehingga membutukan adanya
tindakan konservasi ringan terhadap lahannya untuk tetap digunakan dan
menghasilkan produktifitas yang baik.
3. S3 : Sesuai Marginal (Marginally Suitable), lahan yang mempunyai pembatas-
pembatas yang sangat berat untuk suatu penggunaan lahan. Adanya faktor
pembatas akan mengurangi produktivitas, sehingga membutuhkan tindakan
konservasi tingkat sedang.
4. N1 : Tidak Sesuai pada saat Ini (Currently Not Suitable), lahan mempunyai
pembatas yang sangat berat, tetapi masih sangat memungkinkan untuk diatasi,
dengan tindakan konservasi tinggi dan mungkin akan membutuhkan biaya
operasional yang besar.
5. N2 : Tidak Sesuai Permanen (Permanently Not Suitable), lahan mempunyai
pembatas yang sangat berat sehingga sangat tidak mungkin untuk digunakan bagi
suatu penggunaan lahan yang baik.
Berdasarkan penentuan dari kelas evaluasi kesesuaian lahan tersebut kita dapat
menentukan dan juga merekomendasikan jenis penggunaan lahan apa yang cocok atau sesuai
untuk digunakan dalam suatu wilayah atau lahan.
B. Deskripsi Kemampuan dan Kesesuaian Lahan di DAS Oyo
Kemampuan lahan yang ada di DAS Oyo ini memiliki klas kemampuan I hingga VIII
yang daerahnya berbeda tipis jika menggunakan metode pengharkatan (bobot) dan metode
skoring, dimana ada beberapa daerah yang mengalami perubahan klas kemampuan lahan,
yang pada awalnya misal pada daerah yang berasosiasi dengan basin wonosari klas
kemampuan lahan dengan metode pengharkatan (bobot) termasuk klas II, tetapi pada metode
skoring termasuk ke dalam klas I, hal ini disebabkan oleh adanya faktor pengharkatan pada
parameter ataupun variabel yang digunakan, seperti lereng, tekstur tanah, ataupun drainase
sesuai dengan parameter yang mendominasi di daerah tersebut. Sesuai dengan teori tentang
klasifikasi kemampuan lahan sendiri yang mengemukakan bahwa klas kemampuan I – IV
merupakan klas kemampuan lahan yang dapat digunakan sebagai lahan produktif, dan klas
kemampuan V- VIII merupakan klas kemampuan lahan yang tidak produktif, maka dari peta
kemampuan lahan dari dua metode ini menggambarkan dan menunjukkan sebaran secara
spasial daerah mana saja yang memiliki dan termasuk ke dalam kategori klas kemampuan
lahan tersebut.
Kemampuan lahan dengan menggunakan metode pengharkatan (bobot) dan juga
metode skoring ini menunjukkan sebaran spasial daerah-daerah di bagian utara DAS Oyo ini
terlihat dengan jelas memiliki klas kemampuan lahan IV yang mendominasi. Hal ini
dipengaruhi sedikit banyaknya dari keadaan lereng yang ada di daerah tersebut didominasi
oleh lereng yang termasuk ke dalam kategori klas lereng perbukitan dengan lereng diantara
15-30% atau bahkan juga 30% lebih yang merupakan klas lereng berupa pegunungan,
sehingga daerah ini tipis kemungkinannya apabila digunakan sebagai lahan produktif utama
bagi pertanian. Daerah yang terletak pada bagian selatan DAS Oyo justru di dominasi oleh
klas kemampuan lahan I dan II, hal ini memang dapat ditinjau secara langsung baik di
lapangan maupun dengan menggunakan peta RBI bahwa daerah-daerah yang berada di
daerah sebelah selatan DAS Oyo ini merupakan daerah yang relatif datar dengan kemiringan
lereng yang berada pada range antara 0-3% dan juga 3-8%, sehingga daerah-daerah ini
sebenarnya dapat digunakan sebagai daerah utama apabila akan digunakan sebagai daerah
pertanian dengan produktivitas diatas rata-rata. Daerah-daerah yang memiliki kemampuan
lahan klas VII dan VIII justru terletak pada daerah yang berada di bagian tenggara DAS Oyo,
atau sebagian besar masih berada pada bagian Hulu DAS. Hal ini cukup wajar karena apabila
kita mengasumsikan bahwa daerah dengan klas kemampuan lahan lebih dari V itu merupakan
daerah yang tidak produktif, kelas VII dan VIII ini penggunaan lahannya dapat dimasukkan
ke dalam kategori sebagai Hutan Lindung atau kawasan konservasi yang seharusnya memang
tidak boleh digunakan sebagai lahan produksi.
Pembuatan peta sebaran spasial klas kemampuan lahan yang ada di DAS Oyo ini
sangat membatu dalam hal penentuan tanaman atau jenis penggunaan lahan apa saja yang
akan dikaji kesesuaian lahannya pada seluruh daerah yang berada di DAS Oyo, sehingga
nantinya akan mengeluarkan output berupa daerah-daerah yang memiliki tingkat kesesuaian
lahan S1 hingga N2 di dalamnya menurut jenis tanaman apa yang akan digunakan, dan
kelompok kami (kelompok 3) memilih untuk meninjau daerah-daerah mana saja yang cocok
dan sesuai digunakan sebagai media tumbuh-kembang tanaman pohon jati. Seperti yang kita
ketahui bahwa pohon jati ini merupakan tanaman produksi tahunan yang sifatnya jangka
panjang, karena untuk memanen hasil dari pohon jati ini yang berupa kayu nya, untuk
mendapatkan kualitas kayu jati yang baik saja harus menunggu minimal sampai pohon jati
tersebut berusia diatas 5-10 tahun, selain karena memiliki nilai jual tinggi, pohon jati ini juga
dapat berfungsi sebagai penahan adanya erosi, atau sebagai salah satu tindakan konservasi
alami yang dapat dilakukan, karena pohon jati ini memiliki akar yang dalam dan kuat
sehingga dapat menahan dan memperkuat tanah-tanah yang ada di sekitarnya agar tidak
mudah mengalami erosi.
Penentuan kelas kesesuaian lahan yang digunakan adalah metode matching
(pencocokkan) yang nantinya terdiri dari 3 (tiga) jenis sub-metode di dalamnya yang dapat
berkaitan satu dengan yang lainnya, yaitu Weight Factor Matching, Arithmatic Matching, dan
Subjective Matching. Masing-masing sub-metode tersebut memiliki karakteristik tersendiri
dalam hal penentuan kelas kesesuaian lahannya. Variabel dari lahan yang ada di DAS Oyo ini
yang terdiri dari variabel lereng, curah hujan, suhu, drainase, kedalaman tanah, tekstur tanah,
persentase material kasar yang terdapat di permukaan ini dicocokkan ke dalam variabel kelas
kesesuaian lahan pohon jati yang terdiri dari 4 kelas utama, yaitu kelas Sangat Sesuai, Sesuai,
Sesuai Marjinal, dan Tidak Sesuai atau Marjinal.
Metode matching ini pada dasarnya merupakan metode yang mencocokkan antara
bagaimana sifat dari karakteristik lahan yang ada dengan sifat karakteristik dari tanaman jati
itu sendiri. Metode Weight Factor Matching merupakan metode matching yang kelas
kesesuaian lahannya ditentukan oleh kelas kesesuaian lahan atau faktor pembatas yang
terberat, contohnya dapat dilihat dari peta kesesuaian lahan tanaman pohon jati menggunakan
metode Weight Factor Matching, dimana seluruh daerah yang ada di DAS Oyo termasuk ke
dalam kategori N2 atau tidak sesuai untuk digunakan sebagai daerah tempat tumbuh-
kembangnya tanaman jati ini. Hal ini terjadi karena pada setiap daerah memiliki faktor
terberat yang menyebabkan daerah tersebut tidak sesuai untuk dilakukan pengembangan
tanaman jati, baik itu dilihat berdasarkan variabel curah hujan, suhu, lereng, ataupun
kedalaman tanahnya. Oleh karena itu, disinilah peran dari sub-metode matching yang lainnya,
yaitu sebagai metode yang selain digunakan untuk mengetahui kesesuaian lahan, juga dapat
digunakan sebagai metode yang fungsinya adalah memperdetail dan mengakuratkan hasil
dari metode matching lainnya yang telah digunakan, seperti pada metode arithmetic
matching.
Metode Arithmatic matching ini merupakan metode kesesuaian lahan yang ditentukan
berdasarkan kategori kelas kesesuaian lahan yang paling dominan jumlahnya yang ada di
suatu daerah sebagai dasar klasifikasinya. Pada peta kesesuaian lahan tanaman jati dengan
menggunakan metode arithmetic matching ini menunjukkan kelas kesesuaian lahan S1, S2, S3,
dan N2. Kelas kesesuaian lahan yang dominan sendiri adalah kelas N2, karena daerahnya
meliputi bagian Hulu, bagian Hilir, dan juga di bagian selatan dari DAS Oyo ini. Hal tersebut
terjadi karena dari variabel karakteristik lahan yang ada sendiri banyak yang tidak termasuk
ke dalam kelas kategori kesesuaian tanaman jati yang sesuai (suitable), baik itu dari segi
lerengnya, curah hujan, kedalaman tanah, suhu, ataupun drainasenya. Daerah-daerah yang
cocok dikembangkan tanaman jati (daerah kategori S1, S2, S3) ini justru merupakan daerah
yang lerengnya datar, seperti di daerah-daerah dataran alluvial ataupun dataran banjir, yang
notabenenya justru lebih cocok dijadikan sebagai daerah produktif pertanian karena di daerah
tersebut merupakan daerah yang memiliki ketersediaan air melimpah dan material tanahnya
juga subur karena berasal dari endapan-endapan sungai, juga memiliki tekstur lempung yang
mendominasi, sehingga daerah tersebut merupakan daerah yang mudah tergenang oleh air.
Keterkaitan antara metode matching ini lah yang paling penting dalam proses
pengerjaan dan penentuan dari kesesuaian lahan ini, apabila dengan menggunakan sub-
metode Weight Factor Matching dan Arithmatic Matching masih belum dapat dipercaya
secara penuh hasil akhirnya, maka sub-metode Subjective Matching ini lah yang berperan
penting dalam menentukan hasil akhir dari kelas kesesuaian lahan yang akan diambil dan
dijadikan pedoman penentu kelas kesesuaian lahannya. Sub-metode Subjective Matching ini
menggunakan analisa langsung dari peneliti, akurat tidaknya metode ini didasarkan pada
pengalaman dan juga pengecekan secara langsung di lapangan oleh peneliti ini, sehingga
faktor-faktor dan variabel yang dijadikan penghambat dan sifatnya itu sendiri bukan sebagai
variabel permanen serta masih dapat diminimalisir, akan meningkatkan kelas kesesuaian
lahan yang ada di suatu daerah tersebut.
Melihat dari peta kesesuaian lahan tanaman jati dengan menggunakan metode
Subjective Matching ini dapat terlihat berbeda sekali dengan kenampakan dari kedua peta
yang menggunakan dua metode sebelumnya. Pembagian kelas kesesuaian lahannya pun
terdiri dari kelas S2, S3, N1, dan N2. Daerah-daerah yang berada pada bagian utara dan DAS
Oyo bagian tengah ini berdasarkan hasil cek di lapangan menurut peneliti dapat dimasukkan
ke dalam kategori kelas kesesuaian lahan S2 karena tinggal menyisakan faktor pembatas
berupa lereng, yang sifatnya sendiri masih dapat ditoleransi karena tidak semua lereng yang
ada di daerah tersebut termasuk ke dalam lereng yang terjal, meskipun tetap ada bagian yang
terjal, tetapi kedalaman tanahnya berkisar cukup dalam hingga dalam, dan perbedaan
topografinya tidak terlalu tegas, sehingga disana sesuai sebagai tempat untuk tumbuh-
kembang tanaman jati, terutama fungsi tanaman jati yang digunakan sebagai bagian dari
hutan lindung. Kelas kesesuaian lahan S3 dan N1 terletak pada daerah hilir DAS Oyo bagian
tengah, karena di daerah-daerah ini tanaman yang tumbuh merupakan tanaman campuran,
dan pada umumnya merupakan tanaman perkebunan, sehingga tumbuh kembang jati di
daerah ini dapat kurang maksimal, apabila tetap dilakukan, maka mungkin hanya sebagai
tanaman pelengkap atau penguat di daerah-daerah lereng saja. Kelas kesesuaian lahan N2
sendiri dominan berada di bagian selatan DAS Oyo bagian tengah, hal ini sedikit banyak
mempertimbangkan dari asosiasinya dengan daerah permukiman, dimana di daerah tersebut
dekat lokasinya dengan Kota Wonosari, sehingga lahan yang ada di sekitar daerah tersebut
lebih banyak di dominasi oleh daerah permukiman dan juga daerah perkebunan jenis bahan
produksi.
C. Rekomendasi
Penentuan lahan yang akan digunakan sebagai tempat tumbuh-kembangnya tanaman
jati ini juga berkaitan dan harus melihat serta membandingkan antara kelas kesesuaian lahan
yang telah ada dengan penggunaan lahan yang ada saat ini, ataupun pada tahun saat
dilakukan penelitian. Daerah-daerah utama yang dapat dilakukan dan digunakan sebagai
lahan tumbuh-kembang jati ini sebaiknya merupakan daerah yang memiliki penggunaan
lahan berupa tegalan, lahan kosong, dan juga semak/belukar, tetapi hal tersebut juga harus
dilihat bagaimana karakteristik lahannya, apakah mendukung atau tidak untuk digunakan
sebagai tempat media tanam pohon jati, karena jangan sampai langsung mengkonversikan
daerah-daerah dengan penggunaan lahan tersebut sebagai daerah tumbuh-kembang tanaman
jati, yang nantinya justru malah menimbulkan bencana lain yang biasanya tidak pernah
terjadi di daerah tersebut. Daerah yang berada di bagian utara DAS Oyo ini sebagian besar
cocok digunakan sebagai alih fungsi lahan menjadi tanaman jati, karena pada salah satu
sumber data (penggunaan lahan) yang dilihat dari peta RBI menunjukkan daerah tersebut
merupakan daerah tegalan, tetapi memiliki lereng yang cukup rentan menimbulkan kejadian
longsor apabila daerah tersebut tetap dibiarkan menjadi daerah tegalan, oleh sebab itu,
tanaman jati cocok digunakan sebagai tanaman yang dipilih untuk dilakukan tumbuh-
kembang disana, selain sebagai hutan lindung dan hutan penyangga daerah resapan air, juga
di beberapa titik yang memungkinkan dapat digunakan sebagai hutan produksi.