Anda di halaman 1dari 21

Metodologi

4.1 Analisa Kebijakan

4.1.1 Analisa Kebijakan dalam Lingkup Nasional

Pembagian wilayah dimaksudkan untuk mempermudah koordinasi

pelaksanaan dan pengawasan pembangunan sektor pariwisata di seluruh

Indonesia.

Pengembangan obyek wisata unggulan, dapat dilakukan dengan

menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki, penyediaan sarana dan

prasarana, promosi dan publikasi, serta penyediaan paket wisata.

4.1.2 Analisa Kebijakan dalam Lingkup Regional Propinsi

4.1.3 Analisa Kebijakan Kabupaten Bayuwangi

4.2 Analisa Wisatawan

Mengingat keberadaan obyek wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi

sebagian besar masih belum dikembangkan dan belum dikelola secara optimal,

maka jumlah kunjungan wisatawan juga masih sangat terbatas. Hanya obyek-

obyek wisata tertentu yang dikunjungi oleh wisatawan. Dalam pembahasan

analisis wisatawan meliputi proyeksi jumlah wisatawan, analisis motif

wisatawan dan analisis perilaku wisatawan.

4.2.1 Proyeksi Wisatawan

Proyeksi wisatawan dilakukan untuk mengetahui perkiraan perkembangan

jumlah wisatawan dimasa yang akan datang, kaitannya dengan pemenuhan

IV- 1
kebutuhan sarana dan prasarana wisata di Kabupaten Banyuwangi. Namun

sebelum memproyeksikan jumlah wisatawan, maka dibutuhkan perhitungan

pertumbuhan wisatawan untuk mengetahui trend pertumbuhan yang terjadi

pada tahun sebelumnya. Adapun formulasi pertumbuhan yang digunakan,

yaitu;

Pertumbuhan = ∑ wisatawan th. Akhir-∑ wisatawan th. Awal


X 100%
∑ wisatawan th. Awal
Gambar 4.1.

Adapun metode yang akan digunakan untuk memproyeksikan jumlah

wisatawan yaitu metode regresi linear. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan

wisatawan di Kabupaten Banyuwangi cenderung tidak stabil dari tahun ke

tahun (naik-turun). Adapun formulasi dari regresi linear sebagai berikut;

Pt+Ө = a + b.X t+Ө

Keterangan;

Pt+Ө ; jumlah wisatawan yang dicari

a, b : tetapan penyimpangan

X t+Ө : Tahun yang dicari

Dari rumus tersebut maka didapatkan persamaan Y = -1221223+611,200X. Dari persamaan

tersebut maka dapat diproyeksikan jumlah wisatawan pada 20 tahun berikutnya.

IV- 2
4.2.2 Analisis Perjalanan Wisata

Perjalanan wisatawan merupakan proses perjalanan wisata sebelum

berangkat hingga kembali dari berwisata. Pola berwisata yaitu apakah dalam

beriwisata dilakukan secara berombongan, keluarga atau individu dan jenis

transportasi yang digunakan, yaitu apakah dengan menggunakan jasa biro

perjalanan, kendaraan pribadi, sewaan, atau menggunakan kendaraan umum.

4.2.3 Analisis Motif Wisatawan

Tujuan analisis motif wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten

Banyuwangi adalah untuk mengetahui motivasi yang mendorong wisatawan

untuk mengadakan perjalanan wisata, sehingga dapat diketahui gambaran

secara umum tentang wisata yang menjadi tujuan utama para wisatawan.

Motivasi yang mendorong wisatawan untuk mengadakan perjalanan wisata

adalah:

a. Dorongan kebutuhan untuk berlibur dan berekreasi;

b. Dorongan kebutuhan pendidikan dan penelitian;

c. Dorongan kebutuhan keagamaan;

d. Dorongan kebutuhan kesehatan;

e. Dorongan atas minat terhadap kebudayaan dan kesenian;

f. Dorongan kepentingan hubungan keluarga;

g. Dorongan kepentingan bisinis; dan

h. Dorongan kepentingan politik.

IV- 3
Berdasarkan motif wisatawan atau tipe wisatanya dapat dibedakan

sebagai berikut:

a. Motif bersenang-senang atau tamasya

b. Motif rekreasi

c. Motif kebudayaan

d. Motif olah raga

e. Motif bisnis

f. Motif konvensi

g. Motif keagamaan/spriritual

h. Motif interpersonal

i. Motif kesehatan

Motivasi wisatawan untuk berwisata dibedakan menjadi empat macam,

yaitu motivasi fisik misalnya untuk menyegarkan kembali badan dan jiwa,

istirahat karena kesehatan, olah raga dan lain-lain. Motivasi kebudayaan seperti

ingin mengetahui budaya, seni, musik, arsitektur, sejarah, peristiwa penting,

misalnya pekan perdagangan atau budaya dan lain-lain. Motivasi individu

seperti mengunjungi keluarga atau teman, bersenang-senang, spiritual,

mencari pengalaman baru dan lain-lain. Motivasi prestasi dan status, seperti

penyaluran hobi, melanjutkan belajar, seminar, pertemuan untuk menjalin

hubungan personal, dan lain-lain.

IV- 4
4.2.4 Analisis Sirkulasi Wisatawan

Pola pergerakan wisatawan di Kabupaten Banyuwangi sebenarnya

merupakan suatu bentuk dari perjalanan-perjalanan wisata yang dilakukan para

wisatawan ketika mengunjungi berbagai obyek wisata yang ada di Kabupaten

Banyuwangi. Pola pergerakan para wisatawan tersebut tampaknya

terkonsentrasi pada lokasi-lokasi yang berkembang, baik obyek wisata alam

maupun obyek wisata buatan.

Perjalanan wisatawan biasanya memiliki pola-pola tertentu. Pola-pola ini

biasanya diawali dari suatu titik awal perjalanan. Titik awal perjalanan tersebut

merupakan tempat pemusatan datangnya para wisatawan. Lokasi tersebut

dijadikan tempat datangnya para wisatawan karena memiliki akses yang baik

dari daerah lainnya, dan juga memiliki fasilitas wisata terlengkap dibandingkan

dengan lokasi lain di dalam Kabupaten Banyuwangi.

Syarat memilih kota sebagai kota pintu gerbang wisata harus memenuhi

persyaratan sebagai berikut:

a. Memiliki akses yang baik dengan daerah tujuan wisata lainnya,

terutama perhubungan darat yang merupakan moda utama bagi para

wisatawan yang menuju ke Kabupaten Banyuwangi;

b. Merupakan kota pusat pemerintahan dan sekaligus memiliki

kelengkapan fasilitas kepariwisataan terlengkap dibandingkan dengan

daerah lainnya;

IV- 5
c. Memiliki obyek atraksi wisata yang menarik dalam jarak jangkau

yang tidak terlalu jauh (sekitar maksimum 0,5 jam perjalanan).

Rute Udara

Rute Laut

Jalur Darat

Dari adanya sirkulasi wisatawan tersebut akan menjadi informasi yang

digunakan untuk melihat pola pergerakan yang nantinya akan dijadikan sebagai

acuan untuk pembentukan rute. Tujuan pembentukan rute wisatawan adalah

untuk mengangkat obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi dan

diluar Kabupaten Banyuwangi, nantinya akan mendukung perkembangan

pariwisata Kabupaten Banyuwangi melalui pembentukan linkage system dengan

obyek wisata lain di kota lainnya dalam kaitannya dengan linkage system

obyek-obyek wisata nasional. Dari tujuan tersebut diatas diharapkan akan

mampu mengangkat potensi-potensi yang ada di Kabupaten Banyuwangi dalam

kaitannya dengan peningkatan pendapatan masyarakat dan juga secara tidak

langsung akan mengangkat pendapatan daerah.

IV- 6
4.3 Analisa Potensi dan Permasalahan Umum Objek Wisata

A. Potensi

a. Memiliki alam bahari yang berpotensi sebagai daya tarik utama

b. pelabuhan laut)

B. Permasalahan

 Belum ada pengelolaan yang maksimal dari setiap objek wisata

 Adanya kendala akses antar wilayah di Kabupaten Banyuwangi

 Banyak potensi objek wisata yang belum dikembangkan

 Kurangnya promosi wisata

 Kurangnya sarana-prasana penunjang pariwisata

 Kurangnya tenaga profesional dibidang pariwisata

 Kurangnya perlindungan atau proteksi yang dilakukan terhadap

sejumlah objek wisata terutama objek wisata sejarah

4.4 Analisis Zonasi

Analisis zonasi pariwisata bertujuan untuk membentuk zona-zona

perwilayahan dan paket-paket wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi.

Fungsi dari zonasi dan paket wisata adalah untuk mempermudah dalam

menganalisa berbagai jenis objek wisata dan memberikan penilaian yang

obyektif terhadap obyek wisata yang ada. Penentuan zona perwilayahan

IV- 7
dilakukan berdasarkan karakter lokasi, radius, batas administrasi dan batas

fisik.

4.5 Analisa Swot

Substansi analisis SWOT adalah komparatif atau membandingkan antar

obyek yang akan dinilai. Di dalam proses membandingkan tersebut menganut

prinsip kesetaraan, artinya obyek-obyek yang dibandingkan merupakan obyek

yang relatif memiliki kesamaan karakter dasar. Tidak mungkin membandingkan

obyek yang ada dilaut dengan obyek yang ada di darat, jadi dalam

menganalisis akan dilakukan pengelompokkan obyek wisata, yaitu obyek wisata

alam, obyek wisata buatan, dan obyek wisata budaya. Konsekuensinya dalam

analisa ini Kabupaten Banyuwangi dibagi dalam empat zona dengan dasar

pembagian batas fisik, batas administrasi dan kesamaan karakter wilayah.

Hal yang selanjutnya dilakukan yaitu menetapkan bobot serta rate pada

masing-masing obyek wisata berdasakan kondisi eksistingnya. Semakin positif

kekuatan dan peluang berarti semakin mudah strategi yang akan

dikembangkan sedangkan semakin negatif nilai kelemahan dan ancaman maka

semakin sulit strategi yang akan dikembangkan. Setelah mendapatkan nilai

“score” (bobot X rate) maka dilanjutkan dengan menggolongkan nilai-nilai

tersebut ke dalam empat kuadrant. Apabila penggabungan score internal dan

eksternal mendekati garis diagonal maka obyek tersebut akan semakin ideal.

Apabila kuadrant telah ditetapkan maka dapat disimpulkan strategi apa yang

IV- 8
harus dilakukan guna menyikapi kondisi serta prospek pengembangan obyek

wisata kedepan.

Secara teoritis analisis SWOT adalah alat yang digunakan untuk

mengidentifikasi berbagai factor secara sistematis untuk merumuskan strategi

perusahaan (Rangkuti, 2001). Terkait dengan kegiatan penyusunan RIPP

analisis SWOT digunakan untuk mendapatkan obyek wisata unggulan (prioritas)

dan strategi pengembangannya. Adapun faktor yang mempengaruhi

pengembangan tersebut adalah:

 Kekuatan (Strength), yaitu kekuatan atau potensi dari obyek itu

sendiri yang dapat dikembangkan (potensi internal), sehingga mampu

bersaing di pasaran, baik di dalam wilayah maupun di luar wilayah.

 Kelemahan (Weaknesses), yaitu segala faktor yang merupakan

masalah yang merugikan atau tidak menguntungkan yang berasal dari

dalam obyek wisata sendiri (internal).

 Peluang (Opportunity), yaitu kesempatan yang berasal dari luar

(eksternal) dari dalam obyek wisata itu sendiri. Kesempatan tersebut

diberikan sebagai akibat dari pemerintah, peraturan atau kondisi

perekonomian secara global, dan upaya jalur-jalur wisata yang berskala

internasional.

 Ancaman (Threats), yaitu hal-hal yang dapat mendatangkan kerugian

yang berasal dari dalam obyek wisata sendiri maupun dari luar (eksternal),

IV- 9
misalnya kerusuhan secara nasional, kondisi politik yang tidak stabil,

adanya wisata sejenis yang lebih baik atau lebih unggul.

Adapun tahap-tahap analisa SWOT adalah sebagai berikut;

1. Tahap Masukan

Dalam evaluasi faktor strategis yang digunakan pada tahap ini adalah

menggunakan model Matrik Faktor Strategis Eksternal dan Matrik Faktor

Strategi Internal. Pada tahap ini ditentukan variable-variabel apa saja

yang dapat digolongkan sebagai variable internal dan eksternal. Setelah

itu memasukkan bobot dan nilai dari masing-masing obyek wisata

kedalam tabel matrik SWOT.

2. Tahap Analisis

Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap

kelangsungan obyek wisata, tahap selanjutnya adalah memanfaatkan

semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan

strategi.

Matrik SWOT

Analisis didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan

(Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan

dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats).

Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan

pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan obyek wisata.

Dengan demikian perencana strategi (strategic planner) harus

IV- 10
menganalisis faktor-faktor strategis obyek wisata (kekuatan, kelemahan,

peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Hal ini disebut

dengan Analisis Situasi. Model yang paling populer untuk analisis situasi

adalah Analisa SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas

bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi obyek wisata

dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis

seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.1
Matrik SWOT

IV- 11
4.6 Analisis Pengembangan dan Peningkatan Elemen

Kepariwisataan Pada Obyek Wisata Prioritas dan Obyek Wisata

Pendukung

Analisis pengembangan dan peningkatan elemen kepariwisataan pada

obyek wisata prioritas/unggulan dan obyek wisata pendukungnya, yang akan

dianalisis adalah pada daya tarik wisatanya, promosi dan publikasi, usaha

sarana dan jasa wisata/industri dan jasa wisata, sarana dan prasarana

transportasi dan analisis terhadap penyediaan utilitas. Pada dasarnya dari

keempat elemen kepariwisataan ini mempunyai hubungan yang erat dan saling

mendukung antara elemen satu dengan elemen yang lainnya.

4.6.1 Analisis Daya Tarik Wisata

Analisis daya tarik wisata ini dibedakan atas daya tarik wisata alam, daya

tarik wisata budaya dan daya tarik pada wisata minat khusus berdasarkan

zoning yang telah dilakukan.

4.6.2 Analisis Pemasaran Produk Wisata (Promosi dan Publikasi)

Promosi dan publikasi secara sederhana bertujuan untuk

memberitahukan kepada orang banyak atau kelompok tertentu, dalam hal ini

kaitannya dengan wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan

mancanegara. Dengan demikian wisatawan akan tahu ada produk pariwisata

IV- 12
yang ditawarkan , misalnya wisata pantai/bahari, wisata alam lainnya, wisata

budaya dan lain-lain.

Pada dasarnya publikasi yang dilakukan belum dilakukan secara

maksimal. Publikasi yang telah dilakukan hanya berupa booklet, leaflet, dan

papan informasi yang berada pada babarapa lokasi tertentu. Publikasi tersebut

dirasakan masih kurang sehingga keberadaanya obyek-obyek wisata di

Kabupaten Banyuwangi kurang dikenal oleh wisatawan. Hanya jenis wisata

tertentu yang telah dikenal oleh wisatawan, misalnya taman laut teluk Maumere

dan poses menun, namun untuk wisatawan lokal keberadaan wisata tersebut

juga tidak begitu diminati.

Diharapkan dengan adanya publikasi yang maksimal, serta kesiapan

Kabupaten Banyuwangi sendiri dalam mempersiapkan pengembangan

pariwisatanya, maka obyek-obyek wisata akan lebih dikenal sehingga usaha-

usaha yang bersifat promosi dan publikasi akan lebih mudah. Misalnya pada

saat ada even budaya, para pengunjung dikenalkan atau diberitahukan bahwa

di Kabupaten Banyuwangi terdapat obyek wisata yang tidak kalah menariknya

jika dibandingkan dengan obyek wisata yang ada di sekitar Kabupaten

Banyuwangi.

Guna meningkatkan pangsa pasar yang lebih luas bahkan dalam skala

nasional maupun internasional, maka perlu adanya pengembangan-

pengembangan obyek yang sesuai dengan minat wisatawan maupun

peningkatan pelayanan yang lebih profesional, dan juga peningkatan promosi

IV- 13
dan publikasi yang lebih gencar. Untuk lebih jelasnya didalam peningkatan dan

perluasan pangsa pasar sebagai berikut:

A. Promosi Pariwisata

Promosi dibedakan menjadi dua macam, yaitu promosi secara langsung dan

promosi secara tidak langsung.

1.Promosi langsung yaitu yang dilakukan oleh semua lembaga yang

bersangkutan dengan pemasaran, seperti; Dinas Pariwisata, biro

perjalanan pariwisata beserta cabang-cabangnya, agen perjalanan,

dengan cara:

 Peragaan (display), misalnya rumah adat, pakaian tradisional, peta-

peta dan lain sebagainya.

 Barang cetakan seperti leaflet, booklet, brosur, dan lain sebagainya

yang disebar luaskan ke pasaran.

 Pameran khusus, berupa pameran, atraksi wisata, pertunjukan

kesenian tradisional maupun kesenian modern seperti tari-tarian

tradisional, pentas musik, karaoke, pameran/pekan budaya dan

lain-lain yang kemudian dapat ditingkatkan menjadi pekan/even

atau bulan pariwisata, yaitu yang nantinya dijadikan sebagai

program dan dilakukan secara kontinyu.

 Pembuatan website yang berfungsi sebagai media informasi

masyarakat luas.

IV- 14
 Pengkaderan masyarakat sadar wisata atau yang lebih dikenal

dengan Pokdarwis.

 Pemberian informasi dalam bentuk barang cetakan.

 Publikasi dalam majalah-majalah profesi yang beredar di daerah

perusahaan penyalur.

 Kunjungan kepada perusahaan-perusahaan penyalur

 Mengundang wakil-wakil dari perusahaan penyalur untuk

mengunjungi daerah tujuan wisatawan dan wartawan sebagai

penyebar informasi.

2.Promosi tidak langsung yaitu membuat kegiatan di luar kegiatan wisata

akan tetapi memiliki peran yang signifikan sebagai ajang promosi

pariwisata secara tidak langsung. Adapun jenis kegiatan yang termasuk

dalam promosi tidak langsung, adalah sebagai berikut:

 Perbaikan lingkungan kota dalam bentuk:

1. Peningkatan penerangan jalan umum

2. Peningkatan kebersihan kota terutama fasilitas umum, seperti

terminal, pasar, bandara dan pelabuhan.

3. Penataan pasar

4. Pemasangan panandaan atau penunjuk arah

 Peningkatan pelayanan transport

 Penanaman pendidikan pariwisata mulai usia dini

 Peningkatan kenyamanan lingkungan

IV- 15
 Menyelenggarakan temu karya (work shop), seminar dan

sejenisnya.

3.Membangun kerja sama antar berbagai pihak untuk melaksanakan even-

even wisata yang sudah ditetapkan, seperti bekerja sama dengan

pengelola hotel, restauran, masyarakat sekitar ataupun pada pihak-

pihak yang mempunyai kepentingan di dalamnya yang dikoordinasi oleh

dinas terkait, dalam hal ini Dinas Pariwisata.

B. Publikasi Wisata

Publikasi dibedakan menjadi dua macam yaitu publikasi secara langsung

dan publikasi secara tidak langsung.

1. Publikasi media cetak yaitu:

 Brosur perjalanan wisata yaitu dengan cara memberikan uraian

data yang menarik tentang perjalanan wisata yang ditawarkan,

lengkap dengan rute, atraksi pada tiap-tiap obyek, hotel, kendaraan

yang akan digunakan, harga, dan fasilitas-fasilitas lainnya yang

dapat menarik wisatawan.

 Leaflet, booklet maupun baleho yang berisi pesan-pesan yang

membuat pembaca atau konsumen menjadi tertarik dan rasa

keingintahuan tersebut, maka konsumen atau wisatawan

berkeinginan untuk berkunjung atau berwisata di obyek wisata

yang dipasarkan.

IV- 16
 Majalah atau buletin yang memberikan informasi seputar pariwisata

di Kabupaten Banyuwangi.

2. Publikasi dalam media massa yaitu dengan memanfaatkan media massa

sekaligus dapat menyampaikan pesan kepada khalayak ramai. Media

massa tersebut dapat berupa media elektronik atau visual yang

diwujudkan dalam bentuk film dokumenter ataupun acara-acara

seputar informasi pariwisata.

C. Informasi Wisata

Fungsi dan kegunaan dari informasi wisata sangat penting, terutama bagi

wisatawan yang akan berkunjung ke obyek wisata. Bentuk-bentuk informasi

wisata meliputi:

1. Jenis dan daya tarik maupun spesifikasi yang dimiliki oleh obyek wisata

atau daerah tujuan wisata yang akan dijual.

2. Keamanan dan kenyamanan pada daerah tujuan wisata yang

dipromosikan.

3. Jenis dan macam informasi yang dapat membawa ke daerah tujuan

wisata yang akan dikunjungi.

4. Untuk transfer dari terminal, angkutan apa yang akan di pakai, apakah

itu taxi, bus wisata, angkutan umum dan lain sebagainya.

5. Hotel dan akomodasi wisata lainnya, berikut dengan klasifikasi dan

tarifnya.

IV- 17
6. Restauran yang ada, jenis masakan yang disediakan, apakah masakan

modern, semi modern ataukah masakan tradisional, berikut dengan

harga makanannya.

7. Biro perjalanan yang dapat memberikan pelayanan lokal tour atau

keperluan pramuwisata untuk berkunjung kedaerah tujuan wisata.

8. Obyek, atraksi wisata, atau kawasan/obyek wisata yang diprioritaskan

untuk dikunjungi.

9. Money Changers atau bank untuk menukarkan uang, terutama bagi

wisatawan mancanegara.

10. Sikap masyarakat daerah tujuan wisata yang akan dikunjungi baik

mengenai kebiasaan masyarakat, keramah tamahannya, budaya/kultur

masyarakat dan lain sebagainya.

11. Dan informasi-informasi lain yang berkaitan dengan pariwisata.

D. Kerja Sama Pariwisata

Bentuk kerjasama pariwisata dengan menjalin kerjasama antar pelaku

wisata seperti biro perjalanan, hotel, restauran dan lain sebagainya dengan

cara:

1. Pembuatan linkage system yang signifikan antar pelaku wisata

2. Kesamaan program pengembangan dengan biro perjalanan

E. Pengembangan Kalender Wisata

Pengembangan kalender wisata terdiri dari:

1. Pembuatan kalender even-even wisata

IV- 18
2. Membangun kerjasama antar berbagai pihak untuk melaksanakan even-

even wisata yang telah ditetapkan.

4.6.3 Analisis Usaha Sarana dan Jasa Wisata (Industri dan Jasa

Wisata)

Usaha sarana dan jasa wisata yang akan dianalisis pertama adalah

keberadaan usaha sarana dan jasa wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi.

Keberadaan usaha sarana dan jasa wisata di Kabupaten Banyuwangi

kecenderungannya berada di pusat kota Banyuwangi, namun itupun belum

terlalu lengkap. Sedangkan pada obyek-obyek wisata (baik wisata unggulan

maupun wisata pendukung) belum ada. Adapun usaha sarana dan jasa wisata

sebagai berikut:

 Akomodasi (Hotel bintang, Hotel melati, Pondok wisata, home stay dan

lain-lain).

 Restauran (modern, semi modern dan tradisional)

 Kerajinan tradisional.

 mini market maupun kawasan perdagangan lainnya.

 Hiburan wisata.

 Dan lain sebagainya

4.6.4 Analisis Pelayanan dan Pengembangan Sarana dan

Prasarana Transportasi

IV- 19
Sarana dan prasarana transportasi mempunyai peranan yang sangat

penting guna menunjang aksesbilitas wisatawan dan juga dalam kaitannya

dengan pengembangan obyek wisata, baik terhadap jaringan jalannya maupun

terhadap sarana angkutan.

a. Transportasi Darat

b. `Transportasi Laut

c. Transportasi Udara

4.6.5 Analisis Pengembangan Pelayanan Utilitas di Kawasan

Wisata

Pelayanan utilitas meliputi pelayanan listrik, pelayanan telepon dan pelayanan

kebutuhan air bersih. Fungsi dari pelayanan utilitas bagi pariwisata sangatlah

penting, sehingga dengan terpenuhi pelayanan utilitas dapat menambah

kenyaman, ketenangan bagi wisatawan dan akan tinggal lebih lama.

A. Air Bersih

Obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi sebagian besar

belum terlayani oleh kebutuhan air bersih/air minum, yaitu karena

mayoritas obyek-obyek wisata belum dikembangkan/dikelola. Kecuali lokasi

objek wisata yang telah dikelola oleh resort-resort atau pihak swasta.

B. Listrik

Kebutuhan listrik bagi obyek wisata mempunyai peranan yang sangat

penting, guna menunjang aktivitas atau kegiatan baik bagi wisatawan

maupun bagi penyedia usaha sarana dan jasa wisata.

IV- 20
C. Telepon

Dengan perkembangan jaman yang semakin modern, kebutuhan akan

informasi sangat vital, sehingga pada obyek wisata harus ditunjang dengan

sarana informasi yang memadai. Dengan demikian, diharapkan akan

menambah kenyaman wisatawan dan wisatawan lebih lama tinggal di

kawasan atau obyek wisata.

Mengingat jika pengembangan jaringan telepon hingga sampai ke lokasi

obyek membutuhkan dana yang cukup besar, maka perlu adanya

pengembangan jaringan telepon seluler agar bisa menjangkau pada obyek

wisata yang sulit dilayani oleh jaringan telepon. Selain itu kebutuhan akan

keberadaan sinyal telepon selular sangatlah penting, untuk itu juga

dibutuhkan pembangunan menara telepon selular sehingga memudahkan

wisatawan untuk berkomunikasi.

IV- 21