Anda di halaman 1dari 39

LEMBAR PERTANYAAN

BAB V MENGAPA PANCASILA SEBAGAI SUMBER FILSAFAT

Untuk memahami Pancasila sebagai sistem filsafat, Anda dipersilakan untuk


mencari informasi dari berbagai sumber tentang:
1. Berbagai konsep dan pengertian kearifan lokal dalam kehidupan
masyarakat di Indonesia yang terkait dengan sikap inklusif, toleran, dan
gotong royong dalam keragaman agama dan budaya.
2. Berbagai kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais,
seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,
gotong royong, dan cinta damai di lingkungan Anda.
3. Contoh tentang keputusan yang diambil berdasar pada prinsip musyawarah
dan mufakat di lingkungan sekitar Anda.
4. Berbagai konsep dan pengertian yang terkait dengan pemahaman atas
hakikat sila-sila Pancasila dan bagaimana pengaktualisasian nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan
berperilaku masyarakat?
5. Evaluasi hasil kerja individu dan kelompok menjadi suatu gagasan tentang
Pancasila yang hidup di sekitar Anda.

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pancasila sebagai dasar Negara bangsa Indonesia hingga sekarang telah
mengalami perjalanan waktu yang tidak sebentar, dalam rentang waktu tersebut
banyak hal atau peristiwa yang terjadi menemani perjalanan Pancasila, sehingga
berdirilah pancasila seperti sekarang ini di depan semua bangsa Indonesia.

Mulai peristiwa pertama saat pancasila dicetuskan sudah menuai banyak


konflik di internal para pencetus nya hingga sekarang pun di era reformasi dan
globalisasi Pancasila masih hangat diperbincangkan oleh banyak kalangan
berpendidikan terutama kalangan Politik dan mahasiswa. Kebanyakan dari para
pihak yang memperbincangkan masalah Pancasila adalah mengenai awal
dicetuskan nya Pancasila tentang sila pertama. Memang dari sejarah awal
perkembangan bangsa Indonesia dapat kita lihat bahwa komponen masyarakatnya
terbentuk dari dua kelompok besar yaitu kelompok agamais dalam hal ini
didominasi oleh kelompok agama Islam dan yang kedua adalah kelompok
Nasionalis. Kedua kelompok tersebut berperan besar dalam pembuatan rancangan
dasar Negara kita tercinta ini.

Maka, setelah banyak aspek memperbincangkan pancasila sebagai dasar


Negara. Sekarang pancasila pun dijadikan bahan perbincangan sebagai prilaku
yang digunakan di dalam kampus. Dimana di dalam kampus tersebut akan
terdidik dengan kepemimpinan pancasilan. Baik dalam prilaku bergaul juga dalam
proses belajar mengajar di dalamnya. Serta molekul-molekul yang menjadi
bagiannya.

Makalah ini dibuat sebagai catatan perjalanan Pancasila dari jaman ke


jaman, agar kita senantiasa tidak melupakan sejarah pembentukan Pancasila
sebagai dasar Negara dan juga dapat digunakan untuk rnenjadi penengah bagi
pihak yang sedang berbeda pendapat tentang dasar Negara supaya ke depan kita
tetap seperti semboyan kita yaitu "Bhinneka Tunggal Ika". Terutama hal tersebut
dalam penerapan nya dalam kehidupan kita. Termasuk di lingkungan kampus.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa sajakah konsep dan pengertian kearifan lokal dalam kehidupan
masyarakat di Indonesia yang terkait dengan sikap inklusif, toleran,
dan gotong royong dalam keragaman agama dan budaya.
2. Berbagai kasus yang terkait dengan pengembangan karakter
Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun,
ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan
3. Contoh tentang keputusan yang diambil berdasar pada prinsip
musyawarah dan mufakat di lingkungan sekitar Anda.
4. Berbagai konsep dan pengertian yang terkait dengan pemahaman atas
hakikat sila-sila Pancasila dan bagaimana pengaktualisasian nilai-nilai
yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap
dan berperilaku masyarakat?
5. Evaluasi hasil kerja individu dan kelompok menjadi suatu gagasan
tentang Pancasila yang hidup di sekitar Anda
1.3 Tujuan
1. Untuk Mengetahui Apa sajakah konsep dan pengertian kearifan lokal
dalam kehidupan masyarakat di Indonesia yang terkait dengan sikap
inklusif, toleran, dan gotong royong dalam keragaman agama dan
budaya.
2. Untuk Mengetahui Berbagai kasus yang terkait dengan pengembangan
karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli,
santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di
lingkungan
3. Untuk Mengetahui Contoh tentang keputusan yang diambil berdasar
pada prinsip musyawarah dan mufakat di lingkungan sekitar Anda.
4. Untuk Mengetahui Berbagai konsep dan pengertian yang terkait
dengan pemahaman atas hakikat sila-sila Pancasila dan bagaimana
pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai
paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat?
5. Untuk Mengetahui Evaluasi hasil kerja individu dan kelompok
menjadi suatu gagasan tentang Pancasila yang hidup di sekitar Anda

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep dan Pengertian Kearifan Lokal


Secara etimologis, kearifan (wisdom) berarti kemampuan seseorang dalam
menggunakan akal pikirannya untuk menyikapi sesuatu kejadian, obyek atau
situasi. Sedangkan lokal, menunjukkan ruang interaksi di mana peristiwa atau
situasi tersebut terjadi. Dengan demikian, kearifan lokal secara substansial
merupakan nilai dan norma yang berlaku dalam suatu masyarakat yang diyakini
kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertindak dan berperilaku sehari-hari.
Dengan kata lain kearifan lokal adalah kemampuan menyikapi dan
memberdayakan potensi nilai-nilai luhur budaya setempat. Oleh karena itu,
kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat
manusia dalam komunitasnya (Geertz, 2007). Perilaku yang bersifat umum dan
berlaku di masyarakat secara meluas, turun temurun, akan berkembang menjadi
nilai-nilai yang dipegang teguh, yang selanjutnya disebut sebagai budaya.
Kearifan lokal didefinisikan sebagai kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg
dalam suatu daerah (Gobyah, 2003). Kearifan lokal (local wisdom) dapat
dipahami sebagai usaha manusia dengan menggunakan akal budinya (kognisi)
untuk bertindak dan bersikap terhadap sesuatu, objek, atau peristiwa yang terjadi
dalam ruang tertentu (Ridwan, 2007).
Kearifan Lokal secara umum diartikan sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai-
nilai, pandangan-pandangan setempat (lokal) yang bersifat bijaksana, penuh
kearifan, bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya.

Ciri-cirinya adalah:
1. Mampu bertahan terhadap budaya luar,
2. Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,
3. Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam
budaya Asli
4. Memunyai kemampuan mengendalikan,
5. Mampu memberi arah pada perkembangan budaya.

4
Pengertian kearifan lokal (local wisdom) dalam kamus
t e r d i r i d a r i d u a k a t a : kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus
Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti
setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengankebijaksanaan.
Secara umum maka local wisdom (kearifan lokal) adalah gagasan -
gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh
kearifan,bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota
masyarakatnya. Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius.
Sementara Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan bahwa
unsur budaya daerah potensial sebagai localgeniuskarena telah teruji
kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. Kearifan lokal adalah dasar
untuk pengambilan kebijakkan pada level lokal di bidang kesehatan,
pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam dan kegiatan masyarakat
pedesaan. Dalam kearifan lokal,terkandung pula kearifan budaya
lokal. K e a r i f a n b u d a ya l o k a l s e n d i r i a d a l a h p e n g e t a h u a n l o k a l
y a n g s u d a h s e d e m i k i a n menyatu dengan sistem kepercayaan, norma,
dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam
jangka waktu yang lama.

Maka dari itu kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang
berbeda dan suku yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh tantangan alam
dan kebutuhan hidupnya berbeda-beda, sehingga pengalamannya dalam
memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan baik
yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial. Sebagai salah satu bentuk
perilaku manusia, kearifan lokal bukanlah suatu hal yang statis melainkan berubah
sejalan dengan waktu, tergantung dari tatanan dan ikatan sosial budaya yang ada
di masyarakat.

Jadi, dapat dikatakan bahwa kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan


budaya masyarakat setempat berkaitan dengan kondisi geografis dalam arti luas.
Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-
menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang
terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.

5
Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncul dari
periode panjang yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya
dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama. Proses evolusi yang begitu
panjang dan melekat dalam masyarakat dapat menjadikan kearifan lokal sebagai
sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup
bersama secara dinamis dan damai. Pengertian ini melihat kearifan lokal tidak
sekadar sebagai acuan tingkah-laku seseorang, tetapi lebih jauh, yaitu mampu
mendinamisasi kehidupan masyarakat yang penuh keadaban.

Secara substansial, kearifan lokal itu adalah nilai-nilai yang berlaku dalam
suatu masyarakat. Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan
dalam bertingkah-laku sehari-hari masyarakat setempat. Oleh karena itu, sangat
beralasan jika dikatakan bahwa kearifan lokal merupakan entitas yang sangat
menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya.

Dalam masyarakat kita, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam


nyanyian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat
dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-
kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama. Keberlangsungan
kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok
masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat
tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat
diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari.

Pengertian di atas memberikan cara pandang bahwa manusia sebagai


makhluk integral dan merupakan satu kesatuan dari alam semesta serta perilaku
penuh tanggung jawab, penuh sikap hormat dan peduli terhadap kelangsungan
semua kehidupan di alam semesta serta mengubah cara pandang antroposentrisme
ke cara pandang biosentrisme dan ekosentrisme. Nilai-nilai kerarifan lokal yang
terkandung dalam suatu sistem sosial masyarakat, dapat dihayati, dipraktikkan,
diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke genarasi lainnya yang sekaligus
membentuk dan menuntun pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap alam
maupun terhadap alam.

6
2.2 Berbagai Kasus pengembangan karakter Pancasilais

1. Sila Pertama : “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Sila pertama ini mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia mempunyai


kebebasan untuk menganut agama dan menjalankan ibadah yang sesuai dengan
keyakinan masing-masing. Sila pertama ini juga mengajak masyarakat Indonesia
untuk mewujudkan kehidupan yang selaras, serasi, dan seimbang antarsesama
manusia dan makhluk ciptaan Tuhan sehingga timbul rasa saling menyayangi,
saling menghargai dan menghormati.

Berikut nilai-nilai yang terkandung dalam sila pertama antara lain :

 Keyakinan terhadap adanya Tuhan yang Maha Esa dengan sifat-sifatnya


yang Mahasempurna.
 Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dengan cara menjalankan
semua perintah-Nya, dan sekaligus menjauhi segala larangan-Nya.
 Saling menghormati dan toleransi antara pemeluk agama yang berbeda-
beda.
 Kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

Contoh Penerapannya :

Menyayangi binatang, menyayangi dan merawat tumbuhan-tumbuhan, selalu


menjaga kebersihan dan sebagainya. Dalam Islam bahkan ditekankan, bahwa
Allah tidak suka pada orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, tetapi
Allah senang terhadap orang-orang yang selalu bertakwa dan selalu berbuat baik.
Lingkungan hidup Indonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada
rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-NYA yang wajib
dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar tetap dapat menjadi sumber
dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia serta makhluk hidup
lainya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas Hidup itu sendiri.

7
2. Sila Kedua : “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”

Sila kedua mengandung pengertian bahwa bangsa Indonesia diakui dan


diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya selaku makhluk ciptaan
Tuhan Yang Maha Esa, yang sama derajatnya, sama hak dan kewajibannya, tanpa
membeda-bedakan agama, suku ras, dan keturunan.

Dengan demikian, pada sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab” terkandung
nilai-nilai sebagai berikut :

 Pengakuan terhadap adanya harkat dan martabat manusia.


 Pengakuan terhadap keberadaan manusia sebagai makhluk yang paling
mulia diciptakan Tuhan.
 Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan harus mendapat perlakuan yang
adil terhadap sesama manusia.
 Mengembangkan sikap tenggang rasa agar tidak berbuat semena-mena
terhadap orang lain.

Penerapan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

Dapat diwujudkan dalam bentuk kepedulian akan hak setiap orang untuk
memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak setiap orang untuk
mendapatkan informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam
pengelolaan lingkungan hidup, hak setiap orang untuk berperan dalam rangka
pengelolaan lingkungan hidup yang sesuai dengan ketentuanketentuan hukum
yang berlaku dan sebagainya (Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 558).

3. Sila Ketiga : “Persatuan Indonesia”

Makna dalam sila ketiga ini adalah suatu wujud kebulatan yang utuh dari berbagai
aspek kehidupan, yang meliputi ideologi, politik, sosial, budaya, dan pertahanan
keamanan yang semuanya terwujud dalam suatu wadah, yaitu Indonesia.

8
Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sila ketiga, antara lain sebagai berikut.

 Menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa


dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan.
 Memiliki rasa cinta tanah air dan bangsa serta rela berkorban untuk
kepentingan bangsa dan negara.
 Pengakuan terhadap keragaman suku bangsa dan budaya bangsa dan
sekaligus mendorong ke arah pembinaan persatuan dan kesatuan bangsa.

Penerapan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

Dengan melakukan inventarisasi tata nilai tradisional yang harus selalu


diperhitungkan dalam pengambilan kebijaksanaan dan pengendalian
pembangunan lingkungan di daerah dan mengembangkannya melalui pendidikan
dan latihan serta penerangan dan penyuluhan dalam pengenalan tata nilai
tradisional dan tata nilai agama yang mendorong perilaku manusia untuk
melindungi sumber daya dan lingkungan (Salladien dalam Burhan Bungin dan
Laely Widjajati , 1992 : 156-158).

4. Sila Keempat : “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan


dalam Permusyawaratan dan Perwakilan”

Artinya setiap orang Indonesia sebagai warga masyarakat, bangsa, dan negara
Indonesia mempunyai hak, kewajiban, dan kedudukan yang sama dalam
pemerintahan. Dalam menggunakan hak-haknya kita harus menyadari perlunya
selalu memperhatikan dan mengutamakan kepentingan negara dan kepentingan
masyarakat atau dapat dikatakan kepentingan bersama.

Adapun nilai-nilai yang terkandung dalam sila keempat, antara lain sebagai
berikut.

 Kedaulatan negara ada di tangan rakyat.


 Manusia Indonesia sebagai warga masyarakat dan warga negara
mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.

9
 Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat
kekeluargaan.
 Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat daripada kepentingan
pribadi atau golongan.
 Mengutamakan musyawarah dalam setiap pengambil keputusan.

Penerapan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

Setiap kegiatan pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama


terlebih dahulu selalu diadakan musyawarah untuk mencapai mufakat.
Musyawarah untuk mencapai mufakat tersebut dilakukan dengan semangat
kekeluargaansebagai ciri khas kepribadian bangsa Indonesia.

5. Sila Kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Maksudnya masyarakat Indonesia menyadari hak dan kewajiban yang sama untuk
menciptakan keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Untuk itu
dikembangkan sikap adil terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan
kewajiban, serta menghormati hak-hak orang lain.

Adapun nilai-nilai yang tercermin dalam sila kelima, antara lain sebagai berikut.

 Mewujudkan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,


terutama meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan,
dan pertahanan keamanan nasional.
 Keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak
orang lain.
 Bersikap adil dan suka memberi pertolongan kepada orang lain.
 Mengembangkan perbuatan-perbuatan yang terpuji yang senantiasa
mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotong-royongan.
 Cinta akan kemajuan dan pembangunan bangsa, baik material maupun
spiritual.

10
Penerapan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari yaitu :

Penerapan sila ini tampak dalam ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur


masalah lingkungan hidup. Sebagai contoh :

 Mengelola sumber daya alam dan memelihara daya dukungnya agar


bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan rakyat dari generasi ke
generasi.
 Meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup
dengan melakukan konservasi, rehabilitasi dan penghematan pengunaan
dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan.
 Mendelegasikan secara betahap wewenang pemerintah pusat kepada
pemerintah daerah dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya alam
secara selektif dan pemeliharaan ling-kungan hidup, sehingga kualitas
ekosistem tetap terjaga yang diatur dengan undangundang.
 Mendayagunakan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat dengan memperhatikan kelestarian fungsi dan keseim-bangan
lingkungan hidup, pembangunan yang berkelanjutan, kepentingan
ekonomi dan budaya masyarakat lokal serta penataan ruang yang
pengaturannya diatur dengan undang-undang.
 Menerapkan indikator-indikator yang memungkinkan pelestarian
kemampuan.

11
2.3 Musyawarah Mufakat
- Pengertian Musyawarah
Musyawarah adalah suatu upaya bersama dengan sikap rendah hati untuk
memecahkan persoalan (mencari jalan keluar) untuk mengambil
keputusan bersama dalam penyelesaian atau pemecahan yang
menyangkut urusan keduniawian (Wikipedia).
Seperti yang telah disinggung diatas, bahwa musyawarah asalnya dari
bahasa Arab yaitu Syawara artinya berunding, urun rembug.
Musyawarah memiliki tujuan untuk mencapai mufakat atau persetujuan.
Pada dasarny prinsip dari musyawarah adalah bagian dari demokrasi.
Sehingga saat ini sering dikaitkan dengan dunia politik demokrasi.
Dalam demokrasi pancasila di Indonesia penentuan hasil dilakukan
dengan cara musyawarah mufakat, jika tida ada jalan keluar atau jika
mengalami kebuntuan maka akan dilaksanakan voting atau pemungutan
suara.
- Ciri-Ciri Musyawarah
Musyawarah memiliki ciri-ciri sebagai berikut

 Dilakukan berdasarkan atas kepentingan bersama


 Hasil keputusan musyawarah dapat diterima dengan akal sehat dan
sesuai hati nurani
 Pendapat yang diusulkan dalam musyawarah mudah dipahami dan
tidak memberatkan anggota musyawarah
 Mengutamakan pertimbangan moral dan bersumber dari hati
nurani yang luhur.

- Tujuan Musyawarah
Dalam bermusyawarah ada tujuan yang harus dihasilkan atau
diputuskan yaitu:

 Mendapatkan kesepakatan bersama sehingga keputusan akhir yang


diambil dalam musyawarah dapat diterima dan dilaksanakan oleh
semua anggota dengan penuh rasa tanggung jawab.

12
 Menyelesaikan kesulitan dan memberikan kesempatan untuk
melihat masalah dari berbagai sudut pandang sehingga keputusan
yang dihasilkan sesuai dengan persepsi dan standar anggota
musyawarah. Keputusan yang diambil dengan musyawarah akan
lebih berbobot karena didalamnya terdapat pemikiran, pendapat
dan ilmu dari para anggotanya.

- Manfaat Musyawarah

1. Melatih untuk mengemukakan pendapat (ide)

Dalam proses musyawarah setiap orang memiliki ide atau gagasan


yang berbeda, yang dapat diungkapkan dalam memecahkan suatu
permasalahan yang sedang dibahas. Dengan bermusyawarah,
seseorang bisa dilatih untuk mengutarakan pendapatnya yang
nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan dalam mencari
solusinya dari masalah yang sedang dibahas.

2. Masalah dapat segera terpecahkan

Dengan adanya musyawarah, akan didapatkan beberapa jalan


alternatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang dalam
hal ini merupakan kepentingan bersama. Pendapat yang berbeda
dari orang lain bisa jadi lebih baik daripada pendapat kita, untuk
itu dalam bermusyarah penting mendengarkan pendapat dari orang
lain.

3. Keputusan yang dihasilkan mempunyai nilai keadilan

Musyawarah adalah proses dengar pendapat yang nantiny


keputusan yang diambil adalah atas kesepakatan bersama antar
sesama anggota. Kesepakatan yang dihasilkan tentu tidak
mengandung unsur paksaan didalamnya. Sehingga semua anggota

13
dapat melaksakan hasil keputusan dengan penuh tanggung jawab
dan tanpa ada pemaksaan.

4. Hasil Keputusan yang diambil menguntungkan semua


pihak

Keputusan yang dihasilkan dalam musyawarah tidak boleh


merugikan salah satu pihak atau anggota dalam musyawarah.
Karena agar nantinya hasil yang diputuskan dalam musyawarah
dapat diterima dan dilaksanakan oleh semua anggota dengan
penuh keikhlasan.

5. Dapat menyatukan pendapat yang berbeda

Pendapat yang berbeda pasti akan ditemui disetiap musyawarah


yang melibatkan orang banyak apalagi ini menyangkut urusan dan
kepentingan bersama. Inilah keindahan dari bermusyawarah.
Pendapat-pendapat yang berbeda akan dikumpulkan dan ditelaah
secara bersama-sama baik dan buruknya, sehingga diakhir
musyawarah akan terpilih satu atau lebih dari sekian pendapat
berbeda tersebut.

6. Adanya kebersamaan

Adanya musyawarah akan mempererat hubungan tali persaudaraan


antar sesama anggota. Setiap orang bertemu dengan beberapa
karakter yang berbeda dari para anggotanya.

7. Dapat mengambil kesimpulan yang benar

Hasil keputusan yang diambil dalam musyawarah adalah


keputusan yang dianggap benar dan sah. Sehingga hasil tersebut
harus dilaksanakan dengan baik oleh setiap anggotanya.

14
8. Mencari kebenaran dan menjaga diri dari kekeliruan

Dengan adanya musyawarah, semua anggota akan menemukan


kebenaran atas masalah yang sedang dibahas demi kepentingan
bersama.

9. Menghindari celaan

Dengan bermusyawarah, kita akan terhindar dari berbagai macam


anggapan dan celaan orang lain. Karena semua hasil dan proses
musyawarah dibicarakan bersama dan ditelaah oleh semua
anggota.

10. Terciptanya stabilitas emosi

Dalam musyawarah yang pastinya akan ditemukan pendapat yang


berbeda dari yang kita sampaikan. Hal seperti ini akan melatih diri
kita agar menahan emosi dengan cara menghargai apapun
pendapat orang lain dalam musyawarah, sehingga membuat emosi
antar anggota tetap stabil.

15
- Contoh Musyawarah

 Dalam Keluarga

Musyawarah pembagian tugas bersih-bersih rumah,


musyawarah menentukan tempat rekreasi, dan lain-lain

 Dalam Lingkungan Kampus

Musyawarah pemilihan PRESMA dan GUBMA, musyawarah


mengadakan lomba, pemilihan ketua kelas dan lain-lain.

Contoh nya saja pada saat Musyawarah besar UKM MARS,


dari namanya saja telah mencerminkan bahwa sanya itu
merupakan salah satu bentuk musyawarah. Dimana dalam
musyawarah besar ini membahas mengenai anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga UKM MARS POLSRI, GBHO serta
GBHK UKM MARS POLSRI. Yang diputuskan bersama-sama
demi mencapai mufakat.

Contoh lain : Pemilihan ketua kelas 1 TEA pada saat awal


perkuliahan dimulai dilakukan pemilihan secara nusyawarah,
akan tetapi dalam hal ini ketua kelas terpilih dipungut suara
melalui Voting.

 Dalam Lingkungan Masyarakat

Pembentukan panitia ulang tahun desa, musyawarah pembagian


siskamling, musyawarah perbaikan jalan desa dan lain-lain

 Dalam Lingkungan Negara

Rapat anggota DPR, Musyawarah merumuskan undang-undang


dan lain-lain

16
2.4 Hakikat Nilai-nilai Pancasila dan Pemgaktualisasiannya
a. Hakikat Nilai-Nilai Pancasila
Pancasila merupakan suatu kesatuan, sila yang satu tidak bisa pisahkan
dari sila yang lainnya; keseluruhan sila di dalam pancasila merupakan
suatu kesatuan organis,atau suatu kesatuan keseluruhan yang bulat.
Adapun susunan sila-sila Pancasila adalah sistematis-hierarkhis, artinya
kelima sila Pancasila itu menunjukan suatu rangkaian urut-urutan yang
bertingkat (hierarkhis). Tiap-tiap sila mempunyai tempatnya sendiri di
dalam rangkaian susunan kesatuan itu. Sehingga tidak dapat digeser-geser
atau dibalik-balik. Sekalipun sila-sila di dalam Pancasila itu merupakan
suatu kesatuan yang tidak bisa dilepas-pisahkan satu dari yang lainya,
namun dalam hal memahami hakekat pengertiannya sangatlah diperlukan
uraian sila demi sila.
Hal ini dapat di gambarkan sebagai berikut:
Sila I :”Ketuhanan Yang Maha Esa” meliputi dan menjiwai sila II,III,IV,
dan V
Sila II :”Kemanusiaan yang Adil Dan Beradab” diliputi dan dijiwai sila
I,meliputi dan menjiwai sila III,IVdan V
Sila III :”Persatuan Indonesia” diliputi dan dijiwai sila I, dan II,meliputi
dan menjiwai sila IvdanV
Sila IV:”Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan Perwakilan” diliputi dan dijiwai sila I,II,II, meliputi dan
menjiwai sila V.
Sila V:”Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia” diliputi dan
dijiwai sila I,II,III,dan IV
Untuk lebih jelas contohnya sebagai berikut: faham kemanusiaan
dimiliki oleh bangsa-bangsa lain, tetapi bagi bangsa Indonesia faham
kemanusiaan sebagai yang dirumuskan dalam sila II adalah faham
kemanusiaan yang dibimbing oleh ke-Tuhanan Yang Maha Esa,
sebagaimana yang diajarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang
dimaksud dengan sila II diliputi dan dijiwai oleh sila I, begitu pula sila-sila

17
yang lainnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sila II,III,IV,V
pada hakekatnya merupakan penjabaran dan penghayatan dari sila I.
Adapun susunan sila-sila pancasila adalah sistematis-hierarkhis,
artinya kelima sila itu menunjukan suatu rangkaian yang bertingkat
(heararkhis). Sekalipun sila-sila di dalam Pancasila merupakan suatu
kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lainnya ,namun dalam
memahami hakikat pengertiannya sangat diperlukan uraian sila demi sila.
Uraian atau penafsiran haruslah bersumber, berpedoman dan berdasar
kepada Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945.

1. Sila Pancasila: Ke-Tuhanan yang Maha Esa.


Ketuhanan berasal dari kata Tuhan, ialah pencipta segala yang ada
dan semua makhluk. Yang Maha Esa berarti yang Maha tunggal, tiada
sekutu, Esa dalam zatNya, Esa dalam sifat-Nya, Esa dalam Perbuatan-
Nya, artinya bahwa zat Tuhan tidak terdiri dari zat-zat yang banyak lalu
menjadi satu, bahwa sifat Tuhan adalah sempurna, bahwa perbuatan
Tuhan tidak dapat disamai oleh siapapun. Jadi ke-Tuhanan yang maha Esa,
mengandung pengertian dan keyakinan adanya Tuhan yang maha Esa,
pencipta alam semesta, beserta isinya. Keyakinan adanya Tuhan yang
maha Esa itu bukanlah suatu dogma atau kepercayaan yang tidak dapat
dibuktikan kebenarannya melalui akal pikiran, melainkan suatu
kepercayaan yang berakar pada pengetahuan yang benar yang dapat diuji
atau dibuktikan melalui kaidah-kaidah logika.
Atas keyakinan yang demikianlah maka Negara Indonesia
berdasarkan ketuhanan yang Maha Esa, dan Negara memberi jaminan
kebebasan kepada setiap penduduk untuk memeluk agama sesuai dengan
keyakinannya dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya.
Bagi dan didalam Negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan dalam
hal ketuhanan yang Maha Esa, tidak boleh ada sikap dan perbuatan yang
anti ketuhanan yang Maha Esa, dan anti keagamaan serta tidak boleh ada
paksaan agama dengan kata lain dinegara Indonesia tidak ada paham yang
meniadakan Tuhan yang Maha Esa (atheisme). Sebagai sila pertama
Pancasila ketuhanan yang Maha Esa menjadi sumber pokok kehidupan

18
bangsa Indonesia, menjiwai mendasari serta membimbing perwujudan
kemanusiaan yang adil dan beradab, penggalangan persatuan Indonesia
yang telah membentuk Negara republic Indonesia yang berdailat penuh,
bersipat kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan guna mewujudkan keadilan social bagi
seluruh rakyat Indonesia. Hakekat pengertian itu sesuai dengan:
b. Pembukaan UUD 1945 yang berbunyi antara lain ”atas berkat
rahmat Allah yang maha kuasa….”
c. Pasal 29 UUD 1945:
1. Negara berdasarkan atas ketuhanan yang maha Esa
2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan beribadah menurut
agama dan kepercayaannya.

Inti sila ketuhanan yang maha esa adalah kesesuaian sifat-sifat dan
hakikat Negara dengan hakikat Tuhan. Kesesuaian itu dalam arti
kesesuaian sebab-akibat. Maka dalam segala aspek penyelenggaraan
Negara Indonesia harus sesuai dengan hakikat nila-nilai yang berasal dari
tuhan, yaitu nila-nilai agama. Telah dijelaskan di muka bahwa pendukung
pokok dalam penyelenggaraan Negara adalah manusia, sedangkan hakikat
kedudukan kodrat manusia adalah sebagai makhluk berdiri sendiri dan
sebagai makhluk tuhan. Dalam pengertian ini hubungan antara manusia
dengan tuhan juga memiliki hubungan sebab-akibat. Tuhan adalah sebagai
sebab yang pertama atau kausa prima, maka segala sesuatu termasuk
manusia adalah merupakan ciptaan tuhan (Notonagoro). Hubungan
manusia dengan tuhan, yang menyangkut segala sesuatu yang berkaitan
dengan kewajiban manusia sebagai makhluk tuhan terkandung dalam
nilai-nilai agama. Maka menjadi suatu kewajiban manusia sebagai
makhluk tuhan, untuk merealisasikan nilai-nilai agama yang hakikatnya
berupa nila-nilai kebaikan, kebenaran dan kedamaian dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara.

19
Disisi lain Negara adalah suatu lembaga kemanusiaan suatu
lembaga kemasyarakatan yang anggota-anggotanya terdiri atas manusia,
diadakan oleh manusia untuk manusia, bertujuan untuk melindungi dan
mensejahterakan manusia sebagai warganya. Maka Negara berkewajiban
untuk merealisasikan kebaikan, kebenaran, kesejahteraan, keadilan
perdamaian untuk seluruh warganya.

Maka dapatlah disimpulkan bahwa Negara adalah sebagai akibat


dari manusia, karena Negara adalah lembaga masyarakat dan masyarakat
adalah terdiri atas manusia-manusia, adapun keberadaan nilai-nilai yang
berasal dari tuhan. Jadi hubungan Negara dengan tuhan memiliki
hubungan kesesuaian dalam arti sebab akibat yang tidak langsung, yaitu
Negara sebagai akibat langsung dari manusia dan manusia sebagai akibat
adanya tuhan. Maka sudah menjadi suatu keharusan bagi Negara untuk
merealisasikan nilai-nilai agama yang berasal dari tuhan.

Jadi hubungan antara Negara dengan landasan sila pertama, yaitu


ini sila ketuhanan yang maha esa adalah berupa hubungan yang bersifat
mutlak dan tidak langsung. Hal ini sesuai dengan asal mula bahan
pancasila yaitu berupa nilai-nilai agama , nilai-nilai kebudayaan, yang
telah ada pada bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala yang
konsekuensinya harus direalisasikan dalam setiap aspek penyelenggaraan
Negara.

2. Sila kedua: kemanusiaan yang adil dan beradab


Kemanusiaan berasal dari kata manusia, yaitu mahluk berbudi
yang mempunyai potensi , rasa, karsa, dan cipta karena potensi inilah
manusia menduduki martabat yang tinggi dengan akal budinya manusia
menjadi berkebudayaan, dengan budi nuraninya manusia meyadari nilai-
nilai dan norma-norma. Adil mengandung arti bahwa suatu keputusan dan
tindakan didasarkan atas norma-norma yang obyektif tidak subyektif
apalagi sewenang-wenang.
Beradab berasal dari kata adab, yang berarti budaya. Mengandung
arti bahwa sikap hidup, keputusan dan tindakan selalu berdasarkan nilai

20
budaya, terutama norma sosial dan kesusilaan. Adab mengandung
pengertian tata kesopanan kesusilaan atau moral. Jadi: kemanusiaan yang
adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang
didasarkan kepada potensi budi nurani manusia dalam hubungan dengan
norma-norma dan kebudayaan umumnya baik terhadap diri pribadi,
sesama manusia maupun terhadap alam dan hewan. Di dalam sila kedua
kemanusiaan yang adil yang beradab telah tersimpul cita-cita kemanusiaan
yang lengkap yang adil dan beradab memenuhi seluruh hakekat mahluk
manusia. Sila dua ini diliputi dan dijiwai sila satu hal ini berarti bahwa
kemanusiaan yang adil dan beradab bagi bangsa Indonesia bersumber dari
ajaran Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan kodrat manusia sebagai
ciptaa-Nya. Hakekat pengertian diatas sesuai dengan Pembukaan UUD
1945 alenia yang pertama dan pasal-pasal 27,28,29,30 UUD 1945.
Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan
manusia. Maka konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan
Negara antara lain hakikat Negara, bentuk Negara, tujuan Negara ,
kekuasaan Negara, moral Negara dan para penyelenggara Negara dan lain-
lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat manusia. Hal ini dapat
dipahami karena Negara adalah lembaga masyarakat yang terdiri atas
manusia-manusia, dibentuk oleh anusia untuk memanusia dan mempunyai
suatu tujuan bersama untuk manusia pula. Maka segala aspek
penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan hakikat dan sifat-sifat
manusia Indonesia yang monopluralis , terutama dalam pengertian yang
lebih sentral pendukung pokok Negara berdasarkan sifat kodrat manusia
monodualis yaitu manusia sebagai individu dan makhluk social.
Oleh karena itu dalam kaitannya dengan hakikat Negara harus
sesuai dengan hakikat sifat kodrat manusia yaitu sebagai makhluk individu
dan makhluk social. Maka bentuk dan sifat Negara Indonesia bukanlah
Negara individualis yang hanya menekankan sifat makhluk individu,
namaun juga bukan Negara klass yang hanya menekankan sifat mahluk
social , yang berarti manusia hanya berarti bila ia dalam masyarakat secara
keseluruhan .

21
Maka sifat dan hakikat Negara Indonesia adalah monodualis yaitu
baik sifat kodrat individu maupun makhluk social secara serasi, harmonis
dan seimbang. Selain itu hakikat dan sifat Negara Indonesia bukan hanya
menekan kan segi kerja jasmani belaka, atau juga bukan hanya
menekankan segi rohani nya saja, namun sifat Negara harus sesuai dengan
kedua sifat tersebut yaitu baik kerja jasmani maupun kejiwaan secara
serasi dan seimbang, karena dalam praktek pelaksanaannya hakikat dan
sifat Negara harus sesuai dengan hakikat kedudukan kodrat manusia
sebagai makhluk berdiri seniri dan makhluk tuhan.

3. Sila ketiga: Persatuan Indonesia


Persatuan berasal dari kata satu yang berarti utuh tidak terpecah
belah persatuan berarti bersatunya bermacam corak yang beraneka ragam
menjadi satu kebulatan. Indonesia mengandung dua makna yaitu makna
geograpis dan makna bangsa dalam arti politis. Jadi persatuan Indonesia
adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia. Bangsa yang
mendiami wilayah Indonesia bersatu karena didorong untuk mencapai
kehidupan yang bebas dalam wadah Negara yang merdeka dan berdaulat,
persatuan Indonesia merupakan faktor yang dinamis dalam kehidupan
bangsa Indonesia bertujuan memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan perdamaian dunia
yang abadi.
Persatuan Indonesia adalah perwujudan dari paham
kebangsaan Indonesia yang dijiwai oleh sila I dan II. Nasionalisme
Indonesia mengatasi paham golongan, suku bangsa, sebaliknya membina
tumbuhnya persatuan dan kesatuan sebagai satu bangsa yang padu tidak
terpecah belah oleh sebab apapun. Hakekat pengertian itu sesuai dengan
pembukaan UUD1945 alenia ke empat dan pasal-pasal 1,32,35,dan 36
UUD 1945

22
4. Sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan perwakilan
Kerakyatan berasal dari kata rakyat, yang berarti sekelompok
manusia dalam suatu wilayah tertentu kerakyatan dalam hubungan dengan
sila IV bahwa “kekuasaan yang tertinggi berada ditangan rakyat. Hikmat
kebijaksanaan berarti penggunaan pikiran atau rasio yang sehat dengan
selalu mempertimbangkan persatuan dan kesatuan bangsa kepentingan
rakyat dan dilaksanakan dengan sadar, jujur dan bertanggung jawab.
Permusyawaratan adalah suatu tata cara khas kepribadian Indonesia untuk
merumuskan dan memutuskan sesuatu hal berdasarkan kehendak rakyat
hingga mencapai keputusan yang berdasarkan kebulatan pendapat atau
mupakat. Perwakilan adalah suatu sistem dalam arti tata cara (prosedura)
mengusahakan turut sertanya rakyat mengambil bagian dalam kehidupan
bernegara melalui badan-badan perwakilan.
Jadi sila ke IV adalah bahwa rakyat dalam menjalankan
kekuasaannya melalui sistem perwakilan dan keputusan-keputusannya
diambil dengan jalan musawarah dengan pikiran yang sehat serta penuh
tanggung jawab baik kepada Tuhan yang maha Esa maupun kepada
rakyat yang diwakilinya. Hakekat pengertian itu sesuai dengan pembukaan
UUD alenia empat dan pasal-pasal 1,2,3,28 dan 37 UUD 1945.

5. Sila ke V: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia


Keadilan social berarti keadilan yang berlaku dalam masyarakat di
segala bidabg kehidupan, baik materi maupun spiritual. Seluruh rakyat
Indonesia berarti setiap orang yang menjadi rakyat Indonesia, baik yang
berdiam di wilayah kekuasaan Republik Indonesia maupun warga Negara
Indonesia yang berada di luar negeri. Jadi sila ke V berarti bahwa setiap
orang Indonesia mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hukum,
politik, social, ekonomi dan kebudayaan.
Sila Keadilan sosial adalah tujuan dari empat sila yang
mendahuluinya, merupakan tujuan bangsa Indonesia dalam bernegara,
yang perwujudannya ialah tata masyarakat adil-makmur berdasarkan

23
Pancasila. Hakekat pengertian itu sesuai dengan pembukaan UUD 1945
alinea kedua dan pasal-pasal 23, 27, 28, 29, 31 dan 34 UUD 1945.
Inti sila kelima yaitu “keadilan” yang mengandung makna sifat-
sifat dan keadaan Negara Indonesia harus sesuai dengan hakikat adil, yaitu
pemenuhan hak dan wajib pada kodrat manusia hakikat keadilan ini
berkaitan dengan hidup manusia , yaitu hubungan keadilan antara manusia
satu dengan lainnya, dalam hubungan hidup manusia dengan tuhannya,
dan dalam hubungan hidup manusia dengan dirinya sendiri (notonegoro).
Keadilan ini sesuai dengan makna yang terkandung dalam pengertian sila
kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Selanjutnya hakikat adil
sebagaimana yang terkandung dalam sila kedua ini terjelma dalam sila
kelima, yaitu memberikan kepada siapapun juga apa yang telah menjadi
haknya oleh karena itu inti sila keadilan social adalah memenuhi hakikat
adil.
Realisasi keadilan dalam praktek kenegaraan secara kongkrit
keadilan social ini mengandung cita-cita kefilsafatan yang bersumber pada
sifat kodrat manusia monodualis , yaitu sifat kodrat manusia sebagai
individu dan makhluk social. Hal ini menyangkut realisasi keadilan dalam
kaitannya dengan Negara Indonesia sendiri (dalam lingkup nasional)
maupun dalam hubungan Negara Indonesia dengan Negara lain (lingkup
internasional).
Dalam lingkup nasional realisasi keadilan diwujudkan dalam tiga
segi (keadilan segitiga) yaitu:
1. Keadilan distributive, yaitu hubungan keadilan antara Negara
dengan warganya. Negara wajib memenuhi keadilan terhadap
warganya yaitu wajib membagi-bagikan terhadap warganya
apa yang telah menjadi haknya.
2. Keadilan bertaat (legal), yaitu hubungan keadilan antara warga
Negara terhadap Negara. Jadi dalam pengertian keadilan legal
ini negaralah yang wajib memenuhi keadilan terhadap
negaranya.

24
3. Keadilan komulatif, yaitu keadilan antara warga Negara yang
satu dengan yang lainnya, atau dengan perkataan lain
hubungan keadilan antara warga Negara.

Selain itu secara kejiwaan cita-cita keadilan tersebut juga meliputi


seluruh unsur manusia, jadi juga bersifat monopluralis . sudah menjadi
bawaan hakikatnya hakikat mutlak manusia untuk memenuhi kepentingan
hidupnya baik yang ketubuhan maupun yang kejiwaan, baik dari dirinya
sendiri-sendiri maupun dari orang lain, semua itu dalam realisasi
hubungan kemanusiaan selengkapnya yaitu hubungan manusia dengan
dirinya sendiri, hubungan manusia dengan manusia lainnya dan hubungan
manusia dengan Tuhannya.

b. Pengaktualisasian dalam paradigma Kehidupan


- Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan
1. Pancasila Sebagai Paradigma di Bidang Politik
Warga Indonesia sebagai warga negara harus ditempatkan
sebagai subjek atau pelaku politik bukan sekadar sebagai objek
politik. Karena pancasila bertolak dari kodrat manusia maka
pembangunan politik harus dapat meningkatkan harkat dan
martabat manusia. Sistem politik Indonesia yang bertolak dari
manusia sebagai subyek harus mampu menempatkan kekuasaan
tertinggi pada rakyat. Kekuasaan yang dimaksud adalah kekuasaan
dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem politik Indonesia
yang sesuai pancasila sebagai paradigma adalah sistem politik
demokrasi bukan otoriter.
Berdasarkan hal terebut, sistem politik Indonesia harus
dikembangkan atas asas kerakyatan yaitu terletak pada sila ke IV
Pancasila. Pengembangan selanjutnya adalah sistem politik
didasarkan pada asas-asas moral daripada sila-sila pada pancasila.
Oleh karena itu, secara berturut-turut sistem politik Indonesia
dikembangkan atas moral ketuhanan, moral kemanusiaan, moral

25
persatuan, moral kerakyatan, dan moral keadilan. Perilaku politik
baik dari warga negara maupun penyelenggara negara
dikembangkan atas dasar moral tersebut sehingga menghasilkan
perilaku politik yang santun dan bermoral.

2. Pancasila Sebagai Paradigma di Bidang Hukum


Salah satu tujuan bernegara Indonesia adalah melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Hal ini
mengandung makna bahwa tugas dan tanggung jawab tidak hanya
oleh penyelenggara negara saja tetapi juga rakyat Indonesia secara
keseluruhan. Atas dasar tersebut sistem dan keamanan adalah
mengikut sertakan seluruh komponen bangsa. Sistem
pembangunan pertahanan dan keamanan Indonesia disebut sistem
pertahanan dan keamanan rakyat semesta (sishankamrata).
Sistem pertahanan yang bersifat semesta melibatkan
seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya,
serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan
secara total terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan
kedaulatan negara keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap
bangsa dari segala ancaman. Penyelenggaraan sistem pertahanan
semesta didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga
negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri.
Sistem ini pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai
pancasila, di mana pemerintahan dari rakyat (individu) memiliki
hak dan kewajiban yang sama dalam masalah pertahanan negara
dan bela negara. Pancasila sebagai paradigma pembangunan
pertahanan keamanan telah diterima bangsa Indonesia sebagaimana
tertuang dalam UU No. 3 Tahun 2002 tentang pertahanan Negara.
Dalam undang-undang tersebut dinyatakan bahwa
pertahanan negara bertitik tolak pada falsafah dan pandangan hidup
bangsa Indonesia untuk menjamin keutuhan dan tetap tegaknya

26
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945.
Dengan ditetapkannya UUD I945 NKRI telah memiliki
sebuah konstitusi, yang di dalamnya terdapat pengaturan tiga
kelompok materi-muatan konstitusi, yaitu:
(1) adanya perlindungan terhadap HAM,
(2) adanya susunan ketatanegaraan negara yang mendasar dan
(3) adanya pembagian dan pembatasan tugas-tugas
ketatanegaraan yang juga mendasar sesuai dengan UUD
1945, yang di dalamnya terdapat rumusan Pancasila,
Pembukaan UUD 1945 merupakan bagian dai UUD 1945
atau merupakan bagian dari hukum positif. Dalam
kedudukan yang demikian, ia mengandung segi positif dan
segi negatif. Segi positifnya, Pancasila dapat dipaksakan
berlakunya (oleh negara); segi negatifnya, Pembukaan dapat
diubah oleh MPR sesuai dengan ketentuan pasal 37 UUD
1945.
Hukum tertulis seperti UUD termasuk perubahannya, demikian
juga UU dan peraturan perundang-undangan lainnya harus
mengacu peda dasar negara (sila – sila Pancasila dasar negara).
Dalam kaitannya dengan “Pancasila sebagai paradigma
pengembangan hukum”, hukum (baik yang tertulis maupun yang
tidak tertulis) yang akan dibentuk tidak dapat dan tidak boleh
bertentangan dengan sila-sila:
(1) Ketuhanan Yang Maha Esa,
(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab,
(3) Persatuan Indonesia,
(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan
dalam permusyawaratan/perwakilan
(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

27
Dengan demikian, substansi hukum yang dikembangkan
harus merupakan perwujudan atau penjabaran sila-sila yang
terkandung dalam Pancasila. Artinya, substansi produk hukum
merupakan karakter produk hukum responsif (untuk kepentingan
rakyat dan merupakan perwujudan aspirasi rakyat).
Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Kehidupan
Umat Beragama Bangsa Indonesia sejak dulu dikenal sebagai
bangsa yang ramah dan santun, bahkan predikat ini menjadi cermin
kepribadian bangsa kita di mata dunia internasional. Indonesia
adalah Negara yang majemuk, bhinneka dan plural. Indonesia
terdiri dari beberapa suku, etnis, bahasa dan agama namun terjalin
kerja bersama guna meraih dan mengisi kemerdekaan Republik
Indonesia kita.
Namun akhir-akhir ini keramahan kita mulai dipertanyakan
oleh banyak kalangan karena ada beberapa kasus kekerasan yang
bernuansa Agama Ketika bicara peristiwa yang terjadi di Indonesia
hampir pasti semuanya melibatkan umat Muslim, hal ini karena
mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Masyarakat
Muslim di Indonesia memang terdapat beberapa aliran yang tidak
terkoordinir, sehingga apapun yang diperbuat oleh umat Islam
merurut sebagian umat non Muslim mereka seakan-seakan
merefresefttasikan umat Muslim.
Paradigma toleransi antar umat beragama guna terciptanya
kerukunan umat beragama perspektif Piagam Madinah pada
intinya adalah seperti berikut:
1. Semua umat Islam, meskipun terdiri dari banyak suku
merupakan satu komunitas (ummatan wahidah)
2. Hubungan antar sesama anggota komunitas Islam dan antara
komunitas Islam dan komunitas lain didasarkan atas prinsip-
prinsip :
a. Bertetangga yang baik
b. Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama

28
c. Membela mereka Yang teraniaya
d. Saling menasehati
e. Menghormati kebebasan beragama
Lima prinsip tersebut mengisyaratkan:
1) Persamaan hak dan kewajiban antara sesama warga negara
tanpa diskriminasi yang didasarkan atas suku dan agama;
2) Pemupukan semangat persahabatan dan saling berkonsultasi
dalam menyelesaikan masalah bersama serta saling membantu
dalam menghadapi musuh bersama. Dalam "Analisis dan
Interpretasi Sosiologis dari Agama (Ronald Robertson, ed.)
misalnya mengatakan bahwa hubungan agama dan politik
muncul sebagai masalah:, hanya pada bangsa bangsa yang
memiliki heterogenitas di bidang agama.
Hal ini didasarkan pada pastulat bahwa homogenitas agama
merupakan kondisi kestabilan politik. Sebab bila kepercayaan yang
berlawanan bicara mengenai nilai-nilai tertinggi (ultimate value)
dan masuk ke arena politik, maka pertikaian akan mulai dan
semakin jauh dari kompromi.
Dalam beberapa tahap kesempatan masyarakat Indonesia
yang sejak semula bercirikan majemuk banyak kita temukan upaya
masyarakat yang mencoba untuk membina kerukunan antar
masyarakat. Lahirnya lembaga-lembaga kehidupan sosial budaya
seperti "Pela" di Maluku, "Mapalus" di Sulawesi utara, "Rumah
Bentang" di Kalimantan tengah dan “Marga" di Tapanuli,
Sumatera Utara merupakan bukti-bukti kerukunan umat beragama
dalam masyarakat.
Ke depan, guna memperkokoh kerukunan hidup antar umat
beragama di Indonesia yang saat ini sedang diuji kiranya perlu
membangun dialog horizontal dan dialog Vertikal. Dialog
horizontal adalah interaksi antar manusia yang dilandasi dialog
untuk mencapai saling pengertian, pengakuan akan eksistensi

29
manusia dan pengakuan akan sifat dasar manusia yang
indeterminists dan interdependen.
Identitas indeterminism adalah sikap dasar manusia yang
menyebutkan bahwa posisi manusia berada pada kemanusiannya.
Artinya posisi manusia yang bukan sebagai benda mekanik,
melainkan sebagai manusia yang berakal budi, yang kreatif yang
berbudaya.

3. Pancasila Sebagai Paradigma di Bidang Ekonomi


Sesuai dengan paradigma pancasila dalam pembangunan
ekonomi maka sistem dan pembangunan ekonomi berpijak pada
nilai moral daripada pancasila. Secara khusus, sistem ekonomi
harus mendasarkan pada dasar moralitas ketuhanan yaitu pada sila
ke I Pancasila dan kemanusiaan yaitu pada sila ke II Pancasila.
Pancasila bertolak dari manusia sebagai totalitas dan manusia
sebagai subjek. Sistem ekonomi yang berdasar pancasila adalah
sistem ekonomi kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan.
Sistem ekonomi yang mendasarkan pada moralitas dan
humanistis akan menghasilkan sistem ekonomi yang berperi
kemanusiaan. Sistem ekonomi yang baik adalah sistem ekonomi
yang menghargai hakikat manusia, baik selaku makhluk individu,
sosial, makhluk pribadi maupun sebagai makhluk Tuhan. Sistem
ekonomi yang berdasar pancasila berbeda dengan sistem ekonomi
liberal yang hanya menguntungkan individu-individu tanpa
perhatian pada manusia lain. Sistem ekonomi demikian juga
berbeda degan sistem ekonomi dalam sistem sosialis yang tidak
mengakui kepemilikan individu.
Kebijakan ekonomi memiliki tujuan untuk men sejahterakan
rakyat dan harus mampu mewujudkan perekonomian nasional yang
lebih berkeadilan bagi seluruh warga masyarakat (tidak seperti
selama orde baru yang telah berpihak pada ekonomi
besar/konglomerat).

30
Ekonomi kerakyatan akan mampu mengembangkan program-
program konkret pemerintah daerah di era otonomi daerah yang
lebih mandiri dan lebih mampu mewujudkan keadilan dan
pemerataan pembangunan daerah. Dengan demikian ekonomi
kerakyatan akan mampu memberdayakan daerah/rakyat dalam
berekonomi sehingga lebih adil, demokratis, transparan, dan
inspiratif. Dalam ekonomi kerakyatan pemerintah pusat ( negara )
yang demokratis berperan memaksakan pematuhan peraturan-
peraturan yang bersifat melindungi warga atau meningkatkan
kepastian hukum.
Oleh karena itu, sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi
sistem dan pembangunan ekonomi yang bertujuan pada
kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Sistem ekonomi
Indonesia juga tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral
kemanusiaan. Pembangunan ekonomi harus mampu
menghindarkan diri dari bentuk-bentuk persaingan bebas,
monopoli dan bentuk lainnya yang hanya akan menimbulkan
penindasan ketidakadilan, penderitaan, dan kesengsaraan warga
negara. Ekonomi pancasila juga memiliki arti bahwa pihak swasta
yang bisa mandiri dilindungi hak-haknya untuk mengembangkan
usahanya, sedangkan untuk pihak-pihak yang masih belum bisa
mengembangkan usahanya akan dibantu oleh pemerintah dalam
mengembangkan usahanya.

4. Pancasila Sebagai Paradigma di Bidang Sosial Budaya


Dalam pengembangan sosial budaya pada masa reformasi
dewasa ini kita harus mengangkat nilai-nilai yang dimiliki bangsa
Indonesia sebagai dasar nilai yaitu nilai-nilai Pancasila itu sendiri.
Prinsip etika Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistis, artinya
nilai-nilai Pancasila mendasarkan pada nilai yang bersumber pada
harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya.
Dalam rangka pengembangan sosial budaya, Pancasila sebagai

31
kerangka kesadaran yang dapat mendorong untuk universalitas
melepaskan simbol-simbol dari keterikatan struktur, dan
transedentalisasi meningkatkan derajat kemerdekaan manusia,
kebebasan spiritual.
Pancasila pada hakikatnya bersifat humanistis karena memang
pancasila]a bertolak dari hakikat dan kedudukan kodrat manusia itu
sendiri. Hal ini sebagaimana tertuang dalam sila Kemanusiaan
yang adil dan beradab. Oleh karena itu, pembangunan sosial
budaya harus mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia,
yaitu mnenjadi manusia yang berbudaya dan beradab.
Pembangunan sosial budaya yang menghasilkan manusia-manusia
biadab, kejam, brutal dan bersifat anarkis jelas bertentangan
dengan cita-cita menjadi manusia adil dan beradab.
Manusia tidak cukup sebagai manusia secara fisik, tetapi harus
mampu meningkatkan derajat kemanusiaan nya Manusia harus
dapat mengembangkan dirinya dari tingkat homo menjadi human.
Berdasar sila persatuan Indonesia, pembangunan sosial budaya
dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan
budaya-budaya yang beragam di seluruh wilayah Nusantara
menuju pada tercapainya rasa persatuan sebagai bangsa.
Perlu ada pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan
kehidupan sosial berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga
mereka merasa dihargai dan diterima sebagai warga bangsa.
Dengan demikian, pembangunan sosial budaya tidak menciptakan
kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial.
Paradigma baru dalam pembangunan nasional berupa paradigma
pembangunan berkelanjutan yang dalam perencanaan dan
pelaksanaannya perlu diselenggarakan dengan menghormati hak
budaya komuniti-komuniti yang terlibat, di samping hak negara
untuk mengatur kehidupan berbangsa dan hak asasi individu secara
berimbang (Sila Kedua).

32
5. Pancasila Sebagai Paradigma di Bidang Hubungan Antar
Umat Beragama
Pada reformasi dewasa ini di beberapa wilayah Negara
Indonesia terjadi konflik sosial yang bersumber pada masalah
SARA, terutama bersumber pada masalah agama. Hal ini
menunjukan kemunduran bangsa Indonesia ke arah kehidupan
beragama yang tidak berkemanusiaan. Oleh karena itu
merupakan salah satu tugas berat bangsa Indonesia untuk
mengembalikan suasana kehidupan beraga yang penuh
perdamaian, saling menghargai, saling menghormati dan saling
mencintai sebagai sesame umat manusia yang beradab.
Pancasila telah memberikan dasar-dasar nilai yang fundamental
bagi bangsa Indonesia untuk hidup secara damai dalam
kehidupan beragama di negara Idonesia, Dalam pengertian ini
maka negara menegaskan dalam pokok pikiran ke IV bahwa
"Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa", atas dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab". Ini berarti bahwa
kehidupan dalam negara mendasarkan pada nilai-nilai
Ketuhanan. Negara memberikan kebebasan kepada warganya
untuk memeluk agamanya dan menjalankan ibadah sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Hal ini
menunjukan bahwa dalam Negara Indonesia memberikan
kebebasan atas kehidupan beragama atau dengan lain perkataan
menjamin atas demokrasi dibidang agama Oleh karena itu
kehidupan beragama dalam Negara Indonesia dewasa ini harus
dikembangkan ke arah terciptanya kehidupan bersama yang
penuh toleransi, saling menghargai berdasarkan nilai
kemanusiaan yang adil dan beradab.

33
6. Pancasila Sebagai Paradigma di Bidang IPTEK
Kini ilmu pengetahuan bersama anaknya IPTEK, dengan
temuan-temuannya melaju pesat, mendasar, spektakuler. Iptek
tidak lagi hanya sbg sarana kehidupan tetapi sekaligus sebagai
kebutuhan kehidupan manusia. Bersamaan dengan itu iptek
telah menyentuh seluruh segi dan sendi kehidupan, dan akan
merombak budaya manusia secara intensif, yg berakibat
Terjadinya perbenturan tata nilai dlm aspek kehidupan.
Fenomena perombakan tersebut, misalnya :
a. Dari budaya agraris-tradisional dan budaya industri
modern, peran mitos digeser oleh peran logos / akal.
b. Yang dituntut adalah prestasi, siap pakai, keunggulan
kompetitif, efisiensi, produktif dan kreatif, melupakan
kaidah-kaidah normatif.
Dari budaya nasional-kebangsaan budaya global-mondial. Visi,
misi, nilai-nilai universal lepas dari ikatan-ikatan primordial
kebangsaan, keagamaan akibatnya luntur nasionalisme dan
kepribadian bangsa.

- Pancasila Sebagai Paradigma Reformasi


Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Pancasila
merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara
bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila - Sila Pancasila yaitu:
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan sesuai dengan agama dan
kepercayaan nya.
2. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Kemanusiaan yang adil dan beradab yaitu menjunjung tinggi nilai-
nilai kemanusiaan. Contoh nya mengikuti kegiatan - kegiatan
kemanusiaan, serta berani membela kebenaran dan keadilan.

34
3. Sila Persatuan Indonesia
Persatuan Indonesia dikembangkan atas dasar Bhinneka Tunggal
Ika, dengan menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan
dan keselamatan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi.
4. Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan
Dalam Permusyawaratan Perwakilan
Dalam melaksanakan Permusyawaratan, kepercayaan diberikan
kepada wakil- wakil yang dipercaya. Keputusan-keputusan yang
diambil harus dapat di per tanggung jawabkan serta, semua pihak
dapat menerimanya dan melaksanakannya dengan baik dengan
penuh rasa tanggung jawab. Kepentingan bersamalah yang
diutamakan di atas kepentingan pribadi.
5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keadilan sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia yaitu
mempunyai hak dan kewajiban yang sama.
Untuk itu perlu dikembangkan sikap adil terhadap sesama,
menjaga kesinambungan antara hak dan kewajiban serta
menghormati hak-hak orang lain serta perbuatannya yang
mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong.
a. Paradigma
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, paradigma mempunyai
arti. Kerangka berpikir atau model dalam teori ilmu
pengetahuan. Dengan demikian dapat disimpulkan paradigma
merupakan anggapan, jalan pikiran, atau sudut pandang yaitu
bagaimana cara seseorang dalam melihat dan menanggapi
suatu hal.
b. Reformasi
Definisi reformasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
adalah perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial,
politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara. Jadi
dapat dikatakan reformasi adalah menata kembali hal-hal yang

35
menyimpang untuk dikembalikan pada bentuk semula sesuai
dengan nilai-nilai ideal yang dicita-citakan rakyat.
c. Pancasila Sebagai paradigma Reformasi
Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa dan dasar
negara Republik Indonesia oleh karena itu Pancasila
merupakan acuan dasar dalam perubahan yang akan dilakukan.
Gerakan reformasi itu sendiri dilakukan menuju keadaan yang
lebih baik, perubahan yang dilakukan harus mengarah pada
kehidupan rakyat yang lebih baik dalam segala aspek. Antara
lain bidang ekonomi, sosial, budaya kehidupan keagamaan
serta politik.
Reformasi pada prinsipnya suatu perbaikan yang
berlandaskan kepada dasar nilai-nilai ideal yang sebagaimana
dicita-citakan rakyat. Dalam hal ini Pancasila sebagai ideologi
bangsa. Untuk itu reformasi dilaksanakan sesuai dengan
Pancasila yang sebagaimana mestinya di cita- citakan oleh
bangsa Indonesia. Jika reformasi tidak sejalan atau tidak sesuai
dengan pancasila maka gerakan reformasi tersebut tidak akan
berjalan dengan baik karena tidak mempunyai landasan hukum
dan tidak akan sesuai dengan cita-cita bangsa dan mungkin saja
akan bertentangan dengan ideologi bangsa ini. Maka rakyat
Indonesia sebaiknya menjadikan Pancasila sebagai aspek utama
dalam kehidupan bermasyarakat dan kehidupan bernegara oleh
karena itu pengalamannya harus dimulai dari setiap warga
negara Indonesia dan dilakukan dalam berbagai hal termasuk
dalam gerakan reformasi.

- Pancasila Sebagai Paradigma Kehidupan Kampus


Pembangunan di Bidang Pendidikan yang dilaksanakan atas falsafah
Negara Pancasila diarahkan untuk membentuk manusia-manusia
pembangunan yang berjiwa Pancasila, membentuk manusia-manusia
Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan

36
dan keterampilan, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi
disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsa dan negara dan
mencintai sesama manusia.
Peranan perguruan tinggi dalam usaha pembangunan mempunyai
tugas pokok menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di atas
perguruan tingkat menengah berdasarkan kebudayaan bangsa
Indonesia dengan cara ilmiah yang meliputi: pendidikan dan
pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang
disebut Tri Darma Perguruan Tinggi. Peningkatan peranan Perguruan
Tinggi sebagai satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan
tinggi dalam usaha pembangunan selain diarahkan untuk menjadikan
Perguruan tinggi sebagai pusat pemeliharaan dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta seni, juga mendidik mahasiswa untuk
berjiwa penuh pengabdian serta memiliki tanggung jawab yang besar
pada masa depan bangsa dan Negara, serta menggiatkan mahasiswa,
sehingga bermanfaat bagi usaha pembangunan nasional dan
pengembangan daerah.
Perlu diketahui, bahwa pendidikan tinggi sebagai institusi dalam
masyarakat bukan lah merupakan menara gading yang jauh dari
kepentingan masyarakat, melainkan senantiasa mengembangkan dan
mengabdi kepada masyarakat. Maka menurut PP. No. 60 Th. 1999,
bahwa
Perguruan Tinggi mempunyai 3 tugas pokok, yaitu:
1. Pendidikan tinggi
2. Penelitian
3. Pengabdian terhadap masyarakat

Jadi, di Perguruan Tinggi atau yang biasa disebut dengan kampus,


tidak hanya mengajar akan tetapi mendidik. Dimana dengan
didikan tersebut mahasiswa akan lebih didampingi baik secara
intelektual dan emosional. Contoh umumnya adalah bagaimana
cara mahasiswa bergaul dalam sehari-hari mereka dengan
berpedoman pada pancasila.

37
DAFTAR PUSTAKA

http://www.sarjanaku.com/2010/04/pancasila-sebagai-paradigma.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila

http://artikelpengertianmakalah.blogspot.co.id/2015/05/nilai-nilai-yang-terkandung-
dalam-sila.html

http://pancasila.weebly.com/penerapan-sila-dalam-kehidupan.html

http://artikelpengertianmakalah.blogspot.co.id/2015/05/nilai-nilai-yang-terkandung-
dalam-sila.html

https://fridaadwitya.wordpress.com/2017/03/19/makna-nilai-nilai-setiap-pancasila-
dalam-kehidupan-sehari-hari/

38
39