Anda di halaman 1dari 2

Ringkasan UU 17/2003, UU 1/2004, UU 15/2004, UU 6/2014

Muhamad Arieda Humardani - 1606953234

Secara garis besar peraturan yang berkaitan dengan Keuangan Negara dibuat karena dulu
pelaksanaan pengelolaan keuangan negara yang digunakan adalah ketentuan perundang-
undangan yang disusun pada pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang diberlakukan
berdasarkan Aturan Peralihan Undang-Undang Dasar 1945. Peraturan perundang-undangan
tersebut mempunyai berbagai kelemahan yang dapat menyebabkan terjadinya beberapa
bentuk penyimpangan dan tidak dapat mengakomodasi berbagai perkembangan yang terjadi
dalam sistem kelembagaan negara dan pengelolaan keuangan pemerintahan Negara
Republik Indonesia.

UU No 17/2003 tentang Keuangan Negara menitikberatkan pada pengertian dan ruang


lingkup keuangan negara, azas-azas umum pengelolaan keuangan negara, kedudukan
Presiden sebagai pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara, pendelegasian
kekuasaan Presiden kepada Menteri Keuangan dan Menteri/Pimpinan Lembaga, susunan
APBN dan APBD, ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBN dan APBD,
pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dengan bank sentral, pemerintah
daerah, dan pemerintah/lembaga asing, pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah
dengan perusahaan negara, perusahaan daerah, perusahaan swasta, dan badan pengelola
dana masyarakat, serta penetapan bentuk dan batas waktu penyampaian laporan
pertanggungjawaban pelaksanaan APBN dan APBD. Undang-undang ini juga telah
mengantisipasi perubahan standar akuntansi di lingkungan pemerintahan di Indonesia yang
mengacu kepada perkembangan standar akuntansi di lingkungan pemerintah secara
internasional.

Dari sisi obyek yang dimaksud keuangan negara meliputi semua hak dan kewajiban negara
yang dapat dinilai dengan uang. Dari sisi subyek yang dimaksud dengan keuangan negara
meliputi seluruh obyek yang dimiliki negara, dan/atau dikuasai oleh pemerintahan pusat,
pemerintah daerah, perusahaan negara/daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan
keuangan negara. Dari sisi proses, keuangan negara mencakup seluruh rangkaian kegiatan
yang berkaitan dengan dengan pengelolaan obyek, mulai dari perumusan kebijakan dan
pengambilan keputusan sampai dengan pertanggungjawaban. Dari sisi tujuan, keuangan
negara meliputi seluruh kebijakan, kegiatan, dan hubungan hukum yang berkaitan dengan
pemilikan dan/atau penguasaan obyek dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan negara.

Dengan luasnya cakupan keuangan negara tersebut maka dibutuhkan suatu sistem
pengelolaan keuangan negara yang transparan dan akuntabel untuk mewujudkan tujuan
bernegara sebagaimana diatur dalam UU No 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara.
Secara umum perbendaharaan negara adalah pengelolaan dan pertanggungjawaban
keuangan negara, termasuk investasi dan kekayaan yang dipisahkan, yang ditetapkan dalam
APBN dan APBD. UU ini mencakup pelaksanaan pendapatan dan belanja negara/daerah,
pelaksanaan penerimaan dan pengeluaran negara/daerah, pengelolaan kas, piutang dan
utang, dan investasi dan barang milik negara/daerah, penyelenggaraan akuntansi dan sistem
informasi manajemen keuangan negara/daerah, penyusunan laporan pertanggungjawaban
pelaksanaan APBN/APBD, penyelesaian kerugian negara/daerah, pengelolaan Badan
Layanan Umum, serta perumusan standar, kebijakan, serta sistem dan prosedur yang
berkaitan dengan pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN/APBD.

Atas pelaksanaan/pengelolaan/penyelenggaraan keuangan negara tersebut, perlu dilakukan


evaluasi/pemeriksaan untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan
negara yang dilakukan secara tertib, efisien, efektif, ekonomis, tranparam, dan bertanggung
jawab sebagaimana diatur dalam UU No 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara. Ketentuan UU No 15/2004 antara lain mengatur tentang
lingkup pemeriksaan, standar pemeriksaan, kebebasan dan kemandirian BPK dalam
pelaksanaan pemeriksaan, akses pemeriksa terhadap informasi, kewenangan untuk
mengevaluasi pengendalian intern, hasil pemeriksaan dan tindak lanjutnya dan pengenaan
ganti kerugian negara, termasuk sanksi pidana baik yang dapat ditujukan kepada pihak yang
diperiksa maupun pemeriksa. Inilah yang digunakan sebagai pedoman ataupun landasan bagi
BPK dalam melakukan pemeriksaan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan
negara, baik yang dikuasai atau dikelola oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
Perusahaan Negara/Daerah, maupun badan lain yang ada kaitannya dengan keuangan
negara.

UU No 17/2003, UU No 1/2004, dan UU No 15/2004 merupakan paket keuangan yang saling


berkaitan karena semuanya mencakup apa itu keuangan negara, bagaimana dan apa yang
dikelola, serta bagaimana mempertanggungjawabkannya. Ketiga Undang-undang ini
kemudian diistilahkan sebagai paket Undang-undang di bidang Keuangan Negara
menggantikan peraturan peninggalan jaman kolonial yang masih digunakan sebelumnya, dan
menjadi dasar pembentukan Undang-Undang lainnya, dan Peraturan Pemerintah, Keputusan
Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Lembaga Tinggi Negara, serta Peraturan Daerah dan
Peraturan Kepala Daerah, terutama yang terkait dengan pengelolaan dan
pertanggungjawaban keuangan negara. Diantaranya adalah UU No 6/2014 tentang Desa.

UU No 6/2014 tentang Desa disahkan sebagai perbaikan sekaligus menggantikan ketentuan-


ketentuan tentang tata kelola desa yang terdapat pada Pasal 200 sampai dengan Pasal 216
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Salah satu kebijakan
utama yang di bawa oleh undang-undang desa yang baru adalah adanya peningkatan alokasi
dana yang masuk ke desa yang diperkirakan akan berkisar 700 juta sampai dengan 1,4 miliar
rupiah per desa. Kebijakan yang berupa desentralisasi fiskal ke desa tersebut menunjukkan
keberpihakan dan prioritas yang lebih besar dari pemerintah terhadap peningkatan
pembangunan dan pelayanan masyarakat demi terwujudnya kemakmuran masyarakat desa
yang berkeadilan.

Secara garis besar UU ini bertujuan untuk memberikan pengakuan dan penghormatan atas
Desa yang sudah ada dengan keberagamannya sebelum dan sesudah terbentuknya Negara
Kesatuan Republik Indonesia, memberikan kejelasan status dan kepastian hukum atas Desa
dalam sistem ketatanegaraan Republik Indonesia demi mewujudkan keadilan bagi seluruh
rakyat Indonesia, melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat Desa,
mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi masyarakat Desa untuk pengembangan
potensi dan Aset Desa guna kesejahteraan bersama, serta membentuk Pemerintahan Desa
yang profesional, efisien dan efektif, terbuka, serta bertanggung jawab.