Anda di halaman 1dari 186

ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN SULFUR DIOKSIDA

(SO2) PADA MASYARAKAT DI PERMUKIMAN PENDUDUK


SEKITAR INDUSTRI PT.PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG
TAHUN 2016

SKRIPSI
Diajukan Dalam Rangka Memenuhi Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)

OLEH :

ROIS SOLICHIN
1111101000132

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1438 H/ 2016 M
PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa :

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi

salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di Fakultas

Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya

cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Fakultas Kedokteran

dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Jakarta.

3. Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau

merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima

sanksi yang berlaku di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Desember 2016

Rois Solichin

i
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
PEMINATAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Skripsi, 6 Desember 2016

Rois Solichin, NIM: 1111101000132


Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Sulfur Dioksida (SO2) Pada Masyarakat
di Pemukiman Penduduk Sekitar Industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang
Tahun 2016

(xvii + 132 halaman, 21 tabel, 6 gambar, 8 bagan, 5 lampiran)

ABSTRAK

Sulfur dioksida (SO2) sebagai salah satu zat pencemar udara yang sebagian
besar dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil, dimana pembangkit listrik
dengan bahan bakar batubara memiliki peran terbesar penghasil SO2 yang ada di
dunia. Tujuan penelitian ini untuk memprakirakan besaran risiko gangguan
kesehatan pada penduduk yang bermukim di sekitar industri PT. Pupuk Sriwidjaja
(Pusri) Kota Palembang terhadap pajanan SO2 pada tahun 2016.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analisis risiko
kesehatan lingkungan, dilakukan selama bulan September sampai Oktober 2016
dengan 297 responden penduduk usia dewasa yang terbagi pada 3 cluster wilayah
yaitu 800 meter, 1050 meter dan 1300 meter dari pusat emisi SO2 yang ada di
dalam area pabrik PT. Pusri Palembang.
Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi SO2 di pemukiman sekitar
industri PT. Pusri Palembang adalah 0,246 mg/m3. Berat badan dengan nilai
median 56,4 kg, rata-rata laju asupan harian adalah 0,60 m3/jam, waktu pajanan
dengan median 24 jam/hari, frekuensi pajanan dengan median 365 hari/tahun, dan
durasi pajanan dengan median 31 tahun. Nilai intake non karsinogenik yang
didapatkan untuk intake SO2 (real time) adalah 0,053 mg/kg/hari. Tingkat risiko
yang didapatkan adalah 0,252 (RQ<1) yang artinya tidak memiliki risiko yang
dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi masyarakat yang bermukim di
sekitar industri PT. Pusri Palembang.
Kesimpulan penelitian ini adalah masyarakat yang bermukim di sekitar area
industri PT. Pusri Palembang tidak berisiko memiliki gangguan kesehatan non
karsinogenik akibat paparan SO2. Walaupun begitu, baik pihak PT. Pusri
Palembang maupun pemerintah Kota Palembang sebagai pemangku kebijakan
dapat melakukan kajian lebih lanjut dan pemantauan rutin terhadap zat-zat
pencemar yang keluar dari aktivitas industri termasuk SO2 agar tidak
membahayakan masyarakat yang tinggal berdekatan langsung dengan area industri

Daftar Pustaka : 73 (1978-2016)

Kata Kunci : ARKL, Asupan SO2, Pemukiman Penduduk Sekitar


PT.Pusri Palembang

ii
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
PUBLIC HEALTH
PROGRAM STUDY SPECIALIZATION OF ENVIRONMENT HEALTH

Ungraduate Thesis, 6 Desember 2016


Rois Solichin, NIM: 1111101000132
Environment Health Risk Analysis Exposure Sulfur dioxide (SO2) in the
Community Living Around PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang Industry.
(xvii + 132 pages, 21 table, 6 pictures, 8 chart and 5 attachment)

ABSTRACT

Sulfur dioxide (SO2) as one of the air pollutants is largely formed by the
combustion of fossil fuel, therefore fuel power plants with coal has a big role in
producing SO2 in the world. The purpose of this study is to predict the risk of
health problems occured in residents living around industrial of PT. Pupuk
Sriwidjaja (Pusri) Palembang on exposure of SO2 in 2016.
This research is using a quantitative method analysis about the
environmental health risks, conducted during October 2016, with 297 respondents
age more than 17 years old, divided in three clusters area of 800 meters, 1050
meters and 1300 meters, from the center of SO2 emissions in the plant area of PT.
Pusri Palembang.
The results showed the concentration of SO2 in the settlements around the
industrial area of PT. Pusri Palembang is 0.246 mg/m3. The weight with a median
value of 56.4 kg, average daily intake rate is 0.60 m3/h, the time of exposure to a
median 24 hours/day, frequency of exposure to a median 365 days/year, and
duration of exposure to a median of 31 years. Non-carcinogenic intake value
obtained for the intake SO2 (real time) is 0.053 mg/kg/day. The level of risk
obtained is 0.252 (RQ <1), which means there is no risk that can cause health
problems for people living around industrial area of PT. Pusri Palembang.
The conclusion of this paper is the communities living around industrial
area of PT. Pusri Palembang have no risk in getting non-carcinogenic health
problems due to exposure of SO2. However, both the PT. Pusri Palembang and
Palembang city government as policy maker can do further studies and do routine
monitoring of the contaminants out of the industrial activities including SO2 in
order not to endanger the people who live directly close to the industrial area.

Citation : 73 (1978-2016)

Keyword : ARKL, intake SO2, Settements around PT. Pusri Palembang

iii
PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan Judul


ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN SULFUR DIOKSIDA (SO2)
PADA MASYARAKAT DI PEMUKIMAN PENDUDUK SEKITAR
INDUSTRI PT. PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG TAHUN 2016

OLEH:
ROIS SOLICHIN
1111101000132

Telah disetujui, diperiksa dan dipertahankan dihadapan Tim Penguji Ujian Skripsi
Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Jakarta, Desember 2016

Mengetahui

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Ela Laelasari, SKM, M.Kes Catur Rosidati. SKM, MKM

NIP: 197210022006042001 NIP: 197502102008012018

iv
PANITIA SIDANG UJIAN SKRIPSI

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Jakarta, Desember 2016

Mengetahui

Penguji I

Dewi Utami Iriani, M.Kes, Ph.D

NIP. 19750316 200710 2 001

Penguji II

Siti Rahmah Hidayatullah Lubis, MKKK

Penguji III

Andi Asnifatima, M.Kes

v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Data Pribadi
1. Nama Lengkap : Rois Solichin
2. Tempat Tanggal Lahir: Palembang, 2 Mei 1994
3. Alamat Asal : Jl. H.A.Halim Perumahan Dosen
Politeknik Negeri Sriwijaya No. 04 RT. 13
RW. 41 Kelurahan Bukit Lama Kecamatan
Ilir Barat I Kota Palembang
4. Alamat Domisili : Jl. Kertamukti, pisangan raya no. 20 RT.03
RW.09 Kelurahan Cireundeu Kecamatan
Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan
5. Agama : Islam
6. Jenis Kelamin : Laki-laki
7. Golongan Darah :A
8. Status : Belum Menikah
9. Program Studi : Kesehatan Masyarakat
10. Nomor Telepon : 085764360644
11. Alamat Email : roizz.08@gmail.com/
roissolichin@yahoo.com

II. Riwayat Pendidikan


1. SD Islam Az-Zahrah Kota Palembang
2. SMP Negeri 1 Kota Palembang
3. MA Negeri 3 Kota Palembang
4. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt. yang atas rahmat dan

karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi penelitian yang

berjudul “ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN SULFUR DIOKSIDA (SO2) PADA

MASYARAKAT DI PERMUKIMAN PENDUDUK SEKITAR INDUSTRI PT.PUPUK SRIWIDJAJA

PALEMBANG TAHUN 2016”.

Pada penulisan skripsi ini, penulis merasa masih banyak kekurangan baik

teknis maupun materi mengingat akan kemampuan penulis yang belum mencapai

kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat diharapkan bagi

penulis demi kesempurnaan skripsi penelitian ini.

Dalam penulisan skripsi penelitian ini, penulis menyampaikan ucapan terima

kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam

menyelesaikan proposal penelitian ini, khususnya kepada :

1. Allah SWT. yang telah memberikan ridho-Nya sehingga dalam pelaksanaan

penelitian ini berjalan dengan lancar sesuai dengan izinnya.

2. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Ibu Fajar Ariyanti, Ph.D selaku Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat

dan Ibu Dewi Utami Iriani, SKM, Ph.D selaku Sekretaris Program Studi

Kesehatan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

4. Ibu Dr.Hj. Ela Laelasari, SKM, M.Kes selaku dosen Pembimbing I dan Ibu

Catur Rosidati, SKM, MKM selaku Pembimbing II yang telah memberikan

bimbingan dan pengarahan dalam proses penyusunan penelitian ini.

vii
5. Kedua Orang Tua saya yang telah membimbing, senantiasa mendoakan,

menemani dan memberi semangat anak-anaknya hingga saat ini. Jasa-jasa

kalian berdua mungkin tidak akan pernah terbalas, akan tetapi kami selaku

anak akan selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada kalian.

6. Kepada kedua saudara/i ku Aditya Rachmadi dan Kartika Nur Dilana yang

senantiasa memberikan semangat dan waktu untuk membimbing saya.

7. Sahabat karib seperjuangan, satu daerah, satu pintu kosan, satu piring makan

dan satu gelas minum saya Chandra Perdana, Muslim, Sugi, Haidar, Bahtiar

(BTR), Kak Iid, Hatan dan Kak Bayu. Keluarga besar SJD-SS, teman-teman

seperjuangan di Kesehatan Lingkungan 2011, Kesehatan Lingkungan UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta (ENVIHSA)

8. Serta Rekan-rekan mahasiswa kesehatan masyarakat UIN Syarif Hidayatullah

Jakarta. Semoga kita bisa menjadi ahli kesehatan masyarakat yang bisa

diandalkan didunia nyata nantinya. Ilmu yang dipelajari mendapat berkah dari

Allah swt.

Semoga penelitian ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran

serta pencerahan khususnya bagi penulis, sehingga tujuan yang diharapkan dapat

tercapai, aamiin yarabbalalamin.

Penulis

Rois Solichin

viii
DAFTAR ISI

PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI ................................................................................. i


ABSTRAK .......................................................................................................................... ii
PERNYATAAN PERSETUJUAN .....................................................................................iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP............................................................................................vi
KATA PENGANTAR .......................................................................................................vii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................ix
DAFTAR TABEL.............................................................................................................. xii
DAFTAR BAGAN ........................................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... xv
DAFTAR ISTILAH .......................................................................................................... xvi
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................. 11
1.3 Pertanyaan Penelitian ............................................................................................ 12
1.4 Tujuan Penelitian .................................................................................................. 13
1.4.1 Tujuan Umum ............................................................................................... 13
1.4.2 Tujuan Khusus .............................................................................................. 13
1.5 Manfaat Penelitian ................................................................................................ 15
1.5.1 Manfaat Bagi Peneliti.................................................................................... 15
1.5.2 Manfaat Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat ................................... 15
1.5.3 Manfaat Bagi PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang ........................................... 15
1.5.4 Manfaat Bagi Pemerintah Kota Palembang .................................................. 16
1.5.5 Manfaat Bagi Masyarakat ............................................................................. 16
1.6 Ruang Lingkup Penelitian..................................................................................... 16
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................................... 17
2.1 Sulfur Dioksida ..................................................................................................... 17
2.1.1 Pengertian ..................................................................................................... 17
2.1.2 Karakteristik SO2 .......................................................................................... 19
2.1.3 Sumber Pencemar SO2 ................................................................................. 21
2.1.4 Dampak SO2 .................................................................................................. 23
2.1.4.1 Dampak SO2 Terhadap Ekosistem Perairan ............................................. 23

2.1.4.2 Dampak SO2 Terhadap Tanah .................................................................. 24

ix
2.1.4.3 Dampak SO2 Terhadap Kesehatan Manusia ........................................... 27

2.1.5 Jalur Pajanan SO2 .......................................................................................... 33


2.1.5.1 Inhalasi ..................................................................................................... 33

2.1.5.2 Kontak Kulit/Mata ................................................................................... 37

2.1.5.3 Ingesti ........................................................................................................ 39

2.2 Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan ............................................................... 39


2.2.1 Paradigma Penilaian risiko............................................................................ 39
2.2.2 Karakteristik EKL dan ARKL ...................................................................... 43
2.2.3 Identifikasi Bahaya ....................................................................................... 47
2.2.4 Penilaian Dosis Respon................................................................................. 48
2.2.5 Analisis Pemajanan ....................................................................................... 51
2.2.6 Karakteristik Risiko ..................................................................................... 54
2.2.7 Manajemen Risiko ........................................................................................ 55
2.3 Paradigma Kesehatan Lingkungan ........................................................................ 58
2.4 Kerangka Teori ..................................................................................................... 60
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL ............................. 62
3.1 Kerangka Konsep .................................................................................................. 62
3.2 Definisi Operasional ............................................................................................. 64
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ......................................................................... 68
4.1 Desain Penelitian .................................................................................................. 68
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................................ 68
4.3 Subjek Studi .......................................................................................................... 70
4.4 Populasi dan Sampel Penelitian ............................................................................ 70
4.4.1 Populasi Subyek ................................................................................................... 70
4.4.2 Sampel.................................................................................................................. 70
4.4.3 Pengambilan dan Perhitungan Sampel Manusia ........................................... 71
4.4.4 Teknik Pengambilan Sampel Lingkungan (SO2) .......................................... 73
4.4.5 Metode Pengukuran Konsentrasi Sulfur dioksida (SO2) ...................................... 75
4.4.6 Analisa Sampel SO2 ...................................................................................... 76
4.4.6.1 Konsentrasi sulfur dioksida (SO2) di udara ambien ...................................... 77

4.5 Pengolahan dan Penyajian Data ............................................................................ 78


4.6 Teknik dan Analisis Data ...................................................................................... 80
4.6.1 Analisis Univariat ......................................................................................... 80

x
4.6.2 Analisis Risiko .............................................................................................. 81
BAB V HASIL .................................................................................................................. 84
5.1 Profil Lokasi Penelitian......................................................................................... 84
5.2 Karakteristik Responden ....................................................................................... 84
5.2.1 Umur .................................................................................................................... 84
5.2.2 Jenis Kelamin ....................................................................................................... 86
5.2.3 Jenis Pekerjaan ..................................................................................................... 87
5.3 Deskriptif Variabel Penelitian .............................................................................. 88
5.3.1 Konsentrasi SO2 ................................................................................................... 90
5.3.2 Berat Badan.......................................................................................................... 92
5.3.3 Laju Asupan ......................................................................................................... 93
5.3.4 Waktu Pajanan ..................................................................................................... 95
5.3.5 Frekuensi Pajanan ................................................................................................ 96
5.3.6 Durasi Pajanan ..................................................................................................... 98
5.3.7 Nilai Intake (Asupan SO2) ................................................................................... 99
5.3.8 Karakteristik Risiko ........................................................................................... 102
BAB VI PEMBAHASAN............................................................................................... 107
6.1 Keterbatasan Penelitian ....................................................................................... 107
6.2 Konsentrasi SO2 di Udara ................................................................................... 107
6.3 Berat Badan......................................................................................................... 111
6.4 Laju Asupan ........................................................................................................ 112
6.5 Waktu Pajanan .................................................................................................... 113
6.6 Frekuensi Pajanan ............................................................................................... 115
6.7 Durasi Pajanan .................................................................................................... 116
6.8 Nilai Intake (Asupan SO2) .................................................................................. 118
6.9 Karakteristik Risiko ............................................................................................ 120
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................................... 124
7.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 124
7.2 Saran ................................................................................................................... 125
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 126

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sifat Fisik SO2 ........................................................................................... 20

Tabel 2.2 Dampak Paparan SO2 Terhadap Kesehatan Manusia................................ 29

Tabel 2.3 Laju Inhalasi Kombinasi Laki-Laki dan Perempuan per Kelompok
Umur untuk Durasi Pajanan Jangka Panjang ............................................ 36

Tabel 2.4 Contoh RfC beberapa agen risiko atau spesi kimia jalur inhalasi ............. 50

Tabel 2.5 Keterangan Perhitungan Intake Non Karsinogenik Pada Jalur Inhalasi.... 52

Tabel 5.1 Distribusi Usia Masyarakat Dewasa di Pemukiman Sekitar Kawasan


PT.Pusri Palembang Tahun 2016 .............................................................. 85

Tabel 5.2 Gambaran Umur Responden di Pemukiman Sekitar Kawasan PT.Pusri


Palembang Tahun 2016 ............................................................................. 85

Tabel 5.3 Distribusi Jenis Kelamin Masyarakat Dewasa di Pemukiman Sekitar


PT.Pusri Palembang Tahun 2016 ............................................................. 86

Tabel 5.4 Distribusi Jenis Pekerjaan Masyarakat Dewasa di Pemukiman Sekitar


PT. Pusri Palembang Tahun 2016 ............................................................. 87

Tabel 5.5 Distribusi Konsentrasi SO2, Berat Badan, Laju Asupan, Waktu Pajanan,
Frekuensi Pajanan, dan Durasi Pajanan Masyarakat di Pemukiman
Sekitar PT.Pusri Palembang Tahun 2016 .................................................. 89

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi Konsentrasi SO2 di Pemukiman Sekitar PT. Pusri
Palembang Tahun 2016 ............................................................................. 91

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Berat Badan tiap Cluster .. 92

Tabel 5.8 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Laju Asupan tiap Cluster . 94

Tabel 5.9 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Waktu Pajanan tiap


Cluster ....................................................................................................... 95

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Frekuensi Pajanan tiap


Cluster ....................................................................................................... 97

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Durasi Pajanan tiap


Cluster ....................................................................................................... 98

Tabel 5.12 Distribusi Menurut Asupan Pajanan SO2 ................................................ 100

xii
Tabel 5.13 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Asupan Pajanan SO2 ...... 101

Tabel 5.14 Distribusi Menurut Karakteristik Risiko ................................................. 102

Tabel 5.15 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Besar Risiko ................... 103

Tabel 5.16 Prakiraan Besar Risiko 5,10,15,20,15 sampai 30 Tahun yang akan
datang ........................................................................................................ 104

xiii
DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1 Jalur Pajanan Polutan SO2 ........................................................................ 39

Bagan 2.2 Paradigma Untuk Penelitian/Penilian Risiko/Manajemen Risiko............ 41

Bagan 2.3 Ilustrasi logika pengambilan keputusan untuk menentukan tipe studi
mana yang dapat dilakukan dalam mempelajari efek lingkungan
terhadap kesehatan manusia ...................................................................... 46

Bagan 2.4 Ruang lingkup langkah-langkah analisis risiko ....................................... 47

Bagan 2.5 Alur Kerja ARKL ..................................................................................... 57

Bagan 2.6 Kerangka Teori ARKL SO2 ..................................................................... 61

Bagan 3.1 Kerangka Konsep ARKL ......................................................................... 63

Bagan 4.1 Skema Rangkaian Alat Sampling SO2 ..................................................... 75

xiv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Paparan Dermal pada Berbagai Media ................................................. 38

Gambar 2.2 Paradigma Kesehatan Lingkungan ....................................................... 59

Gambar 4.1 Lokasi Penelitian .................................................................................. 69

Gambar 4.2 Cluster Sampling .................................................................................. 71

Gambar 4.3 Titik Pengambilan Sampel Udara ......................................................... 74

Gambar 5.1 Prakiraan Besar Risiko 5,10,15,20,25 sampai 30 tahun yang akan
datang ................................................................................................. 106

xv
DAFTAR ISTILAH

µg/Nm3 : Mikrogram per newton meter kubik

mg/m3 : Miligram per meter kubik

AMDAL : Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

ARKL : Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan

ATSDR : Agency for Toxic Substances and Disease Registry

BLH : Badan Lingkungan Hidup

BLHD : Badan Lingkungan Hidup Daerah

BMKG : Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

BPS : Badan Pusat Statistik

BUMN : Badan Usaha Milik Negara

CSF : Cancer Slope Factor

DDT : Dichloro-Dhphenyl-Trichloroethane

Depkes : Departemen Kesehatan

ECR : Excess Cancer Risk

EHRA : Enivonmental Health Risk Assesment

EPA : Environmental Protect Agency

GRK : Gas Rumah Kaca

H2SO4 : Asam Sulfat

Ha : Hektar

IARC : International Agency for Research on Cancer

IPCS : International Programme On Chemical Safety

Kemendagri : Kementrian Dalam Negeri

Kemenkes : Kementrian Kesehatan

LOAEL : Low Observed Adverse Effect Level

xvi
LSM : Lembaga Swadaya Masyarakat

MRL : Minimum Risk Level

NAAQS : National Ambient Air Quality Standard

NO2 : Nitrogen dioksida

NOAEL : No Observed Adverse Effect Level

NRC : National Research of Cancer

OSHA : Occupational Safety and Health Administration

PermenLH : Peraturan Menteri Lingkungan Hidup

PP : Peraturan Pemerintah

PPM : Particulate Per Meter

PT : Perseroan Terbatas

PUSRI : Pupuk Sriwidjaja

RfC : Reference Concentration

RfD : Reference Dose

RI : Republik Indonesia

RQ : Risk Quotient

SF : Slope Factor

SNI : Standar Nasional Indonesia

SO2 : Sulfur dioksida

SO3 : Sulfur trioksida

SOx : Sulfur oksida

UU : Undang-Undang

UUD : Undang-Undang Dasar

WBG : World Bank Group

WHO : World Health Organization

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Polusi udara saat ini menjadi salah satu masalah bagi kehidupan

makhluk hidup terutama kesehatan manusia di dunia. Seiring

bertambahnya jumlah pengguna kendaraan bermotor, membuat lingkungan

semakin dipenuhi dengan udara-udara yang tidak sehat. Belum lagi

berdirinya pabrik-pabrik besar yang ikut berkontribusi mencemari udara

yang ada di atmosfer dunia ini (Amelia, 2014).

Dalam urutan prioritas masalahnya, sumber polusi udara antara lain

berasal dari sektor (1) transportasi, terutama mobil dan truk; (2)

pembangkit tenaga listrik yang membakar batubara atau minyak; dan (3)

industri, yang pelaku utamanya adalah pabrik baja, peleburan logam,

kilang minyak, pabrik pulp dan kertas. Pada saat ini dunia industri adalah

sumber terbesar penghasil polusi udara yang ada di dunia dan terus

mengalami pertumbuhan di setiap tahunnya.

Pembangunan fisik kota dan berdirinya pusat-pusat industri disertai

dengan lonjakan produksi kendaraan bermotor, mengakibatkan

peningkatan substansi kimiawi sumber pencemaran udara. Konsentrasi

pencemaran udara di beberapa kota besar dan daerah industri Indonesia

menyebabkan munculnya kasus-kasus gangguan pernapasan, iritasi pada

mata dan telinga, serta mengakibatkan gangguan jarak pandang

1
2

(visibilitas) yang sering menimbulkan kecelakaaan lalu lintas

(Soedomo,2001).

Pertumbuhan industri sendiri terjadi dimulai dari sebelum krisis

moneter yang terjadi di Indonesia hingga perkembangannya pada saat ini.

Laju pertumbuhan yang terjadi di industri nonmigas berkisar 12% sebelum

terjadinya krisis moneter dan sempat menurun menjadi 6,1% pada tahun

1997 dan bahkan hingga 13,1% pada tahun 1998. Sedangkan laju

pertumbuhan yang terjadi di industri nonmigas pada tahun 2003 dan 2004

berturut-turut adalah 5,57% dan 7,7%. Pada tahun 2004, laju pertumbuhan

tertinggi tercatat pada industri alat angkut, mesin dan peralatan yaitu

17,7% yang kemudian disusul oleh industri lainnya sebesar 15,1% yang

tersebar di seluruh Indonesia (Pasaribu, 2012).

Tahun 2012 lalu seperti yang data yang dikeluarkan oleh Badan

Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 3 juta orang di dunia tewas

karena terpapar polusi udara luar ruang. Sebanyak 72% kematian akibat

polusi luar ruang disebabkan oleh jantung dan stroke, 14% penyakit paru

obstruktif kronik atau infeksi pernapasan bawah akut dan 14% lainnya

disebabkan oleh kanker paru-paru. WHO mengkategorikan polusi udara

luar ruangan sebagai pemicu resiko kesehatan lingkungan tunggal terbesar

di dunia. Pada 2014, sekitar 92% populasi manusia tinggal di kawasan

kualitas udara yang buruk menurut WHO dan 87% diantaranya tinggal di

negara-negara yang terpapar polusi udara dalam tingkat yang

membahayakan terutama pada daerah Pasifik Barat dan Asia Tenggara..

Laporan ini menggunakan ukuran yang lebih ketat dibandingkan data


3

serupa yang diterbitkan WHO pada tahun 2011 lalu yang hasilnya

menyimpulkan kalau ketika itu saja kualitas udara di dunia telah

memburuk.

Berdasarkan data yang didapat dari Kementrian Lingkungan Hidup

(2014) sektor transportasi merupakan sumber pencemar udara dan Gas

Rumah Kaca (GRK) yang penting di perkotaan. Hasil inventarisasi emisi

yang dilakukan di Kota Palembang dan Surakarta dengan menggunakan

basis data tahun 2010, menunjukan kontribusi emisi partikel halus dari

sektor transportasi (sumber bergerak) sebesar 50%-70% dari total emisi

partikel halus dan sekitar 75% dari total emisi gas-gas berbahaya terhadap

kesehatan. Sumber emisi pencemar partikel halus lainnya adalah industri,

rumah tangga, komersial, dan lain-lain. Sedangkan, emisi GRK dari sektor

transportasi di perkotaan adalah sekitar 23% dari total emisi GRK dari

seluruh sumber (Kementrian Lingkungan Hidup, 2014).

Sulfur dioksida (SO2) yang termasuk kedalam gas rumah kaca juga

berperan sebagai polutan pencemaran udara dapat berasal dari aktivitas

antropogenik atau hasil dari kegiatan manusia seperti aktivitas transportasi,

kegiatan industri, maupun dari aktivitas pembangkit listrik yang

menggunakan bahan bakar minyak, gas, batubara, maupun kokas

(Wiharja, 2002). Sumber kedua berasal dari kegiatan alamiah di bumi

seperti letusan gunung berapi dan batuan yang mengandung sulfur.

Pencemaran udara oleh SO2 disebabkan oleh dua komponen gas yang tidak

berwarna, yaitu Sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), dan

keduanya disebut sebagai SOx. Sulfur dioksida (SO2) mempunyai


4

karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar di udara, sedangkan

sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif (Rusmayadi,

2010).

Seiring dengan meningkatnya pemakaian bahan bakar fosil

berbanding lurus dengan konsentrasi SO2 yang juga ikut terus meningkat.

Di Asia, jumlah emisi SO2 terus mengalami peningkatan yang cukup

signifikan. Pada tahun 1970, emisi SO2 sekitar 11,25 juta ton dan

meningkat menjadi 20 juta ton SO2 pada tahun 1986 (Hammed and

Dignon, 1992 dalam Dewi, 2007). Indonesia sendiri, jumlah emisi SO2

terus mengalami peningkatan mencapai 797 ribu metrik ton pada tahun

1995 (Earth Trends Country Profiles, 2003 dalam, Dewi 2007).

Sedangkan menurut Sugiyono (2000) SO2 yang berasal dari pembangkit

listrik dengan bahan bakar batubara mempunyai pangsa yang paling besar

diantara lainnya yaitu sebesar 42,0% dari total pembangkitan. Pangsa yang

kedua adalah pembangkit listrik yang menggunakan gas alam yaitu sebesar

38,8%. Sisanya adalah pembangkit listrik tenaga diesel (8,7%),

pembangkit listrik tenaga air (6,9%) dan pembangkit listrik tenaga panas

bumi (3,6%).

Pencemaran SO2 yang melebihi ambang batas atau baku mutu

yaitu sekitar 900 µg/Nm3 (PP RI no. 41 tahun 1999) juga secara langsung

bisa memberikan dampak pada mahkluk hidup apabila tercampur dengan

unsur air pada saat berada di atmosfer yaitu membentuk suatu ikatan Asam

sulfat (H2SO4) atau lebih dikenal sebagai hujan asam yang berdampak

terhadap makhluk hidup maupun makhluk tak hidup di permukaan bumi.


5

Bagi makhluk hidup seperti manusia, SO2 maupun ikatan H2SO4

berdampak terhadap kesehatan seperti penyakit pernafasan (bronchitis)

ataupun pada tanaman berdampak kepada kematian pada tanaman tersebut.

Sedangkan, bagi makhluk tak hidup seperti benda-benda mati, H2SO4

dapat mengakibatkan korosif pada benda tersebut. Sedangkan menurut

Achmadi (2012) dampak pencemaran udara terhadap tubuh manusia

sangat luas mulai dari hal yang bersifat lokal dan sistemik. Paru adalah

target utamanya selain dari organ lainnya seperti tenggorokan hingga ke

saluran pencernaan. Pengaruh utama polutan SO2 terhadap manusia adalah

iritasi sistem pernapasan. Oleh Karena itu, SO2 dianggap pencemar yang

berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang

mengalami penyakit kronis pada sistem pernapasan kardiovaskular

(Zakaria dan Azizah, 2013).

Berdasarkan data prevalensi penyakit yang dihimpun oleh

Kementrian Kesehatan melalui Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 kategori

penyakit yang berasal dari agen lingkungan (udara), prevalensi infeksi

saluran pernafasan akut (ISPA) di Indonesia menurut Riskesdas 2013

sebesar 25% tidak jauh berbeda dengan prevalensi ISPA pada laporan

Riskesdas tahun 2007 yaitu sebesar 25,5%. Namun, prevalensi ISPA di

Provinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan dari 17,5% pada tahun

2007 menjadi 20% pada tahun 2013. Untuk prevalensi ISPA di Kota

Palembang sendiri pada tahun 2014 sebesar 13,8%, sedangkan data yang

berhasil dihimpun dari Dinas Kesehatan Kota Palembang (2014) dari 10


6

penyakit terbesar, prevalensi ISPA di pemukiman penduduk sekitar PT.

Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Palembang sebesar 11,47%.

Kota Palembang sebagai kota terbesar ke-7 di Indonesia

mempunyai luas wilayah 374,03 Ha dengan jumlah kecamatan sebanyak

16 dan 107 kelurahan/desa (BPS Kota Palembang, 2012). Sedangkan,

jumlah penduduk berdasarkan data Kemendagri sampai tahun 2011

berjumlah 1.611.309 jiwa (Kemendagri, 2013) disebut sebagai pusat

pemerintahan di Sumatera Selatan pastinya memiliki berbagai aktivitas

padat seperti transportasi, perniagaan, pendidikan, industri, pemerintahan

dan lainnya, termasuk kegiatan perindustrian yang dijalankan PT. Pusri

Palembang. PT. Pusri Palembang yang dikenal masyarakat sekitar adalah

perusahaan yang bergerak dalam produksi dan distribusi pupuk urea ke

seluruh wilayah Indonesia dan yang terbesar se-Asia Tenggara. PT. Pusri

Palembang terletak berdekatan dengan pusat perkotaan Kota Palembang

yaitu di pinggiran sungai Musi sebagai salah satu ikon dari kota yang

dikenal sebagai Venesia nya Asia Tenggara.

Pada proses pembuatan pupuk urea PT. Pusri Palembang, limbah

yang dikeluarkan mengandung hasil sampingan udara kotor (impurities)

SO2 dalam bentuk gas yang dihasilkan oleh boiler-boiler dan alat-alat

pembangkit energi listrik yang ada di kawasan pabrik PT. Pusri

Palembang. Sama halnya yang disimpulkan oleh Dwirani (2004) baik itu

limbah udara berupa ammonia maupun limbah gas-gas lainnya seperti SO2

dan NO2, apabila limbah ini dibuang langsung ke udara ambien dan

langsung dimanfaatkan oleh manusia untuk bernapas maka hal ini akan
7

mempengaruhi kualitas udara ambien dan mengurangi derajat kesehatan

manusia. Tidak hanya akan memberikan potensi bahaya terhadap pekerja,

melainkan juga terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik

Berdasarkan hasil pemantauan lingkungan polutan yang

diakibatkan oleh aktivitas indutri seperti yang terjadi di sekitar

permukiman PT. Pusri Palembang yang dilakukan oleh Laboratorium

Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Selatan (BLH

Sumsel, 2014) didapatkan hasil rata-rata kadar pencemaran udara oleh gas

SO2 sebesar 180,4 µg/Nm3/1jam pada pematuan di 5 titik sekitar

pemukiman PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang. Nilai tersebut memang

belum melewati ambang batas SO2 yaitu 900 µg/Nm3/1jam yang

dikeluarkan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 41 Tahun

1999.

Namun, beradasarkan perhitungan analisis risiko kesehatan

lingkungan (ARKL) yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan

nilai default untuk pola aktivitas (waktu, frekuensi dan lama pajanan),

berat badan dan konsentrasi referensi SO2 sebesar 0,026 mg/m3 dari faktor

pajanan inhalasi (EPA, 1990 dalam Kemenkes 2012) dengan nilai

konsentrasi sebesar 180,4 µg/Nm3/1jam menghasilkan tingkat risiko

sebesar 2,5 (RQ≥1) atau dikategorikan tidak aman dan berisiko

menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di

pemukiman sekitar PT. Pusri Palembang.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, PT. Pusri Palembang

sebagai industri yang telah lama berdiri dan beroperasi di Kota Palembang
8

menghasilkan suatu dampak lingkungan dari kegiatannya tersebut. Hal ini

didukung dengan letak geografisnya yang berada sangat dekat dengan

permukiman masyarakat Kota Palembang dan aliran Sungai Musi.

Dampak lingkungan yang dimaksud disini adalah seberapa besar dampak

penting baik yang bersifat positif maupun negatif yang akan dihasilkan

dari kegiatan PT. Pusri Palembang yang akan mempengaruhi masyarakat

yang tinggal di sekitarnya baik itu dari komponen fisik, kimia, biologi,

sosial-ekonomi-budaya dan kesehatan masyarakat yang terkena dampak

dari kegiatan industri ini. Untuk menilai seberapa besar dampak

lingkungan dari suatu usaha dan/atau kegiatan diperlukan suatu analisis

mengenai dampak lingkungan.

Analisis mengenai dampak lingkungan atau yang lebih dikenal

dengan sebutan AMDAL berisi panduan kajian yang harus dilaksanakan

bagi suatu kegiatan atau usaha mulai dari perencanaan, pelaksanaan

hingga penilaian akhir kegiatan usaha itu beroperasi. Seberapa besar

dampak dari segi lingkungan fisik, biologi, kimia, sosial, ekonomi dan

budaya yang akan timbul dari kegiatan dan/atau suatu usaha. Pedoman

maupun peraturan-peraturan yang mengatur keberlangsungan proses

AMDAL terdiri dari Undang-Undang Republik Indonesia nomor 32 tahun

2009 pasal 47 ayat 2 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan

hidup, Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1999 tentang analisis

mengenai dampak lingkungan sampai Keputusan Menteri Kesehatan

nomor 876 tahun 2001 tentang pedoman teknis analisis dampak kesehatan

lingkungan.
9

Tujuan dilaksanakannya studi AMDAL ini merupakan untuk

menjamin agar sesuatu usaha dan/atau kegiatan pembangunan dapat

beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan atau layak dari

aspek lingkungan hidup. Dengan kelayakan lingkungan tersebut, berarti

bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan tersebut diharapkan

akan mampu meminimalkan kemungkinan dampak negatif yang

kemungkinan timbul, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber

daya alam secara efisien (Sucipto dan Asmadi, 2011). Selain itu, tujuan

AMDAL untuk merumuskan rencana pengelolaan dan pemantauan

lingkungan dari rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut.

Salah satu ilmu yang dipakai di dalam studi AMDAL adalah

analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) dimana berfungsi untuk

menghitung dan memprakirakan seberapa besar risiko kesehatan

manusia yang akan ditimbulkan dari kegiatan industri tersebut. Dalam hal

ini ARKL berperan dari segi dampak kesehatan masyarakat dari kegiatan

usaha yang dilakukan Oleh PT. Pussri Palembang. Baik ARKL maupun

AMDAL itu sendiri memiliki konsep yang sama yaitu pelaksanaannya

bukan hanya terletak pada saat kegiatan atau usaha baru akan didirikan

dan bukan hanya semata-mata hanya untuk mendapatkan sertifikat izin

kelayakan membangun suatu kegiatan atau usaha melainkan bisa

dilakukan kapan saja yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan dalam hal

ini pada saat kegiatan ini sedang berlangsung maupun penilaian pada saat

kegiatan sudah tidak beroperasi.


10

Dari hasil data sekunder yang didapatkan dari Badan Lingkungan

Hidup Daerah (BLHD) Sumatera Selatan yaitu konsentrasi di sekitar

kawasan industri PT. Pusri Palembang sebesar 180,4 µg/Nm3/1jam dan

setelah dihitung dengan menggunakan rumus ARKL oleh peneliti

didapatkan hasil berupa risiko tidak aman bagi kesehatan masyarakat

sekitar sehingga pentingnya suatu proses audit lingkungan hidup yang

tertera dalam studi AMDAL. Maka salah satu cara untuk melaksanakan

bagian dari proses audit lingkungan hidup ini dengan menggunakan

pendekatan analisis risiko kesehatan lingkungan dimana berfungsi untuk

menilai dan memprakirakan dampak kesehatan yang ditimbulkan dari

kegiatan usaha yang dilaksanakan PT. Pusri Palembang sejauh ini bagi

kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi industri.

Sampai pada saat penelitian ini dilakukan, belum ditemukannya

penelitian dengan topik yang serupa menggunakan pendekatan ARKL

untuk mengukur tingkat risiko kesehatan oleh pajanan SO2 pada

masyarakat yang bermukim di sekitar industri PT. Pusri Palembang.

Sampel manusia pada penelitian ini terfokus kepada orang dengan

kelompok umur dewasa dikarenakan kelompok umur dewasa rata-rata

memiliki laju inhalasi yang lebih besar dibandingkan kelompok umur

lainnya seperti anak-anak dan remaja. Pajanan SO2 sendiri lebih banyak

berdampak pada orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak maupun

remaja (ATSDR, 1998). Oleh karena itu, maka diperlukanlah suatu analisis

risiko kesehatan lingkungan untuk memprediksikan apakah pencemaran


11

udara oleh polutan SO2 dapat membahayakan kesehatan pada masyarakat

yang bermukim di sekitar industri PT.Pupuk Sriwidjaja Kota Palembang.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan hasil perhitungan analisis risiko kesehatan yang

dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan nilai konsentrasi SO2 yang

didapatkan dari hasil pengukuran oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH)

Provinsi Sumatera Selatan pada daerah pemukiman yang berada di sekitar

industri PT. Pusri Palembang tahun 2014 menghasilkan tingkat risiko tidak

aman (RQ ≥1) bagi masyarakat yang tinggal di permukiman sekitar

industri PT. Pusri Palembang. Udara yang mengandung SO2 dengan

konsentrasi yang terus meningkat secara terus-menerus dapat

menyebabkan gangguan kesehatan seperti gangguan pada iritasi

tenggorokan, iritasi mata, batuk hingga berbahaya pada sistem pernafasan

kardiovaskular.

Mengacu kepada Keputusan Menteri Kesehatan nomor 876 tahun

2001 tentang pedoman teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan dan

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang

pengelolaan lingkungan hidup perlu adanya suatu proses evaluasi

mengenai dampak lingkungan yang ditimbulkan dari aktivitas kegiatan

yang selama ini PT. Pusri Palembang jalankan termasuk didalamnya

memprakirakan tingkat risiko dari limbah yang PT. Pusri Palembang

buang ke lingkungan sekitarnya. Hal ini pun didukung dengan belum

pernah diadakannya penelitian terkait penilaian risiko kesehatan pajanan


12

SO2 pada masyarakat yang bermukim di sekitar industri PT. Pusri

Palembang.

Dalam teknisnya limbah udara emisi yang dikeluarkan oleh PT.

Pusri Palembang berupa emisi natural berupa ammonia dan debu urea

yang lebih mendominasi dibandingkan emisi buangan lainnya seperti

sulfur dioksida, nitrogen dioksida dan opasitas yang dihasilkan oleh

packed-packed boiler dan pembangkit listrik yang ada di kawasan pabrik.

Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran konsentrasi

SO2 yang dihasilkan oleh packed-packed boiler tadi yang terdispersi ke

dalam udara ambien di pemukiman penduduk sekitar industri PT. Pusri

Kota Palembang serta mengetahui besar risiko yang ditimbulkan dari

konsentrasi SO2 tersebut bagi kesehatan masyarakat yang bermukim di

sekitar industri PT. Pusri Palembang.

1.3 Pertanyaan Penelitian

1. Berapa nilai konsentrasi SO2 di udara ambien di pemukiman sekitar

industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang pada tahun 2016?

2. Berapa nilai berat badan masyarakat yang bermukim di sekitar industri PT.

Pupuk Sriwidjaja pada tahun 2016?

3. Berapa nilai laju asupan pajanan SO2 pada masyarakat yang bermukim di

sekitar industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang pada tahun 2016?

4. Berapa nilai waktu pajanan (jam/hari) masyarakat yang bermukim di

sekitar industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang yang terhirup udara yang

mengandung SO2 pada tahun 2016?


13

5. Berapa nilai frekuensi pajanan (hari/tahun) masyarakat yang bermukim di

sekitar industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang yang terhirup udara yang

mengandung SO2 pada tahun 2016?

6. Berapa nilai durasi pajanan (tahun) masyarakat yang bermukim di sekitar

industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang yang terhirup udara yang

mengandung SO2 pada tahun 2016?

7. Berapa nilai Intake (Asupan SO2) masyarakat yang bermukim di sekitar

industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang yang terhirup udara yang

mengandung SO2 pada tahun 2016?

8. Berapa besar nilai risiko kesehatan pada masyarakat yang bermukim di

sekitar industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang akibat pajanan SO2 pada

tahun 2016?

1.4 Tujuan Penelitian

1.4.1 Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk memprakirakan besaran risiko

gangguan kesehatan pada penduduk yang bermukim di sekitar industri PT.

Pupuk Sriwidjaja Kota Palembang terhadap pajanan polutan sulfur SO2

pada tahun 2016.

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Diketahui nilai konsentrasi SO2 dalam udara ambien di sekitar

pemukiman PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang tahun 2016


14

2. Diketahui nilai berat badan masyarakat yang menghirup udara yang

diperoleh dari udara yang mengandung SO2 di industri PT. Pupuk

Sriwidjaja Kota Palembang pada tahun 2016.

3. Diketahui nilai laju asupan SO2 pada masyarakat yang menghirup

udara yang diperoleh dari udara yang mengandung SO2 di industri

PT. Pupuk Sriwidjaja Kota Palembang pada tahun 2016.

4. Diketahui nilai waktu pajanan (jam/hari) terhadap udara terhirup yang

mengandung SO2 yang diperoleh dari aktivitas industri PT. Pupuk

Sriwidjaja Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan pada tahun

2016

5. Diketahui nilai frekuensi pajanan (hari/tahun) SO2 terhadap

masyarakat yang bermukim di sekitar industri PT. Pupuk Sriwidjaja

Palembang tahun 2016.

6. Diketahui nilai durasi pajanan (tahun) terhadap udara terhirup yang

mengandung SO2 yang diperoleh dari aktivitas industri PT. Pupuk

Sriwidjaja Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan pada tahun

2016

7. Berapa nilai Intake (Asupan SO2) pada masyarakat yang bermukim di

sekitar industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang?

8. Diketahui besar risiko kesehatan pada masyarakat yang bermukim di

sekitar industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang tahun 2016


15

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Bagi Peneliti

Menambah wawasan dan tolak ukur bagi penelitian selanjutnya

mengenai cemaran udara oleh SO2 di udara Kota Palembang akibat dari

buangan limbah udara (gas) pabrik PT. Pusri Palembang serta dapat

mengembangkan ilmu ARKL sebagai disiplin ilmu untuk mendukung

perkembangan ilmu kesehatan dalam meprediksikan dampak kesehatan

dari suatu pajanan agent biologi maupun kimia di masa yang akan datang.

1.5.2 Manfaat Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai masukan untuk

penelitian berikutnya dengan mengembangkan metode yang lebih luas

ruang lingkupnya. Informasi dari penelitian ini juga dapat menjadi bahan

tambahan ilmu untuk pengembangan kemampuan mahasiswa untuk

meningkatkan kompetensi dan kemampuan yang dimiliki mahasiswa

program studi kesehatan masyarakat.

1.5.3 Manfaat Bagi PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang

Hasil penelitian ini nantinya akan menjadi informasi tambahan

kepada pihak perusahaan dalam hal mengevaluasi besaran konsentrasi

emisi SO2 yang selama ini dibuang ke lingkungan luar (udara ambien) dan

dampaknya pada makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu, studi ARKL ini

juga dapat menjadi studi pendukung dalam proses pemantauan dan

evaluasi dari kegiatan aktivitas industri yang dilakukan pihak perusahaan.


16

1.5.4 Manfaat Bagi Pemerintah Kota Palembang

Sebagai informasi batas baku mutu cemaran udara oleh SO2 yang

ditoleransi serta sebagai acuan tolak ukur pembentukan regulasi-regulasi

yang memungkinkan jika cemaran udara oleh SO2 tersebut melebihi baku

mutu yang telah ada. Ataupun sebagai acuan bagi pemerintah untuk lebih

mengkritisasi dan mengawasi secara penuh aktivitas-aktivitas yang

memungkinkan terjadi pencemaran.

1.5.5 Manfaat Bagi Masyarakat

Masyarakat mengetahui sebagai suatu informasi seberapa besar

tingkat pencemaran udara oleh SO2 yang berasal dari asap hasil buangan

limbah PT. Pusri Palembang yang mereka buang serta aktivitas

transportasi yang berada berdekatan dengan lokasi penelitian

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Palembang pada bulan Oktober

2016. Jenis penelitian dalam penelitian ini merupakan penelitian

kuantitatif dengan metode analisis risiko kesehatan sebagai dampak

pajanan SO2 terhadap masyarakat. Penelitian ini untuk memprakirakan

risiko aman atau tidaknya pajanan SO2 terhadap masyarakat yang

bermukim di sekitar industri PT. Pusri Kota Palembang tahun 2016.

Sampel penelitian merupakan masyarakat Kota Palembang yang berada

pada daerah sekitar industri PT. Pusri Palembang dengan radius

pengamatan 1.300 meter dari titik sumber emisi boiler- boiler pabrik yang

menghasilkan polutan SO2. Masyarakat yang dimaksud adalah kelompok

umur manusia dewasa dikarenakan orang dewasa dapat menerima dosis


17

yang lebih besar karena mereka memiliki laju inhalasi yang lebih besar,

rasio berat badan dan peningkatan volume/menit dibandingkan kelompok

umur anak-anak ataupun kelompok umur lainnya.

Pengukuran konsentrasi polutan SO2 diukur dengan menggunakan

alat pengukuran udara ambien (impinger) milik Balai Teknik Kesehatan

Lingkungan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) Kota Palembang dengan

metode Pararosanilin. Data dianalisis dengan menggunakan analisis

univariat dan analisis risiko.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sulfur Dioksida

2.1.1 Pengertian
Sulfur dioksida adalah gas yang tidak berwarna dengan bau yang

menyengat. Berbentuk cairan ketika berada di bawah tekanan, dan

dengan mudah larut dalam air. SO2 di udara berasal dari kegiatan seperti

pembakaran batubara dan minyak di pembangkit listrik atau dari

peleburan tembaga. Di alam sendiri, SO2 dapat dilepaskan ke udara dari

letusan gunung berapi (ATSDR, 1998).

Sulfur dioksida dalam jumlah besar digunakan sebagai perantara

dalam pembuatan asam sulfat dan pulp sulfit. Hal ini juga digunakan

dalam pertanian dan di industri makanan dan minuman seperti, antara

lain, biosida dan pengawet. (IARC, 1997). SO2 merupakan salah satu

jenis agen oksidasi dan agen reduksi pada temperatur ruangan. Di

atmosfer, SO2 memiliki kemampuan bereaksi secara fotokimia ataupun

katalitik dengan material lain yang dapat membentuk sulfur trioksida,

asam sulfur, dan garam dari asam sulfur.

Pembakaran bahan bakar merupakan sumber utama pencemar

SO2. Pabrik peleburan baja merupakan industri terbesar yang

menghasilkan SO2. Sulfur merupakan kontaminan yang tidak

dikehendaki di dalam lohgam dan biasanya lebih mudah untuk

menghasilkan sulfur dari logam kasar daripada penghasilkannya dari

produk logam akhirnya. Oleh Karena itu, SO2 secara rutin diproduksi

18
19

sebagai produk samping dalam industri logam dan sebagian akan terdapat

di udara (Cahyono, 2011).

Pada konsentrasi antara 0,8 ppm-1 ppm di udara, kehadirannya

dapat dirasakan oleh kebanyakan orang, bahkan jika konsentrasinya lebih

dari 8 ppm, gas ini berbau tajam dan dapat menyebabkan iritasi pada

manusia.

2.1.2 Karakteristik SO2

Berdasarkan sifat kimia, SO2 adalah gas tidak berwarna dengan

bau yang menyengat. SO2 sangat mudah larut dalam air. Hal ini tidak

bisa terbakar (ATSDR, 1998). Konsentrasi untuk terdeteksi pada indera

perasa adalah 0,3-1 ppm di udara dan ambang bau adalah 0,5 ppm. Gas

ini bersifat iritan . SO2 merupakan senyawa kimia dengan rumus kimia

SO2 yang tersusun dari 1 atom sulfur dan 2 atom oksigen.

Reaksi : S(g) + O2(g)  SO2(g)

Sulfur dioksida merupakan ikatan yang tidak stabil dan sangat

reaktif terhadap gas yang lain .Berdasarkan sifat fisika SO2 memiliki titik

didih -100 C, titik lebur -75,50 C, berat jenis relatif (air =1) 1,4.

Kelarutannya dalam air adalah 8,5 dalam 100 ml air pada suhu 250 C.

Gas ini lebih berat dari udara, berat jenis uap relatif di udara 2,25

sedangkan berat jenis relatif udara adalah 1.

Bau yang menyengat biasanya cukup untuk mendeteksi

kehadiran dari SO2. Kebanyakan orang dapat mendeteksi SO2 pada

tingkat 1 sampai 3 ppm (1 ppm setara dengan 2,62 mg/m3). SO2 bersama

dengan pencemar lainnya (CO, CO2, NO2, N2O, TSP, metana, senyawa
20

halogen, partikel logam, dll) merupakan pencemar udara primer yang

komposisi atau kadarnya tidak akan mengalami perubahan di atmosfer

baik secara kimia maupun fisis dalam jangka waktu relatif lama yaitu

harian sampai dengan tahunan.

Berdasarkan penelitian terhadap sebaran SO2, jarak tempuh dari

SO2 pada sumber titik pencemar (point source) dapat mencapai 3.000

meter horizontal (Suryani S.,et al, 2010 dalam Purnama 2013). Emisi

pencemar udara yang termasuk didalamnya SO2 itu sendiri dapat

menyebar sesuai dengan kondisi meteorologis setempat terutama arah

angin rata-rata dan fluktuasi kecepatan turbulen, serta stabilitas atmosfer

yang sangat dinamis antara temporal maupun spasial (Oke, 1986;

Nasstrom dkk., 2000; Stroh dkk., 2005 dalam Turyanti dkk., 2016).

Tabel 2.1 Sifat Fisik SO2

Berat Molekul : 64,06 dalton

Titik Didih (760


: 14,00F (-100C)
mmHg)

Titik Beku : -99,40F (-72,70C)

Tekanan Uap : 2538 mmHg di 70,0 EF (21,10C)

Uap kepadatan : 1,43 g/ml (air = 1,00)


21

Kelarutan air : Larut dalam air (11,3 g/100 ml pada 680 F [200C])

Sifat : Mudah terbakar

Sumber: ATSDR,2014

Sulfur dioksida larut dalam air atau uap untuk membentuk asam

sulfur. Banyak logam termasuk seng, aluminium, cesium, dan besi

terbakar di pemanas SO2. SO2 bereaksi eksplosif ketika kontak dengan

natrium hidrida. SO2 terbakar bila dicampur dengan lithium asetilena

diamino karbida atau acetylide lithium ammonia (ATSDR, 2014).

2.1.3 Sumber Pencemar SO2


Sulfur Dioksida berasal dari dua sumber yakni sumber alamiah dan

buatan. Sumber-sumber SO2 alamiah adalah gunung-gunung berapi,

pembusukan bahan organik oleh mikroba dan reduksi sulfat secara

biologis. Proses pembusukan akan menghasilkan H2S yang akan

menghasilkan H2S yang cepat berubah menjadi SO2 sebagai berikut :

H2S(g) + 3/2 O2(g)  SO2(g) + H2O(l)

Sumber-sumber SO2 buatan adalah pembakaran bahan bakar

minyak,gas dan batubara yang mengandung sulfur tinggi. Gas belerang

dioksida terutama dilepaskan dari pembakaran bahan bakar fosil (75%

sampai 85% dari sumber-sumber industri), peleburan bijih sulfida, emisi

vulkanik, dan beberapa sumber alam lainnya. Ini adalah polutan udara

utama, namun SO2 memiliki banyak kegunaan industri dan


22

pertanian. Kadang-kadang ditambahkan sebagai penanda peringatan dan

tahan api untuk fumigants gandum cair. Sekitar 300.000 ton digunakan

setiap tahun untuk memproduksi hydrosulfites dan bahan kimia yang

mengandung sulfur lainnya (40%); untuk pemutih pulp kayu dan kertas

(20%); proses, hama, dan pemutih makanan (16%); untuk limbah dan

pengolahan air (10%); dalam logam dan bijih pemurnian (6%); dan

penyulingan minyak (4%). Jumlah beracun belerang dioksida dapat

dilepaskan dari metabisulfit kimia pengawet dengan adanya air dan asam.

(ATSDR, 2014).

Pemakaian batubara sebagai bahan bakar pada beberapa kegiatan

industri seperti yang terjadi di beberapa negara Eropa Barat dan Amerika,

menyebabkan kadar SOx di udara meningkat. Pencemaran SOx di udara

terutama berasal dari pemakaian batubara yang digunakan pada kegiatan

industri, transportasi dan lain sebagainya. Bagaimana peranan batubara

dalam menyumbang pencemaran SOx telah banyak diteliti di negara-

negara industri seperti yang tampak pada tabel berikut ini.

Selain dari bahan bakar berupa minyak,batubara dan gas maupun

dari alam yang berasal dari letusan gunung berapi, SO2 juga dapat

ditemukan pada makanan dan minuman yang sering dikonsumsi oleh

manusia. Menurut Faloon (2016) SO2 pada makanan ataupun minuman

dilepaskan dari sulfit. Hal ini dapat ditemukan dalam pasokan makanan

manusia sehari-hari. Sulfit digunakan sebagai pengawet dalam makanan

seperti kentang kering, acar bawang, adonan pizza, selai, jeli, sirup maple.

Kaleng dan salad buah botol dapat memiliki sulfit di dalamnya untuk
23

menjaga warna buah-buahan segar. Distributor komersial penggunaan

makanan sulfit sebagai pengawet terdapat dalam berbagai produk. Hal ini

penting untuk membaca tulisan kecil pada label produk. Bir dan minuman

beralkohol lainnya mungkin memiliki pengawet sulfit di dalamnya. Jika

manusia yang memiliki alergi terhadap SO2 ini diharapkan sadar akan hal

itu dan selalu berhati-hati dalam memilih produk makanan maupun

minuman yang diperjual belikan secara umum. Namun, menurut

Kristianingrum (2006) meski SO2 bermanfaat dipakai sebagai bahan

pengawet makanan akan tetapi dapat berisiko menyebabkan perlukaan

lambung, mempercepat serangan asma, mutasi genetik, kanker dan alergi.

2.1.4 Dampak SO2

2.1.4.1 Dampak SO2 Terhadap Ekosistem Perairan

Masalah belerang sudah sangat lama dibahas, dan efek

belerang terhadap lingkungan telah dikenal selama berabad-abad.

Itu mungkin hasil dari pembuangan belerang ke perairan, tanah,

atau udara. Efek ke lingkungan akan menjadi perhatian khusus.

Selain toksisitas SO2 untuk organisme, efek lain berupa

peningkatan pencucian kation dan logam, pengasaman tanah dan

air, dan perubahan tingkat siklus nutrisi.

Efek terlarut SO2 mirip dengan asam nitrat atau klorida.

Di daerah yang luas belerang masih berupa zat asam besar,

meskipun senyawa nitrogen baru-baru ini menjadi perhatian. Di

Scandinavia, limbah belerang mencapai sekitar 70% dari total

pengasaman.
24

Air akan asam jika daerah aliran sungai memiliki buffer

yang sangat buruk. Paling sensitif adalah perairan di batuan dasar

rendah, pelapukan silika, batupasir, granit, dan gneisses felsic, di

mana kontribusi zat alkali air kecil. Perairan asam telah terlihat

dalam kaitannya dengan endapan asam, outlet asam sulfat atau

tanah, penggalian selokan, atau situasi lain yang terkontaminasi.

Efek pengasaman atmosfer pada air telah dipelajari di tempat

yang berbeda, misalnya di Pegunungan Adirondack Amerika

Serikat, La Cloche Pegunungan Kanada, dan di Skandinavia.

2.1.4.2 Dampak SO2 Terhadap Tanah


Di sini akan diringkas cara yang paling penting di mana

belerang antropogenik ditambahkan ke tanah, jumlah belerang

antropogenik yang mungkin ditambahkan, dan kondisi di mana

belerang ditambahkan ke tanah dapat dianggap sebagai "polutan."

Emisi SO2 ke atmosfer dan pengendapan sulfur ini pada

tanah merupakan jenis polusi tanah yang saat ini menjadi

perhatian. Sekitar 60 juta ton SO2 dipancarkan setiap tahunnya di

seluruh dunia dan melalui mekanisme ini jumlah terbesar dari

sulfur ditambahkan ke tanah sebagai polutan. Cara-cara yang

dipancarkan SO2 dikembalikan ke bumi adalah sebagai berikut:

 H2SO4 dan garam netral dari SO2 dibawa pada saat hujan atau

salju turun ke permukaan bumi (Barret dan Brodin, 1955)

dalam Nriagu (1978);


25

 SO2 dapat terserap di pohon-pohon yang kemudian mencegah

curah hujan dan H2SO4 yang terbentuk dibawa ke dalam tanah

(Baker et al, 1973.); deposisi partikulat yang mengandung

H2SO4 dan garam berlangsung (Brosset, 1973 dalam Nriagu,

1978); dan SO2 diserap langsung oleh tanah (Johansson, 1959;

Terraglio dan Manganelli, 1966 dalam Nriagu, 1978).

Jumlah pengasaman disebabkan oleh masing-masing dari

mekanisme yang tergantung pada tingkat dan komposisi deposisi

sulfur itu sendiri. Jika deposisi hanya terdiri dari H2SO4,maka

akan terjadi pengasaman tanah, tetapi jika deposisi adalah garam

netral, tanah tidak akan mengalami pengasaman. Namun, emisi

SO2 biasanya disimpan sebagai campuran garam H2SO4 dan

dengan berbagai komposisi campuran tersebut terus bervariasi

dengan waktu dan tempat tertentu.

Serapan langsung dari SO2 oleh tanah adalah salah satu

mekanisme yang hanya untuk mengasamkan tanah tersebut.

Pengasaman tanah sangat tergantung pada jenis tanah itu sendiri.

Misalnya, tanah yang diisi dengan baik dengan CaCO3 bebas

(tanah berkapur dapat terdiri dari 20% karbonat bebas) pada

dasarnya kebal terhadap pengasaman oleh H2SO4 hanya karena

asam bereaksi dengan bebas CaCO3 untuk membentuk CaSO4.

Namun, sebagian besar tanah tidak berkapur dan paparan emisi

SO2 menyebabkan mereka menjadi lambat diasamkan, meskipun

tingkat pengasaman bervariasi antara tanah.


26

Cara utama sulfur "mencemari" tanah hanya dengan

membuat tanah tersebut menjadi asam. Tanah menjadi asam

sulfur hanya ketika bentuk asam menghasilkan sulfur

ditambahkan ke tanah misalnya, unsur sulfur atau (NH4) H2SO4

digunakan sebagai pupuk, atau sebagian dari emisi SO2 dari

industri mencapai tanah sebagai H2SO4, (NH4) H2SO4, atau

sebagai SO2 sendiri.

Ketika tanah menjadi asam, ada beberapa cara dimana

kesuburan tanah secara substansial berkurang dengan nodulasi

dan fiksasi nitrogen dikarenakan konsentrasi ion hydronium yang

tinggi (mekanisme ini terjadi pada pH dibawah 6,0) ; kelarutan

aluminium dan mangan mulai meningkat dengan penurunan pH di

bawah 5,5 dan toksisitas kedua unsur ini mempengaruhi beberapa

spesies tanaman yang dpat menyebabkan tanaman tersebut tidak

akan tumbuh. Ketersediaan tanaman yang paling penting adalah

nutrisi, nitrogen, fosfor, kalium, kalsium dan magnesium yang

tercuci dari tanah yang asam alami dan sudah rendah dalam dua

nutrisi ini.

Tanah asam tidak akan kembali normal ketika emisi sulfur

ke tanah sudah berhenti. Satu-satunya metode perbaikan tanah

tersebut adalah dengan menambahkan batu gamping ke dalam

tanah. Juga, jika emisi diturunkan ke tingkat yang lebih

ditoleransi dengan manusia dan tanaman, tanah akan terus

mengambil sulfur, meskipun pada tingkat yang lebih rendah. Oleh


27

karena itu, SO2 adalah sebagai sebuah "polutan" sepanjang sebuah

tanah terdeteksi bersifat asam terutama tanah yang memiliki

buffer yang buruk. Sehingga lebih jauh akan berpengaruh pada

penurunan pH yang dapat mempengaruhi produktivitas sebuah

tanah itu sendiri.

2.1.4.3 Dampak SO2 Terhadap Kesehatan Manusia

Pencemaran SO2 sendiri menimbulkan dampak terhadap

manusia, hewan, dan kerusakan pada tanaman. Emisi SO2 yang

berlimpah mungkin secara langsung menyebabkan kerusakan

yang luas terhadap pohon-pohon kayu yang jaraknya dalam sel

daun tanaman membentuk sufite yang beracun. Pajanan jangka

panjang untuk tingkat persisten SO2 dapat mempengaruhi

kesehatan manusia. Perubahan fungsi paru-paru terlihat di

beberapa pekerja yang terpapar SO2 tingkat rendah selama 20

tahun. Namun, pekerja ini juga terkena bahan kimia lainnya,

sehingga efek kesehatan mereka mungkin bukan hanya dari SO2

saja. Penderita asma juga telah terbukti sangat sensitif terhadap

SO2 dalam konsentrasi rendah (ATSDR, 1999)

Selain itu SO2 ini juga menyebabkan iritasi mata, selaput

lendir, kulit, dan saluran pernapasan tentunya. Bronkospasme,

edema paru, pneumonitis, dan obstruksi jalan napas akut dapat

terjadi. Paparan inhalasi konsentrasi SO2 dengan konsentrasi yang

sangat rendah saja dapat memperburuk penyakit paru kronis,

seperti asma dan emfisema. Beberapa penderita asma sangat


28

sensitif mengalami bronkospasme bila terkena SO2 atau memakan

makanan yang mengandung sulfit yang diawetkan. SO2 bereaksi

dengan air di saluran napas bagian atas untuk membentuk

hydrogen, bisulfit, dan sulfit yang semuanya menyebabkan iritasi.

Akibatnya, bronkokonstriksi reflex meningkatkan resistensi

saluran napas (ATSDR,2014).

Sulfur dioksida saja tidak berpotensi mengiritasi paru-paru

kecuali konsentrasinya melebihi 10 sampai 20 ppm. Alasan yang

jelas untuk potensi rendah ini adalah bahwa SO2 dihirup hampir

sepenuhnya diserap di saluran napas atas dan tidak mencapai

paru-paru. Hanya beberapa individu yang sensitif dapat

menunjukkan perubahan kecil dalam fungsi paru-paru pada

konsentrasi 1 sampai 2 ppm, tetapi dalam jangka waktu yang

panjang SO2 ini akan berdampak merugikan bagi keseluruhan

orang jika terus terpapar dari polutan udara yang satu ini. (Nriagu,

1978)

Pada 1 ppm SO2 ada perubahan dosis terkait resistensi

aliran paru, gejala subjektif, atau tindakan lain fungsi paru-paru

dapat dideteksi pada sebagian subjek. Namun, peneliti lain

(Amdur et al, 1953;. Snell dan Luchsinger, 1969; Bates dan

Hazucha, 1973;. Andersen et al, 1974 dalam Nriagu, 1978) telah

menunjukkan efek dari konsentrasi sebesar 0,75-1,00 ppm SO2

berdampak pada laju aliran ekspirasi puncak, hambatan aliran

hidung, frekuensi pernapasan atau volume tidal di beberapa


29

subjek. Burton et al. (1969) dalam Nriagu (1978) memperkirakan

bahwa "hyperreactors" atau individu yang sangat rentan terhadap

SO2 mungkin merupakan 10 sampai 20% dari populasi orang

dewasa muda yang sehat.

Tabel 2.2
Dampak Paparan SO2 terhadap Kesehatan Manusia

Konsentrasi (ppm) Pengaruh

Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari


3-5
baunya (selama 4 jam)

Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan


8-12
iritasi tenggorokan (selama 4 jam)

Jumlah terkecil yang akan mengakibatkan


12-20 iritasi mata dan mengakibatkan batuk (selama
4 jam)

Maksimum yang diperbolehkan untuk


20-50
konsentrasi dalam waktu lama

Maksimum yang diperbolehkan untuk kontak


50-100
singkat (30 menit)

Sampai 500 Berbahaya meskipun kontak secara singkat

Sumber : (DEPKES RI 2007 dalam Zakaria dan R.Azizah 2013)

2.1.4.3.1 Paparan Akut

Sulfur dioksida larut dalam air pada kulit, mata, dan membran

mukosa untuk membentuk asam sulfur, iritasi dan inhibitor transportasi

mukosiliar. Sebagian besar sulfur dioksida dihirup didetoksifikasi oleh

hati terhadap sulfat dan diekskresikan dalam urin. Ion bisulfit diproduksi
30

ketika SO2 bereaksi dengan air cenderung menjadi inisiator utama sulfur

dioksida yang disebabkan bronkokonstriksi.

a. Pernapasan

Sulfur dioksida pada iritasi pernapasan menginduksi gejala

seperti bersin, sakit tenggorokan, mengi, sesak napas, sesak dada,

dan rasa sesak napas. Refleks laring kejang dan edema dapat

menyebabkan obstruksi jalan napas akut. Bronkospasme,

pneumonitis, dan edema paru dapat terjadi.

Beberapa individu sangat rentan terhadap adanya SO2 dan

bereaksi berlebihan terhadap konsentrasi yang pada kebanyakan

orang mendapatkan respon yang jauh lebih ringan. Aklimatisasi

(penyesuaian fisiologis individu terhadap perubahan lingkungan)

juga dapat terjadi pada hingga 80% dari individu yang terkena. Ini

tidak selalu menguntungkan meskipun paparan mungkin menjadi

kurang subyektif pantas setelah terpapar terus menerus atau

berulang-ulang.

Penderita asma yang sensitif terhadap sulfit dalam

makanan dapat mengembangkan bronkospasme atau reaksi

anafilaktoid. SO2 bersama dengan komponen lain dari polusi udara

bisa memperburuk penyakit cardiopulmonary kronis. Paparan

konsentrasi tinggi SO2 dapat menyebabkan Reactive Airway

Disfungsi Syndrome (RADS), jenis kimiawi atau iritasi yang

disebabkan asma.
31

Anak-anak mungkin lebih rentan terhadap agen korosif

daripada orang dewasa karena diameter yang relatif lebih kecil dari

saluran udara mereka. Anak-anak juga mungkin lebih rentan karena

ventilasi menit yang relatif meningkat per kilogram berat badan

dan kegagalan untuk mengevakuasi daerah segera bila terkena.

Seperti halnya yang dipaparkan oleh Nadakavukaren (1986)

gas SO2 dapat larut dalam mukosa membran hidung, tenggorokan,

dan mengiritasi saluran pernapasan bagian atas. Gas SO2 dapat pula

bereaksi dengan uap air sehingga terbentuk asam sulfat yang

merupakan zat yang sangat iritatif terhadap mukosa saluran

pernapasan dan jaringan paru. Hal ini dapat menyebabkan matinya

sel silia, sehingga aktivitas respiratory clearance akan terganggu.

Jika sampai pada jaringan paru, maka fungsi sel makrofag juga

terganggu. Oleh karena itu, jika udara pernapasan mengandung

bahan pencemar dapat meningkatkan kepekaan terhadap penyakit

infeksi saluran pernapasan (bronkitis dan emfisema). Bahan

polutan gas yang masuk ke dalam saluran pernapasan dapat pula

menyebabkan sembab membran mukosa sehingga mengakibatkan

penyempitan saluran pernapasan.

b. Kulit

Sulfur dioksida adalah iritasi kulit parah yang menyebabkan

rasa sakit menyengat, kemerahan, dan lecet, terutama pada selaput

lendir. Kontak kulit dengan kompresi gas atau SO2 cair dapat

menyebabkan radang dingin dan cedera iritasi karena luas


32

permukaan yang relatif lebih besar. Rasio berat badan, anak-anak

lebih rentan terhadap racun yang mempengaruhi kulit.

c. Penglihatan

Konjungtivitis dan kornea luka bakar dapat dihasilkan dari

efek iritasi dari uap belerang dioksida atau gas terkompresi dan dari

kontak langsung dengan cairan.

d. Gastrointestinal

Mual, muntah, dan sakit perut telah dilaporkan setelah

paparan inhalasi sampai pada dosis tinggi SO2.

e. Potensi Gejala Sisa

Tingkat eksposur tinggi akut telah mengakibatkan fibrosis

paru, bronkitis kronis, dan bronkopneumonia kimia dengan

obliterans bronchiolitis. Bronkospasme dapat dipicu pada orang

yang memiliki penyakit paru-paru, terutama mereka yang memiliki

asma dan emfisema. Jarang terjadi hiperreaktivitas saluran napas

onset baru yang dikenal sebagai sindrom disfungsi saluran udara

reaktif (RADS), berkembang pada pasien tanpa bronkospasme

sebelumnya.

2.1.4.3.2 Paparan Kronis

Paparan kronis dapat menyebabkan rasa penciuman berubah

(termasuk peningkatan toleransi terhadap rendahnya tingkat SO2),

peningkatan kerentanan terhadap infeksi pernafasan, gejala bronkitis


33

kronis, dan mempercepat penurunan fungsi paru. Paparan kronis mungkin

lebih serius bagi anak-anak karena potensi masa hidup mereka lebih lama.

a. Karsinogenik

Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC)

ditugaskan untuk meneliti polutan sulfur dioksida. SO2 tidak dapat

diklasifikasikan untuk efek yang menyebabkan kanker kepada

manusia.

b. Reproduksi dan Efek Perkembangan

Sulfur dioksida tidak termasuk dalam racun yang terjadi

pada sistem reproduksi dan perkembangan tubuh manusia, laporan

pada tahun 1991 yang diterbitkan oleh Kantor Umum Akuntansi

Amerika Serikat (GAO) dalam ATSDR (2014) yang berisi daftar

30 bahan kimia yang menjadi perhatian karena diakui secara luas

tidak terindikasi ke sistem reproduksi dan perkembangan tubuh

manusia. Begitupun dengan rute paparan untuk senyawa SO2

sendiri tidak berdampak kepada sistem repsoduksi dan

perkembangan manusia. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa

SO2 adalah genotoxin pada manusia.

2.1.5 Jalur Pajanan SO2


2.1.5.1 Inhalasi

Inhalasi adalah rute utama dari paparan belerang

dioksida. Kebanyakan pajanan yang disebabkan oleh polusi udara, dan ini

baik jangka pendek dan konsekuensi kesehatan kronis bagi orang-orang

dengan penyakit paru-paru. Inhalasi SO2 mudah bereaksi dengan


34

kelembaban membran mukosa untuk membentuk asam sulfur (H2SO3),

yang merupakan iritan yang parah. Penderita asma dapat mengalami

peningkatan resistensi saluran napas dengan konsentrasi SO2 yang kurang

dari 0,1 ppm saat berolahraga. Orang dewasa sehat mengalami

peningkatan resistensi saluran napas pada 5 ppm, bersin dan batuk pada 10

ppm, dan bronkospasme pada 20 ppm. Perlindungan pernapasan

diperlukan untuk pajanan pada atau di atas 20 ppm. Pajanan dari 50

sampai 100 ppm dapat ditoleransi selama lebih dari 30 sampai 60 menit,

tetapi pajanan yang lebih tinggi dapat menyebabkan kematian dari

obstruksi jalan napas. SO2 lebih berat daripada udara; dengan demikian,

paparan di ventilasi yang buruk, tertutup, atau daerah dataran rendah dapat

menyebabkan sesak napas.

Anak-anak bisa terpapar pada tingkat yang sama dari polutan SO2

sebagaimana orang dewasa, hanya saja orang dewasa dapat menerima

dosis yang lebih besar karena mereka memiliki luas permukaan paru-paru

yang lebih besar, rasio berat badan dan peningkatan volume/menit (EPA,

2011). Seperti yang dilansir pula dari ATSDR (1998) Pajanan SO2 sendiri

lebih banyak berdampak pada orang dewasa (susah bernafas hingga rasa

terbakar pada hidung dan tenggorokan) dibandingkan anak-anak. Terlebih

terdapat studi yang menyiratkan bahwa kesehatan remaja (12-17 tahun)

tidak lebih rentan kepeada efek menghirup SO2 dibanding kesehatan orang

dewasa.

Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Layton (1993) dalam Exposures Factors Handbook US EPA (2011)


35

dimana Layton menggunakan tiga (3) cara pendekatan untuk menilai laju

inhalasi antara kelompok umur anak-anak dan dewasa baik laki-laki

maupun perempuan. Pendekatan pertama (1) dengan menggunakan rata-

rata asupan energi makanan harian untuk kelompok umur anak-anak

didapatkan rata-rata asupannya 6,35-13,09 m3/hari untuk anak laki-laki

dan 2,35-5,95 m3/hari untuk anak perempuan, sedangkan untuk kelompok

umur dewasa laki-laki sebesar 10-19 m3/hari dan 8-12 m3/hari untuk

dewasa perempuan. Untuk pendekatan kedua (2) dan ketiga (3) masing-

masing 15 m3/hari untuk anak laki-laki, 12 m3/hari untuk anak-anak

perempuan, 9,9-11 m3/hari untuk dewasa perempuan, 13-17 m3/hari untuk

dewasa laki-laki dan 11-15 m3/hari untuk dewasa perempuan serta 13-17

m3/hari untuk dewasa laki-laki. Sehingga dindikasikan dari ketiga

pendekatan yang digunakan oleh Layton bahwasanya rata-rata manusia

dewasa lebih besar laju inhalasinya dibandingkan anak-anak.

Selain penilaian yang dilakukan Layton (1993) pernyataan bahwa

kelompok umur dewasa lebih besar asupan inhalasi dibandingkan dengan

kelompok umur anak-anak adalah studi-studi yang dilakukan oleh

Environmental Protection Agency (EPA) tahun 2009, Brochu et al. (2006),

Arcus-Arth and Blaisdell (2007), Stifelman (2007) penilaian pada aktivitas

sehari-hari yang dilakukan kedua kelompok umur seperti pada saat

istirahat dan aktivitas bergerak dimana kelompok umur manusia dewasa

lebih besar yaitu 22,8 m3/hari untuk laki-laki dan 21,1 m3/hari untuk

perempuan, sedangkan untuk anak-anak sebesar 14,8 m3/hari laju

inhalasinya.
36

Tabel 2.3

Laju Inhalasi Kombinasi Laki-Laki dan Perempuan per Kelompok


Umur untuk Durasi Pajanan Jangka Panjang

Kelompok Umur Rata-rata inhalasi


(m3/hari)

Lahir sampai 1 bulan 3,6

1 sampai < 3 bulan 3,5

3 sampai < 6 bulan 4,1

6 sampai < 12 bulan 5,4

1 sampai < 2 tahun 5,4

2 sampai < 3 tahun 8,9

3 sampai < 6 tahun 10,1

6 sampai < 11 tahun 12,0

11 sampai < 16 tahun 15,2

16 sampai < 21 tahun 16,3

21 sampai < 31 tahun 15,7

31 sampai < 41 tahun 16,0

41 sampai < 51 tahun 16,0

51 sampai < 61 tahun 15,7

61 sampai < 71 tahun 14,2

71 sampai < 81 tahun 12,9

≥ 81 tahun 12,2

Sumber : Exposure Factor Handbook (EPA, 2011)

Karena kebanyakan studi di bidang penilaian paparan sampai saat

ini berfokus pada paparan polusi udara, contoh pertama melihat pada

pajanan SO2. Dalam contoh ini, paparan inhalasi mengacu antara polutan
37

udara dan di permukaan tubuh manusia. Rute paparan inhalasi; agen (juga

stressor) yang tertarik adalah SO2; target adalah seorang laki-laki; media

adalah udara dan permukaan paparan ditentukan sebagai kedudukan titik-

titik di atas pintu masuk ke mulut dan hidung. Secara teoritis, konsentrasi

paparan adalah rata-rata konsentrasi udara pada setiap titik pada

permukaan paparan. Kebutuhan praktis menyatakan bahwa dalam studi

yang sebenarnya, udara di sekitar hidung seseorang adalah dengan mutlak

diasumsikan tercampur dan konsentrasi paparan yang diukur (misalnya 20

mg/m3) diasumsikan paparan di hidung orang (dengan asumsi bahwa

pengukuran berada di dekat orang). Volume kontak adalah volume teoritis

udara yang tersedia untuk inhalasi pada periode paparan yang tertarik.

Volume udara yang dihirup selama periode paparan merupakan pengganti

untuk volume kontak. Seringkali monitor udara pribadi digunakan untuk

memperkirakan konsentrasi paparan agen dalam volume kontak (SO2).

2.1.5.2 Kontak Kulit/Mata


Paparan Dermal adalah kontak antara agen dan permukaan kulit

luar (permukaan exposure) dari target (misalnya manusia). Sebuah titik

pada permukaan kulit dianggap terkena jika massa kimia hadir dalam

volume kontak yang mengandung titik. Paparan dermal dapat terjadi

melalui kontak kulit dengan kimia dalam media yang berbeda. Gambar 2.1

mengilustrasikan paparan daerah tangan, selama satu acara paparan, untuk

contohnya pestisida DDT Astra Honda Motor sebagai (agen atau stressor)

yang dilakukan media udara, air, dan tanah. Beberapa poin yang terkena

molekul DDT dalam matriks tanah. Permukaan paparan dipilih di sini


38

untuk tujuan ilustrasi sebagai daerah persegi panjang pada permukaan

stratum korneum, lapisan terluar dari kulit seperti yang ditunjukkan.

Paparan sesaat pada titik-titik pada permukaan paparan pada Gambar 2.1

bervariasi secara spasial karena media yang berbeda berada dalam kontak

dengan permukaan kulit.

Gambar 2.1 Paparan Dermal pada Berbagai Media (Zartarian, 1996 dalam IPCS

2004)

Untuk SO2 sendiri, pajanan dari 10 sampai 20 ppm menyebabkan

iritasi pada selaput lendir. Kontak langsung dengan kompresi gas atau SO2

cair dapat menghasilkan kerusakan kornea yang parah dan luka radang

dingin (frostbite) pada kulit. Namun, tidak ada data yang lengkap

mengenai pajanan pada penyerapan kulit.


39

2.1.5.3 Ingesti
Menelan SO2 sangat dimungkinkan karena SO2 merupakan gas

yang terdapat pada suhu kamar. SO2 digunakan dalam jumlah kecil sebagai

bahan tambahan makanan dan pengawet anggur. Penderita asma bisa

sangat sensitif mengembangkan bronkospasmenya setelah mengonsumsi

makanan atau minum anggur yang diawetkan dengan SO2 atau bahan

pengawet sulfur lainnya.


Konsentrasi
Sumber Polutan SO2: Polutan SO2

 Alamiah
Dampak Kesehatan :
(Gunung Berapi, Manusia
Batuan yang Terpapar SO2:  Saluran Pernafasan
mengandung sulfur, Dosis  Bronkospasme
pembusukan bahan  Inhalasi yang
 Edema Paru
organic oleh mikroba (Pernapasan) diterima
 Ingesti  Sakit Tenggorokan
dan reduksi sulfat tubuh
(Mulut) manusia  Mengi
secara biologis)  Sesak Napas
 Antropogenik  Obstruksi Jalan
(Transportasi, Napas
Target Organ :
industri, pembangkit  Mual-mual
tenaga listrik yang  Paru-paru
menggunakan  Tenggorokan
batubara)  Saluran
Pencernaan
(Lambung)

Bagan 2.1 Jalur Pajanan Polutan SO2 ke Manusia

2.2 Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan

2.2.1 Paradigma Penilaian risiko


Paradigma penilaian risiko yang diterima secara luas meliputi

langkah-langkah identifikasi bahaya, penilaian dosis-respons, penilaian

paparan dan karakterisasi risiko (NRC, 1983). Menggunakan biomarker

untuk mengukur eksposur dapat berkontribusi dalam berbagai langkah,

yaitu, penentuan apakah agen mungkin menimbulkan ancaman bagi


40

kesehatan manusia, ada kebutuhan untuk menghubungkan paparan dengan

hasil yang merugikan. Mengingat efek yang berbeda pada eksposur yang

berbeda, ada kebutuhan untuk memahami efek khusus dari eksposur

berbeda, terutama di tingkat bawah paparan. Kemudian, dalam tahap

penilaian eksposur tingkat eksposur sangat tergantung pada agen dan

lingkungan dan dibangun di atas spesifik model sumber-jalan-receiver

digunakan selama identifikasi bahaya. Model sumber-jalan-receiver adalah

pendekatan umum untuk menghubungkan sumber bahan kimia, jalur

gerakan di lingkungan, dan rute paparan berbagai reseptor, dalam kasus

penilaian risiko individu atau kelompok individu (Nelson 1997). Isu-isu

kritis dalam penilaian paparan meliputi karakterisasi besarnya, frekuensi,

durasi paparan, dasar untuk penilaian, dan identifikasi sub kelompok yang

sangat terbuka. Karakterisasi Risiko memerlukan pertimbangan asumsi

dan model yang digunakan, dan ketidakpastian petugas yang digunakan

dalam mengembangkan perkiraan risiko. Perkiraan ini kemudian menjadi

dasar untuk pilihan yang akan dipilih pada tahap manajemen risiko

(Schulte & Waters, 1999).

Estimasi kuantitatif risiko kesehatan tergantung pada kedua

karakterisasi paparan dan sifat hubungan dosis-respons atau toksisitas dari

agen yang terlibat. Ketidakpastian terbesar dalam penilaian risiko hampir

selalu muncul dari data jarang atau tidak memadai paparan, kurangnya

pemahaman mekanisme toksisitas, dan kurang memahami jalur paparan

dosis-respons (Becking, 1995; McClellan, 1995). Dua faktor tambahan

dapat menyebabkan ketidakpastian dalam ketetapan risiko. Ini termasuk


41

campuran atau beberapa eksposur terlibat dalam jalur penyakit, dan

variabilitas dari kedua eksposur dan tanggapan dalam dan di antara

individu.

Penelitian Risk Assesment Pengelolaan Risiko

 Laboratorium Identifikasi Bahaya


 Lapangan Pengembangan
 Klinik Agen risiko (fisik, kimia, opsi regulasi
 Tempat Kerja biologi) apa saja yang
 Epidemiologi dianggap berbahaya

 Mekanisme Analisis Dose-


toksisitas Response/Karakteristik Karakterisasi
 Pengembangan Pertimbangan
Bahaya Risiko
metode dan ekonomi, social,
validasi politik dan
Bagaimana kejadian Bagaimana
 Dosis ekstrapolasi tersebut dikaitkan dengan efeknya pada
teknologi
dan spesies efek kritis?? populasi??

 Observasi dan Analisis Pajanan


pengukuran
lapangan Siapa akan terpajan Tujuan
 Model riwayat
oleh apa, Keputusan dan
dan perjalanan
kapan,dimana, berapa Aksi
(agen risiko) di
lingkungan lama, dan melalui jalur
pajanan yana mana??

Bagan 2.2 Paradigma Untuk Penelitian/Penilian Risiko/Manajemen Risiko

(NAS/NRC, 1983 dalam Kemenkes 2012)

Ada ambiguitas dalam penilaian terminologi risiko yang harus

diidentifikasi. Misalnya, pertimbangan paparan akan terjadi di dua tempat

dalam model penilaian risiko. Pada tahap identifikasi bahaya, paparan

adalah komponen dari penelitian yang mendasari. Hal ini berbeda dari

tahap penilaian risiko, di mana tingkat paparan dari penduduk (yang

berisiko sedang ditandai) dengan bahaya yang diidentifikasi ditentukan.


42

Dalam arti yang sama, pertimbangan dosis-respons muncul di dua tempat.

Salah satu kriteria bahaya adalah temuan dari hubungan dosis-respons

dalam studi komponen. Selain itu dalam tahap dosis-respons penilaian

risiko, tujuannya adalah untuk memastikan apakah ada hubungan dosis-

respons dalam semua data yang tersedia, mengidentifikasi bentuk kurva

dan memproyeksikan paparan atau tingkat dosis, di mana efek kesehatan

yang dikurangi atau diyakini absen. Akhirnya, konsep kerentanan dapat

beraksi throughtout model penilaian risiko. Dalam identifikasi bahaya gen-

lingkungan interaksi atau efek modifikasi dapat dinilai, dan juga dalam

dosis-respons tahap kepekaan dapat diperhitungkan. Akhirnya, pada tahap

karakterisasi risiko, proyeksi risiko yang berbeda dapat ditentukan untuk

berbagai subkelompok populasi diidentifikasi oleh faktor kerentanan.

Analisis Risiko merupakan sebuah proses untuk mengendalikan

situasi atau keadaan dimana organisme, sistem, atau sub/populasi mungkin

terpajan bahaya. Proses risk analysis meliputi 3 komponen yaitu penilaian

risiko, pengelolaan risiko, dan komunikasi risiko. ARKL merupakan

sebuah proses yang dimaksudkan untuk menghitung atau memprakirakan

risiko pada kesehatan manusia, termasuk juga identifikasi terhadap

keberadaan faktor ketidapastian, penelusuran pada pajanan tertentu,

memperhitungkan karakteristik yang melekat pada agen yang menjadi

perhatian dan karakteristik dari sasaran spesifik (IPCS, 2004 dalam

Besmanto dkk )

Ciri ARKL dimana pajanan agen risiko yang diterima setiap individu

dinyatakan sebagai intake atau asupan. Studi epidemiologi umumnya tidak


43

perlu memperhitungkan asupan individual ini, perhitungan asupan

membutuhkan konsentrasi agen risiko di dalam media lingkungan tertentu,

karakteristik antropometri (seperti berat badan dan laju inhalasi atau pola

konsumsi ) dan pola aktivitas waktu kontak dengan risk agent dan risiko

kesehatan oleh pajanan setiap risk agent dibedakan atas efek karsinogenik

dan efek nonkarsinogenik dengan perhitungan yang berbeda.

ARKL tidak dimaksudkan untuk mencari indikasi, menguji

hubungan atau pengaruh dampak lingkungan terhadap kesehatan (kejadian

penyakit yang berbasis lingkungan), melainkan untuk menghitung atau

menaksir risiko yang telah, sedang dan akan terjadi, besaran risiko pada

ARKL dinyatakan sebagai RQ (Risk Quotient) untuk nonkarsinogenik dan

ECR (Excess Cancer Risk) untuk karsinogenik serta kualitas risiko

nonkarsinogenik dan karsinogenik digunakan untuk merumuskan

pengelolaan dan komunikasi risiko secara spesifik, pada ARKL

menawarkan pengelolaan risiko secara kuantitatif seperti penetapan baku

mutu dan reduksi konsentrasi (Rahman, 2007).

2.2.2 Karakteristik EKL dan ARKL

ARKL masih jarang digunakan dalam kajian dampak lingkungan

terhadap kesehatan masyarakat. Kebanyakan analisis dilakukan secara

konservatif dengan studi epidemiologi. Memang, selama berabad-abad studi

epidemiologi telah menjadi metoda investigasi penyakit infeksi di

masyarakat (WHO 1983). Boleh jadi sebagian akademisi dan praktisi

kesehatan masyarakat berpendapat bahwa epidemiologi merupakan satu-

satunya metoda kajian dampak lingkungan terhadap kesehatan. Oleh karena


44

itu bisa difahami jika masih banyak salah persepsi dan pemertukaran EKL

(Epidemiologi Kesehatan Lingkungan) dengan ARKL (Analisis Risiko

Kesehatan Lingkungan). Sekurang-kurangnya ada 6 ciri yang membedakan

EKL dan ARKL, yaitu:

1. Dalam ARKL, pajanan risk agent yang diterima setiap individu dinyatakan

sebagai intake atau asupan. Studi epidemiologi umumnya tidak (perlu)

memperhitungkan asupan individual ini.

2. Dalam ARKL, perhitungan asupan membutuhkan konsentrasi risk agent di

dalam media lingkungan tertentu, karakteristik antropometri (seperti

berat badan dan laju inhalasi atau pola konsumsi) dan pola aktivitas

waktu kontak dengan risk agent. Dalam EKL konsentrasi dibutuhkan

tetapi karakteristik antropometri dan pola aktivitas individu bukan

determinan utama dalam menetapkan besaran risiko.

3. Dalam ARKL, risiko kesehatan oleh pajanan setiap risk agent dibedakan

atas efek karsinogenik dan efek nonkarsinogenik, dengan perhitungan

yang berbeda. Dalam EKL, teknik analisis efek kanker dan nonkanker

pada dasarnya adalah sama.

4. Dalam EKL, efek kesehatan (kanker dan nonkanker) yang ditentukan

dengan berbagai pernyataan risiko (seperti odd ratio, relative risk atau

standardized mortality ration) didapat dari populasi yang dipelajari.

ARKL tidak dimaksudkan untuk mencari indikasi, menguji hubungan

atau pengaruh dampak lingkungan terhadap kesehatan (kejadian penyakit

yang berbasis lingkungan), melainkan untuk menghitung atau menaksir

risiko yang telah, sedang dan akan terjadi. Efek tersebut, yang dinyatakan
45

sebagai nilai kuantitatif dosis-respon, harus sudah ditegakkan lebih

dahulu, yang didapat dari luar sumber-sumber populasi yang dipelajari,

bahkan dari studi-studi toksisitas uji hayati (bioassay) atau studi

keaktifan biologis risk agent.

5. Dalam ARKL, besaran risiko (dinyatakan sebagai RQ untuk

nonkarsinogenik dan ECR untuk karsinogenik) tidak dibaca sebagai

kelipatan risiko melainkan sebagai besaran probalitias. Jadi misalnya, RQ

= 2 tidak sama dengan OR = 2.

6. Kuantitas risiko nonkarsinogenik dan karsinogenik digunakan untuk

merumuskan pengelolaan dan komunikasi risiko secara lebih spesifik.

ARKL menawarkan pengelolaan risiko secara kuantitatif seperti

penetapan baku mutu dan reduksi konsentrasi. Pengelolaan dan

komunikasi risiko bukan bagian integral studi EKL dan jika ada, hanya

relevan untuk populasi yang dipelajari.


46

Bagan 2.3 Ilustrasi logika pengambilan keputusan untuk menentukan tipe studi
mana yang dapat dilakukan dalam mempelajari efek lingkungan terhadap
kesehatan manusia (ATSDR, 1996 dalam Rahman, 2007)
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya tadi, analisis risiko

terbagi menjadi empat langkah yaitu (1) identifikasi bahaya (hazard

identification), (2) analisis dosis-respon (dose-response assessment), (3)

analisis pemajanan (exposure assessment) dan (4) karakteristik risiko (risk

characterization) seperti digambarkan dalam bagan 2.4 (Louver and

Lovar 1998 dalam Rahman 2007). Risk analysis menggunakan sains,

teknik, probabilitas dan statistik untuk memprakirakan dan menilai besaran

dan kemungkinan risiko kesehatan dan lingkungan yang akan terjadi

sehingga semua pihak yang peduli mengetahui cara mengendalikan dan

mengurangi risiko tersebut.


47

Bagan 2.4 Ruang lingkup langkah-langkah analisis risiko. Penilaian risiko hanya
pada bagian di dalam kotak garis putus-putus. (Louvar-Louvar 1998 hal.5 dalam
Rahman 2007)

2.2.3 Identifikasi Bahaya


Identifikasi bahaya merupakan langkah pertama dalam

ARKL yang digunakan untuk mengetahui secara spesifik agen risiko

apa yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan bila tubuh

terpajan. Sebagai pelengkap dalam identifikasi bahaya dapat ditambahkan

gejala – gejala gangguan kesehatan apa yang terkait erat dengan

agen risiko yang akan dianalisis. Tahapan ini harus menjawab

pertanyaan agen risiko spesifik apa yang berbahaya, di media lingkungan

yang mana agen risiko sering ditemukan, seberapa besar

kandungan/konsentrasi agen risiko di media lingkungan, gejala kesehatan

apa yang potensial. (Kemenkes, 2012)


48

2.2.4 Penilaian Dosis Respon


Setelah melakukan identifikasi bahaya (agen risiko, konsentrasi

dan media lingkungan ), maka tahap selanjutnya adalah melakukan

analisis dosis- respons yaitu mencari nilai RfD (Reference Dose untuk

jalur ingesti), dan/atau RfC (Reference Concentration untuk jalur inhalasi),

dan/atau CSF (Cancer Slope Factor) dari agen risiko yang menjadi fokus

ARKL, serta memahami efek apa saja yang mungkin ditimbulkan oleh

agen risiko tersebut pada tubuh manusia. Analisis dosis respon ini tidak

harus dengan melakukan penelitian percobaan sendiri namun cukup

dengan merujuk pada literatur yang tersedia. Langkah analisis dosis respon

ini dimaksudkan untuk

a) Mengetahui jalur pajanan (pathways) dari suatu agen risiko

masuk ke dalam tubuh manusia.

b) Memahami perubahan gejala atau efek kesehatan yang terjadi akibat

peningkatan konsentrasi atau dosis agen risiko yang masuk ke dalam

tubuh.

c) Mengetahui dosis referensi (RfD) atau konsentrasi referensi (RfC) atau

slope factor (SF) dari agen risiko tersebut. Di dalam laporan kajian

ARKL ataupun dokumen yang menggunakan ARKL sebagai

cara/metode kajian, analisis dosis – respon perlu dibahas dan

dicantumkan. Analisis dosis – respon dipelajari dari berbagai

toxicological reviews, jurnal ilmiah, atau artikel terkait lainnya

yang merupakan hasil dari penelitian eksperimental.

Di dalam laporan kajian ARKL ataupun dokumen yang menggunakan


49

ARKL sebagai cara/ metode kajian, analisis dosis – respon perlu dibahas

dan dicantumkan. Analisis dosis – respon dipelajari dari berbagai tinjauan

toksikologi, jurnal ilmiah, atau artikel terkait lainnya yang merupakan

hasil dari penelitian eksperimental. Untuk memudahkan, analisis dosis

– respon dapat dipelajari pada situs : www.epa.gov/iris

Uraian tentang dosis referensi (RfD), konsentrasi referensi (RfC), dan slope

factor (SF) adalah sebagai berikut :

a. Dosis referensi dan konsentrasi yang selanjutnya disebut RfD dan

RfC adalah nilai yang dijadikan referensi untuk nilai yang aman

pada efek non karsinogenik suatu agen risiko, sedangkan SF (slope

factor) adalah referensi untuk nilai yang aman pada efek

karsinogenik.

b. Nilai RfD, RfC, dan SF merupakan hasil penelitian (experimental

study) dari berbagai sumber baik yang dilakukan langsung pada

obyek manusia maupun merupakan ekstrapolasi dari hewan

percobaan ke manusia.

c. Untuk mengetahui RfC, RfD, dan SF suatu agen risiko dapat dilihat

pada Integrated Risk Information System (IRIS) yang bisa diakses di

situs www.epa.gov/iris.

d. Jika tidak ada RfD, RfC, dan SF maka nilai dapat diturunkan dari

dosis eksperimental yang lain seperti NOAEL (No Observed

Adverse Effect Level), LOAEL (Lowest Observed Adverse Effect

Level), MRL (Minimum Risk Level), baku mutu udara ambien pada

NAAQS (National Ambient Air Quality Standard) dengan catatan


50

dosis eksperimental tersebut mencantumkan faktor antropometri yang

jelas (Wb, tE, fE, dan Dt).

Satuan dosis referensi (RfD) dinyatakan sebagai milligram (mg) zat

per kilogram (kg) berat badan per hari, disingkat mg/kg/hari. Dalam

literatur terkadang ditulis mg/kgxhari, mg/kg/hari, dan mg/kg-hari.

Satuan konsentrasi referensi (RfC) dinyatakan sebagai milligram (mg) zat

per meter kubik (m3) udara, disingkat mg/m3. Konsentrasi referensi ini

dinormalisasikan menjadi satuan mg/kg/hari dengan ara memasukkan laju

inhalasi dan berat badan yang bersangkutan.

Tabel 2.4
Contoh RfC beberapa agen risiko atau spesi kimia jalur inhalasi

No Agent Dosis Respon Efek Kritis dan Referensi

Kenaikan keparahan ninitis dan pneumonia dengan


1 NH3 2,86E-2 lesi pernafasan pada uji hayati tikus subkronik
(Broderson et al 1976)

Lesi nasal lender olfaktori pada uji hayati tikus


2 H2S 5,71E-4
subkronik (Brenneman et al 2000)

Perubahan tingkat enzim an perkembangan


3 Pb 4,93E-4
neurobehavioral anak-anak (IRIS 2006)

4 NO2 2E-2 Gangguan saluran pernafasan (EPA/NAAQS 1990)

5 SO2 0,21 Gangguan saluran pernafasan (EPA/NAAQS 2010)

6 TSP 2,42 Gangguan saluran pernafasan (EPA/NAAQS 1990)

Sumber: (Rahman, 2007) (EPA, 2010)


51

2.2.5 Analisis Pemajanan


Setelah melakukan langkah 1 dan 2, selanjutnya dilakukan Analisis

pemajanan yaitu dengan mengukur atau menghitung intake / asupan

dari agen risiko. Untuk menghitung intake digunakan persamaan atau

rumus yang berbeda. Data yang digunakan untuk melakukan

perhitungan dapat berupa data primer (hasil pengukuran konsentrasi agen

risiko pada media lingkungan yang dilakukan sendiri) atau data sekunder

(pengukuran konsentrasi agen risiko pada media lingkungan yang

dilakukan oleh pihak lain yang dipercaya seperti BLH, Dinas

Kesehatan, LSM, dll), dan asumsi yang didasarkan pertimbangan

yang logis atau menggunakan nilai default yang tersedia. Data yang

digunakan untuk melakukan perhitungan intake yaitu:

1. Konsentrasi agen risiko

2. Laju asupan atau banyaknya volume udara yang masuk setiap

jamnya. Oleh karena laju asupan berhubungan dengan berat badan,

berdasarkan data yang tersedia Abrianto (2004) merumuskan

hubungan berat badan dengan laju asupan dengan persamaan regresi

linier y= 5,3 Ln(x) – 6,9. Dengan y = R (m3/hari) dan x = Wb (kg).

3. Lamanya atau jumlah jam terpajan setiap harinya

4. Lamanya atau jumlah hari terpajan setiap tahun

5. Lamanya atau jumlah tahun terjadinya pajanan

6. Berat badan

Adapun rumus perhitungan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Perhitungan intake non karsinogenik ( )

Intake pada jalur pemajanan inhalasi (terhirup)


52

Keterangan :

Tabel 2.5
Keterangan Perhitungan Intake Non Karsinogenik Pada Jalur Inhalasi

Notasi Definisi Satuan Nilai default

I (Intake) Jumlah konsentrasi mg/kg x Tidak ada nilai default


agen risiko (mg) yang hari
masuk ke dalam tubuh
manusia dengan berat
badan tertentu (kg) setiap
harinya konsentrasi agen
risiko

C pada media udara mg/m3 Tidak ada nilai default


(Concentration) (udara ambien)

Laju asupan atau Dewasa (>13 tahun) :


banyaknya volume 3
0,83 m3
R (Rate) m /jam
udara yang masuk setiap
/jam
Laju Asupan jamnya
(Inhalasi) Anak – anak (6 – 12
tahun) : 0,5 m3 /jam

tE (time of Lamanya atau jumlah Jam/hari Pajanan pada


exposure) jam terjadinya pajanan pemukiman :
setiap harinya
Waktu 24 jam/hari
Pajanan
- Pajanan pada
53

lingkungan

kerja : 8 jam/hari

- Pajanan pada
sekolah dasar :

6 jam/hari

fE (frecuency Lamanya atau jumlah Hari/tahu - Pajanan pada


of hari terjadinya pajanan n pemukiman :
setiap tahunnya
exposure) 350 hari/tahun

Frekuensi - Pajanan pada


Pajanan lingkungan

kerja : 250 hari/tahun

Dt (duration Lamanya atau jumlah Tahun Residensial


time) tahun terjadinya pajanan
(pemukiman)
Durasi /pajanan seumur
Pajanan hidup : 30

tahun (lifetime)
ataupun secara
realtime

Wb (weight of Berat badan manusia / Kg - Dewasa asia /


body) populasi / kelompok Indonesia : 55 Kg

Berat Badan Populasi Anak – anak : 15 Kg

tavg (non Periode waktu rata – Hari 30 tahun x 365


karsinogenik) rata untuk efek non hari/tahun =
karsinogen
54

(time average) 10.950 hari

Laju inhalasi dapat diturunkan dari berat badan dengan persamaan

logaritmik. Nilai laju inhalasi normal (Abrianto, 2004) , yaitu dengan

persamaan y = 5,3 ln(x)-6,9 dengan y = R (m3/hari) dan x = Wb (kg).

nilai laju inhalasi ini dianggap paling cocok dengan masyarakat

Indonesia karena sesuai dengan berat badan masing-masing individu.

Sama halnya dengan nilai laju inhalasi (asupan), untuk nilai durasi

pajanan, waktu pajanan dan frekuensi pajanan dapat disesuaikan dengan

lama tinggal masyarakat di lokasi penelitian sehingga dapat diketahui

lama individu sebenarnya (real time) berdiam diri di lokasi penelitian.

2.2.6 Karakteristik Risiko


Langkah ARKL yang terakhir adalah karakterisasi risiko yang

dilakukan untuk menetapkan tingkat risiko atau dengan kata lain

menentukan apakah agen risiko pada konsentrasi tertentu yang dianalisis

pada ARKL berisiko menimbulkan gangguan kesehatan pada masyarakat

(dengan karakteristik seperti berat badan, laju inhalasi/konsumsi,

waktu, frekuensi, durasi pajanan yang tertentu) atau tidak. Karakteristik

risiko dilakukan dengan membandingkan / membagi intake dengan

dosis /konsentrasi agen risiko tersebut. Variabel yang digunakan untuk

menghitung tingkat risiko adalah intake (yang didapatkan dari analisis

pemajanan) dan dosis referensi (RfD) / konsentrasi referensi (RfC) yang

didapat dari literatur yang ada.


55

Nilai RQ didapatkan dengan menggunakan rumus

Keterangan :

I : Intake dari hasil perhitungan penilaian pajanan (mg/kg/hari)

RfC : Dosis atau konsentrasi referensi secara inhalasi (mg/kg/hari)

Hasil perhitungan RQ akan diketahui :

1. Jika RQ > 1, maka konsetrasi agen berisiko dapat menimbulkan efek

merugikan kesehatan

2. Jika RQ ≤ 1, maka konsentrasi agen belum berisiko menimbulkan

efek kesehatan

2.2.7 Manajemen Risiko


Berdasarkan hasil dari analisi risiko, dapat dirumuskan beberapa

pilihan manajemen risiko untuk meminimalkan RQ dengan memanipulasi

nilai faktor-faktor pemajanan yang berada dalam persamaan intake

sehingga asupan lebih kecil atau sama dengan dosis referensi toksisitasnya.

Pada dasarnya hanya ada dua cara menyamakan intake dengan RfC, yaitu

menurunkan konsentrasi risk agent atau mengurangi waktu kontak. Berarti

hanya variabel-variabel permasamaan inatake tertentu saja yang bisa

diubah-ubah nilainya.

1) Rumus mencari konsentrasi aman

2) Rumus mencari waktu pajanan yang aman


56

3) Rumus mencari frekuensi pajanan yang aman

Dengan keterangan :

Ink = Intake (mg/kg/hari)

C = Konsentrasi SO2

R = Laju asupan udara (m3/jam)

tE = Waktu pajanan harian (jam/hari)

fE = Frekuensi pajanan (hari/tahun)

Wb = Berat badan responden (kg)

Dt = Durasi pajanan (real time, 30 tahun untuk lifetime)

tavg = Periode waktu rata-rata (30 tahun x 365 hari/tahun untuk zat

nonkarsinogenik)

RfC = Konsentrasi referensi (mg/kg/hari)

RQ = Risk Qoutient (besar risiko)

Cmaks = Konsentrasi agen risiko yang aman (mg/m3)

tEmaks = Waktu pajanan yang aman (hari/tahun)

fEmaks = Frekuensi pajanan yang aman (hari/tahun


57

 Faktor Iklim (suhu, kelembaban,


Sumber : kecepatan angin, curah hujan, radiasi
 Alamiah matahari)
 Kegiatan Manusia  Interaksi dengan polutan lain

Peningkatan zat
pencemar SO2 di
udara

Identifikasi Bahaya

Analisis Pemajanan Analisis Dosis- Respon

Pajanan ke Manusia Antropometri:


NOAEL  Laju Inhalasi
/LOAEL  Berat Badan

Pola Aktivitas
 Waktu Pajanan
 Frekuensi Pajanan
Penelitian RfC  Durasi Pajanan
Epidemiologi  Periode Waktu
atau hewan Rata-rata Harian
Karakterisasi Risiko
(RQ)

RQ > 1 RQ ≤ 1

Manajemen Risiko

Bagan 2.5 Alur Kerja ARKL


58

2.3 Paradigma Kesehatan Lingkungan

Patogenesis penyakit berbasis lingkungan dapat digambarkan ke

dalam suatu model atau paradigma. Paradigma tersebut menggambarkan

hubungan interaksi antara kompnen lingkungan yang memiliki potensi

bahaya penyakit dengan manusia. Hubungan interaktif tersebut pada

hakikatnya adalah paradigm kesehatan lingkungan.

Dengan mempelajari patogenesis penyakit, kita dapat menentukan

pada titik mana atau simpul mana kita bisa melakukan pencegahan. Tanpa

memahami patogenesis atau proses kejadian penyakit berbasis lingkungan,

sulit melakukan pencegahan.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa kejadian penyakit merupakan

hasil hubungan interaktif antara manusia dan perilakunya serta komponen

lingkungan yang memiliki potensi penyakit. Perilaku penduduk dikenal

berakar pada budaya. Perilaku penduduk yang merupakan salah satu

representasi budaya merupakan salah satu variabel kependudukan.

Variabel kependudukan lain seperti kepadatan, umur, gender, pendidikan,

genetik, dan lain sebagainya. Dengan demikian, kejadian penyakit pada

hakikatnya hanya dipengaruhi oleh variabel-variabel lingkungan. Dengan

kata lain pula, gangguan kesehatan merupakan resultant dari hubungan

interaktif antara lingkungan dan variabel kependudukan

Patogenesis penyakit dalam perspektif lingkungan dan

kependudukan dapat digambarkan dalam teori simpul pada gambar 2.3.

Dengan mengacu kepada gambaran skematik tersebut di atas, maka

patogenesis atau proses kejadian penyakit berbasis lingkungan dapat


59

diuraikan ke dalam 5 simpul, yakni simpul 1, kita sebut sebagai sumber

penyakit; simpul 2, komponen lingkungan yang merupakan media

transmisi penyakit; simpul 3, penduduk dengan berbagai variabel

kependudukan seperti pendidikan, perilaku, kepadatan, gender;

Gambar 2.2 Paradigma Kesehatan Lingkungan (Teori Simpul) (Achmadi,2012)

sedangkan simpul 4, penduduk yang dalam keadaan sehat atau sakit

setelah mengalami interaksi atau exposuredengan komponen

lingkunganyang mengandung agen penyakit. Sedangkan simpul ke-5

adalah semua variabel yang memiliki pengaruh terhadap keempat simpul

tersebut. Sebagai contoh adalah iklim, kebijakan, topografi, dan suhu

lingkungan. Titik-titik simpul tersebut pada dasarnya menuntun kita

sebagai simpul pencegahan atau simpul manajemen. Untuk mencegah

penyakit tertentu tidak perlu menunggu hingga simpul 4 terjadi. Dengan


60

mengendalikan sumber penyakit, kita dapat mencegah sebuah proses

kejadian hingga simpul 3, 4, atau 5. (Achmadi, 2012)

2.4 Kerangka Teori


Berdasarkan teori, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi

risiko pajanan SO2 pada populasi berisiko, yaitu konsentrasi SO2 di

lingkungan, karakteristik antropometri (laju inhalasi, berat badan), pola

aktivitas (waktu pajanan, frekuensi pajanan, durasi pajanan, periode waktu

rata-rata harian), dan konsentrasi rujukan (RfC). Konsentrasi SO2

dipengaruhi oleh sumber pencemar, faktor iklim dan interaksi dengan

polutan lain. Konsentrasi rujukan (RfC) didapat berdasarkan hasil

penelitian penelitian epidemiologi atau perhitungan besar kecil toksisitas

kronik objek kajian (NOAEL dan LOAEL). Data karakteristik

antropometri dan pola aktivitas dapat diperoleh dari hasil survey, hasil

penelitian sebelumnya, rujukan nilai yang ditetapkan oleh lembaga

penelitian pemerintah, atau nilai internasional (default).


Manajemen Risiko

Sumber Polutan SO2


Pola Aktivitas dan
 Alamiah (Gunung
Karakteristik Antropometri
Berapi,
Manusia
pembusukan bahan Udara
organik oleh  Waktu Kontak Pajanan
Air
mikroba dan  Frekuensi Pajanan Intake/ Risiko
reduksi sulfat Pangan  Durasi Pajanan Asupan Kesehatan
secara biologis)  Periode waktu rata-rata
 Antropogenik Vektor Penular
 Berat Badan
(pembakaran bahan  Laju inhalasi/ingesti/oral
Manusia
bakar minyak, gas
dan batubara
seperti dari
transportasi dan
kegiatan industri)
Kebijakan; perkembangan ekonomi, sosial, politik dan teknologi

Bagan 2.6 Kerangka Teori ARKL SO2

Sumber: IPCS (2004),(Rahman (2007), (Achmadi,2012) dan Pedoman ARKL Kemenkes (2012), ATSDR(2014)

61
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1 Kerangka Konsep


Berdasarkan kerangka teori dan jalur migrasinya dapat

disimpulkan bahwa konsentrasi SO2 pada udara ambien di permukiman

sekitar industri PT. Pusri Palembang dapat terpajan ke masyarakat melalui

jalur inhalasi lalu masuk ke dalam tubuh manusia tersebut. Intake (Asupan

SO2) pada populasi dipengaruhi oleh konsentrasi SO2 di udara ambien,

antropometri dan pola aktivitas populasi berisiko. Sedangkan tingkat risiko

kesehatan aman atau tidak amannya masyarakat di permukiman dapat

diperoleh dengan cara membagi asupan Intake (Asupan SO2) dengan

konsentrasi rujukan (RfC) yang nilainya bersifat konstanta.

Konsentrasi SO2 dipengaruhi oleh faktor iklim seperti suhu,

kelembaban, dan kecepatan angin, namun untuk variabel-variabel yang

mempengaruhi konsentrasi SO2 ini tidak diukur dalam penelitian kali ini.

Yang termasuk variabel antropometri adalah laju asupan dan berat badan.

Sedangkan yang termasuk variabel pola aktivitas adalah waktu pajanan,

frekuensi pajanan, durasi pajanan, dan durasi pemajanan. Penghitungan

karakteristik risiko dipengaruhi oleh nilai konsentrasi rujukan. Konsentrasi

rujukan (RfC) merupakan nilai kuantitatif toksisitas suatu agen. Apabila

tingkat risiko kesehatan (RQ) lebih besar dari satu, maka perlu dilakukan

upaya pengelolaan risiko melalui manajemen risiko.

62
63

Karakteristik Individu

 Berat Badan
 Laju Asupan

Pola Aktivitas

 Frekuensi Pajanan
Besar Risiko
 Durasi Pajanan Intake (Asupan (RQ) SO2 dalam
 Waktu Pajanan SO2) udara ambien
Konsentrasi SO2 yang
terpajan oleh masyarakat
yang bermukim di sekitar
industri PT. Pusri
Palembang

Bagan 3.1 Kerangka Konsep ARKL SO2


64

3.2 Definisi Operasional


Hasil Ukur/
No. Variabel Definisi Cara Ukur Alat Ukur Skala Ukur
Satuan

1 Konsentrasi Kandungan gas SO2 yang

SO2 di udara terdapat dalam satuan volume

(C) udara ambien di pemukiman Menggunakan metode


Impinger mg/ m3 Rasio
sekitar PT.Pusri pada jarak pararosanilin

1300 meter dari sumber emisi

PT. Pusri Palembang

2 Berat Badan Satuan massa berat badan


Pengukuran berat Timbangan
manusia pada saat penelitian Kg Rasio
(Wb) badan Berat Badan
dilakukan (Kemenkes, 2012)

3 Laju Asupan Volume udara yang dihirup per Memasukkan nilai Rumus
m3/jam Rasio
(R) jam berat badan ke dalam perhitungan laju

64
regresi laju asupan asupan

4 Waktu Pajanan Lamanya seseorang terpajan oleh


Wawancara Kuisioner Jam/hari Rasio
( ) SO2 di lokasi penelitian

5 Frekuensi Lamanya masyarakat tinggal di

Pajanan (fE) tempat penelitian dihitung


Wawancara Kuisioner Hari/tahun Rasio
menurut hari dalam setahun.

(Rahman, 2005)

6 Durasi Pajanan Lamanya waktu terpajan oleh

( ) SO2 di lokasi penelitian dihitung


Wawancara Kuisioner Tahun Rasio
mulai dari masyarakat tinggal di

lokasi penelitian

7 Intake/ Asupan Banyaknya jumlah konsentrasi Memasukkan data

SO2 ( SO2 yang memiliki efek non konsentrasi, laju mg/kg/hari Rasio
Rumus
kanker (tidak menyebabkan asupan, berat badan,
perhitungan

65
kanker) pada sebuah media waktu pajanan, Intake (Asupan)

lingkungan, yang masuk ke frekuensi pajanan, dan menggunakan

dalam tubuh manusia setiap surasi pajanan ke kalkulator

harinya yang dinyatakan dalam dalam rumus

satuan mg/kg/hari (Kemenkes, perhitungan

2012).

8 Karakteristik Besarnya risiko yang dinyatakan Perhitungaan RQ < 1 :

Risiko (RQ) dalam angka tanpa satuan yang karakterisasi risiko Rumus tidak

merupakan perhitungan untuk efek kronis Perhitungan berpotensi

perbandingan antara intake nonkarsinogenik tingkat risiko gangguan

dengan dosis dibagi konsentrasi dengan dengan kesehatan Rasio

referensi dari suatu agen risiko membandingkan menggunakan


RQ ≥ 1 :
non karsinogenik dapat juga asupan SO2 pada kalkulator
berpotensi
diinterpretasikan sebagai populasi dengan dosis
menimbulka
aman/tidak amannya suatu agen referensi inhalasi SO2.
n gangguan

66
risiko terhadap organisme, kesehatan

sistem, atau sub/populasi.

(Kemenkes, 2012).

67
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode studi

ARKL sebagai dampak pajanan SO2 di udara pada penduduk yang bermukim

di sekitar PT. Pusri Palembang. ARKL bertujuan memperkirakan risiko yang

diterima suatu masyarakat akibat pajanan agen-agen pencemar di lingkungan.

ARKL bukan studi epidemiologi yang memaparkan efek-efek kesehatan dan

agen sebagai variabel independen dengan tujuan memperoleh hubungan

kausalitas antar variabel yang dipaparkan.

Studi ARKL dalam penelitian ini digunakan untuk mengestimasi

risiko pajanan SO2 di dalam udara ambien di pemukiman penduduk sekitar

industri PT. Pusri Kota Palembang Provinsi Sumatera Selatan tahun 2016.

Langkah studi ARKL (Rahman, 2008) antara lain identifikasi bahaya, analisis

pemajanan, analisis dosis-respon, dan karakteristik risiko serta manajemen

risiko apabila nilai besar risiko lebih dari satu (RQ>1).

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian adalah di wilayah sekitar kawasan PT. Pusri Palembang

dengan radius 1.300 meter yang peneliti tentukan yaitu dengan asumsi dari

sumber cerobong emisi gas PT. Pusri Palembang (Packed Boiler) yang terdiri

dari RW 7 dan RW 4 (Kelurahan Sungai Buah), RW 01 dan 08 (Kelurahan 3

68
69

Ilir), RW 01 RW 04 (Kelurahan 1 Ilir), dan RW 04, RW 07 dan RW 08

(Kelurahan Tangga Takat) dan berdasarkan faktor yang menyebutkan bahwa

semakin tinggi stack (cerobong) maka konsentrasi polutan yang menyebar di

lingkungan hingga sampai dipermukaan tanah akan semakin menurun dan

terus berkurang dengan bertambahnya jarak dari sumber (Juliani, dkk).

Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2016.

Gambar 4.1 Lokasi Penelitian

Sumber : Google earth

Keterangan :

: Radius 1.300 meter

: Titik Emisi PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang


70

4.3 Subjek Studi

Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan mempunyai 2 subjek studi, yaitu :

1. Populasi manusia yang berisiko.

2. Risk agent, terdapat dalam media lingkungan yang menjalani populasi

manusia yang berisiko

4.4 Populasi dan Sampel Penelitian

4.4.1 Populasi Subyek

Populasi pada penelitian ini adalah penduduk yang bermukim

di daerah sekitar industri PT. Pusri Palembang dengan radius 1.300

meter yang terpajan SO2 pada saat dan sebelum penelitian ini

berlangsung.

4.4.2 Sampel

1. Manusia

Sampel pada penelitian ini adalah masyarakat dewasa yang

berumur 17 tahun keatas yang bermukim lebih dari 2 tahun di

lokasi penelitian dengan radius 1.300 meter dari pusat industri PT.

Pusri Palembang

2. Lingkungan (Udara)

Sampel lingkungan adalah udara ambien di pemukiman penduduk

sekitar industri PT.Pupuk Sriwidjaja Palembang, dikumpulkan

dengan metode pararosanilin dengan peralatan impinger.


71

4.4.3 Pengambilan dan Perhitungan Sampel Manusia


Pemilihan sampel penelitian dilakukan dengan mengestimasi

rata-rata jumlah penduduk dewasa yang terbagi ke dalam 3

pembagian lokasi. Dimana lokasi ditentukan berdasarkan jarak emisi

gas buang PT. Pusri Palembang yaitu 800 meter, 1.050 meter, 1.300

meter. Maka lokasi 1 yaitu penduduk yang bermukim di radius 800

meter, lokasi 2 yaitu penduduk yang bermukim di antara radius 800-

1050 meter, lokasi 3 yaitu penduduk yang bermukim di antara radius

1050-1300 meter

Gambar 4.2 Cluster Sampling

Keterangan :

: Radius 800 meter

: Radius 1050 meter

: Radius 1300 meter


72

Penentuan sampel subyek dalam penelitian ini menggunakan rumus

estimasi rata-rata pada sampel acak sederhana dengan presisi mutlak

dikarenakan variabel-variabel yang digunakan berskala rasio, yaitu :

Keterangan:

n : Besar Sampel

N : Besar Populasi

: Nilai standar distribusi normal (derajat kepercayaan 95%)

σ : Standar deviasi penelitian sebelumnya

d : Tingkat ketelitian yang diinginkan (dalam penelitian ini

digunakan sebesar 10%)

Dengan menggunakan rumus di atas, diperoleh jumlah sampel dalam

penelitian ini sebagai berikut :

N : 5165 Data Kependudukan di Kelurahan Sungai Buah, 1 Ilir, 3

Ilir dan Tangga Takat, 2013)

: 1,96

σ : 0,6

d : 0,1

Deff :2
73

x2

n = 269,4 = 270 (dibulatkan)

Total sampel minimal yang dibutuhkan sebesar 270 sampel. Berdasarkan

pembagian 3 daerah radius lokasi penelitian untuk penentuan besar sampel

di setiap radiusnya menggunakan rumus proporsi dengan populasi

diketahui, yaitu:

Proporsi =

Radius 800 meter (Kelurahan 1 Ilir)

Radius 1050 meter (Kelurahan Sungai Buah)

Radius 1300 meter (Kelurahan 3 ilir dan

Tangga Takat)

Dari keseluruhan total sampel minimal yang dibutuhkan ditambahkan 10%

sebagai sampel cadangan, sehingga total sampel yang diambil sebesar 297

responden dengan rincian pada cluster 1 sebanyak 42 orang, cluster 2

sebanyak 100 orang dan cluster 3 sebanyak 155 orang.

4.4.4 Teknik Pengambilan Sampel Lingkungan (SO2)

Penentuan jumlah titik sampling dilakukan menggunakan kurva

aproksimasi. Jumlah titik yang ditentukan berdasarkan jumlah penduduk

di suatu wilayah dan level pencemaran (Soedomo,2001) . Penentuan titik

sampling kategori SO2 disesuaikan dengan kategori PM2,5, karena PM2,5


74

dihasilkan oleh reaksi kimia yang melibatkan SO2 didalamnya (CENR,

2000). Jumlah penduduk di lokasi penelitian ini adalah 5165 jiwa dan

tingkat pencemaran tergolong rendah karena terdapat satu sumber

potensial. Berdasarkan kategori tersebut dengan jumlah penduduk di

bawah 1 juta jiwa dan tingkat pencemaran rendah maka diperlukan 10

titik pemantauan udara (Soedomo, 2001). Pengukuran konsentrasi udara

dilakukan di pagi, sore, dan malam hari (PERMENLH No. 12 tahun

2010). Dalam SNI 19-7119.7-2005 mengenai penentuan lokasi

pengambilan contoh uji pemantauan kualitas udara ambien, yaitu

pengukuran konsentrasi SO2 dilakukan di titik sampling menghadap ke

arah angin dominan dimana arah angin dominan dapat berasal dari data

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Penentuan

lokasi pengambilan sampel objek juga ditetapkan dengan

mempertimbangkan faktor meteorologi, geografi dan tata guna lahan.

Sumber : Google earth


Gambar 4.3 Titik Pengambilan Sampel Udara
75

Keterangan :

: Radius 1300 meter

: Titik emisi PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang

: Titik Pengambilan Sampel Udara

4.4.5 Metode Pengukuran Konsentrasi Sulfur dioksida (SO2)


Pengukuran kualitas udara ambien di pemukiman penduduk

sekitar industri PT. Pusri Palembang dilakukan oleh petugas Balai

Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit

Palembang bersama peneliti. Pengukuran gas SO2 dilakukan dengan

alat berupa pompa vacuum dan tabung impinger serta penyerap

(absorbant) larutan 0,1 N sodium tetracholoromercurate.

Pemasangan dan Pompa Catat Laju Sampel Dibawa


Penyusunan Penghisap Alir Awal ke Laboratorium
Tabung Impinger Dihidupkan Untuk Dianalisa

Bagan 4.1 Skema Rangkaian Alat Sampling SO2

Tahapan pengukuran gas SO2 adalah sebagai berikut (BTKL-PP

Palembang, 2016) :

1. Memasang dan menyusun perlatan pengambilan sampel yaitu

tabung impinger, lalu tabung diisi dengan larutan penyerap untuk

SO2
76

2. Hidupkan pompa penghisap udara setelah diatur lajur alir (flow

rate) pompa 0,5-1 L/menit.

3. Setelah laju alir stabil catat sebagai laju alir awal

4. Setelah dilakukan pengukuran selama 1 jam larutan penyerap

(absorbant) SO2 disimpan didalam kotak pendingin (cold box)

sebelum dibawa ke laboratorium BTKL-PP Palembang untuk

dianilisis. Setelah sampai di laboratorium BTKL-PP Palembang

sampel yang telah diambil sebelumnya akan dianalisis oleh

tenaga laboran yang telah ditunjuk oleh pihak BTKL-PP

Palembang. Analisa laboratorium dilakukan dengan metode

Pararosanilin dan dengan alat yang digunakan untuk analisa

laboratorium menggunakan spektrofotometer. Prosedur analisis di

laboratorium untuk sampel SO2 mengikuti SNI 19-7119.7-2005.

(prosedur selengkapnya ada pada lampiran)

4.4.6 Analisa Sampel SO2

Sampel udara yang telah didapat dilakukan pemeriksaan di BTKL-PP

Palembang dengan menggunakan metode spektofotometri. Volum contoh uji

udara yang diambil dikoreksi pada kondisi normal (250C, 760 mmHg) dengan

menggunakan rumus sebagai berikut :


77

Keterangan :

V = Volum udara yang dihisap (L)

F1 = Laju alir awal (L/menit)

F2 = Laju alir akhir (L/menit)

t = Durasi pengambilan contoh uji (menit)

Pa = Tekanan barometer rata-rata selama pengambilan contoh uji

(mmHg)

Ta = Temperatur rata-rata selama pengambilan contoh uji (K)

298 = Temperatur pada kondisi normal 250 C (K)

760 = Tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)

4.4.6.1 Konsentrasi sulfur dioksida (SO2) di udara ambien


a) Konsentrasi SO2 dalam contoh uji untuk pengambilan contoh uji selama 1

jam dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan :

C = Konsentrasi SO2 di udara (µg/Nm3)

A = Jumlah SO2 dari contoh uji dengan melihat kurva kalibrasi (µg)

V = Volum udara pada kondisi normal (L)

1000 adalah konversi liter (L) ke m3


78

b) Konsentrasi SO2 dalam contoh uji untuk pengambilan contoh uji selama

24 jam dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

C = Konsentrasi SO2 di udara (µg/Nm3)

a = Jumlah SO2 dari contoh uji dengan melihat kurva kalibrasi (µg)

V = Volum udara pada kondisi normal (L)

50= Jumlah total larutan penjerap yang dipakai untuk pengambilan contoh

uji 24 jam

5 = Volum yang dipipet untuk dianalisis dengan spektofotometer

(SNI 19-7119.7-2005)

Setelah dilakukan perhitungan sesuai dengan perhitungan yang tertera

pada panduan cara uji kadar SO2 dengan metoda pararosanilin menggunakan

spektrofotometer yang dikeluarkan oleh Badan Standar Nasional (BSN) maka

akan didapatkan hasil berupa nilai konsentrasi SO2 untuk setiap titik lokasi

pengambilan polutan udara SO2 yang dijadikan sampel penelitian. (SNI 19-

7119.7.2005)

4.5 Pengolahan dan Penyajian Data

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini didapat melalui

pengumpulan data yang berupa data primer dan data sekunder yaitu sebagai

berikut
79

1. Data Primer

Data Primer diperoleh peneliti dengan pengukuran langsung di tempat

penelitian yang terdiri dari konsentrasi SO2, laju asupan, durasi pajanan,

dan berat badan

2. Data Sekunder

Data Sekunder diperoleh dari data Riskesdas tahun 2013, dasar

kesehatan Kota pelembang, literatur-literatur yang terkait penelitian ini.

Data-data primer yang telah dihitung kemudian dilanjutkan dengan tahap-

tahap sebagai berikut :

1) Editing (pemeriksaan data)

Editing merupakan kegiatan pengecekan dan perbaikan terhadap

semua isian kuesioner yang telah dikumpulkan, setelah pengambilan data

di lapangan dan uji laboratorium telah selesai. Kuisioner-kuisioner yang

telah dikumpulkan pada saat pengambilan data di lapangan sebelumnya

diperiksa kembali untuk memastikan bahwa data yang diperoleh semua

terisi, konsisten, relevan dan dapat dibaca dengan baik. Kegiatan ini

dilakukan secara manual dengan memeriksa satu-persatu dari 297 buah

kuisioner yang didapat pada saat turun lapangan.

2) Coding (pemberian kode )

Setelah data diperiksa ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi

kode oleh peneliti secara manual yakni mengubah data berbentuk kalimat
80

atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Kegiatan coding ini dilakukan

pada perangkat lunak khusus pengolahan data.

3) Entry (pemasukan data ke komputer) atau processing

Data yang sudah diberi kode (huruf atau angka) sebelumnya tadi

dimasukkan ke program komputer untuk diolah menggunakan perangkat

lunak pengolahan data untuk mencari ditribusi frekuensi tiap-tiap

variabelnya.

4) Cleaning (Pembersihan Data)

Kegiatan terakhir adalah cleaning yaitu pemeriksaan kembali semua

data yang telah dimasukkan ke dalam program komputer guna menghindari

terjadinya kesalahan pemasukan data.

4.6 Teknik dan Analisis Data

Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini terbagi dua (2), yaitu

analisis univariat dan analisis risiko.

4.6.1 Analisis Univariat

Analisis ini bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan

masing-masing variabel yang diteliti. Variabel tersebut adalah

konsentrasi SO2 di udara, frekuensi pajanan, lama pajanan,

waktu/durasi pajanan, berat badan dan laju asupan, . Untuk melihat

normalitas data digunakan uji Kolmogorof-Smirnov. Jika data

terdistribusi secara normal, maka nilai tengah variabel tersebut adalah


81

mean, tetapi jika data terdistribusi tidak normal maka digunakan

median. Hasil analisis dari masing-masing variabel kemudian disajikan

dalam bentuk tabel atau diagram batang.

4.6.2 Analisis Risiko

Data yang terkumpul yaitu konsentrasi SO2 sebagai agen

risiko, kondisi antropometri (laju inhalasi dan berat badan), pola

aktivitas (waktu, frekuensi, durasi pajanan, periode waktu rata-rata

harian) responden, kemudian dihitung dengan menggunakan

persamaan berikut:

Untuk mengetahui besar risiko (RQ), digunakan persamaan:

Apabila setelah dilakukan perhitungan dengan rumus besar

risiko (RQ) diatas dan akan didapatkan hasil perhitungan berupa nilai

besar risiko (RQ) > 1 ataupun RQ <1. Jika besar risiko (RQ) > 1 maka

dapat disimpulkan polutan udara yang terdapat di udara ambien

berisiko menimbulkan dampak kesehatan nonkarsinogenik bagi


82

penduduk yang bermukim di sekitar PT. Pusri Palembang, sedangkan

jika didapatkan nilai besar risiko (RQ) < 1 maka polutan udara yang

mencemari udara ambien di sekitar PT. Pusri Palembang masih

tergolong aman bagi penduduk yang bermukim di sekitar PT. Pusri

Palembang.

Proses selanjutnya apabila didapati nilai besar risiko >1 maka

dilakukan suatu tindakan pengelolaan risiko berupa manajemen risiko

dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

1) Rumus mencari konsentrasi aman

2) Rumus mencari waktu pajanan yang aman

3) Rumus mencari frekuensi pajanan yang aman

Dengan keterangan :

Ink = Intake (mg/kg/hari)

C = Konsentrasi SO2

R = Laju asupan udara (0,83 m3/jam)


83

tE = Waktu pajanan harian (jam/hari)

fE = Frekuensi pajanan (hari/tahun)

Wb = Berat badan responden (kg)

Dt = Durasi pajanan (real time, 30 tahun untuk lifetime)

tavg = Periode waktu rata-rata (30 tahun x 365 hari/tahun untuk zat

nonkarsinogenik)

RfC = Konsentrasi referensi (0,026 mg/kg/hari)

RQ = Risk Qoutient

Cmaks = Konsentrasi agen risiko yang aman (mg/m3)

tEmaks = Waktu pajanan yang aman (hari/tahun)

fEmaks = Frekuensi pajanan yang aman (hari/tahun)


84

BAB V
HASIL

5.1 Profil Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada pemukiman penduduk di sekitar

PT. Pusri Palembang yang masuk ke dalam radius 800 meter (cluster

1), 1050 meter (cluster 2), dan 1300 meter (cluster 3) dari titik emisi

PT. Pusri Palembang yang meliputi wilayah, yaitu Kelurahan Sungai

Buah, Kelurahan 3 Ilir, Kelurahan 1 Ilir, dan Kelurahan Tangga Takat.

Daerah penelitian ini memiliki luas wilayah 1,33 km2 dengan batas-

batas sebagai berikut:

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Sako


2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Ilir Timur II
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Pulau Kemaro
4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Kalidoni

5.2 Karakteristik Responden


Pada tahap ini yang dipaparkan adalah karakteristik responden
secara umum yang terdiri dari umur, jenis kelamin, status pendidikan,
dan jenis pekerjaan

5.2.1 Umur
Berdasarkan uji Kolmogorov-Smirnov data karakteristik
umur berdistribusi tidak normal, maka digunakan adalah nilai
median umur yaitu 42 tahun. Umur tertua responden adalah 78
85

tahun dan umur termuda adalah 17 tahun. Adapun hasil uji


statistik karakteristik usia responden pada penelitian ini dapat
dilihat pada tabel 5.1 berikut.

Tabel 5.1
Distribusi Usia Masyarakat Dewasa di Pemukiman Sekitar
Kawasan PT.Pusri Palembang Tahun 2016

Karakterisik Median Terkecil-


Terbesar
Umur 42 17-78

Lokasi penelitian dibuat menjadi cluster 1 (800 meter),

cluster 2 (1050 meter) , dan cluster 3 (1300 meter). Adapun

distribusi umur berdasarkan cluster-nya dapat dilihat pada

tabel 5.2 berikut.

Tabel 5.2
Gambaran Umur Responden di Pemukiman Sekitar Kawasan
PT.Pusri Palembang Tahun 2016
Cluster
Kelompok
1 2 3
Umur (Tahun)
n % n % n %
≥ 42 26 61,9 50 50 79 51
< 42 16 38,1 50 50 76 49
Total 42 100 100 100 155 100

Dari tabel 5.2 di atas menunjukkan responden di cluster

1 dan cluster 3 lebih banyak memiliki karakteristik umur ≥ 42

tahun yaitu masing-masing 26 orang (61,9%) dan 79 orang


86

(51%), Sedangkan pada cluster 2 proporsi kelompok umur baik

≥ 42 tahun maupun <42 tahun sama-sama berjumlah 50 orang

(50%). Sehingga total keseluruhan responden dengan

karakteristik umur ≥ 42 tahun lebih banyak daripada responden

dengan karakteristik umur < 42 tahun yaitu sebanyak 155

orang (52,2%) berbanding 142 orang (47,8%).

5.2.2 Jenis Kelamin

Jenis kelamin terbagi dua kelompok yaitu laki-laki dan

perempuan. Distribusi responden menurut jenis kelamin dapat

dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 5.3
Distribusi Jenis Kelamin Masyarakat Dewasa di Pemukiman
Sekitar PT.Pusri Palembang Tahun 2016
Jenis kelamin Cluster
1 2 3
n % n % n %
Laki-laki 21 50 33 33 37 23,9
Perempuan 21 50 67 67 118 76,1
Total 42 100 100 100 155 100

Berdasarkan tabel 5.3 jumlah responden di cluster 1 baik


responden laki-laki maupun perempuan sama-sama berjumlah 21
orang (50%). Sedangkan responden di cluster 2 dan cluster 3
dimana responden dengan jenis kelamin perempuan lebih banyak
87

dibanding responden dengan jenis kelamin laki-laki yaitu


masing-masing berjumlah 67 orang (67%) dan 118 orang
(76,1%). Sehingga total keseluruhan dari ketiga cluster wilayah
penelitian, responden dengan jenis kelamin perempuan lebih
banyak daripada responden dengan jenis kelamin laki-laki yaitu
berjumlah 206 orang (69,4%) berbanding 91 orang (30,6%).

5.2.3 Jenis Pekerjaan

Jenis pekerjaan responden pada penelitian ini terdiri dari

buruh, pedagang, dosen/guru, ibu rumah tangga (IRT), pelajar,

pengangguran, dan pensiunan. Adapun distribusi jenis pekerjaan

dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut.

Tabel 5.4
Distribusi Jenis Pekerjaan Masyarakat Dewasa di Pemukiman
Sekitar PT. Pusri Palembang Tahun 2016
Cluster
Jenis pekerjaan 1 2 3
n % n % n %
Buruh/Pekerja lepas 5 11,9 14 14 11 7,2
Wiraswasta/Pedagang 9 21,4 22 22 25 16,1
Guru/Dosen 2 4,8 - - 1 0,6
IRT 14 33,3 53 53 96 62
Pelajar 2 4,8 2 2 1 0,6
Pengangguran 1 2,4 1 1 3 1,9
Pensiunan - - 1 1 3 1,9
Pegawai Swasta 9 21,4 7 7 15 9,7
Total 42 100 100 100 155 100
88

Dari tabel 5.4 menunjukkan responden di setiap cluster

berdasarkan karakteristik jenis pekerjaan didominasi oleh jenis

pekerjaan Ibu Rumah Tangga (IRT), terbanyak ada di cluster 3 yaitu

62% lalu cluster 2 yaitu 53% dan cluster 1 yaitu 33,3%.

5.3 Deskriptif Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari 8 variabel antara lain

konsentrasi SO2 yang ada di pemukiman sekitar pabrik PT. Pusri

Palembang, berat badan, laju asupan, waktu pajanan, frekuensi

pajanan, durasi pajanan masyarakat dewasa yang menjadi responden

penelitian, perhitungan nilai asupan serta karakteristik risiko dari

pajanan SO2 yang dikeluarkan dari menara cerobong pabrik PT. Pusri

Palembang. Adapun hasil uji statistiknya antara lain.


89

Tabel 5.5
Distribusi Konsentrasi SO2, Berat Badan, Laju Asupan, Waktu
Pajanan, Frekuensi Pajanan, dan Durasi Pajanan Masyarakat di
Pemukiman Sekitar PT.Pusri Palembang Tahun 2016

Terkecil-
Variabel Mean Median SD
Terbesar
Konsentrasi SO2 0,245-
0,248 0,246 0,0043
(mg/m3) 0,254
Berat Badan (Kg) 57,6 56,4 11 27,9-100,5
Laju Asupan (m3/hari) 0,60 0,60 0,04 0,43-0,73
Waktu Pajanan
21 24 3,88 8-24
(jam/hari)
Frekuensi Pajanan
356 365 23,4 189-365
(hari/tahun)
Durasi Pajanan
31,3 31 17,7 2-75
(tahun)

Dari tabel 5.5 diatas untuk variabel penelitian yang datanya

berdistribusi normal hanya terdapat pada variabel laju asupan dan

diambil nilai rata-ratanya (mean), sedangkan untuk variabel lainnya

berdistribusi tidak normal dan diambil nilai tengahnya (median) pada

masing-masing variabel. Maka didapatkan nilai rata-rata untuk

variabel laju asupan sebesar 0,60 m3/hari dengan simpangan baku

sebesar 0,04; laju asupan terendah sebesar 0,43 m3/hari dan tertinggi

sebesar 0,73 m3/hari.


90

Variabel konsentrasi SO2 memiliki nilai median sebesar 0,246

mg/m3 dengan simpangan baku sebesar 0,0043 konsentrasi terendah

sebesar 0,245 mg/m3 dan konsentrasi tertinggi sebesar 0,254 mg/m3.

Variabel berat badan memiliki nilai median sebesar 56,4 kg dengan

simpangan baku sebesar 11 berat badan terendah sebesar 26 kg dan

yang tertinggi sebesar 100,5 kg. Variabel waktu pajanan memiliki nilai

median sebesar 24 jam/hari dengan simpangan baku sebesar 3,88

waktu pajanan terendah sebesar 8 jam/hari dan tertinggi sebesar 24

jam/hari responden selalu terpajan polutan SO2. Variabel frekuensi

pajanan memiliki nilai median sebesar 365 hari/tahun dengan

simpangan baku sebesar 23,4 frekuensi pajanan terendah sebesar 189

hari/tahun dan yang tertinggi sebesar 365 hari/tahun responden selalu

terpajan polutan SO2. Sedangkan untuk variabel durasi pajanan

memiliki nilai median sebesar 31 tahun dengan simpangan baku

sebesar 17,7; durasi pajanan terendah sebesar 2 tahun dan yang

tertinggi sebesar 75 tahun.

5.3.1 Konsentrasi SO2

Konsentrasi SO2 pada penelitian ini dibagi menjadi 3

lokasi pengukuran yaitu pada jarak 800 meter (cluster 1), 1050

meter (cluster 2), dan 1300 meter (cluster 3) dari sumber emisi

PT. Pusri Palembang. Berikut merupakan distribusi frekuensi


91

responden yang terpajan polutan SO2 berdasarkan pembagian

lokasi penelitian.

Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Konsentrasi SO2 di Pemukiman Sekitar PT.
Pusri Palembang Tahun 2016
Cluster
Konsentrasi
1 2 3
SO2 (mg/m3)
n % n % n %
≥ 0,246 42 100 61 61 91 58,7
< 0,246 0 0 39 39 64 41,3
Total 42 100 100 100 155 100

Dari tabel 5.6 diatas jika dibandingkan dengan nilai

median konsentrasi SO2 keseluruhan wilayah (0,246 mg/m3),

maka dapat diketahui bahwa di cluster 1 lokasi penelitian

keseluruhan responden terpajan SO2 dengan konsentrasi diatas

nilai median. Pada cluster 2 dan 3 wilayah penelitian responden

lebih cenderung terpajan konsentrasi SO2 diatas nilai median

yaitu masing-masing sebesar 61 orang (61%) pada cluster 2 dan

91 orang (58,7%) pada cluster 3.

Jika dilihat keseluruhan dari 3 cluster lokasi penelitian,

maka didapatkan hasil bahwa lebih banyak responden yang

terpajan SO2 dengan nilai konsentrasi di atas nilai median 0,246

mg/m3 yaitu sebesar 65,3% dari total responden dibandingkan


92

dengan responden yang terpajan SO2 dengan konsentrasi di

bawah nilai median yaitu sebesar 34,7%.

5.3.2 Berat Badan

Adapun distribusi frekuensi variabel berat badan

masyarakat dewasa di pemukiman sekitar PT.Pusri Palembang

tahun 2016 dilihat dari pembagian lokasi penelitian dapat dilihat

pada tabel 5.7 berikut

Tabel 5.7
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Berat Badan tiap
Cluster
Cluster
Berat
1 2 3
Badan
n % n % n %
≥ 56,4 20 47,6 45 45 84 54,2
< 56,4 22 52,4 55 55 71 45,8
Total 42 100 100 100 155 100

Dari tabel 5.7 diatas jika dibandingkan dengan nilai

median berat badan keseluruhan (56,4 kg), maka dapat diketahui

bahwa pada cluster 1 dan cluster 2 lokasi penelitian responden

lebih cenderung memiliki berat badan di bawah nilai median

yaitu masing-masing sebesar 20 orang (47,6% ) responden pada

cluster 1 dan 45 orang (45%) pada cluster 2. Akan tetapi,


93

berbeda dibandingkan dengan responden yang bermukim pada

kawasan cluster 3 yang lebih cenderung memiliki berat badan

diatas nilai median yaitu sebesar 84 orang responden (54,2%).

Jika dilihat keseluruhan dari 3 cluster lokasi penelitian,

maka didapatkan hasil bahwa lebih besar responden yang

memiliki berat badan di atas nilai median yaitu sebesar 50,2%

dari total responden dibandingkan dengan responden yang

memiliki berat badan di bawah nilai median 56,4 kg yaitu

sebesar 49,8%.

5.3.3 Laju Asupan

Laju asupan adalah banyaknya SO2 yang masuk dalam

tubuh setiap jamnya lewat jalur inhalasi (pernapasan) yang ada

di wilayah penelitian selama 24 jam. Laju asupan pada penelitian

ini dihitung dengan persamaan y = 5,3 Ln(x) – 6,9 dengan y = R

dalam satuan m3/hari dan x = Wb atau berat badan. Adapun

distribusi frekuensi variabel penelitian laju asupan masyarakat

dewasa di pemukiman sekitar PT. Pusri Palembang tahun 2016

berdasarkan lokasi penelitian dapat dilihat pada tabel berikut.


94

Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Laju Asupan tiap
Cluster
Laju Cluster
Asupan 1 2 3
(m3/jam) n % n % n %
≥ 0,60 21 50 49 49 90 61,3
< 0,60 21 50 51 51 65 38,7
Total 42 100 100 100 155 100
Rata-rata 0,60 m3/hari 0,60 m3/hari 0,60 m3/hari

Dari tabel 5.8 diatas jika dibandingkan dengan nilai

rata-rata laju asupan total (0,60 m3/jam), maka dapat diketahui

bahwa pada cluster 1 lokasi penelitian responden lebih

cenderung memiliki laju asupan pada nilai rata-rata yaitu sebesar

50% responden. Akan tetapi, berbeda dibandingkan dengan

cluster 2 lebih cenderung memiliki laju asupan dibawah nilai

rata-rata yaitu sebesar 51% dibandingkan responden yang

memiliki laju asupan diatas hanya sebesar 49%. Sedangkan pada

cluster 3 dimana responden lebih cenderung memiliki laju

asupan di atas nilai rata-rata yaitu sebesar 61,3%.

Jika dilihat keseluruhan dari 3 cluster lokasi penelitian,

maka didapatkan hasil bahwa lebih besar responden yang

memiliki laju asupan di atas nilai rata-rata yaitu sebesar 53,9%


95

dari total responden (297 orang) dibandingkan dengan responden

yang memiliki laju asupan di bawah nilai rata-rata 0,60 m3/jam

yaitu sebesar 46,1%.

5.3.4 Waktu Pajanan

Waktu pajanan atau lama pajanan adalah jumlah jam

terjadinya pajanan SO2 yang memajani responden setiap harinya.

Adapun hasil distribusi frekuensi waktu pajanan responden

berdasarkan pembagian lokasi penelitian dapat dilihat pada tabel

5.9 berikut.

Tabel 5.9

Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Waktu Pajanan


tiap Cluster

Cluster
Waktu Pajanan
1 2 3
(jam/hari)
n % n % n %
24 11 26,2 49 49 101 65,2
< 24 31 73,8 51 51 54 34,8
Total 42 100 100 100 155 100

Dari tabel 5.9 dapat dilihat dari distribusi frekuensi waktu

pajanan tiap cluster dibandingkan dengan nilai median waktu

pajanan keseluruhan lokasi penelitian (24 jam/hari), maka


96

responden di cluster 1 lebih banyak memiliki nilai waktu pajanan

di bawah nilai median yaitu sebanyak 31 orang (73,8%),

sedangkan responden pada cluster 3 memiliki nilai waktu

pajanan lebih besar di atas nilai median yaitu sebanyak 101

orang (65,2%).

Sehingga secara keseluruhan total responden dengan waktu

pajanan SO2 di atas nilai median lebih besar dibandingkan

dengan responden yang memiliki waktu pajanan SO2 di bawah

nilai median yaitu sebanyak 161 responden (54,2 %) berbanding

136 responden (45,6%).

5.3.5 Frekuensi Pajanan

Frekuensi pajanan adalah jumlah hari pemajanan SO2 yang


diterima responden dalam satu tahun dikurangi lama responden
meninggalkan wilayah studi. Adapun hasil distribusi frekuensi
pajanan responden berdasarkan pembagian lokasi penelitian
dapat dilihat pada tabel 5.10 berikut
97

Tabel 5.10
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Frekuensi Pajanan
tiap Cluster
Frekuensi Cluster
Pajanan 1 2 3
(hari/tahun) n % n % n %
365 31 73,8 71 71 107 69
< 365 11 26,2 29 29 48 31
Total 42 100 100 100 155 100

Dari tabel 5.10 di dapat dilihat dari distibusi frekuensi

pajanan tiap cluster dibandingkan dengan nilai median frekuensi

pajanan keseluruhan lokasi penelitian, maka responden di cluster

1, cluster 2, dan cluster 3 didominasi dengan nilai frekuensi

pajanan berada pada nilai frekuensi pajanan total yaitu masing-

masing sebanyak 31 orang (73,8%), 71 orang (71%), dan 107

orang (69%).

Sehingga total responden dengan frekuensi pajanan di

atas nilai median lebih banyak dibandingkan dengan responden

yang memiliki frekuensi pajanan di bawah nilai median yaitu

69,7% berbanding 30,3%.


98

5.3.6 Durasi Pajanan

Durasi pajanan adalah lamanya waktu terpajan oleh SO2 di

lokasi penelitian. Adapun hasil distribusi frekuensi durasi

pajanan berdasarkan pembagian lokasi penelitian dapat dilihat

pada tabel berikut.

Tabel 5.11
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Durasi Pajanan
tiap Cluster
Cluster
Durasi Pajanan
1 2 3
(tahun)
n % n % n %
≥ 31 19 45,2 50 50 81 52,3
< 31 23 54,8 50 50 74 47,7
Total 42 100 100 100 155 100

Dari tabel 5.11 dilihat dari distribusi durasi pajanan tiap

cluster dibandingkan dengan nilai median durasi pajanan

keseluruhan (31 tahun), maka responden di cluster 1 lebih

cenderung memiliki nilai durasi pajanan di bawah nilai median

durasi pajanan total yaitu sebanyak 19 orang (45,2%) berbanding

23 orang (54,8%) responden yang memiliki nilai durasi pajanan

diatas nilai median, sedangkan responden yang bermukim di

kawasan cluster 3 lebih banyak memiliki nilai durasi pajanan di

atas nilai median total yaitu 81 orang (52,3%) berbanding 74

orang (47,7%) dibawah nilai median.


99

Sehingga total responden dengan nilai durasi pajanan di

atas nilai median lebih banyak dibandingkan dengan responden

yang memiliki durasi pajanan di bawah nilai rata-rata yaitu 150

orang (50,5%) berbanding 147 (49,5%).

5.3.7 Nilai Intake (Asupan SO2)

Asupan Pajanan SO2 adalah jumlah asupan risk agent

yang diterima rata-rata sampel per berat badan rata-rata sampel

per hari. Nilai asupan dihitung dengan persamaan :

Keterangan :

I : Asupan

C : Konsentrasi SO2 (mg/m3)

R : Laju asupan

tE : Waktu paparan

fE : Frekuensi paparan

Dt : Durasi paparan

Wb : Berat badan

tavg : Periode waktu rata-rata

Berikut contoh perhitungan asupan berdasarkan semua

data yang didapatkan saat kegiatan pengumpulan data. Hasil


100

penelitian diketahui bahwa nilai rata-rata konsentrasi SO2 adalah

0,246 mg/m3 ,nilai rata-rata laju asupan adalah 0,60 m3 /jam,

nilai rata-rata waktu pajanan adalah 24 jam. Rata-rata frekuensi

pajanan adalah 365 hari/tahun, rata-rata durasi paparan adalah 31

tahun dan rata-rata berat badan adalah 56,4 kg.

I = 0,065 mg/kg/hari

Jadi asupan konsentrasi SO2 adalah 0,065 mg/kg/hari.

Adapun hasil uji normalitas variabel asupan pajanan SO2 dapat

dilihat pada tabel 5.15 berikut :

Tabel 5.12
Distribusi Menurut Asupan Pajanan SO2
Terkecil-
Variabel Mean Median SD
Terbesar
Asupan Pajanan 0,02-
0,058 0,053 0,038
SO2 (mg/kg/hari) 0,229

Dari tabel 5.12 di atas setelah dilakukan uji normalitas

diketahui data untuk variabel asupan pajanan SO2 tidak

berdistribusi normal, maka yang digunakan adalah nilai median


101

yaitu 0,053 mg/kg/hari dengan simpangan baku 0,038

mg/kg/hari. Asupan SO2 tertinggi adalah 0,229 mg/kg/hari dan

yang terendah adalah 0,02 mg/kg/hari.

Tabel 5.13
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Asupan Pajanan SO2
Asupan Cluster
Pajanan SO2 1 2 3
(mg/kg/hari) n % n % n %
≥ 0,052 16 38,1 50 50 84 54,2
< 0,052 26 61,9 50 50 71 45,8
Total 42 100 100 100 155 100

Dari tabel 5.13 di atas dapat dilihat dari distribusi

asupan pajanan tiap cluster dibandingkan dengan nilai median

asupan pajanan keseluruhan (0,052 mg/kg/hari), maka

responden yang bermukim di kawasan cluster 1 lebih banyak

memiliki nilai asupan di bawah nilai median yaitu 61,9%

berbanding 38,1% yang memiliki nilai asupan pajanan SO2

diatas nilai median, sedangkan responden di cluster 2 dan

cluster 3 lebih banyak memiliki nilai asupan pajanan SO2 di

atas nilai median yaitu masing-masing 50% dan 54,2%.

Sehingga total responden dengan nilai asupan di atas nilai

median lebih banyak dibandingkan dengan responden yang


102

memiliki nilai asupan di bawah nilai median yaitu 50,5%

berbanding 49,5%.

5.3.8 Karakteristik Risiko

Besar risiko kesehatan dilakukan untuk membandingkan

nilai asupan (intake) dengan nilai dosis acuan (RfC) yang dikenal

dengan nilai risiko atau Risk Quotient (RQ). Berikut contoh

perhitungan RQ :

RQ = 0,05

Adapun hasil uji statistik variabel karakteristik risiko dapat


dilihat pada tabel 5.17 berikut.

Tabel 5.14
Distribusi Menurut Karakteristik Risiko
Terkecil-
Variabel Mean Median SD
Terbesar
Karakteristik 0,011-
0,274 0,252 0,181
Risiko (RQ) 0,972

Berdasarkan hasil uji normalitas yang telah dilakukan

diketahui bahwa variabel karakteristik risiko menunjukkan data


103

berdistribusi tidak normal, maka yang digunakan adalah nilai

median yaitu 0,252 dengan simpangan baku 0,181. Besar nilai

risiko tertinggi adalah 0,972 dan yang terendah 0,011.

Tabel 5.15
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Besar
Risiko
Besar Cluster
Risiko 1 2 3
(RQ) n % n % n %
≥1 0 0 0 0 0 0
<1 42 100 100 100 155 100
Total 42 100 100 100 155 100

Pada tabel 5.15 di atas dapat dilihat dari distribusi besar

risiko tiap cluster dibandingkan dengan batas nilai aman yaitu

1, maka disetiap cluster baik cluster 1, cluster 2, dan cluster 3

untuk waktu saat ini (real time) tidak ada responden yang

berisiko mengalami gangguan kesehatan yang disebabkan oleh

pajanan SO2 atau dengan kata lain setelah dilakukan

perhitungan karakteristik risiko tidak ada responden yang

menghasilkan nilai risk question (RQ) lebih atau sama dengan

nilai 1 (RQ≥1). Namun, karena penelitian dengan metode

ARKL merupakan metode yang dapat digunakan untuk


104

memprakirakan risiko di waktu yang akan datang maka peneliti

melakukan perhitungan prakiraan risiko lanjutan untuk waktu 5

tahun, 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun, 25 tahun dan 30 tahun

yang akan dating. Adapun hasil perhitungan prakiraan dapat

dilihat pada tabel berikut.

Tabel 5.16
Prakiraan Besar Risiko 5, 10,15,20,15 Sampai 30 tahun
yang akan datang

Besar Cluster
Prakiraan Risiko 1 2 3
(RQ) n % n % n %
5 Tahun ≥1 0 0 1 0 0 0
<1 42 100 99 99 155 100
10 Tahun ≥1 0 0 2 2 1 0,7
<1 42 42 98 98 154 99,3
15 Tahun ≥1 1 2,4 2 2 1 0,7
<1 41 97,6 98 98 154 99,3
20 Tahun ≥1 1 2,4 2 2 1 0,7
<1 41 97,6 98 98 154 99,3
25 Tahun ≥1 2 95,2 2 2 2 1,3
<1 40 4,8 98 98 153 98,7
30 Tahun ≥1 3 7,2 3 3 3 1,9
<1 39 92,8 97 97 152 98,1

Dari tabel diatas menunjukkan besar risiko pada

perhitungan ARKL untuk prakiraan 5 tahun yang akan datang


105

hanya terdapat 1 orang responden (0,3%) dari keseluruhan total

297 responden yang memiliki tingkat risiko tidak aman

(RQ≥1) yaitu responden yang bermukim pada lokasi cluster 2

penelitian. Pada prakiraan risiko 10 tahun yang akan datang

jumlah responden yang memiliki tingkat risiko tidak aman

(RQ≥1) bertambah menjadi 3 orang responden (1%) dari

keseluruhan total 297 responden yaitu 2 responden pada cluster

2 dan 1 responden pada cluster 3. Untuk prakiraan 15 dan 20

tahun yang akan datang jumlah responden yang memiliki

tingkat risiko tidak aman (RQ≥1) bertambah menjadi 4 orang

responden (1,35 %) dari keseluruhan total 297 responden yaitu

2 responden pada cluster 2 dan 1 reponden masing-masing

pada cluster 1 dan cluster 3. Prakiraan besar risiko 25 tahun

yang akan datang jumlah responden yang memiliki risiko

tidak aman (RQ≥1) berjumlah 6 responden (2%) dari

keseluruhan total 297 responden yaitu masing-masing 2

responden pada cluster 1, cluster 2, dan cluster 3. Sedangkan

untuk prakiraan besar risiko 30 tahun yang akan datang jumlah

responden yang memiliki risiko tidak aman (RQ≥1) berjumlah

9 orang responden (3%) dari keseluruhan total 297 responden

yang diteliti yaitu masing-masing 3 responden pada cluster 1,

cluster 2, dan cluster 3.


106
107

BAB VI
PEMBAHASAN

6.1 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang dapat

mempengaruhi hasil penelitian, diantaranya adalah:

1. Dalam menentukan angka frekuensi pajanan (hari/tahun) hanya

mengandalkan daya ingat responden sehingga dapat terjadi

ketidaktepatan jumlah frekuensi pajanan.

2. Terdapat sebuah mesin pabrik yang mengalami pemeriksaan rutin

(shut down) sehingga tidak mengeluarkan emisi gas buang secara

penuh sebagaimana bila mesin berfungsi secara keseluruhan.

3. Kondisi cuaca yang kurang stabil sehingga sedikit menyulitkan

saat pengambilan sampel manusia dan sampel lingkungan

konsentrasi SO2.

4. Keterbatasan uji ARKL ini tidak menguji biomarker, sehingga

penelitian ini hanya mengandalkan data berat badan, waktu

pajanan, frekuensi pajanan dan lama durasi pajanan responden

bermukim di lokasi penelitian sebagai variabel penelitiannya.

6.2 Konsentrasi SO2 di Udara


Sulfur dioksida (SO2) adalah gas yang tidak berwarna dengan

bau yang menyengat. Berbentuk cairan ketika berada di bawah


108

tekanan, dan dengan mudah larut dalam air (ATSDR,1998). SO2

banyak dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar yang

menggunakan kandungan sulfur yang tinggi atau peleburan tembaga.

Walaupun begitu, terdapat sumber alami dari SO2 antara lain dari

gunung berapi. Energi panas dari pembakaran bahan bakar sulfur

tingkat tinggi secara umum menjadi sumber utama emisi SO2 di dunia

yang berasal dari kegiatan manusia, yang diikuti oleh boiler industri

dan smelter logam (WBG, 1998).

Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini merupakan lokasi

yang masuk dalam kawasan cemaran limbah gas dari PT. Pusri

Palembang yaitu dalam radius 1300 meter dari sumber emisi. Sebaran

data konsentrasi SO2 yang dikumpulkan di 10 titik sampel udara yang

disetiap titiknya dilakukan 3 kali pengukuran pada waktu pagi, sore,

dan malam hari (PERMENLH No. 12 tahun 2010) dengan metode

analisis pararosaniline serta menggunakan alat berupa spektofotometri.

Titik pengukuran kualitas udara yang tersebar merata pada setiap

clusternya menghasilkan data yang tidak berdistribusi normal

sehingga digunakan nilai median sebagai nilai konsentrasi SO2 nya.

Nilai median konsentrasi SO2 sebesar 0,246 mg/m3 dengan nilai

minimum 0,245 mg/m3 dan maksimum 0,254 mg/m3. Konsentrasi di

cluster 1 lebih tinggi dibandingkan dengan konsentrasi di cluster 2 dan

3. Untuk konsentrasi SO2 di udara ambien pada penelitian ini baik


109

minimum, maksimum dan konsentrasi pada cluster 1, cluster 2, dan

cluster 3 tidak ada yang melebihi baku mutu yang ditetapkan oleh

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 41 Th. 1999 yaitu

sebesar 900 µg/Nm3 (0,9 mg/m3) untuk waktu pengukuran selama 1

jam.

Nilai konsentrasi SO2 pada penelitian ini lebih tinggi

dibanding dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nukman, dkk

(2005) di 9 kota besar dengan nilai rata-rata SO2 nya sebesar 0,033

mg/m3. Peneliti lain di kawasan Kelapa Gading mendapatkan hasil

nilai rata-rata konsentrasi SO2 sebesar 0,033 mg/m3 (Sukadi, 2014).

Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Wardani (2012)

di kawasan Bundaran Hotel Indonesia mendapatkan hasil konsentrasi

SO2 pada hari kerja sebesar 0,037 mg/m3 dan pada hari libur sebesar

0,0352 mg/m3.

Perbedaan besar konsentrasi yang cukup signifikan antara

penelitian ini dengan penelitian lainnya disebabkan oleh perbedaan

sumber pencemaran SO2 itu sendiri. Untuk penelitian lainnya

bersumber dari sumber garis (jalan raya) dan sumber area (terminal

bis) yang dikeluarkan dari emisi sumber bergerak seperti kendaraan

beroda empat dan beroda dua, sedangkan penelitian ini sumber

pencemar SO2 itu sendiri berasal dari sumber titik yaitu cerobong

pembangkit listrik dan boiler PT.Pusri Palembang dimana sumber ini


110

adalah penyumbang terbesar emisi SO2 yang ada di dunia yang

dihasilkan oleh kegiatan manusia yaitu menggunakan batubara sebagai

bahan bakar utamanya.

Konsentrasi SO2 yang ada di pemukiman sekitar PT. Pusri

Palembang ini sewaktu-waktu memungkinkan untuk meningkat

melebihi rata-rata konsentrasi SO2 yang diukur pada saat penelitian

ini berlangsung. Kondisi ini bisa saja terjadi apabila PT. Pusri

Palembang meningkatkan daya produksi pabrik dari kegiatan produksi

pada keadaan normalnya. Selain itu, konsentrasi SO2 dapat meningkat

apabila keempat cerobong pembangkit listrik, pemanas bahan bakar

dan boiler beroperasi secara bersamaan tanpa henti. Hal ini diperkuat

apabila PT. Pusri Palembang tidak menjaga kondisi fisik penyaring

limbah gas disetiap menara cerobong pembangkit listrik, boiler dan

pemanas bahan bakar tempat limbah gas dibuang ke udara ambien.

Selain itu, konsentrasi SO2 di pemukiman penduduk dapat meningkat

apabila pihak perusahaan tidak menjaga kelestarian hutan pelindung

yang ada di sekitar wilayah pabrik dimana hutan pelindung selain

berfungsi sebagai peredam kebisingan akibat aktivitas produksi pabrik

hutan pelindung juga berfungsi sebagai media untuk mereduksi

polutan pencemar udara seperti SO2 . Menjaga kondisi hutan dalam hal

ini sesuai pasal 38 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia n0. 142

Tahun 2015 adalah salah satu pengelolaan dan pemantauan lingkungan


111

hidup yang harus di lakukan oleh pihak perusahaan serta didukung

oleh Peraturan Menteri Perindustrian no. 35 Tahun 2010 dimana di

suatu kawasan industry diwajibkan minimal memiliki 10% ruang

terbuka hijau sebagai salah satu bentuk upaya perusahaan dalam

mewujudkan daya dukung lingkungan dari aktivitas industri yang PT.

Pusri Palembang jalankan.

6.3 Berat Badan


Berat badan individu merupakan variabel antropometri penting

yang sangat mempengaruhi besar dosis aktual suatu risk agent yang

diterima individu karena semakin besar berat badan individu semakin

kecil dosis internal yang diterima. Berat badan berimplikasi pada nilai

numerik standar atau baku mutu sebagai salah satu bentuk

pengendalian risiko (Nukman, dkk., 2005).

Nilai median berat badan adalah 56,4 kg yang didapatkan dari

penimbangan langsung setiap responden. Hasil ini didapatkan setelah

dilakukan pengujian normalitas yang menghasilkan data berdistribusi

tidak normal sehingga digunakan nilai median sebagai tolak ukur.

Pada cluster 1 nilai median berat badan adalah 55,6 kg, pada cluster 2

berat badan adalah 57,1 kg, dan pada cluster 3 nilai median berat

badan adalah 56,8 kg. Jika dibandingkan dengan penelitian sejenis

yang dilakukan oleh Hafiyah (2011) berat badan masyarakat usia


112

dewasa di TPA Sampah Cipayung yaitu memiliki berat badan rata-rata

sebesar 57,45 kg. Sama halnya pada penelitian yang dilakukan

Nukman, dkk (2005), berat badan pada 1378 responden pada 9 kota

pada transportasi nilai rata-ratanya 55 kg. Berat badan pada penelitian

ini tidak jauh berbeda dengan penelitian Hafiyah serta Novirsa dan

Achmadi. Angka 55 kg sebenarnya telah dipakai oleh IRIS untuk

menetapkan RfC yang nilai NOAEL atau LOAEL-nya berasal dari

studi-studi epidemiologi di kawasan Asia. Jika dibandingkan dengan

rata-rata berat dewasa normal Asia yaitu 55 kg berat badan responden

penelitian menunjukkan 3% lebih berat daripada berat badan dewasa

normal Asia.

Pada penelitian ini nilai besar risiko berbanding terbalik

dengan nilai berat badan, sehingga semakin besar nilai berat badan

responden semakin kecil nilai besar risiko responden. Sesuai dengan

penelitian Haryoto, Setyono dan Masykuri (2014) yang menghasilkan

responden dengan berat badan diatas rata-rata memiliki besar risiko

yang lebih kecil dibandingkan dengan responden yang memiliki berat

badan di bawah nilai rata-rata.

6.4 Laju Asupan


Nilai rata-rata (mean) laju asupan harian total responden adalah

0,60 m3/jam yang didapatkan dari hasil perhitungan dengan persamaan


113

y = 5,3 Ln(x) – 6,9, dengan y = R dalam satuan m3/hari dan x = Wb

atau berat badan yang didapatkan dengan cara penimbangan langsung.

Semua laju asupan pada cluster 1, cluster 2, dan cluster 3 sama-sama

menunjukkan nilai 0,60 m3/jam. Hal ini sejalan dengan penelitian

Rahman, dkk (2008) yang menghasilkan nilai laju asupan sebesar 0,6

m3/jam. Angka tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan nilai

default EPA yaitu 0,83 m3/jam. Perbedaan ini disebabkan nilai default

berat badan yang digunakan EPA adalah 55 kg.

Pada penelitian ini laju asupan sangat bergantung pada berat

badan responden dimana semakin besar berat badan responden maka

semakin besar laju asupan responden itu sendiri. Sesuai dengan teori

Syaifudin (1997) yang menyatakan semakin besar berat badan

seseorang maka semakin besar juga kapasitas volume paru seseorang

yang memungkinkan udara lebih banyak masuk ke dalam tubuh.

Sehingga, semakin besar volume paru-paru seseorang yang dimasuki

udara mengandung gas pencemar udara seperti SO2, memungkinkan

semakin besar risiko seseorang tersebut memiliki dampak yang tidak

aman terhadap kesehatannya.

6.5 Waktu Pajanan


Waktu atau lama pajanan juga mempengaruhi nilai asupan

(intake). Hasil penelitian menunjukkan data yang didapatkan di


114

lapangan berdistribusi tidak normal sehingga yang menjadi acuan

adalah nilai tengah (median). Nilai tengah (median) waktu pajanan

harian adalah 24 jam/hari yang didapatkan dari hasil wawancara

langsung kepada responden. Waktu pajanan di cluster 1 lebih rendah

yaitu 22 jam/hari dibandingkan dengan cluster 2 yaitu 23 jam/hari dan

cluster 3 dengan waktu pajanan yaitu 24 jam/hari hal ini dikarenakan

masyarakat yang di cluster 1 lebih banyak keluar dari lokasi penelitian

dibandingkan dengan masyarakat cluster 2 dan cluster 3. Hal ini dapat

dilihat dari jenis pekerjaan responden di cluster 1 yang memungkinkan

untuk meninggalkan pemukiman seperti pekerjaan sebagai seorang

buruh, pedagang, dan pekerja swasta yang lebih banyak daripada

cluster 2 dan cluster 3.

Tidak jauh berbeda dengan waktu pajanan pada penelitian ini,

waktu pajanan pada penelitian yang dilakukan Novirsa dan Achmadi

(2012) serta Ma’rufi (2014) memiliki nilai median waktu pajanan 24

jam/hari. Hal ini bisa terjadi dikarenakan penelitian ini dengan

penelitian yang dilakukan oleh Novirsa dan Achmadi (2012) memiliki

karakteristik wilayah penelitian dan responden yang sama yaitu

sumber pencemar udara tidak bergerak (pabrik) dan karaketristik

responden yaitu masyarakat usia dewasa.

Berdasarkan hasil wawancara saat pengumpulan data selain

pekerjaan, hal lain yang menyebabkan responden meninggalkan


115

pemukiman adalah kegiatan sehari-hari seperti mengantar anak ke

sekolah, dan ke pasar. Oleh karena itu sebagian besar waktu yang

dihabiskan oleh responden yang tinggal di sekitar industri PT. Pusri

Palembang digunakan untuk beraktivitas di dalam wilayah penelitian

itu sendiri. Waktu pajanan selama 24 jam/hari merupakan waktu

pajanan maksimal dalam di kehidupan dalam satuan jam/hari,

sehingga jika terpapar dalam waktu maksimal maka akan semakin

besar pula peluang responden memiliki besar risiko yang tidak aman,

seperti penelitian Ramadhona (2014) yang menunjukkan semakin

lama seseorang terpapar amonia semakin besar risiko kesehatan yang

dapat diterima. Hal itu pun berlaku untuk kesemua zat pencemar udara

lainnya yang termasuk didalamnya SO2

6.6 Frekuensi Pajanan


Frekuensi pajanan adalah jumlah hari pemajanan SO2 yang

diterima responden dalam satu tahun dikurangi lama responden

meninggalkan lokasi penelitian dalam satuan hari. Nilai tengah

(median) frekuensi pajanan adalah 365 hari/tahun. Frekuensi pajanan

pada cluster 1, cluster 2 dan cluster 3 menunjukkan nilai yang sama

yaitu 365 hari/tahun. Hal ini disebabkan karena responden penelitian

ini kebanyakan tidak meninggalkan lokasi penelitian sampai 1 hari

penuh dan juga banyak responden merupakan orang asli dari lokasi
116

penelitian sehingga pada saat hari raya keagamaan atau hari libur

panjang responden tidak meninggalkan lokasi penelitian sampai 1 hari

penuh dikarenakan keluarga besar mereka juga tinggal di daerah dekat

dengan lokasi penelitian.

Frekuensi pajanan yang diterima responden pada penelitian ini

cukup tinggi karena 365 hari/tahun merupakan paparan maksimal yang

diterima manusia dalam satuan waktu hari/tahun, sehingga jika

pajanan yang diterima responden adalah pajanan masksimal hal

tersebut juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi

responden disebabkan karena responden terus menerus terpajan udara

yang mengandung SO2, sebagaimana penelitian Wardani (2012) yang

menunjukkan semakin besar frekuensi sesesorang dalam satu tahun

terpapar zat berbahaya di udara ambien maka semakin besar risiko

kesehatan yang diterima oleh seseorang tersebut.

6.7 Durasi Pajanan


Durasi pajanan adalah lamanya waktu terpajan oleh SO2 di

lokasi penelitian. Pada peneilitian ini durasi paparan yang diteliti yaitu

pada saat dilakukan penelitian dengan nilai median selama 31 tahun.

Pada cluster 1 nilai durasi pajanan selama 31,9 tahun, pada cluster 2

selama 31,6 tahun, dan cluster 3 selama 31 tahun. Setiap cluster

menunjukkan nilai yang tidak jauh berbeda, hal ini pula disebabkan
117

karena responden pada penelitian ini banyak masyarakat asli lokasi

penelitian, sehingga dari kecil hingga berkeluarga mereka tinggal di

tempat yang masih masuk dalam radius penelitian ini. Jika

dibandingkan dengan durasi dimulainya produksi PT. Pusri Palembang

yaitu selama 52 tahun menunjukkan hampir keseluruhan responden

sudah terpapar SO2 sejak mereka lahir hingga saat penelitian ini

dilaksanakan. Jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Ma’rufi (2014) yang mempunyai durasi pajanan 2 tahun dan

Hafiyah (2011) yang memiliki rata-rata durasi pajanan selama 19,41

tahun, nilai durasi pajanan pada penelitian ini lebih lama yaitu 31

tahun hampir serupa dengan durasi pajanan yang dikeluarkan oleh

IRIS EPA yaitu 30 tahun.

Hasil penelitian Haryoto, Setyono dan Masykuri (2014) yang

menyatakan pada durasi lebih dari 27,5 tahun atau 63,7% responden

pada penelitan tersebut memiliki risiko tidak aman terhadap pajanan

SO2. Jika merujuk pada hasil penelitian ini maka responden pada

penelitian yang dilakukan sudah melewati batas durasi pajanan aman

terhadap pajanan SO2 di udara. Namun karena perbedaan jenis sumber

paparan, jarak lokasi penelitian dengan sumber pajanan, dan

konsentrasi pajanan dapat menghasilkan besar risiko yang berbeda, hal

tersebut belum bisa benar-benar dibuktikan sebelum hasil perhitungan

risiko dilaksanakan.
118

6.8 Nilai Intake (Asupan SO2)


Nilai intake/asupan menunjukkan dosis aktual risk agent yang

diterima oleh responden setiap hari per kilogram berat badannya.

Perhitungan intake dilakukan dengan menggunakan durasi pajanan

realtime (perhitungan berdasarkan durasi pajanan yang sebenarnya).

Besarnya nilai intake berbanding lurus dengan nilai konsentrasi bahan

kimia, laju asupan, frekuensi pajanan, waktu pajanan dan durasi

pajanan. Sedangkan asupan berbanding terbalik dengan nilai berat

badan dan periode waktu rata-rata, yaitu semakin besar berat badan

maka semakin kecil risiko kesehatannya.

Secara umum nilai asupan SO2 pada responden yang

didapatkan dari pehitungan menggunakan rumus perhitungan

intake/asupan adalah 0,053 mg/kg/hari. Nilai intake/asupan pada

penelitian ini berdistribusi tidak normal sehingga digunakan nilai

median sebagai acuannya. Pada cluster 1 nilai asupan pajanannya

adalah 0,05 mg/kg/hari, pada cluster 2 adalah 0,058 mg/kg/hari,

sedangkan pada cluster 3 adalah 0,058 mg/kg/hari. Bila dilihat

perbandingan setiap cluster penelitian, tidak ada perbedaan yang

terlalu signifikan nilai asupan baik pada cluster 1, cluster 2 maupun

cluster 3 akan tetapi jika dilihat nilai asupan yang terbesar berada pada

cluster 3.
119

Penelitian yang dilakukan oleh Anastasia (2012) risiko

kesehatan pada sepanjang jalan Chairil Anwar hingga perempatan

Bulak Kapal Bekasi menghasilkan nilai asupan pajanan SO2 sebesar

0,0031 mg/kg/hari, sedangkan lain halnya pada penelitian yang

dilakukan oleh Sukadi (2014) dan Junaidi (2007) nilai asupan pajanan

SO2 masing-masing sebesar 0,011 mg/kg/hari dan 0,019 mg/kg/hari.

Nilai asupan ketiga penelitian tersebut berbeda cukup jauh

dibandingkan penelitian ini disebabkan perbedaan lokasi penelitian

dan sumber utama polutan SO2 berasal yaitu dari kendaraan bermotor

dan dari gas hasil buangan kotor (impiurities) pabrik.

Pada dasarnya semakin besar nilai asupan pajanan SO2 maka

semakin besar pula responden memiliki risiko tidak aman terhadap

pajanan SO2 tersebut, namun hal tersebut juga sangat bergantung pada

nilai referensi (RfC) polutan seperti pada penelitian ini adalah SO2

dengan nilai RfC-nya adalah 0,21 mg/m3. Jika nilai asupan pajanan

SO2 masih dibawah nilai referensi maka responden masih aman dalam

menghirup udara ambien yang terkontaminasi gas SO2 yang

dikeluarkan oleh cerobong asap PT.Pusri Palembang, begitupun

sebaliknya jika nilai asupan pajanan SO2 lebih tinggi atau sama

dengan nilai referensi maka responden tidak aman dalam menghirup

udara ambien yang mengandung SO2.


120

Jika intake dari risk agent terjadi maka pengaruh dari risk

agent pun akan berpegaruh. Untuk partikel yang berhubungan erat

dengan SO2 berasal dari pembakaran fosil yang satu sama lain saling

bereaksi secara sinergis dalam memberikan dampak terhadap

kesehatan manusia. Masuknya debu serta gas polutan lainmislanya

asap rokok dan SO2 masuk ke dalam alveolus, sehingga terjadilah

peningkatan jumlah makrofag alveolus, dimana makrofag ini

melepaskan zat kimia yang nantinya akan menyebabkan kesulitan

bernafas (Rusdi, 1996).

6.9 Karakteristik Risiko


Studi ARKL ini mengkaji Risk Quetient (RQ) menurut

konsentrasi risk agent di 10 titik sampling di permukiman sekitar PT.

Pusri Palembang yang dilakukan pada populasi berisiko yang

bermukim di sekitar area pabrik. Responden yang diambil berdasarkan

wilayah pengambilan sampling yaitu masyarakat yang bermukim di

dalam radius 1.300 meter dari pusat emisi gas buang pabrik.

Besarnya tingkat risiko diperoleh dari hasil perbandingan

antara intake/asupan dengan nilai dosis referensi yang dikeluarkan

oleh IRIS EPA, dengan hubungan semakin besar nilai intake

dibandingkan nilai dosis referensi (RfC) maka akan semakin besar

pula risiko kesehatannya. Nilai dosis referensi (RfC) untuk SO2 adalah
121

0,21 mg/kg/hari (NAAQS EPA, 2010). Nilai dosis referensi (RfC)

yang dipakai pada penelitian ini berbeda dengan nilai yang digunakan

pada penelitian 9 kota besar di Indonesia (Nukman, dkk, 2005), dan

penelitian di Kelapa Gading (Sukadi, 2014) yaitu RfC SO2 0,026

mg/kg/hari (NAAQS EPA, 1990).

Dari hasil perhitungan besar risiko diketahui pada saat ini

(realtime) tidak ada responden yang memiliki RQ≥1 dikarenakan nilai

besaran risiko yang didapatkan hanya sebesar 0,252 yang berarti

bahwa tingkat risiko pajanan SO2 di udara ambien pada masyarakat

sekitar pemukiman PT. Pusri Palembang dengan nilai konsentrasi

sebesar 0,246 mg/m3 dikategorikan aman bagi masyarakat

pemukiman PT. Pusri Palembang atau bisa dikatakan pajanan SO2

yang dikeluarkan oleh aktivitas industri PT. Pusri Palembang tidak

berisiko menimbulkan efek kesehatan untuk masyarakat yang

bermukim di sekitar daerah pabrik dengan laju asupan rata-rata 0,60

m3/jam, waktu pajanan 24 jam/hari, frekuensi pajanan 365 hari/tahun,

durasi pajanan selama 31 tahun, dan berat badan 56,7 kg.

Walaupun perhitungan ARKL pada penelitian ini tidak

berisiko mengganggu kesehatan masyarakat yang bermukim di sekitar

wilayah PT. Pusri Palembang akan tetapi jika dibandingkan tingkat

risiko pada penelitian lain seperti pada penelitian Batubara (2014)

yang memiliki tingkat risiko sebesar 0,098 mg/kg/hari dan tingkat


122

risiko hasil penelitian Sukadi (2014) sebesar 0,125 mg/kg/hari tidak

lebih besar dengan tingkat risiko pada penelitian ini yaitu sebesar

0,252 mg/kg/hari. Akan tetapi tingkat risiko penelitian ini tidak lebih

besar dibandingkan dengan tingkat risiko hasil penelitian yang

dilakukan oleh Fitriany (2011) yaitu sebesar 0,73 mg/kg/hari untuk

pajanan realtime. Hal ini lagi-lagi disebabkan oleh perbedaan

karakteristik wilayah, responden penelitian itu sendiri. Penelitian

Sukadi (2014) dan Batubara (2014) tidak lebih tinggi tingkat risikonya

dibanding dengan penelitian ini disebabkan karena berlokasi pada

daerah perkantoran di wilayah Kelapa Gading dan Kuningan DKI

Jakarta. Tingkat risiko pajanan SO2 pada penelitian yang dilakukan

oleh Fitriany (2011) lebih tinggi dibandingkan penelitian ini

disebabkan pada penelitian Fitriany (2011) berlokasi pada area kerja

suatu industri manufaktur dimana terdapat perbedaan yang signifikan

antara konsentrasi SO2, pola aktivitas dan data antropometri antara

kelompok responden pekerja dan masyarakat di suatu pemukiman

penduduk.

Namun, pada perhitungan prakiraan ke depan dengan nilai

konsentrasi, laju asupan, lama pajanan, frekuensi pajanan, dan berat

badan yang sama menghasilkan untuk perhitungan 5 tahun ke depan

terdapat 1 orang responden yang memiliki nilai besar risiko lebih dari

angka 1 (RQ≥1), pada prakiraan 10 tahun ke depan ada 3 orang yang


123

memiliki RQ≥1, 15 dan 20 tahun ke depan ada 4 orang yang memiliki

RQ≥1, 25 tahun ke depan ada 6 orang yang memiliki RQ≥1, dan 30

tahun ke depan ada 9 orang yang memiliki RQ≥1. Hal ini

menunjukkan bahwa semakin lama masyarakat tinggal di lokasi

penelitian maka semakin banyak masyarakat yang memiliki tingkat

risiko tidak aman bagi kesehatan terhadap pajanan SO2 di udara

ambien. Hal ini sejalan dengan penelitian Fatonah (2010) yang

menunjukkan semakin lama waktu prakiraan atau durasi pajanan (Dt)

maka semakin banyak responden yang memiliki RQ≥1.


124

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan
1. Nilai konsentrasi SO2 pada udara ambien di pemukiman sekitar

PT. Pusri Palembang 2016 sebesar 0,246 mg/m3. Dari semua hasil

pengukuran SO2 dalam penelitian ini tidak ada yang melewati baku

mutu jika dibandingkan dengan peraturan yang telah dikeluarkan

pemerintah (PP RI No.41 Tahun 1999).

2. Berat badan masyarakat dewasa yang bermukim di sekitar wilayah

PT. Pusri Palembang 2016 memiliki nilai median sebesar 56,4 kg.

3. Nilai laju asupan masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah

PT. Pusri Palembang 2016 adalah sebesar 0,60 m3/jam.

4. Nilai waktu pajanan masyarakat yang bermukim di sekitar wilayah

PT. Pusri Palembang 2016 adalah selama 24 jam/hari.

5. Nilai frekuensi pajanan masyarakat yang bermukim di sekitar

wilayah PT. Pusri Palembang 2016 adalah selama 365 hari/tahun.

6. Nilai durasi pajanan masyarakat yang bermukim di sekitar wilyah

PT. Pusri Palembang 2016 adalah selama 31 tahun.

7. Nilai intake/ asupan SO2 (mg/kg/hari) masyarakat yang bermukim

di sekitar wilayah PT. Pusri Palembang 2016 sebesar 0,053

mg/kg/hari.
125

8. Besar risiko kesehatan masyarakat yang bermukim di sekitar

wilayah PT. Pusri Palembang 2016 akibat pajanan SO2 adalah

0,252 (RQ<1). Sehingga untuk perhitungan analisis risiko

kesehatan non-karsinogenik pajanan SO2 tidak berisiko

mengganggu kesehatan masyarakat yang bermukim di sekitar

kawasan industri PT. Pusri Palembang.

7.2 Saran
1. Diperlukan pengukuran konsentrasi SO2 secara rutin di

pemukiman masyarakat sekitar PT. Pusri Palembang sehingga

kualitas udara pada masyarakat yang terpajan SO2 dapat terpantau.

2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai hubungan pajanan

SO2 terhadap dampak kesehatan masyarakat sekitar pemukiman

PT. Pusri Palembang. Contohnya penelitian terkait hubungan

pajanan SO2 dengan penurunan kapasitas fungsi paru pada

masyarakat yang bermukim di sekitar industri PT. Pusri

Palembang. Ataupun penelitian ARKL serupa namun dengan

polutan kimia/zat pencemar udara lainnya yang memungkinkan

terbuang ke udara sekitar kawasan pabrik. Sehingga dari sekian

banyak polutan yang dibuang ke udara bebas (ambien) berpotensi

menimbulkan risiko masyarakat untuk mengalami gangguan

kesehatan dalam kurun waktu tertentu.


126

DAFTAR PUSTAKA

Abrianto H. 2004. Analisis Risiko pencemaran Debu Terhirup Terhadap Siswa


Selama Berada Di Sdn 1 Pondok Cina, Kota Depok. Skripsi. Fakultas
Kesehatan Masyarakat. Universitas Indonesia.
Achmadi, U.F. 2013. Dasar-dasar Penyakit Berbasis Lingkungan. Jakarta: PT
RAJAGRAFINDO PERSADA
Agency for Toxic Substances and Disease Registry (ATSDR). 1998. Toxicology
Profile for Sulfur Dioxide. Diakses melalui
http://www.atsdr.cdc.gov/ToxProfiles/tp116.pdf pada tanggal 25 Maret
2015
_____. 1999. Sulfur Dioxide. US Department Of Health And Human Services,
Public Health Service: ATSDR
_____. CAS 7446-09-5; UN 1079. 2014. Pedoman Pengelolaan Medis Sulfur
Dioxide (SO2) diakses melalui
http://www.atsdr.cdc.gov/MHMI/mmg116.pdf pada tanggal 25 Maret 2015
Amelia, Asha. 2014. Polusi Udara, Pengertian dan Dampak Polusi Udara.
Diakses melalui http://sehatmanis.com/pengertian-dan-dampak-polusi-
udara/ pada tanggal 6 Januari 2015

Anastasia, Ayu. 2012. Tingkat Risiko Kesehatan Oleh Pajanan debu, SO2 dan
NO2 di Sepanjang Jalan Chairil Anwar Hingga Perempatan Bulak Kapal
Bekasi. Skripsi Universitas Indonesia

Badan Lingkungan Hidup Kota Palembang. 2014. Rekapitulasi Analisa Udara


Ambien pada Persimpangan Jalan-jalan Protokol Wilayah Kota Palembang

. 2014. Pengukuran Konsentrasi Udara Ambien di Sekitar PT Pupuk


Sriwidjaja Palembang

Badan Pusat Statistik Kota Palembang. 2012. Keadaan Geografi dan Iklim.
. 2012. Master File Data Kota Palembang
127

Badan Standar Nasional. 2005. Standar Nasional Indonesia. SNI 19-7119.6-2005.


Tentang Udara Ambien-Bagian 6:Penentuan Lokasi Pengambilan Contoh
Uji Pemantauan Kualitas Udara Ambien

. 2005. Standar Nasional Indonesia. SNI 19-7119.7-2005. Tentang Udara


Ambien-Bagian 7:Cara Uji Kadar Sulfur Dioksida (SO2) dengan metoda
Pararosanilin Menggunakan Spektrofotometer

Batubara, Jenny R. 2014. Tingkat Risiko Kesehatan Pajanan NO2, SO2, TSP dan
Pb serta Opsi-Opsi Pengelolaannya Pada Populasi Berisiko di Kawasan
Perkantoran Kuningan Provinsi DKI Jakarta. Depok: Skripsi. Universitas
Indonesia

Besmanto, nanang dkk. Pedoman ARKL direktorat Jenderal PP dan PL


Kementerian Kesehatan Tahun 2012

Cahyono, Waluyo Eko. 2011. Kajian Tingkat Pencemaran Sulfur Dioksida dari
Industri di Beberapa Daerah di Indonesia.Jurnal. Peneliti Pusat
Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim, LAPAN

CENR. 2000. Atmospheric Ammonia: Sources and Fate. NOAA Aeronomy


Laboratory
Chandra, Budiman. 2006. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC

Daud, Anwar; Soedinoto dan Biego. 2010. Analisis Risiko Konsentrasi SO2 dan
PM2,5 Terhadap Penurunan Kapasitas Fungsi Paru Penduduk di sekitar
Kawasan Industri Makassar. J Lingkungan Tropis 4(2): 63-137

Dewi, AS. dan Armin Susandi. 2007. Proyeksi SO2 di Indonesia sebagai Implikasi
Perubahan Iklim Global: Dampak dan Biaya Kesehatan. Jurnal. Program
Studi Metereologi, Departemen Geofisika dan Metereologi, Institut
Teknologi Bandung.

Dinas Kesehatan Kota Palembang. 2014. Jumlah Penderita ISPA Tahun 2014
128

Direktorat Jenderal PP dan PL. 2012. Pedoman Analisis Risiko Kesehatan


Lingkungan (ARKL). Jakarta: Kementrian Kesehatan.

Dwirani, Fitri. 2004. Pencemaran Gas Amonia dan Dampaknya Terhadap


Pekerja dan Masyarakat Sekitar: Studi Kasus di PT. Pupuk Kujang
Cikampek, Jawa Barat. Tesis. Universitas Indonesia.

EHC 222: Biomarkers in Risk Assesment: Validity & Validation

Environmental Health Risk Assessment (EHRA). 2012. Guidelines for Assessing


Human Health Risks From Environmental Hazards. Australia: Enhealth

Environmental Protection Agency (EPA). 2011. Exposure Factors Handbook


2011 Edition. National Center for Environmental Assesment Office of
Researchand Development, U.SEnvironmental Protection Agency
www.epa.gov

Faloon, Suzie. 2016. The Symptoms of a Sulphur Allergy. Diakses melalui


http://www.ehow.com/about_5048091_symptoms-sulphur-allergy.html pada
tanggal 20 Februari 2015

Fardiaz, S. 1992. Polusi air dan udara . Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Fatonah, Y.I. 2010. Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Benzena Pada Pekerja
Bengkel Sepatu “X” di Kawasan Perkampungan Industri Kecil (PIK)
Pulogadung Jakarta Timur. Depok: Tesis Universitas Indonesia

Fitriany, Rina Nur. 2011. Analisis Risiko Pajanan Sulfur dioksida (SO2) Terhadap
Kesehatan Pekerja di Bagian Welding PT. Suzuki Indomobil Motor Plant
Tambun II. Depok: Skripsi Universitas Indonesia

Hafiyah, Syarifah Rosikhoh. 2011. Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan


Pajanan Hidrogen Sulfida Pada Penduduk Usia Dewasa di sekitar TPA
Sampah Cipayung Kota Depok. Depok: Skripsi Universitas Indonesia

Haryoto; Setyono, Prabang; dan Masykuri M. 2014. Fate Gas Amoniak Terhadap
Besarnya Resiko Gangguan Kesehatan Pada Masyarakat di Sekitar Tempat
129

Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Putri Cempo Surakarta. Jurnal


EKOSAINS 6(2)

International Agency for Research on Cancer (IARC). 1997. Sulfur Dioxide and
Some Sulfites, Bisulfites and Metabisulfites. Diakses melalui
http://www.inchem.org/documents/iarc/vol54/02-sulfur-dioxide.html pada
tanggal 28 Maret 2015

International Programme On Chemical Safety (IPCS). 2004. IPCS Risk Assesment


Terminology. WHO
Juliani, Rita, dkk. Pola Penyebaran Emisi Gas dari Limbah Industri di Kota
Medan dengan Menggunakan Model Estimasi Dispersi Atmosferis. FMIPA
Universitas Negeri Medan

Junaidi. 2007. Analisis dan Manajemen Risiko Pencemaran Sulfur Dioksida (SO2)
Udara Ambien Pada Pedagang Kaki Lima di Terminal Bus Pasar Senen,
Jakarta Pusat 2007. Depok: Universitas Indonesia

Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia. Kabupaten Kota


Palembang. 2013. diakses melalui
http://www.kemendagri.go.id/pages/profil-
daerah/kabupaten/id/16/name/sumatera-selatan/detail/1671/kota-palembang
pada tanggal 28 Januari 2015

Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia. 2013. Pedoman


pengisian kuesioner tahun 2013.

. 2013. Penyajian Pokok-Pokok Hasil Riset Kesehatan Dasar 2013.


Kristianingrum, Susila. 2006. Pengawet Makanan yang Aman bagi Kesehatan.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta
Lemeshow,S. dkk.1997. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Yogyakarta:
GADJAH MADA UNIVESITY PRESS: 53-55
Ma’rufi, Isa. 2014. Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Akibat Transportasi
Kendaraan Bermotor di Kota Surabaya. The 17th FSTPT Internasional
Symposium Jember University.
McGranahan, Gordon and Frank Muray. 2003. Air Pollution & Health in rapidly
developing countries. Stockholm Environment Institute
130

Nadakavukaren, Anne. 2011. Our Global Environment A Health Perspective.


United States of America: Wafeland Press, Inc.

Novirsa, Randy dan Achmadi, Umar Fahmi. 2012. Analisis Risiko Pajanan PM2,5
di Udara Ambien Siang Hari Terhadap Masyarakat di Kawasan Industri
Semen. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional 7(4)

Nriagu, Jerome O. 1978. Sulfur In The Environment Part II: Ecological Impacts.
Canada: John Wiley & Sons,Inc.

Nukman, dkk. 2005. Analisis dan Manajemen Risiko Kesehatan Peencemaran


Udara: Studi Kasus di Sembilan Kota Besar Padat Transportasi. Jurnal
Ekologi Kesehatan 4(2): 270-289

P2PL Depkes. 2014. Dampak Kesehatan Akibat Polusi Udara. Diakses Melalui
http://pppl.depkes.go.id/berita?id=1382 pada tanggal 27 Januari 2015

Pasaribu, Rownland B.F. 2012. Industri dan Indutrilisasi. Bahan Ajar


Perekonomian Indonesia. Universitas Gunadarma, Kenari.

Pengendalian Pencemaran udara di Perkotaan diakses melalui


http://www.menlh.go.id/pengendalian-pencemaran-udara-perkotaan/ pada
tanggal 20 januari 2015

Peraturan Gubernur Sumsel No. 17 Tahun 2005 Tentang Baku Mutu Udara
Ambien

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 12 Tahun 2010 Tentang


Pelaksanaan Pengendalian Pencemaran Udara di Daerah

Peraturan Menteri Perindustrian No. 35 Tahun 2010 Tentang Pedoman Teknis


Kawasan Industri

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 Tentang


Pengendalian Pencemaran Udara

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 142 Tahun 2015 Tentang Kawasan
Industri
131

Purnama, Didi. 2013. Konsentrasi PM10 dan Gas (SO2 dan NO2) dalam rumah
dan kejadian ISPA pada anak balita di kecamatan duren sawit, Jakarta
Timur.DKI Jakarta. Tesis. Universitas Indonesia.

Rahman. A. 2007. Model kajian prediktif dampak lingkungan dan aplikasinya


untuk manajemen risiko kesehatan. Pusat kajian kesehatan lingkungan dan
industri FKM UI. Depok.

Rahman, dkk. 2008. Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan Pertambangan Kapur


Di Sukabumi, Cirebon, Tegal, Jepara dan Tulung Agung. Jurnal Ekologi
Kesehatan volume.7 Nomor 1: 665-677

Ramadhona, M. 2014. Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Amonia (NH3) Pada


Karyawan Di Area Produksi Amonia PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang
Tahun 2014. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya.

Rusdi. 1996. Pengaruh Polusi Udara Terhadap Sistem Respirasi. Makalah


Ilmiah, Biosfer.

Rusmayadi, Gusti. 2010. Konsentrasi Sulfur Oksida Di Pemukiman Sekitar


Factory Outlet dan Jalan Raya Bogor. Jurnal. Jurusan Budidaya Pertanian
Fakultas Pertanian UNLAM

Soedomo, Moestikahadi. 2001. Kumpulan Karya Ilmiah Pencemaran Udara.


Bandung: Penerbit ITB

Sucipto, Cecep Dani dan Asmadi. 2011. Aspek Kesehatan Masyarakat Dalam
AMDAL. Yogyakarta: Gosyen Pulishing

Sukadi. 2014. Analisis Risiko Kesehatan Pajanan PM10 dan SO2 di Kelapa
Gading Jakarta Utara Tahun 2014. Depok. Skripsi: Universitas Indonesia

Sumantri, A.2010. Kesehatan lingkungan Dalam Pespektif Islam. Jakarta:


Kencana Prenada Media Group
Suryani S., et al. 2010. Model Sebaran Polutan SO2 pada Cerobong Asap PT.
Semen Tonasa. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Jurusan
Fisika, Disampaikan pada Konggres dan Seminar Nasional Badan Koordinasi
132

Pusat Studi Lingkungan Hidup se-Indonesia ke-XX, tanggal 14-16 Mei 2010,
Pekanbaru, 2005
Syaifudin. 1997. Anatomi Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta. Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Turyanti A, dkk. 2016. Analisis Pola Dispersi Partikulat dan Sulfurdioksida
Menggunakan Model WFRCHEM Disekitar Wilayah Industri Tangerang
dan Jakarta. Jurnal Manusia dan Lingkungan 23(2): 169-178

Wiharja. 2002. Identifikasi Kualitas Gas SO2 di daerah Industri Pengecoran


Logam Ceper. Jurnal Teknologi Lingkungan 3(3): 251-255

World Bank Group. 1998. Sulfur Oxides: Pollution Prevention and Abatement
Handbook

World Health Organization (WHO). 2016. Ambient (outdoor) Air Quality and
Health. Geneva: WHO diakses melalui
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs313/en/ pada tanggal 14
Desember 2016

Zakaria, Nurdin dan R. Azizah. 2013. Analisis Pencemaran Udara (SO2),


Keluhan Iritasi Tenggorokan dan Keluhan Kesehatan Iritasi Mata Pada
Pedagang Makanan di Sekitar Terminal Joyoboyo Surabaya. Jurnal.
Departemen Kesehatan Lingkungan: Universitas Airlangga
KUESIONER
ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN SULFUR DIOXIDE (SO2)
PADA MASYARAKAT DI PERMUKIMAN PENDUDUK SEKITAR
INDUSTRI PT.PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG TAHUN 2016

Assalamualaikum Wr.Wb

Perkenalkan saya Rois Solichin, saya merupakan mahasiswa Program Studi


Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang sedang melakukan penelitian
mengenai “Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Sulfur Dioksida pada Masyarakat
yang Bermukim di Sekitar Kawasan Industri PT. Pupuk Sriwidjaja Palembang
Tahun 2016”. Penelitian ini saya lakukan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat.

Oleh sebab itu, saya meminta bantuan anda untuk menjadi responden dalam
penelitian ini. Saya sangat mengharapkan kesediaan waktu anda untuk dapat saya
wawancarai mengenai berapa lama berada dan menetap di lokasi penelitian (jam,
hari dan tahun) serta bersedia untuk dilakukan pengukuran berat badan.

Atas perhatian dan kerjasamanya, saya ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Pewawancara Responden

.......................... .........................

(Tanda Tangan/Nama Jelas) (Tanda Tangan/Nama Jelas)


KUISIONER
ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAJANAN SULFUR DIOXIDE (SO2)
PADA MASYARAKAT DI PEMUKIMAN PENDUDUK SEKITAR
INDUSTRI PT.PUPUK SRIWIDJAJA PALEMBANG TAHUN 2016

No. Resp Nama Pewawancara Tgl/bln/thn

I. Data Umum
1. Nama Responden :
2. Alamat :
3. Umur :
4. Jenis Kelamin : Laki-laki/ Perempuan
5. Pekerjaan :
a. Tidak Bekerja
b. Pegawai Negeri Sipil
c. Pegawai BUMN
d. Pegawai Swasta
e. Wiraswasta/ pedagang
f. Buruh
g. Ibu Rumah Tangga
6. Pendidikan terakhir :
a. Tidak sekolah
b. Tidak tamat SD
c. Sekolah Dasar
d. SMP
e. SMA
f. D3/S1 dan seterusnya
II. Data Antropometri
1. Berat Badan :
2. Lama Tinggal :
3. Berada di Pemukiman :
a. ………………..jam/hari
b. ………………….hari/minggu
4. Lama Keluar dari pemukiman/tempat tinggal
a. Dalam seminggu : hari
b. Dalam 1 bulan : hari
c. Waktu liburan/lebaran: hari
d. Total libur dalam 1 tahun: hari
Lampiran Hasil Laboratorium Pengukuran Konsentrasi SO2 (1)
Lampiran Hasil Laboratorium Pengukuran Konsentrasi SO2 (2)
Lampiran Perhitungan Nilai Asupan (Intake) dan Besar Risiko

Waktu Frekuensi Durasi


Konsentrasi Berat Badan Laju Inhalasi Intake
NO NAMA ALAMAT Pajanan Pajanan Pajanan RQ
SO2 (mg/m3) (kg) (m3/jam) (mg/kg/hari)
(jam/hari) (hari/tahun) (tahun)

1 DRS. TAUFIQ 1 ILIR 0,056539305 0,269234788


0,25433333 84,8 0,693065266 16 365 51

2 MAIMUNAH 1 ILIR 0,25433333 57,5 0,607269176 24 365 60 0,128931167 0,613957938

JLN. SULTAN
AGUNG 1 ILIR RT.12 0,25433333 72,6 0,658763087 24 245 11 0,013631756 0,064913125
3 NURLAELA RW.03

4 SUMIRAH 1 ILIR 0,25433333 59,2 0,613703507 22 351 25 0,046483184 0,221348495

5 MASNA 1 ILIR 0,25433333 42,5 0,540515483 24 365 53 0,137147643 0,653084015

6 KOSIM 1 ILIR 0,25433333 59,5 0,614819769 15 321 20 0,023112467 0,110059368

7 A.ROZAK 1 ILIR 0,25433333 49,4 0,573739052 23 365 24 0,054351129 0,258814899

8 FADLI 1 ILIR 0,25433333 42,9 0,542584195 13 321 26 0,031872839 0,151775422

9 NASRULLAH 1 ILIR 0,25433333 76,6 0,670606854 12 321 31 0,024281547 0,115626415

10 SALMAN 1 ILIR 0,25433333 52,2 0,585914051 24 365 2 0,004567585 0,021750407

11 ANTON 1 ILIR NO 428. RT.16 0,25433333 56,4 0,603003606 22 365 2 0,003988187 0,018991367
12 FITRI NO. 411 0,25433333 56 0,601431832 22 365 27 0,054083757 0,257541702

13 EDI 1 ILIR 0,25433333 50 0,57640508 18 365 38 0,066849156 0,318329312

14 HABIBAH NO.439/231 0,25433333 47,9 0,566929674 23 365 36 0,083081828 0,39562775

15 M.DANI NO.417 0,25433333 65,6 0,636372966 23 363 43 0,080890955 0,385195024

16 KOMALASARI RT.10 0,25433333 57,5 0,607269176 21 269 48 0,066514353 0,316735013

1 ILIR RT.19. RW.04


0,25433333 52,2 0,585914051 24 365 71 0,162149282 0,772139436
17 ASMUNI NO 535

NO.722 RT.19.
0,25433333 70,5 0,65228114 14 365 46 0,050514214 0,240543877
18 ZULKIFLI RW.03 1 ILIR

RT.19. RW.03
0,25433333 57,3 0,606499721 22 365 15 0,029612287 0,141010891
19 M. RIFAI NO.634

JLN. RATU SIANUM


0,25433333 47,7 0,566005684 24 365 75 0,181074355 0,862258833
20 MUKSID O 709

21 LINDA NO.709 0,25433333 64 0,630920014 22 365 30 0,055159497 0,26266427

22 TANTI NO.542 0,25433333 50,1 0,576846306 16 351 30 0,045056755 0,214555975

23 NONSHI 1 ILIR 0,25433333 43,5 0,545651374 20 365 22 0,046790825 0,222813452

24 RUSMIDAR 1 ILIR 0,25433333 65,4 0,635698665 24 358 62 0,120267608 0,572702895


1 ILIR ISTANA
0,25433333 53,2 0,590104563 18 365 30 0,050780051 0,241809764
25 KOMINI AGUNG

26 EFFENDI 1 ILIR 0,25433333 69,7 0,649760904 17 365 33 0,044336937 0,211128272

27 MARIA 1 ILIR 0,25433333 50 0,57640508 23 321 25 0,049421945 0,235342597

28 ANTI NO.440 0,25433333 39,6 0,524908097 14 365 19 0,029891778 0,142341801

29 SUEP 1 ILIR 0,25433333 55,5 0,59945125 16 365 19 0,02783662 0,132555333

30 DEDEK NO.426 0,25433333 41,6 0,535788787 24 358 32 0,082249582 0,391664677

31 M.IRHAM NO.416 0,25433333 49,2 0,572843175 8 365 43 0,033955577 0,161693223

32 SUWARDI NO.437 0,25433333 54,4 0,595030417 9 365 42 0,035052104 0,166914783

33 NANJAWI 1 ILIR 0,25433333 77,4 0,672901247 15 365 54 0,059700425 0,284287736

34 NURUL NO.431 0,25433333 54 0,593400644 18 365 22 0,036891938 0,175675894

ABDULLAH
0,25433333 54,2 0,594217034 19 365 17 0,03002136 0,142958857
35 FIRMANSYAH 1ILIR

36 HAFIZAH NO.431 0,25433333 59,6 0,615190606 20 365 48 0,084007236 0,400034458

RT.19 RW.04 NO
0,25433333 48 0,567390223 24 365 17 0,04088677 0,194698904
37 YANTI 642 1 ILIR

38 amin 0,25433333 60,5 0,61850041 22 365 17 0,032414419 0,154354378


RT.19.RW04. NO
642

RT.19.RW.04 NO
0,25433333 71,3 0,654772939 22 365 2 0,003425594 0,016312353
39 AHMAD SHALEH 642

40 MASYITOH 1 ILIR 0,25433333 64,1 0,631264797 24 365 24 0,048090363 0,229001728

RT.16 RW.04 NO
0,25433333 37,7 0,514049938 24 365 2 0,005548649 0,026422136
41 EKA RODIANAN 428

RT.16 RW.05 NO
0,25433333 86 0,696168361 15 365 46 0,04735294 0,225490191
42 DADANG 1428

RT.19 RW.04 NO
0,25433333 40,3 0,528777616 24 189 20 0,027647777 0,131656082
43 M.ANANG 691

44 DEDI RT.19 RW.04 702 0,25433333 59,2 0,613703507 16 365 5 0,007030868 0,033480321

RATU SIANUM 3
0,25433333 56,2 0,602219117 15 365 50 0,068133628 0,324445847
45 ROMLAH ILIR

RT.19 RW.04 NO
0,25433333 64,3 0,631952752 12 365 54 0,053992156 0,257105505
46 TAUFIK 440

RT.19 RW.04 NO
0,25433333 48,3 0,568766136 24 365 38 0,091046544 0,433554973
47 ELMAWATI 502

RT.19 RW.04 NO
0,25433333 45,3 0,554605303 19 365 17 0,033525122 0,159643438
48 SRI WAHYUNI 302
49 KHALIFAH RT.10 RW 03 0,25433333 56,9 0,604952721 23 365 24 0,04975426 0,236925049

50 MADON RT.10 RW. 03 0,25433333 59,2 0,613703507 16 365 32 0,044997552 0,214274057

51 ASRIADI RT 10 RW 03 0,25433333 44,9 0,55264668 19 365 20 0,03965216 0,188819809

52 NIA RT.11 RW.03 312 0,25433333 55,7 0,600245616 24 358 30 0,064517642 0,307226868

53 RUSDIANA RT.10 RW.03 1 ILIR 0,25433333 58,6 0,611453912 24 321 20 0,037342341 0,177820674

54 ZALY RT.10 RW.03 0,25433333 47,2 0,563678651 20 365 46 0,093144978 0,443547514

55 IRIANI RT 10 RW 03 0,25433333 50,1 0,576846306 20 365 54 0,105421253 0,502005967

56 DIAN RT 12 RW 10 0,25433333 70,9 0,653530554 24 321 28 0,046183105 0,219919549

RT 10 RW 04 NO
0,25433333 59,1 0,613330162 22 365 33 0,063874203 0,304162869
57 ATIK 419

RT.10 RW. 04 NO
0,25433333 58,6 0,611453912 24 321 25 0,046677927 0,222275842
58 ERNA 469

RT 10 RW 03 NO
0,25433333 43,2 0,544123109 24 365 19 0,048692301 0,231868099
59 PUPUT 469

60 MATRIS RT 9 RW 4 NO 452 0,25433333 61,9 0,623552373 9 358 36 0,027139353 0,129235014

61 SURYATI RT 9 RW 4 NO 413 0,25433333 54,7 0,596244902 24 365 35 0,077624473 0,36964035

62 H. ALIMUDIN 0,25433333 53,5 0,591346365 12 365 20 0,022489584 0,107093257


NO 375 RT 10 RW
03

63 RIKA RT 09 RW 03 0,25433333 46,4 0,559903631 24 365 4 0,009820838 0,046765897

64 AMSOLEH NO 368 0,25433333 62,3 0,624974815 24 321 52 0,093343322 0,444492008

65 SURYANTI NO 203 0,25433333 59 0,612956186 23 365 4 0,008103027 0,038585842

66 RINA NO 418 0,25433333 55,4 0,599052994 20 365 40 0,073337735 0,34922731

67 MAIMUNAH NO 532 0,25433333 44,5 0,550670529 24 365 40 0,100712896 0,47958522

68 VERA NO 120 0,25433333 33,2 0,485979764 23 365 22 0,062793205 0,29901526

69 JUNAIDI NO 268 0,25433333 59,2 0,613703507 18 365 48 0,075933369 0,361587472

RT 06 RW 02 NO
0,25433333 45 0,553137966 18 365 50 0,093787615 0,446607691
70 TASLIM 266 LORONG AMAL

RT 19 RW 04 NO
0,25433333 54 0,593400644 24 365 9 0,020122875 0,095823215
71 SUSIANI 723

72 AHBUNAYYAH NO 248 0,25433333 36,7 0,5081132 24 365 2 0,005634011 0,026828623

73 MAYA NO 435 0,25433333 69,7 0,649760904 22 365 10 0,017387034 0,082795401

74 ROSMALA RT 19 NO 722 0,25433333 67,4 0,642350775 24 365 14 0,027147739 0,129274947

75 VIVI RT 19 NO 735 0,25433333 46,5 0,560379052 24 358 15 0,036074775 0,171784643

76 ANSORI 0,25433333 44,3 0,549675783 16 365 59 0,09930175 0,472865474


JALAN RATU
SIANUM RT. 19 RW
04 NO 711

77 SUSI RT 19 0,25433333 60,6 0,618865122 23 365 2 0,003982568 0,018964611

78 TARI RT 19 0,25433333 52,6 0,58759981 24 277 22 0,037948862 0,180708867

79 ASIAH NO 520 0,25433333 57,7 0,608035959 22 277 58 0,086511344 0,41195878

JLN SULTAN AGUNG


0,25433333 55,1 0,597853896 19 365 49 0,085639707 0,40780813
80 NURUL HUDA NO 488

81 KUSNO NO 631 0,25433333 58,9 0,612581574 24 365 41 0,086761242 0,413148773

82 MURSIANA RT 11 RW 03 0,25433333 53,8 0,592581224 24 365 56 0,12550092 0,597623427

83 NURHASANA NO 11A RT 03 0,25433333 62,9 0,627091444 24 277 60 0,092365898 0,439837608

JALAN SULTAN
0,25433333 71,4 0,655082446 24 365 67 0,12507365 0,595588808
84 ARONI AGUNG NO 497

85 HURAIN NO 498 0,25433333 71,9 0,656623508 24 365 58 0,107772709 0,513203378

86 HELEN RT 15 RW 03 0,25433333 60 0,616667757 24 321 3 0,005517301 0,026272862

88 LESTARI RT 15 NO 484 0,25433333 59,8 0,615930417 15 365 46 0,060250629 0,286907758

88 ZAINUR RT 15 NO 486 0,25433333 52,5 0,587179575 24 321 53 0,106070092 0,505095675

89 SITI AMMAH NO 512 0,25433333 66 0,637715422 20 365 34 0,055702402 0,265249535


90 HERMANSYAH NO 512 0,25433333 77,8 0,674039566 15 365 38 0,041866116 0,199362459

JLN SULTAN AGUNG


0,25433333 64,2 0,631609042 20 321 54 0,079219348 0,37723499
91 H.ZULKIFLI RT 13 RW 03

92 DIMA RT 15 NO 483 0,25433333 66,6 0,639713928 21 362 27 0,045792291 0,218058528

93 MAYAN RT 15 NO 391 0,25433333 52 0,585066321 24 365 55 0,125909273 0,599567965

RT 09 RW 03 NO
0,25433333 55 0,597452745 22 189 58 0,060847468 0,28974985
94 AHMAD 391

95 RAHMI RT 09 NO 391 0,25433333 54 0,593400644 24 365 28 0,0626045 0,298116669

96 FAUZIAH RT 09 NO 442 0,25433333 61,7 0,622837701 19 358 31 0,049439858 0,235427895

97 JANNAH RT 09 NO 321 0,25433333 51,2 0,58164248 24 365 62 0,143308225 0,682420118

98 SYAFEI NO 84 0,25433333 49,2 0,572843175 16 365 30 0,047379875 0,22561845

99 ILHAM RT 9 RW 04 NO 114 0,25433333 55,1 0,597853896 19 365 20 0,034954983 0,166452298

RT 10 RW 04 NO
0,25433333 46 0,557991642 24 335 46 0,104201245 0,496196403
100 ABDURRAHMAN 138

RT 10 RW 04 NO
0,25433333 54 0,593400644 24 365 23 0,051425125 0,24488155
101 DEWI 138

102 AMIN RT 13 0,25433333 71,3 0,654772939 16 365 25 0,031141764 0,148294115


103 AGUS 1 ILIR 0,25433333 55,6 0,59984879 15 365 12 0,016463476 0,078397504

RT 02 RW 05 NO
0,24466667 68,4 0,645603165 14 335 20 0,019782131 0,094200624
104 FATIMAH 205 1 ILIR

RT 04 RW 01 NO
0,24466667 55,8 0,600641729 14 351 20 0,023637804 0,112560974
105 SRIYATI 163

RT 01 RW 01 NO
0,24466667 85,5 0,6948807 17 365 2 0,002253599 0,010731423
106 SITI ROHMAH 163

RT 03 RW 01 NO 81
0,24466667 57,7 0,608035959 20 365 35 0,060159614 0,286474353
107 DEWI 1ILIR

RT 36 RW 7 NO 22 3
0,24466667 47,5 0,565077811 24 354 40 0,090333706 0,430160503
108 NURHAYATI ILIR

RT 36 RW 26 NO 26
0,24466667 50,3 0,577726121 24 365 33 0,074187844 0,353275448
109 SODARIA 3 ILIR

RT 02 RW 02 NO 71
0,24466667 62,8 0,626740079 22 363 52 0,092602169 0,44096271
110 NURHASANAH 1 ILIR

111 AMINAH RW 02 RT 02 NO 65 0,24466667 68 0,644307952 24 358 2 0,003638057 0,017324082

RT 03 RW 01 NO
0,24466667 73,8 0,662383387 24 358 43 0,074092881 0,352823241
112 EMA 101 1 ILIR

RW 1 RT 3 NO 118 1
0,24466667 29 0,456111162 24 365 60 0,184709293 0,879568061
113 NURSIDAH ILIR
RT 04 RW 01 NO
0,24466667 53,6 0,591758753 21 365 30 0,056724934 0,270118734
114 SUTINA 132

RT 04 RW 01 NO
0,24466667 65,9 0,637380572 24 365 70 0,132518417 0,631040081
115 SUHERI 132

RT 05 RW 02 NO
0,24466667 48,2 0,56830845 24 365 34 0,078465868 0,373646992
116 MERI 131

RT 05 RW 02 NO
0,24466667 55,1 0,597853896 18 365 38 0,060527553 0,288226443
117 M. AZHAR 227

RT 05 RW 02 NO
0,24466667 55,4 0,599052994 24 365 33 0,069844821 0,332594387
118 TINA 227

RW 02 RT 05 NO
0,24466667 56 0,601431832 24 365 21 0,044145096 0,210214745
119 YOPIE 227

RT 04 RW 01 NO
0,24466667 56,5 0,603394808 16 365 21 0,029264826 0,139356315
120 SETO 145 1 ILIR

RT 04 RW 61 NO
0,24466667 40,4 0,529324911 24 343 30 0,072298331 0,344277766
121 KARSIH 145 1 ILIR

RT 04 RW 01 NO
0,24466667 62 0,623908843 16 365 45 0,059090205 0,28138193
122 JOKO 145 1 ILIR

RT 14 RW 04 NO
0,24466667 49,4 0,573739052 14 365 15 0,019891169 0,094719852
123 MARYAM 165
RT 14 RW 04 NO
0,24466667 55,4 0,599052994 15 365 28 0,03703892 0,176375811
124 ABDUL GHANI 165

RT 14 RW 04 NO
0,24466667 51 0,580778161 24 358 3 0,006558678 0,0312318
125 YULI 165 1 ILIR

126 MARKUM RT 14 NO 172 0,24466667 47 0,562740929 15 365 4 0,005858891 0,027899483

127 MARYATI NO 172 RT 14 0,24466667 64,3 0,631952752 18 365 4 0,005771114 0,027481497

128 NUR RT 14 NO 184 0,24466667 27,9 0,447571727 24 365 65 0,204096985 0,971890407

129 ASTUTI 1 ILIR 0,24466667 48,9 0,571492508 24 365 7 0,016012698 0,076250943

130 YUS NO 69 RT 03 RW 02 0,24466667 63,9 0,630574692 24 365 26 0,050219666 0,239141266

131 FIKA NO 69 RT 03 RW 02 0,24466667 45,9 0,557511047 24 341 3 0,006663284 0,031729926

132 SOFIDRA RT 03 RW 01 NO 48 0,24466667 68,5 0,645925785 24 310 48 0,07524314 0,358300665

133 ARIFIN RT 04 RW 01 0,24466667 53,2 0,590104563 24 365 34 0,073817792 0,351513294

RT 04 RW 01 NO
0,24466667 59,2 0,613703507 24 343 4 0,007627161 0,036319816
134 ELIS 132

NO 132 RT 04 RW
0,24466667 50,3 0,577726121 12 365 33 0,037093922 0,176637724
135 JOHAN 01

RT 07 RW 02 NO
0,24466667 56,8 0,604564272 24 365 6 0,012500005 0,059523833
136 LINA 140
JAMIAH RT 05
0,24466667 55,4 0,599052994 23 365 43 0,087217839 0,415323041
137 RW 02 NO 2 27 1 ILIR

138 NANI RT 04 RW 01 NO 40 0,24466667 49,6 0,574631309 15 365 25 0,035431736 0,168722551

RW 01 RT 04 NO
0,24466667 76 0,668870279 24 365 47 0,080963814 0,38554197
139 NAROSIH 145

RT 07 RW 01 NO
0,24466667 57,1 0,605727576 22 365 26 0,049486965 0,235652213
140 SULASTRI 150

RT 04 RW 01 NO
0,24466667 49 0,571943649 24 365 21 0,047977902 0,228466198
141 KURNIATI 150

RT 04 RW 01 NO
0,24466667 57,4 0,606884784 20 365 52 0,089677036 0,427033505
142 AMINAH 149

143 JULIA RT 14 NO 156 0,24466667 53,3 0,590519273 16 362 2 0,00286765 0,013655475

RT 04 RW 01 NO
0,24466667 61,3 0,621401382 19 365 66 0,103672322 0,493677725
144 HUSNI 480

145 DAYAT NO 968 0,24466667 62,6 0,626035666 24 365 33 0,06459568 0,307598476

146 KANAN NO 390 0,24466667 62,4 0,625328998 19 362 38 0,058523519 0,278683424

147 SITI ROCHMAH 1 ILIR 0,24466667 71,7 0,656008373 17 335 38 0,044241336 0,210673031

148 RUMISAH 1 ILIR 0,24466667 71,7 0,656008373 19 335 35 0,045542552 0,216869297


RT 07 RW 02 NO
0,24466667 49,6 0,574631309 24 353 9 0,019737709 0,093989093
149 SRI RAHAYU 309

150 MARNI NO 135 1 ILIR 0,24466667 45,9 0,557511047 24 321 45 0,09408714 0,448033998

151 ZAINUN NO 310 1 ILIR 0,24466667 55,4 0,599052994 20 365 60 0,105825487 0,503930889

RT 07 RW 02 NO
0,24466667 44,8 0,552154297 24 277 35 0,064077002 0,305128581
152 DIAN 301

RT 07 RW 07 NO
0,24466667 56,1 0,601825825 23 365 41 0,082503658 0,39287456
153 HARI 302

154 IKE NO 301 0,24466667 62 0,623908843 24 332 37 0,066288957 0,315661701

155 RUSLIANA NO 301 0,24466667 55 0,597452745 24 332 47 0,090896831 0,432842051

156 SUWOTO NO 256 0,24466667 71,3 0,654772939 20 351 30 0,04321358 0,205778952

157 SRI YUNIATI NO 302 1ILIR 0,24466667 40,9 0,532041222 24 329 39 0,089506465 0,426221264

158 SUKINAH RT 07 RW01 NO 302 0,24466667 57,5 0,607269176 22 343 30 0,053421015 0,254385785

RT 07 RW 02 NO
0,24466667 61,8 0,623195326 21 365 56 0,096715612 0,460550534
159 SUDIRMAN 176

160 AGUS CIK NO 274B RT 07 0,24466667 66,2 0,638383602 14 365 45 0,049547054 0,23593835

RT 06 RW 02 NO
0,24466667 38,9 0,520969564 24 332 15 0,035765477 0,170311795
161 TINI 251
162 TUTI NO 176 1 ILIR 0,24466667 63 0,627442252 24 365 35 0,068228535 0,324897787

RT 07 RRW 01 NO
0,24466667 74,2 0,663577083 23 365 36 0,06039088 0,287575621
163 MARYANI 176

RT 07 RW 03 NO
0,24466667 53,5 0,591346365 24 365 25 0,054087007 0,257557177
164 SUMI 301

RT 07 RW 02 NO
0,24466667 61,5 0,622120709 24 365 22 0,043559914 0,207428163
165 MERI 300

RT 07 RW 02 NO
0,24466667 76,6 0,670606854 24 365 10 0,017135785 0,081598977
166 FARIDA 299

RT 07 RW 02 NO
0,24466667 54 0,593400644 19 365 24 0,04086699 0,194604712
167 YETI 310

168 ISA RT 07 RW 02 NO 31 0,24466667 49,7 0,575076089 24 365 35 0,079268704 0,37747002

RT 07 RW 02 NO
0,24466667 61,2 0,621040838 24 365 31 0,061573696 0,293208076
169 YANTI 311

170 RIATUN RT 07 RW 02 337 0,24466667 84,4 0,692021135 18 335 30 0,033141806 0,157818121

RT 07 RW 02 NO
0,24466667 61,2 0,621040838 19 335 20 0,028864087 0,137448034
171 PARTO 296

RT 08 RW 04 1 ILIR
0,24466667 56,9 0,604952721 24 343 32 0,062578507 0,297992888
172 M.YANTO NO 346
RT 08 RW 02 NO
0,24466667 58,8 0,612206326 16 335 30 0,037408235 0,178134452
173 KARINA 346

RT 10 RW 04 NO
0,24466667 51 0,580778161 24 354 13 0,028103386 0,133825646
174 NURBAITI 407

RT 19 RW 04 NO
0,24466667 81,9 0,685381027 24 321 35 0,050418878 0,240089897
175 ASNI AIDAH 660 1 ILIR

RT 06 RW 01 NO
0,24466667 54,2 0,594217034 23 365 30 0,061694785 0,293784688
176 SUKIYAH 270 1 ILIR

RT 06 RW 01 NO
0,24466667 57,3 0,606499721 24 365 41 0,084942421 0,404487717
177 RATIH 271 SUNGAI BUAH

RT 07 SUNGAI BUAH
0,24466667 41,7 0,536318999 24 314 15 0,032484782 0,15468944
178 AINI NO 330

RT 07 RW 01 NO
0,24466667 59,4 0,614448308 20 358 35 0,057921615 0,275817213
179 RUSLAN 365 SUNGAI BUAH

RT 07 RW 01 NO 37
0,24466667 81,4 0,684028706 24 365 10 0,016448061 0,078324101
180 SITI ROHMAH SUNGAI BUAH

RT 34 RW 07 NO 8
0,24466667 71,6 0,655700162 24 365 59 0,105756988 0,503604704
181 AMANAH JLN RATU SIANUM

RT 34 RW 07 NO 8
0,24466667 64,8 0,633663321 23 365 10 0,018342771 0,08734653
182 FIFIN JLN RATU SIANUM
183 YANI RT 14 NO 18 0,24466667 71,9 0,656623508 24 365 4 0,007150103 0,034048111

RT 10 RW 4 SUNGAI
0,24466667 57,5 0,607269176 24 365 5 0,010335897 0,049218559
184 ILHAM BUAH

RT 10 RW 04 NO
0,24466667 57,4 0,606884784 24 358 29 0,058863666 0,280303173
185 SANTI 628

YUDHA NO 628 RT 10 RW
0,24466667 51,7 0,583788593 18 365 19 0,031495225 0,149977263
186 PRATAMA 04

NO 628 RT 10 RW
0,24466667 37,5 0,512875289 24 365 31 0,082986413 0,395173395
187 KAMELIA 04

NO 630 RT 10 RW
0,24466667 49,4 0,573739052 16 358 44 0,065403928 0,311447278
188 M. RODI 04

NO 630 RT 10 RW
0,24466667 48,6 0,57013353 12 365 20 0,022961756 0,109341697
189 TONI 04

NO 630 RT 10 RW
0,24466667 45,9 0,557511047 22 358 48 0,102600251 0,488572623
190 SAMSIAH 04

3 ILIR RW 7 RT 33
0,24466667 68,9 0,647211573 24 332 31 0,051844031 0,246876336
191 DALIMAN NO 38

NO 38 RT 33 RW 07
0,24466667 71,6 0,655700162 24 365 31 0,055567231 0,264605861
192 HERMAWATI 3 ILIR

193 MASTUNA 0,24466667 58,5 0,611076742 24 365 53 0,108362883 0,516013727


NO 506 RT 33 RW
07 3ILIR

NO 272 RT 06 RW
0,24466667 46,1 0,558471193 24 358 13 0,030234177 0,143972274
194 KARTINI 01 SUNGAI BUAH

NO 272 RT 06 RW
0,24466667 68,5 0,645925785 24 365 40 0,073827274 0,351558449
195 WULATANI 01 SUNGAI BUAH

NO 330 RT 06 RW
0,24466667 59,8 0,615930417 24 358 32 0,063275473 0,301311776
196 ICE 01 SUNGAI BUAH

ANISA NO 365 RT 01 RW0


0,24466667 60,8 0,619592745 24 365 34 0,06781823 0,322943955
197 INDRAYANI 01 SUNGAI BUAH

TANJUNG NO 08 RT 34 RW 07
0,24466667 58,5 0,611076742 24 365 40 0,081783308 0,389444323
198 SIMANJUNTAK 3 ILIR

R. NO 08 RT 34 RW 07
0,24466667 50 0,57640508 24 365 50 0,112821688 0,537246132
199 SIMANJUNTAK 3 ILIR

NO 20 RT 34 RW 07
0,24466667 77,4 0,672901247 24 365 55 0,093591812 0,445675294
200 KOMALUDIN 3 ILIR

NO 18 RT 34 RW 07
0,24466667 55,5 0,59945125 24 358 19 0,039397571 0,187607479
201 REDI 3 ILIR

WIWIN NO 39 RT 34 RW 07
0,24466667 51,4 0,58250343 24 314 7 0,013357801 0,063608578
202 RAHMAWATI 3 ILIR

203 WAHYUNI RT 34 RW 07 0,24466667 56,2 0,602219117 21 358 4 0,007200145 0,034286403


NO 90 RT 34 RW 07
0,24466667 57 0,605340488 24 365 57 0,118485312 0,564215769
204 SITI ABSAH 3 ILIR

RT 34 RW 07 NO 90
0,24466667 58,6 0,611453912 24 365 25 0,051058836 0,243137316
205 ITA 3 ILIR

206 M.NASIR RT 10 RW 04 1ILIR 0,24466667 74,3 0,663874502 24 365 15 0,026233318 0,124920563

RT 12. RW 04 NO 30
0,246 51,8 0,584215325 22 365 40 0,081384127 0,387543462
207 sobiha TANGGA TAKAT

RT 12 RW 04 NO 50
0,246 59,3 0,614076222 22 365 52 0,097142095 0,462581404
208 AMILIN TANGGA TAKAT

RW01 RT 01
0,246 51,8 0,584215325 10 365 10 0,009248196 0,04403903
209 ANIS TANGGA TAKAT

TANGGA TAKAT RT
0,246 47,2 0,563678651 24 365 40 0,094010134 0,447667307
210 PONIN 01 RW 01

RW 04 RT 01
0,246 50,1 0,576846306 14 365 40 0,052871821 0,251770577
211 SUPARMAN TANGGA TAKAT

TANGGA TAKAT NO
0,246 53,3 0,590519273 14 365 20 0,025437753 0,121132159
212 HUSEIN 66 RT 01 RW 2

NO 705 RT 13 RW
0,246 59,5 0,614819769 22 365 4 0,007456369 0,035506518
213 SANIMAH 01 TANGGA TAKAT

214 LANI 0,246 49,4 0,573739052 24 365 52 0,118854574 0,565974163


NO 704 RT 13 RW
05 TANGGA TAKAT

LORNG SANTA JAYA


0,246 46 0,557991642 12 318 57 0,059275342 0,282263535
215 SOHAR RT 13 RW 02

NO 808 RT 14 RW 5
0,246 50,8 0,579910445 24 365 2 0,004493164 0,021396021
216 SAMINAH TANGGA TAKAT

NO 125 RT 14 RW
0,246 54,4 0,595030417 19 365 18 0,030674693 0,146069967
217 MINAH 06

218 EFENI NO 322 RW 04 RT 7 0,246 52,3 0,586336699 24 365 22 0,048539261 0,23113934

NO 322 RW 04 RT
0,246 61,1 0,620679704 15 365 47 0,058725849 0,2796469
219 ABDURAHMAN 07

NO 818 RT 14 RW
0,246 76,9 0,671470048 24 365 23 0,039523303 0,188206206
220 MEGA 05

RT 14 RW 05
0,246 50,2 0,577286652 24 365 57 0,128999417 0,614282939
221 TINI TANGGA TAKAT

222 ABU SALIM NO 2 RT 18 0,246 84,1 0,691234784 20 365 58 0,078181038 0,372290655

223 KHODIJAH RT 14 RW 02 0,246 42,3 0,539473815 24 365 10 0,025098924 0,119518684

224 AJI RT 14 RW 04 0,246 47,8 0,566468162 12 365 2 0,002332237 0,011105891

225 CEK UCU RT 14 RW 04 0,246 68,9 0,647211573 24 288 51 0,074391265 0,354244121


226 JURIAH RT 18 RW 05 0,246 50,6 0,579039306 21 365 4 0,007882258 0,037534564

NO 1136 RT 29 RW
0,246 61,9 0,623552373 17 365 42 0,058978585 0,280850406
227 SURYANI 07

NO 1171 RT 29 RW
0,246 61,2 0,621040838 24 364 37 0,073689239 0,35090114
228 EKA 07

RT 29 RW 6
0,246 36,3 0,505693085 24 365 49 0,134338831 0,639708717
229 MAIMUNAH TANGGA TAKAT

RT 29 RW 6
0,246 78 0,674606533 20 365 23 0,03262328 0,155348952
230 SUMAINI TANGGA TAKAT

231 MASNANI RT 29 RW 06 0,246 54,5 0,595435988 24 363 37 0,079118702 0,376755726

232 RUSMILA RT 19 RW 06 0,246 51 0,580778161 20 363 10 0,018573669 0,088446044

233 LINA RT 18 RW 06 0,246 55,9 0,601037134 24 358 30 0,062262422 0,296487722

234 MIRA RT 18 RW 06 0,246 41,9 0,53737562 24 358 27 0,066841003 0,318290489

235 YULI RT 15 RW 06 NO 18 0,246 44,3 0,549675783 24 365 2 0,004883801 0,023256196

236 NAIMAH RW 06 RT 6 NO 27 0,246 54,7 0,596244902 14 358 5 0,006136764 0,029222685

237 WAYI RT 18 RW 05 7 0,246 77,2 0,67232988 24 365 21 0,035992292 0,171391866

238 BAMBANG RT 18 RW 05 NO 15 0,246 72,2 0,65754301 10 321 32 0,021016625 0,100079165


239 NINGSIH RT 15 RW 06 NO 31 0,246 63,4 0,628839936 21 365 46 0,078567301 0,374130006

240 DULRONI RT 15 RW 06 NO 57 0,246 71,8 0,656316155 24 365 35 0,062962475 0,299821308

241 SUGIMAN RT 15 RW 05 0,246 56 0,601431832 16 365 38 0,053544617 0,254974366

RT 43 RW 12
0,246 59,7 0,615560821 24 365 55 0,111605198 0,531453324
242 RUSNA TANGGA TAKAT

NO 429 RT 23 RW
0,246 56,7 0,604175138 24 365 45 0,094366403 0,449363822
243 YULIA 05 TANGGA TAKAT

NO 1446 RT 24 RW
0,246 87 0,698721376 24 363 44 0,069163396 0,329349504
244 SASTRAWATI 08

NO 1403 RT 24 RW
0,246 65,8 0,637045214 16 365 5 0,006351089 0,030243281
245 ASNIRA 08

246 SALIM NO 51 RT 34 RW 06 0,246 47,5 0,565077811 17 365 34 0,056384059 0,268495518

247 ROYATI NO 62 RW 04 RT 06 0,246 58,4 0,610698926 24 277 9 0,014056229 0,066934423

248 ICA LAILA NO 89 0,246 45 0,553137966 24 354 20 0,046923073 0,223443203

NO 1351 RT 23 RW
0,246 54 0,593400644 24 365 23 0,049740161 0,236857908
249 MARKASIH 08

250 NURHIDAH RT 23 RW 08 NO 25 0,246 55,9 0,601037134 24 365 58 0,122727697 0,584417605

251 ERNA RT 23 RW 08 0,246 65,4 0,635698665 24 365 46 0,087994692 0,419022344


TANGGA TAKAT NO
25

NO 1446 RT 24 RW
0,246 52,9 0,588855737 24 365 2 0,004381354 0,02086359
252 YENI 08

NO 1403 RT 24 RW
0,246 67,1 0,641365643 24 365 18 0,033859518 0,1612358
253 ISA 8 TANGGA TAKAT

254 WATI RT 24 RW 08 NO 31 0,246 63,9 0,630574692 24 365 35 0,067971807 0,323675272

NO 62 RT 36 RW 8
0,246 62,9 0,627091444 24 365 48 0,094177371 0,44846367
255 NURHIDAH TANGGA TAKAT

256 EMA NO 85 RT 36 RW 8 0,246 61 0,620317978 24 365 25 0,050032204 0,238248591

1 ILIR RT 1 RW 1 NO
0,246 57,6 0,6076529 22 365 43 0,08183481 0,389689573
257 KOMARIYAH 24

NO 03 RT 1 RW 1 1
0,246 52,4 0,586758539 23 365 25 0,052797071 0,251414623
258 ANI ILIR

259 EDI RT 01 RW 01 NO 09 0,246 65,1 0,634683338 11 365 28 0,024622984 0,117252303

260 DAIMI 12 RT 01 RW 01 0,246 64,9 0,63400385 20 365 30 0,048063158 0,22887218

261 MEGAWATI RT 01 RW 01 NO 12 0,246 58,7 0,61183044 24 365 30 0,061537426 0,293035363

262 NOVI NO 13 RT 01 RW 01 0,246 54,4 0,595030417 24 365 32 0,068883521 0,328016768

263 NUR NO 46 RT 01 RW 01 0,246 40,8 0,531500626 24 365 13 0,033328216 0,158705789


264 ROLIAH NO 06 RT 01 RW 01 0,246 44,5 0,550670529 24 365 2 0,00487065 0,023193571

265 AYU CI NO 63 RT 02 RW 01 0,246 41,5 0,535257299 17 365 55 0,098887174 0,470891303

266 HANIZAH RT 01 RW 01 NO 49 0,246 36 0,503860432 24 365 70 0,19281059 0,918145677

267 ZAINUL NO 13 RT 01 RW 01 0,246 49 0,571943649 24 365 39 0,089587386 0,426606598

268 HALIMAH NO 26 RT 40 RW 08 0,246 79,4 0,678535056 24 354 44 0,071769506 0,341759552

269 DESI NO 63 RT 28 RW 08 0,246 100,5 0,730576498 24 365 29 0,041488022 0,197562009

MUSTOPO
0,246 58,9 0,612581574 24 351 63 0,124001954 0,590485497
270 YUNUS NO 78 RT 38 RW 08

271 FATIMAH NO 50 RT 33 RW 07 0,246 64 0,630920014 24 364 63 0,121890117 0,580429128

272 ASNA NO 81 RT 35 RW 07 0,246 58,4 0,610698926 24 360 9 0,018268023 0,086990586

273 MARYATI RW 05 RT 07 NO 62 0,246 43,9 0,547672746 24 365 8 0,019641366 0,093530315

274 KHADIJAH NO 13 RT 07 RW 08 0,246 77,8 0,674039566 24 365 58 0,098891481 0,470911814

275 IRMA NO 13 RW 06 RT 07 0,246 70 0,650709366 24 361 26 0,047043735 0,224017787

276 ZAINABAH NO 37 0,246 51,6 0,583361036 24 365 54 0,12014524 0,572120192

277 SULASIH NO 14 3 ILIR 0,246 50,7 0,579475305 16 365 5 0,007497748 0,03570356

278 NURHAYATI NO 14 RT 07 RW 08 0,246 52,8 0,588437888 24 365 61 0,133789378 0,637092276


279 MASLIKAN NO 61 RT 37 RW 08 0,246 50,4 0,578164718 18 365 24 0,04063672 0,193508191

NO 19 RT 33 RW 07
0,246 63,9 0,630574692 16 365 43 0,055672147 0,265105461
280 TEGUH LRG SEPAK RAGA

281 SALIMAH NO 57 RT 07 RW 01 0,246 76,3 0,669740274 24 365 41 0,070825692 0,337265201

282 RAHMA NO 57 RT 07 RW 01 0,246 56,8 0,604564272 24 365 2 0,004189375 0,019949405

283 SANTI NO 60 RT 37 0,246 64,1 0,631264797 24 365 7 0,013566777 0,064603698

284 SAUNA NO 56 RT 37 RW 08 0,246 77,5 0,673186378 24 365 25 0,042736477 0,203507034

285 ARIF NO 61 RT 37 RW 08 0,246 56,3 0,60261171 24 365 4 0,00842586 0,040123145

286 IBRAHIM NO 37 RT 37 RW 08 0,246 54 0,593400644 24 365 52 0,112456015 0,535504835

287 YULITA NO 26 RT 37 RW 08 0,246 49,4 0,573739052 24 365 17 0,038856303 0,185030015

288 ALFIANSYAH NO 8 RT 37 RW 08 0,246 52,4 0,586758539 24 365 25 0,055092596 0,262345694

289 KARYATI NO 14 RT 37 RW 8 0,246 49,7 0,575076089 24 365 10 0,022771625 0,108436308

290 MASNUN TANGGA TAKAT 0,246 51,8 0,584215325 24 321 25 0,048800071 0,232381292

291 LINA NO 11 RT 37 RW 08 0,246 74 0,662981041 24 365 42 0,07405319 0,35263424

292 M. DAUD NO 57 RT 33 RW 07 0,246 74,9 0,665650651 23 365 25 0,041903108 0,199538611

293 IBRAHIM NO 5 RT 07 RW 06 0,246 74,8 0,665355616 24 365 32 0,056017962 0,266752198


294 NURHAYATI NO 50 RT 37 RW 08 0,246 65,5 0,636036073 24 365 45 0,085995961 0,409504578

295 LAJIM NO 71 RT 30 RW 08 0,246 69,4 0,64880835 24 365 7 0,012878939 0,061328282

LRG LANGGAR RT
0,246 60 0,616667757 24 365 34 0,068770788 0,327479944
296 SUMINI 38 RW 08

LRG LANGGAR RT
44,5 0,550670529 24 365 64 0,155860797 0,74219427
297 M. TEGUH 38 RW 08 0,25433333
Hasil Output Distribusi Tiap Variabel

Descriptives

Statistic Std. Error

II1. Berat Badan ? Mean 57.6552 .63682

95% Confidence Interval for Lower Bound 56.4020


Mean
Upper Bound 58.9085

5% Trimmed Mean 57.3933

Median 56.4000

Variance 120.445

Std. Deviation 1.09747E1

Minimum 27.90

Maximum 100.50

Range 72.60

Interquartile Range 13.80

Skewness .481 .141

Kurtosis .620 .282

II2. Lama Tinggal ? Mean 31.32 1.027

95% Confidence Interval for Lower Bound 29.30


Mean Upper Bound 33.34

5% Trimmed Mean 31.06

Median 31.00

Variance 313.353

Std. Deviation 17.702

Minimum 2

Maximum 75

Range 73

Interquartile Range 26

Skewness .104 .141

Kurtosis -.786 .282

II3a. Berada Di Pemukiman? Mean 21.28 .225


95% Confidence Interval for Lower Bound 20.84
Mean Upper Bound 21.73

5% Trimmed Mean 21.69

Median 24.00

Variance 15.021

Std. Deviation 3.876

Minimum 8

Maximum 24

Range 16

Interquartile Range 5

Skewness -1.319 .141

Kurtosis .714 .282

LAJU_ASUPAN Mean .6036 .00250

95% Confidence Interval for Lower Bound .5987


Mean Upper Bound .6086

5% Trimmed Mean .6045

Median .6030

Variance .002

Std. Deviation .04307

Minimum .43

Maximum .73

Range .30

Interquartile Range .05

Skewness -.365 .141

Kurtosis 1.233 .282

Frekuensi_pajanan Mean 355.79 1.356

95% Confidence Interval for Lower Bound 353.12


Mean Upper Bound 358.46

5% Trimmed Mean 359.73

Median 365.00

Variance 546.112

Std. Deviation 23.369

Minimum 189
Maximum 365

Range 176

Interquartile Range 7

Skewness -3.987 .141

Kurtosis 20.186 .282

intake Mean .05762 .002211

95% Confidence Interval for Lower Bound .05327


Mean Upper Bound .06197

5% Trimmed Mean .05524

Median .05287

Variance .001

Std. Deviation .038099

Minimum .002

Maximum .229

Range .227

Interquartile Range .050

Skewness .982 .141

Kurtosis 1.723 .282

RQ Mean .27382 .010391

95% Confidence Interval for Lower Bound .25337


Mean Upper Bound .29427

5% Trimmed Mean .26305

Median .25177

Variance .032

Std. Deviation .179069

Minimum .011

Maximum .972

Range .961

Interquartile Range .238

Skewness .868 .141

Kurtosis 1.081 .282


Tests of Normality

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

II1. Berat Badan ? .075 297 .000 .984 297 .002

II2. Lama Tinggal ? .057 297 .019 .975 297 .000

II3a. Berada Di Pemukiman? .300 297 .000 .738 297 .000

LAJU_ASUPAN .046 297 .200* .984 297 .002

Frekuensi_pajanan .357 297 .000 .454 297 .000

intake .073 297 .001 .943 297 .000

RQ .073 297 .001 .943 297 .000

a. Lilliefors Significance Correction

*. This is a lower bound of the true significance.


Lampiran Foto-Foto Pada Saat Turun Lapangan

Pengambilan Sampel Udara Pagi Hari Pengambilan Sampel Udara Siang Hari

Pengambilan Sampel Udara Malam Hari


Pengambilan Sampel Udara Pada Pagi dan Siang Hari

Pengambilan Sampel Udara Pada Malam Hari