Anda di halaman 1dari 17

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Perkembangan Sosial Emosi Anak Usia Dini

1. Pengertian Perkembangan Sosial Emosi

Perkembangan sosial adalah proses kemampuan belajar dan tingkah

laku yang berhubungan dengan individu untuk hidup sebagai bagian dari

kelompok. Di dalam perkembangan sosial anak dituntut untuk memiliki

kemampuan yang sesuai dengan tuntutan sosial dimana anak berada.

Tuntutan sosial yang dimaksud adalah anak dapat bersosialisasi dengan

baik sesuai dengan tahap perkembangannya dan usianya, dan cenderung

menjadi anak yang mudah bergaul dengan teman sebaya.

Menurut Yusuf (2010: 122) Perkembangan sosial merupakan

pecapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan

sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma

kelompok, moral dan tradisi meleburkan diri menjadi suatu kesatuan dan

saling berkomunikasi dan bekerja sama.

Anak dilahirkan belum bersifat sosial, anak belum memiliki

kemampuan untuk bergaul dengan orang lain. untuk mencapai kematangan

sosial, anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan diri dengan

orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan

atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik

orangtua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya.


Menurut Sueann Robinson Ambron (dalam Yusuf, 2010: 123)

mengartikan bahwa sosialisasi ialah sebagai proses belajar yang

membimbing anak kearah perkembangan kepribadian sosial sehingga

dapat menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan efektif.

Menurut Hurlock (2011: 251) perkembangan sosial adalah mereka

yang perilakunya mencerminkan kebersihan di dalam tiga proses

sosialisasi, sehingga mereka cocok dengan kelompok tempat mereka

menggabungkan diri dan diterima sebagai anggota kelompok.

Menurut Suyadi (2010: 108) mengartikan bahwa perkembangan sosial

adalah tingkat jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari

orangtua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat luas. Sementara

perkembangan emosional adalah luapan perasaan ketika anak berinteraksi

dengan orang lain. Dengan demikian perkembangan sosial-emosional

adalah kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika

berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan emosi menurut English and English, (dalam Yusuf, 2010:

114) emosi adalah “A Complex feeling state accompanied by

characteristic and glandular activies yaitu suatu keadaan perasaan yang

kompleks yang disertai karakteristik kegiatan kelenjar dan motoris.. Emosi

merupakan suatu gejolak penyusuai diri yang berasal dari dalam dan

melibatkan hampir keseluruhan diri individu. Emosi juga berfungsi untuk

mencapai pemuasan atau perlindungan diri atau bahkan kesejahteran pribadi

pada saat berhadapan dengan lingkungan atau objek tertentu.

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


9

Menurut Lawrence E. Shapiro (dalam Suyadi, 2010: 109) emosi

adalah kondisi kejiwaan manusia. Karena sifatnya psikis atau kejiwaan,

maka emosi hanya dapat dikaji melalui letupan-letupan emosional atau

gejala-gejala dan fenomena-fenomena, seperti kondisi gembira, gelisah,

benci, dan lain sebagainya. Namun, kondisi masing-masing emosi anak

berbeda-beda. Oleh karena itu, upaya memberikan permainan untuk

mengasah emosi anak juga berbeda-beda. Mungkin, seorang anak akan

mengekpresikan kesedihannya dengan cara menangis. Namun, bagi anak

yang menangis justru menceritakan sikap cengeng. Anak yang lain

mengekspresikan kesedihan dengan wajah murung dan menyedihkan.

Demikian pula dengan kondisi sosial emosional lainnya.

Menurut Saputra (2005: 141) mengartikan bahwa emosi adalah suatu

keadaan perasaan yang kompleks yang disertai karakteristik kegiatan

kelenjar dan motoris. emosi merupakan warna afektif yang menyertai

setiap keadaan atau perilaku individu. Yang dimaksud warna afektif adalah

perasaan-perasaan tertentu yang dialami pada saat menghadapi

(menghayati) suatu situasi tertentu. Contohnya, gembira, bahagia, putus

asa, terkejut, benci (tidak senang), dan sebagainya.

Sedangkan menurut Goleman (dalam Rachmawati, 2008: 1.3)

menyatakan bahwa emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-

pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian

kecenderungan untuk bertindak.

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


10

Dari definisi-definisi yang telah dijelaskan oleh para ahli dapat

disimpulkan bahwa perkembangan sosial emosi adalah suatu proses

belajar menyesuaikan diri untuk memahami keadaan serta perasaan ketika

berinteraksi dengan orang-orang dilingkungannya baik orang tua, saudara,

teman, sebaya atau orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari.

2. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial Emosi

Menurut Hurlock (dalam Ulfah, 2013: 55-57) faktor yang

mempengaruhi perkembangan anak dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni

faktor perkembangan awal, faktor penghambat, dan faktor pengembang. a.

Perkembangan awal

Perkembangan awal (0-5 tahun) adalah masa-masa kritis yang akan

menentukan perkembangan adanya perbedaan tumbuh-kembang antara

anak yang satu dengan anak yang lainnya dipengaruhi oleh hal-hal

sebagi berikut;

1) Faktor lingkungan sosial yang menyenangkan anak

Hubungan anak dengan masyarakat yang menyenangkan,

terutama dengan anggota keluarga akan mendorong anak

mengembangkan kecenderungan menjadi terbuka dan menjadi

lebih berorientasi kepada orang lain karakeristik yang mengarah

kepenyesuaian pribadi dan sosial yang lebih baik.

2) Faktor Emosi

Tidak adanya hubungan atau ikatan emosional akibat

penolakan anggota keluarga, dapat menimbulkan gangguan

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


11

kepribadian pada anak. Sebaliknya pemuasan emosional

mendorong perkembangan kepribadian anak semakin stabil.

3) Metode mendidik anak

Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga permisif,

cenderung kehilangan rasa tanggung jawab, mempunyai kendali

emosional yang rendah dan sering berprestasi rendah dalam

melakukan sesuatu, sedangkan mereka anak-anak yang dibesarkan

oleh orang tua secara demokratis penyesuaian pribadi dan

sosialnya lebih baik.

4) Beban tanggung jawab yang berlebihan

Anak yang dari kecil diberikan tanggung jawab terhadap

rumah, termasuk menjaga adiknya yang lebih kecil, dalam hal ini

ia berpotensi memiliki kecendurungan untuk mengembangkan

kebiasaan memerintahkan sepanjang hidupnya, artinya, anak

terlalu dini untuk diberi tanggung jawab atas adik-adiknya.

5) Faktor keluarga

Anak yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah

keluarga besar akan bersikap dan berperilaku otoriter. Pula dengan

anak yang tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang cerai

kemungkinan anak menjadi anak yang cemas, tidak mudah

percaya, dan sedikit kaku.

6) Faktor yang merangsang lingkungan

Lingkungan yang merangsang merupakan salah satu

pendorong tumbuh-kembang anak, lingkungan yang merangsang

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


12

dapat mendorong perkembangan fisik dan mental anak secara

baik, sedangkan lingkungan yang tidak merangsang dapat

menyebabkan perkembangan anak berada dibawah

kemampuannya.

b. Faktor penghambat perkembangan sosial emosional

Bebrapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan anak usia

dini yaitu faktor penghambat yaitu terdiri dari, (a) gizi buruk yang

mengakibatkan energi dan tingkat kekuatan menjadi rendah, (b) cacat

tubuh yang mengganggu perkembangan anak, (c) tidak adanya

kesempatan untuk belajar apa yang diharapkan kelompok sosial dimana

anak tersebut tinggal, (d) tidak adanya bimbingan dalam belajar

(PAUD), (e) rendahnya motivasi dalam belajar, (f) rasa takut dan

minder untuk berbeda dengan temannya dan tidak berhasil.

Menurut Soetarno (dalam Rachmawati, 2008: 4.15- 4.21), terdapat

sejumlah faktor yang mempengaruhi Perkembangan sosial anak

prasekolah TK, perkembangan sosial anak dapat dipengaruhi oleh dari

faktor lingkungan keluarga, faktor dari luar rumah dan faktor dari

pengaruh pengalaman sosial awal. Di antara faktor yang terkait dengan

lingkungan keluarga dan banyak berpengaruh terhadap perkembangan

sosial anak yaitu: status sosial ekonomi keluarga, keutuhan keluarga,

sikap dan kebiasaan orang tua. Adapun faktor dari luar rumah, Jika

hubungan mereka dengan teman sebaya dan orang dewasa di luar

rumah menyenangkan, mereka akan menikmati hubungan sosial

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


13

tersebut dan ingin mengulanginya. Demikian pula hal yang sebaliknya.

Begitu juga dengan Faktor pengaruh pengalaman sosial awal,

Pengalaman sosial awal sangat menentukan perilaku kepribadian

selanjutnya.

Menurut Hurlock (2011: 251-252), ada beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi perkembangan sosial anak dan menjadi pribadi yang

dapat bermasyarakat, yakni :

Pertama, Kesempatan yang penuh untuk sosialisasi adalah penting

karena anak-anak tidak dapat belajar hidup bermasyarakat dengan

orang lain jika sebagaian besar waktu mereka dipergunakan seorang

diri. Tahun demi tahun mereka semakin membutuhkan kesempatan

untuk bergaul tidak hanya dengan anak yang umur dan tingkat

perkembangan sama, tetapi juga dengan orang dewasa yang umur dan

lingkungannya berbeda.

Kedua, dalam keadaan bersama-sama anak-anak tidak hanya harus

mampu berkomunikasi dalam kata-kata yang dapat mengerti orang lain,

tetapi juga harus mampu berbicara tentang topik yang dapat dipahami

dan menarik bagi orang lain.

Ketiga, anak akan belajar bersosialisai hanya apabila mereka

mempunyai motivasi untuk melakukannya. Motivasi sebagian besar

bergantung pada tingkat kepuasan yang dapat diberikan oleh aktivitas

sosial kepada anak. Jika mereka memperoleh kesenangan melalui

hubungan dengan orang lain, mereka akan mengulangi hubungan


14

tersebut. Sebaliknya, jika hubungan sosial hanya memberikan

kegembiraan sedikit, mereka akan menghindarinya apabila mungkin.

Keempat, metode belajar yang efektif dengan bimbingan adalah

dengan metode belajar efektif anak-anak dapat mempelajari beberapa

pola perilaku yang penting bagi penyesuaian sosial yang baik. Mereka

juga belajar dengan mempraktekkan peran, yaitu dengan menirukan

orang yang dijadikan tujuan identifikasi dirinya. Akan tetapi, mereka

akan belajar lebih cepat dengan hasil akhir yang lebih baik jika mereka

diajar oleh seseorang yang dapat membimbing dan mengarahkan

kegiatan belajar dan memilihkan teman sejawat sehingga mereka akan

mempunyai contoh yang baik untuk ditiru

Sedangkan faktor yang mempengaruhi Perkembangan emosi

menurut Setiawan (dalam Rachmawati, 2008: 4.5-4.15) pada anak usia dini

yaitu meliputi :

a. Keadaan di dalam individu .

Keadaan individu seperti usia, keadaan fisik, intelegensi, peran seks

dan lain-lain dapat mempengaruhi oleh perkembangan individu. Hal

yang cukup menonjol terutama berupa cacat tubuh atau apapun yang

dianggap oleh diri anak sebagai kekurangan akan sangat mempengaruhi

perkembangan emosinya.

b. Konflik-konflik dalam proses perkembangan

Di dalam menjalani fase-fase perkembangan, tiap anak harus

melalui beberapa macam konflik yang pada umumnya dapat dilalui


dengan sukses, tetapi ada juga anak yang mengalami gangguan atau

hambatan dalam menghadapi konflik-konflik ini. Anak yang tidak dapat

mengatasi konflik-konflik tersebut biasanya mengalami gangguan

emosi.

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial emosi Anak-

anak hidup dalam 3 macam lingkungan yang mempengaruhi

perkembangan emosinya dan kepribadiannya. Ketiga faktor yang

berpengaruh terhadap perkembangan tersebut adalah:

1) Lingkungan keluarga

Keluarga sangat berperan dalam menanamkan dasar-dasar

pengalaman emosi. Jika secara umum ekspresi emosi cenderung

ditolak oleh lingkungan keluarga maka hal tersebut memberi

isyarat bahwa emotional security yang ia dapatkan dari keluarga

kurang memadai. Dalam kondisi seperti ini anak mudah marah,

cepat menangis, dsb, sehingga ia sukar bergaul. Gaya pengasuhan

yang diperoleh anak dari keluarga akan sangat berpengaruh

terhadap perkembangan emosi anak.

2) Lingkungan sekitarnya

Kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi emosi anak

yaitu: daerah yang terlalu padat, daerah yang memiliki angka

kejahatan tinggi, kurangnya fasilitas rekreasi, tidak adanya

aktivitas-aktivitas yang diorganisasi dengan baik untuk anak.


16

3) Lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah yang dapat menimbulkan gangguan

emosi dan menyebabkan terjadinya tingkah laku pada anak yaitu

hubungan yang kurang harmonis antara anak dan guru, hubungan

yang kurang harmonis dengan teman-teman.

3. Tahap-Tahap Perkembangan Sosial Emosi

Menurut Jean Piaget (dalam Yus, 2011: 12) mengidentifikasikan

perkembangan individu dalam empat tahap, yaitu:

a. Usia 0-2 tahun dikenal dengan tahap sensori motor. Pada

perkembangan ini perkembangan tertuju pada gerak refleks sebagai

bukti adanya kemampuan menyadari ada sesuatu didekatnya.

b. Usia 2-7 tahun dikenal dengan tahap praoperasional. Pada masa ini

muncul ciri yang disebut egosentri, yaitu kemampuan mengasosiasi

sesuaitu dengan dirinya.

c. Usia 7-18 tahun dikenal dengan tahap operasional konkret. Pada masa

ini anak telah memiliki kemampuan untuk mengenali urutan herarki.

d. Usia 18 tahun keatas dikenal dengan tahap formal operasional. Pada

masa ini terbentuk kemampuan berpikir proporsional dan berpikir

deduktif.

Menurut Hartati (2005: 18-19) dalam perkembangan belajar pada anak

usia dini memiliki tahapan dan karakteristik perkembangan anak usia dini

yaitu pada usia 0-2 tahun dalam sosial anak memiliki karakterisitik aspek
perkembangan yaitu memberikan reaksi suara yang berbeda pada suara

yang berbeda, membalas senyuman pada orang lain atau senyum sosial,

lebih menyukai satu orang. Pada usia 2-4 tahun anak mulai senang bergaya

dengan teman, meniru kegiatan orang dewasa, memperlihatkan rasa

cemburu menunjukan rasa sayang kepada saudara-saudarnya. dan Pada

usia 4-6 tahun dalam aspek perkembangan sosial yang harus dicapai

adalah tidak suka mengganggu teman, tidak suka menyerang teman,

senang bermain dengan anak lain, tidak suka menyendiri, telah memiliki

kemauan untuk memnceritakan sesuatu pada teman, mampu bermain dan

bekerja sama dengan temanya dalam kelompok, menolong dan membela

teman, dapat bertindak sopan, dapat menunjakan sikap yang ramah.

C. Pedoman Penilaian Perkembangan Sosial Emosi

1. Pedoman Penilaian

Penilaian dilakukan dengan mengacu pada kemampuan indikator yang

hendak dicapai dalam tahap waktu tertentu dengan memperhatikan prinsip

penilaian yang ditentukan. Penilaian dilakukan seiring dengan kegiatan

pembelajaran. Penilaian dilakukan secara khusus, tetapi ketika

pembelajaran dan kegiatan berlangsung, guru dapat sekaligus

melaksanakan penilaian.

Menurut Hadari Nawawi (dalam Dimyati, 2014: 28) menjelaskan

bahwa penilaian adalah setiap penelitian ilmiah diawali dari kegiatan

merumuskan masalah. Meskipun demikian, yang pertama kali ditulis di

dalam rancangan/proposal penelitian adalah judul penelitian. Dengan

demikian kegiatan membuat rumusan judul harus didasarkan pada

rumusan masalah yang telah ditetapkan oleh peneliti. Judul penelitian

sebaiknya dirumuskan dalam bentuk pernyataan, sedangkan rumusan

masalah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.


Menurut Arikunto (2010: 23), menjelaskan bahwa penelitian akan

berjalan dengan baik apabila sipeneliti menghayati benar-benar masalah

yang akan ditelitinya. Untuk bisa bekerja dengan baik seorang peneliti

memang harus tertarik terhadap permasalahan yang dipilih. Tertarik saja

juga tidaklah cukup untuk menjadi modal melakukan penelitian.

Menurut Astin (dalam Yus, 2005: 29) penilaian merupakan suatu

proses mengumpulkan informasi secara sistematik untuk membuat

keputusan tentang individu. Keputusan yang diambil berdasarkan

informasi yang diperoleh berdasarkan aturan tertentu.

Penilaian pada pendidikan anak TK lebih banyak untuk

mendeskripsikan ketercapaian perkembangan anak. Dengan penilaian

dapat diketahui dan ditetapkan aspek-aspek perkembangan yang telah

dicapai dan yang belum dicapai.

Menurut Depdiknas (2010: 11) cara pencatatan hasil penilaian harian

dilaksanakan sebagai berikut :

a. Anak yang belum berkembang (BB) sesuai dengan indikator seperti


dalam melaksanakan tugas selalu dibantu guru, maka pada kolom


penilaian ditulis nama anak dan diberikan satu bintang ( )

b. Anak yang sudah mulai berkembang (MB) sesuai dengan indikator



seperti yang diharapkan RKH tanda dua bintang ( ).

c. Anak yang sudah berkembang sesuai dengan harapan (BSH) pada


indikator dalam RKH mendapatkan tanda tiga bintang ( ).

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


36

d. Anak yang berkembang sangat baik (BSB) melebihi indikator seperti

yang diharapkan dalam RKH mendapatkan tanda bintang empat

().

Sesuai dengan ketentuan Kemendiknas peneliti akan

menggunakan symbol sebagai berikut :



= Anak yang belum berkembang

= Anak yang sudah mulai berkembang

= Anak yang sudah mulai berkembang sesuai harapan

= Anak yang berkembang sangat baik

2. Indikator Keberhasilan

Tabel 2.1
Indikator keberhasilan dalam pengembangan bidang sosial emosi

KRITERIA PENILAIANKET
NO INDIKATOR 
1. Anak mampu
melakukan permainan
dengan teman sebaya
2. Anak mampu
melakukan permainan
sesuai dengan
peraturan (1-3)
3. Anak mampu
bekerjasama dalam
menyelsaikan
permainan
4. Anak mampu
mengendalikan
emosi

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


37

Keterangan Indikator 1.

: anak belum mampu melakukan permainan musang

dan ayam dengan teman sebaya (misal: anak lebih

memilih teman untuk bermain)



: anak dapat melakukan permainan musang dan ayam

dengan teman sebaya dengan motivasi guru



: anak mampu melakukan permainan musang dan ayam
dengan teman sebaya

: anak mampu melakukan permainan musang dan ayam
dengan teman sebaya tanpa motivasi guru dan mampu

memberi semangat pada temannya

Keterangan Indikator2.

: anak belum mampu melakukan permainan sesuai
dengan peraturan (1-3)

: anak dapat melakukan permainan sesuai dengan
peraturan (1-2)

: anak mampumelakukan permainan sesuai dengan
peraturan

(1-3)

: anak mampu melakukan permainan sesuai dengan
peraturan (1-3) dan dapat mengingatkan teman untuk

mengikuti aturan

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


38

Keterangan Indikator 3

: anak belum mampu bekerjasama dalam menyelsaikan

permainan (misal: anak tidak mau bergabung dengan

teman sekelompok)

: anak dapat bekerjasama dalam menyelsaikan

permainan dengan teman tertentu (teman yang

disukai)

: anak mampu bekerjasama dalam menyelsaikan
permainan

: anak mampu bekerjasama dalam menyelsaikan
permainan dan dapat memotivasi teman lainnya.

Keterangan Indikator 4

: anak belum mampu mengendalikan emosi saat
bermain musang dan ayam (misalnya: marah ketika

tertangkap, menangis dan tidak mau menerima

gambar yang di pilih)



: anak dapat mengendalikan emosi saat bermain musang
dan ayam dengan motivasi guru

: anak mampu mengendalikan emosi saat bermain

musang dan ayam



: anak mampu mengendalikan emosi saat bermain
musang dan ayam dan mampu bersosialisasi dengan

teman lainnya.

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


39

D. Kerangka Berfikir
Siswa kurang dalam perkembangan
sosial emosi dalam melakukan
Kondisi Awal Guru belum permainan dengan teman sebaya, serta
meggunakan melakukan permainan sesuai dengan
metode aturan, bekerjasama dalam
bermain meyelsaikan permainan dan belum
mampu mengendalikan emosi.

Tindakan

Siklus I

Menggunakan Metode
KBM bermain Musang dan
Ayam dalam
Menggunakan Metode meningkatkan
Bermain Musang dan perkembangan sosial
Ayam emosi

Perkembangan sosial emosi


berkembang tetapi belum
maksimal

Siklus II

Menggunakan metode
Bermain Musang dan Ayam
dalam meningkatkan
perkembangan sosial
Siswa mengalami
emosio secara kelompok
Kondisi peningkatan
Akhir perkembangan sosial
Emosi

Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

Upaya Meningkatkan Perkembangan..., Wida Dwi Anggarini, FKIP UMP, 2015


40

Berdasarkan bagan kerangka berfikir penelitian tindakan diatas,

peneliti berpendapat untuk meningkatkan perkembangan sosial emosi dengan

melalui metode bermain musang dan ayam pada anak kelompok B TK

Pamardisiwi Kranji tahun ajaran 2014-2015.

E. Hipotesa Tindakan

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berfikir di atas, diduga melalui

metode bermain musang dan ayam dapat meningkatkan perkembangan sosial

emosi pada anak kelompok B TK Pamardisiwi Kranji Kecamatan Purwokerto

Timur Kabupaten Banyumas Pada Semester Genap Tahun pelajaran 2014-

2015.