Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

“SUKSESI TUMBUHAN”

Oleh:
Kelompok 4
Rino Tri Prasetyo (150210103049)
Rif’atul Fitri Supa’at (150210103053)
Yulia Retnosari (150210103063)
Rizka Maulidya Cahyani (150210103067)
Nani Baidinah (150210103070)
Reny Dwi Irfiana (150210103071)
Kelas B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
2017

i
DAFTAR ISI

Daftar Isi .............................................................................................................. ii


BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2
1.3 Tujuan ...................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 3
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ....................................................... 7
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian .................................................................. 7
3.2 Alat dan Bahan ......................................................................................... 7
3.3 Desain Percobaan ..................................................................................... 8
3.4 Prosedur Percobaan .................................................................................. 9
3.5 Skema Alur Percobaan ............................................................................. 9
BAB IV. HASIL PENGAMATAN .................................................................... 11
BAB V. PEMBAHASAN .................................................................................... 16
BAB VI. PENUTUP ............................................................................................ 21
6.1 Kesimpulan .............................................................................................. 21
6.2 Saran ........................................................................................................ 21
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 22
LAMPIRAN ......................................................................................................... 23

ii
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hutan merupakan suatu area yang sangat luas yang dipadati dengan pohon,
tetapi hutan bukan hanya sekedar pohon. Termasuk di dalamnya tumbuhan yang
kecil seperti lumut, semak belukar dan lain-lain atau terdapat berbagai macam
vegetasi. Vegetasi adalah berbagai macam jenis tumbuhan atau tanaman yang
menempati suatu ekosistem yang menunjukkan suatu sistem yang dinamik, yang
menunjukkan pergantian yang kompleks kemudian nampak tenang, dan bila
dilihat hubungan dengan habitatnya, akan nampak jelas pergantiannya setelah
mencapai keseimbangan.

Keseimbangan ekosistem hutan sering terganggu baik oleh bencana alam


maupun oleh perbuatan manusia. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam
komunitas dapat dengan mudah diamati dan seringkali perubahan itu berupa
pergantian satu komunitas oleh komunitas lain. Komunitas yang terdiri dari
beberapa populasi bersifat dinamis dalam interaksinya yang berarti dalam
ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem
menuju kedewasaan dan keseimbangan disebut suksesi ekologi atau suksesi.
Suksesi ekologi merupakan sebuah konsep yang mendasar dalam ekologi, yang
merujuk pada perubahan-perubahan dalam struktur dan komposisi suatu
komunitas. Suksesi dapat terinisiasi oleh terbentuknya formasi baru suatu habitat
yang sebelumnya tidak dihuni oleh mahluk hidup ataupun oleh adanya gangguan
terhadap komunitas hayati yang telah ada sebelumnya oleh kebakaran, badai,
maupun penebangan hutan.

Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam


komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau
ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis).
Dikatakan bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah mencapai
homeostatis. Ini dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat mempertahankan
kestabilan internalnya sebagai akibat dari tanggap (respon) yang terkoordinasi dari

1
komponen-komponennya terhadap setiap kondisi atau rangsangan yang cenderung
mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas. Jadi bila suatu komunitas
telah mencapai klimaks, perubahan yang searah tidak terjadi lagi.

Proses suksesi dipengaruhi oleh faktor linkungan, seperti letak lintang,


iklim, dan tanah. Lingkungan sangat menentukan pembentukkan struktur
komunitas klimaks. Misalnya, jika proses suksesi berlangsung di daerah beriklim
kering, maka proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas
rumput, jika berlangsung di daerah beriklim dingin dan basah, maka proses
suksesi akan terhenti pada komunitas (hutan) conifer, serta jika berlangsung di
daerah beriklim hangat dan basah, maka kegiatan yang sama akan terhenti pada
hutan hujan tropic.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimanakah proses terjadinya suksesi alami dari lahan garapan?
2. Bagaimana perubahan yang terjadi dalam suatu komunitas sebagai akibat
terjadinya suksesi?
3. Apa saja faktor-faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suksesi?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui proses suksesi alami dari lahan garapan
2. Untuk mengetahui faktor-fator yang mempengaruhi proses suksesi
3. Untuk mengetahui perubahan yang terjadi dalam suatu komunitas sebagai
akibat terjadinya suksesi

2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Lingkungan alam selalu mengalami perubahan-perubahan dalam


ekosistem. Perubahan atau pergantian-pergantian ekosistem tersebut terjadi tanpa
ataupun dengan campur tangan manusia. Evolusi ekosistem ini disebut dengan
suksesi ekologi dan dapat diterangkan sebagai berikut :
- Perkembangan komunitas teratur yang menyangkut perubahan susunan
spesies dan proses-proses komunitas
- Perubahan-perubahan fisik akibat pengaruh pekerjaan komunitas
- Mencapai puncak (klimaks) pada waktu ekosistem stabil denga biomassa
dan fungsi kerja sama anatara organism serta komunitas berada pada titik
maksimum. (Heinz, 2007 : 12).

Proses biologi dalam ekologi umumnya memerlukan waktu yang panjang


karena perubahan yang relatif lambat. Proses biologi yang panjang ini
membutuhkan pengamatan yang berkesinambungan dalam waktu yang lama.
Ekosistem klimaks dicirikan dengan beberapa hal, antara lain: (a) jumlah jenis
organisme relatif tetap, (b) setiap jenis diwakili oleh masing-masing tingkatan
umur, (c) siklus hidup organismenya tahunan, (d) banyak organismenya berukuran
besar, (e) interaksi antar spesies terjalin kompleks, (f) keanekaragaman spesiesnya
tinggi. Ekosistem klimaks sudah sangat seimbang dan dinamis. Ekosistem
klimaks dikatakan seimbang, karena perubahan-perubahan kecil yang menimpa
ekosistem tersebut dapat dengan segera tergantikan dengan keadaan yang baru
dan menuju ke keadaan yang seimbang. Selama proses suksesi berlangsung,
banyak sekali perubahan yang terjadi pada lahan suksesi. Perubahan-perubahan
tersebut disarikan oleh resosoedarmo menjadi tujuh kategori, sebagai berikut: (a)
adanya perkembangan sifat substrat tanah. Misalnya adalah penambahan
kandungan bahan organik, (b) adanya penambahan densitas individu organisme,
(c) adanya peningkatan produktifitas komunitas yang sejalan dengan
perkembangan komunitas, (d) adanya peningkatan jumlah spesies, (e) adanya

3
peningkatan pemanfaatan sumber daya lingkungan, (f) adanya perubahan iklim
setempat, (g) komunitas yang berkembang semakin kompleks (Handziko, 2015).
Masyarakat hutan terbentuk melalui proses suksesi, dimana proses tersebut
terdiri dari beberapa tahap yaitu, tahap invasi oleh tumbuhan, tahap adaptasi,
tahap agresasi, persaingan dan penguasaan, reaksi terhadap tempat tumbuh serta
tahap stabilisasi. Selama proses suksesi berlangsung sampai tercapainya
stabilisasi, maka akan terjadi pergantian-pergantian dalam masyarakat tumbuh-
tumbuhan yang terus berlangsung hingga terbentuk suatu vegetasi klimaks. Dalam
upaya mencapai kondisi klimaks perubahan-perubahan pada masyarakat tumbuh-
tumbuhan tetap terjadi, hal tersebut antara lain adanya pohon-pohon yang
tumbang ataupun mati. Lalu setelah itu akan tumbuh anakan-anakan pohon. Setiap
perubahan-perubahan tersebut terjadi, maka akan ada proses yang mengembalikan
keadaan tersebut pada keadaan seimbang (Soerianegara dan Indrawan, 1998).

Suksesi merupakan pertumbuhan, adaptasi dan perkembangan secara


gradual (setahap demi setahap) dari tumbuh-tumbuhan sesuai dengan faktor
lingkungan hingga mencapai klimaks. Berdasarkan tingkat gangguan terhadap
pertumbuhan, maka suksesi dibedakan dalam suksesi primer dan suksesi
sekunder. Di sisi lain berdasarkan pengaruh faktor lingkungan terhadap
perkembangan suksesi tumbuhan hingga mencapai klimaks, maka dibedakan
dalam climatix climax, edaphic climax, biotic climax, preclimax, sub-climax,
sereclimax dan post climax. Dalam suksesi dikenal jenis-jenis tumbuhan pionir,
yaitu jenis-jenis yang menginvasi daerag yang terbuka seperti permukaan tannah
atau batu-batuan yang kosong, kemudian berkembang secara perlahan sesuai
dengan ketersediaan hara pada lokas tersebut. Jenis-jenis tumbuhan yang
berkembang memebentuk komunitas tumbuhan ini disebut jenis-jenis pionir. Pada
umumnya daerah-daerah tertentu ditumbuhi oleh jenis-jenis tertentu pula
(Wanggai, 2005:154).

4
Proses suksesi dapat dibedakan menjadi suksesi primer dan suksesi
sekunder. Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini
mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara menyeluruh (total),
sehingga di tempat komunitas asal itu terbentuk habitat baru atau subtrat baru.
Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang membentuk komunitas asal
yang tertinggal. Contoh: letusan G. Krakatau pada tahun 1883, tanah longsor,
endapan lumpur, dan lain-lain. Pada subtrat yang baru ini akan berkembang suatu
komunitas yang baru pula. Proses pergantian komunitas lama secara total dengan
komunitas baru disebut suksesi primer (Riberu, 2007). Suksesi sekunder terjadi
jika suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu, baik secara alami maupun
buatan (misalnya akibat kegiatan manusia). Gangguan yang terjadi tidak merusak
komunitas secara total, sehingga subtrat lama dan kehidupan masih ada. Subtrat
inilah yang menjadi tumbuhan pelopor untuk membentuk komunitas yang
terganggu tersebut. Proses pembentukan komunitas yang berasal dari subtrat asal
disebut suksesi sekunder (Mukhlisi, 2016).
Suksesi primer adalah perkembangan tumbuh-tumbuhan secara gradual
pada suatu daerah yang sama sekali belum ada vegetasi hingga mencapai
keseimbangan atau klimakas. suksesi ini dikenal suksesi autogenic (autogenic
succession) karena muncul pada kndisi dengan faktor-faktor lingkungan yang
dominan mempengauhi pertumbuhan individu dalam komunitas tumbuh-
tumbuhan tersebut. Sedangkan Suksesi sekunder adalah suksesi yang muncull
pada daerah yang sebelumnya telah ada vegetasi, baik sebagian maupun
seluruhnya telah dirusak. Suksesi ini dikenal dengan istilah suksesi alogenik
(allogenic succession) karena berbagai faktor secara terpisah mempengaruhi tiap
individu tumbuhan dan habitatnya sehingga turut mempengaruhi perubahan dala
perkembangan komunitas vegetasi tersebut secara keseluruhan (misalnya
kebakaran, perladangan, lava gunung berapi atau serangan hama danpenyakit
tertentu secara periodic) (Wanggai, 2005:154).

5
Shukla dan Chandel (1982), mengemukakan sembilan macam tahapan
dalam proses suksesi yaitu :
a. Nudation: yaitu terbukanya vegetasi penutup tanah
b. Migrasi: Cara-cara dimana tumbuh-tumbuhan sampai pada daerah tersebut
&atas. Biji-biji tumbuhan sampai pada daerah tersebut mungkin terbawa oleh
angin, aliran air dan mungkin pula melalui tubuh hewan tertentu.
c. Ececis: Proses perkecambahan, pertumbuhan, berkembang biak damenetapnya
tumbuhan baru tersebut. Sebagai hasil ecesis individu-individu spesies tumbuh
mapan disuatu tempat.
d. Agregation: Sebagai hasil dari ecesis, individu-individu dari suatu jenis
berkembang dan menghasilkan biji maka biji-biji tersebut akan tersebar pada
areal yang terbuka disekelilingnya sehingga tumbuh mengelompok
(beragregmi), Ecesis dan agregasi merupakan invasi spesies tersebut.
e. Evolution of community reiatiomhip: Proses apabila daerah yang kosong
ditempati spesies-spesies yang berkoloni , spesies tersebut akan berhubungan
satu sama lainnya. Bentuk hubungan ini kemungkinan akan mengikuti salah
satu dari tipe eksploitasi mutualisme dan coexistance .
f. Invasion: Dalam proses kolonisasi, biji tumbuh telah beradaptasi dalam wh
yang relatif panjang, pada tempat tersebut biji tumbuh dan menetap.
g. Reactzon: Terjadinya perubahan habitat yang disebabkan oleh tumbuhan
tersebut dengan merubah lingkungannya terutama dengan cara 1).
 Merubah sifat dan reaksi tanah
 Merubah iklim mikro

Reaksi merupakan proses yang terus-menerus dan menyebabkan kondisi kurang


cocok bagi spesies yang telah ada dan lebih cocok pada individu yang baru.
Dengan cara demikian reaksi memegang peranan dalam pergantian spesies.

h. Stabilizdion: Kompetisi dan reaksi berlangsung terus-menerus ditandai dengan


perubahan lingkungan yang mengakibatkan keadaan struktur vegetasi berubah.
Dalam jangka waktu yang lama, akan terbentuk individu yang dominan dan

6
perubahan yang ejadipun relatif kecil disamping iklim mempunyai peranan
penting dalam membatasi proses ini menjadi stabid.
i. Klimaks: Setelah stabilitasi pada tahap ini spesies yang dominan mempunyai
keseimbangan dengan lingkungannya, keadaan habitat dan struktur vegetasi
relatif konstan karena pertumbuhan jenis dominan telah mencapai batas.

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian


Percobaan ini dilakukan di Lahan samping Rusunawi Putri Universitas
Jember. Pengamatan dilakukan setiap 1 minggu sekali selama 8 minggu.
Praktikum ini dimulai pada tanggal 15 Oktober 2017 s/d 3 Desember 2017.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
1. Tali rafia
2. Cangkul
3. Tusuk sate
4. Parang
5. Pasak bambu
6. Kantong plastik
7. Meteran
8. Penggaris
9. Alat tulis
10. Bambu (lanjaran)
1.2.2 Bahan
1. Dua buah lahan alami seluas 1 x 1 m2
2. Label

7
3.3 Desain Percobaan

1 meter

1 meter

25 cm
15 cm

PARIT

8
3.4 Prosedur Percobaan
1. Bersihkan lahan garapan dengan cara mencangkul dari rumput-
rumputan yang hidup pada lahan tersebut.
2. Cangkul lahan dengan luas 1m x 1m dan dibagi-bagi menjadi petak-
petak kecil berukuran 25cm sebanyak 16 petak dengan menggunakan
pembatas tali rafia
3. Sekitar lahan tersebut dibuat pembatas dengan tali rafia dengan jarak 15
cm mengelilingi lahan
4. Buat parit pada sisi lahan dengan kedalaman yang melebihi lahan
tersebut untuk pembuangan air saat banjir
5. Berilah nama kelompok pada samping lahan dengan kertas yang sudah
dilamintaing dan diikat pada pasak
6. Membiarkan petak pengamatan tersebut selama 8 minggu
7. Amati jenis, jumlah tinggi tumbuhan pada masing-masing petak kecil
tiap seminggu sekali selama 8 minggu
8. Catat perubahan komposisi tumbuhan tersebut dan bandingkan hasil
pengamatan dari setiap minggu
9. Data pengamatan di masukkan Microsoft Excel dari setiap kelompok
10. Hasil pengamatan dapat dilihat pada grafik
11. Amati terjadi perpotongan pada grafik tersebut
12. Bersihkan dan tutup petak lahan dengan tanah sebelumnya

3.5 Skema Alur Percobaan

Membersihkan lahan garapan dengan cara mencangkul dari rumput-rumputan yang


hidup pada lahan tersebut.

Mencangkul lahan dengan luas 1m x 1m dan dibagi-bagi menjadi petak-petak kecil


berukuran 25cm sebanyak 16 petak dengan menggunakan pembatas tali rafia

9
Membuat pembatas pada sekitar lahan dengan tali rafia dengan jarak 15 cm
mengelilingi lahan

Membuat parit pada sisi lahan dengan kedalaman yang melebihi lahan tersebut
untuk pembuangan air saat banjir

Memberi nama kelompok pada samping lahan dengan kertas yang dilaminating
dan diikat pada pasak.

Membiarkan petak pengamatan tersebut selama 8 minggu

Mengamati jenis, jumlah tinggi tumbuhan pada masing-masing petak kecil tiap
seminggu sekali selama 8 minggu

Mencatat perubahan komposisi tumbuhan tersebut dan bandingkan hasil


pengamatan dari setiap minggu

Data pengamatan di masukkan Microsoft Excel dari setiap kelompok dan hasil
pengamatan dapat dilihat pada grafik

Mengamati terjadi perpotongan pada grafik tersebut

Bersihkan dan tutup petak lahan dengan tanah sebelumnya

10
BAB IV. HASIL PENGAMATAN

4.1 Jumlah Tanaman


Jenis Jumlah Tiap Minggu
Tanaman 0 1 2 3 4 5 6 7 8
Tanaman A 0 2 2 2 3 4 14 14 14
Tanaman B 0 1 5 3 3 3 11 11 10

Tabel 4.1.1 Jumlah tanaman tiap mingggu

16

14

12

10

8 Tanaman A
Tanaman B
6

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Grafik 4.1.2 Jumlah tanaman

4.2 Tinggi Tanaman

No. Tanama Tinggi Tanaman (cm)


Petak n 0 1 2 3 4 5 6 7 8
A1 0 0,5 1 1,1 1,4 2 3 3,5 5,5
1
B6 0 0 0 0 0 0 0,3 0,6 0
A4 0 0 0 0 0 0 0,2 0,4 1
2 B7 0 0 0 0 0 0 0,2 0,4 0,5
B8 0 0 0 0 0 0 0,5 0,7 1,6
A3 0 0 0 0 1 2,5 2,7 3 3,2
3
A5 0 0 0 0 0 0 0,1 0,3 0,5
4 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0
A6 0 0 0 0 0 0 3 3,1 3,2
5
B9 0 0 0 0 0 0 0,4 1,5 2
6 B2 0 0 0,7 0,8 1 1,3 3 3,2 5

11
A7 0 0 0 0 0 0 2,5 4 4,5
7 A8 0 0 0 0 0 0 0,6 0,7 1
B1 0 1 1,1 1,2 3 3,5 6 7,4 9
8
B10 0 0 0 0 0 0 0,3 0,6 1
9 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0
10 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0
B5 0 0 0,5 0 0 0 0 0 0
A9 0 0 0 0 0 0 4 4,5 5
A10 0 0 0 0 0 0 2,5 2,6 3,5
11 A11 0 0 0 0 0 0 2 4 5
A12 0 0 0 0 0 0 2,5 3 4
B11 0 0 0 0 0 0 0,2 1 1,8
B12 0 0 0 0 0 0 0,5 0,7 1,4
B13 0 0 0 0 0 0 0,5 1,5 2,3
12
B14 0 0 0 0 0 0 0,2 1 1,2
13 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0
14 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0
A2 0 0,5 0,7 0,9 1 1,3 2 2,5 2,8
B4 0 0 0,5 0 0 0 0 0 0
15
A3 0 0 0 0 0 0,1 0 0 0
A13 0 0 0 0 0 0 0,3 1 2,8
B3 0 0 1,3 1,4 1,5 1,7 0 0 0
16
A14 0 0 0 0 0 0 0,2 1 1,2

Jenis Rata-Rata Tinggi Tanaman Per Minggu


Tanaman 0 1 2 3 4 5 6 7 8
Tanaman
0 0,1 0,9 1 1,1 1,5 1,9 2,4 3,3
A
Tanaman
0 1 0,8 1,1 1,8 2,2 1,1 1,7 2,6
B

Tabel 4.2.1 Rata-rata tinggi tanaman

12
3.5

2.5

2
Tanaman A
1.5 Tanaman B

0.5

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Grafik 4.2. 2 Rata-rata tinggi tanaman

4.3 Luas Penutupan

No. Luas Penutupan Tanaman (cm)


Tanaman 0 1 2 3 4 5 6 7
Petak 8

A1 0 0,4 0,9 1 2 2,1 2,5 5 5,2


1
B6 0 0 0 0 0 0 0,5 0,5 0

A4 0 0 0 0 0 0 1 1,1 1,2

2 B7 0 0 0 0 0 0 1 1,1 1,5

B8 0 0 0 0 0 0 1 1,2 1,7

A3 0 0 0 0 1 2,3 4,5 5 5,2


3
A5 0 0 0 0 0 0 2 2,2 3

4 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0

A6 0 0 0 0 0 0 2,5 3,5 4,6


5
B9 0 0 0 0 0 0 0,6 1,3 3

6 B2 0 0 1 1,5 2 2,5 3 5 7

13
A7 0 0 0 0 0 0 4 4,2 7

7 A8 0 0 0 0 0 0 1 1,5 2,5

B1 0 1,5 2,5 2,6 4 4,5 7 8 9


8
B10 0 0 0 0 0 0 1 1,1 1,3

9 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0

10 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0

B5 0 0 0,8 0 0 0 0 0 0

A9 0 0 0 0 0 0 4 7 8

A10 0 0 0 0 0 0 4 5 4,5

11 A11 0 0 0 0 0 0 1,2 6 6,5

A12 0 0 0 0 0 0 3 3,5 4

B11 0 0 0 0 0 0 0,6 1 2

B12 0 0 0 0 0 0 0,7 1 1,8

B13 0 0 0 0 0 0 1 1,2 1,8


12
B14 0 0 0 0 0 0 0,5 1 1,2

13 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0

14 - 0 0 0 0 0 0 0 0 0

A2 0 0,4 1,3 1,5 3 4 3 3,6 3,6


B4 0 0 0,7 0 0 0 0 0 0
15
A3 0 0 0 0 0 1,5 0 0 0
A13 0 0 0 0 0 0 2,1 2,5 5

B3 0 0 1 1,6 2 2,5 0 0 0
16
A14 0 0 0 0 0 0 0,2 1 1,2

14
Jenis Rata-Rata Luas Penutupan Daun Tanaman Per Minggu
Tanaman 0 1 2 3 4 5 6 7 8
Tanaman A 0,0 0,5 1,0 1,2 2,5 5,8 25,0 32,7 42,1
Tanaman B 0,0 0,1 2,4 2,1 1,1 4,9 11,9 17,7 24,7

Tabel 4.3.1 Rata-rata luas penutupan

45.0

40.0

35.0

30.0

25.0
Tanaman A
20.0
Tanaman B
15.0

10.0

5.0

0.0
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Grafikl 4.3.2 Rata-rata Luas penutupan

15
BAB V. PEMBAHASAN

Praktikum yang berjudul “Suksesi Tumbuhan” bertujuan untuk


meengetahui proses suksesi alami dari lahan garapan, untuk mengetahui faktor-
fator yang mempengaruhi proses suksesi dan untuk mengetahui perubahan yang
terjadi dalam suatu komunitas sebagai akibat terjadinya suksesi. Alat yang
digunakan dalam praktikum suksesi kali ini yaitu cangkul, tali raffia, patok
bambu, parang, labekl, tusuk sate dan meteran. Sedangkan bahan yang digunakan
adalah lahan seluas 1m x 1m. Langkah kerja pertama yang dilakukan yaitu
menentukan tempat atau area yang akan digunakan untuk suksesi. Kemudian
membersihkan area tersebut dari berbagai macam rerumputan sampai bersih.
Kemudian langkah selanjutnya membuat petak dengan ukuran seluas 1 m2 x 1 m2
yang kemudian dibagi menjadi petak-petak kecil berukuran 25 cm sebanyak 16
petak dengan menggunakan tali raffia yang di kaitkan di pasak bambu. Kemudian
membuat suksesi tersebut dengan kedalaman 30 cm.Langkah selanjutnya
membuat lubang besar atau sumuran yang digunakan untuk menampung air ketika
hujan yang dalamnya harus melebihi dalamnya tempat suksesi. Mengamati
suksesi tersebut selama 2 bulan, dengan diamati setiap satu minggu sekali
mengenai vegetasi yang mulai tumbuh. Kemudian mengukur jumlah vegetasi
yang tumbuh disetiap petak dengan diukur panjang tanaman dan luas
penutupannya. Kemudian mencatat hasil pengamatan di dalam tabel pengamatan
yang telah diberikan.
Suksesi merupakan pertumbuhan, adaptasi dan perkembangan secara
gradual (setahap demi setahap) dari tumbuh-tumbuhan sesuai dengan faktor
lingkungan hingga mencapai klimaks (Wanggai, 2005:154). Suksesi dibagi
menjadi 2 macam menurut teori (Riberu, 2007) yaitu suksesi primer dan suksesi
sekunder. Suksesi primer merupakan komunitas asal terganggu sehingga terbentuk
habitat baru dan dapat diartikan keadaan sebelum suksesi tidak ditemukan
kehidupan atau tidak ada vegetasi yang tumbuh pada tanah tersebut, sedangkan
suksesi sekunder merupakan keadaan sebelum suksesi ditemukan kehidupan atau
terdapat vegetasi yang tumbuh pada suksesi tersebut. Praktikum yang kami

16
lakukan termasuk dalam suksesi sekunder karena pada lahan tersebut sebelumnya
ditemukan kehidupan atau ditumbuhi oleh vegetasi-vegetasi yang ada di tempat
tersebut dengan banyak karena lahan tersebut merupakan lahan yang kosong dan
tidak digunakan sehingga banyak vegetasi-vegetasi yang tumbuh secara liar.
Dibuktikan dengan pada langkah kerja awal kami membersihkan tumbuhan-
tumbuhan yang ada pada lahan tersebut sebelum membuat petak dengan cara
nudasi (mencangkul) dengan ukuran 1m x 1m.
Terdapat sembilan macam tahapan dalam proses suksesi yaitu (1)
Nudation: yaitu terbukanya vegetasi penutup tanah, (2) Migrasi: Cara-cara dimana
tumbuh-tumbuhan sampai pada daerah tersebut. Biji-biji tumbuhan sampai pada
daerah tersebut mungkin terbawa oleh angin, aliran air dan mungkin pula melalui
tubuh hewan tertentu, (3) Ececis: Proses perkecambahan, pertumbuhan,
berkembang biak damenetapnya tumbuhan baru tersebut. Sebagai hasil ecesis
individu-individu spesies tumbuh mapan disuatu tempat, (4) Agregation: Sebagai
hasil dari ecesis, individu-individu dari suatu jenis berkembang dan menghasilkan
biji maka biji-biji tersebut akan tersebar pada areal yang terbuka disekelilingnya
sehingga tumbuh mengeiompok (beragregmi)Ecesis dan agregasi merupakan
invasi spesies tersebut, (5) Evolution of community reiatiomhip: Proses apabila
daerah yang kosong ditempati spesies-spesies yang berkoloni , spesies tersebut
akan berhubungan satu sama lainnya. Bentuk hubungan ini kemungkinan akan
mengikuti salah satu dari tipe eksploitasi mutualisme dan coexistance, (6)
Invasion: Dalam proses kolonisasi, biji tumbuh telah beradaptasi dalam wh yang
relatif panjang, pada tempat tersebut biji tumbuh dan menetap, (7) Reactzon:
Terjadinya perubahan habitat yang disebabkan oleh tumbuhan tersebut dengan
merubah lingkungannya terutama dengan cara merubah sifat dan reaksi tanah dan
merubah iklim mikro. Reaksi merupakan proses yang terus-menerus dan
menyebabkan kondisi kurang cocok bagi spesies yang telah ada dan lebih cocok
pada individu yang baru. Dengan cara demikian reaksi memegang peranan dalam
pergantian spesies, (8) Stabilizdion: Kompetisi dan reaksi berlangsung terus-
menerus ditandai dengan perubahan lingkungan yang mengakibatkan keadaan
struktur vegetasi berubah. Dalam jangka waktu yang lama, akan terbentuk

17
individu yang dominan dan perubahan yang ejadipun relatif kecil disamping
iklim mempunyai peranan penting dalam membatasi proses ini menjadi stabil, (9)
Klimaks: Setelah stabilitasi pada tahap ini spesies yang dominan mempunyai
keseimbangan dengan lingkungannya, keadaan habitat dan struktur vegetasi relatif
konstan karena pertumbuhan jenis dominan telah mencapai batas.

Adapun dalam pembuatan plot suksesi dilakukan pencangkulan lahan


berbentuk persegi sedalam 30 cm. Pencangkulan dengan kedalaman tersebut di
persepsikan sebagai kealam ideal. Bila terlalu dangkal dari itu maka nantinya hasil
suksesi akan terpengaruhi oleh tumbuhan disekitarnya misalnya stolon tumbuh di
plot. Hal tersebut mempengaruhi hasil suksesi kalian. Juga tidak terlalu dalam,
dimana sebagai bentuk efisiensi waktu dan tenaga pula.
Terkait praktikum suksesi, dilakukan pengurasan ketika plot suksesi
tergenang air ketika hujan, dsb. Pengurasan diperlukan untuk menjaga agar
seedling atau bayi tumbuhan tidak mati. Matinya seedling dikarenakan adanya
peristiwa seedling mengalami stress air. Seedling bisa diibaratkan seperti bayi
yang dimana rentan dan beresiko tinggi jika terkena cekaman lingkungan, salah
satu bentuk cekaman tersebut adalah stress air tadi. Maka dari itu perlu dilakukan
pengurasan terhadap suksesi.
Lahan suksesi yang dibagi menjadi 16 petak memiliki 2 jenis spesies
tumbuhan pioner yang tumbuh disana, dan diberi label tumbuhan A dengan
tumbuhan B. Dari seluruh petak, yang paling banyak ditumbuhi adalah petak 11
dengan jumlah 7 tanaman, sedangkan pada 5 petak yang lain tidak ditumbuhi
sama sekali. Tanaman A mengalami pertambahan jumlah yang drastis dari 4
menjadi 14 tanaman pada mingu ke-6, sementara itu tanaman B mengalami
penambahan jumlah dari 3 ke 11 tanaman yang juga terjadi pada minggu ke-6,
tetapi sempat mengalami penurunan jumlah pada minggu ke-3 dan 8, karena ada
tumbuhan yang hilang atau mati karena hujan yang deras. Dari grafik penambahan
kedua tanaman yang tumbuh dan dihitung per-minggu, terjadi perpotongan pada
minggu ke 2 dan minggu 5.

18
Masing-masing tanaman tersebut diukur tinggi serta luas penutupan
daunnya masing-masing tiap minggu. Tanaman A memiliki pertambahan rata-rata
tinggi yang drastis pada minggu ke-2, yaitu dari 0.1 menjadi 0.9 cm, dan
selanjutnya mengalami penambahan tinggi yang relatif konsisten. Sementara itu
tanaman B mengalami penurunan rata-rata tinggi pada minggu ke-2, serta turun
drastis pada minggu ke-6, yaitu dari 2.2 menjadi 1.1 cm karena terdapat tumbuhan
yang hilang atau mati. Dari hasil tersebut, keduanya menunjukkan perpotongan
garis pada minggu ke-3, ke-3.5 dan juga minggu ke-6.5. Perpotongan-
perpotongan yang terjadi menunjukkan bahwa suksesi telah berhasil, karena
menandakan adanya kompetisi antar-tumbuhan tersebut, dan terjadi proses
perubahan vegetasi dari tumbuhan pioner ke kompleks.
Pada tabel hasil pengamatan rata-rata luas penutupan daun, grafik pada
kedua tanaman mengalami peningkatan yang sangat dratis pada minggu ke-6,
sementara pada minggu sebelumnya, keduanya relatif stabil atau tidak mengalami
perubahan yang berarti. Tanaman A tumbuh stabil sampai minggu ke-5, lalu
meningkat drastis dari 2.5 menjadi 25 cm pada minggu ke-6, tetapi tidak
mengalami penurunan rata-rata luas penutupan daun sama sekali. Sementara itu
tanaman B sempat mengalami sedikit penurunan pada minggu ke-3, lalu
mengalami peningkatan yang drastis pada minggu ke-6, dari 1.1 menjadi 11.9 cm.
Dari data tersebut, keduanya mengalami perpotongan pada minggu ke-2 dan juga
minggu ke-4.

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakuakan selama 8 minggu,


diketahui bahwa tanaman yang mendominasi adalah tanaman A. Hal ini
dibuktikan dengan pertumbuhan tanaman A yang lebih banyak dibandingkan
tanaman B. Tanaman A merupakan tapak liman sedangkan tanaman B adalah
rumput teki. Adanya dominansi vegetasi disebabkan oleh adanya kompeisi
(persaingan) anatar tanaman untuk memperebutkan nutrisi. Menurut Pusat
Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (2010) kompetisi akan lebih para jika salah
satu jenis tanaman mengeluarkan zat beracun atau sebagai inang hama dan
penyakit. Adanya keragaman penyebaran serta aktivitas sistem perakaran juga

19
menjadi penyebab kompetisi. Dengan begitu, persaingan kompleks
mengakibatkan tidak meratanya penyebaran faktor tumbuh antar-individu
tanaman, sehingga terjadilah dominansi vegetasi dalam suatu tempat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju suksesi menurut Handziko (2015),
dipengaruhi oleh banyak hal antara lain: luasan komunitas awal yang rusak yaitu
semakin luas area yang rusak maka laju suksesi akan semakin lambat. Kemudian
faktor lainnya yaitu spesies tumbuhan di sekitar area suksesi, yang mana
tumbuhan adalah organisme pertama yang masuk dan menempati area suksesi.
Jika spesies tumbuhan disekitar area suksesi beragam maka laju suksesi akan
semakin cepat. Faktor lainnya yaitu kecepatan tumbuh dan kemampuan tumbuhan
dalam berkecambah, yang mana kehadiran dan pemencaran biji tumbuhan di
sekitar area suksesi. Jika benihnya mampu diterbangkan oleh angin maka laju
suksesi akan semakin mudah. Kemudian selanjutnya yaitu jenis substrat baru yang
terbentuk, apabila substratnya miskin akan hara maka laju suksesi juga akan
semakin lambat. Fakor selanjutnya yaitu kondisi iklim, jika kondisi iklimnya baik
dalam arti kelembaban tinggi dengan cahaya yang cukup dan kecepatan angin
yang cukup maka akan membuat laju suksesi semakin cepat.

20
BAB VI. PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa
suksesi terjadi melalalui 9 tahapan yaitu: Nudation, Migrasi, Ececis, Agregation,
Evolution of community reiatiomhip, invation, Reactzon, Stabilizdion dan
Klimaks. Laju suksesi dipengaruhi oleh bebrapa faktor antara lain: luas komnutias
awal yang rusak, spesies tumbuhan di area suksesi, kecepatan tanaman tumbuh,
jenis substrat yang terbentuk serta kondisi iklim.
6.2 Saran
Alangkah lebih baik kalau jangan di minus meskipun telat menguras
suksesi. Setidaknya ada usaha dan perjuangan untuk datang menguras. Praktikan
harus lebih teliti, telaten dan sabar karena praktikum ini membutuhkan stamina
yang kuat.

21
DAFTAR PUSTAKA

Dr. Riberu, Paskalis. 2007. Pembelajaran Ekologi. Jurnal Pendidikan Penabur.


2(1): 128 – 138.
Frick, Heinz., Suskiyatno, FX. Bambang. 2007. Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis.
Semarang : Balai Pustaka.
Handziko, Rio Crysti. 2015. Pengembangan Video Pembelajaran Suksesi
Ekosistem untuk Meningkatkan Motivasi Belajar dan Penguasaan Konsep
Mahasiswa Biologi. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA. 1 (2):212-224.
Mukhlisi dan Wawan Gunawan. 2016. Regenerasi Alami Semai Mangrove Di
Areal Terdegradasi Taman Nasional Kutai. Jurnal Penelitian Kehutanan
Wallacea. 2(5): 113-122.
Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 2010. Buku Pintar Budi Daya Kakao.
Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Shukla,R.S. and P.S. Chandel. 1982. Plant Ecology Fifth Revision and Enlarged
Edition. New Dehli: Schand and Company Ltd. Ram Nagar.
Soerianegara, I . 1972. Ekologi Hutan Indonesia. Departemen Management Hutan
Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.
Wanggai, Frans. 2005. Manajemen Hutan. Jakarta : Grasindo.

22
LAMPIRAN

23
24
25
26
27
28
29