Anda di halaman 1dari 30

Teori Psikoanalisa tentang Perkembangan Moral

Teori-teori perkembangan moral

a. Teori Psikoanalisa

 Perkembangan moral adalah proses internalisasi norma-norma


masyarakat dan kematangan organic biologic.

 Seseorang telah mengembangkan aspek moral bila telah


menginternalisasikan aturan-aturan atau kaidah-kaidah kehidupan di
dalam masyarakat dan dapat mengaktualisasikan dalam perilaku yang
terus-menerus atau dengan kata lain telah menetap.

 Menurut teori psikoanalisa perkembangan moral dipandang sebagai


proses internalisasi norma-norma masyarakat dan sebagai kematangan
dari sudut organic biologic.

b. Menurut teori psikologi belajar

Perkembangan moral dipandang sebagai hasil rangkaian stimulus respons


yang dipelajari oleh anak, antara lain berupa hukuman dan hadiah yang sering
dialami oleh anak.

c. Konsep teori belajar dan psikoanalisa

Konsep ke dua teori, tentang proses perkembangan moral adalah bahwa


seseorang telah mengalami perkembangan moral apabila ia memperlihatkan
adanya perilaku yang sesuai dengan aturan-aturan yang ada didalam
masyarakatnya. Dengan kata lain perkembangan moral berkorelasi dengan
kemampuan penyesuaian diri individu.

d. Menurut Piaget dan Kohlberg

Menurut mereka perkembangan moral berkorelasi dengan perkembangan kecerdasan


individu, sehingga seharusnya bila perkebangan kecerdasan telah mencapai
kematangan, maka perkembangan moral juga harus mencapai tingkat kematangan.

3. Perkembangan Spritual (Agama)

Spiritual adalah suatu ragam konsep kesadaran individu akan makna hidup, yang
memungkinkan individu berpikir secara kontekstual dan transformatif sehingga kita
merasa sebagai satu pribadi yang utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual.
Kecerdasan sepiritual merupakan sumber dari kebijaksanaan dan kesadaran akan nilai
dan makna hidup, serta memungkinkan secara kreatif menemukan dan
mengembangkan nilai-nilai dan makna baru dalam kehidupan individu. Kecerdasan
spiritual juga mampu menumbuhkan kesadaran bahwa manusia memiliki kebebasan
untuk mengembangkan diri secara bertanggungjawab dan mampu memiliki wawasan
mengenai kehidupan serta memungkinkan menciptakan secara kreatif karya-karya
baru.. Sedngkan ingersol dalam Desmita (2009:264) menyatakan, spiritualitas sebagai
wujud karakter spiritual, kualitas atau sifat dasar dan upaya dalam berhubungan atau
bersatu dengan tuhan.

Sehingga dapat diartikan bahwa, kecerdasan spiritual sebagai bagian dari


psikologi memandang bahwa seseorang yang beragama belum tentu memiliki
kecerdasan spiritual. Namun sebaliknya, bisa jadi seseorang yang
humanis-non-agamis memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi, sehingga sikap
hidupnya inklusif, setuju dalam perbedaan (agree in disagreement), dan penuh
toleran. Hal itu menunjukkan bahwa makna "spirituality" (keruhanian) disini tidak
selalu berarti agama atau bertuhan. Sehingga dari kuti-kutipan diatas penulis
memilih judul proses perkembangan moral dan spiritual peserta didik karena, proses
merupakan suatu hal yang sangat penting, dimana sangat menentukan hasil atau
pencaapain puncak dan akhirnya.
 Proses Perkembangan Spiritual Peserta Didik

Teori Fowler dalam Desmita (2009:279) mengusulkan tahap perkembangan


spiritual dan keyakinan dapat berkembang hanya dalam lingkup perkembangan
intlektual dan emosional yang dicapai oleh seseorang. Dan ketujuh tahap
perkembangan agama itu adalah :

a. Tahap prima faith. Tahap keprcayaan ini terjadi pada usia 0-2 tahun yang ditandai
dengan rasa percaya dan setia anak pada pengasuhnya. Kepercayaan ini tumbuh dari
pengalaman relasi mutual. Berupa saling memberi dan menerima yang diritualisasikan
dalam interaksi antara anak dan pengasuhnya.

b. Tahap intuitive-projective, yang berlangsung antara usia 2-7 tahun. pada tahap ini
kepercayaan anak bersifat peniruan, karena kepercayaan yang dimilikinya masih
merupakan gabungan hasil pengajaran dan contoh-contoh signivikan dari orang
dewasa, anak kemudian berhasil merangsang, membentuk, menyalurkan dan
mengarahkan perhatian seponten serta gambaran intuitif dan proyektifnya pada ilahi.

c. Tahap mythic-literal faith, Dimulai dari usia 7-11 tahun. pada tahap ini, sesuai
dengan tahap kongnitifnya, anak secara sistematis mulai mengambil makna dari
tradisi masyarakatnya. Gambaran tentang tuhan diibaratkan sebagai seorang pribadi,
orangtua atau penguasa, yang bertindak dengan sikap memerhatikan secara konsekuen,
tegas dan jika perlu tegas.

d. Tahap synthetic-conventional faith, yang terjadi pada usia 12-akhir masa remaja
atau awal masa dewasa. Kepercayaan remaja pada tahap ini ditandai dengan
kesadaran tentang simbolisme dan memiliki lebih dari satu cara untuk mengetahui
kebenaran. Sistem kepercayaan remaja mencerminkan pola kepercayaan masyarakat
pada umumnya, namun kesadaran kritisnya sesuai dengan tahap operasional formal,
sehingga menjadikan remaja melakukan kritik atas ajaran-ajaran yang diberikan oleh
lembaga keagamaan resmi kepadanya. Pada tahap ini, remaja juga mulai mencapai
pengalaman bersatu dengan yang transenden melalui symbol dan upacara keagamaan
yang dianggap sacral. Symbol-simbol identik kedalaman arti itu sendiri. Allah
dipandang sebagai “pribadi lain” yang berperan penting dalam kehidupan mereka.
Lebih dari itu, Allah dipandang sebagai sahabat yang paling intim, yang tanpa syarat.
Selanjutnya muncul pengakuan bahwa allah lebih dekat dengan dirinya sendiri.
Kesadaran ini kemudian memunculkan pengakuan rasa komitmen dalam diri remaja
terhadap sang khalik.

e. Tahap individuative- reflective faith, yang terjadi pada usia 19 tahun atau pada
masa dewasa awal, pada tahap in8i mulai muncul sintesis kepercayaan dan tanggung
jawab individual terhadap kepercayaan tersebut. Pengalaman personal pada tahap ini
memainkan peranan penting dalam kepercayaan seseorang. Menurut Fowler dalam
Desmita (2009:280) pada tahap ini ditandai dengan :

 Adanya kesadaran terhadap relativitas pandangan dunia yang diberikan


orang lain, individu mengambil jarak kritis terhadap asumsi-asumsi sistem
nilai terdahulu.

 Mengabaikan kepercayaan terhadap otoritas eksternal dengan


munculnya “ego eksekutif” sebagai tanggung jawab dalam memilih antara
prioritas dan komitmen yang akan membantunya membentuk identitas
diri.

f. Tahap Conjunctive-faith, disebut juga paradoxical-consolidation faith,yang


dimulai pada usia 30 tahun sampai masa dewasa akhir. Tahap ini ditandai dengan
perasaan terintegrasi dengan symbol-simbol, ritual-ritual dan keyakinan agama.
Dalam tahap ini seseorang juga lebih terbuka terhadap pandangan-pandangan yang
paradoks dan bertentangan, yang berasal dari kesadaran akan keterbatasan dan
pembatasan seseorang.

g. Tahap universalizing faith, yang berkembang pada usia lanjut. Perkembangan


agama pada masa ini ditandai dengan munculnya sisitem kepercayaan transcendental
untuk mencapai perasaan ketuhanan, serta adanya desentransasi diri dan pengosongan
diri. Pristiwa-prisiwa konflik tidak selamanya dipandangan sebagai paradoks,
sebaliknya, pada tahap ini orang mulai berusaha mencari kebenaran universal. Dalam
proses pencarian kebenara ini, seseorang akan menerima banyak kebenaran dari
banyak titik pandang yang berbeda serta berusaha menyelaraskan perspektifnya
sendiri dengan perspektif orang lain yang masuk dalam jangkauan universal yang
paling lua.

Menurut Zakiah Darajat (dalam Martini Jumaris), agama sebagai dari iman,
pikiran yang diserapkan oleh pikiran, perasaan, dilaksanakan dalam tindakan,
perbuatan, perkataan dan sikap. Agama merupakan pengarah dan penentu sikap dan
perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Awalnya anak-anak mempelajari agama berdasarkan contoh baik di rumah maupun di
sekolah. Bambang Waluyo menyebutkan dalam artikelnya bahwa pendidikan agama
di sekolah meliputi dua aspek, yaitu : 1. Aspek pembentukan kepribadian (yang
ditujukan kepada jiwa), 2. Pengajaran agama (ditujukan kepada pikiran)

Metode yang digunakan dalam pembelajaran harus berkaitan erat dengan


dimensi perkembangan motorik, bahasa, sosial, emosional maupun intelegensi siswa.
Untuk kelas rendah dapat menggunakan metode bercerita, bermain, karyawisata,
demonstrasi atau pemberian tugas. Untuk kelas tinggi dapat menggunakan metode
ceramah, bercerita, diskusi, tanya jawab, pemberian tugas atau metode lainnya yang
sesuai dengan perkembangan siswa.
Beberapa metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran di SD, antara lain:
a. Metode Bercerita
b. Metode Bermain
c. Metode Karyawisata
d. Metode Demonstrasi
e. Metode Pemberian Tugas
f. Metode Diskusi dan Tanya Jawab.

4. Karakeristik Perkembangan Spiritualis Peserta Didik

a. Karakteristik perkembangan spiritualitas anak usia sekolah


Tahap mythic-literal faith, yang dimulai usia 7-11 tahun. Menurut Fowler
dalam desmita (2009:281), berpendapat bahwa tahap ini, sesuai dengan tahap
perkembangan kognitifnya, anak mulai berfikir secara logis dan mengatur dunia
dengan katagori-katagori baru. Pada tahap ini anak secara sistematis mulai
mengambil makna dari tradisi masyarakatnya, dan secara khusus menemukan
koherensi serta makna pada bentuk-bentuk naratif.
Sebagai anak yang tengah berada dalam tahap pemikiran operasional konkret,
maka anak usia sekolah dasar akan memahami segala sesuatu yang abstrak dengan
interpretasi secara konkret. Hal ini juga berpengaruh terhadap pemahaman
mengenai konsep-konsep keagamaan. Dengan demikian, gagasan-gagasan
keagamaan yang bersifat abstrak yang tadinya dipahami secara konkret, seperti
tuhan itu satu,tuhan itu amat dekat, tuhan ada di mana-mana, mulai dapat di
pahami secara abstrak.

b. Karakteristik perkembangan spiritualitas remaja


Dibandingkan dengan masa awal anak-anak misalnya keyakinan
agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada
awal masa anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berfikir simbolik
Tuhan dibayangkan sebagai person yang berada di awan, maka pada masa remaja
mereka mungkin berusaha mencari sebuah konsep yang lebih mendalam tentang
Tuhan dan eksistensi. Perkembangan pemahaman terhadap keyakinan agama sangat
dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya.
Oleh sebab itu, meskipun pada masa awal anak-anak ia telah diajarkan agama
oleh orang tua mereka, namun karena pada masa remaja mereka mengalami
kemajuan dalam perkembangan kognitifnya. Mungkin mereka mempertanyakan
tentang kebenaran keyakinan agama mereka sendiri. Menurut Muhammad Idrus
dalam Desmita (2009:283), pola kepercayaan yang dibangun remaja bersifat
konvensional, sebab secara kognitif, efektif dan sosial, remaja mulai menyesuaikan
diri dengan orang lain yang berarti baginya(significant others) dan dengan
mayoritas lainya.
Perkembangan Penghayatan Keagamaan. Sikap keagamaan bersifat reseptif
disertai dengan pengertian
a. Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara asional
berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indikator
alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
b. Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan
kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral.
c. Periode usia sekolah dasar merupakan masa pembentukan
nilai-nilai agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya.

5. Implikasi Perkembangan Moral dan Spiritual terhadap Pendidikan

Untuk mengembangkan moral dan spiritual, pendidikan sekolah formal yang di tuntut
untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan moral dan spiritual mereka,
sehingga mereka dapat menjadi manusia yang moralis dan religious.Sejatinya
pendidikan tidak boleh menghasilkan manusia bermental benalu dalam masyarakat,
yakni lulusan pendidikan formal yang hanya menggantungkan hidup pada pekerjaan
formal semata. Pendidikan selayaknya menanamkan kemandirian, kerja keras dan
kreatifitas yang dapat membekali manusianya agar bisa survive dan berguna dalam
masyarakat (Elmubarok,2008:30).

Strategi yang mungkin dilakukan guru di sekolah dalam membantu perkembangan


moral dan spiritual peserta didik yaitu sebagai berikut :

a. Memberikan pendidikan moral dan keagamaan melalui kurikulum tersembunyi,


yakni menjadi sekolah sebagai atmosfer moral dan agama secara keseluruhan.
b. Memberikan pendidikan moral secara langsung, yakni pendidikan moral dengan
pendidikan pada nilai dan juga sifat selam jangka waktu tertentu atau menyatukan
nilai-nilai dan sifat-sifat tersebut ke dalam kurikulum.

c. Memberikan pendekatan moral melalui pendekatan klarifikasi nilai, yaitu


pendekatan pendidikan moral tidak langsung yang berfokus pada upaya membantu
siswa untuk memperoleh kejelasan mengenai tujuan hidup mereka dan apa yang
berharga untuk di cari.

d. Menjadikan wahana yang kondusif bagi peserta didik untuk menghayati


agamanya, tidak hanya sekedar bersifat teoritis, tetapi penghayatan yang benar-benar
dikontruksi dari pengalaman keberagamaan.

e. Membantu peserta didik mengembangkan rasa ketuhanan melalui


pendekatanspiritual paranting,seperti:

1. Memupuk hubungan sadar anak dengan tuhan melalui doa setiap


hari.

2. Menanyakan kepada anak bagaimana tuhan terlibat dalam


aktivitasnya sehari-hari.

3. Memberikan kesadaran kepada anak bahwa tuhan akan membimbing


kita apabila kita meminta.

4. Menyuruh anak merenungkan bahwa tuhan itu ada dalam jiwa


mereka dengan cara menjelaskan bahwa mereka tidak dapat melihat diri
mereka tumbuh atau mendengar darah mereka mengalir, tetapi tahu
bahwa semua itu sungguh-sungguh terjadi sekalipun mereka tidak
melihat apapun (Desmita,2009:287).
2.1 Penyebab Timbulnya Krisis Akhlak dan Moral dikalangan Remaja
Adapun yang menjadi akar masalah penyebab timbulnya krisis akhlak dan
moral dalam diri banyak remaja diantaranya adalah:
Pertama, krisis akhlak terjadi karena longgarnya pegangan terhadap agama
yang menyebabkan hilangnya pengontrol diri dari dalam (self control)3.
Selanjutnya alat pengontrol perpindahan kepada hukum dan masyarakat.
Namun karena hukum dan masyarakat juga sudah lemah, maka hilanglah
seluruh alat kontrol. Akibatnya manusia dapat berbuat sesuka hati dalam
melakukan pelanggaran tanpa ada yang menegur.
Kedua, krisis akhlak terjadi karena pembinaan moral yang dilakukan oleh
orang tua, sekolah dan masyarakat sudah kurang efektif. Bahwa
penanggungjawab pelaksanaan pendidikan di negara kita adalah keluarga,
masyarakat dan pemerintah. Ketiga institusi pendidikan sudah terbawa oleh
arus kehidupan yang mengutamakan materi tanpa diimbangi dengan
pembinaan mental spiritual.
Ketiga, krisis akhlak terjadi karena derasnya arus budaya hidup materialistik,
hedonistik dan sekularistik. Derasnya arus budaya yang demikian didukung
oleh para penyandang modal yang semata-mata mengeruk keuntungan
material dengan memanfaatkan para remaja tanpa memperhatikan
dampaknya bagi kerusakan akhlak para generasi penerus bangsa.
Keempat, krisis akhlak terjadi karena belum adanya kemauan yang
sungguh-sungguh dari pemerintah. Kekuasaan, dana, tekhnologi, sumber
daya manusia, peluang dan sebagainya yang dimiliki pemerintah belum
banyak digunakan untuk melakukan pembinaan akhlak bangsa. Hal yang
demikian semakin diperparah dengan ulah sebagian elite politik penguasa
yang sematamata mengejar kedudukan, kekayaan dan sebagainya dengan
cara-cara yang tidak mendidik, sepeati adanya praktek korupsi, kolusi dan
Nepotisme (KKN). Hal yang demikian terjadi mengingat bangsa Indonesia
masih menerapkan pola hidup paternalistic

2.2 Karakteristik Perkembangan Moral dan Religius Anak dan Remaja


Berikut ini paparan mengenai karakteristik perkembangan moralitas dan
religius anak dan remaja:
1. Karakteristik perkembangan moralitas pada anak
Menurut Lawrance Kohlberg, ada tiga tingkat dan tahapan karakteristik
perkembangan moralitas pada anak, yaitu moralitas dengan paksaan
(preconventional level), moralitas dari aturan-aturan (conventional level), dan
moralitas setelah konvensional (postconventional).
2. Karakteristik perkembangan moralitas pada remaja
Dalam moralitas terdapat nilia-nilai moral, yaitu seruan untuk berbuat baik dan
larangan berbuat keburukan. Seseorang dikatakan bermoral apabila tingkah
laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi. Pada
masa remaja, individu tersebut harus mengendalikan perilakunya sendiri agar
sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dimasnyarakat, yang mana
sebelumnya menjadi tanggung jawab guru dan orang tua.
3. Karakteristik perkembangan religius pada anak
Penanaman nilai-nilai keagamaan; menyangkut konsep tentang ketuhanan,
ritual ibadah dan nilai moral yang berlangsung semenjak usia dini, akan
mampu mengakar secara kuat dan membawa dampak yang signifikan pada
diri seseorang sepanjang hidupnya (Hurlock, 1978, hal.26). hal ini dikarenakan
pada masa ini, anak belum mempunyai kemampuan menolak ataupun
menyetujui setiap pengetahuan yang didapatkannya.
Tahapan-tahapan perkembangan keagamaan pada anak :
1. Masa anak-anak
a. Sikap keagamaan reseptif meskipun banyak bertanya
b. Pandangan ke-Tuhanan yang anthromorph (dipersonifikasikan)
c. Penghayatan secara rohaniah masih superficial (belum dalam)
2. Masa anak sekolah
a. Sikap keagamaan bersifat reseptif dan disertai pengertian
b. Pandangan ke-Tuhanan diterangkan secararasional
c. Penghayatan secara rohaniah makin mendalam
4. Karakteristik perkembangan religius pada remaja
Perkembangan religius remaja tergantung bagaimana dan apa yang
diperolehnya sejak masa anak-anak. Umumnya, apabila pendidikan agama
yang diberikan kuat maka perkembangan religius remaja akan menjadi positif
dan boleh jadi semakin kuat. Begitu pula sebaliknya, apabila terdapat banyak
kerancuan pemahaman terhadap keagamaan, maka perkembangan religius
remaja tersebut akan terganggu. Pada masa remaja, keagamaan sama
pentingnya dengan moral.
Ahli umum (Zakiah, Daradjat, Starbuch, William James) sependapat bahwa
pada garis besarnya perkembangan keagamaan itu dibagi dalam dua tahapan
yang secara kualitatif menunjukan karakteristik yang berbeda.
1. Masa remaja awal
a. Sikap negative disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat kenyataan
orang-orang yang beragama secara hipocrit.
b. Pandangan dalam ke-Tuhanannya menjadi kacau karena ia banyak
membaca atau mendengar berbagai konsep dan pemikiran yang tidak cocok
c. Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptic, sehingga banyak yang
enggan melakukan berbagai kegiatan ritual
2. Masa remaja akhir
a. Sikap kembali pada umumnya kearah positif dengan tercapainya
kedewasaan intelektual
b. Pandangan dalam hal ke-Tuhanan dipahamkan dalam hal konteks
agama yang dianutnya
c. Penghayatan rohaniahnya kembali tenang

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral dan Spiritual


Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, perkembangan internalisasi nilai-nilai
terjadi melalui identifikasi dengan orang-orang yang dianggapnya sebagai
model.
Bagi para ahli psikoanalisis, perkembangan moral dipandang sebagai proses
internalisasi norma-norma masyarakat dan dipandang sebagai kematangan
dari sudut organik biologis. Menurut psikoanalisis, moral dan nilai menyatu
dalam konsep superego yang dibentuk melalui jalan internalisasi
larangan-larangan atau perintah-perintah yang datang dari luar (khususnya
orang tua) sedemikian rupa, sehingga akhirnya terpencar dari dalam diri
sendiri.
Teori-teori lain yang non psikoanalisi beranggapan bahwa hubungan
anak-orang tua bukan satu-satunya sarana pembentukan moral. Para sosiolog
beranggapan bahwa masyarakat sendiri mempunyai peran penting dalam
pembentukan moral.
Dalam usaha membentuk tingkah laku sebagai pencerminan nilai-nilai hidup
terterntu, Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan moral religi dan
repeserta didik, diantaranya yaitu:
1. Faktor tingkat harmonisasi hubungan antara orang tua dan anak.
2. Faktor seberapa banyak model (orang-orang dewasa yang simpatik,
teman-teman, orang-orang yang terkenal dan hal-hal lain) yang diidentifikasi
oleh anak sebagai gambaran-gambaran ideal.
3. Faktor lingkungan memegang peranan penting. Diantara segala segala
unsur lingkungan social yang berpengaruh, yang tampaknya sangat penting
adalah unsure lingkungan berbentuk manusia yang langsung dikenal atau
dihadapi oleh seseorang sebagai perwujudan dari nilai-nilai tertentu.
4. Faktor selanjutnya yang memengaruhi perkembangan moral adalah
tingkat penalaran. Perkembangan moral yang sifatnya penalaran menurut
Kohlberg, dipengaruhi oleh perkembangan nalar sebagaimana dikemukakan
oleh piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menrut tahap-tahap
perkembangan piaget, makin tinggi pula tingkat moral seseorang.
5. Faktor Interaksi sosial dalam memberik kesepakatan pada anak untuk
mempelajari dan menerapkan standart perilaku yang disetujui masyarakat,
keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain.

2.4 Upaya Optimalisasi Perkembangan Moral dan Spiritual


Hurlock mengemukakan ada empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh
anak dalam mengoptimalkan perkembangan moralnya, yaitu :
1. Mempelajari apa yang diharapkan kelompok sosial dari anggotanya
sebagaimana dicantumkan dalam hukum. Harapan tersebut terperinci dalam
bentuk hukum, kebiasaan dan peraturan. Tindakan tertentu yang dianggap
“benar” atau “salah” karena tindakan itu menunjang, atau dianggap tidak
menunjang, atau menghalangi kesejahteraan anggota kelompok. Kebiasaan
yang paling penting dibakukan menjadi peraturan hukum dengan hukuman
tertentu bagi yang melanggarnya. Yang lainnya, bertahan sebagai kebiasaan
tanpa hukuman tertentu bagi yang melanggarnya.
2. Pengambangan hati nuranni sebagai kendali internal bagi perliaku
individu. Hati nurani merupakan tanggapan terkondisikan terhadap
kecemasan mengenai beberapa situasi dan tindakan tertentu, yang telah
dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan agresif dengan hukum.
3. Pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah
mengembangkan hati nurani, hati nurani mereka dibawa dan digunakan
sebagai pedoman perilaku. Rasa bersalah adalah sejenis evaluasi diri, khusus
terjadi bila seorang individu mengakui perilakunya berbeda dengan nilai moral
yang dirasakannya wajib untuk dipenuhi. Rasa malu adalah reaksi emosional
yang tidak menyenangkan yang timbul pada seseorang akibat adanya
penilaian negatif terhadap dirinya. Penilaian ini belum tentu benar-benar ada,
namun mengakibatkan rasa rendah diri terhadap kelompoknya.
4. Mencontohkan, memberikan contoh berarti menjadi model perilaku yang
diinginkan muncul dari anak, karena cara ini bisa menjadi cara yang paling
efektif untuk membentuk moral anak.
5. Latihan dan Pembiasaan, menurut Robert Coles (Wantah, 2005) latihan
dan pembiasaan merupakan strategi penting dalam pembentukan perilaku
moral pada anak usia dini. Sikap orang tua dapat dijadikan latihan dan
pembiasaan bagi anak. Sejak kecil orang tua selalu merawat, memelihara,
menjaga kesehatan dan lain sebagainya untuk anak. Hal ini akan
mengajarkan moral yang positif bagi anak
6. Kesempatan melakukan interaksi dengan anggota kelompok sosial.
Interaksi sosial memegang peranan penting dalam perkembangan moral.
Tanpa interaksi dengan orang lain, anak tidak akan mengetahui perilaku yang
disetujui secara social, maupun memiliki sumber motivasi yang mendorongnya
untuk tidak berbuat sesuka hati.

Interaksi sosial awal terjadi didalam kelompok keluarga. Anak belajar dari
orang tua, saudara kandung, dan anggota keluarga lain tentang apa yang
dianggap benar dan salah oleh kelompok sosial tersebut. Disini anak
memperoleh motivasi yanjg diperlukan untuk mengikuti standar perilaku yang
ditetapkan anggota keluarga.
Melalui interaksi sosial, anak tidak saja mempunyai kesempatan untuk belajar
kode moral, tetap mereka juga mendapat kesempatan untuk belajar
bagaimana orang lain mengevaluasi perilaku mereka. Karena pengaruh yang
kuat dari kelompok sosial pada perkembangan moral anak, penting sekali jika
kelompok sosial, tempat anak mengidentifikasikan dirinya mempunyai standar
moral yang sesuai dengan kelompok sosial yang lebih besar dalam
masyarakat.
2.5 Implikasi Perkembangan Peserta Didik terhadap Pendidikan
Manusia pada umumnya berkembang sesuai dengan tahapan-tahapannya.
Perkembangan tersebut dimulai sejak masa konsepsi hingga akhir hayat.
Ketika individu memasuki usia sekolah, yakni antara tujuh sampai dengan dua
belas tahun, individu dimaksud sudah dapat disebut sebagai peserta didik
yang akan berhubungan dengan proses pembelajaran dalam suatu sistem
pendidikan.
Cara pembelajaran yang diharapkan harus sesuai dengan tahapan
per-kembangan anak, yakni memiliki karakteristik sebagai berikut: (1)
programnya disusun secara fleksibel dan tidak kaku serta memperhatikan
perbedaan individual anak; (2) tidak dilakukan secara monoton, tetapi
disajikan secara variatif melalui banyak aktivitas; dan (3) melibatkan
penggunaan berbagai media dan sumber belajar sehingga memungkinkan
anak terlibat secara penuh dengan menggunakan berbagai proses
perkembangannya (Amin Budiamin, dkk., 2009:84).
Aspek-aspek perkembangan peserta didik yang berimplikasi terhadap proses
pendidikan melalui karakteristik perkembangan moral dan religi akan diuraikan
seperti di bawah ini.

1. Implikasi Perkembangan Moral


Purwanto (2006:31) berpendapat, moral bukan hanya memiliki arti bertingkah
laku sopan santun, bertindak dengan lemah lembut, dan berbakti kepada
orang tua saja, melainkan lebih luas lagi dari itu. Selalu berkata jujur, bertindak
konsekuen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan sesama manusia,
mengabdi kepada rakyat dan negara, berkemauan keras, berperasaan halus,
dan sebagainya, termasuk pula ke dalam moral yang perlu dikembangkan dan
ditanamkan dalam hati sanubari anak-anak.
Adapun perkembangan moral menurut Santrock yaitu perkembangan yang
berkaitan dengan aturan mengenai hal yang seharusnya dilakukan oleh
manusia dalam interaksinya dengan orang lain (Desmita, 2008:149).
Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, salah
satunya melalui pendidikan langsung, seperti diungkapkan oleh Yusuf
(2005:134). Pendidikan langsung yaitu melalui penanaman pengertian tentang
tingkah laku yang benar-salah atau baik-buruk oleh orang tua dan gurunya.
Selanjutnya masih menurut Yusuf (2005:182), pada usia sekolah dasar anak
sudah dapat mengikuti tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya.
Pada akhir usia ini, anak dapat memahami alasan yang mendasari suatu
bentuk perilaku dengan konsep baik-buruk. Misalnya, dia memandang bahwa
perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada orang tua merupakan
suatu hal yang buruk. Sedangkan perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat
kepada orang tua merupakan suatu hal yang baik.
Selain pemaparan di atas, Piaget (Hurlock, 1980:163) memaparkan bahwa
usia antara lima sampai dengan dua belas tahun konsep anak mengenai
moral sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar dan
salah yang dipelajari dari orang tua, menjadi berubah dan anak mulai
memperhitungkan keadaan-keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral.
Misalnya bagi anak usia lima tahun, berbohong selalu buruk. Sedangkan anak
yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan.
Oleh karena itu, berbohong tidak selalu buruk.
Selain lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan juga menjadi wahana yang
kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan moral peserta didik. Untuk itu,
sekolah diharapkan dapat berfungsi sebagai kawasan yang sejuk untuk
melakukan sosialisasi bagi anak-anak dalam pengembangan moral dan
segala aspek kepribadiannya. Pelaksanaan pendidikan moral di kelas
hendaknya dihubungkan dengan kehidupan yang ada di luar kelas. Dengan
demikian, pembinaan perkembangan moral peserta didik sangat penting
karena percuma saja jika mendidik anak-anak hanya untuk menjadi orang
yang berilmu pengetahuan, tetapi jiwa dan wataknya tidak dibangun dan
dibina.

2. Implikasi Perkembangan Spiritual


Anak-anak sebenarnya telah memiliki dasar-dasar kemampuan spiritual yang
dibawanya sejak lahir. Untuk mengembangkan kemampuan ini, pendidikan
mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karena itu, untuk melahirkan
manusia yang ber-SQ tinggi dibutuhkan pendidikan yang tidak hanya
berorientasi pada perkembangan aspek IQ saja, melainkan EQ dan SQ juga.
Zohar dan Marshall (Desmita, 2008:174) pertama kali meneliti secara ilmiah
tentang kecerdasan spiritual, yaitu kecerdasan untuk menghadapi dan
memecahkan persoalan makna dan nilai, yang menempatkan perilaku dan
hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
Purwanto (2006:9) mengemukakan bahwa pendidikan yang dilakukan
terhadap manusia berbeda dengan “pendidikan” yang dilakukan terhadap
binatang. Menurutnya, pendidikan pada manusia tidak terletak pada
perkem-bangan biologis saja, yaitu yang berhubungan dengan perkembangan
jasmani. Akan tetapi, pendidikan pada manusia harus diperhitungkan pula
perkembangan rohaninya. Itulah kelebihan manusia yang diberikan oleh Allah
Swt., yaitu dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal
penciptanya, yang membedakan antara manusia dengan binatang. Fitrah ini
berkaitan dengan aspek spiritual.
Berkaitan dengan perkembangan spiritual yang membawa banyak implikasi
terhadap pendidikan, diharapkan muncul manusia yang benar-benar utuh dari
lembaga-lembaga pendidikan. Untuk itu, pendidikan agama nampaknya harus
tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari program-program pendidikan
yang diberikan di sekolah dasar. Tanpa melalui pendidikan agama, mustahil
SQ dapat berkembang baik dalam diri peserta didik.

BAB III
ANALISIS
3.1 Analisis Teoretis
Usia transisi yang dialami remaja cenderung membawa dampak psikologis
disamping membawa dampak fisiologis, dimana perilaku mereka cenderung
berfikir pendek dan ingin cepa dalam memecahkan berbagai permasalahan
kehidupan. Namun, tidak sedikit jalan yang ditempuh adalah jawan yang sesat
dan mengandung risiko. Karena proses berfikir seperti itu, remaja tidak
mampu lagi membedakan hal baik dan hal buruk untuk dijadikan acuan prilaku
yang sesuai dengan perintah dan larangan agama yang dianutnya. Selain itu
remaja cenderung menutupi eksistensi kehidupannya dengan mengabaikan
ajaran agama yang dianutnya dan nilai normatif yang ditanamkan pada dirinya
dalam menyelesaikan persoalan.
Dengan kondisi prilaku remaja tersebut, seringkali mereka mengalami
kegagalan dalam menjalani pemulihan dan tidak mampu lagi membankitkan
kesadaran spiritual. Sesungguhnya, kesadaran dan kekuatan spiritual akan
diperoleh jika remaja mendekatkan dirinya dengan ketaatan dan amaliyah
ibadah kepada Tuhannya ketika dihadapkan pada berbagai persoalan
hidupnya.
Hubungan spiritual manusia dengan Rabbnya ketika beribadah akan
memunculkan kekuatan spiritualnya berupa limpahan Illahiah atau ketikan
spiritual berupa al-hikmah. Tekadnya bertambah kuat, kemauannya semakin
keras, dan semangatnya kian meningkat sehinga ia pun lebih memiliki
kesiapan untuk menerima ilmu pengetahuan atau hikmah (Najati, 2005:456)
Hikmah merupakan karunia Allah berupa pemahaman ma’rifat Allah. Hikmah
dapat menambah kemuliaan atau mengangkat (derajat) manusia sebagai
hamba-Nya. Pemiiknya akan mencerminkan ciri-ciri para Nabi yang ada pada
mereka. Hikmah yang milikinya akan menuntun dirinya kepada kemaslahatan
yang tepat dalam melaksanakan semua aktivitas dan perbuatan sehari-hari
sehingga mampu mencegah dan menjaga diri dari akhlak-akhlak yang tidak
diridhoi-Nya. Karena itu hikmah tidak dianugerahkan kedapa setiap orang,
akan tetapi terlahir dari sejumlah faktor dan sebab yang merupakan fadhilah
dan nikmat dari Allah.
Faktor meraih hikmah ialah, meliputi :
a. Berdasarkan ilmu syariat;
b. Ikhlas;
c. Syukur dan sabar; dan
d. Berdoa dan tawakal
Sedangkan faktor penghalang ibadah meliputi :
a. Hawa nafsu;
b. Kebodohan;
c. Kesombongan; dan
d. Keras dan kasar (Nashir, 1995:19)

3.2 Analisis Praktis


Kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah pembalajaran yang berguna untuk
meneliti struktur atau tingkat kesulitan dari pembelajaran yang disajikan
dengan cara mendalam, sederhana, tidak rumit dan mudah dilakukan atau
dilaksanakan. Tidak hanya menganalisis masalah materi pembelajaran saja
tapi meliputi karakteristik dari peserta didik misalnya sikap sopan santun,
meberi salam, dan saling tegur sapa di dalam proses pembelajaran maupun
diluar jam pelajaran. Saling menghormati antar peserta didik dan dengan
pengajar maupun antar peserta didik. Selain itu bekali nilai-nilai religi
memperdalam agama dan kepercayaan masing-masing agar terbentuk akhlak
dan periaku yang baik pada peserta didik. Tujuan dari analisis praktis dalam
perkembangan peserta didik untuk menelaah dan mengetahui karakteristik
dan masalah yang dihadapi perserta didik yang perlu diangkat dalam
pengembangan pangkat pembelajaran.
Nasihat yang diberikanpun bukan sekedar proses memberikan pertolongan
dan dukungan sosial saja, tetapi juga harus merujuk dengan Maha
Penciptanya, yakni Allah swt. Nasihat yang diberikan diarahkan untuk
mengembalikan keimanan dan ketakwaan serta religius, yang akan membawa
pada eksistensi dirinya dan dapat menemukan citra dirinya, sesuai dengan
kebenaran yang hakiki dan kemenangan yang abadi untuk meraih
kebahagiaan kehidupan yang hakiki.

BAB IV
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
4.1. Kesimpulan
Perkembangan religius remaja tergantung bagaimana dan apa yang
diperolehnya sejak masa anak-anak. Umumnya, apabila pendidikan agama
yang diberikan kuat maka perkembangan religius remaja akan menjadi positif
dan boleh jadi semakin kuat. Begitu pula sebaliknya, apabila terdapat banyak
kerancuan pemahaman terhadap keagamaan, maka perkembangan religius
remaja tersebut akan terganggu. Pada masa remaja, keagamaan sama
pentingnya dengan moral.

4.2. Rekomendasi
Karakteristik perkembangan moral dan religi pada peserta didik sangat penting
diterap dalam lingkup pendidikan mengingat perkembangan zaman dan
moderenisasi yang membuat moral generasi muda semakin terperosok. Oleh
karena itu kami memberikan rekomendasi untuk beberapa pihak terkait
masalah ini.
4.2.1 Untuk Dosen atau Guru
Guru berperan tidak hanya memberikan pendidikan dalam bidang akademis
saja namun juga mendidik dalam membentuk kepribadian anak. Maka dari itu
diperlukan metode mengajar yang tidak monoton. Perlu adanya dorongan
motivasi pada anak juga paparan mengenai tindakan-tindakan yang baik
dalam bentuk cerita. Menghukum anak terlalu berat pun berpotensi anak
semakin tidak suka pada mata pelajaran yang diajarkan bahkan pada sosok
guru tersebut.
4.2.2 Untuk Orang tua
Lingkungan keluarga sangat berpengaruh dalam perkembangan moral dan
spiritual anak. Untuk itu perlu diciptakan kehidupan keluarga yang harmonis
mengingat anak akan selalu merekam apa yang terjadi dalam keluarganya.
Disini peran orang tua sangat dibutuhkan karena tingkah laku orang tua
merupakan cerminan dari prilaku anaknya kelak. Untuk membangun moral
anak, maka orang tua harus selalu memberikan perhatian dan dukungan
untuk anaknya namun juga harus bias bersikap tegas dalam menangani
permasalahan anak.

DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin.2009. Pendidikan dan Psikologi Perkembangan. Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media
Baharuddin.2009. Psikologi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Hartono, Agung.2002. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta
ISSN 1411-5026.(2010).Jurnal Bimbingan dan Konseling. Pengurus Besar
Asosisi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN):Bandung
Syamsuddin, Abin.2007. Psikologi Kependidikan. Bandung: Rosda Karya
Yusuf, Syamsu.2011.Perkembangan Peserta Didik.Jakarta: Rajawali Pers
http://newijayanto.blogspot.com/2011/12/karakteristik-perkembangan-moralita
s.html

Perkembangan Moral

1. Pengertian Moral

Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (Morsis), yang


berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tatacara
kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk
menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip
moral. Nilai-nilai moral itu, seperti (a) seruan untuk berbuat baik
kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan,
memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan (b)
larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum minuman keras
dan berjudi. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah
laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung
tinggi oleh kelompok sosialnya.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral

Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi


oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari
lingkungannya, tertutama dari orangtuanya. Dia belajar untuk
mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
tersebut. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orangtua
sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa
sikap orangtua yang perlu diperhatikan sehubungan dengan
perkembangan moral anak, di antaranya sebagai berikut.

1. a. Konsisten dalam mendidik anak dilarang

Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dan
melarang atau membolehkan tingkah laku tertentu kepada anak.
Suatu tingkah laku anak yang dilarang oleh orangtua pada suatu
waktu, harus juga dilarang apabila dilakukan kembali pada waktu
lain.

b. Sikap orangtua dalam keluarga

Secara tidak langsung, sikap orangtua terhadap anak, sikap ayah


terhadap ibu, atau sebaliknya, dapat mempengaruhi perkembangan
moral anak, yaitu melalui proses peniruan (imitasi). Sikap orangtua
yang keras (otoriter) cenderung melahirkan sikap disiplin semu pada
anak, sedangkan sikap yang acuh tak acuh, atau sikap masa bodoh,
cenderung mengembangkan sikap kurang bertanggung jawab dan
kurang mempedulikan norma pada diri anak. Sikap yang sebaiknya
dimiliki oleh orangtua adalah sikap kasih sayang, keterbukaan,
musyawarah (dialogis), dan konsisten.

c. Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut

Orangtua merupakan panutan (teladan) bagi anak, termasuk di sini


panutan dalam mengamalkan ajaran agama. Orangtua yang
menciptakan iklim religius (agamis), dengan cara membersihkan
ajaran atau bimbingan tentang nilai-nilai agama kepada anak,
maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik.

d. Sikap konsisten orangtua dalam menerapkan norma


Orangtua yang tidak menghendaki anaknya berbohong, atau berlaku
tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari perilaku
berbohong atau tidak jujur. Apabila orangtua mengajarkan kepada
anak, agar berperilaku jujur, bertutur kata yang sopan,
bertanggungjawab atau taat beragama, tetapi orangtua sendiri
menampilkan perilaku yang sebaliknya, maka anak akan mengalami
konflik pada dirinya, dan akan menggunakan ketidak konsistenan
(ketidakajegan) orangtua itu sebagai alasan untuk tidak melakukan
apa yang diinginkan oleh orangtuanya, bahkan mungkin dia akan
berparilaku seperti orangtuanya.

3. Proses Perkembangan Moral

Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara,


sebagai berikut:

1. 1. Pendidikan langsung, yaitu melalui penanaman


pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik
dan buruk oleh orangtua, guru atau orang dewasa lainnya. Di
samping itu, yang paling penting dalam pendidikan moral ini,
adalah keteladanan dari orangtua, guru atau orang dewasa
lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral
2. 2. Identifikasi, yaitu dengan cara mengidentifikasi atau
meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang
menjadi idolanya (seperti orangtua, guru, kyai, artis atau orang
dewasa lainnya)
3. 3. Proses coba-coba (trial & error), yaitu dengan cara
mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah
laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus
dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan
hukuman atau celaan akan dihentikannya.

Dalam membahas proses perkembangan moral ini,


Lawrence Kohrelg (Ronald Duska dan Mariellen Whelan, dalam
Dwija Atmaka, 1984; Abin Syamsuddin M., 1999)
mengklasifikasikannya ke dalam tiga tingkat, yaitu sebagai berikut.

Tingkatan Perkembangan Moral

Tingkat (level) Tahap (stages)

I. Pra Konvensional 1.Orientasi Hukuman dan Kepatuhan

Pada tahap ini, anak mengenal Anak menilai baik-buruk, atau benar-salah d
baik-buruk, benar-salah suatu (hukuman atau ganjaran) yang diterimanya d
perbuatan dari sudut konsekuensi otoritas (yang membuat aturan), baik orangt
(dampak/ akibat) menyenangkan lainnya. Di sini anak mematuhi aturan orang
(ganjaran) atau menyakiti dari hukuman.
(hukuman) secara fisik, atau enak
2. Orientasi relativis-Instrumental
tidaknya akibat perbuatan yang
diterima. Perubahan yang baik/benar adalah yang berf
instrumen (alat) untuk memenuhi kebutuhan
diri. Dalam hal ini hubungan dengan orang
sebagai hubungan orang di pasar (hubungan j
melakukan atau memberikan sesuatu kepada
terima kasih atau sebagai curahan kasih sayan
pamrih (keinginan mendapatkan balasan): “J
aku akan memberimu”

II. Konvensioanal 3.Orientasi Kesepakatan antarpri-badi, atau


(Good boy/gerl)
Pada tingkat ini, anak memandang
perbuatan itu baik/benar, atau Anak memandang suatu perbuatan itu baik, a
berharga bagi dirinya apabila dapat apabila dapat menyenangkan, membantu, at
memenuhi harapan/persetujuan orang lain.
keluarga, kelom-pok, atau
bangsa. Di sini berkembang sikap
konformitas, loyalitas, atau
penyesuaian diri terhadap
keinginan kelompok atau aturan
sosial masyarakat.

Tingkat (level) Tahap (stage)

4. Orientasi Hukum dan Ketertiban

Perilaku yang baik adalah melaksanakan atau


tugas/kewajiban sendiri, menghormati otorita
ketertiban sosial.

5. Orientasi Kelompok Sosial Legalistik

III. Pasca-Konvensioanal
Perbuatan atau tindakan yang baik cenderun

Pada tingkat ini ada usaha individu kerangka hak-hak individual yang umum, dan

untuk mengartikan nilai-nilai atau patokan yang telah diuji secara kritis, serta d

prinsip-prinsip moral yang dapat masyarakat. Dengan demikian, perbuatan y

diterapkan atau dilaksanakan yang sesuai dengan perundang-undangan yan

terlepas dari otoritas kelompok,


6. Orientasi Prinsip Etika Universal
pendukung, atau orang yang
memegang/ menganut Kebenaran ditentukan oleh keputusan kata ha
prinsip-prinsip moral tersebut. Juga prinsip-prinsip etika yang logis, universalitas,
terlepas apakah individu yang Prinsip-prinsip etika universalitas ini bersifat
bersangkutan kelompok itu atau keadilan, kesamaan hak asasi manusia, dan p
tidak martabat manusia.

2). Lingkungan Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang formal yang


mempunyai program yang sistemik dalam melaksanakan bimbingan,
pengajaran dan latihan kepada anak (siswa) agar mereka
berkembang sesuai dengan potensinya.

Menurut Hurlock (1991) pengaruh sekolah terhadap


perkembangan kepribadian anak sangat besar, karena sekolah
merupakan subsitusi dari keluarga dan guru-guru subsitusi dari
orangtua.

Dalam kaitannya dengan upaya mengembangkan fitrah


beragama para siswa, maka sekolah, terutama dalam hal ini guru
agama mempunyai peranan yang sangat penting dalam
mengembangkan wawasan pemahaman, pembiasaan mengamalkan
ibadah atau akhlak mulia dan sikap aprsesiatif terhadap ajaran
agama.

Agar dapat melaksanakan tugas tersebut di atas, maka


guru agama dituntut untuk memiliki karakteristik sebagai berikut:

a) Kepribadian yang mantap (akhlak mulia), seperti: jujur,


bertanggung jawab, berkomitmen terhadap tugas, disiplin dalam
bekerja, kreatif, dan respek terhadap siswa.

b) Menguasai disiplin ilmu dalam Bidang Studi Pendidikan Agama


Islam. Guru agama memiliki pemahaman yang memadai tentang
bidang studi yang diajarkan, minimal materi-materi yang
berkandung dalam kurikulum.

c) Memahami ilmu-ilmu lain yang revelan atau menunjang


kemampuannya dalam mengelola proses belajar-mengajar, seperti
psikologi pendidikan, bimbingan dan konseling, metodologi
pengajaran, administrasi pendidikan, teknik evsluasi dan psikologi
agama.

Di samping itu, perlu juga memahami ilmu-ilmu yang


menunjang terhadap perluasan wawasan dalam menjelaskan materi
pelajaran kepada siswa, seperti sosiologi, antropologi, kependudukan
dan kesehatan.

Faktor lainnya yang menunjang perkembangan fitrah beragama


siswa adalah:

1) Kepedulian kepala sekolah, guru-guru dan staf sekolah lainnya


terhadap pelaksanaan pendidikan agama (penanaman nilai-nilai
agama) di sekolah, baik melalui pemberian contoh dalam bertutur
kata, berperilaku dan berpakaian yang sesuai dengan ajaran agama
Islam. Yang tidak kalah penting lagi adalah upaya guru bidang studi
umum menyisipkan nilai-nilai agama dalam mata pelajaran yang
diajarkannya.

2) Tersedianya sarana ibadah yang memadai dan


memfungsikannya secara optimal.

3) Penyelenggaraan kegiatan ekstrakurikuler kerohanian bagi para


siswa dan ceramah-ceramah atau diskusi keagamaan secara rutin.
3). Lingkungan Masyarakat

Yang dimaksud lingkungan masyarakat di sini adalah situasi atau


kondisi interaksi sosial dan sosiokultural yang secara potensial
berpengaruh terhadap perkembangan fitrah beragama atau
kesadaran beragama individu. Dalam masyarakat, individu
(terutama anak-anak dan remaja) akan melakukan interaksi sosial
dengan teman sebayanya atau anggota masyarakat lainnya. Apabila
teman sepergaulan itu menampilkan perilaku yang sesuai dengan
nilai-nilai agama (berakhlak naik), maka anak remaja pun
cenderung akan berakhlak baik. Namun, apabila temannya
menampilkan perilaku yang kurang baik, amoral atau melanggar
norma-norma agama, maka anak akan cenderung terpengaruh
untuk mengikuti atau mencontoh perilaku tersebut. Hal ini akan
terjadi apabila anak atau remaja kurang mendapatkan bimbingan
agama dalam keluarganya.

Mengenai dominannya pengaruh kelompok teman


sepergaulan ini, Hurlock (1991) mengemukakan, bahwa “Standar
atau aturan-aturan ‘gang’ (kelompok bermain) memberikan
pengaruh terhadap moral dan tingkah laku bagi para anggotanya”.
Corak perilaku anak atau remaja merupakan cermin dari corak atau
perilaku warga masyarakat (orang dewasa) pada umumnya. Oleh
karena itu, di sini dapat dikemukakan bahwa kualitas perilaku atau
pribadi orang dewasa atau warga masyarakat.

Kualitas pribadi atau perilaku orang dewasa yang kondusif


bagiperkembangan kesadaran beragama anak (remaja) adalah (a)
taat melaksanakan kewajiban agama, seperti ibadah ritual, menjalin
persaudaraan, saling menolong, dan bersikap jujur; (b) menghindari
diri dari sikap dan perilaku yang dilarang agama, seperti: sikap
permusuhan, saling curiga, munafik, mengambil hak orang lain
(mencuri, korupsi, dan sebagainya) dan perilaku maksiat lainnya
(berzina, berjudi, dan meminum minuman keras). Sedangkan
lingkungan masyarakat yang tidak kondusif ditandai oleh
karakteristik berikut:

Gaya hidup yang materialistik dan hidonistik, yaitu mendewakan


materi dan hidupnya sangat berorientasi untuk meraih
kenikmatan. Sikap hidup seperti ini cenderung menghalalkan segala
cara untuk mencapai tujuan atau keinginannya.

Sikap dan perilaku warga masyarakat yang melecehkan norma


agama. Masyarakat baik yang memegang kekuasaan ataupun
masyarakat biasa bersikap acuh terhadap kemaksiatan yang
merajalela dalam masyarakat, bahkan ikut mendukung terhadap
tumbuh suburnya kemaksiatan tersebut, seperti memberi izin
berdirinya tempat-tempat hiburan malam (dugem), pabrik
minuman keras, menjual minuman keras, pemasangan iklan atau
pemutaran film-film porno (baik di bioskop maupun di
televisi).

C. Teori Perkembangan Moral

Ada sejumlah pandangan dari kalangan ahli psikologi pendidikan


mengenai perkembangan moral. Setidak-tidaknya dapat
diperhatikan teori disequilibrium kognitif Piaget, perkembangan
moral menurut Erickson, dan gagasan Kohlberg mengenai
perkembangan moral. Pada bagian ini hanya akan dikemukakan
satu cara pandang psikologi atas perkembangan moral sebagaimana
dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg.
Kohlberg mengembangkan gagasannya mengenai perkembangan
moral melalui penelitian terhadap individu-individu dari berbagai
usia. Terhadap setiap orang, ia mengajukan ceritera dan disertai
dengan pertanyaan-pertanyaan terhadap ceritera tersebut. Atas
dasar jawaban orang-orang yang diteliti, Kohlberg menyimpulkan
adanya tiga tingkatan perkembangan moral manusia. Mengenai
perkembangan moral, dia yakin bahwa perkembangan yang baik
terjadi manakala perilaku manusia mengalami
perubahan-perubahan dari perilaku yang dikontrol dari luar diri
(orang lain) menuju ke perilaku yang dikontrol secara internal oleh si
pelaku moral. Ketiga tingkatan tersebut adalah : Penalaran
praskonvensional, penalaran konvensional, dan penalaran
postkonvensional.

Penalaran prakonvensional. Pada tingkatan terendah ini individu


tidak menunjukkan adanya internalisasi nilai-nilai moral–penalaran
moral dikendalikan oleh faktor internal, yakni hadiah, pujian,
tepukan bahu, atau sebaliknya berupa cacian, makian, kritik,
hukuman. Pada tingkatan yang paling dasar ini dipilah menjadi dua
tahap, yaitu :

Tahap 1 : punishment and obedience orientation. Pada tahap


orientasi hukuman dan kepatuhan ini pemikiran moral didasarkan
pada hukuman. Sebagai contoh, seseorang menjadi berperilaku
patuh, karena takut kalau-kalau hukuman menimpa dirinya. Agar
tidak dihukum oleh ayahnya, seseorang anak atau remaja menurut
patuh terhadap perintah orang tuanya walaupun ia tidak senang.

Tahap 2 : individualism and purpose. Pada tahap individualisme dan


tujuan ini perkembangan moral lebih berdasar pada hadiah dan
minat pribadi anak atau remaja. Anak atau remaja menjadi patuh
karena dia berharap akan mendapatkan sesuatu yang
menyenangkan setelah dia menjalankan perilaku patuh.

Penalaran konvensional. Pada tingkatan yang kedua ini, individu


melakukan kepatuhan berdasarkan standar pribadi yang diperoleh
atau yang diinternalisasi dari lingkungan atau orang lain. Misalnya
anak patuh karena ia telah menginternalisasi hukum yang berlaku
atau peraturan yang dibuat orang tuanya. Pada tingkatan kedua ini
dipilah menjadi dua tahap:

Tahap 3: Interpersonal norm. Ppada tahap norma interpersonal ini,


anak beranggapan bahwa rasa percaya, rasa kasih sayang, dan
kesetiaan kepada orang lain sebagai dasar untuk melakukan
penilaian terhadap perilaku moral. Agar anak dikatakan sebagai
anak yang baik, maka anak mengambil standar moral yang
diberlakukan oleh orang tuanya. Dengan demikian, hubungan antara
anak dan orang tua tetap terjaga dalam suasana penuh kasih saying.

Tahap 4: Social system morality. Pada tahap keempat ini ukuran


moralitas didasarkan pada sistem sosial yang berlaku saat itu.
Artinya, kehidupan masyarakat didasarkan pada aturan hukum
yang dibuat dengan maksud melindungi semua warga di dalam
komunitas tertentu. Jadi pada tahap ini perkembangan moral
didasarkan pada pemahaman terhadap aturan, hukum, keadilan,
dan tugas sosial kemasyarakatan.

Penalaran postkonvensional. Tingkat tertinggi dari perkembangan


moral adalah diinternalisasikannya standar moral sepenuhnya
dalam diri individu tanpa didasarkan pada standar orang lain.
Seseorang tahu bahwa ada sejumlah pilihan standar moral,
kemudian dia memilih untuk diinternalisasi sebagai bagian standar
pribadi yang akan menuntun diri sendiri kearah perilaku bermoral
yang menguntungkan bagi dirinya dan tidak merugikan orang lain.
Pada tingkatan tertinggi ini dibagi menjadi dua tahap.

Tahap 5: Community rights vs individual rights. Pada tahap ini,


perkembangan moral mengarah ke pemahaman bahwa nilai dan
hukum bersifat relatif. Sementara itu nilai yang dimiliki orang satu
berbeda dari orang yang lainnya.

Tahap 6: Universal ethical principles. Tahapan tertinggi dari


perkembangan moral adalah seseorang sudah mampu membentuk
standar moral sendiri berdasar pada hak-hak manusia yang bersifat
universal. Walaupun mengandung resiko, orang pada tahap ini
berani mengambil suatu tindakan berdasar kata hatinya sendiri,
bahkan bertentangan dengan hukum sekalipun.

RANGKUMAN

Perilaku moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan


melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip
moral. Nilai-nilai moral itu, seperti (a) seruan untuk berbuat baik
kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan,
memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan (b)
larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum minuman keras
dan berjudi. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah
laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung
tinggi oleh kelompok sosialnya.

Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi


oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari
lingkungannya, tertutama dari orangtuanya. Dia belajar untuk
mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai
tersebut. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orangtua
sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil.

Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara,


sebagai berikut:

1) Pendidikan langsung, yaitu melalui penanaman pengertian


tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh
orangtua, guru atau orang dewasa lainnya. Di samping itu, yang
paling penting dalam pendidikan moral ini, adalah keteladanan dari
orangtua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan
nilai-nilai moral

2) Identifikasi, yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru


penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi
idolanya (seperti orangtua, guru, kyai, artis atau orang dewasa
lainnya)

3) Proses coba-coba (trial & error), yaitu dengan cara


mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah
laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus
dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan
hukuman atau celaan akan dihentikannya.

Perkembangan spiritual lebih spisifik akan dibahas manusia


berkebutuhan terhadap agama. Salah satu kelebihan manusia sebagai
makhluk Allah SWT, adalah dia dianugerahi fitrah (perasaan dan
kemampuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya.
Dengan kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri
beragama). Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki
sebagai “Homo Devinans”, dan “Homo Religious”, yaitu makhluk
yang bertuhan atau beragama.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan
spiritual-keberagamaan adalah faktor pembewaan dan faktor
lingkungan, di antaranya lingkungan keluarga (orangtua), sekolah,
dan lingkungan masyarakat.

Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral dari yang


paling dasar menuju ke puncak moral. Pada awalnya orang
mengembangkan moral berdasar nilai-nilai orang lain.
Lambat-laun moral berkembang ke arah keputusan pribadi.

PENDALAMAN

Untuk menguji pemahaman anda setelah mempelajari bab ini, maka


selesaikanlah tugas berikut dan laporkan!

1. Jelaskan pengertian perkembangan moral secara umum!


2. Definisikan pengertian moral manusiaIndonesia!
3. Jelaskan perkembangan moral remaja berada pada tahap
yang mana?
4. Sejauhmana perkembangan spiritual-keberagamaan para
remaja sekarang? Jelaskan dengan contoh konkrit!
5. Kemukakan contoh konkrit perkembangan moral atas dasar
apa yang Anda alami dalam kehidupan Anda!

DAFTAR RUJUKAN

Hurlock, Elisabeth B. 1991. Psikologi Perkembangan Suatu


Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Terjemahan oleh
Istiwidayanti, dkk. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Daradjat. Z. 1970. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: Bulan Bintang.


Departemen Agama RI. 1996. Al-Quran Al-Karim dan
Terjemahnya.Semarang: Toha Putra.

Syamsuddin.A. 1997. Psikologi Kependidikan. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Yusuf, S LN. 2000. Psikologi Perkembangan Anak dan


Remaja.Bandung: Remaja Rosdakarya.