Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR

RUPA DARAH SECARA MAKROSKOPIS & MIKROSKOPIS


SEBELUM DAN SESUDAH HAEMOLISIS, SERTA
MENENTUKAN TAHANAN OSMOTIK SEL-SEL DARAH
MERAH

OLEH :

MAYA FITRI ZULY


1504115214
TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN

LABORATORIUM BIOLOGI PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS RIAU
2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan

karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum Fisiologi

Hewan Air dengan judul “Rupa Darah Secara Makroskopis & Mikroskopis

Sebelum dan Sesudah Haemolisis, Serta Menentukan Tahanan Osmotik Sel – Sel

Darah Merah” tepat pada waktunya.

Laporan praktikum ini disusun berdasarkan hasil pengamatan pada

praktikum yang telah dilakukan pada hari Kamis, 9 Maret 2017 di Laboratorium

Biologi Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.

Laporan ini di buat untuk melengkapi rangkaian pelaksanaan praktikum Fisiologi

Hewan Air yang telah dilaksanakan dan juga sebagai salah satu syarat untuk

mengikuti praktikum selanjutnya.

Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan, materi dan cara penulisan

kata-kata masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan

kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini

sehingga berguna bagi kita semua. Semoga laporan praktikum ini bermanfaat bagi

kita semua.

Pekanbaru, 10 Maret 2017

Maya Fitri Zuly


DAFTAR ISI

Isi Halaman

KATA PENGANTAR ............................................................................ .............. i

DAFTAR ISI ........................................................................................... ............. ii

DAFTAR GAMBAR .............................................................................. ............ iii

I. PENDAHULUAN ............................................................................... ............. 1


1.1. Latar Belakang ......................................................................... ............. 1
1.2. Tujuan dan Manfaat ................................................................ ............. 2

II. TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... ............. 3

III. BAHAN DAN METODE ................................................................ ............. 6


3.1. Waktu dan Tempat ................................................................... ............. 6
3.2. Alat dan Bahan ........................................................................ ............. 6
3.3. Metode Praktikum ................................................................... ............. 6
3.4. Prosedur Praktikum ................................................................. ............. 6

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................ ............. 8


4.1. Hasil ......................................................................................... ............. 8
4.2. Pembahasan ............................................................................. ........... 11

V. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... ........... 13


5.1. Kesimpulan ............................................................................. ........... 13
5.2. Saran ....................................................................................... ........... 13

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Morfologi Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus). .................................. 8

2. Preparat Ulas A1, B1,C, A2, dan B2 dibawah Mikroskop ................. 9

3. Hasil dari Larutan NaCl dengan Kosentrasi yang Berbeda Ditambah


dengan 20 Tetes Darah Ikan................................................................. 10

4. Preparat Ulas Delapan Tabung Reaksi ................................................. 10


DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum . .............................. 16

2. Prosedur Pengambilan Darah Ikan......................................................... 17

3. Preparat Ulas A1, B1, C, A2, dan B2 dibawah Mikroskop..................... 19

4. Hasil Larutan NaCl dengan Kosentrasi yang Berbeda+20 Tetes Darah. 20

5. Hasil Larutan NaCl dengan Kosentrasi yang Berbeda + 20 Tetes Darah,


dilihat dengan Mikroskop........................................................................ 21
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fisiologi merupakan cabang dari ilmu biologi yang mempelajari objek

spesifik mahluk hidup dari sudut pandang struktur dan fungsinya. Secara

terminologis fisiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu physis (sifat) dan logos

(ilmu). Jadi, secara garis besar fisiologi adalah ilmu yang mempelajari fungsi

mekanik, fisik, dan biokimia dari makhluk hidup (Windarti et al, 2013).

Cakupan dari ilmu fisiologis sangat luas sehingga dibagi menjadi bagian-

bagian yang lebih spesifik misalnya Fisiologis Virus, Fisiologi Bakteri, Fisiologi

Manusia, Fisiologi Ikan, Fisiologi Krustasea, dan lain sebagainya. Pada ilmu

Fisiologi Ikan, yang dipelajari hanyalah masalah fisiologi pada ikan, tetapi untuk

mempermudah dalam pemahaman, proses fisiologi yang terjadi pada makhluk lain

seperti manusia serta vertebrata yang lainnya akan digunakan sebagai pembanding

(Windarti et al, 2013).

Ikan merupakan hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah

dingin hidup di suatu perairan, berenang menggunakan sirip dan bernafas dengan

insang. Bentuk darah pada ikan bervariasi dari yang spindel hingga berbentuk

glendong. Jumlah sel-sel darah merah pada ikan berkisar 2-3 juta sel/ml (Ridwan

Manda et al, 2016)

Butir-butir darah merah adalah suatu bola gepeng (seperti cakram) yang

berisi cairan intraseluler. Bila sel-sel ini dimasukan kedalam suatu cairan lain

yang hipertonis atau hipotonis terhadap cairan intraseluler, maka terjadi proses

osmotik dan difusi. Bila cairan di dalam sel hipotonis terhadap cairan diluar sel
maka sel akan pecah. Bila tekanan osmotik pada cairan diluar sel sama dengan

tekanan osmotik cairan intraseluler, maka sel-sel darah tidak mengalami

perubahan. Bila cairan di dalam sel hipertonis terhadap cairan diluar sel maka sel

akan mengkerut (Windarti et al, 2017).

Eritrosit merupakan salah satu sel darah yang sangat berperan dalam

proses pengangkutan materi-materi di dalam tubuh. Eritrosit mengandung

hemoglobin yang memungkinkannya mampu mengangkut oksigen lebih banyak

dari pada oksigen tersebut bergerak sendiri dalam plasma darah. Hemoglobin juga

menyebabkan warna merah pada darah, sehingga eritrosit disebut dengan sel

darah merah. Sedangkan leukosit merupakan salah satu sel darah lainnya yang

sangat berperan sebagai benteng tubuh dari berbagai ancaman. Dellman and

Brown (1989) menyatakan bahwa leukosit memiliki bentuk khas, nucleus,

sitoplasma dan organel dan semuanya bersifat mampu bergerak pada keadaan

tertentu.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk melihat atau mengamati

rupa darah secara makroskopis dan mikroskopis sebelum dan sesudah haemolisis,

mengetahui proses apa yang terjadi terhadap rupa sel darah merah ikan ketika

diberi aquades dan NaCl 3%, dan menentukan tahanan osmotik sel-sel darah

merah pada ikan lele lokal (Clarias batrachus) sebagai ikan sample.

Manfaat praktikum ini adalah dapat memberikan informasi bentuk-bentuk

dan fenomena yang terjadi pada sel-sel darah merah pada ikan, menambah

pengetahuan tentang peristiwa apa yang terjadi terhadap sel darah merah ikan
ketika diberi aquades dan NaCl 3%, serta mahasiswa mampu menjelaskan rupa

darah dan tahanan osmotik sel darah merah secara makroskopis dan mikroskopis.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Ikan adalah hewan bertulang belakang (vertebrae), berdarah dingin, hidup

di perairan, bernafas dengan insang dan bergerak dengan sirip. Ada banyak

spesies ikan di bumi ini salah satunya yaitu ikan Lele Lokal (Clarias batrachus).

Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus) termasuk kedalam filum Chordata, kelas

Pisces, sub kelas Teleoistei, ordo Ostariophysi, sub ordo Siluroidae, family

Clariidae, genus Clarias, spesies Clarias batrachus (Ridwan Manda et al, 2016).

Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital

keberadaannya. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut

zat-zat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh,

dan pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti

trombosit dan plasma darah memiliki peranan penting sebagai pertahanan pertama

dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh (Syamsuri, 2007).

Darah mengangkut oksigen dari insang ke jaringan dan mengangkut CO2

dari jaringan ke insang. Pada kebanyakan spesies ikan, O2 terikat pada

hemoglobin pada darah sel merah. Tetapi pada sebagian ikan tidak memerlukan

Hb untuk transparansi O2 dan Hb darah. Dua tipe peredaran darah dalam Hb

sangat pada respirasi ikan. Ketika darah mencapai jaringan, dimana CO2 tinggi,

afinitas dan kejenuhan menurun dan demikian O2 akan dilepaskan dari Hb dan

berdifusi kedalam jaringan (Syamsuri, 2007).

Eritrosit (sel darah merah) ikan memiliki inti, berwarna merah

kekuningan. Eritrosit dewasa berbentuk lonjong, kecil dan berdiameter 7-36

mikron bergantung kepada spesies ikannya. Jumlah eritrosit tiap-tiap mm3 darah
berkisar antara 20.000-3.000.000. Pengangkutan oksigen dalam darah bergantung

kepada jumlah hemoglobin (pigmen pernapasan) yang terdapat didalam eritrosit.

(Mudjiman, 2006).

Sistem peredaran darah ikan bersifat tunggal, artinya hanya terdapat dalam

satu jalur sirkulasi peredaran darah. Peredaran darah dimulai dari jantung, darah

menuju insang untuk melakukan pertukaran gas. Selanjutnya, darah dialirkan ke

dorsal aorta dan terbagi ke segenap organ-organ tubuh melalui saluran-saluran

kecil (Fujaya, 2006).

Sistem peredaran darah pada ikan terdiri dari jantung, vena, arteri dan

kapiler. Fungsi peredaran darah yaitu sebagai lattranspor antara lain transport

oksigen, karbondioksida, sari–sari makanan maupun hasil metabolisme. Selama

beraktivitas, peredaran darah akan mengangkut lebih banyak oksigen ke otot dan

segera menghabiskan sistem energi anaerobik dan akhirnya menyebabkan

keletihan akibat terbentuknya asam laktat (Fujaya, 2006).

Menurut Windarti (2017), darah biasa tidak tembus cahaya karena darah

memiliki sifat-sifat optik eritrosit yang terdapat dalamnya. Jika sel-sel ini

dilarutkan dalam suatu cairan yang berbeda kosentrasi garamnya, atau jika sel-sel

ini membengkak karena proses difusi/osmotik, maka hemoglobin akan lepas dan

darah menjadi tembus cahaya. Darah yang tidak tembus cahaya mempunyai sifat

seperti seperti cat penutup, sedangkan darah yang tembus cahaya mempunyai sifat

seperti cat lak (pernis).

Osmosis adalah perpindahan molekul air dari larutan yang berkonsentrasi

air tinggi ke larutan yang berkonsentrasi air rendah melalui selaput semi

permeable atau selektif semi permeable. Sedangkan, Difusi adalah perpindahan


partikel zat dari suatu tempat yang konsentrasi partikelnya tinggi ke tempat yang

konsentrasinya rendah sampai terjadi kesetimbangan yang dinamis (Syamsuri,

2007).

Komposisi elektrolit dalam sel darah merah kualitatif sama dengan yang

terdapat dalam plasma, hanya kuantitatifnya ada perbedaan Tekanan osmosis

didalam sel sama dengan tekanan osmosis larutan 0,9 % NaCl dalam air. Apabila

terjadi perubahan tekanan osmosis pada larutan diluar sel darah merah akan

berpengaruh terhadap besarnya sel tersebut. Larutan yang hipotonis menyebabkan

air masuk kedalam sel dan sel akan bertambah besar kemudian pecah dan

haemoglobin keluar dari sel, proses ini disebut haemolisis. Sebaliknya apabila

larutan sekeliling sel hipertonis, maka air dari dalam sel akan keluar sehingga sel

mengecil (mengkerut). Tetapi proses haemolisis dapat disebabkan oleh faktor-

faktor lain misalnya ada pelarut lain seperti eter dan kloroform (Poedjiadi, 2000).

Menurut Windarti (2017), Larutan yang hipotonik menyebabkan air masuk

kedalam sel dan sel akan bertambah besar kemudian pecah dan hemoglobin keluar

dari sel, proses ini disebut haemolisis. Sebaliknya apabila larutan sekeliling sel

hipertonis, maka air dari dalam sel akan keluar sehingga sel mengecil

(mengkerut).
III. BAHAN DAN METODE

3.1. Waktu dan Tempat

Praktikum Fisiologi Hewan Air tentang Rupa Darah Secara Makroskopis

& Mikroskopis Sebelum dan Sesudah Haemolisis, Menentukan Tahanan Osmotik

Sel - Sel Darah Merah dilaksanakan pada tanggal 09 Maret 2017 pukul 08.00-

10.00 WIB bertempat di Laboratorium Biologi Perairan, Fakultas Perikanan dan

Ilmu Kelautan, Universitas Riau, Pekanbaru.

3.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan selama praktikum yaitu nampan, tabung reaksi,

jarum suntik, spuit, mikroskop, objek glass, pipet tetes, serta serbet. Bahan yang

digunakan selama praktikum yaitu darah ikan, aquades, EDTA, NaCl 3%, ethanol

murni dan pewarna giemsa.

3.3. Metode Praktikum

Metode praktikum yang digunakan menggunakan metode pengamatan

secara langsung yaitu metode untuk mengamati rupa darah secara makroskopis

dan mikroskopis sebelum dan sesudah terjadinya haemolisis.

3.4. Prosedur Praktikum


3.4.1. Rupa Darah Secara Makroskopis dan Mikroskopis Sebelum dan
Sesudah Haemolisis

Ikan dibius dengan minyak cengkeh secukupnya (sekitar 5 tetes/liter)

sampai pingsan. Jarum suntik dan spuit dibasahi EDTA 10% guna mencegah

pembekuan darah. Darah ikan diambil melalui vena caudalis dibelakang anus

dengan kemiringan 45o. Tiga buah tabung reaksi yang telah disediakan diberi

label A, B, dan C. Kemudian kedalam tiap-tiap tabung dimasukan 1cc darah ikan.
Pada tabung A ditambahkan 1cc aquades. Pada tabung B ditambahkan 1cc NaCl

3% dan darah pada tabung C tidak ditambah apa-apa.

Dibuat preparat ulas/usap darah dari darah yang sudah diperlakukan

tersebut dan dari setiap tabung diambil 1 tetes darah dan darah diteteskan pada

bagian ujung dari objek glass. Kemudian dengan objek glass lain yang sudah

diletakkan diujung objek glass dengan cepat darah diulas. Preparat dikeringkan

selama 5 menit dan setelah itu preparat dicelupkan pada ethanol murni dan

dikeringkan selama 5 menit. Preparat dicelupkan dalam larutan giemsa dan

dikeringkan selama 5 menit dan preparat dicuci dengan air bersih dengan cara

dicelupkan kedalam air sampai kelebihan pewarna giemsa hilang. Preparat

dikeringkan lagi dan terakhir diamati dibawah mikroskop.

3.4.2. Menentukan Tahanan Osmotik Sel-Sel Darah Merah

Delapan buah tabung reaksi yang telah disediakan diberi nomor 1 sampai

8. Dibuat larutan NaCl 0.3%, 0.5%, 0.6%, 0.7%, 0.8%, 0.9%, 1%, dan 3% dan

diisi setiap tabung dengan larutan NaCl dengan kosentrasi yang berurutan.

Teteskan 20 tetes darah ikan ke dalam setiap tabung. Campurkan dengan hati-hati

dan dibiarkan ±30 menit. Ambilah dari tiap-tiap tabung satu tetes campuran darah

dan larutan NaCl, teteskan di atas objek glass dan amati dibawah mikroskop.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1. Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)
Adapun klasifikasi dari ikan lele lokal adalah sebagi berikut: Kingdom:

animalia, Phylum: Chordata, Kelas: Pisces, Sub kelas: Teleoistei, Ordo:

Ostariophysi, Sub ordo: Siluroidae, Family: Clariidae, Genus: Clarias, Spesies:

Clarias batrachus.

Gambar 1. Morfologi Ikan Lele Lokal (Clarias batrachus)

4.1.2. Rupa Darah Secara Makroskopis dan Mikroskopis Sebelum dan


Sesudah Haemolisis

Pada praktikum rupa darah secara makroskopis dan mikroskopis sebelum

dan sesudah haemolisis didapatkan hasil pengamatan sebagai berikut :

A1 B1 C
A2 B2
Gambar 2. Preparat Ulas A1, B1, C, A2, dan B2 dibawah Mikroskop

4.1.2. Menentukan Tahanan Osmotik Sel-Sel Darah Merah

Pada praktikum menentukan tahanan osmotik sel-sel darah merah

didapatkan hasil sebagai berikut :

NaCl 0.3% NaCl 0.5% NaCl 0.6%

NaCl 0.7% NaCl 0.8% NaCl 0.9%


NaCl 1% NaCl 3%
Gambar 3. Hasil dari larutan NaCl dengan kosentrasi yang
berbeda ditambah dengan 20 tetes darah ikan.

NaCl 0.3% NaCl 0.5% NaCl 0.6%

NaCl 0.7% NaCl 0.8% NaCl 0.9%

NaCl 1% NaCl 3%
Gambar 4. Preparat Ulas Delapan Tabung Reaksi Di Bawah Mikroskop
4.2. Pembahasan
4.2.1. Rupa Darah Secara Makroskopis dan Mikroskopis Sebelum dan
Sesudah Haemolisis

Pada tabung A yang ditambahkan 1cc darah ikan dan 1cc aquades

dijelaskan bahwa darah terpisah dari aquades, darah merah terletak di lapisan

bawah dan aquades berada di lapisan atas, warna merah di lapisan bawah lebih

kental dan dilapisan tengah berwarna merah pucat. Pada tabung B yang

ditambahkan 1cc darah ikan dan 1cc NaCl 3% dijelaskan bahwa darah dengan

NaCl 3% menyatu, di lapisan atas berwarna merah pucat dan di lapisan bawah

berwarna merah pekat. Pada tabung C yang ditambahkan 1cc darah dijelaskan

bahwa darah berwarna merah dengan sifat kental, dilapisan bawah berwarna

merah pekat dan di lapisan atas berwarna merah pucat.

Pada preparat ulas A yang telah diamati dibawah mikroskop dijelaskan

bahwa sel darah berwarna ungu karena pengaruh giemsa, sel-sel darah tidak

tersusun rapat dan terdapat nukleus atau inti sel pada darah. Pada preparat ulas B

yang telah diamati dibawah mikroskop dijelaskan bahwa sel darah berwarna ungu

karena pengaruh giemsa, sel darah tersusun sangat rapat antara sel darah yang satu

dengan sel darah yang lainnya dan terdapat inti sel pada sel darah. Pada preparat

ulas C yang telah diamati dibawah mikroskop dijelaskan bahwa sel darah merah

berwarna ungu karena pengaruh giemsa, sel darah tersusun rapat dan terdapat inti

sel pada sel darah.

4.2.2. Menentukan Tahanan Osmotik Sel-Sel Darah Merah

NaCl 0.3% yang ditambahkan darah 20 tetes dijelaskan bahwa darah

bersifat hypertonis, darah kelihatan seperti mengkerut dan darah dilapisan bawah

berwarna merah pekat. NaCl 0.5% yang ditambahkan 20 tetes darah dijelaskan
bahwa darah bersifat hipotonis, darah kelihatan seperti mengembang dan darah

terbagi atas dua lapisan. Lapisan atas berwarna merah muda dan lapisan bawah

lebih pekat dari lapisan atas.

NaCl 0.6% yang ditambahkan 20 tetes darah dijelaskan bahwa darah

bersifat hipotonis, darah kelihatan seperti mengembang dan darah dibagi dua

lapisan. Bagian atas lebih jernih daripada bagian bawah sama halnya pada NaCl

0.5%, namun pada NaCl 0.6% darah keliatan lebih pekat. NaCl 0.7% yang

ditambahkan 20 tetes darah dijelaskan bahwa darah bersifat hipotonis, darah

terbagi menjadi tiga lapisan dimana lapisan paling atas jernih, tengah bewarna

merah muda, dan bagian paling bawah bewarna merah pekat.

NaCl 0.8% yang ditambahkan 20 tetes darah dijelaskan bahwa darah

bersifat isotonis dan seimbang antara darah dengan NaCl. NaCl 0.9% yang

ditambahkan 20 tetes darah dijelaskan bahwa darah bersifat isotonis dan seimbang

antara darah dengan NaCl.

NaCl 1% yang ditambahkan 20 tetes darah dijelaskan bahwa darah bersifat

hipertonis, hampir semua NaCl bersatu dengan darah, dilapisan bawah berwarna

merah pekat, terdapat gumpalan darah dan darah seperti mengkerut. NaCl 3%

yang ditambahkan 20 tetes darah dijelaskan bahwa darah bersifat hipertonis, darah

dilapisan berwarna merah pekat, darah kelihatan seperti mengkerut dan dilapisan

atas berwarna merah pucat.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Pada praktikum mengenai rupa darah secara makroskopis dan mikroskopis

sebelum dan sesudah haemolisis disimpulkan bahwa sel-sel darah merah yang

dicampurkan dalam suatu larutan yang berbeda konsentrasi garamnya, jika

kosentrasi garam dari pelarut lebih tinggi dari sel darah maka sel darah akan

mengisut. Namun jika kosentrasi garam pelarut rendah dari sel darah merah maka

sel darah akan menggembung. Kesimpulan dari praktikum kali ini adalah

mengisut atau menggembungnya sel darah tergantung pada tinggi rendahnya

kosentrasi garam dari sel darah itu sendiri atau kosentrasi garam zat pelarut.

Pada pembahasan menentukan tahanan osmotik sel-sel darah merah

disimpulkan bahwa darah yang dicampur larutan NaCl 0.5%, 0.6%, 0,7% bersifat

hipotonis, darah yang dicampur larutan NaCl 0.8% dan 0.9% bersifat isotonis, dan

darah yang dicampur larutan NaCl 0.3%, 1% dan 3% bersifat hipertonis.

Kesimpulan praktikum kali ini adalah bila sel-sel darah dimasukan kedalam suatu

cairan hipotonis, isotonis atau hipertonis maka akan terjadi proses osmotik dan

difusi.

5.2. Saran
Pada saat praktikum, sebaiknya praktikan berhati–hati dalam

menggunakan alat terutama saat pengambilan darah, berhati-hati mencampurkan

larutan serta jangan lupa untuk membasahi alat praktikum dengan EDTA agar

darah ikan tidak beku. Praktikan sebaiknya menyediakan segala perlengkapan

praktikum sebelum praktikum dimulai. Lalu praktikan juga harus menguasai

materi agar tidak terjadi kerancuan pada saat praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

Fujaya. 2006. Sistem Peredaran Darah Ikan. Rineka Cipta. Bogor.

Mudjiman,A. 2001. Sel Darah Merah Ikan/Eritrosit. PT. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Mudjiman,A. 2006. Fisiologi Hewan Air. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.

Poedjiadi.2000. Tekanan Osmosis pada Sel Darah Merah. Gramedia Pustaka.


Jakarta.

Ridwan Manda et al. 2016. Penuntun Praktikum Ikhtiologi. Laboratorium Biologi


Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.
Pekanbaru.

Ridwan Manda et al. 2016. Bahan Ajar Biologi Perikanan. Laboratorium Biologi
Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Riau.
Pekanbaru.

Syamsuri,Istamar. 2007. Difusi dan Osmosis. Jakarta: Erlangga.

Windarti et al. 2017. Buku Penuntun Praktikum Fisiologi Hewan Air.


Laboratorium Biologi Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Riau. Pekanbaru.
Windarti et al. 2013. Buku Ajar Fisiologi Hewan Air. Badan Penerbit Universitas
Riau UR PRESS. Pekanbaru.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Praktikum

Buku Praktikum Pensil Pena Penggaris

Penghapus Serbet Tissue gulung Nampan

Mikroskop Objek Glass Jarum Suntik Clarias batracus

Larutan Giemsa Etanol Tabung Reaksi Pipet Tetes


Lampiran 2. Prosedur Kerja

♦ Pengambilan Darah Ikan

Ikan dibius dengan Jarum suntik dan spuit dibasahi dng


minyak cengkeh EDHA 10%. Ikan di letakkan di
nampan plastik dan dipegang dng serbet.
Jarum suntik ditusukkan ke vena caudalis

♦ Prosedur Penyiapan Sampel Darah Ikan untuk Proses Haemolisis

Pertama siapkan tiga buah tabung reaksi dan diberi label A, B, dan C. Masing-
masing tabung diisi 1 cc darah ikan. Pada tabung A1, tambahkan 1 cc aquades.
Pada tabung B1, tambahkan 1 cc NaCl 3% dan pada tabung C tidak ditambah
apapun. Amati perbedaan dari tabung A1, B1 dan C.

Buatlah preparat ulas/ usap dari masing-masing tabung, ambil 1 tetes darah dan
teteskan pada bagian ujung dari objek glass. Kemudian, ambil objek glass lain dan
geser darah dalam posisi 45o dan amati dibawah mikroskop. Selanjutnya tabung
A2 di tambah 1 cc NaCl 3% dan tabung B2 ditambah 1 cc aquades. Dengan
demikian, perbandingan volume darah, aguades dan NaCl pada tabung A2 dan B2
menjadi sama! Perhatikan apakah sifat tembus cahaya pada tabung A dan B juga
sama!
♦ Prosedur pembuatan sampel untuk pengamatan jenis-jenis darah

Preparat ulas A1, B1, C, setelah itu celupkan tunggu kering


A2, dan B2 dikeringkan dalam etanol

Celupkan dalam tunggu kering amati di bawah


Larutan giemsa mikroskop

♦ Prosedur menentukan tahanan osmotik sel-sel darah merah.

Buat larutan NaCl 0.3%, 0.5%, 0.6%, 0.7%, 0.8%, 0.9%, 1%, dan 3%. Teteskan
20 tetes darah ikan pada tiap-tiap tabung. Biarkan 30 menit dan amati lapisan
merah dipermukaan air. Ambil masing-masing 1 tetes dan amatilah di bawah
mikroskop.
Lampiran 3. Preparat Ulas A1, B1, C, A2, dan B2 dibawah Mikroskop

A1 B1 C

A2 B2
Lampiran 4. Hasil Larutan NaCl dengan Kosentrasi yang Berbeda + 20 Tetes
Darah.

NaCl 0,3% NaCl 0,5% NaCl 0,6%

NaCl 0,7% NaCl 0,8% NaCl 0,9%

NaCl 1% NaCl 3%
Lampiran 5. Hasil Larutan NaCl dengan Kosentrasi yang Berbeda + 20 Tetes
Darah, dilihat dengan Mikroskop.

NaCl 0,3% NaCl 0,5% NaCl 0,6%

NaCl 0,7% NaCl 0,8% NaCl 0,9%

NaCl 1% NaCl 3%