Anda di halaman 1dari 168

ISOLASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER PADA FRAKSI

n-BUTANOL DAN ETIL ASETAT AKAR PLETEKAN (Ruellia tuberosa L.)


SERTA UJI AKTIVITAS TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN
Staphylococcus aureus

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar


Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Nusa Cendana

OLEH :
MITFAH ASHANI DJENAL
1301061005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2018

i
LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul : Isolasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Fraksi n-Butanol
dan Etil Asetat Akar Pletekan (Ruellia Tuberosa L.) Serta Uji
Aktivitas Terhadap Bakteri Escherichia coli dan
Staphylococcus aureus

Atas Nama Mahasiswa :


Nama : Mitfah Ashani Djenal
NIM : 1301061005
Program Studi : Pendidikan Kimia

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertanggung jawabkan dihadapan Dewan Penguji
Hari/Tanggal : Senin, 29 September 2018
Waktu/Tempat : Pukul 09:00/Ruang M.S 13 Prodi P. Kimia

Menyetujui
Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Theo Da Cunha, S.Si., M.Si Dr. I Gusti M. N. Budiana, S.Si., M.Si
NIP. 19570327 198702 1 001 NIP. 19710723 199802 1 001

MENGETAHUI
Ketua Program Studi Pendidikan Kimia

Sudirman, S.Pd., M.Pd.

ii
NIP. 19700817 200604 1 022

LEMBAR PENGESAHAN

ISOLASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER PADA FRAKSI


n-BUTANOL DAN ETIL ASETAT AKAR PLETEKAN (Ruellia tuberosa L.)
SERTA UJI AKTIVITAS TERHADAP BAKTERI Escherichia coli DAN
Staphylococcus aureus

Telah Diterima oleh Panitia Ujian Sarjana Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan
Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan, Universitas Nusa Cendana Kupang, dalam Ujian yang Dilaksanakan
Pada:
Hari : Senin
Tanggal : 29 Januari 2018
Tempat : Ruang M.S 13 Prodi Kimia
Dinyatakan : LULUS
Predikat : Dengan Pujian

DEWAN PENGUJI

1. Dr. Jasman, S.Pd., M.Si. : (.......................................)


NIP. 19690611 199403 1 001

2. Dr. I Gusti M. N. Budiana, S.Si., M.Si : (.......................................)


NIP. 19710723 199802 1 001

3. Drs. Theo Da Cunha, S.Si., M.Si : (.......................................)


NIP. 19570327 198702 1 001

Mengesahkan Mengetahui
a.n. Dekan FKIP UNDANA Ketua Progran Studi
Pudek Bid. Akademik Pendidikan Kimia

iii
Dr. Siprianus S. Garak, M.Sc. Sudirman, S.Pd., M.Pd.
NIP. 19651231 199203 1 027 NIP. 19700817 200604 1 022

MOTTO

Man Jada
WaJada
“Barang siapa yang bersungguh-sungguh maka dia
akan berhasil, Insya Allah!”

iv
PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan kepada:


1. Mitfah Ashani Djenal yang telah berjuang selama kurang lebih 4,5 tahun
untuk meraih gelar sarjana
2. Kedua orang tua tercinta, Bapak Samsul Bachri dan Ibu Sumiyati
3. Kakak dan adik tersayang, Dyah Prihartini dan Warda Satria
4. Lalu Fahiza Alwardani
5. Teman-teman seperjuangan RAKSA’13
6. Mereka yang selalu mendukung dan menjadi alasan untuk meraih kesuksesan
7. Almamater tercinta, FKIP KIMIA UNDANA

v
ABSTRAK

Isolasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Fraksi n-Butanol Dan Etil Asetat Akar
Peletekan (Ruellia tuberossa Linn) Serta Uji Aktivitas Terhadap Bakteri Escherichia
coli Dan Staphylococcus aureus

Mitfah Ashani Djenal1, Theo Da Cunha2 dan I Gusti M. Budiana3

Telah dilakukan penelitian mengenai isolasi senyawa metabolit sekunder dan uji aktivitas
antibakteri dari fraksi n-butanol dan etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberossa Linn) asal
Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas
antibakteri senyawa metabolit sekunder hasil isolasi fraksi n-butanol dan etil asetat akar
pletekan (Ruellia tuberossa Linn) serta mengetahui besarnya daya hambat yang dibentuk oleh
fraksi n-butanol dan etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberossa Linn) terhadap bakteri
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Isolasi dilakukan dengan metode kromatografi
lapis tipis lalu diidentifikasi dengan spektrofotomer UV-VIS. Diperoleh hasil serapan isolat
n-butanol pada panjang gelombang maksimum 290 nm yang diduga golongan senyawa asam
fenol. Pada fraksi etil asetat, isolat I menghasilkan beberapa pita serapan yaitu pada panjang
gelombang 213, 296 (λmaks) dan 347 nm sedangkan isolat II menghasilkan 2 pita serapan yaitu
pada 296 (λmaks) dan 347 nm. Senyawa yang terdapat dalam isolat ini diduga golongan
senyawa fenil propanoid. Pengujian aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli
dan Staphylococcus aureus dari fraksi n-butanol dan etil asetat pada konsentrasi 100 ppm,
200 ppm, 500 ppm dan 1000 ppm menunjukkan adanya aktivitas antibakteri. Kedua fraksi
dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm dan
1000 ppm dengan diameter hambatan yang diperoleh dari fraksi n-butanol dan etil asetat
terhadap bakteri E. coli berturut-turut sebesar 12,97; 14,43; 15,57; 16,43 nm dan 12,87;
13,93; 14,83; 16,3 nm sedangakan terhadap bakteri S. aureus sebesar 13,07; 14,3; 15,43;
16,57 nm dan 13,3; 14,53; 15,43; 16,8 nm.

Kata Kunci : Akar Pletekan, Aktivitas Antibakteri, Metabolit Sekunder, E. coli, S. aureus
1
Mahasiswa
2
Pembimbing I
3
Pembimbing II

vi
ABSTRACT

Isolation of Secondary Metabolite Compounds from n-Buthanol and Ethyl Acetate


Roots of Pletekan (Ruellia tuberosa Linn) and Its Activity Test to Escherichia coli and
Staphylococcus aureus Bacteries

Mitfah Ashani Djenal1, Theo Da Cunha2 dan I Gusti M. Budiana3

The research has been done about isolation of secondary metabolies compound from n-
buthanol and ethyl acetate fraction of pletekan’s root (Ruellia tuberosa Linn) original from
Belu, East Nusa Tenggara. This research aim to know antibacterial activity of secondary
metabolies compound from the isolate of n-buthanol and ethy acetate fraction of pletekan’s
root (Ruellia tuberosa Linn) and also to know the magnitude of the inhibitory force by the
fraction of n-buthanol and ethyl acetate of pletekan’s root (Ruellia tuberosa Linn) against
Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteries. Isolation was done by thyn layer
chromatography method and then identified with UV-Vis spectrophotometer. The result of the
uptake of n-buthanol isolate at maximum wavelength of 290 nm are suspected classes of
phenol acid compounds. In ethyl acetate fraction, first isolate produced several absorption
bands at 231, 296 (λmaks) and 347 nm wavelengths, while second isolate produced two
absorption bands at 296 (λmaks) and 347 nm. The compounds contained in the isolate are
suspected classes of phenyl propanoid compounds. Antibacterial activity test to Escherichia
coli and Staphylococcus aureus bacteries from n-buthanol and ethyl acetate fraction in
consentrations of 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm and 1000 ppm showed there as an
antibacterial activity. Both of the fractions resistance diameters obtained from fraction of n-
buthanol and ethyl acetate to E. coli bacteria were 12,97; 14,43; 15,57; 16,43 mm and 12,87;
13,93; 14,83; 16,3 mm, whereas against S. aureus bacteria were 13,07; 14,3; 15,43; 16,57
mm and 13,3; 14,53; 15,43; 16,8 mm.

Keywords: Roots of Pletekan, Antibacterial Activity, Secondary Metabolite, E. coli, S.


aureus
1
Student
2
First supervisor
3
Second supervisor

vii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan

penyertaanNya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul ‘’Isolasi Senyawa

Metabolit Sekunder Pada Fraksi n-Butanol dan Etil Asetat Akar Pletekan

(Ruellia Tuberosa L.) Serta Uji Aktivitas Terhadap Bakteri Escherichia coli dan

Staphylococcus aureus’’. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Universitas Nusa Cendana Kupang.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan

berbagai pihak, baik secara moril maupun materil. Untuk itu penulis menyampaikan

limpah terima kasih kepada:

1. Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang yang telah memberikan

kesempatan kepada penulis untuk menimba ilmu di lembaga perguruan tinggi

ini.
2. Bapak Dr. Siprianus S. Garak, M.Sc, selaku dekan Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan yang telah membantu penulis dalam mengurus segala

administrasi yang berhubungan dengan penelitian ini.


3. Bapak H. Sudirman, S.Pd, M.Pd selaku Ketua Program Studi Pendidikan

Kimia yang telah membantu penulis dalam berbagai macam urusan

administrasi dan yang telah membekali penulis dengan berbagai ilmu serta

memotivasi untuk mengadakan penelitian.

viii
4. Bapak Drs. Theo Da Cunha, M.Si. selaku Dosen Pembimbing I yang telah

memberikan saran dan ide kepada penulis untuk melakukan penelitian serta

membimbing dengan penuh kesabaran, memberikan arahan dan mengoreksi

dari awal penelitian hingga penyelesaian skripsi ini.


5. Bapak I Gusti M. N. Budiana, S.Si., M.Si selaku Dosen Pembimbing II yang

telah membimbingan, memberikan saran dan koreksi kepada penulis.


6. Bapak Jasman, S.Si., M.Si sebagai Dosen Penguji yang telah mengoreksi dan

menguji penulis pada ujian skripsi demi kesempurnaan penulisan skripsi ini.
7. Bapak Yoseph Lawa, S.Pd., M.Biotech selaku dosen pembimbing akademik

yang telah memberikan dorongan dan motivasi kepada penulis dari awal

memasuki perguruan tinggi hingga dapat menyelesaikan tugas akhir.


8. Bapak dan Ibu Dosen pada program studi pendidikan kimia yang telah berjasa

membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan selama mengikuti

kuliah sehingga penulisan skripsi ini dapat berjalan lancar.


9. Bapak Heovianus Padji, S.Si selaku teknisi di Laboratorium Pendidikan

Kimia, Kak Mea dan Kak Vito selaku teknisi di Laboratorium Bioscience

yang telah membantu penulis selama melakukan penelitian.


10. Kedua orang tua tercinta, Bapak Samsul Bachri Djenal dan Mama Sumiyati

Djenal, yang selalu mendoakan, mendukung, serta memotivasi penulis hingga

penulis menyelesaikan skripsi.


11. Kakak dan adik tercinta, Dyah Prihartini Djenal, M. Rizqy Nugraha dan

Warda Sartria Dharmansyah Djenal, yang juga selalu memberikan dukungan

doa dan memberikan semangat kepada penulis.


12. Lalu Fahiza Alwardani.
13. Sahabat-sahabat terkasih Naeny Blegur, Indah Sari dan Arfan Kaftaru yang

selalu setia mendoakan, memotivasi dan membantu penulis.

ix
14. Team Ruellia tuberosa L. (Maria Osiliana De Seran, Inosensia Gracia Asa,

Faris Al-Isra) yang sudah setia melewati masa sulit selama penelitian ini

bersama-sama, saling membantu dan saling mengisi.


15. Semua teman-teman RAKSA’13 ; Nike Willa, Rafli Fafo, Yuni Soge, Ka Ellen

Here Rohi, Andry Manuain, Heppy Kase, Marni Nubatonis, Selma Taopan,

Yora Tampani, Iren Thobias, Itta Lake, Itta Nokas, Yuyun Tumur, Itta Helly,

Ana Sonbay, Yati, Ewin Tija, Sonya Liunokas, Dede Henukh, Sipri Andreas,

Lia Feka, Iren Ratu, Carmel, Farys Al-Isra, Iman Janggangaru, Ernus Janggu,

Tian Son, Grace Asa, Osi Seran, Yuli Bria, Angel Bria, Clara Pasmarang,

Thamy Langobelen, Mikhael Imatindro, Isye da Silva, Fredy Debermino,

Delfy Kabu, Delfy Miha Radja, Marthen Kale Dipa, Iren Rato, Lita Ina, Novy

Konda, Nope Silla, Festy Ndu Ufi, Esthy Bauana, Yuven Manek, Ka Aty

Nubatonis, Till Noo, Ona Jano, Lesty Santi, Thesa Sardima, Erfin Karfona,

Trisna Bhala, Oky Beba, Nia Selle, Madan Ahmad, Fynce Tahun, terima

kasih sudah berjuang bersama penulis selama mengenyam pendidikan di

Universitas Nusa Cendana sejak tahun 2013 hingga saat ini.


16. Seluruh anggota Ikatan Mahasiswa Pendidikan Kimia dan semua pihak terkait

yang tidak bisa disebutkan namanya satu-persatu yang telah turut serta

membantu, memberikan dukungan dan doa kepada penulis.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan,

sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi

perbaikan skripsi ini. Penulis berharap tulisan ini dapat bermanfaat dan memberikan

kontribusi bagi penulis lainnya.

x
Kupang, Januari 2018

Penulis

xi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i


LEMBAR PERSETUJUAN.................................................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN.................................................................................... iii
MOTTO................................................................................................................... iv
PERSEMBAHAN................................................................................................... v
ABSTRAK............................................................................................................... vi
ABSTRACT............................................................................................................ vii
KATA PENGANTAR............................................................................................. viii
DAFTAR ISI........................................................................................................... xii
DAFTAR TABEL.................................................................................................... xv
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................. xvi
DAFTAR LAMPIRAN........................................................................................... xvii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................... 1
1.1. LATAR BELAKANG...................................................................................... 1
1.2. RUMUSAN MASALAH................................................................................. 5
1.3. TUJUAN PENELITIAN.................................................................................. 5
1.4. MANFAAT PENELITIAN............................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 7
2.1. TINJAUAN RUELLIA TUBEROSA L............................................................... 7
2.1.1. Klasifikasi Tanaman........................................................................... 7
2.1.2. Morfologi Tanaman............................................................................ 8
2.1.3. Kandungan Kimia............................................................................... 9
2.2. TINJAUAN SENYAWA ORGANIK BAHAN ALAM........................................... 11
2.2.1. Alkaloid............................................................................................... 12
2.2.2 Terpenoid............................................................................................. 13
2.2.3. Fenol................................................................................................... 15
2.2.4. Flavonoid............................................................................................ 15
2.2.5. Saponin............................................................................................... 22
2.2.6. Steroid................................................................................................. 23
2.3. UJI FITOKIMIA SENYAWA METABOLIT SEKUNDER..................................... 24
2.3.1. Alkaloid............................................................................................... 25
2.3.2. Flavonoid............................................................................................ 25
2.3.3. Terpenoid............................................................................................ 25
2.3.4. Saponin............................................................................................... 26
2.3.5. Steroid................................................................................................. 26

xii
2.4. TINJAUAN UMUM BAKTERI........................................................................ 26
2.4.1. Bakteri Escherichia coli..................................................................... 28
2.4.2. Bakteri Staphylococcus aureus........................................................... 30
2.5. TINJAUAN ANTIBAKTERI............................................................................ 32
2.5.1. Mekanisme Kerja Antimikroba .......................................................... 32
2.5.2. Uji Aktivitas Antibakteri..................................................................... 35
2.5.3. Antimikroba Pembanding Yang Digunakan....................................... 38
2.6. PENGUKURAN ZONA HAMBAT.................................................................... 39
2.7. TINJAUAN UMUM TENTANG EKSTRAKSI.................................................... 39
2.7.1. Maserasi............................................................................................. 42
2.7.2. Fraksinasi........................................................................................... 43
2.8. TINJAUAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS..................................................... 43
2.9. TINJAUAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF................................. 46
2.10. PERUMUSAN HIPOTESIS.............................................................................. 48
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................ 50
3.1. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN............................................................. 50
3.2. VARIABEL PENELITIAN............................................................................... 50
3.3. TAHAPAN PENELITIAN................................................................................ 51
3.3.1. Persiapan alat dan bahan................................................................... 51
3.3.1.1 Alat..................................................................................................... 51
3.3.1.2 Bahan.............................................................................................. 51
3.3.2. Tahapan Isolasi................................................................................... 51
3.3.2.1 Preparasi Sampel............................................................................. 51
3.3.2.2 Pembuatan Ekstrak Metanol Akar Pletekan (Ruellia tuberosa L.). 53
3.3.3. Uji Fitokimia....................................................................................... 53
3.3.4. Pemisahan Komponen Senyawa dengan Fraksinasi.......................... 54
3.3.5. Pemisahan Komponen Senyawa dengan KLT.................................... 55
3.3.6. Pemisahan Komponen Senyawa dengan KLT Preparatif (KLTP)..... 56
3.3.7 Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-butanol dan Etil Asetat Akar
Pletekan (Ruellia Tuberosa L.) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan
Staphylococcus aureus Menggunakan Metode Difusi Agar.............................. 57
3.3.7.1 Sterilisasi Alat................................................................................. 57
3.3.7.2 Pembuatan Media............................................................................ 57
3.3.7.3 Pembuatan Larutan Pembanding.................................................... 58
3.3.7.4 Pengenceran Ekstrak Dalam Berbagai Konsentrasi........................ 58
3.3.7.5 Peremajaan Biakan Murni S. aureus dan E. coli............................. 59
3.3.7.6 Pembuatan Larutan Biakan Aktif Bakteri S. aureus dan E. coli... 59

xiii
3.3.7.7 Penentuan Diameter Zona Hambat................................................. 59
3.3.7.8 Analisis Data................................................................................... 60
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................ 63
4.1. PREPARASI SAMPEL.................................................................................... 63
4.2. PEMBUATAN EKSTRAK METANOL AKAR PLETEKAN (RUELLIA TUBEROSA L.)
65
4.3. UJI FITOKIMIA............................................................................................ 68
4.3.1. Uji Flavonoid...................................................................................... 69
4.3.2. Uji Fenolik.......................................................................................... 70
4.3.3. Uji Terpenoid...................................................................................... 71
4.3.4. Uji Steroid.......................................................................................... 72
4.3.5 Uji Saponin......................................................................................... 73
4.4. PEMISAHAN KOMPONEN SENYAWA DENGAN FRAKSINASI......................... 74
4.5. IDENTIFIKASI KOMPONEN SENYAWA DENGAN KLT................................... 77
4.6. PEMISAHAN KOMPONEN SENYAWA DENGAN KLT PREPARATIF................. 81
4.7. IDENTIFIKASI SENYAWA SPEKTROFOTOMETER UV-VIS............................ 82
4.8. UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI N-BUTANOL DAN ETIL ASETAT AKAR
PLETEKAN TERHADAP BAKTERI ESCHERICHIA COLI DAN STAPHYLOCOCCUS
AUREUS.................................................................................................................. 85
BAB V PENUTUP.................................................................................................. 96
5.1. KESIMPULAN.............................................................................................. 96
5.2. SARAN........................................................................................................ 96
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 97
LAMPIRAN............................................................................................................. 102

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kategori Respon Hambatan Pertumbuhan Bakteri Berdsarkan


Diameter Zona Hambat ………...…………………………………… 35
Tabel 2.2 Sifat-Sifat Pelarut Umum .................................................................... 41
Tabel 3.1 Rancangan Percobaan Uji Aktivitas Antibakteri ................................ 61
Tabel 3.2 Analisis Varian Untuk Uji Hipotesis Anova One Way ...................... 62
Tabel 4.1 Data Hasil Ekstraksi Pembuatan Ekstrak Metanol ............................. 66
Tabel 4.2 Data Hasil Uji Fitokimia ..................................................................... 69
Tabel 4.3 Data Hasil Evaporasi Fraksi n-butanol dan Etil Asetat ..................... 76
Tabel 4.4 Data Hasil Identifikasi KLT Fraksi Etil Asetat ................................... 79
Tabel 4.5 Data Hasil Identifikasi KLT Fraksi n-Butanol .................................... 80
Tabel 4.6 Data Hasil Pemisahan KLTP .............................................................. 81
Tabel 4.7 Luas Zona Hambat .............................................................................. 89
Tabel 4.8 Tabel Ringkasan Anova Satu Jalur ..................................................... 94

xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Ruellia tuberosa L. ......................................................................... 7


Gambar 2.2 Turunan senyawa flavonoid pada Ruellia tuberosa Linn. ............. 10
Gambar 2.3 Contoh Senyawa Alkaloid .............................................................. 13
Gambar 2.4 Contoh Senyawa Terpenoid ........................................................... 14
Gambar 2.5 Struktur Dasar Triterpen ............................................................... 15
Gambar 2.6 Tiga Jenis Flavonoid ...................................................................... 16
Gambar 2.7 Kerangka Dasar Flavon ................................................................. 17
Gambar 2.8 Contoh Struktur Saponin ................................................................ 23
Gambar 2.9 Struktur Dasar Steroid .................................................................... 24
Gambar 2.10 Bentuk bakteri Escherichia coli ................................................... 28
Gambar 2.11 Mikroskopis Staphylococcus aureus ............................................ 30
Gambar 2.12 Struktur Kimia Amoxilin ............................................................. 38
Gambar 4.1 Akar Pletekan ................................................................................. 64
Gambar 4.2 Proses Ekstraksi .............................................................................. 67
Gambar 4.3 Hasil dan Mekanisme Reaksi Flavonoid ........................................ 70
Gambar 4.4 Hasil dan Mekanisme Reaksi Fenolik ............................................ 71
Gambar 4.5 Hasil Uji Fitokimia Terpenoid ....................................................... 72
Gambar 4.6 Hasil dan Mekanisme Reaksi Steroid ............................................. 73
Gambar 4.7 Proses Fraksinasi ............................................................................ 75
Gambar 4.8 Spektrum UV Isolat Fraksi Etil Asetat ........................................... 76
Gambar 4.9 Spektrum UV Isolat Fraksi n-Butanol ............................................ 83
Gambar 4.10 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri .................................................... 84
Gambar 4.11 Hasil uji akivitas antibakteri isolate ……………………………. 87

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Kerangka Konseptual ..................................................................... 102


Lampiran 2. Skema Kerja ................................................................................... 103
Lampiran 3. Perhitungan Konsentrasi Larutan Fraksi n-Butanol dan Etil
Asetat Untuk Uji Aktivitas Antibakteri ......................................... 116
Lampiran 4. Perhitungan Harga Rf .................................................................... 119
Lampiran 5. Hasil Pengukuran Spektrum UV .................................................... 121
Lampiran 6. Data Hasil Uji Luas Zona Hambat ................................................. 125
Lampiran 7. Uji Hipotesis Menggunakan SPSS.20 ............................................ 131
Lampiran 8. Dokumentasi Penelitian ................................................................. 142
Lampiran 9. Jurnal Kegiatan Penelitian ............................................................. 146
Lampiran 10. Surat-surat Penelitian ................................................................... 148

xvii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia dikenal dengan sebutan negara megabiodiversity karena termasuk

dalam sepuluh negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi. Kesuburan tanah

dan kondisi iklim yang tropis memungkinkan berbagai tumbuhan mampu hidup

dan berkembang biak di wilayah ini. Tumbuhan tertentu dapat diproduksi lebih

lanjut sebagai bahan baku obat tradisional. Pengunaannya hanya didasarkan atas

pengalaman empiris yang diwariskan secara turun temurun. Salah satu tanaman

asli Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai tanaman obat dan

sebagai sumber senyawa bioaktif adalah Ruellia tuberosa linn dari suku

acantheaceae genus ruellia (Van Steenis, 1975). Tanaman dengan marga Ruellia

memiliki 300 spesies yang tersebar di wilayah subtropikal maupun tropikal di

seluruh dunia. Sekitar 32 jenis yang telah diidentifikasi kandungan kimianya

termasuk Ruellia tuberosa linn (Long, 1976 dalam Ahmad, 2012). Ruellia

tuberosa L. merupakan tumbuhan perrenial dengan batang segiempat berambut,

memiliki daun yang berbentuk elips, bunga yang berwarna ungu cerah serta biji

yang berbentuk lonjong. Letak unik dari tanaman ini adalah pada saat bijinya

yang berwarna coklat dimasukkan ke dalam air, maka dalam hitungan 3-5 detik

bijinya akan pecah meletek, sehingga menjadi salah satu penyebab mengapa

dinamakan tanaman pletekan. Selain itu tanaman ini memiliki jari-jari yang tebal

1
seperti akar dan tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki intensitas cahaya

yang cukup dan lembab seperti pinggiran sawah, kebun atau hutan (Chaitanya et

al., 2012).

Secara umum, tanaman Ruellia tuberose L. memiliki akar, batang, daun,

bunga dan buah. Bagian-bagian tersebut memiliki kandungan senyawa bahan

alam tertentu yang dapat bermanfaat bagi kesehatan. Berdasarkan penelitian yang

dilakukan oleh Manikandan dan Doss (2010), menyimpulkan bahwa Ruellia

tuberosa L. mengandung flavonoid, glikosida, fenol, saponin dan nutrisi. Terdapat

lima jenis flavonoid yang terdapat pada tanaman Ruellia tuberosa diantaranya

kirsimaritin, kirsimarin, kirsilol 4’-glukosida, sorbifolin dan pedalitin (Chothani,

et al., 2011; Lin, et al., 2006). Senyawa polifenol dalam daun bersifat dapat

merangsang perbaikan sel-sel beta sehingga dapat meningkatkan produksi insulin.

Selain itu pada akar terdapat apigenin dan luteloin, didalam minyak biji

miristatnya terdapat asam kuprat dan laurat (Chaitanya et al., 2012). Secara

tradisional tanaman ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit ginjal, akarnya

digunakan untuk mengobati batuk rejan sedangkan bagian tanaman yang bernama

tuber digunakan sebagai teh untuk membersihkan darah dan memiliki aktivitas

antimikroba. Selain itu, tanaman ini berkhasiat sebagai antidiuretik antidiabetes,

antiphyretic, analgetik, antihipertensi, thirst quensing dan antidotal agent (Durre

Shahwar et al, 2011).

2
Ekstraksi merupakan pemindahan zat aktif yang semula berada dalam sel

ditarik keluar oleh pelarut sehingga zat aktif tersebut terlarut di dalam pelarut

(Ahmad, 2006). Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi harus memiliki tingkat

kepolaran yang sesuai dengan senyawa yang akan diekstrak, sebab senyawa aktif

pada tumbuhan memiliki tingkat kepolaran yang berbeda (Harbone, 1987).

Begitupula dengan metode fraksinasi. Fraksinasi dilakukan dengan metode cair-

cair dengan pelarut yang tingkat kepolarannya berbeda yaitu n-butanol, etil asetat

dan kloroform. n-butanol bersifat polar sehingga dapat menarik senyawa-senyawa

polar sedangkan etil asetat bersifat semi polar sehingga dapat menarik senyawa

dengan rentang antara polar dan non polar (Putri dkk, 2013). Hasil penelitian

Shinta dkk (2013) menunjukkan bahwa fraksi n-butanol dan etil asetat memiliki

potensi sebagai antibakteri. Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi dari

akar Karamunting (Melastoma malabathricum) terhadap 5 konsentrasi yang

berbeda memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan

Staphylococcus aureus. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi terbaik

dari ekstrak dan fraksi akar karamunting terhadap kedua bakteri uji adalah 50%

dengan respon hambatan pertumbuhan termasuk dalam kategori sedang dengan

zona hambat dan zona bunuh antara 5-10 mm.

Uji aktivitas antibakteri tanaman Ruellia tuberosa L. untuk mengetahui daya

hambat dari masing-masing fraksi. Metode yang digunakan adalah metode difusi

agar untuk mengetahui seberapa banyak jumlah zat antimikroba yang diperlukan

3
untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri yang diuji .Dalam

penelitian ini bakteri uji yang digunakan adalah Staphylococcus aureus yang

mewakili gram positif dan Eschericia coli yang mewakili gram negatif. Pada

metode difusi agar ini, piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada

media agar yang telah ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media

agar tersebut. Area jernih pada permukaan media agar mengindikasikan adanya

hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen antimikroba. Daerah hambat

yang terbentuk dikategorikan menjadi lemah (>5 mm), sedang (6-10 mm), kuat

(11-20 mm) dan sangat kuat (<21 mm) (Morales et., al, 2003). Berdasarkan

penelitian sebelumnya, telah dilaporkan oleh Kader dkk (2012) bahwa ekstrak

metanol akar Pletekan (Ruellia tuberosa L.) memiliki aktivitas antibakteri

terhadap bakteri beberapa bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Escherichia

coli. Artinya ekstrak akar Pletekan (Ruellia tuberosa L.) dapat menghambat

pertumbuhan bakteri, baik itu bakteri gram negatif maupun gram positif,

dimana aktivitas tertinggi dari ekstrak tanaman ditemukan terhadap bakteri gram

negatif (-) yaitu diameter zona inhibisi sebesar 18 mm sedangkan ekstrak tanaman

kurang efektif terhadap bakteri gram positif (+) yaitu hanya sebesar 13 mm.

Dengan demikian perlu dilakukan pengujian terhadap fraksi n-butanol dan etil

asetat dari tanaman Ruellia tuberosa L. sehingga dapat dimanfaatkan sebagai

bahan antibakteri. Hal ini dikarenakan Ruellia tuberosa L. memiliki senyawa

kimia hasil proses metabolit sekunder yang dapat menghasilkan aktivitas

antibakteri.

4
Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti merasa tertarik untuk

meneliti tentang ‘’Isolasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Fraksi n-Butanol

dan Etil Asetat Akar Pletekan (Ruellia Tuberosa L.) Serta Uji Aktivitas

Terhadap Bakteri Escherichia coli Dan Staphylococcus aureus‘’. Hasil

penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi ilmiah mengenai aktivitas

antimikroba dari tanaman berbunga Ruellia tuberosa dan dengan informasi

tersebut akan meningkatkan nilai guna khususnya di wilayah NTT.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahan dalam

penelitian ini adalah:


1. Apakah golongan senyawa metabolit sekunder dapat diisolasi dari fraksi n-

butanol dan etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) ?


2. Bagaimana aktivitas antibakteri fraksi n-butanol dan etil asetat akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan

Staphylococcus aureus?

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu:


1. Mengisolasi golongan senyawa metabolit sekunder dari fraksi n-butanol dan etil

asetat akar pletekan (Ruellia tuberosa L.)


2. Mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-butanol dan etil asetat akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan

Staphylococcus aureus

5
1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:


1) Bagi peneliti
Menerapkan ilmu yang diperoleh selama kuliah, khususnya ilmu kimia dalam

bentuk aplikasi penelitian dan tugas akhir berupa karya ilmiah sebagai

persyaratan mempeoleh gelar sarjana S-1 kimia di Universitas Nusa Cendana

Kupang.
2) Bagi mahasiswa
Menambah wawasan keilmuan khususnya ilmu kimia dan membuka jalan bagi

penelitian yang relevan.


3) Bagi lembaga
Menambah pengetahuan dan informasi bagi mahasiswa yang akan melakukan

penelitian lebih lanjut.


4) Bagi masyarakat
Memberikan gambaran dan informasi meluas kepada masyarakat mengenai

manfaat dan aktivitas antibakteri dari fraksi n-butanol dan etil asetat akar

pletekan (Ruellia tuberosa L.).

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Ruellia tuberosa L.

2.1.1. Klasifikasi Tanaman

Tanaman Ruellia tuberosa L. secara taksonomi mempunyai klasifikasi sebagai

berikut (Amri, 2014):

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledoneae

Bangsa : Solanales

Familia : Acanthaceae Gambar 2.1 Ruellia tuberosa L.


(Sumber: dokumentasi pribadi)
Marga : Ruellia

Jenis : Ruellia tuberosa L.

2.1.1 Nama Daerah

Indonesia : Ceplikan

Jawa : Ceplikan, Pletekan, Pecah beling hutan

Lampung : Kencana ungu

NTT : Bom air, Uki-uki (Ditjen POM, 2009)

7
2.1.2. Morfologi Tanaman

Ruellia tuberosa L. merupakan tumbuhan perennial (tumbuhan yang hidup

lebih dari dua tahun) yang tumbuh tegak dengan tinggi sekitar 1 meter dan memiliki

banyak percabangan. Akar pletekan berupa akar tunggang yang berbentuk umbi dan

batangnya berbentuk segiempat tumpul, berwarna hijau keunguan dan permukaannya

tertutup rambut-rambut yang halus dan pendek. Daun berbentuk bulat telur dengan

ujung tumpul, tipis, permukaan daun rata, berwarna hijau, tepi daun rata, tulang daun

menyirip. Daun berukuran panjang ±12 cm, lebar ± 5 cm, dan panjang tangkai daun ±

2,5 cm. Tumbuhan ini memiliki bunga berwarna ungu cerah atau ungu pucat. Panjang

tangkai bunga sekitar 0,5-2,5 cm, kelopak bunga 2-3 cm dan mahkota bunga 5-6 cm

dimana bagian sebelah luar berambut, berbentuk tabung sempit pada pangkalnya

sedangkan bagian atas melebar dan beusuk. Putik berwarna putih agak keunguan

berjumlah 1 buah dengan kepala putik pipih melebar dan tangkai putik yang

panjangnya ± 3 cm. Sedangkan benang sari berwarna putih, berjumlah 4 buah dengan

tangkai sari yang panjangnya ± 0,5–1 cm menempel pada dinding tabung bunga.

Kepala sari/kotak sari berwarna putih dengan ukuran lebar ±1mm, panjang ±6mm.

Pada benang sari terdapat serbuk sari berwarna putih, jumlahnya banyak, agak

lengket sehingga proses penyerbukannya melalui bantuan serangga (Entomogami).

Buah berbentuk tabung dengan ujung meruncing, panjangnya ± 2–3 cm. Buah yang

masih muda berwarna hijau, sedangkan buah yang sudah masak berwarna coklat. Jika

8
buah yang sudah masak terkena air akan pecah dan terlepas dari tangkainya. Di dalam

buah terdapat biji berbentuk bulat, pipih, berwarna coklat.

2.1.3. Kandungan Kimia

Tanaman Ruellia tuberosa L. mengandung betulin, indol-3-karboksaldehid,

asam vanilat, fenol, tannin dan senyawa golongan flavonoid yaitu apigenin,

antosianidin, malvidin 3,5-diglukosida, luteolin, antosianin, kirsimaritin, kirsimarin,

kirsiliol 4’-glikosida, sorbifolin dan pedalitin (Manikandan dan Doss, 2012; Lin, et

al., 2006). Kandungan nutrisi pada ekstrak 50% hidroetanol daun Ruellia tuberosa L.

yaitu asam askorbat, likopen, karotenoid, tokoferol, lemak, protein, karbohidrat, serat.

Kadar air sebesar 5,2% dan kadar abu sebesar 6,2% (Manikandan dan Doss, 2010).

Ruellia tuberosa L. dapat digunakan untuk mengobati penyakit ginjal, bila

dicampurkan dengan Petivera alliacea memberikan efek membersihkan

(meluruhkan) saluran rahim (kuretasi) atau abortifacient dan membersihkan saluran

kemih. Akar tumbuhan ini berkhasiat untuk mengobati batuk rejan, bagian tumbuhan

yang bernama tuber digunakan untuk membersihkan darah dan memiliki aktivitas

antimikroba (Chaitanya B. Krisna, et al., 2012).


Beberapa senyawa turunan flavonoid hasil identifikasi dapat dilihat pada

gambar 2.2.

9
OH O Glc

O O
O O

O O

OH O OH O

1. Kisimaritin 2. Kirsimarin

OH

O Glc

O
O
O
O

O HO

OH O OH O

3. Kirsiliol 4’-Glukosida 4. Sorbifolin

OH

O
O

HO

OH

5. Pedalitin

Gambar 2.2 Turunan senyawa flavonoid pada Ruellia tuberosa Linn


(Linn dkk, 2006)

10
2.2. Tinjauan Senyawa Organik Bahan Alam

Senyawa organik bahan alam adalah senyawa organik yang dihasilkan dari

proses metabolisme dalam organisme hidup. Dewasa ini yang dimaksud senyawa

organik bahan alam terbatas pada senyawa–senyawa yang dikenal sebagai senyawa

metabolit sekunder. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa hasil metabolisme

yang tidak terdapat secara merata dalam makhluk hidup dan ditemukan dalam jumlah

sedikit yang umumnya terdapat pada semua organ tumbuhan. Senyawa metabolit

sekunder umumnya merupakan senyawa kimia yang mempunyai fungsi bioaktivitas

dan berfungsi sebagai pelindung. Senyawa kimia hasil metabolit sekunder telah

banyak digunakan sebagai zat warna, racun, aroma makanan, dan obat-obatan

(Lenny, 2006).

Senyawa-senyawa metabolit sekunder yang telah berhasil diisolasi oleh

manusia didayagunakan guna menunjang kepentingan industri seperti industri

kosmetik dan industri pembuatan pestisida dan insektida, serta sebagai penghasil

minyak atsiri. Senyawa metabolit sekunder merupakan sumber bahan kimia yang

tidak akan pernah habis sebagai sumber inovasi dalam penemuan dan pengembangan

obat-obat baru. Hal ini terkait dengan keberadaannya di alam yang tidak terbatas

jumlahnya (Nau, 2015).


Beberapa kelompok metabolit sekunder yang dihasilkan dari metabolisme

sekunder pada tumbuhan antara lain: alkaloid, terpenoid, fenol, flavonoid, saponin,

dan steroid.

11
2.2.1. Alkaloid

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan

dialam. Hampir seluruh senyawa alkaloida berasal dari tumbuh-tumbuhan dan

tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloida mengandung paling

sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan sebagian besar atom

nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik (Lenny, 2006).

Hampir semua alkaloida yang ditemukan dialam mempunyai keaktifan

biologis tertentu, ada yang sangat beracun tetapi ada pula yang sangat berguna dalam

pengobatan. Alkaloida dapat ditemukan dalam berbagai bagian tumbuhan seperti biji,

daun, ranting dan kulit batang. Alkaloida umumnya ditemukan dalam kadar yang

kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari

jaringan tumbuhan (Lenny, 2006).

Secara umum, golongan senyawa alkaloid bersifat basa, pada umumnya

beberapa pahit, bersifat racun, mempunyai efek fisiologis secara optis aktif,

berbentuk kristal tak bewarna, tidak mudah menguap, tidak larut dalam air, larut

dalam pelarut organik seperti etanol, eter dan kloroform. Alkaloid dapat membentuk

endapan dengan larutan asam fosfowolframat, asam fosfomolibdat, asam pikrat,

kalium merkuriiodida dan lain sebagainya. Dari endapan–endapan ini, banyak juga

yang memiliki bentuk kristal yang khusus sehingga sangat bermanfaat dalam

identifikasinya (Tobing, 2007).

12
Alkaloid tidak mempunyai tatanama sistematik, oleh karena itu, suatu alkaloid

dinyatakan dengan nama trivial, misalnya kuinin, morfin dan stiknin. Hampir semua

nama trivial ini berakhiran –in yang mencirikan alkaloida (Nau, 2015). Beberapa

contoh senyawa alkaloida:

O
H3C N
CH3

N O
O
CH3
N

Nikotin Kokain

Gambar 2.3 Contoh Senyawa Alkaloid (Robinson, 1995)

2.2.2 Terpenoid

Kata terpenoid mencakup sejumlah besar senyawa tumbuhan. Istilah ini

digunakan untuk menunjukan bahwa secara biosintesis semua senyawa tumbuhan itu

berasal dari senyawa yang sama. Terpenoid merupakan komponen-komponen

tumbuhan yang mempunyai bau dan dapat diisolasi dari bahan nabati dengan

penyulingan yang disebut sebagai minyak atsiri (Lenny, 2006).

Terpenoid terdiri atas beberapa macam senyawa, mulai dari komponen minyak

atsiri, yaitu monoterpena dan seskuiterpena yang mudah menguap, diterpena yang

lebih sukar menguap sampai ke senyawa yang tidak menguap yaitu triterpenoid dan

sterol serta pigmen karotenoid (Harborne, 1987 dalam Nau, 2015).

13
Sebagian besar terpenoid mempunyai kerangka karbon yang dibangun oleh dua

atau lebih unit C-5 yang disebut unit isopren. Unit C-5 ini dinamakan demikian

karena kerangka karbonnya sama seperti senyawa isoprene (Lenny, 2006).

Isopren Unit Isopren

Gambar 2.4 Contoh senyawa terpenoid (Lenny, 2006)

Berdasarkan jumlah unit isopren yang menyusunnya, terpenoid dapat

diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu hemiterpenoid yang tersusun dari 1 unit

isopren (contohnya prenol dan asam isovalerat), monoterpenoid yang tersusun dari 2

unit isopren(contohnya geraniol), sesquiterpenoid yang tersusun dari 3 unit isopren

(contohnya farnesol, kurkumen, dan bisabolol), diterpenoid yang tersusun dari 4 unit

isopren (contohnya kafestol), sesterterpenoid yang tersusun dari 5 unit isopren,

triterpenoid yang tersusun dari 6 unit isopren (contohnya lanosterol), tetraterpenoid

yang tersusun dari 8 unit isopren (contohnya likopen dan karoten) dan polyterpenoid

yang tersusun dari sejumlah besar unit isopren (contohnya karet dan getah perca)

(Robinson, 1995).

14
H3C CH3

CH3

CH3 CH3CH3

HO
CH3
CH3

Gambar 2.5 Struktur dasar triterpen (Robinson, 1995)

2.2.3. Fenol

Istilah senyawa fenol meliputi aneka ragam senyawa yang berasal dari

tumbuhan yang mempunyai ciri sama yaitu cincin aromatik yang mengandung satu

atau dua penyulih (pengganti) hidroksil. Senyawa fenol cenderung mudah larut dalam

air karena umumnya mereka sering kali berikatan dengan gula sebagai glikosida dan

biasanya terdapat vakuola sel (membran sel). Flavonoida merupakan golongan

terbesar, tetapi fenol monosiklik sederhana, fenilpropanoida, dan kuinon fenolik juga

terdapat dalam jumlah besar (Hatauruk, 2010).

2.2.4. Flavonoid

Senyawa flavonoida adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang

ditemukan di alam. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru

dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.

15
Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom

karbon. Atom karbon ini membentuk dua cincin benzena dan satu rantai

propana dengan susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat menghasilkan tiga jenis

struktur yaitu flavonoid (1,3-diarilpropana), isoflavonoid (1,2-diarilpropana),

neoflavonoid (1,1-diarilpropana) seperti ditunjukkan pada gambar (Lenny, 2006):

Flavonoid Isoflavonoid

Neoflavonoid

Gambar 2.6 Tiga jenis Flavonoid (Lenny, 2006)

Istilah flavonoid yang diberikan untuk senyawa fenolik ini berasal dari kata

flavon, yaitu nama dari salah satu jenis flavonoid yang terbesar jumlahnya dan

yang paling umum ditemukan. Flavon mempunyai tingkat oksidasi yang terendah

sehingga senyawa ini dianggap sebagai senyawa induk dalam tata nama senyawa-

senyawa turunan flavon (Lenny, 2006).

16
3'
2' 4'
8
O 5'
7 9
2 6'

6 3
5 4

Gambar 2.7 Kerangka dasar flavon (Manitto, 1992)

Flavonoida mencakup banyak pigmen yang paling umum dan terdapat pada

seluruh dunia tumbuhan mulai dari fungus sampai angiospermae. Pada tumbuhan

tinggi, flavonoida terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun dalam bunga. Pigmen

bunga flavonoida berperan jelas dalam menarik burung dan serangga penyerbuk

bunga. Beberapa fungsi flavonoida pada tumbuhan ialah pengatur tumbuh, pengatur

fotosintesis, kerja antimikroba dan antivirus serta kerja terhadap serangga (Robinson,

1995).
Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat

oksidasi dari rantai propana dari sistem 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan

antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan di alam dan sering kali disebut

sebagai flavonoida utama (Harbone, 1987). Secara rinci flavonoid dapat

diklasifikasikan menjadi (Hatauruk, 2010) :

1. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana

a. Flavon

17
Flavon lazim sebagai konstituen tanaman yang tinggi dan terdapat dalam

berbagai bentuk terhidroksilasi. Beberapa contoh senyawa ini adalah apigenin,

luteolin, dan tangeritin. Semua senyawa ini memiliki peran hampir sama yaitu

sebagai antioksidan atau penangkap radikal bebas. Selain itu, senyawa ini juga

dapat digunakan sebagai peningkat daya tahan tubuh karena memiliki sifat

memperkuat dinding sel sehingga tubuh dapat lebih bertahan dari serangan

penyakit.

b. Flavonol

Senyawa jenis ini paling banyak terdapat di alam daripada jenis flavonoid

yang lain. Senyawa-senyawa ini beragam sebagai akibat perbedaan pada posisi

Gugus –OH pada fenolnya. Contoh senyawa adalah quarcetin yang terdapat di

buah apel sebagai antioksidan dan antiaging. Selain itu ada juga senyawa

myricetin yang terdapat di anggur dan sayuran, Senyawa ini juga sebagai

antioksidan.

c. Flavonon

Jenis flavonoid ini mirip dengan jenis flavonoid flavon tetapi pada flavanon

tidak memiliki ikatan rangkap pada cincin C. Beberapa senyawa yang termasuk

ke dalam jenis ini adalah hespertin yang terdapat pada buah jeruk yang

diperoleh dalam bnetuk glikosidanya, senyawa ini merupakan suatu aglikon.

Senyawa ini juga memiliki efek sebagai antioksidan dan anti inflamantory pada

tubuh manusia.

d. Flavononol

18
Sama halnya dengan flavonoid flavanon, jenis ini mirip dengan flavonol

tetapi dengan struktur dasar flavan yang tidak memiliki ikatan rangkap pada

cincin C.

e. Antosianin

Antosianin adalah pigmen berwarna merah, ungu, dan biru yang terdapat

pada seluruh tumbuhan kecuali fungi. Sebagian besar antosianin dalam bentuk

glikosida, biasanya mengikat satu atau dua unit gula seperti glukosa, galaktosa,

ramnosa dan silosa. Jika monoglikosida, maka bagian gula hanya terikat pada

posisi 3 dan pada posisi 3 dan 5 bila merupakan diglikosida dan bagian

aglikonnya disebut antosianidin.

f. Auron dan Khalkon


Auron berupa pigmen kuning yang terdapat pada bunga tertentu dan

Bryofita. Auron ditandai dengan adanya struktur 2-benzilidenekumaranon.

Khalkon tidak mempunyai inti pusat heterosiklik tetapi ditandai oleh adanya 3

rantai karbon dengan gugus keton dan a,p tidak jenuh. Dikenal hanya lima

aglikon, tetapi pola hidroksilasinya serupa dengan pola pada flavonoida lain

begitu pula bentuk yang dijumpai adalah bentuk glikosida dan eter metil.

19
2. Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana

Isoflavon merupakan golongan flavonoida yang jumlahnya sangat sedikit, dan

sukar dicirikan karena reaksinya tidak khas dengan pereaksi warna manapun.

Beberapa isoflavon berwarna biru muda bila dilihat dibawah sinar ultraviolet setelah

diberi uap ammonia. Senyawa isoflavon mempunyai aktivitas sebagai antioksidan

yang dapat mengurangi resiko penyakit kanker, jantung koroner, dan osteoporosis.

Senyawa ini mempunyai aktifitas biologis sebagai penangkap radikal bebas

penyebab kanker karena berkaitan dengan struktur dan gugus-gugus yang berikatan

pada struktur molekulnya. Adanya gugus OH ganda, gugus OH pada atom C3

ataupun C5 yang berdekatan dengan gugus C=O pada struktumya berhubungan

terhadap aktifitas biologisnya

3. Neoflavonoida atau 1,1-diarilpropana

Neoflavonoid meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergoin.

Penggolongan flavonoid berdasarkan jenis ikatan yaitu:


a. Flavonoid O-Glikosida

Pada senyawa ini gugus hidroksil flavonoid terikat pada satu gula atau lebih

dengan ikatan hemiasetal yang tidak tahan asam, pengaruh glikosida ini

menyebabkan flavonoid kurang reaktif dan lebih mudah larut dalam air. Gula

yang paling umum terlibat adalah glukosa disamping galaktosa, ramilosa, silosa,

arabinosa, fruktosa dan kadang-kadang glukoronat dan galakturonat. Disakarida

20
juga dapat terikat pada flavonoid misalnya soforosa, gentibiosa, rutinosa dan

lain-lain.

b. Flavonoid C-Glikosida

Gugus gula terikat langsung pada inti benzen dengan suatu ikatan karbon-

karbon yang tahan asam. Lazim ditemukan gula terikat pada atom C nomor 6 dan

8 dalam inti flavonoid. Jenis gula yang terlibat lebih sedikit dibandingkan dengan

O-glikosida. Gula paling umum adalah galaktosa, raminosa, silosa, arabinosa.

c. Flavonoid Sulfat

Senyawa flavonoid yang mengandung satu ion sulfat atau lebih yang terikat

pada OH fenol atau gula, secara teknis termasuk bisulfat karena terdapat sebagai

garam yaitu flavon O-SO3K. Banyak berupa glikosida bisulfat yang terikat pada

OH fenol yang mana saja yang masih bebas atau pada guIa. Umumnya hanya

terdapat pada angiospermae yang mempunyai ekologi dengan habitat air.

d. Biflavonoid

Biflavonoid (biflavonil, flavandiol) merupakan dimer flavonoid yang

dibentuk dari dua unit flavon atau dimer campuran antara flavon dengan flavanon

dan atau auron. Struktur dasar biflavonoid adalah 2,3-dihidroapigeninil-(I-3′,II-

3′)-apigenin. Senyawa ini memiliki ikatan interflavanil C-C antara karbon C-3′

pada masing-masing flavon. Beberapa biflavonoid dengan ikatan interflavanil C-

O-C juga ada. Biflavonoid terdapat pada buah, sayuran, dan bagian tumbuhan

lainnya. Hingga kini jumlah biflavonoid yang diisolasi dan dikarakterisasi dari

alam terus bertambah, namun yang diketahui bioaktivitasnya masih terbatas.

21
Biflavonoid yang paling banyak diteliti adalah ginkgetin, isoginkgetin,

amentoflavon, morelloflavon, robustaflavon, hinokiflavon dan ochnaflavon.

Senyawa-senyawa ini memiliki struktur dasar yang serupa yaitu 5,7,4’-trihidroksi

flavanoid, tetapi berbeda pada sifat dan letak ikatan antar flavonoid.
Senyawa biflavonóid berperan sebagai antioksidan, anti-inflamasi,

antikanker, antialergi, antimikrobia, antifungi, antibakteri, antivirus, pelindung

terhadap iradiasi UV, vasorelaksan, penguat jantung, antihipertensi, anti

pembekuan darah dan mempengaruhi metabolisme enzim.

2.2.5. Saponin

Saponin adalah suatu glikosida alamiah yang terikat dengan steroid atau

triterpena. Saponin mempunyai sifat bermacam-macam, misalnya: terasa manis, ada

yang pahit, dapat berbentuk buih, dapat menstabilkan emulsi, dapat menyebabkan

hemolisis. Dalam pemakaiannya saponin bisa dipakai untuk banyak keperluan,

misalnya dipakai untuk membuat minuman beralkohol, dalam industri pakaian,

kosmetik, membuat obat-obatan dan dipakai sebagai obat tradisional. Saponin bisa

ditemukan pada tanaman liar maupun tanaman peliharaan, pada binatang laut tingkat

rendah, dalam beberapa bakteri, namun jarang ditemukan pada binatang tingkat tinggi

(Hanafi, 2012).

Saponin terdiri dari Sapogenin yaitu bagian yang bebas dari Glikosida

yang disebut juga “Aglycone”. Sapogenin mengikat sakarida yang panjangnya

bervariasi dari monosakarida hingga mencapai 11 unit monosakarida. Yang paling

22
sering panjang sakaridanya antara 2-5 unit. Apabila sakaridanya monosakarida yang

sering dijumpai adalah D-Glukosa dan D-Galaktosa. Sapogenin (Aglycone) bisa

triterpenoid atau steroid. Karena Sapogenin yang bersifat lipofilik serta sakarida yang

hidrofilik maka Saponin bersifat amfifilik (amphiphilic atau surfactant properties).

Dengan demikian Saponin dapat membentuk busa dan merusak membran sel karena

bisa membentuk ikatan dengan lipida dari membran sel (Hanafi, 2012).

OH

Gambar 2.8 Contoh Struktur Saponin


(Sumber: https://mhanafi123.files.wordpress.com)

2.2.6. Steroid

Steroid terdiri atas beberapa kelompok senyawa dan dikelompokkan

berdasarkan efek biologis yang dihasilkan masing-masing senyawa tersebut. Steroid

adalah suatu kelompok senyawa yang mempunyai kerangka dasar

siklopentanaperhidrofenantrena dan mempunyai empat cincin terpadu (Leny, 2006).


Steroid terdiri atas beberapa kelompok senyawa dan penegelompokan ini

didasarkan pada efek fisiologis yang diberikan oleh masing-masing senyawa.

Kelompok-kelompok itu adalah sterol, asam-asam empedu, hormon seks, hormon

adrenokortikoid, aglikon kardiak dan sapogenin (Lenny, 2006).

23
Menurut Hanafi (2000), steroid merupakan senyawa turunan lipid yang tidak

dihidrolisis. Senyawa yang termasuk turunan steroid, misalnya kolesterol, ergosterol,

progesteron, dan estrogen. Perbedaan jenis steroid yang satu dengan steroid yang lain

terletak pada rantai samping (cabang) yang diikatnya. Steroid memiliki beberapa sifat

kimia yaitu dehidrasi, esterifikasi, hidrolisis, ester steroid, dan oksidasi steroid

(Saputrasari, 2015).
CH3

H3C
CH3
CH3

H3C
CH3

Gambar 2.9 Struktur Dasar Steroid (Lenny, 2006)

2.3. Uji Fitokimia Senyawa Metabolit Sekunder

Metode skrining fitokimia digunakan untuk mengetahui kandungan metabolit

sekunder, makromolekul serta penggunaan data yang diperoleh untuk

menggolongkan tumbuhan. Metode ini juga penting untuk menentukan ciri atau sifat

kimia dari fitotoksin dan fitoaleksin (Harborne, 1973).

Menurut Harborne (1996) pendekatan skrining fitokimia meliputi analisis

kualitatif kandungan kimia dalam tumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang,

bunga, buah, dan biji), terutama kandungan metabolit sekunder, yaitu alkaloid,

24
antrakinon, flavonoid, kumarin, saponin (steroid dan triterpenoid), tannin

(polifenolat), minyak atsiri (terpenoid), dan sebagainya (Nau, 2015).

2.3.1. Alkaloid

Identifikasi kandungan alkaloid dapat dilakukan dengan mengambil ekstrak

pelarut sampel dalam pelarut polar kemudian dilarutkan dalam HCl 2 % dan larutan

dibagi dalam tiga bagian. Bagian pertama ditetesi dengan reagen Dragendorff, bagian

kedua ditetesi dengan reagen Mayer dan bagian ketiga ditetesi dengan reagen

Wagner. Adanya alkaloid ditunjukkan dengan terbentuknya endapan jingga pada

reagen Dragendorff, terbentuknya endapan putih kekuningan pada reagen Mayer dan

terbentuknya endapan cokelat pada reagen Wagner (Markham, 1988 dalam

Saputrasari, 2015).

2.3.2. Flavonoid

Identifikasi flavonoid dapat dilakukan dengan mengambil ekstrak sampel

dalam pelarut polar kemudian ditambahkan logam magnesium dan ditetesi dengan

asam klorida pekat (Pereaksi Shibata). Jika terbentuk warna merah atau jingga

menunjukkan adanya flavonoid (Markham, 1988 dalam Saputrasari, 2015).

2.3.3. Terpenoid

Identifikasi terpenoid dapat dilakukan dengan mengekstrak sampel dalam

pelarut non polar. Hasilnya diuapkan kemudian dilarutkan dalam asam asetat anhidrat

dan ditetesi dengan asam sulfat pekat (pereaksi Libearman–Burchard). Adanya

25
terpenoid ditunjukkan dengan adanya cincin merah kecoklatan atau ungu pada batas

kedua larutan sedangkan pada bagian atas larutan berwarna hijau atau ungu

(Markham, 1988 dalam Saputrasari, 2015).

2.3.4. Saponin

Identifikasi saponin dapat dilakukan dengan mengambil ekstrak sampel dalam

pelarut polar, kemudian diencerkan dengan air, dikocok selama 15 menit. Timbulnya

busa yang stabil menunjukkan adanya saponin (Markham, 1988 dalam Saputrasari,

2015).

2.3.5. Steroid

Identifikasi steroid dapat dilakukan dengan menambahkan anhidrida asam

asetat sebanyak 1-2 tetes ke dalam ekstrak kloroform dan sebagai pembanding

menggunakan H2SO4 pekat (1-2 tetes). Perubahan warna menjadi hijau atau hijau

kebiruan menunjukan adanya steroid (Markham, 1988 dalam Saputrasari, 2015).

2.4. Tinjauan Umum Bakteri

Nama bakteri berasal dari kata “bakterion” (bahasa Yunani) yang berarti

tongkat atau batang. Sekarang nama itu dipakai untuk menyebut kelompok

mikroorganisme yang bersel satu, tidak berklorofil (meskipun ada kecualinya),

berbiak dengan pembelahan diri, serta demikian kecilnya sehingga hanya dapat

dilihat dengan mikroskop (Dwijoseputro, 1982). Ukuran bakteri bervariasi baik

26
penampang maupun panjangnya, tetapi pada umumnya ukuran bakteri adalah sekitar

0,7 - 1,5 µm dengan panjang sekitar 1-6 µm (Mikrobiologi FKU, 2003).

Bakteri merupakan organisme bersel tunggal, hidup bebas tanpa klorofil,

memiliki DNA atau RNA. Bakteri mampu melakukan semua proses-proses dasar

kehidupan yaitu tumbuh, metabolisme dan perkembangbiakan. Berdasarkan bentuk

morfologinya, maka bakteri dapat dibagi atas tiga golongan, yaitu golongan basil

(berbentuk batang), golongan kokus (berbentuk bulat) dan golongan spiral (berbentuk

bengkok) (Dwijoseputro1982). Walaupun bentuknya bermacam-macam, tetapi pada

dasarnya strukturnya terdiri atas dinding sel, sitoplasma serta inti sel. Selain struktur

dasar tersebut, bakteri juga memiliki struktur tambahan misalnya pili, kapsul, flagela,

serta spora yang tidak selalu dimiliki oleh setiap bakteri (Mikrobiologi FKU, 2003).

Lapisan terluar bakteri terdiri atas dua komponen yaitu dinding sel yang kaku

dan membran sitophlasma atau membran plasma. Sel bakteri diliputi lapisan lendir

yang mudah lepas atau tersusun sebagai “simpai”. Beberapa bakteri mempunyai

struktur tambahan berupa filamen yang menonjol keluar sebagai alat penggerak atau

fimbria yang diduga sebagai alat pelekat dengan mikroskop elektron maka terlihat

struktur lapisan lendir bakteri merembes keluar sel atau tetap menempel pada dinding

sel. Lapisan lendir mengandung karbohidrat, mempunyai afinitas rendah terhadap zat

warna basa. Simpai tidak memiliki afinitas terhadap zat warna. Fungsi ‘’simpai’’

untuk perlindungan terhadap zat-zat perusak misalnya enzim-enzim litik (pengancur

sel) dan meningkatkan sifat virulensi kuman patogen dengan cara menghalangi

fotosintesis.

27
Berdasarkan perbedaannya didalam menyerap zat warna Gram bakteri dibagi

atas dua golongan yaitu bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif. Bakteri Gram

positif menyerap zat warna pertama yaitu kristal violet yang menyebabkan berwarna

ungu, sedangkan bakteri Gram negatif menyerap zat warna kedua yaitu safranin dan

menyebabkannya berwarna merah muda (Dwijoseputro,1982). Bakteri Gram positif

memiliki kandungan peptidoglikan yang tinggi (dapat mencapai 50%) dibandingkan

bakteri Gram negatif (sekitar 10%). Sebaliknya kandungan lipida dinding sel bakteri

Gram positif rendah sedangkan pada dinding sel bakteri Gram negatif tinggi yaitu

sekitar 11-22% (Lay, 1992). Hampir semua bakteri gram positif adalah kemohetetrof.

Analisis kimiawi menunjukkan bahwa dinding sel bakteri gram positif terdiri atas

peptidoglikan sebagai polimer utama yang berhubungan dengan polisakarida dan

kelas polimer tertentu yaitu asam teikoat. Bakteri gram negatif ada yang bersifat

kemoheterotrof (Stanier, dkk, 1980).

2.4.1. Bakteri Escherichia coli

Klasifikasi bakteri Escherichia coli menurut Dwidjoseputro (1985) sebagai

berikut:

Kingdom : Monera
Divicio : Protophyta
Kelas : Schizomycetes
Ordo : Eubatiales
Family : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Species : Escherichia coli

Gambar 2.10 Bentuk bakteri Escherichia coli


pada mikroskop elektron
Sumber: Stevens (2009)
28
Bakteri Escherichia coli pertama kali ditemukan oleh Escherich pada tahun

1885. Bakteri ini termasuk bakteri yang berbentuk Basil Coliform yang merupakan

flora paling banyak terdapat pada usus manusia dan hewan. Bakteri Escherichia coli

juga merupakan organisme indikator yang dipakai dalam analisis air untuk menguji

adanya pencemaran oleh tinja. Escherichia coli Thermotoleran adalah strain

Escherichia coli yang dapat hidup pada suhu biakan 44,50C yang merupakan

indikator pencemaran air dan makanan oleh tinja. Coliform dapat berubah aportonis

patogen bila berada diluar usus (Dwidjoseputro, 1985)


Bakteri Escherichia coli secara normal terdapat dalam usus besar manusia

(kolon) sebagai flora normal dan hewan berdarah panas. Sifat unik karena

menyebabkan infeksi primer pada usus misalnya diare. Bakteri ini termasuk golongan

Coliform dan dikenal sebagai mikrobal indikator kontaminasi feka.


Golongan bakteri coliform mempunyai beberapa ciri yang dimiliki oleh

anggota-anggota genus Salmonela dan Sigella, yaitu Genera yang mempunyai spesies

enterik atau genik. Namun ada perbedaan biokimia utama yang nyata yaitu bahwa

Coliform dapat memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas.

Sedangkan Salmonela dan Sigella tidak memfermentasi laktosa. Jelas bahwa

fermentasi laktosa mempunyai reaksi kunci didalam prosedur laboratorium untuk

menentukan potabilitas air apakah aman atau tidak untuk diminum (Bria, 2011).

2.4.1.1 Morfologi
Menurut Volk dan Wheeler (1989), morfologi dan ciri-ciri E. coli adalah

berbentuk batang gram negatif, terdapat tunggal, berpasangan dan dalam rantai

pendek tetapi biasanya tidak berkapsul, tidak berspora motil atau tidak motil

29
peritrikus, anaerobik fakultatif, penghuni normal usus dan seringkali menyebabkan

infeksi. E. coli dianggap sebagai genus dengan hanya satu spesies yang mempunyai

beberapa ratus tipe antigenik. E. coli yang menyebabkan diare akut dapat

dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu E. coli Enteropatogenik, E. coli

Enteroinvasif, E. coli Enterotoksigenik.


2.4.1.2 Fisiologi
E. coli tumbuh baik pada hampir semua media yang dipakai di laboratorium

mikrobiologi. Sebagian besar strain E. coli tumbuh sebagai koloni yang

memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas dalam waktu 48 jam pada

suhu 350C (Lukman, 2000).

2.4.2. Bakteri Staphylococcus aureus

Klasifikasi Dari Rosenbach (1884) klasifikasi Staphylococcus aureus yaitu:

Kingdom : Eubacteria

Divicio : Firmicutes

Kelas : Bacilli

Ordo : Bacillales
Gambar 2.11. Mikroskopis Staphylococcus
Family : Staphylococcaceae aureus
http://doclol.blogspot.com/2013/12.html
Genus : Staphylococcus

Spesies : Staphylococcus aureus

4.1.1 Morfologi
Staphylococcus aureus merupakan salah satu spesies bakteri dari genus

Staphylococcus. Bakteri ini berbentuk bulat, bersifat gram positif, berdiameter 1 µm,

30
biasanya tersusun dalam rangkaian tidak beraturan seperti buah anggur. Beberapa

diantaranya tergolong flora normal pada kulit dan selaput mukosa manusia,

menyebabkan penahan, abses, berbagai infeksi piogen dan bahkan septikimia yang

fatal. Staphylococcus aureus mengandung polisakarida dan protein yang berfungsi

sebagai antigen dan merupakan substansi penting didalam struktur dinding sel, tidak

membentuk spora dan tidak membentuk flagel (Jawetz, E., 2005 dalam Elsa, 2015).
4.1.2 Sifat Kultur
Staphylococcus aureus tumbuh dengan baik pada berbagai media

bakteriologik dibawah suasana aerobik atau mikro-aerobik. Tumbuh dengan cepat

pada temperatur 370C namun pembentukan pigmen yang terbaik adalah pada

temperatur kamar (20-350C). Koloni pada media yang padat akan berbentuk bulat,

halus, menonjol dan berkilau-kilau, membentuk berbagai pigmen berwarna kuning

keemasan (Jawetz, E., 2005). Pada tubuh manusia, Staphylococcus aureus dpat

ditemukan di kulit, selaput lendir hidung, tenggorokan, usus dan vagina.

2.5. Tinjauan Antibakteri

Antimikroba adalah senyawa kimia yang dapat membunuh atau menghambat

pertumbuhan mikroorganisme. Berdasarkan jenis mikroorganisme yang dimatikan

atau dihambat pertumbuhannya, antimikroba terbagi menjadi antibakteri, antifungi,

antivirus dan protozoa.

Antibakteri adalah zat yang membunuh bakteri atau menekan pertumbuhan

dan reproduksi mereka. Obat yang digunakan untuk membasmi mikroba penyebab

31
infeksi manusia, ditentukan harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin.

Berdasarkan toksisitas selektif, ada antimikroba yang bersifat menghambat mikroba

dikenal sebagai aktivitas bekteriostatik dan ada yang bersifat membunuh mikroba

dikenal sebagai aktivitas bakterisid. Kadar minimal yang diperlukan untuk

menghambat pertumbuhan mikroba atau membunuhnya, masing-masing dikenal

sebagai kadar hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM).

Antimikroba tertentu dapat meningkat aktivitasnya dari bakteriostatik menjadi

bakterisid bila kadar antimikrobanya melebihi KHM (Ganiswara dkk, 1995).

2.5.1. Mekanisme Kerja Antimikroba (Jawertz, 1996; Pratiwi, 2008).

Antimikroba berdararkan struktur kimia dan mekanisme kerja dikelompokkan

menjadi:

a. Agen yang menghambat sintesis dinding sel bakteri. Antimikroba ini merusak

lapisan peptidoglikan yang menyusun dinding sel bakteri gram positif maupun

negatif. Mekanisme kerjanya adalah dengan mencegah ikatan silang

peptidoglikan pada tahap akhir sintesis dinding sel, yaitu dengan cara

menghambat protein pengikat penisilin (penicillin binding protein), protein ini

merupakan enzim dalam membran plasma bakteri yang secara normal terlibat

dalam penambahan asam amino yang berikatan silang denga peptidoglikan

dinding sel bakteri. Termasuk didalamnya golongan β-laktan (misalnya

penisilin).

32
b. Agen yang bekerja langsung pada membran plasma mikroorganisme,

meningkatkan permealibilitas dan menyebabkan kebocoran sel intraseluler.

Membran plasma bersifat semipermiabel dan mengendalikan transport

berbagai metabolit kedalam dan luar sel. Adanya gangguan atau kerusakan

struktur pada membran plasma sebagai penghalang (barier) osmosis dan

sejumlah proses biosintesis yang diperlukan dalam mebran. Termasuk

didalamnya detergen seperti polymyxin; polyene agen antijamur (misalnya

nistatin dan amfoterisin B) yang mengikat dinding sterol dan lipopetide

daptomycin.
c. Agen yang menganggu fungsi ribosom subunit 30S dan 50S secara reversibel

menghambat sintesis protein, yang umumnya adalah bakteriostatik (misalnya

kloramfenikol, amoksilin, eritmosin, klindamisin streptogamis dan linezoid)

dan bakterisidal (misalnya aminoglosida).


d. Agen yang mempengaruhi metabolisme asam nukleat bakteri.

Penghambatannya pada sintesis asam nukleat berupa penghambatan terhadap

transkripsi asam nukleat dan replikasi mikroorganisme, seperti ryfamicins

(misalnya ripafisin dan rifabutin) yang menghambat RNA polymerase dan

quinolon yang menghambat topoisomerase.


e. Antimetabolit, yaitu substansi yang secara kompetitif menghambat metabolit

mikroorganisme, karena memiliki struktur yang mirip dengan substrat normal

bagi enzim metabolism. Termasuk didalamnya trimetoprim dan sulfonamide

yang menghambat enzim penting metabolism folat.


Selain itu, menurut Peleczar dan Chan (1988), beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi kerja bahan antibakteri sebagai berikut: Konsentrasi atau intensitas

33
bahan antimikroba, makin tinggi konsentrasi bahan antimikroba maka semakin tinggi

daya penghambatan atau daya bunuhnya (sampai batas tertentu). Sifat bahan

antimikroba, terdapat golongan atau bahan yang memiliki kemampuan bekerja relatif

cepat dalam menghambat atau mematian mikroorganisme dan ada yang memiliki

aktivitas relatif sangat lambat. Jumlah, macam, umur dan kondisi mikroorganisme

atau jasad yang dikenai, menghambat atau membunuh mikroorganisme dalam jumlah

besar lebih sukar daripada mikroorganisme dalam jumlah kecil. Keasaman dan

kebasahan (pH), mikroorganisme yang terdapat pada bahan dengan asam dapat

dibasmi pada suhu yang lebih rendah dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan

dengan mikroorganisme yang sama dalam lingkungan basa. Suhu dan waktu,

kenaikan suhu yang sedang secara besar dapat menaikkan keefektifan suatu bahan

antimikroba. Setiap kenaikan 100C dapat menyebabkan penggandaan angka kematian.

Mikroorganisme yang berada cukup lama dalam bahan antimikroba akan terhambat

pertumbuhannya atau dapat mati, sebab waktu memberikan kontribusi dalam

peresapan bahan antimikroba kedalam sel mikroorganisme.

2.5.2. Uji Aktivitas Antibakteri

Macam-macam metode uji aktivitas antimikroba antara lain:

a. Metode pengenceran agar


Metode pengenceran agar sangat cocok untuk pemeriksaan sekelompok besar

isolat versus rentang kosentrasi antimikroba yang sama (Sacher dan

McPherson, 2004). Kelemahan metode ini yaitu hanya dapat digunakan untuk

34
isolasi tipe organisme yang dominan dalam populasi campuran (Jawertz et al.,

2005).
b. Difusi agar
Metode difusi digunakan untuk menentukan aktivitas agen antimikroba.

Piringan yang berisi agen antimikroba diletakkan pada media agar yang telah

ditanami mikroorganisme yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area

jernih pada permukaan media agar mengindikasikan adanya hambatan

pertumbuhan mikrorganisme oleh agen antimikroba (Pratiwi, 2008).


Tabel 2.1 Kategori Respon Hambatan Pertumbuhan Bakteri Berdsarkan
Diameter Zona Hambat (Susanto, Sudrajat dan R. Ruga, 2012)
Diameter Zona Hambat Respon Hambatan
≥ 21mm Sangat Kuat
11-20 mm Kuat
6-10 mm Sedang
<5 mm Lemah

Metode difusi agar dibagi menjadi dua yaitu cara Kirby Baurer dan cara

sumuran.
a) Cara Kirby Baurer
Metode difusi disk (Tes Kirby Baurer) dilakukan untuk menentukan

aktivitas agen antimikroba. Piringan yang berisi agen antimikroba

diletakkan pada media agar yang telah ditanami mikrorganisme yang

akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan

adanya hambatan pertumbuhan mikroorganisme oleh agen

antimikroba pada permukaan media agar (Pratiwi, 2008). Keunggulan

uji difusi cakram agar mencakup fleksibilitas yang lebih besar dalam

memilih obat yang akan diperiksa (Sacher dan McPherson, 2004).


b) Cara Sumuran

35
Metode ini serupa dengan metode difusi disk, dimana dibuat sumur

pada media agar yang telah ditanami dengan mikroorganisme dan pada

sumur tesebut diberi agen antimikroba yang akan diuji (Pratiwi, 2008).
c. Metode Dilusi
Metode dilusi dibedakan menjadi dua yaitu dilusi cair dan dilusi padat
1) Metode dilusi cair
Metode ini mengukur Minimum Inhibitory Concentration (MIC) atau

Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Minimum Bactericidal

Concentration (MBC) atau Kadar Bunuh Minimum (KBM). Cara

dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba

pada medium cair yang ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji

agen antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya

pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang

ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya dikultur ulang pada

media cair tanpa penambahan mikroba uji ataupun agen antimikroba

dan diinkubasi sesuai dengan mikroba uji. Media cair yang bening

setelah diinkubasi ditetapkan sebagai KBM.


2) Metode dilusi Padat
Metode ini serupa dengan metode dilusi cair, namun menggunakan

media padat (solid). Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi

agen antimikroba yang di uji dapat digunakan untuk menguji beberapa

mikroba uji.

Hasil yang akan dilihat dari ketiga metode ini adalah terbentuknya:

36
1.) Zona radikal yaitu suatu daerah disekitar disk dimana sama sekali tidak

ada petumbuhan bakteri. Zona yang terbentuk ini diukur diameter yang

terbentuk.
2.) Zona irradikal yaitu suatu daerah disekitar disk yang pertumbuhan

bakterinya dihambat tetapi tidak dimatikan. Zona hambatnya pun diukur

dari diameternya. Ukuran diameter zona hambat inilah yang akan

digunakan sebagai data yang akan menggambarkan daya hambat dari

suatu antibiotik.

2.5.3. Antimikroba Pembanding Yang Digunakan

O
HO HO
H
O O
CH3
N

N S
CH3
H2N H . 3H2O
H H
H

Gambar 2.12 Struktur Kimia Amoxilin (Kaur et al, 2011)

Amoxilin adalah salah satu senyawa golongan beta-laktan dan memiliki nama

kimia alfa-amino sodium untuk penggunaan parenteral. Amoxilin telah menggantikan

ampisilin sebagai antibiotik yang sering digunakan di berbagai tempat (Grayson,

2010). Secara kimiawi, amoxilin adalah asam (2S,5R,6R)-6-[[(2R)-2-Amino-2-(4-

hidroksifenil) asetil] amini]-3,3-dimetil-7okso-4-tia-1-aza-bisiklo [3.2.0] heptan-2-

karboksilat (Kaur et al, 2011).

37
Amoxilin merupakan antibiotika dari penisilin semisintetik yang stabil dalam

suasana asam, kerja bakterisida atau pembunuh bakterinya seperti ampisilin.

Amoxilin sangat efektif terhadap organisme gram positif dan gram negatif.

Penggunaan amoxilin seringkali dikombinasikan dengan asam klavulanat untuk

meningkatkan potensi dalam membunug bakteri (Junaidi, 2009). Amoxilin sukar larut

dalam air dan methanol, tidak larut dalam benzen, karbon tetraklorida dan dalam

koroform.

2.6. Pengukuran Zona Hambat

Pengukuran zona hambat adalah penentuan dan pengukuran kepekaan suatu

bakteri terhadap suatu obat, dimana kadar konsentrasi terendah masih menunjukan

zona hambat. Untuk pengukuran zona hambatan suatu obat atau bahan percobaan

diukur dengan menggunakan mistar dalam mm, diukur dari garis tengah zona hambat

yang terjadi. Zona hambatan yang terjadi ditandai apabila disekitar obat atau bahan

percobaan menunjukan daerah jernih sebagai zona hambat (Mozer, 2015).

2.7. Tinjauan Umum Tentang Ekstraksi

Ekstraksi adalah penarikan suatu zat kimia yang berada dalam sel oleh pelarut

yang dapat melarutkan zat tersebut. Ekstraksi bertujuan untuk melarutkan senyawa-

senyawa yang terdapat dalam jaringan tanaman ke dalam pelarut yang dipakai untuk

proses ekstraksi tersebut (Ahmad, 2012).

38
Proses ekstraksi dimulai dengan adanya penggumpalan ekstrak dalam pelarut.

Selanjutnya terjadi kontak antara bahan dan pelarut sehingga pada bidang permukaan

terjadi pengendapan massa dengan cara difusi. Bahan ekstraksi telah tercampur

dengan pelarut maka pelarut akan menembus kapiler dalam suatu bahan padat dan

melarutkan ekstrak larutan dengan konsentrasi lebih tinggi dan terbentuk di bagian

dalam bahan ekstraksi. Proses pemisahan tersebut bertujuan untuk memperoleh

bahan-bahan aktif yang terkandung dalam sel atau jaringan. Bahan aktif dalam

tumbuhan tersebut terdiri dari terpenoid, alkaloid, steroid, flavonoid, atsiri, dan

sebagainya (Robinson, 1995).

Sebelum dilakukan ekstraksi, sampel segar sebaiknya segera dimasukkan ke

dalam alkohol mendidih. Akan tetapi jika tidak memungkinkan, maka sampel

disimpan dalam keadaan kering dengan tujuan bahan kimia dalam sampel tidak

terlalu banyak yang berubah. Disamping itu, sebelum proses pengeringan maka

sampel sebaiknya dibersihkan terlebih dahulu agar tidak terkontaminasi oleh jamur

yang akan tumbuh pada sampel kering (Harborne, 1973).

Adapun parameter kualitas dari ekstraksi tergantung dari berbagai hal seperti

jenis bahan yang digunakan, jenis pelarut, dan prosedur ekstraksi. Sementara hasil

bahan aktif yang diekstraksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni tipe ekstraksi,

waktu ekstraksi, temperatur, jenis pelarut, pH, konsentrasi pelarut, dan polaritas (Nau,

2015). Faktor ukuran bahan juga mempengaruhi hasil ekstraksi. Pengecilan ukuran

suatu bahan yang akan diekstraksi bertujuan untuk memperluas bidang permukaan

bahan sehingga akan mempercepat penetrasi pelarut ke dalam bahan yang akan

39
diekstrak dan mempercepat waktu ekstraksi. Namun ukuran bahan yang terlalu kecil

juga menyebabkan banyak minyak volatile yang menguap selama penghancuran

(Tiwari, dkk., 2011 dalam Ndae 2015).

Bahan aktif biasanya ada yang larut dalam satu atau lebih pelarut. Sehingga

dalam pengerjaannya harus selalu dipertimbangkan pelarut yang akan digunakan.

Faktor pelarut merupakan faktor utama dalam proses ekstraksi. Zat pelarut dibedakan

atas pelarut polar dan pelarut non polar. Berikut sifat-sifat pelarut umum:

Tabel 2.2 Sifat-sifat pelarut umum

Titik Konstanta
Solvent Rumus Kimia
didih dielektrik
Heksana CH3-CH2- CH2- CH2-CH2-CH3 690C 2,0
Benzena C6H6 800C 2,3
Toluena C6H5-CH3 1110C 2,4
Dietil eter CH3CH2-CH2CH3 350C 4,3
Kloroform CHCl3 610C 4,8
Etil asetat CH3-C(=O)-O-CH2-CH3 770C 6,0
1,4—Dioksana -CH2-CH2-O-CH2-CH2-O 1010C 2,3
Tetra hidrofuran -CH2-CH2-O-CH2-CH2 660C 7,5
Dikloro metana CH2Cl2 400C 9,1
Aseton CH3C(=O)-CH3 560C 21
Asetonitril CH3C≡N 820C 37
Dimetil H-C(=O)N(CH3)2 1530C 38
formamida
Dimetil CH3-S(=O)-CH3 1890C 47
sulfoksida
Asam asetat CH3C(=O)OH 1180C 6,2
n-Butanol CH3-CH2-CH2-CH2- OH 1180C 18
n-propanol CH3-CH2-CH2-OH 970C 20
Etanol CH3-CH2-OH 790C 30
Metanol CH3-OH 650C 33

40
Asam format H-C(=O)OH 1000C 58
Air H-O-H 1000C 80
(Sumber: Nau, 2015)

Pemilihan metode ekstraksi secara khusus erat kaitannya dengan bahan baku

atau bahan aktif yang akan disari. Bahan baku yang dapat diekstraksi mulai dari akar

(radix), kayu (lignum), klika (cortexs), daun (folium), biji (semen), bunga (flos) dan

buahnya (fructus). Pada dasarnya metode ekstraksi dibagi dua yaitu ekstraksi dingin

dan ekstraksi panas. Cara dingin seperti maserasi, perkolasi dan soxletasi. Sedangkan

cara panas seperti refluks, decok dan infus (Ni Wayan, 2009).

2.7.1. Maserasi

Maserasi merupakan proses perendaman dengan pelarut organik yang

digunakan pada temperatur ruangan. Dengan perendaman sampel tumbuhan, akan

terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan di dalam dan

ruang sel sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam

pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena lama perendaman dapat

diatur. Secara umum pelarut metanol merupakan pelarut yang paling banyak

digunakan dalam proses isolasi senyawa bahan alam, karena dapat melarutkan

seluruh golongan metabolit sekunder (Lenny, 2006)

Pada proses maserasi, sampel yang digunakan dihaluskan menjadi serbuk

setelah itu dilembabkan terlebih dahulu dengan sedikit pelarut, kemudian direndam

dengan pelarut dalam wadah tertutup yang dilapisi oleh kain flanel. Penggunaan kain

41
flannel ini bertujuan untuk memudahkan proses filtrasi. Jumlah pengekstrak

umumnya ditentukan dengan sebanyak yang diperlukan untuk cukup merendam

bahan baku hingga 2-3 cm dari serbuk yang direndam. Sampel dibiarkan selama

periode tertentu dan dilakukan pengadukan sekali-kali karena jika maserasi dalam

keadaan diam akan menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif. Sebaiknya

penyimpanan dilakukan pada tempat yang terlindungi dari cahaya langsung untuk

mencegah reaksi yang dikatalisis cahaya atau terjadinya perubahan warna. Setelah itu

cairan diambil dan ampasnya diperas dan bila perlu disaring. Metode maserasi ini

sangat cocok digunakan untuk senyawa yang bersifat thermolabil (Mozer, 2015).

2.7.2. Fraksinasi

Fraksinasi adalah prosedur pemisahan yang bertujuan memisahkan golongan

utama kandungan yang satu dari golongan utama yang lain. Fraksinasi pada

prinsipnya adalah proses penarikan senyawa pada suatu ekstrak dengan menggunakan

dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Pelarut yang umumnya digunakan

untuk fraksinasi adalah petroleum eter, etil asetat dan n-butanol. Untuk menarik

lemak dan senyawa non-polar digunakan petroleum eter, etil asetat untuk menarik

senyawa semipolar sedangkan n-butanol untuk senyawa-senyawa polar. Pemisahan

jumlah dan jenis senyawa menjadi fraksi yang berbeda tergantung dari jenis

tumbuhannya. Senyawa-senyawa yang bersifat polar akan masuk ke pelarut polar,

begitu pula senyawa yang bersifat non polar akan masuk kepelarut non polar

(Harborne, 1987).

42
2.8. Tinjauan Kromatografi Lapis Tipis

Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran didasarkan atas perbedaan

distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase

diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas) yang menyebabkan terjadinya

perbedaan migrasidari masing-masing komponen (Wulandari, 2011).


Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan campuran zat yang

didasarkan atas perbedaan kecepatan migrasi dari masing-masing komponen pada

fase diam di bawah pengaruh pelarut yang bergerak (fase gerak). Pada kromatografi

lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan seragam (uniform) pada permukaan bidang

datar yang didukung oleh lempeng kaca, plat alumunium atau plat plastik. KLT

merupakan metode serba guna, cepat, dan peka serta dapat digunakan untuk

memisahkan bahan yang jumlahnya sangat kecil dari ukuran mikrogram (Harborne,

1973).

Keuntungan kromatografi lapis tipis menurut Rohman (Tael, 2013) yaitu

kromatografi lapis tipis memberikan fleksibilitas yang lebih besar dalam hal memilih

fase gerak dan proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan dapat dihentikan

kapan saja. Adsorben atau fase diam yang sering digunakan pada KLT adalah silika

gel dan serbuk selulosa. Sedangkan fase gerak yang digunakan pada KLT dipilih

sesuai dengan komponen senyawa yang akan dianalisis. Banyak sekali pelarut yang

digunakan dalam KLT sebagai fase gerak seperti metanol, etanol, air, kloroform,

dietil eter, dan aseton. Pemisahan pada KLT yang optimal akan diperoleh hanya jika

menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin.

43
Sebagaimana dalam prosedur kromatografi yang lain, jika sampel yang digunakan

terlalu banyak maka akan menurunkan resolusi. Semakin tepat posisi penotolan dan

kecepatan penotolan semakin baik kromatogram yang dihasilkan (Wulandari, 2011).

Pada kromatografi lapis tipis, eluen adalah fase gerak yang berperan penting

pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fase diam (adsorben).

Interaksi antara adsorben dengan eluen sangat menentukan terjadinya pemisahan

komponen. Oleh sebab itu pemisahan komponen secara kromatografi dipengaruhi

oleh laju alir eluen dan jumlah umpan. Eluen dapat digolongkan menurut ukuran

kekuatan teradsorpsinya pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan

dalam hal ini yang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis

tipis silika. Bedasarkan sifat kepolaran dari suatu pelarut maka dapat diperkirakan

eluen yang paling cocok digunakan untuk analisis KLT. Misalnya, senyawa yang

dipisahkan adalah senyawa polar, memakai adsorben silika gel, maka eluen yang

dipakai diusahakan bersifat polar. Hal ini dimaksudkan agar cukup kuat membawa

analit saat proses elusi dilakukan (Ni Wayan, 2009).

Parameter yang digunakan untuk menggambarkan migrasi senyawa dalam

KLT adalah faktor retardasi (Retardation faktor=Rf). Nilai Rf berfungsi untuk

menyatakan posisi noda pada fase diam setelah dielusi. Penentuan harga Rf analit,

yaitu membandingkan jarak migrasi noda analit dengan jarak migrasi fase

gerak/eluen (Wulandari, 2011).

jarak yang ditempuh ekstrak


Rf 
jarak yang ditempuh eluen dari titik asal

44
Nilai Rf sangat karakteristik untuk senyawa tertentu pada eluen tertentu. Hal

tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya perbedaan senyawa dalam

sampel. Senyawa yang mempunyai Rf lebih besar berarti mempunyai kepolaran

rendah dan sebaliknya. Hal tersebut dikarenakan fase diam bersifat polar. Senyawa

yang bersifat polar akan tertahan kuat pada fase diam sehingga menghasilkan nilai Rf

yang rendah. Rf KLT yang bagus berkisar antara 0.2–0.8. Jika Rf terlalu tinggi, yang

harus dilakukan adalah mengurangi kecepatan eluennya dan jika Rf terlalu rendah

kepolaran eluen harus ditambah. Bercak pemisahan pada KLT bisa berwarna dan bisa

juga tidak berwarna. Untuk menentukan senyawa pada KLT dapat dilakukan melalui

2 cara yakni dilakukan dengan memberikan penyemprotan menggunakan pelarut

tertentu hingga diperoleh bercak yang jelas atau dapat dilakukan dengan cara

dibiarkan di udara terbuka hingga keadaan plat layak untuk dideteksi (Wulandari,

2011).

2.9. Tinjauan Kromatografi Lapis Tipis Preparatif

Salah satu metode pemisahan yang memerlukan biaya paling murah dan

memakai peralatan sangat sederhana ialah kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP).

Walaupun KLTP dapat memisahkan dalam jumlah gram, sebagian besar pemakaian

hanya dalam jumlah milligram (Hatauruk, 2010).

Dalam KLTP penyerap yang sering dipakai memiliki ketebalan 0,5-2 mm.

dengan ukuran plat kromatografi biasanya 20x20 cm atau 20x40 cm. Pembatasan

ketebalan lapisan dan ukuran plat sudah tentu mengurangi jumlah bahan yang dapat

45
dipisahkan dengan KLT preparatif. Penyerap yang paling umum digunakan adalah

silika gel dan dipakai untuk pemisahan campuran senyawa lipofil maupun campuran

senyawa hidrofil (Hatauruk, 2010).

Cuplikan dilarutkan dalam sedikit pelarut sebelum ditotolkan pada plat KLTP.

Pelarut yang baik ialah pelarut atsiri/organik (heksana, diklorometana, etil asetat),

karena jika pelarut kurang atsiri maka akan terjadi pelebaran pita. Konsentrasi

cuplikan harus sekitar 5-10%. Pilihan pelarut ditentukan berdasarkan pemeriksaan

pendahuluan memakai KLT analitik. Karena ukuran partikel penjerap kira-kira sama,

pelarut yang dipakai pada KLT analitik dapat dipakai langsung pada KLT preparative

(Hatauruk, 2010).

Proses isolasi kromatografi lapis tipis preparatif terjadi berdasarkan perbedaan

daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang

akan bergerak mengikuti kepolaran eluen. Oleh karena daya serap adsorben terhadap

komponen kimia tidak sama, maka komponen bergerak dengan kecepatan yang

berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan pemisahan (Nasution, 2010 dalam

Tael, 2013).

Pengembangan plat KLTP biasanya dilakukan dalam bejana kaca yang dapat

menampung beberapa plat. Bejana dijaga tetap jenuh dengan pelarut pengembang

dengan bantuan kertas saring yang diletakkan berdiri disekeliling permukaan bagian

dalam bejana. Kebanyakan penyerap KLT preparatif mengandung indikator

fluorosensi yang membantu mendeteksi letak pita yang terpisah pada senyawa yang

menyerap sinar ultraviolet. Untuk mendeteksi senyawa yang tidak menyerap sinar

46
ultraviolet dilakukan dengan cara menutup plat dengan sepotong kaca lalu

menyemprot kedua sisi dengan penyemprot. Setelah pita ditampakkan dengan cara

yang tidak merusak maka senyawa yang tidak berwarna dengan penjerap dikerok dari

plat kaca. Cara ini berguna untuk memisahkan campuran beberapa senyawa sehingga

diperoleh senyawa murni (Gritter, dkk., 1991 dalam Saputrasari, 2015).

2.10. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir diatas, maka penulis

merumuskan hipotesis sebagai berikut:

1. Ho : µ1= µ2= µ3= µ4 Tidak terdapat perbedaan luas zona hambat

bakteri E. coli terhadap fraksi n-butanol akar

pletekan (Ruellia tuberosa L.) pada konsentrasi

100 ppm, 200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

H1 : µ1≠ µ2= µ3= µ4 Terdapat perbedaan luas zona hambat bakteri E.

coli terhadap fraksi n-butanol akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.) pada konsentrasi 100 ppm,

200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

2. Ho : µ1= µ2= µ3= µ4 Tidak terdapat perbedaan luas zona hambat

bakteri S. aureus terhadap fraksi n-butanol akar

pletekan (Ruellia tuberosa L.) pada konsentrasi

100 ppm, 200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

47
H1 : µ1≠ µ2= µ3= µ4 Terdapat perbedaan luas zona hambat bakteri S.

aureus terhadap fraksi n-butanol akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.) pada konsentrasi 100 ppm,

200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

3. Ho : µ1= µ2= µ3= µ4 Tidak terdapat perbedaan luas zona hambat

bakteri E. coli terhadap fraksi etil asetat akar

pletekan (Ruellia tuberosa L.) pada konsentrasi

100 ppm, 200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

H1 : µ1≠ µ2= µ3= µ4 Terdapat perbedaan luas zona hambat bakteri E.

coli terhadap fraksi etil asetat akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.) pada konsentrasi 100 ppm,

200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

4. Ho : µ1= µ2= µ3= µ4 Tidak terdapat perbedaan luas zona hambat

bakteri S. aureus terhadap fraksi etil asetat akar

pletekan (Ruellia tuberosa L.) pada konsentrasi

100 ppm, 200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

H1 : µ1≠ µ2= µ3= µ4 Terdapat perbedaan luas zona hambat bakteri S.

aureus terhadap fraksi etil asetat akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.) pada konsentrasi 100 ppm,

200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

48
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Laboratorium Pendidikan Kimia dan

Laboratorium Pendidikan Biologi Jurusan P.MIPA FKIP, Universitas Nusa Cendana

Kupang pada bulan Agustus-Oktober 2017.

3.2. Variabel Penelitian

Variabel-variabel dalam penelitian ini meliputi:


1. Variabel Bebas
Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian adalah fraksi n-butanol dan
etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) dengan berbagai konsentrasi
yaitu 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm dan 1000 ppm.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah aktivitas antibakteri fraksi n-
butanol dan etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) dengan parameter
diameter zona hambat.
3. Variabel Terkendali
Variabel terkendali dalam penelitian ini adalah variabel yang diusahakan sama
untuk setiap perlakuan meliputi suhu, waktu, inkubasi, kondisi steril dan
media.

49
3.3. Tahapan Penelitian

3.3.1. Persiapan alat dan bahan

3.3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah toples kaca 1 L,

Pengayak 60 mesh, oven, blender, neraca analitik, pengaduk kaca, shaker, kain

flannel, stopwatch, rotary vakum evaporator, labu erlenmeyer, gelas ukur, tabung

reaksi, pipet tetes, pipet volum/mikro, alumunium foil, kertas saring, lampu uv,

bejana kromatografi, plat KLT, corong buchner, pipet mikro ukuran 5µl, 50µl, 100µl,

500µl, 1000µl (masing-masing 1 buah), pinset, petridish, pecandang, autoklaf,

incubator, jarum ose.

3.3.1.2 Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.), metanol, n-butanol, n-heksana, petroleum eter, etil asetat,

kloroform, pereaksi Liebermann-Burchard, Pereaksi Mayer, FeCl3 10%, HCl 2%,

Pereaksi Lieberman-Burchard, Pereaksi Shibata, plat silica gel, aquades, NaCl 0,9%,

Nutrient agar, Nutrient broth, Bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

3.3.2. Tahapan Isolasi

3.3.2.1 Preparasi Sampel


Pengambilan sampel akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) dilakukan di

Atambua, Kabupaten Belu, kemudian akar segar dibersihkan dan dicuci

50
menggunakan air bersih untuk menghilangkan kotoran yang menempel. Kemudian

sampel dikering-anginkan selama 14 hari untuk mengurangi kadar air agar dapat

terhindar dari adanya reaksi enzimatis, pertumbuhan jamur sehingga sampel dapat

disimpan lebih lama, tidak mudah rusak, komposisi kimianya tidak mengalami

perubahan dan mempermudah penggilingan. Sampel tersebut dikeringkan pada suhu

kamar atau dikeringkan tanpa sinar matahari agar senyawa yang terkandung di

dalamnya tidak terdegradasi oleh sinar UV. Akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) yang

sudah dikeringkan kemudian dihaluskan dengan blender dan disaring dengan

pengayak 60 mesh.

Pembuatan serbuk dapat mempermudah proses ekstraksi. Semakin kecil

bentuknya semakin besar luas permukaannya maka interaksi zat cairan ekstraksi akan

semakin besar, sehingga proses ekstraksi akan semakin efektif. Serbuk dengan

penghalusan yang tinggi kemungkinan sel-sel yang rusak juga semakin besar,

sehingga memudahkan pengambilan bahan kandungan langsung oleh bahan pelarut.

Masing-masing bagian tumbuhan diamati sifat-sifat atau ciri-ciri tumbuhan

sampel, hasil pengamatan kemudian dibandingkan dengan ciri-ciri atau sifat-sifat

utama tumbuhan yang selama ini dikenal. Hasil pembandingan ciri-ciri tumbuhan

sampel dan ciri-ciri tumbuhan yang selama ini dikenal dan sudah termuat dalam

literatur, disusun dari urutan paling tinggi (Divisi) sampai yang paling rendah adalah

jenis (Spesies). Dari sini akan dapat diketahui apakah benar-benar tumbuhan pletekan

yang ada di NTT adalah jenis Ruellia tuberosa L.

51
3.3.2.2 Pembuatan Ekstrak Metanol Akar Pletekan (Ruellia tuberosa L.)

Serbuk akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) ditimbang sebanyak 500 gram,

kemudian diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut n-heksana sebanyak 1500

mL berulang-ulang sampai filtratnya jernih. Kemudian ekstrak n-heksana dipekatkan

dengan rotary vakum evaporator sehingga di peroleh ekstrak kental n-heksana dan

ampas. Ampas yang di peroleh dikeringkan dengan cara diangin-anginkan, setelah itu,

ampasnya diekstraksi secara maserasi dengan metanol sebanyak 1500 ml berkali kali

hingga filtratnya jernih. Ekstrak metanol yang diperoleh dipekatkan dengan rotary

evaporator hingga di peroleh ekstrak kental.

3.3.3. Uji Fitokimia

a. Uji Fenolat
Ekstrak metanol akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) sebanyak 0,5 gram

dilarutkan dalam metanol kemudian dilakukan uji dengan menambahkan beberapa

tetes FeCl3 10% dalam metanol. Adanya senyawa fenol ditunjukan dengan warna

hijau, merah, ungu atau hitam.


b. Uji Terpenoid
Ekstrak metanol akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) sebanyak 0,5 gram

dilarutkan dalam metanol kemudian dilakukan uji dengan menggunakan pereaksi

Liebermann-Burchard. Apabila terbentuk cincin berwarna merah kecoklatan atau

ungu menunjukkan adanya terpenoid. Pembuatan pereaksi Liebermann-Burchard

dapat dilakukan dengan menambahkan 1 mL asam sulfat pekat ke dalam 19 mL

52
asetat anhidrat dingin, kemudian larutan dihomogenkan dan dibiarkan selama 4

menit sebelum digunakan.


c. Uji Flavanoid

Ekstrak metanol akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) sebanyak 0,5 gram

dilarutkan dalam methanol kemudian dilakukan uji menggunakan pereaksi

Shibata. Apabila terbentuk warna merah atau jingga menunjukkan adanya

flavonoid. Pembuatan pereaksi Shibata dapat dilakukan dengan menambahkan 2

mL amilalkohol pada 5 mL air panas, kemudian ditambahkan sedikit logam

magnesium dan ditambahkan 1 mL HCl pekat, kemudian larutan dihomogenkan

sebelum digunakan.

d. Uji Steroid

Ekstrak metanol akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) sebanyak 0,5 gram

dilarutkan dalam metanol kemudian ditambahkan 1 mL asam sulfat pekat. Adanya

warna hijau-biru menunjukkan adanya steroid.

e. Uji Saponin

Ekstrak metanol akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) sebanyak 0,5 gram

ditambahkan dengan beberapa tetes aquades kemudian dikocok. Adanya busa yang

stabil menunjukkan adanya saponin.

3.3.4. Pemisahan Komponen Senyawa dengan Fraksinasi

` Ekstrak metanol pekat ditimbang sebanyak 10 gram lalu dilarutkan dalam aquades

dengan suhu 450C. Larutan difraksinasi dengan 100 mL pelarut n-Butanol sehingga

53
diperoleh fraksi air-metanol dan fraksi n-Butanol, kemudian fraksi tersebut

dipisahkan. Proses fraksinasi dilakukan berulang hingga filtratnya jernih. Fraksi air

yang diperoleh difraksinasi lagi dengan 100 mL pelarut etil asetat. Diperoleh fraksi

air-metanol dan fraksi etil asetat. Hasil yang diperoleh kemudian difraksi kembali

menggunakan 100 mL larutan petroleum eter hingga diperoleh fraksi petroleum eter.

Hasil partisi dari fraksi-fraksi tersebut kemudian dievaporasi sampai diperoleh

ekstrak kental dari petroleum eter, etil asetat dan n-butanol. Kemudian dilakukan uji

fitokimia.

3.3.5. Pemisahan Komponen Senyawa dengan KLT

Disiapkan chamber kromatografi, ke dalamnya dimasukkan eluen lalu

chamber ditutup dan dibiarkan sampai eluen jenuh.


Pada pemisahan dengan KLT digunakan plat silika gel yang sudah diaktifasi

dalam oven pada suhu 105oC selama 30 menit. Masing-masing plat dengan ukuran 8

× 2 cm. Setelah itu plat KLT diberi tanda berupa garis pada batas bawah sebesar 2 cm

dari tepi bawah plat dan batas atas sebesar 1,5 cm dari tepi atas plat menggunakan

pensil. Ekstrak methanol akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) ditotolkan pada batas

bawah yang telah dibuat dengan mikropipet kemudian dikering-anginkan. Diameter

penotolan diusahakan sekecil mungkin. Selanjutnya plat dimasukkan ke dalam

chamber yang berisi eluen dalam posisi berdiri dan diusahakan agar sampel tidak

terendam dalam pelarut (eluen). Eluen akan bergerak sepanjang plat. Setelah gerakan

eluen sampai pada garis batas, plat dikeluarkan dari chamber lalu dikeringkan. Plat

54
diperiksa dibawah sinar UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm kemudian

diamati hasil noda (spot) yang terbentuk dan diukur jarak yang ditempuh masing-

masing spot untuk menentukan nilai Rf-nya. Eluen yang digunakan adalah:
 Untuk fraksi –butanol : - n-butanol : asam asetat glasial: air , 3:1:5
- n-butanol : asam asetat glasial: air , 4:1:5
- n-butanol : asam asetat glasial: air , 6:1:3
- n-butanol : asam asetat glasial: air , 7:1:2
- n-butanol : asam asetat glasial: air , 5:2:3
 Untuk fraksi etil asetat: - Etil asetat : n-heksana, 1:4
- Etil asetat : n-heksana, 3:1
- Etil asetat : n-heksana, 4:1
- Etil asetat : n-heksana, 3:2

Eluen yang menghasilkan pemisahan terbaik digunakan untuk KLT Preparatif (KLTP)

3.3.6. Pemisahan Komponen Senyawa dengan KLT Preparatif (KLTP)

Pada pemisahan dengan KLT preparatif digunakan plat silika gel dengan

ukuran 20 × 20 cm yang telah diaktifasi pada suhu 105 °C selama 30 menit. Plat

diberi batas bawah 2 cm dan batas atas 1,5 cm. Ekstrak pekat hasil ekstraksi

ditotolkan pada batas bawah sepanjang plat dengan jarak 1 cm. Selanjutnya dielusi

dengan eluen yang memberikan pemisahan terbaik pada KLT. Noda pada permukaan

diperiksa dibawah sinar UV pada panjang gelombang 254 nm dan 366 nm, kemudian

diamati pada masing masing hasil nodanya (spot) dan diukur jarak yang ditempuh

masing-masing spot untuk menentukan nilai Rf-nya. Noda yang diperoleh dikerok

kemudian dilarutkan dalam 5 mL pelarut metanol kemudian disaring dan diuapkan

sehingga diperoleh isolat. Isolat yang diperoleh selanjutnya diuji dengan pereaksi

warna.

55
3.3.7 Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-butanol dan Etil Asetat Akar Pletekan

(Ruellia Tuberosa L.) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus

aureus Menggunakan Metode Difusi Agar

3.3.7.1 Sterilisasi Alat

Alat tahan panas, bahan dan medium yang akan digunakan untuk penelitian

disterilisasi dengan menggunakan autoklaf selama15 menit pada suhu 121 0C dan

tekanan 1 atm. Sebelumnya, alat-alat dicuci bersih, dikeringkan, dan dibungkus

dengan allumunium foil. Alat yang tidak tahan panas disterilkan dengan

menggunakan alkohol.

3.3.7.2 Pembuatan Media

Media yang disiapkan adalah media Mueller Hington Agar sebagai medium

fondasi untuk uji aktivitas antibakteri. Media cair (Nutrient Broth) untuk

peremajaan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Pembuatan media

padat dilakukan dengan cara sebanyak 20 gram Mueller Hington Agar dilarutkan

dalam 500 mL aquades dalam beaker glass dan dimasukkan dalam erlenmeyer

dan ditutup kapas. Selanjutnya, suspensi dipanaskan hingga mendidih dan

mengental. Media MHA kemudian disterilkan dalam autoklaf dan diatur pada suhu

121˚C selama 15 menit.

Media cair (Nutrient Broth) dibuat dengan cara sebanyak 20 gr Nutrient

Broth (NB) dilarutkan dalam 250 mL aquades, kemudian dimasukkan dalam

56
erlenmeyer dan ditutup dengan kapas. Selanjutnya, suspensi dipanaskan sampai

mendidih sambil diaduk, kemudian didinginkan dalam suhu ruang. Selanjutnya,

media disterilkan dalam autoklaf selama 15 menit pada suhu 121 ºC dan tekanan 15

psi (per square inchi).

3.3.7.3 Pembuatan Larutan Pembanding

Antibiotik amoxicillin sebanyak 30 mg ditimbang dan dilarutkan dalam

aquades steril hingga volumenya mencapai 10 ml. Larutan ini yang akan digunakan

sebagai kontrol positif untuk bakteri Staphylcoccus aureus (gram positif) dan bakteri

Escherichia coli (gram negatif) sedangkan kontrol negatif digunakan aquades steril.

3.3.7.4 Pengenceran Ekstrak Dalam Berbagai Konsentrasi

Pengenceran ekstrak akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) dilakukan dengan

mengencerkan ekstak menjadi 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm, 1000 ppm.

3.3.7.5 Peremajaan Biakan Murni S. aureus dan E. coli

Bakteri yang digunakan sebagai bakteri uji, diinoulasikan dalam medium

Nutrient Broth miring 5 mL dalam tabung reaksi mengunakan jarum ose, pada suhu

370C selama 24 jam, menggunakan metode gores.

57
3.3.7.6 Pembuatan Larutan Biakan Aktif Bakteri S. aureus dan E. coli

Satu ose bakteri hasil peremajaan biakan murni S. aureus dan E. coli

dibiakkan dalam 10 mL media cair (NB) steril dan dihomogenkan. Larutan ini

berfungsi sebagai biakan aktif.

3.3.7.7 Penentuan Diameter Zona Hambat

Penentuan diameter zona hambat dilakukan dengan cara metode difusi agar.

Fraksi n-Butanol dan etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) yang telah

disiapkan, dibuat dalam beberapa konsentrasi (100, 200, 500 dan 1000 ppm) serta

kontrol positif dan kontrol negatif.

Media padat MHA 10 m dituang dalam cawan petri steril masing-masing 10

mL dan dibiarkan hingga memadat sebagai lapisan dasar. Sebanyak 5 mL Medium

Mueller Hington Agar dengan suhu 45-480C dicampur dengan 1 mL bakteri dan

dihomogenkan lalu dituangkan diatas lapisan dasar medium dan disebarkan secarat

merata. Keatas permukaan masing-masing medium diletakkan 6 bua pecandang

dimana masing-masing berisi larutan kontrol positif (amoxocillin), kontrol negatif

(aquades steril) dan larutan ekstrak dengan 4 konsentrasi yang berbeda. Media bakteri

yang sudah diberi bahan antibakteri diinkubasi pada suhu 37 0C selama 24 jam dalam

inkubator. Diameter zona hambatan yang terbentuk diukur menggunakan penggaris

untuk mengukur efektivitas antibakteri. Diameter zona hambat adalah diameter yang

tidak ditumbuhi bakteri di sekitar kertas cakram dikurangi diameter pecandang.

58
Kemudian dilakukan pengulangan uji antibakteri pada masing-masing

konsentrasi sebanyak tiga kali. Pada penelitian ini kontrol positif amoxicillin

digunakan untuk bakteri Staphylcoccus aureus (gram positif) dan bakteri

Escherichia coli (gram negatif). Konsentrasi terendah sampel yang aktif dan larutan

jernih setelah inkubasi menunjukan harga KHM.

3.3.7.8 Analisis Data

Data yang dikumpulkan untuk uji aktivitas antibakteri berupa diameter zona

hambat dari bakteri. Diameter zona hambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan

Staphyloccocus aureus terhadap fraksi n-butanol dan etil asetat pada konsentrasi 100

ppm, 200 ppm, 500 ppm dan 1000 ppm. Data yang diperoleh dalam penelitian adalah

data kuantitatif berupa angka-angka yang kemudian dimasukkan ke dalam tabel

dibawah ini:

Tabel 3.1 Rancangan Percobaan Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Butanol Dan Etil Asetat
Akar Pletekan
Luas Zona Hambat (mm)

Konsentrasi Escherichia coli Σӯ Staphyloccocus Σӯ


Isolat aureus
No (E. coli) (S. aureus)
(ppm) I II III I II III

59
1. K+

2. K-

3. 100

4. 200

5. 500

6. 1000

K+ = kontrol positif (antibiotik amoxilin 3.000 ppm)

K- = kontrol negatif (aquades)

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji anova one way pada

taraf signifikansi 5%. Uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya

perbedaan luas zona hambat bakteri E.coli dan S. aureus terhadap fraksi n-butanol

dan etil asetat akar Pletekan pada konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm dan 1000

ppm. Uji hipotesis pertama menggunakan uji F.

Tabel 3.2 Analisis Varian Untuk Uji Hipotesis Dengan Anova One Way
SV Dk Jumlah Kuadrat Mean Kuadrat Fhitung
(JK) (MK)

60
Tot N-1
2
-

Ant m-1
-

Dal N-m JKtot – Jkant

Sumber: Sugiyono, 2013 dalam Loasana, 2015.


Keterangan:
SV = sumber variasi
Tot = total
Ant = antar kelompok
Dal = dalam kelompok
Kriteria pengujian : bila harga Fhitung lebih kecil atau sama dengan Ftabel maka (Fh ≤ Ft)

H0 diterima. Untuk distribusi F yang digunakan diambil dk pembilang = (m-1);6-1=5,

dk penyebut = (N-m);18-6=12 dan taraf nyata (α)= 0,05.

61
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tumbuhan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah

Pletekan (Ruellia tuberosa L.) asal kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Bagian

tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bagian akarnya dimana dalam

pengambilan sampel dilakukan secara acak dan tidak memperhatikan umur dari

tumbuhan ini. Untuk memastikan identitas tumbuhan ini maka dilakukan pengamatan

terhadap sifat dan ciri-ciri. Setelah dipastikan kebenarannya melalui pengamatan sifat

dan ciri-ciri sesuai literatur, kemudian diambil akarnya dan dilanjutkan dengan

beberapa tahapan preparasi diantaranya pengambilan akar, pencucian, pengeringan,

penghalusan dan pengayakan sehingga diperoleh hasil berupa serbuk.

4.1. Preparasi Sampel

Tanaman Pletekan (Ruellia tuberosa L.) yang sudah dipastikan kebenarannya

kemudian diambil akarnya dan dicuci dengan menggunakan air bersih untuk

menghilangkan pengotor-pengotor seperti debu dan tanah maupun sampah organik

yang melekat pada akar. Setelah itu dipotong kecil-kecil untuk memperkecil ukuran

sampel sehingga mempermudah proses pengeringan dan penghalusan. Proses

pengeringan dilakukan dengan cara diangin-anginkan selama 8 minggu tanpa terkena

sinar matahari langsung agar menghindari terjadinya kerusakan senyawa metabolit

sekunder yang ada dalam sampel akibat terkena sinar UV. Selain itu, proses

62
pengeringan juga berfungsi untuk mengurangi kadar air sehingga mencegah

terurainya kandungan zat aktif karena pengaruh enzim dan mencegah kerusakan

bahan akibat aktivitas biologis. Selama proses pengeringan, akar kehilangan kadar

airnya sehingga menyebabkan terjadinya perubahan warna dan bentuk. Sebelum

dikeringan, akar pletekan segar berwarna cokelat dan setelah dikeringkan berubah

menjadi kerut dan berwarna kehitaman.

(a) (b)

Gambar 4.1 (a) akar Pletekan sebelum dikeringkan, (b) akar pletekan setelah
dikeringkan

Setelah kering, akar pletekan dihaluskan dengan menggunakan blender.

Proses penghalusan bertujuan untuk memperluas permukaan bidang kontak antara

sampel dengan pelarut. Semakin luas permukaan bidang kontak sampel maka proses

penarikan komponen senyawa aktif oleh pelarut akan semakin efektif pada saat

proses ekstraksi. Sampel berupa serbuk kemudian diayak untuk memperoleh ukuran

sampel yang benar-benar seragam sehingga proses ekstraksi dapat berlangsung secara

sempurna pada seluruh sampel. Semakin kecil ukuran sampel maka semakin besar

luas permukaannya dan interaksi kontak pelarut dalam ekstraksi semakin besar,

63
sehingga proses ekstraksi akan semakin efektif (Voight, 1995). Ukuran 60 mesh

merupakan ukuran yang sesuai untuk jenis sampel rimpang atau akar dalam proses

ekstraksi (Sembiring, 2005). Serbuk sampel ini yang kemudian akan digunakan untuk

penelitian tahapan selanjutnya.

4.2. Pembuatan Ekstrak Metanol Akar Pletekan (Ruellia Tuberosa L.)

Ekstraksi merupakan penarikan suatu zat kimia yang berada dalam sel oleh

pelarut yang dapat melarutkan zat tersebut. Ekstrak metanol akar pletekan diperoleh

dengan menggunakan metode ekstraksi cara dingin yaitu ekstraksi maserasi.

Ekstraksi maserasi adalah salah satu metode pemisahan senyawa dengan cara

perendaman menggunakan pelarut organik pada temperatur ruangan sehingga

mengurangi resiko terdegradasinya senyawa metabolit sekunder dalam sampel akibat

suhu yang tinggi.

Kelebihan dari metode ini adalah sederhana, relatif murah, tidak memerlukan

peralatan yang rumit, efektivitas ekstraksi cukup tinggi karena terjadi kontak antara

sampel dan pelarut yang cukup lama dan dapat menghindari kerusakan komponen

senyawa yang tidak tahan panas. Selain itu, dengan perendaman sampel akan terjadi

pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara didalam dan

diluar sel, sehingga senyawa metabolit sekunder yang ada dalam sitophlasma akan

ikut terlarut ke dalam pelarut sesuai dengan kelarutannya. Sedangkan kekurangan dari

metode ini adalah membutuhkan waktu yang lama untuk mencari pelarut organik

64
yang dapat melarutkan dengan baik senyawa yang akan diisolasi dan harus

mempunyai titik didih yang tinggi pula sehigga tidak mudah menguap (Voight, 1995).

Proses ekstraksi untuk memperoleh ekstrak metanol ini dilakukan dengan cara

maserasi mengggunakan 2 pelarut yang berbeda kepolarannya yaitu n-heksan yang

bersifat non polar dan metanol yang bersifat polar.

Tabel 4.1 Data Hasil Ekstraksi Pembuatan Ekstrak Metanol Akar Pletekan
(Ruellia Tuberosa L.) dengan Metode Maserasi.

Berat
Berat Larutan Volume Waktu Warna ekstrak
sampel pengekstrak pengekstrak ekstraksi ekstrak kental hasil
(gram) (mL) (mL) (hari) evaporasi
(gram)

500 n-heksan 1500 7 Merah -

- metanol 1500 10 Hitam Pekat 49,99

Proses ekstraksi maserasi menggunakan kain flanel. Sebelum diekstraksi,

mula-mula 500 gram serbuk Ruellia tuberosa L. dibasahi terlebih dahulu dengan

pelarut. Setelah itu sampel diikat dan diekstraksi menggunakan 1500 mL pelarut n-

heksan yang bersifat nonpolar untuk menarik senyawa-senyawa nonpolar yang ada

dalam sampel. Selama proses maserasi berlangsung, sampel dalam keadaan diikat

agar sampel yang berada dalam kain tidak keluar karena dapat mengakibatkan

perbedaan sifat antara sampel yang berada didalam dan diluar kain. Selain itu lebih

mempermudah dalam proses penyaringan dan dapat menghemat kertas saring.

Selanjutnya ampas hasil ekstraksi dengan n-heksan dikeringkan pada suhu kamar

untuk dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu ekstraksi dengan menggunakan 1500 mL

pelarut metanol yang bersifat polar. Menurut Arsyanti (2011), pelarut metanol

65
merupakan pelarut yang mampu menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga

sel yang mengandung zat aktif di dalam sel sehingga komponen yang diinginkan

dapat tersedak keluar. Proses ekstraksi dilakukan tanpa pengadukan sehingga proses

penarikan komponen dimaksimalkan dengan mengatur waktu perendaman. Semakin

lama waktu ekstraksi, maka kesempatan untuk bersentuhan akan semakin besar

sehingga hasil yang diperoleh juga akan bertambah sampai pada titik jenuh larutan.

Menurut Neolaka (2009), lama waktu perendaman serbuk 2-14 hari, semakin lama

waktu kontak pelarut dengan sampel maka hasilnya semakin baik. Proses perendaman

menggunakan pelarut n-heksan selama 7 hari sedangkan 10 hari menggunakan

pelarut metanol. Filtrat yang diperoleh dari hasil ekstraksi dengan pelarut n-heksan

berwarna merah sedangkan dengan pelarut metanol berwarna hitam pekat.

Gambar 4.2 (a) Ekstraksi dengan n-heksana (b) Ekstraksi dengan metanol

(a) (b) (c)

(c) Ampas hasil ekstraksi dengan metanol

Selanjutnya sampel berupa ekstrak metanol akar Ruellia tuberosa L.

dipekatkan dengan menggunakan rotary vacum evaporator untuk memperoleh

ekstrak metanol akar Ruellia tuberosa L. yang bebas pelarut. Rotary vacum

evaporator merupakan instrumen yang menggunakan prinsip destilasi sehingga

66
tekanan akan menurun dan pelarut akan menguap di bawah titik didihnya. Rotary

vacum evaporator sering digunakan dibandingkan alat lain karena mampu

menguapkan pelarut dibawah titik didih sehingga zat yang terkandung di dalam

pelarut tidak akan rusak oleh suhu tinggi sehingga pelarut metanol akan menguap

lebih cepat dibawah titik didihnya (650C). Ekstrak kental akar Ruellia tuberosa L.

berwarna merah kehitaman dengan berat 49,99 gram. Ekstrak kental yang diperoleh

kemudian digunakan untuk analisis selanjutnya yaitu uji fitokimia.

4.3. Uji Fitokimia

Uji fitokimia merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk membuktikan ada

tidaknya suatu senyawa tertentu dalam sampel. Uji fitokimia merupakan salah satu

langkah penting dalam upaya mengungkapkan potensi sumber daya obat. Hal ini

dilakukan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung

dalam ekstrak akar pletekan. Prinsip dasarnya adanya reaksi pengujian warna dengan

suatu reaksi warna (Kristanti, 2008). Hasil uji fitokimia ekstrak metanol Ruellia

tuberosa L. disajikan dalam tabel 4.2.

67
Tabel 4.2 Data Hasil Uji Fitokimia Ekstrak Metanol Akar Pletekan

No. Senyawa Pereaksi Warna Keterangan


Metabolit (+)(-)
Sekunder
1 Flavonoid Shibata Merah +
2 Fenolik FeCl3 10% Hijau kehitaman +++
3 Terpenoid Lieberman- -
Burchard

4 Steroid HCl 2% Hijau-biru +


5 Saponin Aquades Tidak ada busa -
Keterangan:
(+) = terdeteksi oleh pereaksi warna
(-) = tidak terdeteksi oleh pereaksi warna

Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa senyawa yang teridentifikasi adalah

senyawa metabolit sekunder golongan flavonoid, fenolik dan steroid. Ekstrak metanol

akar pletekan Ruellia tuberosa L. menunjukkan adanya senyawa senyawa flavonoid,

fenolik dan steroid karena dapat terlihat jelas perubahan warna yang terjadi pada

tabung reaksi.

4.3.1. Uji Flavonoid

Uji golongan senyawa flavonoid dilakukan dengan mereaksikan sedikit

ekstrak dengan beberapa tetes pereaksi shibata (amil-alkohol, serbuk magnesium dan

HCl pekat). Penambahan HCl dalam uji flavonoid digunakan untuk menghidrolisis

flavonoid menjadi aglikonnya. Glikosil akan tergantikan oleh H+ dari asam karena

sifatnya yang elektrofilik. Hasil pengujian fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak

metanol akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) mengandung senyawa flavonoid yang

68
ditandai dengan terbentuknya kompleks berwarna merah. Serbuk Mg dioksidasi

terlebih dahulu dengan HCl sehingga dapat terbentuk Mg2+ yang kemudian akan

membentuk kompleks berwarna merah. Senyawa kompleks ini dibentuk dengan

adanya ikatan kovalen koordinasi antara Mg2+ dengan atom O dari gugus OH fenolik

pada flavonoid (Dayanti dan Suyanto, 2013). Reaksi dugaan flavonoid dengan

pereaksi shibata ditunjukkan pada gambar 4.3.

O
OH Mg

OH O
O
OH

OH
O

(a) O O

Mg
MgCl2
OH O Cl Cl

Flavonoid Kompleks flavo-Mg (Merah)


(b)
Gambar 4.3 (a) Hasil uji fitokimia dengan pereaksi shibata (b) Mekanisme Reaksi
flavonoid dengan perekasi shibata (Markam, 1988).

4.3.2. Uji Fenolik

Uji golongan senyawa fenolik dilakukan dengan mereaksikan ekstrak metanol

akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) dengan beberapa tetes FeCl3 10%. Ekstrak

metanol akar Ruellia tuberosa L. menunjukkan hasil positif terhadap uji fenol. Hal ini

dibuktikan dengan terbentuknya warna hijau kehitaman yang menandakan positif

senyawa fenol. Terbentuknya warna hijau kehitaman ketika penambahan beberapa

tetes FeCl3 10% karena kemungkinan senyawa tanin membentuk kompleks dengan

ion Fe3+. Mekanisme reaksi senyawa fenol dengan FeCl3 ditunjukkan pada gambar 4.4.

69
-
O 3-

OH

+ 3HCl
3H+ + Fe
6
6
(a)
+ FeCl3

Kompleks dengan Fe3+ (hijau (b)


kehitaman)

Gambar 4.4 (a) Hasil uji fitokimia dengan pereaksi FeCl3 10%, (b) Mekanisme
reaksi senyawa fenol dengan FeCl3 (Siadi, 2012).

4.3.3. Uji Terpenoid

Uji reagen Lieberman-Burchard merupakan uji reagen yang spesifik pada

senyawa triterpenoid. Pereaksi Lieberman–Burchard merupakan campuran antara

asetat anhidrida dan H2SO4 pekat. Uji dilakukan dengan mengambil sedikit ekstrak

kemudian ditambahkan dengan beberapa tetes pereaksi Lieberman-Burchard. Hasil

pengujian fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol akar Ruellia tuberosa L.

negatif mengandung terpenoid karena tidak terbentuk cincin merah kecokelatan.

Hasil uji fitokimia ekstrak metanol akar Ruellia tuberosa dengan pereaksi Lieberman-

Burchard ditunjukkan pada gambar 4.5.

Gambar 4.5 Hasil uji fitokimia dengan pereaksi Lieberman-Burchard.

70
4.3.4. Uji Steroid

Uji steroid dilakukan dengan mereaksikan ekstrak metanol akar Ruellia

tuberosa L. dengan beberapa tetes asam sulfat dingin. Senyawa steroid akan

mengalami dehidrasi dengan penambahan asam kuat dan membentuk garam yang

memberikan sejumlah reaksi warna (Paul, 2002). Hasil positif adanya steroid

ditandai dengan terbentuknya warna hijau-biru. Hasil pengujian fitokimia

menunjukkan bahwa ekstrak metanol akar Ruellia tuberosa L. positif mengandung

steroid yang ditandai dengan terbentuknya warna hijau kehitaman. Mekanisme reaksi

pada steroid ditunjukkan pada gambar 4.6.

(a)

CH3COOH 2 O

OH -CH3COOH COCH3

Kolesterol

Asam-3-aseto-5-kolesterol sulfonat

71
-H2O
COCH3
COCH3 H2SO4 pekat SO2H

(b)
Gambar 4.6 (a) Hasil uji fitokimia dengan asam sulfat dingin (b) Mekanisme reaksi
senyawa steroid dengan asam sulfat dingin (Siadi, 2012).

4.3.5 Uji Saponin

Saponin merupakan zat yang memiliki senyawa aktif permukaan dan bersifat

sabun. Menurut Harborne (1978), uji reagen yang positif akan menimbulkan busa

yang mantap ketika dikocok dengan air, busa merupakan bukti adanya senyawa

saponin dalam ekstrak. Pada uji saponin bila ditambahkan dengan aquades maka akan

terbentuk busa/buih selama 15 menit. Timbulnya busa menunjukkan adanya glikosida

yang mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air yang terhidrolisis menjadi

glukosa dan senyawa lainnya (Marliana, 2005). Namun hasil pengujian menunjukkan

bahwa pada ekstrak metanol akar Ruellia tuberosa L. tidak terbentuk busa yang stabil

setelah ditambahkan aquades.

4.4. Pemisahan Komponen Senyawa Dengan Fraksinasi

Fraksinasi merupakan proses pemisahan senyawa metabolit sekunder

menggunakan pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda. Tujuan fraksinasi

adalah untuk memisahkan senyawa nonpolar yang terdapat dalam ekstrak. Pada tahap

ini, sebanyak 10 gram ekstrak metanol akar Ruellia tuberosa L. yang telah dipekatkan

72
disuspensi dengan 100 mL air panas dengan suhu 450C. Suspensi ekstrak dan air

panas kemudian dihomogenkan dengan cara diaduk. Penggunaan air panas dalam

proses ini adalah untuk mencegah terjadinya penggumpalan. Suhu air yang digunakan

tidak terlalu tinggi untuk mencegah terjadinya kerusakan senyawa aktif yang terdapat

didalamnya. Hasil suspensi kemudian dipartisi dengan corong pisah menggunakan

pelarut petroleum eter, etil asetat dan n-butanol.

Fraksi air-metanol dipartisi dengan pelarut n-butanol sebanyak 100 mL.

Campuran fase pelarut dimasukkan ke dalam corong setelah itu ditutup, dikocok

beberapa menit dan didiamkan hingga campuran terpisah dengan sendirinya. Lalu

keran dibuka untuk melepaskan tekanan berlebih dalam corong. Saat didiamkan,

terbentuk dua lapisan dimana lapisan bagian atas adalah fraksi n-butanol sedangkan

lapisan bagian bawah adalah fraksi air-metanol. Hal ini disebabkan karena kedua

pelarut memiliki massa jenis yang berbeda. Berat jenis n-butanol sebesar 0,81 g/cm 3

sedangkan air 1 g/cm3. Berat jenis n-butanol lebih kecil dari metanol-air sehingga

lapisan n-butanol berada dibagian atas dan lapisan air-metanol dibagian bawah.

Kedua lapisan kemudian dipisahkan dengan cara mengontrol kerannya. Proses

fraksinasi menggunakan pelarut n-butanol diulangi hingga diperoleh filtrat yang

jernih. Setelah itu, fraksi air-metanol yang diperoleh dipartisi lagi menggunakan

pelarut etil asetat sebanyak 100 mL. Saat didiamkan, terbentuk dua lapisan, fraksi

bagian atas adalah fraksi etil asetat sedangkan lapisan bagian bawah adalah fraksi air-

metanol. Berat jenis etil asetat 0,89 g/cm3. Berat jenis etil asetat lebih kecil dari air-

metanol sehingga lapisan etil asetat berada di atas sedangkan lapisan air-metanol

73
berada di bagian bawah. Selanjutnya fraksi air-metanol dipartisi sekali lagi dengan

menggunakan pelarut petroleum eter sebanyak 100 mL. Setelah didiamkan, terbentuk

pula dua lapisan dimana fraksi petroleum eter berada di bagian atas sedangkan fraksi

air-metanol berada dibagian bawah. Proses fraksinasi untuk setiap pelarut terus

diulangi hingga filtratnya jernih. Fraksi n-butanol dan etil asetat yang diperoleh

kemudian dievaporasi menggunakan rotary vacum evaporator untuk mendapatkan

ekstrak kental dari kedua fraksi. Hasil fraksinasi dapat dilihat pada gambar 4.7.

(a) Fraksinasi (b) Fraksinasi (c) Fraksinasi


dengan n-butanol dengan Etil Asetat dengan Petroleum
Eter

Gambar 4.7. Proses fraksinasi

Tabel 4.3 Data Hasil Evaporasi Fraksi n-butanol dan Etil Asetat Akar Pletekan
(Ruellia Tuberosa L.)
Berat ekstrak kental hasil
Hasil Fraksinasi Warna Fraksi evaporasi
(gram)
Fraksi n-butanol Cokelat kehitaman 0,6
Fraksi etil asetat Cokelat kehitaman 0,26

74
Setelah diperoleh ekstrak kental hasil fraksi, kemudian dilanjutkan dengan uji

fitokimia. Dalam analisis fitokimia kali ini, dilakukan pengujian terhadap senyawa

metabolit sekunder golongan flavonoid, fenolik dan steroid.

Untuk mengetahui keberadaan senyawa fenolik dalam fraksi n-butanol dan

etil asetat dalam akar Ruellia tuberosa L. maka dilakukan uji dengan mereaksikan

masing-masing fraksi n-butanol dan etil asetat akar Ruellia tuberosa L. dengan

beberapa tetes FeCl3 10%. Hasil positif adanya senyawa fenolat ditunjukkan dengan

terbentuknya senyawa kompleks berwarna hijau, biru, ungu, atau hitam. Hasil

pengujian fitokimia menunjukkan bahwa fraksi n-butanol dan etil asetat akar Ruellia

tuberosa L. positif mengandung senyawa fenolik karena terbentuk warna hijau

kehitaman (lihat reaksi pada halaman 70).

(a) (b)

Gambar 4.8 (a) Hasil Uji Fenolik Fraksi n-Butanol, (b) Hasil Uji Fenolik Fraksi Etil
Asetat

Uji flavonoid dilakukan dengan mereaksikan masing-masing fraksi dengan

pereaksi shibata. Kedua fraksi tersebut menunjukkan hasil yang negatif terhadap uji

karena tidak terbentuk kompleks berwarna merah atau jingga.

75
Uji steroid dengan beberapa tetes asam sulfat dingin memberikan hasil negatif

terhadap uji dimana kedua fraksi tidak menunjukkan perubahan warna menjadi hijau-

biru setelah ditambahkan pereaksi.

4.5. Identifikasi Komponen Senyawa Dengan KLT

Hasil uji fitokimia pada fraksi n-butanol dan etil asetat menunjukkan bahwa

akar pletekan Ruellia tuberosa L. mengandung senyawa fenolik. Pembuktian

kandungan senyawa fenolik diperkuat dengan adanya identifikasi menggunakan

kromatografi lapis tipis (KLT). Prinsip KLT yaitu perpindahan analit pada fase diam

karena pengaruh fase gerak (elusi). Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam

dan semakin sempit ukuran fase diam, maka efisiensi resolusinya kinerja KLT akan

semakin baik. KLT analitik digunakan untuk memperkuat hasil uji fitokimia dan juga

digunakan untuk mencari eluen terbaik dari beberapa eluen dalam pemisahan

senyawa fenolik. Eluen yang baik adalah eluen yang menghasilkan senyawa yang

dalam jumlah banyak yang ditandai dengan munculnya noda. Noda yang terbentuk

tidak berekor dan jarak antara noda satu dengan noda yang lainnya terlihat jelas

(Harborne, 1987). Penggunaan beberapa eluen diharapkan mampu memisahkan

senyawa-senyawa fenolik yang terdapat pada fraksi n-butanol dan etil asetat akar

pletekan (Ruellia tuberosa L.) dengan baik.

KLT yang digunakan terbuat dari silika gel dengan ukuran 8x2cm.

Penggunaan bahan silika karena pada umumnya silika digunakan untuk memisahkan

asam-asam amino, fenol, flavonoid, asam lemak, sterol dan terpenoid. Plat KLT silika

76
G60 F254 memiliki sifat yang polar dimana sebelum digunakan diaktivasi terlebih

dahulu dalam oven pada suhu 1000C selama 30 menit untuk menghilangkan kadar air

yang terdapat pada plat (Sastrohamidjojo, 2007). Setelah itu plat diberi tanda berupa

garis pada batas atas dari tepi atas plat sebesar 1,5 cm dan batas bawah dari tepi

bawah plat sebesar 2 cm. Kemudian masing-masing fraksi n-Butanol dan etil asetat

ditotolkan pada batas bawah yang telah dibuat menggunakan mikropipet lalu

dikering-anginkan. Diameter penotolan sekecil mungkin sehingga diperoleh hasil

yang optimal pada pemisahan KLT. Penotolan yang tidak tepat akan menyebabkan

noda yang menyebar dan puncak ganda (Gandjar, 2007). Selanjutnya, plat yang telah

ditotol dengan sampel dimasukkan ke dalam chamber yang berisi eluen dalam posisi

berdiri dan tidak terendam dalam eluen. Eluen akan bergerak sepanjang plat hingga

mencapai garis batas atas plat. Plat dikeluarkan dari chamber dan dikering-anginkan

dan diperiksa dibawah sinar UV pada panjang gelombang 366 nm untuk

menampakkan warna hasil pemisahan pada KLT.

Mekanisme pemisahan KLT analitik dimulai pada saat eluen tepat mengenai

spot sampel, sehingga dengan segera sampel akan berinteraksi dengan kedua fase

dengan prinsip like disolve like. Kemudian akan terjadi distribusi diantara kedua fase,

dimana senyawa yang polar akan lebih banyak terdistribusi di dalam fase polar

sedangkan senyawa yang non polar akan lebih banyak terdistribusi di dalam fase non

polar. Terjadinya pemisahan diakibatkan adanya salah satu komponen sampel yang

tertahan oleh fase diam dan yang lain terbawa oleh fase gerak. Perbedaan kecepatan

migrasi dari masing-masing komponen yang ditandai dengan adanya bercak atau

77
noda dengan nilai Rf yang berbeda. Rf berfungsi untuk menyatakan posisi noda pada

fasa diam setelah dielusi.

Tabel 4.4 Data Hasil Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis Fraksi Etil Asetat Akar
Pletekan
No. Nama Eluen Di Bawah Lampu UV

Jumlah Warna Spot Bentuk Rf


Spot Spot

1. Etil asetat : 1 kuning Bulat 0,84


n-heksana
1:4
2. Etil asetat : 2 I = kuning Bulat I= 0,73
n-heksana II = merah lembayong II= 0,95
3:1
3. Etil asetat : 1 Kuning Bulat 0,26
n-heksana
4:1

4. Etil asetat : 2 I = kuning Bulat I= 0,55


n-heksana II = merah lembayong II= 0,66
3:2

Hasil Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis terhadap 4 variasi eluen yang

digunakan untuk memisahkan senyawa fenolik pada fraksi etil asetat akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.) menunjukkan bahwa masing-masing noda yang terbentuk

berwarna kuning dan merah lembayong dengan variasi eluen terbaik adalah eluen etil

asetat:n-heksana dengan perbandingan 3:2 yang ditunjukkan dengan hasil spot

sebanyak 2 spot dengan nilai Rf yang memiliki rentangan tidak terlalu jauh dan spot

yang terbentuk bulat serta tidak berekor.

Tabel 4.5 Data Hasil Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis Fraksi n-Butanol Akar Pletekan
No. Nama Eluen Lampu UV 366 nm

78
Jumlah Warna Bentuk Rf
Spot Spot Spot
1. BAA 1 Kuning Bulat 0,82
4:1:5
2. BAA 1 Kuning Bulat 0,82
3:1:5
3. BAA 1 Kuning Bulat 0,8
6:1:3
4. BAA 1 Kuning Bulat 0,82
7:1:2
5. BAA 1 Kuning Bulat 0,82
5:2:3

Hasil Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis terhadap 5 variasi eluen yang

digunakan untuk memisahkan senyawa fenolik pada fraksi n-butanol akar pletekan

(Ruellia tuberosa L.) menunjukkan bahwa variasi eluen terbaik adalah eluen BAA

dengan perbandingan 6:1:3 yang ditunjukkan dengan hasil spot sebanyak 1 spot

dengan nilai Rf 0,8 dengan bentuk spot yang tidak berekor. Eluen BAA dipilih

sebagai fase geraknya ketiga pelarut ini memiliki kepolaran yang berbeda, dimana

asam asetat memiliki kepolaran yang rendah, n-butanol memiliki kepolaran sedang

dan air yang memiliki kepolaran paling tinggi. Perbedaan tingkat kepolaran ini dapat

memungkinkan untuk terjadinya pemisahan beberapa golongan fenol yang memiliki

tingkat kepolaran yang berbeda (Radjah, 2013).

79
4.6. Pemisahan Komponen Senyawa Dengan KLT Preparatif

Eluen terbaik dari hasil identifikasi dengan kromatografi lapis tipis (KLT)

digunakan untuk pemisahan fenol pada kromatografi lapis tipis preparatif (KLTP).

Tujuan dilakukannya KLTP adalah untuk mendapatkan isolat yang lebih banyak.

Plat yang digunakan untuk KLTP adalah plat KLT berukuran 20x20 cm.

Fraksi n-Butanol dan etil asetat masing-masing ditotolkan sepanjang plat dengan

jarak 2 cm dari tepi bawah plat. Plat kemudian dielusi dengan menggunakan eluen

terbaik hasil KLT yaitu eluen etil asetat:n-heksana dengan perbandingan 3:2 untuk

fraksi etil asetat dan eluen BAA dengan perbandingan 6:3:1 untuk fraksi n-butanol.

Proses elusi memakan waktu yang cukup lama dimana hal ini merupakan salah satu

kelemahan dari plat silika gel. Setelah plat dielusi, plat lalu dikeluarkan dan

dikeringkan pada suhu ruang dan noda-noda yang terbentuk diamati dibawah sinar

UV dengan panjang gelombang 366 nm.

Tabel 4.6 Data Hasil Pemisahan Kromatografi Lapis Tipis Preparatif Fraksi Etil Asetat
dan n-Butanol
No. Nama Eluen Hasil
Fraksi Jumlah Bentuk Warna Harga Rf
Spot Spot Spot
1. Etil Asetat etil 2 Pita Kuning I= 0,69
asetat:n- II = 084
heksana
30:20
2. n-Butanol BAA 1 Pita Kuning 0,74
60:30:10

Dari hasil pengamatan terhadap 2 fraksi tersebut diperoleh noda berwarna

kuning dan berbentuk pita sebanyak 2 pita pada fraksi etil asetat dan 1 pita pada

80
fraksi n-butanol dengan harga Rf masing-masing adalah 0,69 dan 0,84 untuk fraksi

etil asetat dan 0,74 untuk fraksi n-butanol. Pita-pita yang terbentuk pada plat

kemudian dikerok dan dilarutkan dalam metanol, lalu disaring untuk memisahkan

larutan dengan silika gel sehingga diperoleh hasil saringan berupa isolat.

4.7. Identifikasi Senyawa Spektrofotometer UV-Vis

Spektrofotometer UV-Vis adalah teknik analisis spektroskopi yang

menggunakan sumber radiasi elektromagnetik dan sinar tampak dengan

menggunakan instrumen yang digunakan untuk memperkuat dugaan hasil uji

fitokimia serta menentukan secara deskriptif senyawa yang diperoleh dari pemisahan

menggunakan KLT preparatif. Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan spektrum

UV-Vis menunjukkan bahwa pada isolat I fraksi etil asetat menghasilkan beberapa

pita serapan yaitu pada panjang gelombang 213 nm, 296 nm (λmaks) dan 347 nm

sedangkan isolat II menghasilkan 2 pita pada serapan 296 nm (λ maks) dan 347 nm,

yang ditunjukkan pada gambar 4.9.

(a)

81
(b)
Gambar 4.9 Spektrum UV isolat Fraksi Etil Asetat (a) isolat I (b) isolat II

Berdasarkan data panjang gelombang yang dihasilkan, senyawa yang diduga

terdapat dalam isolat I dan II fraksi etil asetat adalah kumarin yang termasuk dalam

gologan fenil propanoid. Hal tersebut dapat dilihat dari panjang gelombang maksimal

yang dihasilkan memiliki data yang mirip dengan skopeletin yang berhasil diisolasi

dari tanaman Artemisia annua (L.) dengan panjang gelombang maksimal pada 210

nm, 230 nm, 298 nm dan 346 nm (Isnawati, 2008). Selain itu, Nuerlelasari dkk

(2014), pada penelitiannya mengenai kulit batang Chisochetonmacrophyllus

(Maliaceae) juga memberikan data yang mirip dimana panjang gelombang maksimal

yang terukur berada pada 345 nm, 295 nm, 224 nm dan 204 nm.

Hasil analisis dengan spektrum UV-Vis menunjukkan bahwa isolat fraksi n-

butanol menghasilkan 2 puncak dengan serapan maksimum pada 290,00 nm dan

296,00 nm. Grafik panjang gelombang isolat fraksi n-butanol ditunjukkan pada

gambar 4.10.

82
Gambar 4.10 Spektrum UV isolat Fraksi n-Butanol

Data UV-Vis menunjukkan adanya pita I dan pita II, maka isolat tersebut

mengandung ikatan rangkap sehingga terlihat adanya konyugasi yang menyebabkan

terjadinya serapan pada pita. Berdasarkan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh

Linn dkk (2006) melaporkan bahwa salah satu senyawa yang berhasil diisolasi dari

daun tumbuhan Ruellia tuberosa L. adalah asam vanilik dengan panjang gelombang

290 nm. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Wulan (2015) juga menunjukan

bahwa asam p-kumarat yang digunakan sebagai pembanding juga menyerap pada

panjang gelombang 290 nm sehingga isolat diduga mengandung senyawa golongan

fenol. Namun dari kedua grafik masih dapat terlihat puncak-puncak kecil yang

menandakan bahwa senyawa yang dipisahkan dari kedua fraksi belum benar-benar

murni.

83
4.8. Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Butanol Dan Etil Asetat Akar Pletekan

(Ruellia tuberosa L.) Terhadap Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus

aureus

Uji aktivitas antibakteri adalah teknik pengujian untuk mengukur seberapa

besar potensi atau konsentrasi suatu senyawa dalam memberikan efek bagi

mikroorganisme (Dart, 1996). Metode yang sering digunakan untuk mengetahui

aktivitas antibakteri dari senyawa metabolit sekunder dalam hal ini golongan senyawa

fenolik yang berhasil diisolasi terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphyloccocus

aureus adalah metode difusi agar. Metode ini merupakan metode yang paling umum

digunakan karena selain mudah dan murah, hasil yang diperoleh juga cukup teliti.

Bakteri yang dipilih untuk digunakan dalam penelitian ini adalah bakteri

Escherichia coli yang mewakili kelompok bakteri gram positif dan Staphyloccocus

aureus yang mewakili kelompok gram negatif. Penggunaan kedua bakteri ini

bertujuan untuk mengetahui daya hambat senyawa antibakteri yang terkandung dalam

ekstrak terhadap bakteri gram positif maupun negatif karena kedua bakteri ini

memiliki perbedaan terutama pada struktur dinding selnya.

Hasil fraksi yang telah dipekatkan dibuat dalam beberapa variasi konsentrasi

menggunakan metode pengenceran bertingkat. Proses pengenceran dilakukan dengan

menggunakan aquades dengan variasi konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm dan

1000 ppm. Hal ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi yang paling aktif dalam

menghambat pertumbuhan bakteri dengan zona hambat yang paling besar.

Pengenceran menggunakan aquades bertujuan agar pelarut seperti metanol, etil asetat

84
dan petroleum eter tidak berpengaruh terhadap hasil uji karena aquades yang bersifat

netral. Selain itu dalam penelitian ini digunakan dua medium yaitu nutrient broth dan

medium mueller hington agar. Kedua medium ini merupakan medium yang paling

umum digunakan untuk semua jenis bakteri karena media ini bukan merupakan media

selektif oleh sebab itu semua jenis bakteri dapat tumbuh dengan baik pada medium

ini. Medium ini dapat berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, memperbanyak

jumlah, menguji sifat fisiologi dan perhitungan jumlah mikroba sehingga selama

proses pembuatan medium hingga penggunaan medium untuk pengujian, semua

medium ditutup dengan kapas dan alumunium foil serta alat-alat yang digunakan

disterilkan menggunakan autoklaf selama 1 jam pada suhu 1500C agar semua bahan

dan alat terbebas dari bakteri pengganggu yang dapat mempengaruhi hasil uji.

Salah satu hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-butanol dan atil asetat yang

mengandung senyawa fenolik terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphyloccocus

aureus menggunakaan metode difusi agar dapat dilihat pada gambar 4.11.

(a) (b)

85
(c) (d)

Gambar 4.11 Hasil uji akivitas antibakteri isolat pada (a) fraksi n-butanol
dengan bakteri uji E. coli, (b) fraksi n-butanol dengan bakteri uji S. Aureus, (c) fraksi
etil asetat dengan bakteri uji E. coli, (d) fraksi etil asetat dengan bakteri uji S. aureus
pada pengulangan I.

Hasil yang diperoleh pada gambar 4.10 menunjukkan aktivitas antibakteri

pada ulangan pertama kedua fraksi terhadap kedua bakteri uji dengan aquades sebagai

kontrol negatif dan amoxilin sebagai kontrol positif. Natheer (2012) menyebutkan

bahwa kontrol negatif adalah pelarut yang digunakan sebagai pengencer ekstrak,

tujuannya agar kontrol negatif tidak mempengaruhi uji aktivitas ekstrak. Selain itu

digunakan antibiotik sinetik amoxilin sebagai kontrol positif karena spektrumnya luas

dimana dapat menghambat bakteri baik bakteri gram positif maupun bakteri gram

negatif. Zona bening yang terbentuk mengindikasikan adanya hambatan terhadap

bakteri oleh antibiotik pada permukaan media agar. Kerusakan pada bakteri yang

disebabkan oleh senyawa antibakteri yang bersifat dapat membunuh bakteri

(bakterisidal) dan menghambat bakteri (bakteriostatik). Senyawa antibakteri yang

86
bersifat bakterisidal dapat menyebabkan kerusakan permanen dan tidak dapat pulih

kembali dengan merusak satu persatu bakteri yang menginfeksi dengan cara

menghancurkan dinding sel bakteri sehingga bakteri tersebut mati. Sedangkan

senyawa antibakteri yang bersifat bakteriostatik bekerja dengan cara menekan

perkembangan serta pertumbuhan bakteri sehingga hanya dapat menyebabkan

kerusakan sementara dimana bakteri dapat tumbuh kembali dengan kemampuan

pemulihan yang bergantung pada efektivitas senyawa antibakteri yang terkandung.

Berdasarkan warna zona hambat yang terlihat menunjukan bahwa terbentuk dua

daerah yaitu daerah dengan warna yang buram dan bening. Apabila daerah zona

hambat yang terbentuk berwarna bening menunjukkan bahwa bakteri yang ada pada

zona tersebut terbunuh sedangkan jika berwarna buram menunjukan bahwa bakteri

pada zona hambat tersebut hanya terhambat sehingga dapat tumbuh kembali

(Loasana, 2015). Data hasil pengukuran zona hambat disajikan pada tabel 4.7.

87
Tabel 4.7a Luas zona hambat fraksi n-butanol terhadap bakteri
Escherichia coli dan Staphyloccocus aureus
Luas Zona Hambat n-Butanol (mm)
Konsentrasi
No Isolat
Escherichia coli Σӯ Staphyloccocus Σӯ
(ppm)
(E. coli) aureus (S. aureus)

I II III I II III
1. K+ 17 17.4 17 17.13 17.4 17 16.7 17.03

2. K- 10.4 10.7 10.4 10.5 10.4 10 10.4 10.27

3. 100 12.6 13 13.3 12.97 13 12.6 13 12.87

4. 200 14.4 14.1 14.8 14.43 13.7 13.7 14 13.93

5. 500 15.6 15.2 15.9 15.57 14.8 14.1 15.6 14.83

6. 1000 16.3 16.3 16.7 16.43 16.3 16.3 16.3 16.3

K+ = kontrol positif (antibiotik amoxilin 3.000 ppm) / K- = kontrol negatif (aquades)

Tabel 4.7b Luas zona hambat fraksi etil asetat terhadap bakteri Escherichia
coli dan Staphyloccocus aureus
Luas Zona Hambat Etil asetat (mm)

Konsentrasi
No Isolat Escherichia coli Σӯ Staphyloccocus Σӯ
(ppm) (E. aureus (S. aureus)
coli)
I II III I II III
1. K+ 17.4 17 17 17.13 17 17 17 17

2. K- 10 10.4 10 10.13 10.7 10.7 10 10.47

3. 100 13.3 13.7 12.2 13.07 13.3 13.3 13.3 13.3

4. 200 14.4 14.8 13.7 14.3 14.4 14.8 14.4 14.53

5. 500 15.6 15.9 14.8 15.43 15.2 15.9 15.2 15.43

6. 1000 16.7 16.3 16.7 16.57 16.7 17 16.7 16.8

K+ = kontrol positif (antibiotik amoxilin 3.000 ppm) / K- = kontrol negatif (aquades)

88
Berdasarkan zona hambat yang terbentuk dari tabel diatas dapat diketahui

bahwa seluruh hasil yang diperoleh baik dari fraksi n-butanol maupun etil asetat

memiliki aktivitas antibakteri. Hal ini dapat dilihat dari diameter zona hambat yang

dihasilkan lebih besar dari zona hambat yang dihasilkan oleh kontrol negatif. Hasil

yang diperoleh untuk masing-masing fraksi memiliki aktivitas yang kuat. Hal ini

sesuai dengan pernyataan Morales et., al (2003), yaitu aktivitas antibakteri oleh bahan

aktif dikelompokkan menjadi 4 kategori, yaitu aktivitas lemah (>5 mm), sedang (6-10

mm), kuat (11-20 mm) dan sangat kuat (<20 mm). Hasil yang diperoleh terhadap

empat konsentrasi yaitu 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm dan 1000 ppm juga

memperlihatkan bahwa semakin tinggi konsentrasi, maka semakin besar zona hambat

yang terbentuk terhadap kedua bakteri uji baik gram positif maupun gram negatif

dimana aktivitas antibakteri paling besar terlihat pada konsentrasi 1000 ppm. Hal ini

sesuai dengan pendapat dari Pelchzar dan Chan (1988) yang menyatakan bahwa

semakin tinggi konsentrasi suatu antibakteri maka aktivitas antibakterinya juga

semakin kuat pula. Hasil ini didukung oleh pernyataan Pratawa dan dewi (2008),

bahwa efektivitas suatu zat antibakteri dipengaruhi oleh konsentrasi zat tersebut.

Meningkatnya konsentrasi zat menyebabkan meningkatnya kandungan senyawa aktif

yang berfungsi sebagai antibakteri, sehingga kemampuannya dalam membunuh suatu

bakteri juga semakin besar. Kemampuan dari masing-masing fraksi memiliki

efektivitas sebagai antibakteri juga didukung oleh kandungan zat aktif yang

terkandung dalam ini. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Manikandan dan Doss

(2010) bahwa Ruellia tuberosa L. mengandung flavonoid, glikosida, fenol, saponin

89
dan nutrisi. Kandungan senyawa metabolit sekunder dari akar pletekan dan

komponen penyusun bakteri E. coli dan S. aureus berhubungan erat dengan

mekanisme antibakteri senyawa metabolit sekunder tersebut.

Berdasarkan uji fitokimia terhadap kedua fraksi menunjukkan bahwa

keduanya positif mengandung senyawa fenolik. Mekanisme kerja fenol sebagai

antibakteri yaitu dengan mendenaturasi protein sel.


H H
H H

O
(H2O)
C
H2N C C + H N COOH H2 N C C N C COOH + H2 O
OH
R1 H R2
H R2
R1

ikatan peptida

Protein merupakan makromolekul yang tersusun atas rantai-rantai panjang

asam amino yang saling berikatan melalui ikatan peptida. Ikatan peptida adalah

ikatan antara dua molekul asam amino. Protein mempunyai struktur spesifik dan

kompleks. Struktur protein memegang peranan penting dalam menentukan aktivitas

biologisnya. Denaturasi protein adalah kondisi dimana struktur sekunder, tersier

maupun kuartener dari suatu protein mengalami modifikasi tanpa ada pemecahan

ikatan peptida. Protein yang terdenaturasi memiliki struktur yang tidak teratur

sehingga menyebabkan perubahan yang drastis dalam molekul protein dan membuat

protein hampir selalu kehilangan fungsi biologisnya. Turunan senyawa fenol dapat

menyebabkan denaturasi protein melalui proses adsorpsi yang melibatkan ikatan

hidrogen. Pada kadar rendah, terbentuk kompleks protein-fenol dengan ikatan lemah

90
dan segera mengalami penguraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel dan

menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar tinggi, fenol

menyebabkan koagulasi protein dan sel membran mengalami lisis, mengubah

permeabilitas membran bakteri (Siswandono dan Soekarjo, 2000)

Fraksi n-butanol dan etil asetat dikatakan memiliki spektrum luas karena

dapat menghambat kedua bakteri uji. Konsentrasi dengan aktivitas antibakteri paling

besar terhadap kedua bakteri yaitu pada konsentrasi 1000 ppm dengan besar diameter

rata-rata penghambatan fraksi n-butanol terhadap pertumbuhan bakteri E. coli sebesar

16,43 mm sedangkan terhadap bakteri S. aureus sebesar 16,3 mm. Besar diameter

rata-rata penghambatan fraksi etil asetat terhadap pertumbuhan bakteri E. coli sebesar

16,57 mm sedangkan terhadap bakteri S. aureus sebesar 16,8 mm.

Fraksi n-butanol dan etil asetat masing-masing memberikan perbedaan

aktivitas terhadap kedua bakteri dimana pada fraksi n-butanol diameter

penghambatan pertumbuhan terhadap bakteri E. coli lebih besar daripada bakteri S.

aureus sedangkan pada fraksi etil setat diameter penghambatan pertumbuhan

terhadap bakteri E. coli lebih kecil daripada bakteri S. aureus. Hasil fraksinasi

menunjukkan bahwa fraksi etil asetat yang diperoleh lebih banyak daripada fraksi n-

butanol sehingga diasumsikan bahwa senyawa yang bersifat semipolar lebih banyak

tertarik dalam fraksi etil asetat. Namun, pada umumnya bakteri dari kelompok gram

negatif lebih sulit dihambat pertumbuhannya daripada bakteri dari kelompok gram

positif. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan struktur dinding sel dari kedua bakteri

tersebut. Fungsi utama dinding sel adalah memberikan struktural yang kaku dan kuat

91
untuk mempertahankan keutuhan sel sehingga dinding sel bakteri yang tebal sukar

untuk dirusak (Peleczar dan Chan, 1986; Volk dan Wheleer, 1993). Pada bakteri

kelompok gram negatif, memiliki struktur dinding sel yang lebih kompleks yaitu

adanya lipoprotein, membran luar dan lipopolisakarida yang saling berikatan.

Strukturnya dinding selnya lebih tipis yang terdiri dari peptidoglikan (10%) dan lipid

(11-22%). Selain itu, mempunyai membran luar berupa bilayer yang berfungsi untuk

menjaga bentuk sel dan permeabilitas selektif. Tidak memiliki asam teikoat tetapi

memiliki lipopolisakarida terikat pada membran luar dengan ikatan hidrofobik.

Sedangkan pada kelompok bakteri gram positif, struktur dinding selnya lebih

sederhana yaitu memiliki dinding sel yang tebal dengan lebih banyak peptidoglikan

(60-100%), sedikit lipid (1-4%) dan dinding selnya mengandung polisakarida (asam

teikoat). Pada bakteri Staphyloccocus aureus memiliki lapisan asam teikoat

(polisakarida) yang merupakan polimer larut dalam air dan bersifat polar serta

memiliki fungsi fisiologis sebagai pengatur dan penjaga bentuk bakteri, dengan

mengontrol enzim-enzim yang mensintesis peptidoglikan serta protein-protein yang

menyatukan komponen-komponen penyusun dinding sel bakteri gram positif (Brown

et., al, 2014).

Bakteri gram positif dan bakteri gram negatif memiliki ketahanan yang

berbeda terhadap senyawa antimikroba karena perbedaan struktur dinding sel. Pada

umumnya pertumbuhan bakteri gram positif cenderung lebih mudah dihambat

daripada pertumbuhan gram negatif, kecuali pada fraksi etil asetat ini. Bakteri gram

positif umumnya lebih sensitif terhadap senyawa antimikroba yang bersifat polar

92
karena dinding sel bakteri gram positif yang bersifat polar sehingga lebih mudah

dilewati oleh senyawa antimikroba yang bersifat polar. Sebaliknya dari bakteri gram

negatif, bakteri gram negatif lebih sensitif terhadap senyawa antimikroba yang

bersifat non polar. Kesensitifan bakteri terhadap senyawa antimikroba yang bersifat

non polar disebabkan komponen terbesar penyusun dinding sel bakteri gram negatif

adalah peptidoglikan yang salah satu penyusunnya adalah asam amino alanin yang

bersifat hidrofobik/non polar. Hal inilah yang menyebabkan dinding sel bakteri gram

negatif menjadi lebih mudah dilewati atau diserang oleh senyawa antimikroba yang

bersifat non polar.

Berdasarkan hasil penelitian, fraksi n-butanol dan etil asetat dari akar pletekan

ini merupakan antibakteri karena dapat merusak sel bakteri serta memiliki daya

hambat yang kuat. Untuk melihat pengaruh konsentrasi yang ditimbulkan terhadap

daya hambat yang dihasilkan, maka dilakukan uji hipotesis menggunakan analisis

varian satu jalur. Tabel penolong untuk anova satu jalur dapat dilihat pada tabel 4.7.

Tabel. 4.8a Tabel Ringkasan Anova Satu Jalur Untuk Fraksi n-Butanol
Terhadap Bakteri E. coli
SV Dk Jumlah Kuadrat Mean Kuadrat Fhitung
(JK) (MK)
Ant 5 90,496 18,099
Dal 12 1,013 0,084 214,333
Tot 17 91,509

93
Tabel. 4.8b Tabel Ringkasan Anova Satu Jalur Untuk Fraksi n-Butanol
Terhadap Bakteri S. aureus
SV Dk Jumlah Kuadrat Mean Kuadrat Fhitung
(JK) (MK)
Ant 5 90,476 18,095
Dal 12 1,193 0,159 133,489
Tot 17 92,389

Tabel. 4.8c Tabel Ringkasan Anova Satu Jalur Untuk Fraksi etil asetat
Terhadap Bakteri E. coli
SV Dk Jumlah Kuadrat Mean Kuadrat Fhitung
(JK) (MK)
Ant 5 99,649 19,930
Dal 12 2,793 0,233 85,618
Tot 17 102,443

Tabel. 4.8d Tabel Ringkasan Anova Satu Jalur Untuk Fraksi etil asetat
Terhadap Bakteri S. aureus
SV Dk Jumlah Kuadrat Mean Kuadrat Fhitung
(JK) (MK)
Ant 5 90,218 18,044
Dal 12 0,820 0,068 264,052
Tot 17 91,038

Kriteria pengujian bila harga Fhitung lebih kecil atau sama dengan Ftabel maka (Fh

≤ Ft) H0 diterima. Untuk distribusi F yang digunakan diambil dk pembilang = (m-

1);6-1=5, dk penyebut = (N-m);18-6=12 dan taraf nyata (α)= 0,05, didapatlah nilai

Ftabel= 3,11. Sehingga untuk kedua bakteri ini, Ftabel < Fhitung, maka H0 ditolak dan H1

diterima, sehingga dapat diketahui bahwa terlihat dengan jelas adanya pengaruh yang

signifikan antara konsentrasi fraksi dengan luas zona hambat pertumbuhan bakteri.

94
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Senyawa metabolit sekunder yang berhasil diisolasi dari fraksi n-butanol dan

etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) adalah senyawa fenolik.
2. Fraksi n-butanol dan etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) memiliki

aktivitas penghambatan yang kuat dalam menghambat pertumbuhan bakteri

E. coli maupun S. aureus. Besar diameter zona hambat yang terbentuk pada

konsentrasi 100, 200, 500 dan 1000 ppm berturut-turut fraksi n-butanol

terhadap bakteri E. coli 12.97 mm, 14.43 mm, 15.57 mm, 16.43 mm

sedangkan terhadap bakteri S. aureus 12.87 mm, 13.93 mm, 14.83 mm, 16.3

mm. Besar diameter zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 100, 200,

500 dan 1000 ppm berturut-turut fraksi etil asetat terhadap bakteri E. coli

13.07 mm, 14.3 mm, 15.43 mm, 16.57 mm sedangkan terhadap bakteri S.

aureus 13.3 mm, 14.53 mm, 15.43 mm, 16.8 mm.

5.2. Saran

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengkarakterisasi isolat dari

fraksi etil asetat dan n-butanol akar pletekan (Ruellia tuberosa L.) dengan

menggunakan analisis FT-IR, NMR dan GC-MS sehingga dapat ditetapkan

strukturnya.

95
DAFTAR PUSTAKA

Adhwyah, Robiatul. 2008. Pengolahan Dan Penawetan Ikan. Edisi pertama. Jakarta:
PT. Bumi Aksara.

Ahmad, Aktsar. 2012. Isolasi dan Elusidasi Struktur Antioksidan dan Penghambatan
Enzim Xantin Oksidase Ekstrak Daun Pletekan (Ruellia tuberosa L). Tesis.
Depok: Universitas Indonesia.

Amri, Adam. 2014. Uji Aktivitas Antidiabetes Dari Ekstrak Etanol 70% Tumbuhan
Pecah Beling Hutan (Ruellia tuberosa L). Menggunakan Metode
Penghambatan Enzim α-Glukosidase secara In-Vitro. Skripsi. Jakarta:
Universitas Islam Negeri Sarif Hidayatullah.

Anonim1. 2008. Larva Udang Artemia salina Leach. From : URL:


http://www.blogspot.com

Anonim2. 2011. Uji Toksisitas. Avalaible from: URL: http://forum.vivanews.com.


Diakses 4 Oktober 2016

Anonim3.2006. Metode Brine shrimp Lethality Test. Avalaible from :URL:


http://wahanagaharu.blogspot.com.

Braud, G. S., M.S. Sangi & H.S.J Koleangan. 2014. Analisis Senyawa Metabolit
Sekunder dan Uji Toksisitas Ekstrak Tanol Batang Tanaman Patah Tulang
(Euphorbia Tirucalli L.) Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).
14(2) :106-110.

Bria, H. 2011. Uji Aktivitas Antimikroba Dan Uji Fitokimia Ekstrak Etanol Pada
Kulit Buah Ketapang (Terminalia catappa). Skripsi. Kupang: FKIP Undana.

Brown, S., Santa Maria, J. P., & Walker S. 2013. Wall Teichoic Acids of Gram-
Positive Bachteria. Annu. REV. Microbiol. 2013; 67: doi:10.1146/annurev-
micro-092412-155620.

Chaitanya, B. Khrisna, Atigari, Diana Vivian,. Babu, S. Ravindra, Ravella, Alekhya.,


Vardhan, Jayasree. 2012. Hypolipidemic and Antioksidant Activity of Ruellia
tuberosa L. International Journal of Pharmacy an Biological Science.

96
Chotani, D.L., Patel, M.B., & Mishra, S.H,. 2012. HPTLC Fingerprint Profile and
Isolation of Marker Compound of Ruellia tuberossa. Chromatoghraphy
Research Iternational, 2012, 18013.

Chusnie, T.T.P., and Lamb, A.J., 2005. Antimicrobial Activity of Flavonoid.


International Journal of Antimicrobial Agents, 26: 343-356.

Dalimunthe, A. 2009. Interaksi sambiloto (Andrographis paniculata Ness.). Medan:


Departemen Farmakologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

Dart, R. K. 1996. Microbiology Of The Analitical Chemist. The Royal Society Of


Chemistry: London.

Dayanti, R., Suyatno. 2012. Acivities Antioxidant Methanol Plant Extract Nails
Nephrolepis Radicans (Burm) Kuhn. UNESA Journal of Chemistry, Vol.1.
No.1, May 2012.

Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakara: Djambatan.

Fardiaz, S. 1992. Mikrobiologi Pangan. PT. Gramedia PustakamUtama, Jakarta.

Gandjar, I. G dan Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Hanafi, U. 2000. Terpenoid (Kursus Singkat Teknik Ekstraksi, Isolasi dan Identifikasi
Komponen Kimia Tumbuhan yang Berkhasiat Obat). Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi-Departemen Pendidikan Nasional.

Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisa


Tumbuhan. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

Isnawati, A., Harfiah, M., Kamilatunisah. 2008. Isolasi dan Identifikasi Senyawa
Kumarin dari Tanaman Artemisia annua (L). Media Litbang Kesehatan No.8.

Jarukamjorn, K., Nemoto, N., Pharmacological aspect of Andrographis paniculata


on health and its major diterpenoid constituent Andographolide. Journal of
Health Sciences, 2008;54:370-81.

Kementrian Lingkungan Hidup. 2010. Status Lingkungan Hidup Indonesia. Jakarta:


KLH.

Kristanti, A. N., Aminah, N. S., Tanjung, M., Kurnia, B. 2008. Buku Ajar Fitokimia.
Surabaya: Universitas Airlangga.

97
Lenny, S. 2006. Isolasi Dan Uji Bioaktivitas Kandungan Kimia Utama Puding
Merah Dengan Metode Uji Brine Shrimp,. Muntingia calabura leaves: the
role of a pioid receptors. Med Princ Pracyt. Sumatera Utara: USU respository.

Lin, et al. 2006. Bioactive Flavonoids From Ruellia tuberosa. Jurnal. Taiwan:
Department of Chemistry, National Taiwan Normal University.

Loasana, Elsa. 2015. Identifikasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa Metabolit
Sekunder Ekstrak Metanol Daun Gaharu (Gyripnops vesteegii). Skripsi.
Kupang: Fkip Kimia Universitas Nusa Cendana.

Manikandan, A., Victor Arokia Doss D. Evaluation of Biochemical


Contents,Nutritional Value, Trace Elements, SDSPAGE and HPTLC Profiling
in The Leaves of Ruellia tuberosa L. and Dipteracanthus Patulus (Jacq). J.
Chem. Pharm. Res., 2010, 2(3): 295-303.

Markham, K., R. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavonoida. Terjemahan Kosasih, P.


Bandung: Penerbit ITB. Hal.1, 10, 5.

Marliana, S. D., & Suryanti, V. 2005. Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatografi
Lapis Tipis Komponen Kimia Buah Labu Siam (Sechiumedule jacq swartz)
dalam Ekstrak Etanol. Biofarmasi, 3(1) 26-31. Retrieved from
Http://biosains.mipa.uns.ac.id/F/F0301/F030106.pdf

Md Abdul Kader., Parvin Shumaia., Md Aktar Uzzaman Chowduri., Md Ekramul


Haque. 2012. Antibacterial, Antifungal and Insecticidal Activities Of Ruellia
tuberosa L. Root Extract. J-Bio-Sci. Department Of Pharmacy. University of
Rajashahi. 20:91-97.

Morales,. G, P. Sierra, Mancilla, A. Paredes, L.A., Loyola, O. Gallardo, and J.


Bourquez. 2003. Secondary Metabolits of four Medical Plantas from Nothera
Chiles, antimicrobyal activity, and biotoxity againts Artemia Salina. J. Chile
Chem 48(2):35-41.

Natheer, S. E., C. Sekar., P. Amutharaj., M. Syed Abdul Rahman and K. Keroz Khan.
2012. Evaluation of Antibacterial Activity of Morinda cirfolia, Vitex trifolia
and Chromalaena odorata. African journal of Pharmacy and Pharmacology.
Vol 6(11),pp 783-788.

Ndae, Rosalinda. 2015. Isolasi Senyawa Metabolit Sekunder dan Uji Toksisitas
dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Kupang: Fkip Kimia
Undana.

98
Ni Wayan,O.A.C.Dewi. 2009. Perbandingan Komposisi Kimia Cashew Nut Shell
Liquid (CNSL) yang Dihasilkan Melalui Metode Maserasi dan Melalui
Soxhletasi dengan Pelarut Etanol. Skripsi. Kupang: FKIP Kimia Universitas
Nusa Cendana.

Nurlelasari., Muflihah. L.F., Wardoyo. M.M., Harneti. D., Puspa. H., Awang. K .
2014. Senyawa 7-Hidroksi-6-Metoksi Kumarin yang Bersifat Sitotoksik dari
Kulit Batang Chisochetonmacrophyllus (MELIACEAE). Jurnal Ilmu-
Bionatural. Vol. 16. No. 1: Universitas Padjajaran.

Paul, M. D. 2002. A Biosynthetic Approach. Pharmaceutical Sciences


(Vol.471496405). https://doi.org/10.1016/j.jbosc.2010.01.005

Pelezar M.J. dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. (Diterjemahkan oleh
Hardioetomo, R.S, Tjitrosomo, dan S.I. Angka). UI-Press Jakarta.

Pratawa L.M.O.A dan P.F.S. Dewi. 2010. Isolasi Dan Uji Antibakteri Minyak Atsiri
Dari Rimpang Lengkuas (Alpinia galangan L.). Jurnal Kimia 2(2):4-10.

Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobologi Farmasi. Yogyakarta: Erlangga.

Putri, W. S., Warditiani, N. K., Larasanty, L. P. F. 2013. Skrining Fitokimia Ekstrak


Etil Asetat Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.). Jurusan Farmasi
Universitas Udayana.

Rajan, M., Kumar, V.K., Kumar, S., Swathi, K.R., & Haritha, S. 2012. Antidiabetic,
antihyperlipiademic and hepatoprotective activity of methanolic extract of
Ruellia tuberose Linn leaves in normal and alloxa unduced diabetic rats.
Journal of Chemical and Pharmacheutical Research.

Sastrohamidjojo, H. 2007. Kromatografi. Yogyakarta: UGM press.

Siadi, K. 2012. Ekstrak Bungkil Biji Jarak Pagar (Jatropa curcas) sebagai
Biopestisida yang Efektif dengan Penambahan Larutan NaCl. Jurnal MIPA,
35(2), 77-83.

Siswandono dan Soekardjo. 2000. Kimia Medisinal 2. Airlangga University Press.

Shahwar, Durre, Ahmad, Naeem, Ahmad , Mobasher., Khan, Muhammad Akmal.,


Ullah., Ullaha, Saif. 2011. Hypoglicemic Activity of Ruellia tuberosa Linn
(Achantceae) In Normal and Alloxan-Induced Diabetic Rabbit. Iranian
Journal of Pharmaeuical Scienses 7(2) :107-115.

99
Shinta, C., Aditya, F., Rolan, R . 2015. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Akar
Karamunting (Melastoma malabathricum). Jurnal. Fakultas farmasi
Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur.

Sulisty, N. 2014. Sekilas Tentang Ruellia tuberose L. atau Pletekan.


https://biologiunik.wordpress.com. Diakses 25 Februari 2017.

Suteja, I Kadek . et al. 2016. Identifikasi dan Uji Aktivitas Senyawa Flavonoid dari
Ekstrak Daun Trambesi (Albizia saman (Jacq) Merr) Sebagai Antibakteri
Escherichia coli. Jurnal Kimia. 10(1). Januari 2016: 141-148.

Tael, E. 2014. Uji Toksisitas Ekstrak Kasar Etanol Dan Petroleum Benzen Kulit
Batang Kesambi (Schleihera oleosa ) Menggunakan Metode Brine Shrimp
Lethality Test,Skripsi. PMIPA FKIP Undana, Kupang

Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soedani


Noerono Soewandi, Apt. Yogyakarta: UGM Press.

Volk, A., W, dan Margaret, F., W. 1993. Mikrobologi Dasar. Alih Bahasa Markham,
Editor Soenartono, A. Edisi V. Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal 50.

100
LAMPIRAN-LAMPIRAN

101
Lampiran I

Kerangka Konseptual

Indonesia Keanekaragaman Hayati

Tanaman Obat

Akar Pletekan
(Ruellia tuberossa L.)

Senyawa Metabolit Sekunder


(Flavonoid, Glikosida, Fenol, Saponin, Nutrisi)

Isolasi Senyawa Metabolit Sekunder Fraksi n-Butanol Dan Etil Asetat


Akar Pletekan (Ruellia tuberossa L.) Serta Uji Aktivitas Terhadap Bakteri
Escherichia coli Dan Staphylococcus aureus

Uji Aktivitas
Antibakteri

102
Lampiran II

Skema Kerja

A. Preparasi sampel Ruellia tuberosa L.

Sampel Ruellia tuberosa L.

dibersihkan dengan air bersih

diangin-anginkan sampai kering

diblender

disaring dengan pengayak

60 mesh

Serbuk Ruellia tuberosa L.

103
B. Pembuatan ekstrak metanol Ruellia tuberosa L.

Serbuk Ruellia tuberosa L.

ditimbang sebanyak 500 gram

dimaserasi dengan n-heksana 1500 mL

Ekstrak n-heksana

disaring

filtrat residu

dimaserasi dengan metanol

1500 mL dan disaring

Ekstrak metanol

dipekatkan
Ekstrak metanol pekat

Uji fitokimia senyawa


metabolit sekunder

104
C. Uji fitokimia senyawa metabolit sekunder

Ekstak metanol pekat

dibuat dalam 5 bagian masing-masing 2 mL

Bagian I Bagian Bagian Bagian Bagian


II III IV V

+ Pereaksi
Lieberman- + FeCl3
Burchard 10%
+ Aquades

+ HCl
+ Pereaksi
2% Shibata

Merah Hijau Hijau, Merah atau Adanya


kecoklatan kebiruan merah, ungu jingga busa
atau ungu atau hitam.
(+ steroid) (+ fenol) (+ flavonoid) (+ saponin)
(+ terpenoid)

105
D. Pemisahan Komponen Senyawa dengan Fraksinasi

10 gr Ekstrak metanol pekat

dilarutkan dalam 100 mL air dengan suhu 450C


diekstraksi dengan 100 mL petroleum eter

Fraksi Petroleum Fraksi Air-


Eter metanol

diekstraksi dengan 100 mL etil


asetat

Fraksi Fraksi
Etil Asetat Air-metanol

dipekatkan diekstraksi dengan


100 mL n-Butanol

Fraksi Fraksi
n-Butanol Air-metanol

dipekatkan

Fraksi Kental Fraksi Kental


Etil Asetat n-Butanol

Uji fitokimia Isolasi senyawa Uji aktivitas antibakteri


senyawa metabolit metabolit sekunder senyawa metabolit
sekunder sekunder

106
E. Uji Fitokimia Hasil Fraksinasi

Fraksi Kental Fraksi Kental


n-Butanol Etil Asetat

dibuat dalam 2 bagian


masing-masing 2 mL

Uji Steroid Uji Flavonoid Uji Fenolik

Hijau kebiruan Merah atau Hijau, merah,


jingga ungu atau
(+ steroid)
hitam
(+ flavonoid) (+ fenol)

107
F. Identifikasi Kmponen Senyawa Dengan KLT

o Fraksi Etil Asetat

Plat KLT berukuran 8 x 2

diaktivasi dengan oven pada suhu 1050C selama 30 menit

dibuat garis batas elusi (batas bawah 2 cm, batas atas 1,5 cm)

sampel ditotolkan pada batas bawah plat

dimasukkan dalam chamber yang telah jenuh dengan eluen

dielusi dengan etil asetat : n-Heksana (3:1), etil asetat : n-heksana


(1:1), etil asetat : n-Heksana (1:2), etil asetat : n-heksana (1:1), etil
asetat : n-Heksana (3:2)
elusi dihentikan saat seluruh plat telah diresapi oleh eluen

dikeluarkan dan dikeringkan pada udara terbuka

diamati dibawah sinar UV pada 254 nm dan 366 nm

Hasil

dihitung harga Rf

Rf Komponen Senyawa
Eluen Terbaik

108
 Fraksi n-Butanol

Plat KLT berukuran 8 x 2

diaktivasi dengan oven pada suhu 1050C selama 30 menit

dibuat garis batas elusi (batas bawah 2 cm, batas atas 1,5 cm)

sampel ditotolkan pada batas bawah plat

dimasukkan dalam chamber yang telah jenuh dengan eluen

dielusi dengan n-Butanol : asam asetat glasial : air (3:1:5), n-Butanol


: asam asetat glasial : air (3:1:5), n-Butanol : asam asetat glasial : air
(4:1:5), n-Butanol : asam asetat glasial : n- Heksan (3:1:2)

elusi dihentikan saat seluruh plat telah diresapi oleh eluen

dikeluarkan dan dikeringkan pada udara terbuka

diamati dibawah sinar UV pada 254 nm dan 366 nm

Hasil

dihitung harga Rf

Rf Komponen
Senyawa Eluen
Terbaik

109
G. Pemisahan Komponen Senyawa Dengan KLTP

Plat KLTP

ekstrak ditotolkan sepanjang plat

dielusi dengan eluen terbaik hasil pemisahan dengan KLT

dikeluarkan

diamati dibawah lampu UV pada 366 nm

Spot

dihitung harga Rf

dikerok

dilarutkan dalam metanol

disaring dan didinginkan

Isolat

110
H. Pembuatan Media

 Media Padat

20 gram Mueller
Hington Agar

dilarutkan dalam 500 mL aquades dalam gelas beker

dimasukkan dalam erlenmeyer

ditutup kapas

dipanaskan

Media Mueller Hington


Agar

 Media Cair

20 gram Nutrient Broth

dilarutkan 250 mL aquades dalam gelas beker

dimasukkan dalam erlenmeyer

ditutup kapas

dipanaskan

Media NB

111
I. Pembuatan Larutan Pembanding

Antibiotik Amoxilin

ditimbang 30 mg

dilarutkan dengan 10 mL aquades steril

Larutan Antibiotik

J. Pengenceran Ekstrak Dalam Berbagai Konsentrasi

 Fraksi n-Butanol
200 mg fraksi n-butanol

diencerkan dalam labu ukur 100 mL

Larutan Induk 2000 ppm

diencerkan dalam labu ukur 5 ml dengan seri


konsentrasi (100 ppm, 200 ppm, 500 ppm, 1000
ppm)

Ekstrak Ekstrak Induk Ekstrak Ekstrak


Induk 200 ppm Induk Induk
100 ppm 500 ppm 1000 ppm

112
 Fraksi etil asetat

200 mg etil asetat

diencerkan dalam labu ukur 100 mL

Larutan Induk 2000 ppm

diencerkan dalam labu ukur 5 ml dengan seri


konsentrasi (100 ppm, 200 ppm, 500 ppm, 1000
ppm)

Ekstrak Ekstrak Ekstrak Induk Ekstrak


Induk Induk 500 ppm Induk
100 ppm 200 ppm 1000 ppm

113
L. Peremajaan Biakan Murni Bakteri S. Aureus dan E. coli

Biakan murni S. Aureus Biakan murni E. coli

diinokulasikan pada media nutrient broth miring 5


mL dalam tabung reaksi

ditutup dengan kapas

diinkubasi selama 48 jam pada suhu 370C

diletakkan dalam lemari pendingin

Remajaan Biakan Murni S. Remajaan Biakan Murni E.


Aureus coli

M. Pembuatan Larutan Biakan Aktif Bakteri S. Aureus dan E. coli

1 Ose Remajaan Biakan 1 Ose Remajaan Biakan


Murni S. Aureus Murni E. coli

dibiakkan dalam 10 mL media Cair


(NB)

dihomogenkan

Biakan Aktif S. Aureus Biakan Aktif E. coli

114
N. Penentuan Diameter Zona Hambat

Medium MHA

dibuat medium fondasinya (10 mL)

dicampur dengan bakteri uji dan dituang ke dalam medium


dasar yang sudah memadat (5 mL + 1 mL bakteri)

dibiarkan hingga memadat

dimasukan 6 pecandang (dimasukkan larutan kontrol positif


amoxilin, kontrol negatif aquades steril, 4 isolat dengan
konsentrasi 100 ppm, 200 ppm, 500 ppm dan 1000 ppm,
dilakukan 3 kali ulangan) kedalam masing-masing cawan

diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C

Perhitungan Zona
Hambat
(mm)

115
Lampiran III

Perhitungan Konsentrasi Larutan Fraksi n-Butanol dan Etil Asetat Untuk Uji Aktivitas
Antibakteri

 Fraksi n-Butanol
A. Pembuatan larutan stok 2000 ppm fraksi n-butanol akar pletekan (Ruellia tuberose L.)

Ppm =

Mg = ppm x L

= 2000 x 100 mL

= 200000

= 0,2 gram

Jadi, larutan stok 2000 ppm dibuat dengan cara 0,2 gram sampel dilarutkan ke dalam100 mL
aquades.

B. Pembuatan larutan ekstrak 1000 ppm

V1 x M1 = V2 x M2

V1 x 2000 ppm = 50 mL x 1000 ppm

V1 =

V1 = 25 mL

Jadi, larutan stok 1000 ppm dibuat dengan cara 25 mL larutan stok dilarutkan ke dalam 50
mL aquades.

C. Pembuatan larutan ekstrak 500 ppm

V1 x M1 = V2 x M2

V1 x 1000 ppm = 50 mL x 500 ppm

116
V1 =

V1 = 25 mL

Jadi, larutan stok 500 ppm dibuat dengan cara 25 mL larutan stok dilarutkan ke dalam 50 mL
aquades.

D. Pembuatan larutan ekstrak 200 ppm

V1 x M1 = V2 x M2

V1 x 500 ppm = 50 mL x 200 ppm

V1 =

V1 = 20 mL

Jadi, larutan stok 200 ppm dibuat dengan cara 20 mL larutan stok dilarutkan ke dalam 50 mL
aquades.

E. Pembuatan larutan ekstrak 100 ppm

V1 x M1 = V2 x M2

V1 x 200 ppm = 50 mL x 100 ppm

V1 =

V1 = 25 mL

Jadi, larutan stok 100 ppm dibuat dengan cara 25 mL larutan stok dilarutkan ke dalam 50 mL
aquades.

 Fraksi Etil Asetat


A. Pembuatan larutan stok 1000 ppm fraksi etil asetat akar pletekan (Ruellia tuberose L.)

Ppm =

Mg = ppm x L

117
= 1000 x 100 mL

= 100000

= 0,1 gram

Jadi, larutan stok 1000 ppm dibuat dengan cara 0,1 gram sampel dilarutkan ke dalam100 mL
aquades.

B. Pembuatan larutan ekstrak 500 ppm

V1 x M1 = V2 x M2

V1 x 1000 ppm = 50 mL x 500 ppm

V1 =

V1 = 25 mL

Jadi, larutan stok 500 ppm dibuat dengan cara 25 mL larutan stok dilarutkan ke dalam 50 mL
aquades.

C. Pembuatan larutan ekstrak 200 ppm

V1 x M1 = V2 x M2

V1 x 500 ppm = 50 mL x 200 ppm

V1 =

V1 = 20 mL

Jadi, larutan stok 200 ppm dibuat dengan cara 20 mL larutan stok dilarutkan ke dalam 50 mL
aquades.

E. Pembuatan larutan ekstrak 100 ppm

V1 x M1 = V2 x M2

V1 x 200 ppm = 50 mL x 100 ppm

118
V1 =

V1 = 25 mL

Jadi, larutan stok 100 ppm dibuat dengan cara 25 mL larutan stok dilarutkan ke dalam 50 mL
aquades.

119
Lampiran IV

Perhitungan Harga Rf

Rumus:

Harga Rf =

a. Perhitungan harga Rf untuk KLT Analitik


 Fraksi n-Butanol
o Eluen n-butanol : asam asetat glasial : air (4:1:5)

Spot I = = 0,82

o Eluen n-butanol : asam asetat glasial : air (3:1:5)

Spot I = = 0,82

o Eluen n-butanol : asam asetat glasial : air (6:1:3)

Spot I = = 0,8

o Eluen n-butanol : asam asetat glasial : air (7:1:2)

Spot I = = 0,82

o Eluen n-butanol : asam asetat glasial : air (5:2:3)

Spot I = = 0,82

 Fraksi Etil Asetat


o Eluen etil asetat : n-heksana (3:1)

Spot I = = 0,73

Spot II = = 0,95

o Eluen etil asetat : n-heksana (3:2)

Spot I = = 0,55

120
Spot II = = 0,66

o Eluen etil asetat : n-heksana (4:1)

Spot I = = 0,26

o Eluen etil asetat : n-heksana (1:4)

Spot I = = 0,84

b. Perhitungan harga Rf untuk KLT Preparatif


 Fraksi n-Butanol

Spot I = = 0,74

 Fraksi Etil Asetat

Spot I = = 0,69

Spot II = = 0,84

121
Lampiran V

Hasil Pengukuran Spektrum UV

Scan Analysis Report


Report Time : Mon 04 Dec 01:06:48 PM 2017
Method:
Batch: E:\faris al irsa\scan lamda isolat n-butanol1.DSW
Software version: 4.10(464)
Operator:
Zero Report
Read Abs(700.00)
___________________________
Zero 0.0658
Sample Name: isolat n-butanol
Collection Time 12/4/2017 1:06:52 PM
Peak Table
Peak Style Peaks
Peak Threshold 0.0100
Range 700.00nm to 200.00nm
Wavelength (nm) Abs
____________________________
296.00 0.312
290.00 0.331
272.00 0.064
265.00 0.060
259.00 0.051
255.00 0.028
251.00 0.031
248.00 0.033
245.00 0.029
242.00 0.026
238.00 0.046
234.00 0.030
231.00 0.030
227.00 0.021
223.00 0.004
218.00 0.042
214.00 0.013
211.00 0.015
209.00 0.009
202.00

122
Scan Analysis Report
Report Time : Fri 08 Dec 03:39:16 PM 2017
Method:
Batch: E:\faris al irsa\scan lamda isolat 1.DSW
Software version: 4.10(464)
Operator:
Zero Report
Read Abs(700.00)
_________________________
Zero 0.0567
Sample Name: Isolat 1etil asetat
Collection Time 12/8/2017 3:39:23 PM
Peak Table
Peak Style Peaks
Peak Threshold 0.0100
Range 700.00nm to 200.00nm
Wavelength (nm) Abs
___________________

567.00 -0.006
347.00 0.088
314.00 0.076
296.00 0.100
280.00 0.097
261.00 0.097

123
Scan Analysis Report
Report Time : Fri 08 Dec 03:43:36 PM 2017
Method:
Batch: E:\faris al irsa\scan lamda isolat 2.DSW
Software version: 4.10(464)
Operator:
Zero Report
Read Abs(700.00)
________________________
Zero 0.0567
Sample Name: Isolat 2 etil asetat
Collection Time 12/8/2017 3:43:41 PM
Peak Table
Peak Style Peaks
Peak Threshold 0.0100
Range 700.00nm to 200.00nm
Wavelength (nm) Abs
________________________________
347.00 0.082
317.00 0.069
296.00 0.093
280.00 0.087
258.00 0.089
252.00 0.086
243.00 0.089

124
Lampiran VI
Data Hasil Uji

Luas zona hambat bakteri Escherichia coli dan Staphyloccocus aureus

Bacteria Ø
Antibiotic S/I/R Min/Max Parameters Comment Date Time
(Microbe) (mm)
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:11:23
AMX
Amoxicilline 17.4 I 14 / 21.
Staphylococcus AGUADES 10.4
aureus
(n-butanol) 1 13
2 13.7
3 14.8
4 16.3
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:14:16
AMX
Amoxicilline 17 I 14 / 21.
Staphylococcus AGUADES 10
aureus
(n-butanol) 1 12.6
2 13.7
3 14.1
4 16.3
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:16:14
AMX
Amoxicilline 16.7 I 14 / 21.
Staphylococcus AGUADES 10.4
aureus
(n-butanol) 1 13

2 14.4
3 15.6
4 16.3
Staphylococcus 6 Discs or
aureus wells OK 11/8/2017 21:19:38
(etil asetat) AMX
Amoxicilline 17 I 14 / 21.
AGUADES 10.7
1 13
2 14.4

125
3 15.2

4 16.7
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:22:31
AMX
Amoxicilline 17 I 14 / 21.
Staphylococcus AGUADES 10.7
aureus
(etil asetat) 1 13.3
2 14.8
3 15.9
4 17
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:25:15
AMX
Amoxicilline 17 I 14 / 21.
Staphylococcus AGUADES 10
aureus
(etil asetat) 1 13.3

2 14.4
3 15.2
4 16.7
Record
6 Discs or was later
wells modified 11/8/2017 21:28:00
AMX
Amoxicilline 17 I 14 / 21.
E . coli AGUADES 10.4
(n-butanol)
1 12.6

2 14.4
3 15.6
4 16.3
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:33:33
AMX
Amoxicilline 17.4 I 14 / 21.

E . coli AGUADES 10.7


(n-butanol) 1 13
2 14.1
3 15.2
4 16.3
E . coli 6 Discs or
(n-butanol) wells OK 11/8/2017 21:36:01

126
AMX
Amoxicilline 17 I 14 / 21.
AGUADES 10.4
1 13.3
2 14.8
3 15.9
4 16.7
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:38:17
AMX
Amoxicilline 17.4 I 14 / 21.

AGUADES 10
E . coli
(etil asetat) 1 13.3
2 14.4
3 15.6
4 16.7
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:40:33
AMX
Amoxicilline 17 I 14 / 21.
AGUADES 10.4
E . coli
(etil asetat) 1 13.7
2 14.8
3 15.9
4 16.3
6 Discs or
wells OK 11/8/2017 21:43:19
AMX
Amoxicilline 17 I 14 / 21.
AGUADES 10
E . coli
(etil asetat) 1 12.2
2 13.7
3 14.8
4 16.7

127
Gambar Hasil Uji Aktifitas Fraksi n-Butanol:
Escherichia coli Staphylococcus aureus

Pengulangan I Pengulangan I

Pengulangan II Pengulangan II

Pengulangan III Pengulangan III

128
Gambar Hasil Uji Aktifitas Fraksi Etil Asetat:
Escherichia coli Staphylococcus aureus

Pengulangan I Pengulangan I

Pengulangan II Pengulangan II

Pengulangan III Pengulangan III

129
Lampiran VII
Uji Hipotesis Menggunakan SPSS. 20

Fraksi Etil Asetat


Oneway [DataSet1] D:\mitfah\Data E-Coli 1.sav

Descriptives
S. Aureus
95% Confidence
Interval for Mean Between-
Std. Std. Lower Upper Componen
N Mean Deviation Error Bound Bound Minimum Maximum t Variance
K+ 3 17.0000 .00000 .00000 17.0000 17.0000 17.00 17.00
K- 3 10.4667 .40415 .23333 9.4627 11.4706 10.00 10.70
100 3 13.3000 .00000 .00000 13.3000 13.3000 13.30 13.30
200 3 14.5333 .23094 .13333 13.9596 15.1070 14.40 14.80
500 3 15.4333 .40415 .23333 14.4294 16.4373 15.20 15.90
1000 3 16.8000 .17321 .10000 16.3697 17.2303 16.70 17.00
Total 18 14.5889 2.31412 .54544 13.4381 15.7397 10.00 17.00
Mode Fixed
.26141 .06161 14.4546 14.7231
l Effects
Random
1.00121 12.0152 17.1626 5.99174
Effects

Test of Homogeneity of Variances

S. Aureus

Levene Statistic df1 df2 Sig.


7.727 5 12 .002

ANOVA

S. Aureus
Sum of Mean
Squares Df Square F Sig.
Between Groups (Combined) 90.218 5 18.044 264.052 .000
Linear Term Contrast 9.815 1 9.815 143.635 .000
Deviation 80.403 4 20.101 294.156 .000
Within Groups .820 12 .068
Total 91.038 17

Robust Tests of Equality of Meansb


S. Aureus
Statistica df1 df2 Sig.
Brown-Forsythe . . . .
a. Asymptotically F distributed.

130
b. Robust tests of equality of means cannot be performed for S. Aureus because at least one group has 0 variance.
Post Hoc Tests

Multiple Comparisons
Dependent Variable:S. Aureus
(J) Mean 95% Confidence Interval
Konsentrasi Difference Std. Lower
(I) Konsentrasi Isolat Isolat (I-J) Error Sig. Bound Upper Bound
Tukey HSD K+ K- 6.53333* .21344 .000 5.8164 7.2503
100 3.70000* .21344 .000 2.9831 4.4169
200 2.46667* .21344 .000 1.7497 3.1836
500 1.56667* .21344 .000 .8497 2.2836
1000 .20000 .21344 .929 -.5169 .9169
K- K+ -6.53333* .21344 .000 -7.2503 -5.8164
100 -2.83333* .21344 .000 -3.5503 -2.1164
200 -4.06667* .21344 .000 -4.7836 -3.3497
500 -4.96667* .21344 .000 -5.6836 -4.2497
1000 -6.33333* .21344 .000 -7.0503 -5.6164
100 K+ -3.70000* .21344 .000 -4.4169 -2.9831
K- 2.83333* .21344 .000 2.1164 3.5503
200 -1.23333* .21344 .001 -1.9503 -.5164
500 -2.13333* .21344 .000 -2.8503 -1.4164
1000 -3.50000* .21344 .000 -4.2169 -2.7831
200 K+ -2.46667* .21344 .000 -3.1836 -1.7497
K- 4.06667* .21344 .000 3.3497 4.7836
100 1.23333* .21344 .001 .5164 1.9503
500 -.90000* .21344 .012 -1.6169 -.1831
1000 -2.26667* .21344 .000 -2.9836 -1.5497
500 K+ -1.56667* .21344 .000 -2.2836 -.8497
K- 4.96667* .21344 .000 4.2497 5.6836
100 2.13333* .21344 .000 1.4164 2.8503
200 .90000* .21344 .012 .1831 1.6169
1000 -1.36667* .21344 .000 -2.0836 -.6497
1000 K+ -.20000 .21344 .929 -.9169 .5169
K- 6.33333* .21344 .000 5.6164 7.0503
100 3.50000* .21344 .000 2.7831 4.2169
200 2.26667* .21344 .000 1.5497 2.9836
500 1.36667* .21344 .000 .6497 2.0836
Bonferroni K+ K- 6.53333* .21344 .000 5.7545 7.3121
*
100 3.70000 .21344 .000 2.9212 4.4788
200 2.46667* .21344 .000 1.6879 3.2455
500 1.56667* .21344 .000 .7879 2.3455
1000 .20000 .21344 1.000 -.5788 .9788
K- K+ -6.53333* .21344 .000 -7.3121 -5.7545
100 -2.83333* .21344 .000 -3.6121 -2.0545
200 -4.06667* .21344 .000 -4.8455 -3.2879
500 -4.96667* .21344 .000 -5.7455 -4.1879

131
1000 -6.33333* .21344 .000 -7.1121 -5.5545
100 K+ -3.70000* .21344 .000 -4.4788 -2.9212
K- 2.83333* .21344 .000 2.0545 3.6121
200 -1.23333* .21344 .001 -2.0121 -.4545
500 -2.13333* .21344 .000 -2.9121 -1.3545
1000 -3.50000* .21344 .000 -4.2788 -2.7212
200 K+ -2.46667* .21344 .000 -3.2455 -1.6879
K- 4.06667* .21344 .000 3.2879 4.8455
100 1.23333* .21344 .001 .4545 2.0121
500 -.90000* .21344 .018 -1.6788 -.1212
1000 -2.26667* .21344 .000 -3.0455 -1.4879
500 K+ -1.56667* .21344 .000 -2.3455 -.7879
K- 4.96667* .21344 .000 4.1879 5.7455
100 2.13333* .21344 .000 1.3545 2.9121
200 .90000* .21344 .018 .1212 1.6788
1000 -1.36667* .21344 .001 -2.1455 -.5879
1000 K+ -.20000 .21344 1.000 -.9788 .5788
K- 6.33333* .21344 .000 5.5545 7.1121
100 3.50000* .21344 .000 2.7212 4.2788
200 2.26667* .21344 .000 1.4879 3.0455
500 1.36667* .21344 .001 .5879 2.1455

*. The mean difference is significant at the 0.05


level.

Homogeneous Subsets
E-Coli
Subset for alpha = 0.05
Konsentrasi
Isolat N 1 2 3 4 5
a
Tukey HSD 2 3 10.1333
3 3 13.0667
4 3 14.3000 14.3000
5 3 15.4333 15.4333
6 3 16.5667 16.5667
1 3 17.1333
Sig. 1.000 .073 .110 .110 .705
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000.

132
Oneway [DataSet1] D:\mitfah\Data S.aureus 1.sav
Descriptives

S. Aureus
95% Confidence
Interval for Mean Between-
Std. Std. Lower Upper Componen
N Mean Deviation Error Bound Bound Minimum Maximum t Variance
K+ 3 17.0000 .00000 .00000 17.0000 17.0000 17.00 17.00
K- 3 10.4667 .40415 .23333 9.4627 11.4706 10.00 10.70
100 3 13.3000 .00000 .00000 13.3000 13.3000 13.30 13.30
200 3 14.5333 .23094 .13333 13.9596 15.1070 14.40 14.80
500 3 15.4333 .40415 .23333 14.4294 16.4373 15.20 15.90
1000 3 16.8000 .17321 .10000 16.3697 17.2303 16.70 17.00
Total 18 14.5889 2.31412 .54544 13.4381 15.7397 10.00 17.00
Mode Fixed Effects .26141 .06161 14.4546 14.7231
l
Random
1.00121 12.0152 17.1626 5.99174
Effects

Test of Homogeneity of Variances


S. Aureus
Levene Statistic df1 df2 Sig.
7.727 5 12 .002

ANOVA

S. Aureus
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups (Combined) 90.218 5 18.044 264.052 .000
Linear Term Contrast 9.815 1 9.815 143.635 .000
Deviation 80.403 4 20.101 294.156 .000
Within Groups .820 12 .068
Total 91.038 17

Robust Tests of Equality of Meansb


S. Aureus

Statistica df1 df2 Sig.

Brown-Forsythe . . . .

a. Asymptotically F distributed.
b. Robust tests of equality of means cannot be performed for S. Aureus because at least
one group has 0 variance.

133
Post Hoc Tests

Multiple Comparisons
Dependent Variable:S. Aureus
95% Confidence
Mean Interval
(J) Konsentrasi Difference Lower Upper
(I) Konsentrasi Isolat Isolat (I-J) Std. Error Sig. Bound Bound
Tukey HSD K+ K- 6.53333* .21344 .000 5.8164 7.2503
100 3.70000* .21344 .000 2.9831 4.4169
200 2.46667* .21344 .000 1.7497 3.1836
500 1.56667* .21344 .000 .8497 2.2836
1000 .20000 .21344 .929 -.5169 .9169
K- K+ -6.53333* .21344 .000 -7.2503 -5.8164
100 -2.83333* .21344 .000 -3.5503 -2.1164
200 -4.06667* .21344 .000 -4.7836 -3.3497
500 -4.96667* .21344 .000 -5.6836 -4.2497
1000 -6.33333* .21344 .000 -7.0503 -5.6164
100 K+ -3.70000* .21344 .000 -4.4169 -2.9831
K- 2.83333* .21344 .000 2.1164 3.5503
200 -1.23333* .21344 .001 -1.9503 -.5164
500 -2.13333* .21344 .000 -2.8503 -1.4164
1000 -3.50000* .21344 .000 -4.2169 -2.7831
200 K+ -2.46667* .21344 .000 -3.1836 -1.7497
K- 4.06667* .21344 .000 3.3497 4.7836
100 1.23333* .21344 .001 .5164 1.9503
500 -.90000* .21344 .012 -1.6169 -.1831
1000 -2.26667* .21344 .000 -2.9836 -1.5497
500 K+ -1.56667* .21344 .000 -2.2836 -.8497
K- 4.96667* .21344 .000 4.2497 5.6836
100 2.13333* .21344 .000 1.4164 2.8503
200 .90000* .21344 .012 .1831 1.6169
1000 -1.36667* .21344 .000 -2.0836 -.6497
1000 K+ -.20000 .21344 .929 -.9169 .5169
K- 6.33333* .21344 .000 5.6164 7.0503
100 3.50000* .21344 .000 2.7831 4.2169
200 2.26667* .21344 .000 1.5497 2.9836
500 1.36667* .21344 .000 .6497 2.0836
Bonferroni K+ K- 6.53333* .21344 .000 5.7545 7.3121
*
100 3.70000 .21344 .000 2.9212 4.4788
200 2.46667* .21344 .000 1.6879 3.2455
500 1.56667* .21344 .000 .7879 2.3455
1000 .20000 .21344 1.000 -.5788 .9788
K- K+ -6.53333* .21344 .000 -7.3121 -5.7545
100 -2.83333* .21344 .000 -3.6121 -2.0545
200 -4.06667* .21344 .000 -4.8455 -3.2879

134
500 -4.96667* .21344 .000 -5.7455 -4.1879
1000 -6.33333* .21344 .000 -7.1121 -5.5545
100 K+ -3.70000* .21344 .000 -4.4788 -2.9212
K- 2.83333* .21344 .000 2.0545 3.6121
200 -1.23333* .21344 .001 -2.0121 -.4545
500 -2.13333* .21344 .000 -2.9121 -1.3545
1000 -3.50000* .21344 .000 -4.2788 -2.7212
200 K+ -2.46667* .21344 .000 -3.2455 -1.6879
K- 4.06667* .21344 .000 3.2879 4.8455
100 1.23333* .21344 .001 .4545 2.0121
500 -.90000* .21344 .018 -1.6788 -.1212
1000 -2.26667* .21344 .000 -3.0455 -1.4879
500 K+ -1.56667* .21344 .000 -2.3455 -.7879
K- 4.96667* .21344 .000 4.1879 5.7455
100 2.13333* .21344 .000 1.3545 2.9121
200 .90000* .21344 .018 .1212 1.6788
1000 -1.36667* .21344 .001 -2.1455 -.5879
1000 K+ -.20000 .21344 1.000 -.9788 .5788
K- 6.33333* .21344 .000 5.5545 7.1121
100 3.50000* .21344 .000 2.7212 4.2788
200 2.26667* .21344 .000 1.4879 3.0455
500 1.36667* .21344 .001 .5879 2.1455
*. The mean difference is significant at the 0.05
level.

Homogeneous Subsets

S. Aureus

Subset for alpha = 0.05


Konsentrasi Isolat N 1 2 3 4 5
Tukey HSDa K- 3 10.4667
100 3 13.3000
200 3 14.5333
500 3 15.4333
1000 3 16.8000
K+ 3 17.0000
Sig. 1.000 1.000 1.000 1.000 .929
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a.Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000.

135
Fraksi n-Butanol
Oneway [DataSet0] D:\mitfah\n-butanol\Ecoli 1.sav

Descriptives

E-Coli
95% Confidence
Interval for Mean Between-
Std. Std. Lower Upper Componen
N Mean Deviation Error Bound Bound Minimum Maximum t Variance
1 3 17.1333 .23094 .13333 16.5596 17.7070 17.00 17.40
2 3 10.5000 .17321 .10000 10.0697 10.9303 10.40 10.70
3 3 12.9667 .35119 .20276 12.0943 13.8391 12.60 13.30
4 3 14.4333 .35119 .20276 13.5609 15.3057 14.10 14.80
5 3 15.5667 .35119 .20276 14.6943 16.4391 15.20 15.90
6 3 16.4333 .23094 .13333 15.8596 17.0070 16.30 16.70
Total 18 14.5056 2.32011 .54686 13.3518 15.6593 10.40 17.40
Mode Fixed Effects .29059 .06849 14.3563 14.6548
l
Random
1.00275 11.9279 17.0832 6.00493
Effects

Test of Homogeneity of Variances


E-Coli
Levene Statistic df1 df2 Sig.
.349 5 12 .873

ANOVA
E-Coli
Sum of Mean
Squares df Square F Sig.
Between Groups (Combined) 90.496 5 18.099 214.333 .000
Linear Term Contrast 7.430 1 7.430 87.984 .000
Deviation 83.066 4 20.767 245.920 .000
Within Groups 1.013 12 .084
Total 91.509 17

136
Post Hoc Tests
Multiple Comparisons
Dependent Variable:E-Coli
Mean 95% Confidence Interval
(I) Konsentrasi (J) Konsentrasi Difference Lower Upper
Isolat Isolat (I-J) Std. Error Sig. Bound Bound
Tukey HSD 1 2 6.63333* .23727 .000 5.8364 7.4303
3 4.16667* .23727 .000 3.3697 4.9636
4 2.70000* .23727 .000 1.9030 3.4970
*
5 1.56667 .23727 .000 .7697 2.3636
6 .70000 .23727 .098 -.0970 1.4970
2 1 -6.63333* .23727 .000 -7.4303 -5.8364
3 -2.46667* .23727 .000 -3.2636 -1.6697
4 -3.93333* .23727 .000 -4.7303 -3.1364
5 -5.06667* .23727 .000 -5.8636 -4.2697
6 -5.93333* .23727 .000 -6.7303 -5.1364
3 1 -4.16667* .23727 .000 -4.9636 -3.3697
2 2.46667* .23727 .000 1.6697 3.2636
4 -1.46667* .23727 .001 -2.2636 -.6697
5 -2.60000* .23727 .000 -3.3970 -1.8030
6 -3.46667* .23727 .000 -4.2636 -2.6697
*
4 1 -2.70000 .23727 .000 -3.4970 -1.9030
2 3.93333* .23727 .000 3.1364 4.7303
3 1.46667* .23727 .001 .6697 2.2636
5 -1.13333* .23727 .005 -1.9303 -.3364
6 -2.00000* .23727 .000 -2.7970 -1.2030
5 1 -1.56667* .23727 .000 -2.3636 -.7697
2 5.06667* .23727 .000 4.2697 5.8636
3 2.60000* .23727 .000 1.8030 3.3970
4 1.13333* .23727 .005 .3364 1.9303
6 -.86667* .23727 .030 -1.6636 -.0697
6 1 -.70000 .23727 .098 -1.4970 .0970
*
2 5.93333 .23727 .000 5.1364 6.7303
3 3.46667* .23727 .000 2.6697 4.2636
4 2.00000* .23727 .000 1.2030 2.7970
5 .86667* .23727 .030 .0697 1.6636
Bonferroni 1 2 6.63333* .23727 .000 5.7676 7.4991
3 4.16667* .23727 .000 3.3009 5.0324
4 2.70000* .23727 .000 1.8342 3.5658
5 1.56667* .23727 .000 .7009 2.4324
6 .70000 .23727 .182 -.1658 1.5658
2 1 -6.63333* .23727 .000 -7.4991 -5.7676
3 -2.46667* .23727 .000 -3.3324 -1.6009
4 -3.93333* .23727 .000 -4.7991 -3.0676
5 -5.06667* .23727 .000 -5.9324 -4.2009
6 -5.93333* .23727 .000 -6.7991 -5.0676
3 1 -4.16667* .23727 .000 -5.0324 -3.3009
2 2.46667* .23727 .000 1.6009 3.3324

137
4 -1.46667* .23727 .001 -2.3324 -.6009
5 -2.60000* .23727 .000 -3.4658 -1.7342
6 -3.46667* .23727 .000 -4.3324 -2.6009
4 1 -2.70000* .23727 .000 -3.5658 -1.8342
2 3.93333* .23727 .000 3.0676 4.7991
3 1.46667* .23727 .001 .6009 2.3324
5 -1.13333* .23727 .007 -1.9991 -.2676
6 -2.00000* .23727 .000 -2.8658 -1.1342
5 1 -1.56667* .23727 .000 -2.4324 -.7009
2 5.06667* .23727 .000 4.2009 5.9324
3 2.60000* .23727 .000 1.7342 3.4658
4 1.13333* .23727 .007 .2676 1.9991
6 -.86667* .23727 .050 -1.7324 -.0009
6 1 -.70000 .23727 .182 -1.5658 .1658
2 5.93333* .23727 .000 5.0676 6.7991
3 3.46667* .23727 .000 2.6009 4.3324
4 2.00000* .23727 .000 1.1342 2.8658
5 .86667* .23727 .050 .0009 1.7324
*. The mean difference is significant at the 0.05
level.

Homogeneous Subsets

E-Coli

Subset for alpha = 0.05


Konsentrasi Isolat N 1 2 3 4 5
Tukey HSDa 2 3 10.5000
3 3 12.9667
4 3 14.4333
5 3 15.5667
6 3 16.4333
1 3 17.1333
Sig. 1.000 1.000 1.000 1.000 .098
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000.

138
Oneway [DataSet1] D:\mitfah\n-butanol\Aureus.sav

Descriptives

S. Aureus
95% Confidence Between-
Interval for Mean Compone
Std. Std. Lower Upper nt
N Mean Deviation Error Bound Bound Minimum Maximum Variance
K+ 3 17.0333 .35119 .20276 16.1609 17.9057 16.70 17.40
K- 3 10.2667 .23094 .13333 9.6930 10.8404 10.00 10.40
100 3 12.8667 .23094 .13333 12.2930 13.4404 12.60 13.00
200 3 13.9333 .40415 .23333 12.9294 14.9373 13.70 14.40
500 3 14.8333 .75056 .43333 12.9689 16.6978 14.10 15.60
1000 3 16.3000 .00000 .00000 16.3000 16.3000 16.30 16.30
Total 18 14.2056 2.33124 .54948 13.0463 15.3649 10.00 17.40
Mode Fixed Effects .39930 .09412 14.0005 14.4106
l
Random
1.00264 11.6282 16.7829 5.97859
Effects

Test of Homogeneity of Variances


S. Aureus
Levene Statistic df1 df2 Sig.
2.202 5 12 .122

ANOVA

S. Aureus
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups (Combined) 90.476 5 18.095 113.489 .000
Linear Term Contrast 5.280 1 5.280 33.118 .000
Deviatio
85.196 4 21.299 133.582 .000
n
Within Groups 1.913 12 .159
Total 92.389 17

Robust Tests of Equality of Meansb

S. Aureus

Statistica df1 df2 Sig.


Brown-Forsythe
. . . .
a. Asymptotically F distributed.

b. Robust tests of equality of means cannot be performed for S. Aureus because at least
one group has 0 variance.

139
140
Post Hoc Tests

Multiple Comparisons
Dependent Variable:S. Aureus
95% Confidence
(J) Interval
(I) Konsentrasi Konsentrasi Mean Difference Lower Upper
Isolat Isolat (I-J) Std. Error Sig. Bound Bound
Tukey HSD K+ K- 6.76667* .32603 .000 5.6716 7.8618
100 4.16667* .32603 .000 3.0716 5.2618
200 3.10000* .32603 .000 2.0049 4.1951
500 2.20000* .32603 .000 1.1049 3.2951
1000 .73333 .32603 .285 -.3618 1.8284
K- K+ -6.76667* .32603 .000 -7.8618 -5.6716
100 -2.60000* .32603 .000 -3.6951 -1.5049
200 -3.66667* .32603 .000 -4.7618 -2.5716
500 -4.56667* .32603 .000 -5.6618 -3.4716
1000 -6.03333* .32603 .000 -7.1284 -4.9382
100 K+ -4.16667* .32603 .000 -5.2618 -3.0716
K- 2.60000* .32603 .000 1.5049 3.6951
200 -1.06667 .32603 .058 -2.1618 .0284
500 -1.96667* .32603 .001 -3.0618 -.8716
1000 -3.43333* .32603 .000 -4.5284 -2.3382
200 K+ -3.10000* .32603 .000 -4.1951 -2.0049
K- 3.66667* .32603 .000 2.5716 4.7618
100 1.06667 .32603 .058 -.0284 2.1618
500 -.90000 .32603 .133 -1.9951 .1951
1000 -2.36667* .32603 .000 -3.4618 -1.2716
500 K+ -2.20000* .32603 .000 -3.2951 -1.1049
K- 4.56667* .32603 .000 3.4716 5.6618
100 1.96667* .32603 .001 .8716 3.0618
200 .90000 .32603 .133 -.1951 1.9951
1000 -1.46667* .32603 .007 -2.5618 -.3716
1000 K+ -.73333 .32603 .285 -1.8284 .3618
K- 6.03333* .32603 .000 4.9382 7.1284
100 3.43333* .32603 .000 2.3382 4.5284
200 2.36667* .32603 .000 1.2716 3.4618
500 1.46667* .32603 .007 .3716 2.5618
Bonferroni K+ K- 6.76667* .32603 .000 5.5770 7.9563
100 4.16667* .32603 .000 2.9770 5.3563
200 3.10000* .32603 .000 1.9103 4.2897
500 2.20000* .32603 .000 1.0103 3.3897
1000 .73333 .32603 .661 -.4563 1.9230
K- K+ -6.76667* .32603 .000 -7.9563 -5.5770
100 -2.60000* .32603 .000 -3.7897 -1.4103
200 -3.66667* .32603 .000 -4.8563 -2.4770
500 -4.56667* .32603 .000 -5.7563 -3.3770
1000 -6.03333* .32603 .000 -7.2230 -4.8437
100 K+ -4.16667* .32603 .000 -5.3563 -2.9770
K- 2.60000* .32603 .000 1.4103 3.7897
200 -1.06667 .32603 .100 -2.2563 .1230
500 -1.96667* .32603 .001 -3.1563 -.7770

141
1000 -3.43333* .32603 .000 -4.6230 -2.2437
200 K+ -3.10000* .32603 .000 -4.2897 -1.9103
K- 3.66667* .32603 .000 2.4770 4.8563
100 1.06667 .32603 .100 -.1230 2.2563
500 -.90000 .32603 .259 -2.0897 .2897
1000 -2.36667* .32603 .000 -3.5563 -1.1770
500 K+ -2.20000* .32603 .000 -3.3897 -1.0103
K- 4.56667* .32603 .000 3.3770 5.7563
100 1.96667* .32603 .001 .7770 3.1563
200 .90000 .32603 .259 -.2897 2.0897
1000 -1.46667* .32603 .011 -2.6563 -.2770
1000 K+ -.73333 .32603 .661 -1.9230 .4563
K- 6.03333* .32603 .000 4.8437 7.2230
100 3.43333* .32603 .000 2.2437 4.6230
200 2.36667* .32603 .000 1.1770 3.5563
500 1.46667* .32603 .011 .2770 2.6563
*.The mean difference is significant at the 0.05
level.

Homogeneous Subsets

S. Aureus
Subset for alpha = 0.05
Konsentrasi Isolat N 1 2 3 4
Tukey HSDa K- 3 10.2667
100 3 12.8667
200 3 13.9333 13.9333
500 3 14.8333
1000 3 16.3000
K+ 3 17.0333
Sig. 1.000 .058 .133 .285
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a.Uses Harmonic Mean Sample Size = 3.000.

142
Lampiran VIII

Dokumentasi Penelitian

7.1 Preparasi Sampel

(a) Akar Pletekan sebelum (b) Akar Pletekan setelah (c) Peneliti sedang
dikeringkan dikeringkan menghaluskan sampel
menggunakan blender

7.2 Ekstraksi Sampel

(a) Ekstraksi dengan n- (b) Hasil ekstraksi dengan metanol (c) Evaporasi
Heksana

7.3 Uji Fitokimia Ekstrak Metanol

143
(a) Flavonoid (b) Terpenoid (c) Saponin (d) Steroid (e) Fenol

7.4 Fraksinasi

(a) Fraksinasi dengan n-butanol (b) Fraksinasi dengan Etil Asetat (c) Fraksinasi dengan Petroleum
Eter
7.5 Uji Fitokimia Senyawa FenolikFraksi Etil Asetat dan n-Butanol

(a) fraksi n-butanol (b) fraksi etil asetat

7.6 Kromatografi Lapis Tipis

144
(a) Mengelusi plat KLT (b) Hasil KLT Fraksi Etil Asetat (c) Hasil KLT Fraksi n-Butanol

145
7.7 Kromatografi Lapis Tipis Preparatif

(a)
(b)
(c)
(d)
(e)
(a) Proses pemisahan komponen senyawa dengan KLTP

(b) Hasil KLTP Fraksi n-butanol (c) Hasil KLTP Fraksi Etil Asetat

(d) Isolat n-butanol (e) Isolat I etil asetat

146
7.8 Uji Aktivitas Antibakteri

(a) Medium MHA (kiri) dan (b) Peremajaan Bakteri Pada Medium Nutrient
Nutrient Broth (kanan) Broth

(c) Pengujian Aktifitas Antibakteri Fraksi n-butanol dengan (d) Pengujian Aktifitas Antibakteri Fraksi
Metode Sumuran etil asetat dengan Metode Sumuran

(e) Media Antibakteri Setelah diinkubasi 24 (d) Perhitungan Diameter Zona Hambat
jam

147
Lampiran IX.

Jurnal Harian Penelitian

JENIS DAN
URAIAN
NO. HARI/TANGGAL KEGIATAN JAM KET.

1. 24 Juli 2017 Blender akar pletekan 10.00-15.00

2. 25 Juli 2017 Blender akar pletekan 09.30-14.00

3. 26 Juli 2017 Blender akar pletekan 09.00-15.30

4. 27 Juli 2017 Blender akar pletekan 09.30-16.00

5. 28 Juli 2017 Blender akar pletekan 10.00-15.30

6. 31 Juli 2017 Blender akar pletekan 09.00-15.00

7. 1 Agustus 2017 Blender akar pletekan 11.00-13.20

8. 2 Agustus 2017 Blender akar pletekan 11.30-16.00

9. 23 Agustus 2017 Maserasi akar pletekan 11.30-16.00

n-heksana

10. 30 Agustus 2017 Maserasi akar pletekan 12.00-16.00

metanol

11. 14 September 2017 Evaporasi ekstrak 11.50-16.00


metanol akar pletekan

12. 15 September 2017 Lanjut evaporasi 08.30-16.00

13. 20 September 2017 Uji fitokimia ekstrak 11.30-14.20


metanol akar pletekan

14. 2 Oktober 2017 Fraksinasi 09.30-16.00

15. 4 Oktober 2017 Evaporasi fraksi n- 08.30-16.00


butanol

148
16. 5 Oktober 2017 Uji fitokimia fraksi 09.00-10.30

17. 16 Oktober 2017 KLT fraksi etil asetat 09.30-16.00

18. 17 Oktober 2017 KLTP fraksi etil asetat 08.30-15.15

19. 30 Oktober 2017 KLT fraksi n-butanol 10.00-16.30

20. 1 November 2017 KLTP fraksi n-butanol 10.00-18.30

21. 6 November 2017 Peremajaan bakteri 09.00

22. 7 November 2017 Uji aktivitas 09.00


antibakteri

23. 4 Desember 2017 Identifikasi UV-Vis 13.00-13.30


isolat n-butanol

24. 8 Desember 2017 Identifikasi UV-Vis 13.00-13.30


isolat etil asetat

Kupang, Januari 2018

Mengetahui

Pembimbing I Peneliti

Drs. Theo Da Cunha, S.Si., M.Si Mitfah Ashani Djenal


NIP. 19570327 198702 1 001 NIP. 1301061005

Lampiran X.

Surat – surat Penelitian

149
150
151