Anda di halaman 1dari 17

AgGRIBISNIS PETERNAKAN

“Etika Bisnis di Bidang Peternakan”

Oleh :
Anindya Septa Diningtyas (1407105049)

PROGRAM STUDI ILMU PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2016

i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan paper ini
dengan semaksimal mungkin. Dan penulis berterimah kasih kepada ibu dosen yang
telah memberikan tugas ini untuk melengkapi mata kuliah Agribisnis Peternakan di
fakultas peternakan Universitas Udayana. Paper ini berjudul tentang Etika Bisnis
Penulis berharap dalam pembuatan paper ini dapat di jadikan sarana untuk
menambah wawasan bagi mahasiswa ataupun pembaca yang lainnya. Penulis
menyadari bahwa dalam penulisan ini banyak kekurangannya ataupun
kesalahannya. Untuk itu penulis berharap adanya kritikan maupun saran demi
untuk memperbaiki tugas-tugas yang akan datang selanjutnya.
Semoga paper ini bisa bermanfaat bagi siapapun yang telah membacanya
dan berguna untuk kedapanya. Apabila dalam penulisan, penegetikan serta cara
penyampainnya kurang baik, penulis memohon maaf sebesar-besarnya karena
manusia tidak luput dari kesalahan dan kelalainnya. Atas perhatiannya penulis
mengucapkan terimah kasih.

Jimbaran, 10 April 2017


Penyusun

Anindya S.D.
(1407105049)

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul..................................................................................................i
Daftar Isi.......................................................................................................... ii
Kata Pengantar ................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN .......................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah...................................................................................... 2
1.3. Tujuan ...................................................................................................... 2
1.4. Manfaat .................................................................................................... 3
BAB II
PEMBAHASAN ............................................................................................. 4
2.1. Pengertian etika bisnis ............................................................................. 4
2.2 Sasaran dan lingkup etika bisnis ............................................................... 5
2.3 Prinsip – prinsip etika bisnis ..................................................................... 5
2.4 Tujuan etika bisnis .................................................................................... 6
2.5 Manfaat etika bisnis .................................................................................. 6
2.6 Prinsip etika bisnis .................................................................................... 7
2.7 Pelanggaran etika bisnis ............................................................................ 8
2.8 Aspekpokok dari etika bisnis .................................................................... 8
Contoh kasus etika bisnis di bidang peternakan ............................................. 9
BAB III
PENUTUP ...................................................................................................... 13
4.1 Kesimpulan .............................................................................................. 13
4.2 Saran ......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 14

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seiring dengan perkembangan zaman yang mempengaruhi semua aspek
kehidupan, baik dari teknologi, lingkungan serta manusia itu sendiri, kini sebuah Etika
kembali di bicarakan untuk menunjukan nilai norma dan moral, tidak lain dalam Etika
Bisnis. Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk
membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta
mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi. Dalam
kegiatan berbisnis, mengejar keuntungan adalah hal yang wajar, asalkan dalam
mencapai keuntungan tersebut tidak merugikan banyak pihak. Jadi, dalam mencapai
tujuan dalam kegiatan berbisnis ada batasnya.
Perilaku etis dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi
kelangsungan hidup bisnis itu sendiri. Bisnis yang tidak etis akan merugikan bisnis itu
sendiri terutama jika dilihat dari perspektif jangka panjang. Bisnis yang baik bukan saja
bisnis yang menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis tersebut
menguntungkan juga bisnis yang baik secara moral. Perilaku yang baik, juga dalam
konteks bisnis, merupakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral.
Bisnis juga terikat dengan hukum. Dalam praktek hukum, banyak masalah timbul
dalam hubungan dengan bisnis, baik pada taraf nasional maupun taraf internasional.
Tanpa disadari, kita sebenarnya menyaksikan banyak pelanggaran etika bisnis dalam
kegiatan berbisnis di Indonesia. Banyak hal yang berhubungan dengan pelanggaran
etika bisnis yang sering dilakukan oleh para pebisnis yang tidak bertanggung jawab di
Indonesia. Berbagai hal tersebut merupakan bentuk dari persaingan yang tidak sehat
oleh para pebisnis yang ingin menguasai pasar. Selain untuk menguasai pasar, terdapat
faktor lain yang juga mempengaruhi para pebisnis untuk melakukan pelanggaran etika
bisnis, antara lain untuk memperluas pangsa pasar, serta mendapatkan banyak
keuntungan. Ketiga faktor tersebut merupakan alasan yang umum untuk para pebisnis
melakukan pelanggaran etika dengan berbagai cara.
Kebutuhan konsumen akan pangan asal hewani (khususnya daging) yang terus
bertambah menuntut penyediaannya yang semakin banyak pula. Hal ini dipicu dengan

1
meningkatnya kesadaran manusia akan pentingnya kebutuhan gizi yang berasal dari
daging hewani. Keadaan tersebut juga didorong oleh meningkatnya tingkat
kesejahteraan hidup manusia sehingga tingkat permintaan daging hewani meningkat
pula. Tidak dapat dipungkiri saat ini mulai banyak ditemukan kasus beredarnya produk
daging yang tidak sehat, yaitu produk yang tidak memenuhi syarat keamanan dan
kehalalan pangan, baik pada produk domestik maupun ekspor impor.
Salah satu sebab yang mendorong merebaknya peredaran daging tidak sehat ini
adalah kurangnya pengetahuan dan kemampuan konsumen untuk memilih produk
(daging) secara tepat, benar dan aman. Konsumen cenderung membeli makanan dengan
harga murah tanpa memperhatikan kualitas sehingga mendorong pelaku usaha yang
tidak bertanggung jawab untuk meraih keuntungan besar tanpa memikirkan kerugian
yang dapat diderita oleh konsumen.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dari makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana pengertian etika bisnis secara umum terutama dibidang peternakan ?
2. Bagaimana prinsip etika bisnis secara umum terutama di bidang peternakan ?
3. Apakah aspek pokok serta tujuan dari etika bisnis ?
4. Bagaimana masalah yang berkaitan dengan etika bisnis di bidang peternakan serta
solusinya?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Menjelaskan tentang etika bisnis, serta dapat mengerti tujuan dari etika bisnis jika
di terapkan dalam masyarakat ?
2. Menjelaskan prinsip etika bisnis secara umum dan menurut para ahli terutama di
bidang peternakan ?

2
1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penlisan makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui
etika bisnis di bidang peternakan secara menyeluruh.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Etika Bisnis


Pengertian etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” berarti adat istiadat atau
kebiasaan.hal ini berarti etika berkaitan dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik,
aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang dianut dan diwariskan dari satu
orang ke orang lain atau dari satu generasi ke generasi lainnya.
Menurut Magnis Suseno (1987) etika adalah sebuah ilmu dan bukan ajaran, yang
menurutnya adalah etika dalam pengertian kedua. Sebagai ilmu yang terutama
menitikberatkan refleksi kritis dan rasional, etika dalam kedua ini mempersoalkan
apakah nilai dan norma moral tertentu harus dilaksanakan dalam situasi konkret
tertentu yang dihadapi seseorang.
Dalam bahasa Kant, etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk
bertindak secara otonomdan bukan secara heteronom. Etika bermaksud membantu
manusia untuk bertindak secara bebas, tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Bebas dan
tanggung jawab adalah unsur pokok dari otonomi moral yang merupakan salah satu
prinsip utama moralitas.
Menurut Allan Afuah (2004) bisnis adalah suatu kegiatan usaha individu yang
terorganisasi untuk menghasilkan dana menjual barang ataupun jasa agar mendapatkan
keuntungan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dan ada di dalam industri. Para
pelaku bisnis ini biasanya disebut entrepreneur.
Keraf, (1993:66) : Etika bisnis merupakan etika khusus (terapan) yang pada awalnya
berkembang di Amerika Serikat. Sebagai cabang filsafat terapan, Etika Bisnis menyoroti
segi – segi moral perilaku manusia yang mempunyai profesi dibidang bisnis dan
manajemen. Oleh karena itu, Etika Bisnis dapat dilihat sebagai usaha untuk
merumuskan dan menerapkan prinsip – prinsip etika di bidang hubungan ekonomi antar
manusia.
Menurut Velasquez (2005) etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan
mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral
sebagaimana diterapkan dalam kebijakan, institusi dan perilaku bisnis.

4
Menurut Agus Arijanto (2011) etika bisnis adalah suatu bagian yang tidak dapat
dipisahkan dalam kegiatan bisnis yang dilakukan oleh para pelaku-pelaku bisnis.
Masalah etika dan ketaatan pada hukum yang berlaku merupakan dasar yang kokoh
yang harus dimiliki oleh pelaku bisnis dan akan menentukan tindakan apa dan perilaku
bagaimana yang akan dilakukan dalam bisnisnya.

2.2. Sasaran dan Lingkup Etika Bisnis


Setelah melihat penting dan relevansinya etika bisnis ada baiknya kita tinjau lebih
lanjut apa saja sasaran dan lingkup etika bisnis itu. Ada tiga sasaran dan lingkup pokok
etika bisnis, yaitu:
1. Etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai prinsip, kondisi dan masalah
yang terkait dengan praktek bisnis yang baik dan etis. Dengan kata lain, etika
bisnis yang pertama bertujuan untuk menghimbau para pelaku bisnis untuk
menjalankan bisnisnya secara baik dan etis. Karena lingkup etika bisnis yang
pertama ini lebih sering ditujukan kepada para manajer dan pelaku bisnis, dan lebih
sering berbicara mengenai bagaimana perilaku bisnis yang baik dan etis.
2. Etika bisnis untuk menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh atau
karyawan, dan masyarakat luas pemilik aset umum semacam lingkungan hidup,
akan hak dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktek bisnis
siapa pun juga. Pada tingkat inietika bisnis berfungsi untuk menggungah
masyarakat untuk bertindak menuntut para pelaku bisnis untuk berbisnis secara
baik demi terjaminnya hak dan kepentingan masyarakat tersebut.
3. Etika bisnis juga berbicara mengenai system ekonomi yang sangat menentukan etis
tidaknya suatu praktek bisnis dalam hal ini etika bisnis lebih bersifat makro, yang
karena itu barangkali lebih tepat disebut sebagai etika ekonomi.

2.3. Prinsip – Prinsip Etika Bisnis


Menurut Sonny Keraf prinsip – prinsip etika bisnis adalah sebagai berikut :
 Prinsip otonomi, adalah sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil
keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya
baik untuk dilakukan.

5
 Prinsip kejujuran, terdapat tiga lngkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara
jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak
didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat – syarat
perjanjian dan kontra. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan
mutu dan harga yang sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam
suatu perusahaan.
 Prinsip keadilan, menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai
dengan aturan yang adil dan sesuai criteria yang rasional objektif, serta dapat
dipertanggung jawabkan.
 Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle) menuntut agar bisnis
dijalankan sedemikian rupa, sehingga menguntungkan semua pihak.

2.4. Tujuan Etika Bisnis


Menurut K. Bertens, ada 3 tujuan yang ingin dicapai dalam mempelajari etika
bisnis yaitu :
1. Menanamkan atau meningkatkan kesadaran akan adanya demensi etis dalam
bisnis. Menanamkan, jika sebelumnya kesadaran itu tidak ada, meningkatkan bila
kesadaran itu sudah ada, tapi masih lemah dan ragu. Orang yang mendalami etika
bisnis diharapkan memperoleh keyakinan bahwa etika merupakan segi nyata dari
kegiatan ekonomis yang perlu diberikan perhatian serius.
2. Memperkenalkan argumentasi moral khususnya dibidang ekonomi dan bisnis, serta
membantu pelaku bisnis/calon pebisnis dalam menyusun argumentasi moral yang
tepat. Melalui studi etika diharapkan pelaku bisnis akan sanggup menemukan
fundamental rasional untuk aspek moral yang menyangkut ekonomi dan bisnis.
3. Membantu pelaku bisnis/calon pebisnis, untuk menentukan sikap moral yang tepat
didalam profesinya (kelak).

2.5 Manfaat Etika Bisnis Bagi Perusahaan


1. Dapat meningkatkan kredibilitas suatu perusahaan, karena etika telah dijadikan
sebagai corporate culture. Dengan adanya etika bisnis, secara intern semua
karyawan terikat dengan standard etis yang sama, sehingga akan mengambil
kebijakan/keputusan yang sama terhadap kasus sejenis yang timbul.

6
2. Dapat membantu menghilangkan grey area (kawasan kelabu) dibidang etika.
(penerimaan komisi, penggunaan tenaga kerja anak, kewajiban perusahaan dalam
melindungi lingkungan hidup).
3. Menjelaskan bagaimana perusahaan menilai tanggung jawab sosialnya.
4. Menyediakan bagi perusahaan dan dunia bisnis pada umumnya, kemungkinan
untuk mengatur diri sendiri (self regulation).
5. Bagi perusahaan yang telah go publik dapat memperoleh manfaat berupa
meningkatnya kepercayaan para investor. Selain itu karena adanya kenaikan harga
saham, maka dapat menarik minat para investor untuk membeli saham perusahaan
tersebut.
6. Dapat meningkatkan daya saing (competitive advantage) perusahaan
7. Membangun corporate image / citra positif , serta dalam jangka panjang dapat
menjaga kelangsungan hidup perusahaan (sustainable company).

2.6. Prinsip Etika bisnis menurut Sonny Keraf (1998)


Ada 5 prinsip etika bisnis yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalankan
praktik bisnis. Pada dasarnya, setiap pelaksanaan bisnis seyogyanya harus
menyelaraskan proses bisnis tersebut dengan etika bisnis yang telah disepakati secara
umum dalam lingkungan tersebut.
Sonny Keraf (1998) menjelaskan bahwa prinsip etika bisnis adalah sebagai
berikut :
1. Prinsip otonomi ; yaitu sikap kemampuan manusia untuk mengambil keputusan
dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang dianggapnya baik untuk
dilakukan
2. Prinsip kejujuran ; terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan
secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak
didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat
perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa
dengan mutu dan harga sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern
dalam suatu perusahaan.

7
3. Prinsip keadilan ; menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai
dengan aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional obyektif, serta dapat
dipertanggungjawabkan.
4. Prinsip saling menguntungkan (Mutual benefit principle) ; menuntut agar bisnis
dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.
5. Prinsip integritas moral ; terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri
pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap menjaga
nama baik pimpinan atau orang-orangnya maupun perusahaannya.

2.7. Pelanggaran dalam Etika Bisnis


Pelanggaran etika bisnis bisa terjadi pada setiap pelaku bisnis atau perusahaan.
Dengan alasan menghasilkan keuntungan yang maksimal dan produk yang ditawarkan
dapat diterima oleh masyarakat, pelaku bisnis kerap menghalalkan segala cara. Pelaku
bisnis dan perusahaan menengah kebawah yang dirugikan dalam pelanggaran etika
bisnis tersebut karena kurangnya kemampuan yng mereka miliki. Bisnis yang baik
bukan saja bisnis yang menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis
tersebut menguntungkan juga bisnis yang baik secara moral.

2.8. Aspek Pokok dari Etika Bisnis


Menurut K.Bertens bisnis modern merupakan realitas yang amat kompleks.
Antara lain ada fakor organisatoris-manajerial, ilmiah-teknologis dan politik-sosial-
kultural. Kompleksibilitas bisnis ini berkaitan langsung dengan kompleksibilitas
masyarakat modern sekarang juga sebagai kegiatan sosial. Maka pendekatan pertama
perbandingannya terutama pada aspek ekoomi dan hukum. Berikut ini tiga sudut
pandang mengenai bisnis :
1. Sudut pandang ekonomis
Bisnis adalah kegiatan ekonomis dengan maksud memperoleh untung. Dalam
bisnis modern untung diekspresikan dalam bentuk uang, tetapi hal itu tidak hakiki
untuk bisnis. Yang penting ialah kegiatan antar manusia dan bertujuan mencari untung
dan karena itu menjadi kegiatan ekonomis. Jadi bisnis selalu bertujuan mendapat
keuntungan dan perusahaan dapat disebut organisasi yang didirikan dengan tujuan
sekali lagi, di antara tujuan-tujuan lain meraih keuntungan. Teori ekonomi menjelaskan

8
bagaimana dalam sistem ekononomi pasar bebas para pengusaha dengan
memmanfaatkan sumber daya yang langka (tenaga kerja, bahan mentah,
informasi/pengetahuan, modal) menghasilkan barang dan jasa yang berguna untuk
masyarakat. Jika kompetisi pada pasar bebas berfungsi dengan semestinya, akan
menyusul efisiensi ekonomis, artinya hasil maksimal akan dicapai dengan pengeluaran
minimal yang tampak dalam harhga produk atau jasa yang paling menarik untuk
publik. Oleh karena efisiensi merupakan kata kunci dalam ekonomi modern, para
ekonom telah mengembangkan pelbagai teknik dan kiat. Dengan demikian dari sudut
ekonomis, good business adalah bisnis yang membawa banyak keuntungan.

2. Sudut pandang moral


Dalam sudut pandang ini mengejar keuntungan merupakan hal yang wajar,
asalkan tidak tercapai dengan merugikan pihak lain. Maka menghormati kepentingan
dan hak orang lain penting. Jadi, ada batasnya juga dalam mewujudkan tujuan
perusahaan namun hal itu juga harus demi kepentingan bisnis itu sendiri sehingga
bisnis yang etis tidak membawa kerugian bagi bisnis itu sendiri, terutama dilihat dari
jangka panjang. Aspek etis dalam sudut pandang moral bisa dilihat dari janji yang
harus ditepati, kepercayaan, dan menjaga nama baik. Dengan demikian perilaku baik
dalam konteks bisnis dalam sudut pandang moral adalah perilaku yang sesuai dengan
norma-norma moral karena suatu perbuatan dinilai baik menurut arti terdalam justru
kalau memenuhi standar etis itu.

3. Sudut pandang hukum


Cabang penting dalam ilmu hukum modern adalah hukum dagang atau hukum
bisnis sebab hukum merupakan sudut pandang normatif, karena menetapkan apa yang
harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum lebih jelas dan
pasti karena peraturan hukum dituliskan hitam atas putih dan ada sanksi tertentu.Tetapi
hukum dan etika memiliki kaitan erat karena etika harus menjiwai hukum. Itu berarti
peraturan hukum harus ditentukan supaya keadaan tidak menjadi kacau, tetapi cara
diaturnya tidak berkaitan dengan etika sehingga peraturan hukum merupakan
pengendapan atau kristalisasi dari keyakinan moral dan serentak juga mengukuhkan
keyakinan moral itu.

9
Disamping itu sudut pandang hukum membutuhkan sudut pandang moral karena
beberapa alasan. Pertama, banyak hal bersifat tidak etis, sedangkan menurut hukum
tidak dilarang. Tidak semuanya yang bersifat imoral adalah ilegal juga. Alasan kedua
yaitu proses terbentuknya undang-undang atau peraturan-peraturan hukum lainnya
memakan waktu lama, sehingga masalah-masalah baru tidak segera bisa diatur secara
hukum. Alasan ketiga ialah bahwa hukum itu sendiri sering kali bisa disalahgunakan.
Perumusan hukum tidak pernah sempurna, sehingga orang yang beritikad buruk bisa
memanfatkan celah-celah dalam hukum (the loopholes of the law). Alasan keempat
bisa terjadi, hukum memang dirumuskan dengan baik, tetapi karena salah satu alasan
sulit untuk dilaksanakan, misalnya karena sulit dijalankan kontrol yang efektif. Tidak
bisa diharapkan, peraturan hukum yang tidak ditegakan akan ditaati juga. Alasan
kelima untuk perlunya sudut pandang moral disamping sudut pandang hukum adalah
bahwa hukum kerap kali mempergunakan pengertian yang dalam konteks hukum itu
sendiri tidak didenifisikan dengan jelas dan sebenarnya diambil dari konteks moral,
contohnya pengertian bonafide.
Bisnis yang baik berarti juga bisnis yang patuh pada hukum. Bahkan, pada tarif
normatif etika mendahului hukum. Jadi, bisnis berlaku etis mereka tegaskan jika dan
selama tidak melangggar hukum (if it’s legal, it’s morally okay) tetapi lebih baik “if it’s
morally wrong, it’s probably also illegal’’ seperti yang dikemukakan Boatright.

2.9 Contoh Kasus Etika Bisnis di Bidang peternakan


Salah contoh kasus dalam etika bisnis adalah menjual bahan pangan asal hewan
yang tidak sehat dan tidak aman. Hampir setiap kali Ramadan datang kita dihadapkan
pada temuan seperti penjualan daging bangkai ayam, daging sapi "glonggongan" dan
beberapa kasus lainnya. Selain faktor kehalalan tentu bahan pangan asal hewan tersebut
membahayakan kesehatan konsumen. Hal ini jelas merugikan masyarakat selaku pihak
konsumen. Harga yang melonjak tinggi ternyata juga disertai kualitas pangan yang
membahayakan kesehatan konsumen.
Solusi atau tindakan yang diperlukan ialah Ketegasan, itulah yang menjadi kata
kunci dalam menghentikan peredaran daging bermasalah. Semestinya, begitu
ditemukan penjualan daging bermasalah, maka, semua rantai penjualan barang haram

10
itu harus dikenai sanksi. Tidak harus menunggu mereka melakukannya berulang kali,
yang akan semakin merugikan konsumen.
Ironinya, justru hal inilah yang belum dilakukan oleh aparat Pemerintah. Selama
ini Pemerintah belum bertindak tegas terhadap para pedagang barang-barang haram itu.
Paling-paling hanya diberi teguran, penyuluhan dan pembinaan. upaya-upaya yang
akan dilakukan dalam menanggulangi penjualan daging sapi glonggongan
yang semakin menjamur terutama di pasar tradisional, dimana dalam hal ini tentunya
diperlukan kerjasama dan koordinasi yang baik antara aparat Kepolisian, dinas
perdagangan., Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, departemen Agama dan MUI.
Pemerintah juga harus melakukan pengawasan secara rutin tidak hanya menjelang
Bulan Ramadhan atau hari –hari besar keagamaan terlebih pemerintah harusnya tidak
bertindak pasif dengan menunggu pengaduan masyarakat.
Selain itu diperlukan kesediaan semua pihak untuk mencegah agar tidak
membanjirnya daging sapi glonggongan didalam masyarakat. Ironinya, justru hal inilah
yang belum dilakukan oleh aparat Pemerintah. Selama ini Pemerintah belum bertindak
tegas terhadap para pedagang yang menjual daging sapi glonggongan. paling-paling
hanya diberi teguran, penyuluhan dan pembinaan. Padahal, sudah ada Undang-undang
Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Pada Pasal 4(c) diungkapkan
bila menjadi hak konsumen untuk mengetahui informasi kualitas produk secara jujur.
Di Pasal 8 dan 9 diulas perbuatan-perbuatan yang dilarang bagi pelaku usaha. Bahkan
di Pasal 62, dijelaskan bila pelaku usaha yang melanggar bisa dikenai pidana denda
hingga 2 milyar rupiah serta sanksi pidana kurungan paling lama 5 tahun. Pemerintah
juga bisa mengacu pada Undang-undang No.6 Tahun 1967 tentang pokok kesehatan.
Yang pasti, pada pelaku perdagangan daging bermasalah bisa dikenakan Pasal-Pasal
pidana yang diatur dalam Kitab Hukum Undang-undang Pidana (KUHP), khususnya
dengan Pasal pidana penipuan.
Faktor penyebab perusahaan atau produsen melakukan pelanggaran :
a. Mengejar keuntungan dan kepentingan pribadi (Personal Gain and Selfish
Interest). Adanya sikap serakah. Dimana para pekerja ini akan menempatkan
kepentingannya untuk memperoleh kekayaan melebihi kepentingan lainnya meski
pun dalam melakukan akumulasi kekayaan tersebut dia merugikan pekerja lainnya,
perusahaan, dan masyarakat.

11
b. Tekanan Persaingan terhadap Laba Perusahaan (Competitive Pressure on profits).
Ketika perusahaan berada dalam situasi persaingan yang sangat keras, perusahaan
sering kali terlibat dalam berbagai aktivitas bisnis yang tidak etis untuk melindungi
tingkat proftabilitas mereka.
c. Pertentangan antara Nilai-Nilai Perusahaan dengan Perorangan (Business Goals
versus Personal Values). Masalah etika dapat pula muncul pada saat perusahaan
hendak mencapai tujuan-tujuan tertentu atau menggunakan metode-metode baru
yang tidak dapat diterima oleh para pekerjanya.
d. Perusahaan ingin menguasai pangsa pasar.
e. Lemahnya kedudukan lembaga yang melindungi konsumen. Lembaga
perlindungan konsumen kurang mengawasi para pengusaha atau produsen
sehingga pelanggaran sangat mungkin terus terjadi.
f. Rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan serta informasi masyarakat mengenai
bahan dan material berbahaya.
g. Kurangnya pemahaman tentang prinsip etika bisnis. Dengan bertujuan mencari
keuntungan sebanyak-banyaknya perusahaan atau produsen terkadang tidak
memahami betul prinsip etika bisnis yang harus diterapkan dengan benar sehingga
pelanggaran dapat terjadi.

Cara mengatasi pelanggaran etika bisnis :


1. Adanya pengawasan yang dilakukan oleh pemerintah atau lembaga yang terkait
terhadap perusahaan.
2. Pemerintah dan lembaga yang terkait berperan aktif dalam mensosialisasikan
informasi terhadap masyarakat awam.
3. Perusahaan atau pelaku bisnis hendaknya benar-benar memahami betul prinsip
etika dalam berbisnis agar tidak merugikan konsumen.
4. Adanya sanksi atau tidak tegas yang diberikan pemerintah terhadap pelaku bisnis
atau perusahaan yang melakukan pelanggaran etika bisnis.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat Sebagai pelaku usaha dalam kasus ini etika dalam
berbisnis itu sangat penting supaya para wirausaha mengetahui etika-etika dalam
berbisnis. Seperti yang telah dibahas pada kasus diatas, itu termasuk ke dalam
pelanggaran etika bisnis.
Etika diharapkan mampu memberikan manfaat yang berarti bagi pelaku usaha,
sehingga diharapkan etika dapat mendorong dan mengajak untuk bersikap kritis dan
rasional dalam mengambil keputusan serta dapat dipertanggung jawabkan. Etika di
harapkan mampu mengarahkan pelaku usaha untuk berkembang menjadi masyarakat
yang tertib, teratur, damai dan sejahtera dengan mentaati norma – norma yang berlaku
demi ketertiban dan kesejahteraan sosial. Setiap pelanggaran yang dilakukan baik
sengaja ataupun tidak sengaja harus diselesaikan menurut kode etik yang berlaku.

3.2 Saran
Saran dari penulis untuk paper ini alangkah lebih baiknya dari mahasiswa sendiri
bisa lngsung terjun kemsyarakat dan menegenal serta melihat langsung apa yang terjadi
dan bisa mendapatkan solusi langsung , sehingga pengalaman lebih luas.

13
DAFTAR PUSTAKA

Keraf, Sonny. 1998. Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya. Yogyakarta : Kanisius

Arijanto, Agus. 2011. Etika Bisnis bagi Pelaku Bisnis : Cara Cerdas dalam
Memahami Konsep dan Faktor-faktor Etika Bisnis dengan Beberapa Contoh
Praktis. Jakarta : Grafindo.

Gustina.2008. Jurnal : Etika Bisnis suatu Kajian Nilai dan Moral dalam Bisnis.

Musdalifah. 2011. Perilaku Biro Penyelenggaraan Haji dan Problematikannya.


Dalam http://riau1.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=476

Google. 2014. Etika Bisnis. Dalam http://quickstart-indonesia.com/etika-bisnis/

Ajie, Reza. 2012. Tugas Etika Bisnis: Makalah Pelanggaran Etika Bisnis. Dalam

http://reza-ajie.mhs.narotama.ac.id/2012/10/08/tugas-etika-bisnis-makalah-
pelanggaran-etika-bisnis/#comment-10639\

14