Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konsep utama sistem tiga strata (STS), yaitu tata cara penanaman dan pemangkasan
rumput dan legominosa (stratum 1), semak legominosa (stratum 2), dan pohon (stratum 3),
sehingga tersedia pakan hijauan sepanjang tahun. Pada musim hujan sebagian besar (>60%)
makanan ternak terdiri dari stratum 1 , pada pertengahan musim kering sebagian besar terdiri
dari stratum 2 (semak), dan pada akhir musim kering sebagian besar terdiri dari stratum 3
(pohon).
Indonesia yang beriklim tropika basah, dengan wilayah yang mempunyai kondisi
topografi berbukit sampai bergunung banyak menghadapi masalah lingkungan. Ekosistem
wilayah ini bersifat kompleks dan rapuh, serta adanya pengaruh manusia yang cukup tinggi
menyebabkan keseimbangan ekologi menjadi rusak. Karena kondisi ekosistem bersifat tidak
mantap, maka sumber daya alam yang tersedia cepat mengalami kemunduran dan kerusakan
yg terjadi bersifat tidak dapat balik.
Berdasarkan alasan tersebut di atas, pengembangan STS termodifikasi untuk wilayah
Indonesia sangat penting artinya. Hal ini disebabkan karena rataan pemilikan lahan kering di
Indonesia berkisar antara 0,5 – 2,5 hektar, sedangkan luasan setiap unit STS yang dianjurkan
untuk Provinsi Bali adalah 0,25 hektar (Nitis, 2001), karena berdasarkan hasil survey
menunjukkan bahwa rataan pemilikan lahan kering untuk Provinsi Bali adalah 0,25 hektar.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah/laporan praktikum Penyediaan Hijauan/STS.
2. Untuk menghitung produksi hijauan pada pohon santan di BPTU – HPT Pangyangan,
Jembrana-Bali.

1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum ini adalah :
1. Mahasiswa dapat menghitung produksi hijauan pada pohon santan yang berada di
BPTU – HPT Pangyangan, Jembrana-Bali.
2. Mahasiswa dapat mengetahui dan mndapatkan hasil produksi hijauan pohon santan
yang di hitung dari ke tiga sampel daun pada ke tiga pohon santan tersebut.

1
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Strategi STS dalam Usaha Meningkatkan Efisiensi Manfaat Lahan

STS merupakan sistem penanaman rumput/leguminosa, semak dan pohon pada satu
areal secara tercampur. STS dapat diterapkan pada lingkungan yang beragam, oleh karena itu
jenis hijauan yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan lingkungan sekitarnya.. Misalnya
untuk lahan kering akan berbeda dengan yang untuk lahan basah ataupun lahan perkebunan.
Berikut disampaikan strategi penanaman STS pada lahan kering dengan tujuan meningkatkan
efisiensi manfaat lahan.

2.1.1 Rumput dan leguminosa (stratum 1)

Rumput unggul yang dapat dipakai adalah buffel, Panicum dan Urokloa, sedangkan
legumnya adalah Stelo verano dan Centrocema. Jenis rumput dan legume unggul ini tahan
terhadap kekeringan. Rumput dan legume ditanam selang seling berkeliling pada pinggiran
petak dan ditanam berlarik. Pada bagian selimut ini dibuat petak-petak berukuran panjang 9
m dan lebar 5 m. Pada petak-petak ini dibuat larikan berjarak 10 cm dengan kedalaman 1 cm
untuk ditanami biji rumput dan legume. Larikan dibuat tegak lurus dengan kemiringan lahan
sehingga biji tanaman tidak dihanyutkan air hujan.

Rumput Panicum ditanam dekat Centrocema karena Panicum yang tumbuh tegak
merupakan panjatan bagi centrocema yang menjalar. Panikum dan centro dapat ditanam
dekat pagar karena tahan terhadap naungan. Selain itu centro dapat juga ditanam di pagar
karena sifatnya yang tahan naungan dan membelit. Rumput bufel dan urokloa tumbuh bagus
di daerah terbuka, karena tidak tahan naungan. Oleh karena itu ditanam jauh dari pagar.± 2,5
m atau lebih dari pagar (Suarna, 1990). Jenis legume stylo verano jangan ditanam di dekat
pagar karena tidak tahan naungan. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi stylo verano
ditanam dekat centrocema karena fiksasi N oleh centrocema akan berpengaruh positif
terhadap stylo verano. Kehadiran legume pada STS sangat penting karena pada akar legume
dijumpai adanya bintil-bintil zat lemas (nodul akar) yang mengandung bakteri yang dapat
memfiksasi N atmosfer sehingga dapat menambah kesuburan lahan.

3
2.1.2 Semak (stratum 2)

Semak yang dapat dipakai adalah gamal dan lamtoro. Kedua jenis semak ini tahan
kekeringan, produksi tingginya, bernilai gizi tinggi dan mudah dikembangbiakan. Cara
penanamannya adalah ditanam berselang-seling sebagai pagar dari petak dengan jarak 10 cm,
Perkembangbiakan gamal dilakukan dengan stek. Gamal ditanam dengan kedalaman 25 cm
dan lebar 25 cm. Sedangkan lamtoro yang ditanam adalah bijinya, sedalam 5 cm. Gamal dan
lamtoro mempunyai perakaran yang dalam, lebat dan kuat sehingga dapat menahan tanah dan
kerikil dari kikisan air hujan. Cabang yang banyak dengan daun yang lebat merupakan kanopi
yang baik untuk menahan air hujan, sehingga mengurangi sentakan air hujan yang jatuh ke
tanah. Daun yang gugur pada musim kering, merupakan humus yang dapat menyerap air
hujan, sehingga mengurangi air hujan yang merembes mengikis tanah. Pada lahan miring
semak berfungsi menahan kerikil besar dan batu yang mengelinding dihanyutkan oleh air
hujan. Diantara kedua jenis semak ini, naungan lamtoro memberikan efek yang lebih bagus
daripada gamal terhadap produksi hijauan yang ada dibawahnya. Rumput Bufel yang tidak
tahan naungan ditanam dekat dengan lamtoro akan memberikan hasil yang lebih bagus
dibandingkan dengan gamal. Hal ini berkaitan dengan perbedaan morfologi daun sehingga
jumlah sinar yang dapat dilewatkan lebih banyak oleh lamtoro dibandingkan gamal.

2.1.3 Pohon (stratum 3)

Jenis pohon yang dapat dipakai adalah bunut, santen dan waru Penanaman pohon
dilakukan berselang-seling disekeliling batas STS dengan jarak 5 m, kedalaman 50 cm dan
lebar 25 cm. Pohon bunut dan santen sangat tahan terhadap kekeringan dan lahan yang miring
karena mempunyai sistem perakaran yang dalam dan kuat. Perakaran yang dalam sangat
menguntungkan karena tidak terjadi kompetisi dengan strata 1 dan 2 . Produksinya tinggi dan
mudah dikembangbiakan. Sedangkan pohon waru mempunyai daya adaptasi yang sangat
bervariasi yaitu dari lahan basah sampai kering. Produksinya tinggi dan bernilai gizi tinggi.
Pohon waru ditanam pada tempat yang datar karena sistem perakarannya dangkal dan
batangnya berkulit tipis sehingga sangat tergantung pada kadar air tanah.

2.1.4 Bagian inti


Pada bagian inti dapat ditanami tanaman pangan/palawija. Di bawah larikan tanaman
semusim, misalnya jagung ditanami tanaman yang berfungsi sebagai penutup tanah karena
mempunyai pertumbuhan yang rapat dan rendah, yaitu tanaman leguminosa seperti
centrocema pubercens, Pueraria phasoloides dan Arachis prostrate. Tanaman ini dipotong

4
pada saat tanaman pangan akan ditanam. Dengan cara ini diharapkan kesuburan lahan akan
bertambah karena sumbangan nitrogen dari bintil-bintil akar, sehingga efisiensi manfaat lahan
juga meningkat.

2.2 Produktifitas Sistem Tiga Strata

Produksi pakan hijauan STS 91% lebih tinggi dari Sistem Tradisional. Munculnya
estrus yang lebih cepat dan calving interval yang lebih pendek pada sapi yang
dipelihara pada STS mengindikasikan bahwa mutu pakan yang dikomsumsi sapi yang
dipelihara pada STS kualitasnya jauh lebih baik daripada yang dipelihara dengan NTS
(Sistem Tradisional). Pakan hijauan dengan STS akan tersedia sepanjang tahun,
sedangkan dengan NTS pakan hijauan berlimpah pada musim hujan, tetapi kekurangan
pada musim kemarau Dengan STS, makanan lebih banyak mengandung pakan semak dan
pohon tetapi lebih sedikit mengandung pakan rumput. Makanan yang banyak
mengandung semak dan pohon lebih banyak mengandung protein kasar daripada
rumput, maka untuk itu pemeliharan sapi dengan STS makanannya lebih bergizi daripada
NTS. Unsur hara dalam bentuk N 75% lebih tinggi, bahan organik 13% lebih tinggi dan
humus 23% lebih tinggi. STS meningkatkan kesuburan lahan dengan bintil-bintil nitrogen
dari tanaman legum, humus dari akar dan daun yang melapuk dan pupuk kandang dari
kotoran ternak.

2.3 Keunggulan Sistem Tiga Strata

Pola penanaman melalui sistem tiga strata atau pertanaman lorong dapat
dikembangkan sebagai suatu cara untuk tetap dapat tersedia sepanjang tahun. Pola ini, telah
berhasil meningkatkan penyediaan pakan ternak dan bahkan meningkatkan produksi ternak
serta mengurangi erosi tanah. Manajemen perbaikan pakan dilakukan dengan memberikan
hijauan pakan bermutu sesuai dengan kebutuhan untuk hidup pokok dan berproduksi,
ditambah daun leguminosa serta konsentrat pakan lokal. Sistem ini juga dapat mengurangi
erosi tanah dan aliran air permukaan memperbaiki infiltrasi air, mempertahankan kelembaban
tanah, memperbaiki struktur tanah, menambah bahan organik tanah, dapat menghambat
penyebaran gulma dan dapat menambah hasil tanaman pokok. Semua pola usahatani yang
dikembangkan perlu berwawasan konservasi tanah.

5
2.4 Uraian Tumbuhan

Lannea coromandelica (Houtt.)Merr. atau Pohon Santan adalah tumbuhan yang dapat
tumbuh secara liar dan biasanya dijadikan sebagai pagar oleh sebagian besar masyarakat
Provinsi Bali. Tumbuhan ini dapat ditemukan di halaman rumah, ditepi jalan dan banyak
terdapat di kebun milik penduduk, serta di gunakan sebagai tumbuhan pagar dan tanaman
sepanjang tahun pada areal STS untuk kebutuhan pakan ternak , khususnya ternak ruminansia
seperti sapi bali yang banyak di budidayakan di bali.

2.5 Sistematika Tumbuhan

Berikut adalah sistematika tumbuhan:


Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Sapindales
Suku : Anacardiceae
Marga : Lannea
Spesies : Lannea coromandelica (Houtt.) Merr.

2.6 Kandungan Kimia

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil skrining Pohon Santan menunjukkan
adanya golongan senyawa glikosida, flavonoid, tanin dan steroid-triterpenoid (Safriana,
2014).

6
BAB III
MATERI DAN METODA
3.1 Tempat Praktikum
Praktikum dilaksanakan di BPTU Jembrana pada tanggal 12 November 2016

3.2 Alat dan Bahan


 AlatTulis

 Buku

 Timbangan

3.3 LangkahKerja
 Pilih 3 pohonsantan yang memiliki ukuran hampir sama

 Hitung jumlah cabang pada ke 3 pohon tersebut

 Hitungj umlah ranting pada salah satu cabang pada masing-masing pohon

 Hitungj umlah daun di salah satu ranting pada masing-masing pohon

 Lalu ambil ranting dan ditimbang untuk menentukan berat daun

 Catat beratnya daun tersebut

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil

Tanaman / sampel Jumlah cabang Jumlah daun Berat segar ( 10


pohon daun )

I 2 5 37 142 gram

II 2 12 39 132 gram

III 2 10 32 153 gram

Rata - rata 9 36 142,3 gram

 Perhitungan produksi daun :

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑐𝑎𝑏𝑎𝑛𝑔
× 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑢𝑛 = jumlah keseluruhan daun
𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑢𝑛


( ) × 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑢𝑛 = berat daun / tanaman
10

5
Pohon 1 : 2 × 37 = 92,5

92,5
: × 142 = 1313,5 gram
10

Jadi, untuk berat daun / tanaman adalah sebesar 1313,5 gram

12
Pohon 2 : × 39 = 234
2

234
: × 132 = 3088,8 gram
10

Jadi, untuk berat daun / tanaman adalah sebesar 3088,8 gram

10
Pohon 3 : × 32 = 160
2

160
: × 153 = 2448 gram
10

Jadi, untuk berat daun / tanaman adalah sebesar 2448 gram

8
1313,5+3088,8+2448
∴ 𝐷𝑎𝑟𝑖 3 𝑝𝑜ℎ𝑜𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑑𝑎𝑢𝑛 = 2283,4 gram
3

untuk berat daun / tanaman

4.2 Pembahasan

9
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan mendapatkan hasil untuk perhitungan
produksi daun dari 3 pohon sampel yang dipilih secara acak yaitu untuk pohon I
mendapatkan hasil akhir 1313,5 gram berat daun pertanaman kemudian untuk pohn II
mendapatkan hasil akhir 3088,8 gram berat daun pertanaman, dan untuk pohon III
mendapatkan hasil akhir 2448 gram berat daun pertanaman. Kemudian rata – rata dari
keseluruhan daun berat segarnya diperoleh sebesar 142,3 gram untuk rata – rata berat daun
pertanaman diperoleh sebesar 2283,4 gram.

5.2 Saran

Saran dari penulis untuk praktikum selanjutnya langkah lebih baik jika diberikan
penuntun agar praktikum lebih berjalan dengan efesien dan efektf tanpa harus bertanya –
Tanya apa yang akan dilakukan di tempat. Karena penuntun sebelum praktikum itu lebih baik
diberikan agar lebih jelas.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://rh-piih.blogspot.co.id/2016/04/pengukuran-produksi-hijauan.html. di akses pada


tanggal 5 Desember 2016.
http://go-livestock.blogspot.co.id/2014/09/sistem-tiga-strata-sts-untuk.html. di akses pada
tanggal 5 Desember 2016.

11
LAMPIRAN

12