Anda di halaman 1dari 15

I.

KONSEP DAN PRINSIP KEBUTUHAN ELIMINASI


A. Pengertian
Eliminasi Menurut kamus bahasa Indonesia, eliminasi adalah pengeluaran,
penghilangan, penyingkiran, penyisihan.Dalam bidang kesehatan, Eliminasi adalah
proses pembuangan sisa metabolisme tubuh baik berupa urin atau bowel (feses).
Eliminasi pada manusia digolongkan menjadi 2 macam, yaitu:
1. Defekasi Buang air besar atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses
makhluk hidup untuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-
padat yang berasal dari sistem pencernaan (Dianawuri, 2009).
2. Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi.
Miksi ini sering disebut buang air kecil.

B. Fisiologi Dalam Eliminasi


1. Fisiologi Defekasi Rektum biasanya kosong sampai menjelang defekasi. Seorang
yang mempunyai kebiasaan teratur akan merasa kebutuhan membung air besar kira-kira
pada waktu yang sama setiap hari. Hal ini disebabkan oleh refleks gastro-kolika yang
biasanya bekerja sesudah makan pagi. Setelah makanan ini mencapai lambung dan
setelah pencernaan dimulai maka peristaltik di dalam usus terangsang, merambat ke
kolon,dan sisa makanan dari hari kemarinnya, yang waktu malam mencapai sekum
mulai bergerak. Isi kolon pelvis masuk ke dalam rektum, serentak peristaltik keras
terjadidi dalam kolon dan terjadi perasaan di daerah perineum. Tekanan intra-abdominal
bertambah dengan penutupan glottis dan kontraksi diafragma dan otot abdominal,
sfinkter anus mengendor dan kerjanya berakhir (Pearce, 2002).

2. Fisiologi Miksi Sistem tubuh yang berperan dalam terjadinya proses eliminasi urine
adalah ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Proses ini terjadi dari dua langkah
utama yaitu: Kandung kemih secara progresif terisi sampai tegangan di dindingnya
meningkat diatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan langkah kedua yaitu
timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih) yang berusaha
mengosongkan kandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya menimbulkan
kesadaran akan keinginan untuk berkemih.
1) Eliminasi Urine dan Fekal

1. PROSES DEFEKASI

Gerakan peristaltis dari otot-otot dinding usus besar menggerakkan tinja dari
saluran pencernaan menuju ke rektum. Pada rektum terdapat bagian yang membesar
(disebut ampulla) yang menjadi tempat penampungan tinja sementara. Otot-otot pada
dinding rektum yang dipengaruhi oleh sistem saraf sekitarnya dapat membuat suatu
rangsangan untuk mengeluarkan tinja keluar tubuh. Jika tindakan pembuangan terus
ditahan atau dihambat maka tinja dapat kembali ke usus besar yang menyebabkan air
pada tinja kembali diserap, dan tinja menjadi sangat padat. Jika buang air besar tidak
dapat dilakukan untuk masa yang agak lama dan tinja terus mengeras, konstipasi dapat
terjadi. Sementara, bila ada infeksi bakteri atau virus di usus maka secara refleks usus
akan mempercepat laju tinja sehingga penyerapan air sedikit. Akibatnya, tinja menjadi
lebih encer sehingga perut terasa mulas dan dapat terjadi pembuangan secara tanpa
diduga. Keadaan demikian disebut dengan diare.

Ketika rektum telah penuh, tekanan di dalam rektum akan terus meningkat dan
menyebabkan rangsangan untuk buang air besar. Tinja akan didorong menuju ke saluran
anus. Otot sphincter pada anus akan membuka lubang anus untuk mengeluarkan tinja.
dalam recum terdapat dua otot yang berperan dalam proses defekasi yaitu otot sphincter
ani internus dan otot shpincter ani eksternus. Otot sphincter ani internus bekerja secara
tidak sadar sehingga sewaktu faecal material (feses) menekan otot tersebut akan
berelaksasi tetapi tidak akan terjadi proses defekasi apabila otot sphincter ani eksternus
berkontraksi. Namun apabila otak menghendaki adanya proses defekasi maka otak
mengirimkan sinyal kepada otot sphincter ani eksternus yang bekerja secara sadar untuk
berelaksasi sehingga terjadi proses defekasi. Selama buang air besar, otot dada,
diafragma, otot dinding abdomen, dan diafragma pelvis menekan saluran cerna.
Pernapasan juga akan terhenti sementara ketika paru-paru menekan diafragma dada ke
bawah untuk memberi tekanan. Tekanan darah meningkat dan darah yang dipompa
menuju jantung meninggi.
Buang air besar dapat terjadi secara sadar dan tak sadar. Kehilangan kontrol dapat
terjadi karena cedera fisik (seperti cedera pada otot sphinter anus), radang, penyerapan
air pada usus besar yang kurang (menyebabkan diare, kematian, dan faktor faal dan
saraf).

2. PROSES PEMBENTKAN URINE

Pembentukan urine melalui tiga proses penting yaitu filtrasi, reabsorbsi dan sekresi
yang berlangsung pada nefron.

a. Filtrasi
Kira kira 25% dari jumlah keseluruhan darah yang dipompakan dari ventrikel
kiri pada setiap siklus jantung dialirkan ke ginjal melalui arteri renalis untuk
proses filtrasi. Proses filtrasi terjadi pada glomerulus. Semua plasma darah dan
komponen lainnya difiltrasi kecuali molekul yang berukuran besar seperti
protein dan sel darah.
b. Reabsorbsi dan sekresi
Cairan yang telah difiltrasi kemudian mengalir ke tubulus renalis. Bahan
bahan yang diperlukan oleh tubuh diserap kembali sehingga yang tersisa
adalah bahan bahan yang tidak diperlukan oleh tubuh. Sel sel tubulus
proksimal menyekresi urea, kreatinin, hydrogen, dan ammonia kedalam urine
(filtrate). Pada lengkung henle, filtrate (urine) menjadi lebih tinggi
konsentrasinya. Selanjutnya, urine dibuang melalui uretra dengan produksi
urine sekitar 1 – 2 cc/kgBB.

1. Proses berkemih (Miksi)


Urine normal adalah pengeluaran cairan yang prosesnya tergantung pada fungsi
organ-organ eliminasi urine seperti ginjal, ureter, bladder dan uretra.
Berkemih merupakan proses pengosongan vesika urinaria (kandung kemih).
Vesika urinaria dapat menimbulkan rangsangan s`raf bila urinaria berisi ± 250-
450 cc (pada orang dewasa) dan 200-250 cc (pada anak-anak). Ginjal
memindahkan air dari darah berbentuk urine. Ureter mengalirkan urine ke
bladder. Dalam bladder urine ditampung sampai mencapai batas tertentu.
Kemudian dikeluarkan melalui uretra.
Komposisi urine :
a. Air (96%)
b. Larutan (4%)
Larutan Organik: Urea, ammonia, keratin, dan asam urat
Larutan Anorganik: Natrium (sodium), klorida, kalium (potasium), sufat,
magnesium, fosfor. Natrium klorida merupakan garam anorganik yang paling
banyak.

a. Miksi (berkemih)
Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi. Proses ini
terjadi dari dua langkah utama yaitu : Kandung kemih secara progresif terisi sampai
tegangan di dindingnya meningkat diatas nilai ambang, yang kemudian mencetuskan
langkah kedua Timbul refleks saraf yang disebut refleks miksi (refleks berkemih) yang
berusaha mengosongkan kandung kemih atau jika ini gagal, setidak-tidaknya
menimbulkan kesadaran akan keinginan untuk berkemih. Meskipun refleks miksi
adalah refleks autonomik medula spinalis, refleks ini bisa juga dihambat atau
ditimbulkan oleh pusat korteks serebri atau batang otak.

b. Refleks Berkemih
Kita dapat mengetahui selama kandung kemih terisi, banyak yang menyertai kontraksi
berkemih mulai tampak, seperti diperlihatkan oleh gelombang tajam dengan garis putus
putus. Keadaan ini disebabkan oleh refleks peregangan yang dimulai oleh reseptor
regang sensorik pada dinding kandung kemih, khususnya oleh reseptor pada uretra
posterior ketika daerah ini mulai terisi urin pada tekanan kandung kemih yang lebih
tinggi. Sinyal sensorik dari reseptor regang kandung kemih dihantarkan ke segmen
sakral medula spinalis melalui nervus pelvikus dan kemudian secara refleks kembali
lagi ke kandung kemih melalui serat saraf parasimpatis melalui saraf yang sama ini.

Ketika kandung kemih hanya terisi sebagian, kontraksi berkemih ini biasanya secara
spontan berelaksasi setelah beberapa detik, otot detrusor berhenti berkontraksi, dan
tekanan turun kembali ke garis basal. Karena kandung kemih terus terisi, refleks
berkemih menjadi bertambah sering dan menyebabkan kontraksi otot detrusor lebih
kuat. Sekali reflex berkemih mulai timbul, refleks ini akan “ menghilang sendiri. “
Artinya, kontraksi awal kandung kemih selanjutnya akan mengaktifkan reseptor regang
untuk menyebabkan peningkatan selanjutnya pada impuls sensorik ke kandung kemih
dan uretra posterior, yang menimbulkan peningkatan refleks kontraksi kandung kemih
lebih lanjut, jadi siklus ini berulang dan berulang lagi sampai kandung kemih mencapai
kontraksi yang kuat. Kemudian, setelah beberapa detik sampai lebih dari semenit,
refleks yang menghilang sendiri ini mulai melemah dan siklus regeneratif dari refleks
miksi ini berhenti, menyebabkan kandung kemih berelaksasi.

Jadi refleks berkemih adalah suatu siklus tunggal lengkap dari peningkatan tekanan
yang cepat dan progresif Periode tekanan dipertahankan dan kembalinya tekanan ke
tonus basal kandung kemih. Sekali refleks berkemih terjadi tetapi tidak berhasil
mengosongkan kandung kemih, elemen saraf dari refleks ini biasanya tetap dalam
keadaan terinhibisi selama beberapa menit sampai satu jam atau lebih sebelum reflex
berkemih lainnya terjadi. Karena kandung kemih menjadi semakin terisi, refleks
berkemih menjadi semakin sering dan semakin kuat. Sekali refleks berkemih menjadi
cukup kuat, hal ini juga menimbulkan refleks lain, yang berjalan melalui nervus
pudendal ke sfingter eksternus untuk menghambatnya. Jika inhibisi ini lebih kuat dalam
otak daripada sinyal konstriktor volunter ke sfingter eksterna, berkemih pun akan
terjadi. Jika tidak, berkemih tidak akan terjadi sampai kandung kemih terisi lagi dan
refleks berkemih menjadi makin kuat.

Organ yang berperan dalam Eliminasi Urine.

a. Ginjal
Merupakan organ retropenitoneal (di belakang selaput perut) yang terdiri atas ginjal
sebelah kanan dan kiri tulang punggung. Ginjal berperan sebagi pengatur komposisi dan
volume cairan dalam tubuh.

b. Kandung kemih (bladder, buli-buli)


Merupakan sebuah kantung yang terdiri atas otot halus yang berfungsi sebagai
penampung air seni (urine).

c. Uretra
Merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar.
2) Faktor-faktor yang mempengaruhi eliminasi fekal

Banyak faktor yang mempengaruhi proses eliminasi fekal. Pengetahuan tentang


faktor-faktor ini memungkinkan perawat melakukan tindakan antisipasi yang diperlukan
untuk mempertahankan pola eliminasi normal.

1. Usia

Perubahan dalam tahapan perkembangan yang memepengaruhi status eliminasi


terjadi di sepanjang kehidupan. Seorang bayi memiliki lambung yang kecil dan lebih
sedikit menyekresikan enzim pencernaan. Beberapa makanan, seperti zat yang
kompleks, ditoleransi dengan buruk. Makanan melewati sakuran pencernaan dengan
cepat karena gerakan peristaltic berlangsung dengan cepat. Bayi tidak mampu
mengontrol defekasi karena kurangnya perkembangan neuromusukular. Perkembangan
biasanya tidak terjadi sampai usia 2-3 tahun. Pertumbuhan usus besar terjadi sangat
pesat selama masa remaja. Sekresi HCL meningkat, khususnya pada anak laki-laki.
Anak remaja biasanya mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih besar.

Sistem GI pada lansia sering mengalami perubahan sehingga merusak proses


pencernaan dan eliminasi. Beberapa perubahan sering pada saluran GI, yang
berlangsung seiring dengan proses. Beberapa lansia mungkin tidak lagi memiliki gigi
sehingga mereka tidak mampu mengunyah makanan dengan baik. Makanan yang
memasuki sakuran GI, hanya dikunyah sebagian dan tidak dapat dicerna karena jumlah
enzim pencernaan didalam saliva dan volume asam lambung menurun seiring dengan
proses penuaan. Ketidakmampuan untuk mencerna makanan yang mengandung lemak
mencerminkan terjadinya kehilangan enzim lipase. Lansia yang dirawat di rumah sakit
terutama berisiko mengalami perubahan fungsi usus.

Selain itu, gerakan peristaltic menurun seiring dengan peningkatan usia dan
melambatnya pengosongan esofagus. Pengosongan esofagus yang melambat dapat
menimbulkan rasa tidak nyaman di bagian epgester abdomen. Materi pengabsorpsi pada
mukosa usus berubah menyebabkan protein, vitamin dan mineral berkurang. Lansia
juga kehilangan tonus otot pada otot dasar perineum dan sfingter anus. Walaupun
integritas sfingter eksterna tetap utuh, lansia mungkin mengalami kesulitan dalam
mengontrol pengeluaran fese. Beberapa lansia kurang menyadari kebutuhanya untuk
berdefekasi akibat melambatnya impuls saraf sehingga mereka cenderung mengalami
konstipasi.

2. Diet

Asupan makanana seriap hari secara teratur membantu memoertahankan pola


peristaltic yang teratur di dalam kolon. Makanan yang dikonsumsi individu
mempengaruhi eliminasi. Serta, residu makanan yang tidak dpat dicerna,
memungkinkan terbentuknya masa dalam materi feses. Makanan pembentuk masa
mengabsorbsi cairan sehingga meningkatkan masa fese. Dinding usus tergang,
menciptakan gerakan peristaltic dan menimbulkan reflex defekasi. Usus bayi yang
belum matang biasanya tidak dapat mentoleransi makan berserat sambil sampai usianya
mencapai beberapa bulan. Dengan menstimulasi peristaltic, masa makanan berjalan
dengan cepat melalui usus, mempertahankan fese tetap lunak. Makanan-makanan
berikut mengandung serat dalam jumlah tinggi ( masa) :

a) Buah-buahan mentah (apel, jeruk)


b) Buah-buahan yang diolah (prum, apricot)
c) Sayur-sayuran (bayam, kangkung, kubis)
d) Sayur-sayuran mentah (seledri, mentimun)
e) Gandum utuh ( sereal, roti)
Mengonsumsi makanan tinggu serat meningkatkan kemungkinan normalnya pola
elominasi jika faktor lain juga normal. Makanan yang menghasilkan gas, seperti
bawang, kembang kol, dan buncis juga menstimulasi peristaltic. Gas yang dihasilkan
membuat dinding usus berdistensi, meningkatkan motilitas kolon.beberapa makanan
pedas dapat meningkatkan peristaltic, tetapi juga dapat menyebabkan pencernaan tidak
berlangsung dan fese menjadi encer.

Beberapa makanan, seperti susus dan produk-produk susu, sulit atau tidak mungkin
dicerna oleh beberapa individu. Hal ini disebabkan oleh intoleransi laktosa. Laktosa,
suatu bentuk karbohidrat sederhana yang ditemukan di dalam susu, secara normal
dipecah oleh enzim lactase. Intoleransi terhadap makanan tertentu dapat mengakibatkan
diare, distensi gas, dan kram .

3. Asupan Cairan
Asupan cairan yang tidak adekuat atau gangguan yang meyebabkan kehilangan
cairan( seperti muntah) mempengaruhi karakter feses. Cairan mengencerkan isi usus,
memudahkannya bergerak melalui kolon. Asupan cairan yagng menurun memperlambat
pergerakan makanan yang melalui usus. Orang dewasa harus minum 6-8 gelas ( 1400-
2000 ml) cairan setiap hari. Minuman ringan yang hangat dan jus buah memperlunak
fese dan meningkatkan peristaltic. Konsumsi susu dalam jumlah besar dapat
memperlambat peristaltic pada beberapa individu dan menyebabkan konstipasi.

4. Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik meningkatkan peristaltic, sementara imobilitas menekan motilitas


kolon. Ambukasi dini setelah klien menderita suatu penyakit dianjurkan untuk
meningkatkan dipertahankanya eliminasi normal. Upaya mempertahankan tonus otot
rangka,yang digunakan selama poses defeasi, merupakan hal yang penting.
Melemahnya otot-otot dasar panggul dan abdomen merusak kemampuan indivuidu
untuk meningkatkan tekanan intraabdomen dan untuk mengontrol sfingter eksterna.
Tonus otot dapat melemah atau hilang akibat penyakit yang belangsung dalam jangka
waktu lama atau penyakit neurologis yang merusak transmisi saraf.

5. Faktor Psikologis

Fungsi dari hampir semua sistem tubuh dapat mengalami gangguan akibat stress
emosional yang lama. Apabila individu mengalami kecemasan, ketakutan, atau marah,
muncul respons stress, yang memungkinkan tubuh membuat pertahanan. Untuk
menyediakan nutrisi yang dibutuhkan dalam upaya pertahanan tersebut, proses
pencernaan dipercepat dan peristaltic meningkat. Efek samping peristaltic yang
meningkat antara lain diare dan distensi gas. Apabila individu mengalami depresi,
sistem saraf otonom memperlambat impuls saraf dan peristaltic dapat menurun.
Sejumlah penyakit pada saluran GI dapat dikaitkan dengan stress. Penyakit ini meliputi
colitis ulseratif, ulkus lambung, dan penyakit crohn. Upaya penelitian berulang yang
dilakukan sejak lama telah gagal mempuktikan mitos bahwa penyebab klien mengalami
penyakit tersebut adalah karena memiliki kondisi psikopatologis. Namun, ansietas dan
depresi mungkin merupakan akibat dari masalah kronik tersebut.
Faktor yang meningkatkan Eliminasi
a) Lingkungan yang bebas stress
b) Kemampuan untuk mengikuti pola defekasi pribadi, privasi
c) Diet tinggi serat
d) Asupan cairan normal (jus buah, cairan hangat)
e) Olahraga ( berjalan)
f) Kemampuan untuk mengambil posisi jongkok
g) Diberikan laksatif dan katartik secara tepat
Faktor yang merusak Eliminasi

a) Stress emosional ( ansietas atau depresi)


b) Gagal mencetuskan reflex defekasi, kurang waktu atau kurang privasi
c) Diet tinggi lemak, tinggi karbohidrat
d) Asupan cairan berkurang
e) Imobilitas atau tidak aktif
f) Tidak mampu jongkok akibat imobililtas, usia lanjut, deformitas musculoskeletal,
nyeri dan nyeri selama defekasi
g) Penggunan analgesic narkotik, antibiotic dan anesthesia umum, serta penggunaan
katartik yang berlebihan
6. Kebiasaan Pribadi
Kebiasaan eliminasi pribadi mempengaruhi fungsi usus. Kebanyakan individu
merasa lebih mudah melakukan defekasi di kamar mandi mereka sendiri pada waktu
yang paling efektif dan paling nyaman bagi mereka. Jadwal kerja yang sibuk dapat
mengganggu kebiasaan dan dapat mengakibatkan perubahan,seperti konstipasi. Individu
harus mencari waktu terbaik untuk melaksanakan eliminasinya. Reflex gastrokolik
adalah refleks yang paling mudah distimulus untuk menimbulkan defekasi setelah
sarapan.

Klien yang dirawat di rumah sakit jarang dapat mempertahankan privasi saat melakukan
defekasi. Fasilitas kamar mandi sering kali digunakan bersama – sama dengan teman
sekamarnya, yang kebiasaan higienenya mungkin cukup berbeda. Penyakit yang
diderita klien sering membatasi aktivitas fisiknya dan ia membutuhkan pispot atau
commode yang ditempatkan disamping tempat tidurnya. Pemandangan , suara, dan bau
yang dihubungkan dengan kondisi tempat fasilitas toilet digunakan bersama – sama atau
saat menggunakan pispot sering menimbulkan rasa malu. Rasa malu sering membuat
klien mengabaikan kebutuhannya untuk berdefekasi, yang dapat memulai siklus rasa
tidak nyaman yang hebat.

7. Posisi Selama Defekasi


Posisi jongkok merupakan posisi yang normal saat melakukan defekasi. Toilet
modern dirancang untuk memfasilitasi posisi ini, sehingga memungkinkan individu
untuk duduk tegak kearah depan, mengeluarkan tekanan intraabdomen dan
mengkontraksi otot – otot pahanya. Namun, klien lansia atau individu yang menderita
penyakit sendi, seperti arthritis, mungkin tidak mampu bangkit dari tempat duduk toilet
yang rendah. Alat untuk meninggikan tempat duduk toilet memampukan klien untuk
bangun dari posisi duduk ditoilet tanpa bantuan. Klien yang menggunakkan alat tersebut
dan individu yang berpostur pendek, mungkin membutuhkan pijakan kaki yang
memungkinkan ia menekuk pinggulnya dengan benar.

Untuk klien imobilisasi ditempat tidur, defekasi sering kali dirasakan sulit. Posisi
terlentang tidak memungkinkan klien mengkontraksi otot – otot yang digunakan selam
defekasi. Membantu klien keposisi duduk yang lebih normal pada pispot akan
meningkatkan kemampuan defekasi.

8. Nyeri
Dalam kondisi normal, kegiatan defekasi tidak menimbulkan nyeri. Namun, pada
sejumlah kondisi, termasuk hemoroid, bedah rectum, fistula rectum , bedah abdomen
dan melahirkan anak dapat menimbulkan rasa tidak nyaman ketika defekasi. Pada
kondisi – kondisi seperti ini, klien seringkali mensupresi keinginannya untuk
berdefekasi guna menghindari rasaa nyeri yang mungkin akan timbul. Konstipasi
merupakan masalah umum pada klien yang merasa nyeri selama defekasi.

9. Kehamilan
Seiring dengan meningkatnya usia kehamilan dan ukuran fetus, tekanan diberikan
pada rectum. Obstruksi sementara akibat keberadaan fetus mengganggu pengeluaran
feses. Konstipasi adalah masalah umum yang muncul pada trimester terakhir. Wanita
hamil sering mengedan selama defekasi dapat menyebabkan terbentuknya hemoroid
yang permanen.
10. Pembedahan dan Anestesi
Agens anestesi yang digunakan selama proses pembedahan, membuat gerakan
peristaltic berhenti untuk sementara waktu. Agens anestesi yang dihirup menghambat
implus saraf parasimpatis keotot usus. Kerja anestesi tersebut memperlambat atau
menghentikan gerakan peristaltic. Klien yang menerima anestesi local atau regional
beresiko lebih kecil untuk mengalami perubahan eliminasi Karena aktivitas usus hanya
dipengaruhi sedikit atau bahkan tidak dipengaruhi sama sekali.

Pembedahan yang melibatkan manipulasi usus secara langsung, sementara akan


menghentikan gerakan peristaltic. Kondisi ini disebut ileus paralitik yang biasanya
berlangsung sekitar 24 sampai 48 jam. Apabila klien tetap tidak aktif atau tidak dapat
makan setelah pembedahan, kembalinya fungsi normal usus dapat tehambat lebih lanjut.

11. Obat – obatan


Obat – obatan dapat untuk meningkatkan defekasi telah tersedia. Laksatif dan
katartik melunakkan feses dan meningkatkan gerakan peristaltic. Walaupun sama, kerja
laktasif lebih ringan daripada katartik. Apabila digunakan dengan benar, laksatif dan
katartik mempertahankan pola eliminasi normal dengan aman. Namun, penggunaan
katartik dalam jangka waktu lama menyebabkan usus besar kehilangan tonus ototnya
dan menjadi kurang responsive terhadap stimulus yang diberikan oleh laksatif.
Penggunaan laksatif yang berlebihan juga dapat menyebabkan diare beratyang dapat
menyebabkan dehidrasi dan kehilangan elektrolit. Minyak mineral, sebuah laksatif
umum, menurunkan absorbsi vitamin yang larut dalam lemak. Laksatif dapat
mempengaruhi kemanjuran kerja obat lain dengan mengubah waktu transit( mis : waktu
obat berada di dalam saluran GI ).

Obat – obatan, seperti disiklomin HCL ( Bentyl ) menekan gerakan peristaltik dan
mengobati diare. Beberapa obat memeiliki efek samping yang dapat mengganggu
eliminasi. Obat analgesic narkotik menekan gerakan peristaltic. Opiat umumnya
menyebabkan konstipasi. Obat – obatan antikolinergic, seperti atropine atau glikopirolat
( Robinul ), menghambat sekresi asam lambung dan menekan motilitas saluran GI.
Walaupun bermanfaat dalam mengobati gangguan usus, yakni hiperaktivitas usus, agens
antikolinergic dapat menyebabkan konstipasi. Banyak antibiotic menyebabkan diare
dengan mengganggu florabakteri normal didalam saluran GI. Apabila diare dan kram
abdomen yang terkait denagn diare semakin parah, obat – obatan yang diberikan kepada
klien mungkin perlu diubah. Intervensi keperawatan yang dapat digunakan.

3) Teknik dan Prinsip Membantu Klien Untuk BAB di Tempat Tidur

Menolong membuang air besar dengan menggunakan pispot merupakan tindakan


keperawatan yang dilakukan kepada pasien yang tidak mampu buang air besar secara
sendiri dikamar kecil dengan cara menggunakan pispot (penampung) untuk buang air
besar ditempat tidur, dengna tujuan memenuhi kebutuhan eliminasi alvi (BAB).

Alat dan bahan :

1. Alas / perlak
2. Pispot
3. Air bersih
4. Tisu
5. Handuk
6. Sampiran apabila tempat pasien di bangsal umum
7. Sarung tangan
8. Sabun

Prosedur kerja :

1. Cuci tangan
2. Jelaskan prosedur
3. Pasang sampiran
4. Gunakan sarung tangan
5. Pasang pengalas di bawah glutea
6. Tempatkan pispot tepat dibawah glutea, tanyakan pada klien apakah sudah
nyaman atau belum, kalau belum atur sesuai dengan kebutuhan.
7. Letakkan sebuah gulungan handuk di bawah kurva lumbat punggung klien untuk
menambah rasa nyaman.
8. Anjurkan pasien untuk buang air besar pada pispot yang sudah disediakan.
9. Setelah selesai siram dengan air hingga bersih dan keringkan dengan tisu.
10. Catat tanggal dan jam defekasi serta karakteristiknya.
11. Cuci tangan.

Prosedur pelaksanaan

1. Bawa peralatan ke dekat pasien.


2. Jelaskan tujuan dan prosedur.
3. Tutup jendela dan pasang sampiran.
4. Pasang pengalas dibawah glutea
5. Pasang selimut mandi.
6. Cuci tangan
7. Pakai sarung tangan
8. Posisikan pasien dorsal rekamben
9. Tempatkan pispot yang sudah diberi air dibawah glutea, tanyakan pada pasien
apakah sudah nyaman atau belum
10. Letakkan sebuah gulungan handuk dibawah kurva lumbal punggung pasien
untuk menambah rasa nyaman.
11. Anjurkan pasien untuk buang air besar pada pispot yang sudah disediakan
12. Pastikan bahwa seprei dan stik laken tidak terkena.
13. Tingalkan pasien dan anjurkan untuk membunyikan bel jika sudah selesai atau
memberi tahu perawat.
14. Jika sudah selesai, tarik pispot dan letakkan lengkap dengan tutupnya diatas
meja dorong/trolly
15. Bersihkan dengan tisu dan menggunakan sabun, lalu bersihkan dengan air
bersih.
16. Keringkan dengan tisu
17. Bereskan alat dan rapikan pasien
18. Dokumentasi.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.academia.edu/4799238/KONSEP_DASAR_KEBUTUHAN_ELIMINASI
http://www.proses_pencernaan_makanan.html
http://www.siklus_alami_tubuh_dalam_proses_pencernaan_makanan.html.
http://ninanuranisa14.blogspot.co.id/p/faktor-yang-mempengaruhi-eliminasi-fekal.html
https://wadung.wordpress.com/2010/03/21/menolong-pasien-bab-diatas-tempat-tidur-
huknah-dan-kolostomi/
Potter, P.A., & Perry, A.G. (2005). Fundamental Keperawatan (Edisi 4). Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta