Anda di halaman 1dari 32

Seleksi Minat Bakat PPG Pra-Jabatan

Bersubsidi 2017
June 23, 2017 dKampus 11 Comments #Profesi, #Seleksi, #Wawancara, Guru, PPG

Seleksi Minat Bakat PPG Pra-Jabatan adalah seleksi minat, bakat dan kepribadian serta sikap dan
penampilan calon mahasiswa PPG Pra-jabatan. Teknis pelaksanaan Seleksi Minat Bakat PPG
Pra-Jabatan adalah dalam bentuk wawancara. Pelaksanaan wawancara sesuai dengan kelompok
yang terdiri dari lima orang peserta dengan satu orang pewawancara. Dan pelaksanaannya diatur
sesuai jadwal (tempat dan waktu) yang telah ditentukan.

Pelaksanaan Seleksi Minat Bakat PPG Pra-Jabatan


Teknis pelaksanaan seleksi minat bakat PPG Pra-Jabatan bersubsidi 2017 dilaksanakan dalam
bentuk wawancara. Pelaksanaan wawancara berlangsung selama satu jam untuk setiap
kelompok. Menggunakan strategi Focus Group Discussion (FGD) yaitu dengan langkah-langkah
seperti berikut:

1. Pewawancara bertindak sebagai moderator, diawali dengan menyajikan suatu kasus.


Seperti tentang permasalahan pendidikan di Indonesia.
2. Peserta mendiskusikan kasus tersebut.
3. Semua peserta diberikan kesempatan untuk menganalisis dan memberikan saran/solusi
alternatif.
4. Pewawancara mengamati dan memberikan penilaian kepada peserta.
5. Biasanya pewawancara menggali informasi dari setiap peserta untuk melengkapi data
yang lebih komprehensif berkaitan dengan semua aspek penilaian wawancara

Dokumen Persyaratan Seleksi Minat Bakat PPG

Adapun dokumen yang WAJIB dibawa pada saat pelaksanaan Wawancara PPG Pra-Jabatan
2017 antara lain:

1. Kartu Peserta Seleksi Bakat Minat


2. Ijazah atau SKL
3. Transkrip Nilai
4. Kartu Identitas (KTP)
5. Surat Bebas Napza, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari BNN atau yang
berwenang;
6. Sehat jasmani yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter rumah sakit
pemerintah;
7. Sehat rohani yang dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter rumah sakit
pemerintah;
8. Surat Berkelakuan baik yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kepolisian; dan
9. Surat Pernyataan Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama mengikuti program
PPG, yang dibuktikan dengan surat pernyataan bermaterai Rp 6.000,00 dan disyahkan
oleh Lurah/Kepala Desa.

Kisi-kisi Penilaian Seleksi Minat Bakat PPG


Aspek penilaian wawancara merupakan panduan/pedoman/kisi-kisi penilaian dalam seleksi
wawancara minat bakat PPG. Adapun kisi-kisi penilaian dalam seleksi wawancara minat bakat
PPG Prajabatan Bersubsidi 2017 adalah sebagai berikut:

1. Wawasan dan pengetahuan tentang Keguruan. Meliputi: Landasan Yuridis Guru dan
Kualifikasi serta Kompetensi Guru.
2. Motivasi; Meliputi: Alasan untuk menjadi Guru Profesional (termasuk
minat/keterpanggilan jiwa), Kesiapan untuk menjadi guru, dan Tunjukkan
kesungguhan/spirit untuk menjadi guru profesional.
3. Bakat dan Kepribadian; Meliputi: (a) Jiwa yang Stabil; (b) Berwibawa; (c) Santun; (d)
Konsisten; (e) Percaya Diri; dan (f) Prestasi yang pernah diraih.
4. Sikap/Penampilan Diri; Meliputi: (a) Penampilan sebagai sosok pendidik; (b) Cara
berpakaian; (c) Gaya berbicara/kemampuan berkomunikasi; (d) Postur dan kesamaptaan.

Informasi terakhir (1 hr sebelum berita ini diterbitkan) teknis seleksi minat bakat dilaksanakan dalam
bentuk wawancara. Sumber: POB seleki penerimaan calon mahasiswa PPG Pra Jabatan Bersubsidi 2017.
Terimakasih

Terimakasih @Hernah. Sepengetahuan kami, yang namanya seleksi pasti menerapkan sistem lolos dan
gugur. Saran kami saat pelaksanaan seleksi wawancara minat bakat sampaikan cita-cita (Visi hidup), dan
alasan mengapa memilih guru sebagai profesi sebaik mungkin. Serta tunjukkan komitmen, semangat,
dan kepribadian terbaik-mu. Semoga lolos dan jadi guru professional

Berdasarkan pengalaman seleksi wawancara PPG jalur SM3T, “permasalahan pendidikan” yang akan
dibahas akan disampaikan pada saat pelaksanaan wawancara. Permasalahan pendidikan terkait apa dan
ke arah mana, tergantung pewawancara. Semoga membantu, dalam persiapan diri menghadapi seleksi
wawancara minta bakat PPG Prajabatan bersubsidi 2017. Terimakasih.

Artikel ini merupakan ringkasan POB (Prosedur Operasional Baku) Seleksi Minat, Bakat, dan Kepribadian
PPG Bersubsidi 2017 yang kami dapatkan dari panitia seleksi. Mohon maaf, kami tidak
memiliki/mendapatkan izin untuk mempublikasikan dokumen POB seleksi wawancara minat bakat PPG
ini. Harapan kami, mudah-mudahan artikel ini dapat memberikan sedikit gambaran bagi teman-taman
yang akan mengikuti seleksi minat bakat dan kepribadian PPG. Terimakasih.
ALASAN MENJADI SEORANG GURU
Posted on April 18, 2013 by redhoparamita

ALASAN SAYA INGIN

MENJADI SEORANG GURU

Mengapa saya ingin menjadi seorang “Guru”? alasannya adalah karena saya ingin berbagi ilmu,
apa yang saya miliki dan saya peroleh baik selama jenjang sekolah maupun pengalaman selama
mencapainya. Motivasi terbesar saya untuk menjadi guru, selain itu saya ingin memajukan
generasi bangsa. Kepolosan, ketakutan, kebingungan keceriaan dan kebahagiaan mereka ketika
saya memberikam materi dan ketika mereka mulai mengerti, membuat saya selalu bahagai dan
selalu ingin datang ke sekolah untuk bertemu anak didik saya.walaupun saya saat ini hanya
seorang guru BIMBEL. Saat ini saya masih duduk di bangku kuliah semester dua, tapi keinginan
saya untuk menjadi seorang pengajar sangat besar. Tidak saya pikirkan seberapa uang yang
diperoleh memang tidak sebanding dengan pengorbanan tenaga dan pikiran. Tapi kemuliaan
pekerjaannya mendorong saya untuk menjadi seorang guru. Saya ingat ada pepatah mengatakan
“GURU ADALAH FIGUR PAHLAWAN TANPA TANPA TANDA JASA”

Kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan
nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab. Banyak alasan menjadi seorang guru itu sangat
menyenangkan yaitu:

1. Mengenal beragam karakter. Menjadi guru berarti anda akan mengenal beragam karakter.
Mulai dari murid yang baik, rajin, hingga yang malasnya luar biasa. Beruntunglah jika
anda adalah seorang guru yang mampu berkomunikasi dengan berbagai macam karakter
orang.
2. Menjadi sumber ilmu. Guru dianggap sebagai gudang ilmu. Oleh sebab itu, guru
sebaiknya memiliki pengetahuan yang luas. Murid tentu akan senang tak terperi ketika
guru mampu menjawab pertanyaan.
3. Melatih kesabaran .Guru patut bersyukur karena dapat belajar mengendalikan diri.
4. Memperluas ilmu. Murid zaman sekarang banyak yang berpikir kritis. Hal ini patut
diantisipasi guru dengan memperluas ilmunya melalui berbagai macam sumber

Seorang guru itu mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan
tugas kemasyarakatan (sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka
tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan
etika. Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu
pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan
seharusnya diketahui oleh anak.

Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas
utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi
diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri. menyeluruh dan terpadu. Guru
seharusnya dengan melalui pendidikan mampu membantu anak didik untuk mengembangkan
daya berpikir atau penalaran sedemikian rupa sehingga mampu untuk turut serta secara kreatif
dalam proses transformasi kebudayaan ke arah keadaban demi perbaikan hidupnya sendiri dan
kehidupan seluruh masyarakat di mana dia hidup.

Beberapa alasan saya mengapa ingin menjadi guru,disamping guru adalah pekerjaan yang
mulia:

1. 1. Berbagi ilmu

Berbagi ilmu itu sangat-sangat istimewa. Ketika kita berbagi sesuatu hal yang bersifat materi,
maka materi tersebut bisa saja habis dibagikan. Tetapi jika kita berbagi ilmu, ilmu tersebut tidak
akan pernah habis, malah akan semakin banyak.

1. 2. Salah Satu Sarana untuk Membantu Sesama

Menjadi pendidik juga merupakan salah satu sarana untuk membantu sesama, bagaimana dengan
ilmu yang kita miliki dapat dibagi kepada orang lain dan membuat kehidupan mereka menuju
arah yang lebih baik.

1. 3. Salah Satu Sarana untuk Membangun Bangsa

Kunci kemajuan suatu bangsa terletak pada pendidikan. (Fukuzawa Yukichi. Bapak Pendidikan
Modern Jepang)

1. 4. Salah Satu Sarana Belajar Mendidik dan menggali potensi anak

Karena potensi ini merupakan sebuah hal yang menarik, karena setiap tahun akan
selalu muncul tantangan baru yang diikuti dengan potensi baru untuk sukses. Mendidik lagi
bibit-bibit baru dan tentu dengan inovasi dan improvisasi baru dalam cara bimbingan agar dapat
menciptakan generasi yang bermutu.

1. 5. Mencapai Kesuksesan murid


Kesuksesan murid akan membawa pada kelangsungan karier seorang guru. Setiap murid
yang tidak mengerti tentang satu hal lalu belajar untuk mengetahuinya lewat bantuan
guru , akan memberikan perasaan gembiraseorang guru . Dan ketika seorang murid yang
telah diprediksikan tidak naik kelas bisa berhasil di tangan guru, maka ini bisa membuat
stres yang biasanya datang dalam pekerjaan hilang. Bayangkan perasaan yang dirasakan
ketika ada seorang murid yang berhasil karena kerja keras guru
KATA-KATA MOTIVASI UNTUK SEORANG GURU

Mendidik anak-anak bukan berarti mengajarkan kepada mereka sekumpulan ilmu pengetahuan
semata. mendidik berarti mengajarkan kepada anak-anak kita sejak usia dini, kemampuan untuk
siap dan mampu menghadapi tantangan dunia masa depan yang akan menjadi ajang hidup
mereka nantinya.

Dan ini berarti menanamkan keingintahuan dan rasa cinta belajar seumur hidup, kreativitas,
keberanian mengemukakan pendapat dan berekspresi, serta penghargaan akan segala bentuk
perbedaan (antar manusia).

siswa tidak peduli betapa pintarnya seorang guru, yang mereka pedulikan adalah apakah guru
tersebut juga peduli terhadap dirinya. Indikasi bahwa seseorang bisa disebut guru (pendidik)
yang hebat bukanlah pada kemampuannya mengajarkan murid untuk pintar menjawab semua
jenis pertanyaan, tetapi pada kemampuannya menginspirasi murid agar mengajukan pertanyaan
yang dia sendirinya kesulitan untuk menjawabnya.

(Dengan kata lain, bila guru mengajar agar murid bisa sama pintarnya dengan dia, itu biasa
saja. Guru yang bagus adalah yang bisa mendidik muridnya agar jauh lebih pintar dan lebih
kritis daripada dirinya sendiri.)

8 Alasan Jadi Guru itu Menyenangkan


Christina Andhika Setyanti & Christina Andhika Setyanti , CNN Indonesia
Selasa, 25/11/2014 12:35 WIB

 Sebarkan:


Upacara peringatan Hari Guru Nasional (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam hidup, semua orang melalui proses belajar dan mengajar. Di
pekerjaan apapun, tanpa disadari Anda akan mengajari anak buah atau rekan kerja untuk
menyelesaikan pekerjaannya. Meski demikian, kenyataannya, tidak semua orang punya
keinginan yang kuat untuk menjadikan guru sebagai profesi dalam hidup mereka.

Hal ini tentunya disebabkan oleh banyak faktor, antara lain gaji yang rendah, pekerjaan yang
banyak, dan tekanan agar muridnya bisa mendapat nilai bagus dalam ujian.

Padahal sebenarnya, menjadi guru adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia. Di sisi lain,
menjadi guru sebenarnya juga bisa menjadi pekerjaan yang paling 'memuaskan' hati. Dilansir
dari Divine Caroline, berikut 10 alasan mengapa guru adalah profesi yang paling menyenangkan.

1. Membangkitkan semangat belajar


Ketika mengajari seseorang tentang sesuatu, mau tak mau Anda juga akan ikut belajar. Anda tak
mungkin mengajari orang lain, jika tak menguasai bidang tersebut. Dengan demikian, dengan
mengajar, semangat belajar dalam diri juga akan semakin bertambah. Nilai plusnya, Anda juga
bertambah pandai.

2. Berpengaruh dalam kehidupan generasi mendatang


Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Generasi muda membutuhkan sosok orang yang bisa
dijadikan panutan dalam hidup mereka. Selain orang tua, guru adalah orang yang terdekat
dengan mereka di sekolah. Selain ilmu tinggi, murid-murid akan mencontoh perilaku baik dan
bijak yang dimiliki para guru. Sebagai guru, secara tak langsung Anda juga berpengaruh dalam
perilaku dan hidup mereka di masa depan.

3. Pekerjaan yang tak monoton


Dibanding dengan pegawai kantoran, guru memiliki pekerjaan yang lebih dinamis dan beragam.
Setiap hari Anda akan terlibat dengan aktivitas yang berbeda-beda, termasuk dari ucapan lucu
para murid, tingkah polah yang menggemaskan, sampai topik pelajaran yang berbeda.

4. 'Bos' di kelas sendiri


Ketika pelajaran dimulai dan pintu kelas sudah ditutup, Anda adalah bos di ruang kelas Anda
sendiri. Gurulah yang akan memutuskan apa yang akan terjadi hari itu, dari pelajaran yang akan
dimulai, siapa yang akan maju mengerjakan soal di papan, sampai ujian dadakan. Tidak banyak
pekerjaan yang memungkinkan Anda untuk bisa memberikan kebebasan seperti itu.

5. Lebih banyak waktu untuk keluarga


Kehidupan pekerjaan seharusnya bisa seimbang dengan kehidupan keluarga. Seorang pegawai
kantoran biasanya mengalami kesulitan untuk punya waktu luang di hari kerja. Sedangkan guru,
memiliki jam kerja yang lebih singkat, sesuai dengan jam anak bersekolah.

6. Waktu libur lebih lama


Seorang guru memiliki waktu libur yang lebih lama. Biasanya waktu libur mereka mengikuti
jadwal libur murid-muridnya, misalnya di waktu libur Lebaran, dan libur semester.

7. Menyalurkan rasa cinta pada anak-anak


Ada banyak orang yang memiliki rasa sayang dan perhatian lebih besar pada anak-anak. Dengan
menjadi guru, Anda bisa menyalurkan perasaan sayang ini dengan cara mengajari mereka untuk
jadi orang yang lebih baik dalam perkembangan, kehidupan, dan kepandaian.

8. Hiburan saat suasana hati tak baik


Ada-ada saja tingkah atau perkataan dari murid-murid (khususnya murid TK dan SD) yang bisa
memancing gelak tawa Anda. Anak-anak akan mengatakan banyak hal yang lucu dan polos.
Mereka pun tak segan untuk mengungkapkan kata yang menyentuh perasaan, misalnya, perasaan
sayang kepada guru.
V

Mengapa Menjadi Guru?

”Kebanyakan guru memilih karier demikian karena ini adalah profesi yang membantu orang lain.
[Mengajar adalah sebuah] komitmen untuk membuat perubahan dalam kehidupan anak-anak.”—
Teachers, Schools, and Society.

MESKIPUN beberapa guru sepertinya dapat dengan mudah melaksanakan tugasnya, mengajar
sebenarnya mengandung banyak rintangan—mengatasi kelas yang muridnya terlalu banyak,
pekerjaan catat-mencatat yang terlalu banyak, birokrasi yang terlalu rumit, murid-murid yang
tidak menyimak, dan gaji yang kurang memadai. Pedro, seorang guru di Madrid, Spanyol,
mengatakan, ”Menjadi guru sama sekali tidak mudah. Itu adalah pekerjaan yang menuntut
banyak pengorbanan. Namun, tidak soal adanya berbagai kesulitan ini, saya masih menganggap
profesi mengajar lebih memuaskan daripada pekerjaan dalam dunia bisnis.”
Di sekolah-sekolah kota besar di kebanyakan negeri, tantangannya bisa sangat sulit. Narkoba,
kejahatan, kebejatan moral, dan kadang-kadang ketidakpedulian orang tua berpengaruh secara
serius terhadap suasana dan disiplin sekolah. Sikap memberontak merupakan hal yang umum.
Lantas, mengapa begitu banyak orang yang cakap mau menjadi guru?

Leemarys dan Diana adalah guru yang bekerja di New York City. Mereka mengajar anak-anak
dari tingkat taman kanak-kanak hingga tingkat usia sepuluh tahun. Keduanya berbicara bahasa
Inggris serta Spanyol dan umumnya mengajar anak-anak Hispanik. Pertanyaan kami adalah . . .

Apa yang Memotivasi Seorang Guru?

Leemarys mengatakan, ”Apa yang memotivasi saya? Kecintaan saya kepada anak-anak. Saya
tahu bahwa bagi beberapa anak, sayalah satu-satunya orang yang mendukung upaya mereka.”

Diana mengatakan, ”Saya mengajar keponakan saya yang berusia delapan tahun, yang
mengalami kesulitan belajar di sekolah—khususnya dalam hal membaca. Sangat puas rasanya
sewaktu melihat dia dan murid-murid lainnya belajar! Jadi, saya memutuskan untuk mengajar,
dan saya berhenti bekerja di bank.”

Sedarlah! menanyakan pertanyaan yang sama kepada guru-guru lain di beberapa negara, dan
berikut ini adalah beberapa jawaban mereka.

Giuliano, seorang pria Italia berusia 40-an, menjelaskan, ”Saya memilih profesi ini karena saya
tertarik kepada profesi ini sejak saya masih menjadi seorang murid (di kanan). Saya
menganggapnya kreatif dan kaya inspirasi. Antusiasme awal saya membantu saya mengatasi
berbagai kesulitan yang saya alami pada masa-masa awal saya menjadi guru.”

Nick, dari New South Wales, Australia, mengatakan, ”Terdapat kekurangan prospek kerja di
bidang saya, yakni riset kimia, tetapi terdapat banyak kesempatan kerja di bidang pendidikan.
Sejak itu, saya mendapati bahwa mengajar itu menyenangkan, dan murid-murid tampaknya juga
menikmati pengajaran saya.”

Teladan orang tua sering kali menjadi faktor utama bagi orang-orang yang memilih karier
sebagai guru. William, dari Kenya, menjawab pertanyaan kami, ”Hasrat saya untuk mengajar
sangat dipengaruhi oleh ayah saya, yang adalah seorang guru pada tahun 1952. Karena
mengetahui bahwa yang saya lakukan ini adalah membentuk pikiran kaum muda, saya terus
menjalani profesi ini.”

Rosemary, juga dari Kenya, memberi tahu kami, ”Saya selalu berhasrat untuk membantu orang-
orang yang kurang beruntung. Jadi, saya harus memilih untuk menjadi perawat atau guru. Yang
datang pertama kali adalah tawaran untuk mengajar. Karena saya juga seorang ibu, saya semakin
mencintai profesi ini.”

Berthold, dari Düren, Jerman, memiliki motif lain untuk mengajar, ”Istri saya meyakinkan saya
bahwa saya bisa menjadi guru yang baik.” Dan, ternyata dia benar. Berthold menambahkan,
”Profesi saya sekarang memberikan sukacita yang besar. Kecuali sang guru yakin akan nilai
pendidikan dan juga berminat terhadap kaum muda, mustahil baginya untuk menjadi guru yang
baik, sukses, termotivasi, dan puas.”

Seorang guru Jepang, Masahiro, dari Nakatsu City, mengatakan, ”Yang menggerakkan saya
menjadi guru adalah bahwa saya pernah mempunyai seorang guru yang sangat baik pada tahun
pertama sekolah menengah saya. Ia mengajar dengan penuh pengabdian. Dan, alasan utama saya
terus menjalani profesi ini adalah karena saya menyukai anak-anak.”

Yoshiya, yang sekarang berusia 54 tahun dan juga dari Jepang, memiliki pekerjaan bergaji bagus
di pabrik tetapi ia merasa diperbudak oleh pekerjaannya dan perjalanan pulang-perginya. ”Suatu
hari saya berpikir, ’Sampai kapan saya akan terus begini?’ Saya memutuskan untuk mencari
pekerjaan yang lebih berhubungan dengan orang dan bukan dengan barang. Mengajar adalah
pekerjaan yang unik. Kita bekerja dengan kaum muda. Ini adalah pekerjaan yang manusiawi.”

Valentina, dari St. Petersburg, Rusia, juga menghargai aspek itu dari profesi guru. Ia berkata,
”Mengajar adalah karier pilihan saya. Saya sudah bekerja sebagai guru sekolah dasar selama 37
tahun. Saya senang bekerja dengan anak-anak, khususnya anak-anak kecil. Saya mencintai
pekerjaan saya, dan itulah sebabnya saya belum pensiun.”

William Ayers, yang juga seorang guru, menulis, ”Orang-orang terpanggil untuk mengajar
karena mereka mencintai anak-anak dan kaum muda, atau karena mereka suka berada bersama
anak-anak dan kaum muda, melihat mereka berkembang dan bertumbuh dan menjadi lebih
cakap, lebih kompeten, lebih kuat di dunia ini. . . . Orang mengajar . . . untuk memberikan
dirinya kepada orang-orang lain. Saya mengajar dengan harapan untuk menjadikan dunia ini
tempat yang lebih baik.”

Ya, meskipun ada banyak kesulitan dan kerugian, ribuan pria dan wanita yang berdedikasi
terpanggil untuk menjalani profesi mengajar. Tantangan utama apa saja yang mereka hadapi?
Artikel berikut akan membahas pertanyaan ini.

[Kotak di hlm. 6]

Saran untuk Terciptanya Komunikasi antara Guru dan Orang Tua

✔Berkenalanlah dengan orang tua murid. Hal ini tidak membuang-buang waktu. Ini merupakan
investasi yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Ini adalah kesempatan untuk
menciptakan hubungan yang sangat baik dengan orang-orang yang bisa menjadi kolaborator
terbaik Anda.

✔Berbicaralah dalam bahasa orang tua—jangan menggurui atau merendahkan. Hindari jargon
(kosakata untuk kalangan tertentu) yang biasa digunakan guru.

✔Sewaktu berbicara tentang anak-anak, tekankan segi yang positif. Memuji lebih efektif
daripada menjelek-jelekkan. Jelaskan apa yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu sang
anak agar berhasil.
✔Biarkanlah orang tua berbicara, dan kemudian simaklah dengan sungguh-sungguh.

✔Pahamilah lingkungan rumah sang anak. Jika mungkin, berkunjunglah ke sana.

✔Tetapkan tanggal untuk konsultasi berikutnya. Tindak lanjut itu penting. Hal ini
memperlihatkan bahwa Anda memiliki minat yang tulus.—Berdasarkan Teaching in America.

TUJUAN MENJADI GURU PROFESIONAL

A. Pendahuluan

Seorang guru yang mengajar karena panggilan jiwanya, ada misi untuk mengantarkan mereka
(anak didiknya) kepada kehidupan yang lebih baik secara intelektualdan sosial bukan sekedar
karena profesi gurulah pekerjaan yang paling mudah didapatkan. Maka ia akan bisa mengalirkan
energi kecerdasan, kemanusiaan, kemuliaan, dan keislamanyang besar dalam dada setiap
muridnya, bahkan sesudah ia meninggal. Guru yang mengajar dengan mental seorang
pendakwah sekaligus pengasuh, bukan dengan mental tukang teriak untuk mendapat upah
bulanan bernama gaji, akan mampu menyediakan cadangan energi agar tetap lembut menghadapi
murid yang membuat kening berkerut.

Guru selalu mendarma baktikan tenaga dan pikirannya demi kemajuan pendidikan, dan mereka
juga ikhlas dalam melakukannya. Guru juga tidak menuntut balas jasa, karena pekerjaannya itu
bukan bisnis yang harus ada kalkulasi untung dan rugi. Tapi yang dituntut guru cuma satu, yakni
keadilan akan haknya sebagai warga negara, sebagai pegawai, dan sebagai pemangku profesi
yang sangat mulia dan berat sekali tanggung jawabnya. Oleh karena itu dalam sejarah
pendidikan, tentu seorang gurulah yang paling awal muncul, baru kemudian murid dan
infrastruktur lain yang terkait dengan paradigma pengelolaannya. Setelah terciptanya pendidikan
baru kemudian berkembang kurikulum yang berkaitan dengan manajemen lembaga pendidikan,
seperti bangunan sekolah, kepala sekolah, karyawan, hingga sampai pada perdana mentri
pendidikan.

Sebuah reposisi guru sangat diperlukan karena perannya tidak lagi hanya sebagai “pengabdi”
pendidikan yang selalu kasih rutinitas, tapi harus menjadi “pendidik murni” yang mendapatkan
kesempatan-kesempatan yang luas untuk mengembangkan sendiri pola pembelajarannya dan
meningkatkan kualitas pribadi sehingga bisa menghasilkan anak didik yang cerdas dan bermoral.

B. Rumusan Masalah

1. Apa guru profesional itu?

2. Bagaimana guru yang ideal?


C. Pembahasan

1. Guru Profesional

Sesuai dengan UU RI No. 14 Tahun 2005 bahwa guru dituntut untuk memiliki Kompetensi,
maksudnya adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki,
dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Dalam
kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi
kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa
serta menjadi teladan peserta didik. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan
materi pelajaran secara luas dan mendalam. Kompetensi sosial yaitu kemampuan guru untuk
berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru,
orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Kompetensi tersebut memegang peranan penting dalam pembentukan seorang guru professional
dan ideal yang menjadi tuntutan pada saat ini untuk mengimbangi perubahan jaman yang
semakin modern.

Guru Profesional adalah guru yang mengenal tentang dirinya. Yaitu bahwa dirinya adalah
pribadi yang dipanggil untuk mendampingi peserta didik untuk/dalam belajar. guru dituntut
untuk mencari tahu terus-menerus bagaimana seharusnya peserta didik itu belajar. Maka apabila
ada kegagalan peserta didik, guru terpanggil untuk menemukan penyebab kegagalan dan mencari
jalan keluar bersama dengan peserta didik; bukan mendiamkannya atau malahan
menyalahkannya (Baskoro Poedjinoegroho E, Kompas Kamis, 05 Januari 2006)

Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya membentuk watak
bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di
Indonesia. Tampaknya kehadiran guru hingga saat ini bahkan sampai akhir hayat nanti tidak
akan pernah dapat digantikan oleh yang lain, terlebih pada masyarakat Indonesia yang
multikultural dan multibudaya, kehadiran teknologi tidak dapat menggantikan tugas-tugas guru
yang cukup kompleks dan unik.

Oleh sebab itu, diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang potensial untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara berkesinambungan mereka dapat
meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, maupun
professional.

Ciri-ciri Guru Profesional :

a. Selalu punya energi untuk siswanya

Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan
mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

b. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran


Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk
memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

c. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif

Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa
mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

d. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik

Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat
memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,
membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

e. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua

Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka
selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum,
disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan
telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.

f. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya

Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa
dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

g. Pengetahuan tentang Kurikulum

Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan
standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka
memenuhi standar-standar itu.

h. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan

Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki
pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap
untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja
sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

i. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran

Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa
mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang
mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak
dewasa.
j. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa

Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati
dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

2. Guru yang ideal

Guru Ideal menurut Prof Herawati Susilo MSc PhD, pakar pendidikan Universitas Negeri
Malang, ada enam kriteria guru ideal yaitu: Belajar sepanjang hayat, literat sains dan teknologi,
menguasai bahasa inggris dengan baik, terampil melaksanakan penelitian tindakan kelas, rajin
menghasilkan karya tulis ilmiah, dan mampu membelajarkan peserta didik berdasarkan filosofi
konstruktivisme dengan pendekatan kontekstual.

Berdasarkan penjelasan di atas, kriteria guru ideal yang seharusnya dimiliki bangsa Indonesia era
global yaitu:

Pertama, guru ideal adalah guru yang dapat membagi waktu dengan baik. Dapat membagi waktu
antara tugas utama sebagai guru dan tugas dalam keluarga, serta dalam masyarakat dengan salah
satu cara yaitu mengurangi waktu untuk istirahatnya.

Kedua, guru ideal adalah guru yang rajin membaca. Membaca tidak terikat waktu, ruang dan
tempat. Tidak terikat waktu karena membaca dapat dilakukan kapan saja, bergantung keinginan
dan waktu luang. Tidak terikat ruang karena membaca dapat dilakukan di ruang apapun, tidak
perlu ruang khusus sepanjang tidak terganggu atau mengganggu pihak lain. Tidak terikat tempat
karena membaca dapat dilakukan di tempat umum. Apakah guru memiliki budaya membaca?
Berapa persen guru yang membaca kebijakan-kebijakan pemerintah yang tertuang dalam
undang-undang maupun peraturan menteri yang terkait dengan profesi guru dalam dunia
pendidikan? Apabila guru membaca hal tersebut di atas, maka mungkin tidak akan pernah
dijumpai guru yang tidak lulus dalam mengikuti sertifikasi guru.

Guru selalu menuding bahwa minat peserta didik untuk belajar (membaca) sangat rendah.
Bagaimana dengan minat membaca guru? Mungkin kita perlu memanfaatkan waktu untuk
membaca saat antri pengambilan gaji di bank, di loket pembayaran listrik, rekening telepon, atau
loket pembayaran rekening air. Bahkan memanfaatkan waktu untuk membaca saat di perjalanan
dengan kendaraan umum.

Ketiga, Guru ideal adalah guru yang banyak menulis. Menulis juga tidak terikat ruang, waktu
dan tempat. Pernahkah guru memanfaatkan waktu untuk menulis dalam jurnal mengajarnya di
sela-sela kegiatan mengajar, sehingga yang dihadapi pada hari itu dapat menjadi sebuah
rancangan penelitian atau bahkan sebuah artikel? Karena dengan menulis kita akan berada di
mana-mana, karya tulis kita akan di baca oleh banyak orang dan dapat juga dimanfaatkan oleh
orang lain sebagai sumber bacaan.

Keempat, Guru ideal adalah guru yang gemar melakukan penelitian. Cikal penelitian adalah
adanya masalah. Seorang peneliti tidak akan percaya masalah dapat diselesaikan tanpa
penelitian. Seorang guru akan selalu gelisah dengan prestasi dan proses belajar peserta didiknya
sehingga guru akan terus memiliki budaya meneliti. Keempat kriteria sebagai tertulis di atas
merupakan hal yang diperlukan bila seorang guru dapat dikategorikan sebagai guru ideal.

a. Figur Guru yang Diharapkan Saat Ini

Siapakah yang disebut “guru” itu? Bagaimana membedakan peran, tugas dan tanggung jawab
guru? Bagaimanakah sang guru dirasakan kehadirannya dalam masyarakat?

Sang guru adalah pendamping utama kaum pembelajar, orang-orang muda dan benih-benih
kehidupan masa depan, dalam proses menjadi pemimpin.

Sang guru adalah aktor intelektual yang selalu ada dibelakang layar, ia semacam “provokator”
yang tut wuri handayani.

Sang guru belajar dari dirinya sendiri, ketika pemimpin belajar pada semua orang dan terinspirasi
oleh matahari, air, api, atau alam semesta, sedangkan pembelajar belajar pada idolanya, tokoh-
tokoh yang dikaguminya.

Bagi seorang guru untuk bersungguh-sungguh mengajar yang paling menentukan bukanlah gaji,
meski gaji yang tidak mencukupi kebutuhan dasar memang dapat mengganggu ketenangan dan
totalitas mengajar. Sebaliknya, pertambahan gaji yang tidak diiringi oleh kuatnya komitmen
sebagai guru tidak cukup memadai untuk membuat seorang guru mengajar dengan totalitas.

Menjadi manusia guru, itulah tugas dan panggilan tertinggi seorang manusia. Dan, sejarah
mengajarkan kepada kita bahwa hanya segelintir orang yang mampu membawa dirinya sampai
ketahap itu.

D. Saran

Orang tua, masyarakat, pemerintah, serta organisasi profesi guru menggalang persatuan dalam
membentuk kemauan politik (political will) untuk peduli pendidikan, kepedulian peningkatan
mutu pendidikan nasional termasuk didalamnya penghargaan yang wajar terhadap profesi guru.

Kita semua patut menyingsingkan baju kita untuk memperbaiki wajah pendidikan kita yang
semakin muram saja. Kita jadikan wajah pendidikan sebagai senyum yang menghiasi bangsa
kita, kita jadikan wajah pendidikan kita sebagai penyejuk kondisi bangsa kita yang sudah sarat
dengan masalah. Dan itu semua adalah tugas kita, tanpa ada pandang bulu agar anak-anak kita
yang menjadi masa depan bangsa bisa mendarmabaktikan tenaga dan pikirannya demi kemajuan
bangsa ini kedepan. Semoga itu hanya bukan cita-cita, tapi realita yang akan bisa kita lihat nanti.

Tujukan sikap pendidik yang sesuai dengan professional dan ideal, ciptakan kecanggihan
teknologi dan informasi menjadi sebuah sarana untuk mempermudah pembelajaran demi
tercapainya tujuan pendidikan. Mampu meciptakan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia
yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan
mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
DAFTAR PUSTAKA

Chotimah, Husnul.2008. Menelusuri Kriteria Guru Ideal Abad 21. Malang : Koran Pendidikan
Online.

Harefa, Andrias. 2000. Menjadi Manusia Pembelajar. Harian Kompas: Jakarta.

Munir, Abdullah. 2006. Spiritual Teaching: Agar Guru Semakin Mencintai Pekerjaan dan Anak
Didiknya. PT Pustaka Insan Madani: Yogyakarta.

Taruna, SH. 2004. Pendidikan Sejarah Perjuangan (PSP) Persatuan Guru Republik Indonesia
(PGRI). Semarang.

Mulyasa, 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

http://sdnpinayungan8.blogspot.com/2009/08/tantangan-guru-profesional-dan-ideal-di.html

http://gurukreatif.wordpress.com/2009/11/06/10-ciri-guru-profesional/

http://bromocorra.wordpress.com/2008/05/19/makalah-psp-tentang-tujuan-menjadi-guru/
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA

IKIP PGRI SEMARANG

2008

DAFTAR ISI

JUDUL

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

I.2 Permasalahan

I.3 Tujuan

I.4 Sistematika

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Sejarah Kelahiran Profesi Guru

II.2 Menjadi Seorang Guru Tidak Semudah Membalikan Telapak Tangan

a. Dalam Khazanah Pendidikan : Guru “ Digugu dan Ditiru”

b. Signifikasi Pengajaran Guru di Sekolah

c. Guru dan Struktur Kurikulum


II.3 Akreditasi Guru dalam Pegawai Negeri dan Sebagai Abdi Bangsa

II.4 Antara Kualitas Guru, Gaji dan Pengabdian

a. Antara Rutinitas dan Kreativitas

b. Profesi dan Perlindungan Guru

II.5 Guru yang Diharapkan

BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Seorang guru yang mengajar karena panggilan jiwanya, ada misi untuk mengantarkan
mereka (anak didiknya) kepada kehidupan yang lebih baik secara intelektualdan sosial bukan
sekedar karena profesi gurulah pekerjaan yang paling mudah didapatkan. Maka ia akan bisa
mengalirkan energi kecerdasan, kemanusiaan, kemuliaan, dan keislamanyang besar dalam dada
setiap muridnya, bahkan sesudah ia meninggal. Guru yang mengajar dengan mental seorang
pendakwah sekaligus pengasuh, bukan dengan mental tukang teriak untuk mendapat upah
bulanan bernama gaji, akan mampu menyediakan cadangan energi agar tetap lembut menghadapi
murid yang membuat kening berkerut.

Guru selalu mendarma baktikan tenaga dan pikirannya demi kemajuan pendidikan, dan
mereka juga ikhlas dalam melakukannya. Guru juga tidak menuntut balas jasa, karena
pekerjaannya itu bukan bisnis yang harus ada kalkulasi untung dan rugi. Tapi yang dituntut guru
cuma satu, yakni keadilan akan haknya sebagai warga negara, sebagai pegawai, dan sebagai
pemangku profesi yang sangat mulia dan berat sekali tanggung jawabnya.

Oleh karena itu dalam sejarah pendidikan, tentu seorang gurulah yang paling awal
muncul, baru kemudian murid dan infrastruktur lain yang terkait dengan paradigma
pengelolaannya. Lihat saja Ki Hajar Dewantara, Moh. Syafei, R.A. Kartini, Dewi Sartika dan
tokoh-tokoh pendidikan lainnya, mereka semua adalah guru yang kemudian menciptakan sebuah
pendidikan. Setelah terciptanya pendidikan baru kemudian berkembang kurikulum yang
berkaitan dengan manajemen lembaga pendidikan, seperti bangunan sekolah, kepala sekolah,
karyawan, hingga sampai pada perdana mentri pendidikan.

Sebuah reposisi guru sangay diperlukan karena perannya tidak lagi hanya sebagai
“pengabdi” pendidikan yang dicekoki rutinitas, tapi harus menjadi “pendidik murni” yang
mendapatkan kesempata-kesempatan yang luas untuk mengembangkan sendiri pola
pembelajarannya dan meningkatkan kualitas pribadi sehingga bisa menghasilkan anak didik yang
cerdas dan bermoral.

I.2 Permasalahan

Permasalahan yang akan kami bahas pada makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana sosok guru sebelum sistem pendidikan modern di Indonesia?


2. Bagaimana kondisi guru saat ini?
3. Apakah kualitas guru, gaji dan pengabdian sudah seimbang?
4. Bagaimana menjadi guru yang diharapkan saat ini?
5. Apa sebenarnya tujuan menjadi seorang guru?

I.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu:

1. Dapat mengetahui apa sebenarnya tujuan menjadi seorang guru


2. Dapat mengerti kondisi guru saat ini
3. Untuk memenuhi tugas mata kuliah PSP PGRI

I.4 Sistematika

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

I.2 Permasalahan

I.3 Tujuan

I.4 Sistematika

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Sejarah Kelahiran Profesi Guru

II.2 Menjadi Seorang Guru Tidak Semudah Membalikan Telapak Tangan

a. Dalam Khazanah Pendidikan : Guru “ Digugu dan Ditiru”

b. Signifikasi Pengajaran Guru di Sekolah

c. Guru dan Struktur Kurikulum

II.3 Akreditasi Guru dalam Pegawai Negeri dan Sebagai Abdi Bangsa

II.4 Antara Kualitas Guru, Gaji dan Pengabdian

a. Antara Rutinitas dan Kreativitas

b. Profesi dan Perlindungan Guru

II.5 Guru yang Diharapkan

BAB III PENUTUP


1. Kesimpulan

2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Sejarah Kelahiran Profesi Guru

Pada zaman dahulu, sebelum agama masuk di Indonesia, seorang yang ingin belajar
harus mengunjungi seorang petapa. Petapa itu mungkin saja yang telah meninggalkan tahta
kerajaan karena sudah tua dan memperdalam masalah kerohanian. Petapa itulah yang disebut
juga guru bagi murid muridnya yang menuntut ilmu ditempat tersebut. Biasanya para murid itu
mengerjakan sawah ladang petapa untuk keperluan hidup sehari-hari.

Pada masa kerajaan Budha/Hindu di Indonesia orang belajar dibiara. Biksu yang
mengajar membaca serta menulis huruf sansekerta dibiara tersebut disebut guru. Untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka bekerja diladang. Para siswa juga meminta
sedekah dari masyarakat untuk membantu kehidupan sehari-hari.

Setelah agama islam masuk di Indonesia orang belajar di pesantren supaya dapat
membaca Alquran dan melakukan salat dengan benar. Ualama yang mengajar dipesantren juga
dinamakan guru. Para siswa biasanya tinggal dirumah ulama tersebut dan membantu bercocok
tanam untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Para pedagang Portugis dan Belanda yang datang di Indonesia umumnya beragama
kristen, selain berdagang mereka juga menyebarkan agama itu. Mempelajari agama kristen,
membaca dan menulis huruf latin. Para pendeta yang mengajarkan agama kristen itu juga disebut
guru. Untuk kepentingan penjajahannya Belanda memerlukan pegawai yang pandai menulis dan
membaca huruf latin. Karena itu mereka mendirikan sekolah dan mengajarkan ilmu pengetahuan
yang tidak berkaitan dengan agama. Inilah awal mula sistem pendidikan modern di Indonesia.
II.2 Menjadi Seorang Guru Tidak Semudah Membalikkan Telapak Tangan

Kreativitas merupakan dasar dari segala hal dalam rangka meningkatkan sesuatu kearah
kemajuan. Untuk berlaku kreatif, maka kita harus punya pengetahuan keterampilan dan nilai-
nilai dasar untuk melakukan sesuatu.

Sedangkan langkah kemajuan, kemauan atau niat merupakan awal bagi terbentuknya
sebuah sikap, tingkah laku loyalitas sebagai wujud dari kreadibilitas kepribadian seseorang. Jika
antara kreativitas dan kepribadian yang baik itu berpadu, maka akan menampilkan proses
pendidikan yang selalu diiringi dengan kreativitas anak didik. Untuk mewujudkan keterpaduan
itu perlu adanya motivasi dan sikap konkret dari para pendidik agar tujuan untuk meningkatkan
kemampuan anak didik lebih terarah dan tepat guna.

Dalam proses pendidikan, kemampuan dan daya serap anak didik itu berbeda-beda.
Dalam hal ini, ada beberapa faktor kesulitan yang biasa dihadapi oleh siswa, yaitu:

1. Faktor dalam diri anak didik (faktor internal) yang meliputi:

-Kemampuan intelektual,

-Faktor efektif seperti percaya diri

-Motivasi

-Kematangan belajarnya

-Kemampuan mengingat

-Kemampuan mengindra

1. Faktor luar anak (faktor eksteral), yakni yang berkaitan dengan kondisi belajar mengajar,
yaitu:

-Guru
-Kualitas belajar mengajarkan-LIngkungan (teman sekelas atau keluarga)

a. Dalam Khazanah Pendidikan: Guru “Digugu dan Ditiru”

Memang benar apa yang diucapkan guru disekolah harus dilaksanakan oleh murid, dan
apa yang diajarkan guru juga harus didengarkan oleh murid. Tetapi jika metode pengajaran yang
dilakukan guru itu kurang tepat, apakah murid harus berdiam diri saja? Banyak guru yang hanya
menyuruh murid untuk menulis dipapan, sedang dirinya mengantuk, atau bila guru itu tidak
mampu menguasai materi yang akan disampaikannya, maka diapun akan mendiktekan pelajaran
dan menyuruh murid untuk menuliskannya dibuku mereka.

Bila metode ini dipakai, tentu ini adalah metode bermasalah yang hanya akan membuat
anak ini tidak kreati. Dengan kata lain, ungkapan guru digugu dan ditiru menjadi tidak relevan
lagi, sedang yang tepat adalah digugu dan turu, karena memang demikian realitasnya. Guru
hanya bermalas-malasan dalam mengajar, sehingga murid pun tidak bisa menelaah pelajaran
secara luas.

Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa ada yang mau meluruskan, maka muridlah yang
paling dirugikan. Murid menjadi kehilangan orientasi belajar sehingga usaha untuk
mencerdaskan anak didik menjadi terbengkalai. Selain itu anak didik tidak mampu lagi menelaah
apa makna ilmu yang diberikan guru dan juga tidak mampu menganalisis lebih jauh tentang apa
yang diajarkan guru waktu itu dikelas.

b. Signifikasi Pengajaran Guru di Sekolah

Metode pembelajaran adalah sebuah cara atau sistem untuk mengembangkan


pembelajaran agar dapat menemukan suatu keserasian dalam kesinambungan antara siswa dan
guru.

Dalam kegiatan belajar mengajar adakalanya seorang siswa mengalami kesulitan, hal ini
berarti siswa tersebut mempunyai kelemahan dalam daya pikir dan ingat, serta menangkap dan
menganalisis pelajaran yang diberikan.

Adapun faktor-faktor kesulitan belajar yang mendera anak adalah:


-Rendahnya intelektual anak

-Gangguan perasaan atau emosi yang berlebihan

-Kurang matangnya anak dalam belajar

-Usia yang terlalu muda

-Latar belakang yang tidak menunjang

-Kebiasaan belajar yang kurang baik

-Kemampuan mengingat yang rendah

-Terganggunya alat-alat panca indera

-Proses belajar mengajar yang tidak sesuai

-Tidak adanya dukungan dari pihak ketiga

Dengan mengetahui inti permasalahan yang dihadapi anak, maka guru harus dapat
mencari jalan keluar untuk memperbaikinya agar dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Untuk
mencari jalan keluar tersebut, guru harus mengambil langkah-langkah mengidentifikasi,
mendiagnosis, meramalkan, memberikan perawatan (treatment) dan menindak lanjuti (follow
up), sehingga murid yang bersangkutan merasa terbantu sehingga akan berusaha untuk
melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik dan berkualitas.

c. Guru dan Struktur Kurikulum

Kurt Lewin pernah berkatabahwa cara untuk mengupayakan pendidikan itu terbai
menjadi tiga, yaitu:

1. Otoriter atau otokratis cirinya adalah banyak pemaksaan dan pemeriksaan sehingga
membuat murid kurang inisiatif dan bertanggung jawab.
2. Sosio-integratif, ciri-cirinya adalah murid banyak berinisiatif dan bertanggung jawab, dan
pemeriksaan hanya sejauh yang diperlukan saja dan tidak mendetail serta tidak pula
mendiktenya.
3. Laisswz-faire, ciri-cirinya adalah pengajar sama sekali tidak melakukan pemaksaan
ataupun pemeriksaan

Dari bentuk tersebut, maka cara belajar sosio-integratif adalah cara yang paling ideal,
karena murid dapat belajar dan bekerja mandiri, sedang guru sifatnya hanya mendorong
membantu murid. Dari bentuk ini juga, murid bisa berlatih sikap demokratis dan kooperatif,
seperti yang terjadi jika terjadi diskusi dan kerja sama dalam membahas suatu materi.

Jika metode otoriter digunakan, maka ketergantungan pada guru akan menjadi sangat
besar sehingga muridpun menjadi tidak kreatif dan mandiri. Sedangkan metode Laissez faire
hanya akan membuat peran guru hilang dan hanya berperan pada hal-hal yang penting saja
sehingga muridpun belajar tanpa ada pengawasan dari seorang guru. Akibat dari metode laissez
faire ini, murid yang lemah akan diteror murid yang kuat, sehingga bisa jadi akan terbentuk
kelompok-kelompok primodial (kelompok yang merasa benar dan pintar) didalam kelas.
Akibatnya kelaspun menjadi pecah dan tidak ada kesepakatam dari masing-masing individu.

II.3 Akreditasi Guru dalam Pegawai Negeri dan Sebagai Abdi Bangsa

Pegawai negeri merupakan abdi negara yang mengabdi untuk kepentingan masyarakat
secara luas dalam suatu negara.

Begitu juga guru yang pengabdi pendidikan. Kalau guru bisa mengabdikan dirinya
dengan baik, maka pendidikan pasti akan melahirkan anak didik yang bisa menjadi tumpuan
harapan bangsa. Peran guru ini sangat mulia, karena harus melahirkan anak-anak bangsa yang
cerdas dan cakap serta kreatif untuk membangun bangsa ini kedepan. Sebagai abdi pendidikan,
guru harus menjadi pelayan yang baik bagi pekerjaannya, bekerja secara sungguh-sungguh dan
sepenuh hati untuk mendidik anak yang menjadi insan yang mandiri dan cakap dalam segala hal.

Jadi, akreditasi pegawai negeri, khususnya guru dalam dunia pendidikan, menjadi sangat
penting dan merupakan komponen utama dalam membangun bangsa. Dalam hal ini, guru akan
menjadi unsur yang paling penting bagi perjalanan bangsa ini. Guru adalah titik awal peradaban
suatu bangsa. Karena gurulah muncul orang-orang cerdas dan berilmu, karena gurulah seorang
presiden bisa memerintah dengan wawasan yang luas, karena gurulah ada menteri yang bisa
melayani kebutuhan rakyat melalui departemennya masing-masing, dan karena gurlah setiap
orang menjadi cerdas berilmu sehingga bisa memakmurkan diri dan lingkungannya.

II.4 Antara Kualitas Guru, Gaji dan Pengabdian

Ada ribuan istilah yang bisa digunakan untuk membahsakan sifat atau karakter guru yang
ideal. Namun, sepertinya tidak ada yang mampu menyaingi kedua istilah ini lembut dan brilian.
Dua kata inilah modal utama untuk menjadi guru berprestasi. Kelembutan adalah cermin cinta
dan kasih sayang, sedangkan kebrilian adalah cerminan kreativitas, profesionalisme dan
progresivitas.

a. Antara Rutinitas dan Kreativitas

Sungguh ironis bila seorang guru bekerja hanya untuk memenuhi kewajiban dan
menjalankan rutinitas belaka tanpa mau menganggap bahwa kreativitas dalam pendidikan
merupakan tujuan utama dalam memberikan pembelajaran terhadap murid.

Unsur signifikan dari proses pendidikan adalah kreativitas. Dari kreativitas itulah akan
tercipta kemajuan, sehingga hal yang berkenaan dengan proses pendidikan bisa terus tumbuh dan
berkembang sesuai dengan tujuan utama pendidikan itu sendiri. Guru kreatif akan memunculkan
murid yang kreatif juga. Apabila guru dan murid kreatif, maka lembaga sekolah juga akan
menyesuaikan diriuntuk menjadi kreatif. Kreatif dalam melahirkan kebajikan, metode, proses
pembelajaran, dan hal-hal yang berkennaan dengan pendidikan lainnya. Dari sana kemudian,
tidak akan ada lagi siswa yang terjerumus pada pergaulan yang buruk akibat masa pubertas
mereka yang meluap-luap sehingga akan menjadi manusia dewasa yang stabil. Dari sana pula,
akan bergerak maju dan bersaing secara sehat dan konstruktif.

b. Profesi dan Perlindungan Guru


Usaha untuk membuat profesi guru menjadi profesional sudah dilakukan oleh pemerintah
salah satunya dengan adanya syarat bagi seorang guru tertentu untuk mengikuti akta IV dan
pendidikan khusus lainnya agar bisa menjadi guru negeri dilingkungan pendidikan nasional.
Upaya ini dilakukan untuk menertibkan profesi guru agar bisa mengaplikasikan kode etik guru
dengan sebaik-baiknya dan juga bersikap profesional dengan tugasyang diembannya. Namun hal
itu harus diimbangi dengan suatu bentuk perlindungan hukum dari hal-hal yang tidak di
inginkan. Karena itulah perlu adanya sebuah rumusan undang-undang yang secara tegas dapat
mengikat dan melindungi hak-hak dan kewajiban guru.

Untuk membentuk sebuah undang-undang yang bisa melindungi hak dan kewajiban guru, maka
yang perlu dibentuk adalah:

– Perlindungan terhadap LPTK sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang untuk


memproduksi pendidik, khususnya guru bagi semua jenis dan jenjang pendidikan. LPTK juga
satu-satunya lembaga yang berwenang melakukan pelatihan bagi lulusan perguruan tinggi untuk
menjadi guru SD sampai SLTA dan dosen.

– Perlindungan bagi mereka yang lulus pelatihan LPTK atau yang tidak lulus untuk menjadi
guru/dosen, dan juga bagi mereka yang lulus perguruan tinggi tapi tidak mengikuti LPTK.

– Perlindungan terhadap keikutsertaan PGRI dalam memberikan rekomendasi keanggotaan


setiap calon guru/ dosen dan mengevaluasi guru/ dosen dalam menjalankan/ melanggar norma-
norma kode etik guru sebagai bahan pertimbangan mengenai situasinya.

Konsepsi perlindungan diatas dibuat sebagai salah satu akreditasi bagi guru untuk
mencapai kredibilitas dalam memangku jabatan guru. Selain itu, perlindungan hukum tersebut
bisa digunakan untuk memulihkan profesi yangharus di hormati oleh penyandangnya dan
ditunaikan secara profesional dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Dengan demikian, jika
seorang ingin menjadi guru atau dosen, maka dia harus mengikuti pelatihan diluar LPTK karena
itu akan dikenakan sanksi menurut undang-undang yang akan dibentuk jika ketentuan butir-butir
pasalnya seperti diatas.

Sedangkan syarat untuk menjadi seorang guru ada 3, yaitu:


1. Memiliki kualifikasiminimum dan seritifikasisesuai dengan jenjang kewenangan
mengajarkan
2. Kesehatan jasmani dan rohani
3. Memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

II.5 Figur Guru yang Diharapkan Saat Ini

Siapakah yang disebut “guru” itu? Bagaimana membedakan peran, tugas dan tanggung
jawab guru? Bagaimanakah sang guru dirasakan kehadirannya dalam masyarakat?

– Sang guru adalah pendamping utama kaum pembelajar, orang-orang muda dan benih-benih
kehidupan masa depan, dalam proses menjadi pemimpin.

– Sang guru adalah aktor intelektual yang selalu ada dibelakang layar, ia semacam “provokator”
yang tut wuri handayani.

– Sang guru belajar dari dirinya sendiri, ketika pemimpin belajar pada semua orang dan
terinspirasi oleh matahari, air, api, atau alam semesta, sedangkan pembelajar belajar pada
idolanya, tokoh-tokoh yang dikaguminya.

– Bagi seorang guru untuk bersungguh-sungguh mengajar yang paling menentukan bukanlah
gaji, meski gaji yang tidak mencukupi kebutuhan dasar memang dapat mengganggu ketenangan
dan totalitas mengajar. Sebaliknya, pertambahan gaji yang tidak diiringi oleh kuatnya komitmen
sebagai guru tidak cukup memadai untuk membuat seorang guru mengajar dengan totalitas.

Menjadi manusia guru, itulah tugas dan panggilan tertinggi seorang manusia. Dan,
sejarah mengajarkan kepada kita bahwa hanya segelintir orang yang mampu membawa dirinya
sampai ketahap itu.

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan

Pada dasarnya, tugas mulia seorang guru tidak hanya mencerdaskan dan memberdayakan
anak didik, namun yang paling penting adalah mengarahkan dan memperbaiki moral anak didik
agar bisa menjadi insan yang bisa diandalkan dan bermanfaat bagi bangsa. Jika hanya
bertumpupada upaya pencerdasan anak didik belaka tanpa adanya perbaikan moral, maka yang
terjadi adalah terciptanya anak didik yang cerdas tapi kecerdasannya itu dipakai untuk menipu,
melakukan korupsi dan bahkan akan membodohi masyarakat yang tidak berpendidikan. Kita
pasti sudah tau bahwa orang yang melakukan korupsi itu adalah orang yang berpendidikan tinggi
dan bahkan sangat tinggi dalam jenjang pendidikan yang ada.

1. Saran

Adapun saran-saran yang dapat kami sampai dalam makalah ini adalah:

1. Orang tua, masyarakat, pemerintah, serta organisasi profesi guru menggalang persatuan
dalam membentuk kemauan politik (political will) untuk peduli pendidikan, kepedulian
peningkatan mutu pendidikan nasional termasuk didalamnya penghargaan yang wajar
terhadap profesi guru.
2. Kita semua patut menyingsingkan baju kita untuk memperbaiki wajah pendidikan kita
yang semakin muram saja. Kita jadikan wajah pendidikan sebagai senyum yang
menghiasi bangsa kita, kita jadikan wajah pendidikan kita sebagai penyejuk kondisi
bangsa kita yang sudah sarat dengan masalah. Dan itu semua adalah tugas kita, tanpa ada
pandang bulu agar anak-anak kita yang menjadi masa depan bangsa bisa
mendarmabaktikan tenaga dan pikirannya demi kemajuan bangsa ini kedepan. Semoga
itu hanya bukan cita-cita, tapi realita yang akan bisa kita lihat nanti.

DAFTAR PUSTAKA

-Harefa, Andrias. 2000. Menjadi Manusia Pembelajar. Harian Kompas: Jakarta.

-Mandaru, M.Z. 2005. Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari. Ar-Ruzz: Yogyakarta.
-Munir, Abdullah. 2006. Spiritual Teaching: Agar Guru Semakin Mencintai Pekerjaan dan Anak
Didiknya. PT Pustaka Insan Madani: Yogyakarta.

-Taruna, SH. 2004. Pendidikan Sejarah Perjuangan (PSP) Persatuan Guru Republik Indonesia
(PGRI). Semarang.

-Tilaar, H.A>R, Prof. Dr. M.Sc.Ed. 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. Rineka CIPta:
Jakarta.

Jakarta, CNN Indonesia -- Selamat hari guru untuk semua guru di Indonesia! Melalui gurulah kita belajar,
guru mendidik kita, mengajari kita berbagai hal. Banyak lho teman kita yang kini tengah berjuang
menempuh pendidikan untuk menjadi seorang guru. Kira-kira apa ya alasan mereka memilih kuliah di
jurusan keguruan.

Salah satunya adalah Septiana Dwi Rakhmawati atau yang kerap disapa Tia. Tia adalah mahasiswi
jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi di Universitas Negeri Yogyakarta. Selain
kecintaannya pada olahraga, ia juga berkeinginan menjadi guru olahraga.

Baginya profesi guru adalah cara paling mudah dalam menularkan ilmu, sekecil apapun ilmunya. Alasan
itulah yang membuatnya ingin menjadi seorang guru. “Guru diajarkan untuk membimbing dengan
pendidikannya,” ungkapnya.

Alasan tak jauh berbeda juga disampaikan Arya Dwi Susanto, mahasiswa jurusan Pendidikan Moral
Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Surabaya. Baginya, guru adalah sebuah profesi
yang mulia, meskipun memiliki banyak tantangan. Baik terkait fasilitas maupun menghadapi berbagai
macam karakter anak. “Jadi guru itu mulia sebenarnya, tapi tantangannya gede,” ungkap Dwi.

Guru merupakan cita-cita Rahmi Rahmawati, mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di
Universitas Sultang Ageng Tirtayasa. Cita-cita itu masih ia pegang hingga kini ia kuliah untuk menjadi
seorang guru. Sama seperti Rahmi, saat ini Suci Anggar Wati juga tengah menempuh kuliah jurusan
PGSD, di kampus Universitas Negeri Sebelas Maret.

Bagi Suci alasan ia ingin menjadi guru adalah, karena dengan menjadi guru ia tak akan pernah berhenti
belajar. “Karena menjadi guru adalah tugas yang mulia. Menjadi guru kita secara tidak langsung terus
belajar tanpa mengenal waktu,” katanya.

Iya, sungguh mulia memang jasa seorang guru. Hal-hal itu juga ingin mereka tularkan kepada murid-
muridnya nanti. Ingin menjadi guru seperti apakah mereka?

Bagi Arya, ia ingin menjadi guru yang akan selalu ditunggu oleh para muridnya untuk mengajar. Tak jauh
berbeda dengan Tia, ia ingin menjadi guru yang membuat siswanya tidak bosan ketika ia mengajar.

Tujuan mulia lain juga disampaikan Suci. Suci ingin menjadi guru yang bisa membimbing para muridnya
untuk menjadi anak yang berbudi luhur, serta berguna bagi nusa dan bangsa. Rahmi juga punya
keinginan sama, ia ingin menjadi guru yang bisa menjadi teladan bagi para muridnya.

“Inshaallah pengen jadi guru teladan. Dimulai dari hal kecil seperti datang pagi atau tepat waktu, kalo
ngajar enggak ngasal. Karena setiap apa yang guru ajarkan akan membekas ke anak muridnya hingga dia
tumbuh dewasa. Jadi harus menjadi guru yang profesional,” ungkap Rahmi. (ded/ded)

Alasan Utama Menjadi Guru


Dulu menjadi guru masih dipandang sebelah mata. Alasannya apa lagi kalau bukan gaji
guru yang kecil. Saat saya masih SMA dulu, sedikit sekali yang menyatakan diri ingin
kuliah di jurusan pendidikan dan ingin menjadi guru. Kebanyakan lebih memilih kuliah
di universitas-universitas non-pendidikan, meski bukan negeri. Menjadi dokter, arsitek,
akuntan, atau ahli komputer masih menjadi primadona saat itu. Betapa tidak, profesi-
profesi itu menjanjikan gaji yang lebih besar dibanding gaji guru. Saat itu, gaji memang
masih menjadi orientasi utama anak SMA dalam memilih profesi apa yang akan mereka
jalani kelak.

Apa Alasan Menjadi Guru?


Tapi apakah gaji atau materi saja yang perlu dipertimbangkan? Mengapa menjadi guru
banyak disepelekan saat itu? Meski saya sebenarnya masih baru belajar menjadi guru,
tapi saya mencoba memberikan 2 alasan utama menjadi guru.
1. Guru Punya Banyak Waktu Luang

Menjadi pekerja kantoran sangat menyita waktu. Jam kerja bisa dari pagi sampai sore,
bahkan sampai malam. Hal ini membuat para pekerja kantoran sedikit sekali mempunyai
waktu luang. Pulang kerja, mereka langsung istirahat karena lelah bekerja seharian.
Mereka juga hanya mempunyai sedikit hari libur. Mereka begitu menantikan hari libur
agar bisa melepas kepenatan setelah disibukkan dengan rutinitas kantor. Saat hari Senin
datang, tak sedikit yang bilang I hate Monday.

Beda sama guru. Mereka punya lebih banyak waktu luang. Guru normalnya berangkat
ke sekolah pagi dan pulang sebelum sore. Jadi mereka punya waktu luang saat sore dan
malam hari. Saat di sekolah, mereka juga tidak full ngajar. Ada jeda saat mereka tidak
ada jam ngajar. Guru juga punya lebih banyak hari libur. Selain hari Minggu, mereka
punya hari libur saat anak-anak sekolah libur semester. Selain itu, libur sekolah saat hari
raya juga biasanya lebih panjang dibanding hari liburnya para pekerja kantoran saat hari
raya.

Banyaknya waktu luang yang dimiliki oleh para guru membuat mereka bisa melakukan
banyak hal lain. Mereka punya lebih banyak waktu untuk menyalurkan hobi. Saat sore
hari, mereka bisa berolahraga, berkumpul dengan komunitas, atau aktif di organisasi
masyarakat. Malamnya, mereka masih punya banyak waktu dan tenaga untuk membaca
buku, internetan, menulis di blog, atau bersilaturahmi ke tetangga atau kerabat. Saat
liburan semester, mereka bisa berwirausaha, menulis buku, atau ikut pelatihan. Karena
liburnya panjang, jadi tidak hanya diisi dengan berwisata. Jika berwisata pun, guru bisa
traveling lebih jauh karena punya waktu lebih lama.

Jadi kesimpulannya, bagi yang hobi olahraga, suka menulis, traveling, berorganisasi,
atau ingin memulai usaha, menjadi guru adalah sebuah pilihan yang tepat.

2. Jadi Guru Dapat Banyak Pahala

Ini adalah alasan yang sering dilupakan oleh para guru. Menjadi guru maka akan dapat
banyak pahala. Sesuatu yang tak ternilai harganya. Seorang arsitek tidak akan bisa
mengukur detail sebuah bangunan jika tidak belajar menghitung saat masih sekolah.
Seorang jurnalis tidak akan bisa menangkap berita dan menuliskannya dengan cepat
jika tidak belajar baca tulis di sekolah. Kuliah di jurusan apapun, di universitas manapun,
pasti melalui bangku sekolah. Profesi sehebat apapun, pasti pernah punya guru yang
mengajarinya.

Bukankah jika kita sudah tiada nanti, salah satu amalan yang tidak terputus adalah ilmu
yang bermanfaat? Guru adalah sosok yang paling banyak memberikan ilmu yang
bermanfaat. Jika dalam satu tahun saja ada seratus siswa baru yang dididik oleh seorang
guru, lalu berapa banyak yang telah ia didik saat sudah bertahun-tahun menjadi guru?
Berapa jumlah ilmu yang telah ia bagikan? Berapa pahala yang ia dapat? Maka alangkah
ruginya jika ada seorang guru yang tidak mau terus belajar agar menjadi guru yang baik
dan betul-betul mampu memberikan ilmu yang bermanfaat.

Itulah 2 alasan utama menjadi guru menurut saya. Saya yakin masih banyak guru-guru
di luar sana yang punya alasan yang lebih hebat mengapa memilih menjadi guru.
Namun begitu, semua orang sejatinya adalah guru. Setidaknya guru bagi anak-anaknya.
Siapapun bisa menjadi guru. Profesi apapun. Saat seseorang memberikan contoh yang
baik dan ilmu yang bermanfaat bagi orang lain, saat itulah dia menjadi seorang guru.
(fila174)

Antara Pengabdian dan Tujuan Seorang Guru 01 Juni 2013 00:31:05 Diperbarui: 24 Juni 2015
05:42:34 Dibaca : 977 Komentar : 0 Nilai : 1 Durasi Baca : 1 menit Menurut Undang-Undang
No. 15 Tahun 2006, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan
anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru juga
sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, karena usahanya untuk menjadikan masyarakat
di Indonesia mempunyai pendidikan dan intelektual yang tinggi. Dibalik kata “guru” sebenarnya
apa yang menjadi alasan banyak orang ingin berprofesi sebagai guru? Apakah memang dari diri
sendiri timbul rasa ingin mengabdi menjadi guru demi memajukan pendidikan atau hanya sekilas
pemikiran yang beranggapan guru sebagai salah satu profesi yang diminati karena saat ini
banyak sekolah-sekolah yang kekurangan guru dan penhasilan yang didapat tinggi? Saya sebagai
mahasiswa pendidikan, calon guru juga terkadang bingung dengan apa yang saya jalani
sekarang. Apakah kelak yang saya jalani ini kelak menjadikan seorang guru yang benar-benar
mengabdi terhadap pendidikan atau karena pemikiran sekilas tadi? Dalam realitanya juga wajar
jika profesi guru menjadi pilihan orang-orang. Setiap profesi pastinya akan sertai hasil. Namun,
hasilah menjadi tujuan utama seorang guru? mungkin hanya setiap gurulah yang tau. Berharap
dibalik pengabdian dan tujuan seorang guru berjalan seiringan. Tak hanya hasilnya saja yang
dinginkan, namun juga benar-benar mengabdi dengan pendidikan demi memajukan bangsa,
khususnya Indonesia. Ketika tekat pengabdian itu kuat, maka hasil yang didapat bahkan lebih tak
seperti yang dibayangkan. Bagaimanapun guru termasuk profesi yang mulia.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wahyucakrakuntara/antara-pengabdian-dan-tujuan-
seorang-guru_552e20146ea834f7038b4577