Anda di halaman 1dari 17

BAB 1.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemajuan teknologi saat ini merupakan salah satu dampak dari
modernisasi. Perkembangan manusia telah menuntun mereka untuk memilki rasa
untuk selalu mengembangkan diri. Proses pengembangan diri tersebut
mengakibatkan manusia juga ingin mengetahui dari mana mereka berasal dan
untuk apa mereka diciptakan.
Makalah tentang “Hakekat Manusia Menurut Islam” ini akan membahas
tentang berasal konsep manusia, kedudukan manusia, tujuan mereka diciptakan,
dan tanggung jawab mereka menurut pandangan islam. Hal ini dimaksudkan agar
mahasiswa memiliki landasan pengetahuan sebagai manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep manusia menurut islam?
2. Bagaimana eksistensi dan martabat manusia menurut pandangan islam?
3. Bagaimana tanggung jawab manusia menurut islam?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep manusia menurut islam
2. Untuk mengetahui eksistensi dan martabat manusia menurut pandangan
islam
3. Untuk mengetahui tanggung jawab manusia menurut islam

1
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Konsep Manusia Menurut Islam
2.1.1 Hakekat Manusia
Manusia adalah keyword yang harus dipahami terlebih dahulu bila kita ingin
memahami pendidikan. Untuk itu perlu kiranya melihat secara lebih rinci tentang
beberapa pandangan mengenai hakikat manusia:
a. Pandangan Psikoanalitik
Dalam pandangan psikoanalitik diyakini bahwa pada hakikatnya manusia
digerakkan oleh dorongan-dorongan dari dalam dirinya yang bersifat instingtif.
Hal ini menyebabkan tingkah laku seorang manusia diatur dan dikontrol oleh
kekuatan psikologis yang memang ada dalam diri manusia. Terkait hal ini diri
manusia tidak memegang kendali atau tidak menentukan atas nasibnya seseorang
tapi tingkah laku seseorang itu semata-mata diarahkan untuk mememuaskan
kebuTuhan dan insting biologisnya (Khasinah, 2013).
b. Pandangan Humanistik
Para humanis menyatakan bahwa manusia memiliki dorongan-dorongan
dari dalam dirinya untuk mengarahkan dirinya mencapai tujuan yang positif.
Mereka menganggap manusia itu rasional dan dapat menentukan nasibnya sendiri.
Hal ini membuat manusia itu terus berubah dan berkembang untuk menjadi
pribadi yang lebih baik dan lebih sempurna. Manusia dapat pula menjadi anggota
kelompok masyarakat dengan tingkah laku yang baik. Mereka juga mengatakan
selain adanya dorongan-dorongan tersebut, manusia dalam hidupnya juga
digerakkan oleh rasa tanggung jawab sosial dan keinginan mendapatkan sesuatu.
Dalam hal ini manusia dianggap sebagai makhluk individu dan juga sebagai
makhluk sosial (Khasinah, 2013).
c. Pandangan Martin Buber
Martin Buber mengatakan bahwa pada hakikatnya manusia tidak bisa
disebut ‘ini’ atau ‘itu’. Menurutnya manusia adalah sebuah eksistensi atau
keberadaan yang memiliki potensi namun dibatasi oleh kesemestaan alam. Namun
keterbatasan ini hanya bersifat faktual bukan esensial sehingga apa yang akan
dilakukannya tidak dapat diprediksi. Dalam pandangan ini manusia berpotensi

2
utuk menjadi ‘baik’ atau ‘jahat’, tergantung kecenderungan mana yang lebih besar
dalam diri manusia. Hal ini memungkinkan manusia yang baik kadang-kadang
juga melakukan kesalahan (Khasinah, 2013).
e. Pandangan Behavioristik
Pada dasarnya kelompok Behavioristik menganggap manusia sebagai
makhluk yang reaktif dan tingkah lakunya dikendalikan oleh faktor-faktor dari
luar dirinya, yaitu lingkungannya. Lingkungan merupakan faktor dominan yang
mengikat hubungan individu. Hubungan ini diatur oleh hukum-hukum belajar,
seperti adanya teori conditioning atau teori pembiasaan dan keteladanan. Mereka
juga meyakini bahwa baik dan buruk itu adalah karena pengaruh lingkungan
(Khasinah, 2013).
2.1.2 Manusia Menurut Pandangan Islam
Ada beberapa dimensi manusia dalam pandangan Islam, yaitu:
a. Manusia Sebagai Hamba Allah (Abd Allah)
Sebagai hamba Allah, manusia wajib mengabdi dan taat kepada Allah
selaku Pencipta karena adalah hak Allah untuk disembah dan tidak disekutukan.
Bentuk pengabdian manusia sebagai hamba Allah tidak terbatas hanya pada
ucapan dan perbuatan saja, melainkan juga harus dengan keikhlasan hati, seperti
yang diperintahkan dalam surah Bayyinah: “Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam menjalankan agama yang lurus …,” (QS:98:5). Dalam surah adz- Dzariyat
Allah menjelaskan: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan supaya
mereka menyembah Aku.” (QS51:56). Dengan demikian manusia sebagai hamba
Allah akan menjadi manusia yang taat, patuh dan mampu melakoni perannya
sebagai hamba yang hanya mengharapkan ridha Allah (Khasinah, 2013).
b. Manusia Sebagai al- Nas
Kata al-nas dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 240 kali dan tersebar
dalam 53 surah. Kata al-Nas menunjukkan pada eksistensi manusia sebagai
makhluk sosial secara keseluruhan, tanpa melihat status keimanan atau
kekafirannya. Karenanya, dalam menunjuk makna manusia, kata al-Nas lebih
bersifat umum bila dibandingkan dengan kata al-Insan. Keumuman tersebut dapat

3
dilihat dari penekanan makna yang dikandungnya. Dalam al Qur’an disebutkan
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku
supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di
antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat
[49]: 13). Manusia merupakan makhluk sosial yang secara fitrah senang hidup
berkelompok, sejak dari bentuk satuan yang terkecil hingga ke yang paling besar
dan kompleks, yaitu bangsa dan umat manusia. Dalam hal ini, Kata al-Nas yang
menunjuk manusia sebagai makhluk social dan banyak digambarkan sebagai
kelompok manusia tertentu yang sering melakukan mafsadah dan merupakan
pengisi neraka, di samping iblis. (QS. 2:24 dan 10:11). Selanjutnya, Kata al-Nas
juga dinyatakan Allah dalam al Qur’an untuk menunjuk bahwa sebagian besar
manusia tidak memiliki ketetapan keimanan yang kuat. Kadangkala ia beriman,
sementara pada masa lain ia munafik (Malisi, 2012).
c. Manusia Sebagai khalifah Allah
Hakikat manusia sebagai khalifah Allah di bumi dijelaskan dalam surah al-
Baqarah ayat 30: “Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka
berkata:”Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman:
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui.” (QS:2: 30), dan
surah Shad ayat 26,“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah
(peguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil
dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Karena ia akan menyesatkan kamu
dari jalan Allah. …”(QS:38:26). Kedua ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa
sebutan khalifah itu merupakan anugerah dari Allah kepada manusia, dan
selanjutnya manusia diberikan beban untuk menjalankan fungsi khalifah tersebut
sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Sebagai khalifah di bumi
manusia mempunyai wewenang untuk memanfaatkan alam (bumi) ini untuk

4
memenuhi Kebutuhan hidupnya sekaligus bertanggung jawab terhadap kelestarian
alam ini. Seperti dijelaskan dalam surah al- Jumu’ah, “Maka apabila telah selesai
shalat, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi ini dan carilah karunia Allah,
dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS: 62: 10),
selanjutnya dalam surah Al- Baqarah disebutkan: “Makan dan minumlah kamu
dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
bencana di atas bumi.” (QS: 2 : 60) (Khasinah, 2013).
d. Manusia Sebagai Bani Adam
Sebutan manusia sebagai bani Adam merujuk kepada berbagai keterangan
dalam al- Qur’an yang menjelaskan bahwa manusia adalah keturunan Adam dan
bukan berasal dari hasil evolusi dari makhluk lain seperti yang dikemukakan oleh
Charles Darwin. Konsep bani Adam mengacu pada penghormatan kepada nilai
nilai kemanusiaan. Konsep ini menitikbertakan pembinaan hubungan
persaudaraan antar sesama manusia dan menyatakan bahwa semua manusia
berasal dari keturunan yang sama. Dengan demikian manusia dengan latar
belakang sosia kultural, agama, bangsa dan bahasa yang berbeda tetaplah bernilai
sama, dan harus diperlakukan dengan sama. Dalam surah al- A’raf dijelaskan:
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa
itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda
kekuasaan Allah, semoga mereka selalu ingat. Hai anak Adam janganlah kamu
ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari
surga, …” (QS : 7; 26-27) (Khasinah, 2013).
e. Manusia Sebagai al- Insan
Kata al-Insan dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar
dalam 43 surah. Kata Insan digunakan al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia
dengan seluruh totalitasnya: jiwa, dan raga. Manusia berbeda antara yang satu
dengan yang lain, akibat perbedaan fisik, mental dan kecerdasannya. Kata al-Insan
digunakan al-Qur’an untuk menunjukkan totalitas manusia sebagai makhluk
jasmani dan rohani. Harmonisasi kedua aspek tersebut-dengan berbagai potensi
yang dimilikinya- mengantarkan manusia menjadi makhluk allah yang unik dan

5
istimewa, sempurna dan memiliki differensiasi individual antara yang satu dengan
yang lainnya. Kesempurnaan ini mengantarkan manusia sebagai makhluk
dinamis, sehingga mampu menyandang predikat khalifah Allah di muka bumi.
Perpaduan antara naspek fisik dan psikis telah membantu manusia untuk
mengekspresikan dimensi al-Insan dan al-Bayan, yaitu sebagai makhluk memiliki
culture yang mampu berbicara, mengetahui baik dan buruk, mengembangkan dan
pengetahuan dan peradaban, dan lain sebagainya. Dengan kemampuan ini,
manusia akan dapat membentuk dan mengembangkan diri dan komunitasnya
sesuai dengan nilai-nilai insaniah yang memiliki nuansa ilmiah yang hanif.
Integritas ini akan tergambar pada nilai iman dan bentuk amaliahnya (QS. 95:6).
Dengan kemampuannya ini, manusia akan mampu mengemban amanah Allah di
muka bumi secara holistic. Namun demikian, manusi sering lalai bahkan
melupakan nilai insaniah yang dimilikinya dengan berbuat berbagai bentuk
mafsadat di muka bumi (Malisi, 2012).
f. Manusia Sebagai Makhluk Biologis (al- Basyar)
Penamaan manusia dengan kata Al-Basyar dinyatakan dalam al-qur’an
sebanyak 27 kali.6 Kata basyar secara etimologis berasal dari kata (ba’, syin, dan
ra’) yang berarti sesuatu yang tampak baik dan indah, bergembira,
menggembirakan, memperhatikan atau mengurus suatu. Menurut M. Quraish
Shihab, kata basyar diambil dari akar kata yang pada umumnya berarti
menampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Dari kata yang sama lahir kata
basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamakan basyarah karena kulitnya tampak
jelas dan berbeda dengan kulit binatang lainnya.7 Kata basyar dapat juga diartikan
sebagai makhluk biologis. Tegasnya memberi pengertian kepada sifat biologis
manusia, seperti makan, minum, hubungan seksual dan lainlain.8 Sebagimana
dalam surat Yusuf ayat 31 “Maka tatkala wanita itu Zulaikha mendengar cercaan
mereka, diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka
tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau
untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf) Keluarlah
(nampakkanlah dirimu) kepada mereka).” (Hariyanto, 2015).

6
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia dengan menggunakan
kata basyar, artinya anak keturunan adam (bani adam) , mahkluk fisik atau
biologis yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek fisik itulah yang
menyebut pengertian basyar mencakup anak keturunan adam secara keseluruhan.
Al-Basyar mengandung pengertian bahwa manusia mengalami proses reproduksi
seksual dan senantiasa 9 Muhammad Fu’ad ‘Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras
li Alfazh.., 155. berupaya untuk memenuhi semua kebutuhan biologisnya,
memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk terhadap hukum alamiahnya, baik
yang berupa sunnatullah (sosial kemasyarakatan), maupun takdir Allah (hukum
alam). Semuanya itu merupakan konsekuensi logis dari proses pemenuhan
kebutuhan tersebut. Untuk itu, Allah swt. memberikan kebebasan dan kekuatan
kepada manusia sesuai dengan batas kebebasan dan potensi yang dimilikinya
untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta, sebagai salah satu tugas
kekhalifahannya di muka bumi (Hariyanto, 2015).
2.1.3 Persamaan dan Perbedaan Manusia dengan Makhluk Lain
Manusia pada hakekatnya sama saja dengan makhluk hidup lainnya, yaitu
memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung
oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan diantara keduanya terletak pada
dimensi pengetahuan, kesadaran dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding
dengan makhluk lain. Menurut ajaran Islam, manusia dibanding dengan makhluk
yang lain, mempunyai berbagai ciri, antara lain ciri utamanya yaitu:
a. Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang baik, ciptaan Tuhan
yang paling sempurna. Sesuai dengan firman Allah :

Artinya : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang


sebaik- baiknya,” (QS. at-Tiin: 4)
b. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin
dikembangkan) beriman kepada Allah.

7
c. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Tugas manusia untuk
mengabdi kepada Allah dengan tegas dinyatakan-Nya dalam al-Qur’an surat az-
Zariyat ayat 56:

Artinya : “Tidak Kujadikan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi kepada-Ku”
(QS. az-Zariyat : 56)
d. Manusia diciptakan Tuhan untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Hal ini
dinyatakan dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 30:

Artinya : “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat


“sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka
berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?, Tuhan
berfirman; “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui (QS. al-
Baqarah: 30).
e. Di samping akal, manusia dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau
kehendak. Dengan akal dan kehendaknya manusia akan tunduk dan patuh kepada
Allah, menjadi muslim; tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia tidak
percaya, tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak Allah bahkan
mengingkarinya (kafir). Karena itu dalam surat al-Kahfi ayat 29 menyebutkan :

Artinya : “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka


barangsiapa yang ingin (beriman) hendaknya ia beriman, dan barangsiapa yang
ingin (kafir)biarla ia kafir” (QS. al-Kahfi : 29)

8
f. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Sesuai
dengan firman Allah:

Artinya: “…setiap seorang (manusia) terikat (dalam arti bertanggung jawab)


terhadap apa yang dilakukannya”. (QS. at-Thur : 21)
g. Berakhlak. Berakhlak merupakan utama dibandingkan dengan makhluk
lainnya. Artinya, manusia adalah makhluk yang diberi Allah kemampuan untuk
membedakan yang baik dengan yang buruk (Gafur, 2011).
2.2 Eksistensi dan Martabat Manusia Menurut Islam
2.2.1 Asal Kejadian Manusia
Asal usul manusia dalam pandangan Islam tidak terlepas dari figur Adam
sebagai manusia pertama. Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan
Allah di muka bumi dengan segala karakter kemanusiaannya, yang memiliki sifat
kesempurnaan lengkap dengan kebudayaannya sehingga diangkat menjadi
khalifah di muka bumi, sesuai dengan firman Allah:

Artinya :”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat


“Sesungguhya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi.” Mereka
berkata: “Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang
yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan engkau?” Tuhan
berfirman:”sesungguhnya aku mengetahui apa yan tidak kamu ketahu”. (QS.al-
Baqarah : 30) (Gafur, 2011).
Manusia yang baru diciptakan Allah itu adalah Adam yang memiliki
intelegensi yang paling tinggi dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya dan
memiliki nilai-nilai kemanusiaan. Sehingga manusia dapat membentuk

9
kebudayaannya. Dalam al-Qur’an dijelaskan tentang proses penciptaan manusia
yang berawal dari percampuran antara laki-laki dengan perempuan yang tahapan
pembuahan sperma dalam janin melalui lima tahap: al-nutfah3, al-‘alaqah4, al-
mudhgah5, al-‘idham6, dan al-lahm7. Sesuai dengan firman Allah dalam al-
Qur’an surat al-Mu’minun ayat 12-14,

Artinya :”Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan
segumpal darah, dan segumpal darah itu kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu kami jadikan segumpal daging. Kemudian kami jadikan dia
makhluk yang(berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, pencipta yang paling
baik”. (QS. al-Mu’minun ayat 12-14) (Gafur, 2011).
2.2.2 Tujuan Penciptaan Manusia
Keberadaan manusia di muka bumi ini bukanlah untuk main-main, senda
gurau, hidup tanpa arah atau tidak tahu dari mana datangnya dan mau kemana
tujuannya. Manusia yang merupakan bagian dari alam semesta inipun diciptakan
untuk suatu tujuan. Allah menegaskan bahwa penciptaan manusia dalam firman-
Nya surat adz-Dzariyat : 56

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengababdi kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat : 56).
Dari ayat tersebut dapat diambil pemahaman bahwa, kedudukan manusia
dalam sistem penciptaannya adalah sebagai hamba Allah. Kedudukan ini
berhubungan dengan hak dan kewajiban manusia di hadapan Allah sebagai
penciptanya. Dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk menyembah kepada

10
Allah SWT. Penyembahan manusia kepada Allah lebih mencerminkan kebutuhan
manusia terhadap terhadap terwujudnya sesuatu kehidupan dengan tatanan yang
baik dan adil. Karena manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk yang
paling canggih, mampu menggunakan potensi yang dimilikinya dengan baik,
yaitu mengaktualisasikan potensi iman kepada Allah, menguasai ilmu
pengetahuan, dan melakukan aktivitas amal saleh, maka manusia akan menjadi
makhluk yang paling mulia dan makhluk yang berkualitas di muka bumi ini sesuai
dengan fitrahnya masing-masing.
Secara rinci, sebab-sebab kemulian manusia itu adalah:
a. Bahwa manusia tidak berasal dari jenis hewan sebagaimana dikatakan dalam
teori evolusi, melainkan berasal dari Adam yang diciptakan dari tanah.
b. Dibandingkan dengan makhluk lain, manusia memiliki bentuk fisik yang lebih
baik, sekalipun ini bukan perbedaan yang fundamental (Q.S at-Tin:4).
c. Manusia mempunyai jiwa dan rohani, yang didalamnya terdapat rasio, emosi
dan konasi. Dengan akal, manusia berfikir dan berilmu, dan dengan ilmu
manusia menjadi maju. Bahkan dengan ilmu manusia menjadi lebih mulia
daripada jin dan malaikat, sehingga mereka diminta oleh Allah untuk sujud,
menghormati kepada manusia, yakni Adam a.s (Q.S al-Baqarah: 31-34).
d. Untuk mencapai kemulian martabat manusia tersebut, manusia perlu berusaha
sepanjang hidupnya melawan hawa nafsunya sendiri yang mendorong pada
kejahatan. Hal ini berbeda dengan binatang yang hanya hidup hanya menuruti
insting nafsunya karena tidak mempunyai akal, dan malaikat yang selalu
berbuat baik secara otomatis karena tidak memiliki hawa nafsu.
e. Manusia diangkat oleh Allah sebagai khalifah di muka bumi dengan tugas
menjadi penguasa yang mengelola dan memakmurkan bumi beserta isinya
dengan sebaik- baiknya (Q. S al-Baqarah : 30)
f. Diciptakannya segala sesuatu di muka bumi ini oleh Allah adalah untuk
kepentingan manusia itu sendiri (Q.S al-Baqarah: 29)
g. Manusia diberi beban untuk beragama (Islam) sebagai pedoman dalam
melaksanakan tugas kekhalifaannya. Karenanya, manusia akan diminta

11
pertanggung jawaban atas pelaksanaan tugasnya tersebut (Q.S al-Qiyamah: 36)
(Gafur, 2011).
2.2.3 Fungsi dan Peranan Manusia
Manusia mempunyai peran yang ideal yang harus dijalankan, yakni
memakmurkan bumi, mendiami dan memelihara serta mengembangkannya demi
kemaslahatan hidup mereka sendiri, bukan mengadakan pengerusakan di
dalamnya. Kedudukan yang dipegang dan peranan yang dimainkan manusia
dalam panggung kehidupannya di dunia pasti berakhir dengan kematian. Sesudah
itu, dia akan dibangkitkan atau dihidupkan kembali ke alam akhirat. Di alam
akhirat ini segala peranan yang dilaksanakan manusia selama hidup di dunia,
sekecil apapun peranan itu, akan dipertanggungjawabkan, lalu dinilai dan
diperhitungkan oleh Allah Yang Maha Adil. Setiap peranan akan mendapat
balasan. Peranan yang baik akan mendapat balasan yang baik, sementara peranan
yang buruk akan mendapatkan balasan yang buruk pula. Manusia yang
mendapatkan balasan yang buruk akan merasakan kesengsaraan yang teramat
sangat, dan manusia memperoleh balasan yang baik akan merasakan kebahagiaan
yang abadi (Wahyuddin dkk, 2009).
Tugas atau fungsi manusia di dalam kehidupan ini adalah menjalankan
peranan itu dengan sempurna dan senantiasa menambah kesempurnaan itu sampai
akhir khayat. Hal itu dilakukan agar manusia benar-benar menjadi makhluk yang
paling mulia dan bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa. ( Q.S Ali Imran :102 dan
Q.S Al-Hujurat :13) (Wahyuddin dkk, 2009).
2.3 Tanggung Jawab Manusia
Manusia adalah makhluk fungsional dan bertanggungjawab atau dengan
kata lain penciptaan manusia bukanlah sebuah kesiasiaan. Tanggung jawab
manusia tersebut meliputi tanggung jawab terhadap Allah Sang Pencipta, diri
pribadi, masyarakat, dan tanggung jawab terhadap alam (Mujiono, 2013).
2.3.1 Tanggung Jawab terhadap Allah
Tanggung jawab manusia terhadap Allah ditegaskan dalam alQur’an surat
az-Zariyat ayat 56, sebagai berikut: ”Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Perintah untuk beribadah ini

12
dipertegas lagi dalam surat al-Baqarah ayat 21, sebagai berikut: ”Hai manusia,
beribadahlah kamu kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-
orang sebelummu, agar kamu bertakwa.” Bila mencermati dua ayat di atas,
beribadah menjadi tanggung jawab utama manusia terhadap Allah, baik dalam
bentuk umum maupun khusus. Ibadah dalam bentuk umum ialah melaksanakan
ketentuan-ketentuan Allah, sebagaimana tercantum dalam al-Qur’an dan Sunnah
Rasul, mencakup segala macam perbuatan, tindakan dan sikap manusia dalam
hidup sehari-hari. Sedangkan ibadah dalam bentuk khusus yaitu berbagai macam
pengabdian kepada Allah yang bentuk dan cara melakukannya sesuai dengan
ketentuan syara’ (Mujiono, 2013).
2.3.2 Tanggung Jawab terhadap Diri Sendiri
Tanggung jawab manusia terhadap diri pribadi yaitu memenuhi kebutuhan
jasmani dan rohani secara menyeluruh, agar keutuhan pribadi tetap terjaga.
Jasmani yang memerlukan makanminum, pakaian, tempat tinggal, kesehatan dan
sebagainya dipenuhi dengan sebaik-baiknya. Akal yang merupakan salah satu segi
unsur rohani kita bertabiat suka berpikir. Tabiat suka berpikir akan dipenuhi
dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang berguna bagi hidup manusia.
Rasa yang juga merupakan salah satu segi unsur rohani yang selalu merindukan
keindahan, kebenaran, keadilan dan sebagainya itu kita penuhi pula kebutuhannya
dengan berbagai kesenian yang sehat, hidup dengan pedoman yang benar, berlaku
adil dan sebagainya. Perasaan yang rindu kepada kebaikan diisi dengan nilai-nilai
moral, perasaan yang rindu kepada keindahan diisi dengan nilai-nilai senibudaya,
perasaan yang rindu kepada kemuliaan diisi dengan takwa, perasaan yang rindu
kepada kesucian diisi dengan usaha-usaha meninggalkan sifat-sifat tercela, seperti
dengki, takabbur, aniaya dan sebagainya, kebutuhan-kebutuhan tersebut
seyogyanya dipenuhi dengan sebaik-baiknya (Mujiono, 2013).
Unsur rohani terpenting lainnya bagi manusia adalah kehendak, oleh
karenanya jangan sampai terjangkit penyakit malas yang akan mematikan unsur
kehendak itu. Kematian kehendak berarti kematian makna hidup bagi manusia.
Suka menangguhkan pekerjaan yang seharusnya dapat dan bisa diselesaikan

13
segera akan mengakibatkan datangnya kemalasan, yang berarti pula datangnya
kematian pada kehendak (Mujiono, 2013).
2.3.3 Tanggung Jawab terhadap Masyarakat
Tanggung jawab manusia terhadap masyarakat ditegakkan atas dasar bahwa
umat manusia merupakan keluarga besar, berasal dari satu keturunan yakni Adam
dan Hawa. Selanjutnya Allah menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-
suku agar saling interaksi dan mengenal, serta tolong menolong dalam berbuat
kebaikan dan bertakwa. Antara sesama manusia tidak terdapat perbedaan dalam
hal tinggi dan rendah martabat kemanusiaannya. Perbedaan manusia hanyalah
terletak pada aktivitas amal perbuatannya dan rasa ketakwaan kepada Allah.
Firman Allah dalam surat al-Hujarat: 13, telah menegaskan hal ini: ”Hai manusia,
Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan,
dan telah kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya orang paling mulia di antara kamu di hadirat
Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Mujiono, 2013).
Meskipun pada awalnya manusia itu merupakan makhluk individual tapi
karena adanya dorongan untuk berhubungan dengan manusia yang lainnya, maka
kemudian terbentuklah kelompok-kelompok masyarakat. Selanjutnya tanggung
jawab manusia terhadap masyarakat terbangun atas dasar sifat sosial yang dimiliki
manusia itu sendiri, yaitu adanya kesedian untuk selalu melakukan interaksi
dengan sesamanya. Ditegaskan dalam al-Qur’an bahwa manusia selalu
mengadakan hubungan dengan Tuhannya dan juga mengadakan hubungan dengan
sesama manusia. Bentuk kesedian untuk memperhatikan kepentingan orang lain,
wujudnya adalah tolong menolong sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an surat
al-Maidah ayat 2: ”Dan tolong menolongmenolong kamu dalam (mengerjakan)
kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran.” (Mujiono, 2013).
2.3.4 Tanggung Jawab terhadap Alam
Tanggung jawab manusia terhadap alam adalah bagaimana manusia
memanfaatkan potensi alam untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Banyak ayat

14
al-Qur’an yang menegaskan bahwa segala sesuatu baik di langit maupun di bumi,
ditundukkan Allah bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka (QS.
al-Jasiyah: 13). Laut, sungai, matahari, bulan, siang dan malam dijadikan sebagai
sarana kemakmuran hidup manusia (QS. Ibrahim: 32-34), binatang ternak
diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia (QS. an-Nahl: 5),
laut ditundukkan kepada manusia sebagai sarana komunikasi dan untuk digali
serta dimanfaatkan kekayaannya (QS. Fatir:12 dan an-Nahl:14).
Manusia berkewajiban mengolah dan menjaga potensi alam untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Mengolah potensi alam yang diberikan Allah
kepada manusia merupakan fardhu kifayah, karena tidak semua manusia
mempunyai kemampuan untuk menggali potensi alam yang diberikan tersebut.
Untuk itu apabila manusia menyia-nyiakan potensi alam artinya tidak
dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia berarti mengabaikan
fungsi manusia terhadap alamnya. Dalam memenuhi tanggung jawab manusia
terhadap alam, hendaknya selalu diusahakan agar keselamatan manusia tidak
terganggu. Tidak memanfaatkan potensi alam secara berlebihlebihan, agar
generasi mendatang masih dapat menikmatinya, karena potensi alam terbatas.
Apabila berlebihan, tamak dan rakus dalam memanfaatkan potensi alam akan
berakibat kerusakan pada manusia itu sendiri. Dalam hubungan ini, Allah
memperingatkan manusia bahwa, “Kerusakan di darat dan laut terjadi akibat
perbuatan tangan manusia sendiri; Allah merasakan kepada mereka sebagai
(akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar” (QS.
Rum : 41). Berdasarkan ayat ini, maka pemanfaatan potensi alam untuk
kepentingan manusia sekarang, harus memperhatikan kepentingan generasi
mendatang, dengan berusaha menjaga dan melestarikan potensi alam tersebut
(Mujiono, 2013).

15
BAB 3. KESIMPULAN
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling unik
dan paling sempurna di muka bumi ini, ini disebabkan manusia diberiakn Allah
SWT berupa akal yang dapat membedakannya dengan makhluk lainnya, dengan
akalnya manusia bisa membedakan antara yang hak dan yang bathil, antara yang
pantas dan tidak pantas di lakukan, karena tujuan penciptaan manusia memang
untuk menjadi khalifah di muka bumi. Dalam pandangan al-Quran konsep
manusia terdiri dari beberapa aspek yakni: abd Allah, khalifah Allah, al-basyar,
an-nas, Bani Adam dan al-insan. Kata-kata tersebut lazim diartikan sebagai
manusia. Namun, jika ditinjau dari segi bahasa serta penjelasan al-Qur’an, kata
tersebut satu sama lain berbeda maknanya. Manusia merupakan makhluk dengan
dimensi tersendiri, masing-masing dalam eksistensi seseorang secara menyeluruh.
Sebagaimana ditemukan dalam perjalanan hidup seseorang. Manusia juga dikenal
sebagai makhluk individu dan social yang harus menyadari tanggung jawabnya
baik terhadap Allah Swt., masyarakat, alam, maupun manusia itu sendiri.

16
DAFTAR PUSTAKA

Gafur, Abdul. 2011. Hakekat Manusia Menurut Islam. Palembang: Percetakan UNSRI.
Hariyanto, Ishak. 2015. Pandangan Al Qur’an tentang Manusia. Komunike. 7(2):
38-51.
Khasinah, siti. 2013. Hakikat Manusia Menurut Pandangan Islam dan Barat.
Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA. 8(2): 296-317.
Malisi, M. Ali Sibram. 2012. Konsep Manusia dalam Al Qur’an. Palngkaraya:
STAIN Palangkaraya.
Mujiono. 2013. Manusia Bekualitas Menurut Al Qur’an. Hermeunetik. 7(2): 357-
388.
Wahyuddin, Achmad, M.Ilyas, M.Saifulloh, Z.Muhibbin. 2009. Pendidikan
Agama Islam Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya: Grasindo.

17